Desain Eccentric Braced Frame (EBF)
Desain Eccentric Braced Frame (EBF)
BAB III
LANDASAN TEORI
jika digunakan link pendek (Becker, dan Ishler, 1996). Semakin pendek link yang
digunakan maka struktur EBF akan semakin kaku sebaliknya semakin panjang link
yang digunakan maka struktur EBF akan semakin lentur. Pada struktur EBF
Pada sistem struktur EBF balok link bersifat sebagai damper dengan
mendisipasi energi akibat adanya beban gempa horizontal atau beban lateral. Ketika
struktur menerima beban gempa horizontal, elemen link akan mengalami luluh
geser atau luluh lentur (deformasi inelastis) sedangkan elemen yang berada di luar
Link dalam struktur EBF dibentuk dari offset pada sambungan braced pada
balok atau braced yang berbatasan dengan kolom sehingga selama beban gempa
(seismic load) bekerja, link menjadi aktif dan mengalami pelelehan (Ricles dan
Popov, 1994). Dengan kata lain link berfungsi sebagai sekring daktail (ductile fuse)
sedangkan komponen lainnya dari EBF tetap elastis (Popov dkk, 1987).
10
e e e e
e e e e
e
e
Desain dasar berlaku untuk EBF dimana satu ujung dari masing-masing
braced memotong balok pada eksentrisitas dari antara titik tengah balok dan kolom
sehingga membentuk sebuah link yang pekah terhadap lentur dan geser. Tidak
banyak eksentrisitas dari pada ukuran balok ijin pada sambungan braced jauh dari
link (e) jika bagian yang dihasilkan dan sambungan gaya-gaya ditunjukan pada
diantara perpotongan garis pusat braced dan garis pusat balok (antara perpotongan
dari garis pusat braced, dan balok serta garis pusat kolom untuk link yang terhubung
pada kolom) harus tersedia. Link harus dianggap membentang dari sambungan
braced ke sambungan braced pada pusat link dan dari sambungan braced ke muka
kolom pada link ke sambungan kolom, kecuali diizinkan pada syarat sambungan
link ke kolom.
Elemen link dalam sistem EBF berperilaku sebagai balok pendek dengan
gaya geser yang bekerja berlawanan arah pada kedua ujungnya. Karena adanya
gaya geser yang terjadi pada kedua ujung balok, maka momen yang dihasilkan pada
kedua ujung balok mempunyai besar dan arah yang sama. Deformasi yang
dihasilkan berbentuk S dengan titik balik pada tengah bentang serta besarnya
momen yang bekerja adalah sebesar 0,5 kali besar gaya geser dikali dengan panjang
daktilitas dan kestabilan yang besar dalam menahan beban gempa. Kriteria balok
link ditentukan dari normalisasi panjang link dengan rasio antara kapasitas momen
plastis (Mp ) dan kapasitas geser plastis ( Vp ). Pada link, gaya geser mencapai
keadaan plastis (Vp ) terlebih dahulu sebelum momen lentur mencapai kapasitas
plastisnya sehingga link mengalami leleh dalam geser. Sedangkan pada link lentur,
HSS.
ke sayap-sayap.
keruntuhan, yaitu dengan mengasumsikan perilaku plastis kaku dari setiap elemen
pada sistem EBF (Popov dan Engelhardt, 1988). Mekanisme keruntuhan untuk
tipikal sistem EBF tipe split K-braces, D-braces, serta V-braces pada gambar 3.2
e e
e e
(a) (b)
e e
Link
Balok diluar link
Braced diagonal
e e Kolom
(c)
Gambar 3.2. Tipikal sistem eccentrically braced frame
(a) K-braces; (b) D-braces; (c) V-braces
(Sumber: ANSI/AISC 341-10, 2010).
Pada gambar 3.3 sudut rotasi pada sistem struktur EBF untuk K-braces dan
L
γp = Ө ………...………………………………..………………. (3.1)
𝑒 p
Sedangkan untuk sudut rotasi pada sistem struktur EBF V-braces pada
L
𝛾 = Ө Δ ….……………………………..………………. (3.2)
2𝑒 p p
Dengan:
L = panjang dari elemen frame yang tidak diperkuat secara lateral, in.
(mm)
14
Δp e Δp e
ϴp γp
ϴp
γp
h h
(c) K-braces
Gambar 3.3. Sudut rotasi link untuk sistem EBF
(Sumber: ANSI/AISC 341-10, 2010)
Rasio terhadap ketebalan flange (sayap) dan web (badan) dari penampang
baja untuk balok link juga sangat mempengaruhi rotasi inelastik yang dihasilkan
(Richards dan Uang, 2005). Sudut rotasi link merupakan sudut inelastik antara link
dan balok luar link apabila total arah lantai sama dengan arah lantai desain, Δ. Sudut
rotasi link yang diatur dalam ANSI/AISC 341-10 tidak lebih dari:
Dengan:
Interpolasi linear dari nilai-nilai di atas digunakan untuk panjang link (e)
Braced harus ada pada kedua sisi atas dan bawah pada ujung sayap link
untuk profil I, serta memiliki kekuatan dan kekakuan yang dibutuhkan untuk lokasi
sendi plastis. Braced khusus harus ditempatkan berdekatan dengan lokasi sendi
plastis yang diharapkan. Untuk struktur balok baja, untuk balok pada struktur baja,
Dengan:
plastis adalah:
terhadap lateral atau torsi pada balok dengan Cd = 1,0 dimana kekuatan
Mr = M u (LRFD)
Desain kuat geser link (ϕv Vn ), harus nilai terendah yang sesuai dengan
batas dari keluluhan geser pada badan dan keluluhan lentur pada keseluruhan
penampang.
ϕv = 0,90 (LRFD)
Vn = Vp ……………………………………………………... (3.6)
Dengan:
Vp = 0,6 Fy Alw √1-(Pr /Pc )² untuk Pr /Pc > 0.15 …..……... (3.8)
Pr = Pu (LRFD)
Py = Fy Ag ……...……………………………………………... (3.11)
Dengan:
1- Pr /Pc
Mp = Fy Z ( ) untuk Pr /Pc > 0,15 ………….…...… (3.14)
0.85
kolom, (mm)
Jika Pr /Pc > 0,15, maka panjang link harus dibatasi seperti berikut:
Jika ρ′ ≤ 0,5
1,6 Mp
e≤ ….………….…...……………... (3.15)
Vp
1,6 Mp
e≤ (1,15 – 0,3ρ′) …………………... (3.16)
Vp
Dengan:
Pr /Pc
ρ′ = ………..………………
Vr /Vc
…………………………... (3.17)
Untuk link dengan gaya aksial rendah tidak ada batasan atas pada panjang
link. Hasil sudut rotasi link pada peraturan ANSI/AISC 431/2010 bagian F3.4a
Tinggi total pengaku badan link harus disediakan pada kedua sisi badan
link pada ujung braced yang miring dari link. Pengaku ini harus mempunyai variasi
lebar tidak kurang dari (bf − 2tw ) dan ketebalan tidak kurang dari 0,75tw atau 3/8
in. (10 mm), dimana bf adalah lebar sayap link dan tw adalah tebal badan link. Link
harus ditetapkan dengan pengaku badan vertikal seperti pada tabel 3.1 berikut.
tw
d
a a a bf
Keterangan:
bf = Lebar Profil IWF, (in). mm
d = Tinggi profil IWF, (in). mm
a = Jarak pengaku link (stiffener), (in). mm
tw = Tebal badan profil IWF, (in). mm
tf = Tebal sayap profil IWF, (in). mm
Gambar 3.4. Pengaku badan vertikal (vertical web stiffener)
pada balok link profil I
(Sumber: Kasai dan Popov, 1986).
ditunjukkan dalam gambar 3.4 dimana jarak antara pelat pengaku badan adalah a.
Pengaku badan menengah harus penuh sepanjang tinggi badan profil. Untuk link
yang tingginya kurang dari 25 in (630 mm) pengaku harus ditetapkan hanya pada
satu sisi badan link. Ketebalan dari satu sisi pengaku ≥ 2 atau 3/8 in (10 mm), dipilih
nilai maksimumnya, dan lebarnya ≥ (bf / 2) - tw. Untuk link dengan tinggi ≥ 25 in
menghubungkan pengaku link ke badan link harus sama dengan Fy Ast (LRFD),
merupakan tegangan luluh dari pengaku. Kuat las potongan yang menghubungkan
balok di luar link secara diagonal. Kombinasi kuat lentur dan aksial yang
disyaratkan untuk braced diagonal harus diambil dari kombinasi pembebanan yang
telah ditetapkan dalam standar yang ada. Untuk kombinasi pembebanan yang
memasukkan pengaruh seismic, pada braced gaya aksial dan momen harus
dikalikan minimum 1,25 kali dari kuat geser nominal yang diharapkan pada link
Bentuk
kolom yang
melengkung
ditunjukkan
oleh garis
putus-putus
360-10 dalam tabel C-A-7.1 yang ditunjukkan pada tabel 3.2. Berdasarkan
21
kekuatan desain terhadap tekan (ϕc Pnc ) dapat dihitung menggunakan persamaan
berikut:
Dengan:
Fy Fy
KL E
Fcr = [0,658 Fe ] Fy untuk ≤ 4,71 √ atau ≤ 2,25 ….. (3.22)
r Fy Fe
KL E Fy
Fcr = 0,877 Fe untuk > 4,71 √ atau > 2,25 …... (3.23)
r Fy Fe
tabel (3.2).
L = panjang dari elemen frame yang tidak diperkuat secara lateral, in.
(mm)
minimum (Fy ).
π2 E
Fe = ……………………….…….………………......… (3.24)
KL 2
( r )
22
tarik (ϕt ) baik untuk balok, kolom, dan braced sesuai peraturan ANSI/AISC 360-
ϕc = 0,90 (LRFD)
ϕt = 0,90 (LRFD)
Pada elemen balok, kekuatan geser desain harus lebih besar atau sama
dengan kekuatan geser maksimum (ϕv Vn ≥ Vmax ). Untuk kekuatan geser nominal
(Vn) dari balok sesuai batas kekuatan geser, serta tekuk geser ditentukan dengan
Untuk badan profil I sesuai dengan ketentuan h/tw ≤ 2,24 √E/Fy maka
Cv , dan ϕv adalah:
ϕv = 1,00 (LRFD)
Mn = Mp = Fy Zx ……………...……….………………......… (3.27)
Dengan:
Pada balok diluar link, kombinasi kuat lentur dan aksial yang disyaratkan
harus diambil dari kombinasi pembebanan yang telah ditetapkan pada standar yang
braced gaya aksial dan momen harus dikalikan minimum 1,10 kali dari kuat geser
ketika link menjadi aktif. Kolom berfungsi menahan beban aksial tekan dengan atau
tanpa momen lentur. Beban pada kolom yang disebabkan oleh beban gravitasi (g),
momen balik dari beban lateral dan pelelehan link merupakan pengaruh dari fungsi
jumlah lantai tingkat dan tinggi bangunan (Pirmoz dkk, 2014). Kolom memegang
peranan penting pada keutuhan struktur, apabila kolom mengalami kegagalan akan
kapasitas desain untuk menahan pembebanan maksimum yang dihasilkan dari link.
Walaupun gaya geser maksimum pada pelelehan link sebesar 1,25 Ry Vn, untuk
faktor strain hardening menjadi 1,10. Reduksi ini mencerminkan probabilitas yang
rendah dari pelelehan simultan untuk semua link pada bangunan bertingkat (Pirmoz
dkk, 2014).
E
Lb max = 0,086 ry …………..…….………………......… (3.28)
Fy
Dengan:
Kekuatan tekan nominal (Pn ) harus ditentukan berdasarkan batas dari torsi
dan tekuk torsi lentur sesuai peraturan dalam ANSI/AISC 360-10 bagian E3 yang
Pn = Fcr Ag ………………………..…….………………......…(3.29)
Dengan:
ϕc = 0,75 (LRFD)
Pada sambungan baut cenderung mengalami pinching akibat slip dari lelehnya baut
atau pelat penyambung, karena itu sistem sambungan baut direncanakan lebih kuat
penggunaan sambungan las, kecuali dengan persyaratan yang ketat tentang bahan
kapasitas deformasi inelastik secara signifikan terutama melalui geser atau lentur
pada link. Dimana sambungan link langsung pada kolom, desain pada sambungan
link ke kolom harus menunjukan kinerja yang sesuai pada ANSI/AISC 341-10.
26
d. Pengelasan pemasangan sayap link dan badan link ke kolom, dimana link
tersambung ke kolom.
link.
pada sambungan balok ke kolom, sambungan harus memenuhi sesuai salah satu
syarat berikut:
b. Sambungan harus di desain untuk tahan terhadap momen yang lebih kecil
dari:
Dengan:
Bila lubang yang lebih besar digunakan, kekuatan yang dibutuhkan untuk
batas sambungan panjang baut tidak boleh melebihi efek beban berdasarkan
penggunaan kombinasi beban yang ditentukan oleh kode bangunan yang berlaku,
menahan bagian dari momen pada ujung link, yang harus di desain terkekang
sempurna.
digunakan untuk membuat sambungan, alur pengelasan harus secara komplit pada
mengembangkan sekurang-kurangnya 50% dari kuat lentur yang kurang dari bagian
sambungan.
Dengan:
ΣMpc = jumlah kekuatan lentur plastis, Fyc Zc , dari kolom di atas dan di
b. Ketahanan geser dari sambungan, diukur pada rotasi sudut link yang
dari link, Ry Vn .
Sambungan link ke kolom harus sesuai dengan salah satu dari persyaratan
dibawah ini:
ANSI/AISC 341-10. Hasil uji dari paling sedikit dua sambungan siklik
dibawah ini:
seperti profil I, HSS, channels, dan tees yang digunakan sebagai elemen struktur
balok, kolom, maupun braced. Syarat klasifikasi elemen kompak dan non kompak
berdasarkan ANSI/AISC 360-10 dalam tabel B4.1b yang ditunjukkan dalam tabel
Tabel 3.3. Rasio kelangsingan untuk penampang kompak dan non kompak
elemen struktur
Batasan Rasio Kelangsingan
Deskripsi λ 𝛌p 𝛌r Contoh Profil
Elemen (Kompak/ Tidak (Tidak Kompak/
Kompak) Ramping)
Sayap dari b/t E E
Elemen Tidak Kaku
E E
profil HSS 1,12√ 1,40√
persegi Fy Fy
panjang dan
kotak dengan
ketebalan
yang sama
Badan dari h/t E E
profil HSS 2,42√ 5,70√
persegi Fy Fy
panjang dan
kotak
Keterangan:
λ = rasio kelangsingan elemen profil.
λp = batasan rasio kelangsingan untuk elemen kompak.
λr = batasan rasio kelangsingan untuk elemen tidak kompak.
(Sumber: ANSI/AISC 360-10, 2010)
diagonal pada sistem EBF sesuai bagian D1.1 dalam ANSI/AISC 341-10. Untuk
rasio kelangsingan (λ) dari elemen balok, kolom, atau braced diagonal yang tidak
melebihi rasio daktalitas sedang ( λmd ) termasuk dalam elemen dengan tingkat
daktalitas sedang, sedangkan untuk rasio kelangsingan (λ) yang tidak melebihi rasio
daktalitas tinggi (λhd ) termasuk dalam elemen dengan tingkat daktalitas tinggi.
31
tees; profil
siku satu b/t 0,30√E/Fy 0,38√E/Fy
sudut atau
sudut ganda
dengan
pemisah;
profil siku
ganda
disatukan
Badan dari Untuk Ca ≤ 0,125 Untuk Ca ≤ 0,125
profil I yang 2,45√E/Fy (1- 3,76√E/Fy (1-
digunakan 0,93Ca ) 2,75Ca )
sebagai balok
atau kolom h/tw Untuk Ca > 0,125 Untuk Ca > 0,125
0,77√E/Fy (2,93- 1,12√E/fy (2,33-
Ca ) Ca )
≥ 1,49√E/Fy ≥ 1,49√E/Fy
Elemen Kaku
Dengan: Dengan:
Pu Pu
Ca = Ca =
ϕc Py ϕc Py
(LRFD) (LRFD)
Keterangan:
λ = rasio kelangsingan elemen profil.
λp = batasan rasio elemen daktalitas tinggi.
λr = batasan rasio elemen daktalitas sedang.
Ca = rasio kekuatan perlu terhadap kekuatan desain.
Py = kekuatan aksial nominal dari elemen, kips. (N)
(Sumber: ANSI/AISC 341-10, 2010)
32
1. 1,4D
5. 1,2D + 1,0E + L
6. 0,9D + 1,0W
7. 0,9D + 1,0E
Untuk berbagai kategori risiko struktur bangunan gedung dan non gedung
terdapat pada tabel 3.5, dan pengaruh gempa rencana harus dikalikan dengan suatu
faktor keutamaan Ie pada tabel 3.6 sesuai pasal 4.1.2 dalam SNI 1726:2012.
33
Tabel 3.5. Kategori risiko bangunan gedung dan non gedung untuk beban gempa
Jenis Pemanfaatan Kategori
Risiko
Gedung dan non gedung yang memiliki risiko rendah terhadap jiwa
manusi pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tetapi tidak dibatasi
untuk antara lain:
- Fasilitas pertanian, perkebunan, perternakan, dan perikanan I
- Fasilitas sementara
- Gudang penyimpanan
- Rumah jaga dan struktur kecil lainnya
Semua gedung dan struktur lain, kecuali yang termasuk dalam
kategori risiko I, III, IV, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
- Perumahan
- Rumah toko dan rumah kantor
- Pasar II
- Gedung perkantoran
- Gedung apartemen/ rumah susun
- Pusat perbelanjaan/ mall
- Bangunan industry
- Fasilitas manufaktur
- Pabrik
Gedung dan non gedung yang memiliko risiko tinggi terhadap jiwa
manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi
untuk:
- Bioskop
- Gedung pertemuan
- Stadion
- Fasilitas kesehatan yang tidak memiliki unit bedah dan unit
gawat darurat
- Fasilitas penitipan anak
- Penjara III
- Bangunan untuk orang jompo
Lanjutan Tabel 3.5. Kategori risiko bangunan gedung dan non gedung
untuk beban gempa
Jenis Pemanfaatan Kategori
Risiko
Gedung dan non gedung yang tidak termasuk dalam kategori risiko
IV, (termasuk, tetapi tidak dibatisi untuk fasilitas manufaktur,
proses penanganan, penyimpanan, penggunaan atau tempat
pembuangan bahan bakar berbahaya, bahan kimia berbahaya,
limbah berbahaya, atau bahan yang mudah meledak) yang III
mengandung bahan beracun atau peledak di mana jumlah
kandungan bahannya melebihi nilai batas yang disyaratkan oleh
instansi yang berwenang dan cukup menimbulkan bahaya bagi
masyarakat jika terjadi kebocoran.
Gedung dan non gedung yang ditunjukkan sebagai fasilitas yang
penting, termasuk, tetapi tiak dibatasi untuk:
- Bangunan-bangunan monumental
- Gedung sekolah dan fasilitas pendidikan
- Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya yang memiliki
fasilitas bedah dan unit gawat darurat
- Fasilitas pemadam kebakaran, ambulans, dan kantor polisi,
serta garasi kendaraan darurat
- Tempat perlindungan terhadap gempa bumi, angina badai, dan
tempat perlindungan darurat lainnya
- Fasilitas kesiapan darurat, komunikasi, pusat operasi dan IV
fasilitas lainnya untuk tanggap darurat
- Pusat pembangkit energy dan fasilitas public lainnya yang
dibutuhkan pada saat keadaan darurat
- Struktur tambahan (termasuk menara telekomunikasi, tangka
penyimpanan bahan bakar, menara pendingin, struktur stasiun
listrik, tangka air pemadan kebakaran atau struktur rumah atau
struktur pendukung air atau material atau peralatan pemadam
kebakaran) yang disyaratkan untuk beroperasi pada saat
keadaan darurat
tanah atau penentuan amplifikasi besarnya percepatan gempa puncak dari batuan
situs pada tabel 3.7 sesuai pasal 5.3 dalam SNI 1726:2012.
Risiko-Tertarget (MCER )
permukaan tanah, diperlukan suatu faktor amplifikasi seismic pada perioda 0,2
detik dan perioda 1 detik. Factor amplifikasi meliputi faktor amplifikasi getaran
terkait percepatan pada getaran perioda pendek (Fa ) dan factor amplifikasi terkait
percepatan yang mewakili getaran perioda 1 detik (Fv ). Parameter spectrum respons
percepatan pada perioda pendek (SMS ) dan perioda 1 detik (SM1 ) yang disesuaikan
dengan pengaruh klasifikasi situs ditentukan dengan rumus berikut, sesuai pasal 6.2
Dengan:
perioda pendek
Untuk koefisien situs Fa dan Fv mengikuti tabel 3.8 dan tabel 3.9 sesuai
pasal 6.2 dalam SNI 1726:2012. Jika digunakan prosedur desain sesuai pasal 8
dalam SNI 1726:2012, maka nilai Fa harus ditentukan sesuai pasal 8.8.1 serta nilai
Parameter percepatan spectral desain untuk perioda pendek, SDS dan pada
perioda 1 detik, SD1 , harus ditentukan melalui persamaan berikut sesuai pasal 6.3
2
SDS = x SMS …………………………………………………... (3.33)
3
38
2
SD1 = x SM1 …………………………………………………... (3.34)
3
masing bangunan dan struktur harus ditetapkan ke dalam kategori desain seismic
yang lebih parah berdasarkan peraturan SNI 1726:2012 pasal 6.5 tabel 6 dan 7 yang
ditunjukkan pada tabel 3.10 dan 3.11, terlepas dari nilai fundamental getaran
struktur, T.
harus dikenakan pada setiap sistem, termasuk batas sistem struktur pada tabel 3.12
Keterangan:
TB = tidak dibatasi
TI = tidak diijinkan
(Sumber: SNI 1726:2012, 2012)
untuk struktur yang dirancang untuk kategori desain seismic F. Apabila struktur
mempunyai sistem penahan gaya gempa berupa rangka baja dengan bresing
eksentris, rangka baja dengan bresing konsentris khusus, rangka baja dengan
bresing terkekang terhadap tekuk, dinding geser pelat baja khusus, atau dinding
berikut:
40
dinding geser pelat baja khusus, pada semua bidang harus menahan tidak
lebih dari 60% gaya gempa total dalam setiap arah, dengan mengabaikan
Jika spektrum respons desain diperlukan oleh tata cara ini dan prosedur
gerakan tanah dari spesifik-situs tidak digunakan, maka kurva spectrum respons
desain harus dikembangkan dengan mengacu pada gambar 3.5 dan mengikuti
T
Sa = SDS (0,4+0,6 ) …...…………………………………... (3.35)
T0
2. Untuk perioda lebih besar dari atau sama dengan T0 dan lebih kecil dari
dengan SDS .
SD1
Sa = …..…………………………………………………... (3.36)
T
41
Dengan:
SD1
T0 = 0,2 …………………………………………………... (3.37)
SDS
SD1
Ts = …………..…………………………………………... (3.38)
SDS
SDS
Percepatan respon spektra, S a (g)
SD1
Sa
T
SD1
T0 1,0
Periode , T (detik)
Gambar 3.5. Spektrum respons desain
(Sumber: SNI 1726:2012, 2012)
ragam getar alami untuk struktur. Berdasarkan peraturan SNI 1726-2010 pasal 7.9.1
42
partisipasi massa ragam terkombinasi sebesar paling sedikit 90% dari massa actual
dalam masing-masing arah horizontal orthogonal dari respons yang ditinjau oleh
model.
Simpangan antar lantai tingkat desain (Δ) seperti ditentukan dalam SNI
1726:2012 pasal 7.8.6, 7.9.2, atau 12.1, tidak boleh melebihi simpangan antar lantai
tingkat ijin (Δa ) seperti ditunjukkan pada tabel berikut sesuai SNI 1726:2012 dalam
sistem penahan gaya gempa yang terdiri dari hanya rangka momen dalam kategori
desain seismic D, E, dan F, simpangan antar lantai tingkat desain (Δ) tidak boleh
peraturan SNI 1726:2012 pasal [Link] yakni, untuk struktur yang dirancang untuk
kategori desain seismic D, E, atau F, faktor redudansi (ρ) harus sama dengan 1,3.
Untuk lantai 2
Untuk lantai 1
Δ1 = δ1 ≤ Δa ………………………………... (3.42)
Dengan:
Kajian Numerik balok link pendek pada sistem EBF dengan menggunakan
software Abaqus/CAE 6.13, maka dalam hal ini akan dijelaskan lebih dalam
44
didasarkan pada metode elemen hingga yang dapat memecahkan masalah mulai
dari analisis linear relatif sederhana sampai simulasi nonlinear yang paling
menantang.
yang tepat dan toleransi konvergensi serta terus menyesuaikan selama analisis
untuk memastikan bahwa solusi yang akurat dan efisiensi diperoleh. Sehingga
dalam analisis kinerja balok link pendek ini menggunakan software Abaqus/CAE
6.13 yang dapat memberikan data numerik secara akurat melalui proses cyclic
dengan berbagai pilihan model dalam elemen agar semakin mendekati kondisi
sebenarnya yang ada di lapangan serta mampu melakukan analisis dinamik maupun
pembebanan statik.
5. Model tree/result tree, menunjukkan review dari model objek dari masing-
peringatan yang terjadi jika ada informasi atau kesalahan pada proses
pemodelan.
mampu menganalisis tegangan pada struktur rangka, balok maupun frame, tekuk
diantaranya adalah program analisis struktur untuk rangka batang, dimana matriks
elemen hingga hanya merupakan pendekatan dari kontinum dan perlu adanya
tumpuan tertentu dalam menahan beban yang terjadi secara numerik dapat di
analisis dengan metode elemen hingga, dimana suatu struktur dibagi menjadi
persamaan umum dalam metode elemen hingga yang ditunjukkan pada persamaan
(3.43).
Dengan:
Secara umum, suatu struktur yang kontinu terdiri dari material point yang
tak terhingga banyaknya dan oleh karena itu struktur tersebut mempunyai derajat
2000).
sistem yang kontinu menjadi suatu sistem yang memiliki derajat kebebasan yang
continuous, maka jika diamati variasi pada elemen kecil yang merupakan
bagian dari domain problem atau strukturnya, variasi tersebut cukup dekat
energi potensial total (π) dari system tersebut merupakan jumlah dari
persamaan berikut:
π = ∑N
e=1 πe ………..…....................………………………... (3.44)
memperngaruhi analisis, ada 3 jenis elemen pada 3-Dimensional solid yaitu elemen
Untuk elemen hexahedral delapan titik nodal dengan koordinat alami g, h, dan r
8 7
r
5 h 6
4 3
1 2
Gambar 3.7. Elemen hexahedral delapan titik nodal
(Sumber: Patria, 2017)
1 1
u = (1 – g)(1 - h)(1 - r) u1 + (1 – g)(1 - h)(1 - r) u2 + ….
8 8
1
+ (1 – g)(1 - h)(1 - r) u8 …....…………………………... (3.46)
8
Dengan:
i = 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8
nodal yaitu integrase penuh dan integrase tereduksi. Skema integrase tereduksi ada
dua formula, yaitu berdasarkan uniform strain formulation yang pertama kali
1
J̅ n
F̅ =F( ) ……..…………………………………………... (3.47)
J
1
J̅ = ∫ Jd Vel …….………………………………………... (3.48)
𝑉𝑒𝑙
∂x
F̅ = ……………………………………………..…..……... (3.49)
∂X
−1 J̅̅̇ J̅̇
D = sym (F̅.F̅ ) = sym (Ḟ. F−1 ) + f I ( − ) …………...... (3.50)
J̅ J
Dengan:
F̅ = gradien deformasi
n = dimensi elemen
berikut.
∂u̅̇
D̅ = sym ( ) + f I (trace (∂̅u̅̇ /∂x ) – trace (∂u̅̇ /∂x )) ……….…... (3.51)
∂x
̅̅̅
∂ 1 ∂u̅̇
( u̅̇ ) = ∫ Vel dVel ….…………………………………....... (3.52)
∂x Vel ∂x
gaya nodal dari tegangan elemen. Pada software Abaqus/CAE central diference
51
∂Δu
ΔD̅ = sym ( ) + f I (trace (∂̅̅̅̅
Δu /∂x ) – trace (∂Δu /∂x )) ………... (3.53)
∂x
1
x = (xt + xt+Δt ) ……………………………………………... (3.54)
2
Dengan:
Abaqus/CAE adalah pilihan antara tingkat independen, dan tingkat dependen dari
plastisitas, pilihan antara permukaan luluh Mises untuk material isotropic dan
permukaan luluh Hill untuk material anisotropic, dan untuk pemodelan tingkat
khusus seperti model besi cor, model ORNL untuk tipe 304 dan 316 baja tahan karat
dalam aplikasi nuklir, dan plastisitas deformasi untuk aplikasi mekanika fraktur.
pemodelan respon logam dan beberapa bahan lain pada suhu rendah, dan tingkat
Dua jenis model dari tingkat dependen. Pada tipe pertama kekuatan luluh
aplikasi tingkat regangan yang relatif tinggi, seperti peristiwa dinamis atau simulasi
52
proses pembentukan logam. Pada jenis tingkat dependen ini, dapat ditunjukkan
dengan cara yang berbeda, seperti menggunakan kekuatan tegangan yang terlalu
pl σ̅
ε̅̇ =D( -1) untuk σ̅ ≥ σ0 ...……………………………... (3.55)
σ0
Dengan:
pl
ε̅̇ = tingkat regangan plastis yang sebanding
nol
σ̅
= rasio tegangan luluh
σ0
pada regangan plastis (εpl ) melalui pengerasan isotropic, pada suhu (Ө) dan pada
variabel lainnya (fi )), dan D(Ө, fi ), n(Ө, fi ) merupakan parameter material yang
dapat menjadi fungsi dari suhu serta dari variabel keadaan lainnya. Cara lainnya,
pl
regangan plastis yang sebanding (ε̅̇ ). Dari kedua pilihan ini, diasumsikan bahwa
bentuk kurva pengerasan pada tingkat regangan yang berbeda adalah identik. Jika
bentuk kurva pengerasan pada tingkat regangan yang berbeda, hubungan tegangan
regangan statis dan tingkat dependen dapat ditentukan secara langsung, untuk
σ0 ε̇ pl = σ : ε̇ pl ………..…………………………………………... (3.57)
Dengan:
Ө = temperatur
plastisitas dari logam, baik sebagai model pada tingkat dependen atau sebagai
model pada tingkat independen, serta memiliki bentuk yang sangat sederhana.
dan matriks kekakuan material dapat ditulis secara eksplisit. Untuk kesederhanaan
notasi, semua kuantitas yang tidak secara eksplisit dikaitkan dengan titik waktu,
Fungsi luluh Mises dengan aliran yang terkait berarti tidak ada regangan
plastis volumetrik, karena modulus elastisitas dalam jumlah cukup besar, perubahan
volume akan menjadi kecil. Untuk penentuan volume tekanan dapat ditentukan
dengan persamaan (3.58), serta karena itu regangan deviatorik ditentukan dengan
1
e = ε - εvol I …… …………………………………………... (3.59)
3
(3.62) dan deviator pada persamaan (3.64). Untuk komponen tegangan volumetrik,
1
p =- trace (σ) ……………………………………………... (3.63)
3
S = σ + p I …….……………………………………………... (3.65)
E
K = ……....…………………………………………... (3.66)
3(1 - 2v)
E
G = ……….…………………………………………... (3.67)
2(1 + v)
Dengan:
K = modulus massal
G = modulus geser
E = modulus luluh
v = poisson ratio
55
3 S
n = …………..…………………………………………... (3.69)
2 q
3
q = √2 S : S ……...…………………………………………... (3.70)
Dengan:
persamaan untuk kondisi luluh seperti pada persamaan (3.71) berikut ini.
q = σ0 .…………………...…………………………………... (3.71)
sebagai fungsi dari regangan plastis yang seimbang (e̅pl ), dan suhu (Ө).
pl
e̅̇ = h(q, e̅pl , Ө) ….…………………………………………... (3.72)
pl q n
e̅̇ =D( 0 -1) ……………………………………………... (3.73)
σ
Dengan:
tegangan berlebih dari bentuk pada persamaan (3.73). D(Ө), dan n(Ө) merupakan
suhu dependent dari parameter material dan σ0 (e̅pl , Ө) merupakan tegangan luluh
statis.
56
berikut.
memberikan q sebagai fungsi ( e̅pl ) pada akhir kenaikan. Baik model tingkat
persamaan (3.74) untuk model tingkat dependen. Persamaan (3.61) sampai (3.75)
mendefinisikan perilaku material. Dalam setiap kenaikan ketika aliran plastis terjadi
potensi tegangan Mises untuk perilaku isotropic dan potensi tegangan Hill untuk
perilaku anisotropic. Kedua potensi ini hanya bergantung pada tegangan deviatoric,
sehingga pada bagian plastis respon tidak dapat tergenggam. Dalam kasus di mana
aliran plastis mendominasi respon (seperti perhitungan batas beban atau masalah
harus dipilih sehingga dapat mengakomodasi aliran yang tidak dapat tergenggam.
57
3
q = √2 S : S ……...…………………………………………... (3.77)
1 1
S =σ- trace (σ) I =σ- II : (σ) ….…………………... (3.78)
3 3
∂f 13
= S ……………………………….………………...…... (3.79)
∂σ q2
∂2 f 1 3 1 ∂f ∂f
= ( I - II- ) ….…….………………………...…... (3.80)
∂σ ∂σ q 2 2 ∂σ ∂σ
Dengan:
S = tegangan deviatoric
Fungsi tegangan Hill adalah extension sederhana dari fungsi Mises untuk
berikut.
f (σ) = √F (σy -σz )2 +G(σz -σx )2 +H(σx -σy )2 +2Lτyz 2 +2Mτzx 2 +2Nτxy 2
material dalam orientasi yang berbeda, didefinisikan pada persamaan (3.82) sampai
(3.87).
σ0 2 1 1 1
F = ( 2 + 2 - ) …….……………………....…... (3.82)
2 σ̅ 22 σ̅ 33 σ̅ 11 2
σ0 2 1 1 1
G = ( 2 + 2 - ) …….……………………....…... (3.83)
2 σ̅ 33 σ̅ 11 σ̅ 22 2
σ0 2 1 1 1
H = ( 2 + 2 - ) ……….…………………....…... (3.84)
2 σ̅ 11 σ̅ 22 σ̅ 33 2
3 τ 2
L = ( 0) …….….…………………………………....…...(3.85)
2 τ̅ 23
3 τ 2
M = ( 0) ……..……………………………………....…...(3.86)
2 τ̅ 13
3 τ 2
N = ( 0) ………..…………………………………....…...(3.87)
2 τ̅ 12
σ0
τ0 = …………………………………………………....…... (3.88)
√3
nilai tegangan yang membuat potensi sama dengan σ0 jika hanya satu komponen
tegangan tidak sama dengan nol. Untuk fungsi ini, pada persamaan (3.89) dimana
∂f 1
= b …...………………………..……………..……....…... (3.89)
∂σ 𝑓
∂2 f 1 ∂ 1
= ( b- b b) ……..…………………....……………... (3.90)
∂σ ∂σ 𝑓 ∂σ f 2
59
G+H -H -G 0 0 0
-H F+H -F 0 0 0
∂b -G -F F+G 0 0 0
∂σ
= 0 0 0 2N 0 0 …….…………... (3.92)
0 0 0 0 2M 0
[ 0 0 0 0 0 2L]
3.5.8. Hysteresis
perilaku dari elastomers. Aspek utama dari perilaku elastomers adalah hysteresis
dalam kurva tegangan regangan akibat beban siklik. Respon dari model material
dalam jaringan equilibrium (A), sesuai dengan keadaan selama tes tegangan, dan
Deformation gradient (F) diasumsikan berlaku pada kedua jaringan dan diuraikan
60
menjadi bagian elastis dan inelastis pada jaringan B sesuai dengan persamaan (3.93)
berikut.
F = FeB Fcr
B …………..………………………………………... (3.93)
Respon tegangan dari jaringan B tergantung pada FeB , dan ditentukan oleh potensi
S cr -1 -1
ϵ̇ cr B e cr e
B σ = FB ḞB FB FB …...……………………………………... (3.94)
B
3
σB = √2 SB : SB ……………...………………………………... (3.95)
C
ϵ̇ cr
B = A [λcr m
B – 1 + E] (σB ) …………………………………... (3.96)
1
λcr
B = √3 I : Ccr
B …….…………………………………………... (3.97)
Ccr
B = Fcr T cr
B FB …………………………………………………... (3.98)
Dengan:
ϵ̇ cr
B = regangan-regangan efektif dalam jaringan B
λcr
B - 1 = regangan-regangan nominal dalam jaringan B
61
macroscopic utama melalui persamaan di atas berasal dari Arruda dan Boyce
(1993). Implementasi numerik pada respon material dari jaringan A identik dengan
menjaga sifat inelastis incompressibility dari pengaturan aliran (Weber dan Anand,
1990).
yang melibatkan pembebanan mekanik seperti tarik, tekan, bending atau puntir. Di
sisi lain, batas luluh harus dicapai ataupun dilewati bila bahan digunakan dalam
lainnya.
cara menarik garis lurus (garis offset) yang sejajar dengan kurva misalkan tegangan-
lurusnya) dengan persentase 0,2% searah sumbu X dari titik 0 (Timoshenko dan
Gere, 1987). Perpotongan garis offset dengan kurva yang ada merupakan tegangan
luluh offset. Umumnya untuk garis offset diambil 0,1 – 0,2% dari regangan total
dimulai dari titik 0. Penentuan titik offset seperti pada gambar 3.8 berikut.
62
Garis Offset
terjadi karena deformasi maksimum, terlepas dari jumlah siklus plastis dan jumlah
energi yang hilang disebabkan oleh pemuatan siklik berulang (Kunnath dan Chai,
2004).
secara acak, seperti yang disebabkan oleh gempa bumi ekstrim (Climent, 2007).
Pembebanan yang dilakukan pada elemen struktur baja secara acak yang dianggap
dapat mewakili beban gempa ekstrim dengan menggunakan beberapa variasi beban