IP Address adalah salah satu dari macam-macam protokol jaringan yang
berguna untuk menghubungkan sebuah komputer dengan jaringan komputer.
Ibaratnya, IP address adalah alamat “rumah” di sebuah jaringan “kota” atau
bahkan di bumi. Nah, ternyata, IP address tidak serta merta digunakan secara
sembarangan. Jika alamat rumah, Anda masih bisa melihat beberapa nama
daerah atau nama jalan yang mirip walaupun berbeda kota. Sedangkan di dalam
jaringan komputer, Anda tidak akan mengenal alamat yang sama. Alasannya, jika
sama, maka akan terjadi konflik di dalam sistem jaringan komputer karena ada
host yang memiliki IP address yang sama.
Setiap IP address haruslah berbeda di tiap jaringan. Sedangkan secara teori,
pengalamatan komputer di dalam jaringan komputer yang menggunakan IP versi
4 (IPv4) adalah [Link] komputer atau host di seluruh dunia. Jumlah
tersebut didapat dari 256 (didapatkan dari 8 bit) dipangkat 4 (karena terdapat 4
oktet), sehingga didapat perhitungan 255 x 255 x 255 x 255. Jumlah tersebut
harus dibagikan ke seluruh pengguna jaringan internet di seluruh dunia. Jumlah
tersebut tentu saja tidak bisa mengimbangi perkembangan teknologi yang
semakin canggih. Belum ditambah suburnya perkembangan handphone yang
terkoneksi dengan internet dan beberapa perangkat yang sudah
mengusung IoT (Internet of Things).
Pembagian kelas pada IP Address ditujukan untuk mempermudah
pengalokasian fungsi IP Address di dalam jaringan komputer, baik untuk host
atau jaringan tertentu serta untuk keperluan tertentu. Sedangkan subnetting
dimaksudkan untuk membagi beberapa bit dari bagian host menjadi bit tambahan
pada bagian network. Hal tersebut bisa menambah network baru dan untuk
mengefisienkan pengalokasian berdasarkan jumlah host yang terhubung ke
jaringan tersebut.
Lalu, gimana sih pembagian kelas IP Address dan subnetting itu? Kali ini, kami
akan membahasnya secara lengkap untuk Anda. Mari simak pembahasan di
bawah ini.
A. Pembagian Kelas IP Address
IP Address terbagi menjadi 2 bagian, yaitu bagian network (net ID) dan bagian
host (host ID). Net ID berfungsi mengidentifikasi suatu network dari network yang
lain, sedangkan host ID berfungsi untuk identifikasi host dalam suatu network.
Jadi, seluruh host yang tersambung dalam jaringan yang sama memiliki net ID
yang sama. Sebagian dari bit-bit awal pada IP Address merupakan network bit
atau network number, sedangkan sisanya untuk host.
Pemisah antara bagian network dan host tidaklah tetap, bergantung kepada kelas
network. Nah, IP address sendiri terbagi ke dalam lima kelas, yaitu kelas A, kelas
B, kelas C, kelas D dan kelas E. Perbedaan tiap kelas adalah pada ukuran dan
jumlah hostnya. Penentuan kelas ini dilakukan dengan cara berikut :
IP address kelas A
Bit pertama pada IP address kelas A adalah “0”, dengan panjang net ID 8 bit
dan panjang host ID 24 bit. Jadi byte pertama IP address kelas A mempunyai
range dari 0-127 dalam bilangan desimal. Jadi, pada IP Address kelas
A terdapat 127 network dengan tiap networknya dapat menampung sekitar 16
juta host. IP address kelas A diberikan untuk jaringan dengan jumlah host yang
sangat besar, misalnya pada jaringan telekomunikasi global. Contoh IP Address
Kelas A sebagai berikut:
IP Address : [Link]
Subnet mask :11111111.00000000.00000000.00000000 [Link]
IP Address kelas B
Dua bit pada IP address kelas B selalu diatur “10” sehingga byte pertamanya
selalu bernilai antara 128-191 dalam bilangan desimal. Network ID adalah 16 bit
pertama dan 16 bit sisanya adalah host ID. Sehingga, jika ada komputer yang
mempunyai IP address [Link], maka network ID-nya = 192.168 dan host
ID-nya = 26.161. Pada IP address kelas B ini mempunyai range IP dari
[Link] sampai [Link], yang jika ditotal akan memiliki jumlah
netowrk 65.255 dengan jumlah host tiap network yaitu 255 x 255 host atau
sekitar 65 ribu [Link] IP Address Kelas B sebagai berikut:
IP Address: [Link]
Subnet mask:11111111.11111111.00000000.00000000 [Link]
IP Address kelas C
IP address kelas C biasanya digunakan untuk jaringan berukuran kecil seperti
LAN (Local Area Network). Tiga bit pertama pada IP address kelas C selalu
diatur “111”, dan mempunyai range dari 192-223. Network ID-nya terdiri dari 24
bit dan host ID-nya terdiri dari 8 bit. Sehingga, class ini dapat membentuk sekitar
2 juta network dengan masing-masing network memiliki 256 host. Contoh IP
Address Kelas C sebagai berikut:
IP Address :[Link]
Subnet mask:11111111.11111111.11111111.00000000 [Link]
B. Aturan Dasar Pemilihan network ID dan host ID
Sebagai protokol jaringan yang memiliki standar, kita harus mengikuti standar
yang diterapkan oleh protokol tersebut. Berikut adalah aturan-aturan dasar dalam
menentukan network ID dan host ID:
Network ID tidak boleh sama dengan 127 Network ID secara default digunakan
sebagai alamat loopback yakni IP address yang digunakan oleh suatu komputer
untuk menunjuk dirinya sendiri. Network ID dan host ID tidak boleh sama
dengan 255 Network ID atau host ID 255 akan diartikan sebagai alamat
broadcast. ID ini merupakan alamat yang mewakili seluruh jaringan. Network ID
dan host ID tidak boleh sama dengan 0IP address dengan host ID 0 diartikan
sebagai alamat network. Alamat network digunakan untuk menunjuk suatu
jaringn bukan suatu host. Host ID harus unik dalam suatu network. Dalam suatu
network tidak boleh ada dua host yang memiliki host ID yang sama.
C. Subnetting
Untuk efisiensi IP Address, mengatasi masalah topologi network dan organisasi,
administrator jaringan biasanya melakukan subnetting. Tujuan
dari subnetting adalah untuk “memindahkan” pemisah antara bagian network ID
dan host ID dari suatu IP Address. IP address satu network menurut struktur
bakunya dipecah menjadi beberapa subnetwork. Cara ini dapat menciptakan
sejumlah network tambahan, tetapi mengurangi jumlah maksimum host yang ada
dalam tiap network tersebut.
Selain itu, dengan subnetting, Administrator Jaringan dapat menentukan
pengaturan host address seluruh bagian dari suatu perusahaan besar kepada
setiap bagian, untuk memudahkan dalam pengaturan keseluruhan network yang
ada.
Struktur subnet mask sama dengan struktur IP Address, yaitu terdiri dari 32 bit
yang dibagi atas 4 segmen. Bit-bit dari IP Address yang di-masking (ditutupi) oleh
bit-bit subnet mask yang aktif dan bersesuaian akan diinterpretasikan sebagai
network bit. Bit 1 pada subnet mask berarti mengaktifkan masking ( on ),
sedangkan bit 0 tidak aktif ( off ). Sebagai contoh, kami berikan satu IP Address
kelas A dengan nomor [Link]. Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar
berikut:
Dari aturan baku, bagian network dari IP Address ini adalah 44 dan bagian host
adalah 132.1.20. Network tersebut dapat menampung maksimum lebih dari 16
juta host yang terhubung langsung. Misalkan pada address ini akan akan
diaplikasikan subnet mask sebanyak 16 bit [Link] (Biner =
11111111.11111111.00000000. 00000000 ). Perhatikan bahwa pada 16 bit
pertama dari subnet mask tersebut bernilai 1, sedangkan 16 bit berikutnya 0.
Dengan demikian, 16 bit pertama dari suatu IP Address yang dikenakan subnet
mask tersebut akan dianggap sebagai network bit. Bagian network akan berubah
menjadi 44.132 dan bagian host menjadi 1.20. Kapasitas maksimum host yang
langsung terhubung pada network tersebut berubah menjadi sekitar 65 ribu host.
Subnet mask di atas akan identik dengan aturan baku IP Address kelas B. Dengan
menerapkan subnet mask tersebut pada satu network IP Address kelas A, network
tersebut terbagi lagi menjadi 256 network baru dengan kapasitas masing-masing
subnet setara network kelas B. Penerapan subnet yang lebih jauh seperti
[Link] ( 24 bit ) pada kelas A akan menghasilkan jumlah network yang
lebih besar dengan kapasitas masing-masing subnet yang lebih sedikit. Network
IP Address kelas C juga dapat dibagi-bagi lagi menjadi beberapa subnet dengan
mengaplikasikan subnet mask yang lebih tinggi, misalnya seperti untuk 25 bit
([Link]), 26 bit ([Link]), 27 bit ( [Link]) dan
seterusnya.
Subnetting dilakukan pada saat konfigurasi interface. Penerapan subnet mask
pada IP Address akan membuat 2 buah address baru, yakni Network Address dan
Broadcast Address. Network address diartikan dengan cara mengatur seluruh bit
host bernilai 0, sedangkan broadcast address dengan mengatur seluruh bit host
bernilai 1. Network address atau alamat network adalah alamat yang berguna
pada informasi routing. Dengan alamat ini, suatu host tidak perlu mengetahui
address seluruh host yang ada pada network yang lain.
Pembagian kelas IP address dan subnetting dilakukan di dua tempat yang
berbeda. Subnetting hanya dilakukan pada jaringan komputer lokal atau LAN.
Untuk network di luar jaringan lokal, nomor network yang dikenali tetap nomor
network baku menurut pembagian kelas IP Address. Jika sudah berurusan
dengan jaringan di luar lokal, artinya hal tersebut sudah menjadi tugas routing
yang dilakukan oleh router.