0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan54 halaman

Desain Eccentric Braced Frame (EBF)

Dokumen ini membahas tentang Eccentric Braced Frame (EBF) yang memiliki kekakuan elastis dan berfungsi sebagai damper untuk mengatasi beban gempa. Desain EBF melibatkan elemen balok link yang berperilaku sebagai sekring daktail dan harus memenuhi berbagai persyaratan teknis untuk memastikan stabilitas dan kekuatan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang sudut rotasi link dan pengaku badan vertikal yang diperlukan dalam desain EBF.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan54 halaman

Desain Eccentric Braced Frame (EBF)

Dokumen ini membahas tentang Eccentric Braced Frame (EBF) yang memiliki kekakuan elastis dan berfungsi sebagai damper untuk mengatasi beban gempa. Desain EBF melibatkan elemen balok link yang berperilaku sebagai sekring daktail dan harus memenuhi berbagai persyaratan teknis untuk memastikan stabilitas dan kekuatan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang sudut rotasi link dan pengaku badan vertikal yang diperlukan dalam desain EBF.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

9

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1. Eccentric Braced Frame (EBF)

Eccentric Braced Frame (EBF) memiliki kekakuan elastis yang hampir

sebanding dengan sistem struktur Concentrically Braced Frame (CBF), terutama

jika digunakan link pendek (Becker, dan Ishler, 1996). Semakin pendek link yang

digunakan maka struktur EBF akan semakin kaku sebaliknya semakin panjang link

yang digunakan maka struktur EBF akan semakin lentur. Pada struktur EBF

memiliki beberapa kemungkinan penempatan braced yang dapat diterapkan pada

struktur bangunan seperti pada gambar 3.1.

Pada sistem struktur EBF balok link bersifat sebagai damper dengan

mendisipasi energi akibat adanya beban gempa horizontal atau beban lateral. Ketika

struktur menerima beban gempa horizontal, elemen link akan mengalami luluh

geser atau luluh lentur (deformasi inelastis) sedangkan elemen yang berada di luar

dari balok link tetap berperilaku elastis.

Link dalam struktur EBF dibentuk dari offset pada sambungan braced pada

balok atau braced yang berbatasan dengan kolom sehingga selama beban gempa

(seismic load) bekerja, link menjadi aktif dan mengalami pelelehan (Ricles dan

Popov, 1994). Dengan kata lain link berfungsi sebagai sekring daktail (ductile fuse)

selama pembebanan gempa sehingga link akan mengalami rotasi inelastik

sedangkan komponen lainnya dari EBF tetap elastis (Popov dkk, 1987).
10

e e e e

e e e e

D-Braces Split K-Braces V-Braces


e

e
e

Split K & Inverted Inverted Y-Braces


Split K-Braces
Gambar 3.1. Beberapa kemungkinan penempatan posisi braced
untuk sistem struktur Eccentrically Braced Frame
(Sumber: ANSI/AISC 341-10, 2010)

3.2. Desain Sistem Eccentric Braced Frame (EBF)

Desain dasar berlaku untuk EBF dimana satu ujung dari masing-masing

braced memotong balok pada eksentrisitas dari antara titik tengah balok dan kolom

sehingga membentuk sebuah link yang pekah terhadap lentur dan geser. Tidak

banyak eksentrisitas dari pada ukuran balok ijin pada sambungan braced jauh dari

link (e) jika bagian yang dihasilkan dan sambungan gaya-gaya ditunjukan pada

desain dan tidak mengubah sumber kapasitas deformasi inelastis.

Desain EBF dilakukan dengan menggunakan software extended three

dimensional analysis of building systems (ETABS) version 2016, dengan

persyaratan desain sesuai ANSI/AISC 341-10 sebagai berikut.


11

3.2.1. Elemen Balok Link (e)

Balok link berdasarkan geser dan lentur karena eksentrisitas berada

diantara perpotongan garis pusat braced dan garis pusat balok (antara perpotongan

dari garis pusat braced, dan balok serta garis pusat kolom untuk link yang terhubung

pada kolom) harus tersedia. Link harus dianggap membentang dari sambungan

braced ke sambungan braced pada pusat link dan dari sambungan braced ke muka

kolom pada link ke sambungan kolom, kecuali diizinkan pada syarat sambungan

link ke kolom.

Elemen link dalam sistem EBF berperilaku sebagai balok pendek dengan

gaya geser yang bekerja berlawanan arah pada kedua ujungnya. Karena adanya

gaya geser yang terjadi pada kedua ujung balok, maka momen yang dihasilkan pada

kedua ujung balok mempunyai besar dan arah yang sama. Deformasi yang

dihasilkan berbentuk S dengan titik balik pada tengah bentang serta besarnya

momen yang bekerja adalah sebesar 0,5 kali besar gaya geser dikali dengan panjang

link (Popov dan Engelhardt, 1988).

Pengujian eksperimental dan numerik yang telah dilakukan para peneliti

terdahulu menunjukkan bahwa link yang mengalami pelelehan geser memberikan

daktilitas dan kestabilan yang besar dalam menahan beban gempa. Kriteria balok

link ditentukan dari normalisasi panjang link dengan rasio antara kapasitas momen

plastis (Mp ) dan kapasitas geser plastis ( Vp ). Pada link, gaya geser mencapai

keadaan plastis (Vp ) terlebih dahulu sebelum momen lentur mencapai kapasitas

plastisnya sehingga link mengalami leleh dalam geser. Sedangkan pada link lentur,

momen plastis tercapai dahulu sebelum terjadi kelelehan geser.


12

Batasan-batasan dalam perencanaan link menggunakan profil I sesuai

ANSI/AISC 341-10 yakni sebagai berikut:

1. Link harus menggunakan Profil I (rolled wide-flange sections atau built-

up sections). Pada sambungan link tidak boleh menggunakan penampang

HSS.

2. Link harus memenuhi persyaratan untuk elemen dengan daktilitas tinggi.

3. Untuk sayap-sayap dari penampang link profil I dengan panjang link, e ≤

1,6Mp /Vp , diizinkan memenuhi persyaratan-persyaratan untuk elemen-

elemen dengan daktilitas sedang.

4. Badan link harus mempunyai ketebalan yang sama. Perkuatan dengan

pelat ganda, dan penetrasi badan tidak diizinkan.

5. Untuk link yang dibuat dengan penampang built-up, alur pengelasan

complete-joint-penetration harus digunakan untuk menghubungkan badan

ke sayap-sayap.

[Link]. Sudut Rotasi Link

Memperkirakan rotasi plastis yang terjadi pada link sangat dibutuhkan

dalam desain sistem EBF yang dilakukan dengan menggunakan mekanisme

keruntuhan, yaitu dengan mengasumsikan perilaku plastis kaku dari setiap elemen

pada sistem EBF (Popov dan Engelhardt, 1988). Mekanisme keruntuhan untuk

tipikal sistem EBF tipe split K-braces, D-braces, serta V-braces pada gambar 3.2

ditunjukkan dalam gambar 3.2 berikut ini.


13

e e

e e

(a) (b)
e e
Link
Balok diluar link
Braced diagonal
e e Kolom

(c)
Gambar 3.2. Tipikal sistem eccentrically braced frame
(a) K-braces; (b) D-braces; (c) V-braces
(Sumber: ANSI/AISC 341-10, 2010).

Pada gambar 3.3 sudut rotasi pada sistem struktur EBF untuk K-braces dan

D-braces menggunakan rumus:

L
γp = Ө ………...………………………………..………………. (3.1)
𝑒 p

Sedangkan untuk sudut rotasi pada sistem struktur EBF V-braces pada

gambar 3.3 menggunakan rumus:

L
𝛾 = Ө Δ ….……………………………..………………. (3.2)
2𝑒 p p

Dengan:

L = panjang dari elemen frame yang tidak diperkuat secara lateral, in.

(mm)
14

h = tinggi lantai, in. (mm)

Δp = arah lantai plastis (secara konservatif, diambil Δp untuk

arah lantai desain), in. (mm)

Өp = sudut arah lantai plastis, rad. (Δp /h)

γp = sudut rotasi link, rad.

Δp e Δp e
ϴp γp
ϴp
γp
h h

(a) K-braces (b) K-braces


e e
Δp p
γp
ϴp
h

(c) K-braces
Gambar 3.3. Sudut rotasi link untuk sistem EBF
(Sumber: ANSI/AISC 341-10, 2010)

Rasio terhadap ketebalan flange (sayap) dan web (badan) dari penampang

baja untuk balok link juga sangat mempengaruhi rotasi inelastik yang dihasilkan

(Richards dan Uang, 2005). Sudut rotasi link merupakan sudut inelastik antara link

dan balok luar link apabila total arah lantai sama dengan arah lantai desain, Δ. Sudut

rotasi link yang diatur dalam ANSI/AISC 341-10 tidak lebih dari:

a. Untuk link dengan panjang 1,6Mp /Vp or less : 0,08 rad

b. Untuk link dengan panjang 2,6Mp /Vp or greater : 0,02 rad


15

Dengan:

Mp = kekuatan lentur plastis nominal, kip-in. (N-mm)

Vp = kekuatan geser nominal dari link aktif, kips. (N)

Interpolasi linear dari nilai-nilai di atas digunakan untuk panjang link (e)

antara 1,6Mp /Vp dan 2,6Mp /Vp .

[Link]. Braced Pada Link

Braced harus ada pada kedua sisi atas dan bawah pada ujung sayap link

untuk profil I, serta memiliki kekuatan dan kekakuan yang dibutuhkan untuk lokasi

sendi plastis. Braced khusus harus ditempatkan berdekatan dengan lokasi sendi

plastis yang diharapkan. Untuk struktur balok baja, untuk balok pada struktur baja,

Pengaku EBF harus memenuhi persyaratan berikut:

a. Kedua sayap balok harus berpengaku terhadap lateral atau bagian

penampang melintang harus berpengaku terhadap torsi.

b. Kekuatan pada pengaku terhadap lateral dari masing-masing sayap yang

berdekatan dengan sendi plastis adalah:

Pu = 0,06 Ry Fy Z/h0 (LRFD) ……..……..………………. (3.3)

Dengan:

h0 = jarak antara sayap pada profil, in. (mm)

Kekuatan pada pengaku terhadap torsi yang berdekatan dengan sendi

plastis adalah:

Mu = 0,06 Ry Fy Z (LRFD) ……..……………………... (3.4)


16

c. Kekakuan pengaku harus memenuhi persyaratan spesifikasi untuk pengaku

terhadap lateral atau torsi pada balok dengan Cd = 1,0 dimana kekuatan

lentur yag diharapkan pada balok adalah:

Mr = M u (LRFD)

Mr = Mu = Ry Fy Z (LRFD) ……………...……………………... (3.5)

[Link]. Kuat Geser Pada Link

Desain kuat geser link (ϕv Vn ), harus nilai terendah yang sesuai dengan

batas dari keluluhan geser pada badan dan keluluhan lentur pada keseluruhan

penampang.

Batasan untuk geser dan lentur adalah:

ϕv = 0,90 (LRFD)

a. Untuk luluh geser:

Vn = Vp ……………………………………………………... (3.6)

Dengan:

Vp = 0,6 Fy Alw untuk Pr /Pc ≤ 0.15 …..……... (3.7)

Vp = 0,6 Fy Alw √1-(Pr /Pc )² untuk Pr /Pc > 0.15 …..……... (3.8)

Alw = (d − 2tf )tw untuk link dengan profil I …...……... (3.9)

Pr = Pu (LRFD)

Pu = kekuatan aksial yang dibutuhkan menggunakan kombinasi beban

LRFD, kips. (N)

Pc = Py (LRFD) ……………...……………………... (3.10)

Py = kekuatan luluh aksial nominal


17

Py = Fy Ag ……...……………………………………………... (3.11)

b. Untuk luluh lentur:

Vn = 2Mp /e …….…………………...….……………………... (3.12)

Dengan:

Mp = Fy Z untuk Pr /Pc ≤ 0,15 ...………….....… (3.13)

1- Pr /Pc
Mp = Fy Z ( ) untuk Pr /Pc > 0,15 ………….…...… (3.14)
0.85

e = panjang link, yang didefinisikan sebagai jarak antara ujung

dua braced diagonal atau di antara braced diagonal dan muka

kolom, (mm)

[Link]. Panjang Link (Link Length)

Jika Pr /Pc > 0,15, maka panjang link harus dibatasi seperti berikut:

Jika ρ′ ≤ 0,5

1,6 Mp
e≤ ….………….…...……………... (3.15)
Vp

Jika ρ′ > 0,5

1,6 Mp
e≤ (1,15 – 0,3ρ′) …………………... (3.16)
Vp

Dengan:

Pr /Pc
ρ′ = ………..………………
Vr /Vc

…………………………... (3.17)

Vr = Vu , kips. (N) (LRFD)


18

Vu = kekuatan geser yang diperlukan menggunakan kombinasi beban

LRFD, kips. (N)

Vc = Vy , kips. (N) (LRFD) ……....………………......… (3.18)

Vy = kekuatan luluh geser nominal, kips (N)

Vy = 0.6 Fy Alw ...……………………………………………... (3.19)

Untuk link dengan gaya aksial rendah tidak ada batasan atas pada panjang

link. Hasil sudut rotasi link pada peraturan ANSI/AISC 431/2010 bagian F3.4a

untuk batas terbawah panjang link.

[Link]. Pengaku Badan Vertikal Link Untuk Profil I

Tinggi total pengaku badan link harus disediakan pada kedua sisi badan

link pada ujung braced yang miring dari link. Pengaku ini harus mempunyai variasi

lebar tidak kurang dari (bf − 2tw ) dan ketebalan tidak kurang dari 0,75tw atau 3/8

in. (10 mm), dimana bf adalah lebar sayap link dan tw adalah tebal badan link. Link

harus ditetapkan dengan pengaku badan vertikal seperti pada tabel 3.1 berikut.

Tabel 3.1. Klasifikasi jarak pengaku badan vertikal pada link


(vertical web stiffener), serta kapasitas rotasi link
No. Panjang Link Rotasi, rad Jarak Pengaku
Maksimum
1 e ≤ 1,6Mp /Vp 0,08 30tw − d/5
2 2,6Mp /Vp ≤ e < 5Mp /Vp 0,02 1,5bf
3 1,6Mp /Vp < e < 2,6Mp /Vp Dapat memakai syarat (1),
dan (2)
4 e > 5Mp /Vp Tidak memakai badan
pengaku vertikal
(Sumber: ANSI/AISC 341-10, 2010)
19

Balok Link Pendek EBF


Pengaku Badan Vertikal
tf

tw
d

a a a bf
Keterangan:
bf = Lebar Profil IWF, (in). mm
d = Tinggi profil IWF, (in). mm
a = Jarak pengaku link (stiffener), (in). mm
tw = Tebal badan profil IWF, (in). mm
tf = Tebal sayap profil IWF, (in). mm
Gambar 3.4. Pengaku badan vertikal (vertical web stiffener)
pada balok link profil I
(Sumber: Kasai dan Popov, 1986).

Penempatan pengaku badan vertikal pada balok link menggunakan profil I

ditunjukkan dalam gambar 3.4 dimana jarak antara pelat pengaku badan adalah a.

Pengaku badan menengah harus penuh sepanjang tinggi badan profil. Untuk link

yang tingginya kurang dari 25 in (630 mm) pengaku harus ditetapkan hanya pada

satu sisi badan link. Ketebalan dari satu sisi pengaku ≥ 2 atau 3/8 in (10 mm), dipilih

nilai maksimumnya, dan lebarnya ≥ (bf / 2) - tw. Untuk link dengan tinggi ≥ 25 in

(635 mm), diperlukan pengaku pada kedua sisi badan link.

Kekuatan yang dibutuhkan dari pengelasan potongan yang

menghubungkan pengaku link ke badan link harus sama dengan Fy Ast (LRFD),

dimana Ast merupakan luas penampang horizontal pengaku link, dan Fy

merupakan tegangan luluh dari pengaku. Kuat las potongan yang menghubungkan

pengaku dengan sayap link adalah Fy Ast /4 (LRFD).


20

3.2.2. Elemen Braced Diagonal

Braced diagonal merupakan braced yang menghubungkan kolom dan

balok di luar link secara diagonal. Kombinasi kuat lentur dan aksial yang

disyaratkan untuk braced diagonal harus diambil dari kombinasi pembebanan yang

telah ditetapkan dalam standar yang ada. Untuk kombinasi pembebanan yang

memasukkan pengaruh seismic, pada braced gaya aksial dan momen harus

dikalikan minimum 1,25 kali dari kuat geser nominal yang diharapkan pada link

sesuai dengan ANSI/AISC 341-10.

Tabel 3.2. Nilai perkiraan faktor panjang efektif, K


(a) (b) (c) (d) (e) (f)

Bentuk
kolom yang
melengkung
ditunjukkan
oleh garis
putus-putus

Nilai teoritis 0,5 0,7 1,0 1,0 2,0 2,0


K
Nilai desain 0,65 0,80 1,2 1,0 2,1 2,0
yang
mendekati
kondisi ideal
Kondisi Tanpa rotasi dan translasi
ujung-ujung Rotasi bebas tanpa translasi
kolom Translasi bebas tanpa rotasi
Rotasi dan translasi bebas
(Sumber: ANSI/AISC 360-10, 2010)

Faktor panjang efektif (K), ditentukan berdasarkan peraturan ANSI/AISC

360-10 dalam tabel C-A-7.1 yang ditunjukkan pada tabel 3.2. Berdasarkan
21

peraturan ANSI/AISC 341-10, kekuatan desain terhadap tarik ( ϕt Pnt ), dan

kekuatan desain terhadap tekan (ϕc Pnc ) dapat dihitung menggunakan persamaan

berikut:

Pnt = Ry Fy Ag ……………………..………………………….. (3.20)

Pnc = 1,14 Ag Fcr …………………...…………………………..(3.21)

Dengan:

Pnt = kekuatan tarik nominal, kips. (N)

Pnc = kekuatan tekan nominal, kips. (N)

Fy Fy
KL E
Fcr = [0,658 Fe ] Fy untuk ≤ 4,71 √ atau ≤ 2,25 ….. (3.22)
r Fy Fe

KL E Fy
Fcr = 0,877 Fe untuk > 4,71 √ atau > 2,25 …... (3.23)
r Fy Fe

Fcr = tegangan kritis, ksi. (MPa)

K = faktor panjang efektif. Faktor panjang efektif ditentukan dalam

tabel (3.2).

L = panjang dari elemen frame yang tidak diperkuat secara lateral, in.

(mm)

r = radius gyration, in. (mm)

Ry = rasio tegangan hasil yang diharapkan terhadap teganggan luluh

minimum (Fy ).

π2 E
Fe = ……………………….…….………………......… (3.24)
KL 2
( r )
22

Fe = tegangan tekuk elastis. Tegangan tekuk elastis dapat dihitung

menggunakan persamaan (3.24), ksi. (MPa)

Faktor ketahanan terhadap tekan (ϕc ), serta faktor ketahanan terhadap

tarik (ϕt ) baik untuk balok, kolom, dan braced sesuai peraturan ANSI/AISC 360-

10 bagian D2 dan E1 adalah sebagai berikut:

ϕc = 0,90 (LRFD)

ϕt = 0,90 (LRFD)

3.2.3. Elemen Balok

Pada elemen balok, kekuatan geser desain harus lebih besar atau sama

dengan kekuatan geser maksimum (ϕv Vn ≥ Vmax ). Untuk kekuatan geser nominal

(Vn) dari balok sesuai batas kekuatan geser, serta tekuk geser ditentukan dengan

persaman (3.25) sesuai peraturan ANSI/AISC 360-10 bagian G2.

Vn = 0,6 Fy Aw Cv ……………...…………………………….. (3.25)

Untuk badan profil I sesuai dengan ketentuan h/tw ≤ 2,24 √E/Fy maka

Cv , dan ϕv adalah:

ϕv = 1,00 (LRFD)

Cv = 1,00 ……………………….……….………………......… (3.26)

Untuk kekuatan lentur nominal ( Mn ) dari profil I, dapat ditentukan

menggunakan persamaan (3.27) berikut:

Mn = Mp = Fy Zx ……………...……….………………......… (3.27)

Dengan:

Vn = kekuatan geser nominal, kip. (N)


23

Aw = luas badan profil (dtw ), kedalaman seluruh badan profil dikalikan

ketebalan badan profil, in². (mm²)

Cv = koefisien geser badan profil.

ϕv = faktor resistensi geser.

d = tinggi profil, in. (mm)

tw = tebal badan profil, in. (mm)

Zx = modulus plastis pada sumbu x, in³. (mm³)

Mn = kekuatan lentur nominal, kip-in. (N-mm)

Pada balok diluar link, kombinasi kuat lentur dan aksial yang disyaratkan

harus diambil dari kombinasi pembebanan yang telah ditetapkan pada standar yang

ada. Untuk kombinasi pembebanan yang memasukkan pengaruh seismik, pada

braced gaya aksial dan momen harus dikalikan minimum 1,10 kali dari kuat geser

nominal link sesuai dengan ANSI/AISC 341-10.

3.2.4. Elemen Kolom

Untuk menghasilkan kinerja yang baik, sistem EBF mengharuskan semua

komponen-komponennya memiliki ketahanan yang cukup dalam menerima beban

ketika link menjadi aktif. Kolom berfungsi menahan beban aksial tekan dengan atau

tanpa momen lentur. Beban pada kolom yang disebabkan oleh beban gravitasi (g),

momen balik dari beban lateral dan pelelehan link merupakan pengaruh dari fungsi

jumlah lantai tingkat dan tinggi bangunan (Pirmoz dkk, 2014). Kolom memegang

peranan penting pada keutuhan struktur, apabila kolom mengalami kegagalan akan

berakibat pada keruntuhan struktur bangunan atas gedung.


24

Sesuai ANSI/AISC 2010, kolom harus direncanakan berdasarkan prinsip

kapasitas desain untuk menahan pembebanan maksimum yang dihasilkan dari link.

Walaupun gaya geser maksimum pada pelelehan link sebesar 1,25 Ry Vn, untuk

perencanaan kolom berdasarkan ANSI/AISC 341-10 diijinkan untuk mereduksi

faktor strain hardening menjadi 1,10. Reduksi ini mencerminkan probabilitas yang

rendah dari pelelehan simultan untuk semua link pada bangunan bertingkat (Pirmoz

dkk, 2014).

Dalam perencanaan kolom, panjang maksimal kolom ( Lb max) dapat

ditentukan sesuai peraturan ANSI/AISC 431-10 bagian D1.2b ditunjukkan pada

persamaan (3.28) berikut:

E
Lb max = 0,086 ry …………..…….………………......… (3.28)
Fy

Dengan:

Lb max = panjang maksimal kolom, in. (mm)

ry = radius gyration dari sumbu y, in. (mm)

E = modulus elastisitas baja, MPa (Ksi).

Kekuatan tekan nominal (Pn ) harus ditentukan berdasarkan batas dari torsi

dan tekuk torsi lentur sesuai peraturan dalam ANSI/AISC 360-10 bagian E3 yang

ditunjukkan pada persamaan (3.29).

Pn = Fcr Ag ………………………..…….………………......…(3.29)

Dengan:

Fcr = tegangan kritis, dihitung menggunakan persamaan (3.22), dan

(3.23), ksi. (MPa)


25

Ag = luas penampang profil, in². (mm²)

Rasio aksial (Pu / ϕc Pnc ) ≤ 1,00 sesuai peraturan ANSI/AISC 360-10

berikut untuk faktor resistensi kolom aksial (ϕc ), Pnc , dan Pu .

ϕc = 0,75 (LRFD)

ϕc = faktor resistensi kolom aksial. Ditentukan pada bagian I2.1b dalam

peraturan ANSI/AISC 360-10.

Pnc = kekuatan tekan nominal kolom, ditentukan menggunakan

persamaan (3.29), kip. (N)

Pu = batas kekuatan tekan, kip. (N)

3.2.5. Sambungan Pada Eccentric Braced Frame (EBF)

Sistem sambungan direncanakan dapat menahan pembebanan bolak balik

yang terjadi tanpa menyebabkan penurunan kemampuan dalam menyerap energi.

Pada sambungan baut cenderung mengalami pinching akibat slip dari lelehnya baut

atau pelat penyambung, karena itu sistem sambungan baut direncanakan lebih kuat

dari komponen yang disambung.

Kelemahan yang dimiliki sambungan baut tidak dapat diatasi dengan

penggunaan sambungan las, kecuali dengan persyaratan yang ketat tentang bahan

dan proses pengelasan.

Mendesain sistem EBF sesuai dengan ketentuan diharapkan memberikan

kapasitas deformasi inelastik secara signifikan terutama melalui geser atau lentur

pada link. Dimana sambungan link langsung pada kolom, desain pada sambungan

link ke kolom harus menunjukan kinerja yang sesuai pada ANSI/AISC 341-10.
26

[Link]. Kebutuhan Pengelasan Secara Kritis

Pengelasan-pengelasan berikut ini merupakan kebutuhan pengelasan kritis

dan harus sesuai dengan syarat-syarat berdasarkan ANSI/AISC 341-10:

a. Pengelasan groove pada sambungan kolom.

b. Pengelasan kolom ke sambungan pelat dasar.

c. Pengelasan pada sambungan balok ke kolom mengikuti pada bagian

F3.6b(b) dalam ANSI/AISC 341-10.

d. Pengelasan pemasangan sayap link dan badan link ke kolom, dimana link

tersambung ke kolom.

e. Pengelasan sambungan badan ke sayap link pada balok built-up di dalam

link.

[Link]. Sambungan Balok Ke Kolom

Dimana braced atau sambungan pelat dihubungkan dengan kedua elemen

pada sambungan balok ke kolom, sambungan harus memenuhi sesuai salah satu

syarat berikut:

a. Sambungan harus berupa sambungan sederhana sesuai dengan persyaratan

dari spesifikasi sesuai ANSI/AISC 341-10 dimana rotasi yang dibutuhkan

adalah 0,025 rad, atau

b. Sambungan harus di desain untuk tahan terhadap momen yang lebih kecil

dari:

- Momen yang berhubungan dengan kuat lentur balok rencana, dikalikan

dengan 1,1 (LRFD). Kuat lentur balok ditentukan sebagai Ry Mp .


27

- Momen yang berhubungan dengan jumlah kuat lentur kolom rencana,

dikalikan dengan 1,1 (LRFD). Jumlah kuat lentur kolom yang

diharapkan adalah Σ(Ry Fy Z).

Dengan:

Mp = momen lentur plastis, kip-in. (N-mm)

Fy = tegangan hasil minimum yang telah ditentukan, ksi (MPa)

Z = modulus plastis pada pembengkokan sumbu, in.3 (mm³)

Momen ini harus dipertimbangkan dalam kombinasi dengan kuat

sambungan braced yang dibutuhkan dan sambungan balok, termasuk

gaya-gaya pengumpul diafragma.

[Link]. Sambungan Braced

Bila lubang yang lebih besar digunakan, kekuatan yang dibutuhkan untuk

batas sambungan panjang baut tidak boleh melebihi efek beban berdasarkan

penggunaan kombinasi beban yang ditentukan oleh kode bangunan yang berlaku,

termasuk beban seismic yang diperkuat. Sambungan braced di desain untuk

menahan bagian dari momen pada ujung link, yang harus di desain terkekang

sempurna.

[Link]. Sambungan Kolom

Sambungan kolom harus memenuhi persyaratan dimana alur pengelasan

digunakan untuk membuat sambungan, alur pengelasan harus secara komplit pada

complete-joint-penetration. Sambungan kolom harus didesain untuk


28

mengembangkan sekurang-kurangnya 50% dari kuat lentur yang kurang dari bagian

sambungan.

Kuat geser yang dibutuhkan harus sama atau sesuai dengan:

Vr = Vu , kips (N) (LRFD)

Vu = ΣMpc /Hc (LRFD) ……..……………………... (3.30)

Dengan:

Hc = tinggi bersih kolom yang jelas antara sambungan balok,

termasuk lempengan struktural, jika ada, in. (mm)

ΣMpc = jumlah kekuatan lentur plastis, Fyc Zc , dari kolom di atas dan di

bawah sambungannya, kip-in. (N-mm).

[Link]. Sambungan Link Ke Kolom

Sambungan link ke kolom harus terkekang penuh sambungan momen dan

harus sesuai persyaratan berikut:

a. Sambungan harus mampu menahan rotasi sudut link seperti yang

ditentukan pada sudut rotasi link.

b. Ketahanan geser dari sambungan, diukur pada rotasi sudut link yang

dibutuhkan, harus sekurang-kurangnya sama dengan kuat geser rencana

dari link, Ry Vn .

c. Ketahanan lentur sambungan, diukur pada rotasi sudut link yang

dibutuhkan, harus sekurang-kurangnya sama dengan momen yang

berhubungan dengan kuat geser nominal dari link, Vn .


29

Sambungan link ke kolom harus sesuai dengan salah satu dari persyaratan

dibawah ini:

a. Gunakan sambungan yang memenuhi syarat (pra kualifikasi) untuk EBF

seperti yang ditentukan pada bagial K1 dalam ANSI/AISC 341-10, jika

tidak ada koneksi link ke kolom yang memenuhi syarat.

b. Ditetapkannya hasil kualifikasi uji siklik sesuai dengan bagian K2 dalam

ANSI/AISC 341-10. Hasil uji dari paling sedikit dua sambungan siklik

harus ditetapkan dan diizinkan berdasarkan pada salah satu persyaratan

dibawah ini:

- Laporan pengujian dalam literatur penelitian atau dokumen pengujian

dilakukan sebagai sampel.

- Pengujian yang dilakukan khusus untuk proyek dan mewakili ukuran

rencana, kekuatan material, konfigurasi sambungan, dan sifat

sambungan yang cocok, sesuai dengan batasan uji siklus untuk

kualifikasi sambungan balok ke kolom dan sambungan link ke kolom

sesuai ANSI/AISC 341-10.

3.2.6. Klasifikasi Elemen Kompak

Klasifikasi elemen kompak dan non kompak untuk profil-profil baja

seperti profil I, HSS, channels, dan tees yang digunakan sebagai elemen struktur

balok, kolom, maupun braced. Syarat klasifikasi elemen kompak dan non kompak

berdasarkan ANSI/AISC 360-10 dalam tabel B4.1b yang ditunjukkan dalam tabel

3.3 berikut ini.


30

Tabel 3.3. Rasio kelangsingan untuk penampang kompak dan non kompak
elemen struktur
Batasan Rasio Kelangsingan
Deskripsi λ 𝛌p 𝛌r Contoh Profil
Elemen (Kompak/ Tidak (Tidak Kompak/
Kompak) Ramping)
Sayap dari b/t E E
Elemen Tidak Kaku

profil I, 0,38√ 1,00√


channels, dan Fy Fy
tess

Badan dari h/tw E E


profil I dan 3,76√ 5,70√
channels Fy Fy

Sayap dari b/t


Elemen Kaku

E E
profil HSS 1,12√ 1,40√
persegi Fy Fy
panjang dan
kotak dengan
ketebalan
yang sama
Badan dari h/t E E
profil HSS 2,42√ 5,70√
persegi Fy Fy
panjang dan
kotak
Keterangan:
λ = rasio kelangsingan elemen profil.
λp = batasan rasio kelangsingan untuk elemen kompak.
λr = batasan rasio kelangsingan untuk elemen tidak kompak.
(Sumber: ANSI/AISC 360-10, 2010)

3.2.7. Klasifikasi Daktalitas Profil

Penentuan tingkat daktalitas dari elemen balok, kolom, dan braced

diagonal pada sistem EBF sesuai bagian D1.1 dalam ANSI/AISC 341-10. Untuk

rasio kelangsingan (λ) dari elemen balok, kolom, atau braced diagonal yang tidak

melebihi rasio daktalitas sedang ( λmd ) termasuk dalam elemen dengan tingkat

daktalitas sedang, sedangkan untuk rasio kelangsingan (λ) yang tidak melebihi rasio

daktalitas tinggi (λhd ) termasuk dalam elemen dengan tingkat daktalitas tinggi.
31

Berikut merupakan batas rasio kelangsingan untuk elemen dengan tingkat

daktalitas sedang, dan tingkat daktalitas tinggi pada tabel 3.4.

Tabel 3.4. Batas rasio kelangsingan untuk elemen tekan


dengan daktalitas tinggi dan daktalitas sedang
Batasan Rasio Kelangsingan
Deskripsi λ 𝛌hd 𝛌md Contoh Profil
Elemen Daktalitas Daktalitas
Tinggi Sedang
Sayap dari
profil I,
channels, dan
Elemen Tidak Kaku

tees; profil
siku satu b/t 0,30√E/Fy 0,38√E/Fy
sudut atau
sudut ganda
dengan
pemisah;
profil siku
ganda
disatukan
Badan dari Untuk Ca ≤ 0,125 Untuk Ca ≤ 0,125
profil I yang 2,45√E/Fy (1- 3,76√E/Fy (1-
digunakan 0,93Ca ) 2,75Ca )
sebagai balok
atau kolom h/tw Untuk Ca > 0,125 Untuk Ca > 0,125
0,77√E/Fy (2,93- 1,12√E/fy (2,33-
Ca ) Ca )
≥ 1,49√E/Fy ≥ 1,49√E/Fy
Elemen Kaku

Dengan: Dengan:
Pu Pu
Ca = Ca =
ϕc Py ϕc Py
(LRFD) (LRFD)

Dinding dari b/t 0,55√E/Fy 0,64√E/Fy


persegi
panjang HSS

Keterangan:
λ = rasio kelangsingan elemen profil.
λp = batasan rasio elemen daktalitas tinggi.
λr = batasan rasio elemen daktalitas sedang.
Ca = rasio kekuatan perlu terhadap kekuatan desain.
Py = kekuatan aksial nominal dari elemen, kips. (N)
(Sumber: ANSI/AISC 341-10, 2010)
32

3.3. Analisis Pembebanan

3.3.1. Kombinasi Beban

Untuk kombinasi beban dengan metoda ultimit pada struktur, komponen-

komponen struktur dan elemen-elemen fondasi harus dirancang sedemikian hingga

kuat rencananya sama atau melebihi pengaruh beban-beban terfaktor dengan

kombinasi-kombinasi sesuai bagian 4.2.2 dalam SNI 1726:2012 yang mengacu

pada ASCE-SEI 7-10. Berikut kombinasi-kombinasi beban untuk metoda ultimit.

1. 1,4D

2. 1,2D + 1,6L + 0,5(Lr atau R)

3. 1,2D + 1,6(Lr atau R) + (L atau 0,5W)

4. 1,2D + 1,0W + L + 0,5(Lr atau R)

5. 1,2D + 1,0E + L

6. 0,9D + 1,0W

7. 0,9D + 1,0E

3.3.2. Faktor Keutamaan Dan Kategori Risiko Struktur Bangunan

Untuk berbagai kategori risiko struktur bangunan gedung dan non gedung

terdapat pada tabel 3.5, dan pengaruh gempa rencana harus dikalikan dengan suatu

faktor keutamaan Ie pada tabel 3.6 sesuai pasal 4.1.2 dalam SNI 1726:2012.
33

Tabel 3.5. Kategori risiko bangunan gedung dan non gedung untuk beban gempa
Jenis Pemanfaatan Kategori
Risiko
Gedung dan non gedung yang memiliki risiko rendah terhadap jiwa
manusi pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tetapi tidak dibatasi
untuk antara lain:
- Fasilitas pertanian, perkebunan, perternakan, dan perikanan I
- Fasilitas sementara
- Gudang penyimpanan
- Rumah jaga dan struktur kecil lainnya
Semua gedung dan struktur lain, kecuali yang termasuk dalam
kategori risiko I, III, IV, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
- Perumahan
- Rumah toko dan rumah kantor
- Pasar II
- Gedung perkantoran
- Gedung apartemen/ rumah susun
- Pusat perbelanjaan/ mall
- Bangunan industry
- Fasilitas manufaktur
- Pabrik
Gedung dan non gedung yang memiliko risiko tinggi terhadap jiwa
manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi
untuk:
- Bioskop
- Gedung pertemuan
- Stadion
- Fasilitas kesehatan yang tidak memiliki unit bedah dan unit
gawat darurat
- Fasilitas penitipan anak
- Penjara III
- Bangunan untuk orang jompo

Gedung dan non gedung, tidak termasuk kedalam kategori risiko


IV, yang memiliki potensi untuk menyebabkan dampak ekonomi
yang besar dan/ atau gangguan massal terhadap kehidupan
masyarakat sehari-hari bila terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak
dibatasi untuk:
- Pusat pembangkit listrik biasa
- Fasilitas penanganan air
- Fasilitas penanganan limbah
- Pusat telekomunikasi
(Sumber: SNI 1726:2012, 2012)
34

Lanjutan Tabel 3.5. Kategori risiko bangunan gedung dan non gedung
untuk beban gempa
Jenis Pemanfaatan Kategori
Risiko
Gedung dan non gedung yang tidak termasuk dalam kategori risiko
IV, (termasuk, tetapi tidak dibatisi untuk fasilitas manufaktur,
proses penanganan, penyimpanan, penggunaan atau tempat
pembuangan bahan bakar berbahaya, bahan kimia berbahaya,
limbah berbahaya, atau bahan yang mudah meledak) yang III
mengandung bahan beracun atau peledak di mana jumlah
kandungan bahannya melebihi nilai batas yang disyaratkan oleh
instansi yang berwenang dan cukup menimbulkan bahaya bagi
masyarakat jika terjadi kebocoran.
Gedung dan non gedung yang ditunjukkan sebagai fasilitas yang
penting, termasuk, tetapi tiak dibatasi untuk:
- Bangunan-bangunan monumental
- Gedung sekolah dan fasilitas pendidikan
- Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya yang memiliki
fasilitas bedah dan unit gawat darurat
- Fasilitas pemadam kebakaran, ambulans, dan kantor polisi,
serta garasi kendaraan darurat
- Tempat perlindungan terhadap gempa bumi, angina badai, dan
tempat perlindungan darurat lainnya
- Fasilitas kesiapan darurat, komunikasi, pusat operasi dan IV
fasilitas lainnya untuk tanggap darurat
- Pusat pembangkit energy dan fasilitas public lainnya yang
dibutuhkan pada saat keadaan darurat
- Struktur tambahan (termasuk menara telekomunikasi, tangka
penyimpanan bahan bakar, menara pendingin, struktur stasiun
listrik, tangka air pemadan kebakaran atau struktur rumah atau
struktur pendukung air atau material atau peralatan pemadam
kebakaran) yang disyaratkan untuk beroperasi pada saat
keadaan darurat

Gedung dan non gedung yang dibutuhkan untuk mempertahankan


fungsi struktur bangunan lain yang masuk ke dalam kategori risiko
IV.
(Sumber: SNI 1726:2012, 2012)

Tabel 3.6. Faktor keutamaan gempa


Kategori Risiko Faktor Keutamaan Gempa, Ie
I atau II 1,00
III 1,25
IV 1,50
(Sumber: SNI 1726:2012, 2012)
35

3.3.3. Klasifikasi Situs

Dalam perumusan kriteria desain seismik suatu bangunan di permukaan

tanah atau penentuan amplifikasi besarnya percepatan gempa puncak dari batuan

dasar ke permukaan tanah untuk suatu situs, makasitus tersebut perlu

diklasifikasikan terlebih dahulu. Klasifikasi suatu situs untuk memberikan kriteria

desain seismik berupa faktor-faktor amplifikasi pada bangunan. Berikut klasifikasi

situs pada tabel 3.7 sesuai pasal 5.3 dalam SNI 1726:2012.

Tabel 3.7. Klasifikasi situs


Kelas Situs v̅s , m/detik N̅ atau N̅ch s̅u, kPa
SA (batuan keras) > 1500 N/A N/A
SB (batuan) 750 sampai 1500 N/A N/A
SC (tanah keras, 350 sampai 750 > 50 ≥ 100
sangat padat dan
batuan lunak)
SD (tanah sedang) 175 sampai 350 15 sampai 50
50 sampai
100
SE (tanah lunak) < 175 < 15 < 50
Atau setiap profil tanah yang mengandung lebih dari 3 m
tanah dengan karakteristik sebagai berikut:
1. Indeks plastisitas, PI > 20,
2. Kadar air, w ≥ 40%,
3. Kuar geser niralir s̅u < 25 kPa
SF (tanah khusus Setiap profil lapisan tanah yang memiliki salah satu atau
yang lebih dari karakteristik berikut:
membutuhkan - Rawan dan berpotensi gagal atau runtuh akibat beban
investigasi gempa seperti mudah likuifaksi, lempung sangat
geoteknik spesifik sensitive, tanah tersementasi lemah
dan analisis - Lempung sangat organic dan/ atau gambut (ketebalan H
respons spesifik- > 3 m)
situs yang - Lempung berplastisitas sangat tinggi (ketebalan H > 7,5
mengikuti 6.10.1 m dengan Indeks Plastisitas PI > 75)
dalam SNI Lapisan lempung lunak/ setengah teguh dengan ketebalan H
1726:2012) > 35 m dengan s̅u < 50 kPa
(Sumber: SNI 1726:2012, 2012)
36

3.3.4. Koefisien-Koefisien Situs Dan Parameter-Parameter Respons

Spektral Percepatan Gempa Maksimum Yang Dipertimbangkan

Risiko-Tertarget (MCER )

Untuk menentukan respons spectral percepatan gempa MCER di

permukaan tanah, diperlukan suatu faktor amplifikasi seismic pada perioda 0,2

detik dan perioda 1 detik. Factor amplifikasi meliputi faktor amplifikasi getaran

terkait percepatan pada getaran perioda pendek (Fa ) dan factor amplifikasi terkait

percepatan yang mewakili getaran perioda 1 detik (Fv ). Parameter spectrum respons

percepatan pada perioda pendek (SMS ) dan perioda 1 detik (SM1 ) yang disesuaikan

dengan pengaruh klasifikasi situs ditentukan dengan rumus berikut, sesuai pasal 6.2

dalam SNI 1726:2012.

SMS = Fa x SS …………………………………………………... (3.31)

SM1 = Fv x S1 …………………………………………………... (3.32)

Dengan:

SS = parameter respons spectral percepatan gempa MCER terpetakan untuk

perioda pendek

S1 = parameter respons spectral percepatan gempa MCER terpetakan untuk

perioda 1,0 detik.

Untuk koefisien situs Fa dan Fv mengikuti tabel 3.8 dan tabel 3.9 sesuai

pasal 6.2 dalam SNI 1726:2012. Jika digunakan prosedur desain sesuai pasal 8

dalam SNI 1726:2012, maka nilai Fa harus ditentukan sesuai pasal 8.8.1 serta nilai

Fv , SMS , dan SM1 tidak perlu ditentukan.


37

Tabel 3.8. Koefisien situs, Fa


Kelas Situs Parameter Respons Spektral Percepatan Gempa (MCER )
Terpetakan Pada Perioda Pendek, T = 0,2 detik, SS
SS ≤ 0,25 SS = 0,50 SS = 0,75 SS = 1,00 SS ≥ 1,25
SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
SC 1,2 1,2 1,1 1,0 1,0
SD 1,6 1,4 1,2 1,1 1,0
SE 2,5 1,7 1,2 0,9 0,9
b
SF SS
Catatan:
(a) Untuk nilai-nilai antara SS dapat dilakukan interpolasi linier
(b) SS = situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons
situs-spesifik, lihat 6.10.1 dalam SNI 1726:2012.
(Sumber: SNI 1726:2012, 2012)

Tabel 3.9. Koefisien situs, Fv


Kelas Situs Parameter Respons Spektral Percepatan Gempa (MCER )
Terpetakan Pada Perioda 1,0 detik, S1
S1 ≤ 0,10 S1 = 0,20 S1 = 0,30 S1 = 0,40 S1 ≥ 0,50
SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
SC 1,7 1,6 1,5 1,4 1,3
SD 2,4 2,0 1,8 1,6 1,5
SE 3,5 3,2 2,8 2,4 2,4
b
SF SS
Catatan:
(a) Untuk nilai-nilai antara S1 dapat dilakukan interpolasi linier
(b) SS = situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons
situs-spesifik, lihat 6.10.1 dalam SNI 1726:2012.
(Sumber: SNI 1726:2012, 2012)

3.3.5. Parameter Percepatan Spektral Desain

Parameter percepatan spectral desain untuk perioda pendek, SDS dan pada

perioda 1 detik, SD1 , harus ditentukan melalui persamaan berikut sesuai pasal 6.3

dalam SNI 1726:2012.

2
SDS = x SMS …………………………………………………... (3.33)
3
38

2
SD1 = x SM1 …………………………………………………... (3.34)
3

3.3.6. Kategori Desain Seismik

Struktur harus ditetapkan memiliki suatu kategori desain seismik. Masing-

masing bangunan dan struktur harus ditetapkan ke dalam kategori desain seismic

yang lebih parah berdasarkan peraturan SNI 1726:2012 pasal 6.5 tabel 6 dan 7 yang

ditunjukkan pada tabel 3.10 dan 3.11, terlepas dari nilai fundamental getaran

struktur, T.

Tabel 3.10. Kategori desain seismik berdasarkan


parameter respons percepatan pada perioda pendek
Nilai SDS Kategori Risiko
I atau II atau III IV
SDS < 0,167 A A
0,167 ≤ SDS < 0,33 B C
0,33 ≤ SDS < 0,50 C D
0,50 ≤ SDS D D
(Sumber: SNI 1726:2012, 2012)

Tabel 3.11. Kategori desain seismik berdasarkan


parameter respons percepatan pada perioda 1 detik
Nilai SDS Kategori Risiko
I atau II atau III IV
SD1 < 0,167 A A
0,167 ≤ SD1 < 0,133 B C
0,133 ≤ SD1 < 0,20 C D
0,20 ≤ SD1 D D
(Sumber: SNI 1726:2012, 2012)

3.3.7. Kombinasi Sistem Perangkai Dalam Arah Yang Berbeda

Sistem penahan gaya gempa yang berbeda diijinkan untuk digunakan,

untuk menahan gaya gempa di masing-masing arah kedua sumbu ortogonal

struktur. Bila sistem yang berbeda digunakan, masing-masing nilai R, Cd , dan Ω0


39

harus dikenakan pada setiap sistem, termasuk batas sistem struktur pada tabel 3.12

sesuai pasal 7.2.2 dalam SNI 1726:2012 berikut.

Tabel 3.12. Faktor R, Cd , dan Ω0 untuk sistem penahan gaya gempa


Koefisien Faktor Faktor Batasan Sistem Struktur Dan
Sistem Modifikasi Kuat Pembesaran Batasan Tinggi Struktur, hn
Penahan Gaya Respons, Lebih Defleksi, (m)c
Seismik R Sistem, Cd Kategori Desain Seismik
Ω0
B C D E F
B. Sistem 7.1.1 7.1.2 7.1.3 7.1.4 7.1.5 7.1.6 7.1.7 7.1.8
rangka
bangunan
1. Rangka baja 8 2 4 TB TB 48 48 30
dengan
bresing
konsentris
2. Rangka baja 6 2 5 TB TB 48 48 30
dengan
bresing
konsentris
biasa
3. Rangka baja 3¼ 2 3¼ TB TB 10 10 TI
dengan
bresing
konsentris
khusus

Keterangan:
TB = tidak dibatasi
TI = tidak diijinkan
(Sumber: SNI 1726:2012, 2012)

Batasan ketinggian dalam tabel 3.12 berdasarkan SNI 1726:2010 pasal

[Link] diijinkan untuk ditingkatkan dari 48 m sampai 72 m untuk struktur yang

dirancang dengan kategori desain seismik D atau E, dan dari 30 m sampai 48 m

untuk struktur yang dirancang untuk kategori desain seismic F. Apabila struktur

mempunyai sistem penahan gaya gempa berupa rangka baja dengan bresing

eksentris, rangka baja dengan bresing konsentris khusus, rangka baja dengan

bresing terkekang terhadap tekuk, dinding geser pelat baja khusus, atau dinding

geser beton bertulang cetak-setempat khusus, serta struktur memenuhi persyaratan

berikut:
40

1. Struktur tidak boleh mempunyai ketidakberaturan torsi yang berlebihan.

2. Rangka baja dengan bresing eksentrik, rangka baja dengan braced

konsentrik khusus, rangka baja dengan bresing terkekang terhadap tekuk,

dinding geser pelat baja khusus, pada semua bidang harus menahan tidak

lebih dari 60% gaya gempa total dalam setiap arah, dengan mengabaikan

pengaruh torsi tak terduga.

3.3.8. Spektrum Respons Desain

Jika spektrum respons desain diperlukan oleh tata cara ini dan prosedur

gerakan tanah dari spesifik-situs tidak digunakan, maka kurva spectrum respons

desain harus dikembangkan dengan mengacu pada gambar 3.5 dan mengikuti

ketentuan sesuai pasal 6.4 dalam SNI 1726:2012 berikut.

1. Untuk perioda yang lebih kecil dari T0 , spectrum respons percepatan

desain, Sa , harus diambil dari persamaan:

T
Sa = SDS (0,4+0,6 ) …...…………………………………... (3.35)
T0

2. Untuk perioda lebih besar dari atau sama dengan T0 dan lebih kecil dari

atau sama dengan Ts , spectrum respons percepatan desain, Sa , sama

dengan SDS .

3. Untuk perioda lebih besar dari Ts , spectrum respons percepatan desain,

Sa , diambil berdasarkan persamaan:

SD1
Sa = …..…………………………………………………... (3.36)
T
41

Dengan:

SDS = parameter respons spectral percepatan desain pada perioda pendek

SD1 = parameter respons spectral percepatan desain pada perioda 1 detik

T = perioda getar fundamental struktur

SD1
T0 = 0,2 …………………………………………………... (3.37)
SDS

SD1
Ts = …………..…………………………………………... (3.38)
SDS

SDS
Percepatan respon spektra, S a (g)

SD1
Sa
T

SD1

T0 1,0
Periode , T (detik)
Gambar 3.5. Spektrum respons desain
(Sumber: SNI 1726:2012, 2012)

3.4. Analisis Spektrum Respons Ragam

3.4.1. Jumlah Ragam

Analisis spektrum respons ragam harus dilakukan untuk menentukan

ragam getar alami untuk struktur. Berdasarkan peraturan SNI 1726-2010 pasal 7.9.1
42

analisis harus menyertakan jumlah ragam yang cukup untuk mendapatkan

partisipasi massa ragam terkombinasi sebesar paling sedikit 90% dari massa actual

dalam masing-masing arah horizontal orthogonal dari respons yang ditinjau oleh

model.

3.4.2. Simpangan Antar Lantai Tingkat

Simpangan antar lantai tingkat desain (Δ) seperti ditentukan dalam SNI

1726:2012 pasal 7.8.6, 7.9.2, atau 12.1, tidak boleh melebihi simpangan antar lantai

tingkat ijin (Δa ) seperti ditunjukkan pada tabel berikut sesuai SNI 1726:2012 dalam

pasal 7.12.1 tabel 16.

Tabel 3.13. Simpangan antar lantai ijin, Δa


Struktur Kategori Risiko
I atau II III IV
Struktur, selain dari struktur dinding geser 0,025 hcx 0,020 hcx 0,015 hcx
batu bata, 4 tingkat atau kurang dengan
dinding interior, partisi, langit-langit dan
system dinding eksterior yang telah
didesain untuk mengakomodasi simpangan
antar lantai tingkat.
Struktur dinding geser kantilever batu bata 0,010 hcx 0,010 hcx 0,010 hcx
Struktur dinding geser batu bata lainnyaa 0,007 hcx 0,007 hcx 0,007 hcx
Semua struktur lainnya 0,020 hcx 0,015 hcx 0,010 hcx
Keterangan:
hcx = tinggi tingkat di bawah tingkat x, in. (mm)
Δa = simpangan antar lantai ijin, in. (mm)
(Sumber: SNI 1726:2012, 2012)

Berdasarkan persyaratan dalam SNI 1726:2012 pasal [Link], untuk

sistem penahan gaya gempa yang terdiri dari hanya rangka momen dalam kategori

desain seismic D, E, dan F, simpangan antar lantai tingkat desain (Δ) tidak boleh

melibihi Δa /ρ untuk semua tingkat. Faktor redudansi (ρ) ditentukan berdasarkan


43

peraturan SNI 1726:2012 pasal [Link] yakni, untuk struktur yang dirancang untuk

kategori desain seismic D, E, atau F, faktor redudansi (ρ) harus sama dengan 1,3.

Simpangan antar lantai tingkat desain (Δ) dihitung menggunakan

persamaan pada peraturan SNI 1726:2012 pasal 7.9.3 berikut.

Untuk lantai 2

δ2 = Cd δe 2/Ie …………………….…………………………... (3.39)

Δ2 = (δe 2 - δe 1) Cd /Ie ≤ Δa ………………………………... (3.40)

Untuk lantai 1

δ1 = Cd δe 1/Ie ……………………….………………………... (3.41)

Δ1 = δ1 ≤ Δa ………………………………... (3.42)

Dengan:

δe 2 = perpindahan elastis pada lantai ke 2 yang dihitung akibat gaya

gempa desain tingkat kekuatan, in. (mm)

δe 1 = perpindahan elastis pada lantai ke 1 yang dihitung akibat gaya

gempa desain tingkat kekuatan, in. (mm)

Cd = faktor pembesaran defleksi, ditentukan pada tabel 3.12.

δ = perpindahan yang diperbesar, in. (mm)

Ie = faktor keutamaan gempa, ditentukan pada tabel 3.6.

Δ = simpangan antar lantai desain, in. (mm)

3.5. Analisis Numerik Abaqus

Kajian Numerik balok link pendek pada sistem EBF dengan menggunakan

software Abaqus/CAE 6.13, maka dalam hal ini akan dijelaskan lebih dalam
44

mengenai software tersebut. Abaqus merupakan program simulasi rekayasa,

didasarkan pada metode elemen hingga yang dapat memecahkan masalah mulai

dari analisis linear relatif sederhana sampai simulasi nonlinear yang paling

menantang.

Dalam Abaqus, analisis nonlinear otomatis memilih penambahan beban

yang tepat dan toleransi konvergensi serta terus menyesuaikan selama analisis

untuk memastikan bahwa solusi yang akurat dan efisiensi diperoleh. Sehingga

dalam analisis kinerja balok link pendek ini menggunakan software Abaqus/CAE

6.13 yang dapat memberikan data numerik secara akurat melalui proses cyclic

hardening dan kurva hysteresis.

Abaqus mampu melakukan meshing (diskritisasi) dengan sangat akurat,

dengan berbagai pilihan model dalam elemen agar semakin mendekati kondisi

sebenarnya yang ada di lapangan serta mampu melakukan analisis dinamik maupun

pembebanan statik.

3.5.1. Komponen Utama Pada Windows Abaqus/CAE 6.13

Pada gambar 3.6 tampilan windows Abaqus/CAE 6.13 terdapat 10

komponen utama sebagai berikut:

1. Title bar, menunjukkan versi dari software Abaqus/CAE yang digunakan,

seta nama dari file yang dibuat atau digunakan.

2. Menu Bar, menunjukkan semua menu yang tersedia, serta memberikan

akses ke semua fungsi dalam software Abaqus/CAE yang digunakan.

3. Toolsbars, memberikan akses secara cepat yang tersedia dalam menu.


45

4. Context bar, memberikan kemudahan untuk berpindah antara module,

model, dan pemilihan elemen yang telah dimodelkan.

5. Model tree/result tree, menunjukkan review dari model objek dari masing-

masing module, serta penginputan amplitudes.

6. Toolbox area, memberikan akses secara cepat ke banyak fungsi pada

modul yang sedang diproses.

7. Viewport, merupakan area gambar dimana model yang telah dibuat

ditampilkan pada area ini.

8. Message area or command line interface, menunjukkan informasi dan

peringatan yang terjadi jika ada informasi atau kesalahan pada proses

pemodelan.

Gambar 3.6. Komponen pada tampilan windows software Abaqus/CAE 6.13


(Sumber: Abaqus/CAE 6.13, 2018)
46

3.5.2. Metode Elemen Hingga

Metode elemen hingga pada software Abaqus/CAE merupakan salah satu

metode numerik yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah struktural,

termal, dan elektromagnetik. Dalam masalah struktur, metode elemen hingga

mampu menganalisis tegangan pada struktur rangka, balok maupun frame, tekuk

(buckling) pada kolom maupun shell, serta menganalisis getaran.

Program komputer yang menggunakan metode elemen hingga

diantaranya adalah program analisis struktur untuk rangka batang, dimana matriks

kekakuan diformulasikan menurut teori eksak. Untuk beberapa masalah model

elemen hingga hanya merupakan pendekatan dari kontinum dan perlu adanya

asumsi dalam formulasi kekakuan atau bentuk deformasi.

Perilaku suatu struktur dengan dimensi, property bahan, dan jenis

tumpuan tertentu dalam menahan beban yang terjadi secara numerik dapat di

analisis dengan metode elemen hingga, dimana suatu struktur dibagi menjadi

elemen-elemen kecil dengan bentuk geometrik tertentu. Berikut merupakan

persamaan umum dalam metode elemen hingga yang ditunjukkan pada persamaan

(3.43).

{F} = [K] {U} ………………………...………………………... (3.43)

Dengan:

[K] = matriks kekakuan elemen

{U} = matriks perpindahan elemen

{F} = matriks gaya yang bekerja pada elemen


47

Secara umum, suatu struktur yang kontinu terdiri dari material point yang

tak terhingga banyaknya dan oleh karena itu struktur tersebut mempunyai derajat

kebebasan (degree of freedom) yang tak terhingga banyaknya pula (Suhendro,

2000).

3.5.3. Metode Rayleigh-Ritz

Metode Rayleigh-Ritz merupakan suatu metode pendekatan dimana suatu

sistem yang kontinu menjadi suatu sistem yang memiliki derajat kebebasan yang

berhingga (finite). Metode Rayleigh-Ritz dapat digunakan dalam menganalisis

deformasi, stabilitas, perilaku nonlinier struktur, serta analisis dinamik.

Dalam penggunaan metode Rayleigh-Ritz kesulitan utama yang dapat

timbul adalah pemilihan fungsi-fungsi kontinu Ø1 …., Øn , ψ1 …., ψn , dan η1 …., ηn .

Berikut merupakan ketentuan-ketentuan agar dapat mengaplikasikan metode

Rayleigh-Ritz, pada analisis struktur dengan bentuk geometrik yang beraturan

maupun tidak beraturan meliputi:

1. Karena fungsi u = u (x, y, z), v = v (x, y, z), w = w (x, y, z) adalah

continuous, maka jika diamati variasi pada elemen kecil yang merupakan

bagian dari domain problem atau strukturnya, variasi tersebut cukup dekat

untuk dinyatakan dalam fungsi sederhana seperti konstan atau polynomial

berorde rendah dalam x, y, dan z.

2. Jika domain dari masalah struktur dibagi menjadi banyak elemen-elemen

kecil dengan bentuk geometrik yang cukup sederhana, maka dengan

menggunakan polinomial sederhana sudah memberikan hasil yang cukup


48

teliti untuk mendekati fungsi displacement u, v, dan w pada masing-

masing elemen kecil.

3. Jika domain problem atau strukturnya dibagi menjadi N elemen, maka

energi potensial total (π) dari system tersebut merupakan jumlah dari

energi potensial dari masing-masing elemen yang ditunjukkan pada

persamaan berikut:

π = ∑N
e=1 πe ………..…....................………………………... (3.44)

4. Dari ketentuan-ketentuan di atas, maka untuk menentukan perkiraan yang

dekat dari energi potensial total, dengan menjumlahkan seluruh πe yang

dimiliki oleh masing-masing elemen. Ketentuan-ketentuan di atas dengan

prinsip metode matriks, akan dikombinasikan dan dikembangkan menjadi

metode elemen hingga.

3.5.4. Elemen Hexahedral Delapan Titik Nodal

Dalam analisis struktur metode elemen hingga, elemen sangat

memperngaruhi analisis, ada 3 jenis elemen pada 3-Dimensional solid yaitu elemen

rectangular solid, elemen hexahendron solid, dan elemen tetrahendron solid.

Untuk elemen hexahedral delapan titik nodal dengan koordinat alami g, h, dan r

ditunjukkan dalam gambar 3.7.


49

8 7

r
5 h 6

4 3

1 2
Gambar 3.7. Elemen hexahedral delapan titik nodal
(Sumber: Patria, 2017)

Perpindahan dan koordinat dari titik acak pada elemen hexahendral

delapan titik nodal dinyatakan dengan persamaan (3.45) berikut.

u = ∑8i=1 Ni ui …….…....................………………………... (3.45)

1 1
u = (1 – g)(1 - h)(1 - r) u1 + (1 – g)(1 - h)(1 - r) u2 + ….
8 8

1
+ (1 – g)(1 - h)(1 - r) u8 …....…………………………... (3.46)
8

Dengan:

i = 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8

Terdapat dua skema integrase numerik elemen hexahedral delapan titik

nodal yaitu integrase penuh dan integrase tereduksi. Skema integrase tereduksi ada

dua formula, yaitu berdasarkan uniform strain formulation yang pertama kali

dipublikasikan oleh Flanagan dan Belytschko (1981) serta centroidal strain

formulation. Integrasi penuh dengan menentukan gradien termodifikasi yang

ditunjukkan dalam persamaan (3.47) berikut.


50

1
J̅ n
F̅ =F( ) ……..…………………………………………... (3.47)
J

1
J̅ = ∫ Jd Vel …….………………………………………... (3.48)
𝑉𝑒𝑙

∂x
F̅ = ……………………………………………..…..……... (3.49)
∂X

Untuk elemen tiga dimensi n = 3, dan nilai termodifikasi tensor deformasi

(D) ditentukan berdasarkan persamaan berikut.

−1 J̅̅̇ J̅̇
D = sym (F̅.F̅ ) = sym (Ḟ. F−1 ) + f I ( − ) …………...... (3.50)
J̅ J

Dengan:

F̅ = gradien deformasi

n = dimensi elemen

J = det (F) merupakan Jacobian pada poin Gauss

J̅ = rata-rata Jacobian elemen

f = untuk elemen 3 dimensi (n = 3) nilai f adalah 1/3

I = identitas matriks pada elemen 3 dimensi

D̅ ditentukan menggunakan persamaan kecepatan pada persaman (3.51)

berikut.

∂u̅̇
D̅ = sym ( ) + f I (trace (∂̅u̅̇ /∂x ) – trace (∂u̅̇ /∂x )) ……….…... (3.51)
∂x

̅̅̅
∂ 1 ∂u̅̇
( u̅̇ ) = ∫ Vel dVel ….…………………………………....... (3.52)
∂x Vel ∂x

Persamaan (3.51) digunakan pada proses kerja virtual, untuk menentukan

gaya nodal dari tegangan elemen. Pada software Abaqus/CAE central diference
51

operator digunakan untuk mendefinisikan increment regangan dari nilai tensor

deformasi yang ditunjukkan pada persamaan berikut.

∂Δu
ΔD̅ = sym ( ) + f I (trace (∂̅̅̅̅
Δu /∂x ) – trace (∂Δu /∂x )) ………... (3.53)
∂x

1
x = (xt + xt+Δt ) ……………………………………………... (3.54)
2

Dengan:

x = posisi poin di tengah increment

3.5.5. Plastisitas Baja

Beberapa model untuk analisis plastisitas logam pada software

Abaqus/CAE adalah pilihan antara tingkat independen, dan tingkat dependen dari

plastisitas, pilihan antara permukaan luluh Mises untuk material isotropic dan

permukaan luluh Hill untuk material anisotropic, dan untuk pemodelan tingkat

independen antara pengerasan isotropic dan pengerasan kinematic. Teori plastisitas

khusus seperti model besi cor, model ORNL untuk tipe 304 dan 316 baja tahan karat

dalam aplikasi nuklir, dan plastisitas deformasi untuk aplikasi mekanika fraktur.

Plastisitas dari tingkat independen digunakan sebagian besar dalam

pemodelan respon logam dan beberapa bahan lain pada suhu rendah, dan tingkat

regangan rendah. Model plastisitas logam dari tingkat independen menggunakan

aliran yang saling berhubungan.

Dua jenis model dari tingkat dependen. Pada tipe pertama kekuatan luluh

dari tingkat dependen ditunjukkan pada model material, dimaksudkan untuk

aplikasi tingkat regangan yang relatif tinggi, seperti peristiwa dinamis atau simulasi
52

proses pembentukan logam. Pada jenis tingkat dependen ini, dapat ditunjukkan

dengan cara yang berbeda, seperti menggunakan kekuatan tegangan yang terlalu

besar (overstress) seperti pada persamaan (3.55) berikut.

pl σ̅
ε̅̇ =D( -1) untuk σ̅ ≥ σ0 ...……………………………... (3.55)
σ0

Dengan:

pl
ε̅̇ = tingkat regangan plastis yang sebanding

σ̅ = tegangan luluh pada tingkat regangan plastic tidak sama dengan

nol

σ̅
= rasio tegangan luluh
σ0

σ0 (εpl , Ө, fi ) merupakan tegangan luluh statis (yang mungkin tergantung

pada regangan plastis (εpl ) melalui pengerasan isotropic, pada suhu (Ө) dan pada

variabel lainnya (fi )), dan D(Ө, fi ), n(Ө, fi ) merupakan parameter material yang

dapat menjadi fungsi dari suhu serta dari variabel keadaan lainnya. Cara lainnya,

dengan menentukan rasio tegangan luluh ( σ̅ / σ0 ) sebagai fungsi dari tingkat

pl
regangan plastis yang sebanding (ε̅̇ ). Dari kedua pilihan ini, diasumsikan bahwa

bentuk kurva pengerasan pada tingkat regangan yang berbeda adalah identik. Jika

bentuk kurva pengerasan pada tingkat regangan yang berbeda, hubungan tegangan

regangan statis dan tingkat dependen dapat ditentukan secara langsung, untuk

tegangan luluh dari tingkat regangan tertentu dilakukan interpolasi.

Pada pengerasan isotropic untuk fungsi luluh ditunjukkan dalam

persamaan (3.56) berikut.


53

f (σ) = σ0 (εpl , Ө) ………………………………………………... (3.56)

σ0 ε̇ pl = σ : ε̇ pl ………..…………………………………………... (3.57)

Dengan:

εpl = perilaku regangan plastis yang sebanding

σ0 = tegangan uniaxial yang sebanding

Ө = temperatur

3.5.6. Plastisitas Elasto Isotropic

Model material isotropic sangat umum digunakan untuk perhitungan

plastisitas dari logam, baik sebagai model pada tingkat dependen atau sebagai

model pada tingkat independen, serta memiliki bentuk yang sangat sederhana.

Karena kesederhanaan bentuk tersebut, persamaan yang terkait dalam

mengintegrasikan model dengan mudah dikembangkan dalam hal variabel tunggal,

dan matriks kekakuan material dapat ditulis secara eksplisit. Untuk kesederhanaan

notasi, semua kuantitas yang tidak secara eksplisit dikaitkan dengan titik waktu,

diasumsikan evaluasi pada akhir kenaikan.

Fungsi luluh Mises dengan aliran yang terkait berarti tidak ada regangan

plastis volumetrik, karena modulus elastisitas dalam jumlah cukup besar, perubahan

volume akan menjadi kecil. Untuk penentuan volume tekanan dapat ditentukan

dengan persamaan (3.58), serta karena itu regangan deviatorik ditentukan dengan

persamaan (3.59) berikut ini.

εvol = trace (ε) ……...…………………………………………... (3.58)


54

1
e = ε - εvol I …… …………………………………………... (3.59)
3

Pada definisi model material, untuk dekomposisi tingkat regangan

ditentukan pada persamaan (3.60). Berdasarkan definisi standar pengukuran

korotasional dalam bentuk terintegrasi pada persamaan (3.61).

dε = dεel + dεpl ………………………………………………... (3.60)

ε = εel + εpl ………...………………………………………... (3.61)

Elastisitas dapat ditulis dalam komponen volumetric pada persamaan

(3.62) dan deviator pada persamaan (3.64). Untuk komponen tegangan volumetrik,

dan deviator ditunjukkan pada persamaan (3.63), dan (3.65).

p = -Kεvol ………..…………………………………………... (3.62)

1
p =- trace (σ) ……………………………………………... (3.63)
3

S = 2G eel …….……………………………………………... (3.64)

S = σ + p I …….……………………………………………... (3.65)

E
K = ……....…………………………………………... (3.66)
3(1 - 2v)

E
G = ……….…………………………………………... (3.67)
2(1 + v)

Dengan:

K = modulus massal

G = modulus geser

E = modulus luluh

v = poisson ratio
55

Pengaturan aliran diatur dalam persamaan (3.68) berikut.

depl = de-pl n ………..…………………………………………... (3.68)

3 S
n = …………..…………………………………………... (3.69)
2 q

3
q = √2 S : S ……...…………………………………………... (3.70)

Dengan:

depl = tingkat regangan plastis yang sebanding (scalar)

Persyaratan dari plastisitas, material harus memenuhi hubungan tegangan-

uniaksial regangan-plastis dan tingkat-regangan. Jika material independen,

persamaan untuk kondisi luluh seperti pada persamaan (3.71) berikut ini.

q = σ0 .…………………...…………………………………... (3.71)

Dimana σ0 (e̅pl , Ө) adalah tegangan luluh yang ditentukan oleh pengguna

sebagai fungsi dari regangan plastis yang seimbang (e̅pl ), dan suhu (Ө).

pl
e̅̇ = h(q, e̅pl , Ө) ….…………………………………………... (3.72)

pl q n
e̅̇ =D( 0 -1) ……………………………………………... (3.73)
σ

Dengan:

h = fungsi yang diketahui

Contoh model material dengan tingkat dependen memberikan kuat

tegangan berlebih dari bentuk pada persamaan (3.73). D(Ө), dan n(Ө) merupakan

suhu dependent dari parameter material dan σ0 (e̅pl , Ө) merupakan tegangan luluh

statis.
56

Integrasi hubungan tersebut dalam persamaan (3.74) dengan metode Euler

berikut.

Δe̅pl = Δt h (q, e̅pl , Ө) ……...…………………………………... (3.74)

q = σ̅ (e̅pl ) ………………..…………………………………... (3.75)

Persamaan (3.74) dapat dibalik secara numerik jika diperlukan, untuk

memberikan q sebagai fungsi ( e̅pl ) pada akhir kenaikan. Baik model tingkat

independen maupun model tingkat dependen terintegrasi memberikan bentuk

uniaksial yang umum.

Nilai σ̅ = σ0 pada model tingkat independen dan σ̅ diperoleh dengan

persamaan (3.74) untuk model tingkat dependen. Persamaan (3.61) sampai (3.75)

mendefinisikan perilaku material. Dalam setiap kenaikan ketika aliran plastis terjadi

(ditentukan dengan mengevaluasi q berdasarkan respon elastis murni dan

menemukan bahwa nilainya melebihi).

3.5.7. Potensi Tegangan Untuk Plastisitas Logam Anisotropic

Plastisitas model logam dalam software Abaqus/CAE menggunakan

potensi tegangan Mises untuk perilaku isotropic dan potensi tegangan Hill untuk

perilaku anisotropic. Kedua potensi ini hanya bergantung pada tegangan deviatoric,

sehingga pada bagian plastis respon tidak dapat tergenggam. Dalam kasus di mana

aliran plastis mendominasi respon (seperti perhitungan batas beban atau masalah

pembentukan logam), kecuali untuk masalah tegangan rencana, elemen hingga

harus dipilih sehingga dapat mengakomodasi aliran yang tidak dapat tergenggam.
57

Persamaan untuk menentukan potensi tegangan Mises ditunjukkan pada

persamaan (3.76) berikut.

f (σ) = q ……………..…………………………………………... (3.76)

3
q = √2 S : S ……...…………………………………………... (3.77)

1 1
S =σ- trace (σ) I =σ- II : (σ) ….…………………... (3.78)
3 3

Potensinya adalah lingkaran di bidang normal ke sumbu hidrostatik dalam

tegangan utama, yang ditunjukkan pada persamaan berikut.

∂f 13
= S ……………………………….………………...…... (3.79)
∂σ q2

∂2 f 1 3 1 ∂f ∂f
= ( I - II- ) ….…….………………………...…... (3.80)
∂σ ∂σ q 2 2 ∂σ ∂σ

Dengan:

f (σ) = potensi tegangan Mises

S = tegangan deviatoric

ℑ = tensor unit urutan keempat

Fungsi tegangan Hill adalah extension sederhana dari fungsi Mises untuk

memungkinkan perilaku anisotropic, yang ditunjukkan pada persamaan (3.81)

berikut.

f (σ) = √F (σy -σz )2 +G(σz -σx )2 +H(σx -σy )2 +2Lτyz 2 +2Mτzx 2 +2Nτxy 2

Dalam hal komponen tegangan Cartesian persegi panjang, dimana F, G,

H, L, M, dan N merupakan konstanta yang diperbolehkan dengan pengujian


58

material dalam orientasi yang berbeda, didefinisikan pada persamaan (3.82) sampai

(3.87).

σ0 2 1 1 1
F = ( 2 + 2 - ) …….……………………....…... (3.82)
2 σ̅ 22 σ̅ 33 σ̅ 11 2

σ0 2 1 1 1
G = ( 2 + 2 - ) …….……………………....…... (3.83)
2 σ̅ 33 σ̅ 11 σ̅ 22 2

σ0 2 1 1 1
H = ( 2 + 2 - ) ……….…………………....…... (3.84)
2 σ̅ 11 σ̅ 22 σ̅ 33 2

3 τ 2
L = ( 0) …….….…………………………………....…...(3.85)
2 τ̅ 23

3 τ 2
M = ( 0) ……..……………………………………....…...(3.86)
2 τ̅ 13

3 τ 2
N = ( 0) ………..…………………………………....…...(3.87)
2 τ̅ 12

σ0
τ0 = …………………………………………………....…... (3.88)
√3

σ0 , σ̅ 11 , σ̅ 22 , σ̅ 33 , τ̅12 , τ̅23 , dan τ̅13 ditentukan oleh pengguna. Adalah nilai-

nilai tegangan yang membuat potensi sama dengan σ0 jika hanya satu komponen

tegangan tidak sama dengan nol. Untuk fungsi ini, pada persamaan (3.89) dimana

b ditunjukkan pada persamaan (3.91).

∂f 1
= b …...………………………..……………..……....…... (3.89)
∂σ 𝑓

∂2 f 1 ∂ 1
= ( b- b b) ……..…………………....……………... (3.90)
∂σ ∂σ 𝑓 ∂σ f 2
59

-G(σz -σx )+H(σx -σy )


F(σy -σz ) - H(σx -σy )
-F(σy -σz )+G(σz -σx )
b = ……….………....………………... (3.91)
2Lτyz
2Mτzx
[ 2Lτyz ]

G+H -H -G 0 0 0
-H F+H -F 0 0 0
∂b -G -F F+G 0 0 0
∂σ
= 0 0 0 2N 0 0 …….…………... (3.92)
0 0 0 0 2M 0
[ 0 0 0 0 0 2L]

3.5.8. Hysteresis

Hysteresis dari model material elastomeric dalam software Abaqus/CAE

dimaksudkan untuk memodelkan besarnya regangan, yang bergantung pada

perilaku dari elastomers. Aspek utama dari perilaku elastomers adalah hysteresis

dalam kurva tegangan regangan akibat beban siklik. Respon dari model material

elastomeric akibat siklus pembebanan, tidak memodelkan “Mullins effect” yang

mengacu pada pelunakan signifikan yang ditunjukkan oleh respon material

elastomers dalam siklus pembebanan awal.

Model material elastomeric membagi respon mekanis dari elastomers

dalam jaringan equilibrium (A), sesuai dengan keadaan selama tes tegangan, dan

jaringan waktu tertentu (B), yang menunjukkan tingkat penyimpangan nonlinear

tergantung dari equilibrium.

Tegangan total diasumsikan sebagai jumlah tegangan dalam dua jaringan.

Deformation gradient (F) diasumsikan berlaku pada kedua jaringan dan diuraikan
60

menjadi bagian elastis dan inelastis pada jaringan B sesuai dengan persamaan (3.93)

berikut.

F = FeB Fcr
B …………..………………………………………... (3.93)

Model material didefinisikan sebagai isotropic, model material

hyperelastic menggambarkan respon jarigan A. Respon mekanis jaringan A di

bawah deformation gradient (F) berdasarkan isotropic hyperelasticity standar.

Respon tegangan dari jaringan B tergantung pada FeB , dan ditentukan oleh potensi

hyperrelastic seperti jaringan A, hinggan faktor penskalaan tegangan (S). Untuk F,

penentuan FeB membutuhkan spesifikasi konstitutif untuk Fcr


B , yang ditunjukkan

melalui pengembangan persamaan Fcr


B , pada persamaan (3.94) berikut.

S cr -1 -1
ϵ̇ cr B e cr e
B σ = FB ḞB FB FB …...……………………………………... (3.94)
B

3
σB = √2 SB : SB ……………...………………………………... (3.95)

C
ϵ̇ cr
B = A [λcr m
B – 1 + E] (σB ) …………………………………... (3.96)

1
λcr
B = √3 I : Ccr
B …….…………………………………………... (3.97)

Ccr
B = Fcr T cr
B FB …………………………………………………... (3.98)

Dengan:

ϵ̇ cr
B = regangan-regangan efektif dalam jaringan B

SB = tensor deviator dari tegangan Cauchy pada jaringan B

σB = tegangan efektif dalam jaringan B

λcr
B - 1 = regangan-regangan nominal dalam jaringan B
61

Korelasi dari rangkaian regangan microscopic ke keadaan regangan

macroscopic utama melalui persamaan di atas berasal dari Arruda dan Boyce

(1993). Implementasi numerik pada respon material dari jaringan A identik dengan

untuk model hyperelastic.

Implementasi mekanisme jaringan B didasarkan pada pendekatan

eksponensial implisit terhadap pengaturan aliran, pada persamaan (9.94), yang

menjaga sifat inelastis incompressibility dari pengaturan aliran (Weber dan Anand,

1990).

3.6. Titik Luluh (Yield Point)

Kekuatan luluh atau titik luluh merupakan suatu gambaran kemampuan

material menahan deformasi permanen bila digunakan dalam penggunaan struktural

yang melibatkan pembebanan mekanik seperti tarik, tekan, bending atau puntir. Di

sisi lain, batas luluh harus dicapai ataupun dilewati bila bahan digunakan dalam

proses manufaktur produk-produk logam seperti rolling, drawing, stretching, dan

lainnya.

Titik yield menggunakan metode offset berdasarkan ditentukan dengan

cara menarik garis lurus (garis offset) yang sejajar dengan kurva misalkan tegangan-

regangan (pada daerah proporsional) yang digunakan sebagai acuan (garis

lurusnya) dengan persentase 0,2% searah sumbu X dari titik 0 (Timoshenko dan

Gere, 1987). Perpotongan garis offset dengan kurva yang ada merupakan tegangan

luluh offset. Umumnya untuk garis offset diambil 0,1 – 0,2% dari regangan total

dimulai dari titik 0. Penentuan titik offset seperti pada gambar 3.8 berikut.
62

Yield Point dengan


Metode Offset

Unit Stress (Tegangan)

Garis Offset

Unit Strain (Regangan)


0,2% Offset
Gambar 3.8. Penentuan tegangan luluh dengan metode Offset
(Sumber: Timoshenko dan Gere, 1987)

3.7. Variasi Pembebanan

Secara implisit diasumsikan bahwa kerusakan struktur kumulatif hanya

terjadi karena deformasi maksimum, terlepas dari jumlah siklus plastis dan jumlah

energi yang hilang disebabkan oleh pemuatan siklik berulang (Kunnath dan Chai,

2004).

Dalam mengukur kerusakan elemen struktur baja yang dikenai

perpindahan siklik untuk pengembalian tegangan lentur/geser yang diterapkan

secara acak, seperti yang disebabkan oleh gempa bumi ekstrim (Climent, 2007).

Pembebanan yang dilakukan pada elemen struktur baja secara acak yang dianggap

dapat mewakili beban gempa ekstrim dengan menggunakan beberapa variasi beban

Δy (perpindahan luluh) dalam mengukur kerusakan elemen.

Anda mungkin juga menyukai