BAB II
LANDASAN TEORI
A. Problem Solving
1. Pengertian Problem Solving
Secara umum Problem/masalah diartikan sebagai
kesenjangan antara harapan dan realitas yang ditemukan.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia masalah
merupakan hal yang perlu diatasi.1 Dalam buku yang
berjudul ”Problem Solving And Decision Making For
Improvement”, mendefinisikan bahwa Problem merupakan
sesuatu yang mendorong seseorang agar melakukan suatu
hal. Ketika ada sesuatu hal yang terjadi, namun individu
tidak tergerak untuk melakukan sesuatu, berarti itu bukan
masalah dari individu tersebut. Sebaliknya, jika sesuatu hal
terjadi dan seseorang individu tergerak untuk melakukan
1
Qanita Alya, (2009). ”Kamus Bahasa Indonesia”. Bandung : PT
Indah Jaya Adipratama.. Hlm 459
sesuatu, berarti itu merupakan masalah bagi individu
tersebut.2
Problem diartikan dengan ketidaksesuaian antara
teori dan praktek, kesenjangan atau ketidaksesuaian antara
harapan dengan realita, atau sering juga disebut sebagai
ketidakseimbangan antara das sollen (segala sesuatu yang
mengharuskan manusia untuk berpikir dan bersikap) dan
das sien (keadaan sebenarnya atau realita yang terjadi).3
Dari beberapa defenisi yang telah disajikan dapat
disimpulkan bahwa problem adalah situasi yang tidak
diinginkan oleh individu, karena terjadi ketidakcocokan
antara harapan dan kenyataan.
Secara umum problem merujuk pada situasi dimana
terjadi konflik antara dua kondisi yang berbeda dalam
rangka mencapai tujuan. Menurut istilah problem solving
merupakan proses untuk menyelesaikan suatu masalah
atau insiden dengan mencoba memilih diantara beberapa
2
Berny Gomulya, (2015). “Problem Solving And Decision Making
For Improvement”. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. Hlm 1.
3
Hasnun Jauhari, (2015). ”Manajemen Organisasi: Pengantar Teori
dan Praktek”. Medan : Perdana Publishing. Hlm 124.
opsi ataupun alternatif yang mendekati sasaran yang
diinginkan.4
Problem merupakan situasi apapun yang
menghadirkan tantangan, peluang ataupun masalah.
Solving adalah menemukan cara untuk menjawab,
bertemu, atau memecahkan masalah. Solving segera
dihubungkan dengan problem, yaitu mencari cara untuk
menjawab, untuk bertemu, untuk memenuhi suatu keadaan
dengan mengubah diri sendiri atau keadaan.5
Problem solving secara bahasa berasal dari dua kata
yaitu “ Problem dan Solves. Makna bahasa dari problem
yaitu “A thing that is difficult to deal with understand”
(suatu hal yang sulit untuk melakukannya atau
memahaminya). Jika diartikan ‘A question to be answered
or solve” (pertanyaan yang butuh jawaban atau jalan
4
Dina Fariza T.S, Fatchurrahman, Karyanti. (2019). ”Teknik Kreatif
Problem Solving”. Yogyakarta: K-Media. Hlm 1-75
5
Tarmizi. (2013). ”Problem Solving dalam Perspektif Bimbingan dan
Konseling Islami”, Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, dipublikasi tanggal 1 Januari
2013, dalam [Link] Diakses pada Sabtu 3
September 2022. Pukul 13.53 Wib
keluar). Kata solve dapat diartikan “To find to answer to
problem”(mencari jawaban suatu masalah).
Problem solving diartikan juga dengan pengambilan
keputusan. Hal ini dapat diamati melalui pimpinan atau
kelompok yang sedang berhadapan dengan masalah
dituntut untuk mencari solusi atau mengambil keputusan
dari masalah yang sedang dihadapi.6 Selain pendapat
diatas terdapat pendapat lain yang mengatakan bahwa
problem solving ialah bagian dari proses berpikir yang
berupa keterampilan dalam memecahkan suatu perkara.
Istilah problem solving digunakan sering digunakan dalam
bidang psikologi kognitif untuk merujuk pada segala
bentuk kesadaran.7
Selain itu, Problem solving didefenisikan sebagai
kegiatan yang terkait dengan penyelesaian sebuah cara
yang pas untuk mengubah suatu keadaan yang diinginkan.
Artinya dalam setiap pemecahan masalah, dibutuhkan
6
Mhd Eko Nanda Siregar (2017). ”Problem Solving Dalam Al-Quran
Analisis Tafsir Al-Azhar”. Skripsi Jurusan Manajemen Dakwah.
7
Marzono, (1998). “Dimension Of Thinking: A Framework For
Curriculum and Instruction”. (Viginia: association For and Curriculum
Development,).
sebuah filter dalam menetapkan aturan yang baik untuk
memecahkan masalah tersebut. Dengan cara memilah
beragam permasalahan yang ada maka peneliti akan
dengan mudah dalam melaksanakan sebuah proses
problem solving dari berbagai permasalahan yang sedang
dihadapi.8
Jadi dapat disimpulkan bahwa problem solving
merupakan sebuah cara berpikir dengan tujuan yang
terarah untuk mencari jalan keluar dari segala
permasalahan yang sedang dihadapi. Hal tersebut
dilakukan demi memperoleh tujuan yang diharapkan.
Proses pemecahan masalah dapat dilaksanakan dengan
beragam cara tergantung dengan jenis dari masalah,
kemampuan dalam memecahkan masalah dan bagaimana
proses menyelesaikan masalah tersebut.
8
Sulasmono, B. S. (2012). ”Problem Solving: Signifikasi, Pengertian,
dan Ragamnya”. Jurnal Satya Widya. Dipublikasi Desember 2012, dalam
[Link] Diakses pada Minggu 3
September 2022. Hlm 156-165. Pukul 18:53 Wib.
2. Prinsip-prinsip Problem Solving
Prinsip-prinsip problem solving ialah sebagai berikut:
a. Kesuksesan dalam memecahkan masalah mampu
tercapai jika individu diarahkan pada masalah yang
mampu ia pecahkan.
b. Ketika memecahkan masalah, gunakan data atau
keterangan yang ada. Pada saat data yang dipakai
tidak lengkap maka pada proses penyelesaian masalah
akan terjadi kesalahan.
c. Mencari kemungkinan-kemungkinan jalan keluar.
Agar permasalah cepat terselesaikan maka ketika
menghadapi masalah individu haruslah mencari solusi
atas masalah yang sedang di hadapinya.
d. Mengenali masalah harus lebih diutamakan dari pada
memecahkan masalah.
e. Proses penciptaan gagasan baru harus dibedakan dari
proses penilaian gagasan.
f. Ketika situasi pilihan dan situasi masalah tidak
diinginkan maka individu harus mencari ide-ide yang
baru.
g. Akan tetapi situasi masalah terkadang perlu diubah
menjadi posisi pilihan. Tujuan keadaan masalah
merupakan proses menyingkirkan rintangan.
h. Solusi yang diajukan oleh pemimpin kerap dievaluasi
karena kurang faktual.9
Maka dari itu, prinsip-prinsip pada problem solving
atau pemecahan masalah sangatlah penting dan sangatlah
diperlukan, agar masalah dapat diselesaikan dengan baik.
9
Kartono, Kartini. “Bimbingan dan Dasar-Dasar Pelaksanaannya”
(Jakarta: CV Rajawali:1985). Hlm 142-143
3. Aspek-Aspek Problem Solving
Dalam menyelesaikan suatu masalah tentunya
memerlukan pemikiran yang terarah agar mampu
menemukan jalan keluar dari suatu permasalahan. Maka,
diperlukan aspek-aspek yang mendukung untuk
menyelesaikan permasalahan. Aspek-aspek problem
solving antara lain adalah:
a. Menganalisa kemungkinan penyebab dan asumsi. Pada
aspek yang pertama ini menyebutkan bahwa
menganalisa kemungkinan penyebab dan asumsi
merupakan aspek yang pertama dalam proses Problem
solving, artinya sebelum menyelesaikan masalah
individu harus terlebih dahulu menganalisa penyebab
dari sebuah masalah.
b. Mengidentifikasi solusi. Individu yang sudah
mengetahui apa penyebab dari sebuah masalah pasti
akan mencari sebuah solusi, proses itulah yang disebut
dengan mengidentifikasi solusi.
c. Memilih solusi terbaik. Setelah menemukan beberapa
solusi individu harus memilih kembali kira-kira solusi
mana yang terbaik.
d. Implementasi solusi, setelah menganalisis masalah
kemudian mengidentifikasi solusi serta memilih solusi
yang terbaik, tahap untuk untuk memecahkan masalah
selanjutnya adalah dengan cara menerapkan solusi
yang telah dipilih terhadap permasalahan yang sedang
dihadapi.
e. langkah terakhir dalam proses Problem solving ialah
evaluasi dan revisi. dimana individu yang telah
menerapkan solusi yang terbaik juga harus
mengevaluasi serta merevisi apa yang telah ia lakukan.
10
10
Barkman, S., & Machtmes, K. (2002). “ Solving problems survey.
Youth Life Skill Evaluation Project at Penn State. CYFAR Life Skills Project at
Texas A&M [Link].” Diakses pada Sabtu 07 Januari 2023, Pukul
8.16 Wib
4. Langkah-langkah Penyelesaian Masalah
Terdapat tiga cara utama untuk memecahkan suatu
masalah, adpaun langkah-langkahnya adalah sebagai
berikut:
a. Representasi masalah, pada intinya tahap ini ialah
memuat interpretasi pemecahan masalah.
b. Membangun dan memilih solusi, ketika gambaran
masalah telah diketahui, maka langkah selanjutnya
ialah menemukan suatu solusi untuk mengurangi
serta mengeliminasi penyebab dari sebuah masalah.
c. Memantau dan mengkritik tujuan-tujuan dan solusi.
Setelah ditemukannya solusi untuk memecahkan
sebuah masalah, maka untuk menyelesaikan masalah
pada tahap selanjutnya ialah memonitor serta
mengevaluasi tujuan dari solusi yang di dapatkan.11
11
Ge & Land. (2004). ”Scaffolding Studens’ Problem-Solving
processes in an III-Structured task using question prompts and peer
interactions”, Jurnal article in Educational Technology Research and
Development. Dipublikasi Maret 2003, dalam
[Link] Diakses pada Sabtu, 1
September 2022. Hlm 21-37. Pukul 14.07 Wib
Setiap jenis permasalahan memiliki rangkaian
penyelesaian yang berbeda-beda. Ketika memecahkan
masalah perlu dilakukan pemilihan inti masalah dan
tujuan-tujuan dalam proses penggambaran masalah.
Sedangkan menurut Polya terdapat beberapa
tahapan dalam penyelesaian masalah. Fase-fase tersebut
adalah tahap menguasai masalah, merancang solusi,
mengatasi masalah sesuai dengan rencana dan melakukan
pengecekan kembali langkah-langkah yang telah
dilakukan sebelumnya. Tanpa memahami masalah,
manusia tidak akan menyelesaikan masalah dengan baik.
Setelah pada tahap memahami masalah maka akan
sampai pada tahap merencanakan penyelesaian masalah.
Pada tahap merencanakan masalah ini sangatlah
bergantung pada pengalaman pada setiap individu,
semakin banyak pengalaman manusia maka akan
semakin pandai ia dalam menyelesaikan masalah. Setelah
selesai pada tahap kedua maka tahap yang ketiga ialah
mengatasi masalah sesuai dengan rencana, dan yang
terakhir ialah melaksanakan validasi terhadap apa yang
sudah dilakukan.12
5. Teknik Pengambilan Keputusan dalam Problem
Solving
Teknik pengambilan keputusan dalam problem
solving haruslah memiliki keterampilan tersendiri. Teknik
pengambilan keputusan merupakan suatu seni dan ilmu
yang haru dimiliki, dicari, digali, dipelajari dan
dikembangkan bagi setiap orang. Saat pengambilan
keputusan diperlukan kecermatan dan ketepatan agar tidak
terjadi kesalahan. Adapun langkah-langkah pengambilan
keputusan dalam problem solving ialah sebagai berikut:
a. Pengumpulan fakta,data dan informasi. Pengumpulan
fakta, data dan informasi merupakan kegiatan awal
dalam mengidentifikasi suatu permasalahan. Ketika
fakta, data dan informasi telah dikumpulkan maka,
masalah sudah bisa didefenisikan dengan baik.
12
Polya, “How to Solve It: A New Aspect of Mathematics Method”
(New Jersey: Princeton University Press, 1971)
Pengumpulan fakta, data dan informasi bertujuan
sebagai dasar untuk mengetahui penyebab dari suatu
permasalahan.
b. Menemukan berbagai alternatif tindakan yang nyata.
Setelah mengetahui penyebab dan akar permasalahan,
tahap selanjutnya adalah tahap merancang solusi
berupa seleksi pemecahan masalah. Perancangan solusi
atau alternatif tindakan dirancang berdasarkan fakta,
data dan informasi yang telah dikumpulkan.
c. Memilih atau menentukan opsi tindakan yang ada.
Ketika perancangan solusi telah selesai, maka langkah
selanjutnya adalah memilih alternatif mana yang paling
sesuai untuk memecahkan masalah yang ada. Adapun
alternatif pemecahan masalah yang diambil haruslah
memperhatikan segala resiko yang akan terjadi setelah
hal tersebut dilakukan.
d. Implementasi dan evaluasi. Langkah selanjutnya ialah
mengimplementasikan solusi yang telah dipilih
sebelumnya. Perancangan solusi tidak akan berguna
jika tidak diimplementasikan dan tidak diterapkan.
Setelah diterapkan maka akan ada laporan dan nantinya
akan ada evaluasi. Evaluasi sangat perlu dilakukan
untuk melihat apakah solusi yang diambil benar-benar
bagus untuk diterapkan atau tidak.
e. Berdoa. Ketika semua kegiatan telah dilakukan,
langkah yang terakhir ialah berdoa, dan
menyerahkannya kepada Allah Swt. Hal tersebut
dilakukan agar membuahkan hasil.13
Ketika individu telah mengikuti teknik pengambilan
keputusan dalam problem solving yang dimulai dari
pengumpulan data dan informasi, merancang solusi,
memilih solusi yang terbaik kemudian
pengemplementasian dan evaluasi serta berdoa kepada
Tuhan Yang Maha Esa maka pengambilan keputusan akan
berjalan dengan lancar. Karena pengambilan keputusan
bukanlah sesuatu yang mudah, diperlukan keterampilan
13
Tarmizi (2013). ” Problem Solving dalam Perspektfi Bimbingan
Konseling Islami”. Dipublikasi Juni 2013, dalam
[Link] 75. Diakses Selasa 4 September 2022.
Hlm 87-108. Pukul 14.15 Wib
yang perlu dipelajari, dimiliki, dikembangan pada setiap
diri manusia.
6. Faktor yang Berpengaruh dalam Proses Problem
Solving
Berikut adalah faktor-faktor yang akan
mempengaruhi proses penyelesaian masalah:
a. Motivasi. Ketika individu mempunyai motivasi yang
rendah maka pada saat proses penyelesaian ia akan
mengalihkan pandangan, sedangkan ketika individu
mempunyai motivasi yang tinggi maka akan
membatasi fleksibilitas.
b. Keyakinan dan sikap yang salah. Apabila manusia
terlalu berasumsi bahwa kebahagiaan dapat diraih dari
kekayaan materi maka asumsi tersebut dapat
menyesatkan manusia itu sendiri.
c. Ketidakmampuan untuk berpikir secara inklusif atau
mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda-beda,
serta ketergantungan yang berlebihan pada otoritas
yang lebih tinggi, dapat menghambat efisiensi dalam
pemecahan masalah dan menghasilkan pemikiran yang
kaku.
d. Emosi, tanpa disadari manusia telah terlibat secara
emosional ketika menghadapi berbagai situasi. Emosi
ini ternyata berpengaruh terhadap proses berpikir pada
manusia. Ketika emosi sudah mencapai tingkat yang
sangat tinggi, pada saat itulah manusia tidak berpikir
secara efesien. Akhirnya susah untuk memecahkan
masalah.
e. Takut, pada posisi ini kemungkinan akan ada rasa takut
dalam melebihkan kesulitan permasalahan dan
melahirkan sikap gelisah yang melumpuhkan tindakan,
membuat emosi, cemas, dan kurangnya berpikir,
hingga pada akhirnya tidak mampu memecahkan
masalah.14
Selain faktor-faktor yang telah disebutkan
sebelumnya, masih terdapat beberapa faktor yang
14
Sulasmono, B,S. (2012). ”Problem Solving: Signifikasi, Pengertian, dan
Ragamnya”. Jurnal Satya Widya. Dipublikasi pada Desember 2012, dalam
[Link] Diakses pada 4
September 2022. Hlm 156—165. Pukul 14.37
mempengaruhi proses penyelesaian masalah, antara lain
yaitu adalah faktor biologis seperti terlalu lapar, dan
kurang tidur.15
7. Ragam Masalah
Ada beberapa pandangan mengenai ragam masalah.
Salah satu pendapat para ahli mengidentifikasi bahwa
masalah terbagi menjadi tiga ragam yaitu :
a. Masalah-masalah yang berkenaan dengan
membangun struktur (problems of inducing structure)
b. Masalah perubahan (problems of transformation) dan
c. Masalah penyusunan (problems of arranggement).
Ragam masalah yang pertama merupakan masalah
yang membutuhkan kemampuan pemahaman untuk
mengembangkan pemahaman. Masalah kedua yang
dihadapi adalah masalah transformasi, di mana terdapat
situasi tertentu, tujuan yang harus dicapai, serta
serangkaian prosedur untuk menghasilkan perubahan
15
Lilian Stella P (2021) ”Hubungan Gangguan Tidur dengan Prestasi
Belajar Murid kelas X-XII di SMA Katolik Rajawali Makasar Tahun 2021”
Skripsi Kedokteran Makasar.
situasi. Sedangkan masalah ketiga berkaitan dengan
penataan yaitu masalah yang mengandung beberapa unsur
dan memerlukan pemecah masalah untuk mengatur atau
menata unsur-unsur tersebut sesuai dengan kriteria yang
telah ditentukan.16
Adapun ragam masalah dalam penelitian ini
termasuk pada masalah transformasi yang dimana terdapat
situasi-situasi tertentu yang memiliki tujuan serta
serangkaian rosedur untuk menghasilkan sebuah
perubahan. Perubahan tersebut bisa berbentuk perubahan
situasi, jenis masalah dan lain sebagainya.
B. Narkoba
1. Pengertian Narkoba
Narkoba adalah narkoba narkotika dan obat-obatan
terlarang. Selain itu, juga dikenal dengan istilah NAPZA
yang merupakan singkatan dari narkotika, alkohol,
16
Greno, Jg (1978). “Natures of Problem Solving Abilities In W. K.
Estes (Ed.), Handbook of learning & cognitive processes: V. Human
information”. Dipublikasi 1978, dalam
[Link] Diakses
pada Selasa 6 September 2022. Hlm 239–270. Pukul 19.00 Wib
psikotropika dan zat adiktif lainnya.17 Psikotropika
merupakan zat atau obat bukan narkotika, baik alamiah
maupun sintetik, yang mempunyai sifat psikoaktif melalui
efek selektif pada susunan saraf pusat yang menimbulkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Selain
itu, adapula yang merupakan bahan adiktif adalah bahan
atau zat yang menimbulkan efek psikoaktif di luar
Narkotika dan Psikotropika dan dapat memicu adiksi.18
Undang-undang no. 22 Tahun 1997 tentang narkotika
menyatakan bahwa, narkoba merupakan singkatan dari
narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lainnya. Arti kata
narkoba sering kali dipakai oleh para aparat penegak
hukum seperti polisi, jaksa, hakim, dan petugas
kemasyarakatan. Narkoba juga memiliki sebutan lainnya,
yakni napza. Napza umumnya lebih sering digunakan oleh
17
Aat Syafaat, (2008) “Peranan Pendidikan Agama Islam dalam
Mencegah Kenakalan Remaja” (Jakarta: Raja Grafindo Persada), Hlm 110
18
BNN RI(2018). ”Awas Narkoba Masuk Desa dalam Mewujudkan
Desa Bersih Narkoba” (Jakarta Deputi Bidang Pencegahan BNN RI Direktorat
Advokasi)
tenaga medis dan pengurus rehabilitasi.19 Walaupun
dengan kegunaan yang berbeda akan tetapi napza dan
narkoba merupakan jenis obat-obatan yang terlarang dan
memiliki makna yang sama.20
2. Faktor Penyebab Penyalahguna Narkoba
Adapun faktor-faktor individu yang
menyalahgunakan narkoba pasti berbeda-beda. Berikut ini
akan diuraikan mengenai faktor-faktor apa saja yang
menjadi penyebab penyalahgunaan narkoba.
a. Faktor dari penyalahguna sendiri, maksudnya ialah
orang-orang yang mudah terhasut dengan penyalahguna
narkoba ialah orang yang memiliki psikologi yang labil.
Biasanya mereka ialah remaja, pengangguran atau
seseorang dengan iman yang lemah.
19
Kibtyah, Maryatul. (2015). “Pendekatan Bimbingan Konseling Bagi
Korban Pengguna Narkoba”. Dalam Jurnal Ilmu Dakwah. Dipublikasi pada
Juni 2015, pada [Link]
[Link] Volume 35 Nomor 1. Diakses
pada Senin 1 April 2023 Pukul 22.39 Wib
20
Iriani, Dewi (2015). “Kejahatan Narkoba: Penanggulangan,
Pencegahan dan Penerapan Hukuman Mati” Vol 12 No 2. Dipublikasi Juli
2015 pada [Link]
penanggulangan-pencegahan-dan-penerapan-hukuman-mati. Diakses pada
Kamis 06 Maret 2023 Pukul 05.38 Wib
b. Faktor Pergaulan. Dalam faktor pergaulan ini terbagi
menjadi faktor lingkungan keluarga, pergaulan sekitar
rumah, dan masyarakat. Keluarga berperan penting
dalam sikologis manusia karena keluarga merupakan
tempat pulang oleh sebab itu dibutuhkan komunikasi
yang efektif antar saudara dan diperlukan hubungan
yang harmonis ketika semua itu tidak didapatkan maka
sikologis pada individu akan terganggu. Kemudian
lingkungan sekolah, sekolah sangat berperan penting
dalam mendidik setiap individu yang sedang menjalani
pendidikan ketika peraturan tidak diterapkan maka akan
terjadi sikap semena-mena pada siswa dan tidak akan
mendapatkan pengajaran yang baik. Selain itu sekolah-
sekolah yang dekat dengan tempat hiburan juga agan
menjadi salah satu faktor terjadinya penyimpangan pada
siswa. Setelah faktor lingkungan sekolah maka yang
selanjutnya ialah lingkungan teman sebaya. Orang tua
harus memperhatikan kepada siapa anaknya akan
berteman, ketika mereka berteman dengan
penyalahguna narkoba maka sudah pasti anaknya
termasuk penyalahguna narkoba. Lingkungan
masyarakat juga sangat berperan penting dalam faktor
penyalahguna narkoba. 21
Disamping faktor-faktor tersebut terdapat beberapa
faktor lain penyalahguna narkoba salah satunya adalah
kebodohan, kemiskinan, tekanan dari kelompok sebaya,
kemajuan tekonologi dan ketersediaan. Pesatnya kemajuan
teknologi membuat manusia lebih mudah mengakses
mengenai narkoba dan mengakses perdagangan gelap
narkoba. Akses internet yang mudah didapatkan mengenal
narkoba lebih jauh, sehingga individu mampu memesan,
bahkan melakukan penjualan.22
3. Pecandu Narkoba
Definisi pecandu narkoba dapat dilihat pada Pasal 1
No 14 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang
narkoba yang menyatakan bahwa pecandu narkoba
21
Abdul Majid, (2019). “Bahaya Penyalahguna Narkoba”.
(Semarang, Alprin). Hlm 20-23
22
Sandi, Awet (2016). “Narkoba Dari Tapal Batas Negara”
(Bandung, Mujahidin Press). Hlm 56
merupakan kondisi seseorang yang ditandai dengan
keinginan yang kuat untuk terus menerus menggunakan
narkoba, ketika seseorang berhenti menggunakannya maka
akan menimbulkan gejala dan psikis yang sangat khas.
Maka dapat disimpulkan seseorang dengan kondisi yang
bergantung pada narkoba dapat dikatakan sebagai pecandu
narkoba.23
C. Nilai-Nilai Keagamaan
1. Pengertian Nilai
Dalam kamus besar bahasa Indonesia makna nilai
merujuk pada hal-hal yang signifikan atau bermanfaat bagi
kehidupan manusia.24 Nilai dalam bahasa lnggris “value”,
dalam bahasa latin “velere”, atau bahasa Prancis kuno
“valoir” atau nilai dapat diartikan berguna, mampu akan,
berdaya, berlaku, bermanfaat dan paling benar menurut
keyakinan individu atau kelompok.25 Oleh karena itu dapat
23
Pasal 1 Nomor 14 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang
Narkoba
24
Adisusilo, S. (2012) “Pembelajaran Nilai Karakter”, (Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada) Hlm 1-279
25
Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat, (2008), ( Jakarta, PT
Gramedia Pustaka Utma) Hlm 963
ditarik kesimpulan bahwa nilai merupakan kualitas suatu
hal yang akan menjadikan sesuatu itu disukai, disegani,
dikejar, diharapkan dan bermanfaat.
Nilai berperan penting dalam kehidupan manusia,
karena nilai menjadi pegangan hidup, mengarahkan
pandangan hidup, membantu penyelesaian konflik, dan
memotivasi26. Nilai juga dapat diartikan dengan sesuatu
yang abstrak, yang bisa dirasakan sebagai pendorong atau
prinsip-prinsip yang menjadi pedoman dalam kehidupan
manusia. Nilai juga biasa dilihat pada pola akhlak, pola
pikir dan tingkah laku. Penenaman nilai pada diri manusia
biasa melalui proses yang berbeda-beda. Ada yang melalui
keluarga, agama dan pendidikan. Ketika dikaitkan pada
pendidikan maka nilai yang dimaksud adalah nilai yang
bermanfaat dan berharga yang mampu diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari, sesuai dengan ajaran agama,
terkhusus sesuai dengan ajaran Islam.
26
Adisusilo, S. (2012) “Pembelajaran Nilai Karakter”, (Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada) Hlm 1-279
2. Fungsi Nilai
Ada banyak fungsi nilai yang bersumber dari
berbagai macam pendapat. Salah satu pendapat para ahli
menyatakan bahwa nilai berfungsi sebagai standar dan
dasar dari pembentukan sebuah konflik serta untuk
membuat keputusan, selain itu nilai berfungsi untuk
memotivasi dasar penyesuaian diri individu dan dasar
perwujudan individu. Dengan bentuk yang abstrak nilai
memiliki beberapa fungsi yang dapat diuraikan satu
persatu, adapun fungsi nilai tersebut ialah sebagai berikut:
a. Nilai akan memberikan individu tujuan dan arah, dengan
adanya nilai individu akan mengetahui arah dan tujuan
hidupnya, apa yang harus ditingkatkan dan apa yang
harus diarahkan.
b. Nilai mampu memberikan inspirasi yang berguna pada
kehidupan individu.
c. Nilai akan mengarahkan bagaimana individu akan
bertingkah laku, bersikap dan beradaptasi pada
masyarakat.
d. Nilai mampu menarik perhatian seseorang untuk
diperjuangkan, dipertimbangkan, dipikirkan, dan
dimiliki.
e. Nilai mampu mengusik perasaan setiap individu, entah
itu perasaan sedih, tertekan, kecewa, bahagia,
bersemangat dan sebagainya.
f. Nilai itu terkait dengan kepercayaan pada setiap
individu.
g. Nilai mendorong individu untuk menjalankan aktivitas,
perilaku atau perbuatan sesuai dengan nilai tersebut.
Nilai akan menodorong individu untuk melaksanakan
sesuatu sesuai dengan nilai tersebut.
h. Nilai akan muncul pada hati nurani, kesadaran ataupun
gagasan individu pada saat individu merasa kebingungan
atau pada saat menghadapi permasalahan hidup.27
Dengan memahami sumber nilai, manfaat nilai dan
sarana prasarana dalam menanamkan nilai maka individu
akan mampu memahami kekuatan dari nilai yang telah ia
27
Adisusilo, S. (2012) “Pembelajaran Nilai Karakter”, (Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada) Hlm 1-279
punya, dan akan mampu merubah suatu yang kurang baik
menjadi lebih baik. Fungsi nilai sebagai acuan tingkah
laku memiliki tiga langkah, langkah-langkah tersebut
antara lain ialah:
a. Values Thinking, ialah nilai-nilai pada tahapan
dipikirkan. Pada tahap ini manusia hanya mengetahui
dan memahami apa itu nilai-nilai kehidupan akan tetapi
belum sampai pada tahap menerapkan nilai-nilai
tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
b. Values affectiffe merupakan nilai-nilai yang menjadi
motivasi atau niat dalam diri individu untuk bertindak.
Pada tahap tersebut individu belum menerapkan akan
tetapi sudah mempunyai niat untuk menerapkan nilai-
nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
c. Values actions, tahap ini merupakan nilai telah menjadi
kepercayaan dan telah menjadi niat untuk diwujudkan
menajadi suatu tindakan nyata atau suatu aksi yang
kongkrit.28
Pada fungsi nilai yang disebutkan di atas
menyatakan bahwa nilai memiliki fungsi sebagai anutan
prilaku dalam kehidupan individu, dan tahap-tahapnya
sesuai dengan urutuan yang telah disebutkan sebelumnya.
1. Nilai-Nilai Keislaman
Nilai islami atau nilai keislaman melibatkan banyak
aspek serta memerlukan analisi dan penelitian yang
mendalam. Islam merupakan salah satu agama mayoritas
di Indonesia yang mana ajarannya diwahyukan Allah Swt,
kepada manusia melalui para Rasul. Adapun sumber nilai
bagi agama Islam adalah, al-qur’an, sunnah dan ijtihad.
Pokok ajaran Islam adalah akidah, syari’ah dan tingkah
laku.29
28
Adisusilo, S. (2012) “Pembelajaran Nilai Karakter”, (Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada) Hlm 1-279
29
Jadid, (2016). “Internalisasi Nilai-Nilai Keislaman dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VIII di SMP IT Alam Nurul
Islam Sleman”. Skripsi Pendidikan Islam
Nilai bukanlah berbentuk seperti suatu benda yang
konkrit, akan tetapi nilai berbentuk abstrak dan ideal.
Dilihat dari sumbernya nilai islamiah berasal dari nilai
ilhiyah yang merupakan nilai yang berasal dari wahyu
Allah Swt dan nilai manusiawi yang dibentuk oleh
manusia sesuai dengan prinsip dan keinginan manusia.30
Berikut ini akan dijelaskan secara rinci mengenai
nilai-nilai keislaman.
a. Iman, yang merupakan sikap batin yang penuh
keyakinan kepada Allah SWT. Persoalan iman banyak
dibahas dalam ilmu tauhid karena ini menyangkut
kepercayaan seseorang terhadap Allah swt. Selain itu,
iman sebagai bagian yang mendasar dalam ajaran
Islam.
b. Islam, yang artinya sikap pasrah terhadap perintah dan
aturan Allah Swt.
c. Ihsan, merupakan kesadaran dan keyakinan yang
paling dalam bahwa Allah selalu ada di sisi kita dan
30
Muhaimin, (1996). “Strategi Belajar Mengajar”.(Surabaya, Citra
Media).Hlm 45
menimbulkan rasa bahwa kita selalu diawasi oleh
Allah Swt.
d. Taqwa, adalah sikap yang sadar bahwa manusia selalu
diawasi oleh Allah Swt. Sikap tersebut nantinya
membuat manusia melakukan perbutan yang diridhoi
Allah Swt.
e. Ikhlas, ialah sikap murni dalam perilaku dan perbuatan
untuk mendapatkan ridho dari Allah bukan balasan
dari manusia.
f. Tawakal. Tawakal merupakan sikap senantiasa
bersandar kepada Allah dengan penuh pengharapan
kepadanya dan kepercayaan bahwa Allah akan
membantu mencarikan jalan yang terbaik.
g. Syukur merupakan sikap atau rasa terimakasih atas
nikmat yang telah Allah berikan yang tidk terhitung.
h. Sabar, merupakan sikap teguh dalam mengalami
apapun yang terjadi dalam hidup, luas dan sempit,
lahir dan batin, fisiologis dan psikologis.31
Tentu masih banyak nilai-nilai ketuhanan yang
diajarkan dalam Islam. Nilai-nilai yang telah
dikemukakan merupakan bagian-bagian yang lumrah
dalam masyarakat. Selain nilai ilahiyah terdapat nilai
insaniyah, yang berkaitan dengan akhlak. Berikut akan
dijelaskan secara rinci mengenai nilai-nilai insaniyah.
a. Silaturrahmi, yaitu keterikatan rasa kasih sayang
antara sesama manusia, terutama antara saudara,
keluarga, tetangga dan seterusnya.
b. Al-ukhuwah, yaitu semangat persaudaraan terutama
kepada sesama sahabat islam
c. Al-musawah, merupakan pandangan bahwa manusia
memiliki derajat yang sama, memiliki jenis kelamin,
31
Madjid, Nurcholish. (2004) “Masyarakat Religius,Membumikan
nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat”. (Gunungsitoli, Paramadina).
Hlm 98-100
kesukuan dan kebangsaannya, dan harkat serta
martabatnya.
d. Al-adalah, merupakan wawasan yang seimbang dalam
melihat, menyikapi dan menilai suatu objek.
e. Husnudzan, adalah sikap berbaik sangka kepada orang
lain, berdasarkan ajaran agama.
f. Al-tawadlu, sikap rendah hati. Sikap ini merupakan
sikap yang tumbuh karena merasa Allah Swt lebih
mulia dari siapapun.
g. Al-wafa yang artinya tepat janji.
h. Al-insyirah, yang merupakan sikap lapang dada, sikap
penuh menghargai orang lain
i. Al-amanah, yang artinya dapat dipercaya.
j. Iffah, artinya sikap penuh harga diri, akan tetapi tidak
sombong dan tetap rendah diri.
k. Quwamiyyah yang artinya sikap tidak boros dan tidak
kikir saat menggunakan harta.
l. Al-munfiqun artinya ialah sikap kaum beriman yang
sangat ingin membantu orang lain, terutama bagi
mereka yang kurang beruntung. 32
Nilai-nilai Islam perlu diperhatikan, terutama untuk
penerapan di lembaga pemasyarakatan. Selain itu,
penerapan nilai-nilai ini tidak sembarangan dilakukan
karena akan berkaitan dengan berbagai hal. Nilai-nilai
keislaman juga bisa memiliki keterkaitan dengan teknik
problem solving pada bagian teknik pengambilan
keputusan dalam menyelesaikan masalah yaitu berdoa dan
menyerahkan segala usaha kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Hal tersebut masuk ke dalam nilai-nilai keimanan pada
diri manusia.
D. Lembaga Permasyarakatan
1. Pengertian Lapas
Lembaga permasyarakatan atau LAPAS merupakan
suatu lembaga yang berfungsi untuk melakukan
32
Jadid, (2016). “Internalisasi Nilai-Nilai Keislaman dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VIII di SMP IT Alam Nurul
Islam Sleman”. Skripsi Pendidikan Islam
pembinaan narapidana dan anak didik permasyarakatan.
Sebelum dikenal dengan nama Lapas, di Indonesia
biasanya tempat tersebut dinamakan penjara. Lembaga
Permasyarakatan merupakan Unit Pelaksana Teknis
dibawah Direktorat Jendral Permasyarakatan Kementrian
Hukum dan Hak Asasi Manusia (dahulu departemen
kehakiman).33
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 22 Tahun 2022 tentang permasyarakatan
menyatakan bahwa Lembaga Permasyarakatan yang
disebut Lapas merupakan institusi atau tempat yang
melaksanakan peran pembinaan terhadap Narapidana.
Narapidana adalah mereka yang menjalani pidana penjara
selama waktu tertentu atau seumur hidup atau terpidana
mati yang sedang menunggu pelaksanaan putusan, yang
33
Situmorang (2019). ”Lembaga Permasyarakatan Sebagai Bagian
dari Penegakan Hukum”. Dipublikasi pada Maret 2019 dalam
[Link] Diakases pada Sabtu 1
Oktober 2022. Hlm 85-98. Pukul 20.04 Wib
sedang menjalani pembinaan di lembaga
permasyarakatan.34
Lembaga permasyarakatan merupakan tahapan
paling akhir dalam proses peradilan pidana dan merupakan
akhir dari penjatuhan hukuman. Pada tahap ini sudah
semestinya terdapat berbagai macam keinginan dan tujuan
dari sistem peradilan yang terintegrasi yang terdiri dari
pilar-pilar proses pemidanaan mulai dari lembaga
kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan. Harapan serta
tujuan tersebut dapat berupa aspek pembinaan kepada
warga binaan lembaga permasyarakatan.35
Lembaga permasyarakatan perempuan kelas IIB
Kota B memiliki peran untuk memfasilitasi integrasi diri
dan adaptasi diri dengan masyarakat, tujuannya adalah
agar warga binaan ini dapat merasakan bahwa sebagai
individu dan warga binaan negara Indonesia yang
34
Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2022 Tentang
Permasyarakatan.
35
Sri Wulandari (2012). “Efektifitas Sistem Pembinaan Narapidana di
Lembaga Pemasyarakatan Terhadap Tujuan Pemidanaan” Jurnal Hukum dan
Dinamika Masyarakat. Dipublikasi April 2012 dalam
[Link] diakases pada
Minggu 20 November 2022. Hlm 131-142. Pukul 19.00 Wib.
berkonstirbusi dalam memakukan bangsa dan negara,
sebagaimana individu dan warga negara Indonesia yang
lainnya. Mereka juga mampu menciptkan pandangan
positif dan reputasi yang baik di masyarakat.
Lembaga permasyarakatan dikelompokan dalam
empat kelas yaitu Lapas Kelas I, Lapas Kelas II, Lapas
Kelas IIB, dan Lapas Kelas III. Pengelompokan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai
dengan kapasitas, tempat kependudukan, dan tempat
kegiatan kerja.36
2. Warga Binaan Lapas
Penghuni lembaga permasyarakatan atau warga
binaan permasyarakatan statusnya adalah sebagai tahanan.
Tahanan dimaksudkan sebagai orang yang berada pada
tahapan peradilan dan belum diputuskan bersalah atau
tidak oleh hakim. Pegawai negeri sipil yang bertanggung
jawab atas pengawasan narapidana dan tahanan di lembaga
36
Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2022 Tentang
Permasyarakatan.
pemasyarakatan, atau sebelumnya dikenal dengan sipir
penjara.
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995
tentang permasyarakatan mengatakan bahwa warga binaan
permasyarakatan merupakan Narapidana, anak Didik
Permasyarakatan dan Klien Permasyarakatan.
a. Narapidana adalah terpidana yang sedang menjalani
hukuman penjara untuk waktu tertentu dan seumur
hidup atau mereka yang telah dijatuhi hukuman mati
dan menunggu eksekusi, dan saat ini sedang
menjalani rehabilitasi dilembaga permasyarakatan.
b. Anak didik permasyarakatan adalah seorang yang
dinyatakan sebagai anak oleh pengadilan sehingga
kebebasannya dirampas dan ditempatkan di lembaga
permasyarakatan khusus anak.
c. Klien permasyarakatan juga dekenal sebagai klien
merupakan individu yang berada dalam bimbingan
lapas.37
Ketika warga binaan tersebut sedang berada dilapas,
mereka saling melengkapi satu sama lain, saling
menguatkan dan berusaha untuk menerima hukuman yang
telah diberikan serta berusaha untuk memperbaiki diri
menjadi yang lebih baik dari sebelumnya.
3. Tujuan didirikannya Lembaga Pemasyarakatan
Tujuan utama didirikannya lembaga pemasyarakatan
yang disebutkan dalam pasal 2 Undang-Undang
Permasyarakatan yaitu untuk membuat narapidana agar
menjadi manusia yang seutuhnya dan menyadari semua
kesalahan yang telah ia perbuat. Lembaga
permasyarakatan didirikan agar narapidana bisa
memperbaiki diri. Selain itu, diharapkan mereka tidak
kembali melakukan tindak pidana. Nantinya mampu
37
Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2022 Tentang
Permasyarakatan.
diterima kembali di masyarakat serta menjadi anggota
masyarakat yang baik dan bertanggung jawab.38
38
Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1995 Tentang
Permasyarakatan.