5.
Pengendalian Rodentia dengan Perangkap
Upaya pengendalian kebanyakan para petani biasanya menggunakan pengendalian secara
biologi, kultur teknis, fisik mekanik ataupun kimia. Pemasangan perangkap tidak hanya dipasang
dibiarkan begitu saja, akan tetapi harus menggunakan umpan yang sangat disukai untuk memikat
masuknya tikus sawah ke dalam perangkap yang dibuat. Untuk memikat masuknya tikus ke
dalam perangkap, biasanya dipasang umpan berupa ikan asin dan kelapa bakar, mentega kacang
dan jenis umpan apa saja. Pengendalian tikus penting dilakukan untuk mengurangi kepadatan
tikus. Pengendalian dapat dilakukan dengan memberikan intervensi terhadap berbagai aspek,
yaitu sumber infeksi (host reservoir maupun hos karier), jalur penularan penyakit, dan manusia.
Salah satu metode pengendalian tikus yaitu dengan menggunakan perangkap. Perangkap
yang digunakan dapat berupa perangkap hidup (live trap), perangkap mati (snap trap, break-back
trap), atau perangkap berperekat (sticky-board trap). Tipe perangkap yang berbeda memiliki
efektivitas yang berbeda pula. Perangkap dipilih karena mudah dalam pengaplikasian terhadap
pengendalian tikus, ekonomis karena dapat digunakan berkali-kali, mudah ditemukan di pasar,
memiliki harga relatif terjangkau, dan merupakan cara yang ramah lingkungan karena dalam
aplikasinya tidak menggunakan bahan-bahan kimia.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan tikus adalah pemasangan
umpan. Pemasangan umpan pada perangkap harus disesuaikan dengan wilayah atau tempat
pemasangan. Peletakan perangkap juga mempengaruhi keberhasilan penangkapan tikus.
Perangkap diletakkan pada tempat yang diperkirakan sebagai jalan tikus (run way) atau sering
dilewati tikus dapat dilihat dari tanda-tanda kehadiran tikus, , seperti di dapur atau atap. Faktor
lain yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan tikus adalah aktifitas tikus. Tikus aktif pada
malam hari dan pada siang hari mereka berlindung di dalam lubang atau semak.
Dalam pengendalian hama, vektor, dan bintang pengganggu terutama rodentia ada
beberapa alat yang dapat digunakan, diantaranya adalah menggunakan alat perangkap. Alat ini
digunakan untuk menangkap dan mematikan hama atau vektor. Berikut beberapa contoh alat
perangkap:
a. Mouse trap : merupakan perangkap tikus yang bekerja dengan cara mengaktifkan
pemicu yang dapat menjebak tikus saat mengambil umpan yang diberikan.
b. Rat trap box : merupakan kotak perangkap tikus yang dirancang dengan sistem
penjebakan yang aman dan higienis untuk menghindari penyebaran penyakit yang
mungkin dibawa oleh tikus.
c. Glue trap : merupakan pengendalian tikus dengan menggunakan metode perangkap
lem, di mana perangkap tersebut akan ditempatkan pada area-area yang diperkirakan
sebagai akses dan jalur tikus.
6. Pengendalian Rodentia dengan Rodentisida
Menilai tingkat kerusakan atau infestasi rodentia (tikus) di area peternakan.
Memilih jenis rodentisida yang sesuai, seperti antikoagulan (menghentikan pembekuan
darah) atau rodentisida berbasis racun lainnya.
Menyebarkan rodentisida di tempat yang sering dilalui tikus, seperti jalur pergerakan atau
sarang, dengan dosis yang sesuai.
Menggunakan rodentisida dengan hati-hati untuk menghindari keracunan pada hewan
ternak atau manusia.
Memeriksa hasil dan mengidentifikasi apakah pengendalian tikus berhasil atau perlu
diteruskan.
Menjaga kebersihan dan memperbaiki fasilitas untuk mengurangi tempat berlindung
tikus, serta melakukan rotasi penggunaan rodentisida agar tikus tidak kebal.
7. Pentingnya Program Pengendalian Terpadu
Penyebaran Penyakit
Rodentia dapat menjadi vektor penyakit berbahaya seperti leptospirosis, salmonellosis, dan
penyakit zoonosis lainnya yang dapat menyerang ternak dan manusia.
Kerusakan Pakan dan Persediaan
Rodentis sering mengkontaminasi pakan ternak dengan urine, feses, dan rambutnya, yang dapat
menurunkan kualitas serta menyebabkan keracunan pada hewan ternak.
Kerugian Ekonomi
Kehadiran rodentia dapat menyebabkan kerusakan pada infrastruktur peternakan, seperti gudang,
kandang, dan peralatan listrik, sehingga meningkatkan biaya perbaikan dan produksi.
Stres pada Ternak
Rodentia yang berkeliaran di sekitar kandang dapat menimbulkan stres pada hewan ternak, yang
dapat berdampak pada penurunan produksi susu, telur, atau pertumbuhan daging.
Gangguan Reproduksi
Rodentia dapat mencemari air dan pakan ternak dengan bakteri atau virus yang mempengaruhi
kesehatan reproduksi ternak, seperti infertilitas atau keguguran pada sapi dan kambing.
DAFTAR PUSTAKA
Aji, A. S. B. (2020). A to Z Bisnis Pest Control. Alinea Media Pustaka, Batam.
Irawati, J., Fibriana, A. I. dan Wahyono, B. (2015). Efektivitas pemasangan berbagai model perangkap
tikus terhadap keberhasilan penangkapan tikus di Kelurahan Bangetayu Kulon Kecamatan Genuk
Kota Semarang tahun 2014. UJPH, 2(3): 67-75.
Mahmudah., Pramudi, M. I. dan Marsuni, Y. (2022). Tingkat kesukaan tikus terhadap berbagai umpan
pada perangkap semi otomatis. Proteksi Tanaman Tropika, 5(01): 455-462.
Rohim, M. (2023). Panduan Pengendalian Hama & Vektor. Michosan Center Indonesia, Jawa Barat.