Penentuan Waktu Sholat dan Hisab
Penentuan Waktu Sholat dan Hisab
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI................................................................................................................................................III
BAB I..............................................................................................................................................................1
HISAB AWAL BULAN & TAHUN MASEHI ............................................................................................1
HISAB AWAL BULAN QOMARIYAH ......................................................................................................4
SUPLEMEN...................................................................................................................................................4
BAB II............................................................................................................................................................6
HISAB KONTEMPORER.............................................................................................................................6
BAB III.........................................................................................................................................................15
HISAB AWAL BULAN HIJRIYAH...........................................................................................................15
BAB IV.........................................................................................................................................................24
PERHITUNGAN AWAL WAKTU SHOLAT............................................................................................24
HISAB AWAL WAKTU SHOLAT.............................................................................................................26
BAB V..........................................................................................................................................................28
PERBEDAAN PENENTUAN AWAL WAKTU SHOLAT........................................................................28
BAB VI.........................................................................................................................................................30
LAMA SIANG DAN MALAM...................................................................................................................30
BAB VII........................................................................................................................................................32
ARAH KIBLAT...........................................................................................................................................32
BAB VIII......................................................................................................................................................34
MENCOCOKAN JAM DAN MENENTUKAN ARAH HAKIKI ( MATA ANGIN )...............................34
BAB IX.........................................................................................................................................................36
KEGUNAAN TONGKAT ISTIWA’ [ BENCET ]......................................................................................36
DATA LINTANG DAN BUJUR TEMPAT DI MADURA........................................................................38
DATA LINTANG DAN BUJUR TEMPAT DI INDONESIA....................................................................40
LEMBAR KERJA........................................................................................................................................54
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................................54
BAB I
KETERANGAN : Untuk hari dihitung dari ahad dan untuk pasaran dihitung dari legi.
MA
JAN FEB APR MEI JUN JUL AGS SEPT OKT NOP DES
TAHU R
K/B
N 31 28/29 31 30 31 30 31 31 30 31 30 31
4 7/6 4 5 4 5 4 4 5 4 5 4
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
2021
2022
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
2031
2032
2033
2034
2035
2036
2037
2038
2039
2040
2041
2042
2043
2044
2045
2046
2047
2048
2049
2050
2051
2052
2053
2054
2055
2056
2057
2058
2059
2060
PASARAN
HARI
LEGI PAHING PON WAGE KLIWON
AHAD 1 22 8 29 15
SENIN 16 2 23 9 30
SELASA 31 17 3 24 10
RABO 11 32 18 4 25
KAMIS 26 12 33 19 5
JUM'AT 6 27 13 34 20
SABTU 21 7 28 14 35
(SUPLEMEN)
Terdapat banyak metode hisab (sistem hisab) untuk menentukan posisi bulan, matahari dan benda langit lain dalam
ilmu Falak. Sistem hisab ini dibedakan berdasarkan metode yang digunakan berkaitan dengan tingkat ketelitian
atau hasil perhitungan yang dihasilkan.
■ Hisab Urfi (`urf = kebiasaan atau tradisi) adalah hisab yang melandasi perhitungannya dengan kaidah-kaidah
sederhana. Termasuk di alam kategori hisab urfi ialah metode perhitungan penanggalan Jawa-Islam yang disusun
oleh Sultan Agung pada tahun 1633 M atau 1043 H. Dasarnya ialah periode rerata bulan mengelilingi bumi dalam
daur 8 tahunan (windu). Dalam daur 8 tahun tersebut ditetapkan 3 tahun kabisat (355 hari, untuk tahun-tahun ke: 2,
4, dan 7) dan 5 tahun basithah (354 hari, untuk tahun-tahun ke: 1, 3, 5, 6, dan 8). Jumlah bulan dalam satu tahun
ialah 12 bulan, dengan umur 30 hari untuk bulan-bulan ganjil dan 29 hari untuk bulan-bulan genap, kecuali dalam
tahun kabisat umur bulan ke-12 ditetapkan 30 hari. Nama-nama ke 12 bulan tersebut berturut-turut ialah ... Suro,
Sapar, Mulud, Bakdomulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Dulkaidah, Besar... Adapun
dalam daur 8 tahunan tersebut tahun-tahun ditandai berturut-turut dengan nama Alip, Ehe, Jimawal, Ze, Dal, Be,
Wawu, Jimakir. Untuk tahun 1747-1867, tgl 1 Suro tahun Alip jatuh pada hari Rebo Wage (Aboge). Untuk tahun
1867-1987, tgl 1 Suro tahun Alip jatuh pada hari. Selasa Pon (Asapon). Untuk tahun 1987-2107, tgl. 1 Suro tahun
Alip jatuh pada hari Senin Pahing (Aninhing).
■ Hisab Istilahi
Pada sistem hisab ini perhitungan bulan qomariyah ditentukan berdasarkan umur rata-rata bulan sehingga dalam
setahun qomariyah umur dibuat bervariasi 29 dan 30 hari. Bulan bernomor ganjil yaitu mulai Muharram berjumlah
30 hari dan bulan bernomor genap yaitu mulai Shafar berumur 29 hari. Tetapi khusus bulan Zulhijjah (bulan 12)
pada tahun kabisat qomariyah berumur 30 hari. Tahun kabisat qomariyah memiliki siklus 30 tahun dimana
didalamnya terdapat 11 tahun yang disebut tahun kabisat (panjang) memiliki 355 hari, dan 19 tahun yang disebut
basithah (pendek) memiliki 354 hari. Tahun kabisat ini terdapat pada tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26 dan
ke 29 dari keseluruhan siklus kabisat selama 30 tahun. Dengan demikian kalau dirata-rata maka periode umur bulan
(bulan sinodis / lunasi) menurut Hisab Urfi adalah (11 x 355 hari) + (19 x 354 hari) : (12 x 30 tahun) = 29 hari 12
jam 44 menit ( menurut hitungan astronomis: 29 hari 12 jam 44 menit 2,88 detik ). Walau terlihat sudah cukup teliti
namun yang jadi masalah adalah aturan 29 dan 30 serta aturan kabisat tidak menujukkan posisi bulan yang
sebenarnya dan hanya pendekatan. Oleh sebab itulah maka hisab ini tidak bisa dijadikan acuan untuk penentuan
awal bulan yang berkaitan dengan ibadah misalnya Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah. Adapun nama-nama ke 12
bulan tersebut berturut-turut ialah Muharram, Shafar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Ula, Jumadis Tsaniyah,
Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzul Qa’idah dan Dzul Hijjah.
■ Hisab Taqribi ( taqrobu = pendekatan, aproksimasi ) adalah sistem hisab yang sudah menggunakan kaidah-
kaidah astronomis dan matematik namun masih menggunakan rumus-rumus sederhana sehingga hasilnya kurang
teliti. Sistem hisab ini merupakan warisan para ilmuwan falak Islam masa lalu dan hingga sekarang masih menjadi
acuan hisab di banyak pesantren di Indonesia. Hasil hisab taqribi akan sangat mudah dikenali saat penentuan ijtimak
dan tinggi hilal menjelang 1 Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah yaitu terlihatnya selisih yang cukup besar terhadap
hitungan astronomis modern. Beberapa kitab falak yang berkembang di Indonesia yang masuk dalam kategori
Hisab Taqribi misalnya; Sullam al Nayyirain, Ittifaq Dzatil Bainy, Fat al Rauf al Manan, Al Qawaid al Falakiyah
dsb.
■ Hisab Haqiqi ( haqiqah = realitas atau yang sebenarnya ) menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan
matematik menggunakan rumus-rumus terbaru dilengkapi dengan data-data astronomis terbaru sehingga memiliki
tingkat ketelitian yang tinggi. Sedikit kelemahan dari sistem hisab ini adalah penggunaan kalkulator yang
mengakibatkan hasil hisab kurang sempurna atau teliti karena banyak bilangan yang terpotong akibat digit
kalkulator yang terbatas. Beberapa sistem hisab haqiqi yang berkembang di Indonesia diantaranya: Hisab Hakiki,
Tadzkirah al Ikhwan, Badi’ah al Mitsal dan Menara Kudus, Al Manahij al Hamidiyah, Al Khushah al Wafiyah,
dsb.
■ Hisab Haqiqi Tahqiqi ( tahqiq = pasti ) sebenarnya merupakan pengembangan dari sistem hisab haqiqi yang
diklaim oleh penyusunnya memiliki tingkat akurasi yang sangat-sangat tinggi sehingga mencapai derajat “pasti”.
Klaim seperti ini sebenarnya tidak berdasar karena tingkat “pasti” itu tentunya harus bisa dibuktikan secara ilmiah
menggunakan kaidah-kaidah ilmiah juga. Namun sejauh mana hasil hisab tersebut telah dapat dibuktikan secara
ilmiah sehingga mendapat julukan “pasti” ini yang menjadi pertanyaan. Sedangkan perhitungan astronomis modern
saja hingga kini masih menggunakan angka ralat (delta T) dalam setiap rumusnya. Namun demikian hal ini
merupakan kemajuan bagi perkembangan sistem hisab di Indonesia. Sebab sistem hisab ini ternyata sudah
melakukan perhitungan menggunakan komputer serta beberapa diantaranya sudah dibuat dalam bentuk
software/program komputer yang siap pakai. Beberapa diantara sistem hisab tersebut misalnya : Al Falakiyah,
Nurul Anwar,
■ Hisab Kontemporer / Modern
Sistem hisab ini yang menggunakan alat bantu komputer yang canggih menggunakan rumus-rumus yang dikenal
dengan istilah algoritma. Beberapa diantaranya terkenal terkenal karena memiliki tingkat keterlitian yang tinggi
sehingga dikelompokkan dalam High Accuracy Algorithm diantara : Jean Meeus, VSOP87, ELP2000 Chapront-
Touse, dsb. Dengan tingkat ketelitian yang tinggi dan sangat akurat seperti Jean Meeus, New Comb, EW Brown,
Almanac Nautica, Astronomical Almanac, Mawaqit, Ascript, Astro Info, Starrynight dan banyak software-software
falak yang lain.
Para pakar falak dan astronomi selalu berusaha menyempurnakan rumus-rumus untuk menghitung posisi benda-
benda langit hingga pada tingkat ketelitian yang ‘pasti /qat’i ‘’. Hal ini tentunya hanya bisa dibuktikan dan diuji saat
terjadinya peristiwa-peristiwa astronomis seperti terbit matahari, terbenam matahari, terbit bulan, terbenam bulan,
gerhana matahari, gerhana bulan, kenampakan planet dan komet, posisi bintang dan peristiwa astronomis
yang lain.
Menanggapi pluralitas metode hisab yang berkembang di Indonesia, pemerintah melalui Badan Hisab Rukyat
(BHR) menampung semua hasil sistem hisab, dikumpulkan dan dilakukan perbandingan antara masing-masing
sistem hisab tersebut. Sebagai contoh hisab awal bulan seperti tersebut di bawah ini.
*)
Keputusan Temu Kerja Evaluasi Hisab Rukyat Tahun 2006, Tgl. 1 s.d 3 J uni 2006 di Hotel Ria Diani Cibogo Bogor.
HISAB KONTEMPORER
ISTILAH – ISTILAH
SAAT IJTIMA’
Saat ijtima’ disebut juga dengan konjungsi, artinya: ketika kedudukan matahari, bumi dan bulan
berada pada bujur astronomis yang sama. Ijtima’ bisa terjadi pada siang hari maupum malam hari.
Ijtima’ dalam buku ini disajikan dalam bentuk tabel yang sudah matang, mudah pemakaiannya,
dan sangat akurat hasilnya. Sebenarnya kami akan menerangkan secara detail perhitungan ijtima’
dalam buku ini, namun karena jalannya sangat panjang dan terlalu rumit, maka disini saya buatkan
PROGRAM IJTIMA’ memakai calculator casio fx 4500, pada halaman belakang.
MATAHARI
Pada gambar di atas dapat disimpulkan bahwa titik pusat Bulan di kurangi sebesar semi diameter
bulan cos a, a adalah beda azimut. Atau sebaliknya, titik pusat bulan di tambah semi diameter bulan
sin a, a adalah beda azimut.
b. Parallak ( Par ) / beda lihat untuk mengurangi
Rumusnya : ((semi diameter bulan / .2725 ) cos irtifa’ul hilal hakiki )
c. Refracsi untuk ditambahkan
Rumusnya : ( .0167 / tan ( tinggi hilal hakiki setelah di koreksi par dan Sd + 7.31 / (hakiki setelah di
koreksi par dan Sd + 4.4 )))
d. Kerendahan ufuk di tambahkan
rumusnya: .0293 √ ketinggian tempat di atas permukaan air laut dalam satuan meter.
AZIMUT ( Z )
Arah benda langit, atau dapat diartikan dengan besarnya suatu sudut yang mengapit titik barat. Bila
benda langit berada di utara titik barat bernilai positif dan Bila benda langit berada di selatan titik
barat bernilai negatif.
TABEL HASIL HISAB SA’AT IJTIMA’
MUHARAM SHOFAR [Link] [Link] JUM. ULA JUM. TSANI ROJAB SYA’BAN ROMADLON SYAWAL [Link]’DAH DZ. HIJJAH
03-03-03 02-04-03 01-05-03 31-05-03 30-06-03 24-06-03 28-08-03 26-09-03 25-10-03 24-11-03 23-12-03 22-01-04
1424
09.36.01 02.19.46 19.15.52 11.20.57 01.39.45 13.53.48 00.27.25 10.10.15 19.51.21 06.00.00 16.44.03 04.05.57
20-02-04 21-03-04 19-04-04 19-05-04 18-06-04 17-07-04 16-08-04 14-09-04 14-10-04 12-11-04 12-12-04 10-01-05
1425
16.18.44 05.42.24 20.22.16 11.53.00 03.27.51 18.24.50 08.24.57 21.30.06 09.49.18 21.28.13 08.30.04 19.03.52
09-02-05 10-03-05 09-04-05 08-05-05 07-06-05 06-07-05 05-08-05 04-09-05 03-10-05 02-11-05 01-12-05 31-12-05
1426
05.29.05 16.11.25 03.33.05 15.46.31 04.56.10 19.03.34 10.05.49 01.46.28 17.28.56 08.25.34 22.01.59 10.12.48
14-01-06 28-02-06 29-03-06 28-04-06 27-05-06 25-06-06 25-07-06 24-08-06 22-09-06 22-10-06 21-11-06 20-12-06
1427
21.15.42 07.31.51 17.16.20 02.44.59 12.26.42 23.06.21 11.31.59 02.10.50 18.46.06 12.15.06 05.19.02 21.01.50
19-01-07 17-02-07 19-03-07 17-04-07 17-05-07 15-06-07 14-07-07 13-08-07 11-09-07 11-10-07 10-11-07 10-12-07
1428
11.01.45 23.15.22 09.43.39 18.37.06 02.28.19 10.14.14 19.04.52 06.03.35 19.45.17 12.01.42 06.04.07 00.41.27
08-01-08 07-02-08 08-03-08 06-04-08 05-05-08 04-06-08 03-07-08 01-08-08 31-08-08 29-09-08 29-10-08 27-11-08
1429
18.38.13 10.45.35 00.15.18 10.56.23 19.19.19 02.23.40 09.19.41 17.13.38 02.59.07 15.13.18 06.14.54 23.55.38
27-12-08 26-01-09 25-02-09 26-03-09 25-04-09 24-05-09 23-06-09 22-07-09 20-08-09 19-09-09 18-10-09 17-11-09
1430
19.23.26 14.56.21 08.36.08 23.07.00 10.23.39 19.12.06 02.36.04 09.35.42 17.02.40 01.45.23 12.34.09 02.14.47
16-12-09 15-01-10 14-02-10 16-03-10 14-04-10 14-05-10 12-06-10 12-07-10 10-08-10 08-09-10 08-10-10 06-11-10
1431
19.03.09 14.12.26 09.52.23 04.02.10 19.30.00 08.05.29 18.15.41 02.41.34 10.09.15 17.30.55 01.45.33 11.52.51
06-12-10 04-01-11 03-02-11 05-03-11 03-04-11 03-05-11 02-06-11 01-07-11 31-07-11 29-08-11 27-09-11 27-10-11
1432
00.36.46 16.03.41 09.31.44 03.46.57 21.33.25 13.51.48 04.03.43 15.55.02 01.40.55 10.05.11 18.09.46 02.56.52
25-11-11 25-12-11 23-01-12 22-02-12 22-03-12 21-04-12 21-05-12 19-06-12 19-07-12 17-08-12 16-09-12 15.-10-12
1433
13.10.45 01.07.27 14.40.21 05.35.41 21.38.12 14.19.30 06.48.08 22.03.13 11.25.09 22.55.32 09.11.44 19.03.36
14-11-12 13-12-12 12-01-13 10-02-13 12-03-13 10-04-13 10-05-13 08-06-13 08-07-13 07-08-13 05-09-13 05-10-13
1434
05.09.05 15.42.42 02.44.42 14.21.12 02.52.06 16.36.24 07.29.30 22.57.27 14.15.24 04.51.49 18.37.15 07.35.37
03-11-13 03-12-13 01-01-14 31-01-14 01-03-14 31-03-14 29-04-14 29-05-14 27-06-14 27-07-14 25-08-14 24-09-14
1435
19.51.03 07.23.27 18.15.15 04.39.37 15.00.46 01.45.47 13.15.27 01.41.20 15.09.35 05.42.53 21.13.52 13.14.52
24-10-14 22-11-14 22-12-14 20-01-15 19-02-15 20-03-15 19-04-15 18-05-15 16-06-15 16-07-15 14-08-15 13-09-15
1436
04.57.45 19.33.21 08.36.56 20.14.48 06.48.22 16.37.18 01.57.58 11.14.21 21.06.28 08.25.23 21.54.31 13.42.22
13-10-15 12-11-15 11-12-15 10-01-16 08-02-16 09-03-16 07-04-16 07-05-16 05-06-16 04-07-16 03-08-16 01-09-16
1437
07.06.48 00.48.14 17.30.30 08.31.38 21.40.02 08.55.37 18.24.47 02.30.38 10.00.43 18.02.08 03.45.40 16.04.13
01-10-16 31-10-16 29-11-16 29-12-16 28-01-17 26-02-17 28-03-17 26-04-17 26-05-17 24-06-17 23-07-17 22-08-17
1438
07.12.28 00.39.16 19.19.19 13.54.17 07.08.09 21.59.30 09.58.21 19.17.17 02.45.36 09.31.51 16.46.43 01.31.18
20-09-17 20-10-17 18-11-17 18-12-17 17-01-18 16-02-18 17-03-18 16-04-18 15-05-18 14-06-18 13-07-18 11-08-18
1439
12.30.59 02.13.09 18.43.13 13.31.31 09.18.21 04.06.19 20.12.42 08.58.16 18.48.55 02.44.23 09.49.01 16.52.52
10-09-18 09-10-18 07-11-18 07-12-18 06-01-19 05-02-19 06-03-19 05-04-19 05-05-19 03-06-19 03-07-19 01-08-19
1440
01.02.35 10.47.58 23.03.09 14.21.27 08.29.18 04.04.42 23.05.06 15.51.37 05.46.39 17.03.06 02.17.22 10.13.04
30-08-19 29-09-19 28-10-19 26-11-19 26-12-19 25-01-20 23-02-20 24-03-20 23-04-20 23-05-20 21-06-20 21-07-20
1441
17.38.16 01.27.29 10.39.35 22.06.42 12.14.14 04.4307 22.33.08 16.29.21 09.27.00 00.40.00 13.42.36 00.34.06
19-08-20 17-09-20 17-10-20 15-11-20 14-12-20 13-01-21 12-02-21 13-03-21 12-04-21 12-05-21 10-06-21 10-07-21
1442
09.42.48 18.01.20 02.32.10 12.08.18 23.17.41 12.01.17 02.06.48 17.22.17 09.31.59 02.00.56 17.53.47 08.17.46
08-08-21 07-09-21 06-10-21 05-11-21 04-12-21 03-01-22 01-02-22 03-03-22 01-04-22 01-05-22 30-05-22 29-06-22
1443
20.51.16 07.52.54 18.06.31 04.13.43 14.44.09 01.34.37 12.47.09 00.35.55 13.25.33 03.29.15 18.31.26 09.53.25
29-07-22 27-08-22 26-09-22 25-10-22 24-11-22 23-12-22 22-01-23 20-02-23 22-03-23 20-04-23 19-05-23 18-06-23
1444
00.56.10 15.18.16 04.55.42 17.49.49 05.58.20 17.18.00 03.54.22 14.06.58 00.24.17 11.13.41 22.54.26 11.38.18
18-07-23 16-08-23 15-09-23 15-10-23 13-11-23 13-12-23 11-01-24 10-02-24 10-03-24 09-04-24 08-05-24 06-06-24
1445
01.32.58 16.39.19 08.40.56 00.56.16 16.28.31 06.33.09 18.58.32 06.00.18 16.01.35 01.22.01 10.23.05 19.38.54
06-07-24 04-08-24 03-09-24 03-10-24 01-11-24 01-12-24 31-12-24 29-01-25 28-02-25 29-03-25 28-04-25 27-05-25
1446
05.58.33 18.14.12 08.56.43 01.50.23 19.48.15 13.22.32 05.27.54 19.37.06 07.45.57 17.58.59 02.32.18 10.03.30
25-06-25 25-07-25 23-08-25 22-09-25 21-10-25 20-11-25 20-12-25 19-01-26 17-02-26 19-03-26 17-04-26 17-05-26
1447
17.32.46 02.12.21 13.07.41 02.55.15 19.26.17 13.48.22 08.44.27 02.53.06 19.02.17 08.24.37 18.52.57 03.02.12
15-06-26 14-07-26 13-08-26 11-09-26 10-10-26 09-11-26 09-12-26 08-01-27 06-01-27 08-03-27 07-04-27 06-05-27
1448
09.55.19 16.44.46 00.37.54 10.28.08 22.51.12 14.03.14 07.52.57 03.25.30 22.57.14 16.30.37 06.52.18 17.59.47
05-06-27 03-07-27 02-08-27 01-09-27 30-09-27 29-10-27 28-11-27 28-12-27 26-01-28 25-02-28 26-03-28 25-04-28
1449
02.41.31 10.03.15 17.06.23 00.42.20 09.37.13 20.37.41 10.25.33 03.13.27 22.13.38 17.38.33 11.32.28 02.48.05
24-05-28 23-06-28 22-07-28 20-08-28 19-09-28 18-10-28 16-11-28 16-12-28 15-01-29 13-02-29 15-03-29 14-04-29
1450
15.17.28 01.28.43 10.02.52 17.45.01 01.24.54 09.57.57 20.19.09 09.07.26 00.25.38 17.32.39 11.20.23 04.41.20
13-05-29 12-06-29 11-07-29 10-08-29 08-09-29 08-10-29 06-11-29 05-12-29 04-01-30 02-02-30 04-03-30 03-04-30
1451
20.43.19 10.51.43 22.52.13 08.56.57 17.45.23 02.15.42 11.25.16 21.53.16 09.50.41 23.08.39 13.35.49 05.03.42
02-05-30 01-06-30 01-07-30 30-07-30 29-08-30 27-09-30 27-10-30 25-11-30 25-12-30 23-01-31 21-02-31 23-03-31
1452
21.13.19 13.22.31 04.35.39 18.12.10 06.08.31 16.55.50 03.18.08 13.47.37 00.33.22 11.32.08 22.50.01 10.50.15
21-04-31 21-05-31 20-06-31 19-07-31 18-08-31 17-09-31 16-10-31 15-11-31 14-12-31 13-01-32 11-02-32 11-03-32
1453
23.58.15 14.18.23 05.25.52 20.41.25 11.33.28 01.48.02 15.21.53 04.10.46 16.06.57 03.07.51 13.25.25 23.25.51
10-04-32 09-05-32 08-06-32 07-07-32 06-08-32 05-09-32 04-10-32 03-11-32 03-12-32 01-01-33 31-01-33 01-03-33
1454
09.40.41 20.36.55 08.33.17 21.42.41 12.12.43 03.57.47 20.27.31 12.46.05 03.54.01 17.18.10 05.01.01 15.24.42
31-03-33 29-04-33 28-05-33 27-06-33 26-07-33 25-08-33 23-09-33 23-10-33 22-11-33 22-12-33 20-01-34 19-02-34
1455
00.52.50 09.47.22 18.37.44 04.08.14 15.13.45 04.40.58 20.40.56 14.29.34 08.40.16 01.47.37 17.02.42 06.11.25
20-03-34 19-04-34 18-05-34 16-06-34 16-07-34 14-08-34 12-09-34 12-10-34 11-11-34 11-12-34 09-01-35 08-02-35
1456
17.15.45 02.27.05 10.13.47 17.27.08 01.16.27 10.54.15 23.14.59 14.33.49 08.17.23 03.15.33 22.04.15 15.23.18
10-03-35 08-04-35 08-05-35 06-06-35 05-07-35 04-08-35 02-09-35 01-10-35 31-10-35 30-11-35 29-12-35 28-01-36
1457
06.10.38 17.58.59 03.05.06 10.21.55 17.00.32 00.13.01 09.00.44 20.07.59 09.59.52 02.38.44 21.32.05 17.18.21
27-02-36 28-03-36 26-04-36 26-05-36 24-06-36 23-07-36 22-08-36 20-09-36 19-10-36 18-11-36 17-12-36 16-01-37
1458
12.00.26 03.57.55 16.34.25 02.18.11 10.10.51 17.18.13 00.36.33 08.52.46 18.51.11 07.15.40 22.35.37 16.35.34
15-02-37 17-03-37 15-04-37 15-05-37 14-06-37 13-07-37 11-08-37 10-09-37 09-10-37 07-11-37 07-12-37 05-01-38
1459
11.55.15 06.37.24 23.08.54 12.55.33 00.11.28 09.33.01 17.42.48 01.26.41 09.35.43 19.04.18 06.39.31 20.42.31
04-02-38 06-03-38 04-04-38 04-05-38 03-06-38 02-07-38 01-08-38 30-08-38 29-09-38 28-10-38 26-11-38 26-12-38
1460
12.53.21 06.16.11 23.44.11 16.20.51 07.25.26 20.33.22 07.41.32 17.13.58 01.58.47 10.54.03 20.47.54 08.03.09
24-01-39 23-02-39 25-03-39 23-04-39 23-05-39 22-06-39 21-07-39 20-08-39 18-09-39 18-10-39 16-11-39 15-12-39
1461
20.37.17 10.18.42 01.00.42 16.35.57 08.39.14 00.22.39 14.55.17 03.51.44 15.24.13 02.10.12 12.47.16 23.33.13
14-01-40 12-02-40 13-03-40 11-04-40 11-05-40 10-06-40 09-07-40 08-08-40 06-09-40 06-10-40 05-11-40 04-12-40
1462
10.26.27 21.25.38 08.47.18 21.01.24 10.29.25 01.04.16 16.15.56 07.27.36 22.14.52 12.27.05 01.57.10 14.34.20
03-01-41 01-02-41 02-03-41 01-04-41 30-04-41 30-05-41 28-06-41 28-07-41 26-08-41 25-09-41 25-10-41 24-11-41
1463
02.08.57 12.44.05 22.40.31 08.30.39 18.47.32 05.57.11 18.18.07 08.03.31 23.17.21 15.42.27 08.31.29 00.37.54
23-12-41 22-01-42 20-02-42 22-03-42 20-04-42 19-05-42 18-06-42 17-07-42 16-08-42 14-09-42 14-10-42 13-11-42
1464
15.07.33 03.43.16 14.40.06 00.24.13 09.20.32 17.56.04 02.49.23 12.53.05 01.02.30 15.51.23 09.04.18 03.29.36
12-12-42 11-01-43 10-02-43 11-03-43 10-04-43 09-05-43 07-06-43 07-07-43 05-08-43 03-09-43 03-10-43 02-11-43
1465
21.30.50 13.54.27 04.08.55 16.10.31 02.07.51 10.22.27 17.36.17 00.53.10 09.23.58 20.18.33 10.13.21 02.58.38
01-12-43 31-12-43 30-01-44 29-02-44 29-03-44 28-04-44 27-05-44 25-06-44 25-07-44 23-08-44 21-09-44 21-10-44
1466
21.38.08 16.49.15 11.05.42 03.13.35 16.27.13 02.43.21 10.40.51 17.25.34 00.11.44 08.07.13 18.04.41 06.37.38
19-11-44 19-12-44 18-01-45 17-02-45 19-03-45 17-04-45 17-05-45 15-06-45 14-07-45 13-08-45 11-09-45 10-10-45
1467
21.58.59 15.54.21 11.26.41 06.52.20 00.16.05 14.27.55 01.27.51 10.06.04 17.29.38 00.40.30 08.28.57 17.38.05
09-11-45 08-12-45 07-01-46 06-02-46 08-03-46 06-04-46 06-05-46 04-06-46 04-07-46 02-08-46 01-09-46 30-09-46
1468
04.50.08 18.42.34 11.25.14 06.10.54 01.16.33 18.52.54 09.57.19 22.23.42 08.40.08 17.26.44 01.26.40 09.26.44
29-10-46 28-11-46 27-12-46 26-01-47 25-02-47 26-03-47 25-04-47 25-05-47 23-06-47 23-07-47 21-08-47 20-09-47
1469
18.18.15 04.51.18 17.40.06 08.44.58 01.27.06 18.45.24 11.41.03 03.28.47 17.37.04 05.50.34 16.17.29 01.32.39
19-10-47 17-11-47 17-12-47 15-01-48 14-02-48 14-03-48 13-04-48 13-05-48 11-06-48 11-07-48 10-08-48 08-09-48
1470
10.29.10 20.00.09 06.39.27 18.33.39 07.32.44 21.28.52 12.20.56 03.59.25 19.51.10 11.05.26 01.00.09 13.25.48
08-10-48 06-11-48 05-12-48 04-01-49 02-02-49 04-03-49 02-04-49 02-05-49 31-05-49 30-06-49 30-07-49 28-08-49
1471
00.46.26 11.39.34 22.31.20 09.25.42 20.17.03 07.12.44 18.40.25 07.12.15 21.01.21 11.51.33 03.08.29 18.19.53
27-09-49 26-10-49 25-11-49 24-12-49 23-01-50 21-02-50 23-03-50 21-04-50 21-05-50 19-06-50 19-07-50 17-08-50
1472
09.06.18 23.16.19 12.36.54 00.52.58 11.58.09 22.04.42 07.42.08 17.26.58 03.52.15 15.23.05 04.18.03 18.48.41
KETERANGAN
Cara membaca tabel di atas
Contoh :
Nama bulan Qomariah
SYAWAL
24-11-03
1424 Tanggal, bulan dan tahun masehi
06.00.00
Jam, menit dan detik
Jadi ijtima’ awal bulan syawal 1424 H. Jatuh pada tanggal 24 Nofember 2003 M. Jam 06.00 WIB
I. KONVERSI
1. Terlebih dahulu tanggal, bulan dan tahun masehi dijadikan bilangan hari semua dengan
berdasarkan system ( konsep ) matematik.
a. Bulan dan tahun masehi masing-masing dikurangi satu, misalnya tanggal 24
November 2003 diubah menjadi 24 bulan Oktober 2002 M. ( tanggal tetap )
b. Tahun yang sudah diubah dibagi 4 , hasilnya yang di depan koma dikalikan 1461 dan jika
terdapat sisa di belakang koma, bilangan itu dikalikan 4 lalu dikalikan lagi 365 hari.
c. Bilangan bulan dan tanggal dijadikan bilangan hari sesuai dengan umur bulan masehi.
2. Jumlah hari dikurangi anggaran Gregorius 13 hari ( berlangsung sampai tahun 2099 ). Bilangan 13
ini berasal dari 10 hari akibat pembaharuan sistim Gregorius sedangkan yang 3 hari ialah abad 17,
18, dan 19 yang dalam perhitungan dianggap sebagai tahun panjang padahal semestinya tahun
pendek. Anggaran Gregorius akan selalu tambah, apabila jumlah tahun abad tidak habis di bagi
400 tahun.
Contoh:
- abad 20, berjumlah 2000 th, habis di bagi 400 th, maka anggaran gregorius tetap 13 hari
- abad 21, berjumlah 2100 th, tidak habis di bagi 400 th, maka anggaran gregorius menjadi 14 hari
- abad 22, berjumlah 2200 th, tidak habis di bagi 400 th, maka anggaran gregorius menjadi15 hari
- abad 23, berjumlah 2300 th, tidak habis di bagi 400 th, maka anggaran gregorius menjadi 16 hari
- abad 24, berjumlah 2000th, habis di bagi 400th, maka anggaran gregorius tetap 16 hari, begitu
seterusya.
Anggaran Gregorius ini berguna untuk mengoreksi jumlah hari yang kita hitung. Perlu di ketahui
anggaran Gregorius ini dimulai pada waktu pemerintahan Romawi di pegang oleh kaisar PAUS
GREGORIUS XIII. Waktu itu atas saran seorang ahli astronomi, hari yang menurut perhitungan
Julius di nyatakan hari jumat tanggal 5 oktober 1582 M di sempurnakan menjadi hari jumat
tanggal 15 oktober 1582 M. perhitungan ini selisih 10 hari, yang di kenal dengan Anggaran
Gregorius. Sehingga jelaslah kalau kita menghitung jumlah hari sebelum tanggal 4 oktober 1582
M, tidak usah di kurangi Anggaran Gregorius.
HARI PASARAN
1 SABTU 1 KLIWON
2 AHAD 2 LEGI
3 SENIN 3 PAING
4 SELASA 4 PON
6 KAMIS
7/0 JUMAT
RUMUS USIA BULAN DALAM SATU TAHUN MASEHI
Nama Bulan JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGT SEP OKT NOP DES
Bulan Ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Kabisat ♥ 31 60 91 121 152 182 213 244 274 305 335 366
Basitoh ♦ 31 59 90 120 151 181 212 243 273 304 334 365
Keterangan :
Angka-angka tersebut di atas adalah bilangan hari.
♥ Kabisat = tahun yang berumur panjang. ♦ Basitoh = tahun yang berumur pendek.
Contoh :
Bertepatan Hari dan Pasaran apakah tanggal 24 November 2003 ?
Uraian :
Tanggal 24 November 2003 bila diuraikan = 2002 tahun + 10 bulan + 24 hari
Langkah Penghitungan :
1. 2002 : 4 = 500,5 = 500 daur
0,5 x 4 = 2 tahun
2. 500 daur x 1461 = 730500 hari
2 tahun x 365 = 730 hari
10 bulan ( lihat usia bulan ) = 304 hari
24 hari = 24 hari
= 731558 hari
Anggaran gregorius = 13 – hari
Catatan :
105 adalah tolok ukur waktu Indonesia bagian barat, jika ingin merubah WIT atau WITENG
maka harus ditambah menjadi 120 untuk WITENG atau 135 untuk WIT.
IV. AZIMUT MATAHARI (A)
Cara menghisab Azimut Matahari dengan rumus :
2. Deklinasi Bulan ( Z )
Z = sin –1 ( sin C” x . 91745138 + Cos C” x . 397847914 sin L )
EXE SHIF º ‘-23º
“ 17’ 57.7’’
T = A’ – R + Q
A’ = Asensia recta Matahari
R = Asensia rekta Bulan
Q = Sudut waktu Matahari
Hisab :
EXE SHIF º‘“
Hisab
M = 5º 46’ 20.17’’ – (( 0º 16’ / . 2725 ) Cos 5º 46’ 20.17’’ ) + 0º 16’
EXE SHIF º‘“ 5º 3’ 55.09’’
M’ = 5º 3’ 55.09’’+ ( . 0167 / tan ( 5º 3’ 55.09’’+ 7. 31/ ( 5º 3’ 55.09’’ + 4.4 ))) + . 0293 √5
Hisab :
S = 5º 17’ 38.99’’ / 15
0º 21’ 10.6’’
Hisab :
Hisab :
= 1.012087449 = 1 cm
Catatan : 2,5 cm = 1 inci = 1 jari = 1 usbu’
KESIMPULAN
a. Ijtima’ awal Syawal 1424 H. terjadi pada hari : Senin Wage Tgl. 24 November 2003.
Pukul : 06.00
b. Terbenamnya matahari pada pukul : 17 ; 34 ; 10.44
c. Ketinggian Hilal hakiki : 5º 46’ 20.17’’
d. Ketinggian Hilal Mar’i : 5º 17’ 38.99’’
e. Muktsul Hilal / lamanya : 21 menit 10.6 detik
f. Azimut Matahari : -20º 52’ 52.82’’
g. Azimut Bulan : -22º 46’ 1.91’’
h. Jarak Hilal dan Matahari : -1º 53’ 9.09’’
i. Arah rukyat : 247º 13’ 58’’
j. Nurul Hilal / besarnya : 1 cm
Jadi Awal Syawal 1424 H. bertepatan dengan tanggal 25 November 2003 M.
JADWAL DEKLINASI MATAHARI
(DISUSUN BERDASARKAN SISTEM AS – SYAHRU TAHUN 2009 )
JAN PEB MAR APR MEI JUN JUL AGT SEP OKT NOP DES
TGL
D M D M D M D M D M D M D M D M D M D M D M D M
1 -3 16 -13 38 -12 42 -4 10 2 54 2 33 -3 25 -6 10 -0 11 10 03 16 18 11 09
2 -3 44 -13 46 -12 31 -3 52 3 02 2 24 -3 36 -6 07 0 08 10 23 16 20 10 46
3 -4 12 -13 54 -12 18 -3 34 3 09 2 15 -3 48 -6 03 0 27 10 42 16 21 10 23
4 -4 40 -14 01 -12 06 -3 16 3 15 2 05 -3 59 -5 58 0 47 11 01 16 21 10 01
5 -5 08 -14 06 -11 53 -2 59 3 22 1 55 -4 10 -5 53 1 06 11 19 16 20 9 34
6 -5 35 -14 11 -11 39 -2 41 3 28 1 45 -4 21 -5 47 1 26 11 37 16 19 9 11
7 -6 01 -14 16 -11 25 -2 23 3 32 1 34 -4 30 -5 41 1 46 11 55 16 16 8 46
8 -6 27 -14 19 -11 11 -2 06 3 36 1 23 -4 40 -5 34 2 07 12 12 16 13 8 21
9 -6 53 -14 22 -10 56 -1 49 3 40 1 13 -4 49 -5 26 2 27 12 29 16 08 7 53
10 -7 18 -14 24 -10 41 -1 22 3 44 1 01 -4 59 -5 18 2 48 12 45 16 04 7 27
11 -7 43 -14 25 -10 26 -1 16 3 46 0 49 -5 07 -5 10 3 08 13 01 15 58 6 59
12 -8 07 -14 25 -10 10 -1 00 3 48 0 37 -5 15 -5 00 3 29 13 15 15 51 6 32
13 -8 30 -14 25 -9 54 -0 44 3 50 0 24 -5 23 -4 50 3 50 13 31 15 44 6 04
14 -8 53 -14 24 -9 38 -0 28 3 51 0 12 -5 30 -4 40 4 11 13 45 15 35 5 35
15 -9 15 -14 24 -9 21 -0 13 3 51 0 00 -5 37 -4 29 4 32 13 59 15 26 5 06
16 -9 37 -14 19 -9 04 0 02 3 51 -0 13 -5 43 -4 17 4 53 14 13 15 16 4 37
17 -9 58 -14 16 -8 48 0 17 3 50 -0 26 -5 49 -4 06 5 15 14 25 15 05 4 08
18 -10 18 -14 12 -8 30 0 31 3 48 -0 39 -5 55 -3 53 5 36 14 37 14 53 3 39
19 -10 37 -14 07 -8 12 0 44 3 46 -0 52 -5 59 -3 40 5 57 14 49 14 40 3 09
20 -10 56 -14 01 -7 55 0 58 3 44 -1 05 -6 04 -3 27 6 18 15 00 14 27 2 39
21 -11 14 -13 55 -7 37 1 11 3 41 -1 18 -6 07 -3 13 6 39 15 10 14 13 2 09
22 -11 31 -13 48 -7 15 1 23 3 37 -1 31 -6 11 -2 58 7 01 15 20 13 58 1 39
23 -11 41 -13 40 -6 57 1 36 3 33 -1 44 -6 13 -2 44 7 21 15 29 13 42 1 09
24 -12 03 -13 32 -6 39 1 47 3 28 -1 57 -6 16 -2 28 7 42 15 37 13 25 0 39
25 -12 18 -13 24 -6 19 1 58 3 23 -2 10 -6 17 -2 12 8 03 15 45 13 08 0 09
26 -12 32 -13 14 -6 01 2 08 3 17 -2 23 -6 18 -1 56 8 23 15 52 12 50 -0 20
27 -12 45 -13 04 -5 43 2 18 3 11 -2 36 -6 18 -1 40 8 44 15 58 12 31 -0 50
28 -12 57 -12 53 -5 24 2 28 3 04 -2 48 -6 18 -1 23 9 04 16 02 12 11 -1 20
29 -13 09 - -5 06 2 37 2 57 -3 01 -6 17 -1 05 9 24 16 08 11 51 -1 49
30 -13 19 - -4 47 2 46 2 49 -3 13 -6 15 -0 47 9 44 16 12 11 30 -2 19
31 -13 29 - -4 29 - 2 41 - -6 13 -0 29 - 16 16 - -2 47
BAB IV
Penentuan awal dan akhir waktu sholat erat hubungannya dengan perjalanan semu matahari dilihat
dari suatu tempat dibumi. Menghitung waktu sholat adalah menghitung kapan saat matahari menempati
posisi tertentu, yaitu pada waktu tergelincir, saat membuat bayang-bayang suatu benda sama panjang
dengan bendanya atau dua kali panjang bendanya, saat terbenam, saat hilangnya mega merah, saat terbit
fajar dan saat terbit matahari.
LANGKAH-LANGKAH YANG DITEMPUH
Langkah-langkah menghitung awal waktu sholat dapat ditempuh sebagai berikut:
1. Data-data yang diperlukan :
a. Lintang tempat ( P )
b. Bujur tempat ( V )
c. Deklinasi matahari ( d )
d. Tinggi matahari ( H )
e. Saat matahari berkulminasi
2. Mencari Sudut waktu ( to) dengan bantuan rumus :
cos t = -tan P tan d + sin h / cos P / cos d.
3. Merubah satuan derajat t menjadi satuan jam dengan ketentuan 1o = 4 menit atau 15o = 1 jam.
4. menambahkan t ( dalam satuan jam ) dengan saat matahari berkulminasi, hasilnya merupakan
awal atau akhir waktu sholat dalam satuan waktu pertengahan atau Local Mean Time ( LMT ).
5. Merubah hasil ( LMT ) menjadi waktu daerah ( WIB, WITA, WIT ) dengan Koreksi Waktu
Daerah ( KWD ). Waktu standar daerah memakai tolok
( WIB = 105o , WITA = 120o , WIT = 135o ).
6. Memberikan nilai ihtiyati.
Ashar dimulai sejak bayang-bayang suatu benda dua kali panjang bendanya, hal ini jika deklinasi
matahari dan lintang tempat berjumlah 45o atau kalau diMakkah deklinasi matahari berharga -23 o 26’
yaitu harga maksimum deklinasi di selatan. Jika diuraikan -23 o 26’ - 21o 25’ = -44o 51’ dan kalau
dimasukkan ke dalam rumus segitiga menjadi 1/tan -44 o 51’ = -1 maka waktu kulminasi adalah bayangan
suatu benda sama dengan bendanya, artinya untuk memperoleh bayangan dua kali panjang bendanya
harus ditambah tan 45 = 1 sehingga menjadi 1/tan 44o 51’ + 1 = 2 kali panjang bendanya.
Lihat gambar berikut.
☼ ☼ ☼ = Matahari
A = Letak tongkat
B = Bayang-bayang kulminasi
C = Bayang-bayang waktu ashar
A B C
Dapat disimpulkan bahwa tinggi matahari waktu ashar untuk semua tempat :
a. Apabila harga Deklinasi ( d ) lebih kecil dari harga lintang tempat ( P ), maka berlaku rumus : h
= tan-1 ( 1/ ( tan ( P - d ) + 1
Apabila harga ( d ) lebih besar dari pada ( P ) berlaku rumus : h = tan-1 ( 1/ ( -tan ( P - d ) + 1 )
b. Jika anda memiliki Kalkulator yang ada fasilitas Abs nya maka cukup :
h = tan-1 ( 1/ ( tan Abs ( P - d ) + 1 )
Perlu diperhatikan bahwa nilai maksimum ketinggian ( irtifak ) matahari waktu ashar adalah 45 o
Tinggi Matahari Waktu Maghrib dan Terbit
Maghrib di mulai saat matahari terbenam yang biasanya terlihat diufuk bagian barat dan langit
tampak kemerah-merahan. Tinggi matahari sa’at terbenam ini ketika piringan atas matahari
bersinggungan dengan ufuk mar’i. Padahal seluruh benda langit yang ada dalam almanak astronomi data
yang dicantumkan adalah posisi titik pusatnya ( posisi haqiqi ), oleh karenanya diperlukan Koreksi semi
diameter, refraksi dan kerendahan ufuk. Ketinggian matahari saat terbenam dan terbit dapat juga diambil
rata-rata yaitu -1o ( secara kasar ).
Tinggi Matahari Awal Isya’
Isya’ dimulai sejak mega merah menghilang yaitu ketika matahari berada di bawah ufuk
membentuk sudut 18o ( h = -18o ) pada saat langit cerah tampaklah di atas bertebaran bintang-bintang
dengan sinarnya yang maksimal.
Terbit Fajar Awal Waktu Shubuh
Subuh di mulai sejak terbit fajar yaitu ketika matahari masih di bawah ufuk membentuk sudut
sebesar 20o ( h = -20o ).
Tinggi Matahari Waktu Dhuha
Waktu Dhuha yang dikenal dalam fiqih pada saat posisi matahari satu tombak, berdasarkan
pengamatan para ahli falaq secara terus menerus ternyata terjadi pada saat tinggi matahari membentuk
sudut 4o 30’ ( h = 4.5 )
Saat Matahari Berkulminasi ( Merpass )
Mer pass ini biasanya dimuat dalam buku Ephymeris, Nautika, New Comb dll. Untuk
memperoleh merpass digunakan rumus : Mer pass = 12 – e
e = Equation Of Time atau sering disebut perata waktu, ini biasa dimuat dalam buku Ephymeris, Nautika,
New Comb. Namun di sini juga saya lampirkan pada halaman belakang.
Mer pass = Meredian pass adalah ketika arah bayangan tepat ke utara dan selatan.
Sudut Waktu Matahari ( t )
Sudut waktu matahari adalah jarak matahari dari titik kulminasi diukur sepanjang lintasan harian
matahari. Sudut waktu ini diberi tanda positif ( + ) jika di sebelah barat titik kulminasi sampai 180 o , dan
diberi tanda negatif ( - ) jika di sebelah timur titik kulminasi sampai 180 o . Rumus yang digunakan :t =
cos-1 ( - tan P tan d + sin h / cos P / cos d )
Ihtiyati
Ihtiyati adalah suatu langkah pengamanan dengan cara menambah atau mengurangi agar jadwal waktu
sholat tidak mendahului atau melampaui akhir waktu. Nilai ikhtiyati ini cukup 1 sampai 2 menit, karena
setiap 1 menit mempunyai jangkauan sekitar 27,77 kilo meter ke arah barat.
Contoh daerah sekitar katulistiwa keliling bumi = 40.000 km / 24 jam / 60 menit = 27,77777 km.
Sedangkan kalau kita menggunakan perhitungan yang lebih halus 40.000 km / 360 = 111.111 dengan
rumus : ( cos lintang tempat x 111 ) / 4
Contoh daerah Blitar : ( cos -8o 6’ x 111 ) / 4 = 27,47 km
******
BAB V
PERBEDAAN PENENTUAN AWAL WAKTU SHOLAT
Perbedaan penentuan awal waktu sholat daerah satu dengan yang lainnya disebabkan oleh: tinggi
tempat, deklinasi matahari, lintang tempat, dan bujur tempat
PERBEDAAN TINGGI TEMPAT
Tinggi tempat suatu daerah dengan daerah lainnya tidaklah sama, hal ini akan mempengaruhi
kerendahan ufuk, yang berdampak pada ketinggian matahari ( H ), selanjutnya akan merubah sudut waktu
matahari ( t ),dan sebagai konsekwensi logisnya akan mempengaruhi penentuan awal dan akhir watu
sholat
Contoh: Awal waktu magrib tanggal 1 januari 2005 di Blitar.
Diketahui: Lintang tempat ( P )= -8° 6’ Bujur tempat ( V ) = 112° 9’
Deklinasi ( d ) = -23° 0’ 1.63” Perata waktu ( e ) = -0° 3’ 16”
Dengan rumus kerendahan ufuk sbb: 0.0293 √ m
a. Ketinggian tempat 0 meter diatas permukaan air laut.
Tinggi matahari ( H )= 0 – semidiameter – refraksi – kerendahan ufuk.
H = 0 – 0° 16’ – 0° 34’ 30” – 0.0293√ 0 EXE shift ° ‘ “ -0° 50’ 30”
Hitung: t = shift cos (-tan -8° 6’ tan -23° 0’ 1.63” + sin -0° 50’ 30” / cos-8° 6’ / cos
-23° 0’ 1.63” ) EXE shift ° ‘ “ 94° 23’ 21.27”
Rumus waktu magrib: 12 – e + ( t + 105 – V ) / 15 EXE shift ° ‘ “
Waktu magrib : 12 – -0° 3’ 16” + ( 94° 23’ 21.27” + 105 – 112° 9’ ) / 15
EXE shift ° ‘ “ 17° 52’ 13.42”
b. Ketinggian tempat 200 meter diatas permukaan air laut
H = 0 – 0° 16’ – 0° 34’ 30” – 0.0293√ 200 EXE shift ° ‘ “ -1° 15’ 21.71”
Hitung: t = shift cos (-tan -8° 6’ tan -23° 0’ 1.63” + sin -1° 15’ 21.71” / cos
-8° 6’ / cos -23° 0’ 1.63” ) EXE shift ° ‘ “ 94° 50’ 43.19”
Waktu magrib : 12 – -0° 3’ 16” + ( 94° 50’ 43.19” + 105 – 112° 9’ ) / 15
EXE shift ° ‘ “ 17° 54’ 2.88”
Jadi selisih penentuan waktu sholat, antara ketinggian tempat 0 m diatas
permukaan air laut dengan 200 m di atas permukaan air laut adalah:
17° 54’ 2.88” – 17° 52’ 13.42” EXE shift ° ‘ “ 0° 1’ 49.46” ( 1 menit 50 detik )
PERBEDAAN DEKLINASI MATAHARI ( d )
Perbedaan deklinasi matahari ini disebabkan karena poros bumi membentuk sudut 66.5 drajat
dengan lingkaran lintasannya. Pada tanggal 21 maret, matahari bersinar tepat diequator, saat itu harga
deklinasi 0 (nol), kemudian pada tanggal 21 juni matahari terlihat di belahan langit utara dengan deklinasi
+23° 27’. Sesudah itu pada tanggal 23 september kembali bersinar diequator, pada saat itu deklinasi
matahari 0 drajat, lalu pada tanggal 22 desember, matahari bersinar dibelahan langit selatan dengan
deklinasi -23° 27’, demikianlah seterusnya.
Perbedaan dekllinasi matahari ini sangat mempengaruhi lama siang dan lama malam, dan sebagai
konsekwensi logisnya juga akan mempengaruhi penentuan awal waktu sholat,
Contoh: Selisih deklinasi matahari
a. tanggal 22 desember di Blitar.
Diketahui: d = -23° 27’ e = 0° 1’ 39”
h = -1 p = -8° 6’ V = 112° 9’
Hitung: t = shift cos (-tan -8° 6’ tan -23° 27’ + sin -1 / cos-8° 6’ / cos -23° 27’ )
EXE shift ° ‘ “ 94° 38’ 35.56”
Waktu magrib : 12 – 0° 1’ 39” + ( 94° 38’ 35.56” + 105 – 112° 9’ ) / 15
EXE shift ° ‘ “ 17° 48’19.37”
b. tanggal 21 juni diblitar.
Diketahui: d = 23° 27’ e = -0° 1’ 18”
h = -1 p = -8° 6’ V = 112° 9’
Hitung: t = cos ᅳ ¹ (-tan -8° 6’ tan 23° 27’ + sin -1 / cos-8° 6’ / cos 23° 27’ )
EXE shift ° ‘ “ 87° 33’ 46.97”
Waktu magrib : 12 – -0° 1’ 18” + ( 87° 33’ 46.97” + 105 – 112° 9’ ) / 15
EXE shift ° ‘ “ 17° 22’ 57.13”
Jadi selisih maksimum deklinasi diutara dan maksimum diselatan, untuk
daerah Blitar mempengaruhi penentuan waktu sholat magrib sebesar :17° 48’ 19.37”–17° 22’ 57.13” EXE
shift ° ‘ “ 0° 25’ 22.24” atau 25 menit 22 detik.
PERBEDAAN LINTANG TEMPAT ( P )
Karena lintang tempat ini merupakan letak sebuah tempat diukur dari katulistiwa keutara(+)
sampai kutub utara,dan keselatan(-) sampai kutub selatan, dengan titik 0 (nol) dikatulistiwa, yang sifatnya
hampir sama dengan deklinasi matahari, hal ini juga sangat mempengaruhi penentuan awal waktu sholat.
Contoh: Awal waktu magrib untuk dua daerah yang mempunyai selisih lintang
tempat 1 drajat akan mempunyai selisih waku sholat:
a. Diketahui: d = -21° 51’ 3.44” e = 0° 11’ 9”
h = -1 p = -8° V = 112°
Hitung: t = shift cos (-tan -8° tan -21° 51’ 3.44” + sin -1 / cos-8° / cos
-21° 51’ 3.44”) EXE shift ° ‘ “ 94° 19’ 15.86”
Waktu magrib : 12 – 0° 11’ 9” + ( 94° 19’ 15.86” + 105 – 112° ) / 15
EXE shift ° ‘ “ 17° 38’ 8.05”
b. Diketahui: d = -21° 51’ 3.44” e = 0° 11’ 9”
h = -1 p = -7° V = 112°
Hitung: t = shift cos (-tan -7° tan -21° 51’ 3.44” + sin -1 / cos-7° / cos
-21° 51’ 3.44”) EXE shift ° ‘ “ 93° 54’ 34.37”
Waktu magrib : 12 – 0° 11’ 9” + ( 93° 54’ 34.37” + 105 – 112° ) / 15
EXE shift ° ‘ “ 17° 36’ 29.29”
Jadi apabila dua tempat mempunyai selisih lintang tempat 1 drajat
maka akan menimbulkan selisih penentuan wakyu sholat sebesar :
17° 38’ 8.05” – 17° 36’ 29.29” EXE shift ° ‘ “ 0° 1’ 38.75”
PEREDAAN BUJUR TEMPAT ( V )
Apabila setiap tempat ditentukan menurut waktu setempat, koreksi bujur tidaklah [Link]
tetapi apabila dipergunakan waktu daerah, maka hasil perhitungan perlu dikoreksi dengan selisih bujur,
dengan memperhitungkan bujur berapa yang dijadikan pedoman. Untuk Indonesia, dibagi menjadi 3 bujur
pedoman ( tolok ukur ). Yaitu : 105 untuk WIB, 120 untuk WITA, 135 untuk WIT.
Contoh :
a. waktu dhuhur ( kulminasi ) di Blitar tanggal 1 januari e = -0° 3’ 16”
dhuhur=12 – -0° 3’ 16” EXE shift ° ‘ “ 12° 3’ 16” waktu setempat (LMT).
Bila ingin dijadikan waktu daerah Blitar maka:
12 – -0° 3’ 16” + ( 105 – 112° 9’ ) / 15 EXE shift ° ‘ “ 11° 34’ 40”
b. Diketahui: d = -21° 51’ 3.44” e = 0° 11’ 9”
h = -1 p = -7°
V = 112°
Hitung: t = shift cos (-tan -7° tan -21° 51’ 3.44” + sin -1 / cos-7° / cos
-21° 51’ 3.44”) EXE shift ° ‘ “ 93° 54’ 34.37”
Waktu magrib = 12 – 0° 11’ 9” + ( 93° 54’ 34.37” + 105 – 112° ) / 15
EXE shift ° ‘ “ 17° 36’ 29.29”
c. Diketahui: d = -21° 51’ 3.44” e = 0° 11’ 9”
h = -1 p = -7°
V = 111°
Hitung: t = shift cos (-tan -7° tan -21° 51’ 3.44” + sin -1 / cos-7° / cos
-21° 51’ 3.44”) EXE shift ° ‘ “ 93° 54’ 34.37”
Waktu magrib = 12 – 0° 11’ 9” + ( 93° 54’ 34.37” + 105 – 111° ) / 15
EXE shift ° ‘ “ 17° 40’ 29.29”
Jadi selisih bujur tempat 1 drajat saja akan mempengaruhi awal
waktu sholat magrib sebesar :
17° 40’ 29.29” – 17° 36’ 29.29” EXE shift ° ‘ “ 0° 4’
BAB VI
LAMA SIANG DAN MALAM
Deklinasi matahari dan lintang tempat akan berpengaruh pada lama siang dan lama malam.
Apabila matahari bersinar di belahan langit selatan, maka belahan bumi selatan akan mengalami siang
lebih panjang daripada malam, dan belahan bumi utara mengalami malam lebih panjang dari siang. Bila
matahari berada di belahan langit utara, maka belahan bumi utara akan mengalami siang lebih panjang
dari malam, dan belahan bumi selatan akan mengalami malam lebih panjang dari siang.
Lama siang dapat dirumuskan sbb: cos⁻¹ (-tan P tan d ) x 2 / 15
Keterangan :
a. bila d = 0 maka cos to = 0 dan to = 90º, artinya bila matahari di equator ( sekitar tanggal 21
maret dan 23 september ), maka untuk semua tempat di muka bumi, mempunyai lama
malam dan siang yang sama.
b. Bila P = 0 maka cos to = 0 dan to = 90º. artinya, untuk tempat – tempat yang terletak di
equator, sepanjang tahun akan mempunyai lama siang dan malam yang sama.
c. Hasil kali tan P tan d, dapat mencapai semua harga. Sedangkan cos to harga mutlaknya tidak
lebih dari 1. oleh karena itu, jika hasil kali tan P tan d mencapai harga lebih dari 1 maka
pada hari itu tidak akan terdapat titik terbit atau terbenam. Artinya, sepanjang hari itu
matahari berada di atas ufuk, apabila deklinasi dan lintang tempat sama letaknya ( sama –
sama di utara atau di selatan ). Atau sepanjang hari itu matahari dibawah ufuk, jika deklinasi
dan lintang tempat berlainan letak ( yang satu di utara dan lainnya di selatan.
Contoh: 1. Pada tanggal 1 januari di Blitar.
d = -23 P = -8º 6’
Lama siang : cos⁻¹ ( -tan -8º 6’ tan -23 ) x 2 / 15 EXE shift º ‘ “ 12º 27’ 42.45“
Lama malam : 24 – 12º 27’ 42.45“ EXE shift º ‘ “ 11º 32’ 17.55“
2. pada tanggal 22 juni di Moskow ( Rusia ).
d = 23º 27’ P = 56
Lama siang : cos⁻¹ ( -tan 56 tan 23º 27’ ) x 2 / 15 EXE shift º ‘ “ 17º 20’ 11.15“
Lama malam : 24 – 17º 20’ 11.15“ EXE shift º ‘ “ 6º 39’ 48.85“
3. suatu keadaan yang harus diakui apabila jumlah lintang tempat dan deklinasi menjadi
90º, bersamaan tanda, maka di tempat itu akan terjadi siang terus.
Lama siang : cos⁻¹ ( -tan 66º 33’ tan 23º 27’ ) x2 / 15 EXE shift º ‘ “ 24 jam.
Dan apabila jumlah lintang tempat dan deklinasi menjadi 90º, berbeda tanda, akan terjadi
ditempat itu malam terus.
Lama siang : cos⁻¹ ( -tan -66º 33’ tan 23º 27’ ) x2 / 15 EXE shift º ‘ “ 0 jam.
Bukan sebuah hal yang mengherankan, kalau di daerah kutub, malam terus atau siang terus berhari
– hari, karena jumlah lintang tempat dan deklinasi lebih dari 90º.
Dengan demikian jelaslah bahwa deklinasi dan lintang tempat sangat mempengaruhi lama siang
dan lama malam, sehingga berpengaruh bagi terbit dan terbenamnya matahari, maka sebagai akibatnya
berpengaruh pula terhadap penentuan waktu sholat. Kecuali waktu dhuhur yang mempunyai rumus
sebagai berikut: 12 – e . rumus ini menghasilkan waktu setempat ( LMT ). Dan bila dijadikan waktu
daerah menjadi : 12 – e = ( bujur daerah – bujur tempat ) / 15 . maka unsur deklinasi dan lintang
tempat tidak dilibatkan. Lain halnya dengan waktu sholat yang lainnya, selalu mengikut sertakan
deklinasi dan linatang tempat.
Kesimpulan :
Apabila tinggi tempat, deklinasi matahari, lintang tempat,dan bujur tempat berbeda, sebagai
contoh: antara kota Bllitar dengan kota Surabaya, yang perbedaan lintang tempat dan bujur tempatnya
tidak terlalu banyak, bila di hisab, perbedaan dari hari ke hari sampai satu tahun dalam hal penentuan
awal waktu sholat akan mencapai 1 sampai 4 menit. Sedang apabila perbedaan waktu sholat antara
Surabaya dengan blitar hanya di hitung dengan memakai selisih bujur saja maka kedua kota itu akan tetap
selisihnya, yaitu 2 menit 24 detik
Contoh :
a. tanggal 22 desember di Surabaya.
Diketahui: d = -23° 27’ e = 0° 1’ 39”
h = -1 p =-7° 15’ V = 112° 45’
Hitung: t = shift cos (-tan -7° 15’ tan -23° 27’ + sin -1 / cos-7° 15’ / cos
-23° 27’ ) EXE shift ° ‘ “ 94° 15’ 52.04”
Waktu magrib : 12 – 0° 1’ 39” + 94° 15’ 52.04” + 105 – 112° 45’ ) / 15
EXE shift ° ‘ “ 17° 44’ 24.47”
b. tanggal 21 juni di Surabaya.
Diketahui: d = 23° 27’ e = -0° 1’ 18”
h = -1 p = -7° 15’
V = 112° 45’
Hitung: t = shift cos (-tan -7° 15’ tan 23° 27’ + sin -1 / cos-7° 15’ / cos 23° 27’ )
EXE shift ° ‘ “ 87° 56’ 11.57”
Waktu magrib : 12 – -0° 1’ 18” + ( 87° 56’ 11.57” + 105 – 112° 45’ ) / 15
EXE shift ° ‘ “ 17° 22’ 2.77”
Jadi untuk tanggal 22 desember, antara kota Surabaya dengan kota Blitar waktu terbenam
matahari selisih :
17° 48’19.37” – 17° 44’ 24.47” EXE shift ° ‘ “ 0º 3‘ 54.18“ lebih dahulu kota Surabaya.
Dan pada tanggal 21 juni antara kota Surabaya dengan kota Blitar waktu terbenam matahari selisih
:
17° 22’ 57.13” – 17° 22’ 2.77” EXE shift ° ‘ “ 0º 0’ 54.36“ lebih dahulu kota Surabaya.
Apabila perbedaan tinggi tempat juga di perhitungkan, maka selisih perbedaan penentuan waktu
sholat akan lebih besar.
Sehingga kurang tepat kalau membuat jadwal waktu sholat hanya memperhitungkan selisih bujur
saja, tanpa memperhitungkan aspek – aspek yang lain. Artinya , jika membuat jadwal waktu sholat untuk
suatu kota, maka untuk kota – kota lain harus di hitung sendiri, kecuali kota yang lintangnya sama, ini
bisa memakai selisih bujur.
******************
BAB VII
ARAH KIBLAT
Banyak rumus segitiga bola, yang berfungsi untuk mengetahui arah kiblat, antara lain :
1. Shift tan ( sin A / tan B / sin C – cos A / tan C ) EXE shift º ‘ “
2. Shift tan ( 1 / tan B x sin A / sin B – cos A x 1/ tan C ) EXE shift º ‘ “
3. Shift tan ( 1/(cos P tan 21º 25’ / sin ( V – 39º 50’ ) – sin P /
tan ( V – 39º 50’ ) ) ) EXE shift º ‘ “
4. dan masih banyak turunan rumus lagi.
Keterangan :
A = 90 – P ( lintang tempat )
B = 90 – lintang makkah ( 21º 25’ )
C = Bujur tempat ( V ) – bujur makkah ( 39º 50’ )
Contoh:
Arah kiblat untuk kota Blitar.
P =-8° 6’ V = 112° 9’
Kita memakai rumus no: 3
Arah kiblat (A) : Shift tan ( 1/(cos -8° 6’ tan 21º 25’ / sin (112° 9’ – 39º 50’ ) –
sin -8° 6’ / tan (112° 9’ – 39º 50’ ) ) ) EXE shift º ‘ “ 65º 39‘ 11.95“ UB
ini sudut arah kiblat kota Blitar dari titik utara kearah barat.
Dan 90 – 65º 39‘ 11.95“ EXE shift º ‘ “ 24º 20‘ 48.05“ BU
ini sudut arah kiblat kota Blitar dari titik barat kearah utara.
Dengan kata lain arah kiblat kota blitar adalah :
65º 39‘ 11.95“. dari titik utara kearah barat.
24º 20‘ 48.05“. dari titik barat kearah utara.
Contoh Pengukuran kiblat: UNTUK BLITAR
A = 65º 39‘ 11.95“ UB atau 24º 20‘ 48.05“ BU
BT = 100 cm
BU = SU = 100 / tan 65º 39‘ 11.95“ = 45.24985008 cm = 45.2 cm
Atau = 100 x tan 24º 20‘ 48.05“ = 45.24985008 cm = 45.2 cm
Kiblat
U shaf
45,2 cm
B X T
S 100cm
*******************
BAB VIII
Menentukan arah yang sebenarnya memang sangat penting, untuk keperluan ru’yatul hilal maupun
membuat arah kiblat. Sebab tanpa arah yang hakiki, hitungan se akurat apapun jika diprektekkan di
lapangan, akan tidak berarti ( menyebabkan kesalahan ). Hal ini sudah sering terjadi, beberaapa kali kami
melakukan ru’yatul hilal di pantai Serang Blitar, sedang yang dipakai menentukan arah adalah jarum
kompas. Dan hasilnya selalu melenceng sekitar dua drajat. Padahal yang kami pakai satu kompas.
Bagaimana kalau banyak jarum kompas? Jawabnya : banyak arah yang di tuju. Artinya, 10 jarum kompas
akan menunjukkan 10 arah.
Mancocokan jam, baik WIB maupun istiwa’ dengan cara ini sangat mudah dan bisa di lakukan
seharian penuh, asal matahari tidak tertutup mendung.
Alat yang di butuhkan:
1. waterpas yang mempunyai skala centi meter, di ujungnya diberi tongkat istiwa’ yang tegak lurus
dan diberi jarum kompas
Lihat gambar:
Tongkat iatiwa’ panjang 10 cm
Kompas skala cm Water pas
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I
Panjang garis ( R ) = 20
Diket : d = -23º 0’ 1.63” e = -0º 3’ 16”
p = -8º 6’ V = 112º 9’
M = 5.5 cm R = 20 cm
Hitung: H = shift tan ( 10 / 5.5 ) EXE shift º ‘ “ 61º 11‘ 21.14“
t = shift cos ( - tan -8º 6’ tan -23º 0’ 1.63” + sin 61º 11‘ 21.14“ / cos -8º 6’
/ cos -23º 0’ 1.63” ) EXE shift º ‘ “ 25º 42’ 4.07”
karena sore hari rumusnya pakai: W = 12 + t / 15 istiwa’ atau
W = 12 – e + t / 15 + ( 105 – V ) / 15 WIB
W = 12 – 25º 42’ 4.07” / 15 EXE shift º ‘ “ 13º 42’ 48.27” istiwa’
W = 12 – e + 25º 42’ 4.07” / 15 + ( 105 – 112º 9’ ) / 15 EXE shift º ‘ “
13º17’ 28.27” WIB
Jadi pada tanggal 1 januari 2005, dengan panjang bayang – bayang 5.5 cm di Blitar
menunjukkan jam 13.42.48 istiwa’ atau 13.17.28 WIB.
Untuk mengetahui arah hakikinya, t dimasukkan ke rumus azimuth :
Z = shift tan ( - sin P / tan t + cos P tan d / sin t ) EXE shift º ‘ “
Z = shift tan ( - sin -8º 6’ / tan 25º 42’ 4.07” + cos -8º 6’ tan -23º 0’ 1.63”
/ sin25º 42’ 4.07”) EXE shift º ‘ “ -34º 4’ 11.15”
T = 20 cos – 34º 4’ 11.15” EXE 16.5671212
S = 20 sin – 34º 4’ 11.15” EXE -11,20403924
Artinya : Arah timur atau barat ( T ) = 16.6 cm
Arah utara atau selatan ( S ) = - 11.2 cm
Nilai ( - ) berarti garis dari utara ke selatan
Nilai (+) berarti garis dari selatan ke utara
Lihat gambar: panjang garis 20 cm U
11.2 cm
B 16.6 cm S T
Setelah mengetahui utara – selatan hakiki, tandailah jarum kompas yang anda pasang pada
waterpas. Sehingga anda mengetahui berapa fariasi magnet ( deklinasi magnet ) kompas anda. Nah
barulah jarum kompas anda bisa untuk menunjukkan arah hakiki di kota itu dan sekitarnya.
BAB IX
B B T
S
Atau juga bisa kita buat bencet dengan cara: Menghitung waktu kulminasi dulu, jam berapa waktu
kulminasi yang kita hitung itu, kemudian kita tunggu tongkat istiwa’ sampai terjadinya kulminasi.
Kemudian kita buat garis sejajar dengan bayang – bayang tongkat. Itulah arah utara – selatan hakiki.
Kulminasi di Blitar tanggal 1 januari e = -0° 3’ 16”
12 – -0° 3’ 16” + ( 105 – 112° 9’ ) / 15 EXE shift ° ‘ “ 11° 34’ 40”
Lihat gambar: matahari berkulminasi jam 11° 34’ 40” WIB
B T
S
MENGETAHUI LINTANG TEMPAT ( P )
Setelah kita mengtahui arah utara – selatan hakiki, untuk mencari lintang tempat akan lebih
mudah. Sebagai contoh: pada tanggal 1 januari, kita tunggu bencet, ketika bayangannya menunjukkan
arah utara – selatan ( persis pada garis utara ) karena tanggal 1 januari deklinasi matahari berada di selatan
sekitar - 23º 6’, sehingga bayangan ketika kulminasi berada di utara. Buat tanda pada ujung bayangan,
kemudian ukur berapa cm panjang bayangan tersebut, lalu masukkan ke rumus :
lintang tempat : d – shift tan ( X / Y ) EXE shift º ‘ “
Keterangan: d = deklinasi
X = panjang bayang – bayang tongkat
Y = tinggi tongkat
Bila bayangan di utara bernilai ( – )
Bila bayangan di selatan bernilai ( + )
Contoh:
mencari lintang tempat kota Blitar.
Diketahui: d = - 23º 6’ X = - 26.8 cm Y = 100 cm
-23º 6’ – shift tan (- 26.8 / 100 ) EXE shift º ‘ “ - 8º 5’ 50.22” Jadi lintang tempat
kota Blitar = - 8º 5’ 50.22”. di bulatkan = - 8º 6’
MENGETAHUI DEKLINASI ( d )
Untuk mengetahu deklinasi matahari dengan tongkat istiwa’, sama dengan cara mengetahui
lintang tempat, yaitu menanti saat terjadinya kulminasi, kemudian ujung bayang – bayang di beri tanda
dan di ukur berapa panjangnya, lalu di masukkan ke rumus d = shift tan ( X / Y ) + lintang tempat EXE
shift º ‘ “
Contoh: X = panjang bayangan = - 26.8 cm Y = panjang tongkat = 100 cm
Deklinasi ( d ) = shift tan (- 26.8 / 100 ) + - 8º 6’ EXE shift º ‘ “ - 23º 6’ 9.78”
MENGETAHUI BUJUR TEMPAT ( V )
Cara mengetahui bujur tempat lewat tonggkat istiwa’ juga menanti saat matahari berkulminasi,
waktu bayangan matahari persis pada garis utara atau selatan kita melihat jam tangan yang sudah di
cocokkan terlebih dahulu. Jam berapa waktu kulminasi saat itu? Kemudian di masukkan ke dalam rumus
bujur tempat = (12 – e – waktu kulminasi ) x 15 + 105 EXE shift º ‘ “
Contoh : mengetahui bujur tempat kota Blitar pada tanggal 1 januari.
Diketahui : perata waktu ( e ) = -0º 3’ 16” Kulminasi ( Z ) = 11º 34’ 40
V = (12 – -0º 3’ 16” – 11º 34’ 40” ) x 15 + 105 EXE shift º ‘ “ 112º 9’
MENCOCOKKAN JAM ISTIWA’
Mencocokkan jam istiwak dengan bencet, sebaiknya dilakukan setiap hari atau maksimal 3 hari
sekali. Yaitu ketika matahari berkulminasi atau saat bayangan matahari membentuk arah utara – selatan,
saat itu jam = 12 istiwa’.
Sebenarnya mencocokkan jam istiwak ini, lebih mudah dengan menggunakan daftar perata
waktu dan bujur tempat.
Contoh: Mencocokkan jam istiwak di kota Blitar tanggal 1 januari jam WIB menunjukkan pukul 10.00
WIB.
Jam berapakah istiwa’nya?
Diketahui: e = -0º 3’ 16” V = 112º 9’
Rumus = WIB + e – ( 105 – V ) / 15 EXE shift º ‘ “
Istiwa’ = 10 – ( 105 – 112º 9’ ) / 15 EXE shift º ‘ “ 10º 25’20” istiwa’
Perlu di garis bawahi, bahwa selisih antara WIB dengan istiwa’ itu tidak tentu, atau tidak selalu 30
menit seperti yang di fahami oleh banyak orang. Untuk daerah Blitar selisihnya berkisar antara 15 menit
sampai 45 menit. Tegantung kepada besar kecilnya perata waktu dan koreksi waktu daerah.
*********************
DATA LINTANG DAN BUJUR TEMPAT DI MADURA
HISAB AWAL BULAN HIJRIYAH SISTIM AS - SYAHRU
MARKAZ = ..................................... LT (P) =............................... BT (V ) =................................
KEtiNGGIAN TEMPAT ( K ) = ............................m, diatas permukaan air laut.
II. KONVERSI
IJTIMA’ AWAL BULAN ........................ H PADA JAM ............... WIB ,TGL ...............................M
Tanggal ............ ....................... bila diuraikan = ........... tahun + ......... bulan + ............ hari
Langkah Penghitungan :
1. ............ / 4 = ................... = ............................. daur
............. x 4 = ............................. tahun
2. ............ daur x 1461 = .............................. hari
............ tahun x 365 = .............................. hari
............ bulan ( lihat usia bulan ) = ........................... hari
............ hari = .............................. hari
= .......................... hari
Anggaran gregorius = .......................... – hari
Jumlah hari .......................... ( JM ) = .......................... hari
3. Mencari nama hari : JM / 7 = ................... ( yang dipakai angka di belakang koma saja)
........................ x 7 = ........................... Sisa = ............ = hari ................
4. Mencari nama Pasaran : JM dipakai satu anggka yang paling belakang =........................
= Pasaran ......................
Kesimpulan : tanggal ............................................................................................................................
II. ECLIPTIC LONGITUDA MATAHARI ( N )
ASENSIA REKTA ( A’ ) DAN DEKLINASI MATAHARI ( U )
J =JM – 724643 + ( 11 / 24 ) = ........................................
Kita masukkan ke rumus
C = 279.5751 + J x .985647 = ........................................
G = 356.967 + J x . 985600 = ........................................
N = C + 1.916294 sin G + . 020028 sin ( 2 x G ) + . 000 290 sin ( 3 x G ) = ..........................................
Asensiarecta ( A’ ) = tan –1 ( . 917451381 tan N ) EXE SHIFT º ‘ “ = ...........................................
Deklinasi ( U ) = sin–1 ( .397847914 sin N ) EXE SHIFT º ‘ “ = ...........................................
III. SAAT TERBENAM MATAHARI ( X )
Tinggi Matahari ( C’ )
( C’ ) = 0º – 0º 16’ – 0º 34.5’ – . 0293 √ K EXE SHIFT º ‘ “ = ...........................................
Sudut Waktu Matahari ( Q )
( Q ) = Cos –1 ( -tan P x tan U + sin C’ / Cos P / Cos U ) EXE SHIFT º ‘ “ = ..............................
Terbenam Matahari ( X )=( Q +105 – V) / 15 + 12– E EXE SHIFT º ‘ “ =..............................
E = equation of time ( perata waktu ) lihat tabel.
IV. AZIMUT MATAHARI ( A )
Cara menghisab Azimut Matahari dengan rumus :
A = tan –1 ( -sin P / tan Q + Cos P x tan U / sin Q ) EXE SHIFT º ‘ “ = ..........................................
V. APPARENT LONGITUDE BULAN ( L ) / APPRRENT LATITUDE BULAN ( C’ )
ASENSIAREKTA BULAN ( R ) DAN DEKLINASI BULAN ( Z )
J’ = J – ( 11 / 24 ) + ( X – 7 ) / 24 EXE = ........................................
G’ = 18.25 + 13.17640 xJ’ EXE = ........................................
N’ = 185.33 + 13.06499 x J’ EXE =..........................................
W = 356.93 + . 98560 x J’ EXE =..........................................
F = 323.05 + 13.22935 x J’ EXE =..........................................
O = 98.64 + 12.19075 x J’ EXE =..........................................
C” = 5.13 sin F+.28 sin (N’+ F) – .28sin (F– N’)–.17sin (F– 2 x O) EXE SHIFT º ‘ “
=........................................
L =G'+6.29sinN’ –(1.27sin(N’–2xO))+.66sin(2xO)+.21sin(2N’) –.19sinW – .11sin(2F)
=........................................
R = tan –1((sinL x.917451381–tanC”x.397847914 ) / Cos L) EXE SHIFT º ‘ “ = ............................
Z = sin –1(sinC”x.917451381+CosC”x.397847914 sinL) EXE SHIFT º ‘ “ =..................................
VI. SUDUT WAKTU BULAN ( T )
T = A’ – R + Q EXE SHIFT º ‘ “ =........................................
VII. IRTIFA’UL HILAL HAKIKI ( H )
H = sin –1 ( sin P sin Z + Cos P Cos Z Cos T ) EXE SHIFT º ‘ “ = .......................................
VIII. IRTIFA’UL HILAL MAR’I ( M’ )
M = H – (( 0º 16’ / . 2725 ) Cos H ) + 0º 16’ EXE SHIFT º ‘ “ = ........................................
M’ = M + ( .0167 / tan ( M + 7. 31 / ( M + 4.4 ))) + .0293 √ K EXE SHIFT º ‘ “ = ........................
IX. AZIMUT BULAN ( L’ )
L’ = tan –1 ( -sin P / tan T + Cos P tan Z / sin T ) EXE SHIFT º ‘ “ = ........................................
X. LAMA HILAL ( S )
S = M’ / 15 EXE SHIFT º ‘ “ = .......................................
XI. JARAK MATAHARI DAN BULAN ( R’ )
R’ = L’ – A EXE SHIFT º ‘ “ = ........................................
Catatan : Jika nilai R’ plus ( + ) maka letak hilal di utara matahari dan kalau nilai R’ minus ( - ),
maka hilal berada di selatan matahari.
XII. ARAH RUKYAT ( N” )
N” = 270 + L ‘ EXE SHIFT º ‘ “ = ........................................
Arah Rukyat dihitung dari titik utara mengikuti jarum jam sampai azimut bulan
XIII. NURUL HILAL ( D )
H>0 D = √ ( Abs ( A – L’ )2 + H2 ) / 15 x 2,5 EXE = ........................................
XIV. KESIMPULAN
AL – HASIB
............................
HISAB AWAL WAKTU SHOLAT
Tanggal : ……………………………………………
Diketahui :
P = lintang tempat = ......................................................................
V = bujur tempat = ......................................................................
d = deklinasi = ......................................................................
E = perata waktu = ......................................................................
K = tinggi tempat = ......................................................................
i = ihtiyat = .....................................................................
I. AWAL WAKTU DHUHUR ( Z )
Rumusnya :
Z = 12 – E + ( 105 – V ) / 15 + i
Z= ............................................................................................................................
II. AWAL WAKTU ASHAR ( WA )
Rumusnya h pakai yang ........................................................................................
h=Shift tan ( 1 / ( ....................................................................................................
Rumus : t= shift cos ( - tan p tan d + sin h / cos p / cos d )
t = shift cos ( - tan ……………………………………………………………………....
……………………………..……………………………………………………………..
Rumus WA = t / 15 + i istiwa’ atau WA = Z + t / 15 WIB
WA = ………………………………..................................................................istiwa’
WA = ...............................................................................................................WIB
III. AWAL WAKTU MAGHRIB ( WM )
h. = -semi diameter – refracsi – kerendahan ufuk
h = -0º 16º – 0º 34.5º – .0293 √ …………… = Shift º ’ “ ………………………….
t = shift cos ( - tan ……………………………………………………………………….
.................................................................................................................................
Rumus WM = t / 15 + i istiwa’ atau WM = Z + t / 15 WIB
WM = ………………………………………………………………………………istiwa’
WM = ………………………………………………………………………………WIB
IV. AKHIR WAKTU SUBUH ( TERBIT ) ( WT )
t. sama dengan waktu maghrib
Rumus WT = 12 – t / 15 – i istiwa’ atau WT = Z – t / 15 – 2 x i WIB
WT = ………………………………………………………………………………istiwa’
WT = ………………………………………………………………………………WIB
V. AWAL WAKTU ISYA’ ( WI ) h = - 18
t = shift cos ( - tan ……………………………………………………………...……….
...............................................................................................................................
Rumus WI = t / 15 + i istiwa’ atau WI = Z + t / 15 WIB
WI = .............................................................................................................istiwa’
WI = .............................................................................................................WIB
VI. AWAL WAKTU SUBUH ( WS ) h = - 20
t = shift cos ( - tan ……………………………………………………………………….
................................................................................................................................
Rumus WS = 12 – t / 15 + i istiwa’ atau WS = Z – t / 15 WIB
WS = ……………………………………………………………… ………………istiwa’
WS = ……………………………………………………………………………….WIB
VII. AWAL WAKTU DHUHA ( WD ) h = 4.5
t = shift cos ( - tan …………………………………………………...………………….
...............................................................................................................................
Rumus WD = 12 – t / 15 + i istiwa’ atau WD = Z – t / 15 WIB
WD = ………………………………………………………………………………istiwa’
WD = ………………………………………………………………………………WIB
VIII. WAKTU IMSAK
Rumusnya = awal waktu subuh – 10 menit
IMSAK =…………………………….– 0º 10º = Shift º ’ “………………………istiwa’
IMSAK =…………………………… – 0º 10º = Shift º ’ “ ……………………..WIB
Al – Hasib
DAFTAR PUSTAKA
5. Penentuan awal waktu sholat menurut ilmu hisab oleh: [Link] Jannah,M Ag.