Jurnal Green House e-ISSN 2962-438X, p-ISSN 2963-1858 Volume 3 Nomor 1, Juli 2024| 17
Analisis Kemampuan Jenis Pohon Dalam Mereduksi Emisi
Karbondioksida (Co2) Pada Jalur Hijau Di Kota Malang
Analysis Of The Ability Of Tree Types To Reduce Carbondioxide
(Co2) Emissions On The Green Line In Malang City
Damai Dwi Puji Atmoko1, Sri Sulastri1, Yani Quarta Mondiana1
1
Program Studi Kehutanan Institut Pertanian Malang, Jalan Soekarno-Hatta, Malang 65142
a
Korespondensi : Damai Dwi Puji Atmoko, E-mail: mail: [Link]@[Link]
Diterima: 01 – 05 – 2024 , Disetujui: 01 – 07 – 2024
ABSTRACT
Malang city is the center of settlements and community activities as well as being the center of government,
economic, industrial activities and has regional administrative boundaries regulated in law and is a tourist
destination. The minimum requirement for green open space in urban areas is 30% of the urban area, Malang
city has an open green area of 18.14% of the total urban area. The research objective was to determine the
ability of tree species to reduce CO2 emissions. The research method used descriptive quantitative by taking
tree inventory data and collecting the volume of motorized vehicles on five secondary collector roads, namely
Jalan Raya Langsep, Kawi Atas, Urip Sumoharjo, Mayjen M. Wiyono, and Mayjen Sungkono. The results
showed that there were 17 tree species found on the five roads with a total of 572 trees. The tree species that
had the highest number was Samanea saman with a total of 242 trees, and had the highest CO2 absorption
capacity of 3,252.1 g/hour/tree. The total absorption capacity of all tree species is 12,987,796 g/day, while
the total emissions produced by motorized vehicles are 876,067,471 g/day..
Key words: CO2, Emissions, Absorption, Tree Types, Motorized Vehicles
ABSTRAK
Kota Malang merupakan pusat permukiman dan kegiatan masyarakat serta menjadi pusat kegiatan
pemerintahan, perekonomian, industri dan memiliki batas administrasi wilayah yang diatur kedalam undang-
undang serta menjadi destinasi wisata. Penambahan penduduk akan mengakibatkan adanya penambahan
emisi di perkotaan, sehingga perlu adanya Ruang Terbuka Hijau. Syarat minimal RTH diperkotaan 30% dari
luas kawasan perkotaan, kota Malang memiliki luasan RTH 18,14% dari total luasan kawasan perkotaan.
Tujuan penelitian untuk mengetahui kemampuan jenis pohon dalam mereduksi emisi CO2. Metode penelitian
menggunakan kuantitatif deskriptif dengan cara pengambilan data inventarisasi pohon dan pengambilan
volume kendaraan bermotor di lima jalan kolektor sekunder yaitu Jalan Raya Langsep, Kawi Atas, Urip
Sumoharjo, Mayjen M. Wiyono, dan Mayjen Sungkono. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 17 jenis
pohon yang terdapat pada kelima jalan dengan total jumlah 572 pohon. Jenis pohon yang memiliki jumlah
tertinggi adalah Samanea saman dengan total 242 pohon, serta memiliki daya serap terhadap emisi CO2
tertinggi sebesar 3.252,1 g/jam/pohon. Daya serap total seluruh jenis pohon 12.987.796 g/hari, sedangkan
total emisi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor 876.067.471 g/hari.
Kata kunci: CO2, , Daya Serap, Emisi, Jenis Pohon, Kendaraan Bermotor
Atmoko, D.D.P, Sri, S, Yani, Q.M. (2024). Analisis Kemampuan Jenis Pohon Dalam Mereduksi Emisi
Karbondioksida (Co2) Pada Jalur Hijau Di Kota Malang. Jurnal Green House, 3(1), 17 – 25
18 | Atmoko, D.D.P, Sulastri, S, Mondiana, Y.Q
Analisis Kemampuan Jenis Pohon
PENDAHULUAN
Kota merupakan tempat warga melakukan berbagai aktivitas. Kota Malang sebagai
pemerintahan, pusat pelayanan kebutuhan sosial ekonomi masyarakat, serta sebagai salah satu
tempat tujuan untuk wisata mempunyai luas 110,06 km² dengan jumlah penduduk 844.933 jiwa pada
data tahun 2019-2021. Kepadatan penduduk kota Malang mencapai 7.781 jiwa/km², peningkatan
penduduk kota Malang mencapai 0,72% menyebabkan pembangunan fisik di Kota Malang akan
terus berkembang (Malang, 2021). Jumlah penduduk di suatu wilayah akan semakin meningkat
sehingga berpengaruh terhadap peningkatan penggunaan kendaraan bermotor. Dampak dari
peningkatan kendaraan bermotor mengakibatkan kadar CO2 di udara akan menjadi lingkungan
perkotaan yang tidak sehat. Salah satu cara untuk mereduksi CO2 di udara perkotaan yaitu perlu
adanya kawasan ruang terbuka hijau (RTH). Hutan kota merupakan suatu lingkungan biotik dan
abiotik yang tersusun dari berbagai komponen dari komponen ekonomi, biologi, fisik, maupun
budaya yang memiliki keterkaitan satu sama lain. Proses pengembangan suatu wilayah perkotaan
yang terfokuskan pada sektor ekonomi dapat mengakibatkan degradasi lingkungan di suatu wilayah
perkotaan.
Syarat minimal RTH diperkotaan 30% dari luas kawasan perkotaan, kota Malang memiliki
luasan RTH 18,14% dari total luasan kawasan perkotaan, masih terdapat selisih 11,86% untuk
terpenuhinya syarat RTH pada kawasan kota Malang (BPS Kota Malang, 2021). Kota Malang
terdapat destinasi wisata dan salah satu pusat pendidikan di Indonesia, sehingga adanya keluar
masuknya wisatawan maupun mahasiswa yang juga berdampak meningkatnya emisi CO2 yang
dihasilkan dari kendaraan bermotor. Kepadatan penduduk di Kota Malang juga mengurangi jumlah
ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai penyerap emisi karbon karena banyaknya alih fungsi
lahan. Salah satu bentuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dapat dioptimalkan sebagai penyerap
emisi dari kendaraan bermotor adalah jalur hijau jalan (JHJ).
Ketersediaan ruang terbuka hijau khususnya hutan kota sebagai penyerap karbondioksida
(CO2) dan penyuplai oksigen yang dihasilkan tanaman. Hutan kota mampu meningkatkan oksigen
dan sekaligus menyerap CO2, serta menjadi habitat bagi flora dan fauna liar seperti serangga kecil
atau burung-burung, manfaat lain adanya hutan kota sebagai penyerap air dan mengurangi resiko
terjadinya banjir di wilayah perkotaan.
Jalur Hijau Jalan (JHJ) memiliki peran penting sebagai penyangga lingkungan dengan fungsi
utama yaitu sebagai wind breaker / barrier, pereduksi polusi udara, peredam kebisingan. Selain
ketiga fungsi utama, fungsi pepohonan pada JHJ memiliki fungsi ekologi yaitu sebagai pereduksi
emisi karbon yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Daya serap setiap jenis pohon memiliki
kemampuan yang berbeda-beda, berbedanya kemampuan dalam menyerap emisi karbon
dipengaruhi beberapa faktor seperti riap pertumbuhan, ukuran pohon, dan masa hidup pohon.
Pengoptimalan daya serap emisi karbon pada JHJ diperlukan pengaturan komposisi jenis pepohonan
yang memiliki daya serap emisi karbon pada JHJ, sehingga perlu adanya penelitian mengenai
kemampuan jenis pohon yang optimal dalam mereduksi karbondioksida di Kota Malang.
MATERI DAN METODE
Penelitian dilakukan di kota Malang, Jawa Timur, kota Malang memiliki luasan 110,06 km²
yang terdapat pada jalan kolektor sekunder. Secara geografis wilayah Kota Malang berada antara
07°46'48" - 08°46'42" Lintang Selatan dan 112°31'42" - 112°48'48" Bujur Timur, dengan luas
wilayah 110,06 km². Jalan kolektor sekunder dipilih menjadi lokasi penelitian dikarenakan terdapat
adanya beberapa jalur hijau jalan.
Pengambilan data dilakukan di Jalur Hijau Jalan yang terletak pada jalan kolektor sekunder di
kota Malang meliputi Jalan Raya Langsep, Jalan Kawi Atas, Jalan Urip Sumoharjo, Jalan Mayjen
M. Wiyono, Jalan Mayjen Sungkono pada tanggal 2 Januari dan 7 Januari 2023 yang dilakukan
pada hari kerja dan di akhir pekan, pertimbangan pengambilan sampel data volume kendaraan
Jurnal Green House e-ISSN 2962-438X, p-ISSN 2963-1858 Volume 3 Nomor 1, Juli 2024| 19
bermotor pada hari kerja dan akhir pekan, yaitu pada hari kerja dan akhir pekan jumlah volume
kendaraan akan meningkat karena pada akhir pekan akan ada pertambahan jumlah volume
kendaraan dari wisatawan yang berasal dari luar kota malang, sehingga terjadi penambahan volume
kendaraan (Fazriani, 2019). Pengambilan sampel data kendaraan bermotor dilakukan pukul 06.00-
18.00 (06.00-10.00, 11.00-14.00, 15.00-18.00) sesuai dengan laju fotosintesis yang di butuhkan
tanaman yaitu CO2 selama adanya sinar matahari (Lupitasari, 2020).
Metode penelitian yang digunakan metode kuantitatif deskriptif. Metode penelitian kuatitatif
deskriptif adalah metode yang bertujuan membuat gambar atau mendeskripsikan suatu keadaan
secara objektif menggunakan angka dari pengumpulan data penelitian, penafsiran terhadap data
tersebut serta penampilan dan hasilnya (Nursalam, 2013) dengan cara identifikasi jenis pohon di JHJ
lokasi penelitian digunakan untuk mengetahui emisi yang dapat diserap oleh jenis pohon di Jalur
Hijau Jalan yang terdapat pada jalan kolektor sekunder di Kota Malang yang meliputi Jalan Raya
Langsep, Jalan Kawi Atas, Jalan Urip Sumoharjo, Jalan Mayjen M. Wiyono dan, Jalan Mayjen
Sungkono, serta menghitung kendaraan yang ber lalu lintas di jalan tersebut. Pemilihan lokasi
penelitian berdasarkan pada jenis jalan dan adanya jalur hijau yang bertujuan untuk mengetahui
kemampuan pohon dalam mereduksi emisi CO2. (Errian, 2018). Adapun analisis data yang
digunakan sebagai berikut:
1. Traffic Counting
Data jumlah kendaraan bermotor yang didapatkan di lapangan merupakan hasil perhitungan jumlah
kendaraan per 15 menit selama 10 jam
Keterangan:
n : Jumlah kendaraan per 15 menit
x : Total selang waktu
2. Beban Emisi Karbon
Hasil perhitungan kendaraan selama pengambilan data kendaraan bermotor di rata-rata, kemudian
dari setiap jenis kendaraan dihitung jumlah emisinya (g/jam). Perhitungan emisi menggunakan
pendekatan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). IPCC merupakan suatu badan
internasional yang berfokus pada bidang meteorologi, hidrologi, dan geofisika yang berperan
melakukan asesmen terhadap perubahan lingkungan dan terbentuk untuk mengurangi gas rumah
kaca. (IPCC, 2014). Perhitungan emisi karbon sebagai berikut:
Keterangan:
Q : Jumlah emisi CO2 (g/jam)
Ni : Jumlah kendaraan bermotor Tipe - i(Kendaraan/jam)
FEi : Faktor Emisi CO2 kendaraan bermotor tipe - i(g/liter)
Ki : Konsumsi bahan bakar kendaraan (liter/100km)
L : Panjang jalan (Km)
(Sumber: IPCC, 2006)
3. Daya Serap Pohon Terhadap Karbon Dioksida
Setiap jenis spesies memiliki daya serap terhadap karbon dioksida berbeda-beda, berikut daya serap
CO2 tiap pohon:
Perhitungan Daya Serap RTH dari jumlah CO2 menggunakan rumus:
20 | Atmoko, D.D.P, Sulastri, S, Mondiana, Y.Q
Analisis Kemampuan Jenis Pohon
4. Sisa Emisi CO2
Perhitungan sisa emisi CO2 untuk mengetahui emisi yang tidak dapat terserap oleh pohon di lokasi
penelitian (Ribka, 2016), menggunakan rumus:
Sisa Emisi CO2 = Total Emisi CO2 (g/jam) - Total Daya Serap CO2 pohon (g/jam)
Terdapat lima lokasi penelitian yang berlokasi pada jalan kolektor sekunder yang terdapat jalur hijau
jalan yang berlokasikan di Jalan Raya Langsep, Jalan Kawi Atas, Jalan Urip Sumoharjo, Jalan
Mayjen M. Wiyono dan, Jalan Mayjen Sungkono pada jalan tersebut terdapat adanya lalu lintas yang
terjadi sehingga perlu mengetahui emisi pada jalur tersebut dan mengetahui daya serap pohon
penyerap emisi yang dihasilkan dari kendaraan bermotor.
Pengambilan data kendaraan bermotor dilakukan pada titik yang memiliki laju lalu lintas yang stabil
dan menghitung jumlah kendaraan bermotor serta jenis kendaraan yang melewati lokasi penelitian.
Data primer yang dibutuhkan yaitu identifikasi pohon, panjang jalur, jumlah pohon dan jumlah
kendaraan yang melintas di jalur penelitian. Pengambilan data kendaraan bermotor dilakukan pada
titik yang memiliki laju lalu lintas yang stabil dan menghitung jumlah kendaraan bermotor serta
jenis kendaraan yang melewati lokasi penelitian. Data sekunder berupa studi literatur administrasi
kota Malang dan penelitian sebelumnya yang dapat menunjang keberlangsungan penelitian
sekarang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Komposisi Pohon pada Jalur Hijau
Ruang Terbuka Hijau (RTH) berperan penting terhadap kualitas lingkungan perkotaan.
Tingkat pencemaran di perkotaan cenderung semakin meningkat dari waktu ke waktu, sehingga
luasan RTH di perkotaan harus memiliki luasan yang memadai agar memiliki fungsi yang optimal
sebagai media penyerap polutan di perkotaan. Selain luasan RTH yang memadai sesuai dengan UU
No.26/2007 “Proporsi RTH kota minimal 30% dari luasan wilayah”, pemilihan jenis tanaman yang
harus diperhatikan terhadap polutan di wilayah perkotaan, seperti daya tahan tanaman terhadap
penyakit, perawatan mudah, perakaran yang kuat, dan memiliki daya serap tinggi terhadap polutan
di perkotaan (Mukhlison, 2013).
Tabel 2. Jenis dan Jumlah Pohon pada Jalur Hijau
Jurnal Green House e-ISSN 2962-438X, p-ISSN 2963-1858 Volume 3 Nomor 1, Juli 2024| 21
Pada setiap lokasi pengamatan di jalur hijau kota Malang, tanaman Samanea saman memiliki
dominansi tertinggi dengan jumlah 242 pohon, dan Swietenia macrophylla dengan total 166 pohon.
Samanea saman atau nama lokalnya trembesi merupakan tanaman yang banyak di jumpai di wilayah
jalur hijau kota Malang. Tanaman trembesi memiliki ciri-ciri memiliki bentuk kanopi lebar, akar
yang kuat dan cocok untuk tanaman peneduh (Fitria, 2011). Jenis tanaman ini memiliki daun yang
dapat menyerap karbon monoksida (CO), sehingga dapat menjadi salah satu solusi media pereduksi
emisi karbon yang ada di kota (Sentiyaki, 2018). Tanaman trembesi dapat menyerap atau mereduksi
karbon dioksida (CO2) sebanyak 28.488,39 Kg/tahun (Dahlan, 2008).
Tanaman Swietenia macrophylla atau mahoni juga merupakan tanaman dengan jumlah
pohon terbanyak setelah trembesi dengan jumlah 166 pohon. Mahoni banyak dijumpai menjadi salah
satu jenis pohon yang ditanam pada hutan kota, karena jenis ini memiliki perakaran yang kuat dan
sebagai penyerap air di hutan kota. Selain kelebihan tersebut, Mahoni menjadi pereduksi emisi
karbon dioksida (CO2) yang dapat mereduksi sebanyak 3112,43 Kg/tahun. Mahoni mampu
memfilter udara sekitar, karena daun-daun tanaman mahoni memiliki fungsi menyerap polutan
(Azzahra, 2018)
B. Daya Serap Pohon terhadap Emisi CO2
Vegetasi pada hutan kota memiliki banyak manfaat salah satunya adalah mereduksi polutan
yang dihasilkan dari hasil pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor. Kemampuan setiap jenis
tanaman memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam mereduksi emisi CO2.
Tabel 3. Daya Serap CO2
22 | Atmoko, D.D.P, Sulastri, S, Mondiana, Y.Q
Analisis Kemampuan Jenis Pohon
Produktivitas tanaman dalam menyerap emisi CO2 dapat diperhitungkan dengan pengukuran
oksigen maupun karbondioksida yang digunakan dalam proses fotosintesis, karena pada proses
fotosintesis karbon (C) dalam CO2 berbanding lurus dengan C yang terikat dalam gula dari proses
fotosintesis. (Martuti, 2013).
Jalan Mayjen Sungkono memiliki daya serap CO2 paling tinggi dari semua lokasi, hal ini
disebabkan pada lokasi tersebut jenis tanaman yang mendominasi adalah tanaman Samanea saman
atau trembesi. Tanaman trembesi memiliki jumlah dan daya serap emisi CO2 tertinggi dibandingkan
jenis yang lain. Lokasi yang memiliki pohon dengan daya serap terendah yaitu terdapat pada Jalan
Kawi Atas, hal ini disebabkan pada jalan tersebut vegetasi pohon yang sedikit dan jenis yang
mendominasi yaitu trembesi. Tingginya daya serap tanaman Samanea saman didukung dari daya
serap per individu dan jumlah yang mendominasi pada lokasi penelitian, sehingga dapat menjadi
salah satu faktor tertinggi dalam penyerapan emisi CO2.
C. Emisi CO2 Kendaraan Bermotor
Emisi kendaraan bermotor merupakan hasil pembakaran bahan bakar dari kendaraan
bermotor. Sektor transportasi menjadi penyumpang emisi paling besar ± 87% yang menjadikan
sektor transportasi menjadi penyebab utama masalah lingkungan, secara global sektor transportasi
menyumbang emisi ±14% dari bahan bakar fosil yang berbasis karbondioksida (Aly, 2015).
Gambar 1. Rata-rata Kendaraan
Jurnal Green House e-ISSN 2962-438X, p-ISSN 2963-1858 Volume 3 Nomor 1, Juli 2024| 23
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan kelima jalan pengamatan merupakan jalan
kolektor sekunder yang memiliki jalur hijau pada hutan kota di wilayah kota Malang. Jalan Kolektor
sekunder merupakan jalan yang melayani angkutan banyak jalan masuk dibatasi dengan peranan
yang berguna bagi distribusi warga didalam kota. Hasil pengamatan dilapangan menunjukkan
bahwa jalan Langsep memiliki kepadatan volume kendaraan tertinggi, hal ini dapat disebabkan pada
jalan Langsep terdapat persimpangan yang menghubungkan ke pusat kota, dan dekat dengan
Universitas Merdeka sehingga volume kendaraan pada jalan Langsep memiliki volume tertinggi.
Gambar 2. Emisi CO2 pada Jalur Hijau
Tingginya emisi yang tersebar di alam bebas merupakan pengaruh dari penggunaan
kendaraan bermotor yang digunakan warga kota dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
Penyumbang emisi CO2 terbesar di alam dihasilkan dari sektor transportasi dari jenis kendaraan
bermotor dan sejenisnya, proses pembakaran bahan bakar menghasilkan emisi karbon terutama
emisi karbondioksida (CO2) (Hermana, 2013). Emisi CO2 dari lokasi pengamatan dapat diketahui
menggunakan pendekatan IPCC bahwa emisi tertinggi terdapat pada jalan Langsep dengan total
emisi 303.082.947 g/hari, dan terendah pada jalan Urip Sumoharjo 94.218.039 g/hari, dan pada
jalan Mayjen M. Wiyono dan jalan Urip Sumoharjo memiliki emisi CO2 terendah, perbedaan total
emisi pada kedua jalan tidak signifikan, hal ini dapat menggambarkan bahwa terdapat beberapa
faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya emisi, bukan hanya jumlah kendaraan yang melintasi
lokasi pengamatan. Terdapat adanya faktor jenis kendaraan, jenis bahan bakar, dan panjang jalan
yang di lalui juga mempengaruhi jumlah emisi yang dihasilkan (Muziansyah, 2015).
D. Sisa Emisi CO2
Hasil perhitungan menunjukkan pada jalan Langsep memiliki sisa emisi CO2 300.305.852
g/hari atau ± 300.305,852 kg/hari yang berarti emisi CO2 dihasilkan oleh kendaraan bermotor
melebihi kapasitas daya serap pohon dalam mereduksi CO2 di kota Malang.
Tabel 3. Sisa Emisi CO2 di Jalur Hijau Kota Malang
24 | Atmoko, D.D.P, Sulastri, S, Mondiana, Y.Q
Analisis Kemampuan Jenis Pohon
Hal ini dapat disebabkan bahwa jenis tanaman yang di tanam di jalur hijau tidak semuanya
memiliki daya serap emisi yang tinggi dan tidak mengimbangi banyaknya polutan yang dihasilkan
kendaraan bermotor, pada Jalan Langsep memiliki jumlah emisi tertinggi akan tetapi jenis tanaman
yang memiliki daya serap terhadap emisi CO2 tidak sebanyak pada Jalan Mayjen Sungkono, daya
serap tertinggi dimiliki tanaman Samanea saman dengan total daya serap 28.488,39 Kg/Tahun.
Kelima jalan yang dilakukan pengamatan memiliki sisa emisi CO2, dapat diartikan bahwa jalur hijau
yang ada di kota Malang masih belum dapat memaksimalkan fungsinya sebagai pereduksi emisi
CO2 di kota Malang.
Strategi dalam meminimalkan sisa emisi yang terhitung dapat dilakukan dengan menambah
jumlah pohon yang ada di jalur hijau dan pembatasan jumlah kendaraan sesuai degan kapasitas daya
serap jalur hijau di kota Malang. Penambahan jumlah pohon pada jalur hijau dapat diperhitungkan
dengan jenis tanaman tertentu yang memiliki daya serap emisi CO2 yang tinggi. Pada tabel 3 dapat
diketahui empat jenis tanaman dengan daya serap tertinggi yaitu Samanea saman (3.252,1 g/jam),
Bauhinia purpurea (1.331,38 g/jam), Swietenia macrophylla (3.112,43 g/jam) dan Ficus benjamina
(1.146,59 g/jam). Keempat jenis tanaman tersebut dapat ditanam pada jalur hijau di kota Malang
sebagai salah satu tanaman pokok.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan terdapat 17 jenis pohon yang terdapat pada kelima
jalan dengan total jumlah 572 pohon. Jenis pohon yang memiliki jumlah tertinggi adalah Samanea
saman dengan total 242 pohon, serta memiliki daya serap terhadap emisi CO2 tertinggi sebesar
3.252,1 g/jam/pohon. Daya serap total seluruh jenis pohon 12.987.796 g/hari, sedangkan total emisi
yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor 889.055.267 g/hari, dan sisa emisi yang dihasilkan
kendaraan bermotor sebesar 876.067.471 g/hari, sehingga dapat diketahui bahwa tanaman pada jalur
hijau di kota Malang tidak dapat mereduksi secara optimal dan menyisakan emisi CO2 di alam kota
Malang.
.
DAFTAR PUSTAKA
Aly. (2015). Emisi Transportasi: Kuantitas Emisi Berdasarkan Metropolitan traffic Emissions
invetory
Ardiansyah. (2009). Daya Rososot Karbondioksida Oleh Beberapa Tanaman Hutan Kota di
Kampus Dermaga. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Dahlan. (2008). Jumlah Emisi Gas Co2 Dan Pemilihan Jenis Tanaman Berdaya Rosot Sangat
Tinggi: Studi Kasus Di Kota Bogor (the Amount of CO2 Gasses Emission and Selection of
Plant Species with Height CarbonSink Capability: Case Study in Bogor Municipality).
Errian, M. (2018). Analisis Jaringan untuk Fasilitas Layanan Gawat Darurat di Kota Malang.
Farisi, S. A. (2017). Pengoptimalan Fungsi Ruang Terbuka Hijau pada Komplek Hutan Kota
Velodrom Sawojajar. Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur.
Fazriani. (2019). Analisis kebutuhan trafic light pada simpang bersinyal kota malang, 4-7.
Fidayanti, N. (2016). Jurnal Matematika Sains dan Teknologi. Analisis Serapan Karbondioksida
Berdasarkan Tutupan Lahan di Kota Palangka Raya, 77-85.
Fitria, R. (2011). Pohon Trembesi Sebagai Alternatif Terbaik Untuk Mensukseskan Target
Penurunan Emisi Karbon di Indonesia.
Gratimah. (2009). Analisis Kebutuhan Hutan Kota Sebagai Penyerap Gas CO2 Antropogenik di
Pusat Kota Medan. Medan : USU.
Hermana. (2013). Analisis Pengurangan Emisi CO2 Melalui Manajemen Penggunaan Listrik dan
Jurnal Green House e-ISSN 2962-438X, p-ISSN 2963-1858 Volume 3 Nomor 1, Juli 2024| 25
Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau di Gedung Perkantoran Pemerintah Kota Surabaya. IPCC.
(2014). Synthesis Report, Contribution ofWorking Groups I, II, and III to the Fifth
Assessment Report of theIntergovernmental Panel on Climate Change.
Karyadi. (2005). Kemampuan Daya Serap Karbondioksida Lima Jenis Tanaman Hutan Kota.
Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Lupitasari, D. (2020). Jurnal Kartika Kimia. Pengaruh Cahaya dan Suhu Berdasarkan Karakter
Fotosintesis.
Martuti. (2013). Peranan Tanaman terhadap Pencemaran Udara di Jalan Protokol Kota Semarang.
Biosaintifika.
Mukhlison. (2013). Pemilihan Jenis Pohon Untuk Pengembangan Hutan Kota di Kawasan Perkotaan
Yogyakarta. Jurnal Ilmu Kehutanan.
Muziansyah. (2015). Model Emisi Gas Buangan Kendaraan Bermotor Akibat Aktivitas Transportasi
(Studi Kasus: Terminal Pasar Bawah Ramayana Koita Bandar Lampung). Jurnal Jurusan
Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Lampung, Edisi Maret 2015 Vol. 3, , 57-70.
Papuangan. (2014). Jumlah dan Distribusi Stomata pada Tanaman Penghijauan di Kota Tertate.
Jurnal Bioedukasi, 287-292.
Purwaningsih. (2009). Kemampuan Serapan Karbondioksida Pada Tanaman Hutan Kota di Kebun
Raya Bogor. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Robiamus. (2013). Inventarisasi Jenis Pohon Penyusun JAlur Hijau Beberapa Ruas Jalan Utama di
Kota Samarinda. Samarinda Politeknik Negeri Samarindah.
Sentiyaki. (2018). Alat Penyaring Karbon Monoksida pada Knalpot Kendaraan Bermotor dengan
Menggunakan Adsorben Alami Ekstrak Daun Trembesi.
Sundari Endah Paransi, S. W. (2021). Analisis Pemanfaatan Hutan Kota di Kota Kotamobagu.
Media Matrasain, 2-3.
Yusuf. (2015). Kemampuan penyerapan gas CO2 beberapa jenis tanaman pada ruang terbuka hijau
di Kota Makassar. Makassar.