0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan26 halaman

Pentingnya Pembelajaran Matematika

Dokumen ini membahas pentingnya pembelajaran matematika, yang dianggap sebagai dasar semua ilmu dan sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, dijelaskan karakteristik, tujuan, dan indikator dalam pembelajaran matematika, serta peran media pembelajaran dalam meningkatkan pemahaman siswa. Pemahaman konsep matematika, seperti perkalian, juga ditekankan sebagai kunci untuk memecahkan masalah dan mencapai hasil belajar yang optimal.

Diunggah oleh

Nurfadillah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan26 halaman

Pentingnya Pembelajaran Matematika

Dokumen ini membahas pentingnya pembelajaran matematika, yang dianggap sebagai dasar semua ilmu dan sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, dijelaskan karakteristik, tujuan, dan indikator dalam pembelajaran matematika, serta peran media pembelajaran dalam meningkatkan pemahaman siswa. Pemahaman konsep matematika, seperti perkalian, juga ditekankan sebagai kunci untuk memecahkan masalah dan mencapai hasil belajar yang optimal.

Diunggah oleh

Nurfadillah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Pembelajaran Matematika

a. Definisi Matematika

Kata "matematika" berasal dari kata latin "mathēmatikā", yang berasal

dari kata Yunani "mathēmatikē", yang berarti "kajian yang melibatkan

pembelajaran". Selain itu, kata matematika berasal dari kata matema, yang

berarti pengetahuan atau ilmu, dan juga dikaitkan dengan kata matein atau

mateinein, yang berarti belajar atau berpikir. Jadi, menurut asal katanya,

matematika adalah ilmu pengetahuan yang dihasilkan melalui proses

penalaran atau berpikir. Bukan hasil dari eksperimen atau pengamatan,

matematika berfokus pada kegiatan penalaran atau rasionalitas. Proses

berpikir manusia yang terdiri dari konsep, prosedur, dan penelitian yang

berasal dari pengalaman empiris dalam kehidupan sehari-hari membentuk

matematika. Proses berpikir membentuk konsep matematika, sehingga logika

adalah dasar pengembangan matematika (Nurannisa et al., 2024).

Matematika, yang disebut dengan berbagai nama dalam bahasa seperti

Bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, Perancis, Italia, Rusia, dan Melanda,


adalah studi tentang besaran struktur, ruang, dan perubahan. Para

matematikawan mencari pola, menciptakan konjektur baru, dan menggunakan

teknik deduktif yang ketat dari aksioma dan definisi yang relevan untuk

membuktikan kebenaran. Istilah "matematika" berasal dari bahasa Yunani

kuno, "mathema", yang berarti "pengetahuan", "ilmu pengetahuan," dan

"pembelajaran." Secara singkat, matematika adalah ilmu yang menyelidiki

kuantitas, struktur, ruang, dan perubahan. Kata "sifat mathematikos" mengacu

pada upaya dan penelitian matematika. Matematika dipelajari melalui

aktivitas penelaran rasional. Matematika adalah produk pemikiran manusia

yang mencakup konsep, prosedur, dan penelitian (Nurannisa et al., 2024).

Matematika sangat penting untuk berbagai aspek kehidupan, terutama

untuk kemajuan ilmu dan teknologi. Karena kontribusinya yang besar

terhadap semua bidang ilmu, matematika dianggap sebagai dasar semua ilmu.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kemampuan matematis yang dimiliki

seseorang untuk mengatasi berbagai masalah yang muncul dalam kehidupan.

Matematik tidak hanya membutuhkan kemampuan berhitung, tetapi juga

kemampuan berpikir logis dan kritis untuk memecahkan masalah. Pemecahan

masalah yang dimaksud mencakup bukan hanya masalah biasa, tetapi juga

masalah yang dihadapi setiap hari (Nurannisa et al., 2024).

Matematika adalah mata pelajaran yang sangat penting bagi siswa

karena membantu mereka belajar berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan

kreatif serta kemampuan bekerja sama. Matematika adalah bidang ilmu yang
universal dan berlaku di mana pun di dunia. Tidak ada negara yang melarang

matematika atau agama yang melarang pemahamannya. Matematika tidak

terlibat dalam politik dan bersikap netral. Karena matematika terlibat dalam

setiap aktivitas atau perilaku manusia, matematika harus ada dan berkembang

sesuai dengan kebutuhan manusia. Matematika telah berfungsi sebagai dasar

untuk kemajuan bidang ilmu pengetahuan lainnya (Nurannisa et al., 2024).

Meskipun matematika mengajarkan berpikir kritis, praktis, dan

ketelitian, beberapa siswa merasa pelajaran itu sulit dan menegangkan.

Menurut Handayani (2020), matematika dan kegunaannya telah berkembang

pesat karena berfungsi sebagai representasi kemampuan komunikasi melalui

penggunaan bilangan dan simbol, yang dapat membantu memahami dan

menyelesaikan masalah sehari-hari.

Matematika adalah salah satu ilmu pengetahuan yang memengaruhi

banyak aspek kehidupan. Segala aspek kehidupan di Bumi berkembang

dengan begitu pesat karena matematika. Matematika memainkan peran

penting dalam kemajuan ekonomi, teknologi, dan industri. Karena matematika

sangat penting, matematika diajarkan dari sekolah dasar hingga perguruan

tinggi. Pembelajaran matematika harus dapat memberi tahu siswa bahwa

matematika bukan hanya perhitungan angka. Banyak siswa menganggap

matematika sebagai pelajaran yang sulit. Pandangan ini menyebabkan siswa

mudah menyerah bahkan sebelum mereka mulai belajar matematika. Siswa

sering menghafal ide dari buku pelajaran atau ide yang diberikan oleh guru
mereka tanpa memahami maksud dan tujuan dari gagasan tersebut (Aryanto et

al., 2024).

b. Indikator dalam Matematika

Untuk menentukan pencapaian kompetensi dasar, indikator yang lebih

khusus harus ditetapkan. Kriteria ketentusan ketuntasan belajar minyamal

(KKM) digunakan dalam penilaian untuk menentukan apakah seseorang telah

mencapai kompetensi atau tidak. Jika tidak, siswa memerlukan pembelajaran

remedial. Oleh karena itu, indikator pencapaian dibuat untuk mengukur

pencapaian kompetensi secara individual. Berikut ini adalah salah satu ciri

komunikasi matematis.

1. Menghubungkan ide matematika dengan benda nyata, gambar, dan

diagram.

2. Menjelaskan ide, situasi, dan hubungan antara matematika dengan

benda nyata, gambar, grafik, dan aljabar secara lisan atau tulisan.

3. Menggunakan simbol matematika untuk menggambarkan peristiwa

sehari-hari.

4. Mendengarkan, berbicara, dan menulis tentang matematika.

5. Membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan definisi, dan

generalisas.

c. Karakteristik Pembelajaran Matematika


Karakteristik Pembelajaran Matematika: Spesifikasi dalam

menyampaikan konsep matematika menggunakan bahasa numerik adalah salah

satu ciri proses pembelajaran matematika. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa

bahasa numerik memungkinkan pengukuran secara kuantitatif, dan sifat

kuantitatif membantu dalam menyelesaikan masalah dengan memberikan solusi

yang lebih tepat. Ini menjadikan matematika sebagai subjek yang menarik.

Beberapa karakteristik pembelajaran matematika adalah sebagai berikut.

1) Matematika mencakup konsep-konsep yang bersifat abstrak

Matematika termasuk pelajaran yang sebagian besar berfokus pada

angka atau bilangan. Materi ini tidak ada di dunia nyata atau diciptakan oleh

pemikiran manusia.

2) Ketetapan matematika bergantung pada penelaran yang logis

Dalam matematika, kebenaran tidak dapat dibuktikan melalui

eksperimen, seperti dalam ilmu fisika atau biologi.

3) Pembelajaran matematika terstruktur dan berkelanjutan

Penyajian materi matematika sangat perlu disesuaikan dengan tingkat

pendidikan dan dilakukan secara konsisten. Artinya, matematika harus

dipelajari secara berulang melalui latihan soal yang sistematis dan

terorganisir.

4) Materi matematika saling berterkait satu sama lain


Jika materi matematika dipelajari berkesinambungan satu sama lain

tanpa memahami konsep sebelumnya, proses penyelesaiannya akan menjadi

sulit.

5) Matematika menggunakan bahasa symbol

Dalam pembelajaran matematika, simbol-simbol yang telah disepakati

dan dipahami secara umum selalu digunakan untuk menyampaikan materi.

Salah satu contohnya adalah perkalian, yang dilakukan dengan simbol X

untuk menghindari dualisme jawaban.

6) Matematika diaplikasikan di bidang ilmu lain

Matematika dan bidang ilmu lainnya menggunakannya secara luas

(Nurannisa et al., 2024).

Berdasarkan ciri-ciri pembelajaran matematika yang disebutkan di atas,

dapat disimpulkan bahwa matematika adalah disiplin ilmu yang memiliki peran

penting dalam kehidupan sehari-hari seseorang, dan bahkan merupakan bagian

dari perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Untuk memotivasi siswa

untuk belajar matematika setelah melihat betapa pentingnya matematika dalam

kehidupan, guru harus memahami hal ini. Matematika juga dapat membantu

siswa memecahkan masalah. Ini disebabkan oleh prosedur kerja matematika

yang sistematis, yang dimulai dengan observasi, mendebak, menguji hipotesis,

mencari analogi, dan merumuskan teorema (Nurannisa et al., 2024).

d. Tujuan Pembelajaran Matematika


Tujuan Pembelajaran Matematika: Matematika adalah bahasa universal

yang digunakan untuk menganalisis, merancang, menyelesaikan masalah, dan

menggambarkan fenomena di berbagai bidang ilmu dan dalam kehidupan

sehari-hari. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 menetapkan tujuan umum

pembelajaran matematika sebagai berikut:

1) konsep dan penerapan.

Tujuan pendidikan matematika adalah untuk memastikan siswa

memahami konsep matematika, dapat menjelaskan hubungan antar konsep,

dan dapat menggunakan konsep atau algoritma dengan efisiensi, ketetapan,

dan fleksibilitas saat menyelesaikan masalah.

2) Pola dan Sifat

Menggunakan penelitian tentang pola dan sifat matematika, melakukan

manipulasi matematika untuk generalisasi, menyusun bukti, dan

menjelaskan konsep dan pernyataan matematika adalah tujuan

pembelajaran matematika.

3) Pemecahan Masalah

Kemampuan siswa untuk memecahkan masalah termasuk kemampuan

untuk memahami masalah, membuat model matematika untuk

menunjukkan situasi, menyelesaikan model, dan menginterpretasikan

solusi yang diperoleh dari model tersebut. Semua ini adalah tujuan

pembelajaran matematika.

4) Mengomunikasikan Gagasan
Siswa harus diajarkan bagaimana mengkomunikasikan ide

menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lainnya untuk

menjelaskan situasi atau masalah.

5) Berguna Untuk Kehidupan

Tujuan pembelajaran matematika adalah untuk menumbuhkan

sikap penghargaan terhadap manfaat matematika dalam kehidupan

seseorang, yang mencakup minat, perhatian, dan rasa ingin tahu

terhadap pelajaran matematika, serta semangat dan keyakinan dalam

menyelesaikan masalah (Nurannisa et al., 2024).

2. Pemahaman Konsep Perkalian

Memahami konsep berarti menguasai materi pembelajaran. Ini berarti

siswa tidak hanya memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, tetapi

mereka juga mampu merumuskan kembali konsep dengan cara yang lebih

sederhana dan mengaplikasikannya dengan benar. Kemampuan untuk memahami

konsep matematis adalah komponen penting dalam pembelajaran matematika,

menurut D. Novitasari. Ini terutama berlaku untuk memperoleh pemahaman yang

mendalam dan signifikan tentang materi matematika (Kristiawati dan Usman,

2024).

Pemahaman konsep dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan

dasar yang harus dimiliki siswa agar mereka dapat memecahkan masalah.

Pemahaman ini menunjukkan apa yang siswa ketahui tentang ide, prinsip, dan

strategi untuk menyelesaikan masalah (Suryani, 2019).


Siswa diajarkan untuk memahami konsep matematika penting untuk

membantu mereka memecahkan masalah dunia nyata. Memahami konsep dengan

baik membuat mereka lebih mudah memahami pelajaran berikutnya dan lebih

mampu mengatasi masalah (Nugraheni dan Sugiman dalam Radiusman, 2020).

Menurut Yunuka (Elsani. 2021), pemahaman konsep adalah cara siswa

berpikir, bersikap, dan bertindak, serta bagaimana mereka menggunakan

pendekatan yang tepat untuk memecahkan masalah. Ini sangat penting untuk

menciptakan proses belajar-mengajar dan mencapai hasil belajar yang optimal.

Namun, pemahaman konsep, menurut Duffin dan Simpson (dalam

Roslania, 2021), didefinisikan sebagai kemampuan siswa untuk menjelaskan

suatu ide dengan mengulangi apa yang telah mereka katakan sebelumnya.

Kemampuan ini kemudian memungkinkan siswa untuk menerapkan ide-ide

tersebut ke situasi lain dan meningkatkan keefektifan ide-ide tersebut.

Pemahaman konsep juga dapat diartikan sebagai kemampuan siswa untuk

menyelesaikan masalah dengan benar.

Hureman mengatakan bahwa perkalian adalah hasil dari penjumlahan

berulang. Banyak orang mungkin merasa konsep perkalian dalam mata pelajaran

matematika sekolah dasar sulit dipahami. Sangat sulit untuk memahami topik

perkalian karena sangat abstrak (Elsani, 2021).

Beberapa indikator pemahaman konsep matematika yang harus dilakukan

siswa adalah sebagai berikut: (1) Mengungkapkan konsep secara ulang; (2)
Memberi contoh, bukan contoh, dari konsep; dan (3) menggunakan konsep untuk

memecahkan masalah (Mei, 2020).

Perkalian dua bilangan adalah operasi matematika. Menurut Negoro

(Depitasari, A. Dkk., 2024), perkalian adalah "penjumlahan berulang atau

penjumlahan suatu bilangan yang sama, seperti: Dengan menjumlahkan suku-

suku sejenis, misalnya 5 + 5 + 5 + 5 adalah penjumlahan berulang yang

berbentuk 4 x 5 dan disebut sebagai hasil kali 4 dan 5". Namun, Soesilowati

menyatakan bahwa "perkalian ialah bentuk lain dari penjumlahan berulang"

(Depitasari, A. Dkk., 2024). Jika anak-anak yang baru belajar perkalian memiliki

hasil perkalian 4 dan 5, Anda harus memastikan bahwa hanya hasil perkaliannya

yang sama. Pengundian dan perkalian masih memiliki definisi yang berbeda.

Jadi, perkalian 3 kali 1 = 1 x 3 = 3 tetapi artinya berbeda. Misalnya, dalam kasus

penggunaan obat, perkalian 3 kali 1 menunjukkan bahwa obat diminum tiga kali

sehari, satu pil. Sebaliknya, perkalian 1 kali 3 menunjukkan bahwa obat diminum

tiga kali sehari, tiga dosis sekaligus.

1. Media Pembelajaran

a. Pengertian Media Pembelajaran

Media dapat memengaruhi pikiran, perasaan, dan keinginan audiens

dengan meyakinkan pesan dan mendorong proses belajar pada diri mereka

sendiri. Namun, pembelajaran adalah gabungan dari elemen manusia,


material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi

untuk mencapai tujuan pembelajaran (Wahab et al., 2021).

Media pembelajaran adalah alat yang digunakan sebagai perantara

antara guru dan siswa untuk meningkatkan komunikasi dan interaksi antara

guru dan siswa. Media pembelajaran hanya mencakup media yang dapat

digunakan secara efektif selama proses pembelajaran yang direncanakan.

Namun, dalam arti luas, media juga mencakup alat-alat sederhana seperti

TV, radio, titik dua, gambar, diagram, bahan buatan guru, dan objek nyata

lainnya. Kami akan bertemu di video berikutnya (Wahab, dkk. 2021).

Media pembelajaran adalah alat yang dapat membangkitkan

perasaan, mendorong pemikiran, dan mengirimkan pesan kepada sasaran,

yaitu siswa. Media disebut media pembelajaran jika mengandung informasi

atau pesan instruksional (Herman, 2024).

Menurut Malapata & Wijayanigsih (2019), "media pembelajaran"

merujuk pada segala bentuk media yang dapat menyampaikan informasi,

merangsang pikiran, perasaan, dan niat siswa, serta memajukan rancangan

proses belajar siswa. Menurut Dariyati, Marhaeni, dan Widiartini (2019),

"media pembelajaran" merujuk pada segala bentuk media yang digunakan

oleh seseorang untuk menyampaikan atau menyebarkan informasi, ide, dan

saran kepada mereka yang menerimanya.

Siswa memahami media pembelajaran yang diberikan lebih muda.

Misalnya, guru menyiapkan bahan-bahan yang mudah diakses seperti stik,


karton, sedotan, kelereng, dan lain-lain untuk mengajarkan konsep

matematika tertentu sesuai kebutuhan. Menyederhanakan konsep yang sulit,

membuat konsep yang agak abstrak menjadi nyata, dan menjelaskan

pengertian atau konsep secara lebih rinci adalah semua manfaat dari bahan

ini (Wahyudi & Hadaming, 2023).

b. Manfaat Media Pembelajaran

Secara umum, manfaat media dalam proses pembelajaran adalah

memungkinkan interaksi yang lebih baik antara guru dan siswa, yang

menghasilkan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Berikut adalah

beberapa manfaat media dalam proses pembelajaran untuk siswa:

1) Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga mereka

dapat menemukan apa yang mereka ingin pelajari. 2) Bahan pembelajaran

akan lebih jelas sehingga siswa dapat memahaminya dengan lebih baik

sehingga mereka dapat mencapai tujuan pembelajaran. 3) Metode

pembelajaran akan lebih bervariasi daripada komunikasi verbal hanya

melalui kata-kata guru, sehingga guru tidak bosan dan tidak kehabisan

tenaga, terutama jika guru mengajar setiap jam.

Berikut adalah beberapa keuntungan praktis dari menggunakan media

pembelajaran dalam proses pembelajaran:

1) Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian, pesan, dan

informasi sehingga memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil

belajar. 2) Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan


perhatian siswa sehingga menimbulkan motivasi untuk belajar dan

memungkinkan interaksi lebih langsung antara siswa dan lingkungannya. 3)

Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan indera.

4) Media pembelajaran dapat memberikan kepada siswa pengalaman yang

sebanding dengan pembelajaran mereka sendiri. 5) Media pembelajaran

dapat memberikan pengalaman yang sama Wahab et al., 2021)

c. Kriteria Media Pembelajaran

Kriteria Media Pembelajaran: Ada beberapa hal yang harus

dipertimbangkan saat memilih media pembelajaran, termasuk tujuan

pembelajaran yang ingin dicapai, kesesuaian dengan kondisi siswa,

ketersediaan perangkat, kualitas teknis, dan biaya. Berikut adalah beberapa

pertimbangan yang harus diperhatikan:

1) Media yang dipilih harus selaras dan mendukung tujuan pembelajaran yang

telah ditetapkan.

2) Aspek materi harus dipertimbangkan saat memilih media, karena sesuai atau

tidaknya antara materi dengan media yang digunakan akan berdampak pada

hasil pembelajaran siswa.

3) Kondisi audien siswa dari segi subjek belajar harus menjadi perhatian yang

serius bagi guru saat memilih media yang sesuai dengan kondisi mereka.

Faktor-faktor seperti karakteristik umum, intelijensi, latar belakang pendirian,

dan faktor-faktor lainnya


4) Media yang dipilih harus dapat menjelaskan secara tepat dan berhasil apa

yang akan disampaikan kepada audiens siswa, sehingga tujuan dapat dicapai

secara optimal.

5) Biaya yang dikeluarkan untuk menggunakan media harus sebanding dengan

hasil yang akan dicapai. Dengan kata lain, menggunakan media yang

sederhana mungkin lebih menguntungkan daripada menggunakan media yang

canggih (teknologi tinggi) jika hasilnya tidak sebanding dengan tujuan.

2. Media Pembelajaran Kantong Perkalian

a. Pengertian Kantong Perkalian

Media kantong perkalian adalah alat sederhana yang ditunjukkan untuk

membantu siswa memahami operasi hitung dalam matematika. Ini disajikan

tentang sifat pertukaran perkalian dengan warna media yang menarik, sehingga

diharapkan siswa menjadi aktif dan terlibat dalam belajar. Fransiska et al., 2023

Media kantong perkalian adalah media visual yang digunakan dalam

pembelajaran matematika untuk membantu siswa memahami materi melalui

perkalian. Media ini terbuat dari styrofoam, yang berukuran 60 cm x 40 cm, dan

memiliki sepuluh kantong yang akan digunakan untuk menaruh stik eskrim yang

akan dihitung; ada satu tempat untuk stik eskrim dan sepuluh kantong terbua.

Media ini dirancang untuk membantu siswa memahami perkalian (Amalia, 2024).

Materi dikirim melalui media papan perkalian yang dilapisi flanel. Media

ini memiliki kantong dengan nomor dari 1 hingga 10 dan stik es krim yang
digunakan untuk melakukan perkalian berulang. Sebagai contoh, ketika guru

memberikan tugas dengan ukuran 3 kali 2, siswa memasukkan stik es krim ke

dalam kantong dengan nomor sejumlah 2 stik es krim di setiap kantong. Papan

perkalian membuat siswa lebih tertarik untuk belajar. Mereka juga akan lebih

mudah memahami materi perkalian karena mereka telah mempelajari konsepnya

sebelum menggunakan media ini (Farazilla et al., 2024).

Gambar

2.1 Media Kantong

Perkalian

b. Cara

menggunakan media kantong perkalian

Berikut cara menggunakan media pembelajaran kantong perkalian:

1) Menjelaskan materi mengenai perkalian terlebih dahulu.

2) Memberikan pertanyaan perkalian

3) Mengambil angka sesuai soal yang diberikan guru.

4) Kemudian menaruh angka di sterofoam.

5) Lalu, ambil stik eskrim dan masukkan ke dalam kantong perkalian sesuai

dengan perintah guru. Misalkan soal perkalian “2 kali 5” 2 sebagai


kantongnya dan 5 adalah stik eskrim yang akan dimasukkan ke dalam 2

kantong.

6) Setelah semua stik eskrim dimasukkan, maka stik eskrim yang

dimasukkan ke dalam kantong perkalian dapat dihitung dan menghasilkan

10 stik eskrim (Amalia, 2024).

c. Kelebihan dan Kekurangan Media Kantong Perkalian

Setiap media pembelajaran pasti terdapat kelebihan dan kekurangan.

Berikut kelebihan media kantong perkalian:

1) Meningkantkan rasa ingin tahu peserta didik sehingga membuat peserta

didik semnagat/antusisas selama proses pembelajaran.

2) Bahan media dibuat menggunakan triplek hingga media akan tahana lama

dan kuat.

3) Tampilan media yang menarik sehingga rasa ingin tahu peserta didik

menambah (Amalia, 2024).

Selain kelebihan, terdapat juga kekurangan media pembelajaran kantong

perkalian, berikut beberapa kekurangan media kantong perkalian:

1) Media kantong perkalian hanya bisa digunakan pada materi perkalian

saja.

2) Dibutuhkan kreativitas untuk dapat menghiasi media agar terlihat

menarik.

3) Membutuhkan waktu yang cukup lama (Amalia, 2024).

3. Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)


a. Model Cooperative Learning

Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT),

yang diciptakan oleh Spencer Kagan pada tahun 1992, dimaksudkan untuk

memberi siswa kesempatan untuk bertukar ide dan memikirkan jawaban terbaik,

menurut Huda. Selain itu, dapat diterapkan untuk semua mata pelajaran dan

tingkatan kelas, dan setiap siswa akan termotivasi untuk meningkatkan semangat

kerja sama mereka (Sulistiani, 2023).

Pembelajaran kooperatif didefinisikan sebagai kegiatan pembelajaran di

mana kelompok orang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, seperti

membuat konsep, mengerjakan tugas, menyelesaikan persoalan, atau melakukan

hal lain (Helmiati, 2023).

Namun, menurut Rohman dalam Ade, pembelajaran kooperatif adalah

model pembelajaran yang menekankan tanggung jawab perseorangan,

komunikasi intensif antar siswa, evaluasi proses kelompok, dan saling

ketergantungan positif antar individu siswa (Sulistiani, 2023).

Pembelajaran kooperatif, menurut Ismun Ali, adalah model belajar yang

melibatkan siswa bekerja sama satu sama lain, sehingga siswa tidak hanya

mencapai kesuksesan secara individual atau saling mengalahkan, tetapi juga

dapat membantu teman belajarnya yang kurang berbakat (Sulistiani, 2023).

b. Langkah-langkah Model Kooperatif Learning

Pembelajaran kooperatif umumnya terdiri dari empat tahap:


1) menyampaikan tujuan pembelajaran

Tujuan dari tahap menyampaikan adalah untuk menyampaikan indikator

apa saja yang ada dalam pembelajaran yang akan diajarkan sebelum

menyampaikan materi. Tujuan utama dari tahap ini adalah untuk

mengetahui indikator apa yang harus dicapai dalam pembelajaran yang

akan datang dengan menyampaikan indikator tersebut secara verbal

sesuai dengan kompetensi yang telah ditulis dalam buku dan modul.

2) penjelasan materi

Sebelum siswa belajar bersama dalam kelompok, tahap penjelasan

dilakukan. Siswa harus memiliki pemahaman yang baik tentang materi

pelajaran pada tingkatan ini. Pada titik ini, guru memberikan gambaran

umum tentang materi pelajaran yang harus dipelajari. berikutnya

3) belajar dalam kelompok

Guru memberikan penjelasan umum tentang materi pelajaran. Siswa

kemudian diharuskan untuk belajar dengan kelompoknya masing-

masing, yang telah diatur sebelumnya.

4) Penilaian

Dalam pembelajaran kooperatif, teknik tes dan kuis dapat digunakan

untuk penilaian. Tes dan kuis dapat dilakukan baik secara individu

maupun kelompok, dan hasil tes individu akan menunjukkan tingkat

pemahaman siswa masing-masing kelompok.

5) pengakuan kelompok
Pengakuan kelompok berarti menentukan kelompok mana yang paling

mencelok atau berprestasi dan pantas menerima penghargaan atau

penghargaan. Tujuan dari pengakuan dan penentuan penghargaan ini

adalah untuk mendorong kelompok lain untuk meningkatkan prestasi

mereka (Alkhairiry, 2020).

c. Pengertian Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)

Menurut Miftahul Huda (2022), Numbered Head Together adalah model

pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi ide-ide

dan mempertimbangkan jawaban terbaik. Model ini juga melibatkan banyak

siswa dalam memperoleh materi pelajaran dan mengevaluasi pemahaman

mereka tentang materi (Islamiyati, 2022).

Menurut Anita Lie, model pembelajaran Numbered Head Together

adalah jenis model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bertukar ide

dan memikirkan jawaban terbaik. Model pembelajaran ini juga mendorong

siswa untuk bekerja sama lebih banyak. Selain itu, model pembelajaran NHT

dapat diterapkan pada semua mata pelajaran dan tingkat usia anak didik

(Islamiyati, 2022).

Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT),

yang diciptakan oleh Spencer Kagan pada tahun 1992, dimaksudkan untuk

memberi siswa kesempatan untuk bertukar ide dan memikirkan jawaban terbaik,

menurut Husriani. Selain itu, ini berlaku untuk semua mata pelajaran dan
tingkatan kelas dan akan mendorong semua siswa untuk meningkatkan semangat

kerja sama mereka. Selain itu, Aris Shoimin menyatakan bahwa model

pembelajaran NHT adalah model berkelompok, di mana setiap anggota

kelompok bertanggung jawab atas tugas yang diberikan oleh kelompoknya. Ini

memungkinkan siswa untuk saling memberi dan menerima antara satu sama lain

(Sulistiani, 2023).

Pola interaksi siswa dipengaruhi oleh model NHT, yang merupakan

alternatif terhadap kelas konvensional. NHT adalah model pembelajaran yang

lebih baik dibandingkan dengan model konvensional. Menurut Jeditia Taliak,

pembelajaran NHT adalah model pembelajaran yang lebih fokus pada tugas

siswa untuk mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai

sumber. Hasilnya, siswa akan mempresentasikan informasi ini di kelas.

Sulistiani, 2023 mengatakan

d. Langkah-langkah Model Pembelajaran Number Head Together (NHT)

Model pembelajaran NHT terdiri dari beberapa tahap. Menurut Ibrahim

dalam Rika, langkah-langkah model tersebut terdiri dari empat langkah:

penomoran, pertanyaan, diskusi, dan jawaban.

Berdasarkan pendapat di atas, langkah-langkah pembelajaran NHT adalah

sebagai berikut:

1) Siswa dibagi ke dalam kelompok; 2) Setiap kelompok diberi nomor; 3)

Guru memberi tugas atau pertanyaan kepada tiap kelompok; 4) Siswa berdiskusi

dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas dan memastikan bahwa semua


anggota kelompok mengetahui jawaban; 5) Guru memanggil salah satu nomor

secara acak; 6) Siswa dengan nomor yang dipanggil mempresentasikan jawaban

dari diskusi kelompok mereka; 7) Guru bersama siswa menyimpulkan penilaian

yang diberikan kepada siswa tentang apa yang mereka lakukan.

e. Kelebihan dan Kekurangan Numbered Head Together (NHT)

Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran NHT dijelaskan di bawah ini.

Kelebihan model pembelajaran NHT, menurut Aris Shoiman, adalah

sebagai berikut: setiap siswa siap; mereka dapat berbicara dengan sungguh-

sungguh; siswa yang cerdas dapat mengajar siswa yang kurang cerdas; ada

interaksi intens antarsiswa saat menjawab pertanyaan; dan, karena jumlah siswa

yang dibatasi, tidak ada siswa yang mendominasi kelompok (Sulistiani, 2023).

Selain itu, Ega Gantini menyatakan bahwa model pembelajaran NHT

memiliki beberapa keunggulan, yaitu: siswa dapat bekerja sama untuk mencapai

tujuan; siswa aktif membantu satu sama lain untuk keberhasilan bersama; dan

model ini mengajarkan siswa untuk menyampaikan pendapat mereka dengan cara

yang dapat diterima dan dipahami oleh rekan sekelas mereka (Sulistiani, 2023).

Kelebihan model NHT, menurut Andi dan Nining, adalah sebagai berikut:

1) siswa dapat memperoleh pemahaman yang kuat; 2) mereka akan menjadi lebih

termotivasi untuk belajar; 3) mereka akan memperoleh keterampilan sosial, atau

keterampilan sosial; 4) mereka akan menjadi lebih akrab dengan teman mereka;
5) mereka akan menjadi lebih baik dalam leadership dan jiwa sosial mereka; 6)

mereka dapat menanamkan rasa ingin tahu kepada siswa.

Sedangkan kekurangannya menurut Aris Shoimin yaitu: 1) tidak terlalu

cocok diterapkan dalam jumlah siswa banyak karena membutuhkan waktu yang

lama; 2) tidak semua anggota Namun, menurut Aris Shoimin, ada beberapa

kekurangannya, yaitu: 1) tidak cocok untuk diterapkan dalam jumlah siswa yang

besar karena membutuhkan waktu yang lama; dan 2) guru mungkin tidak

memanggil semua anggota kelompok karena waktu yang terbatas (Sulistiani,

2023) kelompok dipanggil oleh guru karena kemungkinan waktu yang terbatas

(Sulistiani, 2023).

Sependapat dengan itu, Ega Gantini menyatakan bahwa kekurangan NHT

meliputi: 1) waktu yang cukup lama, sehingga guru harus memperhitungkannya

untuk mencegah penghamburan waktu; 2) adanya anggota kelompok yang tidak

atau kurang aktif; dan 3) dominasi siswa dengan kemampuan di atas rata-rata

(Sulistiani, 2023).

Menurut Andi dan Nining, model NHT memiliki kekurangan berikut: 1)

membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk jumlah siswa yang

banyak; dan 2) guru tidak memanggil semua anggota kelompok

(Sulistiani, 2023).

B. Hasil Penelitian Relevan

Beberapa penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini adalah:


1. Penelitian yang dilakukan Alifia Regita Astari pada Tahun 2023 dalam

penelitiannya yang berjudul “Meningkatkan Pemahaman Siswa Pada

Pembelajaran Matematika Kompetensi Dasar Perkalian Dengan Media

Papan Perkalian Pintar Di Sekolah Dasar” Siklsus I pertemuan satu sebanyak

33,8%, siklus I pertemuan dua 37,6% dengan peningkatan sebesar 3,8%.

Pada siklus II pertemuan satu 50,95% dengan peningkatan sebesar 13,35%

dan pertemuan kedua 84,52% mengalami peningkatan sebesar 33,57%. Pada

pratindakan ketuntasan klasikal 32,4%, pada tes siklus I ketuntasan klasikal

41,2% dengan peningkatan 8,8%, pada tes siklus II ketuntasan mencapai

73,80% dengan peningkatan 32,6%. Dari hasil penelitian ini diharapkan guru

mampu meningkatkan proses pembelajaran di kelas, sehingga pemahaman

tentang perkalian siswa di kelas juga meningkat, guru disarankan agar dapat

menggunkana media pembelajaran saat proses pembelajaran berlangsung,

2. Hasil penelitian dua siklus pada materi perkalian siswa kelas III SDN

Kertosari 01 Madiun berjudul "Meningkatkan pemahaman konsep perkalian

melalui media pembelajaran papan perkalian pada siswa kelas III SDN

Kertosari 01 Madiun" menunjukkan bahwa menggunakan media papan

perkalian dapat membantu siswa memahami konsep perkalian. Hasil belajar

siswa kelas III SDN Kertosari 01 meningkat dari pra siklus hingga siklus

dua. Hasil belajar mereka meningkat sebesar 25% pada pra siklus, sebesar
50% pada siklus pertama, dan sebesar 87,5% pada siklus kedua. Ini

menunjukkan bahwa alat perkalian dapat membantu siswa belajar.

3. Dalam penelitian mereka pada tahun 2023 yang berjudul "Meningkatkan

Hasil Belajar Matematika Tentang Pemahaman Konsep Dasar Perkalian

Kelas III SD Menggunakan Media", Mahluddin, Kiki Fatmawati, dan Irwan

Kurniawan menemukan bahwa penggunaan media pembelajaran dapat

meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam siklus I, ketuntasan klasikal

mencapai 66,67%, dan pada siklus II, ketuntasan klasikal meningkat menjadi

86,67%. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa

4. Hasil penelitian "Meningkatkan Pemahaman Konsep Perkalian Matematika

Pada Siswa Kelas III Sekolah Dasar Dengan Menggunakan LKPD

Berbantuan Media Kantong Perkalian Matematika" pada tahun 2021 oleh

Agus Lina Silvia, Rosiana Mufliva, Asyifa Nurjannah, dan Ava Tiara

Cahyaningsih menunjukkan bahwa LKPD dan media pembelajaran kantong

perkalian matematika adalah bidang yang layak untuk mengkaji pemahaman

konsep perkalian matematika siswa

5. Hasil penelitian "Pelaksanaan Lesson Study Menggunakan Media Kantong

Bilangan Perkalian Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika

Kelas III Sekolah Dasar", yang ditulis oleh Maria Fransiska Nae Ruda,

Yohanes Ehe Lawotan, dan Hermus Hero pada tahun 2023, menunjukkan

hasil penilaian tahapan lesson study sebesar 89,47 persen, hasil pengamatan

aktivitas siswa sebesar 78,65 persen, dan hasil nilai tes dari 27 siswa
menunjukkan bahwa 13 (4 Hal ini menunjukkan bahwa siswa memiliki hasil

belajar yang lebih baik.

C. Kerangka Pikir

Pelajaran matematika tidak menarik dan membosankan, yang menyebabkan

siswa kurang memahami konsep perkalian. Siswa lebih cenderung menghafal

perkalian saat belajar perkalian daripada memahami konsepnya. Kondisi ini

menunjukkan bahwa siwa tidak memahami konsep perkalian dengan baik. Oleh

karena itu, proses pembelajaran harus diubah agar siswa memahami konsep perkalian

dengan lebih baik dan mengurangi keinginan mereka untuk belajar matematika.

Model Numbered Head Together (NHT) berbantuan media kantong perkalian

membantu memahami konsep perkalian. Siswa lebih tertarik untuk mengikuti proses

pembelajaran karena proses ini lebih menyenangkan. Berikut adalah beberapa

gambaran dari kerangka penelitian ini.

Siswa diharapkan Pada kenyataannya


memahami konsep siswa tidak memahami
dasar dari perkalian konsep dasar dari
Kondisi Awal
serta siswa mampu perkalian, serta siswa
memahami pola- juga tidak memahami
pola perkalian pola perkalian

Kurangnya
1. Perencanaan
pemahan konsep
2. Tindakan
Tindakan perkalian sehingga 3. Observasi
akan sulit 4. Refleksi
memahami materi
selanjutnya

Kondisi Akhir Setelah melakukan


pembelajaran
D. Hipotesis Tindakan

Hipotesis penelitian ini berdasarkan rumusan masalah dan kerangka pikir di

atas adalah bahwa siswa di kelas III SD Negeri Alluka mungkin lebih memahami

konsep perkalian jika model pembelajaran kepala nomor (NHT) dengan bantuan

kantong perkalian diterapkan.

Anda mungkin juga menyukai