MODUL 20 Post Anesthesia Care Unit (PACU)
1. Definisi
Post Anesthesia Care Unit (PACU) adalah tempat dilakukan pengawasan
terhadap pasien yang telah menjalani proses anestesi, baik anestesi umum maupun
regional
Masa pemulihan bermula segera setelah pasien meninggalkan meja operasi.
Komplikasi pascaoperasi dapat terjadi kapan saja, termasuk pada saat pemindahan
pasien dari kamar operasi ke ruang pemulihan. Pasien harus diawasi dan dimonitor
dengan ketat. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi diantaranya gangguan
pemulihan kesadaran, penurunan tahanan perifer dan curah jantung karena sisa
obat anestesi, dan keadaan hipovolemik karena tidak adekuatnya penggantian
cairan selama operasi atau perdarahan pascaoperasi yang terus berlanjut.
Hipertensi dapat terjadi akibat peningkatan aktivitas simpatoadrenal dan nyeri
berat. Kondisi hipoventilasi, hipoksemia, serta gangguan gastrointestinal juga
umum terjadi.
Komplikasi akan meningkat pada pasien dengan status ASA yang lebih tinggi,
durasi anestesi yang lama, sifat operasi emergency, atau pembedahan abdominal
dan orthopedi.
2. Desain PACU
PACU sebaiknya terletak di dekat kamar operasi, sehingga pasien dapat
didorong lagi untuk pembedahan bila diperlukan atau tim kamar operasi dapat
segera hadir ke PACU. PACU juga hendaknya berdekatan dengan bagian radiologi,
laboratorium, bank darah, dan fasilitas intensif lain.
Desain bangsal yang terbuka memungkinkan observasi semua pasien secara
simultan. Kamar pasien yang tertutup diperlukan untuk isolasi dan kontrol infeksi.
Rasio tempat tidur PACU adalah 1,5 x tempat tidur untuk setiap 1 kamar
operasi. Kamar operasi yang ada di IBS RSUA Lt.7 adalah 6 kamar operasi, sehingga
jumlah kamar tidur di PACU/RR adalah 1,5x6=9 kamar tidur. Sumber arus listrik,
oksigen, dan suction harus ada pada setiap ruangan. Jumlah tempat tidur juga
harus mempertimbangkan rata-rata durasi pasien diawasi di ruang PACU.
3. Peralatan dan Monitoring
Monitor standar pada ruang PACU, minimal terdiri dari 5 parameter, yaitu
pulse oksimetri, EKG, RR, suhu, dan NIBP untuk setiap pasien. Kelima parameter
tersebut harus digunakan untuk setiap pasien di fase awal pemulihan anestesi.
Untuk parameter tambahan, seperti IBP, CVP, atau ICP dapat digunakan bila
PACU digunakan untuk merawat pasien dengan kondisi critically-ill pascaoperasi.
Kapnograf dapat berguna untuk pasien yang terintubasi. Alat penghangat
udara,dan selimut juga harus tersedia
PACU juga harus memiliki Trolly Emergency sendiri yang terpisah dengan Trolly
Emergency kamar operasi, trolly tersebut berisi alat, obat, dan bahan habis pakai untuk
kondisi darurat. Trolly tersebut juga harus dilengkapi dengan defibrillator yang setiap
hari harus dilakukan kalibrasi, sehingga dapat diketahui apakah alat selalu berfungsi
dengan baik dan siap digunakan jika dibutuhkan.
4. Staff PACU
PACU dibawah pimpinan seorang dokter anestesi. Manajemen pasien di
dalam PACU tidak berbeda dengan di kamar operasi dan merupakan suatu
koordinasi antara ahli anestesi, ahli bedah, dan beberapa ahli lain. Ahli anestesi
bertanggung jawab mengelola analgesia, jalan napas, jantung, paru, dan masalah-
masalah metabolisme. Sementara itu, ahli bedah mengelola masalah- masalah
yang berkaitan langsung dengan masalah pembedahan. Jumlah perawat yang ideal
adalah 1 perawat untuk 2 pasien. Aspek medikolegal harus diperhatikan, karena
staffing yang tidak adekuat sering berperan pada morbiditas yang terjadi di PACU.
Jika jadwal kamar operasi mencantumkan pasien anak-anak atau banyak operasi
singkat, rasio satu perawat untuk satu pasien bisa dilakukan
5. Standar PACU
American Society of Anesthesiologyst (ASA) menetapkan standar untuk
PACU yang dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan pasien.
1. Standard I
Semua pasien dengan anestesi umum, anestesi regional atau
Monitoring Anesthesia Care (MAC) harus mendapatkan penatalaksanaan
pascaanestesi yang sesuai.
2. Standard II
Pasien yang dipindahkan ke PACU harus diawasi oleh tim anestesi yang
mengetahui kondisi pasien. Pasien harus dievaluasi secara
berkesinambungan selama pemindahan dengan monitoring dan dukungan
yang tepat terhadap kondisi pasien.
3. Standard III
Sesampainya di PACU, pasien harus dievaluasi ulang dan memberikan
laporan secara verbal kepada perawat yang bertanggungjawab di PACU.
4. Standard IV
Kondisi pasien harus dievaluasi berkesinambungan di PACU.
5. Standard V
Dokter bertanggung jawab saat akan mengeluarkan pasien dariPACU.
6. Pengelolaan Pasien
1) Transportasi dari Kamar Operasi
Komplikasi pada periode ini biasanya karena ketiadaan monitor yang
adekuat. Pasien sebaiknya tidak meninggalkan kamar operasi sebelum jalan napas
paten dan stabil, ventilasi dan oksigenasi adekuat, dan hemodinamik stabil.
Hipoksemia temporer (SpO2 <90%) bisa terjadi pada 30-50% pasien normal selama
transportasi dan saat bernapas dengan udara ruangan. Pasien yang tidak stabil
tetap diintubasi dan dipindahkan dengan monitor portable dan siapkan obat-
obatan gawat darurat.
Semua pasien sebaiknya ditempatkan di PACU dengan tempat tidur yang
dapat diposisikan head down atau head up. Posisi head down untuk pasien yang
hipovolemik sedang head up untuk pasien yang punya gangguan fungsi paru.
Pasien yang berisiko tinggi untuk muntah dan perdarahan jalan napas atas seperti
pascatonsilektomi sebaiknya diposisikan miring. Posisi ini juga membantu
mencegah sumbatan jalan napas dan mempermudah pengeluaran sekresi.
2) Pemulihan Rutin
a. Anestesi Umum
Tanda vital dan oksigenasi segera diperiksa segera setelah pasien datang.
Dilakukan monitoring sesuai dengan Aldrete Score sebagai kriteria pulih dari
anestesi umum. Tekanan darah, nadi, dan respirasi diukur secara rutin setiap 5
menit selama 15 menit atau sampai stabil dan setelah itu setiap 15 menit.
Meskipun kejadian hipoksia tidak ada hubungan dengan tingkat kesadaran,
oksimetri sebaiknya dipasang kontinyu pada semua pasien yang pulih dari anestesi
umum paling tidak sampai sadar penuh. Temperatur diukur paling tidak satu kali.
Setelah tanda vital awal dicatat, ahli anestesi sebaiknya memberikan penjelasan
singkat kepada perawat PACU tentang riwayat preoperasi, kejadian intraoperasi
(tipe anestesi, prosedur pembedahan, darah yang hilang, penggantian cairan,
dan komplikasi-komplikasi), perkiraan masalah-masalah pascaoperasi, dan
instruksi pascaanestesi (perawatan kateter epidural, transfuse, dan ventilasi
post operasi.
Terapi oksigen harus dikontrol dengan hati-hati pada pasien dengan
penyakit paru obstruktif menahun dan riwayat retensi CO2. Pasien diposisikan
head up untuk mengoptimalkan oksigenasi. Elevasi kepala tempat tidur sebelum
pasien responsif dapat menyebabkan sumbatan jalan napas.
Tabel 1. Skor pemulihan post anestesia dari Aldrete.1
(Idealnya pasien dikeluarkan bila skor total 10 atau minimal 9)
Kriteria Asli Kriteria Modifikasi Skor
Warna Oksigenasi
Kulit
Merah SpO2 >92% pada udara kamar 2
Coklat SpO2 >90% dengan oksigen 1
Sianotik SpO2 >90% dengan oksigen 0
Pernapasan
Bisa bernapas dalam dan Bernapas dalam dan batuk bebas 2
batuk
Dangkal tapi pertukaran Sesak, dangkal, terbatas 1
adekwat
Apnea atau obstruksi Apnea 0
Sirkulasi
Tensi 20% dibawah normal Tensi < 20 mmHg dari normal 2
Tensi 20-50% dibawah Tensi < 20 – 50 mmHg dari normal 1
normal
Deviasi tensi > 50% dari Tensi > 50 mmHg dari normal 0
normal
Kesadaran
Sadar, waspada, berorientasi Sadar penuh 2
Dapat dibangunkan tapi tertidur lagi Dapat dibangunkan Tidak 1
Tidak respon respon 0
Aktivitas
Semua ekstremitas bergerak Semua ekstremitas bergerak 2
Dua ekstremitas bergerak Dua ekstremitas bergerak 1
Tidak ada gerak Tidak ada gerak 0
b. Anestesi Regional
Pada pasien dengan post anestesi regional tetap harus dipasang monitor
dengan 5 parameter seperti halnya pada pasien dengan anestesi umum. Tingkat
sensorik dan motorik dicatat periodik. Untuk menilai blokade motoris
ekstremitas inferior oleh anestesi spinal digunakan Bromage score. Pasien
dikeluarkan dari PACU setelah gerakan penuh tungkai (Bromage score 0).
Tabel 2. Bromage Score2
Gerakan Ekstremitas Inferior Skor
Gerakan penuh dari tungkai 0
Tidak mampu mengangkat kaki yg terextensi, bisa menggerakkan lutut dan 1
telapak kaki.
Tidak mampu mengangkat kaki yg terextensi, tidak bisa menggerakkan lutut 2
tapi bisa menggerakkan telapak kaki.
Tidak mampu menggerakkan kaki secara keseluruhan. 3
c. Pengendalian nyeri, agitasi, dan PONV
a. Nyeri
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang
disebabkan oleh kerusakan jaringan actual dan potensial yang tidak
menyenangkan dan terlokalisasi secara dekstruktif pada suatu bagian
tubuh sehingga jaringan terasa seperti ditusuk, terbakar, melilit, seperti
emosi, perasaan atkut dan mual. Nyeri merupakan kondisi berupa
perasaan yang tidak menyenangkan dan bersifat subjektif (Sulung &
Rani, 2017).
Saat pasien berada di PACU/RR, pasien juga dilakukan
pengkajian nyeri, parameter nyeri yang paling sering digunakan adalah
Numeric Rating Scale (NRS), skala peringkat Wong-Baker FACES, dan
Visual Analog Scale (VAS).
NRS (Numeric Rating Scale) adalah alat pengukuran. Nyeri
dengan nilai 0 sampai dengan 10 yang akan pasien tunjuk sesuai dengan
nyeri yang pasien rasakan, 0 berarti tidak merasa nyeri dan 10 berarti
nyeri yang dirasa sangan ekstrim (Vitani, 2019)
Wong-Baker FACES atau biasa disebut skala wajah, terdiri dari 6
wajah kartun yang memiliki rentang dari wajah tersenyum untuk tidak
ada nyeri sampai wajah terurai air mata untuk nyeri paling berat. Skala
ini dapat digunakan untuk anak yang berusia > 3 tahun.
VAS (Visual Analog Scale) adalah skala berupa suatu garis lurus
vertikan atau horizontal yang panjang biasanya 10 cm (100mm),
dengan penggambaran verbal pada masing-masing ujungnya untuk
menekspresikan perasaan yang ekstrim (Mufti, 2016)
Saat pasien di PACU/RR pasien akan kita lakukan observasi dan
penilaian nyeri dengan salah satu parameter tersebut di atas, jika nilai
parameter ringan bisa kita berikan intervensi keperawatan tanpa
medikomentosa, akan tetapi jika skala nyeri pasien termasuk sedang-
berat maka kita harus segera melaporkan kondisi pasien kepada dokter
anestesi. Pelaporan berisi keluhan pasien, TTV, analgetic yang sudah
diberikan dan kapan terakhir analgetic tersebut diberikan kepada
pasien.
b. Agitasi
Agitasi dapat muncul lebih sering pada anak-anak disbanding
pada orang dewasa.
Pada anak-anak dapat kita persilahkan keluarga untuk turut
menemani di PACU/RR, sehingga pasien anak-anak akan merasa lebih
nyaman dan agitasi berkurang karena pasien ditemani oleh orang yang
dikenal.
Agitasi pada orang dewasa dapat timbul akibat adanya
ketakutan sebelum operasi dan atau adanya efek samping obat, seperti
dosis besar agen antikolinergik, fenotiazin atau ketamin. Agitasi juga
dapat disebabkan adanya gangguan sistemik yang serius (hipoksemia,
asidosis, dan hipotensi), kandung kemih yang penuh, atau adanya
komplikasi pembedahan seperti adanya perdarahan intra abdominal
yang tersembunyi juga harus diperhatikan.
c. PONV (Post Operative Nausea Vomiting)
PONV sering terjadi pada pasien setelah pemberian anestesi
umum.
Mual juga bisa muncul pada hipotensi karena anestesi spinal
atau epidural. Peningkatan insiden mual dilaporkan mengikuti
pemberian opioid atau anestesi dengan N2O, pembedahan
intraperitoneal (khususnya laparoskopi), dan bedah strabismus.
Insiden tertinggi tampak pada wanita muda. Penelitian menunjukkan
bahwa mual lebih sering terjadi selama menstruasi. Peningkatan tonus
vagal dengan manifestasi bradikardi mendadak umumnya didahului
atau disertai dengan muntah.
d. Menggigil dan Hipotermia
Menggigil dapat terjadi di PACU akibat hipotermia intraoperasi
atau karena agen anestesi. Penyebab terpenting dari hipotermia
adalah redistribusi panas dari bagian tengah tubuh ke bagian tepi
tubuh. Faktor yang menyebabkan menggigil diantaranya suhu
sekitar ruang operasi yang dingin, luka besar yang terbuka lama,
dan penggunaan sejumlah besar cairan intravena yang tak
dihangatkan.
Aliran gas yang tinggi dan tidak dilembabkanjuga dapat
memberi kontribusi. Hampir semua obat anestesi terutama yang
mudah menguap dapat menurunkan respon vasokonstriksi
terhadap hipotermia. Menggigil adalah suatu usaha tubuh untuk
meningkatkan produksi panas, meningkatkan suhu tubuh dan dapat
diikuti oleh vasokonstriksi. Menggigil kadangkala cukup hebat
sehingga menyebabkan hipertermia (38- 390C) dan asidosis metabolik
yang signifikan.
Anestesi spinal dan epidural juga dapat menurunkan nilai
ambang menggigil dan respon vasokontriksi terhadap hipotermi.
Hipotermia dapat diterapi dengan diberikan selimut atau
warmer blanket. Menggigil yang hebat dapat menyebabkan
kenaikan konsumsi oksigen, produksi CO 2 , dan curah jantung (Berg,
2020)
7. Kriteria keluar PACU/RR
Pasien yang akan dikeluarkan dari PACU/RR harus terlebih dahulu dievaluasi
dan disetujui oleh dokter anestesi, kecuali jika sudah dibuat kriteria pengeluaran
pasien secara jelas, sehingga hal tersebut memungkinkan pasien untuk dipindahkan
tanpa adanya dokter jika semua kriteria terpenuhi (Morgan, 2013).
d. Anestesi Regional
8.
MODUL 21 Transportasi Pasien Pasca Anestesi
1. Derajat Transportasi Pasien dan Jenis Pendampingan
JENIS
TRANSPORTASI-
PETUGAS PENDAMPING PELATIHAN
DERAJAT KONDISI PASIEN PERALATAN
UTAMA
Intra RS Ekstra RS
0 Pasien tanpa a. Transporte Perawat BHD/BLS a. Kursi Roda
resiko gangguan r (Pasien b. Brankard
sistem ABC IGD-Poli) c. Ambulance
b. Perawat Transport
(Rawat
Inap)
0,5 a. Pasien a. Transporte Perawat BHD/BLS a. Kursi Roda
Geriatri tanpa r (Pasien b. Brankard
adanya IGD-Poli) c. Ambulance
gangguan b. Perawat Transport
sistem ABC (Rawat
b. Pasien dengan Inap)
kesadaran
delirum
1 a. Pasien a. Perawat a. Perawat a. BHD/BLS a. Brankard
dengan b. Perawat b. Dokter b. PPGD/ b. Oksigen-BVM
adanya resiko Intensif Umum GELS/BTC c. Ambulance
gangguan LS atau Emergency
sistem ABC c. Intensive
b. Pasien Care
setelah d. ATCLS
menjalani
perawatan
intensif
2 a. Pasien a. Perawat a. Perawat a. BHD/BLS a. Brankard
dengan b. Perawat b. Dokter b. PPGD/ b. Oksigen-BVM
gangguan Intensif Umum GELS/BTC c. Pulse
sistem ABC LS atau Oxymetri
tanpa c. Intensive d. Mobile
support Care Suction
respiratory d. ATCLS e. Ambulance
definitive Emergency
b. Pasien pasca
operasi
major atau
membutuhk
an
perawatan di
ruang
intensif
3 a. Pasien a. Perawat a. Dokter a. BHD/BLS a. Brankard
dengan b. Perawat Anestesi/P b. PPGD/ b. Oksigen-BVM
gangguan Anestesi erawat GELS/BTC c. Jackson Rees
sistem ABCD c. Dokter Anestesi LS atau d. Bed Side
dengan Umum b. Dokter c. Intensive Monitor
support umum Care e. Mobile
respiratory c. Perawat/ d. ATCLS Ventilator
definitive/a Perawat e. Anestesi f. Mobile
dvance Intensive Suction
b. Pasien pasca g. AED
code h. Advance
blue/resusit Ambulance
asi call