0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan14 halaman

Analisis Semiotika Puisi Ayyuhā al-Nās

Artikel ini menganalisis puisi 'Ayyuhā al-Nās' karya Tamim al-Barghouti menggunakan metode semiotika Riffaterre, yang mencakup pembacaan heuristik dan hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi ini memiliki makna yang kompleks dan berisi kritik terhadap penguasa, dengan karakter pemimpin sebagai matriks utama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengungkap makna yang terkandung dalam teks puisi.

Diunggah oleh

Jas Miko
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan14 halaman

Analisis Semiotika Puisi Ayyuhā al-Nās

Artikel ini menganalisis puisi 'Ayyuhā al-Nās' karya Tamim al-Barghouti menggunakan metode semiotika Riffaterre, yang mencakup pembacaan heuristik dan hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi ini memiliki makna yang kompleks dan berisi kritik terhadap penguasa, dengan karakter pemimpin sebagai matriks utama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengungkap makna yang terkandung dalam teks puisi.

Diunggah oleh

Jas Miko
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

JILSA: Jurnal Ilmu Linguistik & Sastra Arab | 22

Puisi Ayyuhā al-Nās karya Tamim al-Barghouti:


Analisis Semiotika Riffaterre

Moh. Ainul Yaqin


Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
mochammadyaqin@[Link]

Abstrak: Artikel ini mengkaji puisi Tamim al-Barghouti yang berjudul


Ayyuhā al-Nās. Penelitian ini menerapkan metode penelitian kualitatif
deskriptif dan menggunakan teori semiotika yang dikemukakan oleh Michael
Riffaterre, yaitu dengan cara melakukan pembacaan heuristik, pembacaan
hermeneutik atau retroaktif dan penentuan matriks dari puisi tersebut. Hasil
penelitian ini mengungkapkan bahwa puisi Ayyuhā al-Nās dalam pembacaan
heuristik masih rancu, belum teratur maknanya. Dalam pembacaan
hermeneutik atau retroaktif, dengan menentukan model, matriks, dan
hubungan aktual dalam puisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa salah satu
model dalam puisi tersebut ada dalam kalimat “wahai manusia, kalian adalah
pemimpin”, adapun matriks dalam puisi “Ayyuhā al-Nās ” adalah “karakter
seorang pemimpin”.

Kata Kunci: Puisi, semiotika Riffaterre, Tamim al-Barghouti

PENDAHULUAN

Karya sastra merupakan cerminan masyarakat, budaya dan adat istiadat masyarakat
setempat yang sangat mempengaruhi alur cerita suatu karya sastra. Karya sastra
menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh terhadap
masyarakat. Bahkan seringkali masyarakat sangat menentukan nilai karya sastra yang
hidup di suatu zaman, dikarenakan sastrawan sendiri adalah anggota masyarakat yang
terikat status sosial tertentu dan tidak dapat mengelak dari adanya pengaruh yang
diterimanya dari lingkungan yang membesarkan sekaligus membentuknya. 1 Pradopo
juga mengemukakan bahwa karya sastra merupakan karya seni yang mempergunakan
bahasa sebagai mediumnya. Berbeda dengan seni lain, misalnya seni musik dan seni lukis
yang mediumnya netral, dalam arti belum mempunyai arti, sastra (seni sastra) mediumnya
(bahasa) sudah mempunyai arti, sistem dan konvensi.

Dalam sastra ada jenis-jenis (genre) dan ragam-ragam ; jenis sastra prosa dan puisi.
Tiap ragam itu merupakan sistem yang mempunyai konvensi-konvensi sendiri. 2 Genre
puisi merupakan sistem tanda yang mempunyai satuan-satuan tanda yang minimal seperti

1 Suroso, Teori Metode dan Aplikasi Kritik Sastra (Yogyakarta: Elmatera Publishing, 2009)
2Jabrohim, Teori Penelitian Sastra (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012)

JILSA
ISSN: 2615-1952 ǀ Vol. 6, No. 1, April 2022 ǀ 22-35
JILSA: Jurnal Ilmu Linguistik & Sastra Arab | 23

kosakata, bahasa kiasan; personifikasi, simile, metafora, dan metomini. Tanda-tanda itu
mempunyai makna berdasarkan konvensi-konvensi dalam sastra. Di antara konvensi-
konvensi puisi adalah konvensi kebahasaan; bahasa kiasan, sarana retorika, dan gaya
bahasa pada umumnya. Ada pula konvensi visual; bait, baris sajak, sajak (rima), dan
tipografi. Konvensi kepuitisan sajak tersebut dalam linguistik tidak mempunyai arti,
tetapi dalam sastra mempunyai atau mencipta makna.

Secara etimologis, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poeima “membuat” atau
poeisis “pembuatan”, dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Puisi diartikan
membuat dan pembuatan karena lewat puisi, pada dasarnya, seseorang telah menciptakan
suatu dunia tersendiri yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana
tertentu, baik fisik maupun batiniah.

Budiman 3 mengatakan ada beberapa pendapat mengenai puisi dari para ahli.
Horatius mensyaratkan puisi harus indah atau menghibur dan mengajarkan sesuatu.
William Wordsworth memahami puisi sebagai luapan spontan dari perasaan-perasaan
yang kuat “a spontaneous overflow of powerful feelings”. Roman Jakobson menekankan
pada fungsi puitik teks. Sementara itu, Altenbernd menekankan bahwa puisi adalah
pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran dalam berirama (bermetrum). Carlyle
berkata, puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal dengan orkestra bunyi. 4
Definisi-definisi tersebut memberikan gambaran bahwa puisi memiliki tiga unsur pokok,
yaitu: pemikiran/emosi, bentuk, dan kesan yang kesemuanya terungkap dalam bahasa. 5

Di dalam bahasa Arab, syair disamakan dengan puisi yang mempunyai unsur-unsur
yang sama juga, yaitu:

1. Dari segi maknanya, diambilkan dari daya cipta yang didukung oleh suatu
khayalan, dan keinginan untuk menyampaikan maksud yang berlapiskan seni dan
keindahan sastra
2. Dari segi kata-katanya, dipilihkan kata-kata yang tepat dengan hati dan pikiran, di
samping mengandung unsur-unsur musik dalam bahar-bahar tertentu.
3. Dari segi cara penyusunannya, terikat degan wazan tertentu, dengan sajak tertentu
pula.

Dengan demikian, puisi terdiri dari benda-benda visual, serta sifat-sifat tertentu,
karena itu puisi bisa hanya terdiri dari satu bait (as-Shodru dan al-‘Ajhu) saja, bisa jadi 2
atau tiga bait, dan bahkan lebih dari itu, tergantung penulisannya dan juga tergantung

3Melani Budianta dkk. Membaca Sastra (Pengantar Memahami Sastra Untuk Perguruan Tinggi).
Megelang: Indonesiatera, 2002), 39 – 40.
4Ahmad Shahnon, Penglibatan dalam Puisi (Kuala Lumpur: Utusan Publication & Distributors SDN.
BHD, 1978), 3.
5
Rachmat Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2000), 7.

JILSA
ISSN: 2615-1952 ǀ Vol. 6, No. 1, April 2022 ǀ 22-35
JILSA: Jurnal Ilmu Linguistik & Sastra Arab | 24

pada apa yang dibicarakan, serta tujuannya. Tujuan itu bisa bermacam-macam, seperti
untuk menyatakan kebanggaan, membuat sindiran, rayuan, pujian, penghinaan, ratapan,
celaan, menyamapaikan kata-kata hikmah dan lain-lain.6

Berkaitan dengan analisis sastra berbentuk puisi, di lingkungan akademis, salah


sastu cara pandang baru dalam memahami puisi adalah melalui semiotik Riffaterre seperti
yang tertuang dalam karyanya Semiotics of Poetry (1978). Riffaterre mengikatkan
gagasannya pada dua aksioma, bahwa makna puisi adalah makna yang tidak langsung (a
poem says one thing and means another) dan ciri utama puisi adalah kesatuannya (The
characteristic feature of the poem is its unity). 7 Kesatuan makna puisi bersifat terbatas,
entitas yang pendek dari teks tersebut, karenanya pendekatan yang paling cocok untuk
memahami puisi adalah semiotik dibanding dengan linguistik (that the unit of meaning
peculiar to poetry is the finite, closed entity of the text, and that the most profitable
approach to an understanding of poetic discourse was semiotic rather than linguistic). 8

Lebih lanjut dijelaskan oleh Ratih bahwa ketidaklangsungan ekspresi itu


disebabkan oleh penggantian arti (displacing of meaning), penyimpangan art (distoring
of meaning), dan penciptaan arti (creating of meaning). 9 Penggantian arti disebabkan oleh
metafora dan metonimi. Metafora dan metonimi adalah bahasa kiasan pada umumnya,
yaitu metafora, personifikasi, sinekdoki, dan metonimi. Penyimpangan arti disebabkan
oleh ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense. Penciptaan arti disebabkan oleh
pengorganisasian ruang teks, yaitu enjambemen, sajak, tipografi homologue, dan
sebagainya.

Riffaterre menjelaskan bahwa pembacaan heuristik adalah pembacaan berdasarkan


sistem semiotik tingkat pertama. Pembacaan ini menghasilkan arti (meaning) puisi secara
keseluruhan menurut tata bahasa normatif. 10 Adapun pembacaan hermeneutik atau
retroaktif adalah pembacaan ulang dengan memberikan tafsiran. Pembacaan ini
berdasarkan sistem tanda semiotik tingkat kedua, yang merupakan pembacaan
berdasarkan konvensi sastra.

Masalah yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah: 1) bagaimana pembacaan
heuristik dan hermeneutik dalam syair Ayyuhā al-Nās karya Tamim al-Barghouti; 2)
Bagaimanakah penerapan teori tersebut dalam puisi Arab yang berjudul Ayyuhā al-Nās
karya Tamim al-Barghouti.

6 Syaifuddin Mujtaba’, Gema Ruhani Imam Ghazali (Surabaya: Penerbit Pustaka Progresif, 1993)
7 Michael Riffaterre, Semiotics of Poetry (Bloomington: Indiana University Press, 1978), 1-2.
8
Michael Riffaterre, Semiotics of Poetry (Bloomington: Indiana University Press, 1978), ix.
9 Rina Ratih, Teori dan Aplikasi Semiotik Michael Riffaterre (Yogyakarta: Pustaka Pelajar bekerja sama
dengan Msyarakat Poetika Indonesia, 2016), 95.
10
Rachmat Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2000), 227.

JILSA
ISSN: 2615-1952 ǀ Vol. 6, No. 1, April 2022 ǀ 22-35
JILSA: Jurnal Ilmu Linguistik & Sastra Arab | 25

Tamim al-Barghouti adalah seorang penyair Mesir, kolumnis, dan ilmuan politik
Palestina-Mesir. Tamim al-Barghoouti lahir di Kairo pada tahun 1977. Dia adalah putra
dari penulis dan penyair asal Palestina Mourid al-Barghouti. Pada saat Tamim al-
Barghouti dilahirkan, Mesir sedang melakukan pembicaraan damai dengan Israel yang
mengarah ke kesepakatan Camp David pada tahun 1979. Anwar Sadat yang saat itu
menjabat sebagai presiden Mesir membuang tokoh-tokoh berpengaruh Palestina yang
paling terkemuka di Mesir, termasuk ayah Tamim Mourid al-Barghouti.

Tamim al-Barghoti menulis puisi pertamanya “Allah Yahdina Falastin” ketika dia
berumur 18 tahun, kemudian dia menerbitkan diwan pertamanya yang berjudul “Mijna”
di usianya yang ke-22 tahun dan disusul dengan diwan keduanya yang berjudul el-Munzir
yang diterbitkan pada tahun berikutnya. Pada tahun 1999, Tamim al-Barghouti
memperoleh gelar sarjana dalam ilmu politk dari Fakultas Ekonomi dan Ilmu Politk di
Universitas Kairo, ia kemudian memperoleh gelar master dalam bidang politik dan
hubungan internasional dari Universitas Amerika di Kairo.

Pada malam Invasi Amerika ke Irak pada tahun 2003, dia meninggalkan Mesir
sebagai protes atas posisinya dalam invasi, antara tahun 2003 dan 2004 dia bekerja
sebagai kolumnis di The Daily Star di Libanon, dia menulis tentang sejarah, budaya dan
identitas Arab, dia kemudian bekerja untuk persatuan negara-negara pada Divisi Hak
Palestina bersamaan dengan itu dia berhasil menraih gelar (Ph.D) dalam ilmu politik dari
Universitas Boston pada tahun 2004.

Tamim al-Barrghouti menulis dua puisi yang membuatnya banyak mendapatkan


pujian, yang pertama adalah “Kaluli: Bathab Masr?” (They Askd Me: Apakah Anda
Mencintai Mesir?), dan yang kedua adalah “Maqam ‘Irak”. Pada tahun 2007 dia menulis
puisi yang mendapat pujian kritis yang bejudul “Fi l-Qudsi” yang dibacakan pada acara
kompetisi telivisi Emirat Amir ash-Shu’ara’ (Prince of the Poets). Selain penyair dia juga
mengajar ilmu politik sebagai asisten profesor di Universitas Amerika di Kairo. Sebagian
besar dari isi puisi-puisi di atas merupakan kritik untuk penguasa yang berisi perlawanan
dan suara nyata dari rakyat yang tidak teraspirasikan, termasuk salah satu karyanya yang
berjudul “Ayyuhā al-Nās ”.

Kemudian dari sekian banyak puisi Tamim al-Barghouti, peneliti memilih syiir
berjudul Ayyuhā al-Nās sebagai objek penelitian karena puisi ini banyak menggunakan
bahasa-bahasa kiasan yang ditujukan utuk mengkritik penguasa, disamping itu puisi ini
juga berisi tentang ghirah semangat kepada rakyat dengan menggunakan kalimat-kalimat
perumpamaan. Dalam puisi ini juga Tamim al-Barghouti banyak menggunakan bahasa-
bahasa yang sederhana dan lugas, namun puisinya bukan berarti miskin makna.

JILSA
ISSN: 2615-1952 ǀ Vol. 6, No. 1, April 2022 ǀ 22-35
JILSA: Jurnal Ilmu Linguistik & Sastra Arab | 26

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, yaitu
penelitian yang dilakukan dengan cara menyajikan fakta lalu dianalisis secara sistematis,
sehingga lebih mudah dipahami. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan
semiotika Riffaterre, yaitu pendekatan yang berusaha mengeluarkan makna-makna yang
terkandung dalam teks puisi tersebut lewat tanda-tanda yang ada dalam teks puisi
tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan metode pustaka (library research). Data
primer dalam penilitian ini adalah syair Ayyuhā al-Nās karya Tamim al-Barghouti.

HASIL DAN DISKUSI

Bunyi teks syair Ayyuhā al-Nās karya tamim al-Barghouti adalah sebagai berikut:

‫أﯾﮭﺎ اﻟﻨﺎس أﻧﺘﻢ اﻷﻣﺮاء‬


‫ﺑﻜﻢ اﻷرض واﻟﺴﻤﺎء ﺳﻮاء‬
‫ﯾﺎ ﻧﺠﻮﻣﺎ ﺗﻤﺸﻲ ﻋﻠﻰ ﻗﺪﻣﯿﮭﺎ‬
‫ﻛﻠﻤﺎ أظﻠﻢ اﻟﺰﻣﺎن أﺿﺎء‬
‫ﻗﺪ ﻋﻼ ﻓﻲ أرض اﻹﻣﺎرات ﺻﻮﺗﻲ‬
‫ﻗﺪ ﻋﻼ ﻓﻲ ﺷﺮق اﻟﺠﺰﯾﺮة ﺻﻮﺗﻲ‬
‫ﻣﺎ ﺑﻲ اﻟﻤﺎل ﻻ وﻻ اﻷﺳﻤﺎء‬
‫ﺑﻐﯿﺘﻲ أﻣﺮﻛﻢ ﯾﺮد إﻟﯿﻜﻢ‬
‫ﻓﻠﻜﻢ ﻓﯿﮫ ﺑﯿﻌﺔ وﺑﺮاء‬
‫ﻻ ﯾﺤﻞ ﺑﯿﻨﻜﻢ وﺑﯿﻦ ھﻮاﻛﻢ‬
‫ﻋﻨﺪ اﺑﺮام أﻣﺮﻛﻢ وﻛﻼء‬
‫ﺛﻢ إﻧﻲ أﺣﻜﻲ ﺣﻜﺎﯾﺔ ﻗﻮم‬
‫ﻟﻐﺔ ﷲ ﺧﺒﺰھﻢ واﻟﻤﺎء‬
‫وﺧﻄﺎھﻢ ﻓﻲ اﻷرض ﺗﺮﺳﻢ ﺷﻌﺮا‬
‫ھﺬﺑﺘﮫ اﻟﺴﺮاء واﻟﻀﺮاء‬
‫ﻓﺎذا ﻣﺎ ﻗﻠﻨﺎ اﻟﻘﺼﯿﺪ ﻓﺈﻧّﺎ‬
‫ﻗﺮا ْء‬
ّ ‫ﻟﻠﺬي ﯾﻜﺘﺒﻮﻧﮫ‬
‫واذا ﻣﺎ ﺳﺌﻠﺖ ﻣﻦ ﺷﺎﻋﺮ اﻟﻘﻮم ﻏﺪا ﻗﻠﺖ أﻧﺘﻢ اﻟﺸﻌﺮاء‬
‫وأرى أﺑﻠﻎ اﻟﻘﺼﯿﺪ ﺟﻤﯿﻌﺎ‬
‫أﻧﻨﺎ ﻓﻲ زﻣﺎﻧﻨﺎ أﺣﯿﺎء‬

Analisis Pembacaan Heuristik

‫ أﯾﮭﺎ اﻟﻨﺎس أﻧﺘﻢ اﻷﻣﺮاء‬berarti “wahai manusia, kalian adalah pemimpin”. Seruan yang
ditujukan kepada seluruh manusia di muka bumi.

JILSA
ISSN: 2615-1952 ǀ Vol. 6, No. 1, April 2022 ǀ 22-35
JILSA: Jurnal Ilmu Linguistik & Sastra Arab | 27

‫ﺑﻜﻢ اﻷرض واﻟﺴﻤﺎء ﺳﻮاء‬. “bagimu bumi dan langit sama”. Kalimat tersebut menyatakan
bahwa bagi para pemimpin bumi dan langit sama. Tidak dijelaskan kenapa sang penyair
dalam bait ini menyatakan bahwa bumi dan langit sama.

‫ﯾﺎ ﻧﺠﻮﻣﺎ ﺗﻤﺸﻲ ﻋﻠﻰ ﻗﺪﻣﯿﮭﺎ‬. Dalam kalimat ini penyair mensifati nujum yang berarti
‘gemintang’ dengan kata kerja tamsyi yang berarti ‘berjalan’. Maka bila diartikan menjadi
“wahai gemintang yang berjalan di atas kaki mereka”.

‫ﻛﻠﻤﺎ أظﻠﻢ اﻟﺰﻣﺎن أﺿﺎء‬. “manakala waktu menjadi gelap, berkilat”. dalam kalimat ini
penyair menggunakan satu kata dengan lawan katanya (antonim), yakni kata dholam yang
berarti ‘gelap/kegelapan” dan kata dhou’ yang berarti ‘cahaya/bercahaya’. Tidak
dijelaskan maksud dari kalimat ini kenapa menggunakan satu kata dan menyatukan
dengan lawan katanya.

‫ﻗﺪ ﻋﻼ ﻓﻲ أرض اﻹﻣﺎرات ﺻﻮﺗﻲ‬. “sungguh suaraku telah terdengar hingga ke bumi
Emirates”. Kata ‘emirates’ merupakan nama sebuah nama negara yang terletak di barat
daya Asia dan dikelilingi Teluk Oman dan Teluk persia diantara Oman dan Arab Saudi.
Sebuah negara yang ibu kotanya terletak di Abu Dhabi Dubai.

‫ﻗﺪ ﻋﻼ ﻓﻲ ﺷﺮق اﻟﺠﺰﯾﺮة ﺻﻮﺗﻲ‬. “suaraku telah terdengar hingga ujung pulau timur”.
syarqu al-jazirah yang dimaksud dalam kalimat ini adalah Arab saudi karena sebagian
besar batas negara Arab Saudi berbatasan dengan Uni Emirat Arab.

‫ﻣﺎ ﺑﻲ اﻟﻤﺎل ﻻ وﻻ اﻷﺳﻤﺎء‬. “aku tidak mempunyai harta serta nama”. Dalam kalimatnya
penyair menyatakan bahwa dia bukanlah siapa-siapa, hanya orang biasa, tanpa harta dan
tanpa jabatan yang tidak memiliki pengaruh besar kepada orang lain.

‫ﺑﻐﯿﺘﻲ أﻣﺮﻛﻢ ﯾﺮد إﻟﯿﻜﻢ‬. “harapanku, titah kalian kembalikan kepada kalian”. ‘titah’adalah
perintah (biasanya dari raja), namun dalam kalimat ini penyair tidak menyebutkan jelas
titah yang dimaksud.

‫ﻓﻠﻜﻢ ﻓﯿﮫ ﺑﯿﻌﺔ وﺑﺮاء‬. “kalian memiliki kesetiaan dan kepolosan”. Penyair dalam hal ini
memuji mereka (manusia) dengan kata bai’atun yang berarti ‘kesetiaan/ikrar setia’ dan
kata baraaun yang berarti ‘polos/berserah diri.

‫ﻻ ﯾﺤﻞ ﺑﯿﻨﻜﻢ وﺑﯿﻦ ھﻮاﻛﻢ‬. halla yahillu berarti menguraikan, membuka, membatalkan,
memisahkan, mengatasi, menyelesaikan, menganalisa. Arti yang dipilih adalah “kalian
tidak bisa memissahkan antara kalian dan keinginan kalian”.

‫ﻋﻨﺪ اﺑﺮام أﻣﺮﻛﻢ وﻛﻼء‬. ibram bentuk masdar dari abrama yubrimu yang berarti
mensahkan, mngesahkan, menyetujui; mengikat; memintal, memilin.

‫ﺛﻢ إﻧﻲ أﺣﻜﻲ ﺣﻜﺎﯾﺔ ﻗﻮم‬. Haka yahki berarti menceritakan, menghubungkan,
mengisahkan. Arti yang dipilih adalah “kemudian aku mengisahkan kisah suatu kaum”.

JILSA
ISSN: 2615-1952 ǀ Vol. 6, No. 1, April 2022 ǀ 22-35
JILSA: Jurnal Ilmu Linguistik & Sastra Arab | 28

‫ﻟﻐﺔ ﷲ ﺧﺒﺰھﻢ واﻟﻤﺎء‬. “bahasa Tuhan adalah roti dan air mereka”. Entah apa yang
dimaksud dalam kalimat yang kontradiktif dengan menghadirkan kata khubzun yang
berarti roti dan kata al-mau yang berarti air yang dihubunggkan dengan lughatu Allah
yang berarti bahasa tuhan.

‫وﺧﻄﺎھﻢ ﻓﻲ اﻷرض ﺗﺮﺳﻢ ﺷﻌﺮا‬. khutwatun berarti langkah, langkah kaki, gerak, tindakan.
“dan langkah kaki mereka melukis sebuah syair”

‫ھﺬﺑﺘﮫ اﻟﺴﺮاء واﻟﻀﺮاء‬. Sarraun berarti kesenang, dharraun berarti kesusahan. “dia
tertipu oleh kesenangan dan kesusahan”.

‫ﻓﺎذا ﻣﺎ ﻗﻠﻨﺎ اﻟﻘﺼﯿﺪ ﻓﺈﻧّﺎ‬. qasiid berarti puisi, sajak, kasidah. “jika kta menyanyika syair,
kita adalah...). kata qulnaa diartikan menyanyikan (melantunkan syair).

‫ﻗﺮا ْء‬
ّ ‫ﻟﻠﺬي ﯾﻜﺘﺒﻮﻧﮫ‬. “... pembaca bagi yang menulisnya). Kata qurraun adalah bentuk
jamak taksir dari kata quraa.

‫واذا ﻣﺎ ﺳﺌﻠﺖ ﻣﻦ ﺷﺎﻋﺮ اﻟﻘﻮم ﻏﺪا ﻗﻠﺖ أﻧﺘﻢ اﻟﺸﻌﺮاء‬. “dan jika esok hari aku ditanya siapa penyair
rakyat, aku akan mengatakan kalianlah penyairnya”. Kata suila merupakan kata kerja
pasif dari asal kata sa-ala yang berarti bertanya.

‫وأرى أﺑﻠﻎ اﻟﻘﺼﯿﺪ ﺟﻤﯿﻌﺎ‬. Araa berarti melihat, mempertunjukkan, mendemonstrasikan,


menampilkan, memamerkan. Ablagha berarti menginformasikan, bercerita tentang,
memberitahukan, melaporkan, mengumumkan. Arti yang dipilih adalah “aku
mempertunjukkan dan bercerita tentang semua syair”.

‫أﻧﻨﺎ ﻓﻲ زﻣﺎﻧﻨﺎ أﺣﯿﺎء‬. “sesungguhnya kita hidup di zaman kita”.

Arti heuristik yang didapat dari teks di atas adalah arti yang masih belum teratur
maknanya dan belum dapat dipahami. Arti tersebut sebagai berikut.

wahai manusia, kalian adalah pemimpin


bagimu bumi dan langit sama
wahai gemintang yang berjalan di atas kaki mereka
manakala waktu menjadi gelap, berkilat
sungguh suaraku telah terdengar hingga ke bumi Emirates
suaraku telah terdengar hingga ujung pulau timur
aku tidak mempunyai harta serta nama
harapanku, titah kalian kembalikan kepada kalian
kalian memiliki kesetiaan dan kepolosan
kalian tidak bisa memissahkan antara kalian dan keinginan kalian
kemudian aku mengisahkan kisah suatu kaum
bahasa Tuhan adalah roti dan air mereka

JILSA
ISSN: 2615-1952 ǀ Vol. 6, No. 1, April 2022 ǀ 22-35
JILSA: Jurnal Ilmu Linguistik & Sastra Arab | 29

dan langkah kaki mereka melukis sebuah syair


dia tertipu oleh kesenangan dan kesusahan
jika kita menyanyika syair, kita adalah...
... pembaca bagi yang menulisnya
dan jika esok hari aku ditanya siapa penyair rakyat, aku akan mengatakan kalianlah
penyairnya
aku mempertunjukkan dan bercerita tentang semua syair
sesungguhnya kita hidup di zaman kita

Pembacaan Heuristik

Pembacaan heuristik adalah pembacaan yang bermuara pada ditemukannya satuan


makna puisi secara utuh dan terpadu. Pembacaan heuristik adalah pembacaan karya sastra
berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua atau berdasarkan konvensi sastranya. 11
Sebagaimana telah ditegaskan pada pemahaman teori semiotik Riffaterre di atas bahwa
makna yang didapat dari hasil pembacaan level pertama,heuristik, belum memadahi
karena belum memberikan sebuah pemahaman yang memusat yang menggambarkan
sebuah kesatuan struktur.

Puisi harus dipahami sebagai sebuah satuan yang bersifat struktural yang tersusun
dari berbagai unsur kebahasaan. Oleh sebab itu, pembacaan hermeneutik pun dilakukan
secara struktural. Artinya, pembacaan itu bergerak dari satu bagian ke keseluruhan dan
kembali ke bagian yang lain dan seterusnya. Pembacaan heuristik dilakukan secara
struktural. Menurut Riffaterre dilakukan bergerak bolak-balik dari bagian ke keseluruhan
dan kembali ke bagian yang lain dan seterusnya. 12

Kajian puisi dalam puisi Ayyuhā al-Nās karya Tamim al-Barghouti


menggambarkan sebuah kritikan kepada penguasa dan disisi lain dalam puisinya dia
banyak memberikan semangat kepada rakyat sebagai penikmat syairnya. Dalam puisinya,
banyak mengandung perumpamaan-perumpamaan yang menggambarkan kehidupan
rakyat yang tertindas oleh pemimpin yang dholim, tidak berhenti disitu, puisi ini juga
banyak memberikan pujian-pujian kepada rakyat untuk melakukan perlawanan kepada
pemimpin yang dholim dengan ghirah semangat yang membara.

Pada bait pertama dalam puisi ini “wahai manusia, kalian adalah pemimpin,
bagimu bumi dan langit sama”, merupakan pujian pertama yang diberika oleh penyair
kepada rakyat yang meganggap bahwa rakyat adalah pemimpin yang sesungguhnya,
disusul dengan pujian berikutnya yang mengatakan bahwa bagi mereka (pemimpin),
bumi dan langit tidak berbeda (sama), artinya adalah bahwa seorang pemimpin

11
Rachmat Djoko Pradopo, Prinsip-Prinsip Kritik Sastra (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,
2011), 227.
12
Faruk. “Aku dalam dalam Semiotik Riffaterre”. Jurnal Humaniora III/1996, hlm. 29

JILSA
ISSN: 2615-1952 ǀ Vol. 6, No. 1, April 2022 ǀ 22-35
JILSA: Jurnal Ilmu Linguistik & Sastra Arab | 30

mempunyai kebijakan paling tinggi untuk mereka yang berkedudukan tinggi ataupun
rendah.

Pada bait kedua yang berbunyi ” wahai gemintang yang berjalan di atas kaki
mereka, manakala waktu menjadi gelap, berkilat”, pada bait ini menggambarkan
kemuliaan mereka (pemimpin) diibaratkan dengan bintang-gemintang yang berjalan
(mengelilingi) langkah kaki mereka yang dapat menerangi pada waktu gelap, artinya
adalah seharusnya sebagai pemimpin dapat menjadi tauladan baik bagi rakyatnya maka
langkah kaki mereka akan senantiasa terang berkilau meski dalam gelapnya malam.

Selanjutnya dalam bait ketiga yang berbunyi “sungguh suaraku telah terdengar
hingga ke bumi Emirates, suaraku telah terdengar hingga ujung pulau timur”, penyair
dalam bait ini menyampaikan bahwa dia telah banyak memberikan kritik kepada
penguasa, Emirates dalam syair ini dijadikan sebuah simbol yang berarti sebuah negara
yang mempunyai gedung-gedung yang menembus cakrawala yang salah satunya adalah
gedung burj khalifa merupakan menara tertinggi di dunia, kemudian penyair
menambahkan bahwa kritikan yang dia sampaikan telah terdengar hingga ujung pulau
bagian timur yang dimaksud adalah Arab Saudi, diketahui bahwa sebagian besar batas
negara Arab Saudi berbatasan dengan Uni Emirat Arab.

Puisi pada bait keempat yang berbunyi “aku tidak mempunyai harta serta nama
harapanku, titah kalian kembalikan kepada kalian”, pada bait kelima ini merupakan
sebuah pernyataan bahwa sosok seorang penyair bukanlah siapa-siapa, tanpa pangkat
yang tinggi dan harta yang berlimpah, penyair hanyalah sosok biasa yang membela rakyat
dengan menjadi penyambung lidah rakyat dengan syair-syairnya. Selanjutnya penyair
menyampaikan bahwa semua keputusan ada pada mereka (rakyat), apakah mereka akan
tunduk kepada pemimpin yang dholim atau menyatukan barisan untuk melakukan
perlawanan.

Bait kelima yang berbunyi “kalian memiliki kesetiaan dan kepolosan, kalian tidak
bisa memissahkan antara kalian dan keinginan kalian”, bagi penyair rakyat biasa
tetaplah rakyat yang tidak banyak mengetahui hal-hal yang tabu, kepolosan mereka
dimanfaatkan oleh penguasa, hingga bahkan mereka (rakyat) biasa tidak bisa
memisahkan antara alturisme dan egoisme mereka sendiri.

Selanjutnya pada bait keenam yang berbunyi “kemudian aku mengisahkan kisah
suatu kaum, bahasa Tuhan adalah roti dan air mereka”, bait ini merupakan sindiran
kepada mereka (rakyat) yang akal pikirannya telah diperbudak penguasa dengan sebuah
pernyataan “bahasa tuhan adalah roti dan air (bagi) mereka”, artinya adalah mereka
tunduk dan patuh kepada pemimpin yang memberikan kehidupan yang layak (roti dan
air) bagi mereka, sekalipun pimimpin itu dholim.

JILSA
ISSN: 2615-1952 ǀ Vol. 6, No. 1, April 2022 ǀ 22-35
JILSA: Jurnal Ilmu Linguistik & Sastra Arab | 31

Pada bait ketujuh yang berbunyi dan “langkah kaki mereka melukis sebuah syair,
dia tertipu oleh kesenangan dan kesusahan”, artinya adalah setiap tindakan yang
dilakukan oleh rakyat merupakan sebuah harapan besar akan masa depan negerinya,
namun sayangnya mereka (rakyat) telah tertipu daya akan kenyamanan yang diberikan
kepada mereka dan kesenangan melihat kesusahan yang dialami rakyat lain.

Bait kedelapan yang berbunyi “jika kita menyanyika syair, kita adalah pembaca
bagi yang menulisnya”, memeberikan arti bahwa puisi atau dalam bahasa Arab syair
baginya adalah media yang terbukti dapat menjadikan teliga-telinga para pemimpin panas
saat mendengarnya, dengan permainan kata-kata yang singkat namun luas maknanya.

Pada bait kesembilan yang berbunyi “dan jika esok hari aku ditanya siapa penyair
rakyat, aku akan mengatakan kalianlah penyairnya”, berarti bahwa setelah ini akan
banyak tumbuh penyair-penyair yang dapat menjadi penyambung lidah rakyat yang akan
terus berjuang membela mereka dengan lantunan syair-syairnya, disisilain dalam bait ini
ada sebuah harapan besar bahwa penyair-penyair yang akan tumbuh selanjutnya dari
golongan mereka (rakyat).

Selanjutnya pada bait terakhir yang berbunyi “aku mempertunjukkan dan bercerita
tentang semua syair, sesungguhnya kita hidup di zaman kita”, menyatakan bahwa para
penyair selalu melantukan syairnya sesuai dengan zamannya, artinya adalah setiap
masyarakat akan memiliki permasalahan yang berbeda, beda zaman (masa) berbeda pula
permasalahan yang akan dihadapi.

Pemaknaan dengan mengungkap hipogram potensial ini belum memberikan


pemahaman yang komprehensif, meskipun sudah memberikan beberapa kejelasan
dibanding dengan pembacaan heuristik. Pada analisis hipogram potensial ini juga masih
ditemukan beberapa gagasan yang bersifat oposisional, kontradiksi dalam
ekuivalensinya. Yaitu:

Lafal asli Makna


al-ardlu >< al-Samau Langit >< bumi
al-dlolamu >< al-dlou’ Gelap >< terang
bai’atun >< baraun Kesetiaan >< kepasrahan
al-sarrau >< al-dlorrou Kesenangan >< kesusahan

Untuk mendapatkan makna yang komprehensif dan mencerminkan kesatuan


struktur puisi dan juga memahami hubungann-hubungan yang oposisional dalam puisi,
maka diperlukan pencarian matrik sebagai pusat makna puisi.

JILSA
ISSN: 2615-1952 ǀ Vol. 6, No. 1, April 2022 ǀ 22-35
JILSA: Jurnal Ilmu Linguistik & Sastra Arab | 32

Model dan Matriks

Pada tahap pembacaan hermeneutik yang telah dipaparkan di atas maka


didapatkanlah kesatuan makna keseluruhan dalam puisi karya Tamim al-Barghouti.
Dalam puisi ini terdapat makna yang terbangun dari penyair yang menyatakan bahwa
rakyat adalah pemimpin bagi dirinya sendiri dan merekalah pemimpin yang
sesungguhnya, pemimpin adalah dia yang dapat menjadi panutan bagi rakyatnya yang
dapat memberikan tauladan yang baik, adil, dan bijak dalam mengambil keputusan, al-
Barghoti dalam puisi tersebut memberikan pernyataan bahwa dia hanyalah orang biasa
yang tidak memiliki harta berlimpah dan pangkat yang tinggi namun dia dapat
mempengaruhi rakyat dengan syair-syairnya. Tidak berhenti disitu, Tamim al-Barghouti
turut menyidir mereka (rakyat) yang menjadi penjilat para penguasa yang melakukan
berbagai cara agar mereka hidup layak dengan makanan dan minuman yang serba mewah
tanpa menghiraukan rakyat lain yang dirugikan.

Puisi Ayyuhā al-Nās karya Tamim al-barghouti tersebut tentu belumlah


sepenuhnya utuh sebagai satuan makna yang menjadi pusatnya. Hal ini disebabkan belum
ditemukannya model dan matriksnya. Model merupakan aktualisasi pertama dari matriks.
Aktualisasi pertama dari matriks ini berupa kata atau kalimat tertentu yang khas dan
puitis. Kekhasan dan kepuitisan model itu mampu membedakan kata atau kalimat-kalimat
lain dalam puisi tersebut.

Hemat penulis, model pertma dalam puisi ini ada dalam kalimat “wahai manusia,
kalian adalah pemimpin”. Kalimat ini menunjukkan bahwa manusia adalah pemimpin
bagi diri mereka sendiri, sebagaimana pemimpin, harus mununjukkan perilaku yang baik
untuk menjadi tauladan seta adil dan bijaksana dalam menagmbil sebuah keputusan.

Selanjutnya model kedua terdapat pada kalimat “aku tidak mempunyai harta serta
nama” kalimat ini menunjukkan bahwa pemimpin tidaklah harus mempunyai harta yang
berlimpah dan kedudukan yang tinggi, karena sejatinya pemimpin adalah dia yang
mempunyai pengaruh besar kepada orang lain.

Adapun model ketiga terdapat pada kalimat “kalian tidak bisa memissahkan antara
kalian dan keinginan kalian” pada kalimat ini menunjukkan bahwa manusia dihadapkan
pada dau kepentingan, pertema kepentingan bersama, kedua kepentingan diri sendiri,
seorang pemimpin seyogiyanya lebih mendahulukan kepentingan bersama dibanding
kepentingan pribadi atau diri sendiri.

Sosok pemimpin yang digambarkan dalam puisi yang dikemukakan oleh Tamim
al-Barghouti ini merupakan pemimpin sejati. Adil dan bijak dalam mengambil
keputusan, mendahulukan kepentingan dan kesejahteraan rakyat maka setiap langkahnya
akan senantiasa terang benderang meski dalam kegelapan malam. Begitupun dengan
rakyat yang baik adalah rakyat yang tidak hanya memikirkan kesenangan diri sendiri, hal

JILSA
ISSN: 2615-1952 ǀ Vol. 6, No. 1, April 2022 ǀ 22-35
JILSA: Jurnal Ilmu Linguistik & Sastra Arab | 33

ini diaktualisasikan dengan kata “penjilat” yang terdapat dalam potongan bait dalam syair
ini yang berbunyi “bagi mereka bahasa Tuhan adalah roti dan air (bagi) mereka)”. Dapat
ditemukan juga harapan kepada rakyat dalam puisi ini yang berbunyi “dan jika esok hari
aku ditanya siapa penyair rakyat, aku akan mengatakan kalianlah penyairnya”. Tamim al-
Barghouti dalam kalimat ini berharap akan tumbuh dari golongan mereka seorang yang
menjadi penyambung lidah rakyat yang membela serta mempertahankan hak-hak dan
martabat rakyat.

Hubungan Aktual

Untuk memberikan makna yang lebih penuh dalam pemaknaan sastra, sebuah karya
sastra perlu disejajarkan dengan karya sastra lain yang menjadi hipogram atau latar
belakang penciptaannya. Menurut Riffaterre sebagaimana dikutip dalam Teeuw, sebuah
sajak (karya sastra) itu merupakan respon karya sastra lain (Teeuw, 1983). 13 Puisi ini
memberikan suatu hubungan dengan teks lain, ini berarti bahwa teks yang mengisi puisi
ini mengandung unsur kesamaan dengan teks lain. Dengan demikian, sebuah karya sastra
akan menjadi utuh dipahami dalam kaitannya dengan teks-teks yang lain. Antara teks
puisi yang dikemukakan oleh Tamim al-Barghouti dengan beberapa ayat al-Qur’an yang
menjelaskan tentang karakter seorang pemimpin.

Ada dua jenis pemimpin yang digambarkan al-Quran secara garis besar. Pertama
pemimpin yang mengajak umatnya ke jalan yang tidak benar, hal ini terdapat dalam al-
Qur’an surah al-Qashas ayat 41 yang berbbunyi “dan kami jadikan diantara umat
manusia itu pemimpin-pemimpin yang mengajak umatnya ke dalam api neraka”, coontoh
pemimpin yang mengajak ke dalam api neraka seperti Firaun, Namrud, Abu Jahal, dan
Abu Lahab.

Adapun jenis pemimpin yang kedua adalah pemimpin yang senantiasa mengajak
umatnya kepada agama yang benar, hal ini digambarkan dalam dua ayat. Pertama surah
as-Sajadah ayat 24 yang menjelaskan tiga karakter pemimpin. Allah berfirman “kami
jadikan manusia itu ada pemimpin yang punya karakter mengajak umatnya terhadap
agama kami yang benar dan jalan yang lurus” , pemimpin seperti ini pundaknya
mengemban amar makruf nahi mungkar, kata-kata yang keluar dari mulutnya dan yang
keluar dari pikirannya selalu amar makruf nahi mungkar.

Kemudian jenis pemimpin menurut surah al-Anbiya’ ayat 73 yang senantiasa


mengajak umatnya menuju surga-Nya, Allah swt berfirman: “kami telah menjadikan
mereka itu sebagian pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami
dan telah kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat,
menunaikan zakat dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah”. Sosok

13 A. Teeuw, Membaca dan Menialai Sastra. (Jakarta: PT. Gramedia, 1983)

JILSA
ISSN: 2615-1952 ǀ Vol. 6, No. 1, April 2022 ǀ 22-35
JILSA: Jurnal Ilmu Linguistik & Sastra Arab | 34

pemimpin dalam ayat ini memiliki jiwa yang adil. Artinya pemimpin yang selalu
mengutamakan rakyatnya ketimbang dirinya dan kelompoknya, pemimpin yang seperti
ini juga memiliki ubudiyah yang baik.

Rasulullah saw. Bersabda dalam hadithnya: “ketahuilah setiap kalian adalah


pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dia
pimpin. Maka pemimpin yang memimpin manusia dia bertanggung jawab atas rakyatnya.
Dan ornag yang memimpin atas keluarganya, maka dia bertanggung jawab atas mereka
(keluarganya), dan wanita pemimpin (pengawas) dalam rumah suami dan anak-anaknya
dan dia bertanggung jawab atas mereka. Dan hamba sahaya pemimpin (pengawas) pada
harta tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya. Dan setiap pemimpin akan dimintai
pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya”. (Muttafaqun ‘alaih).

Hadith di atas merupakan sebuah rambu-rambu bagi setiap orang atas apa-apa yang
diperbuatnya terhadap hal-hal yang memiliki kuasa serta tanggung jawab dalam
memimpin, mengatur, bahkan menguasai. Ini menunjukkan bahwa setiap manusia
memiliki wewenang mangemban tugas amanah yang Allah berikan kepada manusia,

KESIMPULAN

Karya sastra tidak hanya berarti sebuah kata-kata saja melainkan dibalik kata-kata
mengandung makna yang sangat dalam, sehingga menjadikan karya sasta itu memiliki
nilai lebih. Pada pembacaan heuristik didapatkan arti bahwa manusia adalah pemimpin
bagi diri mereka sendiri, sebagaimana pemimpin, harus mununjukkan perilaku yang baik
untuk menjadi tauladan seta adil dan bijaksana dalam menagmbil sebuah keputusan.

Sebagaimana model merupakan aktualisasi pertama dari matriks. Aktualisasi


pertama dari matriks ini berupa kata atau kalimat tertentu yang mewakili seluruh isi teks.
Dalam hal ini puisi tersebut di atas mempunyai susunan kalimat tidak langsung yang
didalamnya banyak menyimpan kamna tersirat, seperti model pertama yang berbunyi
“wahai manusia, kalian adalah pemimpin”, selanjutnya model kedua yang terdapat pada
kalimat “aku tidak mempunyai harta serta nama”, dan model terakhir yang terdapat dalam
kalimat kalian tidak bisa memissahkan antara kalian dan keinginan kalian”, dan dalam
puisi tersebut juga terdapat beberapa gagasan yang bersifat oposisional.

Matriks dalam puisi ini adalah karakter seorang pemimpin, adapun pada hubungan
intertekstual, puisi yang dikemukakan oleh Tamim al-Barghouti terdapat kesamaan
dengan aya al-Qur’an dan hadith Nabi.

JILSA
ISSN: 2615-1952 ǀ Vol. 6, No. 1, April 2022 ǀ 22-35
JILSA: Jurnal Ilmu Linguistik & Sastra Arab | 35

REFERENSI

Aminuddin. (1991). Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Harapan.

Budianta, Melani dkk. (2002). Membaca Sastra (Pengantar Memahami Sastra Untuk
Perguruan Tinggi). Megelang: Indonesiatera.

Faruk. “Aku dalam dalam Semiotik Riffaterre”. Jurnal Humaniora III/1996.

Jabrohim. (2012). Teori Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mujtaba’, Syaifuddin. (1993). Gema Ruhani Imam Ghazali. Surabaya: Penerbit Pustaka
Progresif.

Pradopo, Rachmat Djoko. (2000). Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada


University Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. (2009). Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan
Aplikasinya, Cet. Ke VI. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pradopo, Rachmat Djoko. (2011). Prinsip-prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta: Gadjah


Mada University Press.

Ratih, Rina. (2016) Teori dan Aplikasi Semiotik Michael Riffaterre. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar bekerja sama dengan Msyarakat Poetika Indonesia.

Riffaterre, Michael. (1978). Semiotics of Poetry. Bloomington: Indiana University Press.

Shahnon, Ahmad. (1978). Penglibatan dalam Puisi. Kuala Lumpur: Utusan Publication
& Distributors SDN. BHD.

Suroso. (2009) Teori Metode dan Aplikasi Kritik Sastra. Yogyakarta: Elmatera
Publishing.

Teeuw, A. (1983). Membaca dan Menialai Sastra. Jakarta: PT. Gramedia.

JILSA
ISSN: 2615-1952 ǀ Vol. 6, No. 1, April 2022 ǀ 22-35

Anda mungkin juga menyukai