PENGARUH PRICE EARNING RATIO, EARNING PER SHARE, RETURN ON
EQUITY, DEBT TO EQUITY RATIO DAN NET PROFIT MARGIN TERHADAP
RETURN SAHAM
(Pada Sektor Property and Real Estate Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
Periode 2013-2017)
1)
Mohamad Zulman Hakim
Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Tangerang
1)
[Link]@[Link]
2)
Dirvi Surya Abbas
Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Tangerang
2)
[Link]@[Link]
The purpose of this study was to determine the extent of the effect of price
earnings ratio, earnings per share, return on equity, debt to equity ratio and net profit
margin on stock returns. Price earning ratio is measured by the price per share divided
by net income per share, earning per share is measured by net income after tax divided
by the number of shares outstanding, as well as return on equity measured by net profit
after tax divided by shareholders' equity multiplied by 100% , the debt to equity ratio is
measured by total debt divided by total equity and net profit margin is measured by net
income after tax divided by net sales income. The stock return as the dependent variable
is measured by the closing price of the current year minus the closing price of the
previous year's share and then divided by the closing price of the previous year.
This study uses a sample of property and real estate subsector companies during
2013 - 2017 using purposive sampling method. The data used is obtained from annual
reports listed on the Indonesia Stock Exchange. There were 17 companies during 2013-
2017 that met the criteria. The analytical method used in this study is panel data
regression analysis.
The results of this study indicate that price earnings ratio, earnings per share,
debt to equity ratio and net profit margin have no significant effect on stock returns.
While return on equity has a significant positive effect on stock returns.
Keywords: Price Earning Ratio, Earning per Share, Return on Equity, Debt to
Equity Ratio, Net Profit Margin and Return Saham
I. PENDAHULUAN sarana bagi perusahaan untuk
Pasar modal memiliki peran mendapatkan dana bagi masyarakat
penting bagi perekonomian suatu pemodal (investor). Kedua, pasar
negara karena pasar modal modal menjadi sarana bagi
menjalankan dua fungsi, yaitu masyarakat untuk berinvestasi pada
pertama sebagai sarana bagi instrumen keuangan, seperti saham,
pendanaan usaha atau sebagai obligasi, rekasadana, dan lain-lain
1
2
(Martalena dan Malinda, 2011: 2). suatu returntertentu dengan resiko
Dengan adanya pasar modal, minimal. Pada dasarnya nilai return
investor sebagai pihak yang dari setiap sekuritas berbeda-beda
memiliki kelebihan dana dapat satu sama lainnya. Tidak semua
menginvestasikan dananya dalam sekuritas akan memberikan
sekuritas yang ada di pasar modal returnyang sama bagi para investor.
dengan harapan akan mendapatkan Returndari suatu sekuritas
keuntungan. Sedangkan untuk ditentukan oleh banyak hal seperti
perusahaan sebagai pihak yang kinerja perusahaan dan strategi
memerlukan dana dapat perusahaan mengelola laba yang
memanfaatkan dana tersebut untuk dimiliki. Perusahaan dianggap
mengembangkan kegiatan aktivitas gagal keuangannya jika perusahaan
operasional perusahaan, sehingga tersebut tidak mampu membayar
dapat meningkatkan kegiatan kewajibannya pada waktu jatuh
perekonomian negara dan tempo meskipun total aktiva
kesejahteraan masyarakat luas. melebihi total kewajibannya pada
waktu jatuh tempo.
Investor yang memilih
berinvestasi dalam bentuk saham Seorang investor melakukan
berarti berinvestasi dalam prospek berbagai cara agar dapat
perusahaan tersebut. Perusahaan mendapatkan return sesuai dengan
yang tergabung dalam pasar modal yang diinginkan, dengan melakukan
harus mampu meningkatkan nilai analisis sendiri pada perilaku
perusahaannya karena nilai perdagangan suatu saham, ataupun
perusahaan yang tinggi tentu dengan menggunakan sarana yang
memberikan gambaran yang baik sudah disediakan dari analis di
dan peluang returnyang besar. pasar modal, contohnya dealer,
Apabila perusahaan menganggap broker dan juga para manajer
semua investor adalah investor investasi. Dalam pasar modal, tidak
yang rasional makan dengan semua saham dari perusahaan yang
returnekspektasi yang tinggi tentu memiliki profil yang baik akan
saja akan semakin banyak investor memberikan returnyang baik pada
yang tertarik untuk membeli investor sehingga diperlukan
sekuritas yang dikeluarkan oleh analisis yang lebih mendalam
perusahaan emiten sehingga tujuan mengenai perusahaan tersebut.
pendanaan yang diinginkan Sebuah perusahaan mungkin saja
perusahaan melalui pasar modal mengalami return yang fluktuatif
juga terpenuhi. setiap saat karena berbagai macam
faktor baik yang bersifat mikro
Menurut Sillaban (2007), maupun makro.
setiap investor di pasar modal
dituntut melakukan perencanaan Bisnis properti dan real
yang efektif, yang didasari estate adalah bisnis yang dikenal
pengoptimalan keseimbangan memiliki karakteristik cepat
antara risiko dan jumlah returnyang berubah (volatile), persaiangan
diharapkan. Dengan kata lain, yang ketat, persisten, dan
investor bersedia menerima kompleks. Berdasarkan data dari
returnyang maksimal dengan suatu Bursa Efek Indonesia, sejak tahun
resiko tertentu atau memperoleh 2009 hingga 2016, hanya sekitar
3
5% atau kurang dari 30 saham estate mencapai puncak tertinggi
emiten di BEI yang menghasilkan pada tahun 2014 sebesar 0.55760
rata-rata imbal hasil (return) diatas dan pada tahun 2015 mencapai
40% per tahun. Mayoritas emiten, puncak terendah, yaitu -0.06473.
yakni sekitar 58% atau 300 saham, Dari grafik tersebut bisa
hanya menghasilkan rata-rata imbal disimpulkan bahwa return saham
hasil (return) sebesar 5% per tahun. bisa mengalami kenaikan atau
Sedangkan sisanya memiliki rata- bahkan penurunan yang drastis.
rata pertumbuhan moderat. Return saham pada tahun
2014 terlihat mencapai puncak
Perinciannya, sekitar 64 tertinggi karena pada tahun ini
saham emiten atau 12% saham harga properti cenderung
mencatatkan rata-rata imbal hasil kompetitif. Ada dua agenda politik
(return) sebesar 30%. Sebanyak 134 besar pada tahun 2014, yaitu
saham emiten memberikan imbal pemilihan legislatif dan presiden.
hasil (return) sebesar 20%, dan Kedua agenda itu ditengarai
lebih dari 200 saham menghasilkan berpengaruh terhadap aktivitas
return sebesar 10%. ekonomi, termasuk sektor properti.
([Link]; 2017). Kinerja Sebab, pada tahun politik biasanya
perusahaan yang meningkat akan kondisi harga properti cenderung
berpengaruh pada meningktanya lebih kompetitif dan tidak
harga saham dan diharapkan return mengalami banyak perubahan
saham yang dapat diterima investor sehingga saham-saham dari emiten
meningkat. Data returnsaham sektor properti dan real estate
properti dan real estate yang menjadi incaran para investor yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia berburu capital gain, dimana
selama periode 2013-2017 dapat investor juga tetap memperhatikan
dilihat dalam grafik berikut: aspek fundamental perusahaan
properti (Daily Investor; 2014).
Berbanding terbalik dengan
penuruan drastis return saham pada
tahun 2015. Rendahnya
pertumbuhan propertimembuat
indeks harga saham sektor ini turun.
Awal tahun 2015 indeks saham
properti pada Bursa Efek Indonesia
berada pada level 532.96. Indeks ini
Posisi Return Saham sempat naik hingga menyentuh
Properti dan Real Estate level tertinggi pada akhir Februari
Tahun 2013 – 2017 ke posisi 580.17. Kinerja sektor
properti yang kurang baik membuat
indeks sahamnya pun turun, bahkan
Dari grafik tersebut dapat mencapai 496.9, (katadata;2015).
dilihat bahwa secara keseluruhan,
pergerakan returnsaham properti Sepanjang tahun 2016
dan real estate dari tahun 2013 ternyata saham sektor properti
hingga tahun 2017 fluktuatif. masih belum pulih. Indeks sektor
Returnsaham properti dan real properti hanya naik sekitar 6 persen.
4
Kenaikan ini tidak sebanding diperoleh informasi mengenai
dengan Indeks Harga Saham penilaian keadaan perusahaan, baik
Gabungan (IHSG) yang melesat yang telah lampau, saat sekarang, dan
16.1 persen dalam periode yang masa yang akan datang. Beberapa
[Link] Bank Indonesia juga rasio keuangan yang dapat digunakan
menunjukan kredit sektor properti dalam memprediksi return saham
hingga November 2016 juga hanya antara lain Price earning ratio (PER),
naik 7-9 [Link] Pemerintah Earning per share (EPS), Return On
telah melonggarkan aturan agar Equity (ROE), Debt to Equity Ratio
permintaan terhadap properti (DER) dan Net Profit Margin (NPM).
kembali meningkat. (Bareksa;2016).
Berdasarkan fenomena diatas
yang melihat fakta bahwa tidak
Selain itu, rendahnya daya
adanya kepastian mengenai return
beli masyarakat juga diindikasi
yang akan didapatkan oleh investor
sebagai penyebab menurunnya return
ketika melakukan investasi saham,
saham perusahaan properti. Hal ini
tentu seorang investor tidak ingin
terbukti dari survei yang dilakukan
melakukan kesalahan dalam
Bank Indonesia (BI). Survei bank
pengambilan keputusan investasi.
sentral terkait Indeks Keyakinan
Para investor pada umunya
Konsumen (IKK) Juni 2017 sebesar
menggunakan teknik analisis
122.4 atau turun 3.5 poin jika
fundamental untuk menilai kinerja
dibandingkan dengan IKK pada bulan
perusahaan untuk mengestimasi
[Link] kemampuan
return. infromasi dari laporan
beli masyarakat ini membuat
keuangan suatu perusahaan bisa
investasi properti tidak bergerak.
menjadi media untuk para investor
Dengan kata lain, banyak investor
sebagai faktor fundamental untuk
yang tidak dapat menjual aset
mengestimasi harga saham suatu
propertinya dengan harga yang lebih
perusahaan. Persoalan yang timbul
tinggi dari posisi beli. (cnnindonesia;
adalah sejauh mana informasi
2017).
perusahaan publik tersebut
mempengaruhi harga saham di pasar
Dalam analisis fundamental
modal dan faktor atau variabel apa
terdapat beberapa rasio keuangan
saja yang menjadikan indikator,
yang dapat mencerminkan kondisi
sehingga perusahaan dapat
keuangan dan kinerja suatu
mengendalikannya dan tujuan
perusahaan. Robbert Ang (1997)
meningkatkan nilai perusahaan
mengelompokkan rasio keuangan ke
melalui peningkatan nilai saham yang
dalam lima rasio yaitu rasio
diperdagangkan di pasar modal dapat
likuiditas, solvabilitas, profitabilitas,
dicapai.
aktivitas dan rasio pasar. Rasio-rasio
keuangan tersebut digunakan untuk
II. KAJIAN PUSTAKA DAN
menjelaskan kekuatan dan kelemahan
PENGEMBANGAN HIPOTESIS
dari kondisi keuangan suatu
perusahaan serta dapat memprediksi
returnsaham di pasar modal. Kajian Teoritis
Rasio keuangan membantu Signaling theory
dalam mengidentifikasi beberapa menjelaskan tentang bagaimana
kekuatan dan kelemahan keuangan para investor memiliki informasi
perusahaan. Dengan melakukan yang sama dengan manajer
analisis rasio keuangan, maka akan perusahaan tentang prospek
5
perusahaan, namun dalam saham, dengan demikian pasar akan
kenyataan manajer sering memiliki bereaksi yang tercermin melalui
informasi lebih baik dari investor perubahan dalam volume
luar. Hal ini sering disebut perdagangan saham. Dengan
informasi asimetris, dan ini demikian hubungan antara
memiliki dampak penting pada publikasi informasi baik laporan
struktur modal yang optimal (Yeye, keuangan, kondisi keuangan
2012 dalam Affinanda 2015). ataupun social politik terhadap
fluktuasi volume perdagangan
saham dapat dilihat dalam efisiensi
Asimetri informasi pasar. Menurut Husnan (2005),
merupakan suatu kondisi dimana pasar modal efisien didefinisikan
informasi privat yang hanya sebagai pasar yang harga sekuritas-
dimiliki investor-investor yang sekuritasnya telah mencerminkan
hanya mendapat informasi saja. Hal semua informasi yang relevan.
tersebut akan terlihat jika
manajemen tidak secara penuh Secara garis besar signaling
menyampaikan semua informasi theory erat kaitannya dengan
yang diperoleh tentang semua hal ketersediaan informasi.
yang dapat mempengaruhi Berdasarkan informasi maka pasar
perusahaan, maka umumnya pasar modal dapat dibedakan menjadi
akan merespon informasi tersebut (Jogiyanto, 2000):
sebagai suatu sinyal terhadap suatu Pasar modal lemah (weak
kejadian yang akan mempengaruhi form)
nilai perusahaan yang tercermin Pasar yang harga-harga
melalui harga saham (Jogiyanto, sekuritasnya mencerminkan
2000). informasi masa lalu.
Reaksi pasar ditunjukkan Pasar modal setengah kuat
dengan adanya perubahan volume (Middle form)
perdagangan saham. Pada waktu Pasar yang harga-harga
informasi diumumkan dan semua sekuritasnya secara penuh
pelaku pasar sudah menerima mencerminkan semua informasi
informasi tersebut, pelaku pasar yang dipublikasikan.
terlebih dahulu menginterpretasikan
dan menganalisis informasi tersebut Pasar modal kuat (strong
sebagai sinyak baik (good news) form)
atau sinyal buruk (bad news). Jika Pasar yang harga-harga
pengumuman informasi tersebut sekuritasnya mancerminkan
sebagai sinyal baik bagi investor, secara penuh semua jenis
maka terjadi perubahan dalam informasi termasuk informasi
volume perdagangan saham. privat.
Menurut Sharpe (1997),
pengumuman informasi akuntansi Pengembangan Hipotesis
memberikan sinyal bahwa Pengaruh Price Earning Ratio
perusahaan mempunyai prospek terhadap Return Saham
yang baik dimasa mendatang (good PER dapat menjadi indikator
news) sehingga investor tertarik pertumbuhan laba dan
untuk melakukan perdagangan
6
mengindikasikan pertumbuhan laba di meningkatkan kepemilikan saham
masa yang akan datang. Rasio ini perusahaan. (Yani Prihantina Eka
diperhatikan oleh pemodal/investor, Furda et al, 2012).
memilih PER yang rendah
menunjukkan nilai pasar yang tinggi Dalam penelitian yang dilakukan
atas saham karena semakin murah oleh Satia Nur Maharani (2012), Gd
saham tersebut untuk dibeli dan Gilang Gunadi dan I Ketut Wijaya
semakin baik pula kinerja per lembar Kesuma (2015) menyatakan bahwa
saham dalam menghasilkan laba bagi Earning Per Share (EPS) memiliki
perusahaan. Semakin baik kinerja per pengaruh yang signifikan terhadap
lembar saham akan mempengaruhi return saham.
banyak investor untuk membeli
saham tersebut, sehingga saham Berdasarkan uraian mengenai
tersebut akan diminati oleh investor pengaruh earning per share terhadap
dan pada akhirnya akan menaikkan return saham, maka dapat dirumuskan
pula harga sahamnya dan selanjutnya hipotesis dalam penelitian ini sebagai
akan berdampak pada perolehan berikut:
return saham. (Yani Prihantina Eka
Furda et al, 2012). H2: Earning Per Share (EPS)
berpengaruh positif dan
Dalam penelitian yang dilakukan signifikan terhadap return
oleh Irman Firmansyah (2016), Eka saham.
Budi Yulianto dan Suratno (2015),
Suherman Sodikin dan Nurul Pengaruh Return On Equity
Wulandari (2016) menyatakan bahwa terhadap Return Saham
Price Earning Ratio (PER) memiliki Dalam menentukan pilihannya,
pengaruh yang signifikan terhadap investor biasanya akan
return saham. mempertimbangkan perusahaan yang
mampu memberikan kontribusi
Berdasarkan uraian mengenai Return on equity (ROE) yang lebih
pengaruh price earning ratio (PER) besar. Bagi investor semakin tinggi
terhadap return saham, maka dapat Return on equity (ROE) menunjukkan
dirumuskan hipotesis dalam risiko investasi semakin kecil.
penelitian ini sebagai berikut: Indikator Returnon Equity (ROE)
yang meningkat sangat penting
H1: Price Earning Ratio diperhatikan untuk mengetahui
berpengaruh terhadap Return investasi yang akan dilakukan
Saham. investor. Dengan Return on equity
Pengaruh Earning Per Share (ROE) yang tinggi suatu perusahaan
terhadap Return Saham mampu memberikan return sesuai
EPS yang tinggi maka dividen dengan tingkat yang diharapkan;
yang akan diterima investor semakin meningkatnya Return on equity
tinggi pula. Dividen yang akan (ROE) akan meningkatkan return
diterima investor merupakan daya saham. (Eka Budi Yulianti et al,
tarik bagi para investor/calon investor 2015).
yang akan menanamkan dananya
kedalam perusahaan tersebut. Daya Dalam penelitian yang dilakukan
tarik tersebut memberi dampak pada oleh Eka Budi Yulianti dan Suratno
calon investor/investor untuk lebih (2015), Stefanus Antara et al. (2014),
7
Michael Aldo Carlo (2014) Dalam penelitian yang dilakukan
menyatakan bahwa Return On Equity oleh Irman Firmansyah (2016), Arifah
(ROE) memiliki pengaruh yang Rusydina dan Sugeng Praptoyo
signifikan terhadap return saham. (2017) menyatakan bahwa Debt to
Berdasarkan uraian mengenai Equity Ratio (DER) memiliki
pengaruh return on equity (ROE) pengaruh yang signifikan terhadap
terhadap return saham, maka dapat return saham.
dirumuskan hipotesis dalam
penelitian ini sebagai berikut: Berdasarkan uraian mengenai
H3: Return On Equity (ROE) pengaruh debt to equity ratio (DER)
berpengaruh positif dan terhadap return saham, maka dapat
signifikan terhadap return dirumuskan hipotesis dalam
saham. penelitian ini sebagai berikut:
Pengaruh Debt to Equity Ratio H4: Debt to Equity Ratio (DER)
terhadap Return Saham berpengaruh positif dan
Debt to equity ratio menunjukkan signifikan terhadap return
seberapa besar aktiva perusahaan saham.
dibiayai oleh hutang atau seberapa
besar hutang perusahaan berpengaruh Pengaruh Net Profit Margin
terhadap pengelolaan ekuitas. Debt to terhadap Return Saham
equity ratio diperoleh dengan total Net Profit Margin (NPM) yang
hutang dibagi dengan total ekuitas, tinggi memberikan sinyal akan
setiap rupiah modal dijadikan jaminan keberhasilan perusahaan dalam
untuk keseluruhan utang. Debt to mengembang misi dari pemiliknya.
equity ratio yang semakin besar akan Perusahaan yang mampu
mengakibatkan risiko financial menghasilkan keuntungan akan
perusahaan semakin tinggi. Dengan mempengaruhi investor maupun calon
penggunaan hutang yang semakin investor untuk melakukan investasi.
besar akan mengakibatkan semakin Investor akan bersedia membeli
tinggi risiko untuk tidak mampu saham dengan harga lebih tinggi
membayar hutang. Investor biasanya apabila memperkirakan tingkat Net
menghindari risiko, maka semakin Profit Margin (NPM) perusahaan
tinggi Debt to equity ratio (DER) naik, dan sebaliknya investor tidak
akan mengakibatkan saham bersedia membeli saham dengan
perusahaan tersebut dihindari harga tinggi apa bila nilai Net Profit
investor, sehingga harga saham Margin (NPM) perusahaan rendah.
semakin rendah. Dengan Net Profit Margin (NPM) perusahaan
meningkatnya Debt to equity ratio yang meningkat akan menyebabkan
(DER) berarti akan meningkatkan investor memburu suatu saham
risiko berinvestasi, dengan demikian perusahaan akibatnya return
investor merespon negatif terhadap perusahaan tersebut akan meningkat
kinerja perusahaan. Rendahnya pula.
kinerja perusahaan berakibat harga
saham akan mengalami penurunan. Dalam penelitian yang dilakukan
Menurunnya harga saham akan oleh Ferdinan Eka Putra dan Paulus
mengakibatkan return yang semakin Kindangen (2016), menyatakan
menurun. bahwa Net Profit Margin (NPM)
8
memiliki pengaruh yang signifikan capital gain/capital loss yang merupakan
terhadap return saham. selisih antara saham periode saat ini (Pt)
dengan harga saham pada periode
Berdasarkan uraian mengenai sebelumnya (Pt-1) dengan mengabaikan
pengaruh net profit margin (NPM) kebijakan dividen. Alasan digunakan
terhadap return saham, maka dapat capital gain, karena tidak semua
dirumuskan hipotesis dalam perusahaan membagikan dividen.
penelitian ini sebagai berikut:
Menurut Jogiyanto (2012: 206),
H5: Net Profit Margin (NPM) return saham dihitung dengan
berpengaruh positif dan menggunakan rumus sebagai berikut:
signifikan terhadap return
saham. Rit=
III. METODE PENELITIAN
Populasi dan Sampel Dimana:
Metode penelitian sampel Rit = Return realisasian untuk saham
yang digunakan adalah Purposive I pada waktu ke t
Sampling, yaitu tipe pemilihan Pit = Harga saham pada periode ke t
sampel berdasarkan pertimbangan- Pit-1= Harga saham pada periode ke t 1
pertimbangan tertentu dan
pertimbangan yang diambil itu Price earning ratio (X1)
berdasarkan tujuan penelitian. Price earning ratio (PER) adalah
Sampel untuk penelitian ini adalah cara mengukur seberapa besar investor
Perusahaan properti dan real estate menilai laba yang dihasilkan perusahaan.
yang terdaftar di Bursa Efek Price earning ratio (PER) penting karena
Indonesia (BEI) periode tahun 2013 jumlah laba yang dihasilkan perusahaan
sampai dengan tahun 2017. Dari sebetulnya akan menentukan jumlah
hasil pemilihan sampel dengan dividen yang akan bisa dibayarkan di
menggunakan Purposive Sampling masa yang akan datang. Jika labanya
terpilih 16 perusahaan yang naik maka dividen juga akan [Link]
memenuhi kriteria. ini menggambarkan ketersediaan
investasi membayar suatu jumlah
Definisi Operasional Variabel tertentu untuk setiap perolehan laba
Return Saham (Y) perusahaan.
Return saham merupakan tujuan
utama seorang investor dalam Price earning ratio dapat dihitung
berinvestasi yaitu untuk mendapatkan dengan perbandingan anatara harga
keuntungan dari investasi tersebut. pasar per lembar saham dan laba bersih
Return merupakan salah satu faktor yang per lembar saham. Semakin
memotivasi investor dalam berinvestasi meningkatnya Price earning ratio (PER)
dan juga merupakan imbalan atas mencerminkan kinerja perusahaan.
keberanian investor menanggung risiko Meningkatnya kinerja perusahaan
atas investasi yang dilakukannya memberikan respon positif bagi investor,
(Thamrin, 2012). yang mengakibatkan meningkatnya
harga saham. Semakin menigkatnya
Pada penelitian ini konsep return harga saham dengan sendirinya
yang digunakan adalah perhitungan meningkatnya abnormal return saham.
return realisasi yang menggunakan (Eka Budi Yulianti et al, 2015).
9
yaitu dengan membagi Net Income After
Perhitungan price earning ratio Tax (NIAT) dengan shareholder equity
(PER) menggunakan rumus sebagai (Brigham dan Houston dalam Eka Budi
berikut: Yulianti (2015)). Return on
equityataureturn on net worth mengukur
kemampuan perusahaan memperoleh
laba yang tersedia bagi pemegang saham
perusahaan atau untuk mengetahui
Earning per share (X2) besarnya kembalian yang diberikan oleh
Earning per share (EPS) perusahaan untuk setiap rupiah modal
merupakan perbandingan antara laba dari pemilik (Sugiarti et al, 2015).
bersih dengan jumlah saham beredar.
EPS menunjukkan keberhasilan perusa- Perhitungan return on equity
haan dalam memperoleh laba dari setiap (ROE) menggunakan rumus sebagai
sahamnya atas operasional pada suatu berikut:
periode. Secara langsung EPS
dipengaruhi oleh pendapatan perusahaan
sehingga jika rasio EPS tinggi maka
berdampak pada peningkatan return
saham, karena investor akan menilai Debt to equity ratio (X4)
bahwa perusahaan dalam keadaan baik. Debt to equity ratio (DER) adalah
perbandingan jumlah hutang yang
Kenaikan earning per share ditanggung perusahaan dengan modal
berarti perusahaan sedang dalam tahap sendiri yang dimiliki perusahaan. Debt to
pertumbuhan atau kondisi keuangannya equity ratiomenunjukkan seberapa besar
sedang mengalami peningkatan dalam aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang
penjualan dan laba, atau dengan kata lain atau seberapa besar hutang perusahaan
semakin besar earning per share berpengaruh terhadap pengelolaan
menandakan kemampuan perusahaan akuitas. Debt to equity ratio diperoleh
dalam menghasilkan keuntungan bersih dengan total hutang dibagi dengan total
setiap lembar saham. (Suherman et al, ekuitas, setiap rupiah modal dijadikan
2016). jaminan untuk keseluruhan utang (Eka
Budi Yulianti et al, 2015).
Perhitungan earning per share
(EPS) menggunakan rumus sebagai Rasio ini berguna untuk mengetahui
berikut: jumlah dana yang disediakan peminjam
(kreditor) dengan pemilik perusahaan.
Dengan kata lain, rasio ini berfungsi
untuk mengetahui setiap rupiah modal
sendiri yang dijadikan untuk jaminan
Return on equity (X3) utang (Sugiarti et al, 2015).
Return on equity (ROE) adalah
rasio untuk mengukur seberapa efektif Perhitungan debt to equity ratio
perusahaan memanfaatkan kontribusi (DER) menggunakan rumus sebagai
pemilik dan atau seberapa efektifnya berikut:
perusahaan memanfaatkan sumber-
sumber lain untuk kepentingan pemilik.
Rumus untuk Return on equity (ROE)
10
Net profit margin (X5) memiliki pengaruh secara bersama-sama
Menurut Alexandri (2008: 200) Net terhadap variabel endogen. adapun
Profit Margin adalah rasio yang kriteria dalam pengambilan suatu
digunakan untuk menunjukkan keputusan berdasarkan pembuktian diatas
kemampuan perusahaan dalam adalah sebagai berikut:
menghasilkan keuntungan bersih setelah Jika nilai sig probabilitas < 0,05,
dipotong pajak. Menurut Bastian dan maka H1 diterima
Suhardjono (2006: 299) Net Profit Jika nilai sig probabilitas > 0,05,
Margin adalah perbandingan antara laba maka H0 diterima
bersih dengan penjualan. Semakin besar
Net Profit Margin, maka kinerja Koefisien Determinasi
perusahaan akan semakin produktif, Pengujian koefisien determinasi
sehingga akan meningkatkan kepercayaan (R2) bertujuan untuk mengukur
investor untuk menanamkan modalnya kemampuan model dalam menerangkan
pada perusahaan tersebut. Rasio ini variabel Eksogen terhadap Endogen.
menunjukkan berapa besar persentase Besarnya nilai koefisien determinasi
laba bersih yang diperoleh dari setiap adalah antara nol sampai dengan satu.
penjualan. Semakin besar rasio ini, Maka Jika nilai koefisien determinasi suatu
dianggap semakin baik kemampuan model semakin besar (60% s/d 90%)
perusahaan untuk mendapatkan laba yang dalam menghasilkan nilainya
tinggi. koefesiennya, maka hal tersebut dapat
dikatakan bahwa variabel eksogen
Hubungan antara laba bersih sesudah tersebut mampu memberikan hampir
pajak dan penjualan bersih menunjukkan semua informasi yang dibutuhkan untuk
kemampuan manajemen dalam menerangkan variasi pada variabel
mengemudikan perusahaan secara cukup dependen.
berhasil untuk menyisakan margin
tertentu sebagai kompensasi yang wajar
bagi pemilik yang telah menyediakan Uji Hipotesis Secara Parsial (Uji t)
modalnya untuk suatu resiko. Hasil dari Uji hipotesis ini dilakukan untuk
perhitungan mencerminkan keuntungan mengetahui ada/atau tidaknya pengaruh
netto per rupiah penjualan. Para investor variabel bebas dengan variabel terikatnya
pasar modal perlu mengetahui secara parsial. Pengujian secara simultan
kemampuan perusahaan untuk ini dilakukan dengan cara
menghasilkan laba. (Hery Heryawan, membandingkan antara tingkat
2013). signifikansi t d ari hasil pengujian dengan
nilai signifikansi yang digunakan dalam
Perhitungan net profit margin (NPM) penelitian ini. Cara pengujian parsial
menggunakan rumus sebagai berikut: terhadap variabel independen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
Jika nilai sig probabilitas < 0,05,
maka Ha diterima.
Pegujian Hipotesis
Jika nilai sig probabilitas > 0,05,
Uji Hipotesis secara bersama-sama
maka H0 diterima
(Uji Model)
pengujian ini dimaksudkan untuk
membuktikan apakah semua variabel Analisis Regresi Data Panel
eksogen yang terdapat dalam suatu model
11
Data panel merupakan gabungan Rata-rata Nilai earning per share,
antara data runtut waktu (time series) dan memiliki nilai minimum sebesar
data silang (cross section) (Winarno; 0.020000 pada perusahaan GAMA tahun
2015). Data cross section merupakan data 2017, sedangkan nilai maksimum sebesar
yang terdiri atas suatu objek namun 1308.300 pada perusahaan LPCK tahun
meliputi beberapa objek pada suatu 2015, memiliki nilai rata-rata sebesar
periode waktu, sedangkan data time 226.6328, dan standar deviasi sebesar
series merupakan data yang tersiri atas 364.0603.
satu objek namun meliputi beberapa
periode waktu (Winarno; 2015). Rata-rata Nilai return on equity,
memiliki nilai minimum sebesar
0.040000 pada perusahaan GAMA tahun
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
2017, sedangkan nilai maksimumnya
Hasil Analisis Statistik Deskriptif
sebesar 40.85000 pada perusahaan SCBD
Statistik deskriptif memberikan
tahun 2013 , memiliki nilai rata-rata
gambaran suatu data yang dapat dilihat
sebesar 10.78613, dan memiliki standar
dari nilai rata-rata, standar deviasi, nilai
deviasi sebesar 9.411368.
maksimum, dan nilai minimum,
Selengkapnya mengenai hasil statistik
Rata-rata NIlai debt to equity
deskriptif penelitian berikut:
ratio, memiliki nilai minimum sebesar
0.030000 pada perusahaan BAPA tahun
RETURN PER EPS ROE DER NPM
2017, sedangkan nilai maksimumnya
Mean 0.093000 73.01400 226.6328 10.78613 0.486000 0.291000
sebesar 1.120000 pada perusahaan LPCK
Median -0.025000 14.06000 26.98500 8.255000 0.485000 0.280000 tahun 2013, memiliki nilai rata-rata
Maximum 2.250000 3113.360 1308.300 40.85000 1.120000 0.720000 sebesar 0.486000, dan memiliki standar
Minimum -0.750000 2.180000 0.020000 0.040000 0.030000 0.010000 deviasi sebesar 0.236363.
Std. Dev. 0.494152 351.3821 364.0603 9.411368 0.236363 0.186069
Observation
s 80 80 80 80 80 80 Rata-rata Nilai net profit margin,
Sumber: Hasil Olahan Eviews 9, 2018 memiliki nilai minimum sebesar
0.010000pada perusahaan GPRA tahun
Rata – Rata Nilai Return Saham 2017, sedangkan nilai maksimumnya
memiliki nilai minimum sebesar - sebesar 0.720000pada perusahaan BSDE
0.750000 pada perusahaan GAMA tahun tahun 2014, memiliki nilai rata-rata
2013, sedangkan untuk nilai sebesar 0.291000, dan memiliki standar
maksimumnya sebesar 2.250000 pada deviasi sebesar 0.186069.
perusahaan SCBD tahun 2013, memiliki
nilai rata-rata sebesar 0.093000, dan Hasil Uji Chow (Common Effect vs Fixed
standar deviasi sebesar 0.494152. Effect)
Pengujian ini dapat dilihat pada
Rata-rata Nilai price earning nilai Probabilitas (Prob,) Cross-section F
ratio, memiliki nilai minimum dan Cross-section chi-square dengan
sebesar 2.180000 pada perusahaan JIHD hipotesis sebagai berikut:
tahun 2013, sedangkan untuk nilai
maksimum sebesar 3113.360 pada H0: Model mengikuti Common Effect
perusahaan GAMA tahun 2017, Memiliki Model (CEM) jika Probabilitas
Cross-section F dan Cross-section
nilai rata-rata sebesar 73.01400, dan
chi-square > α (0,05)
standar deviasi sebesar 351.3821.
12
Ha: Model mengikuti Fixed Effect and one-sided
Model (FEM) jika Probabilitas (all others) alternatives
Cross-section F dan Cross-section
Test Hypothesis
chi-square < α (0,05) Cross-section Time Both
Breusch-Pagan 0.001801 0.095460 0.097260
(0.9662) (0.7573) (0.7551)
Sumber: Hasil Olahan Eviews 9, 2018
Pada hasil uji Lagrange Multiplier
Redundant Fixed Effects Tests terlihat bahwa nilai Prob. Cross-section
Equation: EQ01 Breusch-Pagan sebesar 0,9662 yang
Test cross-section fixed effects
nilainya > 0,05 sehingga dapat
Effects Test Statistic d.f. Prob. disimpulkan bahwa model Common
Effect Model (CEM) lebih baik
Cross-section F 1.655511 (15,59) 0.0864 dibandingkan dengan model Random
Cross-section Chi-square 28.102825 15 0.0209
Effect Model (REM).
Sumber: Hasil Olahan Eviews 9, 2018
Kesimpulan Model
Pada hasil uji chow terlihat bahwa Berdasarkan pengujian
nilai Prob. Cross-section F sebesar perpasangan terhadap ketiga model
0,0864 yang nilainya > 0,05 sehingga regresi data panel diatas dapat
dapat disimpulkan bahwa model Common disimpulkan bahwa model Common
Effect Model (CEM) lebih baik Effect Model (CEM) dalam regresi data
dibandingkan dengan model Fixed Effect panel digunakan lebih lanjut dalam
Model (FEM). pengaruh price earning ratio, earning per
share, return on equity, debt to equity
Hasil Uji Langrage Multiplier (Common ratio dan net profit margin terhadap 16
Effect vs Random Effect) perusahaan properti dan real estate yang
Menurut Basuki dan Prawoto dijadikan sampel dalam penelitian ini
(2016) untuk mengetahui apakah model selama periode 2013 – 2017.
Random Effects Model (REM) lebih baik
daripada model Common Effect Model No. Metode Pengujian Hasil
(CEM) digunakan uji Lagrange Multiplier
(LM), Hipotesis yang digunakan dengan uji Common
Chow Common
LM adalah sebagai berikut: 1 Effect vs
Test Effect
Fixed Effect
H0 : Model mengikuti Common Effect
Model (CEM) jika nilai Probabilitas Lagrange
Common
Cross-section Breush-pagan >α Multiplier
Effect vs Common
(0,05) 2 Test
Random Effect
(LM-
Effect
Ha : Model mengikuti Random Effect Test)
Model (REM) jika nilai Probabilitas
Cross-section Breush-pagan <α
(0,05) Hasil Uji Multikolonieritas
Uji Multikolinearitas perlu
Lagrange Multiplier Tests for Random Effects dilakukan pada regresi yang
Null hypotheses: No effects menggunakan lebih dari satu variabel
Alternative hypotheses: Two-sided (Breusch-Pagan)
13
bebas, hal ini untuk mengetahui apakah LM sebesar 0.1366 >α 0,05, dengan
terjadi hubungan saling mempengaruhi demikian maka dapat disimpulkan bahwa
antara variabel bebas yang diteliti. Maka model regresi data penel tidak terjadi
menghasilkan output sebagai berikut: heteroskedstisitas.
PER EPS ROE DER NPM Hasil Uji F
PER 1.000000 -0.108535 -0.186655 -0.121139 -0.238411
EPS -0.108535 1.000000 0.700248 0.007962 0.607842 F-statistic 8.590491
ROE -0.186655 0.700248 1.000000 0.192117 0.762922 Prob(F-statistic) 0.000002
DER -0.121139 0.007962 0.192117 1.000000 -0.083116
NPM -0.238411 0.607842 0.762922 -0.083116 1.000000 Sumber: Hasil Olahan Eviews 9, 2018
Sumber: Hasil Olahan Eviews 9, 2018
Dengan menggunakan dasar
Berdasarkan gambar output diatas dapat keputusan seperti diatas, diketahui
dilihat tidak terdapat variabel indepeden berdasarkan Ftabel dengan perhitungan df1
yang memiliki nilai lebih dari 0,8. = 5 -1 dan df2 = 80 – 5 - 1 dengan tingkat
Sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi α = 5%, maka didapati nilai sebesar df1=4
multikolinearitas dalam model regresi. dan df2= 74 lalu diperoleh nilai Ftabel
sebesar 2.50. Maka dapat disimpulkan
Hasil Uji Heteroskedastisitas Fhitung (8.5904) > Ftabel (2.50), yang
Keputusan terjadi atau tidaknya artinya menolak H0 dan menerima Ha.
heterokedastisitas pada model regresi
adalah melihat nilai [Link]-Pagan Dapat disimpulkan bahwa terdapat
LM dengan hipotesis sebagai berikut: pengaruh secara bersama-sama antara
Price Earning Ratio (PER), Earning Per
H0 : Tidak Terjadi Heteroskedastisitas Share (EPS), Return On Equity (ROE),
Ha : Terjadi Heteroskedastisitas. Debt to Equity Ratio (DER) dan Net
Profit Margin (NPM) terhadap Return
Jika nilai [Link]-Pagan LM Saham Pada Perusahaan properti dan real
lebih besar dari tingkat α 0,05, maka H0 estate yang terdaftar di Bursa Efek
diterima artinya tidak terjadi Indonesia (BEI) periode tahun 2013
heteroskedastisitas. Apabila nilai sampai dengan tahun 2017
[Link]-Pagan LM lebih kecil α
0,05, maka Ha diterima yang artinya Hasil Koefisien Determinasi
terjadi heteroskedastisitas.
R-squared 0.367264
Adjusted R-squared 0.324512
Test Statistic d.f. Prob.
Breusch-Pagan LM 137.0613 120 0.1366 Dari hasil perhitungan tersebut
Pesaran scaled LM 0.068508 0.9454 diperoleh besarnya pengaruh variabel
Pesaran CD 0.857464 0.3912 Eksogen terhadap variabel Endogen yang
Sumber: Hasil Olahan Eviews 9, 2018 dapat diterangkan oleh model dalam
persamaan ini adalah sebesar 0.324512
Berdasarkan pada tabel diatas, atau sebesar 32.5%. Hal ini menunjukan
dapat dilihat nilai Prob. Breusch-Pagan bahwa Price Earning Ratio (PER),
14
Earning Per Share (EPS), Return On nilai t-statistic sebesar 1,287 atau
Equity (ROE), Debt to Equity Ratio (1,287 < 1,992) dimana t-statistic
(DER) dan Net Profit Margin (NPM) lebih kecil dari ttabel yang artinya
mampu menjelaskan variasi Price Earning Ratio tidak
naik/turunnya Return Saham sebesar berpengaruh terhadap Price Earning
32.5% sedangkan sisanya sebesar 67.5% Ratio sehingga H1 ditolak.
dijelaskan oleh faktor - faktor lain selain
yang tidak dimasukan dalam model Terbukti pada PT. Gading
regresi ini. Development, tbk dan Kawasan
Industri Jababeka Tbk tahun dari
Hasil Uji t tahun 2013 - 2017 yang memiliki
Dependent Variable: Return Saham nilai Price Earning Ratio yang tinggi
tidak memberikan pengaruh terhadap
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
nilai Return sahamnya. Hal ini berarti
C -0.090909 0.146593 -0.620142 0.5371 menunjukkan bahwa Price Earning
PER 0.000175 0.000136 1.287299 0.2020 Ratio tidak memiliki pengaruh yang
EPS -0.000271 0.000180 -1.509144 0.1355 signifikan terhadap return saham
ROE 0.044563 0.009280 4.802016 0.0000
DER -0.303298 0.215653 -1.406417 0.1638
syariah disebabkan karena Price
NPM -0.345689 0.418108 -0.826794 0.4110 Earning Ratio lebih banyak
berhubungan dengan faktor lain diluar
Sumber: Hasil Olahan Eviews 9, 2018 return saham, ketidakpastian kondisi
ekonomi dan politik serta sentimen
Dari tabel diatas hasil analisis regresi data dari pasar bursa itu sendiri.
panel didapatkan sebagai berikut:
Karena Price Earning Ratio
Return Saham = -0.090909 + 0.000175PER - merupakan harapan atau ekspektasi
0.000271EPS + 0.044563ROE – 0.0303298DER -
0,345689NPM + ε investor terhadap kinerja suatu
perusahaan yang dinyatakan dalam
rasio. Kesediaan investor untuk
Berdasarkan hasil perhitungan menerima kenaikan Price Earning
menggunakan Eviews 9.0 dapat dilihat Ratio sangat bergantung kepada
bahwa dari kelima variabel diatas yakni prospek perusahaan. Price Earning
Current Ratio, Account Receivable Ratio menjadi tidak mempunyai
Turnover, Inventory Turnover, Total makna apabila perusahaan
Asset Turnover dan Debt To Equity mempunyai laba yang sangat rendah
terhadap Return on Asset. atau menderita kerugian, dalam
keadaan ini Price Earning Ratio
perusahaan akan begitu tinggi atau
PEMBAHASAN bahkan negatif.
1. Pengaruh Price Earning Ratio
terhadap Return Saham Hasil penelitian ini sejalan dengan
Hipotesis pertama yang diajukan penelitian yang dilakukan oleh Dedy
menyatakan bahwa Price Earning Oktri Hadi Saputra dan Rini Indriani
Ratio tidak berpengaruh terhadap (2012) yang menyatakan price
Return Saham. Hasil uji koefisien earning ratio tidak berpengaruh
regresi Price Earning Ratio pada hasil terhadap return saham, sedangkan
output eviews 9.0 diatas menunjukkan berbeda dengan penelitian Irman
tingkat Prob sebesar 0,202 atau lebih Firmansyah (2016) menyatakan price
besar dari 0,05 (0,202 > 0,05) dan
15
earning ratio berpengaruh terhadap laba yang dihasilkan perusahaan
return saham. besar. Hal ini tidak sesuai dengan
teori yang mendasari bahwa EPS
2. Pengaruh Earning Price Share yang semakin besar akan
terhadap Return Saham menunjukkan kemampuan perusahaan
Hipotesis kedua yang diajukan dalam menghasilkan laba bersih
menyatakan bahwa Earning Price setelah pajak semakin meningkat.
Share tidak berpengaruh terhadap
Return Saham. Hasil uji koefisien Hal ini sejalan dengan penelitian
regresi Earning Price Share pada hasil Irman Firmansyah (2016) yang
output eviews 9.0 diatas menunjukkan menyatakan earning per share tidak
tingkat Prob sebesar 0,135 atau lebih berpengaruh terhadap return saham,
besar dari 0,05 (0,135 > 0,05) dan sedangkan berbeda dengan penelitian
nilai t-statistic sebesar -1,509 atau (- Satia Nur Maharani (2012)
1,509 > -1,992) dimana t-statistic menyatakan earning per share
lebih besar dari ttabel yang artinya berpengaruh terhadap return saham.
Earning Price Share tidak
berpengaruh terhadap Return Saham 3. Pengaruh Return on Equity terhadap
sehingga H2 ditolak. Return Saham
Hipotesis ketiga yang diajukan
Terbukti pada PT. Lippo Cikarang menyatakan bahwa Return On Equity
Tbk dan PT. Roda Vivtex Tbk dari berpengaruh Positif terhadap Return
tahun 2013 - 2017 yang memiliki Saham. Hasil uji koefisien regresi
nilai Earning Price Share yang tinggi Return On Equity pada hasil output
tidak memberikan pengaruh terhadap eviews 9.0 diatas menunjukkan
nilai Return Saham. Hal ini berarti tingkat Prob sebesar 0,000 atau lebih
kenaikan atau penurunan nilai kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05) dan
Earning Price Share tidak berdampak nilai t-statistic sebesar 4,802 atau
pada kenaikan atau penurunan return (4,802 > 1,992) dimana t-statistic
saham. Nilai Earning Price Share lebih besar dari ttabel yang artinya
yang semakin tinggi tidak berarti akan Return On Equity berpengaruh Positif
memberikan kontribusi terhadap dan signifikan terhadap Return Saham
return saham yang semakin tinggi sehingga H3 diterima.
atau sebaliknya nilai Earning Price
Share yang semakin rendah tidak Terbukti pada PT. Metropolitan
akan selalu memberikan kontribusi Kentjana Tbk dan PT. Roda Vivtex
terhadap return saham yang semakin Tbk dari tahun 2013 - 2017 yang
rendah. memiliki Return On Equity yang
tinggi dan menyebabkan nilai Return
Hasil analisis ini mengindikasikan Saham meningkat. Hal tersebut
bahwa investor tidak menggunakan berarti menunjukkan bahwa Return
EPS sebagai parameter untuk on equity (ROE) merupakan salah
mengukur kinerja perusahaan guna satu indikator penting untuk menilai
memprediksi return saham di Bursa prospek perusahaan di masa yang
Efek Indonesia (BEI). Bahkan akan datang. Dengan mengetahui
besarnya EPS tergantung dari jumlah tingkat Return on equity investor
saham yang diedarkan, semakin dapat melihat pertumbuhan
banyak saham yang beredar maka profitabilitas perusahaan. Indikator
EPS dapat bernilai kecil meskipun Return on equity (ROE) sangat
16
penting diperhatikan untuk yang artinya Debt To Equity tidak
mengetahui investasi yang akan berpengaruh terhadap Return Saham
dilakukan investor di suatu sehingga H4 ditolak.
perusahaan mampu memberikan
return yang sesuai dengan tingkat Terbukti pada PT. Duta Anggada
yang diharapkan. Realty Tbk. dan PT. Kawasan Industri
Jababeka Tbk. dari tahun 2013 - 2017
Dalam menentukan pilihannya, yang memiliki nilai Debt To Equity
investor biasanya akan yang tinggi tidak memberikan
mempertimbangkan perusahaan yang pengaruh terhadap nilai Return
mampu memberikan kontribusi Saham. Hal tersebut berarti
Return on equity (ROE) yang lebih menunjukkan bahwa tinggi atau
besar. Bagi investor semakin tinggi rendahnya Debt To Equity tidak
Return on equity (ROE) menunjukkan mempunyai dampak buruk terhadap
risiko investasi semakin kecil. kinerja perusahaan, karena hal yang
Indikator Return On Equity (ROE) mempengaruhi hal tersebut lebih
yang meningkat sangat penting banyak berhubungan dengan faktor
diperhatikan untuk mengetahui lain diluar return saham,
investasi yang akan dilakukan ketidakpastian kondisi ekonomi dan
investor. Dengan Return on equity rendahnya minat masyarakat akan
(ROE) yang tinggi suatu perusahaan daya beli rumah, serta sentimen dari
mampu memberikan return sesuai pasar bursa itu sendiri.
dengan tingkat yang diharapkan;
meningkatnya Return on equity Hal ini sejalan dengan penelitian
(ROE)akan meningkatkan return Sugiarti (2015) yang menyatakan debt
saham. (Eka Budi Yulianti et al, to equity ratio tidak berpengaruh
2015). terhadap return saham, sedangkan
berbeda dengan penelitian Irman
Hal ini sejalan dengan penelitian Firmansyah (2016) menyatakan debt
Eka Budi Yulianti dan Suratno (2015) to equity ratio berpengaruh terhadap
yang menyatakan return on equity return saham.
berpengaruh terhadap return saham,
sedangkan berbeda dengan penelitian 5. Pengaruh Net Profit Margin terhadap
Sugiarti (2015) menyatakan return on Return Saham
equity tidak berpengaruh terhadap Hipotesis kelima yang diajukan
return saham. menyatakan bahwa Net Profit Margin
berpengaruh terhadap Return Saham.
4. Pengaruh Debt to Equity terhadap Hasil uji koefisien regresi Net Profit
Return Saham Margin pada hasil output eviews 9.0
Hipotesis keempat yang diajukan diatas menunjukkan tingkat Prob
menyatakan bahwa Debt To Equity sebesar 0,411 atau lebih besar dari
berpengaruh terhadap Return Saham. 0,05 (0,411 < 0,05) dan nilai t-statistic
Hasil uji koefisien regresi Debt To sebesar -0,827 atau (-0,827 > -1,992)
Equity pada hasil output eviews 9.0 dimana t-statistic lebih kecil dari ttabel
diatas menunjukkan tingkat Prob yang artinya Net Profit Margin tidak
sebesar 0,164 atau lebih besar dari berpengaruh signifikan terhadap
0,05 (0,164 > 0,05) dan nilai t-statistic Return Saham sehingga H5 ditolak.
sebesar -1,406 atau (-1,406 > -1,992)
dimana t-statistic lebih besar dari ttabel
17
Terbukti pada PT. Lippo Cikarang
Tbk dan PT. Roda Vivtex Tbk dari Earning Per Share (EPS) tidak
tahun 2013 - 2017 yang memiliki berpengaruh signifikan terhadap Return
nilai Net Profit Margin yang tinggi Saham pada perusahaan properti dan
tidak memberikan pengaruh terhadap real estate yang terdaftar di BEI periode
nilai Return Saham. Hal tersebut 2013 - 2017. Hal ini ditunjukkan
berarti menunjukkan bahwa para dengan nilai thitung (-1.509) < ttabel
investor masih menghindari rasio- (1,992) dan nilai Prob. sebesar 0.1355 >
rasio keuangan yang belum α 0,05. Dengan demikian H2 pada
memberikan kepastian laba. Sama penelitian ini tidak terbukti.
seperti pada ROA, NPM pun belum
menunjukkan kepastian laba karena
laba yang tinggi belum mampu
Return On Equity (ROE) berpengaruh
digambarkan dengan NPM yang
signifikan terhadap Return Saham pada
tinggi. Jika laba yang diperoleh besar
perusahaan properti dan real estate
akan tetapi penjualan besar pula maka yang terdaftar di BEI periode 2013 -
rasio NPM akan tetap kecil sehingga 2017. Hal ini ditunjukkan dengan nilai
NPM tidak menggambarkan laba thitung (4.802) > ttabel (1,992) dan nilai
yang diperoleh. Oleh karena itu besar Prob. sebesar 0.0000 < α 0,[Link]
kecilnya NPM belum mampu demikian H3 pada penelitian ini
memprediksi return saham syariah terbukti.
sehingga investor belum tertarik
untuk menentukan investasinya Debt to Equity Ratio (DER) tidak
dilihat dari rasio NPM. berpengaruh signifikan terhadap Return
Saham pada perusahaan properti dan
Hal ini sejalan dengan penelitian real estate yang terdaftar di BEI periode
Irman Firmansyah (2016) yang 2013 - 2017. Hal ini ditunjukkan
menyatakan net profit margintidak dengan nilai thitung (-1.406) < ttabel
berpengaruh terhadap return saham, (1,992) dannilai Prob. sebesar 0.1638 >
sedangkan berbeda dengan penelitian α 0,05. Dengan demikian H4 pada
Ferdinan Eka Putra dan Paulus penelitian ini tidak terbukti.
Kindangen (2016) yang menyatakan
net profit marginberpengaruh Net Profit Margin (NPM) tidak
terhadap return saham. berpengaruh signifikan terhadap Return
Saham pada perusahaan properti dan
KESIMPULAN DAN SARAN real estate yang terdaftar di BEI periode
Kesimpulan 2013 - 2017. Hal ini ditunjukkan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dengan nilai thitung (-0.826) < ttabel
yang telah diuraikan, maka kesimpulkan (1,992) dan nilai Prob. sebesar 0.4110 >
dari penelitian ini sebagai berikut: α 0,05. Dengan demikian H5 pada
Price Earning Ratio (PER) tidak penelitian ini tidak terbukti.
berpengaruh signifikan terhadap Return
Saham pada perusahaan properti dan Saran
real estate yang terdaftar di BEI periode Kontribusi Teoritis
2013 - 2017. Hal ini ditunjukkan Mahasiswa Jurusan Akuntansi
dengan nilai thitung (1.287) < ttabel penelitian ini bermanfaat sebagai bahan
(1,992) dan nilai Prob. sebesar 0.2020 > referensi penelitian selanjutnya dan
α 0,05. Dengan demikian H1 pada pembanding untuk menambah ilmu
penelitian ini tidak terbukti. pengetahuan.
18
Ang, Robert. 1997. Buku Pintar Pasar
Masyarakat Bisnis Modal Indonesia (The
Sebagai sarana informasi tentang Return Intelligent Guide to Indonesian
Saham dan Manajemen Keuangan Capital Market). Jakarta:
dengan memberikan bukti empiris Mediasoft Indonesia.
tentang Pengaruh Price Earning Ratio,
Earning per Share, Return on Equity, Baltagi, B.H. 2008. Econometric Analysis
Debt to Equity ratio dan Net Profit of Panel Data. Chichester: John
Margin terhadap Return Saham. Wiley.
Basuki, Agus Tri dan Nano Prawoto.
2016. Analisis Regresi Dalam
Penelitian Ekonomi & Bisnis:
Peneliti berikutnya
Dilengkapi Aplikasi SPSS &
Sebagai bahan referensi bagi pihak-pihak
Eviews. Jakarta: PT Raja
yang akan melaksanakan penelitian lebih
lanjut mengenai topik ini.
grafindo Persada.
Penulis Brigham, Eugene F. dan Joel F. Houston.
Sebagai sarana untuk memperluas 2006. Dasar-dasar Manajemen
wawasan serta menambah referensi Keuangan. Jakarta: Salemba
mengenai manajemen keuangan, terutama Empat.
tentang kinerja Perusahaan sehingga
diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis Carlo, Michael Aldo. 2014. Pengaruh
di masa yang akan datang. Return on equity, Dividend
Payout Ratio, dan Price
Kontribusi Praktis earning ratio Pada Return
Bagi perusahaan Saham. E-Jurnal Akuntansi
Hasil penelitian ini diharapkan hasil Universitas Udayana Vol.7
dapat digunakan oleh perusahaan sebagai No.1. ISSN: 2302-8556.
bahan pertimbangan faktor-faktor untuk
meningkatkan Profitabilitas perusahaan. Fahmi, Irham. 2011. Analisis Laporan
Keuangan. Bandung: Alfabeta.
Bagi Investor
Hasil penelitian diharapkan investor Fahmi, Irham. 2012. Analisis Kinerja
dapat mengambil keputusan investasi Keuangan. Bandung: Alfabeta.
yang lebih baik dari sisi Profitabilitas
perusahaan. Firmansyah, Irman. 2016. Determinan
Return Saham Syariah Dengan
DAFTAR PUSTAKA Risiko Sistematis Sebagai
Agnes, Sawir. 2009. Analisa Kinerja Variabel Mediasi. Jurnal
Keuangan dan Perencanaan Keuangan dan Perbankan,
Keuangan Perusahaan. Jakarta: Vol.20, No.3. Hal: 358-368.
PT. Gramedia Pustaka Utama. Terakreditasi SK. No.
040/P/2014. Tasikmalaya.
Alwi, Z Iskandar. 2003. Pasar Modal:
Teori dan Aplikasi. Jakarta: Gunadi, Gd Gilang dan I Ketut Wijaya
Nasindo Internusa. Kesuma. 2015. Pengaruh ROA,
DER, EPS Terhadap Return
Saham Perusahaan Food and
19
Beverage BEI. E-Jurnal
Manajemen Unud, Vol.4, Nachrowi, Djalal dan Hardius Usman.
No.6, hal: 1636-1647 ISSN: 2006. Pendekatan Populer dan
2302-8912. Praktis Ekonometrika
Untuk Analisis Ekonomi dan
Hadi, Nor. 2013. Pasar Modal: Acuan Keuangan. Jakarta: Universitas
Teoritis dan Praktis Investasi di Indonesia.
Instrument Keuangan Pasar
Modal. Yogyakarta: Graha
Ilmu. Putra, Ferdinan Eka dan Paulus
Harahap. 2007. Analisis Kritis Atas Kindangen. 2016. Pengaruh
Laporan Keuangan. Jakarta: Return On Asset (ROA), Net
Raja Grafindo Persada. Profit Margin (NPM), dan
Earning Per Share (EPS)
Hartono, Jogiyanto. 2010. Teori Terhadap Return Saham
Portofolio dan Analisis Perusahaan Makanan dan
Investasi. Yogyakarta: BPFE Minuman yang Terdaftar di
UGM. Bursa Efek Indonesia
(Periode 2010-2014). Jurnal
Horne, James C. Van dan John M. EMBA, Vol.4, No.4. Hal: 235
Wachowicz. 1997. Prinsip- 245. ISSN: 2303-1174. Manado.
prinsip Manajemen Keuangan.
Jakarta: Salemba Empat. Samsul, Mohammad. 2006. Pasar Modal
dan Manajemen Portofolio.
Legiman, Fachreza Muhammad, et al. Surabaya: Erlangga.
2015. Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Return Saputra, Dedy Oktri Hadi dan Rini
Saham Pada Perusahaan Indriani. 2012. Pengaruh Rasio
Argoindustry yang Terdaftar di Analisis Fundamental
Bursa Efek Indonesia Terhadap Return Saham:
periode 2009-2012. Jurnal Perbedaan Pengaruh Antara
EMBA. Vol.3, No.3. Saham Syariah dan Non
Syariah. Jurnal Akuntansi dan
Maharani, Satia Nur. 2012. Kandungan Keuangan, Vol.2, No.1. Hal:
Informasi Laba Bersih dan Arus 31-47. ISSN: 2301-4717.
Kas Terhadap Reaksi Bengkulu.
Perubahan Return Saham.
Jurnal Keuangan dan Sillaban, Anni. 2007. Analisis Faktor-
Perbankan, Vol.16, No.1. Hal: faktor yang Mempengaruhi
86-89. Terakreditasi SK. No. Return Saham Perusahaan
64a/DIKTI/Kep/2010. Malang. Manufaktur yang Go Publik di
Bursa Efek Indonesia. Jurnal
Martalena dan Maya Malinda. 2011. Majalah Ekonomi. Vol.6, No.1.
Pengantar Pasar Modal. Hal: 23-35.
Yogyakarta: Andi.
Sodikin, Suherman dan Nurul Wuldani.
Martono dan Agus Harjito. 2010. 2016. Pengaruh Price earning
Manajemen Keuangan. ratio (PER) dan Earning per
Yogyakarta: Ekonisia. share (EPS) Terhadap Return
20
Saham (Studi Pada PT. Yulianti, Eka Budi dan Suratno. 2015.
Unilever Indonesia Tbk.). Jurnal Pengaruh Return on equity,
Ekonomi Manajemen Vol.2 Debt to equity ratio, Price
No.1 Hal. 18 25 ISSN: 2477- earning ratio, Assets Growth,
2275. dan Inflasi terhadap Return
Saham Perusahaan Properti
Suad, Husnan. 2005. Dasar-dasar Teori dan Real estate. Jurnal Riset
Portofolio dan Analisis Akuntansi dan Perpajakan
Sekuritas. Yogyakarta: BPFE. JRAP Vol.2, No.2, hal 153-166.
Sugiarti, Surachman dan Siti Aisjah. ISSN 2339-1545.
2015. Pengaruh Kinerja
Keuangan Perusahaan [Link] (Senin, 11 Juni 2018)
Terhadap Return Saham (Studi [Link] (Kamis, 19
pada Perusahaan Manufaktur April 2018)
yang Terdaftar di Bursa [Link] (Kamis, 19 April
Efek Indonesia). Jurnal Aplikasi 2018)
Manajemen (JAM), Vol.13, [Link] (Jum’at, 20 April
No.2. Hal: 282-298. 2018)
Terakreditasi SK. No. [Link] (Jum’at, 20 April
66b/DIKTI/Kep/2011. 2018)
ISSN: 1693-5241. Malang.
Sugiyono. 2017. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Susilowati, Yeye dan Tri Turyanto. 2011.
Reaksi Signal Rasio
Profitabilitas dan Rasio
Solvabilitas Terhadap Return
Saham Perusahaan. Jurnal
Dinamika Keuangan dan
Perbankan. Vol.3 No.1. hal: 17-
37.
Tandelilin, Eduardus. 2010. Portofolio
dan Investasi Teori dan
Aplikasi. Yogyakarta:
Kanisius.
Wardiyah, Mia Lasmi. 2017. Manajemen
Pasar Uang & Pasar Modal.
Bandung: Pustaka Setia.
Winarno, Wing Wahyu. 2017. Analisis
Ekonometrika dan Statistika
dengan Eviews.
Yogyakarta: STIM YKPN.