LAPORAN PENDAHULUAN
PADA PASIEN DENGAN STRUMA NODULA THYROID
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MALINAU
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Stase Keperawatan Medikal Bedah
Disusun Oleh : Katarina Minggota, S. Kep
NIM : 2414901077
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
INSTITUT TEKNOLOGI KESEHATAN DAN SAINS WIYATA HUSADA
SAMARINDA
2024/2025
KONSEP DASAR
I. Konsep Dasar Medis Struma
A. Definisi
Struma adalah pembesaran kelenjar tiroid disebut juga sebagai goiter. Struma atau
goiter, berasal dari bahasa latin yaitu “tumidum gutter” yang artinya tenggorokan yang
membesar. Definisi lain dari goiter adalah kelenjar tiroid yang membesar dua kali atau
lebih dari ukuran normalnya, beratnya dapat mencapai 40 gram atau lebih (Dewantini,
2019).
Struma didefinisikan sebagai pembesaran kelenjar tiroid. Struma dapat meluas ke
ruang retrosternal dengan atau tanpa pembesaran anterior substansial. Karena hubungan
anatomi kelenjar tiroid ke trakea, laring, saraf laring, superior dan inferior, serta
esophagus, pertumbuhan yang abnormal dapat menyebabkan sebagai sindrom
komperhensif (Dewantini, 2019).
Berdasarkan data diatas, Struma adalah pembesaran pada kelenjar tiroid yang
beratnya dapat mencapai lebih dari 40 gram yang dapat menyebabkan sindrom
komperhensif dikarenakan adanya hubungan anatomi antara kelenjar tiroid dan organ
yang berada disekitarnya.
B. Etiologi
Menurut Luh (2020), penyebab struma dapat terbagi:
1. Struma nodosa toxic
Struma nodosa toxic dapat dibedakan atas dua yaitu struma nodosa diffusa
toxic dan struma nodosa nodusa toxic. Istilah diffusa dan nodusa lebih mengarah
kepada perubahan bentuk anatomi dimana struma nodosa diffusa toxic akan
menyebar luas ke jaringan lain. Jika tidak diberikan tindakan medis sementara
nodusa akan memperlihatkan benjolan yang secara klinik teraba satu atau lebih
benjolan (struma nodosa multinodular toxic). Struma nodosa diffusa toxic
(tiroktosikosis) merupakan hipermetabolisme karena jaringan tubuh dipengaruhi
oleh hormon tiroid yang berlebihan dalam darah. Penyebab tersering adalah
penyakit Grave (gondok eksoftalmik/exophtalmic struma nodosa), bentuk
tiroktosikosis yang paling banyak ditemukan diantara hipertiroidisme lainnya.
Perjalanan penyakitnya tidak disadari oleh pasien meskipun telah diiidap selama
berbulan-bulan. Antibodi yang berbentuk reseptor TSH beredar dalam sirkulasi
darah, mengaktifkan reseptor tersebut dan menyebabkan kelenjar tiroid hiperaktif.
2. Struma nodosa non toxic
Struma nodosa non toxic sama halnya dengan struma nodosa toxic yang
dibagi menjadi struma nodosa diffusa non toxic dan struma nodosa nodusa non
toxic. Struma nodosa non toxic disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik.
Struma nodosa ini disebut sebagai simpel struma nodosa, struma nodosa endemik,
atau struma nodosa koloid yang sering ditemukan di daerah yang air minumya
kurang sekali mengandung yodium dan goitrogen yang menghambat sintesa hormon
oleh zat kimia.
C. Manifestasi Klinis
Adapun menurut Tarwoto (2018), manifestasi klinis dari struma ada beberapa, yaitu:
1) Adanya pembesaran kelenjar tiroid
2) Pembesaran kelenjar limfe
3) Nyeri tekan pada kelenjar tiroid
4) Kesulitan menelan
5) Kesulitan bernafas
6) Kesulitan dalam bicara
7) Gangguan bodi image
Gejala secara umum yaitu kelelahan dan kelesuan, sering mengantuk, jadi
pelupa kesulitan belajar, kulit kering dan gatal, rambut dan kuku yang rapuh, wajah
bengkak, konstipasi, nyeri otot, penambahan berat badan, peningkatan sensitifitas
terhadap banyak pengobatan, menstruasi yang banyak, peningkatan frekuensi
keguguran pada wanita hamil (Tarwoto, 2012).
D. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Luh (2020), ada beberapa pemeriksaan diagnostik yang dapat
dilakukan untuk pemeriksaan struma nodusa, yaitu sebaga berikut :
1. Inspeksi
Inspeksi dilakukan oleh pemeriksa yang berada di depan penderita yang
berada pada posisi duduk dengan kepala sedikit fleksi atau leher sedikit terbuka.
Jika terdapat pembengkakan atau nodul, perlu diperhatikan beberapa komponen
yaitu lokasi, ukuran, jumlah nodul, bentuk (diffus atau noduler kecil), gerakanpada
saat pasien diminta untuk menelan dan pulpasi pada permukaan pembengkakan.
2. Palpasi
Pemeriksaan dengan metode palpasi dimana pasien diminta untuk duduk,
leher dalam posisi fleksi. Pemeriksa berdiri di belakang pasien dan meraba tiroid
dengan menggunakan ibu jari kedua tangan pada tengkuk penderita.
3. Tes Fungsi Hormon
Status fungsional kelenjar tiroid dapat dipastikan dengan perantara testes
fungsi tiroid untuk mendiagnosa penyakit tiroid diantaranya kadar total tiroksin dan
triyodotiroin serum diukur dengan radioligand assay. Tiroksin bebas serum
mengukur kadar tiroksin dalam sirkulasi yang secara metabolik aktif. Kadar TSH
plasma dapat diukur dengan assay radioimunometrik. Kadar TSH plasma sensitif
dapat dipercaya sebagai indikator fungsi tiroid. Kadar tinggi pada pasien
hipotiroidisme sebaliknya kadar akan berada di bawah normal pada pasien
peningkatan autoimun (hipertiroidisme). Uji ini dapat digunakan pada awal
penilaian pasien yang diduga memiliki penyakit tiroid. Tes ambilan yodium
radioaktif (RAI) digunakan untuk mengukur kemampuan kelenjar tiroid dalam
menangkap dan mengubah yodida.
4. Foto Rontgen leher
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat struma telah menekan atau
menyumbat trakea (jalan nafas).
5. Ultrasonografi (USG)
Alat ini akan ditempelkan di depan leher dan gambaran gondok akan tampak
di layar TV. USG dapat memperlihatkan ukuran gondok dan kemungkinan adanya
kista/nodul yang mungkin tidak terdeteksi waktu pemeriksaan leher. Kelainan-
kelainan yang dapat didiagnosis dengan USG antara lain kista, adenoma, dan
kemungkinan karsinoma.
6. Sidikan (Scan) tiroid
Caranya dengan menyuntikan sejumlah substansi radioaktif bernama
technetium-99m dan yodium125/yodium131 ke dalam pembuluh darah. Setengah
jam kemudian berbaring di bawah suatu kamera
E. Penatalaksanaan Keperawatan
Menurut Luh (2020), ada beberapa penatalaksanaan keperawatan yang dapat
dilakukan untuk pemeriksaan struma nodusa, yaitu :
1. Pemberian Tiroksin dan obat Anti-Tiroid.
Tiroksin digunakan untuk menyusutkan ukuran struma, selama ini diyakini
bahwa pertumbuhan sel kanker tiroid dipengaruhi hormon TSH. Oleh karena itu
untuk menekan TSH serendah mungkin diberikan hormon tiroksin (T4) ini juga
diberikan untuk mengatasi hipotiroidisme yang terjadi sesudah operasi
pengangkatan kelenjar tiroid. Obat anti-tiroid (tionamid) yang digunakan saat ini
adalah propiltiourasil (PTU) dan metimasol/karbimasol.
2. Terapi Yodium Radioaktif .
Yodium radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi pada kelenjar
tiroid sehingga menghasilkan ablasi jaringan. Pasien yang tidak mau dioperasi maka
pemberian yodium radioaktif dapat mengurangi gondok sekitar 50 %. Yodium
radioaktif tersebut berkumpul dalam kelenjar tiroid sehingga memperkecil
penyinaran terhadap jaringan tubuh lainnya. Terapi ini tidak meningkatkan resiko
kanker, leukimia, atau kelainan genetik. Yodium radioaktif diberikan dalam bentuk
kapsul atau cairan yang harus diminum di rumah sakit, obat ini ini biasanya
diberikan empat minggu setelah operasi, sebelum pemberian obat tiroksin.
3. Tiroidektomi
Tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat kelenjar tiroid
adalah tiroidektomi, meliputi subtotal ataupun total. Tiroidektomi subtotal akan
menyisakan jaringan atau pengangkatan 5/6 kelenjar tiroid, sedangkan tiroidektomi
total, yaitu pengangkatan jaringan seluruh lobus termasuk istmus .Tiroidektomi
merupakan prosedur bedah yang relative aman dengan morbiditas kurang dari 5 %.
F. Komplikasi
Menurut Brunner & Suddarth (2018), ada beberapa komplikasi dari struma, yaitu :
1. Penyakit jantung hipertiroid
Gangguan pada jantung ini, terjadi akibat dari rangsangan yang berlebihan
pada jantung oleh hormon tiroid yang menyebabkan konraktilitas jantung
meningkat. Sehingga terjadi takikardi sampai dengan fibrilasi atrium jika
menghebat. Pasien dengan usia diatas 50 tahun, akan cenderung mendapatkan
komplikasi paya jantung.
2. Ovtalmopati graves
Ovtalmopati graves ini seperti eksoftalmus, terjadi penonjolan mata dengan
diplopa, aliran air mata yang berlebihan, serta peningkatan foto fobia dapat
mengganggu kualitas hidup pasien, sehingga aktifitas rutin pasien terganggu.
3. Dermopati graves
Dermopati tiroid adalah penebalan kulit, terutama kulit dibagian atas tibia
bawah (miksedema pretibia), yang disebabkan oleh glikosaminoglikans. Kulit sangat
menebal dan tidak dapat dicubit.
G. Patofiologi
Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan oleh tubuh unuk
pembentukan hormone thyroid. Bahan yang mengandung iodium diserap oleh usus,
masuk ke dalam sirkulasi darah ditangkap paling banyak oleh kelenjar thyroid. Dalam
kelenjar, iodium dioksida berubah menjadi bentuk yang aktif distimulasi oleh TSH,
kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid.
Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin atau T4 dan
molekul yoditironin atau T3. Tiroksin atau T4 menunjukkan pengaturan umpan balik
yang negatif dari sekresi TSH dan bekerja secara langsung pada tirotropihypofisis,
sedangkan tyrodotironin atau T3 merupakan hormone metabolik yang tidak aktif..
Beberapa obat dan keadaan dapat mempengarui sintesis, pelepasan serta
metabolisme thyroid sekaligus dapat menghambat sintesis tiroksin atau T4 dan melalui
rangsangannya umpan balik negatif dapat meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar
hypofisis. Keadaan inilah yang menyebabkan pembesaran kelenjar thyroid. Thyroid
mulai membesar pada usia muda dan akan berkembang menjadi multinodular pada usia
dewasa. struma bisa tumbuh menjadi besar tanpa adanya gejala kecuali benjolan yang
ada di leher. Walaupun sebagian struma nodusa tidak mengganggu pernapasan
dikarenakan benjolan menonjol kebagian depan, tetapi sebagian struma yang lain dapat
menyebabkan penyempitan trakea apabila pembesaran yang terjadi secara bilateral
(Syaugi, 2019).
H. Pathway
Defisiensi iodium kelainan metab. Penghambat sintesa hormon
Kongenital oleh zat kimia oleh obat
Struma
Tindakan pembedahan
Resiko cedera pada terputusnya cedera pita suara
Trakea kontiunitas jaringan
kemungkinan pelepasan neutrotransmitter gangguan fungsi suara
terjadinya perdarahan mediator kimia (bradykinin,
serotonin, prostaglandin)
resiko terjadi obstruksi merangsang ujung- ujung
Gangguan
saraf tepi komunikasi verbal
Bersihan jalan dihantarkan ke hypothalamus dan
napas tidak efektif
korteks cerebri
manipulasi pada tindakan
strumectomi subtotal Nyeri akut
resiko peningkatan pengeluaran
hormone tyroid
resiko terjadinya miedema
kemunduran proses metabolik
Risiko cedera
B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
1. Identifikasi pasien.
2. Kaji keluhan utama pasien.
Pada klien pre operasi mengeluh terdapat pembesaran pada leher. Kesulitan
menelan dan bernapas. Pada post operasi thyroidectomy keluhan yang dirasakan
pada umumnya adalah nyeri akibat luka operasi.
3. Riwayat penyakit sekarang.
Biasanya didahului oleh adanya pembesaran nodul pada leher yang semakin
membesar sehingga mengakibatkan terganggunya pernafasan karena penekanan
trakhea eusofagus sehingga perlu dilakukan operasi.
4. Riwayat penyakit dahulu.
Perlu ditanyakan riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit
gondok, sebelumnya pernah menderita penyakit gondok.
5. Riwayat kesehatan keluarga.
Ada anggota keluarga yang menderita sama dengan klien saat ini.
6. Riwayat psikososial.
Akibat dari bekas luka operasi akan meninggalkan bekas atau sikatrik
sehingga ada kemungkinan klien merasa malu dengan orang lain.
7. Pemeriksaan fisik.
Pada umumnya keadaan penderita lemah dan kesadarannya composmentis
dengan tanda-tanda vital yang meliputi tensi, nadi, pernafasan dan suhu yang
berubah. Pada klien dengan pre operasi terdapat pembesaran kelenjar tiroid. Pada
post operasi thyroidectomy biasanya didapatkan adanya luka operasi yang sudah
ditutup dengan kasa steril yang direkatkan dengan hypafik serta terpasang drain.
Drain perlu diobservasi dalam dua sampai tiga hari. Biasanya pernafasan lebih sesak
akibat dari penumpukan sekret efek dari anestesi, atau karena adanya darah dalam
jalan nafas. Pada pemeriksaan reflek hasilnya positif tetapi dari nyeri akan
didapatkan ekspresi wajah yang tegang dan gelisah karena menahan sakit.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respons klien
terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik berlangsung
aktual maupun potensial. Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada Post Op Struma
yaitu (SDKI DPP PPNI 2018) :
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik
b. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d hipersekresi jalan napas
c. Gangguan komunikasi verbal b.d. gangguan muskuler
d. Risiko infeksi berhubungan dengan adanya port de entry mikroorganisme.
e. Risiko cedera berhubungan dengan terpapar pathogen
f. Resiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
3. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan adalah segala treatment yang dikerjakan oleh perawat yang
didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai luaran (outcome) yang
diharapkan (SIKI DPP PPNI 2018).
a. Nyeri akut b.d agen pencedera fisik
Intervensi :
1) Kaji tanda-tanda adanya nyeri, baik verbal maupun nonverbal, catat lokasi,
intensitas (skala 0-10), dan lamanya.
2) Rasional : bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri, menentukan pilihan intervensi,
menetukan efektivitas terapi.
3) Letakkan pasien dalam posisi semi fowler dan sokong kepala/leher dengan bantal
pasir atau bantal kecil.
Rasional : mencegah hiperekstensi leher dan melindungi integritas garis jahitan.
4) Pertahankan bel pemanggil dan barang yang sering digunakan dalam jangkauan
yang mudah.
Rasional : membatasi ketegangan, nyeri otot pada daerah operasi.
5) Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi, seperti imajinasi, musik
yang lembut, relaksasi progresif.
Rasional : membantu untuk memfokuskan kembali perhatian dan membantu pasien untuk
mengatasi nyeri/rasa tidak nyaman.
6) Berikan obat analgetik dan/atau analgetik sprei tenggorok sesuai dengan
kebutuhannya.
Rasional : menurunkan nyeri dan rasa tidak nyaman, meningkatkan istirahat
b. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d hipersekresi jalan
napas Intervensi :
1) Pantau frekuensi pernapasan, kedalaman, dan kerja pernapasan.
Rasional : pernapasan secara normal kadang-kadang cepat, tetapi berkembangnya
distress pada pernapasan merupakan indikasi kompresi trakea karena edema atau
perdarahan.
2) Auskultasi suara napas, catat adanya suara ronki.
Rasional : ronki merupakan indikasi adanya obstruksi/spasme laringeal yang
membutuhkan evaluasi dan intervensi yang cepat.
3) Kaji adanya dyspnea, stridor, “berkokok” dan sianosis. Perhatikan kualitas suara.
Rasional : indikator obstruksi trakea/spasme laring yang membutuhkan evaluasi dan
intervensi segera.
4) Selidiki keluhan kesulitan menelan, penumpukan sekresi oral.
Rasional : merupakan indikasi edema/perdarahan yang membeku pada jaringan
sekitar daerah operasi.
5) Lakukan penilaian ulang terhadap balutan secara teratur, terutama
bagian posterior.
Rasional : jika terjadi perdarahan, balutan bagian anterior mungkin akan tampak
kering karena darah tertampung/terkumpul pada daerah yang tergantung. 6)
Berikan inhalasi uap, udara ruangan yang lembab.
b. Gangguan komunikasi verbal b.d. gangguan muskuler
1) Kaji fungsi bicara secara periodik, anjurkan untuk tidak berbicara terus menerus.
Rasional : suara serak dan sakit tenggorok akibat edema jaringan atau kerusakan
karena pembedahan pada saraf laringeal dan berakhir dalam beberapa hari.
Kerusakan saraf permanen dapat terjadi (jarang) yang menyebabkan paralisis, pita
suara dan/atau penekanan pada trakea.
2) Pertahankan komunikasi yang sederhana, beri pertanyaan yang hanya memerlukan
jawaban “ya” atau “tidak”.
Rasional : menurunkan kebutuhan berespons, mengurangi bicara.
3) Antisipasi kebutuhan sebaik mungkin. Kunjungi pasien secara teratur.
Rasional : menurunkan ansietas dan kebutuhan pasien untuk berkomunikasi.
4) Pertahankan lingkungan yang tenang.
Rasional : meningkatkan kemampuan mendengarkan komunikasi perlahan dan
menurunkan kerasnya suara yang harus diucapkan pasien untuk dapat didengarkan
c. Risiko infeksi berhubungan dengan adanya port de entry
mikroorganisme Intervensi :
1) Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.
2) Batasi jumlah pengunjung
3) Ajarkan teknik cuci tangan pada pasien dan keluarga
4) Cuci tangan sebelum dan setelah melakukan tindakan di tempat pasien
5) Terapkan universal precaution
6) Pakai sarung tangan steril sesuai indikasi
7) Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat (tindakan invasif)
8) Pastikan menggunakan teknik perawatan luka secara tepat
9) Dorong pasien untuk meningkatkan pemasukan nutrisi
10) Berikan antibiotik bila perlu
11) Ajarkan kepada pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
d. Resiko cedera berhubungan dengan terpapar pathogen
1) Pantau tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu tubuh, takikardia
(140-200/menit), disritmia, distress pernapasan, sianosis (berkembangnya edema
paru/GJK).
Rasional : manipulasi kelenjar selama tiroidektomi subtotal dapat mengakibatkan
peningkatan pengeluaran hormone yang menyebabkan krisi tiroid.
2) Pertahankan penghalang tempat tidur terpasang/diberi bantalan, tempat tidur pada
posisi yang rendah dan jalan napas buatan didekat pasien. Hindari penggunaan
restrein.
Rasional : menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi kejang.
3) Pantau kadar kalsium darah.
Rasional : pasien dengan kadar kalsium kurang dari 7,5/100ml secara umum
membutuhkan terapi pengganti.
4) Berikan obat sesuai dengan indikasi: kalsium (glukonat, laktat).
Rasional : untuk memperbaiki kekurangan yang biasanya sementara tetapi
mungkin juga menjadi permanen. Catatan: gunakan dengan berhati-hati pada
pasien pengguna digitalis karena kalsium meningkatkan sensitivitas terhadap
digitalis, yang berpotensi menimbulkan toksik
e. Resiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
Intervensi :
1) Kaji adanya alergi makanan
2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi
yang dibutuhkan pasien
3) Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
4) Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
5) Monitor adanya penurunan BB dan gula darah
6) Monitor lingkungan selama makan
7) Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
8) Monitor turgor kulit
9) Monitor kekeringan, rambut kusam, total protein, Hb dan kadar Ht
10) Monitor mual dan muntah
11) Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva
12) Monitor intake nuntrisi
4. Implementasi
Implementasi adalah fase ketika perawat mengimplementasikan intervensi
keperawatan. Implementasi merupakan langkah keempat dari proses keperawatan
yang telah direncanakan oleh perawat untuk dikerjakan dalam rangka membantu klien
untuk mencegah, mengurangi, dan menghilangkan dampak atau respons yang
ditimbulkan oleh masalah keperawatan dan kesehatan (Linawati 2018)
Tahap ini perawat mencari inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan
ditunjukan pada nursing orders untuk membantu pasien mencapai tujuan yang telah
ditetapkan (Linawati 2018).
5. Evaluasi
Evaluasi keperawatan adalah mengkaji respon pasien setelah dilakukan intervensi
keperawatan dan mengkaji ulang asuhan keperawatan yang telah diberikan. Evaluasi
keperawatan adalah kegiatan yang terus menerus dilakukan untuk menentukan apakah
rencana keperawatan efektif dan bagaimana rencana keperawatan dilanjutkan,
merevisi rencana atau menghentikan rencana (Linawati 2018).
1
7
DAFTAR PUSTAKA
American Thyroid Association. (2020). Optimal Thyroid Health For All. Diakses pada 09
Maret 2022, dari [Link]
Brunner & Suddarth. (2018). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 volume 2.
Jakarta : EGC.
Dewantini, E. A. (2019). Pengalaman Pasien Struma Dengan Trakeostomi Di Rumah Jalan
Langsep Tajinan Kab. Malang Tahun 2019. Journal of Chemical Information and
Modeling, 53(9), 1689–1699.
Farah, N. (2019). Perbedaan struma diffusa dengan struma nodusa. Diakses pada 09 Maret
2022, dari [Link]
Luh, G. N. (2020). Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Struma
Nodusa Non Toksik. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
PPNI (2018). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik,
Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
Syaugi M Assegaf dkk. (2019). Gambaran Eutiroid Pada Pasien Struma Multi Nodusa
Toksik dibagian Bedah RSUP [Link].R.D. Kandou Manado. Jurnal E-Clinic (ECI)
Tarwoto, N. S. (2018). KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH Gangguan Sistem
ENDOKRIN. Jakarta : Trans Info Media.
18