0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan15 halaman

Asuhan Keperawatan RDS pada Bayi

Dokumen ini membahas tentang Respiratory Distress Syndrome (RDS) pada bayi, termasuk definisi, etiologi, manifestasi klinis, klasifikasi, patofisiologi, komplikasi, penatalaksanaan medis, dan rencana asuhan keperawatan. RDS disebabkan oleh kurangnya surfaktan dan dapat mengakibatkan kegagalan pernapasan yang serius. Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut pada neonatus.

Diunggah oleh

rukaiyah bahjatul
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan15 halaman

Asuhan Keperawatan RDS pada Bayi

Dokumen ini membahas tentang Respiratory Distress Syndrome (RDS) pada bayi, termasuk definisi, etiologi, manifestasi klinis, klasifikasi, patofisiologi, komplikasi, penatalaksanaan medis, dan rencana asuhan keperawatan. RDS disebabkan oleh kurangnya surfaktan dan dapat mengakibatkan kegagalan pernapasan yang serius. Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut pada neonatus.

Diunggah oleh

rukaiyah bahjatul
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA BAYI DENGAN RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME

DI RSUD R.T. NOTOPURO SIDOARJO

RDS

Oleh :

RUKAIYAH BAHJATUL IMANIYA [Link]

NIM : 2432000003

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS NURUL JADID

PAITON-PROBOLINGGO

2025
1. Definisi Respiratory Distress Syndrome

Bayi yang mengalami BBLR harus diperhatikan pada fungsi pernapasan, karena pengatur

pernapasan pada bayi BBLR masih belum sempurna seperti kekurangan surfaktan dan dapat

menyebabkan RDS pada bayi. RDS adalah istilah yang biasanya digunakan untuk masalah

penyakit disfungsi pernapasan pada neonatus atau bayi. Gangguan ini merupakan penyakit yang

berhubungan dengan imaturitas paru sehingga tidak berkembang dengan baik atau tidak

adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru (Marmi & Rahardjo, 2018). Hal ini dapat menyebabkan

bayi mengalami pola napas tidak efektif. Pola napas tidak efektif adalah insprirasi dan ekspirasi

yang tidak memberikan ventilasi yang adekuat (Tim Pokja SDKI, 2016).

RDS Juga disebut Dengan Sebagai Hyaline Membrane Disease Merupakan Disfungsi

Pernafasan yang Terjadi Ketika Bayi Baru [Link] Ini Ditandai dengan Kegagalan

Bernafas Spontan Dan Teratur Segera Setelah Persalinan(Wahyuni,2020)

2. Etiologi Respiratory Distress Syndrome

Penyebab kegagalan pernafasan pada neonatus yang terdiri dari faktor ibu, faktor plasenta,

faktor janin dan faktor persalinan. Faktor ibu meliputi hipoksia pada ibu, usia ibu kurang dari 20

tahun atau lebih dari 35 tahun, gravida empat atau lebih, sosial ekonomi rendah, maupun

penyakit pembuluh darah ibu yang mengganggu pertukaran gas janin seperti hipertensi, penyakit

jantung, diabetes melitus, dan lain-lain. Faktor plasenta meliputi solusio plasenta, perdarahan

plasenta, plasenta kecil, plasenta tipis, plasenta tidak menempel pada [Link] janin atau

neonatus meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher, kompresi tali pusat antara janin

dan jalan lahir, gemeli, prematur, kelainan kongenital pada neonatus dan lain-lain. Faktor

persalinan meliputi partus lama, partus dengan tindakan dan lain-lain. Sindroma gagal nafas

adalah perkembangan imatur pada sistem pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan

pada paru- paru-paru. Sementara afiksia neonatorum merupakan gangguan pernafasan akibat

ketidakmampuan bayi beradaptasi terhadap asfiksia. Biasanya masalah ini disebabkan karena

adanya masalah-masalah kehamilan dan pada saat persalinan (Marmi & Rahardjo, 2018).

Penyebab yang sering terjadi pada respiratory distress syndrome (RDS) adalah kurangnya

surfaktan pada paru-paru. Surfaktan adalah cairan yang melapisi bagian dalam paru-paru. Paru-
paru janin mulai membuat surfaktan selama trimester ketiga kehamilan (minggu 26 melalui

persalinan). Yaitu suatu substansi bagian dalam kantung udara di paru-paru. Hal ini yang

membantu dan menjaga paru-paru terbuka sehingga pemapasan dapat terjadi setelah lahir

(NHLBI, 2018).

3. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis Sindrom Gangguan Pernapasan (RDS) pada bayi baru lahir menurut

(Hidajat & Firdaus, 2021) meliputi:

 Peningkatan frekuensi nafas : > 60x/menit

 Retraksi dada, yaitu tulang rusuk dan tulang dada tertarik ke dalam saat bayi bernapas

 Lubang hidung melebar

 Warna kulit biru (sianosis)

 Apnea, yaitu henti napas

 Peningkatan kebutuhan oksigen secara tiba-tiba

 Upaya pernapasan yang berat

4. Klasifikasi

klasifikasi RDS Menurut (Haryani dkk, 2021 antara lain :

 Sindrom gawat nafas klasik atau Classic Respiratory Distress Syndrome, disebabkan

karena kekurangan aerasi (underaration). Volume paru-paru yang menurun, parenkim

paru-paru yang memiliki polaretikulogranurer difusi, dan terdapat gambaran bronkogram

udara yang meluas ke perifer.

 Sindrom gawat nafas sedang-berat atau Moderately Severe Respiratory Distress

Syndrome, polaretikulogranuler terlihat lebih menonkol dan terdistribusi lebih merata.

Paru-paru hypoaerated. Terlihat pada gambaran bronkogram udara yang meningkat.

 Sindrom gawat nafas berat atau Severe Respiratory Distress Syndrom, terdapat

retikulogranuler yang berbentuk opaque pada kedua paru-paru pada area cystic pada

paru-paru kanan yang dapat menunjukkan alveoli yang berdilatasi atau

empisemaintertitial
5. Patofisiologi

Kegawatan pernafasan dapat terjadi pada bayi dengan gangguan pernafasan yang dapat

menimbulkan dampak yang cukup berat bagi bayi berupa kerusakan otak atau bahkan kematian.

Akibat dari gangguan pada sistem pernafasan adalah terjadinya kekurangan oksigen (hipoksia)

pada tubuh bayi akan beradaptasi terhadap kekurangan oksigen dengan mengaktifkan

metabolisme anaerob. Apabila keadaan hipoksia semakin berat dan lama, metabolisme anaerob

akan menghasilkan asam laktat. Penurunan surfaktan menyebabkan peningkatan usaha nafas

untuk ekspansi paru pada setiap nafas dan meningkatkan kemungkinan kolaps alveolar pada akhir

ekspirasi. Pasien RDS biasanya akan mengalami ketidaksesuaian antara ventilasi-perfusi yang

akan berakhir menjadi hipoksemia. Pada saat bernafas, stres pada alveoli dan bronkiolus

terminalis terjadi akibat dari usaha repetitif untuk membuka kembali alveoli yang kolaps dan

distensi yang berlebih pada alveoli yang terbuka. Tekanan tersebut dapat merusak struktur paru

sehingga terjadi kebocoran debris proteinaseosa ke jalan nafas. Debris dapat semakin

mengganggu fungsi surfaktan sehingga akan menyebabkan gagal nafas Dengan memburukya

keadaan asidosis dan penurunan aliran darah keotak maka akan terjadi kerusakan otak dan organ

lain karena hipoksia dan iskemia. Pada stadium awal terjadi hiperventilasi diikuti stadium apneu

primer. Pada keadaan ini bayi tampak sianosis, tetapi sirkulasi darah relative masih baik. Curah

jantung yang meningkat dan adanya vasokontriksi perifer ringan menimbulkan peninggkatan

tekanan darah dan reflek bradikardi ringan. Depresi pernafasan pada saat ini dapat diatasi

dengaan meningkatkan implus aferen seperti perangsangan pada kulit. Apneu normal

berlangsung sekitar 1-2 menit. Apnea primer dapat memanjang dan diikuti dengan memburuknya

sistem sirkulasi. Hipoksia miokardium dan asidosis akan memperberat bradikardi, vasokontraksi

dan hipotensi. Keadaan ini dapat terjadi sampai 5menit dan kemudian terjadi apneu sekunder.

Selama apneu sekunder denyut jantung, tekanan darah dan kadar oksigen dalam darah terus

menurun. Bayi tidakbereaksi terhadap rangsangan dan tidak menunjukkan upaya pernafasan

secara spontan. Kematian akan terjadi kecuali pernafasan buatan dan pemberian oksigen segera

dimulai (Suminto, 2020).


6. Pathway

Kurang surfaktan Keterlambatan


pematangan paru
7. Komplikasi

Komplikasi RDS menurut (Haryani dkk, 2021), antara lain :

a. Ruptur Alveoli Bila dicurigai terjadi kebocoran udara (pneumothoraks,

pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema interstitial) pada bayi dengan RDS

yang tiba-tiba kondisinya memburuh dengan gejala apnea atau bradikardia.

[Link]

Terjadi karena keadaan yang memburuk dan adanya perubahan jumlah leukosit dan

trombositopenia. Infeksi timbul karena tindakan invasif seperti pemasangan alat respirasi

dan jarum vena.

[Link] Intra Kranial leukomalasia periventrikular

Perdarahan intraventrikular terjadi pada 20 – 40% bayi prematur dengan frekuensi

terbanyak pada bayi RDS. d. PDA (Peningkatan Duktus Arterious) dengan peningkatan

shunting dari kiri ke kanan Komplikasi pada bayi dengan RDS terutama pada bayi yang

dihentikan terapi surfaktannya.

8. Penatalaksanaan Medis

Neonatus yang mengalami RDS harus ditangani secepatnya agar tidak menimbulkan

komplikasi yang tidak diinginkan (Fida & Maya, 2021). Berikut beberapa pengobatan yang bisa

dilakukan:

a. Lingkungan yang Optimal

Suhu tubuh harus selalu diusahakan agar tetap dalam batas normal (36, 5 -

37◦C). Untuk memperoleh suhu ini, anak bisa diletakkan di dalam inkubator.

Kelembapan ruangan juga harus adekuat, yaitu 70-80%.

b. Pemberian Oksigen

Pemberian oksigen harus hati-hati karena dapat berpengaruh kompleks

terhadap bayi yang lahir prematur. Untuk mencegah timbulnya komplikasi

tersebut, pemberian O2 sebaiknya dikuti dengan pemeriksaan analisis gas darah.


Tekanan jalan napas positif secara kontinu melalui kanul nasal untuk mencegah

kehilangan volume selama ekspirasi.

c. Pemberian surfaktan eksogen

Kemajuan terakhir dalam pengobatan pasien PMH adalah pemberian

surfaktan eksogen melalui endotrakbeal tube. Obat ini terbukti sangat efektif

dalam mengobati terjadinya RDS.

d. Pemberian Antibiotik

Pemberian antibiotik bertujuan mencegah infeksi sekunder. Bayi dapat diberi penisilin

dengan dosis 5.0000-10.0000 U/kg BB/hari dengan atau tanpa gentamicin 3-5/kg

BB/hari

9. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan AGD didapat adanya hipoksemia kemudian hiperkapni dengan asidosis

respiratorik.

b. Pemeriksaan radiologis, mula-mula tidak ada kelainan jelas pada foto dada, setelah 12-24 jam

akan tampak infiltrate alveolar tanpa batas yang tegas diseluruh paru.

c. Biopsi paru, terdapat adanya pengumpulan granulosit secara abnormal dalam parenkim paru.

(Alomedika, 2019)

10. Rencana Asuhan Keperawatan

a. Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah awal dalam asuhan keperawatan melalui pendekatan

proses keperawatan yang bertujuan untuk pengumpulan data atau informasi, analisis data dan

penentuan permasalahan atau diagnosis keperawatan. Manfaat pengkajian keperawatan adalah

membantu mengidentifikasi status kesehatan, pola pertahanan klien, kekuatan serta

merumuskan diagnosa keperawatan yang terdiri dari tiga tahap yaitu pengumpulan,

pengelompokan dan pengorganisasian serta menganalisa dan merumuskan diagnosa

keperawatan (Wahit Iqbal Mubarak, dkk 2018).


 Riwayat Penyakit

Kaji riwayat kehamilan sekarang (apakah selama hamil ibu menderita hipotensi

atau perdarahan)

Kaji riwayat neonatus (lahir afiksia akibat hipoksia akut, terpajan pada keadaan

hipotermia)

Kaji Riwayat keluarga

Kaji nilai apgar rendah (bila rendah di lakukkan tindakan resustasi pada bayi)

Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan tanda dan gejala RDS. Seperti: takipnea

(>60x/menit), pernapasan mendengkur, retraksi dinding dada, pernapasan cuping

hidung, pucat, sianosis, apnea.

 Pemeriksaan fisik:

 berat badan sama dengan kurang atau kurang dari 2500 gram, Panjang badan sama

dengan atau kurang dari 46 cm, lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm,

lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm, lingkar lengan atas, lingkar perut,

keadaan rambut tipis, halus, lanugo pada punggung dan wajah, pada wanita klitoris

menonjol, sedangkan pada laki-laki skrotum belum berkembang, tidak menggantung

dan testis belum turun, nilai APGAR pada menit ke 1 dan ke 5, kulit keriput.

 Pengkajian head to toe

1. Keadaan umum Kebersihan anak: Keadaan kulit, Kesadaran

2. Ukuran-ukuran: Berat badan, Tinggi badan, Lingkar kepala, Lingkar lengan

3. Gejala cardinal: Suhu, Tekanan darah, Nadi, Pernafasan

4. Keadan fisik:

a. Kepala

Kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal hematom, ubun-ubun

besar cekung atau sembung kemungkinan adanya peningkatan TIK


b. Mata

Warna konjungtiva anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding konjungtiva, warna

seklera tidak kuning, pupil menunjukkan refleksi terhadap Cahaya

c. Hidung

Terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan lendir

d. Mulut

Bibir berwarna pucat ataupun merah, ada lendir atau tidak

e. Telinga

Perhatikan kebersihannya dan adanya kelainan

f. Leher

Perhatikan kebersihannya karena leher neonatus pendek

g. Horax

Bentuk simetris, terdapat tarikan intercostal, perhatikan suara wheezing dan

ronchi, frekuenmsi bunti jantung lebih dari 100x/menit

h. Abdomen

Bentuk silindris, hepar bayi terletak 1-2 cm dibawah arcus costae pada garis

papilla mame, lien tidak terba, perut buncit berarti adanya asites atau tumor, perut

cekung adanya hernia diafragma, bising usus timbul 1-2 jam setelah masa kelahiran

bayi, sering terdapat retensi karena GI tract belum sempurna

i. Umbilicus

Tali pusat layu, perhatikan ada perdarahan atau tidak, adanya tanda-tanda infeksi

pada tali pusat

j. Genitalia

Pada neonatus aterm testis turun, lihat adakan kelainan letak muara uretra pada

neonatus laki-laki, neonatus Perempuan lihat labia mayora dan labia minora, adanya

sekresi mucus keputihan, kadang perdarahan


k. Anus

Perhatikan adanta darah dalam tinja, frekuensi buang air besar serta warna dari

feses

l. Ekstremitas

Warna biru, Gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah tulang atau

adanya kelumpuhan syaraf atau keadaan jari-jari serta jumlahnya.

b. Diagnosa
Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
 D.0001 Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret
pada paru-paru d.d Sputum Berlebih
 D.0003 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran
alveolar-kapiler d.d Sianosis
 D.0005 Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi d.d Tekanan
Ekspirasi Menurun

No DIAGNOSA SLKI SIKI


KEPERAWATAN
L.01001 Bersihan Jalan Nafas I.01013
1. D.0001 Bersihan jalan napas Tujuan: Manajemen Ventilasi
tidak efektif berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Mekanik
dengan penumpukan sekret pada 3x24 jam diharapkan bisa mempertahankan Observasi
paru-paru d.d Sputum Berlebih jalan nafas tetap paten. Dengan kriteria  Periksa indikasi
hasil. ventilator mekanik
Kriteria hasil: (missal. Kelelahan
1. Produksi sputum menurun oot nafas, disfungsi
dengan skala 5. neurologis,
2. Mengi menurun dengan skala 5. asidosis
3. Wheezing menurun dengan aspiratorik).
skala 5.  Monitor efek
4. Mekonium (pada neonatus) ventilator terhadap
menurun dengna skala 5. status oksigenasi
(missal. Bunyi
Frekensi nafas dan pola nafas membaik paru, x ray paru,
dengan skala 5. AGD, SaO2,
SvO2, ETCO2,
respon subyektif
pasien).
 Monitor kriteria
perlunya
penyapihan
ventilator.
 Monitor efek
negative ventilator
(missal. Deviasi
trakea, barotrauma, voutraum
 Monitor gejala
peningkatan
pernapasan (miss
 Monitor kondisi
yang meningkatkan konsum
 Monitor gangguan
mukosa oral, nasal,
trakea, dan laring.
Terapeutik:
 Atur posisi 40-60
derajat untuk
mencegah aspirasi.
 Reposisi pasien
setiap 2 jam, jika
perlu
 Lakukan
perawatan mulut
secara rutin,
termasuk sikat gigi
setiap 12 jam
 Lakukan fisioterapi
dada, jika perlu
 Lakukan
penghisapan lender
sesuai kebutuhan
 Ganti sirkuit
ventilator setiap 24
jam atau sesuai
protocol
 Siapkan bagvalve
mask di samping
tempat tidur untuk
antisipasi
malfungsi mesin
 Berikan media
untuk
berkomunikasi
(missal. Kertas,
pulpen)
 Dokumentasikan resp
Kolaborasi
 Kolaborai
pemilihan mode
ventilator (missal.
Control volume,
control tekanan
atau gabungan)
 Kolaborasi
pemberian agen
pelumpuh otot,
sedative, analgesic,
sesuai kebutuhan
Kolaborasi penggunaan
PS atau PEEP untuk
meminimalkan
hipoventilasi alveolus
L.01003 Pertukaran Gas I.01026 Terapi
2. D.0003 Gangguan pertukaran Tujuan: Oksigen Observasi:
gas berhubungan dengan
perubahan membran alveolar-
Setelah dilakukan tindakan keperawatan  Monitor kecepatan
3x24 jam diharapkan gangguan pertukaran aliran oksigen
kapiler d.d Sianosis gas menurun, dengan kriteria hasil.  Monitor posisi alat
Kriteria Hasil: terapi oksigen
1. Tingkat kesadaran membaik  Monitor aliran
dengan skala 5. oksigen secara
2. Dispnea menurun dengan skala 5. periodic dan
3. Takikardi membaik dengan pastikan fraksi yang
skala 5. diberikan cukup
4. Pola nafas membaik dengan skala 5.  Monitor efektifitas
terapi oksogen
Warna kulit membaik dengan skala 5 (missal. Oksimetri,
Analisa gas darah),
jika perlu
 Monitor
kemampuan
melepaskan
oksigen saat
makan
 Monitor tanda tanda
hipoventilasi
 Monitor tanda dan
gejala toksikasi
oksigen dan
atelectasis
 Monitor tingkat
kecemasan akibat
terapi oksigen
 Monitor intregitas
mukosa hidung
akibat pemasangan
oksigen
Terapeutik:
 Bersihkan secret
pada mulut,
hidung dan trakea,
jika perlu
 Pertahankan
kepatenan jalan
nafas
 Siapkan dan
atur peralatan
pemberian
oksigen
 Berikan oksigen
tambahan, jika
perlu
 Tetap berikan
oksigen saat
pasien
ditransportasi
 Gunakan
perangkat
oksigen yang
sesuai dengan
tingkat mobilitas
pasien
Edukasi
Ajarkan pasien dan
keluarga cara
menggunakan oksigen
di rumah
Kolaborasi
 Kolaborasi
penentuan dosis
oksigen
 kolaborasi penggunaa
oksigen saat aktivitas
dan/atau tidur
L.01004 Pola Napas I.01013Manajemen
3. D.0005 Pola nafas tidak efektif Tujuan: Ventilasi Mekanik
berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Observasi
hiperventilasi d.d Tekanan
Ekspirasi Menurun
3x24 jam diharapkan pola napas membaik,  Periksa indikasi
dengan kriteria hasil. ventilator mekanik
Kriteria Hasil: (missal. Kelelahan
1. Ventilasi semenit meningkat otot nafas,
dengan skala 5. disfungsi
2. Dispnea menurun dengan skala 5. neurologis,
3. Penggunaan otot bantu napas asidosis
menurun dengan skala 5. aspiratorik).
4. Frekuensi napas membaik  Monitor efek
dengan skala 5. ventilator terhadap
status oksigenasi
Kedalaman napas membaik dengan (missal. Bunyi
skala 5. paru, x ray paru,
AGD, SaO2,
SvO2, ETCO2,
respon subyektif
pasien).
 Monitor kriteria
perlunya
penyapihan
ventilator.
 Monitor efek
negative ventilator
(missal. Deviasi
trakea, barotrauma, voutraum
 Monitor gejala
peningkatan
pernapasan (miss
 Monitor kondisi
yang meningkatkan konsum
 Monitor gangguan
mukosa oral, nasal,
trakea, dan laring.
Terapeutik:
 Atur posisi 40-60
derajat untuk
mencegah aspirasi.
 Reposisi pasien
setiap 2 jam, jika
perlu
 Lakukan
perawatan mulut
secara rutin,
termasuk sikat gigi
setiap 12 jam
 Lakukan fisioterapi
dada, jika perlu
 Lakukan
penghisapan lender
sesuai kebutuhan
Ganti sirkuit ventilator
setiap 24 jam atau sesuai
protokol kesehatan
 Siapkan bagvalve
mask di samping
tempat tidur untuk
antisipasi
malfungsi mesin
 Berikan media
untuk
berkomunikasi
(missal. Kertas,
pulpen)
 Dokumentasikan resp
Kolaborasi
 Kolaborai
pemilihan mode
ventilator (missal.
Control volume,
control tekanan
atau gabungan)
 Kolaborasi
pemberian agen
pelumpuh otot,
sedative, analgesic,
sesuai kebutuhan
Kolaborasi penggunaan
PS atau
PEEP untuk
meminimalkan
hipoventilasi alveolus

DAFTAR PUSTAKA

Agrina, M. F., Toyibah, A., & Jupriyono. (2016). Tingkat Kejadian Respiratory Distress
Syndrome (RDS) Antara Bblr Preterm Dan Bblr Dismatur. Jurnal Sain Veteriner, 3(2),
125–131.
Novitasari, A., Hutami, M. S., & Pristya, T. Y. R. (2020). Pencegahan dan Pengendalian BBLR
Di Indonesia: Systematic Review. Pencegahan Dan Pengendalian Bblr Di Indonesia , 2
(3),175–182. [Link]
PPNI, 2017. Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik,
Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI
PPNI, 2019. Standart Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Criteria Hasil Keperawatan
Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI
PPNI, 2018. Standart Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan,
Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI
Yosefa Moi, M. (2019). Askep Pada Bayi Ny. T Dengan RDS diruangan NHCU RSUD
[Link].W.Z. Johanes Kupang. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9),
1689–1699.
[Link] YOSEFA [Link] Sudarti
& Fauziah. (2013). Asuhan Neonatus Resiko Tinggi dan Kegawatan. CetakanI. Yogyakarta:
Nuha medika

Anda mungkin juga menyukai