Sustainable Development Goals (SDGs) adalah penyempurnaan dari program
internasional sebelumnya, yaitu Millennium Development Goals (MDGs), yang diterapkan
setelah tahun 2015. Program MDGs kemudian digantikan oleh SDGs yang berfokus pada
lima prinsip utama untuk menyeimbangkan dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup
(Ula, 2023). Sebagai pengganti MDGs, SDGs bertujuan untuk melanjutkan dan
meningkatkan pencapaian MDGs dalam berbagai aspek pembangunan dan menyelesaikan
target-target yang telah ditetapkan sebelumnya. Tujuan SDGs mencakup penanganan isu-isu
pembangunan berkelanjutan secara tepat sasaran untuk mencapai tujuan yang diharapkan
(Guntari dkk, 2023).
Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan, yang diadopsi oleh semua negara
anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2015, memberikan cetak biru bersama untuk
perdamaian dan kemakmuran bagi manusia dan planet ini, baik sekarang maupun di masa
depan. Inti dari agenda ini adalah 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yang
merupakan seruan mendesak untuk bertindak oleh semua negara, baik maju maupun
berkembang, dalam kemitraan global. SDGs mengakui bahwa mengakhiri kemiskinan dan
kekurangan lainnya harus dilakukan bersama dengan strategi yang meningkatkan kesehatan
dan pendidikan, mengurangi ketidaksetaraan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi, sambil
mengatasi perubahan iklim dan bekerja untuk melestarikan lautan dan hutan kita.
SDGs dibangun berdasarkan dekade kerja oleh negara-negara dan PBB, termasuk
Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB. Pada Juni 1992, dalam KTT Bumi di Rio de
Janeiro, Brasil, lebih dari 178 negara mengadopsi Agenda 21, sebuah rencana aksi
komprehensif untuk membangun kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan guna
meningkatkan kehidupan manusia dan melindungi lingkungan. Negara-negara anggota
dengan suara bulat mengadopsi Deklarasi Milenium pada KTT Milenium pada September
2000 di Markas Besar PBB di New York. KTT ini menghasilkan delapan Tujuan
Pembangunan Milenium (MDGs) untuk mengurangi kemiskinan ekstrem pada tahun 2015.
Deklarasi Johannesburg tentang Pembangunan Berkelanjutan dan Rencana Implementasi,
yang diadopsi pada KTT Dunia tentang Pembangunan Berkelanjutan di Afrika Selatan pada
tahun 2002, menegaskan kembali komitmen komunitas global untuk pemberantasan
kemiskinan dan lingkungan, dan dibangun di atas Agenda 21 dan Deklarasi Milenium dengan
menekankan lebih banyak pada kemitraan multilateral.
Pada Konferensi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan (Rio+20) di Rio de
Janeiro, Brasil, pada Juni 2012, Negara-negara anggota mengadopsi dokumen hasil "Masa
Depan yang Kita Inginkan" di mana mereka memutuskan, antara lain, untuk meluncurkan
proses pengembangan serangkaian SDGs yang membangun MDGs dan membentuk Forum
Politik Tingkat Tinggi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan. Hasil Rio +20 juga berisi
tindakan lain untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan, termasuk mandat untuk
program kerja masa depan dalam pembiayaan pembangunan, negara-negara berkembang
pulau kecil dan lainnya. Pada tahun 2013, Majelis Umum membentuk Kelompok Kerja
Terbuka yang terdiri dari 30 anggota untuk mengembangkan proposal tentang SDGs. Pada
Januari 2015, Majelis Umum memulai proses negosiasi tentang agenda pembangunan pasca-
2015. Proses ini berpuncak pada adopsi Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan,
dengan 17 SDGs di inti, pada KTT Pembangunan Berkelanjutan PBB pada bulan September
2015.
Tahun 2015 adalah tahun penting untuk multilateralisme dan pembentukan kebijakan
internasional, dengan adopsi beberapa perjanjian besar:
- Kerangka Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana (Maret 2015)
- Agenda Aksi Addis Ababa tentang Pembiayaan untuk Pembangunan (Juli 2015)
- Mengubah dunia kita: Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan dengan 17
SDGs-nya diadopsi pada KTT Pembangunan Berkelanjutan PBB di New York pada
September 2015.
- Perjanjian Paris tentang Perubahan Iklim (Desember 2015)
Saat ini, Forum Politik Tingkat Tinggi tahunan tentang Pembangunan Berkelanjutan
berfungsi sebagai platform sentral PBB untuk tindak lanjut dan peninjauan SDGs.
Saat ini, Divisi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (DSDG) di Departemen Urusan
Ekonomi dan Sosial PBB (UNDESA) menyediakan dukungan substantif dan pembangunan
kapasitas untuk SDGs dan isu-isu tematik terkait, termasuk air, energi, iklim, lautan,
urbanisasi, transportasi, sains dan teknologi, Laporan Pembangunan Berkelanjutan Global
(GSDR), kemitraan, dan Negara-Negara Berkembang Pulau Kecil. DSDG memainkan peran
kunci dalam evaluasi pelaksanaan sistem PBB dari Agenda 2030 dan kegiatan advokasi serta
penjangkauan yang berkaitan dengan SDGs. Untuk mewujudkan Agenda 2030, kepemilikan
luas SDGs harus diterjemahkan menjadi komitmen kuat oleh semua pemangku kepentingan
untuk melaksanakan tujuan global. DSDG bertujuan untuk membantu memfasilitasi
keterlibatan ini.
Berbeda dengan MDGs, SDGs memiliki pendekatan yang lebih partisipatif dengan
melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, pelajar,
sektor swasta, dan lainnya dalam meraih tujuan yang telah dirumuskan (Wibowo and Sadikin
2019; Witarti, Puspitasari, and Fithriana, 2021). SDGs memiliki 17 tujuan yang meliputi
kemiskinan, kelaparan, kesehatan, pendidikan, perubahan iklim, air, sanitasi, energi,
lingkungan, dan keadilan sosial, yang terbagi menjadi 169 target yang bersifat universal,
artinya tidak ada satu pun yang terlewatkan, dengan target pencapaian hingga tahun 2030
(Fauzan, Rosida, and Salwa 2023; Inayah, Amalia, and Krismono 2022; Syafutra, Endah, and
Sujai, 2023).
Kendati demikian Bappenas menjelaskan bahwa, TPB/SDGs adalah sebuah komitmen
baik di tingkat global maupun nasional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Komitmen ini mencakup 17 tujuan dan target global yang harus dicapai pada tahun 2030,
yang telah dideklarasikan oleh negara maju dan berkembang dalam Sidang Umum PBB pada
September 2015. Berikut adalah 17 tujuan tersebut.
Sumber : Internet
Selain itu, berbagai peraturan telah diterbitkan untuk mendukung pelaksanaan SDGs
di Indonesia. Peraturan Presiden No. 111/2022 mengatur pencapaian TPB/SDGs. Selain itu,
ada Peraturan Menteri No. 7 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN dan RAD),
serta Keputusan Menteri dan peraturan lainnya terkait SDGs. Termasuk di dalamnya adalah
peraturan dari Kementerian PPN/Bappenas, Kemendagri, dan Kementerian Desa PDTT.
Disisi lain, Selaras dengan Prinsip “No One Left Behind”, pelaksanaan TPB/SDGs di
Indonesia membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk kemitraan dan kerja sama
di tingkat global. Dalam hal ini, Indonesia telah bekerja sama dengan berbagai jejaring global
seperti AVPN, UCLG ASPAC, UN Agencies, World Bank, SDSN, GIZ, DFAT, JICA,
USAID, ADB, dan IsDB. Kerja sama ini bertujuan untuk memastikan semua pihak terlibat
dalam upaya mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Dalam upaya mencapai SDGs, Provinsi Jawa Timur telah menyusun Rencana Aksi
Daerah (RAD) untuk periode 2018-2019. Sebagai bagian dari komitmen strategis jangka
menengah, provinsi ini juga telah mengintegrasikan 120 dari 212 indikator SDGs (56,6%) ke
dalam RPJMD mereka, sesuai Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017. Sisanya, 43,4%
indikator, belum terintegrasi. Selain pemerintah, perguruan tinggi seperti SDGs Center
Universitas Jember juga mendukung pencapaian SDGs.
Status pelaksanaan TPB terkini mencakup beberapa indikator sebagai berikut:
- Tingkat kemiskinan meningkat dari 10,27% pada 2019 menjadi 11,09% pada 2020,
melebihi rata-rata nasional (9,22%).
- Indeks gini menurun dari 0,379 pada Maret 2018, menjadi 0,370 pada Maret 2019,
dan 0,366 pada Maret 2020.
- Indeks pembangunan manusia menurun dari 71,71% pada 2018, menjadi 71,50%
pada 2019, dan 70,77% pada 2020.
- Jumlah pengangguran usia 15 tahun ke atas pada 2019 mencapai 843.754 orang dari
total angkatan kerja 21,499 juta orang.
- Ekspor pada 2020 sebesar USD 19,22 miliar, turun 5,29% dari 2019. Impor juga turun
14,36% dari USD 23,34 miliar pada 2019 menjadi USD 19,99 miliar pada 2020.
- Persentase balita yang diimunisasi campak menurun dari 71,94% pada 2019 menjadi
70,67% pada 2020, namun masih di atas rata-rata nasional (67,82%).
- Kualitas pendidikan meningkat dengan angka melek huruf usia 15 tahun ke atas
meningkat dari 91,85% pada 2018 menjadi 92,5% pada 2020.
- Persentase rumah tangga dengan listrik meningkat dari 99,85% pada 2018 menjadi
99,95% pada 2020.
- Akses terhadap rumah layak huni meningkat dari 65,61% pada 2019 menjadi 68,08%
pada 2020.
- Akses terhadap sanitasi layak meningkat dari 78,78% pada 2019 menjadi 80,98%
pada 2020.
Di Jawa Timur, praktik-praktik TPB/SDGs dijalankan dengan baik. Hal ini terbukti
seperti beberapa kota atau kabupaten yang telah mewujudkan praktik-praktik dalam
mendukung TPB/SDGs di Jawa Timur. Provinsi Jawa Timur telah mengimplementasikan
berbagai praktik inovatif untuk mendukung pencapaian SDGs. Di Surabaya, ada Kota Ramah
Penyandang Disabilitas yang mendukung tujuan Pendidikan Berkualitas, Kota dan
Pemukiman yang Berkelanjutan, serta Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Surabaya juga
dikenal sebagai Kota Seribu Taman, yang memperbaiki lingkungan kota dan mendukung
Penanganan Perubahan Iklim, Ekosistem Daratan, dan Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Selain itu, Underwater Restocking merupakan solusi untuk perikanan berkelanjutan yang
mendukung tujuan Ekosistem Lautan. Di Banyuwangi, program Rantang Kasih membantu
lansia kurang mampu dan terlantar, mendukung tujuan Tanpa Kemiskinan dan Tanpa
Kelaparan. Inovasi BREXIT di Malang meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas
netra, mendukung Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta Berkurangnya Kesenjangan. Kota
Kediri juga berupaya meningkatkan kualitas pelayanan dan iklim investasi melalui
penyederhanaan jenis perijinan, mendukung Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, Perdamaian,
Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, serta Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan komitmen kuat Jawa Timur dalam mencapai berbagai
tujuan pembangunan berkelanjutan melalui pendekatan yang inovatif dan inklusif.
Studi Terdahulu
1. "Optimisation of Village Funds in Achieving SDGs: Lesson Learned from East
Java" oleh Wilda Prihatiningtyas et al.
Jurnal ini membahas model ideal pengelolaan dana desa dalam rangka mencapai
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Desa (VSDGs) di Jawa Timur. Penelitian ini
menggunakan pendekatan empiris dengan data pendukung dari wawancara dan pendekatan
partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara model regulasi ideal dan
program pendukung untuk pencapaian VSDGs. Artikel ini memberikan informasi baru
tentang optimalisasi dana desa melalui pengembangan model regulasi, yang dapat membantu
pemerintah daerah dalam merancang peraturan untuk mendukung program SDGs nasional.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Beberapa program prioritas yang
diidentifikasi termasuk pemulihan ekonomi nasional, penyediaan listrik desa, dan
pengembangan usaha ekonomi produktif. Jurnal ini menekankan bahwa regulasi yang
komprehensif dan terstruktur sangat penting untuk mencapai tujuan pembangunan
berkelanjutan di tingkat desa.
2. "Redesigning Consolidated Data for Handling Extreme Poverty in Rural Areas
Based on SDGs Desa" oleh Abdul Halim Iskandar, Achmad Faidy Suja’ie, dan
Ivanovich Agusta
Jurnal ini membahas pentingnya konsolidasi data untuk menangani kemiskinan
ekstrem di daerah pedesaan Indonesia dengan pendekatan SDGs Desa. Penelitian ini
menekankan ketidakakuratan dan perbedaan data kemiskinan yang berdampak pada distribusi
bantuan sosial dan keseriusan pemerintah dalam memberantas kemiskinan ekstrem.
Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengumpulkan data dari 100 desa di
empat kabupaten di Jawa Timur. Hasilnya menunjukkan bahwa akurasi data sangat
mempengaruhi kategori kemiskinan, distribusi bantuan sosial, dan komitmen negara dalam
mengatasi kemiskinan ekstrem. Metodologi ROCCIPI digunakan untuk menganalisis data
dan menemukan bahwa koordinasi dan validasi data antar lembaga sangat penting untuk
mengurangi ketimpangan data dan meningkatkan efektivitas program pengentasan
kemiskinan. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah penting dalam bidang ilmu sosial
dan pembangunan, terutama dalam memahami dinamika pengumpulan data kemiskinan dan
dampaknya terhadap kebijakan publik.
3. "Assessing Bedul Mangrove Ecotourism Using Green and Fair Strategy
Empowerment to Fulfill SDGs 2030 Agenda for Tourism" oleh Sumarmi et al.
Jurnal ini mengevaluasi pengelolaan ekowisata mangrove Bedul di Banyuwangi
dengan pendekatan strategi hijau dan adil dalam rangka mencapai Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (SDGs) 2030. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan
analisis SWOT untuk menganalisis faktor internal dan eksternal ekowisata ini. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ekowisata mangrove Bedul berada di Kuadran II dari analisis
IFAS dan EFAS, menunjukkan perlunya strategi diversifikasi. Meskipun memiliki potensi
besar untuk pengembangan wisata berbasis konservasi, ekowisata ini menghadapi tantangan
signifikan seperti penurunan jumlah wisatawan dan keterbatasan infrastruktur. Penelitian ini
menekankan pentingnya kombinasi strategi hijau dan adil untuk meningkatkan keberlanjutan
lingkungan serta kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat sekitar. Implementasi strategi
ini diharapkan dapat meningkatkan manfaat ekonomi, mempromosikan pendidikan
lingkungan, dan memastikan konservasi mangrove yang berkelanjutan. Jurnal ini
memberikan kontribusi penting dalam bidang pengelolaan ekowisata dan konservasi
lingkungan, khususnya dalam konteks pengembangan pariwisata berkelanjutan di Indonesia.
4. "Upaya Mewujudkan Program Sustainable Development Goals (SDGs) dalam
Membangun Kualitas Pendidikan Indonesia" oleh Avita Ayu Anggiasti dan
Nursiwi Nugraheni
Jurnal ini mengeksplorasi upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia melalui
implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penelitian menggunakan
pendekatan kualitatif deskriptif yang mencakup kajian literatur, artikel akademis, dan
penelitian sebelumnya. Hasil studi menunjukkan bahwa pemerintah, lembaga swasta, dan
masyarakat berperan penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Beberapa faktor yang
berkontribusi terhadap rendahnya kualitas pendidikan termasuk infrastruktur yang buruk,
kurangnya profesionalisme guru, dan distribusi sumber daya yang tidak merata. Upaya yang
diperlukan untuk memperbaiki kualitas pendidikan mencakup peningkatan pelatihan guru,
peningkatan fasilitas pendidikan, dan keterlibatan masyarakat yang lebih besar dalam
administrasi pendidikan. Artikel ini menekankan pentingnya kerjasama antara berbagai
pemangku kepentingan dan perlunya strategi kebijakan yang komprehensif untuk mencapai
tujuan SDGs di bidang pendidikan. Jurnal ini memberikan wawasan yang mendalam tentang
tantangan dan peluang dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui
kerangka kerja SDGs.
5. Jurnal: "Pemanfaatan Digital Marketing Bagi UMKM Guna Mendukung
Tercapainya SDGs Desa Kewirausahaan Di Kelurahan Plosokerep Kota Blitar"
oleh M. Arya Abdillah dan Dewi Deniaty Sholihah
Jurnal ini mengeksplorasi pentingnya pemasaran digital bagi Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah (UMKM) di Desa Plosokerep, Kota Blitar, dalam rangka mendukung pencapaian
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam aspek pertumbuhan ekonomi
yang inklusif dan berkelanjutan. Penelitian ini mengidentifikasi tantangan utama yang
dihadapi oleh UMKM, seperti akses terbatas ke pasar dan kurangnya pemahaman tentang
teknologi digital.
Melalui kegiatan pengabdian masyarakat, tim peneliti memberikan pelatihan dan
pendampingan kepada tiga UMKM—Fahmi Jaya Kue, Dapoer MakWy, dan KWT Aren Asri
—untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam pemasaran digital. Kegiatan ini meliputi
pembuatan akun e-commerce, media sosial, dan situs web, yang bertujuan untuk
meningkatkan visibilitas dan daya saing UMKM. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan
peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan digital marketing di antara
peserta, serta peningkatan penjualan produk mereka.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini mencakup survei, sosialisasi, pelatihan,
dan pendampingan. Survei awal dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan yang
dihadapi UMKM, diikuti dengan sosialisasi dan pelatihan tentang penggunaan teknologi
pemasaran digital seperti Shopee dan Instagram. Pendampingan lebih lanjut diberikan untuk
memastikan implementasi strategi pemasaran digital berjalan efektif.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa dukungan akses teknologi, pelatihan, dan
program pembinaan bisnis sangat penting bagi UMKM untuk menghadapi tantangan era
digital. Dengan adopsi digital marketing yang tepat, UMKM dapat berkontribusi lebih besar
terhadap pertumbuhan ekonomi lokal, kesejahteraan masyarakat, dan pencapaian SDGs.
Jurnal ini memberikan rekomendasi strategi bagi pemerintah dan pemangku kepentingan
untuk mendukung pengembangan kewirausahaan di desa melalui pemasaran digital.
6. "Life Skill Training Berbasis Aquascape pada Pemuda Narapidana Kasus
Narkoba di Lapas I Kota Madiun untuk Mewujudkan SDGs" oleh Ayu Safitri,
Pebriani Rahmawati, Lavenia Pratiwingtyas, Fajar Rahma Hidayat, dan Restu
Lusiana
Jurnal ini membahas tentang program pelatihan keterampilan hidup berbasis
aquascape yang diberikan kepada pemuda narapidana kasus narkoba di Lapas I Kota Madiun.
Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan, keberanian, dan kepercayaan diri
narapidana sehingga mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih baik setelah masa
hukuman selesai dan dapat diterima kembali oleh masyarakat. Penelitian menggunakan lima
metode: mengukur kebutuhan mitra, merealisasikan kegiatan, pengukuran dan evaluasi,
solusi inti kegiatan, dan kontribusi pihak-pihak terkait. Hasil menunjukkan bahwa pelatihan
ini berhasil memberikan keterampilan baru dalam bidang aquascape, peluang usaha, dan
pemasaran produk kepada warga binaan. Pelatihan ini juga dapat memperbaiki kondisi
ekonomi narapidana dalam sektor industri kreatif. Jurnal ini menekankan pentingnya
dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak untuk keberhasilan program pelatihan dan
reintegrasi narapidana ke masyarakat. Kesimpulannya, pelatihan keterampilan hidup berbasis
aquascape memberikan dampak positif bagi narapidana dalam meningkatkan keterampilan
dan kepercayaan diri mereka, serta berkontribusi pada pencapaian SDGs melalui
pemberdayaan ekonomi kreatif.
7. "Ruang Publik dan Kota Berkelanjutan: Strategi Pemerintah Kota Surabaya
Mencapai Sustainable Development Goals (SDGs)" oleh Amjad Trifita dan
Ridha Amaliyah
Jurnal ini mengkaji strategi yang diimplementasikan oleh pemerintah Kota Surabaya
untuk mencapai kota berkelanjutan sebagaimana diamanatkan dalam Sustainable
Development Goals (SDGs) 2030. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif,
didukung oleh data literatur dan wawancara dengan pemangku kepentingan. Fokus penelitian
adalah strategi yang dilaksanakan antara tahun 2016 hingga 2019, di mana pemerintah Kota
Surabaya bekerja sama dengan United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG
ASPAC) dalam inisiatif Global Public Space Programme.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proyek ruang publik dilaksanakan melalui tiga
strategi utama: kemitraan dalam perencanaan kota, penggunaan permainan Minecraft dalam
desain ruang publik, dan implementasi proyek percontohan di tiga lokasi strategis yaitu
Kampung Ketandan, Keputih, dan Tanah Kali Kedinding. Strategi kemitraan melibatkan
berbagai mitra dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Ikatan Arsitek
Indonesia, komunitas lokal, serta mahasiswa arsitektur. Penggunaan permainan Minecraft
memungkinkan partisipasi warga dalam merancang ruang publik yang sesuai dengan
kebutuhan mereka. Implementasi proyek percontohan mencakup revitalisasi ruang publik
untuk meningkatkan kualitas hidup warga dan memperkuat ikatan sosial.
Penelitian ini menekankan pentingnya ruang publik dalam mewujudkan kota
berkelanjutan, menciptakan keseimbangan antara aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Kesimpulannya, upaya Surabaya dalam menyediakan ruang publik yang inklusif, aman, dan
ramah lingkungan berkontribusi signifikan dalam mencapai SDGs, khususnya tujuan ke-11
tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan. Penulis juga merekomendasikan penelitian
lebih lanjut dengan studi kasus yang lebih mendetail dan penggunaan indikator efektivitas
kerja sama pembangunan berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Abdillah, MA, & Sholihah, DD (2023). Pemanfaatan digital marketing bagi umkm guna
mendukung tercapainya sdgs desa kewirausahaan di Kelurahan Plosokerep Kota
Blitar. Jurnal Nusantara Berbakti, [Link],
[Link]
Bappenas. (n.d.). SDGs Indonesia. Retrieved June 28, 2024, from
[[Link]
Fauzan, Fauzan, Reza Alfiatur Rosida, and Reza Fatimatus Salwa. (2023). Peran Program
Bank Sampah Dan Jelantah Dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Untuk
Mewujudkan Tujuan SDGs Di Lembaga Amil Zakat Daerah (LAZDA) RIZKI
Jember. Jurnal Inovasi Pengabdian Dan Pemberdayaan Masyarakat 3(1):303–8. doi:
1
Guntari, Yuni, Feny Julia Aditiani, Habib Dhiyaul Haq, and Randi Yusuf Firmansyah.
(2023). Implementasi SDGs Pendidikan Desa Berkualitas Di Desa Tanjungsari
Kecamatan Sadananya Kabupaten Ciamis. Prosiding Peran Desa Dalam Pemulihan
Pasca Pandemi Covid19 Melalui Percepatan Transformasi Digital 243–47.
Inayah, Siti, Nabilah Tri Amalia, and Krismono. (2022). Tinjauan Aksi Kesetaraan Gender
(Uii Career Centre) Terhadap Karir Alumni Dengan Pendekatan Sustainable
Development Goals Dan Fiqh Muamalah. At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam
4(2):1114–27. doi: 10.20885/tullab.vol4.iss2.art7.
Iskandar, A. H., Suja’ie, A. F. and Agusta, I. (2023) “Redesigning consolidated data for
handling extreme poverty in rural areas based on SDGS DESA”, Journal of
Community Positive Practices, (1), pp. 96-115. doi: 10.35782/JCPP.2023.1.08.
Localise SDGs Indonesia. (n.d.). Profil TPB Provinsi Jawa Timur. Retrieved June 28, 2024,
from [[Link]
([Link]
Prihatiningtyas, W., Fitriana, Z.M., Wijoyo, S. and Noventri, A.C. (2023): Optimisation of
Village Funds in Achieving SDGs: Lesson
Learned from East Java. World Journal of Entrepreneurship, Management and
Sustainable Development, Vol. 19, No. 1/2, pp. 69–86.
Safitri, AA, Rahmawati, P, Pratiwingtyas, L, & ... (2022). Life Skill Training Berbasis
Aquascape Pada Pemuda Narapidana Kasus Narkoba Di Lapas I Kota Madiun Untuk
Mewujudkan Sdgs. Jurnal Pengabdian …, [Link],
[Link]
Sumarmi (2022). Assessing Bedul Mangrove Ecotourism Using Green and Fair Strategy
Empowerment to Fulfill SDGs 2030 Agenda for Tourism. Environmental Research,
Engineering and Management, 78(2), 73-87, ISSN 1392-1649,
[Link]
Syafutra, Irwan Eka, Kiki Endah, and Ii Sujai. (2023). “Collaborative Governance Dalam
Pendataan Sustainable Development Goals Desa Mulyasari Kecamatan Jatinagara.”
Journal of Political and Goverment Issue 1(2):113–25. doi:
[Link]
Trifita, A, & Amaliyah, R (2020). Ruang Publik dan Kota Berkelanjutan: Strategi Pemerintah
Kota Surabaya Mencapai Sustainable Development Goals (SDGs).. Global and
Policy Journal of …, [Link],
[Link]
Ula, Azizatul. (2023). Visi Sustainable Developmen Goals (SDGs) Terhadap Kebijakan
Diversifikasi Pangan Lokal Dalam Mengatasi Kelaparan. Jurnal Sains Edukatika
Indonesia (JSEI) 3(2):58– 64.
United Nations. (n.d.). The Sustainable Development Goals. Retrieved June 28, 2024, from
[[Link]
Wibowo, Yudha Gusti, and Ali Sadikin. (2019). Biology in the 21st-Century: Transformation
in Biology Science and Education in Supporting the Sustainable Development Goals.
JPBI (Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia) 5(2):285–96. doi:
10.22219/jpbi.v5i2.7956.
Witarti, Denik Iswardani, Anggun Puspitasari, and Arin Fithriana. (2021). Pendidikan Anti
Korupsi Kepada Anak Usia Sekolah Sebagai Upaya Pencapaian Sustainable
Development Goal (SDGs) Tujuan 16 Target 5. Jurnal Sebatik 25(1):208–13. doi:
10.46984/sebatik.v25i1.1085.