MAKALAH
“BULLYING”
Disusun oleh :
Reno Putra G
Margareta
Lara
Aditia
Hairulnisa
SMPN 3 TANA TIDUNG
KECAMATAN BETAYAU
KABUPATEN TANA TIDUNG
2024
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................................... 4
A. Latar Belakang ..............................................................................................................................4
B. Rumusan Masalah......................................................................................................................... 4
C. Tujuan Penulisan........................................................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................................... 6
A. Definisi Bullying........................................................................................................................... 6
B. Penyebab Bullying ........................................................................................................................ 7
C. Tanda gejala Bullying ................................................................................................................... 8
D. Dampak Bullying ..........................................................................................................................9
E. Pencegahan Bullying ...................................................................................................................10
F. Penanganan Bullying ...................................................................................................................10
BAB III PENUTUP.............................................................................................................................. 12
A. Kesimpulan ..................................................................................................................................12
B. Saran ...........................................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................................... 13
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya sehingga Makalah tentang “Bullying” ini dapat diselesaikan dengan baik.
Makalah ini kami buat untuk melengkapi tugas individu mata kuliah Keperawatan Jiwa.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini. Dan kami juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan
referensi internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi
bahan makalah. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu dosen pembimbing mata
kuliah Keperawatan Jiwa, yang telah memberikan arahan serta bimbingan-nya selama ini
sehingga penyusunan makalah dapat dibuat dengan sebaik-baiknya.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini sehingga
kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan
makalah ini. Kami mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan
kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik yang maha kuasa yaitu Allah swt, dan
kekurangan pasti milik kita sebagai manusia. Semoga makalah ini dapat bemanfaat bagi kita
semuanya.
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bullying adalah fenomena yang telah lama terjadi di kalangan remaja. Kasus
bullying biasanya menimpa anak sekolah. Pelaku bullying akan mengejek kawannya
sehingga kawannya tersebut jengkel. Atau lebih parah lagi, korban bullying akan
mengalami depresi dan hingga timbul rasa takut untuk bergaul. Bullying harus
dihindari karena bullying mengakibatkan korbannya takut untuk bergaul sehingga
mengakibatkan koraban mengalami isolasi sosial. Selain itu, bullying juga dapat
menjadikan seorang anak turun prestasinya karena merasa tertekan sering di bully
oleh pelaku
Bullying merupakan salah satu tindakan perilaku agresif yang disengaja
dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang secara berulang-ulang dan dari
waktu ke waktu terhadap seorang korban yang tidak dapat mempertahankan dirinya
dengan mudah (Soetjipto, 2012). Kasus bullying kini marak terjadi, tidak hanya di
masyarakat namun kasus ini terjadi di dunia pendidikan yang membuat berbagai
pihak semakin prihatin termasuk komisi perlindungan anak. Berbagai cara dilakukan
untuk meminimalisir kejadian bullying di sekolah termasuk salah satunya komnas
perlindungan anak mendesak ke pihak sekolah untuk lebih melindungi dan
memperhatikan murid-muridnya.
Menurut Komisi Perlindungan Anak (KPAI), Indonesia merupakan negara
dengan kasus bullying di sekolah yang paling banyak pelaporan masyarakat ke komisi
perlindungan anak. KPAI mencatat 369 pelaporan terkait masalah tersebut.25 % dari
jumlah tersebut merupakan pelaporan di bidang pendidikan yaitu sebanyak 1.480
kasus. Kasus yang dilaporkan hanya sebagian kecil dari kasus yang terjadi, tidak
sedikit tindak kekerasan terhadap anak yang tidak dilaporkan (Setyawan, 2015).
B. Rumusan Masalah
1. Apakah Definisi Bullying secara umum ?
2. Apakah Penyebab Bullying di usia anak ?
3. Bagaimana Tanda gejala Bullying ?
4. Apakah Dampak dari Bullying ?
5. Bagaimana Pencegahan Bullying ?
4
6. Bagaimana Penanganan Bullying ?
C. Tujuan Penulisan
1. Memahami Definisi Bullying secara umum
2. Memahami Penyebab Bullying di usia anak
3. Memahami Tanda gejala Bullying
4. Memahami Dampak Bullying
5. Memahami Pencegahan Bullying
6. Memahami Penanganan Bullying
5
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Bullying
Definisi bullying merupakan sebuah kata serapan dari bahasa Inggris. Bullying
berasal dari kata bully yang artinya penggertak, orang yang mengganggu orang yang
lemah. Beberapa istilah dalam bahasa Indonesia yang seringkali dipakai masyarakat
untuk menggambarkan fenomena bullying di antaranya adalah penindasan,
penggencetan, perpeloncoan, pemalakan, pengucilan, atau intimidasi (Susanti, 2006).
Bullying berasal dari kata bully yang berarti menggertak dan mengganggu.
Riauskina, Djuwita, dan Soesetio mendefinisikan school bullying sebagai perilaku
agresif kekuasaan terhadap siswa yang dilakukan berulang-ulang oleh
seorang/kelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa lain yang lebih
lemah dengan tujuan menyakiti orang tersebut.
Terdapat beberapa Jenis – jenis Bullying diataranya :
1. Bullying Secara Verbal
Berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan (baik yang
bersifat pribadi maupun rasial), pernyataan-pernyataan bernuansa ajakan seksual
atau pelecehan seksual, teror, surat-surat yang mengintimidasi, tuduhan-tuduhan
yang tidak benar, kasak-kusuk yang keji dan keliru, gosip dan lain sebagainya.
Dari ketiga jenis bullying, bullying dalam bentuk verbal adalah salah satu jenis
yang paling mudah dilakukan, kerap menjadi awal dari perilaku bullying yang
lainnya serta dapat menjadi langkah pertama menuju pada kekerasan yang lebih
jauh.
2. Bullying Secara Fisik
Yang termasuk jenis ini ialah memukuli, mencekik, menyikut, meninju,
menendang, menggigit, emiting, mencakar, serta meludahi anak yang ditindas
hingga ke posisi yang menyakitkan, merusak serta menghancurkan barang-
barang milik anak yang tertindas. Kendati bullying jenis ini adalah yang paling
tampak dan mudah untuk diidentifikasi, namun kejadian bullying secara fisik
tidak sebanyak bullying dalam bentuk lain. Anak yang secara teratur
melakukan bullying dalam bentuk ini kerap merupakan anak yang paling
bermasalah dan cenderung beralih pada tindakan-tindakan kriminal yang lebih
lanjut.
6
3. Bullying Secara Relasional (pengabaian)
Digunakan untuk mengasingkan atau menolak seorang teman atau bahkan
untuk merusak hubungan persahabatan. Bullying secara relasional adalah
pelemahan harga diri si korban secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan,
pengecualian atau penghindaran. Perilaku ini dapat mencakup sikap-sikap yang
tersembunyi seperti pandangan yang agresif, lirikan mata, helaan nafas, bahu
yang bergidik, cibiran, tawa mengejek dan bahasa tubuh yang
kasar. Bullying secara relasional mencapai puncak kekuatannya di awal masa
remaja, saat terjadi perubahan-perubahan fisik, mental, emosional dan seksual.
Ini adalah saat ketika remaja mencoba untuk mengetahui diri mereka dan
menyesuaikan diri dengan teman-teman sebaya.
4. Bullying Elektronik
Merupakan bentuk dari perilaku bullying yang dilakukan pelakunya melalui
sarana elektronik seperti komputer, handphone, internet, website, chatting room,
e-mail, SMS dan sebagainya. Biasanya ditujukan untuk meneror korban dengan
menggunakan tulisan, animasi, gambar dan rekaman video atau film yang
sifatnya mengintimidasi, menyakiti atau menyudutkan. Bullying jenis ini
biasanya dilakukan oleh kelompok remaja yang telah memiliki pemahaman
cukup baik terhadap sarana teknologi informasi dan media elektronik lainnya.
B. Penyebab Bullying
Banyak sekali faktor penyebab mengapa seseorang berbuat bullying. Pada
umumnya orang melakukann bullying karena merasa tertekan, terancam,terhina,
dendam dan sebagainya. Berikut faktor-faktor yang menyebabkan perilaku bullying
antar pelajar:
1. Faktor Keluarga
Pelaku bullying bisa jadi menerima perlakuan bullying pada dirinya, yang
mungkin dilakukan oleh seseorang di dalam keluarga. Anak-anak yang tumbuh
dalam keluarga yang agresif dan berlaku kasar akan meniru kebiasaan tersebut
dalam kesehariannya. Kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan orangtua kepada
anak akan menjadi contoh perilaku. Hal ini akan diperparah dengan kurangnya
kehangatan kasih sayang dan tiadanya dukungan dan pengarahan membuat anak
memiliki kesempatan untuk menjadi seorang pelaku bullying. Sebuah studi
7
membuktikan bahwa perilaku agresif meningkat pada anak yang menyaksikan
kekerasan yang dilakukan sang ayah terhadap ibunya.
2. Faktor Kepribadian
Salah satu faktor terbesar penyebab anak melakukan
bullying adalah tempramen. Tempramen adalah karakterisktik atau
kebiasaan yang terbentuk dari respon emosional. Hal ini mengarah pada
perkembangan tingkah laku personalitas dan sosial anak. Seseorang yang aktif
dan impulsif lebih mungkin untuk berlaku bullying dibandingkan orang yang
pasif atau pemalu.
Beberapa anak pelaku bullying sebagai jalan untuk mendapatkan
popularitas, perhatian, atau memperoleh barang-barang yang diinginkannya.
Biasanya mereka takut jika tindakan bullying menimpa diri mereka
sehingga mereka mendahului berlaku bullying pada orang lain untuk
membentuk citra sebagai pemberani. Meskipun beberapa pelaku bullying
merasa tidak suka dengan perbuatan mereka, mereka tidak sungguh-sungguh
menyadari akibat perbuatan mereka terhadap orang lain.
3. Faktor Sekolah
Tingkat pengawasan di sekolah menentukan seberapa banyak dan
seringnya terjadi peristiwa bullying. Sebagaimana rendahnya tingkat
pengawasan di rumah, rendahnya pengawasan di sekolah berkaitan erat dengan
berkembangnya perlaku bullying di kalangan siswa. Pentingnya pengawasan
dilakukan terutama di tempat bermain dan lapangan, karena biasanya di
kedua tempat tersebut perilaku bullying kerap dilakukan. Penanganan
yang tepat dari guru atau pengawas terhadap peristiwa bullying adalah hal
yang penting karena perilaku bullying yang tidak ditangani dengan baik
akan meyebabkan kemungkinan perilaku itu terulang.
C. Tanda gejala
Bullying
Menurut Psikolog Ratna Juwita, siswa korban bullying akan mengalami
permasalhan kesulitan dalam membina hubungan interpersonal dengan orang lain
dan jarang datang ke sekolah. Akibatnya, mereka (korban bullying) ketinggalan
pelajaran dan sulit berkonsentrasi dalam belajar sehingga hal tersebut
mempengaruhi kesehatan fisik dan mental baik dalam jangka pendek maupun
jangka panjang.
8
Ada beberpa tanda gejala seorang anak mengalami Bullying, diantaranya :
1) Kesulitan dalam bergaul
2) Merasa takut datang ke sekolah sehingga sering bolos
3) Ketinggalan pelajaran
4) Mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran
5) Kesehatan fisik dan mental (jangka pendek/jangka panjang) akan terpengaruh
6) Takut pergi ke sekolah
7) Sering perg ke UKS atau tempat menyendiri yang membuatnya nyaman
8) Menangis sebelum atau sesudah bersekolah
9) Tidak tertarik pada aktivitas sosial yang melibatkan murid lain
10) Sering mengeluh sakit sebelum pergi ke sekolah
11) Harga diri yang rendah
12) Perubahan drastis pada sikap, cara berpakaian, atau kebiasaannya
13) Lecet luka
D. Dampak Bullying
1. Gangguan Kesehatan
Fisik
Beberapa dampak fisik yang biasanya ditimbulkan bullying adalah
sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada.
Bahkan dalam kasus-kasus yang ekstrim seperti insiden yang terjadi di
IPDN, dampak fisik ini bisa mengakibatkan kematian.
2. Menurunnya Kesejahteraan Psikologis
Dampak lain yang kurang terlihat, namun berefek jangka panjang adalah
menurunnya kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dan
penyesuaian sosial yang buruk. Dari penelitian yang dilakukan Riauskina
dkk., ketika mengalami bullying, korban merasakan banyak emosi negatif
(marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam)
namun tidak berdaya menghadapinya. Dalam jangka panjang emosi-emosi ini
dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak
berharga.
Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial juga muncul pada
para korban. Mereka ingin pindah ke sekolah lain atau keluar dari sekolah itu,
9
dan kalaupun mereka masih berada di sekolah itu, mereka biasanya terganggu
prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah. Yang paling
ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya
gangguan psikologis pada korban bullying, seperti rasa cemas berlebihan,
selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan
stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder).
E. Pencegahan Bullying
Upaya mencegah dan mengatasi bullying di sekolah bisa dimulai dengan:
1. Menciptakan Budaya Sekolah yang Beratmosfer Belajar yang Baik.
Menciptakan budaya sekolah yang beratmosfer belajar tanpa rasa
takut, melalui pendidikan karakter, menciptakan kebijakan pencegahan
bullying di sekolah dengan melibatkan siswa, menciptakan sekolah model
penerapan sistem anti-bullying, serta membangun kesadaran tentang bullying
dan pencegahannya kepada stakeholders sampai ke tingkat rumah tangga dan
tempat tinggal.
2. Menata Lingkungan Sekolah Dengan Baik.
Menata lingkungan sekolah dengan baik, asri dan hijau sehingga anak
didik merasa nyaman juga merupakan faktor yang sangat berpengaruh dan
akan membantu untuk pencegahan bullying.
3. Dukungan Sekolah terhadap Kegiatan Positif Siswa.
Sekolah sebaiknya mendukung kelompok-kelompok kegiatan agar
diikuti oleh seluruh siswa. Selanjutnya sekolah menyediakan akses
pengaduan atau forum dialog antara siswa dan sekolah, atau orang tua dan
sekolah, dan membangun aturan sekolah dan sanksi yang jelas terhadap
tindakan bullying.
F. Penanganan Bullying
Pada umumnya orang melakukan bullying karena merasa tertekan,
terancam, terhina, dendam, dan lain sebagainya. Bullying disebabkan oleh korban
dari keadaan lingkungan yang membentuk kepribadiannya menjadi agresif dan
kurang mampu mengendalikan emosi. Faktor lain yang berpengaruh cukup kuat
terhadap anak untuk berbuat bullying yaitu adanya tayangan televisi yang sering
mempertontonkan kekerasan dalam sinetron atau film atau acara lain seperti
acara sidik, berita utama dan lain sebagainya. Pencegahan agar anak tidak
10
menjadi pelaku bullying orang tua harus mampu mengembangkan kecerdasan
emosional anak sejak dini. Sekolah dan pemerintah juga harus bersikap tegas
dalam menghadapi bullying. Sekolah dapat mengadakan program anti bullying.
Bimbingan konseling juga berperan penting dalam mencegah bullying.
Bimbingan konseling dapat membantu supaya siswa :
a) Memiliki pemahaman diri.
b) Mengembangkan sikap positif.
c) Membuat pilihan kegiatan secara sehat.
d) Mampu menghargai orang lain.
e) Memiliki rasa tanggung jawab.
f) Mengembangkan ketrampilan hubungan antar pribadi.
11
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bullying adalah suatu tindakan negatif yang dilakukan secara berulang-ulang
dimana tindakan tersebut sengaja dilakukan dengan tujuan untuk melukai dan
membuat seseorang merasa tidak nyaman.
Pemahaman moral adalah pemahaman individu yang menekankan pada alasan
mengapa suatu tindakan dilakukan dan bagaimana seseorang berpikir sampai pada
keputusan bahwa sesuatu adalah baik atau buruk. Pemahaman moral bukan tentang
apa yang baik atau buruk, tetapi tentang bagaimana seseorang berpikir sampai pada
keputusan bahwa sesuatu adalah baik atau buruk.
Peserta didik dengan pemahaman moral yang tinggi akan memikirkan dahulu
perbuatan yang akan dilakukan sehingga tidak akan melakukan menyakiti atau
melakukan bullying kepada temannya.
Selain itu, keberhasilan remaja dalam proses pembentukan kepribadian yang
wajar dan pembentukan kematangan diri membuat mereka mampu menghadapi
berbagai tantangan dan dalam kehidupannya saat ini dan juga di masa mendatang.
Untuk itu mereka seyogyanya mendapatkan asuhan dan pendidikan yang menunjang
untuk perkembangannya.
B. Saran
1. Hendaknya pihak sekolah proaktif dengan membuat program pengajaran
keterampilan sosial, problemsolving, manajemen konflik, dan pendidikan karakter.
2. Hendaknya guru memantau perubahan sikap dan tingkah laku siswa di dalam
maupun di luar kelas; dan perlu kerjasama yang harmonis antara guru BK, guru-
guru mata pelajaran, serta staf dan karyawan sekolah.
3. Sebaiknya orang tua menjalin kerjasama dengan pihak sekolah untuk tercapainya
tujuan pendidikan secara maksimal tanpa adanya tindakan bullying antar pelajar di
sekolah.
12
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z.M. (2010). Mengatasi Bullying di Sekolah. Jakarta : EGC
Ehan. (2007). Bullying dalam Pendidikan. Surabaya : Universitas Erlangga
Rahmawati, N. (2013).Makalah Kasus Bullying.
Sahputra, H. (2009). Stop Bullying di Kalangan Pelajar. Jakarta : EGC
13