0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan15 halaman

Teori dan Risiko Bunuh Diri

Dokumen ini membahas tentang konsep teori risiko bunuh diri, termasuk pengertian, klasifikasi, tanda dan gejala, penyebab, serta intervensi keperawatan yang diperlukan. Bunuh diri didefinisikan sebagai tindakan agresif yang merusak diri sendiri, dan terdapat berbagai faktor predisposisi dan presipitasi yang dapat memicu perilaku tersebut. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan pentingnya pengkajian, implementasi, dan evaluasi dalam asuhan keperawatan untuk pasien dengan risiko bunuh diri.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan15 halaman

Teori dan Risiko Bunuh Diri

Dokumen ini membahas tentang konsep teori risiko bunuh diri, termasuk pengertian, klasifikasi, tanda dan gejala, penyebab, serta intervensi keperawatan yang diperlukan. Bunuh diri didefinisikan sebagai tindakan agresif yang merusak diri sendiri, dan terdapat berbagai faktor predisposisi dan presipitasi yang dapat memicu perilaku tersebut. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan pentingnya pengkajian, implementasi, dan evaluasi dalam asuhan keperawatan untuk pasien dengan risiko bunuh diri.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KONSEP TEORI

RESIKO BUNUH
DIRI

A. Pengertian
Bunuh diri adalah tindakan sengaja bunuh diri sendiri. Menyakiti diriadalah istilah
yang lebih luas mengacu pada disengaja keracunan diri sendiri secara sengaja atau
cedera, yang mungkin tidak memiliki niat fatal atau hasil (WHO, 2014).
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan
dapat mengakhiri kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan keputusan
terakhir dari individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi (
Keliat,2013). Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri (Stuart &
Laraia,2015).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bunuh diri adalah perbuatan yang
dilakukan secara sadar dan sengaja yang bertujuan untuk mengakhiri hidup dan
menyakiti diri sendiri.

B. Rentang Respon
Respon adaptif Respon Maladptif

Peningkat Beresiko Destruktif diri Pencederaa Bunuh


Diri destruktif tak langsung diri diri
Gambar : Rentang Respon Risiko Bunuh Diri
1. Peningkatan diri
Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri
secara wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan
diri sebagai contoh seorang mempertahankan diri dari
pendapatnya yang berbeda mengenai loyalitas terhadap pimpinan
ditempat kerjanya.
2. Beresiko Destruktif
Seorang memiliki kecendrungan atau beresiko mengalami
perilaku destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi
yang seharusnya dapat mempertahankan diri, seperti seseorang
yang patah semangat bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal
terhadap pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan secara
optimal.
3. Destruktif diri tak langsung
Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat (maladaptif)
terhadap situasi yang membutuhkan dirinya untuk
mempertahankan diri. Misalnya karena pandangan pimpinan
terhadap kerjanya yang tidak loyal, maka seorang karyawan
menjadi tak masuk kantor atau bekerja seenaknya dan tidak
optimal.
4. Pencederaan diri
Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau
pencedera diri akibat hilangnya harapan situasi yang
ada.
5. Bunuh diri
Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai nyawanya
hilang.

C. Klasifikasi
Perilaku bunuh diri terbagi menjadi tiga kategori :
1. Ancaman bunuh diri yaitu peringatan verbal atau nonverbal bahwa
seseorang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri. Orang yang
ingin bunuh diri mungkin mengungkapkan secara verbal bahwa ia tidak
akan berada di sekitar kita lebih lama lagi atau mengomunikasikan secara
non verbal.
2. Upaya bunuh diri yaitu semua tindakan terhadap diri sendiri yang
dilakukan oleh individu yang dapat menyebabkan kematian jika tidak
dicegah.
3. Bunuh diri yaitu mungkin terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan
atau diabaikan. Orang yang melakukan bunuh diri dan yang tidak bunuh
diri akan terjadi jika tidak ditemukan tepat pada waktunya.

Sementara itu, Yosep (2010) mengklasifikasikan terdapat tiga jenis bunuh


diri, meliputi:

1. Bunuh diri anomik


Bunuh diri anomik adalah suatu perilaku bunuh diri yang didasari oleh
faktor lingkungan yang penuh tekanan (stressful) sehingga mendorong
seseorang untuk bunuh diri.
2. Bunuh diri altruistik
Bunuh diri altruistik adalah tindakan bunuh diri yang berkaitan dengan
kehormatan seseorang ketika gagal dalam melaksanakan tugasnya.
3. Bunuh diri egoistik
Bunuh diri egoistik adalah tindakan bunuh diri yang diakibatkan faktor
dalam diri seseorang seperti putus cinta atau putus harapan.

D. Tanda dan Gejala


Menurut Fitria (2012) tanda dan gejala yang timbul pada klien risiko bunuh
diri yaitu :
1. Mempunyai ide untuk bunuh diri
2. Mengungkapkan keinginan untuk mati
3. Impulsif
4. Menunjukan perilaku yang mencurigakan
5. Mendekati orang lain dengan ancaman
6. Menyentuh orang lain dengan cara menakutkan
7. Latar belakang keluarga
E. Akibat
Menurut Fitria (2012) akibat yang ditimbulkan klien dengan resiko bunuh diri
yaitu klien dapat melakukan tindakan berbahaya atau menciderai dirinya
sendiri maupun llingkungan seperti menyerang orang lain atau memecahkan
perabot.

F. Penyebab
Menurut Fitria (2012) penyebab risiko bunuh diri dibagi menjadi dua
yaitu faktor predisposisi dan faktor presipitasi.
1. Faktor predisposisi
Tidak ada teori tunggal yang membahas tentang diri dan saran
tentang cara melakukan intervensi yang terapeutik. Teori Perilaku
percaya adalah pencederaan diri merupakan hal yang dipelajari dan
diterima pada saat anak-anak dan masa remaja. Teori Psikologi
memfokuskan pada masalah tahap awal perkembangan ego, trauma
interpersonal, dan kecemasan berkepanjangan yang mungin dapat
memicu seseorang untuk mencederai diri. Teori Interpersonal
mengungkapkan bahwa mencederai diri sendiri sebagai kegagalan dari
interaksi dalam hidup, masa anak-anak mendapat kesulitan serta tidak
mendapatkan kepuasa.
Riwayat abuse atau incest dapat juga menjadi faktor predisposisi
atau presipitasi pencederaan diri. Faktor predisposisi yang lain adalah
ketidakmampuan memenuhi kebutuhan komunikasi (mengomunikasikan
perasaan), perasaan bersalah, depresi, dan perasaan yang tidak stabil.
Lima faktor predisposisi yang menunjang pada pemahaman
perilaku destruktif-diri sepanjang siklus kehidupan adalah adalah sebagai
berikut.
a) Diagnosis Psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang dibebaskan dengan cara
membawa diri sendiri yang mengalami gangguan JIwa. Tiga
gangguan jiwa yang dapat membuat individu berisiko untuk
melakukan tindakan bunuh diri adalah gangguan afektif, pemulihan
zat, dan skizofrenia.
b) Sifat Kepribadian
Tiga tipe kepribadian yang dapat membantunya dengan antipati,
impulsif, dan depresi.
c) Lingkungan Psikososial
Faktor predisposisi dapat menyebabkan pergolakan, dialah yang
membantah, kehilangan dukungan sosial, peristiwa-peristiwa negatif
dalam hidup, penyakit kronis, perpisahan, atau bahkan perceraian.
Kekuatan dukungan sosial sangat penting dalam menciptakan
intervensi yang terapeutik, dengan terlebih dahulu menemukan
masalah, respons seseorang dalam masalah tersebut, dan lain-lain.
d) Sejarah Keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan pembunuhan merupakan
faktor penting yang dapat menyebabkan seseorang melakukan
tindakan bunuh diri.
e) Faktor Biokimia
Data menunjukkan pada klien dengan risiko yang terjadi pada diri
sendiri terjadi peningkatan zat-zat kimia yang ada di otak seperti
serotonin, adrenalin, dan dopamin. Electro Encephalo Graph (EEG).
2. Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stres berlebihan
yang dialami oleh individu. Pencetusnya yang sering kali berupa kejadian
hidup yang memalukan. Faktor lain yang dapat menjadi pencetus adalah
melihat atau membaca melalui media tentang orang yang melakukan
bunuh diri atau percobaan membunuh diri. Bagi individu yang emosiya
labil, hal tersebut menjadi sangat rentan.
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI
PADA PASIEN RESIKO BUNUH DIRI

A. Pengkajian
Data yang perlu dikaji :

Subjektif Objektif
Memiliki riwayat penyakit mental Mengalami depresi, cemas, dan
perasaan putus asa
Menyatakan pikiran, harapan, dan Respon kurang dan gelisah
perencanaan bunuh diri
Menyatakan bahwa sering mengalami Menunjukkan sikap agresif
kehilangan secara bertubi-tubi dan
bersamaan
Menderita penyakit yang Tidak koperatif dalam menjalani
prognosisnya kurang baik pengobatan
Menyalahkan diri sendiri, perasaan Berbicara lamban, keletihan, menarik
gagal dan tidak berharga diri dari lingkungan sosial
Menyatakan perasaan tertekan Penurunan berat badan

B. Pohon Masalah
Resiko perilaku kekerasan
Akib

Resiko Bunuh Diri


Core Problem

Isolasi Sosial
Penyebab

Harga Diri Rendah Penyebab


C. Diagnosa Keperawatan
Resiko Bunuh Diri

D. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Tujuan Intervensi Keperawatan


Keperawatan
Risiko Bunuh Setelah dilakukan
Manajemen Mood (I.09289) :
Diri tindakan
Observasi :
keperawatan selama
…x24 jam, maka 1. Identifikasi mood ([Link],
kontrol diri gejala, riwayat penyakit)
meningkat dengan
2. Identifikasi risiko
kriteria hasil :
keselamatan diri atau orang
1. Verbalisasi lain
ancaman kepada
3. Monitor fungsi kognitif (mis.
orang lain
konsentrasi, memori,
menurun
kemampuan membuat
2. Verbalisasi
keputusan)
umpatan
menurun 4. Monitor aktivitas dan tingkat
3. Perilaku simulasi lingkungan
menyerang Terapeutik :
menurun
1. Fasilitasi pengisian kuesioner
4. Perilaku melukai
self-report (mis. Beck
diri sendiri/orang
Depression Inventory, skala
lain menurun
status fungsional), jika perlu
5. Perilaku meruska
lingkungan 2. Berikan kesempatan untuk

sekitar menurun menyampaikan perasaan

6. Perilaku dengan cara yang tepat (mis.

agresif/amuk sandsack, terapi seni, aktivitas


fisik)

Edukasi :
1. Jelaskan tentang gangguan
mood dan penanganannya

2. Anjurkan berperan aktif


dalam pengobatan dan
rehabilitasi, jika perlu

3. Anjurkan rawat inap sesuai


indikasi (mis. risiko
keselamatan, defisit
perawatan diri, sosial)

4. Anjurkan mengenali pemicu


gangguan mood (mis. situasi
stres, masalah fisik)

5. Ajarkan memonitor mood


secara mandiri (mis. skala
tingkat 1-10, membuat jurnal)

6. Ajarkan keterampilan koping


dan menjelaskan masalah
baru

Kolaborasi :

1. Kolaborasi pemberian obat,


jika perlu

2. Rujuk untuk psikoterapi (mis.


perilaku, hubungan
interpersonal, keluarga,
kelompok), jika perlu

Pencegahan Bunuh Diri


(I.14538)

Observasi :

1. Identifikasi gejala resiko


bunuh diri (mis. gangguan
mood, halusinasi, delusi,
panik, penyalahgunaan zat,
kesedihan, gangguan
kepribadian)

2. Identifikasi keinginan dan


pikiran rencana bunuh diri

3. Monitor lingkungan bebas


bahaya secara rutin (mis.
barang pribadi, pisau cukur,
jendela)

4. Monitor adanya perubahan


mood atau perilaku

Terapeutik :

1. Libatkan dalam perencanaan


perawatan mandiri

2. Libatkan keluarga dalam


perencanaan perawatan

3. Lakukan pendekatan langsung


dan tidak menghakimi saat
membahas bunuh diri

4. Berikan lingkungan dengan


pengamanan ketat dan mudah
dipantau (mis. tempat tidur
dekat ruang perawat)

5. Tingkatkan pengawasan pada


kondisi tertentu (mis. rapat
staf, penggantian shift)

6. Lakukan intervensi
perlindungan (mis.
pembatasan area,
pengekangan fisik), jika
diperlukan

7. Hindari diskusi berulang


tentang bunuh diri
sebelumnya, diskusi
berorientasi pada masa
sekarang dan masa depan

8. Diskusikan rencana
menghadapi ide bunuh diri di
masa depan (mis. orang yang
dihubungi, ke mana mencari
bantuan)

9. Pastikan obat ditelan

Edukasi :

1. Ajarkan mendiskusikan
perasaan yang dialami kepada
orang lain

2. Anjurkan menggunakan
sumber pendukung (mis.
layanan spiritual, penyedia
layanan)

3. Jelaskan tindakan pencegahan


bunuh diri kepada keluarga
atau orang terdekat

4. Informasikan sumber daya


masyarakat dan program yang
bersedia

5. Latih pencegahan risiko


bunuh diri (mis. latihan
asertif, relaksasi otot
progresif)

Kolaborasi :

1. Kolaborasi pemberian obat


antiansietas, atau antipsikotik,
sesuai indikasi

2. Kolaborasi tindakan
keselamatan kepada PPA

3. Rujuk ke pelayanan kesehatan


mental, jika perlu

INTERVENSI PENDUKUNG :

1. Dukungan pelaksanaan ibadah

2. Dukungan spiritual

3. Dukungan tanggung jawab


pada diri sendiri

4. Intervensi krisis

5. Konseling

E. Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Kegiatan dalam implementasi juga meliputi
pengumpulan data berkelanjutan, mengobservasi respon pasien selama dan

sesudah pelaksanaan tindakan, serta menilai data yang baru. Pada proses
keperawatan, implementasi adalah fase ketika perawat mengimplementasikan
intervensi keperawatan.

F. Evaluasi Keperawatan
Keperawatan tahap evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan
yang merupakan perbandingan hasil- hasil yang diamati dengan kriteria hasil
yang dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi dilakukan secara
berkesinambungan dengan melibatkan pasien dan tenaga kesehatan lainnya
secara umum, evaluasi ditujukan untuk melihat dan menilai kemampuan
pasien dalam mencapai tujuan, menentukan apakah tujuan keperawatan telah
tercapai atau belum, mengkaji penyebab jika tujuan asuhan keperawatan
belum tercapai.
Evaluasi terbagi menjadi dua jenis yaitu evaluasi formatif dan evaluasi
sumatif. Evaluasi formatif berfokus pada aktivitas proses keperawatan dan
hasil tindakan keperawatan, dirumuskan dengan empat komponen yang
dikenal dengan istilah SOAP, Subjektif ( data berupa keluhan pasien ),
Objektif ( data berupa hasil pemeriksaan ), Analisis data ( pembandingan data
dengan teori ), Perencanaan. Sedangkan evaluasi sumatif adalah evaluasi
yang dilakukan setelah semua aktivitas proses keperawatan selesai dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA

Ah. Yusuf, Rizky Fitryasari PK, Hanik Endang Nihayati. 2015. Buku Ajar
Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Media.

Fitria, Nita. 2012. Prinsip Dasar Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan Dan
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (Lp Dan Sp). Jakarta:
Salemba Medika

Kelliat, B.A. 2013. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC

Stuart & Sundeen. 2015. Buku saku Kesehatan Jiwa. Edisi 3. Jakarta : EG

Anda mungkin juga menyukai