0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan7 halaman

Terapi Tertawa untuk Reduksi Kecemasan Lansia

Diunggah oleh

pantirapihlusia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan7 halaman

Terapi Tertawa untuk Reduksi Kecemasan Lansia

Diunggah oleh

pantirapihlusia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

TERAPI TERTAWA PADA LANSIA UNTUK MENURUNKAN TINGKAT


KECEMASAN LANSIA
A. Topik
Menurunkan tingkat kecemasan lansia dengan terapi tertawa
B. Pengertian
Terapi kelompok adalah metode pengobatan pasien secara kelompok yang berfokus
untuk membuat pasien sadar diri, ada peningkatan hubungan interpersonal, atau
membuat perubahan yang dirancang dalam waktu tertetu dengan tenaga yang
memenuhi syarat. Terapi aktivitas kelompok (TAK) merupakan terapi yang dilakukan
atas kelompok penderita bersama-sama dengan berdiskusi satu sama lain yang
dipimpin atau diarahkan oleh seorang terapis.

Lansia merupakan salah satu kelompok atau populasi berisiko (population at risk)
yang semakin meningkat jumlahnya. Indonesia akan memasuki ageing population
ditandai dengan persentase lanjut usia (lansia) yang akan mencapai 10% pada tahun
2020 (Kemenkes RI, 2020). Jumlah orang lanjut usia (Lansia) di Indonesia saat ini
sekitar 27,1 juta orang (Redaksi Sehat Negeriku, 2021). Semakin meningkatnya
jumlah lanjut usia di Indonesia akan menimbulkan permasalahan yang cukup
kompleks baik dari masalah fisik maupun psikososial yang paling banyak terjadi pada
lansia seperti, kesepian, perasaan sedih, depresi dan kecemasan.

Kecemasan atau ansietas termasuk salah satu masalah kesehatan jiwa yang paling
sering muncul. Menurut Effendi (2019) menua bukan suatu penyakit, namun
merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan
kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan. Sedangkan badan
kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses
penuaan yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia.

Ansietas atau kecemasan merupakan perasaan takut yang tidak jelas dan tidak
didukung oleh situasi. Ansietas merupakan perasaan campuran berisikan ketakutan
dan keprihatinan mengenai masa-masa mendatang tanpa sebab khusus untuk
ketakutan tertentu. Kecemasan atau ansietas pada lansia memiliki gejala seperti,
perasaan khawatir atau takut, mudah tersinggung, kecewa, gelisah, perasaan
kehilangan sulit tidur sepanjang malam, sering membayangkan hal-hal yang
menakutkan dan rasa panik pada hal yang ringan, konflik-konflik yang ditekan dan
berbagai masalah yang tidak terselesaikan akan menimbulkan ansietas (Maryam dkk,
2008). Kecemasan adalah hal umum pada lansia, 10-20% dari populasi lansia didapati
mengalami kecemasan (Bethesda, 2009). Menurut Journal of American Society
dinyatakan bahwa 3-14 dari setiap 100 orang lansia memiliki gangguan kecemasan.
Menurut (Samodra, 2015), untuk menghindari dampak dari kecemasan dan stres,
maka diperlukan adanya suatu pengelolaan stres yang baik.

Salah satu jenis terapi yang dapat menimbulkan relaksasi sehingga dapat mengurangi
stres yaitu terapi tertawa. Terapi tertawa merupakan kegembiraan di dalam hati yang
dikeluarkan melalui mulut dalam bentuk suara tawa, senyuman yang menghias wajah,
perasaan hati yang lepas dan bergembira, dada yang lapang, peredaran darah yang
lancar sehingga bisa mencegah penyakit, memelihara kesehatan, serta menghilangkan
stres. Klien bisa mengalami suasana hati yang santai dalam hidupnya biarpun hanya
sejenak, maka bisa menjadi obat penangkalan kesedihannya (Bahari, 2019).

Terapi tertawa dipilih sebagai salah satu terapi untuk meningkatkan kemampuan
seseorang dalam menangani kondisi mental dan dalam pelaksanaannya terjadi proses
relaksasi sistem pernafasan. Terapi ini didasarkan pada konsep bahwa tertawa buatan
(simulatif) dapat memberikan manfaat fisiologis dan psikologis yang setara dengan
tertawa alami. Dalam praktiknya, terapi tertawa terbagi ke dalam beberapa tahapan.
Tahap pertama adalah pemanasan, yang meliputi perkenalan, peregangan ringan, serta
latihan pernapasan dalam untuk menciptakan suasana yang nyaman dan membangun
rasa percaya di antara peserta. Tahap berikutnya adalah latihan tertawa, di mana
peserta diajak melakukan berbagai teknik tertawa seperti tertawa berpura-pura,
tertawa seperti anak-anak, tertawa sambil berjabat tangan, hingga tertawa sambil
bergerak. Tahap terakhir adalah relaksasi dan pendinginan, berupa teknik pernapasan
relaksasi dan refleksi bersama untuk menenangkan pikiran dan tubuh setelah sesi
berakhir (Faizah, 2023).

Ketika manusia mengalami stres atau tekanan mental proses bernafas cepat dan
terburu-buru, dalam tertawa ini teknik bernafas yang tepat dapat mengalirkan oksigen
ke seluruh jaringan tubuh memberi dampak menenangkan pikiran. Terapi tertawa juga
melibatkan beberapa orang dalam kelompok tawa yang secara spontan saling
berinteraksi dan memberi dukungan sehingga meningkatkan hubungan interpersonal
dan rasa percaya diri (Yoshikawa, 2018).

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan intervensi Terapi Tertawa selama 15 menit diharapkan
kecemasan lansia menurun.
2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan intervensi Terapi Tertawa selama 15 menit diharapkan
lansia mampu:
1) Mengetahui manfaat terapi tertawa untuk meningkatkan kesehatan lansia
2) Mampu mengikuti langkah- langkah terapi tertawa
3) Mampu mempraktikkan secara mandiri terapi tertawa
4) Meningkatkan rasa nyaman dan bahagia pada lansia
5) Meningkatkan interaksi sosial antar lansia

D. Karakteristik Pasien
1. Kelompok lansia berjumlah 4 orang dengan kecemasan sedang sampai ringan
2. Lansia dengan fungsi kognitif yang masih baik.
3. Usia peserta 65 tahun keatas
4. Lansia yang memiliki sistem pendengaran masih baik
5. Lansia yang bersedia mengikuti aktivitas kelompok

E. Setting Tempat : Menggunakan zoom meeting


F. Pengorganisasian TAK
Leader : Lusia Septi Wulandari
Co Leader : Agustina Herlina Yustanti
Fasilitator : 1. I made aditya
2. Ana Heliana
Observer : 1. Kristina tri puji
2. Gita novita sari
Peran dan fungsi:
a. Leader
- Membuka acara
- Menyampaikan tujuan dilakukannya TAK
- Menyampaikan aturan kegiatan TAK
- Menyampaikan materi sesuai tujuan TAK
- Menjadi role model pada saat kegiatan
- Menciptakan situasi dan suasana yang memungkinkan pasien
termotivasi untuk mengekspersikan perasaanya
- Mengarahkan proses TAK kea rah pencapaian tujuan dengan cara
memotivasi kepada anggota kelompok untuk terlibat dalam kegiatan.
- Leader memperkenalkan diri dan mempersilahkan anggota diskusi
memperkenalkan diri
b. Co Leader:
- Menjadi role model
- Mengambil alih posisi leader jika leader pasif (bloking)
- Mengingatkan Leader jika kegiatannya mengimpang atau ada kegiatan
yang terlupakan.
- Menciptakan situasi dan suasana yang memungkinkan pasien
termotivasi untuk mengekspersikan perasaanya
- Mengarahkan proses TAK kea rah pencapaian tujuan dengan cara
memotivasi kepada anggota kelompok untuk terlibat dalam kegiatan.
c. Fasilitator
- Ikut serta dalam kegiatan kelompok untuk aktif dalam jalannya
permainan
- Memfasilitasi anggota dalam diskusi kelompok
- Mempertahankan keikutsertaan pasien dalam kegiatan.
- Memberi stimulus pada anggota yang kurang aktif.
- Mencegah hambatan atau gangguan terhadap jalannya kegaiatan.
d. Observer
- Mengobservasi jalannya TAK mulai dari persiapan, proses, dan
penutup
- Mencari serta mengarahkan respon klien
- Mencatat semua proses yang terjadi
- Memberi umpan balik pada kelompok
- Melakukan evaluasi pada TAK
- Membuat laporan jalannya aktivitas kelompok

G. Seleksi pasien nama peserta yang ikut TAK


1. Ibu Kristin
2. Ibu Tri
3. Pak Rapingun
4. Pak Yok
5. Ibu Nining
6. Ibu Fatonah

H. Metode TAK : Peragaan dan demonstrasi


I. Rencana Kegiatan
a. Tanggal : Minggu, 25 Mei 2025
b. Waktu : 13.00-14.00 WIB
c. Tempat : zoom meeting

J. Proses TAK
a. Fase Orientasi
1. Salam : (Dilakukan 10 menit)
Selamat pagi Bapak dan Ibu, apa kabar hari ini? perkenalkan kami
mahasiswa STIKes Panti Rapih Yogyakarta. (pengenalan nama masing-
masing anggota).
2. Validasi: (Dilakukan 10 menit)
Bagaimana perasaan bapak dan ibu hari ini? Bapak dan Ibu sudah duduk
nyaman semua? Kalau ada yang merasa kurang enak duduknya atau butuh
bantuan, silakan bilang ya. Terima kasih sudah datang dan bergabung.
Kehadiran Bapak dan Ibu sangat berarti bagi kami dan juga bagi teman-
teman lainnya.
3. Kontrak waktu :
Hari ini kita akan melakukan terapi tertawa bersama. Ini bertujuan untuk
meningkatkan interaksi social serta terapi ini dapat meningkatkan ventilasi
paru-paru serta asupan oksigen ke otak dan organ tubuh lainnya, sehingga
membantu meningkatkan energi dan kejernihan berpikir. Terapi kelompok
untuk membantu kita merasa lebih bahagia, mengurangi stres, dan menjaga
semangat. Kegiatannya ringan dan menyenangkan, tidak perlu khawatir.
Kegiatan akan berlangsung selama 30 menit saja. Kita mulai dengan
pemanasan ringan, lalu tertawa bersama lewat beberapa permainan kecil.
Setelah itu kita tutup dengan sedikit relaksasi. Apakah Bapak dan Ibu
bersedia mengikuti kegiatan ini selama 30 menit?

b. Fase Kerja
Co Leader memberi contoh lalu peserta menirukan :
1. Tepuk tangan seirama 1-2...1-2-3 sambil mengucapkan Ho-ho... Ha-Ha-
Ha…
2. Lakukan pernafasan dalam dengan tarikan nafas melalui hidung
dan dihembuskan. (bersama kata-kata: Haaa!!/ Hooo!!)
3. Gerakkan engsel bahu ke depan dan ke arah belakang
4. Kemudian menganggukkan kepala ke bawah hingga dagu hampir
menyentuh dada, lalu mendongakkan kepala ke atas belakang
5. Putar pinggang ke arah kanan kemudian ditahan beberapa saat, kemudian
memutar ke arah kiri dan ditahan beberapa saat, lalu kembali ke posisi
semula
6. Tawa singa : julurkan lidah sepenuhnya dengan mata terbuka lebar dan
tangan teracung seperti cakar singa dan tertawa dari perut
7. Ulangi langkah pertama dan diikuti tawa singa

c. Fase Terminasi
1. Evaluasi
Bagaimana perasaan setelah dilakukan Terapi Aktivitas Kelompok? coba
jelaskan manfaat dari terapi ini?
2. Rencana Tindak lanjut
Untuk tindak lanjutnya, Bapak dan Ibu bisa mencoba tetap tersenyum dan
tertawa di rumah. Misalnya dengan menonton tayangan lucu, bercerita lucu
dengan teman, atau saling berbagi cerita yang menghibur. Tertawa sebentar
setiap hari itu sehat, lho
3. Kontrak yang akan datang
Untuk itu, kami mengundang Bapak dan Ibu kembali bergabung minggu
depan, di hari dan jam yang sama, yaitu hari Senin pukul 09.00 pagi.
Apakah bersedia hadir kembali? Terima kasih atas kesediaannya. Semoga
kita semua sehat dan bisa bertemu lagi minggu depan. Diharapkan
dipertemuan berikutnya bapak dan Ibu semua mampu menyebutkan
kembali manfaat terapi tertawa, mampu mengikuti langkah- langkah terapi
tertawa, mampu mempraktikkan secara mandiri terapi tertawa,
meningkatkan rasa nyaman dan bahagia pada lansia, serta meningkatkan
interaksi sosial antar lansia

Anda mungkin juga menyukai