BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Pembelajaran Matematika
a. Definisi Matematika
Kata "matematika" berasal dari kata latin "mathēmatikā", yang berasal
dari kata Yunani "mathēmatikē", yang berarti "kajian yang melibatkan
pembelajaran". Selain itu, kata matematika berasal dari kata matema, yang
berarti pengetahuan atau ilmu, dan juga dikaitkan dengan kata matein atau
mateinein, yang berarti belajar atau berpikir. Jadi, menurut asal katanya,
matematika adalah ilmu pengetahuan yang dihasilkan melalui proses
penalaran atau berpikir. Bukan hasil dari eksperimen atau pengamatan,
matematika berfokus pada kegiatan penalaran atau rasionalitas. Proses
berpikir manusia yang terdiri dari konsep, prosedur, dan penelitian yang
berasal dari pengalaman empiris dalam kehidupan sehari-hari membentuk
matematika. Proses berpikir membentuk konsep matematika, sehingga logika
adalah dasar pengembangan matematika (Nurannisa et al., 2024).
Matematika, yang disebut dengan berbagai nama dalam bahasa seperti
Bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, Perancis, Italia, Rusia, dan Melanda,
adalah studi tentang besaran struktur, ruang, dan perubahan. Para
matematikawan mencari pola, menciptakan konjektur baru, dan menggunakan
teknik deduktif yang ketat dari aksioma dan definisi yang relevan untuk
membuktikan kebenaran. Istilah "matematika" berasal dari bahasa Yunani
kuno, "mathema", yang berarti "pengetahuan", "ilmu pengetahuan," dan
"pembelajaran." Secara singkat, matematika adalah ilmu yang menyelidiki
kuantitas, struktur, ruang, dan perubahan. Kata "sifat mathematikos" mengacu
pada upaya dan penelitian matematika. Matematika dipelajari melalui
aktivitas penelaran rasional. Matematika adalah produk pemikiran manusia
yang mencakup konsep, prosedur, dan penelitian (Nurannisa et al., 2024).
Matematika sangat penting untuk berbagai aspek kehidupan, terutama
untuk kemajuan ilmu dan teknologi. Karena kontribusinya yang besar
terhadap semua bidang ilmu, matematika dianggap sebagai dasar semua ilmu.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kemampuan matematis yang dimiliki
seseorang untuk mengatasi berbagai masalah yang muncul dalam kehidupan.
Matematik tidak hanya membutuhkan kemampuan berhitung, tetapi juga
kemampuan berpikir logis dan kritis untuk memecahkan masalah. Pemecahan
masalah yang dimaksud mencakup bukan hanya masalah biasa, tetapi juga
masalah yang dihadapi setiap hari (Nurannisa et al., 2024).
Matematika adalah mata pelajaran yang sangat penting bagi siswa
karena membantu mereka belajar berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan
kreatif serta kemampuan bekerja sama. Matematika adalah bidang ilmu yang
universal dan berlaku di mana pun di dunia. Tidak ada negara yang melarang
matematika atau agama yang melarang pemahamannya. Matematika tidak
terlibat dalam politik dan bersikap netral. Karena matematika terlibat dalam
setiap aktivitas atau perilaku manusia, matematika harus ada dan berkembang
sesuai dengan kebutuhan manusia. Matematika telah berfungsi sebagai dasar
untuk kemajuan bidang ilmu pengetahuan lainnya (Nurannisa et al., 2024).
Meskipun matematika mengajarkan berpikir kritis, praktis, dan
ketelitian, beberapa siswa merasa pelajaran itu sulit dan menegangkan.
Menurut Handayani (2020), matematika dan kegunaannya telah berkembang
pesat karena berfungsi sebagai representasi kemampuan komunikasi melalui
penggunaan bilangan dan simbol, yang dapat membantu memahami dan
menyelesaikan masalah sehari-hari.
Matematika adalah salah satu ilmu pengetahuan yang memengaruhi
banyak aspek kehidupan. Segala aspek kehidupan di Bumi berkembang
dengan begitu pesat karena matematika. Matematika memainkan peran
penting dalam kemajuan ekonomi, teknologi, dan industri. Karena matematika
sangat penting, matematika diajarkan dari sekolah dasar hingga perguruan
tinggi. Pembelajaran matematika harus dapat memberi tahu siswa bahwa
matematika bukan hanya perhitungan angka. Banyak siswa menganggap
matematika sebagai pelajaran yang sulit. Pandangan ini menyebabkan siswa
mudah menyerah bahkan sebelum mereka mulai belajar matematika. Siswa
sering menghafal ide dari buku pelajaran atau ide yang diberikan oleh guru
mereka tanpa memahami maksud dan tujuan dari gagasan tersebut (Aryanto et
al., 2024).
b. Indikator dalam Matematika
Untuk menentukan pencapaian kompetensi dasar, indikator yang lebih
khusus harus ditetapkan. Kriteria ketentusan ketuntasan belajar minyamal
(KKM) digunakan dalam penilaian untuk menentukan apakah seseorang telah
mencapai kompetensi atau tidak. Jika tidak, siswa memerlukan pembelajaran
remedial. Oleh karena itu, indikator pencapaian dibuat untuk mengukur
pencapaian kompetensi secara individual. Berikut ini adalah salah satu ciri
komunikasi matematis.
1. Menghubungkan ide matematika dengan benda nyata, gambar, dan
diagram.
2. Menjelaskan ide, situasi, dan hubungan antara matematika dengan
benda nyata, gambar, grafik, dan aljabar secara lisan atau tulisan.
3. Menggunakan simbol matematika untuk menggambarkan peristiwa
sehari-hari.
4. Mendengarkan, berbicara, dan menulis tentang matematika.
5. Membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan definisi, dan
generalisas.
c. Karakteristik Pembelajaran Matematika
Karakteristik Pembelajaran Matematika: Spesifikasi dalam
menyampaikan konsep matematika menggunakan bahasa numerik adalah salah
satu ciri proses pembelajaran matematika. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa
bahasa numerik memungkinkan pengukuran secara kuantitatif, dan sifat
kuantitatif membantu dalam menyelesaikan masalah dengan memberikan solusi
yang lebih tepat. Ini menjadikan matematika sebagai subjek yang menarik.
Beberapa karakteristik pembelajaran matematika adalah sebagai berikut.
1) Matematika mencakup konsep-konsep yang bersifat abstrak
Matematika termasuk pelajaran yang sebagian besar berfokus pada
angka atau bilangan. Materi ini tidak ada di dunia nyata atau diciptakan oleh
pemikiran manusia.
2) Ketetapan matematika bergantung pada penelaran yang logis
Dalam matematika, kebenaran tidak dapat dibuktikan melalui
eksperimen, seperti dalam ilmu fisika atau biologi.
3) Pembelajaran matematika terstruktur dan berkelanjutan
Penyajian materi matematika sangat perlu disesuaikan dengan tingkat
pendidikan dan dilakukan secara konsisten. Artinya, matematika harus
dipelajari secara berulang melalui latihan soal yang sistematis dan
terorganisir.
4) Materi matematika saling berterkait satu sama lain
Jika materi matematika dipelajari berkesinambungan satu sama lain
tanpa memahami konsep sebelumnya, proses penyelesaiannya akan menjadi
sulit.
5) Matematika menggunakan bahasa symbol
Dalam pembelajaran matematika, simbol-simbol yang telah disepakati
dan dipahami secara umum selalu digunakan untuk menyampaikan materi.
Salah satu contohnya adalah perkalian, yang dilakukan dengan simbol X
untuk menghindari dualisme jawaban.
6) Matematika diaplikasikan di bidang ilmu lain
Matematika dan bidang ilmu lainnya menggunakannya secara luas
(Nurannisa et al., 2024).
Berdasarkan ciri-ciri pembelajaran matematika yang disebutkan di atas,
dapat disimpulkan bahwa matematika adalah disiplin ilmu yang memiliki peran
penting dalam kehidupan sehari-hari seseorang, dan bahkan merupakan bagian
dari perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Untuk memotivasi siswa
untuk belajar matematika setelah melihat betapa pentingnya matematika dalam
kehidupan, guru harus memahami hal ini. Matematika juga dapat membantu
siswa memecahkan masalah. Ini disebabkan oleh prosedur kerja matematika
yang sistematis, yang dimulai dengan observasi, mendebak, menguji hipotesis,
mencari analogi, dan merumuskan teorema (Nurannisa et al., 2024).
d. Tujuan Pembelajaran Matematika
Tujuan Pembelajaran Matematika: Matematika adalah bahasa universal
yang digunakan untuk menganalisis, merancang, menyelesaikan masalah, dan
menggambarkan fenomena di berbagai bidang ilmu dan dalam kehidupan
sehari-hari. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 menetapkan tujuan umum
pembelajaran matematika sebagai berikut:
1) konsep dan penerapan.
Tujuan pendidikan matematika adalah untuk memastikan siswa
memahami konsep matematika, dapat menjelaskan hubungan antar konsep,
dan dapat menggunakan konsep atau algoritma dengan efisiensi, ketetapan,
dan fleksibilitas saat menyelesaikan masalah.
2) Pola dan Sifat
Menggunakan penelitian tentang pola dan sifat matematika, melakukan
manipulasi matematika untuk generalisasi, menyusun bukti, dan
menjelaskan konsep dan pernyataan matematika adalah tujuan
pembelajaran matematika.
3) Pemecahan Masalah
Kemampuan siswa untuk memecahkan masalah termasuk kemampuan
untuk memahami masalah, membuat model matematika untuk
menunjukkan situasi, menyelesaikan model, dan menginterpretasikan
solusi yang diperoleh dari model tersebut. Semua ini adalah tujuan
pembelajaran matematika.
4) Mengomunikasikan Gagasan
Siswa harus diajarkan bagaimana mengkomunikasikan ide
menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lainnya untuk
menjelaskan situasi atau masalah.
5) Berguna Untuk Kehidupan
Tujuan pembelajaran matematika adalah untuk menumbuhkan
sikap penghargaan terhadap manfaat matematika dalam kehidupan
seseorang, yang mencakup minat, perhatian, dan rasa ingin tahu
terhadap pelajaran matematika, serta semangat dan keyakinan dalam
menyelesaikan masalah (Nurannisa et al., 2024).
2. Pemahaman Konsep Perkalian
Memahami konsep berarti menguasai materi pembelajaran. Ini berarti
siswa tidak hanya memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, tetapi
mereka juga mampu merumuskan kembali konsep dengan cara yang lebih
sederhana dan mengaplikasikannya dengan benar. Kemampuan untuk memahami
konsep matematis adalah komponen penting dalam pembelajaran matematika,
menurut D. Novitasari. Ini terutama berlaku untuk memperoleh pemahaman yang
mendalam dan signifikan tentang materi matematika (Kristiawati dan Usman,
2024).
Pemahaman konsep dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan
dasar yang harus dimiliki siswa agar mereka dapat memecahkan masalah.
Pemahaman ini menunjukkan apa yang siswa ketahui tentang ide, prinsip, dan
strategi untuk menyelesaikan masalah (Suryani, 2019).
Siswa diajarkan untuk memahami konsep matematika penting untuk
membantu mereka memecahkan masalah dunia nyata. Memahami konsep dengan
baik membuat mereka lebih mudah memahami pelajaran berikutnya dan lebih
mampu mengatasi masalah (Nugraheni dan Sugiman dalam Radiusman, 2020).
Menurut Yunuka (Elsani. 2021), pemahaman konsep adalah cara siswa
berpikir, bersikap, dan bertindak, serta bagaimana mereka menggunakan
pendekatan yang tepat untuk memecahkan masalah. Ini sangat penting untuk
menciptakan proses belajar-mengajar dan mencapai hasil belajar yang optimal.
Namun, pemahaman konsep, menurut Duffin dan Simpson (dalam
Roslania, 2021), didefinisikan sebagai kemampuan siswa untuk menjelaskan
suatu ide dengan mengulangi apa yang telah mereka katakan sebelumnya.
Kemampuan ini kemudian memungkinkan siswa untuk menerapkan ide-ide
tersebut ke situasi lain dan meningkatkan keefektifan ide-ide tersebut.
Pemahaman konsep juga dapat diartikan sebagai kemampuan siswa untuk
menyelesaikan masalah dengan benar.
Hureman mengatakan bahwa perkalian adalah hasil dari penjumlahan
berulang. Banyak orang mungkin merasa konsep perkalian dalam mata pelajaran
matematika sekolah dasar sulit dipahami. Sangat sulit untuk memahami topik
perkalian karena sangat abstrak (Elsani, 2021).
Beberapa indikator pemahaman konsep matematika yang harus dilakukan
siswa adalah sebagai berikut: (1) Mengungkapkan konsep secara ulang; (2)
Memberi contoh, bukan contoh, dari konsep; dan (3) menggunakan konsep untuk
memecahkan masalah (Mei, 2020).
Perkalian dua bilangan adalah operasi matematika. Menurut Negoro
(Depitasari, A. Dkk., 2024), perkalian adalah "penjumlahan berulang atau
penjumlahan suatu bilangan yang sama, seperti: Dengan menjumlahkan suku-
suku sejenis, misalnya 5 + 5 + 5 + 5 adalah penjumlahan berulang yang
berbentuk 4 x 5 dan disebut sebagai hasil kali 4 dan 5". Namun, Soesilowati
menyatakan bahwa "perkalian ialah bentuk lain dari penjumlahan berulang"
(Depitasari, A. Dkk., 2024). Jika anak-anak yang baru belajar perkalian memiliki
hasil perkalian 4 dan 5, Anda harus memastikan bahwa hanya hasil perkaliannya
yang sama. Pengundian dan perkalian masih memiliki definisi yang berbeda.
Jadi, perkalian 3 kali 1 = 1 x 3 = 3 tetapi artinya berbeda. Misalnya, dalam kasus
penggunaan obat, perkalian 3 kali 1 menunjukkan bahwa obat diminum tiga kali
sehari, satu pil. Sebaliknya, perkalian 1 kali 3 menunjukkan bahwa obat diminum
tiga kali sehari, tiga dosis sekaligus.
1. Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
Media dapat memengaruhi pikiran, perasaan, dan keinginan audiens
dengan meyakinkan pesan dan mendorong proses belajar pada diri mereka
sendiri. Namun, pembelajaran adalah gabungan dari elemen manusia,
material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi
untuk mencapai tujuan pembelajaran (Wahab et al., 2021).
Media pembelajaran adalah alat yang digunakan sebagai perantara
antara guru dan siswa untuk meningkatkan komunikasi dan interaksi antara
guru dan siswa. Media pembelajaran hanya mencakup media yang dapat
digunakan secara efektif selama proses pembelajaran yang direncanakan.
Namun, dalam arti luas, media juga mencakup alat-alat sederhana seperti
TV, radio, titik dua, gambar, diagram, bahan buatan guru, dan objek nyata
lainnya. Kami akan bertemu di video berikutnya (Wahab, dkk. 2021).
Media pembelajaran adalah alat yang dapat membangkitkan
perasaan, mendorong pemikiran, dan mengirimkan pesan kepada sasaran,
yaitu siswa. Media disebut media pembelajaran jika mengandung informasi
atau pesan instruksional (Herman, 2024).
Menurut Malapata & Wijayanigsih (2019), "media pembelajaran"
merujuk pada segala bentuk media yang dapat menyampaikan informasi,
merangsang pikiran, perasaan, dan niat siswa, serta memajukan rancangan
proses belajar siswa. Menurut Dariyati, Marhaeni, dan Widiartini (2019),
"media pembelajaran" merujuk pada segala bentuk media yang digunakan
oleh seseorang untuk menyampaikan atau menyebarkan informasi, ide, dan
saran kepada mereka yang menerimanya.
Siswa memahami media pembelajaran yang diberikan lebih muda.
Misalnya, guru menyiapkan bahan-bahan yang mudah diakses seperti stik,
karton, sedotan, kelereng, dan lain-lain untuk mengajarkan konsep
matematika tertentu sesuai kebutuhan. Menyederhanakan konsep yang sulit,
membuat konsep yang agak abstrak menjadi nyata, dan menjelaskan
pengertian atau konsep secara lebih rinci adalah semua manfaat dari bahan
ini (Wahyudi & Hadaming, 2023).
b. Manfaat Media Pembelajaran
Secara umum, manfaat media dalam proses pembelajaran adalah
memungkinkan interaksi yang lebih baik antara guru dan siswa, yang
menghasilkan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Berikut adalah
beberapa manfaat media dalam proses pembelajaran untuk siswa:
1) Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga mereka
dapat menemukan apa yang mereka ingin pelajari. 2) Bahan pembelajaran
akan lebih jelas sehingga siswa dapat memahaminya dengan lebih baik
sehingga mereka dapat mencapai tujuan pembelajaran. 3) Metode
pembelajaran akan lebih bervariasi daripada komunikasi verbal hanya
melalui kata-kata guru, sehingga guru tidak bosan dan tidak kehabisan
tenaga, terutama jika guru mengajar setiap jam.
Berikut adalah beberapa keuntungan praktis dari menggunakan media
pembelajaran dalam proses pembelajaran:
1) Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian, pesan, dan
informasi sehingga memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil
belajar. 2) Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan
perhatian siswa sehingga menimbulkan motivasi untuk belajar dan
memungkinkan interaksi lebih langsung antara siswa dan lingkungannya. 3)
Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan indera.
4) Media pembelajaran dapat memberikan kepada siswa pengalaman yang
sebanding dengan pembelajaran mereka sendiri. 5) Media pembelajaran
dapat memberikan pengalaman yang sama Wahab et al., 2021)
c. Kriteria Media Pembelajaran
Kriteria Media Pembelajaran: Ada beberapa hal yang harus
dipertimbangkan saat memilih media pembelajaran, termasuk tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai, kesesuaian dengan kondisi siswa,
ketersediaan perangkat, kualitas teknis, dan biaya. Berikut adalah beberapa
pertimbangan yang harus diperhatikan:
1) Media yang dipilih harus selaras dan mendukung tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan.
2) Aspek materi harus dipertimbangkan saat memilih media, karena sesuai atau
tidaknya antara materi dengan media yang digunakan akan berdampak pada
hasil pembelajaran siswa.
3) Kondisi audien siswa dari segi subjek belajar harus menjadi perhatian yang
serius bagi guru saat memilih media yang sesuai dengan kondisi mereka.
Faktor-faktor seperti karakteristik umum, intelijensi, latar belakang pendirian,
dan faktor-faktor lainnya
4) Media yang dipilih harus dapat menjelaskan secara tepat dan berhasil apa
yang akan disampaikan kepada audiens siswa, sehingga tujuan dapat dicapai
secara optimal.
5) Biaya yang dikeluarkan untuk menggunakan media harus sebanding dengan
hasil yang akan dicapai. Dengan kata lain, menggunakan media yang
sederhana mungkin lebih menguntungkan daripada menggunakan media yang
canggih (teknologi tinggi) jika hasilnya tidak sebanding dengan tujuan.
2. Media Pembelajaran Kantong Perkalian
a. Pengertian Kantong Perkalian
Media kantong perkalian adalah alat sederhana yang ditunjukkan untuk
membantu siswa memahami operasi hitung dalam matematika. Ini disajikan
tentang sifat pertukaran perkalian dengan warna media yang menarik, sehingga
diharapkan siswa menjadi aktif dan terlibat dalam belajar. Fransiska et al., 2023
Media kantong perkalian adalah media visual yang digunakan dalam
pembelajaran matematika untuk membantu siswa memahami materi melalui
perkalian. Media ini terbuat dari styrofoam, yang berukuran 60 cm x 40 cm, dan
memiliki sepuluh kantong yang akan digunakan untuk menaruh stik eskrim yang
akan dihitung; ada satu tempat untuk stik eskrim dan sepuluh kantong terbua.
Media ini dirancang untuk membantu siswa memahami perkalian (Amalia, 2024).
Materi dikirim melalui media papan perkalian yang dilapisi flanel. Media
ini memiliki kantong dengan nomor dari 1 hingga 10 dan stik es krim yang
digunakan untuk melakukan perkalian berulang. Sebagai contoh, ketika guru
memberikan tugas dengan ukuran 3 kali 2, siswa memasukkan stik es krim ke
dalam kantong dengan nomor sejumlah 2 stik es krim di setiap kantong. Papan
perkalian membuat siswa lebih tertarik untuk belajar. Mereka juga akan lebih
mudah memahami materi perkalian karena mereka telah mempelajari konsepnya
sebelum menggunakan media ini (Farazilla et al., 2024).
Gambar
2.1 Media Kantong
Perkalian
b. Cara
menggunakan media kantong perkalian
Berikut cara menggunakan media pembelajaran kantong perkalian:
1) Menjelaskan materi mengenai perkalian terlebih dahulu.
2) Memberikan pertanyaan perkalian
3) Mengambil angka sesuai soal yang diberikan guru.
4) Kemudian menaruh angka di sterofoam.
5) Lalu, ambil stik eskrim dan masukkan ke dalam kantong perkalian sesuai
dengan perintah guru. Misalkan soal perkalian “2 kali 5” 2 sebagai
kantongnya dan 5 adalah stik eskrim yang akan dimasukkan ke dalam 2
kantong.
6) Setelah semua stik eskrim dimasukkan, maka stik eskrim yang
dimasukkan ke dalam kantong perkalian dapat dihitung dan menghasilkan
10 stik eskrim (Amalia, 2024).
c. Kelebihan dan Kekurangan Media Kantong Perkalian
Setiap media pembelajaran pasti terdapat kelebihan dan kekurangan.
Berikut kelebihan media kantong perkalian:
1) Meningkantkan rasa ingin tahu peserta didik sehingga membuat peserta
didik semnagat/antusisas selama proses pembelajaran.
2) Bahan media dibuat menggunakan triplek hingga media akan tahana lama
dan kuat.
3) Tampilan media yang menarik sehingga rasa ingin tahu peserta didik
menambah (Amalia, 2024).
Selain kelebihan, terdapat juga kekurangan media pembelajaran kantong
perkalian, berikut beberapa kekurangan media kantong perkalian:
1) Media kantong perkalian hanya bisa digunakan pada materi perkalian
saja.
2) Dibutuhkan kreativitas untuk dapat menghiasi media agar terlihat
menarik.
3) Membutuhkan waktu yang cukup lama (Amalia, 2024).
3. Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)
a. Model Cooperative Learning
Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT),
yang diciptakan oleh Spencer Kagan pada tahun 1992, dimaksudkan untuk
memberi siswa kesempatan untuk bertukar ide dan memikirkan jawaban terbaik,
menurut Huda. Selain itu, dapat diterapkan untuk semua mata pelajaran dan
tingkatan kelas, dan setiap siswa akan termotivasi untuk meningkatkan semangat
kerja sama mereka (Sulistiani, 2023).
Pembelajaran kooperatif didefinisikan sebagai kegiatan pembelajaran di
mana kelompok orang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, seperti
membuat konsep, mengerjakan tugas, menyelesaikan persoalan, atau melakukan
hal lain (Helmiati, 2023).
Namun, menurut Rohman dalam Ade, pembelajaran kooperatif adalah
model pembelajaran yang menekankan tanggung jawab perseorangan,
komunikasi intensif antar siswa, evaluasi proses kelompok, dan saling
ketergantungan positif antar individu siswa (Sulistiani, 2023).
Pembelajaran kooperatif, menurut Ismun Ali, adalah model belajar yang
melibatkan siswa bekerja sama satu sama lain, sehingga siswa tidak hanya
mencapai kesuksesan secara individual atau saling mengalahkan, tetapi juga
dapat membantu teman belajarnya yang kurang berbakat (Sulistiani, 2023).
b. Langkah-langkah Model Kooperatif Learning
Pembelajaran kooperatif umumnya terdiri dari empat tahap:
1) menyampaikan tujuan pembelajaran
Tujuan dari tahap menyampaikan adalah untuk menyampaikan indikator
apa saja yang ada dalam pembelajaran yang akan diajarkan sebelum
menyampaikan materi. Tujuan utama dari tahap ini adalah untuk
mengetahui indikator apa yang harus dicapai dalam pembelajaran yang
akan datang dengan menyampaikan indikator tersebut secara verbal
sesuai dengan kompetensi yang telah ditulis dalam buku dan modul.
2) penjelasan materi
Sebelum siswa belajar bersama dalam kelompok, tahap penjelasan
dilakukan. Siswa harus memiliki pemahaman yang baik tentang materi
pelajaran pada tingkatan ini. Pada titik ini, guru memberikan gambaran
umum tentang materi pelajaran yang harus dipelajari. berikutnya
3) belajar dalam kelompok
Guru memberikan penjelasan umum tentang materi pelajaran. Siswa
kemudian diharuskan untuk belajar dengan kelompoknya masing-
masing, yang telah diatur sebelumnya.
4) Penilaian
Dalam pembelajaran kooperatif, teknik tes dan kuis dapat digunakan
untuk penilaian. Tes dan kuis dapat dilakukan baik secara individu
maupun kelompok, dan hasil tes individu akan menunjukkan tingkat
pemahaman siswa masing-masing kelompok.
5) pengakuan kelompok
Pengakuan kelompok berarti menentukan kelompok mana yang paling
mencelok atau berprestasi dan pantas menerima penghargaan atau
penghargaan. Tujuan dari pengakuan dan penentuan penghargaan ini
adalah untuk mendorong kelompok lain untuk meningkatkan prestasi
mereka (Alkhairiry, 2020).
c. Pengertian Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)
Menurut Miftahul Huda (2022), Numbered Head Together adalah model
pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi ide-ide
dan mempertimbangkan jawaban terbaik. Model ini juga melibatkan banyak
siswa dalam memperoleh materi pelajaran dan mengevaluasi pemahaman
mereka tentang materi (Islamiyati, 2022).
Menurut Anita Lie, model pembelajaran Numbered Head Together
adalah jenis model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bertukar ide
dan memikirkan jawaban terbaik. Model pembelajaran ini juga mendorong
siswa untuk bekerja sama lebih banyak. Selain itu, model pembelajaran NHT
dapat diterapkan pada semua mata pelajaran dan tingkat usia anak didik
(Islamiyati, 2022).
Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT),
yang diciptakan oleh Spencer Kagan pada tahun 1992, dimaksudkan untuk
memberi siswa kesempatan untuk bertukar ide dan memikirkan jawaban terbaik,
menurut Husriani. Selain itu, ini berlaku untuk semua mata pelajaran dan
tingkatan kelas dan akan mendorong semua siswa untuk meningkatkan semangat
kerja sama mereka. Selain itu, Aris Shoimin menyatakan bahwa model
pembelajaran NHT adalah model berkelompok, di mana setiap anggota
kelompok bertanggung jawab atas tugas yang diberikan oleh kelompoknya. Ini
memungkinkan siswa untuk saling memberi dan menerima antara satu sama lain
(Sulistiani, 2023).
Pola interaksi siswa dipengaruhi oleh model NHT, yang merupakan
alternatif terhadap kelas konvensional. NHT adalah model pembelajaran yang
lebih baik dibandingkan dengan model konvensional. Menurut Jeditia Taliak,
pembelajaran NHT adalah model pembelajaran yang lebih fokus pada tugas
siswa untuk mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai
sumber. Hasilnya, siswa akan mempresentasikan informasi ini di kelas.
Sulistiani, 2023 mengatakan
d. Langkah-langkah Model Pembelajaran Number Head Together (NHT)
Model pembelajaran NHT terdiri dari beberapa tahap. Menurut Ibrahim
dalam Rika, langkah-langkah model tersebut terdiri dari empat langkah:
penomoran, pertanyaan, diskusi, dan jawaban.
Berdasarkan pendapat di atas, langkah-langkah pembelajaran NHT adalah
sebagai berikut:
1) Siswa dibagi ke dalam kelompok; 2) Setiap kelompok diberi nomor; 3)
Guru memberi tugas atau pertanyaan kepada tiap kelompok; 4) Siswa berdiskusi
dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas dan memastikan bahwa semua
anggota kelompok mengetahui jawaban; 5) Guru memanggil salah satu nomor
secara acak; 6) Siswa dengan nomor yang dipanggil mempresentasikan jawaban
dari diskusi kelompok mereka; 7) Guru bersama siswa menyimpulkan penilaian
yang diberikan kepada siswa tentang apa yang mereka lakukan.
e. Kelebihan dan Kekurangan Numbered Head Together (NHT)
Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran NHT dijelaskan di bawah ini.
Kelebihan model pembelajaran NHT, menurut Aris Shoiman, adalah
sebagai berikut: setiap siswa siap; mereka dapat berbicara dengan sungguh-
sungguh; siswa yang cerdas dapat mengajar siswa yang kurang cerdas; ada
interaksi intens antarsiswa saat menjawab pertanyaan; dan, karena jumlah siswa
yang dibatasi, tidak ada siswa yang mendominasi kelompok (Sulistiani, 2023).
Selain itu, Ega Gantini menyatakan bahwa model pembelajaran NHT
memiliki beberapa keunggulan, yaitu: siswa dapat bekerja sama untuk mencapai
tujuan; siswa aktif membantu satu sama lain untuk keberhasilan bersama; dan
model ini mengajarkan siswa untuk menyampaikan pendapat mereka dengan cara
yang dapat diterima dan dipahami oleh rekan sekelas mereka (Sulistiani, 2023).
Kelebihan model NHT, menurut Andi dan Nining, adalah sebagai berikut:
1) siswa dapat memperoleh pemahaman yang kuat; 2) mereka akan menjadi lebih
termotivasi untuk belajar; 3) mereka akan memperoleh keterampilan sosial, atau
keterampilan sosial; 4) mereka akan menjadi lebih akrab dengan teman mereka;
5) mereka akan menjadi lebih baik dalam leadership dan jiwa sosial mereka; 6)
mereka dapat menanamkan rasa ingin tahu kepada siswa.
Sedangkan kekurangannya menurut Aris Shoimin yaitu: 1) tidak terlalu
cocok diterapkan dalam jumlah siswa banyak karena membutuhkan waktu yang
lama; 2) tidak semua anggota Namun, menurut Aris Shoimin, ada beberapa
kekurangannya, yaitu: 1) tidak cocok untuk diterapkan dalam jumlah siswa yang
besar karena membutuhkan waktu yang lama; dan 2) guru mungkin tidak
memanggil semua anggota kelompok karena waktu yang terbatas (Sulistiani,
2023) kelompok dipanggil oleh guru karena kemungkinan waktu yang terbatas
(Sulistiani, 2023).
Sependapat dengan itu, Ega Gantini menyatakan bahwa kekurangan NHT
meliputi: 1) waktu yang cukup lama, sehingga guru harus memperhitungkannya
untuk mencegah penghamburan waktu; 2) adanya anggota kelompok yang tidak
atau kurang aktif; dan 3) dominasi siswa dengan kemampuan di atas rata-rata
(Sulistiani, 2023).
Menurut Andi dan Nining, model NHT memiliki kekurangan berikut: 1)
membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk jumlah siswa yang
banyak; dan 2) guru tidak memanggil semua anggota kelompok
(Sulistiani, 2023).
B. Hasil Penelitian Relevan
Beberapa penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini adalah:
1. Penelitian yang dilakukan Alifia Regita Astari pada Tahun 2023 dalam
penelitiannya yang berjudul “Meningkatkan Pemahaman Siswa Pada
Pembelajaran Matematika Kompetensi Dasar Perkalian Dengan Media
Papan Perkalian Pintar Di Sekolah Dasar” Siklsus I pertemuan satu sebanyak
33,8%, siklus I pertemuan dua 37,6% dengan peningkatan sebesar 3,8%.
Pada siklus II pertemuan satu 50,95% dengan peningkatan sebesar 13,35%
dan pertemuan kedua 84,52% mengalami peningkatan sebesar 33,57%. Pada
pratindakan ketuntasan klasikal 32,4%, pada tes siklus I ketuntasan klasikal
41,2% dengan peningkatan 8,8%, pada tes siklus II ketuntasan mencapai
73,80% dengan peningkatan 32,6%. Dari hasil penelitian ini diharapkan guru
mampu meningkatkan proses pembelajaran di kelas, sehingga pemahaman
tentang perkalian siswa di kelas juga meningkat, guru disarankan agar dapat
menggunkana media pembelajaran saat proses pembelajaran berlangsung,
2. Hasil penelitian dua siklus pada materi perkalian siswa kelas III SDN
Kertosari 01 Madiun berjudul "Meningkatkan pemahaman konsep perkalian
melalui media pembelajaran papan perkalian pada siswa kelas III SDN
Kertosari 01 Madiun" menunjukkan bahwa menggunakan media papan
perkalian dapat membantu siswa memahami konsep perkalian. Hasil belajar
siswa kelas III SDN Kertosari 01 meningkat dari pra siklus hingga siklus
dua. Hasil belajar mereka meningkat sebesar 25% pada pra siklus, sebesar
50% pada siklus pertama, dan sebesar 87,5% pada siklus kedua. Ini
menunjukkan bahwa alat perkalian dapat membantu siswa belajar.
3. Dalam penelitian mereka pada tahun 2023 yang berjudul "Meningkatkan
Hasil Belajar Matematika Tentang Pemahaman Konsep Dasar Perkalian
Kelas III SD Menggunakan Media", Mahluddin, Kiki Fatmawati, dan Irwan
Kurniawan menemukan bahwa penggunaan media pembelajaran dapat
meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam siklus I, ketuntasan klasikal
mencapai 66,67%, dan pada siklus II, ketuntasan klasikal meningkat menjadi
86,67%. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa
4. Hasil penelitian "Meningkatkan Pemahaman Konsep Perkalian Matematika
Pada Siswa Kelas III Sekolah Dasar Dengan Menggunakan LKPD
Berbantuan Media Kantong Perkalian Matematika" pada tahun 2021 oleh
Agus Lina Silvia, Rosiana Mufliva, Asyifa Nurjannah, dan Ava Tiara
Cahyaningsih menunjukkan bahwa LKPD dan media pembelajaran kantong
perkalian matematika adalah bidang yang layak untuk mengkaji pemahaman
konsep perkalian matematika siswa
5. Hasil penelitian "Pelaksanaan Lesson Study Menggunakan Media Kantong
Bilangan Perkalian Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika
Kelas III Sekolah Dasar", yang ditulis oleh Maria Fransiska Nae Ruda,
Yohanes Ehe Lawotan, dan Hermus Hero pada tahun 2023, menunjukkan
hasil penilaian tahapan lesson study sebesar 89,47 persen, hasil pengamatan
aktivitas siswa sebesar 78,65 persen, dan hasil nilai tes dari 27 siswa
menunjukkan bahwa 13 (4 Hal ini menunjukkan bahwa siswa memiliki hasil
belajar yang lebih baik.
C. Kerangka Pikir
Pelajaran matematika tidak menarik dan membosankan, yang menyebabkan
siswa kurang memahami konsep perkalian. Siswa lebih cenderung menghafal
perkalian saat belajar perkalian daripada memahami konsepnya. Kondisi ini
menunjukkan bahwa siwa tidak memahami konsep perkalian dengan baik. Oleh
karena itu, proses pembelajaran harus diubah agar siswa memahami konsep perkalian
dengan lebih baik dan mengurangi keinginan mereka untuk belajar matematika.
Model Numbered Head Together (NHT) berbantuan media kantong perkalian
membantu memahami konsep perkalian. Siswa lebih tertarik untuk mengikuti proses
pembelajaran karena proses ini lebih menyenangkan. Berikut adalah beberapa
gambaran dari kerangka penelitian ini.
Siswa diharapkan Pada kenyataannya
memahami konsep siswa tidak memahami
dasar dari perkalian konsep dasar dari
Kondisi Awal
serta siswa mampu perkalian, serta siswa
memahami pola- juga tidak memahami
pola perkalian pola perkalian
Kurangnya
1. Perencanaan
pemahan konsep
2. Tindakan
Tindakan perkalian sehingga 3. Observasi
akan sulit 4. Refleksi
memahami materi
selanjutnya
Kondisi Akhir Setelah melakukan
pembelajaran
D. Hipotesis Tindakan
Hipotesis penelitian ini berdasarkan rumusan masalah dan kerangka pikir di
atas adalah bahwa siswa di kelas III SD Negeri Alluka mungkin lebih memahami
konsep perkalian jika model pembelajaran kepala nomor (NHT) dengan bantuan
kantong perkalian diterapkan.