Asuhan Keperawatan RDS pada Bayi
Asuhan Keperawatan RDS pada Bayi
RDS
Oleh :
NIM : 2432000003
PAITON-PROBOLINGGO
2025
1. Definisi Respiratory Distress Syndrome
Bayi yang mengalami BBLR harus diperhatikan pada fungsi pernapasan, karena pengatur
pernapasan pada bayi BBLR masih belum sempurna seperti kekurangan surfaktan dan dapat
menyebabkan RDS pada bayi. RDS adalah istilah yang biasanya digunakan untuk masalah
penyakit disfungsi pernapasan pada neonatus atau bayi. Gangguan ini merupakan penyakit yang
berhubungan dengan imaturitas paru sehingga tidak berkembang dengan baik atau tidak
adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru (Marmi & Rahardjo, 2018). Hal ini dapat menyebabkan
bayi mengalami pola napas tidak efektif. Pola napas tidak efektif adalah insprirasi dan ekspirasi
yang tidak memberikan ventilasi yang adekuat (Tim Pokja SDKI, 2016).
RDS Juga disebut Dengan Sebagai Hyaline Membrane Disease Merupakan Disfungsi
Pernafasan yang Terjadi Ketika Bayi Baru [Link] Ini Ditandai dengan Kegagalan
Penyebab kegagalan pernafasan pada neonatus yang terdiri dari faktor ibu, faktor plasenta,
faktor janin dan faktor persalinan. Faktor ibu meliputi hipoksia pada ibu, usia ibu kurang dari 20
tahun atau lebih dari 35 tahun, gravida empat atau lebih, sosial ekonomi rendah, maupun
penyakit pembuluh darah ibu yang mengganggu pertukaran gas janin seperti hipertensi, penyakit
jantung, diabetes melitus, dan lain-lain. Faktor plasenta meliputi solusio plasenta, perdarahan
plasenta, plasenta kecil, plasenta tipis, plasenta tidak menempel pada [Link] janin atau
neonatus meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher, kompresi tali pusat antara janin
dan jalan lahir, gemeli, prematur, kelainan kongenital pada neonatus dan lain-lain. Faktor
persalinan meliputi partus lama, partus dengan tindakan dan lain-lain. Sindroma gagal nafas
adalah perkembangan imatur pada sistem pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan
pada paru- paru-paru. Sementara afiksia neonatorum merupakan gangguan pernafasan akibat
ketidakmampuan bayi beradaptasi terhadap asfiksia. Biasanya masalah ini disebabkan karena
adanya masalah-masalah kehamilan dan pada saat persalinan (Marmi & Rahardjo, 2018).
Penyebab yang sering terjadi pada respiratory distress syndrome (RDS) adalah kurangnya
surfaktan pada paru-paru. Surfaktan adalah cairan yang melapisi bagian dalam paru-paru. Paru-
paru janin mulai membuat surfaktan selama trimester ketiga kehamilan (minggu 26 melalui
persalinan). Yaitu suatu substansi bagian dalam kantung udara di paru-paru. Hal ini yang
membantu dan menjaga paru-paru terbuka sehingga pemapasan dapat terjadi setelah lahir
(NHLBI, 2018).
3. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis Sindrom Gangguan Pernapasan (RDS) pada bayi baru lahir menurut
Retraksi dada, yaitu tulang rusuk dan tulang dada tertarik ke dalam saat bayi bernapas
4. Klasifikasi
Sindrom gawat nafas klasik atau Classic Respiratory Distress Syndrome, disebabkan
Sindrom gawat nafas berat atau Severe Respiratory Distress Syndrom, terdapat
retikulogranuler yang berbentuk opaque pada kedua paru-paru pada area cystic pada
empisemaintertitial
5. Patofisiologi
Kegawatan pernafasan dapat terjadi pada bayi dengan gangguan pernafasan yang dapat
menimbulkan dampak yang cukup berat bagi bayi berupa kerusakan otak atau bahkan kematian.
Akibat dari gangguan pada sistem pernafasan adalah terjadinya kekurangan oksigen (hipoksia)
pada tubuh bayi akan beradaptasi terhadap kekurangan oksigen dengan mengaktifkan
metabolisme anaerob. Apabila keadaan hipoksia semakin berat dan lama, metabolisme anaerob
akan menghasilkan asam laktat. Penurunan surfaktan menyebabkan peningkatan usaha nafas
untuk ekspansi paru pada setiap nafas dan meningkatkan kemungkinan kolaps alveolar pada akhir
ekspirasi. Pasien RDS biasanya akan mengalami ketidaksesuaian antara ventilasi-perfusi yang
akan berakhir menjadi hipoksemia. Pada saat bernafas, stres pada alveoli dan bronkiolus
terminalis terjadi akibat dari usaha repetitif untuk membuka kembali alveoli yang kolaps dan
distensi yang berlebih pada alveoli yang terbuka. Tekanan tersebut dapat merusak struktur paru
sehingga terjadi kebocoran debris proteinaseosa ke jalan nafas. Debris dapat semakin
mengganggu fungsi surfaktan sehingga akan menyebabkan gagal nafas Dengan memburukya
keadaan asidosis dan penurunan aliran darah keotak maka akan terjadi kerusakan otak dan organ
lain karena hipoksia dan iskemia. Pada stadium awal terjadi hiperventilasi diikuti stadium apneu
primer. Pada keadaan ini bayi tampak sianosis, tetapi sirkulasi darah relative masih baik. Curah
jantung yang meningkat dan adanya vasokontriksi perifer ringan menimbulkan peninggkatan
tekanan darah dan reflek bradikardi ringan. Depresi pernafasan pada saat ini dapat diatasi
dengaan meningkatkan implus aferen seperti perangsangan pada kulit. Apneu normal
berlangsung sekitar 1-2 menit. Apnea primer dapat memanjang dan diikuti dengan memburuknya
sistem sirkulasi. Hipoksia miokardium dan asidosis akan memperberat bradikardi, vasokontraksi
dan hipotensi. Keadaan ini dapat terjadi sampai 5menit dan kemudian terjadi apneu sekunder.
Selama apneu sekunder denyut jantung, tekanan darah dan kadar oksigen dalam darah terus
menurun. Bayi tidakbereaksi terhadap rangsangan dan tidak menunjukkan upaya pernafasan
secara spontan. Kematian akan terjadi kecuali pernafasan buatan dan pemberian oksigen segera
[Link]
Terjadi karena keadaan yang memburuk dan adanya perubahan jumlah leukosit dan
trombositopenia. Infeksi timbul karena tindakan invasif seperti pemasangan alat respirasi
terbanyak pada bayi RDS. d. PDA (Peningkatan Duktus Arterious) dengan peningkatan
shunting dari kiri ke kanan Komplikasi pada bayi dengan RDS terutama pada bayi yang
8. Penatalaksanaan Medis
Neonatus yang mengalami RDS harus ditangani secepatnya agar tidak menimbulkan
komplikasi yang tidak diinginkan (Fida & Maya, 2021). Berikut beberapa pengobatan yang bisa
dilakukan:
Suhu tubuh harus selalu diusahakan agar tetap dalam batas normal (36, 5 -
37◦C). Untuk memperoleh suhu ini, anak bisa diletakkan di dalam inkubator.
b. Pemberian Oksigen
surfaktan eksogen melalui endotrakbeal tube. Obat ini terbukti sangat efektif
d. Pemberian Antibiotik
Pemberian antibiotik bertujuan mencegah infeksi sekunder. Bayi dapat diberi penisilin
dengan dosis 5.0000-10.0000 U/kg BB/hari dengan atau tanpa gentamicin 3-5/kg
BB/hari
9. Pemeriksaan Penunjang
respiratorik.
b. Pemeriksaan radiologis, mula-mula tidak ada kelainan jelas pada foto dada, setelah 12-24 jam
akan tampak infiltrate alveolar tanpa batas yang tegas diseluruh paru.
c. Biopsi paru, terdapat adanya pengumpulan granulosit secara abnormal dalam parenkim paru.
(Alomedika, 2019)
a. Pengkajian
proses keperawatan yang bertujuan untuk pengumpulan data atau informasi, analisis data dan
merumuskan diagnosa keperawatan yang terdiri dari tiga tahap yaitu pengumpulan,
Kaji riwayat kehamilan sekarang (apakah selama hamil ibu menderita hipotensi
atau perdarahan)
Kaji riwayat neonatus (lahir afiksia akibat hipoksia akut, terpajan pada keadaan
hipotermia)
Kaji nilai apgar rendah (bila rendah di lakukkan tindakan resustasi pada bayi)
Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan tanda dan gejala RDS. Seperti: takipnea
Pemeriksaan fisik:
berat badan sama dengan kurang atau kurang dari 2500 gram, Panjang badan sama
dengan atau kurang dari 46 cm, lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm,
lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm, lingkar lengan atas, lingkar perut,
keadaan rambut tipis, halus, lanugo pada punggung dan wajah, pada wanita klitoris
dan testis belum turun, nilai APGAR pada menit ke 1 dan ke 5, kulit keriput.
4. Keadan fisik:
a. Kepala
Warna konjungtiva anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding konjungtiva, warna
c. Hidung
d. Mulut
e. Telinga
f. Leher
g. Horax
h. Abdomen
Bentuk silindris, hepar bayi terletak 1-2 cm dibawah arcus costae pada garis
papilla mame, lien tidak terba, perut buncit berarti adanya asites atau tumor, perut
cekung adanya hernia diafragma, bising usus timbul 1-2 jam setelah masa kelahiran
i. Umbilicus
Tali pusat layu, perhatikan ada perdarahan atau tidak, adanya tanda-tanda infeksi
j. Genitalia
Pada neonatus aterm testis turun, lihat adakan kelainan letak muara uretra pada
neonatus laki-laki, neonatus Perempuan lihat labia mayora dan labia minora, adanya
Perhatikan adanta darah dalam tinja, frekuensi buang air besar serta warna dari
feses
l. Ekstremitas
Warna biru, Gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah tulang atau
b. Diagnosa
Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
D.0001 Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret
pada paru-paru d.d Sputum Berlebih
D.0003 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran
alveolar-kapiler d.d Sianosis
D.0005 Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi d.d Tekanan
Ekspirasi Menurun
DAFTAR PUSTAKA
Agrina, M. F., Toyibah, A., & Jupriyono. (2016). Tingkat Kejadian Respiratory Distress
Syndrome (RDS) Antara Bblr Preterm Dan Bblr Dismatur. Jurnal Sain Veteriner, 3(2),
125–131.
Novitasari, A., Hutami, M. S., & Pristya, T. Y. R. (2020). Pencegahan dan Pengendalian BBLR
Di Indonesia: Systematic Review. Pencegahan Dan Pengendalian Bblr Di Indonesia , 2
(3),175–182. [Link]
PPNI, 2017. Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik,
Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI
PPNI, 2019. Standart Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Criteria Hasil Keperawatan
Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI
PPNI, 2018. Standart Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan,
Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI
Yosefa Moi, M. (2019). Askep Pada Bayi Ny. T Dengan RDS diruangan NHCU RSUD
[Link].W.Z. Johanes Kupang. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9),
1689–1699.
[Link] YOSEFA [Link] Sudarti
& Fauziah. (2013). Asuhan Neonatus Resiko Tinggi dan Kegawatan. CetakanI. Yogyakarta:
Nuha medika