0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan29 halaman

Proses dan Tujuan Membaca Anak

Dokumen ini membahas konsep membaca, termasuk pengertian, proses, tujuan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca. Membaca adalah aktivitas kompleks yang melibatkan fisik dan mental untuk memperoleh informasi dari tulisan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang membaca permulaan sebagai tahap awal dalam proses belajar membaca yang penting untuk perkembangan kemampuan membaca selanjutnya.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan29 halaman

Proses dan Tujuan Membaca Anak

Dokumen ini membahas konsep membaca, termasuk pengertian, proses, tujuan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca. Membaca adalah aktivitas kompleks yang melibatkan fisik dan mental untuk memperoleh informasi dari tulisan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang membaca permulaan sebagai tahap awal dalam proses belajar membaca yang penting untuk perkembangan kemampuan membaca selanjutnya.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA , KERANGKA PIKIR DAN PERTANYAAN


PENELITIAN

A. Kajian Pustaka

1. Konsep Membaca
a. Pengertian Membaca
Membaca merupakan kata kerja yang berasal dari kata dasar “baca”,yang

mendapat imbuhan “me” sehingga menjadi [Link] Kamus Besar Bahasa

Indonesia membaca diartikan sebagai ”1) melihat serta memahami isi dari apa yang

tertulis(dengan melisankan atau dalam hati), 2) mengeja atau melafalkan apa yang

tertulis”.

Abdurrahman(2003: 200) mengemukakan pengetian membca sebagai berikut:

Membaca merupakan aktivitas kompleks yang mencakup fisik dan mental.


Aktivitas fisik yang terkait dengan membaca adalah gerak mata dan
ketajaman penglihatan, aktivitas mental mencakup ingatan dan pemahaman.

Tarigan (1979: 7) mengemukakan pengertian membaca sebagai berikut

“Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca

untuk memperoleh pesan,yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-

kata/bahas tulisan”. Suatu proses yang menutut agar kelompok kata yang merupakan

suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan makna kata-kata

secara individual akan dapat [Link] hal ini tidak terpenuhi pesan yang

7
8

tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami dan proses membaca

itu tidak terlaksana dengan baik.

Dari beberapa pengertian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

membaca yaitu suatu proses yang melibatkan aktifitas fisik guna memperoleh suatu

informasi dari penulis melalui media kata-kata,serta menerjemahkan simbol tulis

(huruf) kedalam kata-kata lisan.

b. Proses Membaca

Membaca merupakan proses yang kompleks,Dimana proses ini melibatkan

sejumlah kegiatan fisik dan mental.

(Rahim 2005: 12) mengemukakan proses membaca yaitu:

Proses membaca dimulai dengan sensori visual yang diperoleh melalui


pengungkapan simbol-simbol grafis melalui indra [Link]-anak
belajar membedakan secara visual diantara simbol-simbol grafis (huruf atau
kata) yang digunakan untuk merepresentasikan bahasa lisan.

Secara sederhana Wallen (Wiryodijoyo, 1989: 11) menyebut bahwa dalam


proses membaca terdapat dua proses utama, yaitu: (a) proses penerjemahan
media tulis ke bahasa; (b) proses penerjemahan bahasa ke pikiran. Proses
pertama terjadi pada anak yang baru belajar membaca. Dalam proses ini
perhatian sepenuhnya tertuju pada upaya menyuarakan tulisan.

Menurut Wiryodijo (1989: 10-11) ada empat tahap dalam proses

membaca yaitu:

a) Persepsi adalah proses dimana anak mengembangkan kemampuan


untuk membaca kata sebagai kesatuan yang berarti.
b) Pemahaman adalah kemampuan untuk membuat kata-kata penulis
menimbulkan pikiran-pikiran yang berguna seperti yang terbaca dalam
konteks.
9

c) Reaksi adalah tindakan yang memerlukan pertimbangan berkenan


dengan apa yang telah dikatakan oleh penulis.
d) Integrasi adalah kemampuan untuk memahamkan pikiran atau konsep
terhadap latar belakang pengalaman penulis sehingga berguna sebagai
bagian dari pengalaman keseluruhan pembaca.

Dari konsep di atas dapat disimpulkan bahwa dalam proses membaca anak dibagi

menjadi empat yakni persepsi, pemahaman, reaksi dan integrasi yang masing masing

tahapan akan diadopsi oleh anak berdasarkan jenjang pemahaman akan membaca

sesuai dengan perkembangannya.

c. Tujuan Membaca

Tujuan utama dalam membaca yaitu untuk mencari atau memperoleh

informasi,mengenai isi dan memahami makna bacaan. Menurut Rivers dan Temperly

(Somadayo 2011: 10-11) mengajukan tujuh tujuan utama dalam membaca yaitu:

a) Memperoleh informasi untuk satu tujuan atau merasa penasaran tentang


suatu topik,
b) Memperoleh berbagai petunjuk tentang cara melakukan suatu tugas bagi
pekerjaan atau kehidupan sehari-hari misalnya,mengetahui cara kerja
alat-alat rumah tangga
c) Berakting dalam sebuah drama,bermain game, menyelesaikan teka teki,
d) Berhubungan dengan teman-teman dengan surat-menyurat atau untuk
memahami surat surat bisnis.
e) Mengetahui kapan dan dimana sesuatu akan terjadi atau apa yang
tersedia.
f) Mengetahui apa yang sedang terjadi atau telah terjadi sebagaimana
dilaporkan dalam Koran,majalah,laporan.
g) Memperoleh kesenangan atau hiburan.

Tarigan, (2008: 9) mengemukakan beberapa tujuan penting dalam membaca

yaitu:

a) Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan yang


telah dilakukan oleh tokoh
10

b) Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik
dan menarik.
c) Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada
setiap bagian bagian cerita.
d) Membaca untuk menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh
merasakan seperti cara mereka itu.
e) Membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak biasa.
f) Membaca untuk menemukakan apakah tokoh berhasil atau hidup
dengan ukuran ukuran tertentu,
g) Membaca untuk menemukan bagaimana cara tokoh berubah,bagaimana
hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal,
Membaca harus mempunyai tujuan, dimana seseorang yang membaca dengan

suatu tujuan, cenderung lebih memahami dibandingkan dengan orang membaca tidak

mempunyai tujuan.

Rahim (2005: 11) menyatakan tujuan membaca mencakup:

a) Kesenangan
b) Menyempurnakan membaca nyaring
c) Menggunakan strategi tertentu
d) Memperbaharui pengetahuan tentang suatu topik tertentu
e) Mengaitkan informasi baru dengan informasiyang telah diketahuinya
f) Memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis
g) Mengkonfirmasikan atau menolak prediksi
h) Menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang
diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari
tentang struktur teks;
i) Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik

Selanjutnya Tarigan (Somadayo, 2011: 13) menyatakan bahwa “tujuan utama

dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi,mencakup

isi,serta memahami makna bacaan”.

Seperti yang telah dikemukakan di atas, pada hakekatnya tujuan membaca

adalah modal utama untuk memahami makna bacaan. Tujuan yang jelas akan

memberikan motivasi intrinsik yang besar bagi seseorang. Seseorang yang sadar
11

sepenuhnya akan tujuan membacanya akan dapat mengarahkan sasaran daya pikir

kritisnya dalam mengolah bahan bacaan sehingga memperoleh kepuasaan dalam

membaca.

d. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Kembaca

Kemampuan membaca anak berbeda beda, tahap membaca pemulaan umunya

dimulai sejak anak masuk SD, yaitu pada saat berusia enam tahun. Meskipun

demikian ada anak yang sudah belajar membaca lebih awal dan ada pula yang baru

belajar membaca pada usia tujuh atau delapan tahun,hal tersebut diakibatkan dari

beberapa Faktor.

Menurut Mercer (Abdurrahman, 2003: 201) ada 8 faktor yang mamberikan

dukungan terhadap keberhasilan dalam belajar membaca sebagai berikut:

a. Kematangan mental,
b. Kematangan visual,
c. Kematangan mendengarkan,
d. Perkembangan wicara dan bahasa,
e. Keterampilan berpikir dan memperhatikan,
f. Perkembangan motorik,
g. Kematangan sosial dan emosial,
h. Motivasi dan minat.

Rahim (2005: 16 – 19) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi

membaca, sebagai berikut:

a) Faktor fisiologis,
b) Faktor intelektual
c) Faktor lingkungan
d) Faktor psikologis
12

Lebih jelasnya mengenai faktor-faktor tersebut, berikut ini akan diuraikan

secara berurut.

a. Faktor fisiologis

Faktor fisiologis mencangkup kesehatan fisik, pertimbangan neurologis, dan

jenis kelamin. Kelelahan juga merupakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi

anak untuk belajar khususnya belajar membaca. Keterbatasan neurologis (misalnya

berbagai cacat otak) dan kekurangmatangan secara fisik merupakan salah satu faktor

yang dapat menyebabkan anak gagal dalam meningkatkan kemampuan membaca

pemahaman mereka.

b. Faktor intelektual

Istilah intelegensi didefenisikan oleh Heinz (Rahim 2005:17) sebagai suatu

kegiatan berpikir yang terdiri dari pemahaman yang esensial tentang situasi yang

diberikan dan Page dkk (Rahim 2005:17) mengatakan bahwa yang meresponya

secara tepat. Penelitian Ehansky dkk (Rahim, 2005) menujukan bahwa secara umum

ada hubungan positif (tetapi rendah) antara kecerdasan yang diindikasikan oleh IQ

dengan rata-rata peningkatan remedial membaca. Pendapat ini sesuai dengan yang

dikemukakan oleh Rubin (Rahim 2005:17) bahwa banyak hasil penelitian

memperlihatkan tidak semua murid yang mempunyai kemampuan intelegensi tinggi

menjadi pembaca yang baik.

Secara umum, intelegensi anak tidak sepenuhnya mempengaruhi berhasil atau

tidaknya anak dalam membaca permulaan. Faktor metode mengajar guru, prosedur,
13

dan kemampuan guru juga turut mempengaruhi kemampuan membaca permulaan

anak.

c. Faktor lingkungan

Faktor lingkungan juga mempengaruhi kemajuan kemampuan membaca anak.

Fakor lingkungan itu mencakup ; (1) Latar belakang dan pengalaman anak di rumah

(2) sosial ekonomi keluarga anak.

1) Latar belakang dan pengalaman anak di rumah

Lingkungan dapat membentuk pribadi, sikap, nilai, dan kemampuan bahasa

anak. Kondisi di rumah mempengaruhi pribadi dan penyesuaian diri anak dalam

masyarakat. Kondisi itu pada gilirannya dapat membantu anak, dan dapat juga

menghalangi anak belajar membaca. Anak yang tinggal dalam rumah tangga yang

harmonis, rumah yang penuh dengan cinta kasih, yang orang tuanya memahami anak-

anaknya, dan mempersiapkan mereka dengan rasa harga diri yang tinggi, tidak akan

menemukan kendala yang berarti dalam membaca.

2) Faktor sosial ekonomi

Ada kecenderungan orang tua kelas menengah ke atas bahwa anak-anak

mereka harus siap lebih awal dalam hal belajar/membaca. Namun, usaha orang tua

hendaknya tidak berhenti hanya sampai pada membaca permulaan saja. Orang tua

harus melanjutkan kegiatan membaca anak secara terus menerus. Anak lebih

membutuhkan perhatian orang tua dari pada materi. Oleh sebab itu, orang tua

hendaknya menyediakan waktu mereka untuk berkomunikasi dengan anak mereka


14

agar anak tertarik untuk mau belajar membaca, maka orang tua harus banyak

bercerita atau membacakan buku cerita yang disenangi anak, menyenangi membaca

dan berbagai buku cerita dan pengalaman membaca dengan anak-anak. Sebaliknya,

anak-anak yang bersal dari keluarga kelas rendah yang berusaha mengejar kegiatan

tersebut akan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk menjadi pembaca yang

lebih baik.

d. Faktor Psikologis

Faktor lain yang juga mempengaruhi kemajuan kemampuan membaca anak

adalah faktor psikologis. Faktor ini mencakup (1) motivasi, (2) minat, dan (3)

kematangan sosial emosi dan penyesuaian diri.

1) Motivasi

Motivasi adalah faktor kunci dalam belajar membaca. Eanes (Rahim 2005:19)

mengemukakan bahwa kunci motivasi itu sederhana tetapi tidak mudah untuk

mencapainya. Kuncinya adalah guru harus mendemonstrasikan kepada murid praktik

pengajaran yang relevan dengan minat dan pengtalaman anak sehingga anak

memahami belajar itu sebagai suatu kebutuhan.

2) Minat

Minat baca ialah keinginan yang kuat disertai usaha-usaha seseorang untuk

membaca. Orang yang mempunyai minat membaca yang kuat akan diwujudkanya

dalam kesediannya untuk mendapat bahan bacaan dan kemudian membacanya atas

kesadaran sendiri.
15

3) Kematangan Sosio dan Emosi serta penyesuaian diri

Ada tiga aspek kematangan emosi dan sosil yaitu: (1) stabilitas emosi, (2)

kepercayaan diri, dan (3) kemampuan berpartisipasi dalam kelompok. Seorang murid

harus mempunyai pengontrolan emosi pada tingkat tertentu. Anak-anak yang mudah

marah, menangis dan bereaksi secara berlebihan ketika mereka tidak mendapatkan

sesuatu, atau menarik diri, atau mendongkol akan mendapat kesulitan dalam pelajaran

membaca. Sebaliknya, anak-anak lebih mudah mengontrol emosinya, akan lebih

mudah memusatkan perhatiannya pada teks yang dibacanya. Pemusatan perhatian

pada bahan bacaan memungkinkan kemajuan kemampuan anak-anak dalam

memahami bacaan akan meningkat.

Percaya diri sangat dibutuhkan oleh anak-anak. Anak-anak yang kurang

percaya diri dalam kelas tidak akan bisa mengerjakan tugas yang diberikan padanya

walaupun tugas itu sesuai dengan kemampuannya. Mereka sangat bergantung pada

orang lain sehingga tidak bisa mengikuti kegiatan mandiri dan selalu meminta untuk

diperhatikan guru (Rahim, 2005).

Dari beberapa pendapat di atas maka ditarik kesimpulan bahwa kemampuan

membaca banyak dipengaruhi oleh beberapa fakto kondisi fisik, kesehatan emosi,

kematangan sosial, perkembangan bicara, motivasi, daya minat serta intelegensinya.


16

2. Membaca Permulaan

a. Konsep Dasar Membaca Permulaan

Pengajaran membaca dapat dibagi kedalam dua tahapan, dimana membaca

permulaan biasanya diberikan pada murid kelas dasar. Sedangkan untuk murid kelas

tinggi disebut membaca lanjutan.

Soedarso (Abdurrahman, 2003: 200) mengemukakan bahwa “membaca

merupakan aktivitas kompleks yang memerlukan sejumlah besar tindakan terpisah-

pisah, mencakup penggunaan pengertian, khayalan, pengamatan, dan ingatan”.

Adapun Bond (Abdurrahman, 2003: 200) mengemukakan bahwa “membaca

merupakan pengenalan simbol-simbol bahasa tulis yang merupakan stimulus yang

membantu proses mengingat tentang apa yang dibaca, untuk membangun suatu

pengertian melalui pengalaman yang telah dimiliki”.

Membaca permulaan adalah tahap awal dalam proses membaca, yaitu

pengenalan huruf, baik huruf vokal, maupun konsonan.

Sejalan dengan yang dikemukakan oleh Dalwadi (2002:65) bahwa :

Membaca permulaan adalah tahap awal dalam belajar membaca yang


difokuskan kepada mengenal simbol-simbol atau tanda-tanda yang berkaitan
dengan huruf-huruf, sehingga menjadi pondasi agar anak dapat melanjutkan
ke tahap membaca lanjut.

Lebih lanjut Broughton( Rohmatika, 2006: 11) berpendapat bahwa:

Salah satu aspek penting dalam membaca permulaan yaitu keterampilan


mekanis (urutan lebih rendah) yang mencakup pengenalan huruf,
pengenalan unsur-unsur linguistik, pengenalan hubungan dan pola ejaan dan
kecepatan membaca taraf lambat.
17

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca permulaan

merupakan dasar utama untuk dapat menentukan kemampuan membaca pada tahap

[Link], keberhasilan murid pada membaca permulaan tidak hanya

menentukan kemampuan membaca lanjutan, tetapi dapat menimbulkan minat baca

[Link] karena itu, latihan membaca permulaan merupakan faktor pertama dan

utama untuk diberikan kepada murid.

Pada tahap membaca permulaan, anak membaca huruf atau kata tidak lagi

terlalu tergantung pada [Link] tahap ini masih perlu bantuan seperlunya

selama [Link] yang diberikan umumnya berupa konkretisasi yang dibaca,

misalnya ketika anak membaca kata “buku” ditunjukkan wujud bukunya atau gambar

buku ada disamping atau dibawah tulisan buku.

Pada tahap membaca permulaan ini penguasaan jumlah kata anak masih

terbatas dan penguasaan pada abjad belum sepenuhnya [Link], masih ada huruf

yang sulit diucapkan dan sering dibaca salah, serta kemampuan membuat wacana

tidak lebih dari tujuhbaris, itupun ide pokoknya belum tampak dan belum bisa

dianggap sebagai wacana yang baik. Menurut Shodiq (1996:126) “pada tahap

membaca permulaan anak lebih diarahkan kepada membaca huruf atau kata”.

Dalam membaca permulaan, seorang anak diharapkan mampu untuk

membedakan bentuk dari masing-masing huruf, terutama huruf yang bentuknya

mirip. Selain itu, anak juga harus mampu mengucapkan bunyi huruf serta mengenal
18

tanda baca sehingga anak mengetahui tinggi rendahnya suara sesuai dengan bunyi

kata yang diucapkan.

Sejalan dengan yang dikemukakan Wardani (Abdurrahman, 1995:57) bahwa

untuk dapat membaca permulaan, seorang anak dituntut agar mampu:

1) Membedakan bentuk huruf


2) Mengucapkan bunyi huruf dan kata dengan benar
3) Menggerakkan mata dengan cepat dari kiri ke kanan sesuai dengan
urutan tulisan yang dibaca
4) Menyuarakan tulisan yang dibaca dengan benar
5) Mengenal arti tanda-tanda baca serta
6) Mengatur tinggi rendah suara sesuai dengan bunyi, makna kata yang
diucapkan, serta tanda baca

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa banyak

hal yang menuntut dalam [Link] karena itu, murid tunagrahita ringan harus

mampu terlebih dahulu untuk membaca [Link] permulaan dalam

penelitian ini yaitu mengenal huruf abjad yang merupakan dasar dari membaca

permulaan kemudian membaca suku kata dan membaca kata.

b. Tujuan Membaca Permulaan

Pembelajaran membaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Tujuannya

adalah agar murid memiliki kemampuan menirukan kata dan kalimat sederhana dan

pembaelajaran membaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Tujuannya adalah

agar murid memiliki kemampuan menirukan kata dan kalimat sederhana dan

memahami bacaan pendek dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat

membaca lanjut (Depdiknas, 2005). Pembelajaran membaca permulaan merupakan

tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai


19

representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar

membaca (learning to read).

Menurut Edu (2009: 2) bahwa “membaca permulaan merupakan suatu proses

keterampilan dan kognitif”. Proses keterampilan menunjuk pada pengenalan dan

penguasaan lambang-lambang fonem, sedangkan proses kognitif menunjuk pada

penggunaan lambang-lambang fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna

suatu kata atau kalimat.

Tujuan pelajaran membaca permulaan adalah mengetahui huruf dan terampil

mengubah huruf menjadi suara. Lebih lengkapnya Soejono (1983: 19) memaparkan

tentang tujuan pelajaran membaca permulaan adalah sebagai berikut :

a. Mengenalkan pada para siswa huruf-huruf dalam abjad, sebagai tanda


suara atau tanda [Link]
b. Melatih keterampilan siswa untuk mengubah huruf-huruf dalam kata
menjadi suara.
c. Mengetahui huruf-huruf dalam abjad dan melatih keterampilan siswa
untuk menyuarakannya dan dalam waktu singkat dapat
mempraktekkannya dalam membaca lanjut.

Menurut beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa membaca

permulaan bertujuan untuk mengenalkan huruf, menirukan kata dan kalimat

sederhana, serta pengasaan lambang atau fonem untuk memahami makna suatu kata

atau kalimat.
20

3. Konsep Media Pembelajaran

a. Pengertian Media Pembelajaran

Media adalah suatu alat yang dipakai sebagai saluran untuk informasi dari

seseorang kepada penerimanya. Pesan atau sesuatu yang disampaikan oleh pemesan

kepada penerima semestinya sama dengan yang dimaksud oleh pemberi pesan.

Pengertian tentang media sangat banyak dikemukakan oleh para ahli terutama

bergerak dalam dunia pendidikan. Menurut Santoso (1996:2): “ media adalah semua

bentuk perantara yang dipakai orang untuk menyebar ide, sehingga idea atau gagasan

itu sampai pada penerima”. Menurut Briggs (Achsin, 1986:9): “media pendidikan

adalah peralatan fisik untuk membawakan/menyampaikan isi pengajaran,

kedalamnya termasuk buku, film video-tape, sajian slipe-tape, dan sebagainya.”

Hamalik (1994:12) mengatakan bahwa: “media pendidikan adalah alat atau metode,

dan teknik yang digunakan dalam rangka mendeteftifkan komunikasi dan interaksi

antara guru dan murid dalam proses pendidikan pengajaran.”

Berbagai pengertian tentang media dan media pendidikan dapat disimpulkan

bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk

menyampaikan pesan baik yang berupa materi pembelajaran maupun bentuk lainnya

dari seorang guru kepada murid selama kegiatan belajar mengajar sehingga terjadi

perubahan tingkah laku pada diri murid. Demikian juga pada pembelajaran murid

tunagrahita ringan alat bantu memegang peranan penting.


21

b. Jenis-Jenis Media

Media atau alat pembelajaran merupakan suatu komponen instruksional yang

tidak bisa dipisahkan komponen yang satu dengan komponen yang lainnya karena

mereka adalah satu kesatuan yang meliputi pesan, orang dan peralatan. Dalam

perkembangannya, media pembelajaranpun harus bisa mengikuti perkembangan

teknologi. Oleh karena itu Arsyad (2005: 29) mengemukakan bahwa media

pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu “(1) media hasil

teknologi cetak, (2) teknologi audio visual, (3) teknologi berbasis computer, dan (4)

teknologi gabungan”.

Pendapat di atas akan Arsyad(2005) diuraikan sebagai berikut:

1) Media hasil teknologi cetak

Merupakan media atau alat yang digunakan untuk menyampaikan

pengetahuan atau materi seperti buku.

2) Teknologi audio visual

Merupakan media atau alat yang digunakan untuk menyampaikan materi

dengan menggunakan mesin-mesin mekanis dan elektronik untuk

menyajikan informasi atau pesan-pesan audio dan visual.

3) Teknologi berbasis komputer

Merupakan media atau alat yang digunakan untuk menyampaikan materi

dengan mengunakan sumber-sumber yang berbasis mikro-prosesor.\


22

4) Teknologi gabungan

Merupakan media atau alat yang digunakan untuk menghasilkan dan

menyampaikan materi yang menggabungkan pemakaian beberapa

bentuk media yang dikendalikan atau diproses oleh komputer.

c. Ciri-Ciri Media

Gerlach dan Ely (Arsyad, 2005: 12) mengemukakan ciri-ciri media yang

membantu guru dalam proses belajar mengajar, yaitu “(1) ciri fiksatif (fixative

property), (2) ciri manipulatif (manipulative property), dan (3) ciri distributif

(distributive property)”.

Pendapat di atas Gerlach dan Ely (Arsyad, 2005) akan diuraikan sebagai

berikut:

1) Ciri fiksatif merupakan ciri media yang mempunyai kelebihan untuk

merekam dan menyimpan suatu kejadian.

2) Ciri manipulatif yaitu dengan adanya media kejadian yang memakan

waktu lama dapat disajikan dalam beberapa menit saja.

3) Ciri distributif yaitu jika informasi sudah direkam, maka dapat

direproduksi seberapa kalipun dan dapat digunakan secara bersamaan di

tempat yang berbeda.

Ketiga ciri media yang dijelaskan di atas merupakan petunjuk mengapa media

sangat penting digunakan oleh tenaga pengajar dan apa-apa saja yang dapat dilakukan

oleh media yang mungkin guru tidak mampu (atau kurang efisien) melakukannya.
23

d. Media Dalam Proses Belajar Mengajar Murid Tunagrahita Ringan

Salah satu tugas professional yang harus diemban oleh setiap guru adalah

kemampuan mengelola kegiatan belajar mengajar. Untuk mengelola kegiatan

kegiatan belajar mengajar tersebut faktor yang turut berperan, antara lain penguasaan

materi pelajaran, keterampilan menggunakan variasi metode pengajaran, dan

pemanfaatan media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar.

Penggunaan media dalam pengajaran pada hakekatnya itu bertujuan untuk

meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengajaran. Dengan pemanfaatan media

murid diharapkan dapat menggunakan alat inderanya untuk mengamati, mendengar,

merasakan, dan meresapi yang ada akhirnya memiliki sejumlah pengetahuan, sikap

dan keterampilan tertentu sebagai hasil belajar.

e. Kriteria Pemilihan Media Untuk Mengajar Murid Tunagrahita Ringan

Menurut Wibawa dan Mukti (1991:67) ada beberapa kriteria dalam pemilihan

media sebagai sebagai berikut:

1. Tujuan, pemilihan media hendaknya dapat menunjang tujuan


instruksional yang telah disusun.
2. Karakteristik murid, hendaknya media yang dipilih sesuai dengan
karakteristik murid, seperti: umur, gaya belajar, kelainan yang dimiliki
murid dan sebagainya.
3. Karakteristik media, dalam pemilihan media perlu mempertimbangkan
kelebihan dan keterbatasan masing-masing media itu.
4. Alokasi waktu, hendaknya media dipilih disesuaikan dengan waktu yang
disediakan, agar kegiatan belajar tidak terhalangi oleh karena waktu
yang tidak cukup.
5. Ketersediaan, hal ini perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media
adalah ketersediaan media itu. Apakah media itu tersedia atau tidak.
6. Efektivitas, apakah efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
24

7. Kompatibilitas, apakah penggunaan media tersebut tidak bertentangan


dengan norma-norma yang berlaku.
8. Biaya, dalam hal ini yang perlu dipertimbangkan adalah cukup dana
yang diperlukan untuk pengadaan, pengelolaan dan pemeliharaannya.

Beberapa kriteria pemilihan media di atas dapat dijadikan pedoman atau

penuntun bagi guru murid tunagrahita ringan tentang pentingnya pemanfaatan media

dalam proses belajar mengajar murid tunagrahita ringan, maka guru hendaknya

memperhatikan kelainan yang dimiliki murid tunagrahita ringan, tujuan apa yang

hendak dicapai, yang dilandasi dengan kriteria pemilihan media tersebut.

f. Nilai dan Manfaat Media Pembelajaran untuk Murid Tunagrahita


Ringan.

Menurut Hamalik (1994:24) bahwa nilai dan manfaat media pembelajaran

adalah:

1. Meletakkan dasar-dasar yang kongkret untuk untuk berpikir oleh karena


itu mengurangi “verbalisme”.
2. Membesarkan perhatian murid.
3. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, oleh
karena itu membuat pelajaran lebih mantap.
4. Memberikan pengalaman yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha
sendiri dikalangan murid.
5. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinue, hal ini terutama
terdapat dalam gambar hidup.
6. Membantu tumbuhnya pengertian, dengan dengan demikian membantu
kemampuan berbahasa.
7. Memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh
dengan cara lain memnbantu berkembang efesiensi yang lebih
mendalam serta keragaman yang lebih banyak dalam belajar.

Secara umum nilai dan manfaat media pembelajaran yang telah di

kemukakan di atas dapat menumbuhkan minat belajar anak dalam proses


25

pembelajaran, khususnya dalam mengajarkan anak membaca. Karena media

pembelajaran dapat memudahkan pendidik dalam menyalurkan materi

pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu penggunaan media

pembelajaran yang tepat dapat menunjang proses belajar mengajar yang pada

akhirnya tercapai tujuan pembelajaran.

Sejalan dengan pendapat tersebut, Sudjana (1991:2) memberikan suatu

penguatan dengan mengemukakan beberapa alasan mengenai media pembelajaran

dapat mempertinggi proses belajar murid :

Alasan pertama berkenaan dengan manfaat media pembelajaran


Pembelajaran akan lebih menarik perhatian murid sehingga menumbuhkan
motivasi belajar, bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga
dapat lebih dipahami oleh para murid dan memungkinkan murid menguasai
tujuan pelajaran lebih baik. Metode mengajarkan lebih berprestasi, tidak
semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru,
sehingga murid tidak bosan dan guru merasa kehabisan tenaga, apabila guru
mengajar pada setiap jam pelajaran. Murid lebih banyak melakukan
kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga
aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-
lain. Alasan kedua, adalah berkenaan dengan taraf berpikir murid. Taraf
berpikir manusia mengikuti tahap perkembangan dimulai dari kemampuan
berpikir kongkret sampai pada kemampuan abstrak, dimulai dari berpikir
sederhana sampai pada tahap berpikir kompleks.

Penggunaan media pengajaran erat kaitannya dengan tahap berpikir tersebut

sebab melalui media pengajaran hal-hal yang sifatnya abstrak dapat dikongkretkan,

dan hal-hal yang kompleks dan disederhanakan. Hal ini sangat menunjang untuk

diterapkan pada murid tunagrahita ringan yang agak sulit jika diberikan contoh yang

abstrak, sehingga peneliti menguji cobakan media kongkrit yang didisain semenarik

mungkin pada murid melalui penggunaan media kotak alfabet.


26

Berdasarkan nilai dan manfaat media pengajaran di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa dengan memanfaatkan media pengajaran akan dapat

meningkatkan pengajaran secara efektif dan efisien serta dapat mempertinggi

motivasi dan hasil belajar murid sehingga materi yang disajikan oleh guru dapat

diserap dengan baik oleh murid tunagrahita ringan.

4. Media Kotak Alfabet

a. Pengertian Kotak (Kubus)

Kubus adalah sebuah bangun ruang yang sisinya berbentuk persegi atau kotak

dan diagonal kubus saling berpotongan. Menurut Heryadi ( Hernani.N.D 2013:23)

kubus adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh enam daerah persegi yang

kongruen. Masing- masing daerah persegi disebut dengan sisi kubus. Kubus

merupakan bentuk bangun ruang yang paling banyak terdapat dalam kehidupan

sehari-hari misalnya: televisi, Kotak makanan, Almari, dan berbagai permainan

edukatif seperti kotak Alfabet.

b. Pengertian Alfabet

Alfabet adalah sebuah set standar lengkap huruf - simbol ditulis dasar - yang

masing-masing kira-kira merupakan fonem dari bahasa lisan, baik seperti yang ada

sekarang atau seperti yang mungkin telah di masa lalu. Ada sistem lain penulisan

seperti menulis logosyllabic, di mana masing-masing simbol merupakan morfem,

atau kata atau suku kata atau tempat kata dalam sebuah kategori, dan syllabaries, di
27

mana setiap simbol mewakili sebuah suku kata. Menurut Chaer (Hernani.N.D

2013:24) Alfabet yang digunakan terdiri dari 26 buah huruf yaitu huruf A – Z yang

terdiri dari huruf vokal : a, i, u, e, dan o huruf lainya yaitu b, c, d, e, f, g, h, i, j, k, l,

m, n, o, p, q, r, s, t, u, v, w, x dan z di sebut dengan huruf konsonan.

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian Alfabet

adalah satu himpunan dari lambang tulisan atau huruf dan disusun secara sistematis,

dan dapat dirangkai menjadi sebuah kata dan bertujuan menyampaikan tujuan tertentu

alfabet berupa lambang huruf dari A-Z yang dapat digunakan sebagai metode

pengajaran membaca kepada murid dengan memperkenalkan alfabet sebuah bahasa.

c. Kotak Alfabet

Secara umum media kotak alfabet merupakan salah satu alat permainan

edukatif untuk membelajarkan murid dalam membaca permulaan. Jenis- jenis Alat

Permainan Edukatif (APE) yang telah dikembangkan yang diciptakan oleh para ahli

yaitu : Dr. Maria montessori, George Cruissenarie, Peabody, dan Forebel

(Hernani.N.D 2013:24) yaitu:

1) Boneka jari.
Boneka jari terbuat dari kain yang tidak mudah bertiras, kain di bentuk
sesuai dengan figur cerita. Tujuan dari permainan boneka jari ini untuk
22
mengembangkan bahasa anak dan mempertinggi kreativitas anak,
mengajak bersosialisasi, dan bergotong royong di samping melatih
keterampilan jari- jemari tangan.
2) Puzzle Besar.
Puzzle adalah permainan teka- teki dari tripleks yang terdiri dari dua
bagian dengan ukuran yang sama, satu bagian dibuat lukisan sederhana
tripleks yang dilukis dipotong menjadi 10 - 12 keping. Tujuan
28

permainan ini adalah agar anak mengenal bentuk, melatih daya


pengamatan dan daya konsentrasi anak.
3) Kotak Alfabet.
Kotak ini berisi huruf – huruf alfabet yang di buat diatas potongan kertas
karton dupleks berukuran 5 x 5 cm. Tujuan dari peraminan in adalah
agar murid dapat mengenal huruf, menumbuhan gairah atau semangat
belajar ketika membentuk kata – kata dan belajar membaca.
4) Loto warna.
Permainan ini untuk anak usia 3- 4 tahun terdiri dari 9 kartu warna,
tujuanya mengenalkan macam – macam warna kepada anak.

Media kotak alfabet huruf juga merupakan salah satu bagian dari media grafis.

Menurut Sudjana (1990:4)

Pada hakikatnya media grafis dalam penyajiannya secara visual dengan


menggunakan titik-titik, garis-garis, gambar-gambar, tulisan,
simbol(huruf/angka) visual yang lain dengan maksud untuk
mengikhtisarkan, menggambarkan dan merangkum suatu ide, data atau
kejadian.

Secara umum fungsi media grafis untuk menyalurkan pesan dari sumber ke

penerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indra penglihatan. Pesan yang

akan disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual. Simbol-

simbol itu perlu dipahami benar artinya agar proses penyampaian pesan dapat

berhasil dan efisien.

Selain fungsi umum tersebut, secara khusus media grafis berfungsi pula untuk

menarik perhatian, memperjelas ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang

mungkin akan cepat dilupakan atau diabaikan bila tidak digrafiskan.

Sejalan dengan hal tersebut, Edu (2010 : 23) memberikan gambaran bahwa :

Kotak alfabet merupakan salah satu media pembelajaran sederhana yang


terbuat dari potongan-potongan huruf tercetak ataupun ditulis sendiri diatas
kertas. Potongan-potongan huruf tersebut di tempatkan kedalam kotak yang
berukuran [Link], lebar 2cm dan tinggi 5cm . Karena mudah dalam
29

pembuatannya, biasanya para orang tua di rumah membuat sendiri media ini
dengan tujuan membelajarkan anak dalam mengenal huruf maupun kata
yang disajikan dalam berbagai bentuk yang dapat menarik perhatian anak
dan menyesuaikan apa yang menjadi kebutuhan anak. Proses
pembelajarannyapun sangat sederhana, hanya dengan meminta anak
mengambil potongan-potongan huruf didalam kotak kemudian menyusun
kembali huruf sesuai dengan urutannya atau menjadi sederetan suku kata
dan kata sesuai dengan apa yang telah yang dituliskan dengan menggunakan
media ini.

Berdasarkan hakikat serta fungsi dari media grafis serta gambaran media

tersebut dapat dijadikan pedoman dalam pembuatan dan penggunaan media kotak

alfabet huruf yang dimodifikasi sedemikian rupa oleh peneliti, karna dalam

pemanfaatannya menggunakan titik-titik, garis-garis, gambar-gambar, tulisan,

simbol(huruf/angka) dan sajikan secara visual yang menyangkut indera penglihatan.

Dalam penerapan media kotak alfabet huruf, peneliti dapat menerapkan

metode bermain sambil belajar, namun tidak dengan cara yang membosankan. Guru

perlu banyak memberikan sanjungan dan semangat dalam proses pembelajaran

dengan harapan dapat memberikan suatu situasi belajar yang santai dan

menyenangkan.

Media pembelajaran membaca berupa kotak alfabet yang digunakan dalam

penelitian ini adalah media yang sangat sederhana, harganya murah, cara

membuatnya mudah, pengoperasiannya tidak memerlukan tenaga ahli atau khusus,

serta dapat dijangkau semua pihak. Meskipun media kotak alafabet masih tergolong

media yang sangat sederhana akan tetapi dipandang oleh peneliti sebagai salah satu

media atau wahana yang penting dan efektif digunakan dalam pembelajaran

membaca.
30

5. Pembuatan dan Penggunaan Media Kotak Alfabet .

Dalam penerapan media kotak alfabet, peneliti memodifikasi prosedur

pembuatan dan penggunaan dari aslinya yang sesuai dengan kemampuan yang

dimiliki oleh murid tunagrahita ringan.

Di bawah ini adalah prosedur pembuatan dan penggunaan media kotak alfabet

yang menurut Siantayani (2011 : 111) ;

1. Alat dan Bahan.


a) Kartu huruf
b) Spidol / krayon
c) Kotak

2. Cara Bermain.
a) Masukkan kartu-kartu huruf kedalam kotak, kmudian minta anak
untuk mengocok kotak itu.
b) Mintalah anak untuk mengambil kartu huruf itu dari kotak dengan
mata tertutup.
c) Jika anak sudah mendapatkan kartu, barulah membuka mata dan
melihat kaartu yang diambilny.
d) Anak dapat menulis sebuah kata atau nenggambar sesuatu yang di
ambilnya.
e) Setelah selesai menulis/menggabar,anak dapat bercerita tentang apa
yang di tulis atau digambarnya, juga pengalaman yang pernah
diperolehnya berkaitan dengan tulisan/gambar.

Adapun prosedur pembuatan dan penggunaan kotak alfabet dalam penelitian

ini yang dirancang sendiri oleh peneliti berdasarkan cara pembuatan dan langkah-

langkah penggunaan dari yang aslinya sebagai berikut:

1. Prosedur Pembuatan.

a) Persiapan alat dan bahan.


31

b) Membuat disain huruf dengan menggunakan program Microsoft Word

melalui laptop/komputer dengan jenis huruf Times New Roman dengan

ukuran font 200.

c) Mencetak teks di atas kertas dengan menggunakan printer

d) Gunting huruf sesuai dengan pola yang dibuat.

e) Masukkan kedalam huruf kedalam kotak yang telah di buat sebelumnya,

Agar huruf yang telah dibuat dapat awet dan aman bagi murid, ada baiknya

huruf tersebut dilapisi dengan plastik (laminating).

2. Cara Penggunaan

a) Guru memberikan pengantar dan gambaran umum kepada

murid tentang media kotak alfabet serta langkah-langkah

dalam penggunaannya.

b) Guru memperlihatkan sebuah kotak dan menyebutkan satu persatu

potongan huruf yang telah dibuat, kemudian memasukkannya kedalam

kotak.

c) Secara perorangan guru menginstruksikan kepada murid untuk mengambil

huruf yang diperintahkan kemudian membacanya.

d) Dengan mendampingi murid, guru membelajarkan untuk menyusun dan

membaca suku kata dan kata dengan menggunakan media kotak alfabet

secara berulang-ulang.
32

Gambar. 2.1 Kotak Alfabet

B. Kerangka Pikir

Pembelajaran membaca permulaan diberikan di kelas awal kelas I dan II

bertujuan agar anak murid tunagrahita ringan kelas dasar I dan II memiliki

kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar,

sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut. Pembelajaran membaca permulaan


33

merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan

sebagai representasi visual bahasa.

Murid tunagrahita ringan adalah mereka yang masih bisa dididik pada masa

dewasanya kelak, usia mental yang bisa mereka capai setara dengan anak usia 8 tahun

hingga usia 10 tahun 9 bulan. Dengan rentang IQ antara 55-69, biasanya mereka

mampu mengembangkan keterampilan komunikasi dan sosial, termasuk diantaranya

adalah kemampuan membaca.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan kemampuan membaca murid

tunagrahita ringan kelas dasar II dalam pembelajaran bahasa Indonesia agar lebih

optimal, maka diperlukan metode ataupun media yang lebih efisien untuk membantu

murid untuk lebih optimal. Salah satunya dalah dengan penggunaan media kotak

alphabet.

Alfabet adalah sebuah set standar lengkap huruf - simbol ditulis dasar - yang

masing-masing kira-kira merupakan fonem dari bahasa lisan, baik seperti yang ada

sekarang atau seperti yang mungkin telah di masa lalu. Ada sistem lain penulisan

seperti menulis logosyllabic, di mana masing-masing simbol merupakan morfem,

atau kata atau suku kata atau tempat kata dalam sebuah kategori, dan syllabaries, di

mana setiap simbol mewakili sebuah suku kata.

Penggunaan media Alfabet ini sangat efisiesn untuk pembelajaran dimana

dengan bantuan media kartu [Link] langkah langkah yang diterapkan dalam

belajar melalui media ini cukup ekonomis, karena biaya yang diperlukan untuk
34

pengadaan dan penggunaanya cukup mudah dan inovatif. Di samping itu, sangat

cocok menyajikan materi pelajaran dalam mengenalakan kata dalam membaca,

seperti pelajaran bahasa dan mampu menciptakan suasana yang imajinatif dan

membangkitkan sentuhan emosional bagi murid tunagrahita ringan dan media ini

telah disesuaikan dengan perkembangan dan kemampuan murid dalam proses balajar

membaca.

Dengan demikian penggunaan media kotak alfhabet diharapkan dapat

meningkatkan kemampuan membaca kata murid tunagrahita ringan kelas dasar II

dengan tujuan agar murid tunagrahita ringan belajar memperoleh pengetahuan,

mengapresiasi materi, dan mendapatkan pesan-pesan moral yang baik, yang

diharapkan bisa diteladani dalam kehidupan murid sehari-hari.

Untuk lebih jelasnya kerangka berpikir secara skematis dapat digambarkan

sebagai berikut:

Kemampuan Membaca
Proses Pembelajaran Murid
Permulaan Pada Mata
dengan Penggunaan Media
Pelajaran Bahasa
Kotak Alfabet
Indonesia Masih Rendah

Kemampuan Membaca Permulaan


Pada Mata Pelajaran Bahasa
Indonesia Meningkat

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir


35

C. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka pertanyaan penelitian ini

adalah:

1. Bagaimanakah kemampuan membaca permulaan murid tunagrahita ringan di

YPPLB 2 Makassar sebelum penggunaan media kotak Alfabet?

2. Bagaimanakah kemampuan membaca permulaan murid tunagrahita ringan di

YPPLB 2 Makassar sesudah penggunaan media kotak Alfabet?

3. Apakah ada peningkatan kemampuan membaca permulaan pada murid

tunagrahita ringan sebelum dan sesudah penggunaan media kotak Alfabet di

YPPLB 2 Makassar?

Anda mungkin juga menyukai