1.
Kasus
Bukan rahasia lagi fenomena kasus rakyat jelata yang terjerat hukum karena kasus sepele
dan kecil sudah berlangsung sejak lama di Indonesia. Apapun itu bentuk kasusnya
memang harus diproses secara ketat, namun tidak sedikit hukum yang diberlakukan
untuk rakyat kecil kadang dipandang tidak tepat sasaran, diantaranya yang menjerat
orang-orang sudah lanjut usia dan melakukannya terpaksa karena himpitan ekonomi.
Tidak sedikit tuduhan pidana serta kerugian yang ditimbulkan sangatlah ringan, namun
faktanya mereka tetap di proses dan berujung kepada hukuman penjara.
Salah satu contoh adalah kasus yang menimpa nenek Saulina Boru Sitorus di medan,
pada 29 Januari 2018 nenek berumur 92 tahun tersebut divonis hukuman penjara 1 bulan
14 hari karena terbukti melakukan perusakan akibat menebang pohon durian berdiameter
lima inci milik kerabatnya yang berada di tanah wakaf di Dusun Panamean Desa
Sampuara, Uluan, Toba Samosir Sumatera Utara.
Tak terima kerabatnya melaporkan ke polisi. Kasus ini, semakin menyedot perhatian
karena anak-anak dari nenek Saulina ikut didakwa. Bahkan hakim dinilai terlalu dini
memutuskan bahwa tanah tersebut milik pelapor. Keenam anaknya divonis hukuman
masing-masing 4 bulan 10 hari. Padahal menurut pengakuan Saulina seperti dikutip dari
[Link] dirinya dan anak-anak pernah meminta maaf kepada pelapor, namun
upaya damai tidak tercapai karena mereka tidak sanggup menuruti nominal pelapor yang
mecapai ratusan juta.
Sumber:[Link]
Pertanyaan:
Berikanlah pandangan anda didasarkan pada analisis yang kongkrit dalam pemahaman
dan pengaturan tentang Hak Asasi Manusia terkait adanya permintaan sejumlah nominal
yang mencapai ratusan juta oleh pelapor kepada keluarga nenek Saulina untuk upaya
damai dalam perkara tersebut! Jelaskan!
Jawab :
Dari perspektif hak asasi manusia, permintaan ratusan juta rupiah oleh para jurnalis untuk
penyelesaian damai bagi keluarga Nenek Saurina adalah cerminan dari gender dan, oleh
karena itu, merupakan penyalahgunaan kekuatan ekonomi yang dapat merugikan
keluarga yang sudah mengalami kesulitan ekonomi. Hal ini bertentangan dengan prinsip
kesetaraan di hadapan hukum, karena memungkinkan mereka yang memiliki kekuatan
ekonomi untuk memanipulasi sistem hukum demi kepentingan mereka. Pihak berwenang
harus memastikan bahwa prosedur penyelesaian sengketa menghormati prinsip-prinsip
keadilan dan kesetaraan, bahwa penyelesaiannya masuk akal dan tidak merugikan para
pihak.
Kompensasi ialah sesuatu yang dibayarkan oleh pelaku kepada korban, hal ini merupakan
upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah permasalahan tersebut sampai ke
pengadilan dan menyelesaikannya melalui mediasi. Restitusi adalah suatu jenis ganti rugi
yang diberikan oleh pelaku kepada korban, keluarganya, atau pihak ketiga akibat suatu
kejahatan. Hal ini dapat berupa pengembalian properti, pembayaran kompensasi, atau
penggantian biaya tindakan tertentu. Berdasarkan kejadian di atas, maka tindakan yang
dilakukan nenek Saurina merupakan pelanggaran HAM ringan, karena dalam kasus ini
nenek Saurina menyebabkan kerugian terhadap harta benda orang lain, dalam hal ini
saudaranya. Pasal 406(1) KUHP (“KUHP”) mengatur:
"Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusakkan,
membikin tak dapat dipakai atau menghilangkan barang sesuatu yang seluruhnya atau
sebagian milik orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan
bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah."
Namun jika kita lihat nominal di atas, bahwa ganti rugi yang diminta oleh korban sangatlah
tidak masuk akal dan tidak pada tempatnya, bagaimana mungkin satu buah batang
durian berdiameter 5 inchi harus diganti dengan nominal ratusan juta, sementara dalam
KUHP ganti rugi yang dibebankan tidak sebesar itu. Jika dikaitkan dengan hak asasi
manusia, sebenarnya itu adalah pohon durian Itu hak milik korban, namun perbuatan
korban memerlukan ganti rugi ratusan juta rupiah. Itu sebenarnya melanggar hak asasi
manusia.
Sumber :
[Link]
turan-hak-asasi-manusia-dalam-hukum-indonesia
[Link]