0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan20 halaman

Keselamatan Pasien di PACU Anestesi

Dokumen ini membahas pentingnya optimalisasi keselamatan pasien di Post-Anesthesia Care Unit (PACU) setelah prosedur anestesi. Komplikasi pascaoperasi dapat terjadi kapan saja, sehingga pasien harus diawasi secara ketat dan dilengkapi dengan peralatan monitoring yang memadai. Standar pengelolaan pasien di PACU ditetapkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan mencegah morbiditas yang dapat terjadi akibat pengelolaan yang tidak adekuat.

Diunggah oleh

fatiyah malihah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan20 halaman

Keselamatan Pasien di PACU Anestesi

Dokumen ini membahas pentingnya optimalisasi keselamatan pasien di Post-Anesthesia Care Unit (PACU) setelah prosedur anestesi. Komplikasi pascaoperasi dapat terjadi kapan saja, sehingga pasien harus diawasi secara ketat dan dilengkapi dengan peralatan monitoring yang memadai. Standar pengelolaan pasien di PACU ditetapkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan mencegah morbiditas yang dapat terjadi akibat pengelolaan yang tidak adekuat.

Diunggah oleh

fatiyah malihah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Optimalisasi Keselamatan Pasien di Post-Anesthesia

Care Unit
J URNA L K O MP LI KASI AN E ST E SI
V O L U ME 8 N O M O R 3 , A G U S T U S 20 21

TINJAUAN PUSTAKA
OPTIMALISASI KESELAMATAN PASIEN DI POST-
ANESTHESIA CARE UNIT
Untung Widodo1*, Calcarina Fitriani Retno Wisudarti1, Avian
Krispratama1
1Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat,
danKeperawatan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
*Coresponden author : Untung Widodo, Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas

Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, danKeperawatan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,


Indonesia (untungwdd@[Link])

ABSTRAK

Post Anesthesia Care Unit (PACU) adalah tempat dilakukan


Article Citation : Untung pengawasan terhadap pasien yang telah menjalani proses anestesi,
Widodo, Calcarina Fitriani baik anestesi umum maupun regional. Masa pemulihan bermula
Retno Wisudart1, Avian segera setelah pasien meninggalkan meja operasi. Komplikasi
Krispratama. Optimalisasi pascaoperasi dapat terjadi kapan saja, termasuk pada saat
Keselamatan Pasien Di Post- pemindahan pasien dari kamar operasi ke ruang pemulihan. Pasien
Anesthesia Care Unit. Jurnal harus diawasi dan dimonitor dengan ketat. Beberapa komplikasi
Komplikasi Anestesi 8(3)- yang bisa terjadi diantaranya gangguan pemulihan kesadaran,
2021. penurunan tahanan perifer dan curah jantung karena sisa obat
anestesi, dan keadaan hipovolemik karena tidak adekuatnya
penggantian cairan selama operasi atau perdarahan pascaoperasi
yang terus berlanjut. Hipertensi dapat terjadi akibat peningkatan
aktifitas simpatoadrenal dan nyeri berat.

Kata kunci: keselamatan pasien; post anesthesia care unit; ruang


pemulihan

ABSTRACT

Post-Anesthesia Care Unit (PACU) is a place for monitoring patients


who have undergone the anesthesia process, both regional and
general. The recovery period begins immediately after the patient
leaves the operating table. Complications can occur at any time,
including when transferring a patient from the operating room to the
recovery room. The patient must be closely monitored and
monitored. Several post-anesthesia complications include
consciousness disorder, a decrease of peripheral resistance and
cardiac output due to residual anesthesia, and hypovolemia due to
inadequate fluid replacement during surgery or continued
postoperative bleeding. Hypertension may occur due to increased
activity of sympathoadrenal and severe pain.

Keywords: patient safety; post-anesthesia care unit; recovery room

1
Jurnal Komplikasi Anestesi – Volume 8 Nomor 3,
Agustus 2021
PENDAHULUAN gastrointestinal juga umum terjadi.2
Upaya peningkatan Sejumlah studi yang terfokus
pelayanan pada
pascaoperasi dipicu oleh banyaknya kejadian komplikasi di PACU menunjukkan
kejadian kematian dini pascaoperasi kejadian komplikasi yang bervariasi mulai
yang seharusnya dapat dicegah. dari mual dan muntah (9,8%), bantuan
Pengalaman Perang Dunia II dalam jalan napas (6,9%), ketidakstabilan
memberikan perawatan bedah untuk hemodinamik (5%), gangguan status
sejumlah besar korban pertempuran mental (0,65%), dan gangguan jantung
berkontribusi pada tren sentralisasi (1%). Komplikasi ini meningkat pada
perawatan pascaoperasi di ruang pasien-pasien dengan status ASA yang
pemulihan, di mana perawat dapat lebih tinggi, durasi anestesi
memperhatikan beberapa pasien
pascaoperasi secara bersamaan. Praktik
perawatan pasien pascaoperasi selama
satu malam di Post-Anesthesia Care Unit
(PACU) semakin populer akibat semakin
kompleksnya prosedur pembedahan
yang diiringi terbatasnya tempat tidur
perawatan intensif bedah.1
Kesuksesan ruang pemulihan
merupakan
faktor utama dalam evolusi unit
perawatan intensif bedah modern.
Ironisnya, ruang pemulihan belum lama
diterima sebagai perawatan intensif di
kebanyakan rumah sakit. Baru pada
tahun 1970-an PACU digunakan untuk
merawat pasien setelah prosedur
anestesi dan pasien dengan critically ill
pascaoperasi.1
Masa pemulihan bermula segera
setelah pasien meninggalkan meja
operasi. Komplikasi pascaoperasi dapat
terjadi kapan saja, termasuk pada saat
pemindahan pasien dari kamar operasi ke
ruang pemulihan. Pasien harus diawasi
dan dimonitor dengan ketat. Beberapa
komplikasi yang dapat terjadi
diantaranya gangguan pemulihan
kesadaran, penurunan tahanan perifer
dan curah jantung karena sisa obat
anestesi, dan keadaan hipovolemik
karena tidak adekuatnya penggantian
cairan selama operasi atau perdarahan
pascaoperasi yang terus berlanjut.
Hipertensi dapat terjadi akibat
peningkatan aktivitas simpatoadrenal
dan nyeri berat. Kondisi hipoventilasi,
hipoksemia, serta gangguan

2
Optimalisasi Keselamatan Pasien di Post-Anesthesia
yang lama, pembedahan emergency, mengarah
Care Unit pada morbiditas serius
atau pembedahan abdominal dan sehubungan dengan ketidakadekuatan
orthopedi.3 monitor. Tensimeter air raksa atau
pegas juga harus disiapkan untuk
Unit Perawatan Paska Anastesi
Desain mengukur monitor tekanan darah non
PACU sebaiknya terletak di dekat invasif.
kamar operasi sehingga pasien dapat
didorong lagi untuk pembedahan bila
diperlukan atau tim kamar operasi
dapat segera hadir ke ruang PACU. PACU
juga hendaknya berdekatan dengan
bagian radiologi, laboratorium, bank
darah, dan fasilitas perawatan intensif
lain. Memindahkan pasien yang sakit
kritis dalam elevator atau melewati
koridor yang panjang dapat
membahayakan pasien karena
kegawatdaruratan dapat terjadi di
sepanjang jalan.1
Desain bangsal yang terbuka
memungkinkan observasi semua pasien
secara simultan. Kamar pasien yang
tertutup diperlukan untuk isolasi dan
kontrol infeksi. Rasio tempat tidur PACU
adalah 1,5 tempat tidur untuk setiap
satu kamar operasi.1 Setiap ruang
pasien harus baik pencahayaannya dan
cukup luas untuk mengakses pasien
yang terpasang infus, ventilator, atau
peralatan radiologi. Sebagai contoh,
jumlah tempat tidur PACU untuk rumah
sakit yang memiliki 8 ruang operasi
adalah 16 tempat tidur, terdiri dari 12
tempat tidur dengan luas 13,5 m2 dan 4
tempat tidur dengan luas 26 m2. Sumber
arus listrik, oksigen, dan suction harus
ada pada setiap ruangan. Jumlah
tempat tidur juga harus
mempertimbangkan rata-rata durasi
pasien diawasi di ruang PACU.3
Peralatan dan Monitoring
Monitor standar adalah pulse
oksimetri, EKG, dan tensimeter otomatis
untuk setiap pasien. Ketiga monitor
tersebut harus digunakan untuk setiap
pasien di fase awal pemulihan anestesi.
Sebagai pedoman, setiap satu set
monitor untuk dua bed tidak selamanya
dapat diterima,khususnya setelah
banyak kejadian di PACU yang

3
Jurnal Komplikasi Anestesi – Volume 8 Nomor 3,
Agustus 2021
Monitor tekanan arteri, vena pembedahan. Jumlah perawat yang ideal
sentral, dan monitoring tekanan adalah 1 perawat untuk 2 pasien. Aspek
intrakranial diperlukan bila PACU medikolegal harus diperhatikan, karena
digunakan untuk merawat pasien staffing yang tidak adekuat sering
dengan kondisi critically-ill berperan pada morbiditas yang terjadi di
pascaoperasi. Kapnograf dapat berguna PACU. Jika jadwal kamar operasi
untuk pasien yang terintubasi. mencantumkan pasien anak-anak atau
Temperatur sensitive strip digunakan banyak operasi singkat, rasio satu
untuk mengukur suhu di PACU tetapi perawat untuk satu pasien bisa
pada umumnya tidak akurat untuk dilakukan. 4

memantau hipotermia atau hipertermia.


Termometer air raksa atau elektrik
harus digunakan bila ada kecurigaan
suhu yang abnormal. Alat penghangat
udara, lampu panas, selimut hangat
atau dingin harus tersedia.3
PACU seharusnya punya sendiri
alat–alat pokok dan gawat darurat
terpisah dari kamar operasi. Alat-alat ini
meliputi kanul oksigen, facemask
dengan berbagai pilihan, oral dan nasal
airway, laringoskop, pipa endotrakeal,
Laryngeal mask Airway (LMA), hingga
Jackson-Rees untuk bantuan ventilasi.
Persediaan kateter untuk kanulasi
vaskuler (vena, arteri, vena sentral, atau
arteri pulmonalis) harus cukup. Set
trakeostomi dan vena seksi juga harus
ada. Sebuah alat defibrilasi transkutan
dan sebuah troli emergency dengan
obat-obatan dan perlengkapan untuk
bantuan hidup lanjut serta syringe pump
harus ada dan dicek secara periodik.
Alat untuk terapi respirasi seperti terapi
bronkodilator dengan aerosol serta
ventilator harus ada dalam ruang
pemulihan.2
Staf
PACU dibawah pimpinan seorang
dokter anestesi. Manajemen pasien di
dalam PACU tidak berbeda dengan di
kamar operasi dan merupakan suatu
koordinasi antara ahli anestesi, ahli
bedah, dan beberapa ahli lain. Ahli
anestesi bertanggung jawab mengelola
analgesia, jalan napas, jantung, paru,
dan masalah-masalah metabolisme.
Sementara itu, ahli bedah mengelola
masalah- masalah yang berkaitan
langsung dengan masalah

4
Optimalisasi Keselamatan Pasien di Post-Anesthesia
Standar PACU untuk pasien yang hipovolemik sedang
Care Unit
American Society of head up untuk pasien yang punya
Anesthesiologyst (ASA) menetapkan gangguan fungsi paru. Pasien yang
standar untuk PACU yang berisiko tinggi untuk muntah dan
dimaksudkan untuk meningkatkan perdarahan jalan napas atas seperti
kualitas pelayanan pasien.5 pascatonsilektomi sebaiknya diposisikan
1. Standard I: Semua pasien dengan miring. Posisi ini juga membantu
anestesi umum, anestesi regional mencegah sumbatan jalan napas dan
atau Monitoring Anesthesia Care mempermudah pengeluaran sekresi.4
(MAC) harus mendapatkan
penatalaksanaan
pascaanestesi yang sesuai.
2. Standard II: Pasien yang
dipindahkan ke PACU harus diawasi
oleh tim anestesi yang mengetahui
kondisi pasien. Pasien harus
dievaluasi secara
berkesinambungan selama
pemindahan dengan monitoring
dan dukungan yang tepat terhadap
kondisi pasien.
3. Standard III: Sesampainya di PACU,
pasien harus dievaluasi ulang dan
memberikan laporan secara verbal
kepada perawat yang
bertanggungjawab di PACU.
4. Standard IV: Kondisi pasien harus
dievaluasi berkesinambungan di
PACU.
5. Standard V: Dokter bertanggung
jawab saat akan mengeluarkan
pasien dariPACU.
PENGELOLAAN PASIEN
Transportasi dari Kamar Operasi
Komplikasi pada periode ini
biasanya karena ketiadaan monitor
yang adekuat. Pasien sebaiknya tidak
meninggalkan kamar operasi sebelum
jalan napas paten dan stabil, ventilasi
dan oksigenasi adekuat, dan
hemodinamik stabil. Hipoksemia
temporer (SpO2 <90%) bisa terjadi
pada 30-50% pasien normal selama
transportasi dan saat bernapas dengan
udara ruangan. Pasien yang tidak
stabil tetap diintubasi dan dipindahkan
dengan monitor portable dan siapkan
obat-obatan gawat darurat.4
Semua pasien sebaiknya
ditempatkan di PACU dengan tempat
tidur yang dapat diposisikan head
down atau head up. Posisi head down
5
Optimalisasi Keselamatan Pasien di Post-Anesthesia
Care Unit
Pemulihan Rutin transfusi, ventilasi post operasi).4
1). Anestesi Umum
Tanda vital dan oksigenasi Semua pasien yang sadar dari
segera diperiksa segera setelah pasien anestesi umum sebaiknya mendapat 30-
datang. Dilakukan monitoring sesuai 40% oksigen selama pemulihan karena
dengan Aldrete Score sebagai kriteria dapat terjadi hipoksia sementara pada
pulih dari anestesi umum. Tekanan pasien yang sehat. Para pasien yang
darah, nadi, dan respirasi diukur secara berisiko tinggi terjadi hipoksia seperti
rutin setiap 5 menit selama 15 menit yang punya gangguan fungsi paru atau
atau sampai stabil dan setelah itu pembedahan perut atas atau dada,
setiap 15 menit. Meskipun kejadian sebaiknya dimonitor kontinu dengan
hipoksia tidak ada hubungan dengan oksimetri. Pilihan rasional melanjutkan
tingkat kesadaran, oksimetri sebaiknya terapi oksigen pada saat keluar dari
dipasang kontinyu pada semua pasien PACU dibuat berdasarkan pembacaan
yang pulih dari anestesi umum paling saturasi O2 pada udara kamar. Analisis
tidak sampai sadar penuh. Temperatur gas darah dapat dilakukan untuk
diukur paling tidak satu kali. Setelah konfirmasi bacaan oksimetri yang tidak
tanda vital awal dicatat, ahli anestesi normal. Terapi oksigen harus dikontrol
sebaiknya memberikan penjelasan dengan hati-hati pada pasien dengan
singkat kepada perawat PACU tentang penyakit paru obstruktif menahun dan
riwayat preoperasi, kejadian riwayat retensi CO2. Pasien diposisikan
intraoperasi (tipe anestesi, head up untuk mengoptimalkan
oksigenasi. Elevasi kepala tempat tidur
prosedur pembedahan, darah yang sebelum pasien responsif dapat
hilang, penggantian cairan, dan menyebabkan sumbatan jalan napas.
komplikasi-komplikasi), perkiraan Dalam beberapa kasus, pipa nasal atau
masalah-masalah pascaoperasi, dan oral dibiarkan sampai pasien bangun.
instruksi pascaanestesi (perawatan Napas dalam dan batuk sebaiknya
kateter epidural, dianjurkan secara periodik.3

Tabel 1. Skor pemulihan post anestesia dari Aldrete.1


(Idealnya pasien dikeluarkan bila skor total 10 atau minimal 9)
Kriteria Asli Kriteria Modifikasi Skor
Warna Oksigenasi
Kulit SpO2 >92% pada udara 2
Merah kamar SpO2 >90% 1
Coklat dengan oksigen SpO2 0
Sianotik >90% dengan oksigen
Pernapasan
Bisa bernapas dalam dan Bernapas dalam dan batuk 2
batuk Dangkal tapi bebas Sesak, dangkal, 1
pertukaran adekwat terbatas 0
Apnea atau obstruksi Apnea
Sirkulasi
Tensi 20% dibawah Tensi  20 mmHg dari 2
normal Tensi 20-50% normal Tensi  20 – 50 1
dibawah normal Deviasi mmHg dari normal Tensi > 0
tensi > 50% dari normal 50 mmHg dari normal
Kesadaran
Sadar, waspada, berorientasi Sadar penuh 2
Dapat dibangunkan tapi tertidur Dapat dibangunkan 1
lagi Tidak respon Tidak respon 0
Aktivitas
Semua ekstremitas bergerak Semua ekstremitas bergerak 2

79
Jurnal Komplikasi Anestesi – Volume 8 Nomor 3,
Agustus 2021
Dua ekstremitas Dua ekstremitas 1
bergerak Tidak ada bergerak Tidak ada gerak 0
gerak

8
0
Optimalisasi Keselamatan Pasien di Post-Anesthesia
Care Unit
2). Anestesi Regional Nyeri sedang (NRS 4-6)
Pasien yang tersedasi berat sampai berat (NRS 7-10)
dan hemodinamikanya pascaoperasi di PACU dapat diobati
tidak stabil setelah anestesi regional dengan opioid parenteral atau
juga diberi suplemen oksigen di PACU. intraspinal, anestesi regional, atau
Tingkat sensorik dan motorik dicatat blok saraf spesifik. Opioid titrasi
periodik. Untuk menilai blokade dengan dosis kecil intravena
motoris ekstremitas inferior oleh umumnya aman digunakan. Analgesi
anestesi spinal digunakan Bromage adekuat harus diseimbangkan lagi
score. Pasien dikeluarkan dari PACU tanpa sedasi. Opioid durasi
setelah gerakan penuh tungkai
(Bromage score 0). Blok yang tidak
pulih dalam waktu 6 jam menjadi
penanda kemungkinan terjadinya
hematoma spinal atau epidural. Pada
pasien pascablok pleksus brakhialis,
sebaiknya diberikan peringatan
berulang kepada pasien untuk
mencegah melukai diri sendiri karena
gerakan lengan yang tak
terkoordinasi. Tensi harus selalu
dimonitor pada anestesi spinal dan
epidural. Kateter kandung kemih
mungkin diperlukan pada pasien yang
dianestesi spinal atau epidurallebih dari
4 jam.1 Tabel 2. Bromage Score2

Gerakan Ekstremitas Skore


Inferior
Gerakan penuh dari tungkai 0
Tidak mampu mengangkat 1
kaki yg terextensi, bisa

menggerakkan
lutut dan telapak kaki.
Tidak mampu mengangkat 2
kaki yg terextensi, tidak
bisa
menggerakkan lutut,
tapi bisa
menggerakkan telapak kaki.
Tidak mampu 3
menggerakkan kaki
secara keseluruhan.

Pengendalian Nyeri
Numeric Rating Scale (NRS),
skala peringkat Wong-Baker FACES,
Visual Analog Scale (VAS), dan McGill
Pain Questionnaire (MPQ) adalah
parameter penilaian nyeri yang paling
umum digunakan. Di skala numerik, 0
berarti tidak ada rasa sakit dan 10
dimaksudkan untuk mencerminkan rasa
sakit yang paling parah.1
81
Jurnal Komplikasi Anestesi – Volume 8 Nomor 3,
Agustus 2021
menengah sampai panjang seperti sistemik yang serius (hipoksemia,
meperidine 10-20 mg (0,25-0,50 mg/kg asidosis, dan hipotensi), kandung
pada anak), kemih yang penuh atau komplikasi
hydromorphone 0,25-0,50 mg (0,015- pembedahan (perdarahan intra
0,02 mg/kg abdominal tersembunyi) harus benar-
pada anak) atau morphin 2-4 mg (0,025- benar diperhatikan. Agitasi
0,050 mg/kg pada anak) adalah paling menandakan perlunya pertimbangan
umum dipakai. Efek puncak analgesinya untuk menahan lengan
dalam 4-5 menit. Efek puncak depresi
napas morfin dapat terjadi sekitar 20-30
menit kemudian. Bila pasiensadar
penuh, PCA (Patient Controlled
Analgesia) dapat diberikan. Pemberian
opioid intramuskular tidak
menguntungkan karena onsetnya
bervariasi (10- 20 menit) dan depresi
napas yang tertunda (sampai 1 jam).2
Bila dipasang kateter epidural,
pemberian fentanil 50-100 mcg,
sufentanil 20-30 mcg, atau morphin 1-5
mg dapat menghilangkan nyeri dengan
sempurna. Akan tetapi, depresi napas
yang tertunda dengan morfin
memerlukan perhatian khusus selama
12-24 jam setelah pemberian.2
Nyeri pascaoperasi ringan (NRS
1-3) sampai sedang (NRS 4-6) dapat
diobati secara oral dengan
asetaminofen, ibuprofen, hidrokodon,
atau oksikodon. Alternatifnya, ketorolak
(15-30 mg pada orang dewasa), dosis
setara diklofenak atau ibuprofen, atau
asetaminofen (parasetamol 15 mg / kg,
atau 1 gr jika pasien > 50 kg) mungkin
diberikan secara intravena.1
Penggunaan alfa 2 agonis
(klonidin, meverazol, dextodemidine)
sebagai terapi ajuvant mulai banyak
digunakan karena kemampuan sparing
anestesi dan analgesinya. Klonidin
dapat mengurangi kebutuhan narkotik
dan meningkatkan efek analgesi dan
durasi obat anestesi lokal. Walaupun
kombinasi opioid dan alfa 2 agonis
secara sinergis meningkatkan respon
analgesi, tetapi tidak memengaruhi
depresi respirasi.5
Agitasi
Sebelum pasien sadar penuh,
nyeri sering muncul dalam bentuk
kegelisahan pascaoperasi. Gangguan

8
2
Optimalisasi Keselamatan Pasien di Post-Anesthesia
Care Unit
dan kaki agar tak terjadi perlukaan diri menurunkan mual pascaoperasi secara
sendiri, terutama pada anak-anak. Bila bermakna tanpa memperpanjang
gangguan fisiologis yang serius muncul masa pemulihan. Dosis kedua
pada anak-anak,kasih sayang dan kata- droperidol mungkin diperlukan bila
kata yang manis dari yang menemani mual masih terjadi di PACU.
atau orang tuanya sering menenangkan Metoclopramid 0,15 mg/kg
pasien anak-anak. Faktor-faktor lainnya IV dapat seefektif droperidol dan
yang turut memberi kontribusi meliputi lebih sedikit
ketakutan dan kecemasan sebelum menyebabkan kantuk. Beberapa
operasi dan efek samping obat (dosis penelitian
besar agen antikolinergik, fenotiazin
atau ketamin). Jika gangguan sistemik
serius dan nyeri dapat dikesampingkan,
agitasi yang menetap dapat diberi
sedasi dengan midazolam
intravenaintermiten 0,05 mg/kg.4
Interaksi orangtua/orang dewasa
pada anaknya di PACU dapat
menurunkan tingkat kecemasan
orangtua pascaoperasi, meskipun pada
anak tingkat kecemasan sebelum dan
pascaoperasi tidak berbeda bermakna.
Selanjutnya, 86% orang tua melaporkan
bahwa informasi bahwa mereka dapat
mendampingi anaknya di PACU dapat
mengurangi kecemasannya dan 90%
orang tua dapat membantu
mempersiapkan anaknya untuk operasi.
Orang tua juga merasa kehadiran
mereka dapat mengurangi kecemasan
anaknya.4
Mual dan Muntah
Mual dan muntah adalah
masalah umum setelah anestesi umum.
Mual juga bisa muncul pada hipotensi
karena anestesi spinal atau epidural.
Peningkatan insiden mual dilaporkan
mengikuti pemberian opioid atau
anestesi dengan N2O, pembedahan
intraperitoneal (khususnya laparoskopi),
dan bedah strabismus. Insiden tertinggi
tampak pada wanita muda. Penelitian
menunjukkan bahwa mual lebih sering
terjadi selama menstruasi. Peningkatan
tonus vagal dengan manifestasi
bradikardi mendadak umumnya
didahului atau disertai dengan muntah.
Anestesi propofol menurunkan insiden
mual dan muntah pascaoperasi.
Droperidol intravena 0,05- 0,075 mg/kg
dapat diberikan intraoperesi untuk

8
1
Jurnal Komplikasi Anestesi – Volume 8 Nomor 3,
Agustus 2021
menunjukkan bahwa jika propofol tidak vasokonstriksi terhadap hipotermia.
digunakan selama anestesi, droperidol Menggigil adalah suatu usaha tubuh
mungkin lebih efektif daripada untuk meningkatkan produksi
metoklopramid. Selektif 5- panas, meningkatkan suhu
hydroxytriptamin (serotonin) reseptor 3 tubuh dan dapat diikuti oleh
(5HT3) antagonis seperti ondansetron 4 vasokonstriksi. Menggigil kadangkala
mg (0,1 mg/kb pada anak), granisetron cukup hebat sehingga
0,01-0,04 mg/kg dan dolasetron 12,5 menyebabkan hipertermia (38- 39C)
mg (0,035 mg/kg pada anak) juga amat danasidosis metabolik yang signifikan.2
efektif. Ondansetron mungkin lebih Anestesi spinal dan
efektif daripada agen lainnya pada epidural
juga
anak-anak. Dexamethason 8-10 mg (0,1
mg/kg pada anak) jika dikombinasikan
dengan antimuntah lainnya sangat
efektif untuk mual muntah yang sulit
diatasi. Propofol dosis rendah (20 mg
bolus atau 10 mg bolus dilanjutkan
dengan 10mcg/kg/mnt) juga dilaporkan
efektif untuk mual muntah
pascaoperasi. 7

Jika pasien mengalami Post


Operative
Nausea and Vomitus (PONV) tanpa
profilaksis sebelumnya maka 67% ahli
anestesi akan memberikan 5-HT3
antagonis sebagai terapi pilihan
pertama, pilihan selanjutnya pada
metoklopramid dan deksametason.
Sedangkan jika PONV terjadi setelah
pemberian profilaksis sebelumnya, 3-7%
ahli anestesi akanmemberikan
metoklopramid, deksametason,
droperidol, dan 26% akan mengulang
dosis 5HT3antagonis.7
Menggigil dan Hipotermia
Menggigil dapat terjadi di PACU
akibat hipotermia intraoperasi atau
karena agen anestesi. Penyebab
terpenting dari hipotermia adalah
redistribusi panas dari bagian tengah
tubuh ke bagian tepi tubuh. Faktor
yang menyebabkan menggigil
diantaranya suhu sekitar
ruang operasi yang dingin, luka besar
yang terbuka lama, dan penggunaan
sejumlah besar cairan intravena yang
tak dihangatkan. Aliran gas yang tinggi
dan tidak dilembabkanjuga dapat
memberi kontribusi. Hampir semua
obat anestesi terutama yang mudah
menguap dapat menurunkan respon

82
Optimalisasi Keselamatan Pasien di Post-Anesthesia
Care Unit
menurunkan nilai ambang menggigil mengeluarkan pasien dari RR setelah
dan respon vasokonstriksi terhadap pulih dari anestesi umum adalah:1 (1)
hipotermi. Penyebablain dari menggigil mudah dibangunkan,
sebaiknya disingkirkan seperti sepsis, (2) orientasi penuh, (3) mampu
alergi obat, atau reaksi transfusi.2 menjaga dan mempertahankanjalan
Hipotermia diterapi dengan alat napas, (4) tanda vital stabil minimal
penghangat udara, lampu hangat, atau 30-60 menit, (5) mampu memanggil
selimut hangat untuk meningkatkan bila perlu bantuan, dan (6) tidak
suhu tubuh ke normal. Menggigil tampak komplikasi bedah (seperti
yanghebat dapat perdarahan aktif).
menyebabkan kenaikankonsumsi Tambahan untuk kriteria di atas,
oksigen, produksi CO2, dan pasien-
curah jantung. Efek fisiologisini sering
sulit ditoleransi oleh pasien yang
sudahada gangguan jantung atau
paru. Hipotermi telah dikaitkan dengan
meningkatnya kejadianiskemia
miokard, aritmia, dan
meningkatkankebutuhan transfusi.
Dosis kecil meperidine IV10-50 mg
dapat menurunkan bahkan
menghentikan menggigil. Pasien-
pasien yang terintubasi dan memakai
ventilator juga dapat disedasi dan
diberi pelumpuh otot sampai
normotermia kembali dan efek dari
anestesia sudah hilang.6
Kiekkas et al (2005)
mendapatkan insidens hipotermi pada
pasien pembedahan orthopedi sebesar
73,5% sedangkan menggigil sebesar
24,7%. Tekanan darah arteri rata-rata
meningkat secara signifikan pada pasien
hipotermi, dan denyut jantung
meningkat secara signifikan pada
pasien menggigil.6
Kriteria Keluar
Sebelum keluar dari PACU semua
pasien harus dievaluasi dahulu oleh ahli
anestesi, kecuali bila sudah dibuat
kriteria pengeluaran yang tegas. Kriteria
tersebut dibuat oleh bagian
anestesiologi dan staf medik rumah
sakit. Hal ini memungkinkan seorang
perawat PACU bolehmenentukan kapan
pasien dipindahkan tanpa adanya dokter
bila semua kriteria terpenuhi. Kriteria
dapat bermacam-macam sesuai dengan
keadaan pasien apakah akan ke ICU,
bangsal, bagian rawat jalan, atau
langsung pulang.1 Kriteria minimal untuk

8
1
Jurnal Komplikasi Anestesi – Volume 8 Nomor 3,
Agustus 2021
pasien yang mendapat anestesi regional harus disedot untuk mencegah
harus dilihat tanda-tanda resolusi dari kekambuhan. Spasme laring yang
parah harus diterapi agresif dengan
blok sensorik danmotoriknya. dosis kecil suksinilkolin (10-20 mg) dan
Kegagalan resolusi blok spinal atau ventilasi tekanan positif dengan O2
epidural setelah lebih dari 6 jam 100% untuk sementara waktu guna
mencegah hipoksia berat atau edema
kemungkinan karena hematoma spinal
paru tekanan negatif. Intubasi
cord atau epidural yang harus endotrakea kadang- kadang
dikonfirmasi dengan pemeriksaan diperlukan untuk
radiologi.
PENATALAKSANAAN KOMPLIKASI
Komplikasi Respirasi
Problem respirasi
merupakan
komplikasiserius yang paling sering
ditemukan di PACU. Kebanyakan
berhubungan dengan sumbatan jalan
napas, hipoventilasi, dan hipoksemia.2
1). Sumbatan Jalan Napas
Sumbatan jalan napas pada pasien
tidak sadar karena lidah jatuh ke
belakang ke faring posterior. Penyebab
lainnya adalah spasme laring, edema
glotis, sekresi, muntahan, darah, atau
tekanan dari luar trakhea. Sumbatan
parsial jalan napas biasanya diketahui
dengan adanya stridor. Sumbatan total
menyebabkan aliran udara terhenti,
suara napas menghilang, dan ditandai
dengan gerakan paradoksal dada.
Kombinasi gerakan jaw thrust dan
memiringkan kepala akan menarik lidah
ke depan dan membuka jalan napas.
Memasang pipa nasalatau oral sering
meringankan masalah. Pipa nasal lebih
ditolelir oleh pasien-pasien selama
pemulihan dan lebih sedikit
kemungkinan trauma pada gigi bila
mereka menggigit.2
Jika manuver di atas gagal, harus
dipertimbangkan adanya spasme laring.
Karakteristik dari spasme laring adalah
suara tinggi nyaring atau tidak ada
suara sama sekali jika glotis tertutup.
Spasme pita suara lebih mudah terjadi
pada trauma jalan napas, instrumentasi
berulang, atau stimulasi dari sekret
atau darah di jalan napas. Manuver jaw
thrust, terutama bila dikombinasikan
dengan tekanan positif jalan napas
lewat facemask biasanya dapat
mengakhiri spasme laring. Memasukkan
alat jalan napas oral atau nasal juga
membantu dalam menjamin patensi
jalan napas atas sampai pita suara.
Sekret atau darah pada jalan napas
84
Optimalisasi Keselamatan Pasien di Post-Anesthesia
Care Unit
menjaga ventilasi. Krikotirotomi atau jet variasi dalam intensitas dari stimulasi
ventilasi transtrakeal diindikasikan jika selama pemulihan dan pelepasan
intubasi tidak berhasil.3
lambat opioid dari kompartemen perifer
Edema glotis setelah instrumentasi
sepertiotot rangka selama pasien
jalan napas adalah penyebab penting
hangat kembali ataumulai bergerak.9
sumbatan jalan napas pada bayi dan
Diagnosis sisa pelumpuh otot dapat
pediatrik. Kortikosteroid intravena
ditegakkan dengan sebuah stimulator
(dexamethason 0,5 mg/kg) atau
syaraf pada pasien-pasien yang tak
epinefrin (0,5 ml larutan 2,25% dengan
sadar, pasien
3 ml normal saline) mungkin membantu
dalam kasus-kasus semacam ini. Luka
hematoma pascaoperasi setelah
prosedur bedah kepala dan leher, tiroid,
dan karotis dapat membahayakan jalan
napas dengan cepat. Pembukaan luka
tersebut segera menghilangkan
kompresi trakea. Kasa yang tertinggal
tak sengaja di hipofaring pada bedah
mulut dapat menyebabkan sumbatan
jalan napas total cepat atau lambat.2
2). Hipoventilasi
Hipoventilasi didefinisikan sebagai
PaCO2 >45 mmHg. Kebanyakan
hipoventilasi adalah ringan dan pada
beberapa kasus dapat diabaikan.
Hipoventilasi yang bemakna secara
klinis akan tampak bila PaCO2 >60
mmHg atau pH darah arteri
< 7,25. Tanda-tandanya bervariasi
misalnya mengantuk, sumbatan jalan
napas, laju napas pelan, takipnea
dengan napasdangkal, atau sulit
bernapas. Asidosis ringan sampai
sedang dapat menyebabkan takikardi
dan hipertensi, jantung iritabel (lewat
stimulasi simpatis), tetapi asidosis yang
lebih berat menyebabkan depresi
sirkulasi. Jika curiga hipoventilasi yang
bermakna, harus dilakukan analisis gas
darah arteri untuk menilai keparahan
dan pemandu tata laksana selanjutnya.4
Hipoventilasi di PACU sangat umum
karena efek-efek sisa depresi dari agen
anestesiterhadap pusat napas.
Karakteristik depresi napas karena
opioid adalah laju napas yang lambat
tapi dengan volume tidal yang besar.
Sedasi yang berlebihan juga sering
terjadi, tetapi pasien mungkin sudah
bisa mendengar dan dapat
meningkatkan pernapasan dengan
perintah. Bifasik atau berulangnya
bentuk- bentuk depresi napas telah
dilaporkan sebagai akibat dari semua
opioid. Mekanismenya meliputi variasi-
83
Jurnal Komplikasi Anestesi – Volume 8 Nomor 3,
Agustus 2021
yang sadar dapat disuruh memiringkan pasien yang pulih dari anestesi
kepala. Kemampuan untuk mengangkat tanpa diberi suplemen oksigen
kepala selama5 detik mungkin tes selama pemulihan. Hipoksia ringan
paling sensitif untuk menilai
sampai sedang (PaO2 50-60 mmHg)
keadekuatan dari reversal. 11

pada pasien muda sehat dapat


Insidensi Residual Neuromuscular
Blokade (RNMB) pada pasien-pasien ditoleransi dengan baik. Secara
dengan anestesi umum yang tiba di klinis hipoksemia mungkin juga
PACU rumah sakit tertier sebesar 31%. dicurigai dari kegelisahan, takikardi,
Insiden RNMB pada pasien yang atau iritabel jantung
mendapat neostigmin di kamar operasi
hamper sama dibanding yang tidak
mendapat neostigmin (76% berbanding
62%).11
Nyeri sayatan dan disfungsi
diafragma setelah pembedahan perut
atas atau dada, perut yang
menggelembung, dan pakaian yang
ketat adalah faktor-faktor lainnya yang
dapat memberi kontribusi pada
hipoventilasi. Kenaikan produksi CO2
karena menggigil, hipertermi, atau
sepsis dapat juga meningkatkan PaCO2
bahkan pada pasien normal yang pulih
dari anestesi umum.8
Terapi sebaiknya langsung
ditujukan pada penyebab yang
mendasarinya, tetapi tanda- tanda
hipoventilasi selalu memerlukan
ventilasi terkontrol sampai faktor-faktor
yang berperan diidentifikasi dan
dikoreksi. Antagonis opioid, naloxone
digunakan secara titrasi dengan dosis
kecil (0,04 mg pada orang dewasa)
untuk
menghindari komplikasi-komplikasi oleh
reverse depresi napas tanpa reverse
bermakna dari analgesia. Setelah
nalokson sebaiknya pasien dipantau
secara cermat akan kekambuhan dari
depresi napas oleh opioid
(renarkotisasi), mengingat nalokson
berdurasi lebih pendek daripada
kebanyakan opioid. Bila terdapat sisa
dari pelumpuh otot dapat diberikan
penghambat kolinesterase. Alternatif
dapat digunakan doxapram 60-100 mg
dilanjutkan dengan 1-2 mg/menit
intravena. 9

3). Hipoksemia
Hipoksemia ringan biasa terjadi pada

84
Optimalisasi Keselamatan Pasien di Post-Anesthesia
Care Unit
(ventrikel atau atrium). Kebingungan, atau drainase luka, serta perdarahan
bradikardi, hipotensi, dan henti jantung pasca operasi. Konstriksi vena selama
adalah tanda-tanda tingkat lanjut. hipotermia mungkin menutupi
Penggunaan rutin oksimeter di PACU hipovolemia sampai suhu pasien mulai
memfasilitasi deteksi awal. Analisis gas naik lagi. Kemudian dilatasi vena
darah sebaiknya dilakukan untuk menghasilkan hipotensi yang
menegakkan diagnosis dan pemandu tertunda. 1

terapi.1 Hipovolemia relatif bertanggung


Hipoksemia di PACU biasanya jawab pada hipotensi yang
disebabkan oleh hipoventilasi. Hipoksia berhubungan dengan spinal atau
difusi jarang menyebabkan hipoksemia
jika selama pemulihan diberi suplemen
oksigen. Hipoksia karena murni
hipoventilasi juga jarang terjadi jika
pasien menerima suplemen oksigen.
Penurunan Fungsional Residual
Capacity (FRC) terbesar terjadi pada
bedah perut atas atau dada.2
Pemberian rutin 30-60% oksigen
biasanya cukup untuk mencegah
hipoksemia dengan hipoventilasi
sedang dan hiperkapnea. Pasien- pasien
dengan penyakit paru atau jantung
memerlukan konsentrasi oksigen yang
lebih tinggi. Terapi oksigen sebaiknya
dipandu dengan SpO2 atau analisis gas
darah arteri. Konsentrasi oksigen harus
dikontrol dengan ketat pada pasien
dengan retensi CO2 untuk menghindari
tercetusnya gagal napas akut. Pasien-
pasien dengan hipoksemia berat atau
menetap harus diberi 100% oksigen
lewat Non Rebreathing Mask (NRM) atau
Endotracheal Tube (ETT) sampai
penyebabnya diketahui dan terapi
lainnya dimulai.
2

Komplikasi Sirkulasi.
Gangguan sirkulasi yang paling
umum di PACU adalah hipotensi,
hipertensi, dan aritmia.
1). Hipotensi
Hipotensi biasanya disebabkan oleh
penurunan venous return atau
gangguan fungsi ventrikel kiri.
Hipovolemia adalah penyebab hipotensi
paling umum di PACU. Hipovolemia
absolut dapat disebabkan oleh
penggantian cairan yang tidak adekuat,
sekuesterisasi cairan yang terus-
menerus oleh jaringan (rongga ketiga),
85
Jurnal Komplikasi Anestesi – Volume 8 Nomor 3,
Agustus 2021
epidural, venodilator, dan blokade alfa pembedahan atau hipoksemia
adrenergik. Peningkatan kapasitas vena sekunder, hiperkapnea, atau asidosis
menurunkan venous return kendati metabolik. Pasien- pasien dengan
volume intra vaskular sebelumnya riwayat hipertensi sistemik mudah
normal. Hipotensi yang berhubungan berkembang menjadi hipertensi di
dengan sepsis dan reaksi alergi karena PACU, bahkan tanpa sebab yang
hipovolemi dan vasodilatasi. Hipotensi jelas. Cairan
yang menyertai tension pneumothorax
atau tamponade jantung adalah akibat
dari pemburukan pengisian jantung.8
Disfungsi ventrikel kiri pada
seseorang yang awalnya sehat tidak
akan terjadi tanpa adanya gangguan
metabolisme yang berat (hipoksemia,
asidosis, sepsis). Hipotensi karena
disfungsi ventrikel ditemui terutama
pada pasien dengan penyakit arteri
koroner atau katup jantung, dan
biasanya dicetusksn oleh cairan yang
berlebihan, iskemia miokard,
peningkatan afterload akut, atau
disritmia. 8

Hipotensi ringan selama pemulihan


dari anestesi biasa terjadi dan biasanya
mencerminkan penurunan tonus
simpatis. Hipotensi yang bermakna
didefinisikan sebagai penurunan tensi
20-30% dari tensi basal pasien.
Peningkatan tensi setelah bolus caiaran
(250- 500 ml kristaloid atau 100-250 ml
koloid) biasanya menunjukkan adanya
hipovolemi. Tanda-tanda disfungsi
jantung sebaiknya diperiksa pada
pasien-pasien tua dan pasien- pasien
dengan penyakit jantung. Kegagalan
pasien untuk segera berespon terhadap
terapi menunjukan perlunya
monitoring
hemodinamik invasif dan manipulasi
preload, kontraktilitas, dan afterload. 3
2). Hipertensi
Hipertensi pascaoperasi biasa
terjadi di PACU dan khususnya terjadi
pada 30 menit pertama setelah
tindakan. Rangsangan nyeri irisan
bedah, intubasi trakea, atau kandung
kemih penuh biasanya ikut berperan
pada hipertensi. Hipertensi
pascaoperasi bisa juga karena aktivasi
refleks simpatis yang menjadi bagian
dari respon neuroendokrin terhadap

86
Optimalisasi Keselamatan Pasien di Post-Anesthesia
Care Unit
berlebihan atau hipertensi intrakranial menunjukkan
dapat juga tampak sebagai hipertensi hipokalemia,
pascaoperasi.2 hipomagnesemia, atau peningkatan
Hipertensi ringan umumnya tidak tonus simpatis. Sebagian besar
memerlukan terapi, tetapi penyebab disritmia tidak memerlukan terapi,
reversible sebaiknya dicari. Petanda suplemen oksigen harus terus
hipertensi dapat mencetuskan diberikan sambil mencari etiologinya. 1
perdarahan pascaanestesi, iskemia
miokard, gagal jantung, atau KESIMPULAN
perdarahan intrakranial. Keputusan Prosedur pembedahan
tentang derajat hipertensi dan kapan berkembang begitu
harus diterapi bersifat individual. Pada
umumnya tensi meningkat lebih dari 20-
30% dari basal normal pasien.
Peningkatan ringan sampai sedang
dapat diterapi dengan beta bloker IV
seperti labetolol, esmolol, atau
propanalol. Calcium channel blocker
nicardipin atau pasta nitrogliserin, serta
nifedipine sublingual juga efektif.
Hidralazin juga efektif tapi sering
menyebabkan takikardi dan
dihubungkan dengan iskemik miokard
dan infark.2
3). Aritmia
Gangguan pernapasan yang
berperandalam memacu aritmia jantung
antara lainhipoksemia, hiperkarbia, dan
asidosis. Efek- efek sisa dari agen
anestesi, peningkatan aktivitas sistim
saraf simpatis, abnormalitas metabolik
lainnya dan adanya penyakit jantung
dan paru juga memengaruhi pasien
untuk terjadi aritmia di PACU.1
Bradikardi sering menunjukkan efek
sisa dari kolinesterase inhibitor
(neostigmin), opioidsintetis yang poten
(sufentanyl) atau beta bloker
(propanolol). Takikardi mungkin
menunjukkan efek dari agen
antikolinergik (atropin) atau vagolitik
(pancuronium atau meperidine), beta
agonis (albuterol), reflek takikardi
(hidralazine), serta penyebab- penyebab
umum seperti nyeri, demam,
hipovolemia dan anemia. Lebih lanjut,
anestesi merangsang depresi dari fungsi
baroreseptor membuat frekuensi
jantung tak dapat dipercaya memonitor
volume intravaskuler di PACU. Atrial dan
ventrikel premature beat biasanya
87
Jurnal Komplikasi Anestesi – Volume 8 Nomor 3,
Agustus 2021
kompleks, begitu juga masalah Postanesthesia Care Unit. Clinical
penanganan pasien pascaoperasi. Anesthesia Procedures of
Hampir 50%kematian yang terjadi theMassachusetts General Hospital
dalam 24 pertama dapatdicegah Seventh Edition; Lippincott Williams
dengan perawatan yang optimal di & Wilkins.2007; 623-644.
ruang pemulihan. Kesuksesan dari 6. ASA House of Delegates. Standards
ruang pemulihan merupakan faktor for Postanesthesia Care.
utama dalam evolusi unit perawatan Committee of Origin:
intensif bedah modern di mana kini
dikenal sebagai PACU (Post Anestesia
Care Unit).
Pengelolaan pasien pascaoperasi
dengan anestesi umum maupun
regional dimulai sejak pasien
ditransportasikan sampai memenuhi
kriteria keluar dari PACU. Nyeri, agitasi,
menggigil, hipotermia, mual, dan
muntah harus mendapatkan perawatan
yang optimal di PACU. Komplikasi
respirasi dan kardiovaskuler yang
umum terjadi harus cepat dikenali dan
manajemen yang tepat harus cepat
dilakukan. Penanganan pasien di PACU
dapat dikelola berdasarkan standar dan
guidelines yang sudah ditentukan
sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Morgan, GE, Mikhail, MS, Murray, MJ.
Post Anesthesia Care Unit. Morgan
Clinical Anesthesiology. 5th edition.
New York : Mc Graw Hill Lange
Medical Books. 2013; p.789- 803.
2. Berg, SM, Braehler, MR. The Post
Anesthesia Care Unit. Miller’s
Anesthesia 9th edition, ELSIVIER :
Sauders 2020,p1194 – 1230.
3. Whitaker, DK, Booth, H, Clayburn, P,
et al. Immediate post-anaesthesia
recovery 2013 - AAGBI Safety
Guidelines. Anaesthesia 2013; 68:
pages 288-97 Available from:
[Link]
0.111 1/anae.12146/abstract.
4. Chorney, JML, Edwin Tan, ZNK. Adult-
Child Interactions in the Post
Anesthesia Care Unit: Behavior
Matters. Anesthesiology.
2013;118(4):834–41.
doi:10.1097/ALN.0b013e31827e501b.
5. Diaconescu, D, Grecu, L. The

88
Optimalisasi Keselamatan Pasien di Post-Anesthesia
Care Unit
Standards and Practice Parameters.
2019;(1):1– 2.
7. Kiekkas, P, Poulopoulou, M, Papahatzi,
A, Souleles, P. Effects of Hypothermia
and Shivering on Standard PACU
monitoring of Patients. ANNA Journal;
2005; 73(1): 47-53.
8. Macario, A, Claybon, L, Pergolizzi, JV.
Anesthesiologist’ Practice pattern for
treatment of postoperative nausea
and vomiting in the ambulatory Post
Anesthesia Care Unit. BMC
Anesthesiology. 2012;6,
[Link]

[Link]/1471- 2253/6/6.
9. Mark, RE. Postanesthesia Care
[Link] of Anesthesiologies.
[Link]. 2011; 243-
24.
10. Pandharipande, P, Ely, EW, Mare,
Me. Alpha2 agonist : Can They Modify
the Outcomes in the Postanesthetia
care unit?. Current Drag Targets.
Bentham Science Publishers ltd.
2005; vol 6(7).749- 754.
11. Yip, PC, Hannam, JA, Cameron, AJD, Campbell,
D. Incidence of residual
neuromuscular blackade in post-
anesthetic care unit. Anesthesiology
Intensive Care. 2010; 38(1):91-
95.

89

Anda mungkin juga menyukai