Syarat dan Rukun Talak dalam Islam
Syarat dan Rukun Talak dalam Islam
Dosen pengampu:
Oleh:
Nur Aini
Nur Mustafidah
Abstract
A family that is physically and mentally prosperous is the dream of every couple and individual in a
family. However, it cannot be denied that the expected goals and bonds they have established together
can experience challenges, which have the potential to cause conflict. In the view of the Shari'a, divorce
is declared valid if certain conditions are met. These conditions lie in the pillars of talak, which include
the existence of a husband who wants to carry out talak, the existence of a wife who will accept talak
from her husband, and conditions related to the pronouncement of talak itself.
2
PENDAHULUAN
Pernikahan adalah sebuah akad yang luhur dan suci, yang menjadi landasan sahnya
hubungan antara seorang pria dan wanita, dengan tujuan untuk membentuk keluarga yang
harmonis, dipenuhi dengan cinta, kebaikan, dan saling mengasihi.
Dalam Islam, pernikahan merupakan ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada
Allah dan mengikuti perintah-Nya. Rasulullah SAW. menganjurkan umat Muslim untuk
menikah sebagai bentuk penyempurna agama. Namun, tujuan umum adalah membentuk
keluarga yang bahagia dan kekal, menciptakan ketenangan jiwa (sakinah), membangun cinta
(mawaddah), dan terakhir adalah mewujudkan rahmat (warahmah). (Sudarsono, 1991).
Menurut konteks agama, perkawinan merupakan suatu perintah bagi mereka yang
mampu melaksanakannya, karena dapat membantu mengurangi maksiat dan melindungi diri
dari perbuatan zina. Meskipun demikian, menciptakan keluarga yang bahagia tidaklah
sederhana. Permasalahan atau perselisihan antara pasangan sering kali dapat menimbulkan
konflik yang berpotensi berakhir dengan perceraian.
Cerai talak artinya melepaskan ikatan perkawinan dengan meniadakan hak dan kewajiban
antara seorang suami dan seorang istri (Ali, 2009). Dalam pandangan fikih, talak adalah
ungkapan yang tegas yang menandakan bahwa suatu pernikahan telah berakhir.
Perceraian adalah suatu hal yang diizinkan, tetapi sangat dibenci oleh Allah SWT. Menurut
pandangan ulama fiqh, perceraian tidak dianggap sebagai larangan yang mendatangkan dosa,
melainkan hanya makruh karena dapat merusak hubungan silaturrahmi. Namun, jika keadaan
rumah tangga sudah tidak memungkinkan untuk dipertahankan, perceraian dapat menjadi
pilihan terakhir yang sah untuk diambil. Sebelum mengambil langkah tersebut, penting untuk
melakukan upaya perdamaian antara kedua pihak. (Mohammad, 2019, p. 4).
Dalam prinsipnya, bagi setiap orang untuk harus berusaha menghindari perceraian.
Sebuah pernikahan dapat berakhir karena berbagai faktor, seperti talak yang dijatuhkan oleh
suami kepada istri, perceraian yang terjadi di antara keduanya, atau sebab-sebab lain yang
relevan. Namun, semua itu melalaui tahap-tahap, ada syarat dan rukun-rukun talak di dalam
islam.
Setelah terjadinya perceraian, banyak mudharrat dan dampak negatif yang dapat timbul,
termasuk kerusakan hubungan kekeluargaan antara kedua belah pihak yang dapat
menyebabkan permusuhan di antara keluarga suami dan istri. Selain itu, hal ini juga
berpengaruh pada perkembangan moral anak yang lahir dari pernikahan tersebut.
3
A. Pengertian Talak
Talak Secara harfiyah berarti melepaskan dan atau membebaskan. Apabila dihubungkan
dengan putusnya perkawinan dan menurut syariat, maka talak dapat diartikan dengan
melepaskan istri atau membebaskannya dari ikatan perkawinan atau menceraikannya. Menurut
hukum Islam talak adalah suatu perkataan yang diucapkan oleh suami untuk memutuskan
ikatan pernikahan terhadap istrinya. Apabila seorang suami telah mentalak istrinya, maka
putuslah hubungan antara suami istri tersebut, baik secara lahir maupun batin.
Talak secara bahasa berarti membebaskan, melepaskan, atau menghilangkan ikatan. Dalam
istilah syariat, talak adalah tindakan yang menghilangkan kehalalan hubungan pernikahan
dengan lafaz tertentu atau sesuatu yang menggantikannya, seperti isyarat.
• Mazhab Maliki: Talak memiliki empat rukun, yaitu (1) pihak yang menjatuhkan talak
(suami atau walinya), (2) adanya maksud atau niat, (3) objek talak (istri dalam ikatan
pernikahan yang sah), dan (4) adanya lafaz yang jelas atau kiasan.1
• Mazhab Syafi'i dan Hanbali: Menambahkan satu rukun, yaitu wilayah (kewenangan
suami dalam menjatuhkan talak).2
• Mazhab Hanafi: Tidak secara khusus menyebutkan rukun talak, tetapi lebih fokus pada
keabsahan dan konsekuensinya.3
Hukum Islam menentukan bahwa hak menjatuhkan talak ada pada suami. Hal ini
disebabkan karena suami mempunyai beban tanggung jawab yang sangat besar dalam suatu
perkawinan, baik itu tanggung jawab kewajiban membayar mahar kepada istri, maupun
kewajiban tanggung jawab memberi nafkah istri dan anak-anaknya.
Karena hak talak ada pada suami, suami harus berhati-hati dalam menyatakan kata-kata yang
dapat berakibat jatuhnya talak. Hal yang perlu diketahui adalah anggapan bahwa talak itu
adalah hak penuh seorang suami tidak mempunyai dasar sama sekali baik dalam Al-Quran
maupun hadits Nabi. Yang demikian hanyalah merupakan kebiasaan atau urf orang Arab yang
terbawa dari masa sebelum Islam.
Pada zaman Jahiliyah, banyak laki-laki yang sesuka hatinya menceraikan istrinya dengan kata-
kata yang diucapkan seenaknya. Akan tetapi, istrinya masih tetap jadi istrinya, sekalipun sudah
diceraikannya seratus kali atau lebih. Oleh karena banyaknya suami mempermainkan kata
cerai, turunlah ayat Al-Qur’an surat Al-Baqarah Ayat 229:
1
Al-Maqdisiy, Ibnu Qudamah, Syarh al-Kabir, vol. 02 hlm. 365
2
Al-Maqdisiy, Mar'i ibn Yusuf ibn Ahmad Al-Karami, Ghoyah al-Muntaha, vol. 03 hlm. 112
3
Al-Kasani, al-Din Abi Bakr Bin Mas'ud al-Hanafi, Al-Badai’, vol. 03 hlm. 98
4
ٌۢ
ٍٍۗ ف اَو تَس ِريْ ٌۢح ِِبِ ْحس
َّان َوََل ََِيلُّ لَ ُك ْم اَ ْن ََتْ ُخ ُذ ْوا ِِمَّآ اٰتَـ ْيـتُ ُم ْو ُه َّن َش ْيـًٔا اََِّلٓ اَ ْن ََّّيَافَآ اََل ٍ اَلطَّ ََل ُق م َّرتٰ ِِۖن فَاِمساك ِِبَعرو
َ ْ ْ ُْْ َ ْ َ
اللِ فَ ََل ٍۗ ِِۙ ِ ِ ٍِۗ ّٰ ي ِقيما ح ُدو َد
ّٰ ْك ُح ُد ْو ُد َ ت بِهٖۗ تِل ْ اح عَلَْي ِه َما فِْي َما افـْتَ َد ِ
َ َالل فَا ْن خ ْفتُ ْم اَََّل يُق ْي َما ُح ُد ْو َد ا ّٰلل فَ ََل ُجن ْ ُ َْ ُ
ٰۤ ۚ
٢٢٩ ك ُه ُم الظّٰلِ ُم ْو َن َ اللِ فَاُولٰ ِٕى
ّٰ تَـ ْعتَ ُد ْو َها َوَم ْن يَّـتَـ َع َّد ُح ُد ْو َد
“Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan (rujuk) dengan
cara yang patut atau melepaskan (menceraikan) dengan baik. Tidak halal bagi kamu
mengambil kembali sesuatu (mahar) yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali
keduanya (suami dan istri) khawatir tidak mampu menjalankan batas-batas ketentuan Allah.
Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan batas-batas (ketentuan)
Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk
menebus dirinya. Itulah batas-batas (ketentuan) Allah, janganlah kamu melanggarnya. Siapa
yang melanggar batas-batas (ketentuan) Allah, mereka itulah orang-orang zalim.”
B. Pembagian talak
Cerai talak ini diperuntukkan bagi seorang suami yang telah melangsungkan perkawinan
menurut agama Islam yang akan menceraikan isterinya, juga dapat dimanfaatkan oleh isteri
jika suami melanggar perjanjian taklik talak.
Berdasarkan perspektif hukum Islam, jenis-jenis talak atau perceraian dapat dibedakan atas:
A. Dilihat dari boleh atau tidaknya suami merujuk atau kembali kepada istrinya, maka
talak dibagi menjadi 2 macam, yaitu:
1. Talak raj’ī,
Para Ulama Mazhab sepakat bahwa yang dinamakan talak Raj’i ialah talak dimana
suami masih memiliki hak untuk kembali kepada istrinya (rujuk) sepanjang istrinya
tersebut masih dalam masa iddah, baik istrinya tersebut bersedia dirujuk maupun tidak.
Salah satu diantara syaratnya adalah bahwa si istri sudah dicampur4 Sebab istri yang
dicerai sebelum dicampuri, tidak mempunyai masa iddah, berdasar pada firman Allah
Sw Q.S. Al-Ahzab [49]:
ۚ ٍ ِ ِ ِ ٰٰٓيَيـُّ َها الَّ ِذيْن اٰ َمنُـ ْوٓا اِذَا نَ َك ْحتُم الْم ْؤِمن
ُّو ََنَا ُّ َٰت ُُثَّ طَلَّ ْقتُ ُم ْو ُه َّن ِم ْن قَـبْ ِل اَ ْن ََت
ْ س ْو ُه َّن فَ َما لَ ُك ْم عَلَيْ ِه َّن م ْن عدَّة تَـ ْعتَد ُ ُ َ
َِ احا ِ
٤٩ َجيْ ًَٔل ًٔ فَ َمتّعُ ْو ُه َّن َو َس ِّر ُح ْو ُه َّن َس َر
”Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan
mukminat, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya, tidak ada
4
Muhammad Jawwad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab, (Jakarta: Lentera, 2002), hlm. 451.
5
masa idah atas mereka yang perlu kamu perhitungkan. Maka, berilah mereka mutah
(pemberian) dan lepaskanlah mereka dengan cara yang sebaik-baiknya.”
2. Talak bā’in
yaitu talak dimana suami tidak dapat kembali kepada istrinya tanpa melakukan
pernikahan baru. Talak ba’in menyebabkan keduanya tidak dapat saling mewarisi jika
salah satu meninggal sekalipun istri dalam masa ‘iddah. Talak jenis ini ada dua:5
Talak yang si suami tidak boleh rujuk dengan mantan istrinya, namun si suami
dapat rujuk dengan mantan istrinya dengan melakukan akad nikah yang baru.
Maksudnya, apabila talak ini telah jatuh, maka putuslah ikatan perkawinan suami
istri tersebut. Namun, mantan suaminya dapat rujuk dengan mantan istrinya
tersebut dengan melakukan pernikahan kembali setelah habis masa iddahnya.
Yang termasuk talak dalam bentuk ba’in kubra yaitu talak yang telah dijatuhkan
tiga kali atau talak tiga. Talak tiga dalam pengertian talak bain itu yang disepakati
oleh ulama adalah talak tiga yang diucapkan secara terpisah dalam kesempatan
yang berbeda antara satu dengan lainnya diselingi oleh masa iddah.
Termasuk talak tiga itu kedalam kelompok bain kubra adalah sebagaimana yang
dikatakan Allah dalam surat al-Baqarah (2) ayat 230:
اج َعآ إِن ظَنَّآ أَن ِ ٰ َّ فَِإن طَلَّ َق َها فَ ََل ََِت ُّل لَهُۥ ِم ٌۢن بـ ْع ُد ح
َ َْيهُۥ ٍۗ فَِإن طَلَّ َق َها فَ ََل ُجن
ََ َاح َعل َْي ِه َمآ أَن ي
َ َت َ ْ َح َزْو ًٔجا غ
َ َّت تَنك َ َ
ٍ ِ َِّ ُْك ح ُدود ِ َِّ َي ِقيما ح ُدود
َمو َن ُ ٱلل يـُبَـيِّنُـ َها ل َق ْوم يَـ ْعل ُ َ ٱلل ٍۗ َوتل ُ َ ُ
“Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka
perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain.
Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi
keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya
berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum
Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.”
5
Ibid, hlm. 452-453.
6
B. Dilihat dari segi sesuai atau tidak dengan tuntunan agama (sunnah), talak terbagi
menjadi dua yaitu:
1. Talak sunnī, yaitu talak yang sesuai dengan tuntunan agama, yakni talak yang
dijatuhkan ketika istri dalam keadaan suci dan belum dicampuri, atau dalam keadaan
hamil, dengan talak satu persatu. Talak jenis ini hukumnya halal. Ketentuan ini
berdasarkan Q.S. al-Ṭalāq [65]:
ٌۢ ۚ ۚ ِ ٰۤ َِِّّب اِذَا طَلَّ ْقتُم الن
اللَ َربَّ ُك ْم ََل ُُتْ ِر ُج ْو ُه َّن ِم ْن بـُيُـ ْوِتِِ َّن َوََل َّيَُْر ْج َن
ّٰ صوا الْعِ َّدةَ َواتَّـقُوا ِِ ِ
ُ ساءَ فَطَلّقُ ْو ُه َّن لعِدَِّت َّن َواَ ْح َ ُ ُّ ِٰٰٓيَيـُّ َها الن
ٍۗ ِّٰ اللِ ومن يـَّتـع َّد ح ُدو َد ٍۗ ٍۗ ِ اََِّلٓ اَ ْن ََّّيْتِْْي بِ َف
ثُ اللَ َُْي ِدّٰ سهٖۗ ََل تَ ْد ِر ْي ل ََع َّل َ َم نَـ ْف
َ الل فَـ َق ْد ظَل ْ ُ َ َ ْ َ َ ّٰ ْك ُح ُد ْو ُد َ شةٍ مُّبَـيِّنَةٍ َوتِل
َ اح َ
َ ِبَـ ْع َد ٰذل
ك اَ ْم ًٔرا
“Wahai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, hendaklah kamu ceraikan
mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar), dan hitunglah
waktu idah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan
mereka dari rumahnya dan janganlah (diizinkan) keluar kecuali jika mereka
mengerjakan perbuatan keji yang jelas. Itulah hukum-hukum Allah. Siapa melanggar
hukum-hukum Allah, maka sungguh, dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.
Kamu tidak mengetahui boleh jadi setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang
baru.”
Menurut Shāfi’ī, ayat tersebut berarti “ceraikanlah istri-istrimu pada masa ‘iddah-nya”,
yakni dalam keadaan suci. Jika istri ditalak dalam keadaan suci, maka secara otomatis
ia sudah masuk dalam masa ‘iddah-nya.
2. Talak bid’ah, yaitu talak yang menyelisihi syari’at, dia terbagi menjadi dua macam:
a) Bid’ah dalam waktu: Seperti ketika menceraikannya dalam keadaan haidh, nifas
atau dalam keadaan suci yang telah disetubuhinya namun belum ada kejelasan
hamil ataupun tidaknya. Talak seperti ini haram namun tetap jatuh, akan tetapi
pelakunya berdosa, dia harus merujuknya kembali jika itu bukan talak tiga.
b) Bid’ah dalam jumlah: Seperti dengan menjatuhkan talak tiga dalam satu kalimat,
atau menceraikannya tiga kali berurutan dalam satu majlis, seperti perkataan:
kamu cerai, kamu cerai, kamu cerai. Talak seperti ini haram, namun tetap jatuh,
pelakunya berdosa. Talak tiga dengan satu kalimat atau beberapa kalimat
berurutan dalam keadaan satu suci tidak jatuh kecuali hanya satu talak dibarengi
dengan dosa.
C. Dilihat dari segi pengucapan talak dibagi menjadi dua, yaitu: Sharih dan Kinayah
(kiasan)
1. Talak ṣarīḥ adalah lafaz yang maknanya langsung merujuk pada perceraian dan telah
umum digunakan untuk talak dalam masyarakat.
• Mazhab Hanafi: 6 Menganggap semua bentuk kata yang berasal dari "ṭalāq"
sebagai talak ṣarīḥ, seperti: “Engkau tertalak,” “Engkau telah aku ceraikan,” atau
“Aku jatuhkan talak kepadamu.” Selain itu, ungkapan seperti “Engkau haram
6
Al-Syaukani, Muhammad bin Ali bin Muhammad, Fath al-Qodir, vol. 3 hlm. 127-131
7
bagiku” atau“Aku mengharamkanmu atas diriku” juga dianggap ṣarīḥ karena
sudah lazim digunakan sebagai ungkapan talak.
• Mazhab Hanbali: Hanya menganggap kata “ṭalāq” dan turunannya sebagai talak
ṣarīḥ. Adapun kata “firqah” (perpisahan) dan “sarāḥ” (melepas) dianggap
sebagai lafaz kināyah.
• Mazhab Maliki: 7 Menganggap lafaz kināyah yang umum digunakan sebagai
talak ṣarīḥ. Misalnya, kata “tasrīḥ” (melepas), “firāq” (berpisah), serta ungkapan
seperti “Engkau bā’in” atau “Engkau telah tercerai habis.”
• Mazhab Syafi’i dan Zahiri: 8 Menetapkan tiga lafaz sebagai talak ṣarīḥ, yaitu
“ṭalāq” (talak), “firāq” (perpisahan), dan “tasrīḥ” (melepas), karena ketiga kata
ini disebut dalam Al-Qur’an. Firman Allah:
- "Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu, boleh rujuk dengan cara yang
baik atau melepaskan dengan cara yang baik." (QS. Al-Baqarah: 229)
- "Jika mereka berpisah, maka Allah akan memberi kecukupan bagi masing-
masing dari karunia-Nya." (QS. An-Nisa: 130)
- "Kemudian aku berikan kesenangan kepada kalian dan aku lepaskan kalian
dengan pelepasan yang baik." (QS. Al-Ahzab: 28)
Jika suatu lafaz seperti “halal” atau “halal bagiku menjadi haram” menjadi umum
digunakan untuk talak, maka menurut Imam Nawawi, kata tersebut tetap dianggap
kināyah. Namun, sebagian ulama seperti Ibnu Hajar berpendapat bahwa jika ungkapan
“Atas diriku haram” menjadi umum dipahami sebagai talak, maka ia dapat dianggap
sebagai ṣarīḥ.
Talak kināyah adalah lafaz yang dapat memiliki makna ganda dan tidak secara
eksplisit menunjukkan perceraian.
• Mazhab Hanbali: Jika seorang suami berkata, “Atas diriku haram,” “Haram
berlaku bagiku,” atau “Haram wajib bagiku,” maka pernyataan ini dianggap
tidak memiliki dampak hukum (tidak jatuh talak), kecuali jika ada niat untuk
menceraikan istrinya. Jika disertai niat, maka pernyataan itu bisa dihukumi
sebagai ẓihār (sumpah yang menyerupai talak tetapi memiliki konsekuensi
berbeda).
• Mazhab Empat: Sepakat bahwa kata “Aṭlaqtu” (aku lepaskan) atau “Anti
Muṭlaqa” (engkau adalah wanita yang dilepaskan) bukan merupakan talak ṣarīḥ,
melainkan termasuk kināyah. Ini karena dalam istilah syariat dan kebiasaan
masyarakat, kata ini tidak secara eksplisit digunakan untuk talak, sehingga tetap
membutuhkan niat agar dianggap sebagai perceraian.
D. Dilihat dari segi Ta’liq dan Tanjiz Bentuk kata talaknya ada dua
7
Rusyd, Ibnu, Bidayah al-Mujtahid vol. 2 hlm. 83
8
Al-Syarbini, Syamsuddin Muhammad bin Muhammad al-Khatib, Mughni al-Muhtaj, vol. 3 hlm. 292
8
1. Munjazah, yaitu suatu kalimat diniatkan jatuhnya talak oleh orang yang
mengatakannya saat itu juga, seperti jika seorang suami berkata kepada isterinya: Anti
Thaaliq (engkau adalah perempuan yang di talak) talak ini jatuh saat itu juga.
2. Al -Mu’allaq, yaitu talak yang digantungkan oleh suami dengan suatu perbuatan yang
akan dilakukan oleh istrinya pada masa mendatang. Seperti suami mengatakan kepada
istrinya “Jika kamu berangkat kerja, berarti kamu telah ditalak“. Maka talak tersebut
berlaku sah dengan keberangkatan istrinya untuk kerja. 9
• Talak Raj'i:
Talak raj'i adalah talak kesatu atau kedua di mana suami masih memiliki hak untuk rujuk
kepada istrinya selama masa iddah. Rujuk dapat dilakukan tanpa perlu akad nikah baru,
mahar, atau persetujuan dari istri . Menurut mazhab Hanafi, selama masa iddah,
perceraian belum menghapuskan seluruh akibat talak. Jika suami berhubungan badan
dengan istrinya dengan niat rujuk, maka dianggap rujuk. Namun, mazhab Syafi'i
berpendapat bahwa rujuk harus dilakukan dengan perkataan yang jelas, bukan dengan
perbuatan.
• Talak Ba'in:
Talak ba'in adalah talak yang tidak memungkinkan rujuk. Talak Ba'in terbagi menjadi dua,
yaitu Ba'in Sughra dan Ba'in Kubra.
- Ba'in Sughra: Terjadi dalam kondisi seperti talak sebelum berhubungan (qobla ad-
dukhul), talak dengan tebusan atau khulu', dan talak yang ditemui oleh pengadilan
dan mas kawin baru.
- Ba'in Kubra: Adalah talak tiga, di mana suami tidak boleh rujuk atau menikah lagi
dengan mantan istri sampai mantan istri menikah dengan laki-laki lain, dicampuri,
kemudian diceraikan oleh suami keduanya.
Talak disyariatkan sebagai solusi dalam kondisi ketika perbedaan akhlak dan kebencian
muncul, sehingga menghalangi pelaksanaan batas-batas hukum Allah. Oleh karena itu,
pensyariatannya merupakan bentuk kasih sayang dari Allah. Talak menjadi solusi terakhir
ketika tidak ada lagi jalan keluar bagi pasangan suami istri, bahkan setelah berbagai upaya
perbaikan dari kedua belah pihak serta pihak-pihak yang ingin mendamaikan mereka.10
9
Syaikh Kamil Muhammad, Fiqih Wanita., hlm. 469.
10
Al-Syaukani, Muhammad bin Ali bin Muhammad, Fath al-Qodir, vol. 03 hlm. 21
9
Namun, Islam tetap menganjurkan pasangan untuk bersabar dan berusaha mempertahankan
rumah tangga. Firman Allah Q.S. An-Nisa’ [19]:
ٍشةٍ مُّبـيِنَ ۚة ِ ِْض مآ اٰتَـيـتموه َّن اََِّلٓ اَ ْن ََّّيْت
ُ ْ ُ ُ ْ َ ِ ضل ُْو ُه َّن لِتَ ْذ َهبُـ ْوا بِبَـ ْع
ٍۗ ٰۤ ِ ِ ِ َّ
ّ َ َ ْي بِ َفاح
َ ُ ساءَ َك ْرًٔها َوََل تَـ ْع َ ّاَيـُّ َها الذيْ َن اٰ َمنُـ ْوا ََل ََي ُّل لَ ُك ْم اَ ْن تَ ِرثُوا الن
١٩ ْيا ِ ْ اللُ فِْيهِ َخ ِۚ اشرو ُه َّن ِِبلْم ْعرو
ّٰ ف فَاِ ْن َك ِرْهتُ ُم ْو ُه َّن فَـ َع ٰسٓى اَ ْن تَك َْرُه ْوا َش ْيـًٔا َّو ََْي َع َل ِ
ًٔ ْ ْيا َكث
ًٔ ُْ َ ْ ُ َو َع
“Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan
paksa. Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian
dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan
keji yang nyata. Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai
mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah
menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya.”
Rasulullah ﷺjuga bersabda:
"Seorang mukmin tidak boleh membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai salah satu
sifatnya, maka bisa jadi ada sifat lain yang ia sukai darinya."11
Hikmah Talak di Tangan Laki-Laki
Islam menetapkan hak talak berada di tangan suami, bukan istri, dengan beberapa
pertimbangan:
1. Laki-laki lebih rasional dan tidak mudah terbawa emosi, sehingga lebih berhati-
hati dalam mengambil keputusan besar seperti talak.
3. Wanita dapat mengajukan syarat dalam akad nikah, jika ia ingin memiliki hak
untuk mengakhiri pernikahan dalam kondisi tertentu. Selain itu, Islam tetap
memberikan jalan keluar bagi wanita melalui mekanisme khulu' (permohonan cerai
dengan tebusan) jika ia merasa tidak mampu menjalani pernikahan.
Dengan demikian, talak bukanlah tindakan yang dianjurkan, tetapi merupakan solusi terakhir
yang disediakan oleh Islam untuk menghindari kerusakan yang lebih besar dalam kehidupan
rumah tangga.12
11
Zuhaili, Wahbah Abdul Hayyie al-Kattani, Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, vol. 09 hlm. 6875
12
Ibid, hlm. 6877-6878
10
• Menjaga jarak dalam ranjang, sebagai bentuk teguran yang lebih tegas.
• Tindakan lebih serius, seperti peringatan keras (dalam batasan yang diperbolehkan
syariat).
• Melibatkan pihak ketiga, yaitu dengan mengutus hakim dari keluarga suami dan istri
untuk mencari jalan keluar terbaik.
• Mayoritas ulama (Maliki, Syafi'i, Hanbali): Menganggap talak sebagai sesuatu yang
diperbolehkan tetapi lebih baik dihindari kecuali dalam keadaan darurat.14
2. Makruh: Jika suami masih memiliki keinginan untuk berumah tangga dan tidak ada
alasan kuat untuk berpisah.
3. Wajib: Jika mempertahankan pernikahan menyebabkan suami melakukan dosa, seperti
menelantarkan nafkah. Talak juga wajib bagi suami yang telah bersumpah untuk tidak
menyentuh istrinya (îlâ’) dan tidak rujuk dalam empat bulan.
13
Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, vol. 09 hlm. 6879
14
Syarh al-Kabir ma’a ad-Dasuqi, vol. 02 hlm. 361
11
4. Sunnah: Jika istri memiliki akhlak buruk, sering bermaksiat, atau tidak menjaga
kehormatan, sehingga dikhawatirkan merusak rumah tangga dan agama suami.
5. Mubah: Jika talak diperlukan karena ketidakharmonisan, ketidakmampuan menjalani
kehidupan bersama, atau alasan yang masuk akal. 15
F. Rukun-Rukun Talak
Talak memiliki beberapa rukun yang disetiap rukunnya memiliki syarat tersendiri.
1. Syarat-Syarat dalam Rukun Pertama: Orang yang Menjatuhkan Talak
Syarat utama bagi seseorang yang menjatuhkan talak adalah bahwa ia harus seorang
suami yang telah mencapai usia dewasa (baligh), berakal, dan bertindak atas
kehendaknya sendiri. Ini merupakan kesepakatan di antara para ulama. Menurut
mazhab Maliki, syarat tambahan adalah bahwa suami harus seorang Muslim.
Sedangkan dalam pandangan Hanbali, ia harus memahami konsekuensi dari talak
tersebut.16
Talak tidak sah jika dijatuhkan oleh seseorang yang bukan suami, anak kecil yang
belum mencapai usia tamyiz, atau orang yang tidak memiliki pemahaman terhadap
talak. Namun, menurut Hanbali, anak yang sudah bisa membedakan hukum talak
meski belum mencapai usia sepuluh tahun, tetap bisa menjatuhkan talak. Mereka juga
membolehkan seorang anak yang sudah mampu membedakan untuk menjadi wakil
dalam menjatuhkan talak atau menerima perwakilan untuk itu.
Talak yang dijatuhkan oleh wali atas nama anak kecil atau orang gila tanpa adanya
kompensasi (iwad) tidak sah, karena talak membawa dampak negatif bagi istri.
a) Talak oleh Orang yang Tidak Berakal atau dalam Kondisi Hilang
Kesadaran
Talak yang dijatuhkan oleh orang gila tidak sah. Hal yang sama berlaku bagi
seseorang yang pingsan atau kehilangan kesadaran karena emosi yang
berlebihan, seperti ketakutan, kesedihan, atau kemarahan yang ekstrem. Hal ini
didasarkan pada hadis Nabi ﷺ: "Tidak ada talak dalam keadaan ikrah (terpaksa
atau tanpa kesadaran)."
Dalam pengertian ini, "ikrah" mencakup segala hal yang menghilangkan
kesadaran dan niat, baik karena kegilaan, kemarahan yang luar biasa, atau
kesedihan mendalam.
b) Talak dalam Keadaan Marah
Talak yang dijatuhkan dalam kondisi marah hanya dianggap tidak sah apabila
kemarahan tersebut mencapai tingkat dimana seseorang tidak menyadari apa
yang ia katakan atau lakukan. Namun, jika ia masih memiliki kesadaran dan
memahami apa yang diucapkannya, maka talaknya tetap sah.
c) Talak oleh Orang Mabuk
Menurut kesepakatan para ulama, talak yang dijatuhkan oleh orang mabuk
yang kehilangan kesadaran akibat minuman keras atau zat lain yang
mempengaruhi pikirannya, tidak sah jika mabuknya bukan karena
15
Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, vol. 09 hlm. 6879-6880
16
Fath al-Qodir, vol. 2 hlm. 31
12
perbuatannya sendiri, seperti terpaksa minum atau mengonsumsi obat bius
yang diperlukan.
Namun, jika mabuk tersebut disengaja (misalnya, dengan minum alkohol
secara sadar tanpa ada keperluan), mayoritas ulama tetap menganggap talaknya
sah sebagai bentuk hukuman atas pelanggarannya. Ada perbedaan pendapat
dalam mazhab Hanafi, Hanbali (dalam satu riwayat), dan beberapa ulama lain
yang menyatakan bahwa talak orang mabuk tidak sah karena hilangnya
kesadaran.
d) Talak oleh Non-Muslim
Mayoritas ulama berpendapat bahwa talak yang dijatuhkan oleh non-Muslim
tetap sah, kecuali menurut mazhab Maliki yang mensyaratkan bahwa suami
harus Muslim agar talaknya dapat berlaku.
e) Talak oleh Murtad
Jika seorang suami murtad setelah berhubungan dengan istrinya, maka talaknya
bersifat tergantung. Jika ia kembali masuk Islam dalam masa iddah, maka
talaknya tetap berlaku. Namun, jika masa iddah berakhir sebelum ia kembali
Islam, maka pernikahan otomatis batal karena perbedaan agama.
f) Talak oleh Seseorang yang Dilarang Mengelola Hartanya (Safih)
Orang yang boros atau dianggap tidak bijaksana dalam mengelola hartanya
(safih) tetap dianggap sah dalam menjatuhkan talak, karena talak bukanlah
bagian dari transaksi finansial.
Namun, dalam pandangan mazhab Syiah Imamiyah dan sebagian ulama, talak
safih harus mendapat persetujuan dari walinya karena dianggap sebagai
tindakan yang merugikan secara murni.
g) Talak karena Paksaan
Mayoritas ulama menyatakan bahwa talak yang dijatuhkan dalam keadaan
terpaksa tidak sah, karena suami tidak benar-benar berniat menjatuhkan talak,
melainkan hanya ingin menghindari ancaman.
Dalil yang mendukung adalah hadis Nabi ﷺ:
"Allah telah mengampuni umatku atas kesalahan, lupa, dan apa yang mereka
lakukan karena paksaan."
Namun, mazhab Hanafi tetap menganggap talak dalam keadaan paksaan
sebagai sah, dengan alasan bahwa meskipun ia terpaksa, ia tetap melafalkan
talak dengan sadar, sehingga dianggap berlaku sebagaimana talak yang
dijatuhkan dalam keadaan bercanda.17
17
Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, vol. 9 hlm. 6880-6885
18
Fath al-Qodir, vol. 3 hlm. 39
13
tidak bermaksud lain. Oleh karena itu, talak tidak dianggap sah dalam beberapa kondisi
berikut:
a) Seorang fakih yang mengulangi kata "talak" untuk tujuan pendidikan.
b) Orang yang mengisahkan talak yang terjadi pada dirinya atau orang lain.
c) Seorang non-Arab yang hanya meniru ucapan talak tanpa memahami
maknanya.
d) Talak yang diucapkan oleh orang yang sedang tidur atau kehilangan akal akibat
sebab di luar kehendaknya. Bahkan, jika setelah sadar ia mengatakan, "Saya
mengesahkannya," talak tersebut tetap tidak berlaku, berdasarkan hadis: “Pena
diangkat dari tiga orang, di antaranya orang yang tidur hingga ia terbangun.”
Namun, menurut mazhab Hanbali, talak tidak membutuhkan niat jika diucapkan
dalam situasi pertengkaran atau saat marah.
a) Talak Orang yang Bercanda (Hâzil)
Orang yang bercanda dalam talak terbagi menjadi dua:
- Hâzil – Orang yang sengaja mengucapkan kata "talak" tanpa bermaksud
menjatuhkannya.
- Lâ‘ib – Orang yang sama sekali tidak memiliki maksud tertentu saat
mengucapkannya.
Contohnya, jika seorang istri berkata dengan nada bercanda, "Ceraikan aku,"
lalu suami menjawab, "Aku menceraikanmu," atau suami mengucapkan talak
dengan mengira istrinya adalah wanita lain karena gelap atau terhalang
sesuatu.
Dalam kasus ini, talak tetap sah. Hal ini didasarkan pada hadis: “Tiga perkara
yang seriusnya benar-benar terjadi, dan bercandanya tetap dianggap serius:
nikah, talak, dan rujuk.” Juga berdasarkan perkataan Ali bin Abi Thalib: “Tiga
hal yang tidak boleh dijadikan permainan: talak, pembebasan budak, dan
pernikahan.”
Alasannya, hâzil telah mengucapkan sebab yang sah untuk talak, dan urusan
penetapan hukum atas sebab tersebut adalah hak syariat, bukan individu yang
mengucapkannya.
14
talaknya tetap sah kecuali jika ia bisa membuktikan bahwa lisannya
benar-benar terpeleset.
Perbedaan Antara Hâzil dan Orang yang Salah Ucap
• Hâzil bermaksud mengucapkan kata talak meskipun tidak ingin akibatnya terjadi,
sehingga ia tetap terkena hukuman dan talaknya sah.
• Orang yang salah ucap sama sekali tidak berniat, sehingga ia tidak berhak
mendapat hukuman dan talaknya tidak sah. 19
3. Syarat dalam Rukun Ketiga Perceraian Objek Talak atau Pihak yang Ditalak
Talak hanya berlaku bagi perempuan yang masih berada dalam ikatan
pernikahan yang sah, baik sebelum terjadi hubungan suami-istri maupun dalam masa
iddah talak raj‘i. Sebab, talak raj‘i tidak serta-merta mengakhiri pernikahan hingga
iddah selesai.
Namun, jika seorang perempuan berada dalam masa iddah akibat talak bain
kubra, talak berikutnya tidak akan berpengaruh karena hak talak suami telah habis
(maksimal tiga kali). Begitu pula jika perempuan berada dalam masa iddah akibat talak
bain sughra, mayoritas ulama selain Hanafi berpendapat bahwa talak tambahan tidak
berlaku, karena pernikahan telah terputus sepenuhnya. Sebaliknya, mazhab Hanafi
menganggap talak tambahan tetap sah selama masa iddah karena masih adanya
kewajiban nafkah dan tempat tinggal bagi istri, sehingga secara hukum ia tetap
dianggap istri.
Jika pernikahan tidak sah atau iddah telah berakhir, talak tidak dapat dijatuhkan
lagi, bahkan jika disyaratkan akan berlaku setelah iddah selesai, misalnya dengan
mengatakan: "Jika iddahmu selesai, maka kau tertalak." Talak ini dianggap tidak sah.
Dalam hukum Suriah (Pasal 86), dinyatakan bahwa objek talak adalah perempuan yang
berada dalam ikatan pernikahan yang sah atau dalam masa iddah akibat talak raj‘i.
Talak terhadap perempuan di luar kondisi ini tidak sah, bahkan jika dinyatakan secara
bersyarat.
19
Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, vol. 9 hlm. 6886-6887
15
Dalam kasus ini, talak langsung bersifat bain, dan menurut mazhab Hanafi20 serta
Syafi‘i, jika suami mengulangi lafaz talak, hanya satu talak yang berlaku, sebab talak
pertama telah memutuskan pernikahan21, menjadikannya wanita asing bagi suaminya.
Sebaliknya, mazhab Maliki dan Hanbali22 berpendapat bahwa jika suami mengucapkan
tiga kali talak berturut-turut dalam satu majelis, maka semuanya berlaku, kecuali jika
suami bermaksud menegaskan talak sebelumnya.
a) Talak yang Disandarkan pada Bagian Tubuh Perempuan atau Sebagian
Talak
Jika seorang suami mengatakan "Engkau tertalak" atau "Aku menceraikanmu,"
maka talak berlaku tanpa perbedaan pendapat.
• Menurut mazhab Hanafi 23 talak tetap sah jika dikaitkan dengan bagian
tubuh perempuan yang mewakili dirinya secara keseluruhan, seperti leher,
ruh, tubuh, anggota badan, wajah, kepala, atau punggung. Begitu pula jika
talak disandarkan pada bagian yang memiliki makna utuh seperti
"Separuhmu tertalak" atau "Sepersepuluhmu tertalak." Namun, talak tidak
berlaku jika hanya ditujukan kepada bagian tubuh yang tidak
merepresentasikan perempuan secara utuh, seperti tangan atau kaki,
kecuali dengan niat majaz (perumpamaan).
• Mazhab Maliki 24 berpendapat bahwa talak tetap berlaku jika dikaitkan
dengan bagian tubuh yang dianggap esensial bagi perempuan, seperti
rambut atau suaranya.
• Sedangkan mazhab Syafi‘i 25 dan Hanbali 26 memperluas cakupan bagian
tubuh yang bisa membuat talak sah, termasuk tangan, kaki, atau bagian lain
yang menyatu dengan tubuh perempuan.
Jika suami mengatakan "Aku menceraikan sebagian talak," misalnya
setengah atau seperempat talak, maka talak tetap dihitung satu kali
karena talak tidak dapat terbagi.
b) Talak yang Disandarkan pada Diri Suami
• Menurut mazhab Hanafi dan Hanbali, 27 jika seorang suami berkata
kepada istrinya "Aku tertalak darimu," maka pernyataan ini tidak
bermakna apa pun, kecuali jika ia bermaksud mengatakan "Aku berpisah
darimu secara bain" atau "Aku haram bagimu." Dalam kasus tersebut,
talak dapat berlaku berdasarkan niat suami.
• Sementara itu, mazhab Maliki dan Syafi‘i 28 menyatakan bahwa jika
suami mengatakan "Aku tertalak darimu" dengan niat menceraikan
20
Haskafi, Imam Muhammad Ala-ud-Din, Ad-Dur al-Mukhtar, vol. 2 hlm. 642
21
Al-Syarbini, Syamsuddin Muhammad bin Muhammad al-Khatib, Mughni al-Muhtaj, vol. 3 hlm. 297
22
Al-Maqdisiy, Ibnu Qudamah, Al-Mughni, vol. 7 hlm. 233
23
Ad-Dur al-Mukhtar wa Ibnu Abidin, vol. 2 hlm. 598
24
Al-Qowanin al-Fiqhiyyah, hlm. 288
25
Mughni al-Muhtaj, vol. 3 hlm. 280
26
Al-Bahuti, Manshur bin Yunus, Kasyf al-Qina’, vol. 5 hlm. 297
27
Fath al-Qodir 3/70, Al-Mughni 7/133
28
Al-Qowanin al-Fiqhiyyah hlm. 228, Mughni al-Muhtaj 3/292
16
istrinya, maka talak berlaku. Namun, jika tidak ada niat talak, maka tidak
dianggap sah karena lafaz tersebut bersifat tidak jelas (kiasan) dan
membutuhkan niat eksplisit untuk berlaku sebagai talak.
17
1. Dampak Psikologis: Talak dapat menimbulkan dampak emosional bagi kedua
belah pihak dan anak-anak, seperti stres, depresi, atau trauma.
2. Dampak Sosial: Dalam beberapa masyarakat, perceraian dapat memengaruhi
status sosial seseorang, baik secara positif maupun negatif, tergantung pada norma
budaya yang berlaku.
e) Akibat Hukum Tambahan (Jika Melanggar Syariat)
1. Talak dalam Keadaan Tidak Sah: Dalam beberapa mazhab, talak yang
diucapkan dalam kondisi tertentu, seperti saat suami marah secara berlebihan,
terpaksa, atau ketika istri sedang haid, dapat dianggap tidak sah.
2. Talak Tiga Sekaligus: Apabila suami mengucapkan talak tiga sekaligus dalam
satu kesempatan, sebagian ulama berpendapat bahwa hal tersebut sah sebagai talak
ba’in kubra, sementara sebagian ulama lainnya, terutama dari mazhab Hanafi,
memiliki pandangan yang berbeda.
PENUTUP
Dalam Islam, talak adalah salah satu metode yang sah untuk memutuskan ikatan perkawinan,
di mana suami menyatakan keinginannya untuk menceraikan istrinya dengan lafaz yang telah
ditentukan. Ketentuan mengenai talak dijelaskan secara jelas dalam Al-Qur’an, Hadis, dan
hukum fikih, dengan tujuan untuk menjaga keadilan dan mencegah perceraian yang dilakukan
tanpa pertimbangan yang matang.
Talak dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu Talak Raj’i (dapat dirujuk) dimana Suami masih
memiliki hak untuk merujuk istrinya selama masa iddah tanpa akad nikah baru. Talak Ba’in
(tidak dapat dirujuk), Terbagi menjadi ba’in sughra (masih bisa menikah lagi dengan akad baru)
dan ba’in kubra (tidak bisa menikah lagi kecuali istri menikah dengan laki-laki lain terlebih
dahulu dan bercerai secara sah). Talak Sarih dan Kinayah berdasarkan kejelasan lafaz yang
digunakan, sarih (jelas) tidak memerlukan niat, sedangkan kinayah (samar) memerlukan niat
cerai dari suami.
Talak memiliki ketentuan syarat dan rukun yang harus diperhatikan, termasuk adanya suami
istri yang sah, pernyataan talak yang jelas, serta pelaksanaan yang harus dilakukan dalam
kondisi tertentu yang sesuai dengan syariat, seperti tidak dalam keadaan marah yang berlebihan
atau saat istri sedang dalam masa haid.
Islam menekankan bahwa talak adalah perbuatan halal yang paling dibenci Allah, sehingga
harus menjadi jalan terakhir setelah upaya damai dan mediasi tidak berhasil. Tujuan pengaturan
talak dalam Islam adalah untuk menjaga keharmonisan keluarga, melindungi hak-hak kedua
belah pihak, serta menghindari ketidakadilan dalam proses perceraian.
18
Daftar Pustaka
1. Al-Qur’an
2. Al-Bahuti, Manshur bin Yunus, Kasyf al-Qina.
3. Ali, Z. (2009). Hukum Perdata Islam di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.
4. Al-Kasani, a-Din Abi Bakr Bin Mas'ud al-Hanafi, Al-Badai’.
5. Al-Maqdisiy, Ibnu Qudamah, Al-Mughni.
6. Al-Maqdisiy, Ibnu Qudamah, Syarh al-Kabir.
7. Al-Maqdisiy, Mar'i ibn Yusuf ibn Ahmad Al-Karami, Ghoyah al-Muntaha.
8. Al-Syarbini, Syamsuddin Muhammad bin Muhammad al-Khatib, Mughni al-Muhtaj.
9. Al-Syaukani, Muhammad bin Ali bin Muhammad, Fath al-Qodir.
10. Haskafi, Imam Muhammad Ala-ud-Din, Ad-Dur al-Mukhtar, vol. 2 hlm. 642.
11. Huda, N. (2019). Epistemologi Penafsiran Ayat ‘Seribu Dinar’ (at-Talak [65]: 2-3) : Studi
Komparasi Abdurra’uf as-Singkili dan M. Quraish Shihab. Medina-Te : Jurnal Studi Islam.
[Link] medinate. v15i1.3260.
12. Ibn Juzay, Abu al-Qasim Muhammad Ibn Ahmad, Al-Qowanin al-Fiqhiyyah.
13. Muhammad Jawwad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab, Jakarta: Lentera, 2002.
14. Rusyd, Ibnu, Bidayah al-Mujtahid .
15. Sudarsono. (1991). Hukum Perkawinan National. Jakarta: Renika Cipta.
16. Syaikh Kamil Muhammad Uwaid, Fiqih Wanita, Jakarta: Alkautsar, 2010.
17. Zuhaili, Wahbah Abdul Hayyie al-Kattani, Fiqh al-Islam wa Adillatuhu.
19