Perbandingan Kinerja Sensor LiDAR dan Ultrasonik
Perbandingan Kinerja Sensor LiDAR dan Ultrasonik
Article history: Penelitian ini membahas penerapan adaptive moving average filter (MAF)
Received July 28, 2021 untuk meningkatkan stabilitas dan keandalan pembacaan data pada sensor
Revised August 28, 2021 ultrasonik dan LiDAR. Filter ini berfungsi menstabilkan sinyal dengan
Published September 28, 2021
mengurangi noise, sambil tetap mempertahankan sensitivitas terhadap
perubahan mendadak dalam data. Pada sensor ultrasonik, filter dengan nilai
n=5 memberikan respon cepat, namun pengurangan noise kurang optimal.
Keywords:
Sebaliknya, nilai n=10 dan n=15 memberikan hasil yang lebih halus, namun
adaptive moving average filter;
dengan kecepatan respon yang menurun. Hasil serupa ditemukan pada
sensor ultrasonik;
sensor LiDAR, di mana adaptive MAF secara dinamis menyesuaikan nilai n
LiDAR;
berdasarkan fluktuasi sinyal, memberikan keseimbangan antara sensitivitas
noise reduction;
dan kestabilan. Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan adaptive MAF
fluktuasi sinyal;
efektif dalam mengurangi noise sekaligus menjaga responsivitas terhadap
perubahan penting dalam data pengukuran, baik pada sensor ultrasonik
maupun LiDAR. Hasil ini sangat penting untuk aplikasi yang memerlukan
keandalan tinggi dalam kondisi data yang berfluktuasi atau terpengaruh oleh
lingkungan.
Corresponding Author:
Coresponding Author Name, Affiliation, Address, City and Postcode, Country
Email: xxx@[Link]
Introduction
Pengukuran jarak yang akurat dan stabil merupakan komponen esensial dalam berbagai aplikasi
teknologi modern. Dalam robotika, misalnya, kemampuan untuk mendeteksi dan mengukur jarak
dengan presisi sangat penting untuk menghindari rintangan, menavigasi lingkungan yang
kompleks, dan melakukan tugas-tugas yang memerlukan interaksi yang tepat dengan objek di
sekitar. Di bidang otomasi industri, sensor jarak digunakan untuk mengontrol mesin dan proses
dengan akurasi tinggi, memastikan efisiensi operasional, dan mengurangi potensi kesalahan yang
dapat menyebabkan kerugian produksi. Selain itu, dalam sistem navigasi otonom, seperti pada
kendaraan otonom dan drone, kemampuan untuk mengukur jarak secara real-time dan dengan
akurasi tinggi adalah kunci untuk menjamin keselamatan dan keandalan dalam pengoperasian.
Untuk mencapai pengukuran jarak yang presisi, dua jenis sensor yang sering digunakan adalah
sensor ultrasonik dan LiDAR (Light Detection and Ranging). Sensor ultrasonik telah lama
digunakan karena kesederhanaan dan biayanya yang relatif rendah. Sensor ini bekerja dengan
mengirimkan gelombang suara ultrasonik yang tidak dapat didengar oleh manusia. Ketika
gelombang ini memantul kembali setelah mengenai objek, sensor mengukur waktu yang
dibutuhkan untuk perjalanan bolak-balik gelombang tersebut. Berdasarkan waktu yang diukur
ini, jarak ke objek dapat dihitung dengan menggunakan kecepatan suara di udara. Karena prinsip
kerjanya yang sederhana, sensor ultrasonik banyak digunakan dalam aplikasi seperti sistem
parkir otomatis, pengukur level cairan, dan robot navigasi [1] [2] [3] [4].
Di sisi lain, LiDAR menawarkan pendekatan yang lebih canggih dengan menggunakan pulsa
cahaya, biasanya dalam spektrum inframerah atau cahaya tampak. Ketika pulsa cahaya ini
dipancarkan dan mengenai objek, sebagian dari cahaya tersebut akan dipantulkan kembali ke
sensor. LiDAR kemudian mengukur waktu tempuh cahaya yang dipantulkan untuk menentukan
jarak [5] [6]. Karena cahaya bergerak jauh lebih cepat daripada suara, LiDAR mampu
memberikan resolusi yang sangat tinggi dan presisi dalam pengukuran jarak. Ini membuat
LiDAR menjadi pilihan utama dalam aplikasi yang memerlukan tingkat detail yang tinggi,
seperti pemetaan 3D, sistem pemanduan kendaraan otonom, dan penginderaan jarak jauh dalam
berbagai kondisi cuaca.
Kedua sensor ini memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing. Sensor ultrasonik
umumnya lebih murah dan lebih mudah diimplementasikan, namun rentan terhadap gangguan
dari noise lingkungan dan memiliki resolusi yang lebih rendah. Sebaliknya, LiDAR menawarkan
resolusi yang lebih tinggi dan performa yang lebih baik dalam berbagai kondisi lingkungan,
tetapi dengan biaya yang lebih tinggi.
Namun, baik sensor ultrasonik maupun LiDAR dapat mengalami ketidakstabilan dalam
pembacaan jarak akibat noise atau perubahan kondisi lingkungan yang cepat. Untuk mengatasi
hal ini, penggunaan filter sinyal seperti moving average dapat membantu menstabilkan
pembacaan dengan mereduksi noise yang terdeteksi oleh sensor. Lebih jauh lagi, adaptasi filter
moving average yang disesuaikan dengan kondisi real-time adaptive moving average diharapkan
mampu memberikan kestabilan yang lebih baik dibandingkan filter statis. Hal ini sesuai dengan
penelitian terdahulu yang menyebutkan bahwa filter moving average dapat menstabilkan
fluktuasi dari sistem yang digunakan [7] [8] [9] [10]. Filter Moving Average Filter (MAF)
memiliki peran penting dalam pembacaan sensor, terutama ketika data yang dihasilkan sensor
cenderung fluktuatif akibat adanya gangguan atau noise [11] [12]. Dalam berbagai aplikasi,
seperti pengukuran jarak menggunakan sensor ultrasonik atau LiDAR, data yang akurat dan
stabil sangat diperlukan untuk mendukung kinerja sistem yang optimal. MAF bekerja dengan
cara menghitung rata-rata dari beberapa sampel data sebelumnya, sehingga mampu meredam
fluktuasi yang tidak diinginkan dan memberikan pembacaan yang lebih stabil [13]. Dengan
menggunakan filter ini, nilai pengukuran sensor menjadi lebih halus dan mendekati nilai
sebenarnya, yang sangat penting dalam aplikasi real-time. Selain itu, MAF adaptif
memungkinkan filter untuk menyesuaikan jumlah sampel yang digunakan berdasarkan kondisi
lingkungan atau tingkat noise, sehingga meningkatkan akurasi pengukuran [14] [15] [16] [17].
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja sensor ultrasonik dan LiDAR dalam
pengukuran jarak, baik dalam kondisi standar maupun dengan penerapan adaptive moving
average. Melalui pengujian ini, diharapkan dapat diidentifikasi sensor mana yang lebih unggul
dalam aplikasi tertentu dan sejauh mana penggunaan adaptive moving average dapat
meningkatkan akurasi dan stabilitas pembacaan jarak dari kedua jenis sensor tersebut.
Method
Sensor ultrasonik HC-SR04 adalah sensor jarak yang populer dan banyak digunakan untuk
mendeteksi objek dan mengukur jarak secara akurat. Sensor ini bekerja dengan memancarkan
gelombang suara ultrasonik dan mengukur waktu yang diperlukan oleh gelombang tersebut
untuk memantul kembali setelah mengenai suatu objek. Berdasarkan waktu perjalanan
gelombang, sensor ini dapat menghitung jarak objek dengan presisi. Sensor HC-SR04 terdiri dari
dua bagian utama, yaitu pemancar ultrasonik (transmitter) dan penerima ultrasonik (receiver).
Pemancar mengeluarkan gelombang suara ultrasonik dengan frekuensi 40 kHz.
LiDAR (Light Detection and Ranging) adalah teknologi penginderaan yang menggunakan pulsa
cahaya untuk mengukur jarak antara sensor dan objek yang ditargetkan. Prinsip kerjanya
melibatkan pemancaran pulsa cahaya, biasanya dalam spektrum inframerah atau cahaya tampak,
dari sumber laser ke objek. Setelah pulsa cahaya mengenai objek, cahaya tersebut dipantulkan
kembali ke sensor. Dengan mengukur waktu yang dibutuhkan oleh pulsa cahaya untuk kembali,
Penelitian ini dirancang sebagai penelitian eksperimental yang bertujuan untuk membandingkan
kinerja sensor ultrasonik (seperti HC-SR04) dengan LiDAR dalam hal akurasi dan stabilitas
pengukuran jarak, baik pada sistem standar maupun dengan penerapan adaptive moving average.
Untuk mencapai tujuan ini, sejumlah peralatan dan bahan akan digunakan, termasuk sensor HC-
SR04 dan modul LiDAR, mikrokontroler Arduino Due, komputer untuk pemrograman dan
analisis data, serta perangkat tambahan seperti breadboard, kabel jumper, sumber daya listrik,
dan alat ukur untuk kalibrasi.
Proses penelitian dimulai dengan persiapan alat dan pengaturan eksperimen. Sensor HC-SR04
dan modul LiDAR akan dirangkai pada mikrokontroler Arduino Due, dan lingkungan pengujian
yang terkontrol akan disiapkan dengan berbagai objek yang ditempatkan pada jarak 25 cm dan
diberi gangguan menuju ke 18 cm
Selanjutnya, data pengukuran akan dikumpulkan pada sistem standar, di mana mikrokontroler
diprogram untuk membaca data jarak dari kedua sensor tanpa menerapkan filter apa pun.
Pengukuran akan dilakukan dengan menempatkan objek pada berbagai posisi dan jarak, dan
hasil pengukuran dari kedua sensor akan dicatat. Pengukuran ini akan diulang beberapa kali
untuk setiap jarak guna mendapatkan data yang cukup untuk analisis statistik.
Setelah itu, data pengukuran akan dikumpulkan kembali, namun kali ini dengan implementasi
adaptive moving average pada mikrokontroler untuk memproses data dari kedua sensor.
Prosedur pengukuran yang sama akan diulang, tetapi dengan filter adaptive moving average
diaktifkan. Hasil pengukuran dari kedua sensor setelah diproses oleh filter akan dicatat dan
dibandingkan dengan data yang dikumpulkan sebelumnya.
Langkah terakhir adalah analisis data, di mana hasil pengukuran dari kedua sensor pada sistem
standar dan sistem dengan adaptive moving average akan dibandingkan. Analisis ini akan
memberikan wawasan tentang sejauh mana adaptive moving average dapat meningkatkan
kualitas pengukuran jarak dan sensor mana yang lebih unggul dalam berbagai kondisi pengujian.
Result
Nilai n pada moving average filter merujuk pada jumlah sampel yang digunakan untuk
menghitung rata-rata bergerak. Ketika nilai n meningkat, jumlah sampel yang digunakan dalam
perhitungan rata-rata juga meningkat, yang menghasilkan efek smoothing yang lebih signifikan
pada sinyal. Pada konfigurasi n=5, moving average mengambil rata-rata dari 5 sampel terakhir.
Efek smoothing yang dihasilkan cukup moderat, sehingga sinyal output masih dapat merespon
perubahan pada sinyal input dengan relatif cepat. Namun, noise yang ada pada sinyal input
mungkin tidak sepenuhnya dihilangkan, terutama jika noise tersebut memiliki frekuensi yang
cukup tinggi. Ini membuat konfigurasi n=5 cocok untuk aplikasi di mana respon cepat terhadap
perubahan sinyal lebih diutamakan daripada pengurangan noise secara maksimal. Dengan nilai
n=10, smoothing yang diterapkan menjadi lebih kuat dibandingkan dengan n=5. Hasilnya, sinyal
output menjadi lebih halus, dengan noise yang lebih efektif dihilangkan. Namun, peningkatan
dalam smoothing ini datang dengan konsekuensi berupa penurunan kecepatan respon terhadap
perubahan tiba-tiba pada sinyal input. Dalam aplikasi di mana kestabilan sinyal lebih penting
daripada respon cepat, seperti dalam pemantauan data yang lebih lambat berubah, n=10 dapat
memberikan hasil yang optimal. Pada n=15, efek smoothing menjadi yang paling kuat di antara
ketiga nilai yang diuji. Sinyal output yang dihasilkan sangat halus, dengan noise hampir
seluruhnya dihilangkan. Namun, respon terhadap perubahan cepat pada sinyal input menjadi
lebih lambat, karena sistem memerlukan waktu lebih lama untuk mencerminkan perubahan
tersebut dalam sinyal output. Konfigurasi ini lebih sesuai untuk aplikasi di mana sinyal input
cenderung stabil atau ketika perubahan yang tiba-tiba tidak diharapkan, seperti dalam sistem
kontrol yang memerlukan kestabilan tinggi.
Figure 6. Raw data vs Filtered data of ultrasonic (left); Adaptive MAF of Lidar (right)
Gambar 6 bagian kiri menampilkan dua grafik yang membandingkan raw data dari sensor
ultrasonik HC-SR04 dengan hasil data yang telah diproses menggunakan Adaptive Moving
Average Filter. Grafik pertama menunjukkan Raw data of HC-SR04 yang mengilustrasikan jarak
(dalam cm) yang diukur oleh sensor dari waktu ke waktu. Seperti yang terlihat, raw data
memiliki banyak fluktuasi, terutama di bagian awal pengukuran, dengan beberapa lonjakan dan
penurunan yang tajam. Hal ini mencerminkan gangguan yang sengaja diperkenalkan atau
ketidakstabilan dalam lingkungan pengukuran. Grafik kedua menunjukkan Filtered Data with
Adaptive Moving Average Filter yang menggambarkan data yang telah disaring menggunakan
filter rata-rata bergerak adaptif. Hasil dari proses filtering ini menunjukkan data yang lebih halus
dan stabil dibandingkan dengan raw data. Fluktuasi yang terlihat pada grafik pertama telah
berkurang secara signifikan, terutama di awal pengukuran, di mana lonjakan dan penurunan
tajam telah diatasi, menghasilkan garis yang lebih mulus.
Adaptive MAF ini bekerja dengan menyesuaikan ukuran jendela filter secara dinamis
berdasarkan tingkat fluktuasi yang terdeteksi dalam data. Ketika fluktuasi tinggi terdeteksi, filter
mungkin menggunakan ukuran jendela yang lebih besar untuk menghaluskan data lebih banyak,
sementara pada fluktuasi rendah, ukuran jendela bisa lebih kecil, memungkinkan respons yang
lebih cepat terhadap perubahan data yang lebih halus. Hasilnya adalah pengurangan noise secara
efektif, sambil mempertahankan ketepatan pengukuran asli sejauh mungkin. Secara keseluruhan,
penggunaan Adaptive Moving Average Filter dalam proses ini meningkatkan kualitas data
dengan mengurangi gangguan dan noise, sehingga menghasilkan data yang lebih konsisten dan
andal untuk analisis lebih lanjut.
Dalam 6 bagian kanan, terlihat bahwa eksperimen menggunakan sensor LiDAR dengan
gangguan pembacaan dilakukan untuk menguji nilai parameter n pada adaptive Moving Average
Filter (MAF). Grafik pertama menunjukkan data jarak asli dari sensor LiDAR yang diambil
secara real-time. Terlihat adanya fluktuasi yang signifikan dalam data, terutama di bagian
tertentu, yang mungkin disebabkan oleh gangguan atau noise pada sensor. Grafik kedua
memperlihatkan rata-rata dari perbedaan nilai mean of diffs pada setiap loop. Nilai ini digunakan
untuk mendeteksi tingkat perubahan dalam data jarak dan memberikan gambaran tentang
seberapa besar fluktuasi yang terjadi. Terlihat bahwa rata-rata perbedaan ini mengalami variasi
yang cukup besar di beberapa titik waktu, terutama pada interval waktu sekitar 200 hingga 260
detik. Fluktuasi yang tajam ini mencerminkan gangguan atau perubahan signifikan dalam data
jarak.
Grafik ketiga menampilkan nilai n yang dipilih oleh adaptive MAF pada setiap loop berdasarkan
rata-rata perubahan yang dihitung. Nilai n diatur secara dinamis, di mana terlihat bahwa nilai n
berfluktuasi antara 5, 10, dan 15. Ketika perubahan dalam data jarak lebih stabil, nilai n
cenderung lebih tinggi n, menunjukkan bahwa filter menggunakan lebih banyak data untuk
merata-ratakan nilai. Namun, ketika ada fluktuasi tajam atau perubahan besar, nilai n berkurang,
menunjukkan bahwa filter menyesuaikan diri dengan menggunakan lebih sedikit data untuk
merespons perubahan lebih cepat.
References
[1] S. Budilaksono, "Designing an Ultrasonic Sensor Stick Prototype for Blind People," Int. Conf. Educ, pp. 1-6,
2020.
[2] A. Rocchi, "Characterization and Optimization of Level Measurement by an Ultrasonic Sensor System," IEEE
Sensors Journal, vol. 19, no. 8, pp. 3077-3084, 2019.
[3] G. A. Francis, "Object detection using ultrasonic sensor," International Journal of Innovative Technology and
Exploring Engineering, vol. 8, no. 6, pp. 207-209, 2019.
[4] Q. Nazir, "Online tool condition monitoring for ultrasonic metal welding via sensor fusion and machine
learning," Journal of Manufacturing Processes, vol. 62, pp. 806-816, 2021.
[5] C. Poulton, "Long-Range LiDAR and Free-Space Data Communication with High-Performance Optical
Phased Arrays," IEEE Journal of Selected Topics in Quantum Electronics, vol. 25, no. 5, 2019.
[6] F. Xue, "From LiDAR point cloud towards digital twin city: Clustering city objects based on Gestalt
principles," ISPRS Journal of Photogrammetry and Remote Sensing, vol. 167, pp. 418-431, 2020.
[7] A. Amir, G. Richal, M. Lorenzo, A. Cesar and C. Deliang, "Effect of sensor response and moving average
filter duration on maximum wind gust measurements," Journal of Wind Engineering & Industrial
Aerodynamics, pp. 1-13, 2020.
[8] P. A.P, I. Adiyasa, A. Yudianto and S. Agit, "Multiple Sensing Method Using Moving Average Filter for
Automotive Ultrasonic Sensor," in Journal of Physics: Conferences Series, 2020.
[9] G. Aradhye, A. Rao and M. Mastan, "A novel hybrid approach for time series data forecasting using moving
average filter and ARIMA-SVM," Springer Singapore, 2019.
[10] B. Debdut, "Moving average filter for spur reduction in subsampling fractional PLLs," Analog Integrated
Circuits and Signal Processing, p. 695–704, 2021.
[11] M. Xie, C. Zhu, B. Shi and Y. Yang, "Power Based Phase-Locked Loop Under Adverse Conditions with
Moving Average Filtere for Single-Phase System," J. Electr. Syst, pp. 332-347, 2017.
[12] D. Thinh, N. Quan and N. Maneetien, "Implementation of Moving Average Filter on STM32F4 for vibration
Sensor Aplication," in Proceedings 2018 4th International Conference on Green Technology and Sustainable
Development, 2018.
[13] V. Granovsky, "Dynamic measurements: theory and metrological support yesterday and today Sensors and
systems," Датчики и системы, pp. 57-72, 2016.
[14] A. Shestakov and A. Keller, "Optimal Dynamic Measurement Method Using Digital Moving Average Filter,"
in Journal of Physics: Conference Series, 2021.
[15] A. Prasetyo, I. Adityasa, A. Ydianto and S. Agit, "Multiple Sensing Method Using Moving Average Filter for
Automotive Ultrasonic Sensor," in Journal of Physics: Conference Series, 2020.
[16] D. Purnamasari, K. Wibisono and H. Sukri, "Digital Moving Average Filter Application fer Echo Signals and
Temperature," in ICST, 2021.
[17] K. Nugroho, S. Pebrianto, M. Fatoni, A. Fatikhunnada, Liyantono and Y. Setiawan, "Comparasion between
wavelet transform and moving average as filter method of MODIS imagery to recognize paddy cropping
pattern in West Java," in IOP Confereces Series: Earth and Environmental Science, 2017.
[18] R. Jardim and F. Morgado-Dias, "Moving Average Filter with Contour Detection," in International
Conference Biomed, 2018.
[19] P. Neipa, A. Kunto and F. Hanifudin, "Digital Moving Average Filter Application for Echo Signals and
Temperature," in E3S Web of Conferences 328, 2021.
[20] Y. Radiyona, S. Suantoro, P. Pujiyanto, R. Budiharti, T. Respati and D. Saputro, "Design of Embedded System
to Determine Liquid Refractive Index Based on Ultrasonic Sensor using an Atmega328," Int. Semin. Math. Sci.
Comput. Sci. Educ, pp. 1-8, 2018.