ANALISA KADAR ABU DALAM ROTI BERMEREK SARI
ROTI DAN ROTI KELAPA YANG DI PERJUAL BELIKAN
DI TOKO MAJESTIK JALAN SEI SIKAMBING
KELURAHAN HELVETIA TIMUR
KECAMATAN MEDAN
HELVETIA MEDAN
PROPOSAL
Oleh
FADILLA Z. NENGA
170209103
PROGRAM STUDI DIII – ANALIS KESEHATAN
FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
MEDAN
HALAMAN PENGESAHAN
ANALISA KADAR ABU DALAM ROTI BERMEREK SARI
ROTI DAN ROTI KELAPA YANG DI PERJUAL BELIKAN
DI TOKO MAJESTIK JALAN SEI SIKAMBING
KELURAHAN HELVETIA TIMUR
KECAMATAN MEDAN
HELVETIA MEDAN
PROPOSAL
Diterima dan disetujui untuk diseminarkan dihadapan tim penguji
Tanggal, Juli 2020
Menyetujui Mengetahui
Dosen Pembimbing Ketua Program Pendidikan
Ahli Tehnologi Laboratorium Medik
(Jabangun Lumbanbatu [Link], [Link]) (Yunita Purba, [Link])
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang
telah melimpahkan segala karunia, hidayah, kemauan, dan keberkahan-Nya
terutama memberikan kesehatan dan kekuatan kepada saya sehingga saya diberi
kesempatan dapat menyelesaikan proposal dengan judul “Analisa Kadar Abu
Dalam Roti Bermerek Sari Roti Dan Roti Kelapa Yang Di Perjual Belikan Di
Toko Majestik Jalan Sei Sikambing Kelurahan Helvetia Timur Kecamatan
Medan Helvetia Medan”.
Pada kesempatan ini, penulis banyak mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya :
1. Bapak Parlindungan Purba, SH, MM, Selaku ketua Yayasan Sari Mutiara
Medan
2. Ibu Dr. Dra. Ivan Elisabeth Purba, [Link], selaku Rektor Universitas Sari
Mutiara Indonesia.
3. Ibu Yunita Purba, [Link] selaku Ketua Program study Analis Kesehatan
Universitas Sari Mutiara Indonesia.
4. Bapak Jabangun Lumbanbatu [Link], [Link], selaku pembimbing yang telah
meluangkan waktu dan tenaga serta pikiran untuk membantu penyeleain
proposal ini.
5. Seluruh Staf Pegawai Pendidikan Universitas Sari Mutiara Indonesia Medan
Yang Memberikan Ilmu dan Fasilitas dalam Perkuliahan.
6. Terima kasih penulis ucapkan Kepada Bapak, Ibu Dosen pengajar Program
Studi D-III Analis Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia.
7. Teristimewa kepada Orang Tua Saya, Alm. Zaitun Nenga dan ibunda Fatma
Bjasa yang senantiasa memberikan dorongan baik mineral maupun material
untuk dapat menyelesaikan proposal ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini jauh dari sempurna, oleh
karenanya penulis dengan lapang dada berkenan menerima kritik dan saran demi
kesempurnaan proposal ini. Kepada semua pihak, penulis senantiasa mendoakan
semoga segala bantuan yang telah diberikan kepada penuis mendapatkan balasan
yang tak terhingga dari Allah swt, Amin.
Medan, Juli 2020
Penulis
.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................i
HALAMAN PERSETUJUAN................................................................................ii
LEMBAR KONSULTASI.......................................................................................iii
KATA PENGANTAR..............................................................................................iv
DAFTAR ISI.............................................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................4
1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................................4
1.4 Manfaat Penilitian..................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Roti......................................................................................6
2.2 Pengertian Sari Roti ...............................................................................7
2.3 Pengertian Roti Kelapa............................................................................7
2.4 Proses Pembuatan Roti............................................................................8
2.5 Bahan-bahan Dalam Pembuatan Roti ....................................................13
2.6 Pengertian Abu........................................................................................15
2.7 Pengertian mineral...................................................................................18
2.8 Makro Mineral.........................................................................................19
2.9 Mikro Mineral.........................................................................................23
2.10 Mineral Yang Berbahaya Bagi Kesehatan.............................................27
2.11 Mineral Yang di Butukan Bagi Kesehatan.............................................28
2.12 Metode Ananlisa Grafimetris.................................................................31
2.13 Kerangka Pemikiran...............................................................................34
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Metode Penelitian....................................................................35
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian.................................................................35
3.3 Populasi dan Sampel...............................................................................35
3.4 Prinsip Kerja............................................................................................35
3.5 Alat-Alat Dan Bahan...............................................................................36
3.6 Prosedur Kerja.........................................................................................36
DAFTAR PUSTAKA
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada awalnya roti merupakan makanan utama masyarakat di negara Eropa
dan Amerika yang memanfaatkan gandum sebagai bahan baku utamanya. akan
tetapi saat ini roti telah menjadi salah satu makanan yang banyak dikomsumsi
oleh masyarakat didunia termaksud Indonesia. Bahkan di kalangan remaja dan
anak-anak, posisi makanan itu mulai menggeser nasi sebagai sumber karbohidrat
utama. Secara umum roti biasanya dibedakan menjadi roti tawar dan roti manis
atau roti isi (Iryanti Y. 2012).
Perubahan gaya hidup masyarakat ini memberikan dampak pada
perubahan pola komsumsi makanan. Seiring dengan perkembangan jaman, maka
pola komsumsi makanan yang diminati saat ini adalah makanan siap saji atau
(ready to eat). Hal tersebut menyebabkan semakin meningkatnya minat
masyarakat mengkomsumsi makanan yang mudah penyajiannya dan dapat
langsung dikomsumsi.
Roti merupakan produk makanan yang berbahan dasar tepung terigu.
Produk ini dalam proses pengolahannya mengalami fermentasi menggunakan ragi
atau bahan pengembang lainnya yang bertujuan untuk memperoleh tekstur yang
lembut dan empuk, selanjutnya dipanggang (Eddy dan Lilik, 2004).
Pembuatan roti dapat di bagi menjadi dua bagian yaitu proses pembuatan
adonan, dan proses pembakaran. Kedua proses utama ini akan menentukan mutu
2
hasil akhir, pembuatan adonan meliputi proses pengadukan bahan dan
pengembangan adonan (dough development) sampai proses fermentasinya
(Arifin, 2011).
Roti salah satu makanan siap saji yang banyak digemari adalah produk roti
yang bermerek seperti sari roti dan roti kelapa. Adapun bahan-bahan sari roti dan
roti kelapa terdiri dari : gula halus, telur, mentega, vanilli, kelapa, bahan
pelembuat (SP), baking powder.
Dalam proses pembuatan roti, dikenal beberapa metode proses
pembuatannya. Mulai dari proses yang hanya memerlukan satu kali pencampuran
seperti metode langsung (Straight dough mixing) dan sistem biang (sponge and
dough mixing). hingga proses pembuatan roti yang memerlukan dua kali proses
pencampuran seperti sistim cepat (no time dough).
Adapun dalam proses pembuatan harus melalui proses sebagai berikut :
seleksi bahan-bahan, penimbangan bahan-bahan, proses pengadukan (mixing),
kontrol temperatur selama proses pengadukan atau mixing, fermentasi (peragian),
fermentasi akhir, (final proofing), proses pembakaran/pemanggangan.
Untuk membangun sebuah pabrik roti industri yang masuk kategori semi
industri dalam pembuatan roti selalu menggunakan alat-alat moderen penetapan
mutu dengan spesifikasi numerik angka hasil analisa kimia atau uji fisik bahan
terkadang belum begitu di perhatikan dan mungkin cenderung belum di pahami
secara semestinya, berbeda dengan roti kelas kecil (usaha rumah tangga) ada 4
poin penting yang mesti anda pikirkan, yaitu penentuan jenis roti yang akan di
3
produksi, pembuatan tempat produksi yang memenuhi standard kesehatan,
peralatan produksi higenis, dan jangkauan atau target pemasaran.
Dalam penelitian Herman, (Analisis Kadar Mineral Dalam Abu Buah Nipa
(NYPA FRUCTICANS) Kaliwanggu Teluk Kendari Sulawesi Tenggara) Program
Studi Pendidikan Kimia, FKIP, Universitas Haluoleo, Kendari, Sultra. Sedangkan
Natalia Nungki Setyaningsi, (Analisis Kimia Kadar Abudan Gluten Pada Tepung
Cakra Kembar, Segitiga Hijau, dan Segitiga Biru Sebagai Bahan Baku Utama
Pembuatan Mi Instan Di PT Indofood CBP Sukses Makmur TBK. Devisi Noodle
Cabang Semarang). Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Teknologi
Pertanian Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.
Abu atau mineral yang terdapat pada makanan roti dapat terjadi akibat dari
proses produksi dan alat serta bahan-bahan yang dipergunakan misalnya
penambahan air atau peralatan cenderung mengalami korosi.
Abu merupakan residu dari suatu bahan pangan yang berupa bagian
anorganik yang tersisa setelah bahan organik dalam makanan di destruksi atau di
artikan bahwa abu adalah zat anorganik dari sisa hasil pembakaran suatu bahan
organik. Kadar abu ditentukan berdasarkan kehilangan berat setelah pembakaran
dengan syarat titik akhir pembakaran di hentikan sebelum terjadi dekomposisi dari
abu tersebut (Sudarmadji,2003). Kadar abu yang diukur bermanfaaat untuk
mengatahui besarnya kandungan mineral yang terdapat pada sampel bahan.
Pengabuan merupakan suatu proses pemanasan atau pembakaran bahan
dengan suhu sangat tinggi selama beberapa waktu sehingga bahan akan habis
terbakar dan hanya tersisa zat anorganik berwarna putih keabu-abuan yang di
4
sebut abu. Kandungan abu dan komposisinya pada suatu bahan pangan tergantung
pada jenis bahan dan cara pengabuan yang di lakukan. Terdapat 2 macam
pengabuan yaitu cara langsung (kering) dan cara basah (tidak langsung).
Penentuan kadar abu ada hubungannya dengan mineral suatu bahan.
Proses ini untuk menentukan jumlah mineral sisa pembakaran disebut pengabuan.
Kandungan dan komposisi abu atau mineral pada bahan tergantung dari jenis
bahan dan cara pengabuannya. Abu merupakan zat anorganik sisa hasil
pembakaran suatu bahan organik. Kandungan abu dan komposisinya bergantung
pada macam bahan dan cara pengabuan yang digunakan. Kandungan abu dari
suatu bahan menunjukan kadar mineral dalam bahan tersebut.
Pengabuan dilakukan untuk menentukan jumlah mineral yang terkandung
dalam bahan. Penentuan kadar mineral bahan secara asli sangatlah sulit sehingga
perlu dilakukan dengan menentukan sisa hasil pembakaran atas garam mineral
bahan tersebut. Pengabuan dapat menyebabkan hilangnya bahan-bahan organik
dan anorganik sehingga terjadi perubahan radikal organik dan terbentuk elemen
logam dalam bentuk oksida atau bersenyawa dengan ion-ion negatif
(Anonim,2008:10).
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas maka penulis sangat berminat dalam
meneliti kadar abu dalam makanan roti terkhusus pada roti sari roti dan roti kelapa
sehingga judul penelitian ini Analisa Kadar Abu Dalam Roti Bermerek Sari Roti
Dan Roti Kelapa Yang Di Perjual Belikan Di Toko Majestik Jalan Sei Sikambing
Kelurahan Helvetia Timur Kecamatan Medan Helvitia Medan.
1.2 Rumusan Masalah
5
Apakah kadar abu dalam roti bermerek sari roti dan roti kelapa memenuhi
syarat sesuai dengan kadar abu dalam makanan pada peraturan permenkes/SNI
01-3840-1995.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Untuk mengetahui kandungan kadar abu dalam roti bermerek sari
roti.
1.3.2 Untuk mengetahui kandungan kadar abu dalam roti bermerek roti
kelapa.
1.3.3 Untuk mengetahui apakah ada perbedaan kandungan kadar abu
dalam roti bermerek sari roti dan roti kelapa dan sesuai dengan
peraturan SNI 01-3840-1995.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi penulis
1. Untuk menambah pengatahuan tentang pentingnya kadar abu
dalam makanan.
2. Untuk menambah pengetahuan bagi penulis apakah hubungan
kadar abu dengan proses produksi bahan makanan.
1.5 Bagi institusi
Penentuan kadar abu dalam makanan roti sari roti dan roti kelapa dapat
menjadi bahan referensi peneliti selanjutnya
1.6 Bagi Masyarakat
Untuk menambah pengetahuan masyarakat luas bahwa makanan yang baik
harus melalui pembuatan yang baik sehingga makanan tersebut memenuhi
persyaratan permenkes/SNI 01-3840-1995.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Roti
Roti adalah makanan yang terbuat dari tepung terigu, air, dan ragi yang
pembuatanya melalui tahap penggulenan fermentasi (pengembangan) dan
pemanggangan dalam oven bahan dan proses yang dilaluinya membuat roti
meiliki tekstur yang khas. Dilihat dri cara pengolahan akhirnya, roti dapat
dibedakan menjadi tiga macam, yaitu roti yang dikukus, di panggang dan yang
digoreng bakpao dan mantao adalah contoh roti yang dikukus. Donat dan panada
merupakan roti yang di goreng. Sedangkan aneka roti tawar, roti manis, pita
bread, baquette adalah roti yang di panggang (sufi, 1999).
Standar mutu roti manis menurut SNI (1995) adalah sebagai berikut :
Tabel 01. Standar Mutu Roti
Kriteria uji Satuan Persyaratan
Kenampakan - Normal, tidak
berjamur
Bau - Normal
Rasa - Normal
Kadar air % b/b Mkas 40
Kadar abu % b/b Maks 1
Kadar NaCI % b/b Maks 2,5
Serangga - Tidak bole ada
7
Sumber: standar Nasional Indonesia 01-3840-1995.
Roti umumnya dibuat dari tepung terigu, karena tepung terigu mampu
menyerap air dalam jumlah besar, dapat mencapai konsisten adonan yang cepat
memiliki elastisitas yang baik untuk menghasilkan roti dengan remah halus,
tekstur lembut, volume besar yang mengandung 12-13% protein. Kandungan
protein pada terigu tipe kuat paling tinggi dibandingkan dengan terigu tipe
lainnya dalam pembuatan roti. Penggunaan terigu tipe kuat lebih disukai karena
kemampuan gluten (jenis protein pada tepung terigu) yang sangat elastis dan kuat
untuk menahan pengembangan adonan akibat terbentuknya gas karbondioksida
oleh khamir saccharomyces cereviseae. Semakin kuat gluten menahan
terbentuknya gas CO2, semakin mengembang volume adonan roti.
Mengembangnya volume adonan mengakibatkan roti yang telah di oven akan
menjadi mekar. Hal ini terjadi karena struktur berongga yang terbentuk di dalam
roti (Astawan, 1999).
2.2 Pengertian Sari Roti
Sari roti merupakan sebuah merek roti ternama di indonesia yang di
produksi oleh PT. Nippon Indosari Corpindo. Merek roti ini pertama kali
ditampilkan pada tahun 1995. Saat ini PT. Nippon Indosari Corpindo telah
memproduksi berbagai macam produk roti tawar dan roti manis dengan merek
dagang sari roti dan Boti, serta memproduksi chiffon cake dengan merek dagang
sari cake.
2.3 Pengertian Roti Kelapa
8
Pengolahan tepung kelapa merupakan salah satu alternatif pemanfaatan
daging buah kelapa yang diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis,
mempertahankan nilai gizi, serta memudahkan konsumen dalam mendapatkan
tepung kelapa. Tepung kelapa diproses dari kelapa parut kering (diseccated
coconut). Kelapa parut kering adalah parutan kelapa yang dikeringkan dengan
segera sehingga rasa dan aromanya sama seperti daging aroma buah segar
(Suhardiman, 1991). Menurut Suhardiyanto (1990), kelapa parut kering secara
ringkas dapat dinyatakan sebagai daging buah, kelapa kering yang di proses
secara higenis untuk keperluan bahan makanan.
Kelapa parut kering dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk makanan,
seperti tepung kelapa yang digunakan sebagai bahan baku krim kelapa dan bahan
campuran kue dan produk lainnya sebagai makanan kesehatan sehingga dapat
menunjang diversifikasi pangan. Kelapa kering diproses terlebih dahulu menjadi
tepung kelapa sebelum digunakan sebagai bahan baku untuk produk menakan.
Tepung kelapa (Coconut flour) adalah daging buah kelapa yang dikeringkan,
dihaluskan dan diproses pada kondisi yang higenis untuk bahan pangan. Tepung
kelapa mengandung gizi yang bermanfaat bagi kesehatan manusia karena
kandungan minyak dan serat yang tinggi.
2.4 Proses Pembuatan Roti
Dalam proses pembuatan roti, dikenal beberapah metode proses
pembuatannya. Mulai dari proses yang hanya memerlukan satu kali pencampuran
seperti straight dough mixing dan no time dough mixing. hinga proses pembuatan
9
roti yang memerlukan dua kali proses pencampuran seperti sponge and dough
mixing. Adapun dalam proses pembuatan harus melalui proses sebagai berikut :
2.4.1 Seleksi Bahan-Bahan
Bahan-bahan disiapkan sesuai dengan kebutuhan dan diperiksa
kualitasnya serta harus diketahui sifat-sifat bahan tersebut. Bagi
pengusaha harga harus diperhatikan untuk menghitung biaya produksi
dan harga jual. Selain itu, daya tahan bahan-bahan dan cara
penyimpanan yang baik harus diperhatikan.
2.4.2 Penimbangan Bahan-Bahan
Semua bahan ditimbang dengan baik, terutama ragi, garam, dan
additive lainnya harus ditimbang dengan teliti. Hindari pemakaian
sendok, cangkir, gelas sebagai takaran.
2.4.3 Proses Pengadukan (mixing)
proses pengadukan merupakan tahap pertama dalam proses pembuatan
roti yang menentukan kualitas dari sisi peningkatan volume, terjadinya
robekan atau rekahan ( break and shread) terutama dalam pembuatan
roti tawar (open top), warna crumb dan tekstur pori-pori ( crumb
texture).
Dalam proses pengadukan titik kritis yang harus kita ketahui dalam
membuat roti adalah terjadinya pembentukan kalisnya adonan ( dough
development), dimana pada kondisi tersebut tepengembangan adoanan
terjadi pada kondisi yang optimal
10
2.4.4 Kontrol Temperatur Selama Proses Pengaduan Atau Mixing
Dalam proses mixing terjadi gesekan mekanis antara adonan dengan
bowl dan pengaduk atau dengan mesin pengaduk, sehingga akan timbul
gesekan (friction) yang dapat menimbulkan peningkatan temperatur
dalam adonan. Sehingga dalam proses ini akan di kenal dengan adanya
friction factor faktor friski antara adonan dan mikser yang digunakan.
Untuk mempertahankan agar terjadinya gesekan mekanis tidak
memberikan efek panas yang berlebihan, maka kita harus melakukan
kontrol suhu adonan dengan jalanpenambahan air dingin pada kisaran
suhu 4-8 0C sehingga suhu akhir adonan ( final dough temperature)
dapat tercapai pada kisaran 25-28 0C.
2.4.5 Fermentasi (peragian)
Fermentasi terbentuk karena aktifitas ragi yang mengolah karbohidrat,
menghasilkan:
1. Gas CO2, adalah gas yang menyebabkan adonan mengembang
2. Alkohol, menyebabkan adonan mengembang dan memberi aroma
3. Asam, memberi rasa dan memperlunak gluten
4. Panas, dihasilkan pula dari proses fermentasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi fermentasi adonan :
a. Jumlah ragi dalam adonan
b. Temperatur adonan
c. Keasamana
d. Absorpsi air
11
e. Jumlah beberapa bahan lain: garam, gula, susu dan sebagainya
2.4.6 Fermentasi Akhir (final proofing)
Setelah proses pengistrahatan sementara (intermediate proofing),
potong dan timbang (cutting and dividing), pembulatan adonan
(rounding)< maka tahap berikutnta merupakan titik kritis dalam proses
produksi roti adalah final proofing.
Proses fermentasi akhir (final proofing) adalah proses pengembangan
adonan dengan jalan memberikan kondisi yang tepat bagi yeast dalam
beraktifitas sehingga gas CO2 yang dihasilkan akan optimal.
2.4.7 Proses Pembakaran/Pemanggangan
Tahap berikutnta setelah proses fermentasi akhir adalah proses
pemanggangan (Baking). Dalam proses pemanggangan ini akan terjadi
berbagai reaksi biokimia yang melibatkan inaktivasi enzim, yeast,
perubahan pati dan gluten dalam adonan.
Menurut (Pyler, 1979) dalam Husin syarbini, 2013, dalam proses
pemanggangan terjadi perpindahan panas dari oven yang akan
mengubah adonan menjadi produk ringan, berongga (porous), siap
cerna dan kaya rasa. Pada tahap proses pemanggangan ini akan tejadi
reaksi peningkatan volume yang terjadi sangat cepat, yang di kenal
dengan istilah oven spring atau oven jump.
12
Peningkatan ini terjadi pada interval waktu 6.5 menit dari total waktu
yang dibutuhkan dalam pemanggangan, dimana terjadi kenaikan suhu
adonan, kenaikan volume hingga 1/3 kali dari volume semula.
Selanjutnya akan terjadi reaksi biokimia adonan yang terjadi selama
pemanggangan sebagai mana berikut:
Suhu internal adonan Proses
350 C Saat mulai masuk di oven
500 C Pati mulai mengembang dan
pecah
600 C Yeast mati
600 C – 650 C Terjadi gelantinasi pati
700 C Denaturasi gluten
740 C Koagulasi protein
770 C – 820 C Aktifitas enzim terhenti
800 C – 1000 C Pembentukan pori-pori
(crumb) roti
1500 C – 2050 C Terjadi pembentukan warna
kulit
Dari proses in akan terlihat, jika proses pemanggangan terjadi tidak
semestinya seperti under bake (pemanggangan kurang), maka produk akan
cenderung memiliki warna yang pucat (pale), volume yang kurang optimal,
13
keserasian bentuk yang tidak di harapakan, pori-pori yang masih agak basah dan
tentunya akan berpengaruh terhadap bau dan rasa yang cenderung masam.
2.5 Bahan-Bahan Dalam Pembuatan Roti
2.5.1 Gula Halus
Gula halus adalah gula yang teksturnya lebih halus, berwarna putih,
tidak menggumpal, bersih, kering dan tidak kotor (Fijiarningsi, 2013).
Gula halus sering digunakan dalam pembuatan kue kering maupun bolu
karna memiliki tekstur yang lebih halus sehingga mudah larut. Gula
halus dapat dibuat sendiri dengan menghaluskan gula pasir yang di
proses dengan menggunakan blender kering. Fungsi gula adalah
memberi rasa manis, memberi warna pada kulit kue, membantu
mengempukan bolu kukus, melembabkan dan melemaskan kue.
2.5.2 Telur
Telur adalah bahan pangan yang banyak mengandung zat gizi sepeti
protein, lemak, vitamin dan mineral dalam jumlah yang cukup. Telur
berfungsi sebagai pengikat bahan lain membangun tekstur bolu,
melembutkan, memberi rasa gurih, membentuk struktur dan menambah
nilai gizi, sifat putih telur adalah mengeraskan adonan sedangkan
kuning telur memberikan efek empuk dan meningkatkan cita rasa.
Telur yang baik digunakan untuk membuat roti adalah telur ayam.
Untuk membuat roti, gunakan telur yang masih segar dengan ciri-ciri
tidak dalam kondisi dingin, tidak rusak/pecah sebelum dipakai, berkulit
14
coklat mulus, tidak berbintik dan ketika di pecahkan putih telurnya
masih kental dan menyatu dengan kuning telur (Fijiarningsi, 2013).
Lama penyimpanan menentukan kualitas telur, semakin lama disimpan,
kualitas dan kesegaran telur semakin merosot (Fijiarningsi, 2013).
Telur dan tepung membentuk suatu kerangka pada roti. Telur juga akan
memberi cairan, aroma, rasa, nilai, gizi, warna pada kue dan telur juga
dapat melembabkan kue. Lecition pada kuning telur mempunyai daya
pengemulsi, sedangkan luctein dapat memberi warna pada hasilakhir
produk.
2.5.3 Mentega
Mentega dianggap sebagai lemak yang paling baik diantara laninya
karena rasanya yang meyakinkan serta aroma begitu tajam, karena
lemak mentega berasal dari lemak susu hewan. Lemak mentega
sebagian terdiri dari asam palmitat, oleat dan stearet serta sejumlah
kecil asam butiran dan asam lemak sejenis lainnya. Bahan lain yang
terdapat dalam jumlah kecil adalah vitamin A, vitamin E dan vitamin D
serta sebagai flavor adalah siasetil, lakton, butirat dan laktat.
Tujuan penambahan lemak dalam bahan pangan ialah untuk
mempebaiki rupa dan struktur fisik bahan pangan,menambah nilai gizi
dan kalori serta memberikan cita rasa yang gurih dari bahan pangan.
2.5.4 Vanili
15
Vanili merupakan bahan penambah aroma pada proses pembuatan roti,
bolu, cake, kue, coklat, sirup dan es [Link] ini memilili rasa dan
harum yang khas serta dapat menghilangkan bau amis pada telur.
2.5.5 Bahan Pelembut (SP)
Bahan pelembut berfungsi untuk melembutkan tekstur untuk membuat
adonan lebih [Link] SP adalah gula ester. Esternya adalah
asam lemak seperti asam steart, palmitic dan oleic. Penggunaan SP
lebih direkomendasikan dalam pembuatan, karena hasil pengocokan
adonan bisa lebih stabil, sehingga hasilnya lebih maksimal.
2.5.6 Baking Powder
Baking powder merupakan bahan pengembangan (Leavening agent).
Sifat zat ini jika bertemu dengan cairan air dan terkena panas akan
membentuk karbodioksida. Inilah yang membuat adonan jadi
mengembang. (Andriani, 2012). Baking powder berfungsi sebagai agen
aerasi/pengembang memperbaiki warna crumb (lebih cerah). Baking
powder dipakai secara luas dalam produksi kue.
2.6 Pengertian Abu
Abu merupakan residu dari suatu bahan pangan yang berupa bagian organik
yang tersisa setelah bahan organik dalam makanan di destruksi atau di artikan
bahwa abu adalah zat organik dari sisa hasil pembakaran suatu bahan organik.
Penentuan kadar abu ada hubungannya dengan mineral suatu bahan pangan.
Kadar abu ditentukan berdasarkan kehilangan berat setelah pembakaran dengan
16
syarat titik akhir pembakaran di hentikan sebelum terjadi dekomposisi dari abu
tersebut (Sudarmadji,2003). Kadar abu yang diukur bermanfaaat untuk
mengatahui besarnya kandungan mineral yang terdapat pada sampel bahan. Kadar
abu di tentukan berdasarkan kehilangan berat setelah pembakaran dengan syarat
titik akhir pembakaran dihentikan sebelum terjadi dekomposisi dari abu tersebut
(Sudarmadji,2003).
2.6.1 Kadar Abu
Kadar abu merupakan campuran dari komponen anorganik atau mineral
yang terdapat pada suatu bahan pangan. Bahan pangan terdiri dari 96%
bahan anorganik dan air, sedangkan sisanya merupakan unsur-unsur
mineral. Unsur juga di kenal sebagai zat organik atau kadar abu. Kadar
abu tersebut dapat menunjukan total mineral dalam suatu bahan pangan.
Bahan-bahan organik dalam proses pembakaran akan terbakar tetapi
komponen anorganiknya tidak, karena itulah di sebut kadar abu.
Penentuan kadar abu total dapat digunakan untuk berbagai tujuan,
antara lain untuk menentukan baik atau tidaknya suatu pengolahan,
mengatahui jenis bahan yang digunakan, dan sebagai penentu parameter
nilai gizi suatu bahan makanan.
Penggilingan gandum misalnya, apabila masih banyak lembaga dan
endosperm maka kadar abu yang di hasilkannya tinggi. Banyaknya
lembaga endosperm pada gandum menandakan proses pengolahan
kurang baik karena masih banyak mengandung bahan pengotor yang
menyebabkan hasil analis kadar abu menjadi tidak murni. Kandungan
17
abu juga dapat digunakan untuk memperkirakan kandungan dan
keaslian bahan yang digunakan.
Penentuan kadar abu dapat dilakukan dengan dua cara menurut (Astuti,
2012), yaitu pengabuan cara langsung (cara kering) dan pengabuan cara
tidak langsung (cara basah).
1. Penentuan Kadar Abu Secara Langsung
Prinsip pengabuan cara langsung yaitu semua zat organik dioksidasi
pada suhu tinggi yaitu sekitar 500-600 0C, kemudian zat yang
tertinggal setelah proses pembakaran di timbang. Mekanisme
pengabuan cara langsung yaitu cawan porselen di oven terlebih dahulu
selama 1 jam kemudian diangkat dan didinginkan selama 30 menit
dalam [Link] kosong di timbang sebagai berat a gram.
Setelah itu, bahan uji di masukkan sebanyak 5 gram kedalam cawan,
di timbang dan di catat sebagai berat b gram. Pengabuan dilakukan
dalam dua tahap yaitu pemanasan dalam suhu 300 0C agar kandungan
bahan volatil dan lemak terlindungi hingga kandungan asam hilang.
Pemanasan di lakukan hingga asam habis. Selanjutnya pemananasan
dalam suhu bertahap hingga 6000C agar perubahan suhu secara tiba-
tiba tidak menyebabkan cawan menjadi pecah.
2. Penentuan Kadar Abu Secara Tidak Langsung
Prinsip pengabuan cara tidak langsung yaitu bahan di tambahkan
reagen kimia tertentu sebelum dilakukan pengabuan. Senyawa yang
18
biasa di tambahkan adalah gliserol alkohol atau pasar bebas anorganik
yang selanjutnya di panaskan dalam suhu tinggi.
2.7 Pengertian Mineral
Mineral memegang peranan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh,
baik pada tingkat sel, jaringan, organ, maupun fungsi tubuh secara keseluruhan.
Mineral juga berperan dalam berbagai tahap metabolisme terutama sebagai
kofaktor dalam aktifitas enzim-enzim. Kekurangan mineral dapat menyebabkan
gangguan kesehatan seperti anemia,gondok, osteoporosis dan osteomalasia.
Pemenuhan kebutuhan mineral pada manusia dapat di peroleh dengan cara
mengkomsumsi bahan pangan baik yang berasal dari tumbuhan (mineral nabati)
maupun hewan (mineral hewani) (Almatsier,2006).
Berdasarkan jumlahnya, mineral dapat pula dibagi atas mineral makro, dan
mineral mikro ( Georgievskii et al .,(1982).
Georgievskii ea al. (1982 ) juga mengklasifikasikan mineral menjadi tiga
golongan berdasarkan distribusi mineral pada jaringan dan organ tubuh .
Golongan tersebut adalah :
2.7.1 Mineral yang didistribusikan pada jaringan tulang (osteotropic). Contoh
mineral yang termaksud ke dalam golongan ini yaitu : kalsium, fosfor,
magnesium , strontium , beryllium , flourine , vanadium ,barium ,
titanium, radium.
19
2.7.2 Mineral yang didistribusikan ke dalam sistem reticuloendothelial.
Contoh mineral pada golongan ini yakni : ferrum, copper, mangan,
silver, crhom, nikel, cobalt, dan beberapah lantannida.
2.7.3 Mineral yang didistribusikan pada jaringan yang tidak spesifik.
Umumnya mineral tersebut terdistribusi lebih pada suatu jaringan
tertentu. Contoh mineral tersebut adalah natrium, kalium, sulfur,
chlorine, lithium, rubidium dan caesium. Secara umum mineral-mineral
essensial berfungsi sebagai pembangun tulang dan gigi. Mineral
bersama-sama protein dan lemak membentuk otot, organ tubuh, sel
darah, dan jaringan lunak lainnya. Disamping itu mineral juga berperan
dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa, mempertahankan
kontraksi urat daging dan memainkan peranan penting untuk
berfungsinya urat syaraf secara normal .sebagian mineral essensial juga
berfungsi mempertahankan tekanan osmotik, bagian dari hormon atau
sebagai aktifator dari enzim, mengatur metabolisme, transport zat
makanan ke dalam tubuh, permeabilitas membran sel dan memelihara
kondisi ionik dalam tubuh.
Persentasi kadar mineral total dari makanan ruminansia hanya sebagian
kecil dari komsumsi bahan kering total (Adriani ea al., 2009). Solusi
dari permasalahan tersebut adalah pemberian suplemen mineral yang
dapat memenuhi kebutuhan ternak.
2.8 Makro Mineral
20
Mineral makro adalah mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah 100mg
perhari. Mineral yang termasuk dalam mineral makro utama adalah Calcium (Ca).
Magnesium (Mg), Sulfur (S), Kalium (K), Fosfor (P), Clorida (C1), dan Natrium
(Na). Unsur mineral makro berperan penting dalam aktifitas fisiologis dan
metabolisme tubuh. Mineral makro berfungsi dalam pembetukan struktur sel dan
jaringan, keseimbangan cairan dan elektrolit dan berfungsi dalam cairan tubuh
baik intraseluler dan ekstraseluler (Darmono, 1995).
2.8.1 Natrium (Na)
Natrium merupakan kation utama dalam cairan ektraseluler, 35-40%
terdapat dalam kerangka tubuh. Cairan saluran cerna, sama seperti
cairan empedu dan pankreas mengandung banyak natrium. Sumber
utama natrium adalah garam dapur (NaCI). Sumber natrium yang
berupa glutamate (MSG), kecap dan makanan yang di awetkan dengan
garam dapur. Makanan yang belum diolah menganduk sedikit natrium.
Sumber lainnya seperti susu, daging, telur, ikan, mentega dll. Kelebihan
natrium menimbulkan keracunan yang dalam keadaan akut
menyebabkan edama dan hipertensi. Kelebihan natrium akan dikurangi
melalui urinm yang di ataur oleh hormon aldosteron yang dikelurkan
oleh kelenjar atrenal jika kadar natrium darah menurun. Kekurangan
natrium dapat menyebabkan kejang, apatis, dan kekurangan nafsu
makan. Dapat terjadi setelah muntah, diare keringat berlebihan, dan diet
rendah natrium.
2.8.2 Clorida (CI)
21
Clor merupakan anion utama ekstraseluler konsentrasi clor tertinggi
adalah dalam cairan serebrospinal (otak dan sumsum tulang belakang),
lambung, dan pangkreas. Clor terdapat bersamaan dengan natrium
dalam garam dapur. Beberapa sayuran dan buah terdapat clor. Clor
hampir seluruhnya diabsorpsi melalui usus halus dan dieksresi melalui
urin dan keringat. Gangguan apabila kekurangan clorida dapat
menyebabkan muntah, diare kronis, dan keringat berlebihan. Sedangkan
kelebihan yang dialami akan menyebabkan muntah.
2.8.3 Kalium (K)
Kalium merupakan ion yang bermuatan positif yang terdapat dalam sel
dan cairan intraseluler. Kalium berasal dari tumbuh-tumbuhan dan
hewan. Sumber utama adalah makanan segar atau mentah, terutama
buah dan sayur. Kalium memegang peran penting dalam memeliharaan
keseimbangan cairan elektolit serta keseimbangan asm basah. Kalium
diabsorpsi dengan mudah dalam usus halus. Kalium diekresi melalui
urin, feses, dan cairan lambung. Kalium dikeluarkan dalam bentuk ion
dengan menggantikan ion natrium melalui mekanisme pertukaran
dalam tubulus ginjal. Kelebihan kalium dapat menyebabkan gagal
jantung apabila ada kelainan fungsi ginjal. Kekurangan kalium
menyebabkan lesuh, lemah, kehilangan nafsu makan, mengigau,
kelumpuhan, dan konstipasi.
2.8.4 Kalsium (Ca)
22
Kalsium merupakan mineral yang paling banyak dalam tubuh ysng
berada dalam jaringan keras yaitu tulang dan gigi. Kalsium mengatur
kerja hormon dan faktor pertumbuhan. kalsium yang terabsorpsi akan
keluar melalui feses. Kelebihan menkonsumsi kalsium akan
menyebabkan timulnya batu ginjal atau gangguan ginjal, gangguan
absorpsi mineral lain serta konstipasi. Kekurangan kalsium akan
menyebabkan gangguan pertumbuhan, tulang kurang kuat, mudah
bengkok dan rapuh, pada usia lanjut akan terjadi osteoporosis.
2.8.5 Magnesium (Mg)
Magnesium sangat penting perannya dalam metabolisme karbohidrat
dan lemak. Magnesium diabsorpsi di usus halus dengan bantuan alat
bantu aktif dan secara difusi pasif. Di dalam darah, magnesium terdapat
dalam bentuk ion bebas. Keseimbangan magnesium dalam tubuh
terjadi melalui penyusaian eksresi magnesium melalui urin. Eksresi
magnesium meningkat oleh adanya hormon teroit, asidosis, aldesteron
serta kekurangan fosfor dan kalium (Poedjiiadi, 1994).
2.8.6 Sulfur (S)
Sulfur berasar dari makanan yang terikat pada asam amino yang
mengandung sulfur yang diperlukan untuk sintesis zat-zat penting.
Sulfur terdapat dalam tulang rawan, kulit, rambut, dan kuku yang
banyak mengandung jaringan ikat yang bersifat kaku. Sumber sulfur
adalah makanan yang mengandung protien. Fosfor diabsorpsi secara
efisien sebagai fosfor bebas dia dalam usus setelah dihidrolisis dan
23
dilepas dari makanan oleh enzim alkalin fosfatase dalam lukosa usus
halus dan diabsorpsi secara aktif yang dibantu dalam bentuk aktif
vitamin D dan difusi aktif.
Kelebihan sulfus akan menyebabkan ion fosfat akan mengikat kalsium
sehingga dapat menimbulkan kejang saat kadar fosfat dara terlalu
tinggi. Kekurangan sulfur bisa terjadi karena menggunakan obat antacid
untuk menetralkan asam lambung yang dapat mengikat sulfur
sehinggah tidak dapat diabsorpsi.
2.8.7 Fosfor (P)
Fosfor merupakan mineral kedua terbanyak dalam tubuh sekitar 1%
dari berat badan. Fosfor mengandung peranan penting dalam
mensterilisasi tulang. Fosfor terdapat pada tulang dan gigi serta dalam
sel yaitu otot dan cairan ekstraseluler. Fosfor berperan dalam reaksi
yang berkaitan dengan penyimpanan atau pelepasan energi dalam
bentuk Adenim Trifosfat (ATP), (Tillman 1988).
2.9 Mikro Mineral
mineral mikro adalah mineral yang dibutuhkan tubuh kurang dari 100Mg
sehari, mempunyai peran esensial untuk kehidupan, kesehatan, dan reproduksi.
Kandungan mineral mikro dalam bahan makanan sangat bergantung pada
konsentrasi mineral mikro dalam bahan makanan sangat bergantung pada
konsentrasi mental mikro tanah asal bahan makanan tersebut. Mineral mikro
terdiri dari besi (Fe), Seng (Zn), Yodium (I), Mangan (Mn), Tembaga (Cu),
Selenium (Se), Flour (F), Cobalt (Co),
24
2.9.1 Besi (Fe)
Besi dalam makanan yang dikonsumsi berada dalam bentuk ferri
(umunya pada pangan nabati) maupun ikatan ferro (pangan hewani).
Besi berfungsi sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan
tubuh, sebagai alat angkut elektron didalam sel yang berperan dalam
metabolisme energi sebagai bagian terpadu berbagai reaksi enzim
didalam jaringan tubuh. Kekurangan besi akan mengakibatkan
pendarahan akibat cacingan atau luka dan akibat penyakit-penyakit
yang mengganggu absorpsi, seperti panyakit gastro instenial.
Kekurangan besi umumnya menyebabkan pucat, lemah, letih, pusing,
kurang nafsu makan, menurun nya kemampuan kerja.
2.9.2 Seng (Zn)
Seng adalah mikro mineral yang ada di mana-mana dalam jaringan
tubuh manusia atau hewan dan terlihat dalam berbagai enzim dalam
prpses metabolisme. Zn diperlukan untuk aktifitas, lebih dari 90 enzim
yang ada hubungannya dengan metabolisme karbohidrat dan energi,
degrasi atau sintesis protein, sintesis asam nukleat, biosintesis heme,
transfer C02 dan reaksi-reaksi lain. Peranan Zn dalam metabolisme kulit
dan jaringan pengikat adalah dalam sintesis protein dan mungkin juga
dalam replikasi sel, walaupun belum jelas mikanismenya (Linder,
1992).
Seng dikeluarkan tubuh melalui tubuh melalui tinja, urin, dan jaringan
yang terlepas termaksud kulit, rambut, dan sel-sel mukosa.
25
2.9.3 Yodiom (I)
Yodium merupakan komponen penting dalam sintesis hormon tiroid,
yaitu hormon yang berfungsi mengatur suhu tubuh, metabolisme dasar,
reproduksi, pertumbuhan dan perkembangan, pembentukan sel darah
merah serta fungsi otot dan saraf. Dalam darah, yodium terdapat dalam
bentuk yodium bebas atau terikat dengan protein. Sumber yodium
diantaranya adalah garam beryodium, ikan laut, dan rumput laut,
kelebihan pada yodium akan mengakibatkan gondok, seperti halnya
kekurangan yodium.
2.9.4 Mangan (Mn)
Sumber pangan yang mengandung mangan terdapat pada tepung
gandum, kacang-kacangan, daging, ikan, dan ayam. Mangan diangkut
oleh protein transmanganin dalam plasma. Setelah diabsorpsi, mangan
dalam waktu singkat terlihat dalam empedu dan dikeluarkan melalui
feses. Kelebihan mangan dapat mengakibatkan keracunan. Dalam
waktu lama hal ini dapat menyebabkan gejala kelainan otak disertai
tingkah laku abnormal, yang menyerupai penyakit parkinson.
2.9.5 Tembaga (Cu)
Sumber makanan yang mengandung tembaga diantaranya adalah susu
dan sereal. Terdapat juga dalam hati, tiram, daging, dan kacang-
kacangan. Dalam saluran cerna, tembaga dapat diabsorpsi kembali dari
tubuh bergantung kebutuhan tubuh. Pengeluaran melalui empedu
meningkatkan bila terdapat kelebihan dalam tubuh. Sedikit tembaga
26
dikeluarkan melalui urin, keringat, dan darah haid. Tembaga yang tidak
diabsorpsi dikeluarkan melalui fases. Fungsi dari tembaga berperan
dalam kegiatan enzim pernafasan sebagai kofakor bagi enzim, misalnya
sitokrom, oksidase.
2.9.6 Selenium (Se)
Sumber pangan yang mengandung selenium terdapat dalam ikan laut
dan kerang. Dalam pangan nabati tergantung pada kandungan selenium
dalam tanah tempat tanaman tersebut tumbuh. Fungsi selenium sebagai
antioksidan. Defisiensi selenium menyebabkan aktifitas enzim glutation
perioksidase menurun dan kekebalan tubuh menurun konsumsi
selenium diatas 850mg/hr berpengaruh pada kesehatan yaitu terjadinya
mual, muntah, dan diare. Konsumsi diatas 5000 mg/hr akan
menyebabkan terjadinya perubahan kuku dan terjadinya kerontokan
rambut.
2.9.7 Flour (F)
Sumber pangan terdapat dalam air, makanan laut, ikan dan makanan
hasil ternak. Fungsi flour adalah untuk pertumbuhan dan pembentukan
struktur gigi, serta untuk mencegah karies gigi. Penggunaan flour
sebanyak 20-30 mg/hr dapat menyebabkan terjadinya keracunan,
gejalanya adalah flourosis (perubahan warna gigi menjadi kekuning-
27
kuningan) mulas, diare, sakit diareah dada, gatal dan muntah, defisiensi
flour akan menyebabkan terjadinya karies pada gigi.
2.9.8 Cobalt (Co)
Cobalt merupakan komponen vitamin B12 yang diperlukan bagi
perkembangan normal se-sel darah merah. Sumber utamanya adalah
sayuran berdaun hijau. Cobalt mempunyai fungsi untuk keseimbangan
tubuh ruminansia.
2.10 Mineral Yang Berbahaya Bagi Kesehatan
Makanan yang aman merupakan faktor yang penting untuk meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat. Menurut Undang-undang RI No 7 tahun 1996,
keamanan pangan didenifisikan sebagai kondisi dan upaya yang diperlukan untuk
mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, benda lain yang
dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia.
Penyakit melalui makanan (food borne disease) dapat berasal dari berbagai
sumber yaitu organisme pathogen termasuk bakteri , kapang, parasit dan virus,
dari bahan kimia seperti racun alami, logam berat, pestisida, hormon, antibiotik,
bahan tambahan berbahaya dan bahan-bahan pertanian lainnya (Fardiaz,1996.
Adapun beberapa mineral yang sangat berbahaya dalam tubuh :
2.10.1 Logam Berat
Logam berat digolongkan kedalam dua kategori, yaitu logam berat dan
logam ringan. Logam berat ialah logam yang mempunyai berat 5 g atau
lebih untuk setiap cm3, dengan sendirinya logam yang beratnya kurang
dari 5 g setiap cm3 termasuk logam ringan (Darmono, 1995).
28
2.10.2 Timbal (Pb)
Timbul (Pb) merupakan logam yang sangat populer dan banyak dikenal
oleh masyarakat awam. Hal ini disebabkan oleh banyaknya Pb yang
digunakan di industri nonpangan dan paling banyak menimbulkan
keracunan pada makhluk hidup. Pb adalah sejenis logam yang lunak
dan berwarna cokelat kehitaman, serta mudah dimurnikan dari
pertambangan.
2.10.3 Mercury (Hg)
Mercury (Hg) atau air raksa adalah logam yang ada secara alami,
merupakan satu-satunya logam yang pada suhu kamar berwujud cair.
Logam murninya berwarna keperakan/putih keabu-abuan, cairan tak
berbau, dan mengkilap. Bila dipanaskan sampai suhu 3570C, Hg akan
menguap.
2.10.4 Arsenik (As)
Arsen (as) atau sering disebut arsenik adalah suatu zat kimia yang
ditentukan sekitar abad-13. Sebagian besar arsen di alam merupakan
bentuk senyawa dasar yang berupa subtansi inorganik. Arsen inorganik
dapat larut dalam air atau berbentuk gas dan terpapar pada manusia.
2.10.5 Kadmium (Cd)
Kadmium ditemukan di kulit bumi ataupun hasil letusan gunung
vulkanik. Salain itu kadmium dihasilkan dari berbagai aktivitas
manusia, baik disengaja maupun tidak disengaja. contoh penggunaan
bahan bakar, maupun penggunaan pupuk dan pestisida.
29
2.11 Mineral Yang Dibutuhkan Bagi Kesehatan
Tubuh membutuhkan mineral untuk membantu proses metabolisme tubuh,
yaitu menjadi bahan baku kinerja enzim. Setiap orang memiliki kebutuhan
mineral yang berbeda, tergantung pada kebutuhan fisik, umur dan faktor
kesehatan secara umum.
2.11.1 Kalsium (Ca)
Kalsium berperan sebagai pembentuk tulang , dan menjaga kesehatan.
Saat kekurangan asupan kalsium, sesorang akan lebih rentan
mengalami penyakit osteoporosis.
2.11.2 Klorida (CI)
Mineral klorida berperan sebagai elektrolit dan membantu produksi
asam lambung. Saat tubuh kekurangan asupan klorida, resiko gangguan
pertumbuhan, pusing, merasa lemah, hingga kram jadi lebih rentan
terjadi, selain itu, klorida juga berfungsi mengaktivasi sel yang yang
memproduksi imun.
2.11.3 Magnesium (Mg)
Kekurangan mineral yang satu ini dapat meningkatkan risiko penyakit
jantung koroner diabetes tipe 2, hingga gangguan fungsi otot saraf,
pasalnya, magnesium berperan sebagai zat pembentuk darah merah
yang mengikat oksigen dan hemoglobin. Mineral juga berperan sebagai
kofaktor enzim, fungsi otot dan saraf.
30
2.11.4 Kalium (K)
Kalium menjadi salah satu jenis mineral yang cukup di butuhkan
tubuh. Zat ini d butuhkan sebagai pembentuk aktifitas otot jantung,
regulasi osmosis, fungsi otot dan saraf, kofaktor enzim,dan sebagai
metabolisme [Link] mendapatkan asupan ini bisa memicu
terjadinya diare, muntah, lemah otot, serta turunnya tekanan darah.
2.11.5 Zat besi (Fe)
Zat besi berfungsi untuk membantu mengantarkan oksigen ke seluruh
bagian tubuh. Selain itu, mineral yg satu ini juga di butuhkan untuk
kefaktor enzim, fungsi otak dan otot, serta memperkuat sistem
imunitas dalam tubuh. Kekurangan zat besi dapat memicu terjadinya
anemia yang memeiliki gejala pusing, lemas, dan tidak bertenaga.
2.11.6 Tembaga (Cu)
Mineral ini berfungsi menyerupai zat besi tembaga berfungsi sebagai
kofaktor enzim, metabolisme energi,fungsi saraf, bersifat anti oksidan,
dan melakukan sintesis jaringan pengikat. Saat tubuh kekurangan
tembaga, maka resiko anemia, gangguan fungsi saraf, depigmentasi
rambut, serta gangguan tulang pun akan mengikat.
2.11.7 Iodium (I)
Mineral iodium berguna dalam fungsi reproduksi, metabolisme, dan
pertumbuhan. kekurangan iodium dapat memicu terjadinya gondok,
tubuh kerdil, pertumbuhan terhambat, serta gangguan mental.
31
2.11.8 Selenium (Se)
Selenium meliki peran anti oksidan yang dapat membantu mengatasi
racun, serta membantu hormon, sistem imun, dan melindungi sel dari
proses oksidasi sendiri. Kurangnya selenium bisa memicu terjadinya
masalah jantung dan gangguan sistem kekebalan tubuh.
2.11.9 Zinc (Zn)
Zinc memegang peran dalam menjaga fungsi membran, sistem imun,
juga sebagai anti oksidan. Kekurangan zinc pada tubuh dapat
menyebabkan gangguan kulit, menurunnya kadar kolesterol baik
HDL, serta menurunnya nafsu makan.
2.11.10 Flourida (F)
Mineral yang satu ini berfungsi untuk menjaga kesehatan gigi.
Flourida dapat menghambat pembentukan karang gigi,sehingga saat
kekurangan mineral ini masalah gigi dan kerusakan jadi lebih mudah
terjadi.
2.12 Metode Analisa Dengan Grafimetri
Gravimetri merupakan salah satu metode analisis kualitatif suatu zat atau
komponen yang telah diketahui dengan cara mengukur berat komponen dalam
keadaan murni setelah melalui proses pemisahan. Analisa gravimetri adalah
proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau senyawa tertentu. Bagian
terbesar dari penentuan secara analisis gravimetri meliputi transformasi unsur atau
32
radikal kesenyawa murni stabil yang dapat segera di ubah menjadi bentuk yang
dapat ditimbang dengan teliti. Metode gravimetri memakan waktu yang cukup
lama, adanya pengotor pada konsituen dapat diuji dan bila perlu factor-factor
koreksi dapat digunakan (Khopkar, 1990).
Syarat-Syarat Analisis Gravimetris
2.12.1 Proses pemisahan analit harus berlangsung secara sempurna, sehingga
banyaknya analit yang tidak terendapkan secara analitis tidak
terdeteksi.
2.12.2 Zat yang akan ditimbang harus murni atau mendekati murni dan
mempunyai susunan yang pasti.
Adapun metode analisis gravimetris meliputi :
a. Metode Pengendapan
Senyawa yang dihasilkan harus memiliki kelarutan sangat kecil
sehingga mengendap kembali.
Endapan yang terbentuk harus berukuran lebih besar dari pada pori-
pori alat penyaring (kertas saring), kemudian endapan tersebut dicuci
dengan larutan elektronit yang mengandung ion sejenisnya dengan ion
endapan.
Hal ini dilakukan untuk melarutkan pengotor yang terdapat
dipermukaan endapan dan memaksimalkan endapan. Endapan yang
terbentuk dikeringkan pada suhu 100-1300 C atau dipijarkan sampai
suhu 5500 C tergantung suhu dekomposisi dari analit.
33
Pengandapan kation misalnya, pengendapan sebagai garam sulfida,
pengendapan nikel dengan DMG, pengendapan perak dengan klorida
atau logam hidro dengan mengetur PH larutan. Penambahan reagen
dilakukan secara berlebihan untuk memperkecil kelarutan produk
yang diinginkan.
aA+rR AaRr(s)
catatan : penambahan reagen R secara berlebihan akan
memaksimalkan produk AaRr yang terbentuk.
Idealnya setiap endapan yang terbentuk memiliki sifat-sifat berikut
ini:
1. Tidak larut
2. Mudah disaring
3. Bebas dari pengotor
4. Tidak reaktif
5. Komposisi diketahui
2.12.2 Metode Penguapan
Metode penguapan dalam analisis gravimerti digunakan untuk
menetapkan komponen-komponen dari suatu senyawa yang relatif
mudah menguap. Cara yang dilakukan dalam metode ini dapat
dilakukan dengan cara pemanasan dalam gas tertentu atau
penambahan suatu pereaksi tertentu sehingga komponen yang tidak
diinginkan mudah menguap atau penambahan suatu pereaksi tertentu
sehingga komponen yang diinginkan tidak mudah menguap.
34
Metode penguapan ini dapat digunakan untuk menentukan untuk
menentukan kadar air (hidrat) dalam suatu senyawa atau kadar air
dalam suatu sampel basah. Berat sampel sebelum dipanaskan
merupakan berat senyawa dan berat air kristal yang menguap.
Pemanasan untuk menguapkan air kristal adalah 110-130 0 C, garam-
garam anorganik banyak yang bersifat higroskopis sehingga dapat
ditentukan kadar hidrat/air yang terikat sebagai air kristal.
2.12.3 Metode Elektrolisis
Metode elektrolisis dilakukan dengan cara mereduksi ion-ion logam
terlarut menjadi endapan logam ion-ion logam berada dalam bentuk
kation apabila dialiri dengan arus listrik dengan besar tertentu dalam
waktu tertentu maka akan terjadi reaksi reduksi menjadi logam dengan
bilangan oksidasi 0.
Metode gravimetri juga dapat digunakan untuk menetapkan :
1. kation anorganik
2. Anion anorganik
3. Zat netral seperti : air¸CO2,SO2,I2
4. Beberapa zat organik , termaksud obat-obatan
2.13 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan Tinjauan Pustaka diatas, maka dapat disusun suatu kerangka
pemikiran dalam penelitian ini seperti yang disajikan dalam gambar berikut:
35
Gambar 1
KADAR ABU
ROTI KELAPA
SARI ROTI
(Y)
(X)
Keterangan :
Kadar Abu : Variabel terikat atau variabel dependen
Sari Roti Roti kelapa : Variabel bebas atau variabel independen
: Pengaruh variabel X terhadap variabel Y
36
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Dan Metode Penelitian
Metode penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif
kuantitatif yaitu dengan menentukan kadar secara laboratoris dan pengambilan
sampel dilakukan purposive sampling dengan tujuannya sudah ada dan sudah
tersedia.
3.2 Tempat Dan Waktu Penelitian
3.2.1 Tempat Penelitian
Adapun tempat penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Biologi
Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara indonesia Jl
Kapten Muslim No.79 Medan.
37
3.2.2 Waktu penelitian
Penelitian dilakukan pada Juni s/d Juli tahun 2020.
3.3 Populasi dan Sampel
Sampel Sari Roti dalam penelitian ini diambil dari penjual Sari Roti (sepeda
motor) yang ada di Jalan Sei sikambing dan sampel dari Roti Kelapa diambil dari
Toko Majestik di jalan Sei sikambing Medan.
3.4 Prinsip Kerja
Abu dalam bahan pangan ditetapkan dengan menimbang sisa mineral hasil
pembakaran bahan organik (Sampel) pada suhu sekitar 5500 C dalam oven/tanur
listrik.
3.5 Alat-alat dan Bahan
3.5.1 Alat
1. Timbangan Analitik
2. Oven
3. Cawan
4. Tanur Listrik
5. Desikator
6. Tang Penjepit
7. Pembakar Bunsen atau Hot Plate
3.5.2 Bahan
1. Sari Roti
2. Roti Kelapa
38
3.6 Prosedur Kerja
Membakar bahan dalam tanur (furnace) dengan suhu 5500 C selama 3-8 jam
sehingga seluruh unsur pertama pembentuk senyawa organik (C,H,O,N) habis
terbakar dan berubah menjadi gas,sisanya yang tidak terbakar adalah abu yang
merupakan kumpulan dari mineral-mineral yang terdapat dalam bahan. Dengan
perkataan abu merupakan total mineral dalam bahan.
1. Memanaskan cawan porselen beserta tutupnya yang sudah bersih kedalam
dengan suhu 1050 C selama kurang lebih 1 jam.
2. Mendinginkan cawan perselen beserta tutupnya didalam desikator selama
kurang 15 menit (hinga dingin)
3. Menimbang cawan porselen beserta tutupnya dan mencatat bobotnya (A).
4. Memasukan sample analisa kedalam cawan porselen sekitar 1 gram
(kuantitatif) dan kemudian mencatat bobotnya (B)
5. Mengabukan sampel didalam tanur dengan suhu 5500 C selama 2 jam, tidak
perlu menyertakan tutup cawan.
6. Mematikan tanur setelah 2 jam.
7. Mendiamkan sampel sekitar 1 jam, kemudian mendinginkan kedalam
desikator sampai mencapai suhu kamar biasa dan memasang tutup cawan
perselen.
8. Menimbang cawan perselen berisi abu dan mencatat bobotnya (C)
9. Menghitung kadar abu dengan rumus sebagai berikut :
C-A
Kadar abu = x 100%
B-A
39
Keterangan :
Kab : kadar abu (%)
A : bobot cawan porselen (g)
B : bobot cawan porselen berisi sampel sebelum diabukan (g)
C : bobot cawan porselen berisi sampel setelah diabukan (g)
3.6.10 Melakukan analisa dua kali (duplo). Menghitung rata-rata kadar abu
dengan rumus sebagai berikut:
Kadar abu (%) kab 1 + kab 2
Keterangan :
Kab1 : kadar abu pada ulangan 1 (%)
Kab2 : kadar abu pada ulangan 2 (%)
DAFTAR PUSTAKA
Anomin, 2008. Kreasi Donat. Dalam
Astuti, 2012. Analisis Kadar Abu hhtp://astutipage. Wordpres [Link]/tag/kadar-
abu/. Diakses pada tanggal 20 oktober 2014.
AOAC (Association of official Analytical Chemi). 2005. Official Method of
Analysis of the Association of official Analytical of chemist.
Arlintong : The Association of official Analytical Chemist,Inc.
Fijiarningsi, H. 2013. Pengaruh Penggunaan Komposit Tepung Kentang (solonum
tuberosum, L,) terhadap kualitas Cookies.[skripsi]. Fakultas Teknik,
Universitas Negeri Semarang.
Mudjajanto, E,S dan Yulianti L,N, 2004. Membuat Aneka Roti. Penebar
Swadaya , Bogor.
Sufi, S,Y.1999. Kreasi roti,Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Sudarmadji, Slamet, [Link], Suharti. 2003. Analisa Bahan Makanan dan
Pertanian. Liberty. Yogyakarta.
[Link] 2008/open/3387/kreasi donat. Diakses
tanggal 14 februari 2016.
BUKTI LEMBAR KONSULTASI KARYA TULIS ILMIAH MAHASISWA
PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN
FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
NAMA : Fadilla Z Nenga
NIM : 170209103
JUDUL KTI : Analisa Kadar Abu Dalam Roti Bermerek Sari Roti Dan Roti
Kelapa Yang Di Perjual Belikan Di Toko Majestik Jalan Sei
Sikambing Kelurahan Helvetia Timur Kecamatan Medan Helvetia
Medan.
NO Tanggal Pembahasan Saran Tanda Tangan
Dosen Pembimbing
1 14/04/2020 Judul Tulis Bab 1
dan 2
2 17/06/2020 Perbaikan Bab 1,2,3 Perbaiki
dan Penulisan
3 19/06/2020 Perbaikan Isi Bab Perbaiki
1,2 dan 3
4 21/06/2020 Perbaikan Cover Perbaiki
dan Bab 1
5 24/06/2020 Perbaikan Latar Perbaiki
Belakang
6 02/07/2020 Bab 1,2 dan 3 ACC
Keputusan Lanjut Proposal
seminar
Tidak lanjut seminar proposal
NB : Bukti Lembar ini diikut sertakan pada KTI
Medan, Juli 2020
Mengetahui,
Ketua Program Studi
Yunita Purba M, Si