0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan10 halaman

Pengaruh FAS terhadap Kekuatan Beton Normal

Penelitian ini menganalisis pengaruh Faktor Air Semen (FAS) terhadap kuat tekan dan kuat tarik belah beton normal dengan variasi FAS 0,4; 0,5; dan 0,6. Hasil menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai FAS, semakin rendah kuat tekan dan kuat tarik beton, dengan kuat tekan tertinggi 21,523 MPa pada FAS 0,4. Penelitian ini menekankan pentingnya proporsi campuran dalam mencapai kualitas beton yang diinginkan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan10 halaman

Pengaruh FAS terhadap Kekuatan Beton Normal

Penelitian ini menganalisis pengaruh Faktor Air Semen (FAS) terhadap kuat tekan dan kuat tarik belah beton normal dengan variasi FAS 0,4; 0,5; dan 0,6. Hasil menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai FAS, semakin rendah kuat tekan dan kuat tarik beton, dengan kuat tekan tertinggi 21,523 MPa pada FAS 0,4. Penelitian ini menekankan pentingnya proporsi campuran dalam mencapai kualitas beton yang diinginkan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SIGMA: Jurnal Teknik Sipil

Prodi Teknik Sipil FATEK UMMAT │e-ISSN 2776-2661


Vol. 3 No. 2 Bulan Agustus Tahun 2023, Hal. 11-20

ANALISIS PENGARUH FAKTOR AIR SEMEN (FAS)


TERHADAP KUAT TEKAN DAN KUAT TARIK BELAH BETON
NORMAL
*Aidzul Akbar Azizudin1, Heni Pujiastuti2, Nurul Hidayati3
1
Prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Mataram, aidzulakbar016@[Link]
2
Prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Mataram, pujiastutih@[Link]
3
Prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Mataram, [Link]@[Link]

Diterima: 14-06-2023│Disetujui: 4-07-2023

ABSTRAK

Beton merupakan suatu elemen dalam konstruksi yang dibentuk oleh campuran semen, air,
agregat halus, agregat kasar yang berupa batu pecah atau kerikil, udara serta bahan lainnya.
Kualitas beton sangat tergantung dari kualitas dari masing-masing material pembentuk. Faktor
Air Semen merupakan salah satu faktor berpengaruh dalam kualitas beton yang terbentuk. Oleh
sebab itu dilakukan penelitian mengenai Faktor Air Semen (FAS) terhadap kuat tekan dan kuat
tarik beton normal. Sampel beton dengan variasi Faktor Air Semen (FAS) 0,4; 0,5; dan 0,6
yang dicampurkan dengan agregat halus, kasar dan semen kemudian dilakukan curing selama
28 hari dan kemudian akan dilakukan uji. Metode pengujian yang dilakukan yaitu uji kuat
tekan dan kuat tarik yang dilakukan untuk mengukur kekuatan beton dengan cara memberikan
tekanan dan tarik pada sampel beton hingga beton mengalami kehancuran. Hasil dari penelitian
ini diperoleh kuat tekan pada variasi Faktor Air Semen (FAS) 0,4 dengan kekuatan 21,523
MPa, FAS 0,5 memiliki kekuatan 17,932 MPa dan FAS 0,6 dengan kekuatan 11,511. Uji kuat
tarik memperoleh hasil bahwa pada variasi FAS 0,4 dengan kekuatan 2,164 MPa, FAS 0,5
dengan kekuatan 2,001 MPa dan FAS 0,6 memiliki kekuatan sebesar 1,145 MPa.
Kata kunci: faktor air semen (FAS), kuat tekan, kuat tarik, beton normal.

1. PENDAHULUAN
Material yang digunakan dalam proses konstruksi dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama adalah material
yang merupakan komponen fisik dari bangunan pada akhirnya dan yang kedua adalah material yang berfungsi
sebagai penunjang selama proses konstruksi tetapi tidak merupakan bagian fisik dari bangunan setelah selesai
(Hartono, et al, 2015). Beton biasanya digunakan untuk membuat struktur seperti balok, kolom, dan pelat
karena mudah diproses dan dapat disesuaikan dalam bentuk dan dimensi. Namun, beton biasa memiliki
kelemahan seperti tegangan rendah dan berat sendiri yang cukup tinggi (2200 kg/m3 hingga 2500 kg/m3) (SNI
7656, 2012).
Kekuatan beton terbagi dalam beberapa jenis diantaranya mutu beton tinggi, mutu beton normal dan mutu
beton rendah. Beton dengan kuat tekan normal berkisar antara 21 MPa dan 40 MPa dan bertahan selama 28
hari. Beton mutu tinggi membutuhkan desain dan kontrol komposisi yang tepat untuk bahan yang mengandung
semen, agregat, air, dan bahan pengganti yang tepat. Kekuatan beton yang direncanakan akan dipengaruhi oleh
kualitas agregat yang digunakan dan dimensi butiran agregat yang digunakan. Beton normal dengan kualitas
yang baik dapat didefinisikan sebagai beton yang mampu menahan beban tekanan dengan bahan pembentuk,
kemudahan pengerjaan (workability), faktor air semen (FAS), dan zat tambahan (admixture) jika diperlukan.
(Supit, et al, 2016).
Beton normal memiliki kepadatan dan kerapatan yang lebih tinggi dibanding dengan beton ringan.
Pengurangan kepadatan beton mengurangi kualitas beton, penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor
seperti: jenis agregat, proporsi campuran induk dan cara pemadatan atau pencampuran beton. Kajian tersebut
mengkaji proporsi campuran beton ringan untuk mencapai mutu beton yang diinginkan, metode tersebut
merupakan metode perhitungan untuk mix design.

11
SIGMA: Jurnal Teknik Sipil
Prodi Teknik Sipil FATEK UMMAT │e-ISSN 2776-2661
Vol. 3 No. 2 Bulan Agustus Tahun 2023, Hal. 11-20

Semakin tinggi nilai koefisien air-semen, semakin buruk kekuatan betonnya. Namun, semakin kecil nilai
koefisien air-semen, semakin baik tidak selalu menghasilkan kekuatan beton yang lebih baik. Rasio air-semen
yang terlalu rendah menyebabkan kesulitan pemadatan, yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kualitas
beton (Arizki, 2015). Kandungan air semen memiliki pengaruh yang besar terhadap kuat tekan beton dan oleh
karena itu harus diselidiki. Beton akan mengalir jika FAS terlalu banyak, menyebabkan bleeding. Air naik ke
permukaan menyebabkan kantong udara di beton, yang mengurangi kuat tekan. Oleh karena itu peneliti ingin
mempelajari pengaruh kuat tekan beton terhadap variasi faktor air semen (FAS) dengan menggunakan metode
mix design, sedangkan variasi nilai faktor air semen yang digunakan adalah 0,4 ; 0,5 dan 0,6 saat pengujian
kuat tekan beton dengan umur 28 hari.

2. LANDASAN TEORI
Beton adalah campuran semen portland atau semen hidraulik lainnya, agregat halus, agregat kasar, dan air yang
dicampur dengan atau tanpa bahan tambahan (SNI 2847, 2002). Pasir alam atau pasir hasil industri
pertambangan biasanya digunakan sebagai agregat halus, sedangkan batu alam atau batu hasil industri
pertambangan biasanya digunakan sebagai agregat kasar. Beton banyak digunakan dalam pembangunan rumah
saat ini karena pengerjaannya yang cukup sederhana.
Beton terdiri dari beberapa jenis, termasuk beton normal. Beton normal dibuat dengan mencampur semen
Portland, air, dan agregat, seperti halnya beton khusus. Beton khusus biasanya mengandung bahan khusus
seperti pozzolan, bahan tambahan kimia, serat, dll. Tujuan penambahan admixture adalah untuk menghasilkan
beton khusus yang memiliki kualitas yang lebih tinggi daripada beton biasa (Tjokrodimuljo, 2007). Sifat-sifat
beton, sebagai material komposit, sangat bergantung pada sifat-sifat komponennya. Beton terdiri dari campuran
bahan pengikat yang dapat dipilih, seperti kapur atau semen, agregat halus dan kasar, air, dan aditif (untuk
menghasilkan beton dengan sifat khusus). Air dan semen membentuk perekat atau matriks yang juga mengisi
lubang agregat halus dan kasar dan mengikat mereka bersama-sama.
Kinerja beton yang dibuat dipengaruhi oleh jenis dan sifat material penyusunnya. Beton juga dapat dibagi
menjadi beberapa kategori berdasarkan berat satuannya seperti yang ditampilkan pada Tabel 1.
Tabel 1. klasifikasi beton berdasarkan berat satuan (sumber: SNI 2847, 2002)
No Jenis beton Berat beton
1 Beton ringan ≤ 1900 kg/m3
2 Beton normal 2100 kg/m³ - 2500 kg/m³
3 Beton berat ≥ 2500 kg/m3
Material penyusun beton
Dengan memilih bahan pembentuk beton yang tepat, menghitung proporsi yang tepat, merawat dan mengolah
beton dengan benar, dan memilih bahan tambahan yang tepat dengan takaran yang tepat, kualitas beton dapat
diukur. Bangunan dibuat dari beton, yang terdiri dari semen, agregat, air, dan biasanya aditif atau pengisi.
Semen adalah material yang berfungsi mengisi rongga diantara butiran agregat dan mengikatnya menjadi satu
untuk membentuk massa padat. Semen Portland, yang terbuat dari campuran kalsium (Cal), silika (SiO 2),
aluminium (Al2O3) dan besi oksida (Fe2O3), adalah jenis semen hidrolik yang sering digunakan dalam
pembuatan beton karena dapat bereaksi secara kimiawi dengan air, yang disebut hidrasi, dan membentuk batu
padat yang tetap kuat dan stabil bahkan ketika berada di dalam air. Semen portland terdiri dari beberapa macam,
ulai dari semen tipe I sampai semen tipe V. Semen tipe I merupakan semen portland untuk penggunaan umum
untuk semua tujuan. Semen tipe II relatif terjadi sedikit pelepasan panas, sehingga dapat digunakan untuk
struktur besar. Semen tipe III adalah semen yang dapat mencapai kekuatan tertinggi pada umur 3 hari. Semen
tipe IV dapat dipakai pada bendungan beton, karena mempunyai sifat panas hidrasi rendah. Dan semen tipe V
dapat dipakai untuk beton-beton yang akan ditempatkan di lingkungan dengan konsentrasi sulfat yang tinggi.
Agregat adalah butiran mineral alami yang membentuk 70% volume campuran mortar atau beton. Meskipun
agregat hanya disebut sebagai bahan pengisi, sifat agregat memengaruhi kualitas mortar atau beton. Oleh
karena itu, pemilihan agregat adalah bagian penting dari pembuatan keduanya. Agregat adalah pengisi dengan
fungsi penguat (Tjokrodimuljo, 2007). SNI (1990) menjelaskan syarat-syarat untuk agregat halus yang
kemudian dikelompokkan dalam empat zona (daerah) seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 2.

12
SIGMA: Jurnal Teknik Sipil
Prodi Teknik Sipil FATEK UMMAT │e-ISSN 2776-2661
Vol. 3 No. 2 Bulan Agustus Tahun 2023, Hal. 11-20

Tabel 2. Batas gradasi agregat halus (sumber: SNI, 1990)


Lubang Persen Berat Butir yang Lewat Ayakan
Ayakan (mm) No I II III IV
10 3/8 in 100 100 100 100
4,8 No.4 90-100 90-100 90-100 95-100
2,4 No.8 60-95 75-100 85-100 95-100
1,2 No.16 30-70 55-90 75-100 90-100
0,6 No.30 15-34 35-59 60-79 80-100
0,3 No.50 5-20 8-30 12-40 15-50
0,25 No.100 0-10 0-10 0-10 0-15
dengan, daerah gradasi I = pasir kasar, daerah gradasi II = pasir sedang, daerah gradasi III = pasir agak halus,
daerah gradasi IV = pasir halus.
Pemeriksaan dasar terhadap agregat halus pada penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan standar menurut
ASTM C33 (1986), agregat halus diteliti terhadap modulus kehalusan, berat jenis, penyerapan (absorbsi), kadar
air, kadar lumpur, dan berat isi.
Adapun persyaratan untuk agregat kasar untuk beton harus memenuhi persyaratan sebagai berikut (ASTM,
1986).
1. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% dari berat kering, dan jika lumpur lebih dari
1%, agregat harus dicuci.
2. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton, seperti reaktif alkali.
3. Agregat kasar harus terdiri dari berbagai ukuran dan memenuhi persyaratan berikut saat diayak dengan
ayakan:
a) Sisa di atas ayakan 31,5 mm lebih kurang 0% berat total.
b) Sisa diatas ayakan 4 mm lebih kurang 90% - 98% berat total.
c) Selisih antara sisa-sisa kumulatif diatas dua ayakan yang berurutan adalah maksimum 60% berat total,
minimum 10% berat total.
4. Berat butir agregat maksimum tidak boleh lebih dari 1/5 jarak terkecil antara bidang-bidang samping
cetakan, 1/3 dari tebal plat atau ¾ dari jarak besi minimum antara tulang-tulangan.
Faktor Air Semen (FAS)
Faktor air semen (FAS) adalah perbandingan berat air dalam campuran beton dengan berat semen. Rasio berat
air terhadap berat semen yang digunakan dapat dirumuskan sebagai Persamaan 1.
( )
FAS = (1)
( )
Jumlah semen yang diperlukan dipengaruhi oleh faktor air-semen. Nilai FAS yang lebih tinggi membutuhkan
lebih sedikit semen, sedangkan nilai FAS yang lebih rendah membutuhkan lebih banyak semen.
Uji kuat tekan beton
Menurut SNI 03-1974-1990, kuat tekan suatu beban beton adalah besarnya beban permukaan yang
menyebabkan benda uji runtuh ketika dibebani dengan gaya tekan tertentu yang dihasilkan oleh tegangan tekan
maksimum (f'c) setelah 28 hari pembebanan tekan selama pengujian. Rumus untuk mendapatkan nilai tegangan
tekan tertinggi (f’c) berdasarkan percobaan di laboratorium menggunakan Persamaan 2.

𝑓′ = (2)

dengan f’c = Kuat tekan benda uji (MPa), P = Beban maksimum (N), A = Luas penampang benda uji (mm2).
Uji kuat tarik belah beton
Nilai kuat tarik tidak langsung benda uji silinder beton saat dibebani disebut kuat tarik pecahan beton. Benda
uji diletakkan sejajar dengan meja alat penguji tekanan secara horizontal (SNI, 2002). Beton tidak memiliki
daya tarik apa pun. Beton memiliki kuat tekan relatif rendah, berkisar antara 10% hingga 15%. Nilai kuat tarik
belah beton dapat diperoleh dengan Persamaan 3.

𝑓 = (2)

13
SIGMA: Jurnal Teknik Sipil
Prodi Teknik Sipil FATEK UMMAT │e-ISSN 2776-2661
Vol. 3 No. 2 Bulan Agustus Tahun 2023, Hal. 11-20

dengan ft = Kuat tekan benda uji (MPa), P = Beban maksimum (N), h = tinggi silinder (mm), dan d = diameter
silinder (mm).

3. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mekanika Tanah, Teknik Sipil, Universitas Muhammadiyah
Mataram. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi alat untuk menyiapkan bahan dan benda uji untuk
pengujian. Perangkat yang digunakan adalah tmbangan, ayakan / saringan, mesin Siever, nampan dan sikat,
gelas ukur, piknometer, oven, slump test apparatus (kerucut abrams), cetakan benda uji, mistar dan jangka
sorong, alat capping, tongkat penumbuk, mesin uji tekan dan uji geser (Compression Testing Machine),
concrete mixer, cetakan beton silinder dengan ukuran (15 cm x 30 cm), dan wadah adukan.
Komponen bahan pembentuk beton yang digunakan, yaitu semen PCC (Portland Composite Cement), pasir
yang diperoleh dari Terong Tawah Lombok Barat, kerikil dengan ukuran 20-30 mm yang diperoleh dari daerah
Terong Tawah Lombok Barat, air bersih dari jaringan air milik Laboratorium Universitas Muhammadiyah
Mataram.
Pelaksanaan penelitian
Alur penelitian dimulai dengan studi pustaka dan dilanjutkan dengan persiapan bahan. Setelah semua bahan
tiba di lokasi penelitian, tiap bahan dipisahkan menurut jenisnya untuk mempermudah proses penelitian. Ini
memastikan bahwa bahan-bahan tidak tercampur dengan bahan lain yang dapat mempengaruhi kualitasnya.
Pemeriksaan agregat kasar dan halus dilakukan untuk mengukur kondisi, berat satuan, berat jenis, penyerapan
air, kandungan lumpur, dan grade SSD (Saturated Surface Dry). Langkah selanjutnya adalah melakukan
pengujian berat satuan agregat. Tujuannya adalah untuk menentukan berat satuan agregat lepas dan agregat
padat, yang berfungsi sebagai konversi dari satuan berat ke satuan volume dan sebaliknya. Kemudian dilakukan
analisis saringan agregat yang tujuannya adalah untuk menggunakan ayakan untuk menganalisis distribusi
butiran agregat yang diperlukan untuk perencanaan adukan beton dan mendapatkan nilai Modulus Halus
Butiran (MHB). Selanjutnya adalah melakukan pengujian berat jenis agregat yang tujuannya adalah untuk
mendapatkan berat jenis, berat jenuh kering, dan penyerapan air. Langkah selanjutnya adalah pemeriksaan
kadar air agregat dengan tujuan untuk mendapatkan angka persentase dari kadar air agregat. Hasil pengujian
kadar air agregat dapat digunakan untuk menghitung proporsi campuran dan mengontrol mutu beton. Pengujian
sifat fisik lainnya yang dilakukan adalah pemeriksaan kadar lumpur pada agregat, yaitu untuk mencari kadar
prosentase lumpur dalam agregat, kandungan lumpur harus kurang dari 5% itu adalah syarat agregat untuk
pembuatan beton. Selanjutnya melakukan pemeriksaan keausan agregat kasar dengan mesin Los Angeles.
Salah satu tujuan dari pengujian ini adalah untuk menentukan tingkat keausan, yang dihitung dengan
membandingkan berat bahan aus lolos saringan No. 12 (1,7 mm) dengan berat semula dalam persen.
Setelah pemeriksaan sifat fisik selesai dilakukan, langkah selanjutnya adalah perencanaan campuran beton
dilakukan sesuai dengan SNI 03-3449-2002. Nilai FAS dan workability beton harus diperiksa dan harus sesuai
dengan standar yang berlaku. Selanjutnya membuat benda uji, dimana pada penelitian ini benda uji yang
digunakan berbentuk silinder (diameter 15 cm, tinggi 30 cm) untuk uji kuat tekan dan tarik.
Perawatan benda uji dapat dilakukan dengan beberapa cara. Setelah beton dikeluarkan dari cetakan, beton
dirawat dengan cara direndam dalam air sampai uji tekanan kuat dilakukan, yang berlangsung selama 28 hari.
Perlakuan ini dilakukan dengan memastikan permukaan beton baru selalu lembab. Beton dapat retak jika
mengering terlalu cepat. Beton kehilangan kekuatan karena retak dan kurangnya hidrasi kimia. Langkah
selanjutnya adalah melakukan pengujian kuat tekan dan kuat tarik belah beton dengan berdasar pada SNI 1974
(2011) dan SNI 2491 (2002). Secara singkat, alur penelitian yang dilakukan ditampilkan dalam bagan alir
penelitian pada Gambar 1.

14
SIGMA: Jurnal Teknik Sipil
Prodi Teknik Sipil FATEK UMMAT │e-ISSN 2776-2661
Vol. 3 No. 2 Bulan Agustus Tahun 2023, Hal. 11-20

Gambar 1. Bagan alir penelitian

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil pengujian berat volume agregat halus
Pada pengujian berat satuan agregat pasir halus masing-masing menggunakan 2 sampel. Dalam penelitian ini,
data diperoleh dalam format berat satuan lepas dan berat padat. Hasil pengujian agregat halus menunjukkan
bahwa berat isi lepas rata-rata adalah 1,223 g/cm3, yang memenuhi standar 1,2 g/cm3 min, dan berat isi padat
rata-rata adalah 1,429 g/cm3, yang juga memenuhi standar. Spesifikasi standar adalah 1,4 g/cm3 sampai 1,9
g/cm3 (SNI 03-4804-1998).
Berdasarkan hasil pengujian laboratorium diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa ukuran butir agregat pasir
yang diperoleh dari pasir yang digunakan seperti yang ditampilkan pada Gambar 2. Dari analisis ukuran butir
yang dilakukan, pasir dalam keadaan ini termasuk dalam Zona II, yaitu pasir yang sedikit lebih kasar yang
banyak digunakan sebagai bahan bangunan. Nilai MHB yang diperoleh adalah 3,68, yang memenuhi standar
sesuai dengan modulus elastisitas halus partikel (SNI 03-1750-1990) yang berkisar antara 1,5 dan 3,8.

Gambar 2. Grafik gradasi agregat halus

15
SIGMA: Jurnal Teknik Sipil
Prodi Teknik Sipil FATEK UMMAT │e-ISSN 2776-2661
Vol. 3 No. 2 Bulan Agustus Tahun 2023, Hal. 11-20

Berdasarkan pengujian berat jenis dan penyerapan air diperoleh hasil pengujian pengeringan dan penyerapan
air permukaan jenuh (SNI 1970, 2008). Agregat halus SSD memiliki berat jenis rata-rata 2,353 gr dan kerapatan
keadaan semu rata-rata 2,630 gr, yang tidak sesuai dengan berat jenis standar 2,58–2,83 gr. Jenis dan kekuatan
tekan beton berkorelasi positif dengan berat agregat. Penyerapan air agregat halus memenuhi standar
spesifikasi, yaitu 2–7%, dan nilai penyerapannya adalah 6,956% (SNI 1970-2008).
Menurut pengujian kadar air pasir dalam kondisi kering permukaan jenuh yang dilakukan sesuai dengan SNI
(1990), diperoleh hasil sebesar 2,219%. Hasil pengujian yang dilakukan tidak memenuhi persyaratan umum
untuk kadar air normal agregat halus, yang berkisar antara 3-5% (SNI 7656, 2012). Agregat halus memiliki
kadar lumpur 3,076%, yang memenuhi standar kadar lumpur kurang dari 5%.
Hasil pengujian berat volume agregat kasar
Berat satuan kerikil kasar diukur dengan dua sampel. Penelitian ini mengumpulkan data dalam bentuk berat
satuan lepas dan padat. Hasil pemeriksaan agregat kasar menunjukkan bahwa berat unit lepas rata-rata 1,361
g/cm3, memenuhi standar 1,2 g/cm3, dan berat unit padat rata-rata 1,568 g/cm3, memenuhi standar standar 1,4
g/cm3 hingga 1,9 g/cm3 (SNI 03-4804-1998). Berdasarkan kriteria PERMEN PUPR (2017 ), untuk bahan dan
pengujian bahan perkerasan kaku, dengan nilai MHB 7,512, mencapai 5-8, menunjukkan bahwa agregat ini
cukup untuk digunakan sebagai komponen beton mutu tinggi. Semua agregat kasar yang melewati saringan
berada di antara batas gradasi pasir atas dan bawah menurut SNI 7656-2012, seperti yang ditunjukkan pada
diagram gradasi kerikil pada Gambar 3.

Gambar 3. Grafik gradasi agregat kasar


Agregat kasar SSD memiliki berat jenis rata-rata 2,669 gr dan semu rata-rata 2,610 gr, yang merupakan nilai
yang sesuai dengan berat jenis standar, yang berkisar antara 2,58 gr - 2,83 gr. Jenis dan kekuatan tekan beton
berkorelasi positif dengan berat agregat. Penyerapan air agregat kasar memenuhi standar spesifikasi, yaitu 2–
7%, dan nilai penyerapannya 2,821% (SNI 03-1970, 2008). Berdasarkan pengujian kadar air agregat, didapat
hasil sebesar 1,750%. Artinya agregat yang digunakan adalah agregat beraturan karena syarat kadar air
maksimum untuk agregat beraturan adalah 2% (SNI 03-2834, 2000). Agregat memiliki kadar lumpur kasar
2,184%, yang memenuhi standar kadar lumpur kurang dari 5%. Berat akhir setelah pengujian abrasi agregat
masing-masing 3894,3 gram dan 3916,1 gram, masing-masing, dan nilai keausan rata-rata 21,895% memenuhi
standar nilai keausan kurang dari 40% (SNI 03-2417, 1991).
Perhitungan mix design untuk komponen beton berdasarkan SNI 7656 (2012). Adapun kebutuhan komponen
campuran beton per 6 benda uji ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3 Kebutuhan bahan penyusun beton per 6 benda uji
Variasi campuran faktor Air Semen Pasir Kerikil
air semen (FAS) (kg) (kg) (kg) (kg)
FAS 0,4 4,521 11,032 19,490 30,070
FAS 0,5 5,651 11,032 19,490 30,070
FAS 0,6 6,781 11,032 19,490 30,070
Berdasarkan pengujian slump, diperoleh bahwa variasi FAS 0,6 memiliki nilai slump tertinggi sebesar 11,2 cm
dan variasi FAS 0,4 memiliki nilai squat terendah sebesar 7,9 cm. Akibatnya, semakin banyak variasi FAS
yang ditambahkan, semakin rendah nilai slump. Menurut nilai slippage ini, masih ada slippage antara 5 cm dan
12,5 cm, yang menunjukkan bahwa campuran berfungsi dengan baik (Tjokrodimuljo, 2007).

16
SIGMA: Jurnal Teknik Sipil
Prodi Teknik Sipil FATEK UMMAT │e-ISSN 2776-2661
Vol. 3 No. 2 Bulan Agustus Tahun 2023, Hal. 11-20

Hasil uji tekan beton


Sampel beton yang diberi beban maksimum mengalami kerusakan yang bervariasi tergantung dari variasi FAS
yang diberikan. Jenis kerusakan yang dialami sampel beton ditampilkan pada Gambagr 4.

(a) (b)

(c)
Gambar 4. Jenis kerusakan sampel beton dengan variasi FAS 0,4 (a), FAS 0,5 (b), dan FAS 0,6 (c).
Berdasarkan Gambar 4, dapat disimpulkan bahwa permukaan beton dengan FAS 0,4 yang tidak ada kehancuran
dan retak sedikit di permukaan atas beton. Beton dengan FAS 0,5 menunjukkan permukaan beton dengan
memiliki kehancuran lebih banyak daripada beton dengan FAS 0,4. Beton dengan FAS 0,6 memiliki kuat tekan
yang buruk dari beton dengan FAS 0,4 dan 0,5. Adapun nilai kuat tekan beton setelah diberi beban ditampilkan
pada Tabel 4 dan disajikan dengan grafik pada Gambar 5.
Tabel 4. Nilai kuat tekan beton
Variasi Campuran Beton Kuat Tekan MPa Keterangan
0,4 21,523 Memenuhi Standar
0,5 17,932 Tidak Memenuhi Standar
0,6 11,511 Tidak Memenuhi Standar

17
SIGMA: Jurnal Teknik Sipil
Prodi Teknik Sipil FATEK UMMAT │e-ISSN 2776-2661
Vol. 3 No. 2 Bulan Agustus Tahun 2023, Hal. 11-20

Gambar 5. Grafik nilai kuat tekan beton berdasarkan variasi campuran FAS
Dari hasil pengujian yang telah dilakukan maka dapat diketahui bahwa Faktor Air Semen (FAS) dengan nilai
kuat tekan terendah terdapat pada campuran Faktor Air Semen (FAS) 0,6 yang disebabkan oleh tingginya
jumlah kadar air semen yang terkandung pada campuran beton sehingga menghasilkan beton yang memiliki
kekuatan yang lebih rendah dan beton yang dihasilkan menjadi keropos. Faktor Air Semen (FAS) dengan
campuran 0,4 memiliki kuat tekan yang lebih tinggi dikarenakan jumlah kadar air yang terkandung dalam
campuran beton lebih sedikit sehingga menghasilkan beton dengan tekstur yang padat dan menghasilkan
kekuatan beton yang lebih kuat.
Semakin tinggi kadar air beton maka akan mempengaruhi kekuatan beton dan menyebabkan kekuatan beton
menjadi menurun, sehingga dapat dikatakan bahwa kuat tekan beton dan air berbanding terbalik, pada gambar
diatas menunjukkan bahwa beton dengan kadar yang rendah yaitu 0,4 yang dapat memenuhi standar dengan
kekuatan 21,523, sedangkan beton dengan campuran Faktor Air Semen (FAS) 0,5 dan 0,6 tidak memenuhi
standar karena memiliki kekuatan 17,932 dan 11,511. Standar yang ditetapkan SNI yaitu berkisar antara 20-30
MPa.
Hasil uji tarik belah beton
Nilai kuat tarik untuk beton tidak langsung membelah benda uji beton silinder akibat pembebanan benda uji
yang ditempatkan secara horizontal terhadap permukaan alat uji tekan. Benda uji berbentuk silinder dengan
tinggi 30 cm dan diameter 15 cm diuji kuat tarik belah beton umur 28 hari. Kuat tarik belah beton diuji
menggunakan Compression Testing Machine (CTM). Jenis kerusakan yang terjadi akibat pengujian belah
beton ditunjukkan pada Gambar 6.

Gambar 6. Jenis kerusakan beton setelah uji kuat tarik belah


Adapun nilai kuat tarik belah beton dengan variasi FAS berbeda ditampilkan pada Tabel 5. Sedangkan grafik
nilai kuat tarik belah beton berdasarkan variasi campuran FAS ditampilkan pada Gambar 7.

18
SIGMA: Jurnal Teknik Sipil
Prodi Teknik Sipil FATEK UMMAT │e-ISSN 2776-2661
Vol. 3 No. 2 Bulan Agustus Tahun 2023, Hal. 11-20

Tabel 5. Nilai kuat tarik belah beton


Variasi Campuran Beton Kuat Tekan MPa Keterangan
0,4 2,164 Memenuhi Standar
0,5 2,001 Memenuhi Standar
0,6 1,145 Tidak Memenuhi Standar

Gambar 7. Grafik nilai kuat Tarik belah beton berdasarkan variasi campuran FAS
Nilai kuat tarik beton dengan campuran Faktor Air Semen (FAS) 0,4 dengan nilai kuat tarik sebesar 2,164 MPa
dan nilai tersebut merupakan nilai kuat tarik beton tertinggi, Faktor Air Semen (FAS) dengan campuran kadar
air semen 0,5 menunjukkan hasil kuat tarik yaitu 2,001 MPa, dan hasil pada campuran Faktor Air Semen
dengan kadar air semen 0,6 menghasilkan kuat tarik dengan nilai 1,14 MPa dan nilai tersebut merupakan nilai
kuat terendah. Adapun standar nilai kuat tarik belah beton normal (20 MPa) adalah berkisar antara 2-3 MPa
(Ferguson, 1986).
Berdasarkan Tabel 5 diperoleh bahwa selisih nilai kuat tarik yang dihasilkan dari pengujian yang telah
dilakukan, telah terjadi peningkatan selisih pada setiap penambahan campuran Faktor Air Semen (FAS). Pada
tabel diatas menunjukkan hawa nilai kuat tarik pada campuran Faktor Air Semen (FAS) 0,4 menghasilkan kuat
tarik sebesar 2,164 MPa, pada campuran Faktor Air Semen (FAS) dengan kadar 0,5 menghasilkan beton
dengan kuat tarik 2,001 MPa, dan campuran pada Faktor Air Semen (FAS) dengan kadar 0,6 menghasilkan
beton dengan kuat tarik sebesar 1,145 dan nilai tersebut merupakan nilai kaut terendah.
Semakin tinggi kadar air semen yang terkandung dalam campuran beton akan menghasilkan beton yang
memiliki kekuatan terhadap tarikan yang lebih rendah, dan semakin rendah kadan air yang tekandung dalam
campuran beton akan menghasilkan beton yang lebih kuat. Rendahnya kekuatan beton yang disebabkan
tingginya kadar air dalam kadungan beton menyebabkan rongga-rongga yang terbentuk pada beton dan
menjadikan beton lebih mudah keropos, lain halnya jika beton yang memiliki bahan campuran dengan kadar
air semen yang rendah akan menghasilkan kekuatan beton yang lebih kuat yang disebabkan karena beton yang
yang terbentuk padat sehingga kekuatan beton juga tinggi.
Faktor Air Semen (FAS) yang memenuhi standar menurut Ferguson yaitu yang memiliki kekuatan terhadap
tarikan 2-3 MPa, pada tabel diatas Faktor Air Semen (FAS) yang memenuhi standar yaitu pada kadar 0,4 dan
0,5 dengan kekuatan 2,164 MPa dan 2,001 MPa, sedangkan Faktor Air Semen (FAS) dengan kadar 0,6 tidak
memenuhi standar yang disebabkan nilai kekuatannya berada di bawah 2 yaitu 1,145 MPa.

5. KESIMPULAN
Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Sampel beton drngan variasi faktor air semen (FAS) sebesar 0,4 ; 0,5; dan 0,6 menunjukkan hasil bahwa
kuat tekan pada variasi faktor air semen (FAS) 0,4 dengan kekuatan 21,523 MPa, FAS 0,5 memiliki
kekuatan 17,932 MPa dan FAS 0,6 dengan kekuatan 11,511. Diantara ketiga perbandingan tersebut yang
memenuhi standar terdapat pada variasi FAS sebesar 0,4.
2. Sampel beton dengan variasi faktor air semen (FAS) sebesar 0,4 ; 0,5; dan 0,6, memperoleh hasil bahwa
kuat tarik pada variasi faktor air semen (FAS)b0,4 dengan kekuatan 2,164 MPa, FAS 0,5 dengan kekuatan

19
SIGMA: Jurnal Teknik Sipil
Prodi Teknik Sipil FATEK UMMAT │e-ISSN 2776-2661
Vol. 3 No. 2 Bulan Agustus Tahun 2023, Hal. 11-20

2,001 MPa dan FAS 0,6 memiliki kekuatan sebesar 1,145 MPa. Dari hasil pengujian tersebut beton yang
memenuhi standar yaitu dengan variasi FAS sebesar 0,5 dan 0,4.

6. SARAN
Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, maka penulis selama pengujian ini, maka diberikan saran
sebagai berikut:

1. Pada penelitian selanjutnya disarankan membatasi variasi campuran air semen 0,6 karena mutu yang
dihasilkan tidak memenuhi syarat beton normal.
2. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti campuran beton dengan bahan-bahan yang yang
bisa dikombinasikan untuk menghasilkan campuran dalam pembuatan beton yang kuat.
3. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan perbandingan yang lebih bervariasi agar
memperoleh hasil yang tepat dan perbandingan yang tepat.

7. UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada Kepala Laboratorium Mekanika Tanah Universitas
Muhammadiyah Mataram yang telah membantu dan mengijinkan penulis dalam melakukan pengujian dan
penelitian ini. Tak lupa juga terima kasih kepada Program Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah
Mataram yang telah memberi dukungan kepada penulis sehingga jurnal ini dapat diterbitkan.

DAFTAR PUSTAKA
ASTM C33. (1986). Standards Specification For Portland Cement. American Society For Testing And
Materials.
Arizki, R., Wallah, S. E., dan Windah, R. S. (2015). Pengaruh Jumlah Semen Dan Fas Terhadap Kuat Tekan
Beton Dengan Agregat Yang Berasal Dari Sungai. Jurnal Sipil Statik, 3(1), 68–76.
SNI 1974 1990
SNI 7656:2012. (2012). Tata Cara Pemilihan Campuran untuk Beton Normal, Beton Berat dan Beton Massa.
Badan Standardisasi Nasional. Jakarta.
SNI 03-2847-2002. (2002). Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. Badan
Standardisasi Nasional. Jakarta.
Hartono, W., Purba, D. H., dan Sugiyarto. (2015). Analisis Dan Pengelolaan Sisa Material Konstruksi Dan
Faktor Penyebab Pada 3 Proyek Kelurahan Ditinjau Bagian Pondasi Menggunakan Root Cause Analysis
(RCA). Matriks Teknik Sipil, 3(1), 292–299.
Supit, F. V., Pandaleke, R., & Dapas, S. O. (2016). Pemeriksaan Kuat Tarik Belah Beton Dengan Variasi
Agregat Yang Berasal Dari Beberapa Tempat di Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah Media Engineering, 6(2),
476–484.
Tjokrodimuljo. (2007). Teknologi Beton. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

20

Anda mungkin juga menyukai