0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan6 halaman

Tugas Akuntansi oleh Dea Rahmawati

Dokumen ini adalah tugas akuntansi yang mencakup perbedaan antara sistem biaya pesanan dan biaya proses, elemen pengendalian internal, serta analisis jurnal transaksi investasi dan biaya overhead pabrik. Tugas ini juga mencakup perhitungan tarif overhead dan analisis apakah terjadi overapplied atau underapplied overhead. Semua informasi disusun untuk membantu pemahaman konsep akuntansi dasar.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan6 halaman

Tugas Akuntansi oleh Dea Rahmawati

Dokumen ini adalah tugas akuntansi yang mencakup perbedaan antara sistem biaya pesanan dan biaya proses, elemen pengendalian internal, serta analisis jurnal transaksi investasi dan biaya overhead pabrik. Tugas ini juga mencakup perhitungan tarif overhead dan analisis apakah terjadi overapplied atau underapplied overhead. Semua informasi disusun untuk membantu pemahaman konsep akuntansi dasar.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS 3

MATA KULIAH PENGANTAR AKUNTASI

DISUSUN OLEH

NAMA : DEA RAHMAWATI PUTRI


NIM : 054214379
TUTOR : Tri Wahyuni Sukiyaningsih
SEMESTER : Genap (2025)

PRODI MANAJEMEN
UNIVERSITAS TERBUKA
Tugas 3.

Kerjakan soal-soal berikut ini.


1. Jelaskan perbedaan pokok sistem biaya pesanan dan sistem biaya proses!
2. Jelaskan elemen-elemen pengendalian internal!
3. Pada tahun 2021, PT. Jaya membeli 35% saham [Link] (35.000 lembar) @8.000 dengan
kurs 110 termasuk di dalamnya provisi dan materai. Pada akhir tahun 2021 [Link]
melaporkan memperoleh laba bersih sebesar Rp30.000.000 dengan mengumumkan
pembagian deviden sebesar Rp20.000.000. buatlah jurnal terkait transaksi diatas!
4. PT Makmur Sejahtera adalah perusahaan manufaktur yang menggunakan sistem Job Order
Costing untuk menghitung biaya produksi. Perusahaan menerapkan biaya overhead pabrik
berdasarkan jam tenaga kerja langsung dengan tarif yang telah ditentukan.
Pada awal tahun, perusahaan memperkirakan total biaya overhead pabrik sebesar Rp
600.000.000 dan total jam tenaga kerja langsung yang diharapkan adalah 20.000 jam.
Selama tahun berjalan, berikut adalah data aktual:

 Total jam tenaga kerja langsung yang digunakan: 18.000 jam


 Total biaya overhead aktual yang terjadi: Rp 550.000.000

Pertanyaan.
a. Barapakah tarif overhead per jam tenaga kerja langsung?
b. Hitung total biaya overhead yang dibebankan berdasarkan jam tenaga kerja actual?
c. Apakah dalam kasus ini terjadi overapplied atau underapplied? Analisislah!
JAWABAN

1. SOAL NO 1
Perbedaan pokok antara sistem biaya pesanan (job order costing) dan sistem biaya proses
(process costing) terletak pada cara pengumpulan dan penghitungan biaya produksi, yang
disesuaikan dengan jenis produksi atau operasi perusahaan. Berikut penjelasannya:

1. Sistem Biaya Pesanan (Job Order Costing)

 Definisi: Sistem ini digunakan ketika produk dibuat berdasarkan pesanan khusus atau
unit yang unik.
 Ciri-ciri:
o Produk memiliki spesifikasi berbeda untuk setiap pesanan.
o Biaya dikumpulkan dan dicatat untuk setiap pesanan individu.
o Cocok untuk produksi tidak massal dan bervariasi.
 Contoh perusahaan: Percetakan, bengkel mobil, proyek konstruksi, manufaktur khusus.

2. Sistem Biaya Proses (Process Costing)

 Definisi: Sistem ini digunakan ketika produk dihasilkan secara massal dan berulang,
dengan proses yang terus-menerus.
 Ciri-ciri:
o Produk bersifat homogen (seragam).
o Biaya dikumpulkan dan dicatat untuk setiap departemen atau proses dalam
periode tertentu.
o Cocok untuk produksi massal dan kontinu.
 Contoh perusahaan: Pabrik semen, pabrik gula, perusahaan minyak, pabrik makanan
kaleng.

Referensi:

 Carter, W. K., & Usry, M. F. (2002). Cost Accounting. South-Western College Pub.
 Mulyadi. (2018). Akuntansi Biaya (edisi terbaru). Jakarta: Salemba Empat.
 Hansen, D. R., & Mowen, M. M. (2014). Cost Management: Accounting and Control.
Cengage Learning.

[Link] NO 2
Elemen-elemen pengendalian internal (internal control) merupakan komponen penting yang
dirancang untuk memberikan jaminan memadai bahwa tujuan organisasi tercapai secara efektif,
efisien, taat aturan, dan pelaporan keuangan yang andal. Elemen-elemen ini merujuk pada
kerangka COSO (Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission)
yang paling umum digunakan secara internasional.

Lima Elemen Pengendalian Internal menurut COSO:

1. Lingkungan Pengendalian (Control Environment)

 Dasar dari seluruh sistem pengendalian internal.


 Mencerminkan sikap, kesadaran, dan tindakan manajemen terhadap pentingnya
pengendalian internal.
 Contoh:
o Struktur organisasi yang jelas.
o Nilai etika dan integritas perusahaan.
o Komitmen terhadap kompetensi karyawan.
o Tanggung jawab dewan direksi dan audit internal.

2. Penilaian Risiko (Risk Assessment)

 Proses identifikasi dan analisis risiko yang dapat menghambat pencapaian tujuan
organisasi.
 Termasuk risiko strategis, operasional, pelaporan, dan kepatuhan.
 Contoh:
o Identifikasi risiko penipuan.
o Evaluasi perubahan teknologi atau peraturan baru.

3. Aktivitas Pengendalian (Control Activities)

 Kebijakan dan prosedur yang memastikan bahwa arahan manajemen dilaksanakan.


 Mencegah dan mendeteksi kesalahan atau penyimpangan.
 Contoh:
o Otorisasi transaksi.
o Pemisahan tugas (segregation of duties).
o Pemeriksaan fisik atas aset.
o Rekonsiliasi rutin.

4. Informasi dan Komunikasi (Information and Communication)

 Menyediakan informasi yang relevan dan tepat waktu untuk pengambilan keputusan.
 Menjamin bahwa informasi disampaikan secara efektif ke seluruh tingkatan organisasi.
 Contoh:
o Laporan keuangan internal yang akurat.
o Sistem komunikasi kebijakan kepada karyawan.

5. Pemantauan (Monitoring)

 Proses penilaian efektivitas pengendalian internal dari waktu ke waktu.


 Bisa dilakukan secara terus-menerus atau melalui evaluasi berkala.
 Contoh:
o Audit internal.
o Tindak lanjut atas temuan audit.

Referensi

 COSO. (2013). Internal Control – Integrated Framework.


 Mulyadi. (2016). Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.
 Romney, M. B., & Steinbart, P. J. (2018). Accounting Information Systems. Pearson.

[Link] NO 3
Asumsikan bahwa investasi PT. Jaya pada PT. Abadi sebesar 35% merupakan investasi dengan
pengaruh signifikan, sehingga dicatat menggunakan metode ekuitas (equity method) sesuai
dengan PSAK 15: Investasi pada Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama.

Informasi Transaksi:

 Pembelian saham:
35.000 lembar × Rp8.000 = Rp280.000.000
Biaya pembelian sudah termasuk provisi & materai (kurs 110 tidak terlalu relevan jika
pembelian saham dalam rupiah).
 Laba PT Abadi: Rp30.000.000
Bagian laba PT Jaya (35% × Rp30.000.000) = Rp10.500.000
 Dividen diumumkan: Rp20.000.000
Bagian dividen PT Jaya (35% × Rp20.000.000) = Rp7.000.000

Jurnal Transaksi PT. Jaya:

1. Saat pembelian saham:


Investasi pada PT. Abadi Rp280.000.000
Kas Rp280.000.000

(Mencatat pembelian 35.000 lembar saham @Rp8.000)


2. Mencatat bagian laba bersih dari PT. Abadi:
Investasi pada PT. Abadi Rp10.500.000
Pendapatan Investasi Rp10.500.000

(Mencatat bagian laba bersih dari entitas asosiasi)

3. Menerima dividen dari PT. Abadi:


Kas Rp7.000.000
Investasi pada PT. Abadi Rp7.000.000

(Mencatat penerimaan dividen yang mengurangi nilai investasi)

Catatan:

 Metode ekuitas menambahkan bagian laba ke akun investasi.


 Dividen mengurangi nilai investasi karena dianggap sebagai pengembalian modal.

Jika kamu menggunakan metode biaya (bukan ekuitas), perlakuan jurnal akan berbeda. Tapi
karena porsi saham 35%, maka metode ekuitas-lah yang tepat.

[Link] NO 4
Berikut ini penyelesaian soal PT Makmur Sejahtera terkait overhead pabrik menggunakan sistem
Job Order Costing dengan tarif overhead berdasarkan jam tenaga kerja langsung:

Diketahui:

 Estimasi biaya overhead pabrik = Rp 600.000.000


 Estimasi total jam tenaga kerja langsung = 20.000 jam
 Jam tenaga kerja langsung aktual = 18.000 jam
 Biaya overhead aktual = Rp 550.000.000

a. Hitung tarif overhead per jam tenaga kerja langsung (predetermined


overhead rate):
𝐸𝑠𝑡𝑖𝑚𝑎𝑠𝑖 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑜𝑣𝑒𝑟ℎ𝑒𝑎𝑑 600.000.000
𝑇𝑎𝑟𝑖𝑓 𝑜𝑣𝑒𝑟ℎ𝑒𝑎𝑑 =
𝐸𝑠𝑡𝑖𝑚𝑎𝑠𝑖 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑗𝑎𝑚 𝑡𝑒𝑛𝑎𝑔𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑙𝑎𝑛𝑔𝑠𝑢𝑛𝑔 20.000
= 𝑅𝑝. 30.000 𝑝𝑒𝑟𝑗𝑎𝑚

b. Hitung total biaya overhead yang dibebankan berdasarkan jam tenaga kerja
aktual:

𝑶𝑣𝑒𝑟ℎ𝑒𝑎𝑑 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛𝑘𝑎𝑛 = 𝑡𝑎𝑟𝑖𝑓 𝑜𝑣𝑒𝑟ℎ𝑒𝑎𝑑 × 𝑗𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑎𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙


= 30.000 × 18.000 = 𝑅𝑝. 540.000.000

c. Apakah terjadi overapplied atau underapplied overhead? Analisis:


 Biaya overhead aktual = Rp 550.000.000
 Overhead dibebankan = Rp 540.000.000

Selisih overhead = Overhead dibebankan - Overhead aktual


= Rp 540.000.000 - Rp 550.000.000
= -Rp 10.000.000

Karena nilai selisih negatif, maka overhead yang dibebankan kurang dari biaya overhead aktual.

Kesimpulan:

 Terjadi underapplied overhead sebesar Rp 10.000.000.


 Artinya, biaya overhead yang dibebankan ke produk lebih kecil dibandingkan biaya
overhead yang sebenarnya terjadi.
 Dampaknya, biaya produk mungkin terlalu rendah, sehingga perlu dilakukan
penyesuaian agar laporan biaya produksi dan laba lebih akurat.

Anda mungkin juga menyukai