RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT
(RKS)
PEKERJAAN PERKERASAN KAKU
(RIGID PAVEMENT)
BAB I: UMUM
1.1. Lingkup Pekerjaan
Dokumen Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) ini menjelaskan persyaratan teknis
dan prosedur pelaksanaan pekerjaan perkerasan kaku (rigid pavement) yang mencakup,
namun tidak terbatas pada:
Persiapan lahan dan lapisan dasar (subgrade/subbase).
Pemasangan bekisting dan baja tulangan (dowel bars dan tie bars).
Pencampuran, penghamparan, dan pemadatan beton.
Finishing permukaan dan perawatan (curing) beton.
Pemotongan dan pengisian siar (joints).
Pengendalian mutu dan pengujian bahan serta hasil pekerjaan.
1.2. Acuan Standar
Pekerjaan ini harus dilaksanakan sesuai dengan standar dan spesifikasi teknis yang
berlaku, termasuk namun tidak terbatas pada:
Standar Nasional Indonesia (SNI) terkait beton, agregat, semen, dan baja tulangan.
Spesifikasi Umum Bina Marga (jika relevan).
Peraturan dan standar keselamatan kerja yang berlaku.
1.3. Definisi
Perkerasan Kaku (Rigid Pavement): Perkerasan jalan yang menggunakan plat beton
semen sebagai struktur utama untuk menahan beban lalu lintas dan menyebarkannya
ke lapisan di bawahnya.
Lapisan Dasar (Subgrade): Tanah asli atau timbunan yang telah dipadatkan sebagai
fondasi perkerasan.
Lapisan Pondasi Bawah (Subbase): Lapisan material berbutir atau beton kurus di
atas subgrade untuk meningkatkan daya dukung dan drainase.
Dowel Bars: Batang baja polos yang dipasang melintang siar melintang untuk
mentransfer beban antar plat beton.
Tie Bars: Batang baja ulir yang dipasang melintang siar memanjang untuk mencegah
pemisahan plat beton.
Siar (Joint): Retakan atau celah yang sengaja dibuat pada perkerasan beton untuk
mengendalikan retak akibat susut dan muai.
BAB II: BAHAN-BAHAN
2.1. Semen Portland
Semen yang digunakan harus Semen Portland Tipe I atau tipe lain yang disetujui,
memenuhi persyaratan SNI 2049. Semen harus disimpan di tempat yang kering dan
terlindung dari kelembaban.
2.2. Agregat
Agregat Kasar: Batu pecah atau kerikil yang bersih, keras, awet, dan bebas dari
bahan organik atau lumpur. Ukuran maksimum agregat harus sesuai dengan desain
campuran beton. Memenuhi SNI 03-2461.
Agregat Halus: Pasir yang bersih, keras, bebas dari gumpalan lempung, bahan
organik, dan bahan berbahaya lainnya. Memenuhi SNI 03-2460.
Penyimpanan Agregat: Agregat harus disimpan terpisah berdasarkan ukuran dan
terlindung dari kontaminasi.
2.3. Air
Air yang digunakan untuk campuran beton harus bersih, bebas dari minyak, asam,
alkali, garam, bahan organik, atau bahan berbahaya lainnya. Air harus memenuhi
persyaratan SNI 03-2816.
2.4. Baja Tulangan (Dowel & Tie Bars)
Dowel Bars: Baja polos, bersih, bebas karat, dan dilapisi bahan anti-karat atau licin
pada satu sisi untuk memungkinkan pergerakan plat.
Tie Bars: Baja ulir, bersih, dan bebas karat.
Ukuran dan penempatan baja tulangan harus sesuai dengan gambar rencana.
2.5. Bahan Curing (Perawatan Beton)
Bahan curing dapat berupa membrane curing compound, karung goni basah, atau
metode lain yang disetujui untuk mencegah penguapan air dari permukaan beton.
2.6. Bahan Pengisi Siar (Joint Filler)
Bahan pengisi siar harus elastis, tahan air, dan mampu menahan pergerakan siar.
Contoh: sealant berbasis aspal atau polimer.
BAB III: PERALATAN
Peralatan yang digunakan harus dalam kondisi baik, terkalibrasi, dan mampu menghasilkan
pekerjaan sesuai spesifikasi.
Peralatan Pencampur Beton (Batching Plant): Untuk menimbang dan mencampur bahan-
bahan beton secara akurat.
Peralatan Pengangkut: Truk mixer atau dump truck untuk mengangkut beton dari batching
plant ke lokasi penghamparan.
Peralatan Pemadat: Internal vibrator atau surface vibrator untuk memadatkan beton secara
merata dan menghilangkan rongga udara.
Peralatan Finishing: Jidar perata, bull float, dan alat finishing lainnya untuk menghasilkan
permukaan beton yang rata dan halus.
Peralatan Pemotong Siar (Joint Cutter): Mesin pemotong dengan mata pisau berlian untuk
memotong siar pada waktu yang tepat.
Peralatan Curing: Sprayer untuk aplikasi membrane curing compound.
BAB IV: PELAKSANAAN PEKERJAAN
4.1. Pemasangan Bekisting dan Baja Tulangan
Bekisting: Jika menggunakan fixed-form paver, bekisting harus dipasang dengan
kuat, lurus, dan pada elevasi yang tepat.
Dowel Bars: Dipasang pada siar melintang dengan dukungan yang tepat, satu sisi
dilapisi bahan anti-karat/licin.
Tie Bars: Dipasang pada siar memanjang.
4.2. Pencampuran Beton
Proporsi campuran beton harus sesuai dengan desain campuran yang telah disetujui,
berdasarkan pengujian laboratorium.
Pencampuran harus dilakukan di batching plant dengan kontrol yang ketat terhadap
rasio air-semen.
Waktu pencampuran harus cukup untuk menghasilkan campuran yang homogen.
4.3. Penghamparan dan Pemadatan
Beton harus diangkut dan dihampar segera setelah pencampuran untuk menghindari
segregasi dan kehilangan slump.
Penghamparan dapat menggunakan slipform paver atau fixed-form paver untuk
mencapai ketebalan dan kerataan yang seragam.
Pemadatan harus dilakukan secara menyeluruh menggunakan vibrator untuk
menghilangkan rongga udara dan memastikan beton mengisi seluruh area.
4.4. Finishing Permukaan
Setelah pemadatan, permukaan beton harus diratakan menggunakan jidar perata dan
bull float.
Tekstur permukaan (misalnya, sikat atau grooving) harus dibuat sesuai spesifikasi
untuk meningkatkan gesekan.
4.5. Curing (Perawatan Beton)
Segera setelah finishing, permukaan beton harus dirawat (curing) untuk mencegah
penguapan air yang cepat.
Metode curing dapat menggunakan membrane curing compound yang disemprotkan,
penutupan dengan karung goni basah, atau genangan air.
Curing harus dilakukan minimal selama 7 hari atau sesuai spesifikasi.
4.6. Pemotongan dan Pengisian Siar (Joints)
Pemotongan Siar: Siar melintang (transverse joints) dan siar memanjang
(longitudinal joints) harus dipotong pada waktu yang tepat, yaitu setelah beton
cukup keras untuk menahan pemotongan tetapi sebelum terjadi retak acak (biasanya
4-24 jam setelah pengecoran). Kedalaman pemotongan harus minimal 1/3 ketebalan
plat.
Pembersihan Siar: Siar harus dibersihkan dari kotoran dan serpihan sebelum
pengisian.
Pengisian Siar: Siar diisi dengan bahan pengisi siar (sealant) yang elastis untuk
mencegah masuknya air dan material asing.
4.7. Pengujian Kualitas
Selama dan setelah pelaksanaan, pengujian kualitas harus dilakukan untuk memastikan
pekerjaan sesuai standar.
BAB V: PENGENDALIAN MUTU
5.1. Pengujian Bahan
Semen: Uji kuat tekan, waktu ikat, dan kehalusan.
Agregat: Uji gradasi, berat jenis, penyerapan air, keausan (Los Angeles Abrasion),
dan kadar lumpur.
Air: Uji pH dan kandungan zat organik.
Baja Tulangan: Uji kuat tarik dan lentur.
5.2. Pengujian Beton Segar
Uji Slump: Untuk mengukur konsistensi beton.
Uji Kadar Udara: Untuk beton yang direncanakan mengandung udara.
Uji Suhu Beton.
5.3. Pengujian Beton Keras
Uji Kuat Tekan Silinder/Kubus: Dilakukan pada umur 7 dan 28 hari untuk
memastikan kuat tekan rencana tercapai.
Uji Kuat Lentur (Modulus of Rupture): Sangat penting untuk perkerasan kaku.
Uji Core Drill: Untuk mengetahui ketebalan plat dan mengambil sampel untuk uji
kuat tekan di lokasi.
5.4. Toleransi Dimensi
Ketebalan Plat: Toleransi ketebalan harus sesuai dengan spesifikasi proyek
(misalnya, tidak kurang dari 10mm dari tebal rencana).
Kerataan Permukaan: Diukur dengan straightedge atau profilometer, harus
memenuhi toleransi kerataan yang disyaratkan.
Lebar dan Elevasi: Harus sesuai dengan gambar rencana.