Peningkatan Matematika dengan NHT SD
Peningkatan Matematika dengan NHT SD
BAB 1
PENDAHULUAN
[Link] Belakang
Bagi setiap negara, investasi terpenting adalah pendidikan, terutama bagi Indonesia, yang
sedang berkembang dan sedang membangun. Hanya orang yang dipersiapkan dan dibekali
melalui pendidikan yang dapat melakukan pembangunan. Karena pendidikan merupakan satu-
satunya komponen penting yang membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas,
mutu pendidikan merupakan masalah nasional. Peningkatan kualitas pendidikan juga berarti
peningkatan SDM, yang merupakan tanggung jawab besar bagi pemerintah dan semua bagian
bangsa dalam jangka waktu panjang karena menyangkut dimensi luas dari masalah pendidikan
nasional.
Sekolah Dasar adalah lembaga pendidikan pertama yang memainkan peran penting dalam
dunia pendidikan untuk membentuk karakter peserta didik di Sekolah Dasar (SD). Selain itu,
sekolah dasar berfungsi sebagai tonggak tujuan Pendidikan Nasional. Akibatnya, untuk
yang memadai. Matematika, Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan
Sosial (IPS), dan Pendidikan Kewarganegaraan adalah beberapa mata pelajaran pokok di sekolah
dasar selain mata pelajaran tambahan. Jika Anda ingin sukses dalam pendidikan menengah, Anda
Menurut Sri Mulyati dan Hanif Evendi (2020), matematika membangun kemampuan
siswa untuk berpikir sistematis, analitis, logis, dan kritis. Kurikulum 2013 meningkatkan materi
matematika dengan angka dan tanpa angka (gambar, grafik, dan pola) (Vanny Yuniawardani &
Mawardi, dikutip oleh Futeri Maharani Suradi 2023). Oleh karena itu, pembelajaran difokuskan
pada siswa untuk meningkatkan hasil pembelajaran (Mulyati, di kutip oleh Futeri Maharani
Suradi 2023). Untuk membuat pembelajaran matematika mudah dipahami siswa, peran guru
diperlukan.
Dalam proses belajar mengajar guru tidak hanya menyampaikan materi kepada siswa,
tetapi ia juga dituntut untuk membantu keberhasilan dalam menyampaikan materi pelajaran
yaitu dengan cara mengevaluasi hasil belajar mengajar (Firmansyah, di kutip Futeri Maharani
Suradi 2023). Hasil belajar adalah hasil yang diberikan kepada siswa berupa penilaian setelah
mengikuti proses pembelajaran dengan menilai pengetahuan, sikap (Nurrita, di kutip Futeri
Maharani Suradi 2023). Hasil belajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang setelah
melakukan kegiatan belajar, hasil belajar meliputi ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik
yang diambil dari data penilaian guru (Aliyyah, dkk., di kutip Futeri Maharani Suradi 2023).
Hasil belajar tujuan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang diperoleh
oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan evaluasi
hasil belajar tersebut kemudian ditandai dengan skala nilai berupa huruf atau simbol atau angka
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, matematika sangat penting
untuk cabang ilmu lain, terutama sains dan teknologi. Jadi, matematika sangat penting
untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, siswa harus memahami
matematika lebih dalam. Namun, siswa masih melihat matematika dengan cara yang
buruk. Karena matematika hanya terdiri dari simbol-simbol dan rumus-rumus, beberapa
siswa di sekolah dasar menganggapnya sebagai pelajaran yang sulit. Namun, pada
akhirnya, sebagian besar siswa menjadi jenuh, kesulitan, dan jenuh dengan matematika,
Matematika, seperti yang kita ketahui, adalah bidang yang lebih menekankan pada
PALEMBANG. Pagi pada materi operasi hitung perkalian, data hasil belajar siswa masih
rendah. Dari hasil belajar diketahui ketuntasan belajar siswa kelas III berdasarkan data
tahun pembelajaran sebelumnya dapat di simpulkan bahwa Rendahnya hasil belajar siswa
matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit, sehingga minat, sikap, dan
Hal ini menunjukkan bahwa jika tidak ada model pembelajaran yang kreatif dan
inovatif digunakan, hasil belajar matematika siswa tidak sesuai dengan nilai KKM yang
benar tepat digunakan sesuai dengan pembelajaran yang akan disampaikan karena hasil
belajar yang lebih baik dapat dicapai dengan model pembelajaran yang tepat.
Ketika peneliti melihat siswa di sekolah secara langsung, mereka tidak termotivasi
pendekatan pembelajaran yang lebih lama, yang berfokus pada menghafal. Anak-anak
(menyenangkan) secara luas. Ini tidak berarti bahwa lelucon, banyak nyanyian, atau tepuk
dalam pembelajaran matematika harus diubah. Sebagai contoh, model pembelajaran kooperatif
tipe NumberedHead Together (NHT), yang sebelumnya tidak pernah digunakan di kelas,
digunakan. Salah satu jenis pembelajaran kooperatif, model pembelajaran tipe Numbered
HeadTogether menekankan struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi
siswa dengan tujuan meningkatkan penguasaan materi akademik mereka (Setiani & Priansa,
2022). Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) menekankan
belajar kelompok dengan siswa yang memiliki tugas (pertanyaan) dan nomor yang berbeda
untuk setiap anggota (Shoimin, 2020). Dengan kata lain, model pembelajaran kooperatif
tipe Numbered Head Together(NHT) merupakan model yang menekankan siswa untuk
belajar berkelompok dimana setiap anggota kelompok memiliki tugas dan nomor yang berbeda
Salah satu model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) tipe Numbered Heads
together (NHT) memungkinkan siswa belajar dalam kelompok kecil yang heterogen dengan
tingkat kemampuan yang berbeda. Pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk menyelesaikan
masalah pembelajaran dengan bekerja dalam kelompok kecil. Berdasarkan latar belakang di
atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “PENINGKATAN HASIL
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada identifikasi masalah dan pembatasan masalah di atas maka masalah
yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut : “Apakah model pembelajaran Numbered
Heads Together dapat meningkatkan hasil belajar matematika kelas III di SD IT AR-RIDHO
PALEMBANG?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah “apakah melalui Model Pembelajaran NHT
dapat meningkatkan Hasil Belajar Pada Matematika siwa Kelas III SDIT AR-RIDHO
Palembang”
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa, guru dan sekolah.
Adapun manfaat penetlitian ini adalah :
a. Bagi siswa, sebagai pendorong siswa untuk dapat berinteraksi aktif dalam
proses pembelajaran dan selalu semangat dalam mengikuti pembelajaran
karena metode yang dipakai menarik dan tidak membosankan
b. Bagi guru, untuk mempermudah menyampaikan materi pembelajaran sehingga
dapat meningkatkan hasil belajar siswa .
c. Bagi sekolah, penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi sekolah berupa
perbaikan proses pembelajaran yang diharapkan meningkatkan citra sekolah
dan kualitas lulus
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Pembelajaran kooperatif tipe NHT
Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan siswa
untuk meninjau materi pelajaran dan mengevaluasi seberapa baik mereka memahaminya.
Ibrahim mengemukakan tiga tujuan untuk pembelajaran kooperatif tipe NHT: 1. Hasil belajar
akademik stuktural tujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. 2.
Pengakuan adanya keragaman bertujuan untuk memastikan bahwa siswa dapat menerima teman-
teman dari berbagai latar belakang. 3. Pengembangan keterampilan sosial bertujuan untuk
[Link] kooperatif tipe NHT mengacu pada konsep Kagen dalam Ibrahim (2000:
29), yang terdiri dari tiga langkah: a) Membentuk kelompok; b) Berbicara tentang masalah;
Menurut Ibrahim (2000: 29), langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe NHT berikut akan
digunakan dalam penelitian ini: 1. Persiapan: Pada tahap ini, guru membuat skenario
pembelajaran (SP) dan lembar kerja siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran
kooperatif tipe NHT. 2. Pembentukan Kelompok: Pada tahap ini, guru membuat rancangan
pelajaran.
Sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT, guru membagi siswa menjadi
kelompok dengan 3 hingga 5 siswa masing-masing. Guru kemudian memberi setiap siswa nomor
dan nama kelompok mereka. Setiap kelompok yang dibentuk dievaluasi berdasarkan latar
belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin, dan kemampuan belajar mereka.
3. Tiap Kelompok Harus Memiliki Buku Paket Atau Buku Panduan Saat kelompok dibentuk,
harus ada buku paket atau buku panduan untuk membantu siswa menyelesaikan LKS .
4. Diskusi Masalah: Guru memberikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan untuk
dipelajari selama kerja kelompok. Selama kerja kelompok, setiap siswa bekerja sama untuk
membuat deskripsi dan memastikan bahwa semua siswa mengetahui jawaban dari pertanyaan
yang ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru.
Pada titik ini, guru memanggil satu nomor, dan siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang
sama mengangkat tangan dan memberikan jawaban kepada siswa lain di kelas.
6. Memberi Kesimpulan: Guru dan siswa mengakhiri semua pertanyaan yang berkaitan dengan
a. Guru membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa (LKS), lembar
observasi, dan soal tes formatif.
c. Untuk membantu siswa mengerjakan LKS, guru membagi buku paket matematika dan IPA
pada setiap kelompok. d. Guru memberikan penjelasan tentang tujuan yang akan dicapai. e. Guru
membagi lembar kerja tentang operasi hitung campuran dan mengklasifikasi benda-benda di
f. Setiap siswa mengerjakan lembar kerja dengan berpikir dalam kelompok untuk memastikan
jawaban dari pertanyaan yang diberikan. g. Siswa dengan nomor yang sama di setiap kelompok
dipanggil untuk menyampaikan jawaban kepada siswa di kelas dan memberi tanggapan kepada
siswa lain.
h. Guru bekerja sama dengan siswa untuk menyimpulkan jawaban tentang operasi hitung
Kemampuan yang diperoleh siswa selama proses belajar yang dapat mengubah tingkah
laku mereka dan meningkatkan pengetahuan, pemahaman, sikap, dan keterampilan [Link]
belajar adalah "Perubahan tingkah laku subjek yang meliputi kemampuan kognitif, afektif, dan
(1995: 48). “Hasil belajar ialah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif,
dan psikomotor yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya”, kata Sudjana
(2005: 3).
pengetahuan, bersama dengan fisika, biologi, psikologi, ilmu sosial, dan linguistik. Dalam
konteks konstruktivisme, matematika dipandang sebagai suatu disiplin yang membekali anak
membangun pemahaman berdasarkan masalah yang dihadapi. Dalam hal ini, anak-anak belajar
matematika dengan berusaha memecahkan masalah yang mereka temui, sesuai dengan
Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, di mana kebenaran suatu konsep atau
pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya. Namun, dalam
pembelajaran matematika, pemahaman konsep sering kali dimulai secara induktif, melalui
pengalaman dan peristiwa nyata yang dialami siswa. Proses induktif dan deduktif ini dapat
matematika di kelas, sering ditemukan aplikasi rumus atau sifat yang diperoleh dari penalaran
deduktif maupun induktif, meskipun sering kali hal ini tidak dipahami secara formal sebagai
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2022:157), pembelajaran adalah proses yang dilakukan
oleh guru untuk membantu siswa belajar bagaimana cara memperoleh dan memproses
pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Dengan demikian, pembelajaran matematika adalah suatu
proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membekali siswa dengan ilmu pengetahuan dan
keterampilan matematika. Proses pembelajaran ini mencakup kegiatan yang dirancang oleh guru
untuk menciptakan situasi belajar yang efektif, di mana siswa dapat belajar secara aktif, terutama
matematika adalah suatu proses yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru untuk membantu
siswa memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan matematika. Proses pembelajaran ini
tidak hanya mencakup penyampaian materi, tetapi juga menciptakan situasi belajar yang aktif, di
mana siswa dihadapkan pada masalah atau tantangan yang mendorong mereka untuk berpikir
dan menemukan solusi secara mandiri. Salah satu model yang dapat digunakan untuk mencapai
tujuan tersebut adalah model pembelajaran penemuan terbimbing, di mana guru memberikan
bimbingan secara bertahap, membantu siswa menemukan konsep matematika melalui eksplorasi
dan penalaran. Dengan demikian, siswa tidak hanya menghafal rumus atau teori, tetapi juga
memahami dan dapat menerapkan konsep-konsep matematika dalam berbagai situasi nyata
sekolah yang dipilih dan disesuaikan untuk menumbuhkan kemampuan-kemampuan dasar serta
membentuk pribadi anak. Pembelajaran ini berpedoman pada perkembangan Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi, dengan tujuan agar siswa dapat memahami dan mengaplikasikan konsep-konsep
Sebagai ilmu yang memiliki objek kajian abstrak, matematika di SD memiliki dua ciri
rumus, dan teori, dalam pembelajaran di SD, konsep-konsep ini diajarkan dengan cara
yang lebih sederhana dan aplikatif. Hal ini bertujuan untuk memudahkan siswa
memahami ide matematika tanpa harus terjebak dalam abstraksi yang terlalu rumit.
Matematika mengajarkan siswa untuk berpikir secara logis dan sistematis. Dalam
pembelajaran di SD, siswa dikenalkan pada pola pikir deduktif secara bertahap, yang
abstrak dan sulit dipahami oleh siswa SD yang belum memiliki kemampuan berpikir formal,
konsep matematika tetap dapat diajarkan pada usia dini. Bahkan, pembelajaran matematika pada
usia dini dianggap sangat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan kognitif dasar anak-
anak, seperti berpikir logis dan sistematis, serta memperkenalkan konsep-konsep yang akan lebih
dapat disampaikan melalui pendekatan yang lebih konkrit dan visual. Dengan menggunakan alat
peraga, gambar, atau permainan, guru dapat membantu siswa memahami konsep-konsep
matematika dengan cara yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari mereka. Hal ini
menunjukkan bahwa matematika, meskipun abstrak, tetap bisa diajarkan secara efektif pada
Suwiyadi (2006) dalam jurnal penelitiannya yang berjudul “Penerapan Model NHT
pembelajaran Numbered Head Together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada
mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) di SMP Terbuka I Balikpapan. Penelitian ini
menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK), yang bertujuan untuk meningkatkan
prestasi belajar siswa dengan menerapkan strategi pembelajaran yang lebih interaktif.
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Terbuka I Balikpapan yang berinduk di SMP Negeri
04 Balikpapan, dengan subjek penelitian terdiri dari 25 siswa kelas VII, yang terdiri dari 12
siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Model pembelajaran Numbered Head Together (NHT)
diterapkan dengan tujuan untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dan
siswa setelah penerapan model pembelajaran NHT. Peningkatan nilai rata-rata siswa untuk aspek
kognitif (pengetahuan) adalah 73,9, dengan ketuntasan belajar mencapai 70%. Selain itu,
persentase ketuntasan belajar mengalami peningkatan yang cukup besar, yaitu sebesar 29,7%,
dari 60% sebelum tindakan menjadi 89,7% setelah penerapan model pembelajaran NHT.
Penerapan model NHT ini terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa dan
hasil belajar mereka, terutama dalam aspek kognitif. Hal ini menunjukkan bahwa model
pembelajaran yang melibatkan kerja sama antar siswa, seperti NHT, dapat meningkatkan
belum mencapai hasil yang maksimal. Banyak faktor yang memengaruhi rendahnya hasil belajar
siswa, salah satunya adalah kurangnya keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Meskipun
aktivitas guru dalam mengajar sangat penting, ternyata keberhasilan pembelajaran tidak hanya
bergantung pada kegiatan pengajaran dari guru. Keberhasilan ini lebih ditentukan oleh
Untuk itu, dibutuhkan pendekatan pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk lebih
aktif, kreatif, dan inovatif. Salah satu model pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan
keaktifan dan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT).
Model ini memfokuskan pada kerja kelompok, di mana siswa saling bekerjasama untuk
memecahkan masalah, berbagi ide, dan mengembangkan keterampilan komunikasi serta sosial.
Dengan menggunakan model NHT, siswa tidak hanya belajar konsep dan prinsip matematika,
tetapi juga belajar untuk mengarahkan diri, mengendalikan diri, dan bertanggung jawab atas
lebih senang dan lebih sering terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini memberikan peluang
lebih besar bagi siswa untuk mengalami proses pembelajaran yang mendalam, yang pada
Proses pembelajaran dengan model NHT ini dirancang untuk dilaksanakan dalam dua siklus.
secara aktif.
2. Tindakan dan Observasi, di mana pembelajaran dilakukan sesuai rencana, dan guru
3. Refleksi, di mana guru bersama siswa merefleksikan proses pembelajaran yang telah
di siklus berikutnya.
Alur kerangka berpikir pembelajaran konvensional dengan ( metode ceramah ) ke
pembelajaran PAIKEM ( pendekatan model Kooperatif Tipe NHT
Berdasarkan kerangka berpikir yang telah dijelaskan, dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
Melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT),
diduga dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi operasi hitung campuran di
Hipotesis ini didasarkan pada anggapan bahwa model pembelajaran NHT, yang melibatkan siswa
dalam kelompok untuk saling bekerja sama dan bertanggung jawab dalam memecahkan masalah,
akan meningkatkan keaktifan, keterlibatan, dan pemahaman siswa terhadap materi operasi hitung
campuran. Dengan demikian, diharapkan akan terjadi peningkatan hasil belajar matematika pada
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas II di SDIT AR-RIDHO Palembang pada
tahun pelajaran 2024/2025, yang berjumlah 20 orang siswa. Rincian jumlah siswa adalah sebagai
berikut: 8 orang siswa laki-laki dan 12 orang siswa perempuan. Siswa-siswa ini menjadi fokus
penelitian untuk melihat pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered
Heads Together (NHT) terhadap hasil belajar matematika, khususnya pada materi operasi hitung
campuran.
lokasi di mana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)
akan diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada materi operasi hitung
campuran di kelas II. Sekolah ini dipilih sebagai tempat penelitian karena memiliki kondisi yang
Penelitian tindakan ini dilaksanakan pada tanggal 13 Mei sampai 16 Mei 2024, yang
termasuk dalam semester Genap Tahun Pelajaran 2024/2025. Periode waktu ini dipilih untuk
melaksanakan tindakan penelitian, sehingga data yang diperoleh dapat memberikan gambaran
yang jelas tentang efektivitas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads
Together (NHT) dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas II di SDIT AR-
RIDHO Palembang.
dalam proses penelitian. Teman sejawat ini dapat berperan dalam berbagai aspek, seperti
tipe Numbered Heads Together (NHT), serta membantu dalam observasi dan evaluasi proses
pembelajaran. Dengan adanya bantuan dari teman sejawat, diharapkan penelitian dapat berjalan
dengan lancar dan menghasilkan data yang valid untuk analisis lebih lanjut.
Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) adalah salah satu
pendekatan yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar, terutama
untuk meningkatkan pemahaman dan hasil belajar. Berikut adalah desain prosedur perbaikan
1. Persiapan
o Pilih materi yang sesuai untuk pembelajaran kooperatif, misalnya operasi hitung
campuran.
o Siapkan alat dan bahan pembelajaran yang diperlukan, seperti kartu nomor,
lembar kerja siswa, dan alat peraga yang relevan dengan materi.
b. Pembagian Kelompok:
siswa.
o Setiap siswa dalam kelompok diberi nomor (misalnya 1-5) untuk memudahkan
o Tentukan tempat duduk siswa dalam kelompok, pastikan setiap kelompok dapat
o Siapkan papan tulis atau proyektor untuk menjelaskan materi kepada seluruh
kelas.
2. Tahap Pelaksanaan
o Guru memberikan penjelasan tentang materi yang akan dipelajari, seperti operasi
pemahaman.
o Setiap kelompok diberikan soal latihan yang berkaitan dengan materi yang baru
saja dijelaskan.
o Setelah diskusi selesai, guru meminta siswa untuk menyiapkan diri untuk
memberikan jawaban.
nomor yang diberikan pada awal pembelajaran) untuk menjawab soal atau
memberikan penjelasan.
seluruh kelas, sehingga setiap siswa merasa terlibat dan bertanggung jawab atas
proses belajar.
dipilih sebelumnya.
o Guru memberikan umpan balik dan klarifikasi jika ada penjelasan yang kurang
o Setelah semua kelompok selesai, guru mengajak siswa untuk melakukan refleksi
o Guru menanyakan kepada siswa apa yang mereka pelajari hari itu dan apakah ada
o Guru memberikan tes atau kuis singkat untuk mengukur sejauh mana pemahaman
o Guru memberikan penugasan individu atau tugas rumah yang relevan dengan
o Jika ditemukan kelompok atau siswa yang kesulitan, guru memberikan bimbingan
tambahan, baik melalui diskusi kelas atau pertemuan tambahan setelah jam
pelajaran.
Apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki dalam proses belajar mengajar
berikutnya.
4. Penutup
Memberikan motivasi dan apresiasi kepada siswa atas partisipasi aktif mereka dalam
pembelajaran.
Kerjasama Tim: Mendorong kerja sama dalam kelompok, di mana setiap anggota saling
menjelaskan soal ketika nomor mereka dipilih, meningkatkan rasa tanggung jawab.
Penguatan Konsep: Melalui diskusi kelompok dan berbagi jawaban, pemahaman siswa
efektif dan menyenangkan, serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi operasi
hitung campuran.
Dalam penelitian ini, data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan dua teknik
analisis, yaitu analisis deskriptif dan analisis komparatif, dengan tujuan untuk mengevaluasi
efektivitas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)
1. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan hasil tes siswa dan memberikan
pemahaman yang lebih mendalam tentang kondisi awal serta perkembangan pembelajaran yang
terjadi selama siklus. Dalam hal ini, langkah-langkah analisis deskriptif yang dilakukan adalah:
Menghitung nilai rata-rata dari hasil tes siswa di setiap siklus (baik sebelum tindakan
Menghitung distribusi nilai untuk melihat sebaran nilai siswa dan mengidentifikasi
Menampilkan data dalam bentuk grafik atau tabel untuk memudahkan interpretasi hasil,
2. Analisis Komparatif
Analisis komparatif digunakan untuk membandingkan nilai tes yang diperoleh siswa
antara kondisi sebelum tindakan pembelajaran dan setelah tindakan pembelajaran dilakukan.
Teknik ini bertujuan untuk melihat apakah ada peningkatan hasil belajar siswa setelah penerapan
Membandingkan nilai tes yang diperoleh siswa antara dua kondisi: sebelum penerapan
model pembelajaran NHT dan setelah siklus pertama serta siklus kedua.
Menghitung persentase ketuntasan belajar dari setiap siklus, yaitu jumlah siswa yang
tuntas (memenuhi kriteria ketuntasan belajar) dibandingkan dengan total jumlah siswa.
Menganalisis perubahan persentase ketuntasan dari siklus satu ke siklus berikutnya untuk
Menggunakan perbandingan hasil tes untuk melihat apakah ada perbedaan yang
signifikan antara hasil belajar siswa sebelum dan setelah penerapan model pembelajaran.
3. Penafsiran Data
Hasil yang Tuntas: Jika persentase siswa yang tuntas meningkat secara signifikan setelah
penerapan model NHT, maka dapat disimpulkan bahwa model tersebut efektif dalam
Hasil yang Tidak Tuntas: Jika masih ada siswa yang tidak tuntas, akan dilakukan analisis
lebih lanjut untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab ketuntasan yang rendah dan
gambaran yang jelas mengenai sejauh mana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
Numbered Heads Together (NHT) berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa pada
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Hasil Penelitian
Analisis deskriptif berikut mencakup data hasil belajar sesudah mengikuti
pembelajaran pada materi globalisasi pada kelompok kontrol dan kelompok
eksperimen.
Descriptive Statistics
Tabel 4.1
Dari tabel 4.2 diketahui 13 siswa memenuhi KKM yang ditentukan yaitu 80
dengan persentase 78% dan sebanyak 7 siswa belum mencapai KKM yang
ditentukan yaitu 80 dengan persentase 22% untuk lebih jelasnya akan disajikan
dalam gambar visual diagram lingkaran ketuntasan hasil belajar kelompok
eksperimen.
Gambar 4.2
Diagram Lingkaran Ketuntasan Hasil Belajar Kelompok Eksperimen
Analisis ketuntasan juga dilakukan pada kelompok kontrol. Berikut adalah hasil analisis
ketuntasan hasil belajar kelompok kontrol. Analisis ketuntasan dilakukan dengan
memperhatikan KKM yang telah ditentukan yaitu 70. Hasil analisis ketuntasan hasil
belajar kelompok kontrol disajikan pada tabel 4.3 sebagai berikut:
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Ketuntasan Hasil Belajar Kelompok Kontrol
Nilai KKM Frekuensi Persentase (%)
≥ 80 Tuntas 8 61
< 80 Tidak Tuntas 14 39
∑ 20 100
Dari tabel 4.2 diketahui 20 siswa memenuhi KKM yang ditentukan yaitu 70
dengan persentase 61% dan sebanyak 14 siswa belum mencapai KKM yang
ditentukan yaitu 70 dengan persentase 39% untuk lebih jelasnya akan disajikan
dalam gambar visual diagram lingkaran ketuntasan hasil belajar kelompok
kontrol.
Gambar 4.3
Diagram Lingkaran Ketuntasan Hasil Belajar Kelompok Kontrol
4.2 Pembahasan Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD IT AR RIDHO PALEMBANG yang terletak di
Jalan Residen Hj. Abdul Rozak Lrg. Madiun No.27 Rt 12. Pada Semester Ganjil Tahun
Sebelum diberi pembelajaran, kedua kelompok tersebut diberi tes awal untuk menguji
kelompok yang homogen. Artinya bahwa data tersebut berdistribusi normal dan
memiliki varians sama. Ini menunjukkan bahwa sebelum diberi perlakuan kedua
dapat diberi perlakuan yaitu dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT dan kelompok
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diberi tes formatif untuk mengetahui hasil
belajar siswa kelas III pokok bahasan globalisasi pada akhir pertemuan.
kooperatif tipe NHT bahwa siswa yang mendapat hasil belajar Matematika
dengan persentase 78% dan pada kategori tidak tuntas dengan KKM 70 berjumlah
7 siswa dengan persentase 22%. Jadi pada kelompok eksperimen hasil belajar
siswa tergolong baik sebab dalam proses pembelajaran, kegiatan siswa sudah
presentase 61% dan siswa yang masuk dalam kategori tuntas dengan KKM 70
meskipun keadaan dan hasil belajar siswa, latar belakang guru, ruang kelas,
sarana dan prasarana yang ada homogen artinya tidak ada perbedaan tetapi
sesuai yang disampaikan dengan berpedoman RPP yang telah disajikan maka
kooperatif tipe NHT lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang
Matematika
siswa dalam proses belajar dengan cara yang lebih kooperatif, sehingga
yang signifikan terhadap minat dan hasil belajar matematika siswa SD,
dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Hal ini disebabkan oleh
adanya interaksi sosial yang terjalin antar siswa dalam kelompok, yang
mencari solusi bersama. Model ini membuat siswa lebih terlibat aktif dalam
sendiri.
kooperatif yang memotivasi siswa untuk bekerja sama dalam kelompok. Hal
membantu, saling menghargai dan peduli antara siswa yang satu dengan
berdiskusi, menyatukan pendapat dari cara berpikir yang berbeda untuk dapat
5.1 Simpulan
Heads Together) terhadap hasil belajar Matematika siswa kelas III SD IT AR RIDHO
PALEMBANG .Hal ini dibuktikan dengan hasil uji Independent Sample T-Tes
mendapatkan nilai signifikansi dari hasil belajar Matematika kurang dari 0,005 yaitu
0,000 (0,000 < 0,05) dan diperoleh t hitung sebesar 4,215 lebih besar daripada ttabel
(4,215>1,669). Ini berarti hasil belajar belajar Matematika siswa kelas III SD IT AR
NHT lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar Matematika dengan menggunakan
pembelajaran konvensional. Hal ini ditunjukkan oleh mean hasil belajar pada
mean hasil belajar sebesar 76,15 dengan selisih mean kelompok eksperimen dan
5.2 Saran
hasil belajar Matematika siswa kelas III SD IT AR RIDHO PALEMBANG maka peneliti
menyarankan:
Untuk menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung inovasi dalam proses
pada mata pelajaran Matematika dan juga pada mata pelajaran lain.