0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan9 halaman

Perbaikan Tanah Lunak dengan PVD dan Preloading

Dokumen ini membahas penggunaan metode Preloading dan Prefabricated Vertical Drain (PVD) untuk perbaikan tanah lunak dalam proyek Jalan Tol Jambi, Indonesia. Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi PVD dengan kedalaman 4 m dan spasi 1,5 m dapat mengurangi waktu penurunan konsolidasi hingga 90%, sehingga direkomendasikan untuk aplikasi di lapangan. Metode Elemen Hingga digunakan untuk menganalisis efektivitas kombinasi ini dalam mempercepat proses konsolidasi tanah.

Diunggah oleh

Nita Aulia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan9 halaman

Perbaikan Tanah Lunak dengan PVD dan Preloading

Dokumen ini membahas penggunaan metode Preloading dan Prefabricated Vertical Drain (PVD) untuk perbaikan tanah lunak dalam proyek Jalan Tol Jambi, Indonesia. Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi PVD dengan kedalaman 4 m dan spasi 1,5 m dapat mengurangi waktu penurunan konsolidasi hingga 90%, sehingga direkomendasikan untuk aplikasi di lapangan. Metode Elemen Hingga digunakan untuk menganalisis efektivitas kombinasi ini dalam mempercepat proses konsolidasi tanah.

Diunggah oleh

Nita Aulia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol. 10 | No. 01 | Hal.

29-37
ISSN [e]: 2477-2569 | DOI: [Link] Maret 2024

Metode PVD dan Preloading sebagai Upaya


Perbaikan Tanah Lunak di Proyek
Jalan Tol Jambi Indonesia
DESTI SANTI PRATIWI1*, FARIS NAUFAL ABDURRAHMAN2
1
Dosen Program Studi Teknik Sipil, Institut Teknologi Nasional Bandung, Indonesia
2
Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil, Institut Teknologi Nasional Bandung, Indonesia
Email: destisantipratiwi@[Link]

ABSTRAK
Permasalahan tanah lunak sering menjadi fokus utama dalam pembangunan infrastruktur
khususnya jalan tol. Tanah lunak akan mengalami proses konsolidasi yang merupakan proses
terdisipasinya tekanan air pori berlebih akibat adanya beban dengan kurun waktu yang relatif
lama. Hal tersebut dikarenakan tanah lunak memiliki ukuran dan nilai permeabilitas yang relatif
kecil. Oleh karena itu upaya percepatan waktu konsolidasi perlu dilakukann untuk memangkas
waktu konstruksi dan pada akhirnya dapat meminimalisisr biaya konstruksi. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui kombinasi preloading dan PVD sebagai upaya perbaikan tanah lunak
di area pembangunan Jalan Tol Jambi Indonesia dengan menggunakan pendekatan Metode
Elemen Hingga yang berbasis Metode Numerik. Perencanaan PVD yang digunakan yaitu pola
segitiga dengan spasi dan kedalaman yang divariasikan. Berdasarkan hasil analisis, PVD dengan
kedalaman 4 m dan spasi 1,5m dapat mereduksi hingga 90% waktu penurunan yang akan terjadi,
sehingga kombinasi tersebut disarankan dalam pengaplikasiannya di lapangan.
Kata kunci: tanah lunak, konsolidasi, metode elemen hingga, PVD, waktu penurunan

ABSTRACT
Soft soil problems are often the main focus of infrastructure development, especially toll roads.
Soft soil will experience a consolidation process that dissipates excess pore water pressure due
to loads over a relatively long period of time. This is because soft soil has a relatively small size
and permeability value. Therefore, efforts to accelerate consolidation time need to be made to
cut construction time and ultimately minimise construction costs. This research aims to determine
the combination of preloading and PVD as an effort to improve soft soil in the Jambi Indonesia
Toll Road construction area using a finite element method approach based on numerical methods.
The PVD plan used is a triangular pattern with varied spacing and depth. Based on the analysis
results, PVD with a depth of 4 m and a spacing of 1.5 m can reduce up to 90% of the settlement
time, so this combination is recommended for application in the field.
Keywords: soft soil, consolidation, finite element method, PVD, settlement time

RekaRacana – 29
Desti Santi Pratiwi, Faris Naufal Abdurrahman

1. PENDAHULUAN

Tanah lempung lunak merupakan salah satu tanah bermasalah yang selalu menjadi tantangan
bagi para insinyur geoteknik. Permasalahan yang dapat terjadi dari tanah lunak yaitu,
kekuatan rendah, kompresibilitas tinggi, besarnya deformasi creep, dan permeabilitas renah
[1]. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam terkait sifat tanah lunak diperlukan untuk
dapat menentukan upaya perbaikan tanah secara tepat. Terdapat beberapa metode yang
dapat digunakan untuk kasus tanah lunak di antaranya, replacement, preloading, dan
Prefabricated Vertikal Drain (PVD) [1].

Preloading merupakan salah satu metode yang tradisional namun masih sering digunakan
dalam dunia praktisi dikarenakan kemudahan dalam pengaplikasiannya namun sangat
powerful [1]. Prinsip dari preloading ini, yaitu mengurangi angka pori dalam tanah melalui
proses konsolidasi dengan cara memberikan beban di atas permukaan tanah dengan periode
tertentu dan menghilangkannya pada saat pembangunan infrastruktur permanen akan
dilakukannya [1]. Selama pembebanan preloading, penurunan tanah akan terjadi terhadap
waktu dan pada saat pembangunan struktur permanen, penurunan yang terjadi akan relatif
kecil. Namun, sangat penting pada perencanaan untuk menentukan waktu akhir dari
preloading. Pada kasus tanah lunak, proses konsolidasi akan membutuhkan waktu yang lama
dikarenakan nilai permeabilitas yang kecil. Oleh karena itu, apabila waktu yang dibutuhkan
untuk tahap preloading melebihi waktu yang diberikan, maka PVD dapat ditambahkan untuk
mengurangi jarak drainase sehingga mempercepat waktu konsolidasi dan penurunan [1].

Saat ini, penggunaan PVD sudah sangat banyak digunakan pada kasus-kasus tanah lunak.
Tingkat efesiensi penggunaan PVD dapat ditentukan berdasarkan nilai permeabilitas tanah di
sekitarnya, kedalaman, spasi dan pola dari PVD. Beberapa penelitian mengenai kombinasi
preloading dan PVD sudah banyak dilakukan. Analisis pengaruh variasi spasi dan pola PVD
dilakukan untuk mengetahui kombinasi PVD dan preloading yang paling efektif digunakan
dalam upaya perbaikan tanah lunak [2][3][4]. Konfigurasi pola dan kedalaman pada
perencanaan PVD pun menunjukkan adanya pengaruh yang cukup signifikan [5][6]. Selain itu,
kombinasi preloading dengan PVD dapat ditambahkan dengan penggunaan Prefabricated
Horizontal Drain (PHD) [7].

Tujuan dari penelitian ini, yaitu menentukan konfigurasi perbaikan tanah dengan
menggunakan preloading dan PVD pada Proyek Jalan Tol Jambi Indonesia berdasarkan waktu
penurunan konsolidasi. Pemodelan perbaikan tanah akan dilakukan dengan menggunakan
pendekatan Numerik yaitu Metode Elemen Hingga. Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan pengetahuan bagaimana mendesain perbaikan tanah dengan menggunakan
Program PLAXIS 3 dimensi dan meneliti pengaruh kedalaman dan jarak antar PVD terhadap
efektifitas kinerja PVD tersebut.

2. METODOLOGI

2.1 Besar dan Waktu Konsolidasi


Peningkatan tegangan pada tanah lempung jenuh air akibat beban struktur di lapangan akan
mengakibatkan tekanan air pori meningkat [8]. Waktu yang relatif lama dibutuhkan untuk
mengeluarkan tegangan air pori berlebih dan mentransfer beban kepada partikel tanah
dikarenakan sifat hidraulik tanah lempung yang kecil. Besar penurunan konsolidasi primer 1-
dimensi dapat ditentukan dengan Persamaan 1 di bawah ini [8].
∆𝑒
𝑆𝑐 = 𝐻𝑐 ...(1)
1+𝑒0

RekaRacana – 30
Metode PVD dan Preloading sebagai Upaya Perbaikan Tanah Lunak di Proyek Jalan Tol Jambi
Indonesia

halmana:
𝑆𝑐 = penurunan konsolidasi primer [m],
∆𝑒 = total perubahan angka pori akibat pemberian beban tambahan,
𝑒0 = angka pori sebelum pemberian beban,
𝐻𝑐 = tebal lapisan lempung yang mengalami konsolidasi [m].

Sedangkan, tingkat terdisipasinya air pori perlu diketahui untuk menentukan derajat
konsolidasi (𝑈) terhadap waktu setelah beban diberikan. Rata-rata derajat konsolidasi pada
tanah lempung dapat diperoleh melalui Persamaan 2 dan Persamaan 3 menunjukkan
persamaan untuk menentukan waktu penurunan konsolidasi [2].
𝑆𝑐(𝑡)
𝑈= ...(2)
𝑆𝑐(𝑚𝑎𝑥)

halmana:
𝑆𝑐(𝑡) = penurunan pada lapisan lempung pada waktu 𝑡 setelah diberikan beban [m],
𝑆𝑐(𝑚𝑎𝑥) = penurunan konsolidasi maksimum pada lempung setelah diberikan beban [m].

𝑇𝑣 𝐻 2
𝑡= ...(3)
𝐶𝑣

halmana:
𝑡 = waktu penurunan konsolidasi [detik],
𝐻 = panjang maksimum arah drainase [m],
𝑇𝑣 = waktu faktor nondimensional,
𝐶𝑣 = koefesien konsolidasi.

2.2 Material Model Hardening Soil


Upaya penentuan konstitutif model pada desain bangunan geoteknik merupakan hal yang
sangat penting. Terlebih lagi, banyaknya konstitutif model yang tersedia membuat para
perencana geoteknik dapat memilih material model sesuai dengan kasus yang dihadapi. Pada
kasus tanah lunak, material model tanah yang dapat digunakan, yaitu Mohr-Coulomb,
Hardening Soil, Soft-Soil, dan Hardening Soil Small. Namun, dari semua konstitutif model yang
disebutkan memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Mohr Coulomb merupakan
model material yang paling sederhana dan banyak digunakan dalam kasus timbunan pada
tanah lunak [5][9][10]. Akan tetapi, pada penelitian ini akan menggunakan konstitutif model
Hardening Soil.
Hardening soil adalah model mutakhir untuk melakukan simulasi sifat dari berbagai jenis tanah
baik itu tanah lunak maupun kaku [11]. Ketika diberikan beban deviatorik primer, tanah
menunjukkaan sebuah penurunan kekakuan dan secara bersamaan membetuk regangan
plastis yang permanen. Terdapat beberapa karakteristik dasar pada model ini, yaitu [12]:

1. Kekakuan yang bergantung pada tegangan (𝑚),


𝑟𝑒𝑓
2. Regangan plastis karena beban deviatorik primer (𝐸50 ),
𝑟𝑒𝑓
3. Regangan plastis karena kompresi primer (𝐸𝑜𝑒𝑑 ),
𝑟𝑒𝑓
4. Elastic unloading/reloading (𝐸𝑢𝑟 ),
5. Keruntuhan menurut kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb (𝑐, 𝜙, 𝜓).

Pemikiran dasar untuk formulasi model hardening soil adalah hubungan hyperbolic antara
regangan vertikal (𝜀1 dan tegangan deviatorik (𝑞) pada beban triaxial primer. Hubungan
hyperbolic regangan-tegangan pada beban primer untuk sebuah pengujian triaksial teraliri
RekaRacana – 31
Desti Santi Pratiwi, Faris Naufal Abdurrahman

standar ditunjukkan pada Gambar 1 di bawah ini. Gambar tersebut menunjukkan adanya
hubungan dari 3 (tiga) kekuan, yakni 𝐸𝑖 , 𝐸50 dan 𝐸𝑢𝑟 .

Gambar 1. Hubungan hyperbolic tegangan-regangan dari uji triaksial teraliri standar [12]

2.3 Parameter Tanah


Hasil penyelidikan tanah di lapangan berupa uji SPT dan bor dalam digunakan sebagai acuan
dalam menentukan parameter tanah pada pemodelan. Parameter penting seperti kuat geser
tanah, berat isi, permeabilitas didapatkan berdasarkan korelasi dari data N-SPT [13][14],
sedangkan untuk jenis tanah ditentukan berdasarkan hasil bor dalam. Pada penelitian ini,
jumlah lapisan tanah dibuat sebanyak 6 (enam) lapis berdasarkan hasil klasifikasi deskripsi
tanah dan N-SPT. Parameter tanah yang digunakan pada penelitian ini ditunjukkan pada Tabel
1 di bawah ini.

Tabel 1. Parameter yang Digunakan pada Pemodelan


Parameter Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3 Lapisan 4 Lapisan 5 Timbunan Satuan
Kedalaman 0-4 4-18 18-30,5 30,5-36 36-40 - -
N-SPT 5 11 20 38 60 - -
Jenis tanah Lempung Lempung Pasir Lempung Pasir Pasir -
Klasifikasi Lunak Kaku Padat sedang Sangat kaku Sangat padat Padat -
𝛾𝑢𝑛𝑠𝑎𝑡 16 16,5 16,5 20 23 16 [kN/m3]
𝛾𝑠𝑎𝑡 17 17,5 17,5 21 24 17 [kN/m3]
𝐸50 𝑟𝑒𝑓 3.200 9.600 12.000 20.000 40000 16.000 [kN/m2]
𝐸𝑜𝑒𝑑 𝑟𝑒𝑓 2.560 7.680 9.600 16.000 32000 12.800 [kN/m2]
𝐸𝑢𝑟 𝑟𝑒𝑓 9.600 28.800 36.000 60.000 120000 48.000 [kN/m2]
𝑚 1 1 0,5 1 0,5 0,5 -
𝑐′ 5 5 2 3 1 5 [kN/m2]
𝜙′ 23 25 26 25 32 25 ̊
𝜓 0 0 0 0 2 0 ̊
𝑘𝑥 , 𝑘𝑦 0,000864 0,000864 0,0864 0,000864 8,64 8,64 [m/hari]

2.4 Metode Elemen Hingga / Finite Element Method (FEM)


Metode Elemen Hingga merupakan salah satu dari Metode Numerik berbasis metode mesh.
Metode ini dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah teknik sipil sederhana maupun
kompleks secara akurat. Pada saat ini, FEM dgunakan lebih dari 100000 enjiner untuk
menyelesaikan masalah teknik sipil [15][16]. Analisis menggunakan FEM menawarkan sebuah
solusi pendekatan untuk model matematika.

Metode berbasis mesh membagi domain analisis menjadi sebuah Kumpulan dari subdomain
yang disebut elemen, sehingga membentung sebuah jaring [17]. Setiap elemen memiliki
beberapa node dimana persamaan pengatur dikembangkan, dengan sejumlah elemen

RekaRacana – 32
Metode PVD dan Preloading sebagai Upaya Perbaikan Tanah Lunak di Proyek Jalan Tol Jambi
Indonesia
terdekat yang telah ditentukan sebelumnya, yang dihubungkan dengan fungsi bentuk [15].
Terdapat 7 (tujuh) tahapan dalam penggunaan FEM ini [15], yaitu:

1. Menentukan persamaan dan kondisi batas,


2. Diskretisasi domain,
3. Menentukan persamaan elemen,
4. Mengumpulkan persamaan global,
5. Pengenaan kondisi batas dari pemodelan,
6. Menyelesaikan persamaan global,
7. Mempresentasikan hasil.

Namun, kesalahan perhitungan pada analisis numerik dapat mempengaruhi keakuratan hasil.
Terdapat 5 (lima) jenis kesalahan umum yang dapat terjadi pada analisis numerik, di antaranya
[15]:

1. Kesalahan dalam menentukan parameter tanah,


2. Kesalahan aljabar dalam perhitungan,
3. Kesalahan iterasi,
4. Kesalahan pendekatan,
5. Kesalahan pembulatan.

Walaupun kemungkinan kesalahan dapat terjadi, penggunaan FEM sangat membantu dalam
menyelesaikan permasalahan kompleks salah satunya kasus tanah lunak. Beberapa peneliti
telah menggunakan FEM sebagai pendekatan untuk menganalisis kinerja preloading dan PVD
dalam upaya perbaikan tanah lunak, baik dalam model 2 dimensi maupun 3 dimensi [3][5]
[18].

2.5 Pemodelan Studi Kasus


Pemodelan perbaikan tanah di Jalan Tol ruas Betung – Tempino – Jambi seksi 4 Indonesia
dilakukan dengan menggunakan Program PLAXIS 3 dimensi yang berbasis Metode Elemen
Hingga. Tujuan pemodelan ini, yaitu untuk mengetahui besaran dan waktu penurunan.
Parameter desain yang digunakan diambil berdasarkan hasil penyelidikan tanah di lapangan.
Hasil pengujian SPT menunjukkan bahwa kedalaman lapisan lempung lunak berada hingga
kedalaman 4 (empat) meter. Beban preloading yang diberikan direncanakan setinggi 11,56 m
dengan pengerjaan secara bertahap. Selain itu, demi mencapai kondisi kritis, muka air
ditempatkan di permukaan tanah eksisting pada pemodelan. Stratigrafi dan parameter tanah
yang digunakan sesuai dengan Tabel 1.

Pada penelitian ini, kedalaman PVD direncanakan untuk dipasang secara keseluruhan dan
floating. Pemasangan PVD secara keseluruhan memiliki arti bahwa kedalaman PVD akan
dimodelkan sedalam lapisan tanah lunak yakni 4 (empat) meter, sedangkan floating hanya
dimodelkan sedalam 2 (dua) meter. Namun, untuk mengetahui efektivitas kedalaman PVD,
terdapat pemodelan yang mengkombinasi kedalaman 2 (dua) dan 4 (empat) meter. Selain
memvariasikan kedalaman, pada penelitian ini juga akan menggunakan beberapa jarak spasi
antar PVD, yakni 1,5; 2; 2,5 meter. Sedangkan untuk pola yang digunakan hanya 1 variasi,
yaitu pola segitiga. Rekapitulasi variasi pemodelan dapat dilihat pada Tabel 2. Adapun
tahapan konstruksi yang digunakan pada penelitian ini (Gambar 2), yaitu:

1. Kondisi awal,
2. Pemasangan PVD,
3. Pemberian beban preloading,
4. Konsolidasi 90% degree of consolidation dan minimum excess pore pressure (MEPP).

RekaRacana – 33
Desti Santi Pratiwi, Faris Naufal Abdurrahman

Tabel 2. Variasi Pemodelan


Model Spasi [m] Kedalaman [m]
1 4
2 1,5 2
3 Kombinasi 4 dan 2
4 4
5 2 2
6 Kombinasi 4 dan 2
7 4
8 2,5 2
9 Kombinasi 4 dan 2

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 2. Tahapan konstruksi pemodelan (a) kondisi awal, (b) PVD diaktifkan, (c)
preloading diaktifkan, (d) konsolidasi MEEP

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis konfigurasi preloading dan PVD dilakukan untuk merencanakan desain perbaikan
tanah lunak di area Proyek Jalan Tol Jambi seksi 4 Indonesia. Pemodelan menggunakan
PLAXIS menghasilkan beberapa luaran yang sangat bermanfaat bagi alternatif desain
perbaikan tanah, yaitu waktu penurunan, besar penurunan dan tekanan air pori berlebih. Besar
dan waktu pernurunan ditinjau hingga tanah terkonsolidasi 90%.

Tahap awal analisis yaitu pemodelan perbaikan tanah dengan hanya memberikan beban
preloading yang selanjutnya akan diketahui berapa waktu yang dibutuhkan untuk mendisipasi

RekaRacana – 34
Metode PVD dan Preloading sebagai Upaya Perbaikan Tanah Lunak di Proyek Jalan Tol Jambi
Indonesia
air pori berlebih hingga 90%. Selanjutnya, waktu tersebut akan dibandingkan dengan
perbaikan tanah lunak yang dikombinasi PVD. Hasil dari perbandingan ini diharapkan dapat
memberikan ketepatan dalam upaya perbaikan tanah lempung lunak. Berdasarkan hasil
analisis, apabila tanah lunak hanya diperbaiki dengan beban preloading 11,56m, waktu
penurunan menunjukkan angka yang cukup lama yakni di 3215 hari atau setara dengan kurang
lebih 8 (delapan) tahun dengan penurunan sebesar 1,078 meter. Hal tersebut tentunya sulit
untuk diaplikasikan di lapangan karena waktu tunggu yang lama pada proses konsolidasi. Oleh
karena itu, penambahan PVD dijadikan alternatif untuk mereduksi waktu penurunan, dimana
spasi dan kedalaman PVD divariasikan.

Gambar 3 menunjukkan grafik hubungan antara waktu dan besar penurunan untuk 9
(Sembilan) model dengan PVD dan tanpa PVD. Hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh
signifikan terhadap waktu penurunan, yakni dapat mereduksi hingga 80% waktu konsolidasi.
Waktu penurunan pada setiap model PVD dapat dilihat pada Tabel 3. Pada tabel menunjukkan
bahwa spasi dan kedalaman dapat mempengaruhi waktu penurunan. Model 1 dimana spasi
PVD sebesar 1,5m dan kedalaman PVD sedalam 4m menunjukkan waktu tersingkat yakni 280
hari untuk proses konsolidasi hingga 90%. Selain itu, Tabel 4 menunjukkan besar penurunan
untuk 9 (Sembilan) model dengan PVD. Berdasarkan hasil analisis berupa besar penurunan
pun menujukkan bahwa Model 1 memliki besar penurunan terkecil dibandingkan dengan
model lainnya. Namun, perbedaan besar penurunan untuk seluruh model dapat dikatakan
tidak begitu signifikan, mengingat fungsi utama PVD yaitu mempercepat waktu konsolidasi
buka mereduksi besar penurunan.

Tabel 3. Rekapitulasi Waktu Penurunan


Nomor Model Spasi PVD [m] Kedalaman PVD [m] Waktu penurunan [hari]
Tanpa PVD - - 3.214
1 4 280
2 1,5 2 320
3 Kombinasi 4 dan 2 318
4 4 314
5 2 2 319
6 Kombinasi 4 dan 2 305
7 4 301
8 2,5 2 327
9 Kombinasi 4 dan 2 317

Tabel 4. Rekapitulasi Besar Penurunan


Nomor Model Spasi PVD [m] Kedalaman PVD [m] Besar penurunan [m]
1 4 0,812
2 1,5 2 0,830
3 Kombinasi 4 dan 2 0,821
4 4 0,837
5 2 2 0,838
6 Kombinasi 4 dan 2 0,832
7 4 0,823
8 2,5 2 0,835
9 Kombinasi 4 dan 2 0,830

Selain besar dan waktu penurunan yang terjadi untuk mencapai kondisi MEPP, penelitian ini
juga meninjau berapa tekanan air pori berlebih maksimum pada tahap konsolidasi MEPP.
Rekapitulasi tekanan air pori berlebih maksimum ditunjukkan pada Tabel 5 di bawah ini. Dapat
dilihat bahwa tekanan air pori terbesar dihasilkan oleh Model 7, dimana memiliki konfigurasi
spasi sebesar 2,5m dan kedalaman 4m.

RekaRacana – 35
Desti Santi Pratiwi, Faris Naufal Abdurrahman

Gambar 3. Grafik hubungan waktu dan besar penurunan untuk seluruh pemodelan

Tabel 5. Rekapitulasi Sisa Tekanan Air Pori Berlebih


Nomor Model Spasi PVD [m] Kedalaman PVD [m] Tekanan Air Pori
Berlebih [kPa]
1 4 16,056
2 1,5 2 17,358
3 Kombinasi 4 dan 2 8,063
4 4 24,699
5 2 2 20,042
6 Kombinasi 4 dan 2 24,898
7 4 33,854
8 2,5 2 20,958
9 Kombinasi 4 dan 2 18,790

4. KESIMPULAN

Pemodelan perbaikan tanah preloading dan Prefabricated Vertical Drain (PVD) menggunakan
Metode Numerik, khususnya Metode Elemen Hingga, dapat memberikan pendekatan yang
powerful. Beberapa fitur yang tersedia dapat merepresentasikan kondisi aktual di lapangan,
khususnya dalam menentukan tahapan konstruksi. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan
bahwa apabila perbaikan tanah lempung lunak di Tol Jambi seksi 4 hanya menggunakan
preloading tidak menunjukkan hasil yang efektif dikarenakan waktu tunggu proses konsolidasi
yang sangat lama. Oleh karena itu, perlu adanya kombinasi perbaikan tanah dengan PVD
untuk mereduksi waktu konsolidasi.

Selanjutnya, pemilihan konfigurasi PVD perlu ditentukan untuk mengetahui efektivitas kinerja
dari PVD. Berdasarkan hasil analisis, PVD yang paling optimum diperoleh dari konfigurasi
kedalaman 4m (full penetration) dengan spasi 1,5m. Konfigurasi tersebut efektif serta efisien
dalam mereduksi waktu penurunan dengan membutuhkan waktu selama 280 hari dengan
besar penurunan sebesar 0,812 m, persentase reduksi waktu penurunan sebesar 91,29 %.
Dalam hal tekanan air pori, model perbaikan tanah dengan konfigurasi preloading dan PVD
dengan spasi 1,5 m serta kedalaman 4m memiliki nilai tekanan air pori berlebih 16,056 KPa.

RekaRacana – 36
Metode PVD dan Preloading sebagai Upaya Perbaikan Tanah Lunak di Proyek Jalan Tol Jambi
Indonesia
DAFTAR PUSTAKA

[1] Han, J. (2015). Principles and Practices of Ground Improvement. Hoboken: Canada: John
Wiley & Sons, Inc.
[2] Li, B., & Wang, X. (2018). Analysis of influence of different pressure and different depth
of pvd on soft foundation treatment. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science
(p. 012032). IOP.
[3] Chen, J., Shen, S.-L., Yin, Z.-Y., Xu, Y.-S., & Horpibulsuk, S. (2015). Evaluation of Effective
Depth of PVD Improvement in Soft Clay Deposit: A Field Casse Study. Marine
Georesources & Geotechnology, 1-11.
[4] Chai, J., & Rondonuwu, S. G. (2015). Surcharge loading rate for minimizing lateral
displacement of PVD improved deposit with vacuum pressure. Elsevier: Geotextiles and
Geomembranes, 43(6), 558-566.
[5] Rezania, M., Bagheri, M., Nezhad, M. M., & Sivasithamparam, N. (2017). Creep analysis of
an earth embankment on soft soil deposit with and without PVD improvement. Elsevier:
Geotextiles and Geomembranes, 45(5), 537-547.
[6] El Kamash, W., Hafez, K., Zakaria, M., & Moubarak, A. (2021). Improvement of Soft Organic
Clay Soil Using Vertical Drains. KSCE Journal of Civil Engineering, 25, 429-441.
[7] Sagala, A. I. (2021). Analysis of Soil Subcription on Soil Lack Combination of PVD and PHD
Analytical and Numerical Methods using 3D PLAXIS in STA 103+550 Construction of
High Click Toll Road Range, Stage 1. International Journal of Social Service and
Research, 2(1), 75-82.
[8] Das, B. M. (2014). Principles of Foundation Engineering Eight Edition. Boston: Cengage
Learning.
[9] Roesyanto, Iskandar, R., Silalahi, S. A., & Fadliansyah. (2018). Soil settlement analysis in
soft soil by using preloading system and prefabricated vertical draining runway of
Kualanamu Airport. IOP Cof. Series: Materials Science and Engineering 309 (p.
012024). IOP.
[10] Ibrahim, M. A., & Yusof, M. F. (2023). Performance of Soft Soil Improved Prefabricated
Vertical Drain (PVD) for Road Construction in Pontian, Johor. Civil Engineering and Built
Environment, 4(1), 040-050.
[11] Schanz, T. (1998). Zur Modellierung des Mechanischen Verhaltens von
Reibungsmaterialen. Jerman: Habilitation, Stuttgart Universität.
[12] Bentley. (2020). Material Models Manual. Bentley.
[13] Look, B. (2017). Handbook of Geotechnical Investigation and Design Tables. London:
Taylor & Francis Group.
[14] Ameratunga, J., Sivakugan, N., & Das, B. M. (2016). Correlations of Soil and Rock
Properties in Geotechnical Engineering. New York: Springer.
[15] Erhunmwun, I. D., & Ikponmwosa, U. B. (2017). Review on Finite Element Method. J.
Appl. Sci. Environ. Manage, 21(5), 999-1002.
[16] Zienkiewicz, O. C., Taylor, R. I., & Zhu, J. Z. (2005). The Finite Element Method: Its Basis
and Fundamental. Barcelona: Elsevier.
[17] Di Carluccio, G. (2021). Doctor of Philosophy Thesis: Dynamic Large Deformation
Modelling of Soils Including Static Liquefaction. Barcelona: Universitat Politecnica De
Catalunya.
[18] Akan, R., & Seri, S. (2021). Investigation of the Consolidation Behavior of Soft Soil
Improved with Vertical Drains by Finite Element Method. International Journal of
Engineering & Applied Sciences (IJEAS), 13(3), 93-105.

RekaRacana – 37

Anda mungkin juga menyukai