0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan18 halaman

Perencanaan Kebutuhan RKBM BMN

Dokumen ini membahas perencanaan kebutuhan Barang Milik Negara (BMN) dalam konteks akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah. Terdapat penjelasan mengenai siklus pengelolaan BMN, dasar hukum, integrasi pengelolaan aset dan penganggaran, serta standar barang dan kebutuhan BMN. Proses bisnis RKBMN dan perubahan RKBMN juga dijelaskan untuk memastikan efisiensi dan akuntabilitas dalam pengelolaan aset negara.

Diunggah oleh

Patri Sempurno
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan18 halaman

Perencanaan Kebutuhan RKBM BMN

Dokumen ini membahas perencanaan kebutuhan Barang Milik Negara (BMN) dalam konteks akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah. Terdapat penjelasan mengenai siklus pengelolaan BMN, dasar hukum, integrasi pengelolaan aset dan penganggaran, serta standar barang dan kebutuhan BMN. Proses bisnis RKBMN dan perubahan RKBMN juga dijelaskan untuk memastikan efisiensi dan akuntabilitas dalam pengelolaan aset negara.

Diunggah oleh

Patri Sempurno
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERENCANAAN

KEBUTUHAN
BARANG MILIK
NEGARA
Rakernas Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
Pemerintah Tahun 2021

Jakarta, 8 September 2021

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


Outline
1. Siklus Pengelolaan BMN

2. Dasar Hukum

3. Integrasi Pengelolaan Aset dan Penganggaran

4. Definisi

5. Ruang lingkup

6. Konsolidasi Usulan RKBMN

7. Ruang lingkup

8. Standar Barang dan Standar Kebutuhan

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 2


SIKLUS PENGELOLAAN BMN

Pengadaan
Penganggaran

Pembinaan Perencanaan
Pengawasan Kebutuhan Penggunaan
Pengendalian

Pemanfaatan
Penghapusan
Siklus Pengelolaan
Asas Fungsional Barang Milik Negara

Asas Kepastian Hukum


Pemusnahan Penilaian

Asas Transparansi & Keterbukaan

Asas Efisiensi
Pemindah- Pengamanan
tanganan
Asas Akuntabilitas
Penatausahaan Pemeliharaan
Asas Kepastian Nilai

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 3


DASAR HUKUM
PP 90/2010
PP 27/2014 (Pasal 6 & Perpres 73/2011
Pasal 9 (3) Penjelasannya) (Pasal 12)

Perencanaan Kebutuhan RKA-K/L memuat  Persiapan


merupakan salah satu informasi kinerja dimana Pembangunan
dasar bagi K/L/SKPD sasaran kinerja K/L yang bangunan gedung
negara meliputi a.l.
dalam pengusulan keluarannya berbentuk
Penyusunan Rencana
penyediaan anggaran BMN mengacu pada Kebutuhan
untuk kebutuhan baru Rencana Kebutuhan
(new initiative) dan angka Pengadaan BMN  Rencana Kebutuhan
dasar (baseline) serta yang pendanaannya
penyusunan rencana kerja bersumber dari APBN,
dan anggaran. harus mendapat
persetujuan Menteri
Keuangan

Amanat Integrasi Sistem Pengelolaan Aset dan Sistem Penganggaran

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 4


KETENTUAN PELAKSANAAN

Peraturan Menteri Keuangan Keputusan Menteri Keuangan


KMK 450/2014 jo. KMK 174/2016
Modul Penyusunan RKBMN
PMK 150/2014 Perencanaan
Kebutuhan BMN KMK 452/2014 jo. KMK 227/2016
Modul Penelaahan RKBMN

KMK 332/2016 Modul Reviu APIP


PMK 71/2016 Tata Cara
Pengelolaan BMN Yang Tidak
Digunakan Untuk Tusi KL KMK 310/2015 Modul Penelaahan
RKBMN Untuk AADB
KMK 577/2017 Modul Penyusunan
RKBMN Untuk AADB
PMK 172/2020 SBSK BMN
KMK 451/2014 Pendelegasian
Dirjen KN ke Dir BMN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 5


INTEGRASI PENGELOLAAN ASET DAN PENGANGGARAN
JAN – APRIL MEI – JULI AGS - OKT NOP – DES
DPR MULAI

Januari Nota
Pembicaraan
Keuangan;
Pendahuluan
RAPBN; RUU UU APBN
Arah RAPBN
APBN
Kebijakan

Rancangan Alokasi
Kabinet Awal RKP
RKP Pembaha
Anggaran K/L
san

Kemenkeu Pagu
Berita Acara
Anggaran
Pagu K/L Nota
Indikatif K/L Maret Keuangan; SELESAI
RAPBN; RUU
Feb M4 Juni APBN

Perkiraan Penelaahan
Kapasitas Hasil RKA-KL
Penge
Fiskal Penelaahan sahan
RKBMN DIPA

K/L
Indikasi M4 Juli
Kebutuhan Renja K/L
Penyu
Anggaran Penyesuaian sunan
RKA-KL DIPA
RKAKL
RKBMN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 6


DEFINISI

PP 27/2014 jo. PP 28/2020

“Perencanaan Kebutuhan BMN adalah


kegiatan merumuskan rincian kebutuhan
BMN/Daerah untuk menghubungkan
pengadaan barang yang telah lalu dengan
keadaan yang sedang berjalan sebagai dasar
dalam melakukan tindakan yang akan datang”

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 7


RUANG LINGKUP
Perencanaan
Pemanfaatan
Perencanaan Perencanaan
Pemindahtanganan Penghapusan

 Tanah dan/atau
Bangunan;
 Tanah dan/atau Perencanaan  Selain Tanah
Bangunan;
PENGADAAN dan/atau
 Alat Angkutan Bangunan,
bermotor; Perencanaan
PEMELIHARAAN
 BMN selain yang telah terdapat
tersebut di atas SBSK-nya
dengan nilai
“Perencanaan aset tidak dapat dipisahkan antara tahap siklus
perolehan per
hidup aset yang satu dengan lainnya.”
satuan paling
sedikit Rp100juta. Dalam menyusun RKBMN Pengadaan dan Pemeliharaan, K/L agar
mempertimbangkan rencana pemindahtanganan, pemanfaatan, dan
penghapusan BMN.
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
8
8
PROSES BISNIS RKBMN & PERUBAHAN RKBMN

Satuan Kerja Kordinator Wilayah Kordinator Eselon I Kementerian/Lembaga


• Mengkonsolidasikan • Melakukan penelitian
• Menyusun Usulan • Mengkonsolidasika usulan RKBMN &
RKBMN & n Usulan RKBMN & Usulan RKBMN & perubahan RKBMN,
Perubahan RKBMN Perubahan RKBMN Perubahan RKBMN
• Menyusun Usulan
dari Satker, dari Kordinator
• Menyampaikan RKBMN & Perubahan
Wilayah, RKBMN tk. Pengguna
Usulan RKBMN • Menyampaikan
secara Berjenjang Usulan RKBMN & • Dapat Meneliti Barang (RKBMN PB)
RKBMN sesuai • Meminta APIP utk
Perubahan RKBMN kewenanganya, melakukan Review
ke Unit diatasnya Menyampaikan • Menyampaikan Usulan
secara berjenjang Usulan RKBMN & RKBMN &
Perubahan RKBMN PerubahanRKBMN PB
kepada Pengelola Barang
ke Unit diatasnya
secara berjenjang.
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 9
STANDAR BARANG DAN STANDAR KEBUTUHAN BMN

Tanah dan/atau Tanah dan/atau Tanah dan/atau Tanah dan/atau


Bangunan Gedung Bangunan Gedung Bangunan Gedung Bangunan Gedung
Perkantoran Rumah Negara Pendidikan Tempat Persidangan

Tanah dan/atau Kendaraan Jabatan Kendaraan


Bangunan Gedung Operasional
Ruang Tahanan

PMK No. 172/PMK.06/2020

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 10


SBSK T/B BANGUNAN GEDUNG PERKANTORAN

A. Klasifikasi Bangunan Sesuai B. Standar Ketinggian Bangunan C. Standar Kebutuhan Unit


Pengguna
1. Type A: Kantor Lembaga Negara 1. Type A & Type B: Max 20 Lantai
2. Type B: Kantor Menko, Menteri Negara, 2. Type C & Type D: Max 8 Lantai 1. Type A, Type B, Type C & Type D:
LPNK 3. Type E1: Max 4 Lantai tidak dibatasi
3. Type C: Kantor pejabat setingkat Es.1 4. Type E2: Max 2 Lantai 2. Type E1 & E2: satu bangunan
4. Type D: Kantor pejabat setingkat Es.2 untuk setiap unit
5. Type E1: Kantor pejabat setingkat Es.3
6. Type E2: Kantor pejabat setingkat Es.4

E. Standar Luas Ruang Kerja F. Standar Luas Tanah


D. Standar Luas Bangunan
Ruang Pimpinan Lembaga Negara dan yang setingkat : ditentukan Pengelolan

Luas bangunan yang dijadikan


Ruang Menteri dan yang setingkat : 223 M2
Ruang Wakil Menteri : 102 m2
5 (lima) kali luas lantai dasar
standar untuk keperluan
Ruang Pejabat Eselon IA dan yang setingkat : 102 m2
Ruang Pejabat Eselon IB dan yang setingkat : 79 m2 bangunan dibagi dengan Koefisien
perencanaan kebutuhan adalah
Ruang Pejabat Eselon IIA dan yang setingkat : 70 m2
Ruang Pejabat Eselon IIB dan yang setingkat : 58 m2 Dasar Bangunan (KDB) yang
Ruang Pejabat Eselon III sebagai Kepala Kantor dan yang setingkat : 37 m2

luas bangunan bruto.


Ruang Pejabat Eselon III yang bukan sebagai kepala kantor dan yang setingkat :
21 m2
berlaku di daerah setempat
Ruang Pejabat Eselon IV sebagai kepala kantor dan yang setingkat : 31 m2
Ruang Pejabat Eselon IV yang bukan kepala kantor dan yang setingkat : 11 m2
dengan tetap memperhatikan
Ruang Pejabat Fungsional Golongan IV : 17 m2
Ruang Pejabat Eselon V/Pejabat Fungsional Golongan III ke bawah : 11 m2 Rencana Tata Ruang Wilayah
Ruang Pelaksana : 5 m2
Ruang Penunjang (RTRW).
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 11
SBSK T/B BANGUNAN GEDUNG RUMAH NEGARA

A. Klasifikasi Bangunan Sesuai B. Standar Ketinggian Bangunan C. Standar Kebutuhan Unit


Pengguna
1. Type Khusus: RN Pimpinan Lembaga Negara, 1. Rumah Negara Tipe Khusus, Tipe berdasarkan pembahasan bersama antara
Menteri, Pimpinan Lembaga Pemerintah non Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang
Kepenterian, setingkat.
A, dan Tipe B paling tinggi 2 (dua)
bersangkutan dengan instansi/unit kerja
2. Type A; RN Pejabat setingkat Es. 1 lantai; yang bertanggung jawab di bidang
3. Type B: RN Pejabat Es. 2 / PNS Gol IVd-IVe 2. Rumah Negara Tipe C, Tipe D, dan pekerjaan umum
4. Type C: RN pejabat Es.3 / PNS Gol IVa-IVc Tipe E adalah 1 (satu) lantai.
5. Type D: RN pejabat Es.4 / PNS Gol III
6. Type E: RN pejabat Es.5 / PNS Gol II / Gol I

D. Standar Luas Bangunan E. Standar Luas Tanah

1. Type Khusus: 400 m2. 1. Type Khusus: 1.000 m2.


2. Type A; 250 m2 2. Type A; 600 m2
3. Type B: 120 m2 3. Type B: 350 m2
4. Type C: 70 m2 4. Type C: 200 m2
5. Type D: 50 m2 5. Type D: 120 m2
6. Type E: 36 m2 6. Type E: 100 m2

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 12


SBSK T/B BANGUNAN GEDUNG PENDIDIKAN

A. Klasifikasi Bangunan Sesuai B. Standar Ketinggian Bangunan C. Standar Kebutuhan Unit


Pengguna
1. bangunan pendidikan jenjang didasarkan pada ketentuan peraturan
pendidikan dasar; perundang-undangan di bidang tidak dibatasi, sepanjang memenuhi
2. bangunan pendidikan jenjang pembangunan Bangunan Gedung prinsip efisiensi dan efektivitas
pendidikan menengah pertama; Negara dan/atau di bidang pendidikan penggunaan lahan
3. bangunan pendidikan jenjang dengan memperhatikan peraturan
pendidikan menengah atas; dan daerah setempat tentang Rencana Tata
4. bangunan pendidikan jenjang Ruang Wilayah (RTRW).
pendidikan menengah kejuruan.

D. Standar Luas Bangunan E. Standar Luas Ruang F. Standar Luas Tanah


Pendidikan
5 (lima) kali luas lantai dasar
Luas bangunan yang dijadikan
Terdiri dari Ruang Kelas dan bangunan dibagi dengan
standar untuk keperluan
Ruang Penunjang (Ruang Koefisien Dasar Bangunan
perencanaan kebutuhan
Laboratorium, Ruang PImpinan, (KDB) yang berlaku di daerah
adalah luas bangunan bruto.
Ruang Guru, Perpustakaan, , setempat dengan tetap
Ruang TIK, Ruang Praktik, Toilet memperhatikan Rencana Tata
dan Ruang Fungsional Ruang Wilayah (RTRW).
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 13
SBSK T/B BANGUNAN GEDUNG TEMPAT PERSIDANGAN

A. Klasifikasi Bangunan Sesuai B. Standar Ketinggian Bangunan C. Standar Kebutuhan Unit


Pengguna
ketentuan peraturan perundang-
1. Bangunan tempat persidangan Peradilan Umum (PT, PN
IA Khusus, PN IA, PN IB & PN II) undangan tidak dibatasi, sepanjang memenuhi
2. Bangunan tempat persidangan Peradilan Agama (PTA, di bidang pembangunan Bangunan prinsip efisiensi dan efektivitas
PA IA, PA IB & PA II)
3. Bangunan tempat persidangan Mahkamah Syar’iyah
Gedung Negara dan/atau di bidang penggunaan lahan.
(MS Provinsi, MS I A, MS IB & MS II) peradilan dengan memperhatikan
4. Bangunan tempat persidangan Peradilan Militer peraturan daerah setempat tentang
(DILMILTAMA, DIMILTI, DILMIL A & B)
5. Bangunan tempat persidangan Peradilan Tata Usaha
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Negara (PT TUN, PTUN I & II)

D. Standar Luas Bangunan E. Standar Luas dan Kebutuhan F. Standar Luas Tanah
Ruang Tempat Persidangan
Luas bangunan yang dijadikan 5 (lima) kali luas lantai dasar
Terdiri Ruang Persidangan dan Ruang Penunjang
standar untuk keperluan bangunan dibagi dengan
perencanaan kebutuhan adalah luas Ruang Sidang: Ruang Sidang Besar/Utama, Koefisien Dasar Bangunan
bangunan bruto. Ruang Sidang Biasa & Ruang Sidang Anak (KDB) yang berlaku di daerah
Ruang Penunjang: Ruang Tunggu Tahanan setempat dengan tetap
Dewasa & Anak, RT Saksi & Korban, Diversi,
Teleconference dll) memperhatikan Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW)
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
SBSK T/B BANGUNAN GEDUNG RUANG TAHANAN

A. Klasifikasi Bangunan Sesuai B. Standar Ketinggian Bangunan C. Standar Kebutuhan Unit


Pengguna didasarkan pada ketentuan
1. Rumah Tahanan Negara (Rutan), meliputi peraturan perundang-undangan di
Rutan Kelas I dan Rutan Kelas II. tidak dibatasi, sepanjang
bidang pembangunan Bangunan
2. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), meliputi: memenuhi prinsip efisiensi dan
Gedung Negara dan/atau di bidang
Lapas Kelas I, Lapas Kelas II dan Lapas Kelas
pemasyarakatan dengan
efektivitas penggunaan lahan.
III.
3. Lembaga Penempatan Anak Sementara memperhatikan peraturan daerah
(LPAS); setempat tentang Rencana Tata
4. Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Ruang Wilayah (RTRW).

D. Standar Luas Bangunan E. Standar Luas Ruang Tahanan F. Standar Luas Tanah

Luas bangunan yang dijadikan


Terdiri Ruang Tahanan dan Ruang 5 (lima) kali luas lantai dasar
Penunjang
standar untuk keperluan Ruang Tahanan: Blok Admisi Orientasi, Blok
bangunan dibagi dengan
perencanaan kebutuhan adalah Hunian, Blok Pengasingan & Strapsel Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
luas bangunan bruto.
Ruang Penunjang: Ruang Portir, Pos yang berlaku di daerah setempat
pengamanan,[Link], [Link], R. dengan tetap memperhatikan
Ibadah, R. Perpustakaan, R. Kunjungan,
Dapur, Poliklinik, Garasi, dll Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW)
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 15
SBSK KENDARAAN JABATAN

Standar Kebutuhan Kendaraan Jabatan


Standar Barang Kendaraan Jabatan
Tingkat Jabatan Jumlah Pilihan Jenis Kelas Maksimum
Maksimum
Kualifikasi Jenis Spesifikasi
Menteri dan yang setingkat 2 unit Sedan dan/atau SUV Kualifikasi A
Sedan 3.500 cc, 6 Silinder
atau MPV
Sport Utility Vehicles 3.500 cc, 6 Silinder Wakil Menteri 1 unit Sedan atau Kualifikasi A
A (SUV)/
Multi Purpose Vehicles SUV/MPV
(MPV) Eselon IA dan yang setingkat 1 unit Sedan atau SUV Kualifikasi B
Eselon IB dan yang setingkat 1 unit Sedan atau SUV Kualifikasi C
Sedan 2.500 cc, 4 Silinder
B Eselon IIA dan yang setingkat 1 unit SUV Kualifikasi D
SUV 3.000 cc, 6 Silinder Eselon IIB dan yang setingkat 1 unit SUV Kualifikasi E
Sedan 2.000 cc, 4 Silinder Eselon III dan yang setingkat, yang
C 1 unit MPV Kualifikasi F
berkedudukan sebagai kepala
SUV 2.500 cc, 4 Silinder
kantor
D SUV 2.500 cc, 4 Silinder Eselon IV dan yang setingkat, yang 1 unit MPV Kualifikasi G
E SUV 2.000 cc, 4 Silinder berkedudukan sebagai kepala
kantor dengan wilayah kerja
MPV 2.000 cc Bensin atau minimal 1 (satu) kabupaten/kota
F 2.500 cc Diesel, 4 Silinder Eselon IV dan yang setingkat, yang 1 unit Sepeda Motor Kualifikasi G
berkedudukan sebagai kepala
kantor dengan wilayah kerja
MPV 1.500 cc, 4 Silinder kurang dari 1 (satu)
G
Sepeda Motor 225 cc, 1 Silinder kabupaten/kota
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 16
SBSK KENDARAAN OPERASIONAL

Standar Kebutuhan Kendaraan Operasional


Standar Barang Kendaraan Operasional
 Setingkat Eselon I/ Kantor Pusat :
 Mobil MPV 1.500 cc, 4 silinder Mobil : Sesuai dengan jumlah jabatan Eselon III +1
 Sepeda Motor 225 cc, 1 silinder untuk kegiatan kesekretariatan
Sepeda Motor : Sesuai dengan jumlah jabatan
EselonIII

Kendaraan Operasional dapat berasal dari  Setingkat Eselon II/ Kantor Wilayah/ Kantor
Kendaraan Jabatan yang ditetapkan untuk Pelayanan :
dialihfungsikan, dengan ketentuan: Mobil : Sesuai dengan jumlah jabatan Eselon III+1
1. jenis dan spesifikasi Kendaraan Jabatan Sepeda Motor : Sesuai dengan jumlah jabatan Eselon
meliputi: III
a. kendaraan roda 4 (empat) SUV maksimal
2500 cc;
b. kendaraan roda 4 (empat) MPV maksimal  Setingkat Eselon III/ Kantor Pelayanan :
2500 cc; atau Mobil : 50% jumlah jabatan Eselon IV
c. kendaraan roda 2 (dua); Sepeda Motor : Sesuai dengan jumlah jabatan Eselon
2. Kendaraan Jabatan telah berumur 5 (lima) IV
tahun sejak tanggal perolehan; dan
3. jumlah Kendaraan Operasional tidak
 Setingkat Eselon IV/ Kantor Pelayanan
melebihi Standar Kebutuhan.
Mobil : -
Sepeda Motor : Sesuai dengan jumlah jabatan Eselon
IV + jumlah jabatan Eselon V jika ada
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 17
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA
DIREKTORAT BARANG MILIK NEGARA

TERIMA KASIH
\

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Anda mungkin juga menyukai