0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan30 halaman

Peningkatan Matematika dengan NHT SD

Dokumen ini membahas penelitian tentang peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas III SD IT Ar Ridho Palembang melalui model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas model NHT dalam meningkatkan pemahaman dan motivasi siswa terhadap matematika, yang selama ini dianggap sulit. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi siswa, guru, dan sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Diunggah oleh

rani.apriyanti153
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan30 halaman

Peningkatan Matematika dengan NHT SD

Dokumen ini membahas penelitian tentang peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas III SD IT Ar Ridho Palembang melalui model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas model NHT dalam meningkatkan pemahaman dan motivasi siswa terhadap matematika, yang selama ini dianggap sulit. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi siswa, guru, dan sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Diunggah oleh

rani.apriyanti153
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL

PEMBELAJARAN NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) PADA SISWA KELAS III


SD IT AR RIDHO PALEMBANG
Nama : Rosida Silalahi
NIM : 877768122

BAB 1
PENDAHULUAN
[Link] Belakang

Bagi setiap negara, investasi terpenting adalah pendidikan, terutama bagi Indonesia, yang

sedang berkembang dan sedang membangun. Hanya orang yang dipersiapkan dan dibekali

melalui pendidikan yang dapat melakukan pembangunan. Karena pendidikan merupakan satu-

satunya komponen penting yang membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas,

mutu pendidikan merupakan masalah nasional. Peningkatan kualitas pendidikan juga berarti

peningkatan SDM, yang merupakan tanggung jawab besar bagi pemerintah dan semua bagian

bangsa dalam jangka waktu panjang karena menyangkut dimensi luas dari masalah pendidikan

nasional.

Sekolah Dasar adalah lembaga pendidikan pertama yang memainkan peran penting dalam

dunia pendidikan untuk membentuk karakter peserta didik di Sekolah Dasar (SD). Selain itu,

sekolah dasar berfungsi sebagai tonggak tujuan Pendidikan Nasional. Akibatnya, untuk

meningkatkan kualitas pendidikan, diperlukan pengelolaan dan penanganan pendidikan dasar

yang memadai. Matematika, Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan

Sosial (IPS), dan Pendidikan Kewarganegaraan adalah beberapa mata pelajaran pokok di sekolah

dasar selain mata pelajaran tambahan. Jika Anda ingin sukses dalam pendidikan menengah, Anda

harus memiliki kemampuan dasar ini.

Menurut Sri Mulyati dan Hanif Evendi (2020), matematika membangun kemampuan

siswa untuk berpikir sistematis, analitis, logis, dan kritis. Kurikulum 2013 meningkatkan materi

matematika dengan angka dan tanpa angka (gambar, grafik, dan pola) (Vanny Yuniawardani &

Mawardi, dikutip oleh Futeri Maharani Suradi 2023). Oleh karena itu, pembelajaran difokuskan
pada siswa untuk meningkatkan hasil pembelajaran (Mulyati, di kutip oleh Futeri Maharani

Suradi 2023). Untuk membuat pembelajaran matematika mudah dipahami siswa, peran guru

diperlukan.

Dalam proses belajar mengajar guru tidak hanya menyampaikan materi kepada siswa,

tetapi ia juga dituntut untuk membantu keberhasilan dalam menyampaikan materi pelajaran

yaitu dengan cara mengevaluasi hasil belajar mengajar (Firmansyah, di kutip Futeri Maharani

Suradi 2023). Hasil belajar adalah hasil yang diberikan kepada siswa berupa penilaian setelah

mengikuti proses pembelajaran dengan menilai pengetahuan, sikap (Nurrita, di kutip Futeri

Maharani Suradi 2023). Hasil belajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang setelah

melakukan kegiatan belajar, hasil belajar meliputi ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik

yang diambil dari data penilaian guru (Aliyyah, dkk., di kutip Futeri Maharani Suradi 2023).

Hasil belajar tujuan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang diperoleh

oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan evaluasi

hasil belajar tersebut kemudian ditandai dengan skala nilai berupa huruf atau simbol atau angka

(Firmansyah, di kutip Futeri Maharani Suradi 2023)

Matematika, salah satu cabang ilmu yang paling diakui, membantu

mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, matematika sangat penting

untuk cabang ilmu lain, terutama sains dan teknologi. Jadi, matematika sangat penting

untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, siswa harus memahami

matematika lebih dalam. Namun, siswa masih melihat matematika dengan cara yang

buruk. Karena matematika hanya terdiri dari simbol-simbol dan rumus-rumus, beberapa

siswa di sekolah dasar menganggapnya sebagai pelajaran yang sulit. Namun, pada

akhirnya, sebagian besar siswa menjadi jenuh, kesulitan, dan jenuh dengan matematika,

yang mengakibatkan nilai belajar yang rendah.

Matematika, seperti yang kita ketahui, adalah bidang yang lebih menekankan pada

pemahaman dan penguasaan materi yang berkelanjutan, yang berkontribusi pada


pembelajaran lanjutan. berdasarkan temuan siswa di kelas III di SD IT AR RIDHO

PALEMBANG. Pagi pada materi operasi hitung perkalian, data hasil belajar siswa masih

rendah. Dari hasil belajar diketahui ketuntasan belajar siswa kelas III berdasarkan data

tahun pembelajaran sebelumnya dapat di simpulkan bahwa Rendahnya hasil belajar siswa

disebabkan masih kurangnya pengetahuan, pemahaman, dan juga penggunaan atau

penerapan model pembelajaran di dalam kegiatan pembelajaran matematika. Selain itu,

matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit, sehingga minat, sikap, dan

perhatian siswa sangat rendah.

Hal ini menunjukkan bahwa jika tidak ada model pembelajaran yang kreatif dan

inovatif digunakan, hasil belajar matematika siswa tidak sesuai dengan nilai KKM yang

diharapkan. Penggunaan model pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran harus benar-

benar tepat digunakan sesuai dengan pembelajaran yang akan disampaikan karena hasil

belajar yang lebih baik dapat dicapai dengan model pembelajaran yang tepat.

Ketika peneliti melihat siswa di sekolah secara langsung, mereka tidak termotivasi

untuk meningkatkan kemampuan berpikir mereka. Sebaliknya, mereka lebih memilih

pendekatan pembelajaran yang lebih lama, yang berfokus pada menghafal. Anak-anak

dipaksa untuk mengingat dan menyimpan informasi tanpa memahaminya. Sebagai

pelaksana pendidikan, pendidik harus menggunakan metode pembelajaran yang tepat

untuk meningkatkan hasil kualitas proses pembelajaran sehubungan dengan masalah di

atas. Pembelajaran yang dapat digunakan berarti pembelajaran yang menyenangkan

(menyenangkan) secara luas. Ini tidak berarti bahwa lelucon, banyak nyanyian, atau tepuk

tangan yang meriah harus selalu ada selama proses pembelajaran.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, model pembelajaran yang harus diterapkan

dalam pembelajaran matematika harus diubah. Sebagai contoh, model pembelajaran kooperatif

tipe NumberedHead Together (NHT), yang sebelumnya tidak pernah digunakan di kelas,

digunakan. Salah satu jenis pembelajaran kooperatif, model pembelajaran tipe Numbered

HeadTogether menekankan struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi
siswa dengan tujuan meningkatkan penguasaan materi akademik mereka (Setiani & Priansa,

2022). Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) menekankan

belajar kelompok dengan siswa yang memiliki tugas (pertanyaan) dan nomor yang berbeda

untuk setiap anggota (Shoimin, 2020). Dengan kata lain, model pembelajaran kooperatif

tipe Numbered Head Together(NHT) merupakan model yang menekankan siswa untuk

belajar berkelompok dimana setiap anggota kelompok memiliki tugas dan nomor yang berbeda

dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman materi

Salah satu model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) tipe Numbered Heads

together (NHT) memungkinkan siswa belajar dalam kelompok kecil yang heterogen dengan

tingkat kemampuan yang berbeda. Pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk menyelesaikan

masalah pembelajaran dengan bekerja dalam kelompok kecil. Berdasarkan latar belakang di

atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “PENINGKATAN HASIL

BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEAD

TOGETHER (NHT) PADA SISWA KELAS III SD IT AR RIDHO PALEMBANG”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada identifikasi masalah dan pembatasan masalah di atas maka masalah

yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut : “Apakah model pembelajaran Numbered

Heads Together dapat meningkatkan hasil belajar matematika kelas III di SD IT AR-RIDHO

PALEMBANG?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah “apakah melalui Model Pembelajaran NHT

dapat meningkatkan Hasil Belajar Pada Matematika siwa Kelas III SDIT AR-RIDHO

Palembang”
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa, guru dan sekolah.
Adapun manfaat penetlitian ini adalah :
a. Bagi siswa, sebagai pendorong siswa untuk dapat berinteraksi aktif dalam
proses pembelajaran dan selalu semangat dalam mengikuti pembelajaran
karena metode yang dipakai menarik dan tidak membosankan
b. Bagi guru, untuk mempermudah menyampaikan materi pembelajaran sehingga
dapat meningkatkan hasil belajar siswa .
c. Bagi sekolah, penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi sekolah berupa
perbaikan proses pembelajaran yang diharapkan meningkatkan citra sekolah
dan kualitas lulus

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Pembelajaran kooperatif tipe NHT
Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan siswa

untuk meninjau materi pelajaran dan mengevaluasi seberapa baik mereka memahaminya.

Ibrahim mengemukakan tiga tujuan untuk pembelajaran kooperatif tipe NHT: 1. Hasil belajar

akademik stuktural tujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. 2.

Pengakuan adanya keragaman bertujuan untuk memastikan bahwa siswa dapat menerima teman-

teman dari berbagai latar belakang. 3. Pengembangan keterampilan sosial bertujuan untuk

memastikan bahwa siswa memperoleh keterampilan sosial.


Berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau

pendapat, bekerja dalam kelompok, dan sebagainya adalah keterampilan yang

[Link] kooperatif tipe NHT mengacu pada konsep Kagen dalam Ibrahim (2000:

29), yang terdiri dari tiga langkah: a) Membentuk kelompok; b) Berbicara tentang masalah;

Menurut Ibrahim (2000: 29), langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe NHT berikut akan

digunakan dalam penelitian ini: 1. Persiapan: Pada tahap ini, guru membuat skenario

pembelajaran (SP) dan lembar kerja siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran

kooperatif tipe NHT. 2. Pembentukan Kelompok: Pada tahap ini, guru membuat rancangan

pelajaran.

Sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT, guru membagi siswa menjadi

kelompok dengan 3 hingga 5 siswa masing-masing. Guru kemudian memberi setiap siswa nomor

dan nama kelompok mereka. Setiap kelompok yang dibentuk dievaluasi berdasarkan latar

belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin, dan kemampuan belajar mereka.

3. Tiap Kelompok Harus Memiliki Buku Paket Atau Buku Panduan Saat kelompok dibentuk,

harus ada buku paket atau buku panduan untuk membantu siswa menyelesaikan LKS .

4. Diskusi Masalah: Guru memberikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan untuk

dipelajari selama kerja kelompok. Selama kerja kelompok, setiap siswa bekerja sama untuk

membuat deskripsi dan memastikan bahwa semua siswa mengetahui jawaban dari pertanyaan

yang ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru.

5. Menghubungi Nomor Anggota atau Memberi Jawaban

Pada titik ini, guru memanggil satu nomor, dan siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang

sama mengangkat tangan dan memberikan jawaban kepada siswa lain di kelas.

6. Memberi Kesimpulan: Guru dan siswa mengakhiri semua pertanyaan yang berkaitan dengan

materi yang diberikan.

Jadi langkah-langkah NHT adalah:

a. Guru membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa (LKS), lembar
observasi, dan soal tes formatif.

b. Guru membentuk kelompok belajar

c. Untuk membantu siswa mengerjakan LKS, guru membagi buku paket matematika dan IPA

pada setiap kelompok. d. Guru memberikan penjelasan tentang tujuan yang akan dicapai. e. Guru

membagi lembar kerja tentang operasi hitung campuran dan mengklasifikasi benda-benda di

lingkungan sekolah kepada setiap siswa.

f. Setiap siswa mengerjakan lembar kerja dengan berpikir dalam kelompok untuk memastikan

jawaban dari pertanyaan yang diberikan. g. Siswa dengan nomor yang sama di setiap kelompok

dipanggil untuk menyampaikan jawaban kepada siswa di kelas dan memberi tanggapan kepada

siswa lain.

h. Guru bekerja sama dengan siswa untuk menyimpulkan jawaban tentang operasi hitung

campuran dan mengklasifikasi barang-barang di sekolah.

2.1.2 Hasil Belajar

Kemampuan yang diperoleh siswa selama proses belajar yang dapat mengubah tingkah

laku mereka dan meningkatkan pengetahuan, pemahaman, sikap, dan keterampilan [Link]

belajar adalah "Perubahan tingkah laku subjek yang meliputi kemampuan kognitif, afektif, dan

psikomotor dalam situasi tertentu berkat pengalamannya berulang-ulang", menurut Hamalik

(1995: 48). “Hasil belajar ialah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif,

dan psikomotor yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya”, kata Sudjana

(2005: 3).

2.1.3 Pembelajaran Matematika

[Link] Pengertian Matematika


Matematika merupakan salah satu cabang ilmu yang termasuk dalam kelompok ilmu

pengetahuan, bersama dengan fisika, biologi, psikologi, ilmu sosial, dan linguistik. Dalam

konteks konstruktivisme, matematika dipandang sebagai suatu disiplin yang membekali anak

dengan pengetahuan melalui pengalaman belajar yang memungkinkan mereka untuk

membangun pemahaman berdasarkan masalah yang dihadapi. Dalam hal ini, anak-anak belajar

matematika dengan berusaha memecahkan masalah yang mereka temui, sesuai dengan

pengetahuan yang mereka konstruksi selama proses belajar (Hamzah, 2021:126-132).

Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, di mana kebenaran suatu konsep atau

pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya. Namun, dalam

pembelajaran matematika, pemahaman konsep sering kali dimulai secara induktif, melalui

pengalaman dan peristiwa nyata yang dialami siswa. Proses induktif dan deduktif ini dapat

digunakan untuk memahami dan mempelajari konsep-konsep matematika. Dalam pembelajaran

matematika di kelas, sering ditemukan aplikasi rumus atau sifat yang diperoleh dari penalaran

deduktif maupun induktif, meskipun sering kali hal ini tidak dipahami secara formal sebagai

"belajar bernalar" (Depdiknas, 2023:5-6).

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2022:157), pembelajaran adalah proses yang dilakukan

oleh guru untuk membantu siswa belajar bagaimana cara memperoleh dan memproses

pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Dengan demikian, pembelajaran matematika adalah suatu

proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membekali siswa dengan ilmu pengetahuan dan

keterampilan matematika. Proses pembelajaran ini mencakup kegiatan yang dirancang oleh guru

untuk menciptakan situasi belajar yang efektif, di mana siswa dapat belajar secara aktif, terutama

melalui penggunaan model pembelajaran penemuan terbimbing.

Dari pendapat yang telah disampaikan, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran

matematika adalah suatu proses yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru untuk membantu

siswa memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan matematika. Proses pembelajaran ini

tidak hanya mencakup penyampaian materi, tetapi juga menciptakan situasi belajar yang aktif, di
mana siswa dihadapkan pada masalah atau tantangan yang mendorong mereka untuk berpikir

dan menemukan solusi secara mandiri. Salah satu model yang dapat digunakan untuk mencapai

tujuan tersebut adalah model pembelajaran penemuan terbimbing, di mana guru memberikan

bimbingan secara bertahap, membantu siswa menemukan konsep matematika melalui eksplorasi

dan penalaran. Dengan demikian, siswa tidak hanya menghafal rumus atau teori, tetapi juga

memahami dan dapat menerapkan konsep-konsep matematika dalam berbagai situasi nyata

[Link] Teori Pembelajaran Matematika SD

Pembelajaran matematika di Sekolah Dasar (SD) merupakan bagian dari matematika

sekolah yang dipilih dan disesuaikan untuk menumbuhkan kemampuan-kemampuan dasar serta

membentuk pribadi anak. Pembelajaran ini berpedoman pada perkembangan Ilmu Pengetahuan

dan Teknologi, dengan tujuan agar siswa dapat memahami dan mengaplikasikan konsep-konsep

matematika dasar yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Sebagai ilmu yang memiliki objek kajian abstrak, matematika di SD memiliki dua ciri

khas utama, yaitu:

1. Memiliki objek kajian yang abstrak

Meskipun matematika seringkali terkait dengan konsep-konsep abstrak seperti bilangan,

rumus, dan teori, dalam pembelajaran di SD, konsep-konsep ini diajarkan dengan cara

yang lebih sederhana dan aplikatif. Hal ini bertujuan untuk memudahkan siswa

memahami ide matematika tanpa harus terjebak dalam abstraksi yang terlalu rumit.

2. Memiliki pola pikir deduktif yang konsisten

Matematika mengajarkan siswa untuk berpikir secara logis dan sistematis. Dalam

pembelajaran di SD, siswa dikenalkan pada pola pikir deduktif secara bertahap, yang

mengajarkan mereka untuk menyimpulkan informasi berdasarkan aturan atau prinsip

yang sudah dipahami sebelumnya.


Suherman (2006:55) menjelaskan bahwa meskipun matematika adalah ilmu yang bersifat

abstrak dan sulit dipahami oleh siswa SD yang belum memiliki kemampuan berpikir formal,

konsep matematika tetap dapat diajarkan pada usia dini. Bahkan, pembelajaran matematika pada

usia dini dianggap sangat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan kognitif dasar anak-

anak, seperti berpikir logis dan sistematis, serta memperkenalkan konsep-konsep yang akan lebih

kompleks di jenjang pendidikan selanjutnya.

Meskipun siswa SD lebih mudah memahami benda-benda konkret, matematika di SD

dapat disampaikan melalui pendekatan yang lebih konkrit dan visual. Dengan menggunakan alat

peraga, gambar, atau permainan, guru dapat membantu siswa memahami konsep-konsep

matematika dengan cara yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari mereka. Hal ini

menunjukkan bahwa matematika, meskipun abstrak, tetap bisa diajarkan secara efektif pada

anak-anak, asalkan disesuaikan dengan tahap perkembangan berpikir mereka.

. 2.2 Kajian Hasil Penelitian yang Relevan

Suwiyadi (2006) dalam jurnal penelitiannya yang berjudul “Penerapan Model NHT

untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan PKN” menyelidiki penerapan model

pembelajaran Numbered Head Together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada

mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) di SMP Terbuka I Balikpapan. Penelitian ini

menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK), yang bertujuan untuk meningkatkan

prestasi belajar siswa dengan menerapkan strategi pembelajaran yang lebih interaktif.

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Terbuka I Balikpapan yang berinduk di SMP Negeri

04 Balikpapan, dengan subjek penelitian terdiri dari 25 siswa kelas VII, yang terdiri dari 12

siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Model pembelajaran Numbered Head Together (NHT)

diterapkan dengan tujuan untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dan

memperbaiki hasil belajar mereka.


Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam hasil belajar

siswa setelah penerapan model pembelajaran NHT. Peningkatan nilai rata-rata siswa untuk aspek

kognitif (pengetahuan) adalah 73,9, dengan ketuntasan belajar mencapai 70%. Selain itu,

persentase ketuntasan belajar mengalami peningkatan yang cukup besar, yaitu sebesar 29,7%,

dari 60% sebelum tindakan menjadi 89,7% setelah penerapan model pembelajaran NHT.

Penerapan model NHT ini terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa dan

hasil belajar mereka, terutama dalam aspek kognitif. Hal ini menunjukkan bahwa model

pembelajaran yang melibatkan kerja sama antar siswa, seperti NHT, dapat meningkatkan

motivasi belajar dan pencapaian akademik siswa di kelas.

2.3 Kerangka Berpikir

Kemampuan siswa dalam menghitung perkalian dan pembagian di beberapa sekolah

belum mencapai hasil yang maksimal. Banyak faktor yang memengaruhi rendahnya hasil belajar

siswa, salah satunya adalah kurangnya keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Meskipun

aktivitas guru dalam mengajar sangat penting, ternyata keberhasilan pembelajaran tidak hanya

bergantung pada kegiatan pengajaran dari guru. Keberhasilan ini lebih ditentukan oleh

bagaimana siswa berpartisipasi dan berinteraksi dalam pembelajaran.

Untuk itu, dibutuhkan pendekatan pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk lebih

aktif, kreatif, dan inovatif. Salah satu model pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan

keaktifan dan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT).

Model ini memfokuskan pada kerja kelompok, di mana siswa saling bekerjasama untuk

memecahkan masalah, berbagi ide, dan mengembangkan keterampilan komunikasi serta sosial.

Dengan menggunakan model NHT, siswa tidak hanya belajar konsep dan prinsip matematika,

tetapi juga belajar untuk mengarahkan diri, mengendalikan diri, dan bertanggung jawab atas

proses belajar mereka.


Model NHT mendorong keterlibatan siswa secara lebih menyeluruh, membuat mereka

lebih senang dan lebih sering terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini memberikan peluang

lebih besar bagi siswa untuk mengalami proses pembelajaran yang mendalam, yang pada

gilirannya akan meningkatkan pemahaman dan keterampilan mereka dalam matematika.

Proses pembelajaran dengan model NHT ini dirancang untuk dilaksanakan dalam dua siklus.

Setiap siklus terdiri dari tiga tahap utama, yaitu:

1. Perencanaan, di mana guru merencanakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan siswa

secara aktif.

2. Tindakan dan Observasi, di mana pembelajaran dilakukan sesuai rencana, dan guru

melakukan observasi terhadap interaksi dan keterlibatan siswa dalam kelompok.

3. Refleksi, di mana guru bersama siswa merefleksikan proses pembelajaran yang telah

dilakukan untuk mengevaluasi dan memperbaiki langkah-langkah yang perlu diperbaiki

di siklus berikutnya.
Alur kerangka berpikir pembelajaran konvensional dengan ( metode ceramah ) ke
pembelajaran PAIKEM ( pendekatan model Kooperatif Tipe NHT

Pembelajaran Konvensional dengan Pola berpikir siswa


PBM
metode ceramah (berpusat pada guru) abstrak ke konkret

Perbaikan pembelajaran dengan PAIKEM Hasil belajar dibawah KKM


(pendekatan model Kooperatif Tipe NHT)

Pembelajaran dengan menggunakan model


pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Observasi
1. Setiap siswa dalam kelompok mendapat
nomor urut yang sama.
2. Setiap siswa mendapat soal tentang
operasi hitung campuran.
3. Memikirkan jawaban soal setiap siswa
dalam kelompok.
4. Setiap siswa dalam kelompok yang
nomornya sama dipanggil maju
Penilaian proses belajar
mempresentasikan jawaban.
5. Siswa yang lain memberi tanggapan
2.4 Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka berpikir yang telah dijelaskan, dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:

Melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT),

diduga dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi operasi hitung campuran di

kelas III SD IT AR Ridho Palembang.

Hipotesis ini didasarkan pada anggapan bahwa model pembelajaran NHT, yang melibatkan siswa

dalam kelompok untuk saling bekerja sama dan bertanggung jawab dalam memecahkan masalah,

akan meningkatkan keaktifan, keterlibatan, dan pemahaman siswa terhadap materi operasi hitung

campuran. Dengan demikian, diharapkan akan terjadi peningkatan hasil belajar matematika pada

siswa kelas III SD IT AR Ridho Palembang.

BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

3.1 Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas II di SDIT AR-RIDHO Palembang pada

tahun pelajaran 2024/2025, yang berjumlah 20 orang siswa. Rincian jumlah siswa adalah sebagai

berikut: 8 orang siswa laki-laki dan 12 orang siswa perempuan. Siswa-siswa ini menjadi fokus

penelitian untuk melihat pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered

Heads Together (NHT) terhadap hasil belajar matematika, khususnya pada materi operasi hitung

campuran.

3.2 Tempat Penelitian

Penelitian tindakan ini dilaksanakan di SDIT AR-RIDHO Palembang, yang merupakan

lokasi di mana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)

akan diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada materi operasi hitung

campuran di kelas II. Sekolah ini dipilih sebagai tempat penelitian karena memiliki kondisi yang

mendukung untuk eksperimen pembelajaran dan memberikan kesempatan untuk menerapkan

metode yang diusulkan dalam meningkatkan prestasi akademik siswa.

3.3 Waktu Penelitian

Penelitian tindakan ini dilaksanakan pada tanggal 13 Mei sampai 16 Mei 2024, yang

termasuk dalam semester Genap Tahun Pelajaran 2024/2025. Periode waktu ini dipilih untuk

melaksanakan tindakan penelitian, sehingga data yang diperoleh dapat memberikan gambaran

yang jelas tentang efektivitas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads

Together (NHT) dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas II di SDIT AR-

RIDHO Palembang.

3.4 Pihak yang Membantu


Dalam pelaksanaan penelitian ini, teman sejawat akan menjadi pihak yang membantu

dalam proses penelitian. Teman sejawat ini dapat berperan dalam berbagai aspek, seperti

memberikan dukungan selama perencanaan dan implementasi model pembelajaran kooperatif

tipe Numbered Heads Together (NHT), serta membantu dalam observasi dan evaluasi proses

pembelajaran. Dengan adanya bantuan dari teman sejawat, diharapkan penelitian dapat berjalan

dengan lancar dan menghasilkan data yang valid untuk analisis lebih lanjut.

3.5 Desain Prosedur Perbaikan Belajar Model Pembelajaran Kooperatif Tipe

Numbered Heads Together (NHT)

Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) adalah salah satu

pendekatan yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar, terutama

untuk meningkatkan pemahaman dan hasil belajar. Berikut adalah desain prosedur perbaikan

belajar menggunakan model NHT:

1. Persiapan

 a. Menyusun Rencana Pembelajaran:

o Tentukan tujuan pembelajaran yang jelas dan spesifik.

o Pilih materi yang sesuai untuk pembelajaran kooperatif, misalnya operasi hitung

campuran.

o Siapkan alat dan bahan pembelajaran yang diperlukan, seperti kartu nomor,

lembar kerja siswa, dan alat peraga yang relevan dengan materi.

 b. Pembagian Kelompok:

o Kelompokkan siswa ke dalam kelompok kecil, masing-masing terdiri dari 4-5

siswa.

o Setiap siswa dalam kelompok diberi nomor (misalnya 1-5) untuk memudahkan

proses interaksi dalam kegiatan belajar.


 c. Pengaturan Kelas:

o Tentukan tempat duduk siswa dalam kelompok, pastikan setiap kelompok dapat

berdiskusi dengan nyaman dan efektif.

o Siapkan papan tulis atau proyektor untuk menjelaskan materi kepada seluruh

kelas.

2. Tahap Pelaksanaan

 a. Penjelasan Materi (15-20 menit):

o Guru memberikan penjelasan tentang materi yang akan dipelajari, seperti operasi

hitung campuran (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian).

o Guru menggunakan media visual atau contoh soal untuk mempermudah

pemahaman.

 b. Pembagian Tugas Kelompok (5-10 menit):

o Setiap kelompok diberikan soal latihan yang berkaitan dengan materi yang baru

saja dijelaskan.

o Dalam setiap kelompok, siswa bekerjasama untuk mendiskusikan dan

menyelesaikan soal dengan bantuan teman sekelompok.

 c. Proses Diskusi dalam Kelompok (15-20 menit):

o Siswa mendiskusikan soal-soal yang telah diberikan dalam kelompok mereka.

o Setiap siswa bertanggung jawab untuk memahami dan menjelaskan bagian-bagian

soal kepada teman sekelompok.

o Siswa bekerja bersama untuk mencari solusi dengan memanfaatkan pengetahuan

dan pemahaman masing-masing.


 d. Pemberian Nomor (5-10 menit):

o Setelah diskusi selesai, guru meminta siswa untuk menyiapkan diri untuk

memberikan jawaban.

o Guru memanggil nomor siswa secara acak (misalnya, dengan menyebutkan

nomor yang diberikan pada awal pembelajaran) untuk menjawab soal atau

memberikan penjelasan.

o Nomor yang dipilih bertanggung jawab untuk menjelaskan jawaban kepada

seluruh kelas, sehingga setiap siswa merasa terlibat dan bertanggung jawab atas

proses belajar.

 e. Saling Berbagi Jawaban (10-15 menit):

o Setiap kelompok menyampaikan jawaban mereka dengan bantuan siswa yang

dipilih sebelumnya.

o Guru memberikan umpan balik dan klarifikasi jika ada penjelasan yang kurang

tepat atau masih membingungkan.

 f. Refleksi (5-10 menit):

o Setelah semua kelompok selesai, guru mengajak siswa untuk melakukan refleksi

tentang apa yang telah dipelajari.

o Guru menanyakan kepada siswa apa yang mereka pelajari hari itu dan apakah ada

kesulitan yang mereka hadapi.

3. Evaluasi dan Tindak Lanjut

 a. Evaluasi Hasil Belajar (5-10 menit):

o Guru memberikan tes atau kuis singkat untuk mengukur sejauh mana pemahaman

siswa terhadap materi yang telah dipelajari.


o Siswa dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat pemahaman mereka (misalnya:

tingkat pemahaman tinggi, sedang, dan rendah).

 b. Tindak Lanjut (10 menit):

o Guru memberikan penugasan individu atau tugas rumah yang relevan dengan

materi yang telah diajarkan untuk memperdalam pemahaman siswa.

o Jika ditemukan kelompok atau siswa yang kesulitan, guru memberikan bimbingan

tambahan, baik melalui diskusi kelas atau pertemuan tambahan setelah jam

pelajaran.

 c. Refleksi Proses Pembelajaran (5 menit):

o Guru melakukan refleksi tentang pelaksanaan pembelajaran yang telah dilakukan.

Apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki dalam proses belajar mengajar

menggunakan model NHT.

o Guru mencatat hal-hal yang perlu diperbaiki untuk siklus pembelajaran

berikutnya.

4. Penutup

 Guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari.

 Memberikan motivasi dan apresiasi kepada siswa atas partisipasi aktif mereka dalam

pembelajaran.

 Mengingatkan siswa untuk mempersiapkan diri untuk pelajaran selanjutnya.

Keuntungan Model Pembelajaran NHT:

 Peningkatan Keterlibatan: Semua siswa terlibat aktif dalam proses belajar.

 Kerjasama Tim: Mendorong kerja sama dalam kelompok, di mana setiap anggota saling

membantu untuk mencapai tujuan bersama.


 Tanggung Jawab Individu: Setiap siswa memiliki tanggung jawab untuk menjawab atau

menjelaskan soal ketika nomor mereka dipilih, meningkatkan rasa tanggung jawab.

 Penguatan Konsep: Melalui diskusi kelompok dan berbagi jawaban, pemahaman siswa

terhadap konsep yang diajarkan menjadi lebih kuat.

Dengan prosedur ini, diharapkan pembelajaran matematika dapat berlangsung secara

efektif dan menyenangkan, serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi operasi

hitung campuran.

3.6 Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan dua teknik

analisis, yaitu analisis deskriptif dan analisis komparatif, dengan tujuan untuk mengevaluasi

efektivitas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)

dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan hasil tes siswa dan memberikan

pemahaman yang lebih mendalam tentang kondisi awal serta perkembangan pembelajaran yang

terjadi selama siklus. Dalam hal ini, langkah-langkah analisis deskriptif yang dilakukan adalah:

 Menghitung nilai rata-rata dari hasil tes siswa di setiap siklus (baik sebelum tindakan

pembelajaran dimulai maupun setelah penerapan model NHT).

 Menghitung distribusi nilai untuk melihat sebaran nilai siswa dan mengidentifikasi

tingkat keberhasilan secara keseluruhan.

 Menampilkan data dalam bentuk grafik atau tabel untuk memudahkan interpretasi hasil,

seperti persentase siswa yang tuntas dan yang tidak tuntas.

2. Analisis Komparatif
Analisis komparatif digunakan untuk membandingkan nilai tes yang diperoleh siswa

antara kondisi sebelum tindakan pembelajaran dan setelah tindakan pembelajaran dilakukan.

Teknik ini bertujuan untuk melihat apakah ada peningkatan hasil belajar siswa setelah penerapan

model NHT. Langkah-langkah analisis komparatif yang dilakukan adalah:

 Membandingkan nilai tes yang diperoleh siswa antara dua kondisi: sebelum penerapan

model pembelajaran NHT dan setelah siklus pertama serta siklus kedua.

 Menghitung persentase ketuntasan belajar dari setiap siklus, yaitu jumlah siswa yang

tuntas (memenuhi kriteria ketuntasan belajar) dibandingkan dengan total jumlah siswa.

o Ketuntasan belajar dihitung dengan rumus:

Ketuntasan Belajar=(Jumlah siswa tuntasJumlah siswa keseluruhan)×100%\

text{Ketuntasan Belajar} = \left( \frac{\text{Jumlah siswa tuntas}}{\text{Jumlah

siswa keseluruhan}} \right) \times 100\%

 Menganalisis perubahan persentase ketuntasan dari siklus satu ke siklus berikutnya untuk

mengetahui apakah ada peningkatan yang signifikan.

 Menggunakan perbandingan hasil tes untuk melihat apakah ada perbedaan yang

signifikan antara hasil belajar siswa sebelum dan setelah penerapan model pembelajaran.

3. Penafsiran Data

 Hasil yang Tuntas: Jika persentase siswa yang tuntas meningkat secara signifikan setelah

penerapan model NHT, maka dapat disimpulkan bahwa model tersebut efektif dalam

meningkatkan hasil belajar siswa.

 Hasil yang Tidak Tuntas: Jika masih ada siswa yang tidak tuntas, akan dilakukan analisis

lebih lanjut untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab ketuntasan yang rendah dan

merencanakan perbaikan pada siklus berikutnya.


Melalui analisis deskriptif dan komparatif ini, diharapkan penelitian dapat memberikan

gambaran yang jelas mengenai sejauh mana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe

Numbered Heads Together (NHT) berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa pada

materi operasi hitung campuran.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Hasil Penelitian
Analisis deskriptif berikut mencakup data hasil belajar sesudah mengikuti
pembelajaran pada materi globalisasi pada kelompok kontrol dan kelompok
eksperimen.
Descriptive Statistics
Tabel 4.1

N Minimu Maximu Mean Std.


m m Deviation
Kelompok 20 65 99 85.72 8.715
Eksperimen
Kelompok Kontrol 23 60 97 76.15 9.550
Valid N (listwise) 32

Berdasarkan statistik deskritif diatas, diketahui jumlah siswa pada


kelompok eksperimen sebanyak 20 siswa, dengan skor minimal sebesar 65, skor
maksimal sebesar 99, rata-rata nilai sebesar 85,72 dengan standar deviasi sebesar
8,715. Sedangkan untuk kelompok kontrol dengan jumlah siswa sebanyak 23
didapatkan skor minimal sebesar 60, skor maksimal sebesar 97, rata-rata nilai
sebesar 76,15 dengan standar deviasi sebesar 9,550.
Untuk menentukan tinggi rendahnya ketuntasan hasil belajar kelompok
kontrol dan kelompok eksperimen ditentukan kriteria KKM 70. Hasil analisis
ketuntasan hasil belajar kelompok eksperimen disajikan pada tabel 4.2 sebagai
berikut:
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Ketuntasan Hasil Belajar Kelompok Eksperimen
Nilai KKM Frekuensi Persentase (%)
≥ 80 Tuntas 13 78
< 80 Tidak Tuntas 7 22
∑ 32 100

Dari tabel 4.2 diketahui 13 siswa memenuhi KKM yang ditentukan yaitu 80
dengan persentase 78% dan sebanyak 7 siswa belum mencapai KKM yang
ditentukan yaitu 80 dengan persentase 22% untuk lebih jelasnya akan disajikan
dalam gambar visual diagram lingkaran ketuntasan hasil belajar kelompok
eksperimen.

Gambar 4.2
Diagram Lingkaran Ketuntasan Hasil Belajar Kelompok Eksperimen
Analisis ketuntasan juga dilakukan pada kelompok kontrol. Berikut adalah hasil analisis
ketuntasan hasil belajar kelompok kontrol. Analisis ketuntasan dilakukan dengan
memperhatikan KKM yang telah ditentukan yaitu 70. Hasil analisis ketuntasan hasil
belajar kelompok kontrol disajikan pada tabel 4.3 sebagai berikut:
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Ketuntasan Hasil Belajar Kelompok Kontrol
Nilai KKM Frekuensi Persentase (%)
≥ 80 Tuntas 8 61
< 80 Tidak Tuntas 14 39
∑ 20 100

Dari tabel 4.2 diketahui 20 siswa memenuhi KKM yang ditentukan yaitu 70
dengan persentase 61% dan sebanyak 14 siswa belum mencapai KKM yang
ditentukan yaitu 70 dengan persentase 39% untuk lebih jelasnya akan disajikan
dalam gambar visual diagram lingkaran ketuntasan hasil belajar kelompok
kontrol.

Gambar 4.3
Diagram Lingkaran Ketuntasan Hasil Belajar Kelompok Kontrol
4.2 Pembahasan Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD IT AR RIDHO PALEMBANG yang terletak di

Jalan Residen Hj. Abdul Rozak Lrg. Madiun No.27 Rt 12. Pada Semester Ganjil Tahun

Pelajaran 2024/2025. Siswa di SD IT AR RIDHO PALEMBANG sebagai kelompok

eksperimen dengan pembelajaran Matematika menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe NHT dan siswa di SD IT AR RIDHO PALEMBANG sebagai kelompok

kontrol dengan pembelajaran Matematika menggunakan pembelajaran konvensional.

Sebelum diberi pembelajaran, kedua kelompok tersebut diberi tes awal untuk menguji

kesamaan varians sehingga kedua kelompok tersebut menunjukkan keadaan dua

kelompok yang homogen. Artinya bahwa data tersebut berdistribusi normal dan

memiliki varians sama. Ini menunjukkan bahwa sebelum diberi perlakuan kedua

kelompok mempunyai kemampuan awal yang sama sehingga kelompok eksperimen

dapat diberi perlakuan yaitu dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT dan kelompok

kontrol menggunakan pembelajaran konvensional. Setelah pembelajaran selesai,

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diberi tes formatif untuk mengetahui hasil

belajar siswa kelas III pokok bahasan globalisasi pada akhir pertemuan.

Hasil belajar siswa kelas III di SD SD IT AR RIDHO PALEMBANG pada

kelompok eksperimen dengan perlakuan penggunaan model pembelajaran

kooperatif tipe NHT bahwa siswa yang mendapat hasil belajar Matematika

kelompok eksperimen pada kategori tuntas dengan KKM 70 berjumlah 13 siswa

dengan persentase 78% dan pada kategori tidak tuntas dengan KKM 70 berjumlah

7 siswa dengan persentase 22%. Jadi pada kelompok eksperimen hasil belajar

siswa tergolong baik sebab dalam proses pembelajaran, kegiatan siswa sudah

sesuai dengan prosedur penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.

Sedangkan pada kelompok kontrol yang menggunakan pembelajaran

konvensional, siswa yang mendapat hasil belajar Matematika kelompok


kontrol pada kategori tidak tuntas dengan KKM 70 sebanyak 8 siswa dengan

presentase 61% dan siswa yang masuk dalam kategori tuntas dengan KKM 70

sebanyak 14 siswa dengan presentase 39%. Jadi dapat disimpulkan bahwa

hasil belajar Matematika pada kelompok kontrol tergolong pada kategori

rendah. Hasil belajar Matematika tergolong rendah disebabkan perbedaan

perlakuan. Pada kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan tertentu,

meskipun keadaan dan hasil belajar siswa, latar belakang guru, ruang kelas,

sarana dan prasarana yang ada homogen artinya tidak ada perbedaan tetapi

karena adanya perbedaan perlakuan dalam pembelajaran siswa mengikuti guru

sesuai yang disampaikan dengan berpedoman RPP yang telah disajikan maka

siswa hanya berpacu apa yang telah disampaikan.

Dari data hasil penelitian terlihat bahwa terdapat perbedaan hasil

belajar pada siswa kelompok eksperimen dan Kontrol yaitu SD IT AR RIDHO

PALEMBANG. Hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe NHT lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang

menggunakan pembelajaran konvensional. Dengan demikian, ada pengaruh

penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap hasil belajar

Matematika

Penelitian ini sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya yang

menunjukkan efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads

Together (NHT) dalam meningkatkan hasil belajar matematika.

 Ferry Pietersz dan Horasdia Saragih (2010) dalam penelitian mereka

menyatakan bahwa penerapan model NHT memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap peningkatan hasil belajar matematika, khususnya pada


pokok bahasan persamaan garis lurus. Model ini terbukti dapat mengaktifkan

siswa dalam proses belajar dengan cara yang lebih kooperatif, sehingga

mempermudah pemahaman materi.

 Penelitian Sunandar (2008) juga mengungkapkan adanya pengaruh positif

yang signifikan terhadap minat dan hasil belajar matematika siswa SD,

terutama pada SD IT AR Ridho Palembang, yang menerapkan model NHT.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model kooperatif NHT

tidak hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga dapat meningkatkan

minat siswa terhadap mata pelajaran matematika.

Hasil penelitian ini mendukung hipotesis bahwa penggunaan model NHT

dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Hal ini disebabkan oleh

adanya interaksi sosial yang terjalin antar siswa dalam kelompok, yang

mendorong mereka untuk saling berbagi pengetahuan dan berdiskusi untuk

mencari solusi bersama. Model ini membuat siswa lebih terlibat aktif dalam

pembelajaran dan lebih bertanggung jawab terhadap proses belajar mereka

sendiri.

Perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelompok eksperimen

(yang menggunakan model NHT) dan kelompok kontrol (yang tidak

menggunakan model tersebut) dapat dijelaskan melalui penerapan model

kooperatif yang memotivasi siswa untuk bekerja sama dalam kelompok. Hal

ini memperkuat pentingnya penerapan model NHT dalam pembelajaran

untuk mencapai hasil belajar yang lebih optimal.

Pembelajaran yang dilakukan juga mengajari siswa menjadi

pendengar yang baik, dapat memberikan penjelasan kepada teman

kelompoknya, berdiskusi dan menghargai pendapat teman lain. Belajar


melalui teman sendiri, membuat siswa merasa nyaman, tidak ada rasa malu

sehingga siswa yang lemah tidak segan-segan untuk menanyakan kesulitan

yang dihadapinya. Keberhasilan yang tercapai juga tercipta karena adanya

hubungan antar anggota kelompok yang saling mendukung, saling

membantu, saling menghargai dan peduli antara siswa yang satu dengan

siswa lain dalam kelompoknya. Secara umum terjadinya perbedaan hasil

belajar dan pencapaian tingkat berpikir siswa karena dalam model

pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together)

dikembangkan ketrampilan siswa dalam bekerja sama, berinteraksi,

berdiskusi, menyatukan pendapat dari cara berpikir yang berbeda untuk dapat

menyelesaikan permasalahan yang dikerjakan secara bersama sehingga dapat

membangun motivasi belajar pada siswa dan pada akhirnya berpengaruh

terhadap hasil belajar dan pencapaian tingkat berpikirnya


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa

ada pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered

Heads Together) terhadap hasil belajar Matematika siswa kelas III SD IT AR RIDHO

PALEMBANG .Hal ini dibuktikan dengan hasil uji Independent Sample T-Tes

mendapatkan nilai signifikansi dari hasil belajar Matematika kurang dari 0,005 yaitu

0,000 (0,000 < 0,05) dan diperoleh t hitung sebesar 4,215 lebih besar daripada ttabel

(4,215>1,669). Ini berarti hasil belajar belajar Matematika siswa kelas III SD IT AR

RIDHO PALEMBANG dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe

NHT lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar Matematika dengan menggunakan

pembelajaran konvensional. Hal ini ditunjukkan oleh mean hasil belajar pada

kelompok eksperimen sebesar 85,72 sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh

mean hasil belajar sebesar 76,15 dengan selisih mean kelompok eksperimen dan

kontrol sebesar 9,567.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, bahwa penggunaan model

pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) berpengaruh terhadap

hasil belajar Matematika siswa kelas III SD IT AR RIDHO PALEMBANG maka peneliti

menyarankan:

Untuk menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung inovasi dalam proses

pembelajaran khususnya penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT

pada mata pelajaran Matematika dan juga pada mata pelajaran lain.

Anda mungkin juga menyukai