Proses dan Tujuan Membaca Anak
Proses dan Tujuan Membaca Anak
A. Kajian Pustaka
1. Konsep Membaca
a. Pengertian Membaca
Membaca merupakan kata kerja yang berasal dari kata dasar “baca”,yang
Indonesia membaca diartikan sebagai ”1) melihat serta memahami isi dari apa yang
tertulis(dengan melisankan atau dalam hati), 2) mengeja atau melafalkan apa yang
tertulis”.
“Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca
untuk memperoleh pesan,yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-
kata/bahas tulisan”. Suatu proses yang menutut agar kelompok kata yang merupakan
suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan makna kata-kata
secara individual akan dapat [Link] hal ini tidak terpenuhi pesan yang
7
8
tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami dan proses membaca
membaca yaitu suatu proses yang melibatkan aktifitas fisik guna memperoleh suatu
b. Proses Membaca
membaca yaitu:
Dari konsep di atas dapat disimpulkan bahwa dalam proses membaca anak dibagi
menjadi empat yakni persepsi, pemahaman, reaksi dan integrasi yang masing masing
tahapan akan diadopsi oleh anak berdasarkan jenjang pemahaman akan membaca
c. Tujuan Membaca
informasi,mengenai isi dan memahami makna bacaan. Menurut Rivers dan Temperly
(Somadayo 2011: 10-11) mengajukan tujuh tujuan utama dalam membaca yaitu:
yaitu:
b) Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik
dan menarik.
c) Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada
setiap bagian bagian cerita.
d) Membaca untuk menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh
merasakan seperti cara mereka itu.
e) Membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak biasa.
f) Membaca untuk menemukakan apakah tokoh berhasil atau hidup
dengan ukuran ukuran tertentu,
g) Membaca untuk menemukan bagaimana cara tokoh berubah,bagaimana
hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal,
Membaca harus mempunyai tujuan, dimana seseorang yang membaca dengan
suatu tujuan, cenderung lebih memahami dibandingkan dengan orang membaca tidak
mempunyai tujuan.
a) Kesenangan
b) Menyempurnakan membaca nyaring
c) Menggunakan strategi tertentu
d) Memperbaharui pengetahuan tentang suatu topik tertentu
e) Mengaitkan informasi baru dengan informasiyang telah diketahuinya
f) Memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis
g) Mengkonfirmasikan atau menolak prediksi
h) Menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang
diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari
tentang struktur teks;
i) Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik
adalah modal utama untuk memahami makna bacaan. Tujuan yang jelas akan
memberikan motivasi intrinsik yang besar bagi seseorang. Seseorang yang sadar
11
sepenuhnya akan tujuan membacanya akan dapat mengarahkan sasaran daya pikir
membaca.
dimulai sejak anak masuk SD, yaitu pada saat berusia enam tahun. Meskipun
demikian ada anak yang sudah belajar membaca lebih awal dan ada pula yang baru
belajar membaca pada usia tujuh atau delapan tahun,hal tersebut diakibatkan dari
beberapa Faktor.
a. Kematangan mental,
b. Kematangan visual,
c. Kematangan mendengarkan,
d. Perkembangan wicara dan bahasa,
e. Keterampilan berpikir dan memperhatikan,
f. Perkembangan motorik,
g. Kematangan sosial dan emosial,
h. Motivasi dan minat.
a) Faktor fisiologis,
b) Faktor intelektual
c) Faktor lingkungan
d) Faktor psikologis
12
secara berurut.
a. Faktor fisiologis
jenis kelamin. Kelelahan juga merupakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi
berbagai cacat otak) dan kekurangmatangan secara fisik merupakan salah satu faktor
pemahaman mereka.
b. Faktor intelektual
kegiatan berpikir yang terdiri dari pemahaman yang esensial tentang situasi yang
diberikan dan Page dkk (Rahim 2005:17) mengatakan bahwa yang meresponya
secara tepat. Penelitian Ehansky dkk (Rahim, 2005) menujukan bahwa secara umum
ada hubungan positif (tetapi rendah) antara kecerdasan yang diindikasikan oleh IQ
dengan rata-rata peningkatan remedial membaca. Pendapat ini sesuai dengan yang
tidaknya anak dalam membaca permulaan. Faktor metode mengajar guru, prosedur,
13
anak.
c. Faktor lingkungan
Fakor lingkungan itu mencakup ; (1) Latar belakang dan pengalaman anak di rumah
anak. Kondisi di rumah mempengaruhi pribadi dan penyesuaian diri anak dalam
masyarakat. Kondisi itu pada gilirannya dapat membantu anak, dan dapat juga
menghalangi anak belajar membaca. Anak yang tinggal dalam rumah tangga yang
harmonis, rumah yang penuh dengan cinta kasih, yang orang tuanya memahami anak-
anaknya, dan mempersiapkan mereka dengan rasa harga diri yang tinggi, tidak akan
mereka harus siap lebih awal dalam hal belajar/membaca. Namun, usaha orang tua
hendaknya tidak berhenti hanya sampai pada membaca permulaan saja. Orang tua
harus melanjutkan kegiatan membaca anak secara terus menerus. Anak lebih
membutuhkan perhatian orang tua dari pada materi. Oleh sebab itu, orang tua
agar anak tertarik untuk mau belajar membaca, maka orang tua harus banyak
bercerita atau membacakan buku cerita yang disenangi anak, menyenangi membaca
dan berbagai buku cerita dan pengalaman membaca dengan anak-anak. Sebaliknya,
anak-anak yang bersal dari keluarga kelas rendah yang berusaha mengejar kegiatan
tersebut akan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk menjadi pembaca yang
lebih baik.
d. Faktor Psikologis
adalah faktor psikologis. Faktor ini mencakup (1) motivasi, (2) minat, dan (3)
1) Motivasi
Motivasi adalah faktor kunci dalam belajar membaca. Eanes (Rahim 2005:19)
mengemukakan bahwa kunci motivasi itu sederhana tetapi tidak mudah untuk
pengajaran yang relevan dengan minat dan pengtalaman anak sehingga anak
2) Minat
Minat baca ialah keinginan yang kuat disertai usaha-usaha seseorang untuk
membaca. Orang yang mempunyai minat membaca yang kuat akan diwujudkanya
dalam kesediannya untuk mendapat bahan bacaan dan kemudian membacanya atas
kesadaran sendiri.
15
Ada tiga aspek kematangan emosi dan sosil yaitu: (1) stabilitas emosi, (2)
kepercayaan diri, dan (3) kemampuan berpartisipasi dalam kelompok. Seorang murid
harus mempunyai pengontrolan emosi pada tingkat tertentu. Anak-anak yang mudah
marah, menangis dan bereaksi secara berlebihan ketika mereka tidak mendapatkan
sesuatu, atau menarik diri, atau mendongkol akan mendapat kesulitan dalam pelajaran
percaya diri dalam kelas tidak akan bisa mengerjakan tugas yang diberikan padanya
walaupun tugas itu sesuai dengan kemampuannya. Mereka sangat bergantung pada
orang lain sehingga tidak bisa mengikuti kegiatan mandiri dan selalu meminta untuk
membaca banyak dipengaruhi oleh beberapa fakto kondisi fisik, kesehatan emosi,
2. Membaca Permulaan
permulaan biasanya diberikan pada murid kelas dasar. Sedangkan untuk murid kelas
membantu proses mengingat tentang apa yang dibaca, untuk membangun suatu
merupakan dasar utama untuk dapat menentukan kemampuan membaca pada tahap
[Link] karena itu, latihan membaca permulaan merupakan faktor pertama dan
Pada tahap membaca permulaan, anak membaca huruf atau kata tidak lagi
terlalu tergantung pada [Link] tahap ini masih perlu bantuan seperlunya
misalnya ketika anak membaca kata “buku” ditunjukkan wujud bukunya atau gambar
Pada tahap membaca permulaan ini penguasaan jumlah kata anak masih
terbatas dan penguasaan pada abjad belum sepenuhnya [Link], masih ada huruf
yang sulit diucapkan dan sering dibaca salah, serta kemampuan membuat wacana
tidak lebih dari tujuhbaris, itupun ide pokoknya belum tampak dan belum bisa
dianggap sebagai wacana yang baik. Menurut Shodiq (1996:126) “pada tahap
membaca permulaan anak lebih diarahkan kepada membaca huruf atau kata”.
mirip. Selain itu, anak juga harus mampu mengucapkan bunyi huruf serta mengenal
18
tanda baca sehingga anak mengetahui tinggi rendahnya suara sesuai dengan bunyi
hal yang menuntut dalam [Link] karena itu, murid tunagrahita ringan harus
penelitian ini yaitu mengenal huruf abjad yang merupakan dasar dari membaca
adalah agar murid memiliki kemampuan menirukan kata dan kalimat sederhana dan
agar murid memiliki kemampuan menirukan kata dan kalimat sederhana dan
memahami bacaan pendek dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat
representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar
mengubah huruf menjadi suara. Lebih lengkapnya Soejono (1983: 19) memaparkan
sederhana, serta pengasaan lambang atau fonem untuk memahami makna suatu kata
atau kalimat.
20
Media adalah suatu alat yang dipakai sebagai saluran untuk informasi dari
seseorang kepada penerimanya. Pesan atau sesuatu yang disampaikan oleh pemesan
kepada penerima semestinya sama dengan yang dimaksud oleh pemberi pesan.
Pengertian tentang media sangat banyak dikemukakan oleh para ahli terutama
bergerak dalam dunia pendidikan. Menurut Santoso (1996:2): “ media adalah semua
bentuk perantara yang dipakai orang untuk menyebar ide, sehingga idea atau gagasan
itu sampai pada penerima”. Menurut Briggs (Achsin, 1986:9): “media pendidikan
Hamalik (1994:12) mengatakan bahwa: “media pendidikan adalah alat atau metode,
dan teknik yang digunakan dalam rangka mendeteftifkan komunikasi dan interaksi
bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menyampaikan pesan baik yang berupa materi pembelajaran maupun bentuk lainnya
dari seorang guru kepada murid selama kegiatan belajar mengajar sehingga terjadi
perubahan tingkah laku pada diri murid. Demikian juga pada pembelajaran murid
b. Jenis-Jenis Media
tidak bisa dipisahkan komponen yang satu dengan komponen yang lainnya karena
mereka adalah satu kesatuan yang meliputi pesan, orang dan peralatan. Dalam
teknologi. Oleh karena itu Arsyad (2005: 29) mengemukakan bahwa media
pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu “(1) media hasil
teknologi cetak, (2) teknologi audio visual, (3) teknologi berbasis computer, dan (4)
teknologi gabungan”.
4) Teknologi gabungan
c. Ciri-Ciri Media
Gerlach dan Ely (Arsyad, 2005: 12) mengemukakan ciri-ciri media yang
membantu guru dalam proses belajar mengajar, yaitu “(1) ciri fiksatif (fixative
property), (2) ciri manipulatif (manipulative property), dan (3) ciri distributif
(distributive property)”.
Pendapat di atas Gerlach dan Ely (Arsyad, 2005) akan diuraikan sebagai
berikut:
Ketiga ciri media yang dijelaskan di atas merupakan petunjuk mengapa media
sangat penting digunakan oleh tenaga pengajar dan apa-apa saja yang dapat dilakukan
oleh media yang mungkin guru tidak mampu (atau kurang efisien) melakukannya.
23
Salah satu tugas professional yang harus diemban oleh setiap guru adalah
kegiatan belajar mengajar tersebut faktor yang turut berperan, antara lain penguasaan
pemanfaatan media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar.
merasakan, dan meresapi yang ada akhirnya memiliki sejumlah pengetahuan, sikap
Menurut Wibawa dan Mukti (1991:67) ada beberapa kriteria dalam pemilihan
penuntun bagi guru murid tunagrahita ringan tentang pentingnya pemanfaatan media
dalam proses belajar mengajar murid tunagrahita ringan, maka guru hendaknya
memperhatikan kelainan yang dimiliki murid tunagrahita ringan, tujuan apa yang
adalah:
pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu penggunaan media
pembelajaran yang tepat dapat menunjang proses belajar mengajar yang pada
sebab melalui media pengajaran hal-hal yang sifatnya abstrak dapat dikongkretkan,
dan hal-hal yang kompleks dan disederhanakan. Hal ini sangat menunjang untuk
diterapkan pada murid tunagrahita ringan yang agak sulit jika diberikan contoh yang
abstrak, sehingga peneliti menguji cobakan media kongkrit yang didisain semenarik
motivasi dan hasil belajar murid sehingga materi yang disajikan oleh guru dapat
Kubus adalah sebuah bangun ruang yang sisinya berbentuk persegi atau kotak
kubus adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh enam daerah persegi yang
kongruen. Masing- masing daerah persegi disebut dengan sisi kubus. Kubus
merupakan bentuk bangun ruang yang paling banyak terdapat dalam kehidupan
b. Pengertian Alfabet
Alfabet adalah sebuah set standar lengkap huruf - simbol ditulis dasar - yang
masing-masing kira-kira merupakan fonem dari bahasa lisan, baik seperti yang ada
sekarang atau seperti yang mungkin telah di masa lalu. Ada sistem lain penulisan
atau kata atau suku kata atau tempat kata dalam sebuah kategori, dan syllabaries, di
27
mana setiap simbol mewakili sebuah suku kata. Menurut Chaer (Hernani.N.D
2013:24) Alfabet yang digunakan terdiri dari 26 buah huruf yaitu huruf A – Z yang
adalah satu himpunan dari lambang tulisan atau huruf dan disusun secara sistematis,
dan dapat dirangkai menjadi sebuah kata dan bertujuan menyampaikan tujuan tertentu
alfabet berupa lambang huruf dari A-Z yang dapat digunakan sebagai metode
c. Kotak Alfabet
Secara umum media kotak alfabet merupakan salah satu alat permainan
edukatif untuk membelajarkan murid dalam membaca permulaan. Jenis- jenis Alat
Permainan Edukatif (APE) yang telah dikembangkan yang diciptakan oleh para ahli
1) Boneka jari.
Boneka jari terbuat dari kain yang tidak mudah bertiras, kain di bentuk
sesuai dengan figur cerita. Tujuan dari permainan boneka jari ini untuk
22
mengembangkan bahasa anak dan mempertinggi kreativitas anak,
mengajak bersosialisasi, dan bergotong royong di samping melatih
keterampilan jari- jemari tangan.
2) Puzzle Besar.
Puzzle adalah permainan teka- teki dari tripleks yang terdiri dari dua
bagian dengan ukuran yang sama, satu bagian dibuat lukisan sederhana
tripleks yang dilukis dipotong menjadi 10 - 12 keping. Tujuan
28
Media kotak alfabet huruf juga merupakan salah satu bagian dari media grafis.
Secara umum fungsi media grafis untuk menyalurkan pesan dari sumber ke
penerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indra penglihatan. Pesan yang
simbol itu perlu dipahami benar artinya agar proses penyampaian pesan dapat
Selain fungsi umum tersebut, secara khusus media grafis berfungsi pula untuk
Sejalan dengan hal tersebut, Edu (2010 : 23) memberikan gambaran bahwa :
pembuatannya, biasanya para orang tua di rumah membuat sendiri media ini
dengan tujuan membelajarkan anak dalam mengenal huruf maupun kata
yang disajikan dalam berbagai bentuk yang dapat menarik perhatian anak
dan menyesuaikan apa yang menjadi kebutuhan anak. Proses
pembelajarannyapun sangat sederhana, hanya dengan meminta anak
mengambil potongan-potongan huruf didalam kotak kemudian menyusun
kembali huruf sesuai dengan urutannya atau menjadi sederetan suku kata
dan kata sesuai dengan apa yang telah yang dituliskan dengan menggunakan
media ini.
Berdasarkan hakikat serta fungsi dari media grafis serta gambaran media
tersebut dapat dijadikan pedoman dalam pembuatan dan penggunaan media kotak
alfabet huruf yang dimodifikasi sedemikian rupa oleh peneliti, karna dalam
metode bermain sambil belajar, namun tidak dengan cara yang membosankan. Guru
dengan harapan dapat memberikan suatu situasi belajar yang santai dan
menyenangkan.
penelitian ini adalah media yang sangat sederhana, harganya murah, cara
serta dapat dijangkau semua pihak. Meskipun media kotak alafabet masih tergolong
media yang sangat sederhana akan tetapi dipandang oleh peneliti sebagai salah satu
media atau wahana yang penting dan efektif digunakan dalam pembelajaran
membaca.
30
pembuatan dan penggunaan dari aslinya yang sesuai dengan kemampuan yang
Di bawah ini adalah prosedur pembuatan dan penggunaan media kotak alfabet
2. Cara Bermain.
a) Masukkan kartu-kartu huruf kedalam kotak, kmudian minta anak
untuk mengocok kotak itu.
b) Mintalah anak untuk mengambil kartu huruf itu dari kotak dengan
mata tertutup.
c) Jika anak sudah mendapatkan kartu, barulah membuka mata dan
melihat kaartu yang diambilny.
d) Anak dapat menulis sebuah kata atau nenggambar sesuatu yang di
ambilnya.
e) Setelah selesai menulis/menggabar,anak dapat bercerita tentang apa
yang di tulis atau digambarnya, juga pengalaman yang pernah
diperolehnya berkaitan dengan tulisan/gambar.
ini yang dirancang sendiri oleh peneliti berdasarkan cara pembuatan dan langkah-
1. Prosedur Pembuatan.
Agar huruf yang telah dibuat dapat awet dan aman bagi murid, ada baiknya
2. Cara Penggunaan
dalam penggunaannya.
kotak.
membaca suku kata dan kata dengan menggunakan media kotak alfabet
secara berulang-ulang.
32
B. Kerangka Pikir
bertujuan agar anak murid tunagrahita ringan kelas dasar I dan II memiliki
Murid tunagrahita ringan adalah mereka yang masih bisa dididik pada masa
dewasanya kelak, usia mental yang bisa mereka capai setara dengan anak usia 8 tahun
hingga usia 10 tahun 9 bulan. Dengan rentang IQ antara 55-69, biasanya mereka
tunagrahita ringan kelas dasar II dalam pembelajaran bahasa Indonesia agar lebih
optimal, maka diperlukan metode ataupun media yang lebih efisien untuk membantu
murid untuk lebih optimal. Salah satunya dalah dengan penggunaan media kotak
alphabet.
Alfabet adalah sebuah set standar lengkap huruf - simbol ditulis dasar - yang
masing-masing kira-kira merupakan fonem dari bahasa lisan, baik seperti yang ada
sekarang atau seperti yang mungkin telah di masa lalu. Ada sistem lain penulisan
atau kata atau suku kata atau tempat kata dalam sebuah kategori, dan syllabaries, di
dengan bantuan media kartu [Link] langkah langkah yang diterapkan dalam
belajar melalui media ini cukup ekonomis, karena biaya yang diperlukan untuk
34
pengadaan dan penggunaanya cukup mudah dan inovatif. Di samping itu, sangat
seperti pelajaran bahasa dan mampu menciptakan suasana yang imajinatif dan
membangkitkan sentuhan emosional bagi murid tunagrahita ringan dan media ini
telah disesuaikan dengan perkembangan dan kemampuan murid dalam proses balajar
membaca.
sebagai berikut:
Kemampuan Membaca
Proses Pembelajaran Murid
Permulaan Pada Mata
dengan Penggunaan Media
Pelajaran Bahasa
Kotak Alfabet
Indonesia Masih Rendah
•
C. Pertanyaan Penelitian
adalah:
YPPLB 2 Makassar?