Program Sekolah Ramah Anak 2024/2025
Program Sekolah Ramah Anak 2024/2025
“Pemenuhan Hak Pendidikan Anak adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik pada usia anak secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia,serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
“menyebutkan bahwa anak mempunyai hak untuk dapat hidup tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi
secara wajar sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi. Disebutkan di atas salah satunya adalah berpartisipasi yang dijabarkan sebagai hak untuk
berpendapat dan didengarkan suaranya.”
A. Pengertian
Sekolah Ramah Anak adalah sekolah yang secara sadar berupaya menjamin dan memenuhi hak-hak anak
dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggung jawab. Prinsip utama adalah non
diskriminasi kepentingan, hak hidup serta penghargaan terhadap anak. Sebagaimana dalam bunyi pasal
4 UU No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, menyebutkan bahwa anak mempunyai hak untuk
dapat hidup tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai harkat dan martabat kemanusiaan,
serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Disebutkan di atas salah satunya adalah
berpartisipasi yang dijabarkan sebagai hak untuk berpendapat dan didengarkan suaranya. Sekolah Ramah
Anak adalah sekolah yang terbuka melibatkan anak untuk berpartisipasi dalam segala kegiatan, kehidupan
sosial,serta mendorong tumbuh kembang dan kesejahteraan anak.
Sekolah Ramah Anak adalah sekolah yang aman, bersih, sehat, hijau, inklusif dan nyaman bagi
perkembangan fisik, kognisi dan psikososial anak perempuan dan anak laki-laki termasuk anak yang
memerlukan pendidikan khusus dan/atau pendidikan layanan khusus.
Dalam usaha mewujudkan Sekolah Ramah Anak perlu didukung oleh berbagai pihak antara lain keluarga
dan masyarakat yang sebenarnya merupakan pusat pendidikan terdekat anak. Lingkungan yang
mendukung, melindungi memberi rasa aman dan nyaman bagi anak akan sangat membantu proses mencari
jati diri. Kebiasaan anak memiliki kecenderungan meniru, mencoba dan mencari pengakuan akan
eksistensinya pada lingkungan tempat mereka tinggal. Berikut adalah peran aktif berbagai unsur
pendukung terciptanya Sekolah Ramah Anak.
N Ruang Lingku
Uraian
o p
Sekolah adalah institusi yang memiliki mandat untuk menyelenggarakan proses pendidikan dan
pembelajaran secara sistematis dan berkesinambungan. Para pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah
diharapkan menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran yang mampu memfasilitasi peserta didik
berperilaku terpelajar. Perilaku terpelajar ditampilkan dalam bentuk pencapaian prestasi akademik,
menunjukkan perilaku yang beretika dan berakhlak mulia, memiliki motivasi belajar yang tinggi.
Ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan untuk membangun sekolah ramah anak, diantaranya:
1. Sekolah dituntut untuk mampu menghadirkan dirinya sebagai sebuah media, tidak sekedar tempat yang
menyenangkan bagi anak untuk belajar.
2. Dunia anak adalah “bermain”. Dalam bermain itulah sesungguhnya anak melakukan proses belajar dan
bekerja. Sekolah merupakan tempat bermain yang memperkenalkan persaingan yang sehat dalam
sebuah proses belajar-mengajar.
3. Sekolah perlu menciptakan ruang bagi anak untuk berbicara mengenai sekolahnya. Tujuannya agar
terjadi dialektika antara nilai yang diberikan oleh pendidikan kepada anak.
4. Para pendidik tidak perlu merasa terancam dengan penilaian peserta didik karena pada dasarnya nilai
tidak menambah realitas atau substansi para obyek, melainkan hanya nilai. Nilai bukan merupakan
benda atau unsur dari benda, melainkan sifat, kualitas, suigeneris yang dimiliki obyek tertentu yang
dikatakan “baik”. (Risieri Frondizi, 2001:9)
5. Sekolah bukan merupakan dunia yang terpisah dari realitas keseharian anak dalam keluarga karena
pencapaian cita-cita seorang anak tidak dapat terpisahan dari realitas keseharian. Keterbatasan jam
pelajaran dan kurikulum yang mengikat menjadi kendala untuk memaknai lebih dalam interaksi antara
pendidik dengan anak. Untuk menyiasati hal tersebut sekolah dapat mengadakan jam khusus diluar jam
sekolah yang berisi sharing antar anak maupun sharing antara guru dengan anak tentang realitas
hidupnya di keluarga masing-masing, misalnya: diskusi bagaimana hubungan dengan orang tua, apa
reaksi orang tua ketika mereka mendapatkan nilai buruk di sekolah, atau apa yang diharapkan orang tua
terhadap mereka. Hasil pertemuan dapat menjadi bahan refleksi dalam sebuah materi pelajaran yang
disampaikan di kelas. Cara ini merupakan siasat bagi pendidik untuk mengetahui kondisi anak karena
disebagian masyarakat, anak dianggap investasi keluarga, sebagai jaminan tempat bergantung di hari tua
(Yulfita, 2000:22).
Sekolah harus menciptakan suasana yang konduksif agar anak merasa nyaman dan dapat mengekspresikan
potensinya. Agar suasana konduksif tersebut tercipta, maka ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan,
terutama: (1) program sekolah yang sesuai; (2) lingkungan sekolah yang mendukung; dan (3) aspek
sarana-prasarana yang memadai.
Program sekolah seharusnya disesuaikan dengan dunia anak, artinya program disesuaikan dengan
tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan [Link] tidak harus dipaksakan melakukan sesuatu
tetapi dengan program tersebut anak secara otomatis terdorong untuk mengeksplorasi [Link]
penting yang perlu diperhatikan sekolah adalah partisipasi aktif anak terhadap kegaiatan yang
[Link] yang tumbuh karena sesuai dengan kebutuhan anak.
Pada anak SMP ke bawah program sekolah lebih menekankan pada fungsi dan sedikit proses, bukan
menekankan produk atau hasil. Produk hanya merupakan konsekuensi dari [Link] teori biologi
menyatakan “Fungsi membentuk organ.” Fungsi yang kurang diaktifkan akan menyebabkan atrofi, dan
sebaliknya organ akan terbentuk apabila cukup fungsi. Hal ini relevan jika dikaitkan dengan
pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, apa pun aktivitasnya diharapkan tidak
menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak, baik yang berkaitan dengan fisik, mental, maupun
sosialnya. Biasanya dengan aktivitas bermain misalnya, kualitas-kualitas tersebut dapat difungsikan
secara serempak. Di sisi lain, nilai-nilai karakter yang seharusnya dimiliki anak juga dapat terbina
sebagai dampak partisipasi aktif anak.
Kekuatan sekolah terutama pada kualitas guru, tanpa mengabaikan faktor lain. Guru memiliki peran
penting dalam menyelenggarakan pembelajaran yang bermutu. Untuk di SD dan TK, guru harus
memiliki minimal tiga potensi, yaitu: (1)memiliki rasa kecintaan kepada anak (Having sense of love to
the children); (2) memahami dunia anak (Having sense of love to the children); dan (3) mampu
mendekati anak dengan tepat (baca: metode) (Having appropriate approach).
Suasana lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat bagi anak untuk belajar tentang
[Link] sekolah yang memprogramkan kegiatannya sampai sore. Suasana aktivitas anak
yang ada di masyarakat juga diprogramkan di sekolah sehingga anak tetap mendapatkan pengalaman-
pengalaman yang seharusnya ia dapatkan di masyarakat. Bagi anak lingkungan dan suasana yang
memungkinkan untuk bermain sangatlah penting karena bermain bagi anak merupakan bagian dari
hidupnya. Bahkan UNESCO menyatakan “Right to play” (hak bermain).
Pada dasarnya, bermain dapat dikatakan sebagai bentuk miniatur dari [Link], nilai-nilai
yang ada di masyarakat juga ada di dalam permainan atau aktivitas bermain.
Jika suasana ini dapat tercipta di sekolah, maka suasana di lingkungan sekolah sangat kondusif untuk
menumbuh-kembangkan potensi anak karena anak dapat mengekspresikan dirinya secara leluasa
sesuai dengan dunianya.
Di samping itu, penciptaan lingkungan yang bersih, akses air minum yang sehat, bebas dari sarang
kuman, dan gizi yang memadai merupakan faktor yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan
anak.
3. Sarana-prasarana yang memadai
Sarana-prasarana utama yang dibutuhkan adalah yang berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran
anak. Sarana-prasarana tidak harus mahal tetapi sesuai dengan kebutuhan anak.
Adanya zona aman dan selamat ke sekolah, adanya kawasan bebas reklame rokok, pendidikan
inklusif juga merupakan faktor yang diperhatikan sekolah. Sekolah juga perlu melakukan penataan
lingkungan sekolah dan kelas yang menarik, memikat, mengesankan, dan pola pengasuhan dan
pendekatan individual sehingga sekolah menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan.
Sekolah juga menjamin hak partisipasi anak. Adanya forum anak, ketersediaan pusat-pusat informasi
layak anak, ketersediaan fasilitas kreatif dan rekreatif pada anak, ketersediaan kotak saran kelas dan
sekolah, ketersediaan papan pengumuman, ketersediaan majalah atau koran anak. Sekolah hendaknya
memungkinkan anak untuk melakukan sesuatu yang meliputi hak untuk mengungkapkan pandangan
dan perasaannya terhadap situasi yang memiliki dampak pada anak.
Karena sekolah merupakan tempat pendidikan anak tanpa kecuali (pendidikan untuk semua) maka
akses bagi semua anak juga harus disediakan. (Prof Dr Furqon Hidayatullah, MPd, Dekan FKIP UNS
dan Dewan Pakar Yayasan Lembaga Pendidikan Al Firdaus).
Arah Kebijakan Dan Strategi Pengembangan Implementasi Sekolah Ramah Anak
A. Kondisi Sekolah
Kondisi sekolah saat ini dapat dimaknai sebagai suatu sekolah yang kurang memfasilitasi dan
memberdayakan potensi [Link] memberdayakan potensi anak sekolah tentunya harus
memprogramkan sesuatunya yang menyebabkan potensi anak tumbuh dan berkembang. Konsekuensi
menciptakan sekolah ramah anak tidaklah mudah karena sekolah di samping harus menciptakan program
sekolah yang memadai, sekolah juga harus menciptakan lingkungan yang edukatif
Banyak aktivitas sekolah yang biasa dilakukan anak yang memiliki nilai-nilai positif dalam membentuk
karakter dan kepribadian. Dengan adanya perubahan, terutama di kota-kota karena terbatasnya lahan dan
perubahan struktur bangunan sekolah menyebabkan beberapa aktivitas yang penting bagi anak tersebut
hilang dan tidak dapat dilakukan [Link], lompat tali sebagai bentuk aktivitas uji diri, sekarang tidak
dapat dilakukan karena sebagian besar telah dimanfaatkan untuk lahan parkir atau tertutup bangunan.
Jika kegiatan-kegiatan tersebut tidak tergantikan berarti ada beberapa potensi anak yang hilang karena
tidak dapat dilakukan anak di [Link] karena itu, perlu dicari solusi untuk menggantikan aktivitas
yang hilang tersebut. Utamanya, akan lebih bagus jika sekolah memprogramkannya. Jika dikaitkan dengan
sekolah ramah anak maka pemrograman semacam ini sangat penting sebagai bentuk pelayanan pada anak
dalam rangka memberdayakan [Link] sekolah-sekolah yang memprogramkan kegiatannya
sampai sore.
Sekolah adalah penyelenggara proses pendidikan dan pembelajaran secara sistematis dan
berkesinambungan. Para pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah diharapkan menyelenggarakan
pendidikan dan pembelajaran yang mampu memfasilitasi peserta didik berperilaku terpelajar. Perilaku
terpelajar ditampilkan dalam bentuk pencapaian prestasi akademik, menunjukkan perilaku yang beretika
dan berakhlak mulia, memiliki motivasi belajar yang tinggi, kreatif, disiplin, bertanggung jawab, serta
menunjukkan karakter diri sebagai warga masyarakat, warga Negara dan bangsa.
Sekolah harus dapat menciptakan suasana yang kondusif agar anak didik merasa nyaman dan dapat
mengekspresikan potensinya. Agar tercipta suasana kondusif tersebut, maka ada beberapa aspek yang perlu
diperhatikan, terutama:
Perencanaan program sekolah yang sesuai dengan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan anak didik.
Anak tidak harus dipaksakan melakukan sesuatu, tetapi dengan program tersebut anak secara otomatis
terdorong untuk mengeksplorasi dirinya. Faktor penting yang perlu diperhatikan sekolah adalah partisipasi
aktif anak terhadap berbagai kegiatan yang diprogramkan, namun sesuai dengan kebutuhan anak.
Lingkungan sekolah yang mendukung. Jika suasana ini dapat tercipta di sekolah, maka suasana di
lingkungan sekolah sangat kondusif untuk menumbuh-kembangkan potensi anak karena anak dapat
mengekspresikan dirinya secara leluasa sesuai dengan dunianya. Di samping itu, penciptaan lingkungan
yang bersih, akses air minum yang sehat, bebas dari sarang kuman, dan gizi yang memadai merupakan
faktor yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Aspek sarana-prasarana yang memadai, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran anak
didik. Sarana-prasarana tidak harus mahal tetapi sesuai dengan kebutuhan anak. Adanya zona aman dan
selamat ke sekolah, adanya kawasan bebas reklame rokok, pendidikan inklusif juga merupakan faktor yang
diperhatikan sekolah. Penataan lingkungan sekolah dan kelas yang menarik, memikat, mengesankan, dan
pola pengasuhan dan pendekatan individual sehingga sekolah menjadi tempat yang nyaman dan
menyenangkan.
Sekolah juga harus menjamin hak partisipasi anak. Adanya forum anak, ketersediaan pusat-pusat
informasi layak anak, ketersediaan fasilitas kreatif dan rekreatif pada anak, ketersediaan kotak saran kelas
dan sekolah, ketersediaan papan pengumuman, ketersediaan majalah atau koran anak. Sekolah hendaknya
memungkinkan anak untuk melakukan sesuatu yang meliputi hak untuk mengungkapkan pandangan dan
perasaannya terhadap situasi yang memiliki dampak pada dirinya.
Sekolah yang ramah anak merupakan institusi yang mengenal dan menghargai hak anak untuk
memperoleh pendidikan, kesehatan, kesempatan bermain dan bersenang, melindungi dari kekerasan dan
pelecehan, dapat mengungkapkan pandangan secara bebas, dan berperan serta dalam mengambil keputusan
sesuai dengan kapasitas mereka. Sekolah juga menanamkan tanggung jawab untuk menghormati hak-hak
orang lain, kemajemukan dan menyelesaikan masalah perbedaan tanpa melakukan kekerasan.
Implementasi Sekolah Ramah Anak
Dengan ditetapkannya Undang-Undang Republik Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,
diharapkan kondisi dan perlindungan anak menjadi lebih baik karena undang-undang tersebut memuat
perlindungan terbaik bagi anak, yaitu hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang, partisipasi serta
perlindungan anak dari kekerasan.
Dalam upaya melindungi anak dari kekerasan, program Sekolah Ramah Anak secara khusus berupaya
mencegah kekerasan pada anak di sekolah. Aksesibilitas di sekolah lebih mudah dibandingkan di rumah,
untuk itu sekolah mempunyai peran strategis dalam mencegah kekerasan terhadap anak. Untuk itu guru-
guru perlu mengetahui tentang pencegahan kekerasan, termasuk cara alternatif dalam mendidik dan
mendisiplinkan anak.
Di bawah ini beberapa contoh implementasi Sekolah Ramah Anak ke dalam 8 (delapan) Standar
Pendidikan.
No Standard Uraian
2 Standar Isi – Kerangka dasar dan Standar Isi mencantumkan pelaksanaan Sekolah
struktur kurikulum Ramah Anak
Beban belajar Kurikulum Dasar hukum mencantumkan
tingkat satuan pendidikan Undang-undang Perlindungan Anak (UUPA)
Kalender
Pendidikan /akademik