0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan17 halaman

Keamanan Alat Permainan Anak

Dokumen ini membahas tentang pentingnya keamanan ruang dan fasilitas bermain anak, serta perkembangan anak yang meliputi aspek fisik, intelektual, kepribadian, dan sosial. Kegiatan bermain dianggap sebagai pengalaman belajar yang penting bagi anak, yang dapat dilakukan di ruang bermain yang dirancang dengan baik untuk mendukung perkembangan mereka. Taman bermain, sebagai ruang terbuka untuk bermain, harus dirancang dengan mempertimbangkan lokasi, topografi, dan zona bermain untuk memberikan pengalaman bermain yang aman dan bermanfaat.

Diunggah oleh

akurahel1702
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan17 halaman

Keamanan Alat Permainan Anak

Dokumen ini membahas tentang pentingnya keamanan ruang dan fasilitas bermain anak, serta perkembangan anak yang meliputi aspek fisik, intelektual, kepribadian, dan sosial. Kegiatan bermain dianggap sebagai pengalaman belajar yang penting bagi anak, yang dapat dilakukan di ruang bermain yang dirancang dengan baik untuk mendukung perkembangan mereka. Taman bermain, sebagai ruang terbuka untuk bermain, harus dirancang dengan mempertimbangkan lokasi, topografi, dan zona bermain untuk memberikan pengalaman bermain yang aman dan bermanfaat.

Diunggah oleh

akurahel1702
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 2

KEAMANAN RUANG DAN FASILITAS BERMAIN ANAK

2.1. Anak
Setiap manusia pasti pernah melewati tahap anak-anak. Dari keseluruhan proses
kehidupan manusia dari bayi hingga dewasa, tahap anak-anak merupakan tahap
yang penting karena pada tahap inilah manusia mulai belajar untuk mengenal
segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Seseorang disebut berada dalam masa anak-
anak jika memiliki rentang usia 0-12 tahun. MenDiane [Link] (1993) membagi
masa anak-anak menjadi 3, yaitu Infancy and Toddlerhood Stage (0-2 tahun),
Early Childhood Stage (2-6 tahun), dan Middle Childhood Stage (6-12 tahun).
Jika pada tahap sebelumnya anak lebih nyaman berada pada lingkungan keluarga
saja, pada usia 2-6 tahun ini anak mulai belajar bersosialisasi dan bermain dengan
teman sebayanya.

2.1.1. Perkembangan Anak


Istilah perkembangan anak ini meliputi perubahan kuantitatif dan kualitatif
(Papilia, 1993). Perubahan kuantitatif merupakan perubahan yang dapat terlihat
secara fisik, seperti bertambahnya berat dan tinggi badan anak. Sedangkan
perubahan kualitatif merupakan perubahan yang meliputi perubahan mutu dan
kemampuan, seperti anak bertambah cerdas. Terdapat aspek perkembangan anak
yang saling berkaitan dan dapat dijadikan sebagai panduan (Papilia, 1993), yaitu:
 Perkembangan fisik, meliputi pertumbuhan, perubahan fisik dan motorik.
Pada usia ini, anak mulai melakukan segala sesuatu sendiri dan mengenal
kemampuan diri. Perkembangan fisik erat kaitannya dengan gerak dan otot
tubuh.
 Perkembangan intelektual, pada tahap perkembangan ini, anak mulai
belajar untuk mengenal dan mengingat benda yang ada di sekitarnya.
Semakin sering melihat suatu benda, semakin mudah bagi anak untuk
mengingatnya.

9 Institut Teknologi Nasional


 Perkembangan kepribadian dan sosial, seorang anak juga dapat belajar
saling menghargai satu sama lain. Selain itu anak juga belajar untuk saling
berkomunikasi, bertukar informasi, mengungkapkan pikiran dan emosinya
kepada temannya.
Alat permainan dapat membantu perkembangan anak. Jembatan dengan
ketinggian tertentu dapat melatih keberanian anak. Permainan memanjat baik
dalam bentuk tangga maupun tali tambang, dapat melatih otot tangan, kaki, dan
keseimbangan tubuh. Perosotan selain dapat melatih otot tangan dan kaki, juga
melatih keberanian anak. Area pasir dapat menciptakan berbagai kesempatan
bermain seperti bermain pura-pura atau membuat sesuatu dari pasir.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan anak akan


bertambah seiring dengan bertambahnya usia. Perkembangan fisik dapat dilihat
hasilnya secara langsung, yaitu bertambahnya tinggi dan berat badan. Sedangkan
perkembangan intelektual, kepribadian, dan sosial hasilnya berupa daya ingat dan
emosi yang dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan lingkungan bermain.
Semakin sering anak berkomunikasi dengan orang lain, maka perkembangan non
fisiknya juga bertambah. Ketiga perkembangan anak tersebut memiliki peran
tersendiri. Alat permainan dapat membantu proses perkembangan anak, terutama
perkembangan fisiknya. Oleh sebab itu, perkembangan fisik, intelektual,
kepribadian, dan sosial ini harus seimbang satu sama lain sehingga anak dapat
berkembang sesuai dengan usianya. Selain itu, kegiatan bermain, alat permainan,
teman bermain, dan ruang bermain juga menjadi faktor lain yang mendukung
perkembangan anak.

2.1.2. Anak dan Kegiatan Bermain


Menurut Bettelheim dalam (Hurlock 1997), kegiatan bermain adalah kegiatan
yang “tidak mempunyai peraturan lain kecuali yang ditetapkan pemain sendiri dan
tidak ada hasil akhir yang dimaksudkan dalam realitas luar”. Bermain merupakan
kegiatan yang dilakukan oleh semua orang, terutama anak-anak untuk
mendapatkan suatu kesenangan. Bermain merupakan pekerjaan anak-anak karena
sebagian besar waktu anak dihabiskan untuk bermain. Melalui bermain pula anak

10 Institut Teknologi Nasional


belajar mengeksplorasi lingkungan dan belajar untuk lebih kreatif. Menurut
[Link]-Nicolish dan Fenson (2003), bermain adalah kegiatan yang dilakukan
untuk kesenangan diri sendiri, menitikberatkan pada proses dari pada hasil akhir,
eksplorasi benda, dan terjadi atas keinginan diri sendiri (dalam Lidz, 2003).
Sedangkan menurut Garvey dan Piaget, bermain adalah kegiatan yang
menyenangkan, terjadi secara spontan, fleksibel, dan berpengaruh pada
perkembangan fisik dan kognitif anak (dalam Lidz, 2003).

Menurut Hurlock (1978), kegiatan bermain dapat dibagi menjadi dua golongan
utama, yaitu bermain aktif dan bermain pasif atau dikenal sebagai hiburan
(amusement). Bermain aktif adalah kegiatan bermain yang melibatkan gerak dan
aktivitas fisik anak, seperti berlari, naik turun tangga, bermain pasir, dan lainnya.
Sebaliknya, bermain pasif sifatnya menghibur dan tidak melibatkan gerak tubuh
anak, seperti mengamati anak lain bermain, menonton tv, dan bermain video
games. Terjadinya kegiatan bermain bersama dapat ditentukan oleh alat
permainan karena ada permainan yang dapat dimainkan sendiri dan bersama-
sama. Alat permainan seperti jungkat-jungkit membutuhkan kehadiran teman
bermain sehingga terjadilah social play. Berbeda dengan permainan ayunan yang
dapat dimainkan sendiri. Namun, kedua jenis bermain ini memberikan
kesenangan pada anak.

Menurut Gallahue (1982), tahap bermain berdasarkan usia anak dibagi menjadi 3
yaitu exploratory stage, mastery stage, dan achivement stage. Anak di bawah usia
2 tahun berada pada tahap exploratory stage, yaitu anak hanya belajar mengenal
benda dan belum dapat bermain dengan baik karena anak belum dapat mengontrol
tubuhnya secara keseluruhan. Anak usia 2-6 tahun berada pada tahap mastery
stage, yaitu anak dapat bermain dengan cara yang benar, bukan sekedar
melakukan eksplorasi saja. Dari diagram tersebut terlihat bahwa tahap mastery
stage sejajar dengan fundamental movement phase, yaitu tahap di mana anak
dapat mengontrol gerak tubuhnya. Oleh sebab itu, pada tahap Early Childhood (2-
6 tahun) mainan memiliki peran penting dalam bermain. Mainan dapat membuat
anak kreatif, terhibur, dan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan anak,

11 Institut Teknologi Nasional


dalam hal ini kemampuan fisik anak. Secara keseluruhan, anak membutuhkan,
menikmati dan belajar dari mainan (Jenkins, 1979). Menurut Tedjasaputra (2001),
bermain merupakan pengalaman belajar yang sangat berguna bagi anak, beberapa
manfaat bermain antara lain:
1. Untuk perkembangan aspek fisik, kegiatan yang melibatkan gerakan tubuh
akan membuat tubuh anak menjadi sehat. Otot tubuh menjadi kuat dan
anggota tubuh mendapat kesempatan untuk digerakkan. Anak dapat
menyalurkan tenaga yang berlebihan sehingga anak tidak merasa gelisah
bosan dan tertekan.
2. Untuk perkembangan aspek motorik kasar dan motorik halus. Tubuh anak
mulai semakin fleksibel, lengan dan kaki semakin panjang dan kuat
sehingga dapat melakukan motorik asar seperti berlari, melompat,
memanjat, berguling, berputar. Ketika jemari semakin ramping dan
panjang, akan terbiasa dengan kegiatan yang membutuhkan deksteritas
manual, anak usia 3 bulan mulai belajar meraih mainan yang ada
didekatnya, hal ini anak belajar mengkoordinasikan gerakan mata dengan
tangan, secara tidak langsung anak belajar melakukan gerakan-gerakan
motorik halus.
3. Untuk perkembangan aspek sosial. Dari sini akan belajar tentang sistem
nilai, kebiasaan-kebiasaan dan standar moral masyarakatnya.
4. Untuk perkembangan aspek emosi atau kepribadian. Anak dapat
melepaskan ketegangan yang dialami sekaligus memenuhi kebutuhan dan
dorongan dari dalam diri, dapat membantu pembentukan konsep diri yang
positif, percaya diri dan harga diri karena mempunyai kompetensi tertentu.
5. Untuk perkembangan aspek kognisi. Melalui bermain anak mempelajari
konsep dasar sebagai landasan untuk belajar menulis, bahasa, matematika
dan ilmu pengetahuan lain.
6. Untuk mengasah ketajaman penginderaan. Anak menjadi aktif, kritis,
kreatif dan bukan sebagai anak yang acuh, pasif dan tidak peka terhadap
lingkungannya.

12 Institut Teknologi Nasional


7. Untuk mengembangkan keterampilan olahraga dan menari. Perkembangan
fisik dan keterampilan motorik kasar maupun halus sangat penting sebagai
dasar untuk mengembangkan keterampilan dalam bidang olahraga dan
menari.

2.2. Ruang Bermain


Arsitektur berhubungan erat dengan ruang karena ruang merupakan tempat
manusia berkegiatan. Ruang (space) berasal dari bahasa Perancis yaitu “espace”
kemudian diturunkan dalam bahasa Latin yaitu “spatium” (Kamus Webster), yang
artinya adalah:
 Room to fit or accommodate something or somebody (Kamus Encarta)
 The dimensions of height, depth, and width within which all things exist
and move (Kamus Oxford)
Dapat disimpulkan bahwa ruang adalah sebuah wilayah yang terdiri dari tiga
dimensi dan dapat digunakan sebagai tempat untuk manusia berkegiatan. Menurut
Francis DK Ching (1994) ruang secara umum terbentuk dari batas vertikal
(berupa bidang dasar/alas dan bidang atas) dan batas horizontal (berupa bidang
samping/dinding). Sebuah ruang dapat tercipta jika terdapat salah satu dari elemen
tersebut. Misalnya bidang datar, perbedaan ketinggian dapat mendefinisikan
sebuah ruang yang berbeda. Bidang samping dapat dibedakan oleh perbedaan
tekstur. Sedangkan sebuah pohon dengan ranting dan daunnya yang rimbun, dapat
membentuk bidang atas sehingga tercipta ruang di bawahnya. Ruang yang tercipta
dari batas-batas tersebut dapat digunakan untuk berbagai aktivitas, termasuk
bermain. Ruang pada tempat bermain dapat terbentuk dari perbedaan ketinggian,
material permukaan alas, atau bahkan oleh jarak antar alat permainan.

Menurut Mitsuru Senda dalam penelitiannya, sebuah ruang bermain mempunyai 4


aspek penting, yaitu suatu tempat untuk bermain, waktu untuk bermain, teman
bermain, dan apa yang dilakukan (bermain apa). Pengguna ruang bermain adalah
anak-anak. Oleh sebab itu, kualitas ruang bermain berbeda dengan ruang lainnya
dan terdiri dari berbagai elemen yang dapat merangsang stimulus anak.

13 Institut Teknologi Nasional


Skala ruang juga menjadi faktor pertimbangan dari ruang bermain. Anak
mempunyai tinggi badan yang lebih rendah, sehingga ketinggian level mata antara
anak dan orang dewasa pun berbeda. Segala sesuatu yang ada di dalam ruang
bermain seharusnya mudah dilihat oleh anak. Skala yang sesuai membuat anak
menjadi nyaman saat berjalan, berlari, memanjat, dan melakukan kegiatan lainnya
(Dudek, 2001).

Kegiatan bermain dapat dilakukan di ruang terbuka dan ruang tertutup. Keduanya
dapat memenuhi fungsi bermain itu sendiri. Perbedaannya adalah suasana pada
ruang terbuka terasa lebih menarik karena adanya elemen natural di dalamnya.
Selain itu, ruang terbuka lebih memungkinkan untuk kegiatan bermain yang lebih
bervariasi dibandingkan dengan ruang tertutup.

Ruang bermain adalah sebuah tempat yang dapat digunakan untuk aktivitas
bermain anak-anak. Ternyata tempat untuk bermain merupakan salah satu aspek
penting, karena memperbesar peluang adanya kegiatan bermain pada anak.
Keberadaan ruang bermain ini juga berfungsi sebagai tempat anak bersosialisasi
dan bermain bersama teman. Elemen natural menjadi ciri khas tersendiri bagi
sebuah tempat bermain pada ruang terbuka.

2.3. Taman Bermain


Taman bermain lebih memungkinkan anak untuk bermain dengan bebas karena
ruang bermain secara visual tidak dikelilingi oleh dinding. Definisi playground
adalah sebagai berikut:
 Play area: an outdoor recreational area for children, usually
equipped with swings, slides, seesaw, and other play equipment (Kamus
Encarta)
 A piece of land used for and usually with facilities for recreation
especially by children (Kamus Webster)
 An outdoor area provided for children to play on (Kamus Oxford)

Dapat disimpulkan bahwa pengertian playground adalah sebuah ruang terbuka


yang digunakan sebagai tempat bermain anak atau tempat rekreasi. Taman

14 Institut Teknologi Nasional


bermain biasanya diisi dengan berbagai jenis permainan seperti ayunan,
seluncuran, tangga, dan lainnya. Alat permainan selain membuat anak menjadi
tertarik dan nyaman untuk bermain, juga dapat memicu perkembangan anak
terutama perkembangan fisiknya.

Menurut Johnson (1998) jenis permain, membagi playground menjadi 3 tipe,


yaitu traditional playground, creative/contemporary playground, dan adventure
playground. Jenis taman bermain yang akan dibahas adalah
creative/contemporary playground karena taman bermain ini memiliki permainan
yang bervariasi. Berbeda dengan adventure playground yang memiliki permainan
dengan tingkat kesulitan tinggi. Alur sirkulasi pada creative/contemporary
playground memperlihatkan hubungan yang erat antara satu permainan dengan
permainan lainnya. Sedangkan adventure playground tidak memiliki alur sirkulasi
yang jelas karena proses berpindah dari satu permainan ke permainan lain juga
memiliki pengalaman tersendiri. Ada empat hal penting yang perlu diutamakan
dalam sebuah layout dan desain taman bermain (U.S. Consumer Product Safety
Commission), yaitu:
1. Pemilihan Lokasi Taman Bermain
Pemilihan site berfungsi untuk memilih lokasi yang tepat bagi taman bermain.
Ini berhubungan dengan karakteristik site yang nantinya akan digunakan
sebagai elemen yang dimasukkan ke dalam rancangan taman bermain.
Menurut Francis (1998), ada beberapa komponen di dalam taman bermain
yang perlu diperhatikan, yaitu akses, topografi dan unsur alam, serta area
aktivitas dan jalan setapak (path).

Saat merencanakan sebuah taman bermain, penting untuk mempertimbangkan


kemudahan akses dari dan menuju taman bermain. Akses tersebut harus dapat
memperlihatkan bahwa tempat tersebut diperuntukkan bagi anak-anak. Ini
dapat ditunjukkan dengan bentuk yang sesuai dengan skala anak dan
perbedaan material di sekeliling taman bermain. Keberadaan alat permainan
dengan warna yang menarik dapat membantu mendefinisikan sebuah tempat
bermain. Taman bermain juga harus dilengkapi oleh pembatas di sekelilingnya

15 Institut Teknologi Nasional


untuk mencegah anak berlari ke jalanan dan menjaga keamanan anak di dalam
taman bermain. Anak tidak boleh luput dari pengawasan orang dewasa
sehingga tinggi pembatas pun menjadi pertimbangan bagi perancang.

Untuk topografi, jika permukaan tanah di dalam taman bermain tidak rata dan
berbukit, sebaiknya sebagian wilayah tersebut tetap dipertahankan. Begitu
pula dengan unsur alam yang menarik. Keduanya dapat menjadi daya tarik
tersendiri bagi suatu taman bermain sehingga kegiatan bermain terasa lebih
bervariasi.

Area untuk beraktivitas dapat dipisahkan oleh adanya jalan setapak. Jalan
setapak ini menjadi akses bagi anak untuk pergi ke satu permainan ke
permainan lain. Lalu keberadaan jalan setapak dapat menjadi pengalaman dan
kesenangan tersendiri bagi anak, bahkan dapat dianggap sebagai sebuah
petualangan menuju area bermain lainnya. Pola sirkulasi pada tempat bermain
anak biasanya tidak membuat suatu alur yang lurus dan kaku, tetapi lengkung
dan berbelok-belok. Ini bertujuan agar anak tidak merasa bosan terhadap
suasana tempat bermain itu sendiri. Selain itu, jalan setapak yang
berkelanjutan membuat anak belajar mengalami ruang.

2. Lokasi Penempatan Permainan dan Zona Bermain


Kebiasaan bermain pada anak berbeda-beda, ada anak yang suka bermain
sendiri, bermain dalam kelompok kecil, ataupun kelompok besar. Oleh karena
itu, area bermain dipisah menjadi tiga bagian yaitu quiet play area, active play
area, dan natural area (State Government of Victoria, Australia, Department
of Human Services).

Pada quiet play area, jenis permainan menuntut ketekunan anak. Contoh jenis
permainannya adalah bermain pasir dan balok. Di sini anak dapat bermain
sendiri ataupun dalam kelompok kecil. Tempat yang kecil dan terpencil dapat
memicu imajinasi anak, sehingga area ini dapat menjadi tempat rahasia bagi
anak.

16 Institut Teknologi Nasional


Pada active play area, jenis permainannya antara lain jungkat-jungkit,
perosotan/seluncur, panjatan, ayunan, kotak pasir, monkey bars, permainan
tangga, dan lainnya. Banyak kegiatan lain yang dapat dilakukan antara lain
berlari, lompat, main bola, olah raga, dan bermain sepeda. Jika kegiatan pada
active play area dilakukan oleh kelompok besar, maka ruang yang dibutuhkan
untuk berinteraksi pun menjadi lebih luas. Semua kegiatan yang ada di sini
berfungsi untuk mengembangkan kekuatan fisik, keseimbangan, koordinasi,
dan rasa percaya diri anak.

Pada natural area biasanya diisi oleh elemen natural seperti rumput, pohon,
pasir. Unsur alam yang membuat area bermain menjadi teduh dan nyaman. Di
area ini anak memiliki banyak kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan
sekitarnya. Vegetasi sebaiknya menyatu dengan area bermain sehingga dapat
menjadi objek bermain bagi anak (State Government of Victoria, Australia,
Department of Human Services), misalnya bermain masak-masakan. Pohon
yang tinggi memerlukan perawatan dan pemangkasan agar tidak berbahaya
bagi anak.

Pemisahan antara area untuk quiet play dan active play bertujuan untuk
memisahkan antara anak yang ingin bermain sendiri dan bermain bersama. Ini
sesuai dengan yang dikatakan oleh Mildred Parten mengenai social play dan
non social play dalam teori bermain. Ada anak yang cenderung nyaman
bermain sendiri dan sibuk dengan imajinasinya, ada pula anak yang senang
berinteraksi dan bermain bersama.

3. Pemisahan Permainan Berdasarkan Usia


Taman bermain digunakan oleh anak dengan berbagai usia. Setiap jenis
permainan memiliki fungsi untuk perkembangan anak. Oleh sebab itu, penting
untuk mengadakan pembedaan jenis permainan bagi anak usia 2-5 tahun dan
6-12 tahun. Selain itu, anak biasanya nyaman bermain dengan anak yang
sebaya. Pembedaan jenis permainan secara tidak langsung akan membentuk
area bermain yang berbeda pula.

17 Institut Teknologi Nasional


4. Pengawasan
Anak sering mengalami cedera saat bermain. Oleh sebab itu, anak yang
bermain di dalam taman bermain tetap membutuhkan pengawasan dari orang
dewasa, terutama bagi anak berusia 2-5 tahun. Desain taman bermain dapat
memfasilitasi kebutuhan ini, misalnya dengan cara mendekatkan area istirahat
dengan area bermain.

Selain desain taman bermain, masalah keselamatan anak juga perlu


diperhatikan. Masalah keselamatan ini meliputi pemilihan material permukaan
alas dan keamanan pada alat permainan itu sendiri. Menurut Francis (1998)
pemisahannya adalah sebagai berikut:
 Datar, berupa rumput atau tanah. Kegiatan yang dilakukan adalah lari dan
kejar-kejaran
 Permukaan keras, terdapat pada area sirkulasi, untuk kegiatan berjalan,
bermain sepeda dan scooter
 Area jatuh, seperti pasir dan rubber mats. Terdapat di bagian bawah alat
permainan dan sekitarnya.

2.4 Elemen Ruang


Setiap perancangan dalam sebuah kawasan perlu memperhatikan elemen-elemen
perancangan yang telah distandarisasikan, sehingga nantinya kawasan tersebut
memiliki karakteristik yang jelas. Begitu pula dalam sebuah pembangunan taman
bermain. Menurut Hamid Shirvani dalam bukunya "'Urban Design Process",
terdapat delapan macam elemen yang membentuk sebuah kota (dapat diterapkan
dalam sebuah kawasan), sebagai berikut:
1. Tata Guna Lahan (Land Use) merupakan rancangan dua dimensi berupa
denah peruntukan lahan sebuah kawasan. Ruang-ruang tiga dimensi
(bangunan) akan dibangun di tempat-tempat sesuai dengan fungsi
bangunan.
2. Bentuk dan Massa Bangunan (Building Form and Massing) merupakan
bentuk dan massa bangunan yang ada dapat membentuk suatu kawasan
serta bagaimana hubungan antar-massa (banyak bangunan) yang ada.

18 Institut Teknologi Nasional


3. Sirkulasi dan Parkir (Sirculation and Parking) merupakan elemen
perancangan kawasan yang secara langsung dapat membentuk dan
mengkontrol pola kegiatan kawasan, sebagaimana halnya dengan
keberadaan sistem transportasi dari jalan publik, pedestrian way, dan
tempat-tempat transit yang saling berhubungan akan membentuk
pergerakan (suatu kegiatan).
4. Ruang Terbuka (Open Space) merupakan ruang terbuka (open space)
selalu menyangkut lansekap.
5. Jalur Pejalan Kaki (Pedestrian Ways) merupakan elemen pejalan kaki
harus dibantu dengan interaksinya pada elemen-elemen dasar kawasan dan
harus berkaitan dengan lingkungan kawasan dan pola-pola aktivitas sertas
sesuai dengan rencana perubahan atau pembangunan fisik kawasan di
masa mendatang.
6. Pendukung Aktivitas (Activity Support) merupakan adalah semua fungsi
bangunan dan kegiatan-kegiatan yang mendukung ruang publik suatu
kawasan. Bentuk, lokasi dan karakter suatu kawasan yang memiliki ciri
khusus akan berpengaruh terhadap fungsi, penggunaan lahan dan kegiatan
pendukungnya.
7. Penandaan (Signage) merupakan petunjuk arah jalan, rambu lalu lintas,
media iklan, dan berbagai bentuk penandaan lain.
8. Preservasi (Preservation) merupakan kawasan perlindungan terhadap
lingkungan tempat tinggal dan urban places yang ada dan mempunyai ciri
khas.

2.5 Keamanan
Keamanan adalah keadaan aman dan tenteram (Tarwoto dan Wartonah, 2010).
Keadaan aman dan tenteram ini bila dikaitkan dengan ruang bermain ialah
keadaan bermain yang aman maupun terbebas dari bahaya, segala kecelakaan dan
cedera. Menurut Fatmawati (2009), kebutuhan keamanan fisik merupakan
kebutuhan untuk melindungi diri dari bahaya yang mengancam kesehatan fisik
atau lingkungan yang aman. Keamanan berkaitan erat dengan keselamatan

19 Institut Teknologi Nasional


pengguna, maka agar seseorang selamat terhindar dari kecelakaan, terdapat empat
prinsip pokok yang harus dipegang, yaitu mengenal bahaya, menghindari bahaya,
(3) mengontrol bahaya yang tidak dapat dihindari, dan (4) jangan menciptakan
bahaya. Prinsip ini bersifat dan berlaku umum untuk berbagai bidang kehidupan,
seperti transportasi, rekreasi, dan olahraga (Yost dalam Muchtamadji, 2004).

Menurut Santrock dalam Sumargi & Simanjuntak (2010), pemberian pengajaran


pada anak harus disesuaikan dengan tahap perkembangan mereka agar materi
dapat dapat dipahami dengan baik oleh anak. Pendekatan tersebut dapat
meningkatkan pengetahuan anak tentang bahaya dan cara menghindarinya. Selain
demonstrasi dan teori, pelatihan keterampilan khusus lebih efektif meningkatkan
pengetahauan dan sikap tentang keselamatan pada anak. Anak cenderung kurang
mampu memahami penjelasan secara lisan tentang bahaya bila tidak disertai
dengan praktik langsung (Lamb, [Link], 2006).

Faktor keselataman merupakan kunci utama dari penyediaan fasilitas bermain


pada taman bermain anak. Keselamatan merupakan suatu upaya untuk
mengurangi kecelakaan pada taman bermain dengan memperhatikan faktor-faktor
penyebab kecelakaan, seperti pada ruang bermain, fasilitas serta perilaku
pengguna dan penggunaan taman bermain. Setiap anak, bermain pada taman
bermain wajib memperhatikan faktor keselamatan yang memungkinkan terjadinya
kecelakaan maupun cedera yang mengancam dan mengalami peningkatan yang
signifikan.

Maka ruang bermain yang aman harus menjamin keselamatan anak-anak, dari
beberapa negara di dunia yang memiliki peraturan maupun standar permainan
anak, belum terdapat peraturan khusus yang dikeluarkan dan dipatenkan. Karena
beberapa pertimbangan, seperti standar yang bersifat umum, keterangannya lebih
rinci dan mudah diterapkan, serta menjadi acuan dibeberapa taman bermain
berskala internasional di dunia yang berjudul Public Playground Safety Handbook
(2015) dikeluarkan oleh U.S. Consumer Product Safety Commission. Standar ini
telah menjadi acuan dibeberapa taman bermain berskala internasional, standar ini
mencakup beragam kriteria seperti pemeliharaan, bahan peralatan, teknik

20 Institut Teknologi Nasional


pemasangan, permukaan, inspeksi, kekuatan peralatan, inspeksi, akses di taman
bermain, tata letak ruang bermain, persyaratan kinerja dan spesifikasi untuk jenis-
jenis peralatan bermain.

2.5.1. Kriteria dalam Penyediaan Elemen Ruang Bermain Anak pada Ruang
Bermain Anak
Enam kriteria utama dalam penyediaan elemen ruang bermain anak dalam standar
keamanan berdasarkan Public Playground Safety Handbook, sebagai berikut:
1. Aksesibilitas
 Lokasi taman bermain mudah diakses oleh sasaran penggunanya;
 Area taman bermain di tempatkan jauh dari jangkauan anak terhadap
kawasan ramai lalu lintas;
 Jalan masuk menuju tempat bermain jelas terlihat dan mengarahkan
anak-anak melalui rute pejalan kaki yang aman menuju lokasi;
 Pada taman bermain tersedia jalan diperuntukan (dipisahkan) bagi
kendaraan bermotor dan pejalan kaki.
2. Ruang yang aman untuk dijadikan ruang bermain anak
 Ruang bermain anak luas sehingga anak dapat bermain dengan leluasa;
 Terhindar dari area bermain anak yang terlalu rapat dan padat, karena
dapat membatasi ruang gerak anak, dan menyebabkan bentrok antar
pengguna permaian;
 Memperhatikan peletakan peralatan bermain sebagai penunjang
kegiatan bermain serta penempatan fasilitas di lokasi yang tepat untuk
mengurangi kecelakaan yang terjadi.
3. Tantangan yang aman dan memperhatikan keselamatan
 Area bermain sebagai penunjang kegiatan bermain dan menyediakan
permainan dengan adanya tantangan, bermacam permainan berguna
untuk pertumbuhan fisik anak, keseimbangan dan koordinasi, tetapi
tidak melakukan hal yang berbahaya;
 Tantangan menimbulkan resiko yang disadari oleh anak saat bermain.

21 Institut Teknologi Nasional


4. Variasi permainan
 Berbagai macam permainan yang tersedia di area bermain memicu
timbulnya suatu kreativitas anak.
5. Tersedianya tantangan sesuai dengan usia anak
 Taman bermain menyediakan aktivitas serta rentang tantangan dan
tingkatan/level dalam permaianan yang dimainkan oleh anak dari
berbagai usia yang menimbulkan resiko.
6. Fleksibilitas
 Elemen fisik mudah dipindahkan dan dirubah sangat dibutuhkan. Anak
berkembang secara kontinyu sehingga mereka membutukan perubahan
saat mereka belajar dan berkembang;
 Dalam perencanaan ruang yang baik dapat diubah secara kontinyu,
memiliki ruang yang berpotensi terjadinya perubahan.

2.5.2. Kriteria dalam Penyediaan Fasilitas Bermain Anak pada Ruang


Bermain Anak
Empat kriteria utama dalam penyediaan fasilitas bermain anak pada ruang
bermain anak dalam standar keamanan berdasarkan Public Playground Safety
Handbook, sebagai berikut:
1. Pengawasan
a. Apabila peralatan bermain tidak memiliki jaminan keselamatan apabila
anak sedang bermain
b. Merasa terdapat spot-spot pengawasan terhadap anak saat bermain
c. Peralatan bermain yang terbuat dari bahan transparan untuk
memudahkan pengawasan anak saat bermain
d. Aturan tertulis untuk menghormati/menghargai sat menggunakan
fasilitas bermain secara bergiliran yang melayani anak pada usia 2-5
tahun dan 6-12 tahun
2. Desain peralatan bermain yang memperhatikan usia
a. Pemisahan zona sesuai dengan kelompok usia seperti bangku, pagar
dsb

22 Institut Teknologi Nasional


b. Pagar pembatas untuk memberikan perlindungan saat anak bermain
c. Pagar pembatas setidaknya lebih dari 1,8 meter untuk memungkinkan
tidak dipanjat
d. Rambu-rambu penandaan di area bermain untuk penggunaan peralatan
sesuai usia
e. Desain permainan sudah sesuai dengan kelompok usia untuk
mengurangi resiko kecelakaan saat bermain
f. Struktur peralatan permainan cenderung kurang aman (keras dan
membahayakan anak)
3. Permukaan Alas Pencegah Cedera
a. Permukaan alat permainan yang mudah lepas seperti serta kayu, pasir,
ban robek atau bahan-bahan yang terbuat dari silikon.
b. Tinggi peralatan permainan disesuaikan dengan anak usia sekolah dan
pra sekolah (lebih dari 6-8 kaki)
c. Permukaan peralatan yang mudah terurai seperti pasir diletakkan di
bawah maupun sekitar peralatan permainan
d. Permukaan yang lembut di sekitar peralatan permainan
e. Alat permainan yang menggunakan beton
f. Sampah yang menyebabkan cedera di area permainan (gelas, tutup
botol, jarum dsb).
4. Pemeliharaan Peralatan
a. Celah pada peralatan permainan yang menyebabkan tersangkut baju
b. Pagar atau kawat lebarnya 3 kali lebih besar dari kepala anak untuk
menghindari potensi terjerat
c. Potongan peralatan permainan yang rusak
d. Bagian yang hilang menuju akses permainan
e. Cat yang digunakan pada peralatan permainan aman dan ramah
lingkungan
f. Baut yang menonjol dari peralatan permainan yang menimbulkan
potensi berbahaya

23 Institut Teknologi Nasional


g. Peralatan yang rapuh dan tidak kokoh yang menimbulkan bahaya saat
bermain
h. Permukaan peralatan permainan yang aman tidak menyebabkan cedera
i. Peralatan permainan terbuat dari kayu (lapuk) yang menyebabkan
cedera serius
j. Peralatan permainan plastik yang dapat pecah saat suhu ekstrim

2.6 Sintesa Literatur


Sintesa Literatur dalam penelitian ini mengacu pada penelitian terdahulu yang
telah dilakukan sebelumnya sebagai berikut:
Tabel 2. 1
Sintesa Literatur
Judul Penulis Tahun Tujuan
Mengamati secara seksama
Standar Keamanan dan
dan menjelaskan secara
Kenyamanan Ruang
Monica Rosari mendalam tentang bagaimana
Bermain Anak Usia 2017
Putri tentang bagaimana
Pra Sekolah pada
perancangan area bermain
Lahan Terbatas
terbatas yang ramah anak.
Memberikan perancangan
taman bermain anak serta
menyediakan fasilitas
permainan yang aman,
nyaman, dan dapat digunakan
Taman Bermain Anak Christofer bagi semua anak termasuk
dengan Penekanan Ronggur anak yang memiliki
Aspek Keamanan dan Hutapea, Haru 2015 keterbatasan fisik. Taman
Kenyamanan di A. Razziati, bermain menjadi fasilitas bagi
Tarekot Malang Nurachmad S. anak dalam mengembangkan
kemampuan kognitif, sosial,
fisik, serta kemampuan
emosional yang selalu
dibutuhkan saat tumbuh
menjadi dewasa.
Membutuhkan peralatan dan
Kids Safety Park, Batu fasilitas yang mampu
Penerapan Konsep Gabriella Rosita mewadahi aktifitas bermain
Keselamatan pada Darmawan, anak dan tetap mengutamakan
2008
Pengguna Taman Heru Sufianto, keselamatan. Untuk
Bermain Anak Agung Murti N mengurangi resiko kecelakaan
secara maksimal, perancangan
terhadap suatu area permainan

24 Institut Teknologi Nasional


Judul Penulis Tahun Tujuan
dengan faktor keselamatan
diperlukan agar anak-anak
selamat saat bermain. Melalui
tersedianya fasilitas bermain,
diharapkan mampu memenuhi
kualitas keselamatan sesuai
dengan kebutuhan para
penggunanya.
Mengetahui apakah taman
sudah mendukung kegiatan
Taman Bermain Anak- bermain anak dan memenuhi
anak di Permukiman Monalisa standar minim dari segi
(Studi Kasus: Taman Deborah, 2013 keselamatan [Link]
Persada Kemala dan Sukisno diharapkan dapat menjadi
Taman Galaksi) pertimbangan dalam
rancangan taman bermain di
Indonesia.
Sumber: Hasil Interpretasi, 2020

25 Institut Teknologi Nasional

Anda mungkin juga menyukai