DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN SELULITIS CRURIS
Oleh:
dr. Hans Kristian
Pembimbing Kasus:
dr. Bayu Perkasa Roos Tri Saputra, [Link]
PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA
PERIODE 17 NOVEMBER 2024 – 16 MEI 2025
RUMAH SAKIT MEDIKA UTAMA
BLITAR
2025
LEMBAR PENGESAHAN
DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN SELULITIS CRURIS
Oleh:
dr. Hans Kristian
Telah dikoreksi, dan disetujui pada di RSU Medika Utama oleh:
Pembimbing Kasus, Penulis,
dr. Bayu Perkasa Roos Tri Saputra, SpPD dr. Hans Kristian
Mengetahui,
Pendamping Internsip,
dr. Rien Rahmi Riandini, [Link]
2
PENDAHULUAN
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang ditandai
dengan peningkatan kadar glukosa darah yang terkait dengan gangguan pada
produksi hingga kerja insulin. Penyakit ini memiliki morbiditas dan mortalitas
yang cukup tinggi. Pada tahun 2022 terdapat 828 juta orang dewasa dengan
diabetes melitus di seluruh dunia dan 95% diantaranya mengidap diabetes melitus
tipe 2.1 Pada tahun sebelumnya, angka kematian terkait diabetes mencapai 7,2%
kasus dan 7,8% kasus mengalami disabilitas.2 Menurut International Diabetes
Federation, Indonesia termasuk dalam 10 besar negara dengan prevalensi DM
tipe 2 tertinggi dengan prevalensi 10,8%.3
Kematian dan disabilitas terkait diabetes disebabkan karena glukosa darah
yang tidak terkontrol. Keadaan ini dapat menimbulkan komplikasi pada pembuluh
darah, baik makrovaskular (jantung, otak, dan pembuluh darah) maupun
mikrovaskular (mata dan ginjal) dan neuropati. Selulitis, salah satu komplikasi
makrovaskular, merupakan infeksi pada jaringan lunak yang dapat disertai adanya
ulkus.4
Komplikasi terkait DM ini dapat dicegah dengan kontrol glukosa darah
yang baik dan penatalaksanaan yang komprehensif. Kontrol glukosa darah dapat
dilakukan dengan perilaku hidup sehat, terapi nutrisi, aktivitas fisik, dan terapi
medikamentosa.4 Berikut akan dipaparkan penatalaksanaan kasus diabetes melitus
tipe 2 dengan komplikasi selulitis cruris.
LAPORAN KASUS
Seorang wanita, 46 tahun, dengan inisial I datang ke Unit Gawat Darurat
RS Medika Utama pada tanggal 25 Maret 2025. Pasien mengeluhkan luka pada
tungkai bawah kanan yang tidak membaik sejak 2 bulan sebelumnya setelah
tertusuk kayu di kandang ayam. Luka dirawat dengan mengoleskan minyak pada
luka. Keluhan disertai tungkai bawah kemerahan, terasa nyeri, dan bengkak.
Pasien juga mengeluhkan demam naik turun selama 4 hari terakhir. Keluhan mual
muntah, sering haus, sering merasa lapar, dan sering buang air kecil tidak
ditemukan. Riwayat penyakit diabetes melitus dan hipertensi tidak diketahui.
1
Pasien sebelumnya berobat ke mantri dan diberikan suntikan serta obat minum,
tetapi keluhan tidak membaik.
Gambar 1. Foto klinis tungkai kanan
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang
dengan kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6); tekanan darah 140/80 mmHg;
frekuensi nadi 104 kali per menit, kuat angkat, reguler; frekuensi napas 16 kali per
menit; suhu tubuh 38oC; saturasi oksigen (SpO2) 98% tanpa suplementasi
oksigen; VAS 4. Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), tidak didapatkan
pembesaran kelenjar getah bening dan JVP tidak meningkat. Pemeriksaan fisik
paru-paru, jantung, abdomen dalam batas normal. Pada tungkai kanan ditemukan
makula eritematosa multipel, ukuran plakat, batas tidak tegas, teraba hangat, nyeri
dengan penekanan. Terdapat ulkus ukuran 1,5x1 cm dasar subkutan, tepi tidak
rata, slough (+), jaringan granulasi (+), jaringan nekrotik (-).
Pada pemeriksaan darah (25 Maret 2025) didapatkan kesan hiperglikemia
dan transaminitis (Tabel 1.). Foto rontgent thorax PA menunjukkan gambaran
kardiomegali dan paru-paru dalam batas normal (Gambar 2.).
Tabel 1. Hasil laboratorium
Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan
Hemoglobin 15,7 g/dL 12,0 – 16,0
Hematokrit 52,4% 35 – 55
Eritrosit 6,86 x 106 /μL 3,5 – 5,5 x 106
MCV 76,4 fL 75 – 100
MCH 22,9 pg 25 – 35
MCHC 30,0% 31 – 38
Leukosit 9.200 /μL 11.000 – 14.000
Hitung jenis (E/B/N/L/M) 3,4/0,2/54,6/31,6/10,2
Trombosit 247.000 /μL 150.000 – 450.000
Glukosa darah sewaktu 241 mg% 75 – 140
Kreatinin serum 1,24 mg% 0,6 – 1,2
SGPT 56 mg% < 31
SGOT 43 mg% < 41
Albumin serum 3,72 mg% 3,2 – 4,8
2
Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan
HbA1c 7,1% 5,7 – 6,4
Gambar 2. Rontgent thorax PA
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang,
pasien didiagnosis dengan diabetes melitus tipe 2 dan selulitis cruris dextra
dengan ulkus. Pasien diberikan terapi IVFD ringer laktat 1.500 cc/24 jam,
ceftriaxon IV 1 g/12 jam, metamizol IV 1 g/8 jam, insulin aspart bolus SC 4 U,
klindamisin PO 300 mg/6 jam, curcuma PO 1 tablet/8 jam, rawat luka dengan
gentamicin 0,1% krim per hari, dan kompres luka dengan kasa NaCl 0,9%. Pasien
diberikan diet diabetes melitus 1500 kal/hari.
Grafik 1. Tren glukosa darah pasien selama perawatan. Glukosa darah 1 jam post
pemberian insulin aspart 4 U (tanda bintang).
Pasien dirawat selama 2 hari. Hasil glukosa darah pasien 1 jam post injeksi
insulin aspart sebesar 105 mg/dL. Terapi insulin dihentikan diganti dengan
metformin PO 500 mg/8 jam. Selama perawatan di rumah sakit, nyeri pada
tungkai berkurang. Pemeriksaan glukosa darah puasa dan glukosa darah sewaktu
menunjukkan tren penurunan (Grafik 1). Pasien dipulangkan dengan metformin
3
PO 500 mg/8 jam, cefadroxil PO 500 mg/12 jam, klindamisin PO 300 mg/6 jam,
dan etoricoxib PO 60 mg/8 jam.
PEMBAHASAN
Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan
peningkatan kadar glukosa darah akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin,
atau keduanya.4 Kondisi ini terbagi menjadi beberapa tipe, seperti DM tipe 1, DM
tipe 2, latent autoimmune diabetes of adults (LADA), dan maturity onset diabetes
of the young (MODY). DM tipe 2 merupakan tipe diabetes melitus dengan
prevalensi terbanyak, lebih dari 95% dari seluruh kasus.5
Penyakit ini memiliki gejala klasik berupa poliuria, polidipsia, polifagia
dan penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas. Akan tetapi, pasien juga
dapat datang dengan keluhan lemah badan, kesemutan, gatal, pandangan kabur,
atau disfungsi ereksi.4 Pada pasien ini tidak ditemukan gejala klasik dan pasien
datang dengan keluhan luka yang tidak membaik dalam waktu lama.
Penyembuhan luka yang lama dapat mengarahkan pada DM. Hal ini dipengaruhi
beberapa faktor, seperti kelainan pembuluh darah akibat DM, berkurangnya
fungsi imunitas, kecenderungan terjadinya infeksi, dan efek dari komplikasi lain
pada DM.4,6
Diagnosis DM dapat ditegakkan berdasarkan beberapa
kriteria, yaitu (1) glukosa plasma puasa ≥126 mg/dL, atau (2)
glukosa plasma ≥200 mg/dL 2 jam setelah Tes Toleransi Glukosa
Oral (TTGO) dengan pemberian glukosa 75 gram, atau (3)
adanya keluhan klasik dengan glukosa plasma sewaktu ≥200
mg/dL atau terjadi krisis hiperglikemia, atau (4) pemeriksaan
HbA1c ≥6,5% dengan metode terstandar.4,5 Dasar diagnosis pada
kasus ini adalah kadar HbA1c pasien yang lebih dari ≥6,5%.
Meskipun riwayat DM pada pasien tidak diketahui, berdasarkan
HbA1c pasien dapat diperkirakan glukosa plasma puasa dalam 3
bulan terakhir sekitar 143 mg/dL hingga 162 mg/dL. 4
Berdasarkan algoritma pengobatan, pasien dengan HbA1c <7,5%
dianjurkan untuk modifikasi gaya hidup sehat dan diberikan monoterapi obat
antihiperglikemia oral.4 Pasien kasus mendapatkan terapi awal
4
berupa suntikan insulin kerja cepat yang kemudian dilanjutkan
dengan terapi metformin 500 mg/8 jam. Insulin diindikasikan
pada pasien dengan (1) DM tipe 1 dan DM gestasional yang tidak
terkontrol, (2) gagal mencapai sasaran dengan kombinasi obat
oral dosis optimal, (3) dekompensasi metabolik (gejala klasik DM
disertai GDP ≥250 mg/dL atau GDS >300 mg/dL atau HbA1c
>9% dan/atau sudah mendapat terapi oral, (4) terapi steroid
dosis tinggi, (5) pasien perioperatif dengan DM, dan (6) kondisi
khusus, seperti stres berat (infeksi sistemik, infark miokard akut,
stroke), penyakit hati kronik, dan gangguan ginjal berat. 4,7
Pasien diberikan terapi oral metformin yang merupakan pilihan pertama
pada kasus DM tipe 2. Obat ini bekerja dengan mengurangi glukoneogenesis dan
meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin. Terapi ini tidak menyebabkan
hipoglikemia dan dapat menurunkan kejadian penyakit kardiovaskular. Akan
tetapi, metformin dapat menimbulkan efek samping gastrointestinal, seperti diare
atau dispepsia, asidosis laktat, dan defisiensi vitamin B12.4
Selulitis merupakan salah satu komplikasi makrovaskular yang dapat
terjadi pada pasien dengan DM. Selulitis merupakan infeksi bakteri pada kulit
yang ditandai dengan kemerahan difus, pembengkakan, dan nyeri pada daerah
yang terkena. Infeksi sering terjadi pada ekstremitas inferior dan disebabkan oleh
bakteri streptococcus beta-hemolitikus atau Staphylococcus aureus, bakteri gram
positif.8 Berdasarkan penelitian, peningkatan 1% HbA1c turut meningkatkan
risiko terjadinya selulitis sebesar 1,12%.9 Pasien pada kasus mendapatkan terapi
antibiotik ceftriaxon dan klindamisin. Ceftriaxon merupakan antibiotik beta-
laktam spektrum luas yang menjadi lini pertama terapi selulitis. Sementara itu,
klindamisin merupakan antibiotik golongan lincosamida yang menjadi lini kedua
terapi selulitis karena sensitif terhadap bakteri gram positif dan anaerob. 10
Selain kendali metabolik (pengendalian glukosa darah) dan kendali infeksi
(pemberian antibiotik empiris), pasien DM dengan komplikasi seperti kasus juga
perlu diberikan tatalaksana kendali luka dengan debridemen, kontrol inflamasi,
menjaga luka tetap lembab, dan mendekatkan tepi epitel. 4 Pada kasus luka
dibersihkan setiap hari, diberikan krim gentamicin untuk mengendalikan infeksi,
5
dan dijaga kelembabannya dengan kompres kasa NaCl. Selain itu, pasien juga
perlu diedukasi untuk menghindari tekanan berulang dan kemungkinan
memerlukan perbaikan vaskular.
Di samping terapi medikamentosa, terapi nutrisi juga perlu diperhatikan.
Jumlah kalori harian wanita dengan DM diberikan paling sedikit 1000-1200 kal
dengan perhitungan 25 kal/kgBB dan disesuaikan dengan faktor lain seperti usia,
aktivitas fisik, stres metabolik, serta berat badan. Jumlah kalori ini dibagi menjadi
20% makan pagi, 30% makan siang, 25% makan sore, dan 2-3 porsi makanan
ringan (10-15%) diantaranya. Makanan ini terdiri dari 45-65% karbohidrat, 20-
25% lemak, 10% protein, natrium <1,5 g per hari, dan 20-35 gram serat/hari.
Pasien DM juga disarankan untuk melakukan latihan fisik 3-5 hari per minggu
dengan durasi 30-45 menit per hari, dengan total 150 menit. Jeda antar latihan
tidak lebih dari 2 hari berturut-turut.4
Keberhasilan terapi diabetes melitus ditentukan oleh beberapa parameter.
Diabetes melitus dikatakan terkendali jika GDP kapiler 80-130 mg/dL, GD2PP
kapiler <180 mg/dL, dan HbA1c <7%. Selain itu, parameter lain seperti profil
lipid (LDL <100 mg/dL, trigliserida <150 mg/dL, HDL >50 mg/dL pada wanita,
dan Apo-B <90 mg/dL), tekanan darah <140/90, serta indeks massa tubuh 18,5 -
22,9 kg/m2 juga menjadi sasaran pengendalian diabetes melitus.4
KESIMPULAN
Selulitis merupakan salah satu komplikasi jangka panjang diabetes melitus
yang tergolong dalam komplikasi makrovaskular. Keadaan ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor, seperti perubahan struktur vaskular dan terganggunya imunitas
akibat tidak terkontrolnya glukosa darah. Kendali metabolik, kendali infeksi,
kendali tekanan, kendali vaskular, kendali luka, dan edukasi menjadi komponen
penting pada pasien dengan diabetes melitus.
REFERENSI
1. Zhou B, Rayner AW, Gregg EW, Sheffer KE, Carrillo-Larco RM, Bennett JE,
et al. Worldwide trends in diabetes prevalence and treatment from 1990 to
2022: a pooled analysis of 1108 population-representative studies with 141
million participants. The Lancet. 2024;404(10467):2077–93.
6
2. Ong KL, Stafford LK, McLaughlin SA, Boyko EJ, Vollset SE, Smith AE, et
al. Global, regional, and national burden of diabetes from 1990 to 2021, with
projections of prevalence to 2050: a systematic analysis for the Global Burden
of Disease Study 2021. The Lancet. 2023;402(10397):203–34.
3. International Diabetes Federation. IDF Diabetes Atlas. 10th ed. Brussles;
2021.
4. Soelistijo SA, Suastika K, Lindarto D, Decroli E, Permana H, Sucipto KW.
Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di
Indonesia 2021. PB PERKENI; 2021.
5. Młynarska E, Czarnik W, Dzieża N, Jędraszak W, Majchrowicz G,
Prusinowski F, et al. Type 2 Diabetes Mellitus: New Pathogenetic
Mechanisms, Treatment and the Most Important Complications. Int J Mol Sci.
2025;26(3):1094.
6. Lang X, Li L, Li Y, Feng X. Effect of Diabetes on Wound Healing: A
Bibliometrics and Visual Analysis. J Multidiscip Healthc. 2024; 17:1275–89.
7. Wibisono S, Soetmadji DW, Pranoto A, Mardianto, Shahab A, Karimi J, et al.
Pedoman Petunjuk Praktis Terapi Insulin Pada Pasien Diabetes Melitus 2021.
PB PERKENI; 2021.
8. Wiederhold AK, Cartuliares MB, Jeppesen K, Skjøt-Arkil H. Characteristics
and Antibiotic Treatment of Patients with Cellulitis in the Emergency
Department. Antibiotics. 2024;13(11):1021.
9. Zacay G, Hershkowitz Sikron F, Heymann AD. Glycemic Control and Risk of
Cellulitis. Diabetes Care. 2021;44(2):367–72.
10. Shu Z, Cao J, Li H, Chen P, Cai P. Efficacy and safety of first- and second-
line antibiotics for cellulitis and erysipelas: a network meta-analysis of
randomized controlled trials. Arch Dermatol Res. 2024;316(8):603.