0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan89 halaman

Pengaruh Struktur Modal dan Profitabilitas

Penelitian ini menganalisis pengaruh struktur modal, kebijakan dividen, profitabilitas, dan tax avoidance terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama periode 2016-2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur modal berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan, sedangkan profitabilitas berpengaruh positif signifikan, sementara kebijakan dividen dan tax avoidance tidak berpengaruh. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda dengan 150 data yang diambil melalui purposive sampling.

Diunggah oleh

Hendra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan89 halaman

Pengaruh Struktur Modal dan Profitabilitas

Penelitian ini menganalisis pengaruh struktur modal, kebijakan dividen, profitabilitas, dan tax avoidance terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama periode 2016-2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur modal berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan, sedangkan profitabilitas berpengaruh positif signifikan, sementara kebijakan dividen dan tax avoidance tidak berpengaruh. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda dengan 150 data yang diambil melalui purposive sampling.

Diunggah oleh

Hendra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH STRUKTUR MODAL, KEBIJAKAN

DIVIDEN, PROFITABILITAS DAN TAX AVOIDANCE


TERHADAP NILAI PERUSAHAAN
( Studi Kasus : Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2016-
2020 )
HALAMAN JUDUL

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan


Mencapai Derajat Sarjana S1

Program Studi Akuntansi

Disusun Oleh :
Nabila Nurul Hasnah
Nim : 31401800235

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG


FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
2021
PENGARUH STRUKTUR MODAL, KEBIJAKAN
DIVIDEN, PROFITABILITAS DAN TAX AVOIDANCE
TERHADAP NILAI PERUSAHAAN
( Studi Kasus : Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2016-
2020 )
HALAMAN JUDUL

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan


Mencapai Derajat Sarjana S1

Program Studi Akuntansi

Disusun Oleh :
Nabila Nurul Hasnah
Nim : 31401800235

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG


FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
2021

i
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI

PENGARUH STRUKTUR MODAL, KEBIJAKAN DIVIDEN,

PROFITABILITAS DAN TAX AVOIDANCE TERHADAP NILAI

PERUSAHAAN

( STUDI KASUS : PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR

DI BEI TAHUN 2016 – 2020 )

Disusun Oleh :

Nabila Nurul Hasnah

3140 1800 235

Telah disetujui oleh pembimbing dan selanjutnya dapat diajukan kehadapan

sidang panitia ujian skripsi Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi

Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Semarang, 25 Februari 2022

Pembimbing,

Dr.E. Chrisna Suhendi, MBA., SE., [Link]

NIK. 210493034

ii
HALAMAN PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI

iii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

iv
PERNYATAAN PERSETUJUAN UNGGAH KARYA ILMIAH

v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto :

 Selalu libatkan Allah SWT dan Rasulullah SAW dalam setiap langkahmu,

maka semua akan terasa ringan.

 Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, maka apabila engkau telah

selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan lain), dan

hanya kepada Tuhanmu lah engkau berharap” (QS. Al Insyirah : 6-8)

Persembahan :

Skripsi ini saya persembahkan kepada :

 Kedua orang tua saya yaitu Bapak Slamet Santoso dan Ibu Sriatun yang selalu

mendukung, medoakan, dan memotivasi agar anaknya dapat bermanfaat bagi

orang lain,

 Keluarga dan sahabat yang selalu memberikan semangat dalam bentuk moral

maupun material,

 Dosen pembimbing saya Bapak Dr. Chrisna Suhendi, S.E., M.B.A., Ak., CA

yang telah memberikan waktu dan pikirannya untuk membimbing dengan

sabar dan sepenuh hati.

vi
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh struktur modal,


kebijakan deviden, profitabilitas, dan tax avoidance terhadap nilai perusahaan
pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Periode
penelitian yang digunakan adalah 2016-2020. Berdasarkan teknik Purposive
sampling dihasilkan 150 data. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian
ini adalah analisis regresi linear berganda menggunakan IBM SPSS 16. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa struktur modal berpengaruh negative signifikan
terhadap nilai perusahaan, profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap
nilai perusahaan, sedangkan kebijakan deviden dan tax avoidance tidak
berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Kata Kunci : PBV, DER, DPR, ROA, ETR

vii
ABSTRACT

The purpose of this study is to examine the effect of capital structure,


dividend policy, profitability, and tax avoidance on firm value in manufacturing
companies listed on the Indonesia Stock Exchange. The research period used is
2016-2020. Based on the purposive sampling technique, 150 data were generated.
The analytical technique used in this study is multiple linear regression analysis
using IBM SPSS 16. The results showed that capital structure had a significant
negative effect on firm value, profitability had a significant positive effect on firm
value, while dividend policy and tax avoidance had no effect on firm value.
Keywords: PBV, DER, DPR, ROA, ETR

viii
INTISARI

Nilai perusahaan adalah kinerja perusahaan yang dicerminkan oleh harga


saham yang dibentuk oleh permintaan dan penawaran pasar modal yang
merefleksikan penilaian masyarakat terhadap kinerja perusahaan. Nilai
perusahaan diproksikan menggunakan Price to Book Value (PBV). yaitu rasio
valuasi investasi yang sering digunakan oleh investor untuk membandingkan nilai
pasar saham perusahaan dengan nilai bukunya. Nilai perusahaan dikatakan baik
apabila rasio nilai PBV diatas satu. Penurunan saham atau nilai perusahaan secara
continue akan berdampak pada kestabilan ekonomi perusahaan terutama untuk
aktivitas pendanaan. Fluktuasi nilai perusahaan dapat disebabkan oleh beberapa
faktor terutama dari pihak internal, seperti: profitabilitas, struktur modal,
kebijakan dividen dan tax avoidance.
Struktur modal merupakan rasio antara total hutang perusahaan terhadap
total ekuitas yang diproksikan dengan rasio DER ( Debt Equity Ratio ). Semakin
tinggi nilai DER, maka perusahaan semakin dianggap mampu dalam menanggung
beban/risiko pembiayaan hutangnya, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan
investor sehingga mampu meningkatkan permintaan saham dan harga saham yang
kemudian berpengaruh terhadap meningkatnya nilai perusahaan. Kebijakan
dividen adalah proporsi pembagian laba yang diperoleh perusahaan yang
dibagikan kepada para pemegang saham perusahaan yang diproyeksikan dengan
DPR ( Dividend Payout Ratio ). Meningkatnya nilai DPR merupakan sinyal baik
bagi investor karena mencerminkan bahw arus kas masa depan perusahaan
dianggap cukup untuk menanggung dividen yang tinggi, sehingga berpengaruh
terhadap meningkatnya nilai perusahaan. Profitabilitas merupakan suatu indikator
kinerja yang dilakukan manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan yang
dapat dilihat dari laba yang dihasilkan oleh perusahaan yang diproyeksikan
dengan ROE ( Return On Equity). Besarnya nilai profabilitas berbanding lurus
dengan meningkatnya kemampuan perusahaan dalam membayar dividen,
sehingga menjadi sinyal bahwa adanya Profitabilitas yang tinggi mampu dijadikan
sinyal bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik dimasa depan sehingga

ix
dapat menarik minat dan kepercayaan investor, kemudian secara langsung dapat
menaikkan harga saham berikut nilai perusahaan. Tax avoidance merupakan
upaya penghindaran pajak yang dilakukan secara legal dan aman bagi wajib pajak
karena tidak bertentangan dengan ketentuan perpajakan, dimana metode dan
teknik yang digunakan cenderung memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang
terdapat dalam undang-undang dan peraturan perpajakan itu sendiri untuk
memperkecil jumlah pajak yang terutang. Investor sebagai principal beranggapan
bahwa penghindaran pajak ini adalah praktik melanggar undang – undang
perpajakan dan diduga menimbulkan biaya lain – lain seperti biaya yang timbul
akibat pemeriksaan pajak. Selain memberikan keuntungan bagi pihak perusahaan,
penghindaran pajak juga dapat memberikan efek negatif bagi perusahaan.
Penelitian ini merupakan replikasi dan pengembangan dari penelitian
Ovami & Nasution (2020) serta Martha et al., (2018). Perbedaan penelitian ini
dengan kedua penelitian tersebut terletak pada variabel dan sample penelitian.
Variabel penelitian Martha et al., (2018) menggunakan profitabilitas dan
kebijakan dividen sebagai variabel independen. Kemudian penelitian Ovami &
Nasution (2020) menggunakan kebijakan dividen sebagai variabel independen.
Sedangkan dalam penelitian ini, peneliti menambahkan variabel struktur modal
dan tax avoidance sebagai variabel independen. Populasi dalam penelitian ini
adalah perusahaan menufaktur yang terdaftar pada BEI selama periode 2016-
2020, sehingga dari teknik purposive sampling dihasilkan 150 sampel yang terdiri
dari 30 perusahaan. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisis regresi linear berganda menggunakan IBM SPSS 16. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa struktur modal berpengaruh negative signifikan terhadap
nilai perusahaan, profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap nilai
perusahaan, sedangkan kebijakan deviden dan tax avoidance tidak berpengaruh
terhadap nilai perusahaan.

x
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah

memberikan berkat, rahmat dan hidayah serta ridho-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Skripsi dengan judul “PENGARUH

STRUKTUR MODAL, KEBIJAKAN DIVIDEN, PROFITABILITAS DAN

TAX AVOIDANCE TERHADAP NILAI PERUSAHAAN” dapat terselesaikan

dengan baik dan optimal. Dalam pelaksanaan dan penulisan skripsi ini tidak lepas

dari beberapa kesulitan dan rintangan, namun itu semua dapat penulis hadapi dan

penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu

dan mendukung penelitian ini:

1. Ibu Dr. Olivia Fachrunnisa, SE, [Link]. selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

2. Ibu Dr. Dra. Winarsih, [Link] selaku Ketua Jurusan Program Studi Akuntansi

Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

3. Bapak Dr.E. Chrisna Suhendi, MBA., SE., [Link] selaku dosen pembimbing,

yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi.

4. Seluruh Dosen dan Staff Karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Islam

Sultan Agung Semarang.

5. Rasa hormat dan terima kasih secara khusus saya ucapkan kepada kedua orang

tua saya, Bapak Slamet Santoso dan Ibu Sriatun, Terima kasih atas limpahan

doa, kasih sayang, bimbingan dan materi yang tidak terhitung.

6. Untuk kaka saya tercinta Mba Annisa Nurul Hida dan Mas Fikri Sibro Malisi

yang turut menyemangati selama saya mengerjakan skripsi.

xi
7. Teman-teman Akuntansi angkatan 2018 terima kasih atas dukungan dan

motivasi yang telah diberikan dalam mengerjakan skripsi.

8. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam pelaksanaan dan

penyusunan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Terimakasih

untuk prang yang sudah terlibat atau melibatkan dirinya dalam

kehidupanku,dan orang-orang yang terlewat disebutkan tetapi memiliki arti

yang sama pentingnya bagi kehidupanku, penulis mengucapkan terimakasih.

Semoga karya ini bermanfaat dan membantu pihak-pihak yang

berkepentingan.

Wassalamualaikum [Link].

Semarang, 25 Februari 2022

Nabila Nurul Hasnah

NIM : 31401800235

xii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i


HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ............................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI…………………………………iii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI .............................................................. iv
PERNYATAAN PERSETUJUAN UNGGAH KARYA ILMIAH....................... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ....................................................................... vi
ABSTRAK ....................................................................................................... viii
ABSTRACT ....................................................................................................... viii
INTISARI .......................................................................................................... iix
KATA PENGANTAR ........................................................................................ xi
DAFTAR ISI ...................................................................................................ixiii
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xv
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xvi
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xvii
BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................. 8
1.3 Pertanyaan Penelitian......................................................................... 9
1.4 Tujuan Penelitian ............................................................................ 10
1.5 Manfaat Penelitian ........................................................................... 10
BAB II KAJIAN PUSTAKA ............................................................................ 12
2.1 Landasan Teori ................................................................................ 12
2.1.1 Signalling Theory ( Teori Sinyal ) ......................................... 12
2.2 Variabel Penelitian .......................................................................... 14
2.2.1 Nilai Perusahaan ................................................................... 14
2.2.2 Struktur Modal ...................................................................... 15
2.2.3 Kebijakan Dividen ................................................................ 16
2.2.4 Profitabilitas.......................................................................... 17
2.2.5 Tax Avoidence ...................................................................... 18
2.3 Penelitian Terdahulu ........................................................................ 19

xiii
2.4 Kerangka Pemikiran Teoritis dan Pengembangan Hipotesis ............. 24
2.4.1 Pengaruh Struktur Modal Terhadap Nilai Perusahaan. ........... 24
2.4.2 Pengaruh Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan. ..... 25
2.4.3 Pengaruh Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan ............... 26
2.4.4 Pengaruh Tax Avoidence Terhadap Nilai Perusahaan ............ 27
2.4.5 Kerangka Penelitian .............................................................. 28
BAB III METODE PENELITIAN ..................................................................... 29
3.1 Jenis Penelitian ................................................................................ 29
3.2 Populasi dan Sampel ........................................................................ 29
3.2.1 Populasi ................................................................................ 29
3.2.2 Sampel .................................................................................. 30
3.3 Sumber dan Jenis Data ..................................................................... 31
3.4 Metode Pengumpulan Data .............................................................. 31
3.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ................................... 31
3.6 Teknik Analisis ................................................................................ 36
3.6.1 Statistik Deskriptif ................................................................ 36
3.6.2 Uji Asumsi Klasik ................................................................. 36
3.6.3 Pengujian Hipotesis............................................................... 40
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................... 43
4.1 Hasil dan Penelitian ......................................................................... 43
4.1.1 Deskripsi Objek Penelitian .................................................... 43
4.1.2 Analisis Data......................................................................... 45
4.1.3 Pengujian Hipotesis............................................................... 55
4.1.4 Pembahasan Hasil Penelitian ................................................. 58
BAB V KESIMPULAN .................................................................................... 64
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 68
LAMPIRAN - LAMPIRAN ............................................................................... 72

xiv
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu ......................................................... 19


Tabel 3.1 Definisi Opertional Varibel ................................................................ 34
Tabel 4.1 Kriteria Penentuan Sampel ................................................................. 43
Tabel 4.2 Daftar Perusahaan Sampel .................................................................. 44
Tabel 4.3 Statistik Deskriptif.............................................................................. 45
Tabel 4.4 Uji Normalitas .................................................................................... 48
Tabel 4.5 Uji Normalitas Setelah Transformasi Semi Log .................................. 49
Tabel 4.6 Uji Multikolinieritas ........................................................................... 50
Tabel 4.7 Uji Heteroskedastisitas ....................................................................... 51
Tabel 4.8 Penilain Durbin Watson ( DW ) .......................................................... 52
Tabel 4.9 Uji Autokorelasi ................................................................................. 53
Tabel 4.10 Uji Autokorelasi Menggunakan Metode Cochrane-Orcuttt................ 53
Tabel 4.11 Analisis Linier Berganda .................................................................. 54
Tabel 4.12 Uji Koefisien Determinasi ................................................................ 55
Tabel 4.13 Uji F ................................................................................................. 56
Tabel 4.14 Uji t .................................................................................................. 57

xv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Grafik Growth Rata – Rata PBV ....................................................... 3


Gambar 2.1 Kerangka Penelitian ....................................................................... 28

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Daftar Sampel Manufaktur pada BEI Tahun 2016-2020 .................. 73


Lampiran 2 Tabulasi Data Debt Equity Ratio ( DER ) ........................................ 75
Lampiran 3 Tabulasi Data Devidend Payout Ratio ( DPR ) ................................ 81
Lampiran 4 Tabulasi Data Profitabilitas ( ROE )................................................ 87
Lampiran 5 Tabulasi Data Effective Tax Rate ( ETR ) ........................................ 93
Lampiran 6 Tabulasi Data Price to Book Value ( PBV ) ..................................... 99
Lampiran 7 Hasil Analisis Statistic Descriptive ................................................ 105
Lampiran 8 Uji Normalitas .............................................................................. 106
Lampiran 9 Uji Multikolinieritas ..................................................................... 107
Lampiran 10 Uji Heteroskedastisitas ............................................................... 108
Lampiran 11 Uji Autokorelasi .......................................................................... 109
Lampiran 12 Analisis Linier Berganda ............................................................. 110
Lampiran 13 Uji Koefisian Determinasi ........................................................... 111
Lampiran 14 Uji F ........................................................................................... 112
Lampiran 15 Uji t ............................................................................................ 113

xvii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Seiring dengan perkembangan industri dan teknologi saat ini, dunia bisnis

mengalami persaingan yang semakin ketat. Hal ini ditandai dengan banyakanya

perusahaan yang tumbuh dan berkembang, baik dari perusahaan berskala kecil

maupun besar bersaing untuk memperoleh laba yang maksimal. Menghadapi

persaingan memang tidaklah mudah karena perusahaan akan dihadapkan dengan

berbagai kendala sehingga diperlukan ketepatan dalam pengambilan keputusan.

Kebutuhan modal dan pendanaan sering kali menjadi kendala utama perusahaan

untuk berkembang. Salah satu solusi yang dapat ditempuh adalah dengan

mengubah status dari perusahaan tertutup menjadi perusahaan terbuka melalui

penawaran saham kepada publik ( Go Public ). Selain menjadi lebih mudah dalam

memperoleh sumber pendanaan baik modal maupun hutang jangka pendek dan

jangka panjang, perusahaan juga mendapatkan keuntungan lain, diantaranya

meningkatkan citra perusahaan, mendapatkan intesif pajak dan meningkatkan

nilai perusahaan (Company Value). Namun, dengan terdaftarnya perusahaaan

sebagai perusahaan Go Public pada bursa efek, bukan berarti perusahaan lepas

dari upaya - upaya lain guna mempertahankan kelangsungan usahanya. Salah satu

hal yang harus diperhatikan adalah kestabilan harga pasar saham perusahaan

tersebut. Dalam dunia pasar modal, harga saham dapat dijadikan barometer dari

1
2

kinerja dan nilai perusahaan ( Company Value ). Semakin tinggi harga saham,

semakin tinggi pula nilai perusahaan (Rudangga, 2016)

Menurut (Harmono, 2009) nilai perusahaan adalah kinerja perusahaan

yang dicerminkan oleh harga saham yang dibentuk oleh permintaan dan

penawaran pasar modal yang merefleksikan penilaian masyarakat terhadap kinerja

perusahaan. Sari & Priyadi (2016) mengungkapkan nilai perusahaan bagian dari

persepsi investor terhadap perusahaan terkait harga saham, semakin tinggi nilai

perusahaan dapat memberikan kemakmuran bagi pemegang saham.

Nilai perusahaan diproksikan menggunakan Price to Book Value (PBV).

yaitu rasio valuasi investasi yang sering digunakan oleh investor untuk

membandingkan nilai pasar saham perusahaan dengan nilai bukunya. Rasio PBV

menunjukkan seberapa pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan.

Semakin tinggi rasio, semakin tinggi kepercayaan pasa terhadap prospek

perusahaan tersebut, itu artinya perusahaan mampu menciptakan nilai perusahaan

relative terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. Nilai perusahaan dikatakan

baik apabila rasio nilai PBV diatas satu. Hal ini menunjukkan bahwa nilai market

share perusahaan lebih besar dari book valuenya. Semakin besar rasio PBV

semakin tinggi perusahaan dinilai oleh para pemodal relatif dibandingkan dengan

dana yang telah ditanamkan di perusahaan. Naik turunnya PBV merupakan

indikator bagaimana pasar menilai perusahaan secara keseluruhan. Seperti rata –

rata nilai perusahaan ( PBV ) perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama

3 tahun terkahir ini sempat mengalami penurunan yang cukup signifikan seperti

terlihat pada grafik berikut :


3

Gambar 1.1
Grafik Growth Rata - Rata PBV

Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2018-2020

Sumber : Trading Summary by Industry Clasification 2018 – 2020.

([Link] ), data diolah 2021.

Pada grafik tersebut terlihat bahwa pada tahun 2019 rata – rata nilai

perusahaan mengalami penurunan sekitar 25 %, dan tahun 2020 juga menurun

hingga 10 % dari tahun sebelumnya. Hal ini selaras dengan sebuah artikel dari

[Link] (22/12/19 ) yang menginformasikan bahwa indeks perusahaan sektor

manufaktur, terutama untuk sektor industri dasar dan kimia, sektor aneka industri

dan sektor barang konsumsi belum menunjukkan kinerja yang prima. Sejak awal

tahun 2019 penurunan saham dibeberapa sektor telah terdeteksi. Misalnya, Saham

PT. Unilever Tbk yang melemah 8,31%. Kemudian saham PT. Sri Rejeki Isman

Tbk yang juga tergerus sekitar 27,37%, PT. Gudang Garam Tbk turun 36,5 % dan

PT. Hanjaya Mandala yang merosot 43,4% . Penurunan saham atau nilai

perusahaan secara continue akan berdampak pada kestabilan ekonomi perusahaan


4

terutama untuk aktivitas pendanaan. Fluktuasi nilai perusahaan dapat disebabkan

oleh beberapa faktor terutama dari pihak internal, seperti: profitabilitas, struktur

modal, kebijakan dividen dan tax avoidance.

Struktur modal merupakan rasio antara total hutang perusahaan terhadap

total ekuitas. Menurut Brealey, Myres dan Marcus (2008:6) menyebutkan bahwa

struktur modal merupakan bentuk pendanaan untuk memenuhi kebutuhan

investasi dan kegiatan operasional perusahaan. DER ( Debt to Equity Ratio )

digunakan sebagai media pengukuran dari struktur modal. DER merupakan rasio

yang digunakan untuk mengukur kemampuan ekuitas perusahaan dalam

membiayai hutangnya. Tindakan manajer dalam pengambilan keputusan struktur

modal perusahaan harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian , salah satunya

adalah dengan menjadikan proporsi antara hutang dan ekuitas harus seimbang.

Jika manajer salah langkah dalam mengabil keputusan dapat menyebabkan

kebangkrutan (Dewi & Dana, 2017).

Kebijakan dividen adalah proporsi pembagian laba yang diperoleh

perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham perusahaan. Kebijakan

dividen berkaitan dengan kebijakan mengenai seberapa besar laba yang diperoleh

perusahaan akan didistribusikan kepada pemegang saham (Sofyaningsih &

Hardiningsih, 2011). Menurut Brigham dan Houston (2011), rasio pembayaran

dividen adalah persentase laba dibayarkan kepada para pemegang saham dalam

bentuk kas. Keputusan dividen menyangkut keputusan tentang penggunaan laba

yang menjadi hak para pemegang saham. Dividen yang dibagikan dapat berupa

dividen tunai (cash dividend) atau dividen dalam bentuk saham (stock dividen).
5

Dividen tunai umumnya dibagikan secara reguler, baik triwulanan, semesteran

atau tahunan. Kebijakan dividen dalam penelitian ini dikonfirmasi dalam bentuk

Dividend Payout Ratio (DPR) yaitu suatu perbandingan dividen yang diberikan ke

pemegang saham dan laba bersih per saham. Rasio pembayaran dividen (dividend

payout ratio) menentukan jumlah laba yang akan dibagi dalam bentuk dividen kas

dan laba yang ditahan sebagai sumber pendanaan. Dividen yang dibagikan

perusahaan ditentukan oleh para pemegang saham pada saat berlangsungnya

RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) Brigham dan Houston (2011). Menurut

Sucipto, Edy & Sudiyatno (2018) kebijakan dividen berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

Profitabilitas merupakan suatu indikator kinerja yang dilakukan

manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan yang dapat dilihat dari laba

yang dihasilkan oleh perusahaan. Perusahaan mengukur kemampuan perusahaan

dalam menghasilkan keuntungan (Profitabilitas) baik dari tingkat penjualan, asset,

modal maupun saham tertentu. Rasio profitabilitas ini dapat diartikan sejauh mana

keefektifan dari keseluruhan manejemen dalam menciptakan keuntungan bagi

[Link] investor akan mengaitkan tingkat profitabilitas sebuah

perusahaan dengan tingkat resiko yang timbul dari investasinya. Penelitian,

Martha et al.,(2018) menjelaskan bahwa profitabilitas berpengaruh positif

terhadap nilai perusahaan.

Tax avoidance merupakan upaya penghindaran pajak yang dilakukan

secara legal dan aman bagi wajib pajak karena tidak bertentangan dengan

ketentuan perpajakan, dimana metode dan teknik yang digunakan cenderung


6

memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam undang-undang dan

peraturan perpajakan itu sendiri untuk memperkecil jumlah pajak yang terutang.

Praktik penghindaran pajak ini diharapkan mampu meningkatkan laba perusahaan

sehingga berpengaruh terhadap naiknya profitabilitas perusahaan. Namun,

Investor sebagai principal beranggapan bahwa penghindaran pajak ini adalah

praktik melanggat undang – undang perpajakan dan diduga menimbulkan biaya

lain – lain seperti biaya yang timbul akibat pemeriksaan pajak. Penelitan Apsari &

Setiawan (2018) menyebutkan bahwa tax avoidance berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya terkait dengan nilai

perusahaan masih memberikan hasil yang berbeda-beda. Penelitian Lisda &

Kusmayanti (2021) tentang pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan

menyatakan bahwa struktur modal berpengaruh positif signifikan, dan didukung

oleh Ramdhonah et al (2019). Penelitian Pasaribu et al. (2016) menyatakan bahwa

struktur modal berpengaruh negatif signifikan, sedangkan penelitan yang

dilakukan Barelli et al.(2018) dan Sintyana & Artini (2018) menunjukan bahwa

struktur modal tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Ovami & Nasution,

(2020) meneliti terkait dengan pengaruh kebijakan dividen terhadap nilai

perusahaan menyatakan bahwa kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap

nilai perusahaan, Namun Martha et al.(2018) menyatakan kebijakan dividen

berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Penelitian Violeta & Serly, (2020)

meneliti tentang pengaruh tax avoidance terhadap nilai perusahaan menyatakan

bahwa tax avoidance berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan,


7

namun penelitian yang dilakukan oleh Tarihoran (2016) avoidance tidak

berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian Lisda & Kusmayanti,

(2021) menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai

perusahaan, sedangkan Muharramah & Hakim (2021) mengungkapkan

profitabilitas tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Penelitian ini merupakan replikasi dan pengembangan dari penelitian

Ovami & Nasution (2020) serta Martha et al., (2018). Perbedaan penelitian ini

dengan kedua penelitian tersebut terletak pada variabel dan sample penelitian.

Variabel penelitian Martha et al., (2018) menggunakan profitabilitas dan

kebijakan dividen sebagai variabel independen. Kemudian penelitian Ovami &

Nasution (2020) menggunakan kebijakan dividen sebagai variabel independen.

Sedangkan dalam penelitian ini, peneliti menambahkan variabel struktur modal

dan tax avoidance sebagai variabel independen.

Penelitian Martha et al., (2018) menggunakan periode pengamatan tahun

2012 sampai dengan 2016. Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan periode

pengamatan tahun 2016 sampai dengan 2020. Obyek penelitian pada Martha et

al., (2018) serta Ovami & Nasution (2020) menggunakan perusahaan –

perusahaan perbankan dan LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Namun, dalam penelitian kali ini, peneliti menggunakan sampel penelitian yang

berbeda, yakni perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

(BEI). Alasan dipilihnya sektor Manufaktur sebagai sampel penelitian karena

sektor manufaktur merupakan sektor yang memiliki jumlah perusahaan yang

paling banyak di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan manufaktur juga memiliki


8

aktiva yang cukup kompleks bila dibandingkan dengan perusahaan lainnya.

Perusahaan manufaktur harus memperhatikan perhitungan pengadaan barang,

proses produksi hingga pemasaran, yang dimana hal ini berbeda dengan

perusahaan non manufaktur yang tidak memiliki perhitungan serumit perusahaan

manufaktur, sehingga diasumsikan dapat merepresentasikan sampel yang diambil

pada penelitian ini.

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas maka penelitian ini

berjudul “Pengaruh Struktur Modal, Kebijakan Dividen, Profitabilitas dan

Tax Avoidence Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan

Manufaktur yang Terdaftar di BEI Periode 2016-2020)”

1.2 Rumusan Masalah

Nilai perusahaan adalah kinerja perusahaan yang dicerminkan oleh harga

saham yang dibentuk oleh permintaan dan penawaran pasar modal yang

merefleksikan penilaian masyarakat terhadap kinerja perusahaan. Sari & Priyadi,

(2016), mengungkapkan nilai perusahaan bagian dari persepsi investor terhadap

perusahaan terkait harga saham, semakin tinggi nilai perusahaan dapat

memberikan kemakmuran bagi pemegang saham.

Berdasarkan data dari [Link], pada tahun 2019 rata – rata nilai

perusahaan sektor manufaktur mengalami penurunan sekitar 83% dan pada tahun

2020 mengalami kenaikan meskipun tidak signifikan. Dari tahun 2018 – 2020,

emiten manufaktur yang mengalami penurunan PBV paling besar adalah sub

sektor mesin dan alat berat yakni sebesar 1.444 %, disusul oleh sub sektor
9

electronics sebesar 276 % , kemudian sub sektor food and baverages sebesar

267%, serta masih banyak sub sektor lain yang nilai PBV nya mengalami

penurunan drastis dari tahun sebelumnya. Penurunan saham atau nilai perusahaan

secara continue akan berdampak pada kestabilan ekonomi perusahaan terutama

untuk aktivitas pendanaan. Fluktuasi nilai perusahaan dapat disebabkan oleh

banyak faktor , baik internal maupun eksternal. Melihat fenomena fluktuasi nilai

perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dari tahun 2018 – 2020, peneliti

tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang “Bagaimana struktur

modal, kebijakan dividen, profitabilitas dan tax avoidance mampu mempengaruhi

naik turunnya nilai perusahaan ?”.

1.3 Pertanyaan Penelitian

Adapun dari penjelasan latar belakang diatas, maka dalam penelitian ini dapat

dirumuskan dengan pertanyaan penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan pada

perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016 – 2020 ?

2. Bagaimana pengaruh kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan pada

perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016 – 2020 ?

3. Bagaimana pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan pada perusahaan

manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016 – 2020 ?

4. Bagaimana pengaruh tax avoidance terhadap nilai perusahaan pada perusahaan

manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016 – 2020 ?


10

1.4 Tujuan Penelitian :

1. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh struktur modal terhadap nilai

perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016 –

2020.

2. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh kebijakan dividen terhadap nilai

perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016 –

2020.

3. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh profitabilitas terhadap nilai

perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016 –

2020.

4. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh tax avoidance terhadap nilai

perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016 –

2020.

1.5 Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi teoritis

dibidang ilmu keuangan berupa bukti empiris tentang pengaruh struktur modal,

kebijakan dividen, profitabilitas, dan tax avoidance terhadap nilai perusahaan.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Universitas

Sebagai media untuk menambah keterampilan , kreatifitas, dan

pemahaman mahasiswa bidang akuntansi terutama tentang nilai

perusahaan, struktur modal, kebijakan dividen, profitabilitas, dan tax


11

avoidance. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu refrensi

dilingkungan akademis untuk memperkaya dan memperdalam pengetahuan

bidang yang diteliti.

b. Bagi Perusahaan

Hasil penelitian ini dapat menambah pemahaman tetang nilai

perusahaan, terutama factor – factor yang menjadi pemicu naik dan

turunnya nilai perusahaan yang nantinya dapat dipergunakan sebagai bahan

pertimbangan dalam pengambilan keputusan terutama perihal sumber dana

dan modal sendiri yang digunakan untuk membiayai aktivitas operasional

perusahaan.

c. Bagi Investor

Penelitian ini dapat memberikan informasi – informasi yang dapat

digunakan sebagai bahan pertimbangan investor sebelum memulai

berinvestasi atau menanamkan modalnya pada perusahaan yang dituju,

sehingga investor dapat mengambil keputusan yang te


BAB 2

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Signalling Theory ( Teori Sinyal )

Teori sinyal dicetuskan pertama kali oleh Michael Spence (1973) dan

dikembangkan Ross ( 1977 ). Menurut Ross, guna mendapatkan respon yang

baik dari public, perusahaan harus selalu berupaya menyampaikan informasi

atau sinyal seakurat dan sebaik mungkin. Konsep pembangunan teori sinyal

adalah berdasarkan timbulnya asimetri informasi antara perusahaan

(manajemen) dengan pihak luar, dimana kemampuan investor dalam

memperoleh informasi internal perusahaan lebih terbatas dibandingkan pihak

menejemen. Kecepatan respon pasar yang diperoleh perusahaan tergantung

seberapa cepat perusahaan dalam mengeluarkan sinyalnya. Sinyal yang

dimaksud adalah informasi tentang upaya – upaya yang telah dilakukan oleh

pihak manajemen dalam memenuhi keinginan pemilik maupun investor.

Meminimalisir asimetri informasi dapat dijadikan salah satu alternatif guna

meningkatkan nilai perusahaan. Investor membutuhkan informasi yang akurat,

lengkap dan tepat waktu ketika hendak mengambil keputusan agar hasil yang

diperoleh nantinya sesuai dengan harapan. Keakuratan informasi atau sinyal ini

mampu membangun sebuah kepercayaan publik atau investor tentang proyeksi

12
13

kinerja perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga kredibilitas dan

kesuksesan perusahaan dapat meningkat.

Alasan peneliti menggunakan teori sinyal ini karena berkaitan dengan

variabel – variabel dalam penelitian ini. Peneliti berpendapat bahwa aksi

korporasi perusahan memberikan makna yang berarti bagi pihak luar, Manurung

( 2012 ) dalam Sugiayanto ( 2019 ) menyebutkan bahwa informasi dalam

signalling theory secara umum sering disebut signal negative. Namun, pihak

manajemen diharapkan mampu memberikan sebuah good signal ( sinyal baik )

ataupun sinyal kemakmuran kepada stakeholdernya dalam mempublikasikan

laporan keuangan, baik untuk pemilik maupun pemegang saham. Termasuk

sinyal baik terkait dengan pertumbuhan laba yang mencerminkan profitabilitas

perusahaan, sinyal baik atas kemapuan perusahaan dalam memanfaatkan ekuitas

untuk membiyai hutangnya, sinyal baik dari porsi pembagian dividen yang dapat

dijadikan acuan para investor tentang prospek keuntungan yang akan didapat,

dan juga sinyal dilakukannya praktik tax avoidance ( penghindaran pajak ) yang

dapat mengurangi tingkat kepercayaan investor terhadap perusahaan karena

dianggap sebagai suatu tindakan penggelapan pajak yang melanggar hukum,

point - point diatas merupakan beberapa informasi keuangan yang sering kali

dijadikan investor sebagai bahan pertimbangan sebelum menanamkan modalnya

disuatu perusahaan. Apabila perusahaan mampu menciptakan sinyal baik atas

informasi – informasi keuangan tersebut, maka secara langsung dapat

meningkatkan minat investor yang selanjutnya berpengaruh terhadap naiknya

harga saham, sehingga kinerja dan nilai perusahaan pun akan meningkat.
14

2.2 Variabel Penelitian

2.2.1 Nilai Perusahaan

Menurut Harmono (2009:233), nilai perusahaan adalah kinerja perusahaan

yang dicerminkan oleh harga saham yang dibentuk oleh permintaan dan

penawaran pasar modal yang merefleksikan penilaian masyarakat terhadap

kinerja perusahaan. Sari & Priyadi (2016) mengungkapkan nilai perusahaan

bagian dari persepsi investor terhadap perusahaan terkait harga saham, semakin

tinggi nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran bagi pemegang saham.

Manajer keuangan dituntut untuk berhati – hati dalam mengambil keputusan

karena mampu mempengaruhi nilai perusahaan . Ketepatan dalam pengambilan

keputusan akan berdampak pada meningkatnya nilai perusahaan, sehingga

kekayaan perusahaan pun ikut meningkat. Menurut Adeline & Jogi (2019),

terdapat beberapa konsep nilai perusahaan yang menjelaskan nilai perusahaan

antara lain:

a. Nilai nominal yaitu nilai yang tercantum secara formal dalam anggaran

dasar perseroan, disebutkan secara eksplisit dalam neraca perusahaan.

b. Nilai pasar, sering disebut kurs adalah harga yang terjadi dari proses tawar

menawar dipasar saham. Nilai perusahaan bias di tentukan jika saham

perusahaan dijual di pasar saham

c. Nilai intrinsic merupakan nilai yang mengacu pada perkiraan nilai riil suatu

perusahaan. Nilai perusahaan dalam konsep nilai intrinsic ini bukan sekedar

haraga sekumpulan asset, melainkan nilai perusahaan sebagai entitas bisnis

yang memiliki kemampuan menghasilakan keuntungan di kemudian hari.


15

d. Nilai buku, adalah nilai perusahaan yang dihitung dengan dasar konsep

akuntansi.

e. Nilai likuiditas itu adalah nilai jual seluruh asset perusahaan setelah

dikurangi semua kewajiban yang harus dipenuhi. Nilai sisa itu merupakan

bagian para pemegang saham. Nilai likuiditas bias dihitung berdasarkan

neraca performa yang disiapkan ketika suatu perusahaan akan likudasi.

Nilai perusahaan diproksikan menggunakan Price to Book Value (PBV).

Yaitu rasio valuasi investasi yang sering digunakan oleh investor untuk

membandingkan nilai pasar saham perusahaan dengan nilai bukunya. Rasio PBV

menunjukkan seberapa pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan.

Semakin tinggi rasio, semakin tinggi kepercayaan pasar terhadap prospek

perusahaan tersebut, itu artinya perusahaan mampu menciptakan nilai

perusahaan relative terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. Nilai

perusahaan dikatakan baik apabila rasio nilai PBV diatas satu.

2.2.2 Struktur Modal

Struktur modal merupakan rasio antara total hutang perusahaan

terhadap total ekuitas. Menurut Brealey, Myres dan Marcus (2008:6) struktur

modal merupakan bentuk pendanaan untuk memenuhi kebutuhan investasi dan

kegiatan operasional perusahaan. Struktur modal yang optimal bagi suatu

perusahaan diartikan sebagai suatu struktur yang akan memaksimalkan harga

saham perusahaan tersebut (Fahmi, 2016). Kebijakan struktur modal dapat

berpengaruh terhadap return dan risk. Meningkatnya utang dapat

meningkatkan nilai risk, yang otomatis akan meningkatkan nilai return. Jika
16

risk meningkat maka harga saham akan turun, dan apabila return meningkat

maka saham akan naik. Struktur modal mencerminkan rasio perimbangan

(relative maupun absolut) antara total keseluruhan dari modal eksternal , baik

jangka panjang maupun jangka panjang.

DER ( Debt to Equity Ratio ) digunakan sebagai media pengukuran dari

struktur modal. DER merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur

kemampuan ekuitas perusahaan dalam membiayai hutangnya. Karena struktur

modal dapat mempengaruhi nilai perusahaan, maka tindakan manajer dalam

pengambilan keputusan struktur modal perusahaan harus dilakukan dengan

penuh kehati-hatian , salah satunya adalah dengan menjadikan proporsi antara

hutang dan ekuitas harus seimbang. Jika manajer salah langkah dalam

mengabil keputusan dapat menyebabkan kebangkrutan.

2.2.3 Kebijakan Dividen

Kebijakan dividen adalah proporsi pembagian laba yang diperoleh

perusahaan yang dibagikan para pemegang saham perusahaan (Brigham,

2011). Kebijakan dividen berkaitan dengan kebijakan mengenai seberapa besar

laba yang diperoleh perusahaan akan didistribusikan kepada pemegang saham

(Sofyaningsih & Hardiningsih, 2011). Rasio pembayaran dividen adalah

persentase laba dibayarkan kepada para pemegang saham dalam bentuk kas

(Brigham, 2011). Keputusan dividen menyangkut keputusan tentang

penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham. Dividen yang

dibagikan dapat berupa dividen tunai (cash dividend) atau dividen dalam
17

bentuk saham (stock dividen). Dividen tunai umumnya dibagikan secara

reguler, baik triwulanan, semesteran atau tahunan.

Kebijakan dividen dalam penelitian ini dikonfirmasi dalam bentuk DPR

(Dividen Payout Ratio) yaitu suatu perbandingan dividen yang diberikan ke

pemegang saham dan laba bersih per saham. Rasio pembayaran dividen

menentukan jumlah laba yang akan dibagi dalam bentuk dividen kas dan laba

yang ditahan sebagai sumber pendanaan. Dividen yang dibagikan perusahaan

ditentukan oleh para pemegang saham pada saat berlangsungnya RUPS (Rapat

Umum Pemegang Saham) (Brigham, 2011).

2.2.4 Profitabilitas

Menurut Kasmir ( 2016 : 196 ) Profitabilitas merupakan suatu indikator

kinerja yang dilakukan manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan

yang dapat dilihat dari laba yang dihasilkan oleh perusahaan. Perusahaan

mengukur kemampuannya dalam menghasilkan keuntungan (Profitabilitas)

baik dari tingkat penjualan, asset, modal maupun saham tertentu. Rasio

profitabilitas ini dapat diartikan sejauh mana keefektifan dari keseluruhan

manejemen dalam menciptakan keuntungan bagi perusahaan. Seorang investor

akan mengaitkan tingkat profitabilitas sebuah perusahaan dengan tingkat resiko

yang timbul dari investasinya.

Dalam penelitian ini rasio profitabilitas diukur dengan return on equity

(ROE). Return on equity (ROE) merupakan rasio yang menunjukkan

kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih untuk pengembalian

ekuitas pemegang saham. ROE merupakan rasio keuangan yang digunakan


18

untuk mengukur profitabilitas dari ekuitas. Semakin besar hasil ROE maka

kinerja perusahaan semakin baik. Rasio yang meningkat menunjukkan bahwa

kinerja manajemen meningkat dalam mengelola sumber dana pembiayaan

operasional secara efektif untuk menghasilkan laba bersih (profitabilitas

meningkat).

2.2.5 Tax Avoidence

Menurut Pohan ( 2013 : 3 ) Tax avoidance merupakan upaya

penghindaran pajak yang dilakukan secara legal dan aman bagi wajib pajak

karena tidak bertentangan dengan ketentuan perpajakan, dimana metode dan

teknik yang digunakan cenderung memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang

terdapat dalam undang-undang dan peraturan perpajakan itu sendiri untuk

memperkecil jumlah pajak yang terutang. Oleh karena itu, penghindaran pajak

( tax avoidence ) berbeda dengan penggelapan pajak ( tax evation ). Tax

avoidance tidak melanggar undang – undang, sedangkan tax evation

merupakan bentuk usaha penghindaran pajak dengan melanggar peraturan

pajak dan perundang – undangan. Praktik penghindaran pajak ini diharapkan

mampu meningkatkan laba perusahaan sehingga berpengaruh terhadap naiknya

profitabilitas perusahaan. Namun, Investor sebagai principal beranggapan

bahwa penghindaran pajak ini adalah praktik melanggar undang – undang

perpajakan dan diduga menimbulkan biaya lain – lain seperti biaya yang timbul

akibat pemeriksaan pajak. Selain memberikan keuntungan bagi pihak

perusahaan, penghindaran pajak juga dapat memberikan efek negatif bagi

perusahaan. Dalam penelitian ini, pengukuran Tax avoidance diukur


19

menggunakan rumus ETR ( effective tax rate), menunjukan semua beban pajak

yang harus ditanggung oleh perusahaan termasuk pajak final dan utang.

Semakin kecil nilai ETR maka semakin besar praktik penghindaran pajak yang

dilakukan perusahaan.

2.3 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu

Penelitian dan
No. Variabel dan Metode Analisis Hasil
Tahun
1 Tiasrini & Utiyati, Variabel Dependen : Variabel profitabilitas

(2020) Nilai Perusahaan berpengaruh positif

Variabel Independen : terhadap nilai perusahaan.

Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Variabel leverage

dan Leverage. berpengaruh negatif

Sampel : terhadap nilai perusahaan.

17 perusahaan manufaktur sub

sektor bahan kimia di BEI tahun (

2014 – 2018 )

Metode Analisis :

Regresi linier berganda.

2 Lisda & Kusmayanti, Variabel Dependen : Variabel struktur modal dan

(2021) Nilai Perusahaan profitabilitas berpengaruh

Variabel Independen : positif terhadap nilai


20

Struktur Modal dan Profitabilitas perusahaan.

Sampel :

11 perusahaan sector tambang di

BEI tahun ( 2014 – 2018 )

Metode Analisis :

Regresi linier berganda.

3 Martha et al., (2018) Variabel Dependen : Variabel Profitabilitas

Nilai Perusahaan berpengaruh positif

Variabel Independen : terhadap nilai perusahaan

Profitabilitas dan Kebijakan Variabel kebijakan dividen

Dividen berpengruh negatif terhadap

Sampel : nilai perusahaan.

30 perusahaan perbankan di BEI

tahun (2012– 2016 )

Metode Analisis :

Regresi linier berganda.

4 Nurhasanatang et al., Variabel Dependen : Variabel Kebijakan

(2020) Nilai Perusahaan dividen, kebijakan leverage

Variabel Independen : keputusab investasi dan

Kebijakan dividen, kebijakan manajemen laba

leverage, keputusan investasi dan berpengaruh positif

manajemen laba terhadap nilai terhadap nilai perusahaan.

perusahaan
21

Sampel :

10 perusahaan pertambangan di

BEI tahun (2012– 2016 )

Metode Analisis :

Regresi linier berganda.

5 Sucipto, Edy & Variabel Dependen : Variabel profitabilitas dan

Sudiyatno (2018) Nilai Perusahaan kebijakan dividen

Variabel Independen : berpengaruh positif

Profitabilitas, kebijakan dividen, terhadap nilai perusahaan.

dan kebijakan hutang terhadap Kebijakan hutang

nilai perusahaan. berpengaruh negatif

Sampel : terhadap nilai perusahaan.

36 perusahaan manufaktur di BEI

tahun ( 2011- 2013 )

Metode Analisis :

Regresi linier berganda.

6 Harventy (2016) Variabel Dependen : Variabel tax avoidance

Nilai Perusahaan berpengaruh negatif

Variabel Independen : terhadap nilai perusahaan.

Tax Aviodence

Sampel :

35 perusahaan manufaktur di BEI

tahun ( 2013- 2015 )


22

Metode Analisis :

Regresi linier berganda.

7 Tarihoran (2016) Variabel Dependen : Variabel tax avoidance

Nilai Perusahaan tidak berperngaruh terhadap

Variabel Independen : nilai perusahaan.

Tax Aviodence dan Leverage Varibel ukuran leverage

Sampel : berpengaruh signifikan

141 perusahaan di BEI tahun ( terhadap nilai perusahaan.

2011- 2014 )

Metode Analisis :

Regresi linier berganda.

8 Zulfiara & Ismanto Variabel Dependen : Variabel konservatisme

(2019) Nilai Perusahaan berpengaruh positif

Variabel Independen : terhadap nilai perusahaan.

Konservatisme akuntansi dan Variabel penghindaran

penghindaran pajak pajak ( tax avoidance )

Sampel : berpengaruh negative

48 perusahaan manufaktur di BEI terhadap nilai perusahaa.

tahun ( 2015- 2017 )

Metode Analisis :

Regresi linier berganda.


23

9 Violeta & Serly, Variabel Dependen : Varibel manajemen laba

(2020) Nilai Perusahaan berpengaruh positif tetapi

Variabel Independen : tidak signifikan terhadap

Tax avoidance dan manajemen nilai perusahaan.

laba Varibel tax avoidance

Sampel : berpengaruh negative

135 perusahaan perbankan di BEI terhadap nilai perusahaan.

tahun ( 2014- 2018 )

Metode Analisis :

Regresi linier berganda.

10 Pasaribu et al (2016) Variabel Dependen : Varibel Struktur modal

Nilai Perusahaan berpengaruh negatif

Variabel Independen : terhadap nilai perusahaan.

Struktur Modal, Struktur Varibel struktur

Kepemilikan, Profitabilitas. kepemilikan berpengaruh

Sampel : positif terhadap nilai

65 perusahaan sector industry perusahaan.

dasar dan kimia di BEI tahun ( Variabel Profitabilitas

2011- 2014 ) berpengaruh poitif terhadap

Metode Analisis : nilai perusahaan.

Regresi linier berganda

Sumber : Berbagai sumber yang dirangkum


24

2.4 Kerangka Pemikiran Teoritis dan Pengembangan Hipotesis

2.4.1 Pengaruh Struktur Modal Terhadap Nilai Perusahaan.

Struktur modal merupakan rasio antara total hutang perusahaan terhadap

total ekuitas. Menurut Brealey, Myres dan Marcus (2008:6) struktur modal

merupakan bentuk pendanaan untuk memenuhi kebutuhan investasi dan kegiatan

operasional perusahaan. Berdasarkan dengan teori sinyal, perusahaan akan

berusaha menyampaikan hal baik kepada publik untuk mendapatkan respon yang

baik pula. Konsep pembangunan teori sinyal adalah berdasarkan timbulnya

asimetri informasi antara perusahaan (manajemen) dengan pihak luar, dimana

kemampuan investor dalam memperoleh informasi internal perusahaan lebih

terbatas dibandingkan pihak menejemen. Pengaruh struktur modal terhadap nilai

perusahaan dapat diproyeksikan dengan rasio Debt to Equity Ratio (DER) yang

mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan modal sendiri guna

membiayai kewajiban atau hutangnya. Semakin tinggi nilai DER, maka

perusahaan semakin dianggap mampu dalam menanggung beban/risiko

pembiayaan hutangnya, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan investor. Nilai

DER yang tinggi akan menjadi good news ( sinyal baik ) bagi investor untuk

berinvestasi. Karena nilai DER yang tinggi dapat mengatasi rasa khawatir investor

akan risiko gagal bayar perusahaan dalam membiyai hutangnya dan meningkatkan

rasa kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya sehingga mampu

meningkatkan permintaan saham dan harga saham yang kemudian berpengaruh

terhadap meningkatnya nilai perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Lisda &

Kusmayanti, (2021) menyatakan bahwa struktur modal berpengaruh positif


25

terhadap nilai perusahaan yang kemudian di dukung oleh Rai Prastuti & Merta

Sudiartha (2016) serta (Yanti & Darmayanti (2019). Berdasarkan uraian diatas

maka hipotesis peneletian dapat dirumuskan sebagai berikut :

H1 : Struktur modal berpengaruh postif terhadap nilai perusahaan.

2.4.2 Pengaruh Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan.

Kebijakan dividen adalah proporsi pembagian laba yang diperoleh

perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham perusahaan. Kebijakan

dividen berkaitan dengan kebijakan mengenai seberapa besar laba yang diperoleh

perusahaan akan didistribusikan kepada pemegang saham (Sofyaningsih &

Hardiningsih, 2011). Melalui kebijakan dividen, seluruh upaya yang dilakukan

financial manager bertujuan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Kebijakan

dividen dapat diproyeksikan dengan DPR ( Dividend Payout Ratio ) yaitu suatu

perbandingan dividen yang diberikan ke pemegang saham dan laba bersih per

saham. Meningkatnya nilai DPR tiap periode merupakan bentuk good news (

sinyal baik ) bagi investor karena mencerminkan bahwa arus kas masa depan

perusahaan dianggap cukup untuk menanggung dividen yang tinggi, sehingga

berpengaruh terhadap meningkatnya nilai perusahaan.

Sejalan dengan signalling theory yang dikembangkan oleh Ross, (1977)

bahwa perusahaan memberikan sinyal kepada investor mengenai growth

perusahaan ditunjukkan dengan cara menginformasikan pertumbuhan laba. Salah

satunya adalah dengan memberikan sinyal positif terkait pembagian keuntungan

investor atau dividen. Hasil penelitian Nurhasanatang et al.,(2020) dan Sucipto,

Edy & Sudiyatno (2018) menyatakan bahwa kebijakan dividen berpengaruh


26

terhadap nilai perusahan. Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis penelitian

dapat dirumuskan sebagai berikut :

H2 : Kebijakan dividen berpengaruh posistif terhadap nilai perusahaan.

2.4.3 Pengaruh Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan

Profitabilitas merupakan suatu indikator kinerja yang dilakukan

manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan yang dapat dilihat dari laba

yang dihasilkan oleh perusahaan. Seorang investor akan mengaitkan tingkat

profitabilitas sebuah perusahaan dengan tingkat resiko yang timbul dari

investasinya. Profitabilitas dapat diukur dengan ROE ( Return On Equity), yaitu

rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih

untuk pengembalian ekuitas pemegang saham. ROE yang meningkat

menunjukkan bahwa kinerja manajemen meningkat dalam mengelola sumber

dana pembiayaan operasional secara efektif untuk menghasilkan laba bersih

(profitabilitas meningkat).

Teori sinyal menyatakan bahwa laba yang besar mampu menjadi sinyal

baik bagi para investor, karena profitabilitas sering kali menjadi barometer utama

para calon investor sebelum menanamkan modalnya. Profitabilitas memberikan

gambaran kinerja keuangan perusahaan. Besarnya nilai profabilitas berbanding

lurus dengan meningkatnya kemampuan perusahaan dalam membayar dividen,

sehingga menjadi sinyal bahwa adanya Profitabilitas yang tinggi mampu dijadikan

sinyal bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik dimasa depan sehingga

dapat menarik minat dan kepercayaan investor, kemudian secara langsung dapat

menaikkan harga saham berikut nilai perusahaan. Hasil penelitian yang dilakukan
27

oleh Tiasrini & Utiyati (2020), Yanti & Darmayanti, (2019), Martha et al.,(2018)

menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis penelitian dapat dirumuskan sebagai

berikut :

H3 : Profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

2.4.4 Pengaruh Tax Avoidence Terhadap Nilai Perusahaan

Tax avoidance merupakan upaya penghindaran pajak yang dilakukan

secara legal dan aman bagi wajib pajak karena tidak bertentangan dengan

ketentuan perpajakan, dimana metode dan teknik yang digunakan cenderung

memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam undang-undang dan

peraturan perpajakan itu sendiri untuk memperkecil jumlah pajak yang terutang.

Tax avoidance diukur menggunakan ETR ( Effective Tax Rate) perusahaan, yaitu

rasio antara biaya pajak dengan laba sebelum pajak. Nilai ETR yang rendah

menunjukkan tingginya kadar praktik tax avoidance. Tingginya nilai ETR dapat

menjadi indikasi bahwa beban pajak perusahaan lebih kecil, sehingga mampu

meningkatkan net profit after tax. Perusahaan beranggapan dengan meningkatnya

laba sebelum pajak mampu menarik minat investor. Para investor berharap akan

mendapatkan pembagian dividen secara optimal dari laba yang dihasilkan

perusahaan. Namun, Teori sinyal menyatakan bahwa praktik tax voidance yang

terlalu tinggi dapat menurunkan minat investor . Investor menangkap sinyal buruk

atas dilakukannya praktik ini sebagai indikasi manipulasi yang mengurangi

akurasi laporan keuangan yang disajikan. Berkurangnya akurasi informasi yang


28

disajikan akan berdampak pada menurunnya minat investor dan harga saham yang

kemudian akan berpengaruh terhadap turunnya nilai perusahaan. Hasil penelitian

Violeta & Serly (2020) menyatakan bahwa tax avoidance berpengaruh negatif

terhadap nilai perusahaan, serupa dengan hasil penelitian dari Zulfiara & Ismanto,

(2019). Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis penelitian dapat dirumuskan

sebagai berikut :

H4 : Tax avoidance berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan

2.4.5 Kerangka Penelitian

Berdasarkan pemaparan diatas, maka model dalam penelitian ini adalah :

Gambar 2.1

Struktur Modal
H1 (+)
( X1)

Kebijakan Dividen H2 (+)

( X2)
Nilai Perusahaan
H3 (+)
Profitabilitas ( Y1)

( X3)
H4 (-)

Tax Avoidance
( X4)
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini hendak menguji pengaruh struktur modal, kebijakan dividen,

profitabilitas dan tax avoidance terhadap nilai perusahaan perusahaan manufaktur

yang terdaftar pada BEI tahun 2016 – 2020. Berdasarkan uraian kerangka

penelitian diatas, maka peneliti menggunakan metode kuantitatif dengan

pendekatan deskriptif. Menurut Sugiyono (2017:8), metode kuantitatif adalah

metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme yang digunakan

untuk meneliti populasi atau sampel tertentu dengan tujuan untuk menguji

hipotesis yang telah ditetapkan.

Penelitian ini bersifat asosiatif kausalitas, yaitu penelitian yang mencari

hubungan atau pengaruh sebab akibat dari variable x terhadap variable y

berdasarkan hipotesis yang telah dirumuskan.

3.2 Populasi dan Sampel

3.2.1 Populasi

Menurut Sugiyono ( 2017 ), Populasi adalah wilayah generalisasi yang

terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu

yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang

29
30

terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016 - 2020. (Lihat halaman 30 ini,

diatas disebutkan penelitian ini hendak menguji hendak menguji pengaruh

struktur modal, kebijakan dividen, profitabilitas dan tax avoidance terhadap nilai

perusahaan perusahaan manufaktur yang terdaftar pada BEI tahun 2016 – 2020.

3.2.2 Sampel

Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi (Sugiyono, 2011:120). Sampel dalam penelitian ini ditentukan

menggunakan metode purposive sampling, yaitu penentuan sampel yang

dilakukan berdasarkan kriteria atau pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan

peneliti. Alasan digunakannya metode purposive sampling dalam penelitian ini

adalah karena tidak semua sampel memiliki kriteria sesuai dengan yang telah

penulis tentukan. Oleh karena itu, sampel yang dipilih sengaja ditentukan

berdasarkan kriteria tertentu yang telah ditentukan oleh penulis untuk

mendapatkan sampel yang representatif. Adapun kriteria perusahaan yang

dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2016 – 2020.

2. Perusahaan manufaktur yang menerbitkan laporan keuangan secara berturut-

turut selama periode penelitian yaitu tahun 2016 – 2020

3. Perushaan manufaktur yang menyajikan laporan keuangannya dalam satuan

mata uang rupiah selama periode tahun 2016 - 2020.

4. Perusahaan manufaktur yang tidak mengalami kerugian selama tahun 2016 –

2020.
31

5. Perusahaan Manufaktur yang membagikan dividen secara berturut- turut

selama tahun 2016 – 2020.

6. Perusahaan yang memiliki kelengkapan informasi sesuai dengan kebutuhan

penelitian.

3.3 Sumber dan Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data

sekunder merupakan data yang diperoleh dan dikumpulkan secara tidak langsung

terkait data yang diterbitkan oleh suatu perusahaan, misalnya melalui jurnal,

penelitian terdahulu ataupun laporan keuangan. Data sekunder dalam penelitian

ini diperoleh melalui situs resmi Bursa Efek Indonesia ([Link]) berupa

laporan keuangan auditan perusahaan manufaktur periode 2016-2020.

3.4 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode

dokumentasi, yaitu mengumpulkan data sekunder berupa laporan keuangan yang

diperoleh melalui situs Bursa Efek Indonesia dalam situs [Link].

3.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

3.5.1 Variabel Dependen

Menurut Sugiyono (2015:39) variabel dependen merupakan variabel yang

dipengaruhi oleh variabel [Link] penelitian ini yang menjadi variabel

terikat atau dependen (Y) adalah nilai perusahaan. Menurut Harmono (2009:233),

nilai perusahaan adalah kinerja perusahaan yang dicerminkan oleh harga saham

yang dibentuk oleh permintaan dan penawaran pasar modal yang merefleksikan
32

penilaian masyarakat terhadap kinerja perusahaan. Nilai perusahaan diukur dapat

diukur menggunakan rumus Price to Book Value :

PBV Ratio =

3.5.2 Variabel Independen

Menurut Sugiyono (2017:39) menjelaskan bahwa variable independen

atau variable bebas merupakan variabel yang mempengaruhi variable dependen.

Dalam penelitian ini ada beberapa variable independent, diantaranya sebagai

berikut :

1) Struktur Modal

Struktur modal merupakan bentuk pendanaan untuk memenuhi kebutuhan

investasi dan kegiatan operasional perusahaan. Struktur modal yang optimal bagi

suatu perusahaan diartikan sebagai suatu struktur yang akan memaksimalkan

harga saham perusahaan tersebut. Strktur modal dapat diukur menggunakan

rumus berikut :

Debt Ratio =

2) Kebijakan Dividen

Kebijakan dividen adalah proporsi pembagian laba yang diperoleh

perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham perusahaan. Kebijakan

dividen berkaitan dengan kebijakan mengenai seberapa besar laba yang

diperoleh perusahaan akan didistribusikan kepada pemegang saham


33

(Sofyaningsih dan Hardiningsih, 2011). Kebijaka dividen dapat diukur dengan

rumus berikut :

Dividen Payout Ratio =

3) Profitabilitas

Profitabilitas merupakan suatu indikator kinerja yang dilakukan manajemen

dalam mengelola kekayaan perusahaan yang dapat dilihat dari laba yang

dihasilkan oleh perusahaan Rasio profitabilitas ini dapat diartikan sejauh mana

keefektifan dari keseluruhan manejemen dalam menciptakan keuntungan bagi

perusahaan. Profitabilitas dapat diukur menggunakan rumus berikut :

Return On Equity =

4) Tax Avoidance

Tax avoidance merupakan upaya penghindaran pajak yang dilakukan secara

legal dan aman bagi wajib pajak karena tidak bertentangan dengan ketentuan

perpajakan, dimana metode dan teknik yang digunakan cenderung

memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam undang-undang dan

peraturan perpajakan itu sendiri untuk memperkecil jumlah pajak yang terutang.

Tax Avoidance dapat diukur menggunakan rumus berikut :

Effective Tax Rate =


34

Tabel 3.1
Definisi Operasional Variabel

No Variabel Operasional Indikator Sumber

1 Nilai Nilai perusahaan (Kasmir,

Perusahaan adalah kinerja 2014)


PBV Ratio :
perusahaan yang
(Y)
dicerminkan oleh

harga saham..

2 Struktur . Struktur modal (Kasmir,

Modal ( X1 ) merupakan bentuk 2014)


Debt Equity Ratio :
pendanaan untuk

memenuhi kebutuhan

investasi dan kegiatan

operasional

perusahaan

3 Kebijakan Kebijakan dividen (Kasmir,

Dividen ( X2) adalah proporsi 2014)


Dividen Payout Ratio :
pembagian laba yang

diperoleh perusahaan

yang dibagikan kepada


35

para pemegang saham

perusahaan.

No Variabel Operasional Indikator Sumber

4 Profitabilitas Profitabilitas

( X3 ) merupakan suatu
ROE ( Return On Equity ) : (Kasmir,
indikator kinerja yang
2014)
dilakukan manajemen

dalam mengelola

kekayaan perusahaan

yang dapat dilihat dari

laba yang dihasilkan

oleh perusahaan

5 Tax Tax avoidance (Kasmir,

Avoidance merupakan upaya 2014)


Effective Tax Rate :
penghindaran pajak
( X4 )
yang dilakukan secara

legal dan aman bagi

wajib pajak karena

tidak bertentangan

dengan ketentuan

perpajakan.
36

3.6 Teknik Analisis

3.6.1 Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif merupakan gambaran atau deskripsi suatu data yang

dilihat dari jumlah data, range, nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata,

standar deviasi, variance, skewness (kemiringan distribusi), kurtosis dari sampel

penelitian (Ghozali, 2018:19). Penyajian statistik deskriptif bertujuan memberikan

gambaran atau pemahaman terkait karakteristik hubungan antar variabel yang

digunakan dalam penelitian diantaranya : struktur modal, kebijakan dividen,

profitabilitas, dan tax avoidance.

3.6.2 Uji Asumsi Klasik

Pengujian ini dilakukan untuk menguji kualitas data sehingga data

diketahui keabsahannya dan menghindari terjadinya estimasi bias. Pengujian

asumsi klasik ini menggunakan empat uji, yaitu uji normalitas, uji

multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi.

1) Uji Normalitas

Menurut Danang Sunyoto (2013:92), uji normalitas dilakukan untuk

menguji data variabel bebas (X) dan data variabel terikat (Y) pada persamaan

regresi yang dihasilkan nantinya berdistribusi normal atau tidak. Model regresi

yang baik adalah model regresi yang memiliki distribusi normal atau mendekati

normal, sehingga layak dilakukan pengujian secara statistik. Uji normalitas pada

penelitian ini menggunakan alat uji SPSS. Uji normalitas data dilakukan dengan
37

menggunakan Test Normality Kolmogorov-Smirnov, dasar pengambilan

keputusan dilakukan berdasarkan probabilitas (Asymtotic Significanted), yaitu:

1. Jika probabilitas > 0,05 maka distribusi dari model regresi dikatakan normal.

2. Jika probabilitas < 0,05 maka distribusi dari model regresi dikatakan tidak

normal.

2) Uji Multikolinearitas

Danang Sunyoto ( 2013 ) menjelaskan, uji multikolinearitas bertujuan

untuk menguji apakah terdapat korelasi antar variabel bebas (independen) pada

model regresi. Indikator model regresi yang baik ditandai dengan tidak

ditemukannya korelasi antar variabel independen Jika variabel independen saling

berkolerasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah

variabel independen yang nilai kolerasi antar sesama variabel independen sama

dengan nol. Uji multikolinearitas pada penelitian ini menggunakan alat uji SPSS.

Imam Ghozali ( 2013 ) mengungkapkan, cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya

multikolinearitas di dalam model regresi dapat dilihat dari beberapa hal indicator

berikut :

1. Jika R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat

tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel independen banyak yang

tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen.

2. Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen. Jika antar

variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya diatas 0,90),

maka hal ini mengindikasikan adanya multikolinearitas.


38

3. Multikolinearitas juga dapat dilihat dari : tolerance value dan lawannya

yakni, Variance Inflation Faktor (VIF). Tolerance mengukur variabilitas

variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel

independen lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF

tinggi (karena VIF=1/tolerance). Pengujian multikolinearitas dapat dilakukan

sebagai berikut:

 Tolerance value < 0,10 atau VIF > 10 : terjadi multikolinearitas.

 Tolerance value > 0,10 atau VIF < 10 : tidak terjadi multikolinearitas

3) Uji Heteroskedastisidas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan

yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain

tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut

heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau

tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2013). Uji heteroskedastisitas pada

penelitian ini menggunakan alat uji SPSS. Pengujian heteroskedastisitas dapat

dilakukan dengan uji Glejser. Dasar pengambilan keputusan uji Glejser yaitu:

1. Tidak terjadi heteroskedastisitas, jika nilai t hitung < t tabel dan nilai

signifikansi α > 0,05.

2. Terjadi heteroskedastisitas, jika nilai t hitung > t tabel dan nilai signifikansi α <

0,05.
39

4) Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier

berganda ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan periode

t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat masalah

autokorelasi. Autokorelasi terjadi apabila penyimpangan pada periode t-1

(sebelumnya) atau terjadi korelasi diantara kelompok observasi yang diurutkan

menurut waktu (pada data time series). Uji autokorelasi pada penelitian ini

menggunakan alat uji SPSS, dengan menggunakan uji Durbin-Watson, yakni

membandingkan nilai D-W dengan nilai d dari tabel Durbin Watson :

 Jika D-W < dL, kesimpulannya pada data terdapat autokorelasi positif

 Jika D-W > ( 4 – dL ) , kesimpulannya pada data terdapat autokorelasi

negative.

 Jika dU < D-W < ( 4 – dU ), kesimpulannya pada data tidak terdapat

autokorelasi

 Jika : dL  D-W  dU atau 4 – dU  D-W  ( 4 – dL ), berarti tidak ada

kesimpulan

5) Analisis Regresi Linear Berganda

Analisis regresi linier berganda merupakan suatu teknik statistika yang

digunakan untuk mencari persamaan regresi dengan tujuan meramal nilai variabel

dependen berdasarkan nilai-nilai variabel independen dan mencari kemungkinan

kesalahan serta menganalisa hubungan antara satu variabel dependen dengan dua

atau lebih variabel independen baik secara simultan maupun parsial. Analisis
40

regresi linier berganda digunakan untuk menguji apakah variabel independen

memiliki pengaruh terhadap variabel dependen secara simultan maupun parsial.

Pengujian analisis regresi linier berganda pada penelitian ini menggunakan alat uji

SPSS. Sugiyono ( 2015 : 276) mengungkapkan, analisis regresi linier berganda

dapat dirumuskan sebagai berikut :

Y = a + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4 + e

Keterangan :

Y = Nilai Perusahaan

a = Bilangan Konstanta

b1-b4 = Koefisien regresi

X1 = Struktur modal

X2 = Kebijakan Dividen

X3 = Profitabilitas

X4 = Tax Avoidance

e = Error

3.6.3 Pengujian Hipotesis

1) Koefisien Determinasi ( R2 )

Uji koefisien determinasi ( R2 ) bertujuan untuk mengukur sejauh mana

variabel bebas mampu menjelaskan variasi variabel terikat ( Ghozali, 2018 : 97).

Sehingga dalam penelitian ini, uji R2 nantinya akan menjelaskan kemampuan

variabel independen yaitu struktur modal, kebijakan dividen, profitabilitas,


41

berpengaruh terhadap variable dependen yaitu Nilai perusahaan. Nilai koefisien

determinasi yaitu antara 0 sampai dengan 1. Apabila nilai R2 mendekati 0, maka

kemampuan variable independen dalam menjelaskan variable dependen disebut

rendah, begitupun sebaliknya. Pengujian koefisian determinasi pada penelitian ini

dilakukan menggunakan alat uji SPSS.

2) Pengujian Hipotesis Secara Simultan (Uji F)

Uji f bertujuan untuk menggambarkan pengaruh variabel independen secara

bersama-sama terhadap variabel dependen. Uji F biasa disebut dengan Analysis

of varian (ANOVA). Ketentuan hasil hipotesis uji F adalah berupa level

signifikansi 5% dengan derajat kebebasan pembilang df = k dan derajat kebebasan

penyebut (df) = n-k-1 dimana k adalah jumlah variabel bebas. Uji F pada

penelitian ini dilakukan menggunakan alat uji SPSS. Adapun kriteria uji F dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut :

- Ha diterima apabila : signifikansi F > 0,05, yang artinya variabel independen

secara simultan tidak signifikan terhadap variabel dependen.

- H0 ditolak apabila : signifikasnsi F < 0,05, yang artinya pengaruh variabel

independen secara simultan berpengaruh secara signifikan terhadap variabel

dependen.

3) Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t)

Uji t adalah pengujian koefisien regresi masing-masing variabel independen

terhadap variabel dependen untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel

independen terhadap variabel dependen. . Uji T pada penelitian ini dilakukan


42

menggunakan alat uji SPSS. Adapun kriteria uji T hipotesis pada penelitian ini

adalah :

a. Pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan

- Ha1 : β ≤ 0,05, artinya struktur modal berpengaruh positif terhadap nilai

perusahaan.

- Ho1 : β ≥ 0,05, artinya struktur modal tidak berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

b. Pengaruh kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan

- Ha2 : β ≤ 0,05, artinya kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap nilai

perusahaan.

- Ho2 : β ≥ 0,05, artinya kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

c. Pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan

- Ha3 : β ≤ 0,05, artinya profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai

perusahaan.

- Ho3 : β ≥ 0,05, artinya profitabilitas tidak berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

d. Pengaruh Tax Avoidance terhadap nilai perusahaan

- Error! Bookmark not defined.Ha4 : β ≤ 0,05, artinya tax avoidance

berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.

- Ho4 : β ≥ 0,05, artinya tax avoidance tidak berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil dan Penelitian

4.1.1 Deskripsi Objek Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2016-2020 yang berjumlah 145 perusahaan.

Teknik penentuan sampel digunakan teknik purposive sampling yang merupakan

teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu (Hartono, 2013). Dalam

penelitian ini diperoleh sampel sebanyak 30 perusahaan. Adapun kriteria

penentuan sampel dapat diketahui pada tabel 4.1 berikut :

Tabel 4.1
Kriteria Penentuan Sampel

KRITERIA JUMLAH
Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
1 pada tahun 2016-2020 145
Perusahaan manufaktur yang tidak mempublikasikan laporan
2 keuangan secara konsisten pada tahun 2016-2020 (6)
Laporan keuangan perusahaan yang tidak menggunakan mata uang
3 Rupiah selama periode 2016 - 2020 (30)
4 Perusahaan yang mengalami rugi selama tahun 2016 - 2020 (50)
5 Perusahaan yang tidak membagikan dividen selama tahun 2016-2020 (28)
6 Perusahaan yang tidak memiliki kelengkapan data (1)
Jumlah Sampel Akhir 30
Tahun Pengamatan 5
Jumlah Pengamatan 150

Sumber: Data sekunder yang telah diolah, 2021

43
44

Dari tabel 4.1 diatas diperoleh sampel penelitian dari kriteria yang telah

ditetapkan sehingga diperoleh 30 sampel perusahaan dikalikan 5 (lima) tahun.

Sehingga didapatkan sampel sebanyak 150 perusahaan dengan periode dari tahun

2016-2020. Berikut tabel 4.2 daftar perusahaan sampel sebagai berikut :

Tabel 4.2
Daftar perusahaan sampel

NO KODE NAMA EMITEN


1 ARNA Arwana Citramulia Tbk
2 ASII Astra International Tbk
3 CINT Chitose Internasional Tbk
4 CPIN Charoen Pokphand Indonesia Tbk
5 DLTA Delta Djakarta Tbk
6 DPNS Duta Pertiwi Nusantara Tbk
7 DVLA Darya-Varia Laboratoria Tbk
8 EKAD Ekadharma International Tbk
9 FASW Fajar Surya Wisesa Tbk
10 HMSP H.M. Sampoerna Tbk
11 ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
12 IGAR Champion Pacific Indonesia Tbk
13 IMPC Impack Pratama Industri Tbk
14 INAI Indal Aluminium Industry Tbk
15 INTP Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
16 JPFA Japfa Comfeed Indonesia Tbk
17 KBLM Kabelindo Murni Tbk
18 KINO Kino Indonesia Tbk
19 KLBF Kalbe Farma Tbk
20 MYOR Mayora Indah Tbk
21 SCCO Supreme Cable Manufacturing & Commerce
22 SIDO Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk
23 SKLT Sekar Laut Tbk
24 SMBR Semen Baturaja (Persero) Tbk
25 SMGR Semen Indonesia (Persero) Tbk
26 SMSM Selamat Sempurna Tbk
27 TSPC Tempo Scan Pacific Tbk
28 ULTJ Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company
Tbk
45

29 UNVR Unilever Indonesia Tbk


30 WTON Wijaya Karya Beton Tbk
Sumber: Data sekunder yang telah diolah, 2021

4.1.2 Analisis Data

1) Statistik Deskriptif

Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif, maka pada tabel 4.1

ditampilkan karakteristik sampel yang digunakan di dalam penelitian ini yang

meliputi : jumlah sampel (N), nilai minimum, nilai maksimum, rata-rata sampel

(mean), serta standar deviasi dari masing-masing variabel yang digunakan dalam

penelitian ini meliputi: Struktur modal, kebijakan dividen, profitablitias, dan tax

avoidance.

Tabel 4.3
Statistik Deskriptif

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation


DER (X1) 150 .083 4.190 .76065 .779464
DPR (X2) 150 .000 3.995 .29818 .456113
ROE (X3) 150 .001 1.633 .19455 .268276
ETR (X4) 150 .012 2.195 .28615 .248314
PBV (Y) 150 .287 56.792 379.306 6.381.304

Sumber: Data Sekunder yang diolah, 2021

Tabel 4.3 menunjukkan hasil analisis struktur modal, kebijakan dividen,

profitabilitas, dan tax avoidance dengan penjelasan sebagai berikut :

1. Variabel Debt Equity Ratio (X1) dengan nilai terendah dimiliki oleh Industri

Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) dengan nilai 0,083 pada tahun

2016. Sedangkan nilai tertinggi diraih oleh PT. Indal Aluminium Industry
46

Tbk ( INAI ) dengan nilai 4,190 pada tahun 2016. Nilai rata-rata (mean) DER

sebesar 0,76065 dengan standar deviasi sebesar 0,779464. Nilai rata-rata

(mean) DER lebih kecil dari standar deviasi dapat dikatakan kurang baik

karena sebaran data tidak merata, yang disebabkan perbedaan data satu

dengan yang lainnya lebih besar dari nilai rata-rata.

2. Variabel Deviden Payout Ratio (X2) dengan nilai terendah dimiliki oleh PT.

Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) dengan nilai 0,001 pada tahun 2016.

Sedangkan nilai tertinggi diraih oleh oleh PT. Unilever Indonesia Tbk

(UNVR) dengan nilai 3,995 pada tahun 2019. Nilai rata-rata (mean) DPR

sebesar 0,29818 dengan standar deviasi sebesar 0,456113. Nilai rata-rata

(mean) DPR lebih kecil dari standar deviasi dapat dikatakan kurang baik

karena sebaran data tidak merata, yang disebabkan perbedaan data satu

dengan yang lainnya lebih besar dari nilai rata-rata.

3. Variabel Profitabilitas (X3) dengan nilai terendah dimiliki oleh Chitose

Internasional Tbk (CINT) dengan nilai 0,001 pada tahun 2020. Sedangkan

nilai tertinggi diraih oleh oleh PT. Kalbe Farma Tbk ( KLBF ) dengan nilai

1,633 pada tahun 2018. Nilai rata-rata (mean) ROE sebesar 0,19455 dengan

standar deviasi sebesar 0,268276. Nilai rata-rata (mean) ROE lebih kecil dari

standar deviasi dapat dikatakan kurang baik karena sebaran data tidak merata,

yang disebabkan perbedaan data satu dengan yang lainnya lebih besar dari

nilai rata-rata.

4. Variabel Effective Tax Rate (X4) dengan nilai terendah dimiliki oleh PT.

Kabelindo Murni Tbk (KBLM) dengan nilai 0,012 pada tahun 2017.
47

Sedangkan nilai tertinggi diraih oleh oleh PT. Delta Djakarta Tbk (DLTA)

dengan nilai 2,195 pada tahun 2018. Nilai rata-rata (mean) ETR sebesar

0,28615 dengan standar deviasi sebesar 0,248314. Nilai rata-rata (mean) DPR

lebih besar dari standar deviasi dapat dikatakan baik karena itu artinya data

tersebar secara merata .

5. Variabel Price to Book Value (Y) dengan nilai terendah dimiliki oleh PT.

Kabelindo Murni Tbk (KBLM) dengan nilai 0,287 pada tahun 2020.

Sedangkan nilai tertinggi diraih oleh oleh PT. Unilever Indonesia Tbk

(UNVR) dengan nilai 56.7 pada tahun 2020. Nilai rata-rata (mean) Y sebesar

379,30 dengan standar deviasi sebesar 6.381,304. Nilai rata-rata (mean) PBV

lebih kecil dari standar deviasi dapat dikatakan kurang baik karena sebaran

data tidak merata, yang disebabkan perbedaan data satu dengan yang lainnya

lebih besar dari nilai rata-rata.

2) Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik bertujuan untuk mengetahui apakah data pada penelitian ini

sudah memenuhi syarat model regresi yang baik. Uji asumsi klasik diantaranya

dilakukan dengan uji normalitas, uji multikolieritas, uji heteroskedastisitas, dan

uji korelasi.

a) Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel

pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak (Ghozali, 2016).

Penelitian ini menggunakan analisis statistik Kolmogorov-Smirnov pada

residual persamaan dengan kriteria pengujian adalah jika probability value >
48

0,05 maka data terdistribusi normal dan jika probability < 0,05 maka data

terdistribusi tidak normal. Berikut disajikan hasil uji normalitas data penelitian

model penelitian yang pertama adalah:

Tabel 4.4
Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Unstandardized
Residual
N 150
Mean .0000000
Normal Parametersa
Std. Deviation 392.776.670
Absolute .207
Most Extreme
Positive .207
Differences
Negative -.196
Kolmogorov-Smirnov Z 2.532
Asymp. Sig. (2-tailed) .000
Sumber : Data Sekunder yang diolah, 2021

Hasil uji normalitas berdasarkan tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa data

variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdistribusi tidak normal

dibuktikan dengan nilai signifikasi yang terlihat dari nilai asymp. sig. yang lebih

kecil dari tingkat signifikasi penelitian 0,05 (α < 0,05) yaitu sebesar 0,000 yang

berarti data tidak terdistribusi normal.

Data yang tidak normal, bisa disebabkan karena distribusi data yang tidak

normal atau karena varians datanya yang tidak homogen. Minimal terdapat dua

pendekatan yang dapat digunakan dalam memperlakukan sebuah data yang tidak

normal (Ghozali, 2006: 151), yakni melakukan transformasi data atau alternatif

lain dengan mengurangi jumlah data, yaitu data-data yang dinilai ekstrim

(outlier). Model penelitian yang melanggar kriteria uji asumsi klasik, maka perlu
49

mendapat pengobatan. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah mengubah

model regresi ke dalam bentuk semi-log. Dimana variable dependen ( Y ) diubah

kedalam bentuk logaritma (Ln) namun variabel independennya tetap, atau

sebaliknya semua variable independent (X) diubah kedalam bentuk logartima

Ln) namun variable dependen ( Y ) bernilai tetap.

Pada penelitian ini, peneliti mengubah variable dependen ( X ) kedalam

bentuk logaritma. Hasil yang didapat setelah dilakukan transformasi data adalah

sebagai berikut :

Tabel 4.5
Uji Normalitas Setelah Tranformasi Semi Log

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Unstandardized
Residual
N 150
Mean .0000000
Normal Parametersa
Std. Deviation .73031480
Absolute .051
Most Extreme Differences Positive .037
Negative -.051
Kolmogorov-Smirnov Z .630
Asymp. Sig. (2-tailed) .823
Sumber : Data Sekunder yang diolah, 2021

Setelah dilakukan pengobatan menggunakan transformasi semi log, hasil

data uji Kolmogorov-Smirnov memiliki nilai signifikan 0,823. Berdasarkan hasil

tersebut menunjukkan data telah berdistribusi normal. Hal ini ditunjukkan

dengan hasil uji Kolmogorov-Smirnov yang menunjukkan tingkat signifikansi

lebih besar dari 0,05, maka data dapat digunakan dalam pengujian dengan model

regresi karena model regresi yang baik adalah regresi yang mengasumsikan
50

bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar

maka uji statistik tidak valid untuk jumlah sampel kecil (Ghozali, 2016).

b) Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik

seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Pengujian ini

dilakukan dengan menggunakan tolerance value dan variance inflation factor

(VIF), nilai tolerance tidak ada yang kurang dari 0.10 dan nilai VIF tidak ada

yang lebih dari 10 maka dapat dikatakan tidak terjadi multikolonieritas yang

serius (Ghozali, 2016). Hasil uji multikolonieritas untuk model penelitian ini

dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.6
Uji Multikolinieritas

Unstandardized Standardized Collinearity


Coefficients Coefficients Statistics
Model t Sig.
Std.
B Beta Tolerance VIF
Error
(Constant) .491 .116 4.242 .000
-
DER (X1) -.180 .087 -.146 .041 .798 1.253
1 2.062
DPR (X2) .193 .141 .091 1.366 .174 .888 1.126
ROE (X3) 2.367 .267 .660 8.860 .000 .716 1.396
ETR (X4) -.227 .245 -.058 -.925 .356 .995 1.005

Sumber : Data Sekunder yang diolah, 2021

Berdasarkan hasil pada Tabel 4.6 dapat dijelaskan bahwa hasil uji

multikolonieritas menunjukkan nilai VIF (variane inflation factor) dibawah 10

dan nilai tolerance di atas 0,10. Hasil perhitungan nilai Tolerance variabel
51

struktur modal, kebijakan dividen, profitabilitas dan tax avoidance masing –

masing menunjukkan hasil lebih dari 0,10 yaitu 0,798, 0,888, 0,7716, 0,995.

Hasil perhitungan nilai Variance Inflation Factor (VIF) sebesar 1,253, 1,126,

1,396 , dan 1,005, dengan tidak ditemukannya variabel independen yang

memiliki VIF lebih dari 10 , sehingga dapat dijelaskan model regresi pada

penelitian ini terbebas dari masalah multikolonieritas.

c) Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk melihat apakah terdapat

ketidaksamaan varians dari residual satu ke pengamatan ke pengamatan yang

lain. Model regresi yang baik adalah yang Homoskesdatisitas atau tidak terjadi

Heteroskesdatisitas (Ghozali, 2006: 125). Hasil uji heteroskedastisitas untuk

model penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.7
Uji Heteroskedastisitas ( Uji Glejser )

Unstandardized Standardized
Model Coefficients Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
(Constant) .628 .067 9.348 .000
DER (X1) -.065 .051 -.119 -1.284 .201
1 DPR (X2) -.046 .082 -.049 -.562 .575
ROE (X3) .084 .155 .053 .539 .591
ETR (X4) .032 .142 .019 .225 .822

Sumber : Data Sekunder yang diolah, 2021

Berdasarkan pada Tabel 4.7 di atas, dapat dilihat bahwa nilai Sig dari semua

variabel berada pada nilai diatas 0,05, yang menunjukkan bahwa tidak ada

satupun variabel independen yang signifikan secara statistik mempengaruhi


52

variabel dependen nilai Absolut. Berarti pada penelitian ini, tidak terjadi

heteroskedastisitas.

d) Uji Auto korelasi

Uji autokolerasi bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi

liniear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan

kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya) (Ghozali, 2016). Model

regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autolerasi. Pengujian

autokolerasi di dalam penelitian ini menggunakan uji Durbin-Watson (DW test)

dengan membandingkan Durbin Watson hitung dengan Durbin Watson tabel

dengan ketentuan:

Tabel 4.8
Penilaian Durbin Watson (DW)

Hipotesis nol Keputusan Jika

Tidak ada autokolerasi positif Tolak 0 < d < dl


Tidak ada
Tidak ada autokolerasi positif dl ≤ d ≤ du
keputusan
Tidak ada kolerasi negatif Tolak 4-dl < d < 4
Tidak ada 4-du ≤ d ≤ 4-
Tidak ada kolerasi negatif
keputusan dl
Tidak ada autokoleasi postif atau negatif Tidak ditolak du < d < 4-du
Sumber : Ghozali, 2016

Berdasarkan tabel 4.8 penilaian durbin watson (DW test). Berikut ini hasil

dari pengujian autokolerasi yang dilakukan dengan penilaian DW adalah sebagai

berikut :
53

Tabel 4.9
Uji Auto Korelasi

Std.
R Adjusted Error of Durbin-
Model R
Square R Square the Watson
Estimate
1 .651a 0.424 0.408 0.74009 0.644

Sumber: Data Sekunder yang diolah, 2021

Jika nilai Durbin Watson pada table 4.9 dimasukkan kedalam rumus du ≤

d ≤ 4 – du, dengan jumlah variable indepen 4 (k=4) dan jumlah sampel data n =

150, maka diperoleh hasil 1,7881 > 0,644 < 2,2119 yang berarti terdapat masalah

autokorelasi. Maka, peneliti mengatasi autokorelasi ini dengan metode Cochrane-

Orcutt sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4.10
Uji Auto Korelasi Menggunakan Metode Cochrane-Orcutt

R Adjusted R Std. Error of Durbin-


Model R
Square Square the Estimate Watson
1 .645a .417 .400 .53469 1.950

Sumber : Data sekunder yang diolah, 2021

Hasil regresi dengan nilai signifikansi 0,05 (α = 0,05), jumlah variabel

independen 4 (k = 4) dan jumlah sampel data n = 150. Berdasarkan pada tabel

4.9 diatas hasil uji autokorelasi menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson

sebesar 1,950 dan nilai du = 1,7881. Hasil uji autokorelasi dengan metode

Durbin-Watson berada antara du = 1,7881 dan 4-du = 2,2119 yang berada pada

kisaran du ≤ d ≤ 4 - du (1,7881 ≤ 1,950 ≤ 2,2119 ). Hal ini berarti tidak ada


54

autokoleasi postif atau negatif, artinya bahwa seluruh variabel terbebas dari

masalah autokorelasi.

3) Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji apakah variabel

independen memiliki pengaruh terhadap variabel dependen secara simultan

maupun parsial. Berikut merupakan hasil uji persamaan regresi menggunakan

SPSS :

Tabel 4.11
Analisis Linier Berganda

Unstandardized Standardized
t Sig.
Coefficients Coefficients
Model
Std.
B Beta
Error
(Constant) .491 .116 4.242 .000
DER (X1) -.180 .087 -.146 -2.062 .041
1 DPR (X2) .193 .141 .091 1.366 .174
ROE (X3) 2.367 .267 .660 8.860 .000
ETR (X4) -.227 .245 -.058 -.925 .356

Sumber : Data sekunder yang diolah, 2021

Berdasarkan table 4.10 diatas, hasil pengolahan data dengan spss maka diperoleh

persamaan regresi akhir sebagai berikut :

Y = a – 0,180X1 + 0,193X2 + 2,367X3 + 0,227X4 +e

Dari hasil persamaan regresi diatas maka dapat dianalisis sebagai berikut:

1. Konstanta (Y) PBV sebesar 0.491, jika variabel independen dianggap sama

dengan nol atau konstan, maka besaran nilai perusahaan ( PBV ) akan

mengalami kenaikan sebesar 0,491.


55

2. Nilai koefisien dari struktur modal (X1) sebesar -0,180 bernilai negatif, hal

ini menunjukkan jika struktur modal naik satu kesatuan dapat menurunkan

nilai perusahaan sebesar 0,181 dengan asumsi variabel lainnya tetap.

3. Nilai koefisien dari kebijakan dividen (X2) sebesar 0,193 bernilai positif,

hal ini menunjukkan jika kebijakan dividen naik satu kesatuan dapat

menaikkan nilai perusahaan sebesar 0,193 dengan asumsi variabel lainnya

tetap.

4. Nilai koefisien dari profitabilitas (X3) sebesar 2,367 bernilai positif, hal ini

menunjukkan jika profitabilitas naik satu kesatuan dapat menaikkan nilai

perusahaan sebesar 2,367 dengan asumsi variabel lainnya tetap.

5. Nilai koefisien dari tax avoidance (X4) sebesar -0,227 bernilai negatif, hal

ini menunjukkan jika tax avoidance naik satu kesatuan dapat menurunkan

nilai perusahaan sebesar 0,227 dengan asumsi variabel lainnya tetap.

4.1.3 Pengujian Hipotesis

1) Koefisien Determinasi ( R2 )

Uji R2 nantinya akan menjelaskan kemampuan variabel independen yaitu

struktur modal, kebijakan dividen, profitabilitas, dan tax avoidance berpengaruh

terhadap variable dependen yaitu Nilai perusahaan. Adapun hasil koefisien

determinasi (R2) dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.12
Uji Koefisien Determinasi
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square
Square Estimate
1 .651a .424 .408 .74032
56

Sumber : Data sekunder yang diolah, 2021

Menurut hasil tabel 4.11 dapat diketahui nilai adjusted adalah sebesar 0,408

atau 40,8%. Hal ini dapat diartikan bahwa variable struktur modal, kebijakan

dividen, profitabilitas, dan tax avoiadance berpengaruh terhadap nilai

perusahaan sebesar 40,8% sedangkan 59,2 % dipengaruhi oleh variabel lainnya.

2) Pengujian Hipotesis Secara Simultan (Uji F)

Uji F bertujuan untuk menggambarkan pengaruh variabel independen secara

bersama-sama terhadap variabel dependen. Peneliti melakukan uji F dengan

menggunakan uji anova. Adapun hasil uji F dapat dilihat pada table berikut :

Tabel 4.13
Uji F
Sum of Mean
Model df F Sig.
Squares Square
Regression 58.469 4 14.617 26.670 .000a
1 Residual 79.471 145 .548
Total 137.939 149

Sumber : Data sekunder yang diolah, 2021


Pada table 4.12 diatas menunjukan nila F sebesar 26,670 dengan signifikansi

0.000 atau lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa struktur modal,

kebijakan dividen, profitabilitas, dan tax avoidance secara bersama - sama

berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

3) Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t)

Uji t adalah pengujian koefisien regresi masing-masing variabel independen

terhadap variabel dependen untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel


57

independen terhadap variabel dependen. Adapun hasil uji T dapat dilihat dari tabel

berikut :

Tabel 4.14
Uji T
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model t Sig.
Std.
B Beta
Error
1 (Constant) .491 .116 4.242 .000
DER (X1) -.180 .087 -.146 -2.062 .041
DPR (X2) .193 .141 .091 1.366 .174
ROE (X3) 2.367 .267 .660 8.860 .000
ETR (X4) -.227 .245 -.058 -.925 .356

Sumber : Data sekunder yang diolah, 2021


Berdasarkan pengujian tersebut diperoleh penjelasan hasil pengujian tersebut

yaitu sebagai berikut :

1. Hipotesis Pertama (H1) : Struktur modal berpengaruh positif terhadap Nilai

Perusahaan. DER pada tabel diatas menunjukan nilai signifikansi 0,041

dengan arah negatif, dimana p value < α(0,041 < 0,05). Maka dapat

disimpulkan bahwa stuktur modal berpengaruh negatif terhadap nilai

perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak.

2. Hipotesis Kedua (H2) : Kebijakan Dividen berpengaruh positif terhadap Nilai

Perusahaan. Nilai signifikansi DPR pada tabel diatas adalah 0,174. Artinya p

value > α (0,174 > 0,05). Maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan dividen
58

tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa H 0

diterima dan H1 ditolak.

3. Hipotesis Ketiga (H3) : Profitabilitas berpengaruh positif terhadap Nilai

Perusahaan. ROE pada tabel diatas menunjukan nilai signifikansi 0,000

dengan arah positif, artinya p value < α (0,000 < 0,05). Maka dapat

disimpulkan bahwa Profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai

perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima.

4. Hipotesis Keempat (H4) : Tax Avoidance tidak berpengaruh terhadap Nilai

Perusahaan. ETR pada tabel diatas menunjukan nilai signifikansi 0,356.

Artinya p value > α (0,356 > 0,05). Maka dapat disimpulkan bahwa Tax

Avoidance tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan

bahwa H0 diterima dan H1 ditolak.

4.1.4 Pembahasan Hasil Penelitian

1) Pengaruh Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan

Hasil analisis data yang telah dilakukan dalam penelitian ini membuktikan

bahwa hipotesis pertama (H1) ditolak. Hasil menunjukkan struktur modal

berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. DER pada tabel 4.13 menunjukan

nilai signifikansi 0,041 dengan arah negatif, dimana p value < α (0,041 < 0,05).

Maka dapat disimpulkan bahwa stuktur modal berpengaruh negatif terhadap nilai

perusahaan.

Signalling theory mengatakan bahwa nilai DER yang tinggi akan menjadi

good news ( sinyal baik ) bagi investor untuk berinvestasi. Karena nilai DER yang

tinggi dapat mengatasi rasa khawatir investor akan risiko gagal bayar perusahaan
59

dalam membiyai hutangnya dan meningkatkan rasa kepercayaan investor untuk

menanamkan modalnya sehingga mampu meningkatkan permintaan saham dan

harga saham yang kemudian berpengaruh terhadap meningkatnya nilai

perusahaan. Namun, DER yang tinggi juga menunjukkan tingginya

ketergantungan permodalan atau hutang perusahaan terhadap pihak luar. Investor

beranggapan bahwa semakin tinggi beban hutang perusahaan dikhawatirkan akan

menggerus laba perusahaan yang nantinya akan mempengaruhi profit yang

diharapkan. Menurunnya minat investor inilah menyebabkan turunnya harga

saham diikuti dengan menurunnya nilai perusahaan. Maka, secara tidak langsung

DER mampu menurunkan nilai perusahaan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Sari & Priyadi (2016),

Wafirotin et al. (2012), Lisda & Kusmayanti (2021) yang menyatakan bahwa

struktur modal berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Namun, tidak

sejalan dengan penelitian Sucipto, Edy & Sudiyatno (2018) yang menyatakan

struktur modal tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

2) Pengaruh Kebijakan Deviden terhadap Nilai Perusahaan

Hasil analisis data yang telah dilakukan dalam penelitian ini membuktikan

bahwa hipotesis kedua (H2) ditolak, yang berarti bahwa kebijakan dividen tidak

berpengaruh terhadap nilai perusahaan. DPR pada tabel 4.13 menunjukan nilai

signifikansi 0,174, artinya p value > α (0,174 > 0,05). Maka dapat disimpulkan

bahwa kebijakan deviden tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Teori sinyal mengatakan bahwa tingkat pembagian dividen yang tinngi

merupakan bentuk good news ( sinyal baik ) bagi investor karena mencerminkan
60

bahwa arus kas masa depan perusahaan dianggap cukup untuk menanggung

dividen yang tinggi, sehingga berpengaruh terhadap meningkatnya nilai

perusahaan. Namun, pembagian dividen bukanlah satu satunya sumber

keuntungan bagi para investor. Ketika berinvestasi terdapat 2 sumber keuntungan

/ laba bagi investor, yakni dividen dan capital gain. Capital gain merupakan

keuntungan yang diperoleh investor sehubungan dengan penjualan saham di pasar

sekunder yang dilakukan, dengan kondisi harga jualnya di atas harga beli. Apapun

cara yang dipilih investor sebenarnya tergantung dengan kebutuhan. Namun,

untuk masa sekarang ini banyak investor yang lebih focus mencari keuntungan

melalui capital gain dari pada pembagian dividen dengan alasan lebih cepat

mendapat profit karena semua keputusan berada di tangan investor langsung.

Misalnya, ketika harga saham perusahaan naik dari harga beli, kemudian investor

menjual kembali saham tersebut maka saat itulah meraka mendapat keuntungan

atau capital gain. Berbeda dengan dividen, dimana investor harus menunggu

diumumkannya kapan dan berapa persentase pembagian dividen yang akan

dilakukan oleh perusahaan dari hasil RUPS untuk mendapat keuntungan, dan

belum tentu setiap tahun perusahaan tesebut membagikan dividennya. Hasil

penelitian Lisa Kustina et al., (2019) menyebutkan bahwa kebijakan dividen tidak

berpengaruh terhadap harga saham, namun capital gain berpengaruh signifikan

meningkatkan harga saham karena mampu menarik minat investor. Harga saham

yang tinggi mampu meningkatkan nilai perusahaan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Septariani (2017) dan Nohuz et

al., (2014) yakni kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
61

Namun, tidak sejalan dengan penelitian Sucipto, Edy & Sudiyatno (2018) serta

Rai Prastuti & Merta Sudiartha (2016) yang menyatakan bahwa kebijakan dividen

berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

3) Pengaruh Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan

Hasil analisis data yang telah dilakukan dalam penelitian ini membuktikan

bahwa hipotesis ketiga (H3) diterima yang berarti bahwa Profitabilitas

berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. ROE pada tabel 4.13 menunjukan

nilai signifikansi 0,000 dengan arah positif , artinya p value < α (0,000 < 0,05).

Sehingga disimpulkan variabel Profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai

perusahaan.

Signalling theory menjelaskan tingginya nilai ROE mampu menjadi sinyal

positif bagi para investor. Return On Equity (ROE) mencerminkan kemampuan

perusahaan untuk memperoleh laba dari modal yang digunakan untuk

menghasilkan laba tersebut. Perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas yang

tinggi dikaitkan dengan mampunya perusahaan tersebut dalam memanfaatkan

sumber daya atau aset ataupun modal yang dimiliki perusahaan untuk

menghasilkan laba, sehingga menarik minat investor untuk menanamkan saham

yang kemudian berpengaruh meningkatkan nilai perusahaan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Martha et al., (2018), Lisda &

Kusmayanti ( 2021), Tiasrini & Utiyati ( 2020), Sucipto, Edy & Sudiyatno (2018)

yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai


62

perusahaan. Namun, tidak sejalan dengan penelitian Manoppo & Arie (2016) yang

menyatakan profitabilitas tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

4) Pengaruh Tax Avoidance Modal terhadap Nilai Perusahaan

Hasil analisis data yang telah dilakukan dalam penelitian ini membuktikan

bahwa hipotesis ketiga (H4) ditolak yang berarti bahwa Tax Avoidance tidak

berpengaruh terhadap nilai perusahaan. ETR pada tabel 4.13 menunjukan nilai

signifikansi 0,356. Artinya p value > α (0,356 > 0,05). Maka dapat disimpulkan

bahwa Tax Avoidance tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Teori sinyal menyatakan bahwa praktik tax voidance yang terlalu tinggi dapat

menurunkan minat investor . Investor menangkap sinyal buruk atas dilakukannya

praktik ini sebagai indikasi manipulasi yang mengurangi akurasi laporan

keuangan yang disajikan. Berkurangnya akurasi informasi yang disajikan akan

berdampak pada menurunnya minat investor dan harga saham yang kemudian

akan berpengaruh terhadap turunnya nilai perusahaan. Namun, hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa praktik tax avoidance tidak berpengaruh terhadap

menurunnya nilai perusahaan. Dengan kata lain, investor cenderung tidak terlalu

memperhatikan perihal perencanaan/penghindaran pajak yang dilakukan

perusahaan ketika hendak melakukan analisis investasi. Itu artinya, masih ada

aspek penting lain yang menjadi focus utama para investor sebagai bahan

pertimbangan sebelum melakukan kegiatan investasi, Misalnya seperti lebih

mementingkan nilai rasio profitabilitas yang sangat jelas kaitannya dengan laba /

keuntungan yang mereka harapkan. Selain itu, terlihat dari kecilnya nilai ETR

perusahaan manufaktur pada penelitian ini yakni dibawah 1, yang artinya kadar
63

praktik tax avoidance yang sedang dilakukan perusahaan tergolong tinggi. Hal ini

dapat disebabkan pihak manajemen yang beranggapan bahwa praktik ini

merupakan alternatif terbaik guna meminimalisir beban pajak tanpa harus

melanggar aturan perpajakan pemerintah dan menimbulkan efek negatif lainnya

yang dikhawatirkan akan berimbas kepada perusahaan termasuk menurunnya

harga saham dan nilai perusahaan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Sugiono (2020), Septyaningrum

(2020), dan Yuliem (2018) yang menyatakan bahwa tax avoidance tidak

berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Namun, tidak sejalan dengan hasil

penelitian Violeta & Serly (2020) dan Harventy (2016) yang menyebutkan bahwa

tax avoidance berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.


BAB V

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis data dengan menggunakan uji

asumsi klasik, analisis regresi linear berganda, dan pengujian hipotesis, maka

dapat disimpulkan hasil pembahasan dari pengujian hipotesis mengenai pengaruh

variabel independen yaitu struktur modal yang diukur Debt Equity Ratio (DER),

kebijakan dividen yang diukur dengan Deviden Payout Ratio ( DPR ),

profitabilitas yang diukur dengan Return On Equity (ROE) dan Tax Avoidance

yang diukur dengan Effective Tax Rate ( ETR) terhadap variabel dependen yaitu

Nilai Perusahaan yang diukur oleh Price to Book Value (PBV) menunjukan

bahwa:

1. Struktur Modal berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Nilai Perusahaan

(PBV) pada perusahaan sektor manufaktur tahun 2016-2020. DER yang tinggi

juga menunjukkan tingginya ketergantungan permodalan atau hutang

perusahaan terhadap pihak luar, sehingga beban semakin berat dan

dikhawatirkan mampu menggerus laba yang akan diberikan kepada investor

sehingga menyebabkan turunnya harga saham diikuti dengan menurunnya nilai

perusahaan. Sehingga secara tidak langsung DER mampu menurunkan nilai

perusahaan.

64
65

2. Kebijakan Dividen tidak berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan (PBV) pada

perusahaan sektor manufaktur tahun 2016-2020. Pembagian dividen bukanlah

satu satunya sumber keuntungan bagi para investor. Untuk masa sekarang ini

banyak investor yang lebih focus mencari keuntungan melalui capital gain dari

pada pembagian dividen dengan alasan lebih cepat mendapat profit karena

semua keputusan berada di tangan investor langsung. Berbeda dengan dividen,

dimana investor harus menunggu diumumkannya kapan dan berapa persentase

pembagian dividen yang akan dilakukan oleh perusahaan dari hasil RUPS

untuk mendapat keuntungan, dan belum tentu setiap tahun perusahaan tesebut

membagikan dividennya.

3. Profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Nilai Perusahaan

(PBV) pada perusahaan sektor manufaktur tahun 2016-2020. Return On Equity

(ROE) mencerminkan kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dari

modal yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Perusahaan yang

memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi dikaitkan dengan mampunya

perusahaan tersebut dalam memanfaatkan sumber daya atau aset ataupun

modal yang dimiliki perusahaan untuk menghasilkan laba. Semakin tinggi

profitabilitas maka semakin tinggi nilai perusaaan.

4. Tax Avoidance tidak berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan (PBV) pada

perusahaan sektor manufaktur tahun 2016-2020. Investor cenderung tidak

terlalu memperhatikan perihal perencanaan/penghindaran pajak yang dilakukan

perusahaan ketika hendak melakukan analisis investasi. Itu artinya, masih ada

aspek penting lain yang menjadi focus utama para investor sebagai bahan
66

pertimbangan sebelum melakukan kegiatan investasi, Misalnya seperti lebih

mementingkan nilai rasio profitabilitas yang sangat jelas kaitannya dengan

laba / keuntungan yang mereka harapkan. Selain itu, terlihat dari kecilnya nilai

ETR perusahaan manufaktur pada penelitian ini yakni dibawah 1, yang artinya

kadar praktik tax avoidance yang sedang dilakukan perusahaan tergolong

tinggi. Hal ini dapat disebabkan pihak manajemen yang beranggapan bahwa

praktik ini merupakan alternatif terbaik guna meminimalisir beban pajak tanpa

harus melanggar aturan perpajakan pemerintah dan menimbulkan efek negatif

lainnya yang dikhawatirkan akan berimbas kepada perusahaan termasuk

menurunnya harga saham dan nilai perusahaan.

5.2 Implikasi
Berdasarkan kesimpulan diatas maka saran dalam penelitian selanjutnya

yaitu, sebagai berikut :

1. Bagi Perusahaan

Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat menjadi refleksi bagi

manajemen perusahaan untuk dapat mengevaluasi, memperbaiki dan

meningkatkan kinerjanya di masa yang akan datang dengan senantiasi tepat

waktu dalam mempublikasikan laporan keuangan agar semakin banyak

menarik investor untuk berinvestasi pada perusahaan.

Selain itu, diharapkan manajemen perusahaan agar selalu memberikan

informasi yang bersifat material dan relevan mengenai perusahaan terutama

pada laporan keuangan yang harus bersifat objektif, relevan dan dapat diuji

keabsahannya sehingga pihak investor tepat dalam mengambilan keputusan

berinvestasi.
67

2. Bagi Investor

Bagi para investor maupun calon investor seharusnya memperhatikan lagi

faktor – faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan, salah satunya dengan

cara melakukan analisis fundamental atas laporan keuangan perusahaan

sebelum berinvestasi.

5.3 Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan hasil penelitian ini adalah besarnya nilai Adjusted R Square

yang masih dibawah 50% yaitu 0,408 atau 40,8%. Sehingga dari hasil tersebut

nilai Adjusted R Square belum bisa dikatakan sangat baik. Nilai tersebut

menerangkan bahwa variabel struktur modal, kebijakan dividen, profitabilitas

dan tax aoidance mempunyai peranan sebesar 40,8% sedangkan sisanya 59,2%

dipengaruhi oleh variabel lain diluar model penelitian ini.

5.4 Agenda Penelitian yang Akan Datang

Dengan adanya keterbatasan penelitian diatas, maka penelitian selanjutnya

perlu dilakukan perbaikan agar hasilnya menjadi lebih baik maka untuk penelitian

selanjutnya perlu menambahkan variabel lain yang mempengaruhi nilai

perusahaan di luar variabel yang diteliti agar dapat menghasilkan hasil penelitian

yang lebih optimal dan variatif. Misalnya, ukuran perusahaan, ROA, CSR, Good

Corporate Governance, dan lain lain.


DAFTAR PUSTAKA

Adeline, H., & Jogi, Y. (2019). Pengaruh Penerapan Corporate Governance


Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kinerja Keuangan Sebagai Variabel
Mediasi. Diponegoro Journal of Accounting, 8(4), 181–192.

Antula, J. C., & Rate, P. Van. (2018). Pengaruh Manajemen Laba Dan Earnings
Per Share Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Makanan Dan Minuman
Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2015. Jurnal EMBA:
Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi, 5(3), 3262–3271.
[Link]

Apsari, L., & Setiawan, P. E. (2018). Pengaruh Tax Avoidance terhadap Nilai
Perusahaan dengan Kebijakan Dividen sebagai Variabel Moderasi. E-Jurnal
Akuntansi, 23, 1765. [Link]

Dewi, N. K. T. S., & Dana, I. M. (2017). pengaruh growth opportunity, likuiditas,


non-debt tax shield dan fixed asset ratio terhadap struktur modal Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, Bali, Indonesia. E-Jurnal
Manajemen Unud, 6(2), 772–801.

Fahmi, M., & Prayoga, M. D. (2018). Pengaruh Manajemen Laba terhadap Nilai
Perusahaan dengan Tax Avoidance sebagai Variabel Mediating. Liabilities
(Jurnal Pendidikan Akuntansi), 1(3), 225–238.
[Link]

Harventy, G. (2016). Pengaruh Tax Avoidance. Jurnal Reviu Akuntansi Dan


Keuangan, 6(2), 895–906.

68
69

Lisda, R., & Kusmayanti, E. (2021). Pengaruh Struktur Modal Dan Profitabilitas
Terhadap Nilai Perusahaan. Land Journal, 2(1), 87–94.
[Link]

Mahaetri, K. K., & Muliati, N. K. (2020). Pengaruh Tax Avoidance Terhadap


Nilai Perusahaan Dengan Good Corporate Governance Sebagai Variabel
Moderasi. Hita Akuntansi Dan Keuangan Universitas Universitas Hindu
Indonesia, 1(1), 436–464.

Martha, L., Sogiroh, N. U., Magdalena, M., Susanti, F., & Syafitri, Y. (2018).
Profitabilitas Dan Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal
Benefita, 3(2), 227. [Link]

Muharramah, R., & Hakim, M. Z. (2021). Pengaruh Ukuran Perusahaan,


Leverage, Dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan. 5(7), 569–576.
[Link]

Nurhasanatang, S., Taufik, T., & Azlina, N. (2020). Pengaruh kebijakan dividen,
kebijakan leverage, keputusan investasi dan manajemen laba terhadap nilai
perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI tahun 2015-2018. Sorot,
15(1), 13. [Link]

Oktiwiati, E. Dela, & Nurhayati, M. (2020). Pengaruh Profitabilitas, Struktur


Modal, Dan Keputusan Investasi Terhadap Nilai Perusahaan (Pada Sektor
Farmasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013-2017). Mix
Jurnal Ilmiah Manajemen, 10(2), 196.
[Link]

Ovami, D. C., & Nasution, A. A. (2020). Pengaruh Kebijakan Dividen Terhadap


Nilai Perusahaan yang Terdaftar dalam Indeks LQ 45. Owner (Riset Dan
Jurnal Akuntansi), 4(2), 331. [Link]
70

Pasaribu, M., Topowijono, T., & Sulasmiyati, S. (2016). Pengaruh Struktur


Modal, Struktur Kepemilikan Dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan
Pada Perusahaan Sektor Industri Dasar Dan Kimia Yang Terdaftar Di Bei
Tahun 2011-2014. Jurnal Administrasi Bisnis S1 Universitas Brawijaya,
35(1), 154–164.

Rai Prastuti, N., & Merta Sudiartha, I. (2016). Pengaruh Struktur Modal,
Kebijakan Dividen, Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan
Pada Perusahaan Manufaktur. None, 5(3), 254202.

Ramdhonah, Z., Solikin, I., & Sari, M. (2019). PENGARUH STRUKTUR


MODAL, UKURAN PERUSAHAAN, PERTUMBUHAN PERUSAHAAN,
DAN PROFITABILITAS TERHADAP NILAI PERUSAHAAN (Studi
Empiris pada Perusahaan Sektor Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia Tahun 2011-2017). Jurnal Riset Akuntansi Dan Keuangan, 7(1),
67–82. [Link]

Sari, R. A. I., & Priyadi, M. P. (2016). Pengaruh Leverage , Profitabilitas , Size ,


Dan Growth Opportunity Terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Ilmu Dan Riset
Manajemen, 5(10), 2–17.

Sintyana, I. P. H., & Artini, L. G. S. (2018). Pengaruh Profitabilitas, Struktur


Modal, Ukuran Perusahaan Dan Kebijakan Dividen Terhadap Nilai
Perusahaan. E-Jurnal Manajemen Universitas Udayana, 8(2), 757.
[Link]

Sofyaningsih, S., & Hardiningsih, P. (2011). 195-Article Text-387-1-10-


20120202. In Dinamika.
[Link]

Sucipto, Edy & Sudiyatno, B. (2018). Profitabilitas, Kebijakan Dividen, Dan


Kebijakan Hutang Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Manufaktur
71

Yang Listed Di Bursa Efek Indonesia. Dinamika Akuntansi, Keuangan Dan


Perbankan, 7(2), 163–172.

SYAHFITRI, P. (2018). PENGARUH TAX AVOIDANCE TERHADAP NILAI


PERUSAHAAN (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar
di BEI Tahun 2013-2016). STIE Multi Data Palembang, 1(1), 1–16.

Tarihoran, A. (2016). Pengaruh Penghindaran Pajak Dan Leverage Moderasi.


JWEM STIE Mikroskil, 6(2), 149–164.

Tiasrini, S., & Utiyati, S. (2020). Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, dan
Leverage Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perbankan. Jurnal Ilmu Dan Riset
Manajemen, 9 nomor 1, 15–16.

Violeta, C. A., & Serly, V. (2020). Pengaruh Manjemen Laba dan Tax Avoidance
Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan Perbankan yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014-2018). Wahana Riset
Akuntansi, 8(1), 1. [Link]

Yanti, I. G. A. D. N., & Darmayanti, N. P. A. (2019). Pengaruh Profitabilitas,


Ukuran Perusahaan, Struktur Modal, Dan Likuiditas Terhadap Nilai
Perusahaan Makanan Dan Minuman. E-Jurnal Manajemen Universitas
Udayana, 8(4), 2297. [Link]

Zulfiara, P., & Ismanto, J. (2019). Pengaruh Konservatisme Akuntansi Dan


Penghindaran Pajak Terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Akuntansi
Berkelanjutan Indonesia, 2(2), 134.
[Link]

[Link]

[Link]

Anda mungkin juga menyukai