0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan39 halaman

Prinsip dan Langkah Problem Solving

Dokumen ini membahas tentang problem solving, yang didefinisikan sebagai proses untuk menyelesaikan masalah yang muncul akibat ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. Terdapat prinsip-prinsip, aspek-aspek, langkah-langkah, teknik pengambilan keputusan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses problem solving yang dijelaskan secara rinci. Keseluruhan informasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai cara berpikir dan metode yang efektif dalam menyelesaikan masalah.

Diunggah oleh

Bondhan Banjarruci
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan39 halaman

Prinsip dan Langkah Problem Solving

Dokumen ini membahas tentang problem solving, yang didefinisikan sebagai proses untuk menyelesaikan masalah yang muncul akibat ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. Terdapat prinsip-prinsip, aspek-aspek, langkah-langkah, teknik pengambilan keputusan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses problem solving yang dijelaskan secara rinci. Keseluruhan informasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai cara berpikir dan metode yang efektif dalam menyelesaikan masalah.

Diunggah oleh

Bondhan Banjarruci
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Problem Solving
1. Pengertian Problem Solving

Secara umum Problem/masalah diartikan sebagai

kesenjangan antara harapan dan realitas yang ditemukan.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia masalah

merupakan hal yang perlu diatasi.1 Dalam buku yang

berjudul ”Problem Solving And Decision Making For

Improvement”, mendefinisikan bahwa Problem merupakan

sesuatu yang mendorong seseorang agar melakukan suatu

hal. Ketika ada sesuatu hal yang terjadi, namun individu

tidak tergerak untuk melakukan sesuatu, berarti itu bukan

masalah dari individu tersebut. Sebaliknya, jika sesuatu hal

terjadi dan seseorang individu tergerak untuk melakukan

1
Qanita Alya, (2009). ”Kamus Bahasa Indonesia”. Bandung : PT
Indah Jaya Adipratama.. Hlm 459
sesuatu, berarti itu merupakan masalah bagi individu

tersebut.2

Problem diartikan dengan ketidaksesuaian antara

teori dan praktek, kesenjangan atau ketidaksesuaian antara

harapan dengan realita, atau sering juga disebut sebagai

ketidakseimbangan antara das sollen (segala sesuatu yang

mengharuskan manusia untuk berpikir dan bersikap) dan

das sien (keadaan sebenarnya atau realita yang terjadi).3

Dari beberapa defenisi yang telah disajikan dapat

disimpulkan bahwa problem adalah situasi yang tidak

diinginkan oleh individu, karena terjadi ketidakcocokan

antara harapan dan kenyataan.

Secara umum problem merujuk pada situasi dimana

terjadi konflik antara dua kondisi yang berbeda dalam

rangka mencapai tujuan. Menurut istilah problem solving

merupakan proses untuk menyelesaikan suatu masalah

atau insiden dengan mencoba memilih diantara beberapa

2
Berny Gomulya, (2015). “Problem Solving And Decision Making
For Improvement”. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. Hlm 1.
3
Hasnun Jauhari, (2015). ”Manajemen Organisasi: Pengantar Teori
dan Praktek”. Medan : Perdana Publishing. Hlm 124.
opsi ataupun alternatif yang mendekati sasaran yang

diinginkan.4

Problem merupakan situasi apapun yang

menghadirkan tantangan, peluang ataupun masalah.

Solving adalah menemukan cara untuk menjawab,

bertemu, atau memecahkan masalah. Solving segera

dihubungkan dengan problem, yaitu mencari cara untuk

menjawab, untuk bertemu, untuk memenuhi suatu keadaan

dengan mengubah diri sendiri atau keadaan.5

Problem solving secara bahasa berasal dari dua kata

yaitu “ Problem dan Solves. Makna bahasa dari problem

yaitu “A thing that is difficult to deal with understand”

(suatu hal yang sulit untuk melakukannya atau

memahaminya). Jika diartikan ‘A question to be answered

or solve” (pertanyaan yang butuh jawaban atau jalan

4
Dina Fariza T.S, Fatchurrahman, Karyanti. (2019). ”Teknik Kreatif
Problem Solving”. Yogyakarta: K-Media. Hlm 1-75
5
Tarmizi. (2013). ”Problem Solving dalam Perspektif Bimbingan dan
Konseling Islami”, Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, dipublikasi tanggal 1 Januari
2013, dalam [Link] Diakses pada Sabtu 3
September 2022. Pukul 13.53 Wib
keluar). Kata solve dapat diartikan “To find to answer to

problem”(mencari jawaban suatu masalah).

Problem solving diartikan juga dengan pengambilan

keputusan. Hal ini dapat diamati melalui pimpinan atau

kelompok yang sedang berhadapan dengan masalah

dituntut untuk mencari solusi atau mengambil keputusan

dari masalah yang sedang dihadapi.6 Selain pendapat

diatas terdapat pendapat lain yang mengatakan bahwa

problem solving ialah bagian dari proses berpikir yang

berupa keterampilan dalam memecahkan suatu perkara.

Istilah problem solving digunakan sering digunakan dalam

bidang psikologi kognitif untuk merujuk pada segala

bentuk kesadaran.7

Selain itu, Problem solving didefenisikan sebagai

kegiatan yang terkait dengan penyelesaian sebuah cara

yang pas untuk mengubah suatu keadaan yang diinginkan.

Artinya dalam setiap pemecahan masalah, dibutuhkan

6
Mhd Eko Nanda Siregar (2017). ”Problem Solving Dalam Al-Quran
Analisis Tafsir Al-Azhar”. Skripsi Jurusan Manajemen Dakwah.
7
Marzono, (1998). “Dimension Of Thinking: A Framework For
Curriculum and Instruction”. (Viginia: association For and Curriculum
Development,).
sebuah filter dalam menetapkan aturan yang baik untuk

memecahkan masalah tersebut. Dengan cara memilah

beragam permasalahan yang ada maka peneliti akan

dengan mudah dalam melaksanakan sebuah proses

problem solving dari berbagai permasalahan yang sedang

dihadapi.8

Jadi dapat disimpulkan bahwa problem solving

merupakan sebuah cara berpikir dengan tujuan yang

terarah untuk mencari jalan keluar dari segala

permasalahan yang sedang dihadapi. Hal tersebut

dilakukan demi memperoleh tujuan yang diharapkan.

Proses pemecahan masalah dapat dilaksanakan dengan

beragam cara tergantung dengan jenis dari masalah,

kemampuan dalam memecahkan masalah dan bagaimana

proses menyelesaikan masalah tersebut.

8
Sulasmono, B. S. (2012). ”Problem Solving: Signifikasi, Pengertian,
dan Ragamnya”. Jurnal Satya Widya. Dipublikasi Desember 2012, dalam
[Link] Diakses pada Minggu 3
September 2022. Hlm 156-165. Pukul 18:53 Wib.
2. Prinsip-prinsip Problem Solving

Prinsip-prinsip problem solving ialah sebagai berikut:

a. Kesuksesan dalam memecahkan masalah mampu

tercapai jika individu diarahkan pada masalah yang

mampu ia pecahkan.

b. Ketika memecahkan masalah, gunakan data atau

keterangan yang ada. Pada saat data yang dipakai

tidak lengkap maka pada proses penyelesaian masalah

akan terjadi kesalahan.

c. Mencari kemungkinan-kemungkinan jalan keluar.

Agar permasalah cepat terselesaikan maka ketika

menghadapi masalah individu haruslah mencari solusi

atas masalah yang sedang di hadapinya.

d. Mengenali masalah harus lebih diutamakan dari pada

memecahkan masalah.

e. Proses penciptaan gagasan baru harus dibedakan dari

proses penilaian gagasan.


f. Ketika situasi pilihan dan situasi masalah tidak

diinginkan maka individu harus mencari ide-ide yang

baru.

g. Akan tetapi situasi masalah terkadang perlu diubah

menjadi posisi pilihan. Tujuan keadaan masalah

merupakan proses menyingkirkan rintangan.

h. Solusi yang diajukan oleh pemimpin kerap dievaluasi

karena kurang faktual.9

Maka dari itu, prinsip-prinsip pada problem solving

atau pemecahan masalah sangatlah penting dan sangatlah

diperlukan, agar masalah dapat diselesaikan dengan baik.

9
Kartono, Kartini. “Bimbingan dan Dasar-Dasar Pelaksanaannya”
(Jakarta: CV Rajawali:1985). Hlm 142-143
3. Aspek-Aspek Problem Solving

Dalam menyelesaikan suatu masalah tentunya

memerlukan pemikiran yang terarah agar mampu

menemukan jalan keluar dari suatu permasalahan. Maka,

diperlukan aspek-aspek yang mendukung untuk

menyelesaikan permasalahan. Aspek-aspek problem

solving antara lain adalah:

a. Menganalisa kemungkinan penyebab dan asumsi. Pada

aspek yang pertama ini menyebutkan bahwa

menganalisa kemungkinan penyebab dan asumsi

merupakan aspek yang pertama dalam proses Problem

solving, artinya sebelum menyelesaikan masalah

individu harus terlebih dahulu menganalisa penyebab

dari sebuah masalah.

b. Mengidentifikasi solusi. Individu yang sudah

mengetahui apa penyebab dari sebuah masalah pasti

akan mencari sebuah solusi, proses itulah yang disebut

dengan mengidentifikasi solusi.


c. Memilih solusi terbaik. Setelah menemukan beberapa

solusi individu harus memilih kembali kira-kira solusi

mana yang terbaik.

d. Implementasi solusi, setelah menganalisis masalah

kemudian mengidentifikasi solusi serta memilih solusi

yang terbaik, tahap untuk untuk memecahkan masalah

selanjutnya adalah dengan cara menerapkan solusi

yang telah dipilih terhadap permasalahan yang sedang

dihadapi.

e. langkah terakhir dalam proses Problem solving ialah

evaluasi dan revisi. dimana individu yang telah

menerapkan solusi yang terbaik juga harus

mengevaluasi serta merevisi apa yang telah ia lakukan.


10

10
Barkman, S., & Machtmes, K. (2002). “ Solving problems survey.
Youth Life Skill Evaluation Project at Penn State. CYFAR Life Skills Project at
Texas A&M [Link].” Diakses pada Sabtu 07 Januari 2023, Pukul
8.16 Wib
4. Langkah-langkah Penyelesaian Masalah

Terdapat tiga cara utama untuk memecahkan suatu

masalah, adpaun langkah-langkahnya adalah sebagai

berikut:

a. Representasi masalah, pada intinya tahap ini ialah

memuat interpretasi pemecahan masalah.

b. Membangun dan memilih solusi, ketika gambaran

masalah telah diketahui, maka langkah selanjutnya

ialah menemukan suatu solusi untuk mengurangi

serta mengeliminasi penyebab dari sebuah masalah.

c. Memantau dan mengkritik tujuan-tujuan dan solusi.

Setelah ditemukannya solusi untuk memecahkan

sebuah masalah, maka untuk menyelesaikan masalah

pada tahap selanjutnya ialah memonitor serta

mengevaluasi tujuan dari solusi yang di dapatkan.11

11
Ge & Land. (2004). ”Scaffolding Studens’ Problem-Solving
processes in an III-Structured task using question prompts and peer
interactions”, Jurnal article in Educational Technology Research and
Development. Dipublikasi Maret 2003, dalam
[Link] Diakses pada Sabtu, 1
September 2022. Hlm 21-37. Pukul 14.07 Wib
Setiap jenis permasalahan memiliki rangkaian

penyelesaian yang berbeda-beda. Ketika memecahkan

masalah perlu dilakukan pemilihan inti masalah dan

tujuan-tujuan dalam proses penggambaran masalah.

Sedangkan menurut Polya terdapat beberapa

tahapan dalam penyelesaian masalah. Fase-fase tersebut

adalah tahap menguasai masalah, merancang solusi,

mengatasi masalah sesuai dengan rencana dan melakukan

pengecekan kembali langkah-langkah yang telah

dilakukan sebelumnya. Tanpa memahami masalah,

manusia tidak akan menyelesaikan masalah dengan baik.

Setelah pada tahap memahami masalah maka akan

sampai pada tahap merencanakan penyelesaian masalah.

Pada tahap merencanakan masalah ini sangatlah

bergantung pada pengalaman pada setiap individu,

semakin banyak pengalaman manusia maka akan

semakin pandai ia dalam menyelesaikan masalah. Setelah

selesai pada tahap kedua maka tahap yang ketiga ialah

mengatasi masalah sesuai dengan rencana, dan yang


terakhir ialah melaksanakan validasi terhadap apa yang

sudah dilakukan.12

5. Teknik Pengambilan Keputusan dalam Problem

Solving

Teknik pengambilan keputusan dalam problem

solving haruslah memiliki keterampilan tersendiri. Teknik

pengambilan keputusan merupakan suatu seni dan ilmu

yang haru dimiliki, dicari, digali, dipelajari dan

dikembangkan bagi setiap orang. Saat pengambilan

keputusan diperlukan kecermatan dan ketepatan agar tidak

terjadi kesalahan. Adapun langkah-langkah pengambilan

keputusan dalam problem solving ialah sebagai berikut:

a. Pengumpulan fakta,data dan informasi. Pengumpulan

fakta, data dan informasi merupakan kegiatan awal

dalam mengidentifikasi suatu permasalahan. Ketika

fakta, data dan informasi telah dikumpulkan maka,

masalah sudah bisa didefenisikan dengan baik.

12
Polya, “How to Solve It: A New Aspect of Mathematics Method”
(New Jersey: Princeton University Press, 1971)
Pengumpulan fakta, data dan informasi bertujuan

sebagai dasar untuk mengetahui penyebab dari suatu

permasalahan.

b. Menemukan berbagai alternatif tindakan yang nyata.

Setelah mengetahui penyebab dan akar permasalahan,

tahap selanjutnya adalah tahap merancang solusi

berupa seleksi pemecahan masalah. Perancangan solusi

atau alternatif tindakan dirancang berdasarkan fakta,

data dan informasi yang telah dikumpulkan.

c. Memilih atau menentukan opsi tindakan yang ada.

Ketika perancangan solusi telah selesai, maka langkah

selanjutnya adalah memilih alternatif mana yang paling

sesuai untuk memecahkan masalah yang ada. Adapun

alternatif pemecahan masalah yang diambil haruslah

memperhatikan segala resiko yang akan terjadi setelah

hal tersebut dilakukan.

d. Implementasi dan evaluasi. Langkah selanjutnya ialah

mengimplementasikan solusi yang telah dipilih

sebelumnya. Perancangan solusi tidak akan berguna


jika tidak diimplementasikan dan tidak diterapkan.

Setelah diterapkan maka akan ada laporan dan nantinya

akan ada evaluasi. Evaluasi sangat perlu dilakukan

untuk melihat apakah solusi yang diambil benar-benar

bagus untuk diterapkan atau tidak.

e. Berdoa. Ketika semua kegiatan telah dilakukan,

langkah yang terakhir ialah berdoa, dan

menyerahkannya kepada Allah Swt. Hal tersebut

dilakukan agar membuahkan hasil.13

Ketika individu telah mengikuti teknik pengambilan

keputusan dalam problem solving yang dimulai dari

pengumpulan data dan informasi, merancang solusi,

memilih solusi yang terbaik kemudian

pengemplementasian dan evaluasi serta berdoa kepada

Tuhan Yang Maha Esa maka pengambilan keputusan akan

berjalan dengan lancar. Karena pengambilan keputusan

bukanlah sesuatu yang mudah, diperlukan keterampilan

13
Tarmizi (2013). ” Problem Solving dalam Perspektfi Bimbingan
Konseling Islami”. Dipublikasi Juni 2013, dalam
[Link] 75. Diakses Selasa 4 September 2022.
Hlm 87-108. Pukul 14.15 Wib
yang perlu dipelajari, dimiliki, dikembangan pada setiap

diri manusia.

6. Faktor yang Berpengaruh dalam Proses Problem

Solving

Berikut adalah faktor-faktor yang akan

mempengaruhi proses penyelesaian masalah:

a. Motivasi. Ketika individu mempunyai motivasi yang

rendah maka pada saat proses penyelesaian ia akan

mengalihkan pandangan, sedangkan ketika individu

mempunyai motivasi yang tinggi maka akan

membatasi fleksibilitas.

b. Keyakinan dan sikap yang salah. Apabila manusia

terlalu berasumsi bahwa kebahagiaan dapat diraih dari

kekayaan materi maka asumsi tersebut dapat

menyesatkan manusia itu sendiri.

c. Ketidakmampuan untuk berpikir secara inklusif atau

mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda-beda,

serta ketergantungan yang berlebihan pada otoritas

yang lebih tinggi, dapat menghambat efisiensi dalam


pemecahan masalah dan menghasilkan pemikiran yang

kaku.

d. Emosi, tanpa disadari manusia telah terlibat secara

emosional ketika menghadapi berbagai situasi. Emosi

ini ternyata berpengaruh terhadap proses berpikir pada

manusia. Ketika emosi sudah mencapai tingkat yang

sangat tinggi, pada saat itulah manusia tidak berpikir

secara efesien. Akhirnya susah untuk memecahkan

masalah.

e. Takut, pada posisi ini kemungkinan akan ada rasa takut

dalam melebihkan kesulitan permasalahan dan

melahirkan sikap gelisah yang melumpuhkan tindakan,

membuat emosi, cemas, dan kurangnya berpikir,

hingga pada akhirnya tidak mampu memecahkan

masalah.14

Selain faktor-faktor yang telah disebutkan

sebelumnya, masih terdapat beberapa faktor yang

14
Sulasmono, B,S. (2012). ”Problem Solving: Signifikasi, Pengertian, dan
Ragamnya”. Jurnal Satya Widya. Dipublikasi pada Desember 2012, dalam
[Link] Diakses pada 4
September 2022. Hlm 156—165. Pukul 14.37
mempengaruhi proses penyelesaian masalah, antara lain

yaitu adalah faktor biologis seperti terlalu lapar, dan

kurang tidur.15

7. Ragam Masalah

Ada beberapa pandangan mengenai ragam masalah.

Salah satu pendapat para ahli mengidentifikasi bahwa

masalah terbagi menjadi tiga ragam yaitu :

a. Masalah-masalah yang berkenaan dengan

membangun struktur (problems of inducing structure)

b. Masalah perubahan (problems of transformation) dan

c. Masalah penyusunan (problems of arranggement).

Ragam masalah yang pertama merupakan masalah

yang membutuhkan kemampuan pemahaman untuk

mengembangkan pemahaman. Masalah kedua yang

dihadapi adalah masalah transformasi, di mana terdapat

situasi tertentu, tujuan yang harus dicapai, serta

serangkaian prosedur untuk menghasilkan perubahan

15
Lilian Stella P (2021) ”Hubungan Gangguan Tidur dengan Prestasi
Belajar Murid kelas X-XII di SMA Katolik Rajawali Makasar Tahun 2021”
Skripsi Kedokteran Makasar.
situasi. Sedangkan masalah ketiga berkaitan dengan

penataan yaitu masalah yang mengandung beberapa unsur

dan memerlukan pemecah masalah untuk mengatur atau

menata unsur-unsur tersebut sesuai dengan kriteria yang

telah ditentukan.16

Adapun ragam masalah dalam penelitian ini

termasuk pada masalah transformasi yang dimana terdapat

situasi-situasi tertentu yang memiliki tujuan serta

serangkaian rosedur untuk menghasilkan sebuah

perubahan. Perubahan tersebut bisa berbentuk perubahan

situasi, jenis masalah dan lain sebagainya.

B. Narkoba

1. Pengertian Narkoba

Narkoba adalah narkoba narkotika dan obat-obatan

terlarang. Selain itu, juga dikenal dengan istilah NAPZA

yang merupakan singkatan dari narkotika, alkohol,

16
Greno, Jg (1978). “Natures of Problem Solving Abilities In W. K.
Estes (Ed.), Handbook of learning & cognitive processes: V. Human
information”. Dipublikasi 1978, dalam
[Link] Diakses
pada Selasa 6 September 2022. Hlm 239–270. Pukul 19.00 Wib
psikotropika dan zat adiktif lainnya.17 Psikotropika

merupakan zat atau obat bukan narkotika, baik alamiah

maupun sintetik, yang mempunyai sifat psikoaktif melalui

efek selektif pada susunan saraf pusat yang menimbulkan

perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Selain

itu, adapula yang merupakan bahan adiktif adalah bahan

atau zat yang menimbulkan efek psikoaktif di luar

Narkotika dan Psikotropika dan dapat memicu adiksi.18

Undang-undang no. 22 Tahun 1997 tentang narkotika

menyatakan bahwa, narkoba merupakan singkatan dari

narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lainnya. Arti kata

narkoba sering kali dipakai oleh para aparat penegak

hukum seperti polisi, jaksa, hakim, dan petugas

kemasyarakatan. Narkoba juga memiliki sebutan lainnya,

yakni napza. Napza umumnya lebih sering digunakan oleh

17
Aat Syafaat, (2008) “Peranan Pendidikan Agama Islam dalam
Mencegah Kenakalan Remaja” (Jakarta: Raja Grafindo Persada), Hlm 110
18
BNN RI(2018). ”Awas Narkoba Masuk Desa dalam Mewujudkan
Desa Bersih Narkoba” (Jakarta Deputi Bidang Pencegahan BNN RI Direktorat
Advokasi)
tenaga medis dan pengurus rehabilitasi.19 Walaupun

dengan kegunaan yang berbeda akan tetapi napza dan

narkoba merupakan jenis obat-obatan yang terlarang dan

memiliki makna yang sama.20

2. Faktor Penyebab Penyalahguna Narkoba

Adapun faktor-faktor individu yang

menyalahgunakan narkoba pasti berbeda-beda. Berikut ini

akan diuraikan mengenai faktor-faktor apa saja yang

menjadi penyebab penyalahgunaan narkoba.

a. Faktor dari penyalahguna sendiri, maksudnya ialah

orang-orang yang mudah terhasut dengan penyalahguna

narkoba ialah orang yang memiliki psikologi yang labil.

Biasanya mereka ialah remaja, pengangguran atau

seseorang dengan iman yang lemah.

19
Kibtyah, Maryatul. (2015). “Pendekatan Bimbingan Konseling Bagi
Korban Pengguna Narkoba”. Dalam Jurnal Ilmu Dakwah. Dipublikasi pada
Juni 2015, pada [Link]
[Link] Volume 35 Nomor 1. Diakses
pada Senin 1 April 2023 Pukul 22.39 Wib
20
Iriani, Dewi (2015). “Kejahatan Narkoba: Penanggulangan,
Pencegahan dan Penerapan Hukuman Mati” Vol 12 No 2. Dipublikasi Juli
2015 pada [Link]
penanggulangan-pencegahan-dan-penerapan-hukuman-mati. Diakses pada
Kamis 06 Maret 2023 Pukul 05.38 Wib
b. Faktor Pergaulan. Dalam faktor pergaulan ini terbagi

menjadi faktor lingkungan keluarga, pergaulan sekitar

rumah, dan masyarakat. Keluarga berperan penting

dalam sikologis manusia karena keluarga merupakan

tempat pulang oleh sebab itu dibutuhkan komunikasi

yang efektif antar saudara dan diperlukan hubungan

yang harmonis ketika semua itu tidak didapatkan maka

sikologis pada individu akan terganggu. Kemudian

lingkungan sekolah, sekolah sangat berperan penting

dalam mendidik setiap individu yang sedang menjalani

pendidikan ketika peraturan tidak diterapkan maka akan

terjadi sikap semena-mena pada siswa dan tidak akan

mendapatkan pengajaran yang baik. Selain itu sekolah-

sekolah yang dekat dengan tempat hiburan juga agan

menjadi salah satu faktor terjadinya penyimpangan pada

siswa. Setelah faktor lingkungan sekolah maka yang

selanjutnya ialah lingkungan teman sebaya. Orang tua

harus memperhatikan kepada siapa anaknya akan

berteman, ketika mereka berteman dengan


penyalahguna narkoba maka sudah pasti anaknya

termasuk penyalahguna narkoba. Lingkungan

masyarakat juga sangat berperan penting dalam faktor

penyalahguna narkoba. 21

Disamping faktor-faktor tersebut terdapat beberapa

faktor lain penyalahguna narkoba salah satunya adalah

kebodohan, kemiskinan, tekanan dari kelompok sebaya,

kemajuan tekonologi dan ketersediaan. Pesatnya kemajuan

teknologi membuat manusia lebih mudah mengakses

mengenai narkoba dan mengakses perdagangan gelap

narkoba. Akses internet yang mudah didapatkan mengenal

narkoba lebih jauh, sehingga individu mampu memesan,

bahkan melakukan penjualan.22

3. Pecandu Narkoba

Definisi pecandu narkoba dapat dilihat pada Pasal 1

No 14 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang

narkoba yang menyatakan bahwa pecandu narkoba

21
Abdul Majid, (2019). “Bahaya Penyalahguna Narkoba”.
(Semarang, Alprin). Hlm 20-23
22
Sandi, Awet (2016). “Narkoba Dari Tapal Batas Negara”
(Bandung, Mujahidin Press). Hlm 56
merupakan kondisi seseorang yang ditandai dengan

keinginan yang kuat untuk terus menerus menggunakan

narkoba, ketika seseorang berhenti menggunakannya maka

akan menimbulkan gejala dan psikis yang sangat khas.

Maka dapat disimpulkan seseorang dengan kondisi yang

bergantung pada narkoba dapat dikatakan sebagai pecandu

narkoba.23

C. Nilai-Nilai Keagamaan

1. Pengertian Nilai
Dalam kamus besar bahasa Indonesia makna nilai

merujuk pada hal-hal yang signifikan atau bermanfaat bagi

kehidupan manusia.24 Nilai dalam bahasa lnggris “value”,

dalam bahasa latin “velere”, atau bahasa Prancis kuno

“valoir” atau nilai dapat diartikan berguna, mampu akan,

berdaya, berlaku, bermanfaat dan paling benar menurut

keyakinan individu atau kelompok.25 Oleh karena itu dapat

23
Pasal 1 Nomor 14 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang
Narkoba
24
Adisusilo, S. (2012) “Pembelajaran Nilai Karakter”, (Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada) Hlm 1-279
25
Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat, (2008), ( Jakarta, PT
Gramedia Pustaka Utma) Hlm 963
ditarik kesimpulan bahwa nilai merupakan kualitas suatu

hal yang akan menjadikan sesuatu itu disukai, disegani,

dikejar, diharapkan dan bermanfaat.

Nilai berperan penting dalam kehidupan manusia,

karena nilai menjadi pegangan hidup, mengarahkan

pandangan hidup, membantu penyelesaian konflik, dan

memotivasi26. Nilai juga dapat diartikan dengan sesuatu

yang abstrak, yang bisa dirasakan sebagai pendorong atau

prinsip-prinsip yang menjadi pedoman dalam kehidupan

manusia. Nilai juga biasa dilihat pada pola akhlak, pola

pikir dan tingkah laku. Penenaman nilai pada diri manusia

biasa melalui proses yang berbeda-beda. Ada yang melalui

keluarga, agama dan pendidikan. Ketika dikaitkan pada

pendidikan maka nilai yang dimaksud adalah nilai yang

bermanfaat dan berharga yang mampu diterapkan dalam

kehidupan sehari-hari, sesuai dengan ajaran agama,

terkhusus sesuai dengan ajaran Islam.

26
Adisusilo, S. (2012) “Pembelajaran Nilai Karakter”, (Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada) Hlm 1-279
2. Fungsi Nilai

Ada banyak fungsi nilai yang bersumber dari

berbagai macam pendapat. Salah satu pendapat para ahli

menyatakan bahwa nilai berfungsi sebagai standar dan

dasar dari pembentukan sebuah konflik serta untuk

membuat keputusan, selain itu nilai berfungsi untuk

memotivasi dasar penyesuaian diri individu dan dasar

perwujudan individu. Dengan bentuk yang abstrak nilai

memiliki beberapa fungsi yang dapat diuraikan satu

persatu, adapun fungsi nilai tersebut ialah sebagai berikut:

a. Nilai akan memberikan individu tujuan dan arah, dengan

adanya nilai individu akan mengetahui arah dan tujuan

hidupnya, apa yang harus ditingkatkan dan apa yang

harus diarahkan.

b. Nilai mampu memberikan inspirasi yang berguna pada

kehidupan individu.

c. Nilai akan mengarahkan bagaimana individu akan

bertingkah laku, bersikap dan beradaptasi pada

masyarakat.
d. Nilai mampu menarik perhatian seseorang untuk

diperjuangkan, dipertimbangkan, dipikirkan, dan

dimiliki.

e. Nilai mampu mengusik perasaan setiap individu, entah

itu perasaan sedih, tertekan, kecewa, bahagia,

bersemangat dan sebagainya.

f. Nilai itu terkait dengan kepercayaan pada setiap

individu.

g. Nilai mendorong individu untuk menjalankan aktivitas,

perilaku atau perbuatan sesuai dengan nilai tersebut.

Nilai akan menodorong individu untuk melaksanakan

sesuatu sesuai dengan nilai tersebut.

h. Nilai akan muncul pada hati nurani, kesadaran ataupun

gagasan individu pada saat individu merasa kebingungan

atau pada saat menghadapi permasalahan hidup.27

Dengan memahami sumber nilai, manfaat nilai dan

sarana prasarana dalam menanamkan nilai maka individu

akan mampu memahami kekuatan dari nilai yang telah ia

27
Adisusilo, S. (2012) “Pembelajaran Nilai Karakter”, (Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada) Hlm 1-279
punya, dan akan mampu merubah suatu yang kurang baik

menjadi lebih baik. Fungsi nilai sebagai acuan tingkah

laku memiliki tiga langkah, langkah-langkah tersebut

antara lain ialah:

a. Values Thinking, ialah nilai-nilai pada tahapan

dipikirkan. Pada tahap ini manusia hanya mengetahui

dan memahami apa itu nilai-nilai kehidupan akan tetapi

belum sampai pada tahap menerapkan nilai-nilai

tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

b. Values affectiffe merupakan nilai-nilai yang menjadi

motivasi atau niat dalam diri individu untuk bertindak.

Pada tahap tersebut individu belum menerapkan akan

tetapi sudah mempunyai niat untuk menerapkan nilai-

nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

c. Values actions, tahap ini merupakan nilai telah menjadi

kepercayaan dan telah menjadi niat untuk diwujudkan


menajadi suatu tindakan nyata atau suatu aksi yang

kongkrit.28

Pada fungsi nilai yang disebutkan di atas

menyatakan bahwa nilai memiliki fungsi sebagai anutan

prilaku dalam kehidupan individu, dan tahap-tahapnya

sesuai dengan urutuan yang telah disebutkan sebelumnya.

1. Nilai-Nilai Keislaman

Nilai islami atau nilai keislaman melibatkan banyak

aspek serta memerlukan analisi dan penelitian yang

mendalam. Islam merupakan salah satu agama mayoritas

di Indonesia yang mana ajarannya diwahyukan Allah Swt,

kepada manusia melalui para Rasul. Adapun sumber nilai

bagi agama Islam adalah, al-qur’an, sunnah dan ijtihad.

Pokok ajaran Islam adalah akidah, syari’ah dan tingkah

laku.29

28
Adisusilo, S. (2012) “Pembelajaran Nilai Karakter”, (Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada) Hlm 1-279
29
Jadid, (2016). “Internalisasi Nilai-Nilai Keislaman dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VIII di SMP IT Alam Nurul
Islam Sleman”. Skripsi Pendidikan Islam
Nilai bukanlah berbentuk seperti suatu benda yang

konkrit, akan tetapi nilai berbentuk abstrak dan ideal.

Dilihat dari sumbernya nilai islamiah berasal dari nilai

ilhiyah yang merupakan nilai yang berasal dari wahyu

Allah Swt dan nilai manusiawi yang dibentuk oleh

manusia sesuai dengan prinsip dan keinginan manusia.30

Berikut ini akan dijelaskan secara rinci mengenai

nilai-nilai keislaman.

a. Iman, yang merupakan sikap batin yang penuh

keyakinan kepada Allah SWT. Persoalan iman banyak

dibahas dalam ilmu tauhid karena ini menyangkut

kepercayaan seseorang terhadap Allah swt. Selain itu,

iman sebagai bagian yang mendasar dalam ajaran

Islam.

b. Islam, yang artinya sikap pasrah terhadap perintah dan

aturan Allah Swt.

c. Ihsan, merupakan kesadaran dan keyakinan yang

paling dalam bahwa Allah selalu ada di sisi kita dan

30
Muhaimin, (1996). “Strategi Belajar Mengajar”.(Surabaya, Citra
Media).Hlm 45
menimbulkan rasa bahwa kita selalu diawasi oleh

Allah Swt.

d. Taqwa, adalah sikap yang sadar bahwa manusia selalu

diawasi oleh Allah Swt. Sikap tersebut nantinya

membuat manusia melakukan perbutan yang diridhoi

Allah Swt.

e. Ikhlas, ialah sikap murni dalam perilaku dan perbuatan

untuk mendapatkan ridho dari Allah bukan balasan

dari manusia.

f. Tawakal. Tawakal merupakan sikap senantiasa

bersandar kepada Allah dengan penuh pengharapan

kepadanya dan kepercayaan bahwa Allah akan

membantu mencarikan jalan yang terbaik.

g. Syukur merupakan sikap atau rasa terimakasih atas

nikmat yang telah Allah berikan yang tidk terhitung.


h. Sabar, merupakan sikap teguh dalam mengalami

apapun yang terjadi dalam hidup, luas dan sempit,

lahir dan batin, fisiologis dan psikologis.31

Tentu masih banyak nilai-nilai ketuhanan yang

diajarkan dalam Islam. Nilai-nilai yang telah

dikemukakan merupakan bagian-bagian yang lumrah

dalam masyarakat. Selain nilai ilahiyah terdapat nilai

insaniyah, yang berkaitan dengan akhlak. Berikut akan

dijelaskan secara rinci mengenai nilai-nilai insaniyah.

a. Silaturrahmi, yaitu keterikatan rasa kasih sayang

antara sesama manusia, terutama antara saudara,

keluarga, tetangga dan seterusnya.

b. Al-ukhuwah, yaitu semangat persaudaraan terutama

kepada sesama sahabat islam

c. Al-musawah, merupakan pandangan bahwa manusia

memiliki derajat yang sama, memiliki jenis kelamin,

31
Madjid, Nurcholish. (2004) “Masyarakat Religius,Membumikan
nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat”. (Gunungsitoli, Paramadina).
Hlm 98-100
kesukuan dan kebangsaannya, dan harkat serta

martabatnya.

d. Al-adalah, merupakan wawasan yang seimbang dalam

melihat, menyikapi dan menilai suatu objek.

e. Husnudzan, adalah sikap berbaik sangka kepada orang

lain, berdasarkan ajaran agama.

f. Al-tawadlu, sikap rendah hati. Sikap ini merupakan

sikap yang tumbuh karena merasa Allah Swt lebih

mulia dari siapapun.

g. Al-wafa yang artinya tepat janji.

h. Al-insyirah, yang merupakan sikap lapang dada, sikap

penuh menghargai orang lain

i. Al-amanah, yang artinya dapat dipercaya.

j. Iffah, artinya sikap penuh harga diri, akan tetapi tidak

sombong dan tetap rendah diri.

k. Quwamiyyah yang artinya sikap tidak boros dan tidak

kikir saat menggunakan harta.


l. Al-munfiqun artinya ialah sikap kaum beriman yang

sangat ingin membantu orang lain, terutama bagi

mereka yang kurang beruntung. 32

Nilai-nilai Islam perlu diperhatikan, terutama untuk

penerapan di lembaga pemasyarakatan. Selain itu,

penerapan nilai-nilai ini tidak sembarangan dilakukan

karena akan berkaitan dengan berbagai hal. Nilai-nilai

keislaman juga bisa memiliki keterkaitan dengan teknik

problem solving pada bagian teknik pengambilan

keputusan dalam menyelesaikan masalah yaitu berdoa dan

menyerahkan segala usaha kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hal tersebut masuk ke dalam nilai-nilai keimanan pada

diri manusia.

D. Lembaga Permasyarakatan

1. Pengertian Lapas

Lembaga permasyarakatan atau LAPAS merupakan

suatu lembaga yang berfungsi untuk melakukan

32
Jadid, (2016). “Internalisasi Nilai-Nilai Keislaman dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VIII di SMP IT Alam Nurul
Islam Sleman”. Skripsi Pendidikan Islam
pembinaan narapidana dan anak didik permasyarakatan.

Sebelum dikenal dengan nama Lapas, di Indonesia

biasanya tempat tersebut dinamakan penjara. Lembaga

Permasyarakatan merupakan Unit Pelaksana Teknis

dibawah Direktorat Jendral Permasyarakatan Kementrian

Hukum dan Hak Asasi Manusia (dahulu departemen

kehakiman).33

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 22 Tahun 2022 tentang permasyarakatan

menyatakan bahwa Lembaga Permasyarakatan yang

disebut Lapas merupakan institusi atau tempat yang

melaksanakan peran pembinaan terhadap Narapidana.

Narapidana adalah mereka yang menjalani pidana penjara

selama waktu tertentu atau seumur hidup atau terpidana

mati yang sedang menunggu pelaksanaan putusan, yang

33
Situmorang (2019). ”Lembaga Permasyarakatan Sebagai Bagian
dari Penegakan Hukum”. Dipublikasi pada Maret 2019 dalam
[Link] Diakases pada Sabtu 1
Oktober 2022. Hlm 85-98. Pukul 20.04 Wib
sedang menjalani pembinaan di lembaga

permasyarakatan.34

Lembaga permasyarakatan merupakan tahapan

paling akhir dalam proses peradilan pidana dan merupakan

akhir dari penjatuhan hukuman. Pada tahap ini sudah

semestinya terdapat berbagai macam keinginan dan tujuan

dari sistem peradilan yang terintegrasi yang terdiri dari

pilar-pilar proses pemidanaan mulai dari lembaga

kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan. Harapan serta

tujuan tersebut dapat berupa aspek pembinaan kepada

warga binaan lembaga permasyarakatan.35

Lembaga permasyarakatan perempuan kelas IIB

Kota B memiliki peran untuk memfasilitasi integrasi diri

dan adaptasi diri dengan masyarakat, tujuannya adalah

agar warga binaan ini dapat merasakan bahwa sebagai

individu dan warga binaan negara Indonesia yang

34
Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2022 Tentang
Permasyarakatan.
35
Sri Wulandari (2012). “Efektifitas Sistem Pembinaan Narapidana di
Lembaga Pemasyarakatan Terhadap Tujuan Pemidanaan” Jurnal Hukum dan
Dinamika Masyarakat. Dipublikasi April 2012 dalam
[Link] diakases pada
Minggu 20 November 2022. Hlm 131-142. Pukul 19.00 Wib.
berkonstirbusi dalam memakukan bangsa dan negara,

sebagaimana individu dan warga negara Indonesia yang

lainnya. Mereka juga mampu menciptkan pandangan

positif dan reputasi yang baik di masyarakat.

Lembaga permasyarakatan dikelompokan dalam

empat kelas yaitu Lapas Kelas I, Lapas Kelas II, Lapas

Kelas IIB, dan Lapas Kelas III. Pengelompokan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai

dengan kapasitas, tempat kependudukan, dan tempat

kegiatan kerja.36

2. Warga Binaan Lapas

Penghuni lembaga permasyarakatan atau warga

binaan permasyarakatan statusnya adalah sebagai tahanan.

Tahanan dimaksudkan sebagai orang yang berada pada

tahapan peradilan dan belum diputuskan bersalah atau

tidak oleh hakim. Pegawai negeri sipil yang bertanggung

jawab atas pengawasan narapidana dan tahanan di lembaga

36
Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2022 Tentang
Permasyarakatan.
pemasyarakatan, atau sebelumnya dikenal dengan sipir

penjara.

Pasal 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995

tentang permasyarakatan mengatakan bahwa warga binaan

permasyarakatan merupakan Narapidana, anak Didik

Permasyarakatan dan Klien Permasyarakatan.

a. Narapidana adalah terpidana yang sedang menjalani

hukuman penjara untuk waktu tertentu dan seumur

hidup atau mereka yang telah dijatuhi hukuman mati

dan menunggu eksekusi, dan saat ini sedang

menjalani rehabilitasi dilembaga permasyarakatan.

b. Anak didik permasyarakatan adalah seorang yang

dinyatakan sebagai anak oleh pengadilan sehingga

kebebasannya dirampas dan ditempatkan di lembaga

permasyarakatan khusus anak.


c. Klien permasyarakatan juga dekenal sebagai klien

merupakan individu yang berada dalam bimbingan

lapas.37

Ketika warga binaan tersebut sedang berada dilapas,

mereka saling melengkapi satu sama lain, saling

menguatkan dan berusaha untuk menerima hukuman yang

telah diberikan serta berusaha untuk memperbaiki diri

menjadi yang lebih baik dari sebelumnya.

3. Tujuan didirikannya Lembaga Pemasyarakatan

Tujuan utama didirikannya lembaga pemasyarakatan

yang disebutkan dalam pasal 2 Undang-Undang

Permasyarakatan yaitu untuk membuat narapidana agar

menjadi manusia yang seutuhnya dan menyadari semua

kesalahan yang telah ia perbuat. Lembaga

permasyarakatan didirikan agar narapidana bisa

memperbaiki diri. Selain itu, diharapkan mereka tidak

kembali melakukan tindak pidana. Nantinya mampu

37
Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2022 Tentang
Permasyarakatan.
diterima kembali di masyarakat serta menjadi anggota

masyarakat yang baik dan bertanggung jawab.38

38
Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1995 Tentang
Permasyarakatan.

Anda mungkin juga menyukai