BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Media Pembelajaran
a. Pengertian
Pada kegiatan belajar mengajar, tujuan, materi, metode, media dan evaluasi
pembelajaran merupakan lima unsur penting dalam proses belajar dan mengajar.
Aspek-aspek tersebut sangatlah berhubungan satu dengan lainnya. Media
pembelajran merupakan salah satu dari komponen tersebut. Dengan menggunakan
media pembelajaran terciptanya komunikasi yang baik antar guru dan siswa
sehingga menjadikan suasana kelas yang aktif. Menurut (Azhar, 2019) Media
pembelajaran yaitu alat bantu yang berguna untuk mengantarkan pengetahuan atau
informasi pada kegiatan belajar mengajar untuk mengalihkan perhatian dan minat
siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Hamka (2018) Media pembelajaran
sebagai alat bantu berbentuk konkret atau non-konkret yang diciptakan untuk
menjembatani antara materi pembelajaran dengan siswa saat mendapatkan materi
sehingga pembelajaran lebih efektif dan efisien. Pendapat lain disampaikan oleh
Asosiasi Komunikasi dan Teknologi Pendidikan (Association for Educational
Comminications and Technology/AECT) media pembelajaran merupakan berbagai
macam jenis bentuk, berupa data, benda ataupun orang untuk menyampaikan
dengan mudah untuk proses pembelajaran. Media tersebut antara lain pesan, orang,
benda ataupun lingkungan.
Kesimpulan pendapat beberapa ahli tersebut yaitu bahwasanya media
pembelajaran adalah salah satu komponen utama pada kegiatan pembelajaran,
melalui media pembelajaran mampu memudahkan guru dalam menyampaikan
pesan atau pengetahuan secara efektif dan efisien yang berhubungan materi
pembelajaran. Media pembelajaran tidak hanya berupa bentuk tetapi dapat berupa
orang, pesan, maupun lingkungan. Adanya media pembelajaran, dapat
9
10
Menciptakan keingintahuan, fokus dan semangat siswa pada pembelajaran. Maka
dengan itu, terdapat banyak manfaat dalam media pembelajaran.
b. Manfaat dan Fungsi Media Pembelajaran
Media merupakan bagian dari komponen pada sisstem pendidikan, media
memiliki manfaat serta fungsi berbeda tetapi dengan tujuan yang sama yaitu,
memudahkan siswa dalam memahami materi pembelajaran. Menurut Arsyad
(dalam Haryono (2015:51) berpendapat, manfaat media pembelajaran yaitu:
a. Mampu meningkatkan hasil belajar siswa melalui penyampaian
pengetahuan dan informasi sehingga siswa mudah menerima materi.
b. Dapat mengalihkan fokus siswa pada proses pembelajaran maka siswa
termotivasi dalam belajar, berkomunikasi serta mendapatkan dorongan
belajar sejalan dengan bakat dan minat yang dimiliki.
c. Memberi peluang belajar yang sama pada setiap siswa.
Selain mempunyai manfaat, media pembelajaran juga mempunyai berbagai
fungsi. Seperti yang disampaikan (Sanjaya, 2014) dalam jurnal fungsi media
pembelajaran dalam beberapa jenis yaitu: (1) Fungsi komunikatif, yaitu dengan
adanya media pembelajaran dapat mempermudah interaksi antara guru dengan
siswa untuk menyampaikan informasi atau pesan. (2) Fungsi motivasi, yaitu untuk
menumbuhkan motivasi siswa pada kegiatan pembelajaran. Media pembelajaran
diciptakan agar mempermudah siswa dalam menerima materi. (3) Fungsi
kebermaknaan, yaitu pada pembelajaran tidak hanya informasi yang diperoleh
tetapi dapat meningkatkan kemampuan dalam berbagai aspek diantaranya sikap,
keterampilan, menganalisis dan menciptakan. (4) Fungsi penyamaan persepsi, yaitu
masing-masing siswa mempunyai persepsi berbeda-beda tetapi dengan
menggunakan media pembelajaran mampu menyamakan persepsi setiap siswa
sehingga tidak terjadinya miskonsepsi. (5) Fungsi individualitas, dengan adanya
media pembelajaran kebutuhan siswa menjadi cukup sehingga siswa mempunyai
minat dan cara belajar yang berbeda.
Kesimpulan dari pendapat beberapa ahli yaitu, media pembelajaran dapat
meningkatkan interaksi antara guru, siswa dan lingkungan sekitar yang digunakan
11
untuk memperjelas materi, dari materi abstrak menjadi konkret (nyata) sehingga
dapat tersampainya pengetahuan atau informasi pada penyampaian yang
disampaikan. Pembelajaran dengan melibatkan media pembelajaran mampu
menciptakan kegiatan belajar lebih menyenangkan, serta media pembelajaran juga
mampu membantu menumbuhkan motivasi belajar siswa dan dapat mengajak siswa
untuk terus aktif selama proses pembelajaran berlangsung.
c. Merancang Media Pembelajaran
Terdapat berbagai cara dalam merancang atau menciptakan media
pembelajaran. Dari beberapa cara tersebut akan sejalan dengan kebutuhan dan
karakteristik siswa pada pembelajaran. Menurut (Supriyono, 2018) Media
pembelajaran dapat diciptakan dengan beberapa cara diantaranya, (1) media
hendaknya dirancang sesederhana mungkin untuk memudahkan siswa memahami
dengan jelas, (2) media baiknya dibuat sesuai dengan materi yang hendak diajarkan,
(3) media yang digunakan baiknya tidak terlalu rumit dan membingungkan siswa,
(4) media dibuat dengan bahan yang mudah, tanpa menghilangkan tujuan dan
fungsi media tersebut.
Lebih lanjut penjelasan diperkuat oleh pendapat Haryono (2015: 65-66)
yang menyampaikan langkah-langkah untuk membuat media pembelajara yaitu
sebagai berikut, (1) Memahami kompetensi dan tujuan pembelajaran yang akan
dicapai dengan bantuan media, (2) menentukan media yang dikembangkan, (3)
merancang design media yang dapat menarik dan efisien dalam penggunaannya, (4)
mempersiapkan alat dan bahan, (5) mulai membuat media sesuai dengan rancangan,
(6) mengimplementasi media untuk mendapatkan hasil, (7) melengkapkan
kekurangan yang ditemukan pada media, (8) mengevaluasi media terkait dengan
kelayakan penggunaanya dalam pembelajaran, (9) memproduksi media, dan (10)
menggunakan media sebagai alat bantu dalan pembelajaran.
Kesimpulan dari pendapat beberapa ahli yaitu, bahwa untuk merancang
sebuah media dibutuhkannya persiapan, persiapan tersebut diantaranya (1)
mempersiapkan kompetensi dan tujuan, (2) mempersiapkan materi yang akan
digunakan, (3) mempersiapkan design media, (4) mempersiapkan alat dan bahan
dan (5) membuat sesuai rancangan. Dengan adanya persiapan media pembelajaran
12
tersebut media dapat sesuai dengan karakter dan kebutuhan materi pembelajaran
mudah diterima oleh siswa.
d. Jenis-Jenis Media Pembelajaran
Pada beberapa rancangannya, media pembelajaran terbagi beberapa jenis
yaitu seperti yang disampaikan Leshin, Pollock dan Reigeluth (dalam Arsyad,
2013) terdapat banyak kategori media pembelajaran yang bermacam-macam,
diantaranya media berbasis manusia yaitu pendidik, kegiatan kelompok, dll. Media
berbasis cetak contohnya buku. Media visual berupa ilustrasi, foto, peta, bagan, dll.
Media berbasis komputer yaitu media yang melibatkan bantuan komputer berupa
video interaktif.
Adapun jenis-jenis media pembelajaran menurut Haryono (2013)
diantaranya, (1) media dua dimensi berupa gambar, grafik, bagan, dan lain-lain, (2)
media tiga dimensi yaitu media yang berupa bentuk, boneka atau sesuatu benda
sesungguhnya, (3) media proyeksi atau komputer yaitu seperti berupa video
pembelajaran interaktif, LCD, proyektor dan, (4) lingkungan sekitar diantaranya,
halaman sekolah, taman sekolah, sungai, hutan, dan lain sebagainya.
Dari beberapa penjelasan para ahli tersebut dapat disimpulkan, media
pembelajaran mempunyai dikategorikan pada beberapa jenis diantaranya, (1) media
visual, suatu alat bantu belajar yang menggunakan alat indra pengelihatan media
ini berisikan pesan, informasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran
contohnya seperti gambar, grafis, peta, dll, (2) media audio, media yang
menggunakan alat indra pendengaran yang berisikan pesan, informasi yang
berkaitan pada materi yang disajikan dengan indra pendengaran contohnya video
pembelajaran, (3) media audio visual, gabungan antara gambar dan bunyi
contohnya video pembelajaran.
Dengan penjelasan para ahli mengenai jenis-jenis pembelajaran, maka
penelitian ini akan mengembangkan sebuah media pembelajaran TEKIRITA (Teka-
Teki Mari Becerita) yang merupakan media tiga dimensi yang dapat disusun-susun
melalui kepingan bagian yang terpisah-pisah. Media ini berbentuk pesegi panjang
dengan bagian belakang disertai laci kecil yang isikan materi pembelajaran bahasa
13
Indonesia kelas IV Sekolah Dasar. Media ini termasuk dalam kategori media visual
yang dapat dipegang serta dilihat.
2. Media Tekirita (Teka-Teki Mari Bercerita)
a. Pengertian
Media tekirita merupakan suatu alat peraga dalam pembelajaran yang
berupa susunan-susunan teka-teki gambar. Tekirita ini termasuk dalam bentuk
media visual tiga dimensi yang dimana menggunakan alat indra pengeliatan siswa.
Media ini berbentuk balok panjang dengan ukuran 40cm x 34 cm yang terdapat 4
sisi. Sisi (1) berisikan petunjuk permaian, sisi (2) berisikan materi singkat yang
berkaitan dengan cerita pendek, sisi (3) berisikan contoh sususan puzzle yang utuh,
sisi (4) berisikan profile penulis. Pada sisi bagian atas terdapat laci untuk
menyimpan kepingan-kepingan gambar. Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan
materi cerita pendek menjadi focus utama pada media tekirita ini.
Teka-teki berasal dari bahasa Indonesia yang diadaptasi dari puzzle.
Menurut Darmawan, dkk (2019) Puzzle atau teka-teki merupakan permainan
pembelajaran yang berguna untuk mengajak siswa agar dapat berfikir kreatif,
seperti menyusun rangkaian gambar pada teka-teki puzzle yang terpisah-pisah
disusun menjadi satuan yang utuh. Media ini digunakan dengan cara dibongkar
pasang seperti yang telah dijelaskan oleh Al-Azizy (dalam Danang Sucahyo dan
Supriyono,2013) dalam jurnal penelitiannya berpendapat bahwa teka-teki
merupakan bentuk potongan gambar yang disatukan sehingga menjadi satu
kesatuan gambar yang utuh..
Dari penjelasan beberapa pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan,
media tekirita yaitu media yang diadaptasi dari sebuah permainan puzzle
dikembangkan menjadi permainan yang melibatkan materi pembelajaran. Suasana
kelas pun akan lebih menarik dan tidak membosankan . Media ini bertujuan untuk
melatih siswa untuk berfikir kreatif, dan tanggung jawab untuk menyelesaikan
suatu permasalahan. Semua media pembelajaran mempunyai manfaat yang sangat
mempengaruhi proses pembelajaran menjadi pembelajaran yang menyenangkan.
14
b. Manfaat Media Tekirita
Seperti media pembelajaran yang lainnya, media tekirita juga mempunyai
manfaat pada kegiatan belajar dan mengajar. Siswa maupun guru dapat merasakan
manfaat dari media ini. Manfaat media Tekirita untuk siswa diantaranya: (1)
membantu siswa dalam menerima materi, (2) Melatih siswa pada penyelesaian
suatu permasalahan, (3) menjadikan siswa lebih aktif saat proses pembelajaran, (4)
terciptanya rasa keingintahuan yang tinggi pada diri siswa saat penggunaan media
Tekirita, dan (5) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
Manfaat media tekirita untuk guru, diantaranya: (1) memudahkan guru
selama kegiatan pembelajaran, (2) mampu menciptakan kondisi kelas yang
menyenangkan dan tidak membosankan, (3) dapat meningkatkan inovasi baru pada
pembelajaran, (4) menjadikan pembelajaran menjadi lebih interaktif, dan (5)
menjadikan pembelajaran yang berkesan.
Dari beberapa banyak manfaat-manfaat tersebut, setiap media pembelajaran
konkret maupun media pembelajaran berbasis internet mempunyai manfaat-
manfaat pada proses pembelajaran, manfaat-manfaat tersebut dapat dirasakan oleh
siswa dan guru. Sehingga menjadikan pembelajaran yang berkesan dan menarik.
Bukan hanya manfaat yang terdapat dalam media Tekirita, media ini mempunyai
keunggulan yang tidak dimiliki pada penelitian terdahulu lainnya.
c. Keunggulan Media Tekirita
Media Tekirita mempunyai keunggulan diantaranya, (1) media Tekirita ini
bersifat tahan lama, karna terbuat dari bahan dasar kayu ringan dengan ujung-ujung
kayu yang dibuat tumpul sehingga tidak membahayakan siswa, (2) media Tekirita
dilengkapi dengan petunjuk permainan, materi singkat, yang berkaitan dengan
pembelajaran, (3) media Tekirita ini dilengkapi dengan warna-warna yang menarik
sehingga perhatian siswa dapat tertuju pada media, dan (4) media Tekirita ini
mudah disusun-susun siswa. Maka terciptanya kondisi kelas yang menyenangkan
serta siswa dapat bermain sambil belajar.
15
3. Keterampilan Menulis
a. Pengertian
Salah satu kemampuan yang harus dipelajari siswa di sekolah dasar yaitu
keterampilan menulis. Melalui keterampilan menulis, siswa mampu
mengungkapkan isi gagasan, pendapat dan ide melalui kalimat yang dirangkat
secara utuh dalam melalui tulisan sehingga mampu tersampaikan kepada orang lain
yang membacanya. Keterampilan menulis sangat penting dalam setiap
pembelajaran, terutama pada pembelajaran Bahasa Indonesia. setiap pendidik
maupun siswa harus memiliki keterampilan ini.
Menurut (Dalman, 2016) Menulis yaitu suatu alat bantu interaksi yang
digunakan dalam memberikan informasi, ide, gagasan melalui pesan tertulis
sebagai media. Menurut (Adnan & Kuniawati, 2020) Keterampilan menulis bersifat
berkelanjutan, sehingga dalam pembelajarannya perlu berkesinambungan pada
siswa sekolah dasar. Keterampilan menulis kata dan kalimat adalah bagian awal
dalam tingkat keterampilan menulis, keterampilan ini harus lebih diperhatikan unuk
bekal awal siswa dalam menguasai berbagai keterampilan dasar lainnya.
Kesimpulan dari pendapat beberapa ahli yaitu, dari lima keterampilan dasar
keterampilan menulis adalah keterampilan yang dibutuhkan siswa sekolah dasar.
Dengan keterampilan ini terjadinya komunikasi maupun interaksi dengan seseorang
untuk menyampaikan ide, gagasan, ataupun berpendapat sesuai dengan
pemikirannya melalui tulisan. Dalam keempat keterampilan berbahasa,
mempunyai tujuannya masing-masing yang sama hal nya dengan keterampilan
menulis ini.
b. Tujuan Keterampilan menulis
Pada dasarnya tujuan menulis yaitu untuk menyampaikan sesuatu
informasi, pendapat, ide ataupun gagasan yang ingin disampaikan ke orang lain
sehingga terjadinya komunikasi atau interaksi melalui tulisan dengan bahasa yang
menjadi media untuk saling memahami tujuan pembicara.
Menurut (Hatmo, 2019) Tujuan menulis terdapat 2 (dua) faktor, (1) faktor
internal, merupakan faktor yang diri sendiri atau muncul secara langsung. Seperti,
16
kurangnya minat menulis siswa, siswa kesulitan dalam menungkan ide yang
dikarenakan malas membaca (jika faktor utamanya siswa tidak suka membaca
makan akan sulit), (2) faktor luar, merupakan faktor yang berasal dari luar atau
lingkungan sekitar. Interaksi dengan sesame merupakan awal terbentuknya
komunikasi yang baik. Adapun menurut (Yarmi, 2017) Tujuan keterampilan
menulis yaitu, untuk mengkomunikasikan, menyampaikan sebuah ide ataupun
informasi yang dapat dilakukan dimana saja melalu sebuah tulisan dari penulis.
Kesimpulan dari pendapat beberapa ahli yaitu, menulis sendiri dilakukan
dengan berbagai tujuan. Menulis mempunyai beberapa tujuan diantaranya
mengekspresikan, memberikan informasi, menyampaikan sebuah ide yang
datangnya dari diri maupun lingkungan sekitar melalui sebuah tulisan yang jelas
agar dapat tersampaikan kepada pembaca.
17
B. Kajian Penelitian yang Relevan
Ada beberapa hasil penelitian terdahulu yang relevan atau berhubungan
dengan penelitian yang dilakukan, sebagai berikut:
Tabel 2.1 Penelitian yang Relevan
No. Penulis/Tahun/Judul Hasil Persamaan Perbedaan
1. Marta Latri Hasil penelitian yaitu Mengembangkan Penelitian berfokus
Nia/2020/Pengembangan memperoleh hasil media yang dengan subjek siswa
Media VALIPIPUZ 95,53% dari angket mendekati sama, kelas I SD, melibatkan
(VALIGA PICTURE respon siswa, hasil menggunakan model keterampilan
AND PUZZLE) Untuk validasi materi dengan penelitian ADDIE , membaca.
Membaca & Menulis persentase 95% dan dan melibatkan
Permulaan pada Kelas 1 validasi media dengan keterampilan
SD persentase 97% . Maka menulis siswa.
media pembelajaran
dapat dikatakan
menarik dan layak diuji
cobakan.
2. Lulu Alzanah & Happy Hasil penelitian saat Mengembangkan Penelitian dengan
Indira D./2022/ sebelum menggunakan media yang subjek siswa kelas 1
Pengembangan Puzzle media mendapatkan mendekati sama SD, penelitian
Kreatif Untuk Media rata-rata hasil belajar dalam bentuk, dan berfokus pada
Pembelajaran Anak yaitu 64,08 dan sesudah model penelitian pembelajaran
Sekolah Dasar pengimplementasian menggunakan model pendidikan
media hasil rata-rata ADDIE. kewarganegaraan,
menjadi 78,28. Adanya menggunakan model
peningkatan 22,16% penelitian Tindakan
setelah penggunaan kelas
media
2. Siti Nur Berdasarkan hasil Menggunakan media Penelitian dengan
Aftika/2020/Penerapan siklus I dan II terdapat pembelajaran yang subjek siswa kelas I
Media Puzzle Untuk peningkatan pada hampir sama yaitu SD, berfokus untuk
Meningkitkan jumlah siswa yang media puzzle atau keterampilan
Keterampilan Membaca mencapai KKM pada teka-teki membaca dan
Permulaan Siswa Pada siklus II sebanyak 24 menggunakan model
Pembelajaran Tematik siswa mendapatkan penelitian tindakan
Kelas 1 SDN Ragunan 83% sedangkan pada kelas.
012 siklus I sebanyak 19
siswa mendapatkan
63%. Dapat dinyatakan
bahwa penggunaan
media puzzle dapat
meningkatkan
kemampuan
pembelajaran tematik
siswa kelas I pada
keterampilan membaca.
18
C. Kerangka Pikir
Kondisi Ideal Kondisi Lapangan
1. Penggunaan media membantu guru 1. Media pembelajaran yang digunakan
dalam proses pembelajaran guru masih berpacu pada buku dan
2. Siswa bersemangat dan berperan aktif kurang memadai
2. Siswa terlihat pasif dan guru lebih
dalam proses pembelajaran
aktif dalam pembelajaran
3. Siswa memahami materi yang 3. Terdapat banyak siswa yang kurang
disampaikan guru memahami materi cerita pendek
Dalam membantu penguasaan keterampilan menulis
pada siswa kelas IV dibutuhkannya media pembelajaran,
Analisis tetapi media yang tersedia untuk keterampilan menulis
Kebutuhan kurang menarik perhatian siswa. Media ajar biasa
menggunakan buku yang terdapat di perpustakan
sekolah. Dengan adanya media ajar melalui buku-buku
tersebut menyebabkan pasif, cepat merasa bosan dan
tidak percaya diri. Maka dari itu, dibutuhkannya
pengembangan media pembelajaran yang dapat
meningkatkan kemampuan menulis siswa dan membuat
pembelajaran lebih menarik.
.
Mengembangkan Media Tekirita (TekaTeki Mari
Tujuan
Bercerita) pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas
Penelitian IV Sekolah Dasar.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian Reaserch
Metode
and Development dan dengan model ADDIE (Analyze,
Penelitian Design, Development, Implementation, Evaluation)
Produk yang diharapkan : Pengembangan Media (Tekirita)
Hasil yang
Teka-Teki Mari Bercerita pada Pembelajaran Bahasa
diharapkan
Indonesia.
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir