MAKALAH RELASI ETNIS DAN INTEGRITAS BANGSA
“Konflik antar etnis di Indonesia pasca kemerdekaan
(Kasus konflik Aceh-Jawa )”
Dosen Pengampu:
Dr. Irwan satria, [Link]
Nama Kelompok 4
(Sesudah Uts)
Nadia Sukaisi (2223270010)
Neti Adella (2223270011)
Dwita Amanda (2223270021)
PROGRAM STUDI ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI FATMAWATI SUKARNO
BENGKULU
TAHUN 2025
i
KATA PENGATAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan
karunia-Nya, yaitu nikmati iman dan islam yang dengan nikmat itu kita akan
senantiasa dalam ridha Allah SWT. Shalawat serta salam semoga terlimpah
kepada Nabi besar Muhammad SAW, juga kepada para sahabat, tabi’in, tabi
tabi’innya juga kita selaku umatnya. Penulisan makalah berjudul ―Konflik antar
etnis di Indonesia pasca kemerdekaan (Kasus konflik Aceh-Jawa )” bertujuan
untuk memenuhi tugas mata kuliah ‖ RELASI ETNIS DAN INTEGRITAS
BANGSA” Kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah
RELASI ETNIS DAN INTEGRITAS BANGSA dan Bapak Dr. Irwan satria,
[Link] yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Akhirul kalam,
penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Besar harapan
penulis agar pembaca berkenan memberikan umpan balik berupa kritik dan saran.
Semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Aamiin.
Bengkulu Febuari 2025
Penyusun
Kelompok 4
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .........................................................................................i
KATA PENGANTAR .......................................................................................II
DAFTAR ISI ......................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................1
a. Latar Belakang ........................................................................................1
b. Rumusan Masalah ..................................................................................3
c. Tujuan Masalah .......................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................4
A. Akar masalah terjadinya Konflik antar etnis di Indonesia pasca
kemerdekaan (Kasus konflik Aceh-Jawa) ..............................................4
B. Jalannya konflik antar etnis di Indonesia pasca kemerdekaan (Kasus
konflik Aceh-Jawa) ................................................................................8
C. Akhir konflik antar etnis di Indonesia pasca kemerdekaan (Kasus konflik
Aceh-Jawa) .............................................................................................11
BAB III PENUTUP ...........................................................................................13
Kesimpulan ........................................................................................................13
Saran .................................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA
iii
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa penjajahan Belanda meninggalkan dampak mendalam terhadap
struktur sosial dan politik di Nusantara. Kebijakan ―divide et impera‖ yang
diterapkan oleh penjajah tidak hanya memecah belah kesatuan etnis tetapi
juga menanamkan perbedaan struktural yang bertahan lama. Aceh, dengan
sejarah perlawanan yang telah terbangun sejak masa kolonial, memiliki
identitas Islam yang kuat dan tradisi kedaulatan lokal, sedangkan Jawa,
sebagai pusat administrasi kolonial, secara historis mendapatkan akses lebih
besar ke pendidikan, kekuasaan, dan sumber daya ekonomi.
Pasca kemerdekaan, upaya integrasi nasional dilakukan melalui
sentralisasi kekuasaan yang cenderung mengutamakan pendekatan ―one
nation, one state‖. Pemerintahan pusat yang mayoritas dipimpin oleh elit
Jawa seringkali dianggap mengabaikan keberagaman kultural dan aspirasi
daerah, termasuk di Aceh. Kebijakan asimilasi nasional yang memaksa
penggunaan bahasa dan sistem administrasi seragam, meskipun bertujuan
untuk mempersatukan bangsa, justru mengikis kekhasan lokal dan
menimbulkan perasaan marginalisasi. Aceh merupakan salah satu wilayah
yang kaya sumber daya alam, mulai dari hasil tambang hingga potensi migas.
Namun, persepsi bahwa pendapatan dari sumber daya tersebut tidak
dibagikan secara adil turut memperkuat rasa ketidakpuasan. Kebijakan
ekonomi yang cenderung terpusat pada ibu kota dan wilayah yang sudah maju
mengakibatkan Aceh merasa terpinggirkan dalam proses pembangunan
nasional.
Sejak era kemerdekaan, tantangan dalam membangun negara kesatuan
telah tampak jelas. Pemerintah pusat berupaya mengintegrasikan wilayah-
wilayah yang memiliki latar belakang, tradisi, dan aspirasi berbeda. Dalam
konteks Aceh, kebijakan integrasi nasional yang terlalu terpusat seringkali
dianggap mengabaikan hak-hak daerah, sehingga menimbulkan perlawanan
1
dari elemen masyarakat yang ingin mempertahankan otonomi kultural dan
politiknya Merespons ketidakadilan dan marginalisasi, pada akhir tahun
1970-an muncul gerakan yang mengusung agenda separatis, yakni Gerakan
Aceh Merdeka (GAM). Gerakan ini berupaya menuntut pengakuan atas
identitas lokal dan hak otonomi yang lebih luas, dengan menggunakan jalur
perlawanan bersenjata sebagai respon terhadap kebijakan pemerintah yang
dianggap tidak adil.
Puncak dari upaya penyelesaian konflik tercapai dengan
ditandatanganinya Perjanjian Damai Helsinki pada tahun 2005. Perjanjian ini
secara resmi mengakui hak Aceh untuk mendapatkan otonomi khusus,
memberikan dasar hukum bagi desentralisasi dan penyesuaian kebijakan
nasional agar lebih sensitif terhadap kearifan lokal. Kesepakatan ini membuka
era baru dalam hubungan antara Aceh dan pemerintah pusat yang selama ini
didominasi oleh elite Jawa.1
Konflik antara Aceh dan Jawa (atau lebih tepatnya antara Aceh dengan
pemerintah pusat yang mayoritas dikuasai oleh elit Jawa) merupakan hasil
dari akumulasi faktor historis, politik, ekonomi, dan budaya. Warisan masa
kolonial, kebijakan sentralisasi yang kaku, ketidakadilan ekonomi, dan
perbedaan identitas kultural menjadi pemicu utama yang mengakibatkan
munculnya perlawanan bersenjata. Meskipun konflik sempat mencapai
puncaknya dengan dampak sosial dan kemanusiaan yang signifikan, upaya
negosiasi dan tercapainya Perjanjian Damai Helsinki 2005 memberikan
harapan baru melalui pemberian otonomi khusus bagi Aceh. Proses
penyelesaian konflik ini menjadi fondasi penting bagi pembangunan nasional
yang lebih inklusif dan adil di masa depan.2
1
Journal of Indonesian Studies. (2006). "Evaluasi Pasca-Damainya Konflik Aceh." Volume 11,
No. 3.
2
Anwar, D. (2010). Kebijakan Desentralisasi dan Rekonsiliasi Nasional. Pustaka Pelajar.
2
B. Rumusan Masalah
1. Apa Akar masalah terjadinya Konflik antar etnis di Indonesia pasca
kemerdekaan (Kasus konflik Aceh-Jawa) ?
2. Bagaimana Jalannya konflik antar etnis di Indonesia pasca kemerdekaan
(Kasus konflik Aceh-Jawa) ?
3. Bagaimana Akhir konflik antar etnis di Indonesia pasca kemerdekaan
(Kasus konflik Aceh-JawaApa pengertian Akulturasi ?
C. Tujuan Masalah
1. Memahami Akar masalah terjadinya Konflik antar etnis di Indonesia pasca
kemerdekaan (Kasus konflik Aceh-Jawa)
2. Memahami Jalannya konflik antar etnis di Indonesia pasca kemerdekaan
(Kasus konflik Aceh-Jawa)
3. Memahami Akhir konflik antar etnis di Indonesia pasca kemerdekaan
(Kasus konflik Aceh-JawaApa pengertian Akulturasi
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. AKAR MASALAH TERJADINYA KONFLIK ANTAR ETNIS DI
INDONESIA PASCA KEMERDEKAAN (KASUS KONFLIK ACEH-
JAWA)
Masyarakat Aceh merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari
beberapa suku besar yang telah mendiami wilayah dari Sabang hingga Aceh
Tamiang, Aceh pada dahulunya merupakan suatu kerajaan Islam yang besar
yang yang mencapai puncak keemasan dipimpin oleh Iskandar Muda sampai
bisa menaklukan wilayah sampai Pahang Malaysia, kemunduran Aceh yang
diawali dengan masuknya kolonial Belanda dan dengan adanya perjanjian
traktat Sumatera yang didalamnya berisi perjanjian diantara Inggris dan
Belanda yaitu perjanjian pertukaran kekuasan yang ditanda tangani pada tahun
1871.3
Membuat daftar panjang perlawanan rakyat Aceh dalam mengembalikan
kemerdekaannya. Dalam mempertahankan hak kemerdekaanya, rakyat Aceh
sangat terkenal gigih, hal ini dibuktikan dengan selalu ada gejolak perlawanan
dan peperangan dari kalangan tua dan muda untuk melawan penjajahan
dibumi Seuramoe Mekkah, nama-nama pahlawan bangsa Aceh dicatat dengan
tinta emas dalam buku sejarah Indonesia seperti mana-nama berikut ini Cut
Nyak Dien Bin Banta Setia, Teungku Umar, Cut Meutia, Teungku
Muhammad Saman (Teungku Chik Ditiro), dan Teungku Panglima Polem,
setelah mereka meninggal ada regenerasi setelahnya dengan semangat untuk
berperang melawan penjajahan, seperti Teungku Muhammad Daod Beureueh,
Syehk Muhammad Muda Wali dari Aceh Selatan, dan Teungku Nyak Markam
yang merupakan salah seorang penyumbangkan emas yang ada di puncak
Monas (monumen nasional), hal inilah yang menciptakan wilayah Aceh satu-
satunya wilayah yang tidak dapat dijajah/ditaklukkan oleh Kolianalisme Barat
3
H. M. Thamrin Z dan Edy Mulia, Perang Kemerdekaan Aceh, (Banda Aceh: Badan
Perpustakaan Provinsi Nanggroe Aceh Darusaalam, 2007), hal 12.
4
hingga Aceh di juluki sebagai daerah modal oleh Presiden yang pertama
Indonesia.4
Babak baru dimulai setelah Indonesia merdeka dan melepaskan
cengkraman kolinialisme, dalam perjalanan kemerdekaanya munculah
beberapa perlawananperlawanan bersifat kedaerahan, yang berkeinginan untuk
memisahkan diri dari Negara Kesatuan Indonesia yang disebabkan oleh karena
adanya pengambilan keputusan yang tidak berimbang diantara kebijakan pusat
dan daerah, misalnya pemberian hak status pemberlakuan syariat Islam di
Aceh dan juga ketidak setujuan wilayah Aceh digabungkan menjadi satu
wilayah dibawah keresidenan Sumatera Utara atau Medan, Timor-Timur dan
papua yang juga ingin memisahkan diri NKRI.
Pada akhir tahun 1949 pemerintahan Keresidenan Aceh dipisahkan dari
Propinsi Sumatera Utara dan statusnya ditingkatkan sebagai Propinsi Aceh.
Teungku Muhammad Daud Beureueh yang sebelumnya sebagai Gubernur
Militer yang memegang kekuasaan di daerah Aceh, Langkat dan Tanah Karo
diangkat menjadi Gubernur Propinsi Aceh. Beberapa ketika kemudian,
berdasarkan Peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1950 Propinsi Aceh kembali menjadi Keresidenan sebagaimana halnya pada
awal kemerdekaan. Hal tersebut sebagai keliru satu hal yang menjadig sebagai
pemicu protes berdasarkan Aceh yg dipimpin sang Teungku Muhammad
Daod Beureueh dalam tahun 1952. Tujuan berdasarkan pemberontakan yaitu
pemisahan diri dari Negara Kesatuan Indonesia (NKRI) dan ingin mendirikan
Negara Islam Indonesia (NII), yang di pelopori oleh Kartosoewirjo pada Jawa
Barat
Ada perbedaan yang sangat mendasar apa yang dicita-citakan
Kartosoewirjo yang berada di Tanah Sunda (Jawa Barat), Teungku
Muhammad Daud Beureueh mengiginkan Aceh di berlakukannya syariat
secara menyeluruh bagi warga Aceh tetapi masih dalam ikatan Indonesia
sedangkan Kartosoewirjo murni ingin memisahkan diri dari Indonesia
4
Syamsuddin Haris, Indonesia Diambang Perpecahan? Khasus Aceh, Riau, Irian Jaya, Dan
Timor Timur, (Jakarta: Pt. Gelora Aksara Pratama, Erlangga, 1999), hal. 33.
5
pemberontakan DI/TII di Aceh bisa diredam setelah proses negosiasi yang
panjang. 5
Pada pemerintahan Presiden Soeharto, Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
dipandang sebagai Gerakan Pengacau Liar (GPL), Sikap politik yang diambil
oleh Presiden Soeharto dan TNI dinilai cukup keras terhadap perlawanan
gerakan ini sehingga dirasionalisasi dengan semboyan ―NKRI Harga Mati‖
sehingga segala bentuk dari ideologi lain yang berkembang di Indonesia
dilarang selain ideology selain Pancasila, sehingga GAM dan organisasi
terlarang yang lainnya, seperti PKI, harus dipadamkam.6 karena itu tidak ada
referensi pada masa pemerintah Presiden Soeharto untuk melakukan upaya
integrasi diplomasi politik bagi kelompok ini yang kemudian menempuh
pendekatan militeristik. Pada masa ini ketenganan semakin meruncing setelah
Presiden Soeharto memberlakukan status DOM (Daerah Operasi Militer) yang
diawali dengan pemberlakuan Operasi Jaring Merah diwilayah Aceh sejak
Tahun 1989 hingga 19987.7
Kekecewaan yang timbul pada tahun 1970an dimana kebijakan
dansentralisme pada masa Presiden Soeharto tidak dapat memenuhi harapan
masyarakat Aceh, selanjutnya kekecewaan rakyat Aceh diperkuat dengan
ditemukannya sumber cadangan minyak di PT. Arun Lhoksemawe yang
merupakan cadangan minyak paling besar pada tahun 1971, semenjak
penemuan gas alam namun belum bisa mensejaterahkan masyarakat sekitar.8
Konflik ini juga berdampak kepada etnis pendatang khususnya etnis suku
Jawa yang bertranmigrasi ke Aceh pada tahun 1990 an yang akhirnya banyak
transmigrasi yang memilih pulang kampung walaupun diantara mereka ada
5
A. Windy Dkk, 100 Tokoh Yang i Mengubah Indonesia, Biografi Singkat Seratus Tokoh Paling
Berpengaruh Dalam Sejarah Indonesia di Abad 20, Cetakan Pertama (Yogyakarta: Narasi,
2005), hal 64.
6
Djumala, Soft Power Untuk Aceh: Resolusi Konflik dan Politik Desentralisasi. (Jakarta: Pt
Gramedia Pustaka Utama, 2013) hal 37.
7
Aceh [Link], Hari Ini, Status Dom Aceh Dicabut Https://[Link]/Hari-Ini-StatusDom-
Aceh-Dicabut/ Diakses Pada Tangal 12/06/2020.
8
Muhammad Madya Akbar, Aceh: Meretas Jalan Damai Menuju Masa Depan, (Jakarta: Lentera
Demokrasi bekerjasama dengan Jyesta Publishing, 2009), hal. 47.
6
juga yang mencoba bertahan di Aceh. Hal ini terjadi karena beberapa oknum
GAM (Gerakan Aceh Merdeka) menganggap bahwa transmigrasi (masyarakat
Jawa/pendatang) adalah anak emasnya Tin Soeharto,9 akan tetapi ada
beberapa kasus yang terjadi di Aceh malah etnis pendatang juga dilindungi
oleh gerakan ini karena mereka menggangap bahwa Aceh bukan berperangan
melawan etnis pendatang akan tetapi murni atas dasar keinginan kemerdekaan
Aceh, Tueng Bala dan Patriostisme Aceh.
Setelah Presiden Soeharto jatuh pada tahun 1998 pendekatan politik yang
diambil lebih halus dengan mengambil pandangan bahwa Aceh adalah saudara
kandung dan tidak dianggap lagi sebagai musuh negara, sehingga segala
bentuk Operasi Jaring Merah atau DOM ditarik dan dihentikan di Aceh
Konflik yang terjadi antara masyarakat Aceh dengan pemerintah pusat
memang sudah berlangsung sejak awal terbentuknya Indonesia, dalam hal ini
pemerintah pusat telah mengupayakan berbagai cara untuk mencari solusi
dalam menyelesaikan konflik, baik dengan cara militer maupun dengan cara
berunding atau diplomasi. Dalam perkembangannya, terutama sejak 1970an
hingga 1990an, wilayah Aceh terus mengalami pergolakan dengan berbagai
permasalah yang dihadapi oleh keduannya.10
Setelah itu pada masa Presiden Abdurrahman Wahid/Gus Dur, Megawati
Soekarnoputri hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad
Jusuf Kalla, Pendatanganan kesepakatan damai Mou Helsinki pada tahun 2005
yang diwakili oleh kedua belah pihak yang bertikai yaitu yang pertama
mengirim delegasi Indonesia pada perundingan tersebut terdiri dari Farid
Husain, Hamid Awaluddin, Usman Basyah, Sofyan Djalil, dan I Gusti Wesak
Pudja. Sedangkan tim perunding GAM terdiri dari Malik Mahmud, Zaini
Abdullah, Nur Djuli, Nurdin Abdul Rahman dan Bachtiar Abdullah. 11
9
Dokumen Anri (Tromopob) bertanggal 29 Juni 1990 yang dikirmkan oleh bapak Budianto
kepada Bapak Wakil Presiden RI di Jakarta dalam surat ini berisi laporan kejadian daerah
[Link] Bukit Hagu Kec. Lhokseukon Kab. Aceh Utara, Daerah Istemewa Aceh.
10
Eka Auliana Pratiwi, Campur Tangan Asing Di Indonesia: Crisis Management Initiative Dalam
Penyelesaian Konflik Aceh (2005-2012) (Historia: Jurnal Pendidik Dan Peneliti Sejarah,
[Link] No. 2 April 2019), hal 83.
11
Edward Aspinall, The Helsinki Agreement: A More Promising Basis Forpeace in Aceh,
7
B. JALANNYA KONFLIK ANTAR ETNIS DI INDONESIA PASCA
KEMERDEKAAN (KASUS KONFLIK ACEH-JAWA)
Sejak masa kolonial, Aceh dikenal sebagai wilayah dengan semangat
kemandirian yang kuat. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada
1945, Aceh memainkan peran penting dalam mempertahankan kemerdekaan.
Namun, kebijakan pemerintah pusat yang cenderung sentralistik menimbulkan
ketidakpuasan di kalangan masyarakat Aceh. Salah satu sumber ketidakpuasan
adalah penggabungan Aceh ke dalam Provinsi Sumatera Utara pada 1950,
yang dianggap mengabaikan identitas dan otonomi masyarakat Aceh. Hal ini
memicu pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di
bawah pimpinan Daud Beureueh pada 1953, yang menuntut pembentukan
negara Islam di Indonesia. Meskipun pemberontakan ini berakhir dengan
pemberian status daerah istimewa kepada Aceh pada 1959, ketegangan antara
Aceh dan pemerintah pusat terus berlanjut.
Pada 1976, Hasan Tiro mendirikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
sebagai respons terhadap ketidakpuasan masyarakat Aceh terhadap eksploitasi
sumber daya alam oleh pemerintah pusat dan ketidakadilan dalam distribusi
hasilnya. GAM menuntut kemerdekaan penuh bagi Aceh. Dalam konteks ini,
muncul sentimen negatif terhadap etnis Jawa yang dianggap sebagai
representasi pemerintah pusat. Etnis Jawa yang bermigrasi ke Aceh melalui
program transmigrasi sering kali menempati posisi ekonomi dan sosial yang
lebih baik dibandingkan penduduk lokal. Hal ini menimbulkan kecemburuan
dan ketegangan antar etnis. Konflik horizontal antara etnis lokal dan
pendatang, terutama etnis Jawa, menjadi menonjol selama periode ini. Orang
Jawa di Aceh dianggap telah menguasai sektor ekonomi dan sosial budaya,
yang memperdalam rasa ketidakpuasan di kalangan masyarakat Aceh.
(Washington Policy Studies 20 East-West Center 2005), hal 22.
8
Faktor-faktor yang mendorong jalannya konflik antar etnis di
indonesia pasca kemerdekaan (kasus konflik aceh-jawa)
Konflik antara etnis Aceh dan Jawa pasca kemerdekaan Indonesia
dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks, meliputi aspek politik,
ekonomi, sosial, dan budaya. Berikut adalah penjelasan detail
mengenai faktor-faktor penyebab konflik tersebut:
1. Sentralisasi Kekuasaan dan Ketidakpuasan Politik
Setelah kemerdekaan, pemerintah Indonesia menerapkan
kebijakan sentralisasi yang kuat. Masyarakat Aceh merasa bahwa
kebijakan ini mengabaikan aspirasi dan otonomi mereka, terutama
setelah penggabungan Aceh ke dalam Provinsi Sumatera Utara pada
tahun 1950. Kekecewaan ini memicu pemberontakan Darul
Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin oleh Daud
Beureueh pada tahun 1953, menuntut penerapan syariat Islam dan
otonomi bagi Aceh. Meskipun pada tahun 1959 Aceh diberikan status
sebagai daerah istimewa, ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat
tetap berlanjut.
2. Eksploitasi Sumber Daya Alam dan Ketidakadilan Ekonomi
Aceh kaya akan sumber daya alam, terutama minyak dan gas.
Namun, masyarakat Aceh merasa bahwa hasil eksploitasi tersebut
lebih banyak dinikmati oleh pemerintah pusat dan perusahaan asing,
sementara kesejahteraan lokal terabaikan. Ketidakadilan dalam
distribusi pendapatan ini menimbulkan rasa ketidakpuasan yang
mendalam dan menjadi salah satu alasan utama berdirinya Gerakan
Aceh Merdeka (GAM) pada tahun 1976 oleh Hasan Tiro, yang
menuntut kemerdekaan penuh bagi Aceh.
3. Program Transmigrasi dan Ketegangan Sosial.
Pemerintah Orde Baru melaksanakan program transmigrasi yang
mengirim penduduk dari Pulau Jawa ke berbagai daerah, termasuk
Aceh. Kedatangan transmigran Jawa ini menimbulkan ketegangan
sosial, karena mereka sering mendapatkan lahan dan fasilitas yang
9
dianggap lebih baik dibandingkan penduduk lokal. Perbedaan budaya
dan persaingan ekonomi antara pendatang dan masyarakat Aceh
memperburuk hubungan antar etnis.
4. Diskriminasi dan Marginalisasi Budaya
Masyarakat Aceh merasa bahwa identitas budaya dan praktik
keagamaan mereka kurang dihargai oleh pemerintah pusat. Kebijakan
nasional yang homogen cenderung mengabaikan kekhasan budaya
lokal, termasuk penerapan syariat Islam yang menjadi bagian integral
dari kehidupan masyarakat Aceh. Perasaan terpinggirkan ini
memperkuat sentimen anti-pemerintah dan ketidakpercayaan terhadap
etnis lain, khususnya etnis Jawa yang dianggap mewakili dominasi
pemerintah pusat.
5. Euforia Reformasi dan Penguatan Identitas Lokal
Era Reformasi yang dimulai pada tahun 1998 membawa angin
segar bagi demokratisasi dan desentralisasi. Namun, di Aceh, euforia
reformasi justru memicu penguatan identitas lokal dan semangat
otonomi yang tinggi. Masyarakat Aceh menuntut pengakuan lebih
terhadap hak-hak mereka, sementara etnis pendatang, terutama Jawa,
sering dianggap sebagai simbol penindasan masa lalu. Hal ini memicu
konflik horizontal antara etnis lokal dan pendatang.
10
C. AKHIR KONFLIK ANTAR ETNIS DI INDONESIA PASCA
KEMERDEKAAN (KASUS KONFLIK ACEH- JAWA )
a. Berikut adalah penjelasan detail mengenai penyelesaian konflik ini
Beberapa faktor pemicu konflik antara Aceh dan pemerintah pusat (Jawa)
adalah:
1. Penghapusan status Aceh sebagai provinsi (1950)
Aceh awalnya diberikan status sebagai provinsi yang memiliki hak
otonomi khusus. Namun, pada tahun 1950, pemerintah pusat
memasukkan Aceh ke dalam Provinsi Sumatra Utara tanpa
mempertimbangkan aspirasi rakyat Aceh.
2. Ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah pusat
Aceh, yang mayoritas penduduknya Muslim taat, kecewa dengan
kebijakan nasional yang dianggap kurang mencerminkan nilai-nilai
Islam.
b. Upaya Penyelesaian Konflik
Penyelesaian konflik Aceh-Jawa terjadi dalam beberapa tahap, tergantung
pada periode dan aktor yang terlibat:
Penumpasan DI/TII (1953-1962)
a. Pendekatan Militer
Pemerintah pusat mengirim pasukan untuk menumpas
pemberontakan DI/TII di Aceh. Operasi militer ini memakan waktu
hampir satu dekade sebelum akhirnya berhasil melemahkan
gerakan ini.
b. Pendekatan Politik dan Otonomi Khusus
Setelah bertahun-tahun konflik, pemerintah akhirnya memberikan
status Daerah Istimewa kepada Aceh pada tahun 1959. Status ini
memberikan Aceh hak untuk menerapkan hukum Islam dalam
aspek kehidupan tertentu dan otonomi dalam pemerintahan daerah
11
c. Konflik GAM dan Resolusi Damai (1976-2005
1) Pendekatan Militer di Era Orde Baru
Presiden Soeharto menerapkan operasi militer besar-besaran
(DOM—Daerah Operasi Militer) di Aceh sejak akhir 1980-an
hingga akhir 1990-an.
Banyak pelanggaran HAM terjadi, yang justru memperburuk
hubungan antara rakyat Aceh dan pemerintah pusat.
2). Pendekatan Politik di Era Reformasi
Setelah jatuhnya Soeharto pada 1998, pemerintah mulai mencoba
pendekatan negosiasi dengan GAM:
Perjanjian Humanitarian Pause (2000) → Gagal karena kedua
belah pihak tetap saling menyerang.
Perjanjian Cessation of Hostilities (2002) → Tidak bertahan lama
karena terjadi kebuntuan dalam implementasi.
3). Kesepakatan Helsinki (2005)
a) Pasca tsunami 2004 yang menghancurkan Aceh, situasi politik
berubah drastis. Pemerintah Indonesia dan GAM kembali ke
meja perundingan.
b) Pada Agustus 2005, ditandatangani *Perjanjian Helsinki*, yang
berisi:
c) GAM menyerahkan senjata dan mengakhiri tuntutan
kemerdekaan.
d) Pemerintah memberikan otonomi khusus kepada Aceh.
e) Aceh diizinkan memiliki partai politik lokal.
f) Amnesty bagi anggota GAM
12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas dapat kami simpulkan bahwa Konflik
antara etnis Jawa dan masyarakat Aceh pasca kemerdekaan Indonesia
merupakan hasil dari akumulasi ketidakpuasan terhadap kebijakan
pemerintah pusat, perbedaan ekonomi, dan dinamika sosial budaya.
Meskipun upaya perdamaian telah dilakukan, proses rekonsiliasi
memerlukan waktu dan komitmen dari semua pihak untuk membangun
hubungan yang harmonis dan saling menghormati. Konflik antara etnis
Aceh dan Jawa pasca kemerdekaan Indonesia disebabkan oleh kombinasi
faktor politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Ketidakpuasan terhadap
kebijakan sentralisasi, ketidakadilan ekonomi, program transmigrasi,
marginalisasi budaya, dan dinamika reformasi berkontribusi signifikan
terhadap ketegangan antar etnis di Aceh.
Pemahaman mendalam mengenai faktor-faktor ini penting dalam
upaya rekonsiliasi dan pembangunan perdamaian yang berkelanjutan di
wilayah tersebut. Penyelesaian konflik antara Aceh dan pemerintah pusat
(Jawa) memerlukan pendekatan kombinasi antara militer dan negosiasi
politik. Penggunaan kekuatan militer tanpa solusi politik tidak pernah
berhasil sepenuhnya, seperti terlihat pada era DI/TII dan GAM. Namun,
begitu pemerintah memberikan otonomi khusus dan ruang politik bagi
rakyat Aceh, konflik dapat diselesaikan secara damai.
B. Saran
Semoga makalah ini bisa digunakan dalam menambah pemahaman
dan pengetahuan kita tentang ―Konflik antar etnis di Indonesia pasca
kemerdekaan (Kasus konflik Aceh-Jawa)”. Dalam pembuatan makalah
kami menyadari banyak kesalahan yang masih perlu diperbaiki untuk itu
saran yang membangun makalah ini menjadi lebih baik kedepannya maka
akan diterima dengan senang hati kami ucapkan terima kasih.
13
DAFTAR PUSTAKA
Adam, Asvi Warman. Konflik dan Penyelesaian Aceh: Dari Masa ke Masa” Aceh
Baru: Tantangan Perdamaian dan Reintegrasi, ed. M. Hamdan Basyar.
Jakarta: P2P-LIPI dan Pustaka Pelajar, 2008.
Afham, I. (2020). Elit Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagai Kelas Penguasa
Baru Aceh Pasca MoU Helsinki [Universitas Airlangga].
[Link]
Dhakidae, Daniel. Akar Permasalahan dan Alternatif Proses Penyelesaian
Konflik Aceh Jakarta Papua, (Jakarta: YAPPIKA, 2001), h. 74. dan Gazali
Abbas Adan, Win Win Solution dalam Musni Umar (ed), h. 5
Nurhasim, Moch. dkk. Konflik Aceh: Analisis atas Sebab-sebab Konflik, Aktor
Konflik, Kepentingan dan Upaya Penyelesaian. Jakarta : LIPI, 2003.
ornquist, O. (2011b). Perdamaian dan demokratisasi di Aceh: Bermula dari
model demokrasi liberal dan sosial demokrat, berujung pada demokrasi
“normal” ala Indonesia. In O. Tornquist (Ed.), Aceh: Peran Demokrasi
Bagi Perdamaian dan Rekonstruksi. PCD Press.
Tornquist, O. (2011a). Demokrasi di Aceh: diagnosis dan prognosis. In O.
Tornquist (Ed.), Aceh: Peran Demokrasi Bagi Perdamaian dan
Rekonstruksi. PCD Press.
Trijono, L. (2009). Pembangunan Perdamaian Pasca-Konflik di Indonesia :
Kaitan perdamaian , pembangunan dan demokrasi dalam pengembangan
kelembagaan pasca-konflik. JSP UGM, 13, 48–70.
14