PENGARUH STRUKTUR MODAL, KEBIJAKAN
DIVIDEN, PROFITABILITAS DAN TAX AVOIDANCE
TERHADAP NILAI PERUSAHAAN
( Studi Kasus : Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2016-
2020 )
HALAMAN JUDUL
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Mencapai Derajat Sarjana S1
Program Studi Akuntansi
Disusun Oleh :
Nabila Nurul Hasnah
Nim : 31401800235
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
2021
PENGARUH STRUKTUR MODAL, KEBIJAKAN
DIVIDEN, PROFITABILITAS DAN TAX AVOIDANCE
TERHADAP NILAI PERUSAHAAN
( Studi Kasus : Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2016-
2020 )
HALAMAN JUDUL
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Mencapai Derajat Sarjana S1
Program Studi Akuntansi
Disusun Oleh :
Nabila Nurul Hasnah
Nim : 31401800235
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
2021
i
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI
PENGARUH STRUKTUR MODAL, KEBIJAKAN DIVIDEN,
PROFITABILITAS DAN TAX AVOIDANCE TERHADAP NILAI
PERUSAHAAN
( STUDI KASUS : PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR
DI BEI TAHUN 2016 – 2020 )
Disusun Oleh :
Nabila Nurul Hasnah
3140 1800 235
Telah disetujui oleh pembimbing dan selanjutnya dapat diajukan kehadapan
sidang panitia ujian skripsi Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Sultan Agung Semarang
Semarang, 25 Februari 2022
Pembimbing,
Dr.E. Chrisna Suhendi, MBA., SE., [Link]
NIK. 210493034
ii
HALAMAN PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI
iii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
iv
PERNYATAAN PERSETUJUAN UNGGAH KARYA ILMIAH
v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto :
Selalu libatkan Allah SWT dan Rasulullah SAW dalam setiap langkahmu,
maka semua akan terasa ringan.
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, maka apabila engkau telah
selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan lain), dan
hanya kepada Tuhanmu lah engkau berharap” (QS. Al Insyirah : 6-8)
Persembahan :
Skripsi ini saya persembahkan kepada :
Kedua orang tua saya yaitu Bapak Slamet Santoso dan Ibu Sriatun yang selalu
mendukung, medoakan, dan memotivasi agar anaknya dapat bermanfaat bagi
orang lain,
Keluarga dan sahabat yang selalu memberikan semangat dalam bentuk moral
maupun material,
Dosen pembimbing saya Bapak Dr. Chrisna Suhendi, S.E., M.B.A., Ak., CA
yang telah memberikan waktu dan pikirannya untuk membimbing dengan
sabar dan sepenuh hati.
vi
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh struktur modal,
kebijakan deviden, profitabilitas, dan tax avoidance terhadap nilai perusahaan
pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Periode
penelitian yang digunakan adalah 2016-2020. Berdasarkan teknik Purposive
sampling dihasilkan 150 data. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian
ini adalah analisis regresi linear berganda menggunakan IBM SPSS 16. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa struktur modal berpengaruh negative signifikan
terhadap nilai perusahaan, profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap
nilai perusahaan, sedangkan kebijakan deviden dan tax avoidance tidak
berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Kata Kunci : PBV, DER, DPR, ROA, ETR
vii
ABSTRACT
The purpose of this study is to examine the effect of capital structure,
dividend policy, profitability, and tax avoidance on firm value in manufacturing
companies listed on the Indonesia Stock Exchange. The research period used is
2016-2020. Based on the purposive sampling technique, 150 data were generated.
The analytical technique used in this study is multiple linear regression analysis
using IBM SPSS 16. The results showed that capital structure had a significant
negative effect on firm value, profitability had a significant positive effect on firm
value, while dividend policy and tax avoidance had no effect on firm value.
Keywords: PBV, DER, DPR, ROA, ETR
viii
INTISARI
Nilai perusahaan adalah kinerja perusahaan yang dicerminkan oleh harga
saham yang dibentuk oleh permintaan dan penawaran pasar modal yang
merefleksikan penilaian masyarakat terhadap kinerja perusahaan. Nilai
perusahaan diproksikan menggunakan Price to Book Value (PBV). yaitu rasio
valuasi investasi yang sering digunakan oleh investor untuk membandingkan nilai
pasar saham perusahaan dengan nilai bukunya. Nilai perusahaan dikatakan baik
apabila rasio nilai PBV diatas satu. Penurunan saham atau nilai perusahaan secara
continue akan berdampak pada kestabilan ekonomi perusahaan terutama untuk
aktivitas pendanaan. Fluktuasi nilai perusahaan dapat disebabkan oleh beberapa
faktor terutama dari pihak internal, seperti: profitabilitas, struktur modal,
kebijakan dividen dan tax avoidance.
Struktur modal merupakan rasio antara total hutang perusahaan terhadap
total ekuitas yang diproksikan dengan rasio DER ( Debt Equity Ratio ). Semakin
tinggi nilai DER, maka perusahaan semakin dianggap mampu dalam menanggung
beban/risiko pembiayaan hutangnya, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan
investor sehingga mampu meningkatkan permintaan saham dan harga saham yang
kemudian berpengaruh terhadap meningkatnya nilai perusahaan. Kebijakan
dividen adalah proporsi pembagian laba yang diperoleh perusahaan yang
dibagikan kepada para pemegang saham perusahaan yang diproyeksikan dengan
DPR ( Dividend Payout Ratio ). Meningkatnya nilai DPR merupakan sinyal baik
bagi investor karena mencerminkan bahw arus kas masa depan perusahaan
dianggap cukup untuk menanggung dividen yang tinggi, sehingga berpengaruh
terhadap meningkatnya nilai perusahaan. Profitabilitas merupakan suatu indikator
kinerja yang dilakukan manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan yang
dapat dilihat dari laba yang dihasilkan oleh perusahaan yang diproyeksikan
dengan ROE ( Return On Equity). Besarnya nilai profabilitas berbanding lurus
dengan meningkatnya kemampuan perusahaan dalam membayar dividen,
sehingga menjadi sinyal bahwa adanya Profitabilitas yang tinggi mampu dijadikan
sinyal bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik dimasa depan sehingga
ix
dapat menarik minat dan kepercayaan investor, kemudian secara langsung dapat
menaikkan harga saham berikut nilai perusahaan. Tax avoidance merupakan
upaya penghindaran pajak yang dilakukan secara legal dan aman bagi wajib pajak
karena tidak bertentangan dengan ketentuan perpajakan, dimana metode dan
teknik yang digunakan cenderung memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang
terdapat dalam undang-undang dan peraturan perpajakan itu sendiri untuk
memperkecil jumlah pajak yang terutang. Investor sebagai principal beranggapan
bahwa penghindaran pajak ini adalah praktik melanggar undang – undang
perpajakan dan diduga menimbulkan biaya lain – lain seperti biaya yang timbul
akibat pemeriksaan pajak. Selain memberikan keuntungan bagi pihak perusahaan,
penghindaran pajak juga dapat memberikan efek negatif bagi perusahaan.
Penelitian ini merupakan replikasi dan pengembangan dari penelitian
Ovami & Nasution (2020) serta Martha et al., (2018). Perbedaan penelitian ini
dengan kedua penelitian tersebut terletak pada variabel dan sample penelitian.
Variabel penelitian Martha et al., (2018) menggunakan profitabilitas dan
kebijakan dividen sebagai variabel independen. Kemudian penelitian Ovami &
Nasution (2020) menggunakan kebijakan dividen sebagai variabel independen.
Sedangkan dalam penelitian ini, peneliti menambahkan variabel struktur modal
dan tax avoidance sebagai variabel independen. Populasi dalam penelitian ini
adalah perusahaan menufaktur yang terdaftar pada BEI selama periode 2016-
2020, sehingga dari teknik purposive sampling dihasilkan 150 sampel yang terdiri
dari 30 perusahaan. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisis regresi linear berganda menggunakan IBM SPSS 16. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa struktur modal berpengaruh negative signifikan terhadap
nilai perusahaan, profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap nilai
perusahaan, sedangkan kebijakan deviden dan tax avoidance tidak berpengaruh
terhadap nilai perusahaan.
x
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan berkat, rahmat dan hidayah serta ridho-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Skripsi dengan judul “PENGARUH
STRUKTUR MODAL, KEBIJAKAN DIVIDEN, PROFITABILITAS DAN
TAX AVOIDANCE TERHADAP NILAI PERUSAHAAN” dapat terselesaikan
dengan baik dan optimal. Dalam pelaksanaan dan penulisan skripsi ini tidak lepas
dari beberapa kesulitan dan rintangan, namun itu semua dapat penulis hadapi dan
penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu
dan mendukung penelitian ini:
1. Ibu Dr. Olivia Fachrunnisa, SE, [Link]. selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
2. Ibu Dr. Dra. Winarsih, [Link] selaku Ketua Jurusan Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
3. Bapak Dr.E. Chrisna Suhendi, MBA., SE., [Link] selaku dosen pembimbing,
yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi.
4. Seluruh Dosen dan Staff Karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Islam
Sultan Agung Semarang.
5. Rasa hormat dan terima kasih secara khusus saya ucapkan kepada kedua orang
tua saya, Bapak Slamet Santoso dan Ibu Sriatun, Terima kasih atas limpahan
doa, kasih sayang, bimbingan dan materi yang tidak terhitung.
6. Untuk kaka saya tercinta Mba Annisa Nurul Hida dan Mas Fikri Sibro Malisi
yang turut menyemangati selama saya mengerjakan skripsi.
xi
7. Teman-teman Akuntansi angkatan 2018 terima kasih atas dukungan dan
motivasi yang telah diberikan dalam mengerjakan skripsi.
8. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam pelaksanaan dan
penyusunan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Terimakasih
untuk prang yang sudah terlibat atau melibatkan dirinya dalam
kehidupanku,dan orang-orang yang terlewat disebutkan tetapi memiliki arti
yang sama pentingnya bagi kehidupanku, penulis mengucapkan terimakasih.
Semoga karya ini bermanfaat dan membantu pihak-pihak yang
berkepentingan.
Wassalamualaikum [Link].
Semarang, 25 Februari 2022
Nabila Nurul Hasnah
NIM : 31401800235
xii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ............................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI…………………………………iii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI .............................................................. iv
PERNYATAAN PERSETUJUAN UNGGAH KARYA ILMIAH....................... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ....................................................................... vi
ABSTRAK ....................................................................................................... viii
ABSTRACT ....................................................................................................... viii
INTISARI .......................................................................................................... iix
KATA PENGANTAR ........................................................................................ xi
DAFTAR ISI ...................................................................................................ixiii
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xv
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xvi
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xvii
BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................. 8
1.3 Pertanyaan Penelitian......................................................................... 9
1.4 Tujuan Penelitian ............................................................................ 10
1.5 Manfaat Penelitian ........................................................................... 10
BAB II KAJIAN PUSTAKA ............................................................................ 12
2.1 Landasan Teori ................................................................................ 12
2.1.1 Signalling Theory ( Teori Sinyal ) ......................................... 12
2.2 Variabel Penelitian .......................................................................... 14
2.2.1 Nilai Perusahaan ................................................................... 14
2.2.2 Struktur Modal ...................................................................... 15
2.2.3 Kebijakan Dividen ................................................................ 16
2.2.4 Profitabilitas.......................................................................... 17
2.2.5 Tax Avoidence ...................................................................... 18
2.3 Penelitian Terdahulu ........................................................................ 19
xiii
2.4 Kerangka Pemikiran Teoritis dan Pengembangan Hipotesis ............. 24
2.4.1 Pengaruh Struktur Modal Terhadap Nilai Perusahaan. ........... 24
2.4.2 Pengaruh Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan. ..... 25
2.4.3 Pengaruh Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan ............... 26
2.4.4 Pengaruh Tax Avoidence Terhadap Nilai Perusahaan ............ 27
2.4.5 Kerangka Penelitian .............................................................. 28
BAB III METODE PENELITIAN ..................................................................... 29
3.1 Jenis Penelitian ................................................................................ 29
3.2 Populasi dan Sampel ........................................................................ 29
3.2.1 Populasi ................................................................................ 29
3.2.2 Sampel .................................................................................. 30
3.3 Sumber dan Jenis Data ..................................................................... 31
3.4 Metode Pengumpulan Data .............................................................. 31
3.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ................................... 31
3.6 Teknik Analisis ................................................................................ 36
3.6.1 Statistik Deskriptif ................................................................ 36
3.6.2 Uji Asumsi Klasik ................................................................. 36
3.6.3 Pengujian Hipotesis............................................................... 40
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................... 43
4.1 Hasil dan Penelitian ......................................................................... 43
4.1.1 Deskripsi Objek Penelitian .................................................... 43
4.1.2 Analisis Data......................................................................... 45
4.1.3 Pengujian Hipotesis............................................................... 55
4.1.4 Pembahasan Hasil Penelitian ................................................. 58
BAB V KESIMPULAN .................................................................................... 64
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 68
LAMPIRAN - LAMPIRAN ............................................................................... 72
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu ......................................................... 19
Tabel 3.1 Definisi Opertional Varibel ................................................................ 34
Tabel 4.1 Kriteria Penentuan Sampel ................................................................. 43
Tabel 4.2 Daftar Perusahaan Sampel .................................................................. 44
Tabel 4.3 Statistik Deskriptif.............................................................................. 45
Tabel 4.4 Uji Normalitas .................................................................................... 48
Tabel 4.5 Uji Normalitas Setelah Transformasi Semi Log .................................. 49
Tabel 4.6 Uji Multikolinieritas ........................................................................... 50
Tabel 4.7 Uji Heteroskedastisitas ....................................................................... 51
Tabel 4.8 Penilain Durbin Watson ( DW ) .......................................................... 52
Tabel 4.9 Uji Autokorelasi ................................................................................. 53
Tabel 4.10 Uji Autokorelasi Menggunakan Metode Cochrane-Orcuttt................ 53
Tabel 4.11 Analisis Linier Berganda .................................................................. 54
Tabel 4.12 Uji Koefisien Determinasi ................................................................ 55
Tabel 4.13 Uji F ................................................................................................. 56
Tabel 4.14 Uji t .................................................................................................. 57
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Grafik Growth Rata – Rata PBV ....................................................... 3
Gambar 2.1 Kerangka Penelitian ....................................................................... 28
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar Sampel Manufaktur pada BEI Tahun 2016-2020 .................. 73
Lampiran 2 Tabulasi Data Debt Equity Ratio ( DER ) ........................................ 75
Lampiran 3 Tabulasi Data Devidend Payout Ratio ( DPR ) ................................ 81
Lampiran 4 Tabulasi Data Profitabilitas ( ROE )................................................ 87
Lampiran 5 Tabulasi Data Effective Tax Rate ( ETR ) ........................................ 93
Lampiran 6 Tabulasi Data Price to Book Value ( PBV ) ..................................... 99
Lampiran 7 Hasil Analisis Statistic Descriptive ................................................ 105
Lampiran 8 Uji Normalitas .............................................................................. 106
Lampiran 9 Uji Multikolinieritas ..................................................................... 107
Lampiran 10 Uji Heteroskedastisitas ............................................................... 108
Lampiran 11 Uji Autokorelasi .......................................................................... 109
Lampiran 12 Analisis Linier Berganda ............................................................. 110
Lampiran 13 Uji Koefisian Determinasi ........................................................... 111
Lampiran 14 Uji F ........................................................................................... 112
Lampiran 15 Uji t ............................................................................................ 113
xvii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Seiring dengan perkembangan industri dan teknologi saat ini, dunia bisnis
mengalami persaingan yang semakin ketat. Hal ini ditandai dengan banyakanya
perusahaan yang tumbuh dan berkembang, baik dari perusahaan berskala kecil
maupun besar bersaing untuk memperoleh laba yang maksimal. Menghadapi
persaingan memang tidaklah mudah karena perusahaan akan dihadapkan dengan
berbagai kendala sehingga diperlukan ketepatan dalam pengambilan keputusan.
Kebutuhan modal dan pendanaan sering kali menjadi kendala utama perusahaan
untuk berkembang. Salah satu solusi yang dapat ditempuh adalah dengan
mengubah status dari perusahaan tertutup menjadi perusahaan terbuka melalui
penawaran saham kepada publik ( Go Public ). Selain menjadi lebih mudah dalam
memperoleh sumber pendanaan baik modal maupun hutang jangka pendek dan
jangka panjang, perusahaan juga mendapatkan keuntungan lain, diantaranya
meningkatkan citra perusahaan, mendapatkan intesif pajak dan meningkatkan
nilai perusahaan (Company Value). Namun, dengan terdaftarnya perusahaaan
sebagai perusahaan Go Public pada bursa efek, bukan berarti perusahaan lepas
dari upaya - upaya lain guna mempertahankan kelangsungan usahanya. Salah satu
hal yang harus diperhatikan adalah kestabilan harga pasar saham perusahaan
tersebut. Dalam dunia pasar modal, harga saham dapat dijadikan barometer dari
1
2
kinerja dan nilai perusahaan ( Company Value ). Semakin tinggi harga saham,
semakin tinggi pula nilai perusahaan (Rudangga, 2016)
Menurut (Harmono, 2009) nilai perusahaan adalah kinerja perusahaan
yang dicerminkan oleh harga saham yang dibentuk oleh permintaan dan
penawaran pasar modal yang merefleksikan penilaian masyarakat terhadap kinerja
perusahaan. Sari & Priyadi (2016) mengungkapkan nilai perusahaan bagian dari
persepsi investor terhadap perusahaan terkait harga saham, semakin tinggi nilai
perusahaan dapat memberikan kemakmuran bagi pemegang saham.
Nilai perusahaan diproksikan menggunakan Price to Book Value (PBV).
yaitu rasio valuasi investasi yang sering digunakan oleh investor untuk
membandingkan nilai pasar saham perusahaan dengan nilai bukunya. Rasio PBV
menunjukkan seberapa pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan.
Semakin tinggi rasio, semakin tinggi kepercayaan pasa terhadap prospek
perusahaan tersebut, itu artinya perusahaan mampu menciptakan nilai perusahaan
relative terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. Nilai perusahaan dikatakan
baik apabila rasio nilai PBV diatas satu. Hal ini menunjukkan bahwa nilai market
share perusahaan lebih besar dari book valuenya. Semakin besar rasio PBV
semakin tinggi perusahaan dinilai oleh para pemodal relatif dibandingkan dengan
dana yang telah ditanamkan di perusahaan. Naik turunnya PBV merupakan
indikator bagaimana pasar menilai perusahaan secara keseluruhan. Seperti rata –
rata nilai perusahaan ( PBV ) perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama
3 tahun terkahir ini sempat mengalami penurunan yang cukup signifikan seperti
terlihat pada grafik berikut :
3
Gambar 1.1
Grafik Growth Rata - Rata PBV
Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2018-2020
Sumber : Trading Summary by Industry Clasification 2018 – 2020.
([Link] ), data diolah 2021.
Pada grafik tersebut terlihat bahwa pada tahun 2019 rata – rata nilai
perusahaan mengalami penurunan sekitar 25 %, dan tahun 2020 juga menurun
hingga 10 % dari tahun sebelumnya. Hal ini selaras dengan sebuah artikel dari
[Link] (22/12/19 ) yang menginformasikan bahwa indeks perusahaan sektor
manufaktur, terutama untuk sektor industri dasar dan kimia, sektor aneka industri
dan sektor barang konsumsi belum menunjukkan kinerja yang prima. Sejak awal
tahun 2019 penurunan saham dibeberapa sektor telah terdeteksi. Misalnya, Saham
PT. Unilever Tbk yang melemah 8,31%. Kemudian saham PT. Sri Rejeki Isman
Tbk yang juga tergerus sekitar 27,37%, PT. Gudang Garam Tbk turun 36,5 % dan
PT. Hanjaya Mandala yang merosot 43,4% . Penurunan saham atau nilai
perusahaan secara continue akan berdampak pada kestabilan ekonomi perusahaan
4
terutama untuk aktivitas pendanaan. Fluktuasi nilai perusahaan dapat disebabkan
oleh beberapa faktor terutama dari pihak internal, seperti: profitabilitas, struktur
modal, kebijakan dividen dan tax avoidance.
Struktur modal merupakan rasio antara total hutang perusahaan terhadap
total ekuitas. Menurut Brealey, Myres dan Marcus (2008:6) menyebutkan bahwa
struktur modal merupakan bentuk pendanaan untuk memenuhi kebutuhan
investasi dan kegiatan operasional perusahaan. DER ( Debt to Equity Ratio )
digunakan sebagai media pengukuran dari struktur modal. DER merupakan rasio
yang digunakan untuk mengukur kemampuan ekuitas perusahaan dalam
membiayai hutangnya. Tindakan manajer dalam pengambilan keputusan struktur
modal perusahaan harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian , salah satunya
adalah dengan menjadikan proporsi antara hutang dan ekuitas harus seimbang.
Jika manajer salah langkah dalam mengabil keputusan dapat menyebabkan
kebangkrutan (Dewi & Dana, 2017).
Kebijakan dividen adalah proporsi pembagian laba yang diperoleh
perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham perusahaan. Kebijakan
dividen berkaitan dengan kebijakan mengenai seberapa besar laba yang diperoleh
perusahaan akan didistribusikan kepada pemegang saham (Sofyaningsih &
Hardiningsih, 2011). Menurut Brigham dan Houston (2011), rasio pembayaran
dividen adalah persentase laba dibayarkan kepada para pemegang saham dalam
bentuk kas. Keputusan dividen menyangkut keputusan tentang penggunaan laba
yang menjadi hak para pemegang saham. Dividen yang dibagikan dapat berupa
dividen tunai (cash dividend) atau dividen dalam bentuk saham (stock dividen).
5
Dividen tunai umumnya dibagikan secara reguler, baik triwulanan, semesteran
atau tahunan. Kebijakan dividen dalam penelitian ini dikonfirmasi dalam bentuk
Dividend Payout Ratio (DPR) yaitu suatu perbandingan dividen yang diberikan ke
pemegang saham dan laba bersih per saham. Rasio pembayaran dividen (dividend
payout ratio) menentukan jumlah laba yang akan dibagi dalam bentuk dividen kas
dan laba yang ditahan sebagai sumber pendanaan. Dividen yang dibagikan
perusahaan ditentukan oleh para pemegang saham pada saat berlangsungnya
RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) Brigham dan Houston (2011). Menurut
Sucipto, Edy & Sudiyatno (2018) kebijakan dividen berpengaruh terhadap nilai
perusahaan.
Profitabilitas merupakan suatu indikator kinerja yang dilakukan
manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan yang dapat dilihat dari laba
yang dihasilkan oleh perusahaan. Perusahaan mengukur kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan keuntungan (Profitabilitas) baik dari tingkat penjualan, asset,
modal maupun saham tertentu. Rasio profitabilitas ini dapat diartikan sejauh mana
keefektifan dari keseluruhan manejemen dalam menciptakan keuntungan bagi
[Link] investor akan mengaitkan tingkat profitabilitas sebuah
perusahaan dengan tingkat resiko yang timbul dari investasinya. Penelitian,
Martha et al.,(2018) menjelaskan bahwa profitabilitas berpengaruh positif
terhadap nilai perusahaan.
Tax avoidance merupakan upaya penghindaran pajak yang dilakukan
secara legal dan aman bagi wajib pajak karena tidak bertentangan dengan
ketentuan perpajakan, dimana metode dan teknik yang digunakan cenderung
6
memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam undang-undang dan
peraturan perpajakan itu sendiri untuk memperkecil jumlah pajak yang terutang.
Praktik penghindaran pajak ini diharapkan mampu meningkatkan laba perusahaan
sehingga berpengaruh terhadap naiknya profitabilitas perusahaan. Namun,
Investor sebagai principal beranggapan bahwa penghindaran pajak ini adalah
praktik melanggat undang – undang perpajakan dan diduga menimbulkan biaya
lain – lain seperti biaya yang timbul akibat pemeriksaan pajak. Penelitan Apsari &
Setiawan (2018) menyebutkan bahwa tax avoidance berpengaruh terhadap nilai
perusahaan.
Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya terkait dengan nilai
perusahaan masih memberikan hasil yang berbeda-beda. Penelitian Lisda &
Kusmayanti (2021) tentang pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan
menyatakan bahwa struktur modal berpengaruh positif signifikan, dan didukung
oleh Ramdhonah et al (2019). Penelitian Pasaribu et al. (2016) menyatakan bahwa
struktur modal berpengaruh negatif signifikan, sedangkan penelitan yang
dilakukan Barelli et al.(2018) dan Sintyana & Artini (2018) menunjukan bahwa
struktur modal tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Ovami & Nasution,
(2020) meneliti terkait dengan pengaruh kebijakan dividen terhadap nilai
perusahaan menyatakan bahwa kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap
nilai perusahaan, Namun Martha et al.(2018) menyatakan kebijakan dividen
berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Penelitian Violeta & Serly, (2020)
meneliti tentang pengaruh tax avoidance terhadap nilai perusahaan menyatakan
bahwa tax avoidance berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan,
7
namun penelitian yang dilakukan oleh Tarihoran (2016) avoidance tidak
berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian Lisda & Kusmayanti,
(2021) menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai
perusahaan, sedangkan Muharramah & Hakim (2021) mengungkapkan
profitabilitas tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Penelitian ini merupakan replikasi dan pengembangan dari penelitian
Ovami & Nasution (2020) serta Martha et al., (2018). Perbedaan penelitian ini
dengan kedua penelitian tersebut terletak pada variabel dan sample penelitian.
Variabel penelitian Martha et al., (2018) menggunakan profitabilitas dan
kebijakan dividen sebagai variabel independen. Kemudian penelitian Ovami &
Nasution (2020) menggunakan kebijakan dividen sebagai variabel independen.
Sedangkan dalam penelitian ini, peneliti menambahkan variabel struktur modal
dan tax avoidance sebagai variabel independen.
Penelitian Martha et al., (2018) menggunakan periode pengamatan tahun
2012 sampai dengan 2016. Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan periode
pengamatan tahun 2016 sampai dengan 2020. Obyek penelitian pada Martha et
al., (2018) serta Ovami & Nasution (2020) menggunakan perusahaan –
perusahaan perbankan dan LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Namun, dalam penelitian kali ini, peneliti menggunakan sampel penelitian yang
berbeda, yakni perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI). Alasan dipilihnya sektor Manufaktur sebagai sampel penelitian karena
sektor manufaktur merupakan sektor yang memiliki jumlah perusahaan yang
paling banyak di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan manufaktur juga memiliki
8
aktiva yang cukup kompleks bila dibandingkan dengan perusahaan lainnya.
Perusahaan manufaktur harus memperhatikan perhitungan pengadaan barang,
proses produksi hingga pemasaran, yang dimana hal ini berbeda dengan
perusahaan non manufaktur yang tidak memiliki perhitungan serumit perusahaan
manufaktur, sehingga diasumsikan dapat merepresentasikan sampel yang diambil
pada penelitian ini.
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas maka penelitian ini
berjudul “Pengaruh Struktur Modal, Kebijakan Dividen, Profitabilitas dan
Tax Avoidence Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan
Manufaktur yang Terdaftar di BEI Periode 2016-2020)”
1.2 Rumusan Masalah
Nilai perusahaan adalah kinerja perusahaan yang dicerminkan oleh harga
saham yang dibentuk oleh permintaan dan penawaran pasar modal yang
merefleksikan penilaian masyarakat terhadap kinerja perusahaan. Sari & Priyadi,
(2016), mengungkapkan nilai perusahaan bagian dari persepsi investor terhadap
perusahaan terkait harga saham, semakin tinggi nilai perusahaan dapat
memberikan kemakmuran bagi pemegang saham.
Berdasarkan data dari [Link], pada tahun 2019 rata – rata nilai
perusahaan sektor manufaktur mengalami penurunan sekitar 83% dan pada tahun
2020 mengalami kenaikan meskipun tidak signifikan. Dari tahun 2018 – 2020,
emiten manufaktur yang mengalami penurunan PBV paling besar adalah sub
sektor mesin dan alat berat yakni sebesar 1.444 %, disusul oleh sub sektor
9
electronics sebesar 276 % , kemudian sub sektor food and baverages sebesar
267%, serta masih banyak sub sektor lain yang nilai PBV nya mengalami
penurunan drastis dari tahun sebelumnya. Penurunan saham atau nilai perusahaan
secara continue akan berdampak pada kestabilan ekonomi perusahaan terutama
untuk aktivitas pendanaan. Fluktuasi nilai perusahaan dapat disebabkan oleh
banyak faktor , baik internal maupun eksternal. Melihat fenomena fluktuasi nilai
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dari tahun 2018 – 2020, peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang “Bagaimana struktur
modal, kebijakan dividen, profitabilitas dan tax avoidance mampu mempengaruhi
naik turunnya nilai perusahaan ?”.
1.3 Pertanyaan Penelitian
Adapun dari penjelasan latar belakang diatas, maka dalam penelitian ini dapat
dirumuskan dengan pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016 – 2020 ?
2. Bagaimana pengaruh kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016 – 2020 ?
3. Bagaimana pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan pada perusahaan
manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016 – 2020 ?
4. Bagaimana pengaruh tax avoidance terhadap nilai perusahaan pada perusahaan
manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016 – 2020 ?
10
1.4 Tujuan Penelitian :
1. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh struktur modal terhadap nilai
perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016 –
2020.
2. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh kebijakan dividen terhadap nilai
perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016 –
2020.
3. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh profitabilitas terhadap nilai
perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016 –
2020.
4. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh tax avoidance terhadap nilai
perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016 –
2020.
1.5 Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi teoritis
dibidang ilmu keuangan berupa bukti empiris tentang pengaruh struktur modal,
kebijakan dividen, profitabilitas, dan tax avoidance terhadap nilai perusahaan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Universitas
Sebagai media untuk menambah keterampilan , kreatifitas, dan
pemahaman mahasiswa bidang akuntansi terutama tentang nilai
perusahaan, struktur modal, kebijakan dividen, profitabilitas, dan tax
11
avoidance. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu refrensi
dilingkungan akademis untuk memperkaya dan memperdalam pengetahuan
bidang yang diteliti.
b. Bagi Perusahaan
Hasil penelitian ini dapat menambah pemahaman tetang nilai
perusahaan, terutama factor – factor yang menjadi pemicu naik dan
turunnya nilai perusahaan yang nantinya dapat dipergunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan terutama perihal sumber dana
dan modal sendiri yang digunakan untuk membiayai aktivitas operasional
perusahaan.
c. Bagi Investor
Penelitian ini dapat memberikan informasi – informasi yang dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan investor sebelum memulai
berinvestasi atau menanamkan modalnya pada perusahaan yang dituju,
sehingga investor dapat mengambil keputusan yang te
BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Signalling Theory ( Teori Sinyal )
Teori sinyal dicetuskan pertama kali oleh Michael Spence (1973) dan
dikembangkan Ross ( 1977 ). Menurut Ross, guna mendapatkan respon yang
baik dari public, perusahaan harus selalu berupaya menyampaikan informasi
atau sinyal seakurat dan sebaik mungkin. Konsep pembangunan teori sinyal
adalah berdasarkan timbulnya asimetri informasi antara perusahaan
(manajemen) dengan pihak luar, dimana kemampuan investor dalam
memperoleh informasi internal perusahaan lebih terbatas dibandingkan pihak
menejemen. Kecepatan respon pasar yang diperoleh perusahaan tergantung
seberapa cepat perusahaan dalam mengeluarkan sinyalnya. Sinyal yang
dimaksud adalah informasi tentang upaya – upaya yang telah dilakukan oleh
pihak manajemen dalam memenuhi keinginan pemilik maupun investor.
Meminimalisir asimetri informasi dapat dijadikan salah satu alternatif guna
meningkatkan nilai perusahaan. Investor membutuhkan informasi yang akurat,
lengkap dan tepat waktu ketika hendak mengambil keputusan agar hasil yang
diperoleh nantinya sesuai dengan harapan. Keakuratan informasi atau sinyal ini
mampu membangun sebuah kepercayaan publik atau investor tentang proyeksi
12
13
kinerja perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga kredibilitas dan
kesuksesan perusahaan dapat meningkat.
Alasan peneliti menggunakan teori sinyal ini karena berkaitan dengan
variabel – variabel dalam penelitian ini. Peneliti berpendapat bahwa aksi
korporasi perusahan memberikan makna yang berarti bagi pihak luar, Manurung
( 2012 ) dalam Sugiayanto ( 2019 ) menyebutkan bahwa informasi dalam
signalling theory secara umum sering disebut signal negative. Namun, pihak
manajemen diharapkan mampu memberikan sebuah good signal ( sinyal baik )
ataupun sinyal kemakmuran kepada stakeholdernya dalam mempublikasikan
laporan keuangan, baik untuk pemilik maupun pemegang saham. Termasuk
sinyal baik terkait dengan pertumbuhan laba yang mencerminkan profitabilitas
perusahaan, sinyal baik atas kemapuan perusahaan dalam memanfaatkan ekuitas
untuk membiyai hutangnya, sinyal baik dari porsi pembagian dividen yang dapat
dijadikan acuan para investor tentang prospek keuntungan yang akan didapat,
dan juga sinyal dilakukannya praktik tax avoidance ( penghindaran pajak ) yang
dapat mengurangi tingkat kepercayaan investor terhadap perusahaan karena
dianggap sebagai suatu tindakan penggelapan pajak yang melanggar hukum,
point - point diatas merupakan beberapa informasi keuangan yang sering kali
dijadikan investor sebagai bahan pertimbangan sebelum menanamkan modalnya
disuatu perusahaan. Apabila perusahaan mampu menciptakan sinyal baik atas
informasi – informasi keuangan tersebut, maka secara langsung dapat
meningkatkan minat investor yang selanjutnya berpengaruh terhadap naiknya
harga saham, sehingga kinerja dan nilai perusahaan pun akan meningkat.
14
2.2 Variabel Penelitian
2.2.1 Nilai Perusahaan
Menurut Harmono (2009:233), nilai perusahaan adalah kinerja perusahaan
yang dicerminkan oleh harga saham yang dibentuk oleh permintaan dan
penawaran pasar modal yang merefleksikan penilaian masyarakat terhadap
kinerja perusahaan. Sari & Priyadi (2016) mengungkapkan nilai perusahaan
bagian dari persepsi investor terhadap perusahaan terkait harga saham, semakin
tinggi nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran bagi pemegang saham.
Manajer keuangan dituntut untuk berhati – hati dalam mengambil keputusan
karena mampu mempengaruhi nilai perusahaan . Ketepatan dalam pengambilan
keputusan akan berdampak pada meningkatnya nilai perusahaan, sehingga
kekayaan perusahaan pun ikut meningkat. Menurut Adeline & Jogi (2019),
terdapat beberapa konsep nilai perusahaan yang menjelaskan nilai perusahaan
antara lain:
a. Nilai nominal yaitu nilai yang tercantum secara formal dalam anggaran
dasar perseroan, disebutkan secara eksplisit dalam neraca perusahaan.
b. Nilai pasar, sering disebut kurs adalah harga yang terjadi dari proses tawar
menawar dipasar saham. Nilai perusahaan bias di tentukan jika saham
perusahaan dijual di pasar saham
c. Nilai intrinsic merupakan nilai yang mengacu pada perkiraan nilai riil suatu
perusahaan. Nilai perusahaan dalam konsep nilai intrinsic ini bukan sekedar
haraga sekumpulan asset, melainkan nilai perusahaan sebagai entitas bisnis
yang memiliki kemampuan menghasilakan keuntungan di kemudian hari.
15
d. Nilai buku, adalah nilai perusahaan yang dihitung dengan dasar konsep
akuntansi.
e. Nilai likuiditas itu adalah nilai jual seluruh asset perusahaan setelah
dikurangi semua kewajiban yang harus dipenuhi. Nilai sisa itu merupakan
bagian para pemegang saham. Nilai likuiditas bias dihitung berdasarkan
neraca performa yang disiapkan ketika suatu perusahaan akan likudasi.
Nilai perusahaan diproksikan menggunakan Price to Book Value (PBV).
Yaitu rasio valuasi investasi yang sering digunakan oleh investor untuk
membandingkan nilai pasar saham perusahaan dengan nilai bukunya. Rasio PBV
menunjukkan seberapa pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan.
Semakin tinggi rasio, semakin tinggi kepercayaan pasar terhadap prospek
perusahaan tersebut, itu artinya perusahaan mampu menciptakan nilai
perusahaan relative terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. Nilai
perusahaan dikatakan baik apabila rasio nilai PBV diatas satu.
2.2.2 Struktur Modal
Struktur modal merupakan rasio antara total hutang perusahaan
terhadap total ekuitas. Menurut Brealey, Myres dan Marcus (2008:6) struktur
modal merupakan bentuk pendanaan untuk memenuhi kebutuhan investasi dan
kegiatan operasional perusahaan. Struktur modal yang optimal bagi suatu
perusahaan diartikan sebagai suatu struktur yang akan memaksimalkan harga
saham perusahaan tersebut (Fahmi, 2016). Kebijakan struktur modal dapat
berpengaruh terhadap return dan risk. Meningkatnya utang dapat
meningkatkan nilai risk, yang otomatis akan meningkatkan nilai return. Jika
16
risk meningkat maka harga saham akan turun, dan apabila return meningkat
maka saham akan naik. Struktur modal mencerminkan rasio perimbangan
(relative maupun absolut) antara total keseluruhan dari modal eksternal , baik
jangka panjang maupun jangka panjang.
DER ( Debt to Equity Ratio ) digunakan sebagai media pengukuran dari
struktur modal. DER merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur
kemampuan ekuitas perusahaan dalam membiayai hutangnya. Karena struktur
modal dapat mempengaruhi nilai perusahaan, maka tindakan manajer dalam
pengambilan keputusan struktur modal perusahaan harus dilakukan dengan
penuh kehati-hatian , salah satunya adalah dengan menjadikan proporsi antara
hutang dan ekuitas harus seimbang. Jika manajer salah langkah dalam
mengabil keputusan dapat menyebabkan kebangkrutan.
2.2.3 Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen adalah proporsi pembagian laba yang diperoleh
perusahaan yang dibagikan para pemegang saham perusahaan (Brigham,
2011). Kebijakan dividen berkaitan dengan kebijakan mengenai seberapa besar
laba yang diperoleh perusahaan akan didistribusikan kepada pemegang saham
(Sofyaningsih & Hardiningsih, 2011). Rasio pembayaran dividen adalah
persentase laba dibayarkan kepada para pemegang saham dalam bentuk kas
(Brigham, 2011). Keputusan dividen menyangkut keputusan tentang
penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham. Dividen yang
dibagikan dapat berupa dividen tunai (cash dividend) atau dividen dalam
17
bentuk saham (stock dividen). Dividen tunai umumnya dibagikan secara
reguler, baik triwulanan, semesteran atau tahunan.
Kebijakan dividen dalam penelitian ini dikonfirmasi dalam bentuk DPR
(Dividen Payout Ratio) yaitu suatu perbandingan dividen yang diberikan ke
pemegang saham dan laba bersih per saham. Rasio pembayaran dividen
menentukan jumlah laba yang akan dibagi dalam bentuk dividen kas dan laba
yang ditahan sebagai sumber pendanaan. Dividen yang dibagikan perusahaan
ditentukan oleh para pemegang saham pada saat berlangsungnya RUPS (Rapat
Umum Pemegang Saham) (Brigham, 2011).
2.2.4 Profitabilitas
Menurut Kasmir ( 2016 : 196 ) Profitabilitas merupakan suatu indikator
kinerja yang dilakukan manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan
yang dapat dilihat dari laba yang dihasilkan oleh perusahaan. Perusahaan
mengukur kemampuannya dalam menghasilkan keuntungan (Profitabilitas)
baik dari tingkat penjualan, asset, modal maupun saham tertentu. Rasio
profitabilitas ini dapat diartikan sejauh mana keefektifan dari keseluruhan
manejemen dalam menciptakan keuntungan bagi perusahaan. Seorang investor
akan mengaitkan tingkat profitabilitas sebuah perusahaan dengan tingkat resiko
yang timbul dari investasinya.
Dalam penelitian ini rasio profitabilitas diukur dengan return on equity
(ROE). Return on equity (ROE) merupakan rasio yang menunjukkan
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih untuk pengembalian
ekuitas pemegang saham. ROE merupakan rasio keuangan yang digunakan
18
untuk mengukur profitabilitas dari ekuitas. Semakin besar hasil ROE maka
kinerja perusahaan semakin baik. Rasio yang meningkat menunjukkan bahwa
kinerja manajemen meningkat dalam mengelola sumber dana pembiayaan
operasional secara efektif untuk menghasilkan laba bersih (profitabilitas
meningkat).
2.2.5 Tax Avoidence
Menurut Pohan ( 2013 : 3 ) Tax avoidance merupakan upaya
penghindaran pajak yang dilakukan secara legal dan aman bagi wajib pajak
karena tidak bertentangan dengan ketentuan perpajakan, dimana metode dan
teknik yang digunakan cenderung memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang
terdapat dalam undang-undang dan peraturan perpajakan itu sendiri untuk
memperkecil jumlah pajak yang terutang. Oleh karena itu, penghindaran pajak
( tax avoidence ) berbeda dengan penggelapan pajak ( tax evation ). Tax
avoidance tidak melanggar undang – undang, sedangkan tax evation
merupakan bentuk usaha penghindaran pajak dengan melanggar peraturan
pajak dan perundang – undangan. Praktik penghindaran pajak ini diharapkan
mampu meningkatkan laba perusahaan sehingga berpengaruh terhadap naiknya
profitabilitas perusahaan. Namun, Investor sebagai principal beranggapan
bahwa penghindaran pajak ini adalah praktik melanggar undang – undang
perpajakan dan diduga menimbulkan biaya lain – lain seperti biaya yang timbul
akibat pemeriksaan pajak. Selain memberikan keuntungan bagi pihak
perusahaan, penghindaran pajak juga dapat memberikan efek negatif bagi
perusahaan. Dalam penelitian ini, pengukuran Tax avoidance diukur
19
menggunakan rumus ETR ( effective tax rate), menunjukan semua beban pajak
yang harus ditanggung oleh perusahaan termasuk pajak final dan utang.
Semakin kecil nilai ETR maka semakin besar praktik penghindaran pajak yang
dilakukan perusahaan.
2.3 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu
Penelitian dan
No. Variabel dan Metode Analisis Hasil
Tahun
1 Tiasrini & Utiyati, Variabel Dependen : Variabel profitabilitas
(2020) Nilai Perusahaan berpengaruh positif
Variabel Independen : terhadap nilai perusahaan.
Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Variabel leverage
dan Leverage. berpengaruh negatif
Sampel : terhadap nilai perusahaan.
17 perusahaan manufaktur sub
sektor bahan kimia di BEI tahun (
2014 – 2018 )
Metode Analisis :
Regresi linier berganda.
2 Lisda & Kusmayanti, Variabel Dependen : Variabel struktur modal dan
(2021) Nilai Perusahaan profitabilitas berpengaruh
Variabel Independen : positif terhadap nilai
20
Struktur Modal dan Profitabilitas perusahaan.
Sampel :
11 perusahaan sector tambang di
BEI tahun ( 2014 – 2018 )
Metode Analisis :
Regresi linier berganda.
3 Martha et al., (2018) Variabel Dependen : Variabel Profitabilitas
Nilai Perusahaan berpengaruh positif
Variabel Independen : terhadap nilai perusahaan
Profitabilitas dan Kebijakan Variabel kebijakan dividen
Dividen berpengruh negatif terhadap
Sampel : nilai perusahaan.
30 perusahaan perbankan di BEI
tahun (2012– 2016 )
Metode Analisis :
Regresi linier berganda.
4 Nurhasanatang et al., Variabel Dependen : Variabel Kebijakan
(2020) Nilai Perusahaan dividen, kebijakan leverage
Variabel Independen : keputusab investasi dan
Kebijakan dividen, kebijakan manajemen laba
leverage, keputusan investasi dan berpengaruh positif
manajemen laba terhadap nilai terhadap nilai perusahaan.
perusahaan
21
Sampel :
10 perusahaan pertambangan di
BEI tahun (2012– 2016 )
Metode Analisis :
Regresi linier berganda.
5 Sucipto, Edy & Variabel Dependen : Variabel profitabilitas dan
Sudiyatno (2018) Nilai Perusahaan kebijakan dividen
Variabel Independen : berpengaruh positif
Profitabilitas, kebijakan dividen, terhadap nilai perusahaan.
dan kebijakan hutang terhadap Kebijakan hutang
nilai perusahaan. berpengaruh negatif
Sampel : terhadap nilai perusahaan.
36 perusahaan manufaktur di BEI
tahun ( 2011- 2013 )
Metode Analisis :
Regresi linier berganda.
6 Harventy (2016) Variabel Dependen : Variabel tax avoidance
Nilai Perusahaan berpengaruh negatif
Variabel Independen : terhadap nilai perusahaan.
Tax Aviodence
Sampel :
35 perusahaan manufaktur di BEI
tahun ( 2013- 2015 )
22
Metode Analisis :
Regresi linier berganda.
7 Tarihoran (2016) Variabel Dependen : Variabel tax avoidance
Nilai Perusahaan tidak berperngaruh terhadap
Variabel Independen : nilai perusahaan.
Tax Aviodence dan Leverage Varibel ukuran leverage
Sampel : berpengaruh signifikan
141 perusahaan di BEI tahun ( terhadap nilai perusahaan.
2011- 2014 )
Metode Analisis :
Regresi linier berganda.
8 Zulfiara & Ismanto Variabel Dependen : Variabel konservatisme
(2019) Nilai Perusahaan berpengaruh positif
Variabel Independen : terhadap nilai perusahaan.
Konservatisme akuntansi dan Variabel penghindaran
penghindaran pajak pajak ( tax avoidance )
Sampel : berpengaruh negative
48 perusahaan manufaktur di BEI terhadap nilai perusahaa.
tahun ( 2015- 2017 )
Metode Analisis :
Regresi linier berganda.
23
9 Violeta & Serly, Variabel Dependen : Varibel manajemen laba
(2020) Nilai Perusahaan berpengaruh positif tetapi
Variabel Independen : tidak signifikan terhadap
Tax avoidance dan manajemen nilai perusahaan.
laba Varibel tax avoidance
Sampel : berpengaruh negative
135 perusahaan perbankan di BEI terhadap nilai perusahaan.
tahun ( 2014- 2018 )
Metode Analisis :
Regresi linier berganda.
10 Pasaribu et al (2016) Variabel Dependen : Varibel Struktur modal
Nilai Perusahaan berpengaruh negatif
Variabel Independen : terhadap nilai perusahaan.
Struktur Modal, Struktur Varibel struktur
Kepemilikan, Profitabilitas. kepemilikan berpengaruh
Sampel : positif terhadap nilai
65 perusahaan sector industry perusahaan.
dasar dan kimia di BEI tahun ( Variabel Profitabilitas
2011- 2014 ) berpengaruh poitif terhadap
Metode Analisis : nilai perusahaan.
Regresi linier berganda
Sumber : Berbagai sumber yang dirangkum
24
2.4 Kerangka Pemikiran Teoritis dan Pengembangan Hipotesis
2.4.1 Pengaruh Struktur Modal Terhadap Nilai Perusahaan.
Struktur modal merupakan rasio antara total hutang perusahaan terhadap
total ekuitas. Menurut Brealey, Myres dan Marcus (2008:6) struktur modal
merupakan bentuk pendanaan untuk memenuhi kebutuhan investasi dan kegiatan
operasional perusahaan. Berdasarkan dengan teori sinyal, perusahaan akan
berusaha menyampaikan hal baik kepada publik untuk mendapatkan respon yang
baik pula. Konsep pembangunan teori sinyal adalah berdasarkan timbulnya
asimetri informasi antara perusahaan (manajemen) dengan pihak luar, dimana
kemampuan investor dalam memperoleh informasi internal perusahaan lebih
terbatas dibandingkan pihak menejemen. Pengaruh struktur modal terhadap nilai
perusahaan dapat diproyeksikan dengan rasio Debt to Equity Ratio (DER) yang
mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan modal sendiri guna
membiayai kewajiban atau hutangnya. Semakin tinggi nilai DER, maka
perusahaan semakin dianggap mampu dalam menanggung beban/risiko
pembiayaan hutangnya, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan investor. Nilai
DER yang tinggi akan menjadi good news ( sinyal baik ) bagi investor untuk
berinvestasi. Karena nilai DER yang tinggi dapat mengatasi rasa khawatir investor
akan risiko gagal bayar perusahaan dalam membiyai hutangnya dan meningkatkan
rasa kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya sehingga mampu
meningkatkan permintaan saham dan harga saham yang kemudian berpengaruh
terhadap meningkatnya nilai perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Lisda &
Kusmayanti, (2021) menyatakan bahwa struktur modal berpengaruh positif
25
terhadap nilai perusahaan yang kemudian di dukung oleh Rai Prastuti & Merta
Sudiartha (2016) serta (Yanti & Darmayanti (2019). Berdasarkan uraian diatas
maka hipotesis peneletian dapat dirumuskan sebagai berikut :
H1 : Struktur modal berpengaruh postif terhadap nilai perusahaan.
2.4.2 Pengaruh Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan.
Kebijakan dividen adalah proporsi pembagian laba yang diperoleh
perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham perusahaan. Kebijakan
dividen berkaitan dengan kebijakan mengenai seberapa besar laba yang diperoleh
perusahaan akan didistribusikan kepada pemegang saham (Sofyaningsih &
Hardiningsih, 2011). Melalui kebijakan dividen, seluruh upaya yang dilakukan
financial manager bertujuan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Kebijakan
dividen dapat diproyeksikan dengan DPR ( Dividend Payout Ratio ) yaitu suatu
perbandingan dividen yang diberikan ke pemegang saham dan laba bersih per
saham. Meningkatnya nilai DPR tiap periode merupakan bentuk good news (
sinyal baik ) bagi investor karena mencerminkan bahwa arus kas masa depan
perusahaan dianggap cukup untuk menanggung dividen yang tinggi, sehingga
berpengaruh terhadap meningkatnya nilai perusahaan.
Sejalan dengan signalling theory yang dikembangkan oleh Ross, (1977)
bahwa perusahaan memberikan sinyal kepada investor mengenai growth
perusahaan ditunjukkan dengan cara menginformasikan pertumbuhan laba. Salah
satunya adalah dengan memberikan sinyal positif terkait pembagian keuntungan
investor atau dividen. Hasil penelitian Nurhasanatang et al.,(2020) dan Sucipto,
Edy & Sudiyatno (2018) menyatakan bahwa kebijakan dividen berpengaruh
26
terhadap nilai perusahan. Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis penelitian
dapat dirumuskan sebagai berikut :
H2 : Kebijakan dividen berpengaruh posistif terhadap nilai perusahaan.
2.4.3 Pengaruh Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan
Profitabilitas merupakan suatu indikator kinerja yang dilakukan
manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan yang dapat dilihat dari laba
yang dihasilkan oleh perusahaan. Seorang investor akan mengaitkan tingkat
profitabilitas sebuah perusahaan dengan tingkat resiko yang timbul dari
investasinya. Profitabilitas dapat diukur dengan ROE ( Return On Equity), yaitu
rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih
untuk pengembalian ekuitas pemegang saham. ROE yang meningkat
menunjukkan bahwa kinerja manajemen meningkat dalam mengelola sumber
dana pembiayaan operasional secara efektif untuk menghasilkan laba bersih
(profitabilitas meningkat).
Teori sinyal menyatakan bahwa laba yang besar mampu menjadi sinyal
baik bagi para investor, karena profitabilitas sering kali menjadi barometer utama
para calon investor sebelum menanamkan modalnya. Profitabilitas memberikan
gambaran kinerja keuangan perusahaan. Besarnya nilai profabilitas berbanding
lurus dengan meningkatnya kemampuan perusahaan dalam membayar dividen,
sehingga menjadi sinyal bahwa adanya Profitabilitas yang tinggi mampu dijadikan
sinyal bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik dimasa depan sehingga
dapat menarik minat dan kepercayaan investor, kemudian secara langsung dapat
menaikkan harga saham berikut nilai perusahaan. Hasil penelitian yang dilakukan
27
oleh Tiasrini & Utiyati (2020), Yanti & Darmayanti, (2019), Martha et al.,(2018)
menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis penelitian dapat dirumuskan sebagai
berikut :
H3 : Profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
2.4.4 Pengaruh Tax Avoidence Terhadap Nilai Perusahaan
Tax avoidance merupakan upaya penghindaran pajak yang dilakukan
secara legal dan aman bagi wajib pajak karena tidak bertentangan dengan
ketentuan perpajakan, dimana metode dan teknik yang digunakan cenderung
memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam undang-undang dan
peraturan perpajakan itu sendiri untuk memperkecil jumlah pajak yang terutang.
Tax avoidance diukur menggunakan ETR ( Effective Tax Rate) perusahaan, yaitu
rasio antara biaya pajak dengan laba sebelum pajak. Nilai ETR yang rendah
menunjukkan tingginya kadar praktik tax avoidance. Tingginya nilai ETR dapat
menjadi indikasi bahwa beban pajak perusahaan lebih kecil, sehingga mampu
meningkatkan net profit after tax. Perusahaan beranggapan dengan meningkatnya
laba sebelum pajak mampu menarik minat investor. Para investor berharap akan
mendapatkan pembagian dividen secara optimal dari laba yang dihasilkan
perusahaan. Namun, Teori sinyal menyatakan bahwa praktik tax voidance yang
terlalu tinggi dapat menurunkan minat investor . Investor menangkap sinyal buruk
atas dilakukannya praktik ini sebagai indikasi manipulasi yang mengurangi
akurasi laporan keuangan yang disajikan. Berkurangnya akurasi informasi yang
28
disajikan akan berdampak pada menurunnya minat investor dan harga saham yang
kemudian akan berpengaruh terhadap turunnya nilai perusahaan. Hasil penelitian
Violeta & Serly (2020) menyatakan bahwa tax avoidance berpengaruh negatif
terhadap nilai perusahaan, serupa dengan hasil penelitian dari Zulfiara & Ismanto,
(2019). Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis penelitian dapat dirumuskan
sebagai berikut :
H4 : Tax avoidance berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan
2.4.5 Kerangka Penelitian
Berdasarkan pemaparan diatas, maka model dalam penelitian ini adalah :
Gambar 2.1
Struktur Modal
H1 (+)
( X1)
Kebijakan Dividen H2 (+)
( X2)
Nilai Perusahaan
H3 (+)
Profitabilitas ( Y1)
( X3)
H4 (-)
Tax Avoidance
( X4)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini hendak menguji pengaruh struktur modal, kebijakan dividen,
profitabilitas dan tax avoidance terhadap nilai perusahaan perusahaan manufaktur
yang terdaftar pada BEI tahun 2016 – 2020. Berdasarkan uraian kerangka
penelitian diatas, maka peneliti menggunakan metode kuantitatif dengan
pendekatan deskriptif. Menurut Sugiyono (2017:8), metode kuantitatif adalah
metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme yang digunakan
untuk meneliti populasi atau sampel tertentu dengan tujuan untuk menguji
hipotesis yang telah ditetapkan.
Penelitian ini bersifat asosiatif kausalitas, yaitu penelitian yang mencari
hubungan atau pengaruh sebab akibat dari variable x terhadap variable y
berdasarkan hipotesis yang telah dirumuskan.
3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi
Menurut Sugiyono ( 2017 ), Populasi adalah wilayah generalisasi yang
terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang
29
30
terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016 - 2020. (Lihat halaman 30 ini,
diatas disebutkan penelitian ini hendak menguji hendak menguji pengaruh
struktur modal, kebijakan dividen, profitabilitas dan tax avoidance terhadap nilai
perusahaan perusahaan manufaktur yang terdaftar pada BEI tahun 2016 – 2020.
3.2.2 Sampel
Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi (Sugiyono, 2011:120). Sampel dalam penelitian ini ditentukan
menggunakan metode purposive sampling, yaitu penentuan sampel yang
dilakukan berdasarkan kriteria atau pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan
peneliti. Alasan digunakannya metode purposive sampling dalam penelitian ini
adalah karena tidak semua sampel memiliki kriteria sesuai dengan yang telah
penulis tentukan. Oleh karena itu, sampel yang dipilih sengaja ditentukan
berdasarkan kriteria tertentu yang telah ditentukan oleh penulis untuk
mendapatkan sampel yang representatif. Adapun kriteria perusahaan yang
dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2016 – 2020.
2. Perusahaan manufaktur yang menerbitkan laporan keuangan secara berturut-
turut selama periode penelitian yaitu tahun 2016 – 2020
3. Perushaan manufaktur yang menyajikan laporan keuangannya dalam satuan
mata uang rupiah selama periode tahun 2016 - 2020.
4. Perusahaan manufaktur yang tidak mengalami kerugian selama tahun 2016 –
2020.
31
5. Perusahaan Manufaktur yang membagikan dividen secara berturut- turut
selama tahun 2016 – 2020.
6. Perusahaan yang memiliki kelengkapan informasi sesuai dengan kebutuhan
penelitian.
3.3 Sumber dan Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data
sekunder merupakan data yang diperoleh dan dikumpulkan secara tidak langsung
terkait data yang diterbitkan oleh suatu perusahaan, misalnya melalui jurnal,
penelitian terdahulu ataupun laporan keuangan. Data sekunder dalam penelitian
ini diperoleh melalui situs resmi Bursa Efek Indonesia ([Link]) berupa
laporan keuangan auditan perusahaan manufaktur periode 2016-2020.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode
dokumentasi, yaitu mengumpulkan data sekunder berupa laporan keuangan yang
diperoleh melalui situs Bursa Efek Indonesia dalam situs [Link].
3.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
3.5.1 Variabel Dependen
Menurut Sugiyono (2015:39) variabel dependen merupakan variabel yang
dipengaruhi oleh variabel [Link] penelitian ini yang menjadi variabel
terikat atau dependen (Y) adalah nilai perusahaan. Menurut Harmono (2009:233),
nilai perusahaan adalah kinerja perusahaan yang dicerminkan oleh harga saham
yang dibentuk oleh permintaan dan penawaran pasar modal yang merefleksikan
32
penilaian masyarakat terhadap kinerja perusahaan. Nilai perusahaan diukur dapat
diukur menggunakan rumus Price to Book Value :
PBV Ratio =
3.5.2 Variabel Independen
Menurut Sugiyono (2017:39) menjelaskan bahwa variable independen
atau variable bebas merupakan variabel yang mempengaruhi variable dependen.
Dalam penelitian ini ada beberapa variable independent, diantaranya sebagai
berikut :
1) Struktur Modal
Struktur modal merupakan bentuk pendanaan untuk memenuhi kebutuhan
investasi dan kegiatan operasional perusahaan. Struktur modal yang optimal bagi
suatu perusahaan diartikan sebagai suatu struktur yang akan memaksimalkan
harga saham perusahaan tersebut. Strktur modal dapat diukur menggunakan
rumus berikut :
Debt Ratio =
2) Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen adalah proporsi pembagian laba yang diperoleh
perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham perusahaan. Kebijakan
dividen berkaitan dengan kebijakan mengenai seberapa besar laba yang
diperoleh perusahaan akan didistribusikan kepada pemegang saham
33
(Sofyaningsih dan Hardiningsih, 2011). Kebijaka dividen dapat diukur dengan
rumus berikut :
Dividen Payout Ratio =
3) Profitabilitas
Profitabilitas merupakan suatu indikator kinerja yang dilakukan manajemen
dalam mengelola kekayaan perusahaan yang dapat dilihat dari laba yang
dihasilkan oleh perusahaan Rasio profitabilitas ini dapat diartikan sejauh mana
keefektifan dari keseluruhan manejemen dalam menciptakan keuntungan bagi
perusahaan. Profitabilitas dapat diukur menggunakan rumus berikut :
Return On Equity =
4) Tax Avoidance
Tax avoidance merupakan upaya penghindaran pajak yang dilakukan secara
legal dan aman bagi wajib pajak karena tidak bertentangan dengan ketentuan
perpajakan, dimana metode dan teknik yang digunakan cenderung
memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam undang-undang dan
peraturan perpajakan itu sendiri untuk memperkecil jumlah pajak yang terutang.
Tax Avoidance dapat diukur menggunakan rumus berikut :
Effective Tax Rate =
34
Tabel 3.1
Definisi Operasional Variabel
No Variabel Operasional Indikator Sumber
1 Nilai Nilai perusahaan (Kasmir,
Perusahaan adalah kinerja 2014)
PBV Ratio :
perusahaan yang
(Y)
dicerminkan oleh
harga saham..
2 Struktur . Struktur modal (Kasmir,
Modal ( X1 ) merupakan bentuk 2014)
Debt Equity Ratio :
pendanaan untuk
memenuhi kebutuhan
investasi dan kegiatan
operasional
perusahaan
3 Kebijakan Kebijakan dividen (Kasmir,
Dividen ( X2) adalah proporsi 2014)
Dividen Payout Ratio :
pembagian laba yang
diperoleh perusahaan
yang dibagikan kepada
35
para pemegang saham
perusahaan.
No Variabel Operasional Indikator Sumber
4 Profitabilitas Profitabilitas
( X3 ) merupakan suatu
ROE ( Return On Equity ) : (Kasmir,
indikator kinerja yang
2014)
dilakukan manajemen
dalam mengelola
kekayaan perusahaan
yang dapat dilihat dari
laba yang dihasilkan
oleh perusahaan
5 Tax Tax avoidance (Kasmir,
Avoidance merupakan upaya 2014)
Effective Tax Rate :
penghindaran pajak
( X4 )
yang dilakukan secara
legal dan aman bagi
wajib pajak karena
tidak bertentangan
dengan ketentuan
perpajakan.
36
3.6 Teknik Analisis
3.6.1 Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif merupakan gambaran atau deskripsi suatu data yang
dilihat dari jumlah data, range, nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata,
standar deviasi, variance, skewness (kemiringan distribusi), kurtosis dari sampel
penelitian (Ghozali, 2018:19). Penyajian statistik deskriptif bertujuan memberikan
gambaran atau pemahaman terkait karakteristik hubungan antar variabel yang
digunakan dalam penelitian diantaranya : struktur modal, kebijakan dividen,
profitabilitas, dan tax avoidance.
3.6.2 Uji Asumsi Klasik
Pengujian ini dilakukan untuk menguji kualitas data sehingga data
diketahui keabsahannya dan menghindari terjadinya estimasi bias. Pengujian
asumsi klasik ini menggunakan empat uji, yaitu uji normalitas, uji
multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi.
1) Uji Normalitas
Menurut Danang Sunyoto (2013:92), uji normalitas dilakukan untuk
menguji data variabel bebas (X) dan data variabel terikat (Y) pada persamaan
regresi yang dihasilkan nantinya berdistribusi normal atau tidak. Model regresi
yang baik adalah model regresi yang memiliki distribusi normal atau mendekati
normal, sehingga layak dilakukan pengujian secara statistik. Uji normalitas pada
penelitian ini menggunakan alat uji SPSS. Uji normalitas data dilakukan dengan
37
menggunakan Test Normality Kolmogorov-Smirnov, dasar pengambilan
keputusan dilakukan berdasarkan probabilitas (Asymtotic Significanted), yaitu:
1. Jika probabilitas > 0,05 maka distribusi dari model regresi dikatakan normal.
2. Jika probabilitas < 0,05 maka distribusi dari model regresi dikatakan tidak
normal.
2) Uji Multikolinearitas
Danang Sunyoto ( 2013 ) menjelaskan, uji multikolinearitas bertujuan
untuk menguji apakah terdapat korelasi antar variabel bebas (independen) pada
model regresi. Indikator model regresi yang baik ditandai dengan tidak
ditemukannya korelasi antar variabel independen Jika variabel independen saling
berkolerasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah
variabel independen yang nilai kolerasi antar sesama variabel independen sama
dengan nol. Uji multikolinearitas pada penelitian ini menggunakan alat uji SPSS.
Imam Ghozali ( 2013 ) mengungkapkan, cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya
multikolinearitas di dalam model regresi dapat dilihat dari beberapa hal indicator
berikut :
1. Jika R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat
tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel independen banyak yang
tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen.
2. Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen. Jika antar
variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya diatas 0,90),
maka hal ini mengindikasikan adanya multikolinearitas.
38
3. Multikolinearitas juga dapat dilihat dari : tolerance value dan lawannya
yakni, Variance Inflation Faktor (VIF). Tolerance mengukur variabilitas
variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel
independen lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF
tinggi (karena VIF=1/tolerance). Pengujian multikolinearitas dapat dilakukan
sebagai berikut:
Tolerance value < 0,10 atau VIF > 10 : terjadi multikolinearitas.
Tolerance value > 0,10 atau VIF < 10 : tidak terjadi multikolinearitas
3) Uji Heteroskedastisidas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan
yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain
tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut
heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau
tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2013). Uji heteroskedastisitas pada
penelitian ini menggunakan alat uji SPSS. Pengujian heteroskedastisitas dapat
dilakukan dengan uji Glejser. Dasar pengambilan keputusan uji Glejser yaitu:
1. Tidak terjadi heteroskedastisitas, jika nilai t hitung < t tabel dan nilai
signifikansi α > 0,05.
2. Terjadi heteroskedastisitas, jika nilai t hitung > t tabel dan nilai signifikansi α <
0,05.
39
4) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier
berganda ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan periode
t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat masalah
autokorelasi. Autokorelasi terjadi apabila penyimpangan pada periode t-1
(sebelumnya) atau terjadi korelasi diantara kelompok observasi yang diurutkan
menurut waktu (pada data time series). Uji autokorelasi pada penelitian ini
menggunakan alat uji SPSS, dengan menggunakan uji Durbin-Watson, yakni
membandingkan nilai D-W dengan nilai d dari tabel Durbin Watson :
Jika D-W < dL, kesimpulannya pada data terdapat autokorelasi positif
Jika D-W > ( 4 – dL ) , kesimpulannya pada data terdapat autokorelasi
negative.
Jika dU < D-W < ( 4 – dU ), kesimpulannya pada data tidak terdapat
autokorelasi
Jika : dL D-W dU atau 4 – dU D-W ( 4 – dL ), berarti tidak ada
kesimpulan
5) Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis regresi linier berganda merupakan suatu teknik statistika yang
digunakan untuk mencari persamaan regresi dengan tujuan meramal nilai variabel
dependen berdasarkan nilai-nilai variabel independen dan mencari kemungkinan
kesalahan serta menganalisa hubungan antara satu variabel dependen dengan dua
atau lebih variabel independen baik secara simultan maupun parsial. Analisis
40
regresi linier berganda digunakan untuk menguji apakah variabel independen
memiliki pengaruh terhadap variabel dependen secara simultan maupun parsial.
Pengujian analisis regresi linier berganda pada penelitian ini menggunakan alat uji
SPSS. Sugiyono ( 2015 : 276) mengungkapkan, analisis regresi linier berganda
dapat dirumuskan sebagai berikut :
Y = a + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4 + e
Keterangan :
Y = Nilai Perusahaan
a = Bilangan Konstanta
b1-b4 = Koefisien regresi
X1 = Struktur modal
X2 = Kebijakan Dividen
X3 = Profitabilitas
X4 = Tax Avoidance
e = Error
3.6.3 Pengujian Hipotesis
1) Koefisien Determinasi ( R2 )
Uji koefisien determinasi ( R2 ) bertujuan untuk mengukur sejauh mana
variabel bebas mampu menjelaskan variasi variabel terikat ( Ghozali, 2018 : 97).
Sehingga dalam penelitian ini, uji R2 nantinya akan menjelaskan kemampuan
variabel independen yaitu struktur modal, kebijakan dividen, profitabilitas,
41
berpengaruh terhadap variable dependen yaitu Nilai perusahaan. Nilai koefisien
determinasi yaitu antara 0 sampai dengan 1. Apabila nilai R2 mendekati 0, maka
kemampuan variable independen dalam menjelaskan variable dependen disebut
rendah, begitupun sebaliknya. Pengujian koefisian determinasi pada penelitian ini
dilakukan menggunakan alat uji SPSS.
2) Pengujian Hipotesis Secara Simultan (Uji F)
Uji f bertujuan untuk menggambarkan pengaruh variabel independen secara
bersama-sama terhadap variabel dependen. Uji F biasa disebut dengan Analysis
of varian (ANOVA). Ketentuan hasil hipotesis uji F adalah berupa level
signifikansi 5% dengan derajat kebebasan pembilang df = k dan derajat kebebasan
penyebut (df) = n-k-1 dimana k adalah jumlah variabel bebas. Uji F pada
penelitian ini dilakukan menggunakan alat uji SPSS. Adapun kriteria uji F dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
- Ha diterima apabila : signifikansi F > 0,05, yang artinya variabel independen
secara simultan tidak signifikan terhadap variabel dependen.
- H0 ditolak apabila : signifikasnsi F < 0,05, yang artinya pengaruh variabel
independen secara simultan berpengaruh secara signifikan terhadap variabel
dependen.
3) Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t)
Uji t adalah pengujian koefisien regresi masing-masing variabel independen
terhadap variabel dependen untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen. . Uji T pada penelitian ini dilakukan
42
menggunakan alat uji SPSS. Adapun kriteria uji T hipotesis pada penelitian ini
adalah :
a. Pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan
- Ha1 : β ≤ 0,05, artinya struktur modal berpengaruh positif terhadap nilai
perusahaan.
- Ho1 : β ≥ 0,05, artinya struktur modal tidak berpengaruh terhadap nilai
perusahaan.
b. Pengaruh kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan
- Ha2 : β ≤ 0,05, artinya kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap nilai
perusahaan.
- Ho2 : β ≥ 0,05, artinya kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap nilai
perusahaan.
c. Pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan
- Ha3 : β ≤ 0,05, artinya profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai
perusahaan.
- Ho3 : β ≥ 0,05, artinya profitabilitas tidak berpengaruh terhadap nilai
perusahaan.
d. Pengaruh Tax Avoidance terhadap nilai perusahaan
- Error! Bookmark not defined.Ha4 : β ≤ 0,05, artinya tax avoidance
berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.
- Ho4 : β ≥ 0,05, artinya tax avoidance tidak berpengaruh terhadap nilai
perusahaan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil dan Penelitian
4.1.1 Deskripsi Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2016-2020 yang berjumlah 145 perusahaan.
Teknik penentuan sampel digunakan teknik purposive sampling yang merupakan
teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu (Hartono, 2013). Dalam
penelitian ini diperoleh sampel sebanyak 30 perusahaan. Adapun kriteria
penentuan sampel dapat diketahui pada tabel 4.1 berikut :
Tabel 4.1
Kriteria Penentuan Sampel
KRITERIA JUMLAH
Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
1 pada tahun 2016-2020 145
Perusahaan manufaktur yang tidak mempublikasikan laporan
2 keuangan secara konsisten pada tahun 2016-2020 (6)
Laporan keuangan perusahaan yang tidak menggunakan mata uang
3 Rupiah selama periode 2016 - 2020 (30)
4 Perusahaan yang mengalami rugi selama tahun 2016 - 2020 (50)
5 Perusahaan yang tidak membagikan dividen selama tahun 2016-2020 (28)
6 Perusahaan yang tidak memiliki kelengkapan data (1)
Jumlah Sampel Akhir 30
Tahun Pengamatan 5
Jumlah Pengamatan 150
Sumber: Data sekunder yang telah diolah, 2021
43
44
Dari tabel 4.1 diatas diperoleh sampel penelitian dari kriteria yang telah
ditetapkan sehingga diperoleh 30 sampel perusahaan dikalikan 5 (lima) tahun.
Sehingga didapatkan sampel sebanyak 150 perusahaan dengan periode dari tahun
2016-2020. Berikut tabel 4.2 daftar perusahaan sampel sebagai berikut :
Tabel 4.2
Daftar perusahaan sampel
NO KODE NAMA EMITEN
1 ARNA Arwana Citramulia Tbk
2 ASII Astra International Tbk
3 CINT Chitose Internasional Tbk
4 CPIN Charoen Pokphand Indonesia Tbk
5 DLTA Delta Djakarta Tbk
6 DPNS Duta Pertiwi Nusantara Tbk
7 DVLA Darya-Varia Laboratoria Tbk
8 EKAD Ekadharma International Tbk
9 FASW Fajar Surya Wisesa Tbk
10 HMSP H.M. Sampoerna Tbk
11 ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
12 IGAR Champion Pacific Indonesia Tbk
13 IMPC Impack Pratama Industri Tbk
14 INAI Indal Aluminium Industry Tbk
15 INTP Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
16 JPFA Japfa Comfeed Indonesia Tbk
17 KBLM Kabelindo Murni Tbk
18 KINO Kino Indonesia Tbk
19 KLBF Kalbe Farma Tbk
20 MYOR Mayora Indah Tbk
21 SCCO Supreme Cable Manufacturing & Commerce
22 SIDO Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk
23 SKLT Sekar Laut Tbk
24 SMBR Semen Baturaja (Persero) Tbk
25 SMGR Semen Indonesia (Persero) Tbk
26 SMSM Selamat Sempurna Tbk
27 TSPC Tempo Scan Pacific Tbk
28 ULTJ Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company
Tbk
45
29 UNVR Unilever Indonesia Tbk
30 WTON Wijaya Karya Beton Tbk
Sumber: Data sekunder yang telah diolah, 2021
4.1.2 Analisis Data
1) Statistik Deskriptif
Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif, maka pada tabel 4.1
ditampilkan karakteristik sampel yang digunakan di dalam penelitian ini yang
meliputi : jumlah sampel (N), nilai minimum, nilai maksimum, rata-rata sampel
(mean), serta standar deviasi dari masing-masing variabel yang digunakan dalam
penelitian ini meliputi: Struktur modal, kebijakan dividen, profitablitias, dan tax
avoidance.
Tabel 4.3
Statistik Deskriptif
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
DER (X1) 150 .083 4.190 .76065 .779464
DPR (X2) 150 .000 3.995 .29818 .456113
ROE (X3) 150 .001 1.633 .19455 .268276
ETR (X4) 150 .012 2.195 .28615 .248314
PBV (Y) 150 .287 56.792 379.306 6.381.304
Sumber: Data Sekunder yang diolah, 2021
Tabel 4.3 menunjukkan hasil analisis struktur modal, kebijakan dividen,
profitabilitas, dan tax avoidance dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Variabel Debt Equity Ratio (X1) dengan nilai terendah dimiliki oleh Industri
Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) dengan nilai 0,083 pada tahun
2016. Sedangkan nilai tertinggi diraih oleh PT. Indal Aluminium Industry
46
Tbk ( INAI ) dengan nilai 4,190 pada tahun 2016. Nilai rata-rata (mean) DER
sebesar 0,76065 dengan standar deviasi sebesar 0,779464. Nilai rata-rata
(mean) DER lebih kecil dari standar deviasi dapat dikatakan kurang baik
karena sebaran data tidak merata, yang disebabkan perbedaan data satu
dengan yang lainnya lebih besar dari nilai rata-rata.
2. Variabel Deviden Payout Ratio (X2) dengan nilai terendah dimiliki oleh PT.
Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) dengan nilai 0,001 pada tahun 2016.
Sedangkan nilai tertinggi diraih oleh oleh PT. Unilever Indonesia Tbk
(UNVR) dengan nilai 3,995 pada tahun 2019. Nilai rata-rata (mean) DPR
sebesar 0,29818 dengan standar deviasi sebesar 0,456113. Nilai rata-rata
(mean) DPR lebih kecil dari standar deviasi dapat dikatakan kurang baik
karena sebaran data tidak merata, yang disebabkan perbedaan data satu
dengan yang lainnya lebih besar dari nilai rata-rata.
3. Variabel Profitabilitas (X3) dengan nilai terendah dimiliki oleh Chitose
Internasional Tbk (CINT) dengan nilai 0,001 pada tahun 2020. Sedangkan
nilai tertinggi diraih oleh oleh PT. Kalbe Farma Tbk ( KLBF ) dengan nilai
1,633 pada tahun 2018. Nilai rata-rata (mean) ROE sebesar 0,19455 dengan
standar deviasi sebesar 0,268276. Nilai rata-rata (mean) ROE lebih kecil dari
standar deviasi dapat dikatakan kurang baik karena sebaran data tidak merata,
yang disebabkan perbedaan data satu dengan yang lainnya lebih besar dari
nilai rata-rata.
4. Variabel Effective Tax Rate (X4) dengan nilai terendah dimiliki oleh PT.
Kabelindo Murni Tbk (KBLM) dengan nilai 0,012 pada tahun 2017.
47
Sedangkan nilai tertinggi diraih oleh oleh PT. Delta Djakarta Tbk (DLTA)
dengan nilai 2,195 pada tahun 2018. Nilai rata-rata (mean) ETR sebesar
0,28615 dengan standar deviasi sebesar 0,248314. Nilai rata-rata (mean) DPR
lebih besar dari standar deviasi dapat dikatakan baik karena itu artinya data
tersebar secara merata .
5. Variabel Price to Book Value (Y) dengan nilai terendah dimiliki oleh PT.
Kabelindo Murni Tbk (KBLM) dengan nilai 0,287 pada tahun 2020.
Sedangkan nilai tertinggi diraih oleh oleh PT. Unilever Indonesia Tbk
(UNVR) dengan nilai 56.7 pada tahun 2020. Nilai rata-rata (mean) Y sebesar
379,30 dengan standar deviasi sebesar 6.381,304. Nilai rata-rata (mean) PBV
lebih kecil dari standar deviasi dapat dikatakan kurang baik karena sebaran
data tidak merata, yang disebabkan perbedaan data satu dengan yang lainnya
lebih besar dari nilai rata-rata.
2) Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik bertujuan untuk mengetahui apakah data pada penelitian ini
sudah memenuhi syarat model regresi yang baik. Uji asumsi klasik diantaranya
dilakukan dengan uji normalitas, uji multikolieritas, uji heteroskedastisitas, dan
uji korelasi.
a) Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel
pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak (Ghozali, 2016).
Penelitian ini menggunakan analisis statistik Kolmogorov-Smirnov pada
residual persamaan dengan kriteria pengujian adalah jika probability value >
48
0,05 maka data terdistribusi normal dan jika probability < 0,05 maka data
terdistribusi tidak normal. Berikut disajikan hasil uji normalitas data penelitian
model penelitian yang pertama adalah:
Tabel 4.4
Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N 150
Mean .0000000
Normal Parametersa
Std. Deviation 392.776.670
Absolute .207
Most Extreme
Positive .207
Differences
Negative -.196
Kolmogorov-Smirnov Z 2.532
Asymp. Sig. (2-tailed) .000
Sumber : Data Sekunder yang diolah, 2021
Hasil uji normalitas berdasarkan tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa data
variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdistribusi tidak normal
dibuktikan dengan nilai signifikasi yang terlihat dari nilai asymp. sig. yang lebih
kecil dari tingkat signifikasi penelitian 0,05 (α < 0,05) yaitu sebesar 0,000 yang
berarti data tidak terdistribusi normal.
Data yang tidak normal, bisa disebabkan karena distribusi data yang tidak
normal atau karena varians datanya yang tidak homogen. Minimal terdapat dua
pendekatan yang dapat digunakan dalam memperlakukan sebuah data yang tidak
normal (Ghozali, 2006: 151), yakni melakukan transformasi data atau alternatif
lain dengan mengurangi jumlah data, yaitu data-data yang dinilai ekstrim
(outlier). Model penelitian yang melanggar kriteria uji asumsi klasik, maka perlu
49
mendapat pengobatan. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah mengubah
model regresi ke dalam bentuk semi-log. Dimana variable dependen ( Y ) diubah
kedalam bentuk logaritma (Ln) namun variabel independennya tetap, atau
sebaliknya semua variable independent (X) diubah kedalam bentuk logartima
Ln) namun variable dependen ( Y ) bernilai tetap.
Pada penelitian ini, peneliti mengubah variable dependen ( X ) kedalam
bentuk logaritma. Hasil yang didapat setelah dilakukan transformasi data adalah
sebagai berikut :
Tabel 4.5
Uji Normalitas Setelah Tranformasi Semi Log
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N 150
Mean .0000000
Normal Parametersa
Std. Deviation .73031480
Absolute .051
Most Extreme Differences Positive .037
Negative -.051
Kolmogorov-Smirnov Z .630
Asymp. Sig. (2-tailed) .823
Sumber : Data Sekunder yang diolah, 2021
Setelah dilakukan pengobatan menggunakan transformasi semi log, hasil
data uji Kolmogorov-Smirnov memiliki nilai signifikan 0,823. Berdasarkan hasil
tersebut menunjukkan data telah berdistribusi normal. Hal ini ditunjukkan
dengan hasil uji Kolmogorov-Smirnov yang menunjukkan tingkat signifikansi
lebih besar dari 0,05, maka data dapat digunakan dalam pengujian dengan model
regresi karena model regresi yang baik adalah regresi yang mengasumsikan
50
bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar
maka uji statistik tidak valid untuk jumlah sampel kecil (Ghozali, 2016).
b) Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Pengujian ini
dilakukan dengan menggunakan tolerance value dan variance inflation factor
(VIF), nilai tolerance tidak ada yang kurang dari 0.10 dan nilai VIF tidak ada
yang lebih dari 10 maka dapat dikatakan tidak terjadi multikolonieritas yang
serius (Ghozali, 2016). Hasil uji multikolonieritas untuk model penelitian ini
dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.6
Uji Multikolinieritas
Unstandardized Standardized Collinearity
Coefficients Coefficients Statistics
Model t Sig.
Std.
B Beta Tolerance VIF
Error
(Constant) .491 .116 4.242 .000
-
DER (X1) -.180 .087 -.146 .041 .798 1.253
1 2.062
DPR (X2) .193 .141 .091 1.366 .174 .888 1.126
ROE (X3) 2.367 .267 .660 8.860 .000 .716 1.396
ETR (X4) -.227 .245 -.058 -.925 .356 .995 1.005
Sumber : Data Sekunder yang diolah, 2021
Berdasarkan hasil pada Tabel 4.6 dapat dijelaskan bahwa hasil uji
multikolonieritas menunjukkan nilai VIF (variane inflation factor) dibawah 10
dan nilai tolerance di atas 0,10. Hasil perhitungan nilai Tolerance variabel
51
struktur modal, kebijakan dividen, profitabilitas dan tax avoidance masing –
masing menunjukkan hasil lebih dari 0,10 yaitu 0,798, 0,888, 0,7716, 0,995.
Hasil perhitungan nilai Variance Inflation Factor (VIF) sebesar 1,253, 1,126,
1,396 , dan 1,005, dengan tidak ditemukannya variabel independen yang
memiliki VIF lebih dari 10 , sehingga dapat dijelaskan model regresi pada
penelitian ini terbebas dari masalah multikolonieritas.
c) Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk melihat apakah terdapat
ketidaksamaan varians dari residual satu ke pengamatan ke pengamatan yang
lain. Model regresi yang baik adalah yang Homoskesdatisitas atau tidak terjadi
Heteroskesdatisitas (Ghozali, 2006: 125). Hasil uji heteroskedastisitas untuk
model penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.7
Uji Heteroskedastisitas ( Uji Glejser )
Unstandardized Standardized
Model Coefficients Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
(Constant) .628 .067 9.348 .000
DER (X1) -.065 .051 -.119 -1.284 .201
1 DPR (X2) -.046 .082 -.049 -.562 .575
ROE (X3) .084 .155 .053 .539 .591
ETR (X4) .032 .142 .019 .225 .822
Sumber : Data Sekunder yang diolah, 2021
Berdasarkan pada Tabel 4.7 di atas, dapat dilihat bahwa nilai Sig dari semua
variabel berada pada nilai diatas 0,05, yang menunjukkan bahwa tidak ada
satupun variabel independen yang signifikan secara statistik mempengaruhi
52
variabel dependen nilai Absolut. Berarti pada penelitian ini, tidak terjadi
heteroskedastisitas.
d) Uji Auto korelasi
Uji autokolerasi bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi
liniear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan
kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya) (Ghozali, 2016). Model
regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autolerasi. Pengujian
autokolerasi di dalam penelitian ini menggunakan uji Durbin-Watson (DW test)
dengan membandingkan Durbin Watson hitung dengan Durbin Watson tabel
dengan ketentuan:
Tabel 4.8
Penilaian Durbin Watson (DW)
Hipotesis nol Keputusan Jika
Tidak ada autokolerasi positif Tolak 0 < d < dl
Tidak ada
Tidak ada autokolerasi positif dl ≤ d ≤ du
keputusan
Tidak ada kolerasi negatif Tolak 4-dl < d < 4
Tidak ada 4-du ≤ d ≤ 4-
Tidak ada kolerasi negatif
keputusan dl
Tidak ada autokoleasi postif atau negatif Tidak ditolak du < d < 4-du
Sumber : Ghozali, 2016
Berdasarkan tabel 4.8 penilaian durbin watson (DW test). Berikut ini hasil
dari pengujian autokolerasi yang dilakukan dengan penilaian DW adalah sebagai
berikut :
53
Tabel 4.9
Uji Auto Korelasi
Std.
R Adjusted Error of Durbin-
Model R
Square R Square the Watson
Estimate
1 .651a 0.424 0.408 0.74009 0.644
Sumber: Data Sekunder yang diolah, 2021
Jika nilai Durbin Watson pada table 4.9 dimasukkan kedalam rumus du ≤
d ≤ 4 – du, dengan jumlah variable indepen 4 (k=4) dan jumlah sampel data n =
150, maka diperoleh hasil 1,7881 > 0,644 < 2,2119 yang berarti terdapat masalah
autokorelasi. Maka, peneliti mengatasi autokorelasi ini dengan metode Cochrane-
Orcutt sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4.10
Uji Auto Korelasi Menggunakan Metode Cochrane-Orcutt
R Adjusted R Std. Error of Durbin-
Model R
Square Square the Estimate Watson
1 .645a .417 .400 .53469 1.950
Sumber : Data sekunder yang diolah, 2021
Hasil regresi dengan nilai signifikansi 0,05 (α = 0,05), jumlah variabel
independen 4 (k = 4) dan jumlah sampel data n = 150. Berdasarkan pada tabel
4.9 diatas hasil uji autokorelasi menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson
sebesar 1,950 dan nilai du = 1,7881. Hasil uji autokorelasi dengan metode
Durbin-Watson berada antara du = 1,7881 dan 4-du = 2,2119 yang berada pada
kisaran du ≤ d ≤ 4 - du (1,7881 ≤ 1,950 ≤ 2,2119 ). Hal ini berarti tidak ada
54
autokoleasi postif atau negatif, artinya bahwa seluruh variabel terbebas dari
masalah autokorelasi.
3) Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji apakah variabel
independen memiliki pengaruh terhadap variabel dependen secara simultan
maupun parsial. Berikut merupakan hasil uji persamaan regresi menggunakan
SPSS :
Tabel 4.11
Analisis Linier Berganda
Unstandardized Standardized
t Sig.
Coefficients Coefficients
Model
Std.
B Beta
Error
(Constant) .491 .116 4.242 .000
DER (X1) -.180 .087 -.146 -2.062 .041
1 DPR (X2) .193 .141 .091 1.366 .174
ROE (X3) 2.367 .267 .660 8.860 .000
ETR (X4) -.227 .245 -.058 -.925 .356
Sumber : Data sekunder yang diolah, 2021
Berdasarkan table 4.10 diatas, hasil pengolahan data dengan spss maka diperoleh
persamaan regresi akhir sebagai berikut :
Y = a – 0,180X1 + 0,193X2 + 2,367X3 + 0,227X4 +e
Dari hasil persamaan regresi diatas maka dapat dianalisis sebagai berikut:
1. Konstanta (Y) PBV sebesar 0.491, jika variabel independen dianggap sama
dengan nol atau konstan, maka besaran nilai perusahaan ( PBV ) akan
mengalami kenaikan sebesar 0,491.
55
2. Nilai koefisien dari struktur modal (X1) sebesar -0,180 bernilai negatif, hal
ini menunjukkan jika struktur modal naik satu kesatuan dapat menurunkan
nilai perusahaan sebesar 0,181 dengan asumsi variabel lainnya tetap.
3. Nilai koefisien dari kebijakan dividen (X2) sebesar 0,193 bernilai positif,
hal ini menunjukkan jika kebijakan dividen naik satu kesatuan dapat
menaikkan nilai perusahaan sebesar 0,193 dengan asumsi variabel lainnya
tetap.
4. Nilai koefisien dari profitabilitas (X3) sebesar 2,367 bernilai positif, hal ini
menunjukkan jika profitabilitas naik satu kesatuan dapat menaikkan nilai
perusahaan sebesar 2,367 dengan asumsi variabel lainnya tetap.
5. Nilai koefisien dari tax avoidance (X4) sebesar -0,227 bernilai negatif, hal
ini menunjukkan jika tax avoidance naik satu kesatuan dapat menurunkan
nilai perusahaan sebesar 0,227 dengan asumsi variabel lainnya tetap.
4.1.3 Pengujian Hipotesis
1) Koefisien Determinasi ( R2 )
Uji R2 nantinya akan menjelaskan kemampuan variabel independen yaitu
struktur modal, kebijakan dividen, profitabilitas, dan tax avoidance berpengaruh
terhadap variable dependen yaitu Nilai perusahaan. Adapun hasil koefisien
determinasi (R2) dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.12
Uji Koefisien Determinasi
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square
Square Estimate
1 .651a .424 .408 .74032
56
Sumber : Data sekunder yang diolah, 2021
Menurut hasil tabel 4.11 dapat diketahui nilai adjusted adalah sebesar 0,408
atau 40,8%. Hal ini dapat diartikan bahwa variable struktur modal, kebijakan
dividen, profitabilitas, dan tax avoiadance berpengaruh terhadap nilai
perusahaan sebesar 40,8% sedangkan 59,2 % dipengaruhi oleh variabel lainnya.
2) Pengujian Hipotesis Secara Simultan (Uji F)
Uji F bertujuan untuk menggambarkan pengaruh variabel independen secara
bersama-sama terhadap variabel dependen. Peneliti melakukan uji F dengan
menggunakan uji anova. Adapun hasil uji F dapat dilihat pada table berikut :
Tabel 4.13
Uji F
Sum of Mean
Model df F Sig.
Squares Square
Regression 58.469 4 14.617 26.670 .000a
1 Residual 79.471 145 .548
Total 137.939 149
Sumber : Data sekunder yang diolah, 2021
Pada table 4.12 diatas menunjukan nila F sebesar 26,670 dengan signifikansi
0.000 atau lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa struktur modal,
kebijakan dividen, profitabilitas, dan tax avoidance secara bersama - sama
berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
3) Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t)
Uji t adalah pengujian koefisien regresi masing-masing variabel independen
terhadap variabel dependen untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel
57
independen terhadap variabel dependen. Adapun hasil uji T dapat dilihat dari tabel
berikut :
Tabel 4.14
Uji T
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model t Sig.
Std.
B Beta
Error
1 (Constant) .491 .116 4.242 .000
DER (X1) -.180 .087 -.146 -2.062 .041
DPR (X2) .193 .141 .091 1.366 .174
ROE (X3) 2.367 .267 .660 8.860 .000
ETR (X4) -.227 .245 -.058 -.925 .356
Sumber : Data sekunder yang diolah, 2021
Berdasarkan pengujian tersebut diperoleh penjelasan hasil pengujian tersebut
yaitu sebagai berikut :
1. Hipotesis Pertama (H1) : Struktur modal berpengaruh positif terhadap Nilai
Perusahaan. DER pada tabel diatas menunjukan nilai signifikansi 0,041
dengan arah negatif, dimana p value < α(0,041 < 0,05). Maka dapat
disimpulkan bahwa stuktur modal berpengaruh negatif terhadap nilai
perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak.
2. Hipotesis Kedua (H2) : Kebijakan Dividen berpengaruh positif terhadap Nilai
Perusahaan. Nilai signifikansi DPR pada tabel diatas adalah 0,174. Artinya p
value > α (0,174 > 0,05). Maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan dividen
58
tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa H 0
diterima dan H1 ditolak.
3. Hipotesis Ketiga (H3) : Profitabilitas berpengaruh positif terhadap Nilai
Perusahaan. ROE pada tabel diatas menunjukan nilai signifikansi 0,000
dengan arah positif, artinya p value < α (0,000 < 0,05). Maka dapat
disimpulkan bahwa Profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai
perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima.
4. Hipotesis Keempat (H4) : Tax Avoidance tidak berpengaruh terhadap Nilai
Perusahaan. ETR pada tabel diatas menunjukan nilai signifikansi 0,356.
Artinya p value > α (0,356 > 0,05). Maka dapat disimpulkan bahwa Tax
Avoidance tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan
bahwa H0 diterima dan H1 ditolak.
4.1.4 Pembahasan Hasil Penelitian
1) Pengaruh Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan
Hasil analisis data yang telah dilakukan dalam penelitian ini membuktikan
bahwa hipotesis pertama (H1) ditolak. Hasil menunjukkan struktur modal
berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. DER pada tabel 4.13 menunjukan
nilai signifikansi 0,041 dengan arah negatif, dimana p value < α (0,041 < 0,05).
Maka dapat disimpulkan bahwa stuktur modal berpengaruh negatif terhadap nilai
perusahaan.
Signalling theory mengatakan bahwa nilai DER yang tinggi akan menjadi
good news ( sinyal baik ) bagi investor untuk berinvestasi. Karena nilai DER yang
tinggi dapat mengatasi rasa khawatir investor akan risiko gagal bayar perusahaan
59
dalam membiyai hutangnya dan meningkatkan rasa kepercayaan investor untuk
menanamkan modalnya sehingga mampu meningkatkan permintaan saham dan
harga saham yang kemudian berpengaruh terhadap meningkatnya nilai
perusahaan. Namun, DER yang tinggi juga menunjukkan tingginya
ketergantungan permodalan atau hutang perusahaan terhadap pihak luar. Investor
beranggapan bahwa semakin tinggi beban hutang perusahaan dikhawatirkan akan
menggerus laba perusahaan yang nantinya akan mempengaruhi profit yang
diharapkan. Menurunnya minat investor inilah menyebabkan turunnya harga
saham diikuti dengan menurunnya nilai perusahaan. Maka, secara tidak langsung
DER mampu menurunkan nilai perusahaan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Sari & Priyadi (2016),
Wafirotin et al. (2012), Lisda & Kusmayanti (2021) yang menyatakan bahwa
struktur modal berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Namun, tidak
sejalan dengan penelitian Sucipto, Edy & Sudiyatno (2018) yang menyatakan
struktur modal tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
2) Pengaruh Kebijakan Deviden terhadap Nilai Perusahaan
Hasil analisis data yang telah dilakukan dalam penelitian ini membuktikan
bahwa hipotesis kedua (H2) ditolak, yang berarti bahwa kebijakan dividen tidak
berpengaruh terhadap nilai perusahaan. DPR pada tabel 4.13 menunjukan nilai
signifikansi 0,174, artinya p value > α (0,174 > 0,05). Maka dapat disimpulkan
bahwa kebijakan deviden tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Teori sinyal mengatakan bahwa tingkat pembagian dividen yang tinngi
merupakan bentuk good news ( sinyal baik ) bagi investor karena mencerminkan
60
bahwa arus kas masa depan perusahaan dianggap cukup untuk menanggung
dividen yang tinggi, sehingga berpengaruh terhadap meningkatnya nilai
perusahaan. Namun, pembagian dividen bukanlah satu satunya sumber
keuntungan bagi para investor. Ketika berinvestasi terdapat 2 sumber keuntungan
/ laba bagi investor, yakni dividen dan capital gain. Capital gain merupakan
keuntungan yang diperoleh investor sehubungan dengan penjualan saham di pasar
sekunder yang dilakukan, dengan kondisi harga jualnya di atas harga beli. Apapun
cara yang dipilih investor sebenarnya tergantung dengan kebutuhan. Namun,
untuk masa sekarang ini banyak investor yang lebih focus mencari keuntungan
melalui capital gain dari pada pembagian dividen dengan alasan lebih cepat
mendapat profit karena semua keputusan berada di tangan investor langsung.
Misalnya, ketika harga saham perusahaan naik dari harga beli, kemudian investor
menjual kembali saham tersebut maka saat itulah meraka mendapat keuntungan
atau capital gain. Berbeda dengan dividen, dimana investor harus menunggu
diumumkannya kapan dan berapa persentase pembagian dividen yang akan
dilakukan oleh perusahaan dari hasil RUPS untuk mendapat keuntungan, dan
belum tentu setiap tahun perusahaan tesebut membagikan dividennya. Hasil
penelitian Lisa Kustina et al., (2019) menyebutkan bahwa kebijakan dividen tidak
berpengaruh terhadap harga saham, namun capital gain berpengaruh signifikan
meningkatkan harga saham karena mampu menarik minat investor. Harga saham
yang tinggi mampu meningkatkan nilai perusahaan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Septariani (2017) dan Nohuz et
al., (2014) yakni kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
61
Namun, tidak sejalan dengan penelitian Sucipto, Edy & Sudiyatno (2018) serta
Rai Prastuti & Merta Sudiartha (2016) yang menyatakan bahwa kebijakan dividen
berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
3) Pengaruh Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan
Hasil analisis data yang telah dilakukan dalam penelitian ini membuktikan
bahwa hipotesis ketiga (H3) diterima yang berarti bahwa Profitabilitas
berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. ROE pada tabel 4.13 menunjukan
nilai signifikansi 0,000 dengan arah positif , artinya p value < α (0,000 < 0,05).
Sehingga disimpulkan variabel Profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai
perusahaan.
Signalling theory menjelaskan tingginya nilai ROE mampu menjadi sinyal
positif bagi para investor. Return On Equity (ROE) mencerminkan kemampuan
perusahaan untuk memperoleh laba dari modal yang digunakan untuk
menghasilkan laba tersebut. Perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas yang
tinggi dikaitkan dengan mampunya perusahaan tersebut dalam memanfaatkan
sumber daya atau aset ataupun modal yang dimiliki perusahaan untuk
menghasilkan laba, sehingga menarik minat investor untuk menanamkan saham
yang kemudian berpengaruh meningkatkan nilai perusahaan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Martha et al., (2018), Lisda &
Kusmayanti ( 2021), Tiasrini & Utiyati ( 2020), Sucipto, Edy & Sudiyatno (2018)
yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai
62
perusahaan. Namun, tidak sejalan dengan penelitian Manoppo & Arie (2016) yang
menyatakan profitabilitas tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
4) Pengaruh Tax Avoidance Modal terhadap Nilai Perusahaan
Hasil analisis data yang telah dilakukan dalam penelitian ini membuktikan
bahwa hipotesis ketiga (H4) ditolak yang berarti bahwa Tax Avoidance tidak
berpengaruh terhadap nilai perusahaan. ETR pada tabel 4.13 menunjukan nilai
signifikansi 0,356. Artinya p value > α (0,356 > 0,05). Maka dapat disimpulkan
bahwa Tax Avoidance tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Teori sinyal menyatakan bahwa praktik tax voidance yang terlalu tinggi dapat
menurunkan minat investor . Investor menangkap sinyal buruk atas dilakukannya
praktik ini sebagai indikasi manipulasi yang mengurangi akurasi laporan
keuangan yang disajikan. Berkurangnya akurasi informasi yang disajikan akan
berdampak pada menurunnya minat investor dan harga saham yang kemudian
akan berpengaruh terhadap turunnya nilai perusahaan. Namun, hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa praktik tax avoidance tidak berpengaruh terhadap
menurunnya nilai perusahaan. Dengan kata lain, investor cenderung tidak terlalu
memperhatikan perihal perencanaan/penghindaran pajak yang dilakukan
perusahaan ketika hendak melakukan analisis investasi. Itu artinya, masih ada
aspek penting lain yang menjadi focus utama para investor sebagai bahan
pertimbangan sebelum melakukan kegiatan investasi, Misalnya seperti lebih
mementingkan nilai rasio profitabilitas yang sangat jelas kaitannya dengan laba /
keuntungan yang mereka harapkan. Selain itu, terlihat dari kecilnya nilai ETR
perusahaan manufaktur pada penelitian ini yakni dibawah 1, yang artinya kadar
63
praktik tax avoidance yang sedang dilakukan perusahaan tergolong tinggi. Hal ini
dapat disebabkan pihak manajemen yang beranggapan bahwa praktik ini
merupakan alternatif terbaik guna meminimalisir beban pajak tanpa harus
melanggar aturan perpajakan pemerintah dan menimbulkan efek negatif lainnya
yang dikhawatirkan akan berimbas kepada perusahaan termasuk menurunnya
harga saham dan nilai perusahaan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Sugiono (2020), Septyaningrum
(2020), dan Yuliem (2018) yang menyatakan bahwa tax avoidance tidak
berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Namun, tidak sejalan dengan hasil
penelitian Violeta & Serly (2020) dan Harventy (2016) yang menyebutkan bahwa
tax avoidance berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis data dengan menggunakan uji
asumsi klasik, analisis regresi linear berganda, dan pengujian hipotesis, maka
dapat disimpulkan hasil pembahasan dari pengujian hipotesis mengenai pengaruh
variabel independen yaitu struktur modal yang diukur Debt Equity Ratio (DER),
kebijakan dividen yang diukur dengan Deviden Payout Ratio ( DPR ),
profitabilitas yang diukur dengan Return On Equity (ROE) dan Tax Avoidance
yang diukur dengan Effective Tax Rate ( ETR) terhadap variabel dependen yaitu
Nilai Perusahaan yang diukur oleh Price to Book Value (PBV) menunjukan
bahwa:
1. Struktur Modal berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Nilai Perusahaan
(PBV) pada perusahaan sektor manufaktur tahun 2016-2020. DER yang tinggi
juga menunjukkan tingginya ketergantungan permodalan atau hutang
perusahaan terhadap pihak luar, sehingga beban semakin berat dan
dikhawatirkan mampu menggerus laba yang akan diberikan kepada investor
sehingga menyebabkan turunnya harga saham diikuti dengan menurunnya nilai
perusahaan. Sehingga secara tidak langsung DER mampu menurunkan nilai
perusahaan.
64
65
2. Kebijakan Dividen tidak berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan (PBV) pada
perusahaan sektor manufaktur tahun 2016-2020. Pembagian dividen bukanlah
satu satunya sumber keuntungan bagi para investor. Untuk masa sekarang ini
banyak investor yang lebih focus mencari keuntungan melalui capital gain dari
pada pembagian dividen dengan alasan lebih cepat mendapat profit karena
semua keputusan berada di tangan investor langsung. Berbeda dengan dividen,
dimana investor harus menunggu diumumkannya kapan dan berapa persentase
pembagian dividen yang akan dilakukan oleh perusahaan dari hasil RUPS
untuk mendapat keuntungan, dan belum tentu setiap tahun perusahaan tesebut
membagikan dividennya.
3. Profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Nilai Perusahaan
(PBV) pada perusahaan sektor manufaktur tahun 2016-2020. Return On Equity
(ROE) mencerminkan kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dari
modal yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Perusahaan yang
memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi dikaitkan dengan mampunya
perusahaan tersebut dalam memanfaatkan sumber daya atau aset ataupun
modal yang dimiliki perusahaan untuk menghasilkan laba. Semakin tinggi
profitabilitas maka semakin tinggi nilai perusaaan.
4. Tax Avoidance tidak berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan (PBV) pada
perusahaan sektor manufaktur tahun 2016-2020. Investor cenderung tidak
terlalu memperhatikan perihal perencanaan/penghindaran pajak yang dilakukan
perusahaan ketika hendak melakukan analisis investasi. Itu artinya, masih ada
aspek penting lain yang menjadi focus utama para investor sebagai bahan
66
pertimbangan sebelum melakukan kegiatan investasi, Misalnya seperti lebih
mementingkan nilai rasio profitabilitas yang sangat jelas kaitannya dengan
laba / keuntungan yang mereka harapkan. Selain itu, terlihat dari kecilnya nilai
ETR perusahaan manufaktur pada penelitian ini yakni dibawah 1, yang artinya
kadar praktik tax avoidance yang sedang dilakukan perusahaan tergolong
tinggi. Hal ini dapat disebabkan pihak manajemen yang beranggapan bahwa
praktik ini merupakan alternatif terbaik guna meminimalisir beban pajak tanpa
harus melanggar aturan perpajakan pemerintah dan menimbulkan efek negatif
lainnya yang dikhawatirkan akan berimbas kepada perusahaan termasuk
menurunnya harga saham dan nilai perusahaan.
5.2 Implikasi
Berdasarkan kesimpulan diatas maka saran dalam penelitian selanjutnya
yaitu, sebagai berikut :
1. Bagi Perusahaan
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat menjadi refleksi bagi
manajemen perusahaan untuk dapat mengevaluasi, memperbaiki dan
meningkatkan kinerjanya di masa yang akan datang dengan senantiasi tepat
waktu dalam mempublikasikan laporan keuangan agar semakin banyak
menarik investor untuk berinvestasi pada perusahaan.
Selain itu, diharapkan manajemen perusahaan agar selalu memberikan
informasi yang bersifat material dan relevan mengenai perusahaan terutama
pada laporan keuangan yang harus bersifat objektif, relevan dan dapat diuji
keabsahannya sehingga pihak investor tepat dalam mengambilan keputusan
berinvestasi.
67
2. Bagi Investor
Bagi para investor maupun calon investor seharusnya memperhatikan lagi
faktor – faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan, salah satunya dengan
cara melakukan analisis fundamental atas laporan keuangan perusahaan
sebelum berinvestasi.
5.3 Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan hasil penelitian ini adalah besarnya nilai Adjusted R Square
yang masih dibawah 50% yaitu 0,408 atau 40,8%. Sehingga dari hasil tersebut
nilai Adjusted R Square belum bisa dikatakan sangat baik. Nilai tersebut
menerangkan bahwa variabel struktur modal, kebijakan dividen, profitabilitas
dan tax aoidance mempunyai peranan sebesar 40,8% sedangkan sisanya 59,2%
dipengaruhi oleh variabel lain diluar model penelitian ini.
5.4 Agenda Penelitian yang Akan Datang
Dengan adanya keterbatasan penelitian diatas, maka penelitian selanjutnya
perlu dilakukan perbaikan agar hasilnya menjadi lebih baik maka untuk penelitian
selanjutnya perlu menambahkan variabel lain yang mempengaruhi nilai
perusahaan di luar variabel yang diteliti agar dapat menghasilkan hasil penelitian
yang lebih optimal dan variatif. Misalnya, ukuran perusahaan, ROA, CSR, Good
Corporate Governance, dan lain lain.
DAFTAR PUSTAKA
Adeline, H., & Jogi, Y. (2019). Pengaruh Penerapan Corporate Governance
Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kinerja Keuangan Sebagai Variabel
Mediasi. Diponegoro Journal of Accounting, 8(4), 181–192.
Antula, J. C., & Rate, P. Van. (2018). Pengaruh Manajemen Laba Dan Earnings
Per Share Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Makanan Dan Minuman
Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2015. Jurnal EMBA:
Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi, 5(3), 3262–3271.
[Link]
Apsari, L., & Setiawan, P. E. (2018). Pengaruh Tax Avoidance terhadap Nilai
Perusahaan dengan Kebijakan Dividen sebagai Variabel Moderasi. E-Jurnal
Akuntansi, 23, 1765. [Link]
Dewi, N. K. T. S., & Dana, I. M. (2017). pengaruh growth opportunity, likuiditas,
non-debt tax shield dan fixed asset ratio terhadap struktur modal Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, Bali, Indonesia. E-Jurnal
Manajemen Unud, 6(2), 772–801.
Fahmi, M., & Prayoga, M. D. (2018). Pengaruh Manajemen Laba terhadap Nilai
Perusahaan dengan Tax Avoidance sebagai Variabel Mediating. Liabilities
(Jurnal Pendidikan Akuntansi), 1(3), 225–238.
[Link]
Harventy, G. (2016). Pengaruh Tax Avoidance. Jurnal Reviu Akuntansi Dan
Keuangan, 6(2), 895–906.
68
69
Lisda, R., & Kusmayanti, E. (2021). Pengaruh Struktur Modal Dan Profitabilitas
Terhadap Nilai Perusahaan. Land Journal, 2(1), 87–94.
[Link]
Mahaetri, K. K., & Muliati, N. K. (2020). Pengaruh Tax Avoidance Terhadap
Nilai Perusahaan Dengan Good Corporate Governance Sebagai Variabel
Moderasi. Hita Akuntansi Dan Keuangan Universitas Universitas Hindu
Indonesia, 1(1), 436–464.
Martha, L., Sogiroh, N. U., Magdalena, M., Susanti, F., & Syafitri, Y. (2018).
Profitabilitas Dan Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal
Benefita, 3(2), 227. [Link]
Muharramah, R., & Hakim, M. Z. (2021). Pengaruh Ukuran Perusahaan,
Leverage, Dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan. 5(7), 569–576.
[Link]
Nurhasanatang, S., Taufik, T., & Azlina, N. (2020). Pengaruh kebijakan dividen,
kebijakan leverage, keputusan investasi dan manajemen laba terhadap nilai
perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI tahun 2015-2018. Sorot,
15(1), 13. [Link]
Oktiwiati, E. Dela, & Nurhayati, M. (2020). Pengaruh Profitabilitas, Struktur
Modal, Dan Keputusan Investasi Terhadap Nilai Perusahaan (Pada Sektor
Farmasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013-2017). Mix
Jurnal Ilmiah Manajemen, 10(2), 196.
[Link]
Ovami, D. C., & Nasution, A. A. (2020). Pengaruh Kebijakan Dividen Terhadap
Nilai Perusahaan yang Terdaftar dalam Indeks LQ 45. Owner (Riset Dan
Jurnal Akuntansi), 4(2), 331. [Link]
70
Pasaribu, M., Topowijono, T., & Sulasmiyati, S. (2016). Pengaruh Struktur
Modal, Struktur Kepemilikan Dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan
Pada Perusahaan Sektor Industri Dasar Dan Kimia Yang Terdaftar Di Bei
Tahun 2011-2014. Jurnal Administrasi Bisnis S1 Universitas Brawijaya,
35(1), 154–164.
Rai Prastuti, N., & Merta Sudiartha, I. (2016). Pengaruh Struktur Modal,
Kebijakan Dividen, Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan
Pada Perusahaan Manufaktur. None, 5(3), 254202.
Ramdhonah, Z., Solikin, I., & Sari, M. (2019). PENGARUH STRUKTUR
MODAL, UKURAN PERUSAHAAN, PERTUMBUHAN PERUSAHAAN,
DAN PROFITABILITAS TERHADAP NILAI PERUSAHAAN (Studi
Empiris pada Perusahaan Sektor Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia Tahun 2011-2017). Jurnal Riset Akuntansi Dan Keuangan, 7(1),
67–82. [Link]
Sari, R. A. I., & Priyadi, M. P. (2016). Pengaruh Leverage , Profitabilitas , Size ,
Dan Growth Opportunity Terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Ilmu Dan Riset
Manajemen, 5(10), 2–17.
Sintyana, I. P. H., & Artini, L. G. S. (2018). Pengaruh Profitabilitas, Struktur
Modal, Ukuran Perusahaan Dan Kebijakan Dividen Terhadap Nilai
Perusahaan. E-Jurnal Manajemen Universitas Udayana, 8(2), 757.
[Link]
Sofyaningsih, S., & Hardiningsih, P. (2011). 195-Article Text-387-1-10-
20120202. In Dinamika.
[Link]
Sucipto, Edy & Sudiyatno, B. (2018). Profitabilitas, Kebijakan Dividen, Dan
Kebijakan Hutang Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Manufaktur
71
Yang Listed Di Bursa Efek Indonesia. Dinamika Akuntansi, Keuangan Dan
Perbankan, 7(2), 163–172.
SYAHFITRI, P. (2018). PENGARUH TAX AVOIDANCE TERHADAP NILAI
PERUSAHAAN (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar
di BEI Tahun 2013-2016). STIE Multi Data Palembang, 1(1), 1–16.
Tarihoran, A. (2016). Pengaruh Penghindaran Pajak Dan Leverage Moderasi.
JWEM STIE Mikroskil, 6(2), 149–164.
Tiasrini, S., & Utiyati, S. (2020). Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, dan
Leverage Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perbankan. Jurnal Ilmu Dan Riset
Manajemen, 9 nomor 1, 15–16.
Violeta, C. A., & Serly, V. (2020). Pengaruh Manjemen Laba dan Tax Avoidance
Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan Perbankan yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014-2018). Wahana Riset
Akuntansi, 8(1), 1. [Link]
Yanti, I. G. A. D. N., & Darmayanti, N. P. A. (2019). Pengaruh Profitabilitas,
Ukuran Perusahaan, Struktur Modal, Dan Likuiditas Terhadap Nilai
Perusahaan Makanan Dan Minuman. E-Jurnal Manajemen Universitas
Udayana, 8(4), 2297. [Link]
Zulfiara, P., & Ismanto, J. (2019). Pengaruh Konservatisme Akuntansi Dan
Penghindaran Pajak Terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Akuntansi
Berkelanjutan Indonesia, 2(2), 134.
[Link]
[Link]
[Link]