0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan68 halaman

Reaksi Pasar Modal Indonesia

Buku 'Event Study: Teori dan Pembahasan Reaksi Pasar Modal Indonesia' oleh T. Renald Suganda membahas reaksi pasar modal Indonesia terhadap lima peristiwa penting antara 2016-2018. Buku ini ditujukan untuk mahasiswa dan peneliti di bidang pasar modal, serta menggunakan metodologi event study untuk menganalisis dampak peristiwa terhadap pasar. Penulis juga menjelaskan teknik pengujian statistik yang digunakan untuk mengukur reaksi pasar, seperti abnormal return dan trading volume activity.

Diunggah oleh

ovtatckq372
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan68 halaman

Reaksi Pasar Modal Indonesia

Buku 'Event Study: Teori dan Pembahasan Reaksi Pasar Modal Indonesia' oleh T. Renald Suganda membahas reaksi pasar modal Indonesia terhadap lima peristiwa penting antara 2016-2018. Buku ini ditujukan untuk mahasiswa dan peneliti di bidang pasar modal, serta menggunakan metodologi event study untuk menganalisis dampak peristiwa terhadap pasar. Penulis juga menjelaskan teknik pengujian statistik yang digunakan untuk mengukur reaksi pasar, seperti abnormal return dan trading volume activity.

Diunggah oleh

ovtatckq372
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Event Study Teori dan Pembahasan Reaksi Pasar

Modal Indonesia T. Renald Suganda install


download

[Link]
reaksi-pasar-modal-indonesia-t-renald-suganda/

Download more ebook from [Link]


We believe these products will be a great fit for you. Click
the link to download now, or visit [Link]
to discover even more!

Lembaga Keuangan dan Pasar Modal Ela Elliyana S E M M

[Link]
ela-elliyana-s-e-m-m/

Take Profit Mencari Untung di Pasar Modal Secara


Rasional Andhika Diskartes

[Link]
modal-secara-rasional-andhika-diskartes/

Membangun Kemandirian Petani Garam melalui Literasi


Keuangan dan Perencanaan Keuangan Keluarga untuk
Produksi, Akses Modal, dan Informasi Pasar Dr. Didin
Fatihudin
[Link]
melalui-literasi-keuangan-dan-perencanaan-keuangan-keluarga-
untuk-produksi-akses-modal-dan-informasi-pasar-dr-didin-
fatihudin/

Sistem Informasi Geografis Teori dan Praktek dengan


Quantum GIS Sulistiyanto S T M T

[Link]
dan-praktek-dengan-quantum-gis-sulistiyanto-s-t-m-t/
Pokok Pokok Pengaturan Penanaman Modal di Indonesia
Suparji

[Link]
modal-di-indonesia-suparji/

Teori dan Pratikum Rangkaian Listrik Buku Ajar Dr Ir


Ija Darmana M T Erliwati S T M T

[Link]
listrik-buku-ajar-dr-ir-ija-darmana-m-t-erliwati-s-t-m-t/

Kesiapan Indonesia Menuju Pasar Tunggal dan Basis


Produksi ASEAN Sektor Jasa Logistik Zamroni Salim
Editor

[Link]
tunggal-dan-basis-produksi-asean-sektor-jasa-logistik-zamroni-
salim-editor/

Sistem Hukum & Peradilan di Indonesia; Teori dan


Praktik Moh. Mujibur Rohman

[Link]
mujibur-rohman/

Hilirisasi Industri Agro Teori Kebijakan dan Kajian


Empiris di Indonesia Lestari Agusalim

[Link]
kebijakan-dan-kajian-empiris-di-indonesia-lestari-agusalim/
Event Study
Teori dan Pembahasan Reaksi
Pasar Modal Indonesia

T. Renald Suganda
Event Study
Teori dan Pembahasan Reaksi
Pasar Modal Indonesia

Penulis : T. Renald Suganda


Editor : Soetam Rizky Wicaksono
Desain sampul : Tim Seribu Bintang

Penerbit
CV. Seribu Bintang
Malang – Jawa Timur - Indonesia
website: [Link]
email : info@[Link]
FB : [Link]/[Link]

ISBN : 978-602-52194-3-6

Edisi Pertama, Oktober 2018


Hak Cipta dilindungi oleh Undang-undang
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Kontributor :
Albert Christian
Audito Aji Anugrah
Christina Natalia Setiawan
Feni Sufuiana Thewelis
Gladys Miko Lukito
Miranti Verdiana Salim
Rendika Surya Herijanto
Sentoso Gosal
Wisda Milastri Sukrah HK Soba

i
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Opportunities come infrequently.


When it rains gold, put out the
bucket, not the thimble

ii
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat
Tuhan YME karena atas berkat rahmat dan
kuasaNya, buku Event Study: Teori dan
Pembahasan Reaksi Pasar Modal Indonesia ini
dapat terselesaikan.
Buku ini disusun sedemikian rupa
berdasarkan latar belakang studi dan
pengalaman penulis yang pernah mengenyam
pendidikan pasca sarjana pada Program Studi
Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, di
Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, dengan
berfokus pada bidang capital market based
accounting research (riset akuntansi berbasis
pasar modal). Saat ini, penulis aktif mengajar
sebagai dosen pada Program Studi Akuntansi,
Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Ma
Chung, Malang. Salah satu bidang kekhususan
penulis baik dalam pengajaran, penelitian,
maupun pengabdian pada masyarakat, adalah
bidang investasi khususnya pasar modal.

iii
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Buku ini menyajikan teori dan


pembahasan reaksi pasar modal Indonesia
terhadap beberapa contoh peristiwa yang dipilih
oleh penulis berdasarkan pertimbangan tertentu
pada tahun 2016-2018. Penekanan buku ini
terletak pada teori dan pembahasan sederhana
yang diharapkan dapat membantu para pembaca
dalam mengidentifikasi reaksi pasar modal
Indonesia terhadap suatu peristiwa. Peristiwa apa
saja yang akan dianalisis, bagaimana mekanisma
pengujian efisiensi pasarnya, serta apa indikator
reaksi pasar dan bagaimana pengukurannya,
akan dijelaskan sekilas oleh penulis di bagian
Pendahuluan pada buku ini. Setelah bagian
Pendahuluan, buku ini akan langsung menuntun
para pembaca ke beberapa studi peristiwa yang
dipilih untuk dibahas.
Siapa sajakah para pembaca yang dapat
menggunakan buku ini? Pertama, buku ini
ditujukan kepada mahasiswa strata satu (S1)
program studi akuntansi maupun manajemen
yang sedang melakukan penelitian pasar modal

iv
Reaksi Pasar Modal Indonesia

dengan metodologi event study (studi peristiwa).


Buku ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi,
atau sebagai bahan bacaan pendukung untuk
menambah wawasan keilmuan pasar modal, atau
bahkan lebih lanjut sebagai dasar dalam rangka
pengembangan penelitian. Kedua, buku ini
ditujukan kepada para peneliti (baik pemula
maupun senior) di bidang pasar modal sebagai
dasar pengembangan penelitian maupun sebagai
sarana hiburan intelektual.
Dalam proses penyusunan buku ini,
tentunya penulis tidak menyelesaikannya dengan
usaha seorang diri. Terdapat beberapa pihak
sangat membantu dan memotivasi penulis dalam
upaya penyelesaian buku ini. Untuk itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada beberapa
profesor di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta,
yang secara khusus telah memberikan dasar
yang kuat dalam mengeksplorasi bidang ini.
Ucapan terima kasih juga dihaturkan kepada
keluarga, sahabat, rekan-rekan dosen, dan rekan
sebidang ilmu yang selalu memberikan dorongan

v
Reaksi Pasar Modal Indonesia

kepada penulis demi terselesaikannya buku ini.


Tak lupa, penulis pun mengucapkan terima kasih
kepada rekan tim mahasiswa terpilih yang telah
berkontribusi dalam penyusunan buku ini.
Buku yang telah tersusun ini tentunya
masih belum sempurna. Oleh karena itu, kritik
dan saran dari para pembaca sangat dibutuhkan
oleh penulis demi penyempurnaan buku ini
nantinya.
Terima kasih dan mari bersama-sama
berproses demi kemajuan keilmuan di bidang
pasar modal.

Universitas Ma Chung, Malang


Agustus 2018

Penulis
Tarsisius Renald Suganda, S.E., [Link]

vi
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Daftar Isi

Kontributor : ................................................i
Kata Pengantar ...........................................ii
Daftar Isi................................................... vii
Pendahuluan 1
Reaksi Pasar ...............................................
Modal Indonesia terhadap
Peristiwa Peluncuran Rudal Korea Utara .....7
Sekilas Peristiwa ......................................... 8
TinjauanPenelitian
Metoda Pustaka ....................................... 13
...................................... 19
Hasil dan Pembahasan ............................... 26
Daftar Pustaka .......................................... 33
Dampak Reaksi Pengumuman Perang
Dagang Amerika Serikat dan Republik
Rakyat China terhadap Pasar Modal
Indonesia..................................................35
Sekilas Peristiwa ....................................... 36
Metoda Penelitian ...................................... 46
Simpulan.................................................. 54
Daftar Pustaka .......................................... 56
Abnormal Return dan Trading Volume
Activity sebagai Bentuk Reaksi Pasar Modal
terhadap Peristiwa Bom Sarinah ...............59
Sekilas Peristiwa ....................................... 60
Tinjauan Pustaka....................................... 65
Metoda Penelitian ...................................... 72
Hasil dan Pembahasan ............................... 82

vii
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Daftar Pustaka
Simpulan .................................................. 90
.......................................... 92
..................................................................94
Dampak Perubahan Harga Batu Bara
Domestic Market Obligation terhadap
Kinerja Saham Perusahaan Batu Bara .......95
Sekilas Peristiwa ....................................... 96
Tinjauan Pustaka..................................... 101
Metoda Penelitian .................................... 108
Hasil dan Pembahasan ............................. 117
Simpulan................................................ 127
Daftar Pustaka ........................................ 129
Reaksi Pasar Saham Indonesia terhadap
Pengumuman Kenaikan Suku Bunga The
Federal....................................................131
Reserve Bank ..........................................131
Sekilas Peristiwa ..................................... 132
Tinjauan
Metoda
Hasil dan
Penelitian
Pustaka
Pembahasan
..................................... 136
.................................... 147
............................. 152
Index
Glosarium
Simpulan................................................ 160
................................................ 163
...................................................... 167

viii
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Pendahuluan

Studi peristiwa atau event study di bidang


pasar modal merupakan suatu studi yang
dilakukan secara empiris untuk menganalisis
dampak terjadinya suatu peristiwa terhadap pasar
modal suatu negara. Dengan kata lain, studi ini
dilakukan untuk menginvestigasi reaksi pasar
modal terhadap suatu peristiwa. Dalam penelitian
pasar modal, khususnya pengujian efisiensi pasar,
event study merupakan metodologi yang
digunakan untuk menguji efisiensi pasar bentuk
setengah kuat (semi strong form).
Buku ini disusun dengan membahas lima
peristiwa yang berbeda pada perioda 2016 –
2018. Sebenarnya terdapat banyak sekali
peristiwa yang dapat diteliti, namun penulis hanya
mengambil lima contoh peristiwa saja untuk
dibahas di dalam buku ini. Dari kelima peristiwa
yang dipilih tersebut, tidak ada satupun jenis
peristiwa konvensional yang diambil sebagai
contoh. Reaksi pasar modal yang diinvestigasi
adalah reaksi pasar modal di negara Indonesia.

1
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Buku ini membahas lima contoh peristiwa


sebagai bahan kajian yaitu:

1. Bom Sarinah (2016)


2. Peluncuran Rudal Korea (2017)
3. Pengumuman Kenaikan Suku Bunga The Fed
(2017)
4. Penurunan Harga Batu Bara DMO (2018)
5. Perang Dagang Amerika Serikat dan China
(2018)

Secara empiris, pengujian umum terhadap


respons atau reaksi pasar adalah menggunakan
indikator abnormal return. Dalam buku ini,
indikator reaksi pasar yang ditambahkan adalah
trading volume activity. Data yang dibutuhkan
dalam pengujian didapatkan dari Galeri Investasi
Universitas Ma Chung sebagai unit yang dikelola
Universitas Ma Chung atas hasil sinergi dengan
Bursa Efek Indonesia dan Anggota Bursa yaitu
Danareksa Sekuritas.

Buku ini disusun dengan membahas


lima peristiwa yang berbeda pada
perioda 2016 – 2018.

2
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Untuk menghitung nilai abnormal return,


maka nilai actual return dan expected return
harus didapatkan terlebih dahulu. Penulis
membatasi hanya menggunakan satu model
pengujian expected return yaitu market-adjusted
model (dua model lainnya yang dapat digunakan
oleh pembaca sebagai pengembangan penelitian
adalah market model dan mean-adjusted model).
Market-adjusted model dapat digunakan
tanpa membutuhkan perioda estimasi sehingga
relatif lebih ringkas pengujiannya dan model ini
memprediksi expected return berdasarkan return
indeks pasar. Alat statistik yang digunakan untuk
menjawab ada tidaknya abnormal return adalah
One Sample t-test. Penulis berpendapat bahwa
One Sample t-test dapat mendeteksi di hari ke
berapakah reaksi pasar terjadi secara signifikan,
bahkan pada hari H saat terjadinya peristiwa pun
(t0) dapat terdeteksi apakah signifikan atau tidak
reaksinya. Jadi, menurut penulis, pengujian
abnormal return dalam peristiwa yang dibahas di
buku ini bukan dengan cara membedakan rata
rata abnormal return sebelum dan setelah
peristiwa, namun lebih tepat digunakan untuk
melihat pada hari ke berapa reaksi pasar modal

3
Reaksi Pasar Modal Indonesia

ditemukan secara signifikan. Oleh karena itu, alat


statistik yang digunakan adalah one sample t-test
(bukan menggunakan paired sample t-test).
Untuk menghitung indikator kedua yaitu
trading volume activity (TVA), data voluma
perdagangan saham dan voluma saham beredar
harus didapatkan terlebih dahulu. Untuk melihat
ada tidaknya reaksi pasar yang signifikan, penulis
menggunakan uji beda rata-rata TVA sebelum dan
setelah peristiwa untuk melihat perbedaan
voluma perdagangan.

Market-adjusted model dapat


digunakan tanpa membutuhkan
perioda estimasi sehingga relatif lebih
ringkas pengujiannya dan model ini
memprediksi expected return
berdasarkan return indeks pasar.

Penulis berpendapat bahwa uji beda rata


rata TVA setelah dan TVA sebelum peristiwa
adalah tepat jika menggunakan alat uji statistik
Paired Sample t-test atau bahkan dapat juga
menggunakan alat uji statistik Wilcoxon Signed
Rank Test jika hasil uji normalitas datanya
ternyata tidak terdistribusi secara normal. Jadi,
dalam buku ini (berdasarkan lima contoh

4
Reaksi Pasar Modal Indonesia

peristiwa yang dibahas), alat uji statistik yang


digunakan untuk pengujian abnormal return
adalah one sample t-test, namun untuk pengujian
TVA adalah paired sample t-test.
Demikian beberapa informasi dan batasan
yang digunakan penulis terkait proses
penyusunan buku ini. Para pembaca diharapkan
membaca bagian ini terlebih dahulu sebelum
beralih ke konten buku lebih lanjut.
Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi
para pembaca.

5
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Risk comes from not knowing what


you are doing

6
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Reaksi Pasar Modal Indonesia


terhadap Peristiwa Peluncuran
Rudal Korea Utara

7
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Sekilas Peristiwa
Pada tanggal 29 Agustus 2017, Korea
Utara menembakkan sebuah rudal dari dekat ibu
kota Pyongyang yang melintasi wilayah udara
Jepang dan jatuh di Samudra Pasifik di lepas
pantai Pulau Hokaido. Rudal yang meluncur 2.700
km dan pada ketinggian maksimum 550 km
tersebut merupakan serangkaian uji coba
peluncuran rudal kedua yang dilakukan oleh pihak
Korea Utara. Peristiwa tersebut merupakan
tindakan ancaman balik yang dilontarkan oleh
Korea Utara terhadap Amerika Serikat (AS).
Setelah peristiwa peluncuran rudal
pertama, Korea Utara kembali mengancam akan
meluncurkan rudal kedua di Guam, yang
merupakan salah satu dari wilayah Amerika
Serikat dan menjadi lokasi kedua pangkalan
militer AS. Terdapat setidaknya 163.000 warga
sipil di Guam dan sekitar 6 ribu personil militer AS
yang ditugaskan di pulau ini ([Link],
2018). Dengan kondisi tersebut, ketegangan
geopolitik antara Korea Utara dan Amerika Serikat
akan semakin memuncak. Selain itu, ketegangan
yang terjadi dapat berimbas pada melemahnya

8
Reaksi Pasar Modal Indonesia

indeks negara-negara Asia maupun Amerika


Serikat. Secara khusus di Indonesia, terjadi aksi
jual yang cukup tinggi di Bursa Efek Indonesia
(BEI) yang menyebabkan Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari Selasa,
29 Agustus 2017 (tepat pada saat peluncuran
rudal) mengalami penurunan sebesar 0,26% atau
15,129 poin ke level 5.888,212 dari penutupan
sebelumnya yaitu pada level 5.903,341
([Link], 2018).

Aksi jual cukup tinggi terjadi di Bursa


Efek Indonesia yang menyebabkan
Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) pada perdagangan hari Selasa,
29 Agustus 2017 (tepat pada saat
peluncuran rudal) mengalami
penurunan sebesar 0,26% atau 15,129
poin ke level 5.888,212 dari
penutupan sebelumnya di level
5.903,341

Peristiwa tersebut diperkirakan dapat


memberikan sinyal buruk atau bad news bagi
pelaku pasar modal atau para investor. Hal ini
disebabkan oleh menegangnya perseteruan kedua
negara yang mampu membawa dampak ekonomi
pada kedua negara tersebut dan juga negara lain

9
Reaksi Pasar Modal Indonesia

yang memiliki ikatan ekonomi dan hubungan


perdagangan dengan AS dan Korea Utara.
Indonesia sebagai salah satu negara yang
memiliki ikatan ekonomi dengan AS juga
terdampak.
Data yang tercatat sampai pada 9 Maret
2018 menunjukkan bahwa komposisi kepemilikan
efek oleh pihak asing adalah sebesar 44,45% atau
setara dengan Rp2.026,52 triliun. Sedangkan
kepemilikan efek oleh investor lokal adalah
sebesar 55,55% atau senilai Rp2.533,05 triliun
([Link] 2018). Akibatnya,
dengan adanya peristiwa tersebut, dugaan bahwa
para investor asing akan menarik dananya dari
pasar modal Indonesia dan akan dialihkan pada
investasi yang lebih aman juga semakin kuat.
Pasar modal dikatakan efisien apabila
pasar mampu bereaksi dengan cepat dan akurat
untuk mencapai harga keseimbangan baru yang
sepenuhnya mencerminkan informasi yang
tersedia (Hartono, 2017). Peristiwa yang
mempengaruhi pasar modal pada prinsipnya
mengandung suatu informasi. Kandungan
informasi yang diserap oleh pasar akan digunakan
para investor untuk menentukan keputusan

10
Reaksi Pasar Modal Indonesia

investasinya, sehingga investor akan berupaya


untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan
akurat. Kemampuan pasar yang efisien dalam
menerima informasi yang terjadi dijelaskan pula
dalam signaling theory. Teori ini menjelaskan
bahwa sinyal-sinyal yang timbul dari informasi,
baik yang berasal dari eksternal perusahaan
(inflasi, kebijakan pemerintah, bencana alam, dan
lainnya) maupun internal perusahaan (berupa
corporate action, kebijakan manajemen lainnya)
secara langsung akan berpengaruh terhadap
pergerakan harga dari perusahaan terkait.

Pasar dikatakan efisien bila pasar


mampu bereaksi cepat dan akurat
untuk mencapai harga keseimbangan
baru yang sepenuhnya mencerminkan
informasi yang tersedia.

Peristiwa peluncuran rudal Korea Utara


yang akhirnya menyebabkan ketegangan dengan
Amerika Serikat dianggap sebagai bad signal bagi
pasar modal Indonesia. Dalam investigasi efisiensi
pasar modal, khususnya peristiwa peluncuran
rudal ini, studi peristiwa atau event study adalah
metoda yang tepat digunakan dalam pengujian.

11
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Menurut Tandelilin (2010), event study


menggambarkan sebuah teknik riset keuangan
empiris yang memungkinkan seorang pengamat
menilai dampak dari suatu peristiwa terhadap
harga saham perusahaan. Dalam kajian ini, tolok
ukur yang digunakan untuk membuktikan adanya
reaksi pasar modal adalah dengan melihat
indikator abnormal return dan aktivitas voluma
perdagangan saham (trading volume activity).
Berdasarkan isu yang ada, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Apakah
terdapat reaksi pasar atas peristiwa peluncuran
rudal Korea Utara yang tercermin dalam abnormal
return yang signifikan? (2) Apakah terdapat reaksi
pasar atas peristiwa peluncuran rudal Korea Utara
yang tercermin dalam Trading Volume Activity
(TVA)?

12
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Tinjauan Pustaka

Hipotesis Pasar Efisien


Pasar efisien adalah pasar tempat harga
sekuritas sama dengan nilai investasi sepanjang
waktu yang berarti bahwa setiap sekuritas dijual
pada harga yang wajar setiap waktu. Pasar modal
dikatakan efisien apabila pasar mampu bereaksi
dengan cepat dan akurat untuk mencapai harga
keseimbangan baru yang sepenuhnya
mencerminkan seluruh informasi yang tersedia.
Fama (1970) mengategorikan hipotesis pasar
efisien menjadi tiga bentuk yakni pasar efisien
lemah (weak form), pasar efisiensi setengah kuat
(semi strong form), dan pasar efisiensi sangat
kuat (strong form).
Tiga macam bentuk efisiensi pasar, antara
lain: (1) pasar efisien bentuk lemah (weak form),
yaitu pasar dikatakan efisien jika harga-harga dari
sekuritas mencerminkan secara penuh (fully
reflect) informasi masa lalu (seperti harga dan
voluma perdagangan, serta peristiwa di masa
lalu); (2) pasar efisien bentuk setengah kuat
(semi strong form), yaitu pasar dikatakan efisien

13
Reaksi Pasar Modal Indonesia

jika harga-harga sekuritas mencerminkan secara


penuh semua informasi historis dan informasi
yang dipublikasikan termasuk informasi yang
berada di laporan keuangan. Informasi tersebut
dapat berupa informasi yang berasal dari emiten
yang hanya memengaruhi harga saham dari
emiten tersebut, informasi yang memengaruhi
harga saham beberapa sekuritas; dan (3) pasar
efisien bentuk kuat (strong form), yaitu pasar
dikatakan efisien jika harga-harga sekuritas
secara penuh mencerminkan semua informasi
yang tersedia termasuk informasi yang privat.

Pasar modal dikatakan efisien apabila


pasar mampu bereaksi dengan cepat
dan akurat untuk mencapai harga
keseimbangan baru.

Tujuan Fama mengklasifikasikan pasar


efisien menjadi tiga bentuk ini adalah untuk
mempermudah penelitian-penelitian yang
dilakukan terhadap efisiensi pasar (Tandelilin,
2010). Pada tahun 1991, Fama melakukan
penyempurnaan atas klasifikasi efisiensi pasar
tersebut. Efisiensi pasar bentuk lemah
disempurnakan menjadi klasifikasi yang lebih

14
Reaksi Pasar Modal Indonesia

bersifat umum untuk menguji return


prediktabilitas (return predictability). Sedangkan
pengujian efisiensi pasar bentuk setengah kuat
digunakan untuk menguji studi peristiwa (event
studies). Untuk pengujian efisiensi pasar dalam
bentuk kuat, pengujiannya disebut sebagai
pengujian informasi privat.

Signaling Theory
Menurut Brigham & Houston (2011),
signaling theory adalah tindakan yang diambil dari
manajemen perusahaan untuk memberikan
petunjuk bagi investor mengenai prospek
perusahaan. Sedangkan menurut Scott (2012),
sinyal adalah sebuah tindakan yang diambil oleh
high type manager yang mana tidak akan rasional
jika dilakukan oleh low type manager.
Berdasarkan pengertian tersebut, teori
penyinyalan (signaling theory) merupakan teori
yang digunakan untuk memahami suatu tindakan
oleh pihak manajemen dalam menyampaikan
informasi kepada investor yang pada akhirnya
dapat mengubah keputusan investor dalam
melihat kondisi perusahaan. Informasi yang
simetris adalah kondisi ideal yang diharapkan

15
Reaksi Pasar Modal Indonesia

para investor (disebut pihak prinsipal) ketika


manajemen perusahaan (disebut pihak agen)
memberikan informasinya. Namun, terkadang
penyampaian informasi yang asimetris pun
terjadi. Menurut Jensen & Meckling (1976),
informasi asimetris terjadi karena terdapat salah
satu pihak yang selalu berupaya memaksimalkan
utilitasnya. Alasan yang muncul seringkali adalah
bahwa pihak agen memiliki informasi penuh
dalam perusahaan dan tidak selalu bertindak yang
terbaik untuk kepentingan pihak prinsipal.
Informasi asimetris ini dapat mempengaruhi
kondisi dan prospek perusahaan.

Teori penyinyalan (signaling theory)


menjelaskan tindakan-tindakan pihak
manajemen dalam menyampaikan
informasi kepada investor yang pada
akhirnya dapat mengubah keputusan
investor.

16
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Abnormal Return
Abnormal Return merupakan kelebihan
dari return yang sesungguhnya terjadi (realisasi)
terhadap return normal (Hartono, 2017). Return
normal merupakan return ekspektasian atau
return yang diharapkan oleh investor. Dengan
demikian return tidak normal adalah selisih antara
return sesungguhnya yang terjadi dengan return
ekspektasian. Return realisasi (actual return)
dapat dikatakan juga sebagai return yang telah
terjadi dan dihitung berdasarkan data historis.
Return ekspektasian (expected return) merupakan
return yang diharapkan akan diperoleh oleh
investor di masa mendatang. Berbeda dengan
return realisasi, return ekspektasi merupakan
return yang belum terjadi.

Trading Volume Activity (TVA)


Trading Volume Activity (TVA) merupakan
indikator yang digunakan untuk mengamati serta
mengukur reaksi pasar modal terhadap informasi
atau peristiwa yang terjadi di pasar modal.
Informasi atau peristiwa tertentu dapat memicu
pergerakan saham di pasar modal yang akan
mempengaruhi penawaran dan permintaan

17
Reaksi Pasar Modal Indonesia

saham. Trading volume activity (aktivitas voluma


perdagangan) merupakan penjualan dari setiap
transaksi yang terjadi di bursa saham pada saat
waktu tertentu untuk saham tertentu, dan
merupakan salah satu faktor yang juga
memberikan pengaruh terhadap pergerakan
saham.
Trading Volume Activity (TVA) merupakan
suatu indikator yang dapat digunakan untuk
melihat reaksi pasar modal terhadap informasi
yang beredar di pasar modal dengan
menggunakan aktivitas voluma perdagangan
saham sebagai parameternya. Trading Volume
Activity (TVA) sering digunakan sebagai alat
untuk mengukur likuiditas saham. Apabila voluma
saham yang diperdagangkan lebih besar daripada
voluma saham yang diterbitkan, maka semakin
likuid saham tersebut sehingga aktivitas voluma
perdagangan meningkat.

18
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Metoda Penelitian
Sampel yang digunakan dalam penelitian
ini adalah seluruh perusahaan yang termasuk ke
dalam indeks LQ 45. Indeks LQ 45 dipilih karena
indeks ini terdiri atas 45 perusahaan yang
memiliki tingkat likuiditas, kapitalisasi pasar yang
tinggi di BEI, serta merupakan indeks yang terdiri
atas perusahaan yang paling aktif
diperdagangkan. Sampel yang digunakan dalam
penelitian ini harus memenuhi beberapa kriteria
sebagai berikut.

1. Merupakan perusahaan yang termasuk ke


dalam indeks LQ45 pada perioda penelitian.
2. Memiliki nilai harga penutupan saham (closing
price).
3. Tidak mengalami suspend dan delisting pada
perioda penelitian.
4. Tidak melakukan corporate action pada
perioda penelitian.

Berdasarkan hasil kriteria tersebut, maka


diperoleh sampel sebanyak 45 perusahaan yang
akan digunakan dalam penelitian ini sebagai
berikut.

19
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Tabel 1. Sampel Penelitian


No. Kode Keterangan
Saham
1 AALI Astra Agro Lestari Tbk

2 ADHI Adhi Karya (Persero)Tbk

3 ADRO Adaro Energy Tbk

4 AKRA AKR Corporindo Tbk

5 ANTM Aneka Tambang (Persero) Tbk

6 ASII Astra International Tbk

7 BBCA Bank Central Asia Tbk

8 BBNI Bank Negara Indonesia (Persero)


Tbk
9 BBRI Bank Rakyat Indonesia (Persero)
Tbk
10 BBTN Bank Tabungan Negara (Persero)
Tbk
11 BJBR BPD Jawa Barat dan Banten Tbk

12 BMRI Bank Mandiri (Persero) Tbk

13 BMTR Global Mediacom Tbk

14 BRPT Barito Pacific Tbk

15 BSDE Bumi Serpong Damai Tbk

16 BUMI Bumi Resources Tbk

17 EXCL XL Axiata Tbk

18 GGRM Gudang Garam Tbk

19 HMSP H. M. Sampoerna Tbk

20 ICBP Indofood CBP Sukses Makmur


Tbk
21 INCO Vale Indonesia Tbk

22 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk

23 INTP Indocement Tunggal Prakasa Tbk

20
Reaksi Pasar Modal Indonesia

No. Kode Keterangan


Saham
24 JSMR Jasa Marga (Persero) Tbk

25 KLBF Kalbe Farma Tbk

26 LPKR Lippo Karawaci Tbk

27 LPPF Matahari Department Store Tbk

28 LSIP PP London Sumatra Tbk

29 MNCN Media Nusantara Citra Tbk

30 MYRX Hanson International Tbk

31 PGAS Perusahaan Gas Negara (Per


sero) Tbk
32 PPRO PP Properti Tbk

33 PTBA Tambang Batubara Bukit Asam


(Persero) Tbk
34 PTPP PP (Persero) Tbk

35 PWON Pakuwon Jati Tbk

36 SCMA Surya Citra Media Tbk

37 SMGR Semen Indonesia (Persero) Tbk

38 SMRA Summarecon Agung Tbk

39 SRIL Sri Rejeki Isman Tbk

40 SSMS Sawit Sumbermas Sarana Tbk

41 TLKM Telekomunikasi Indonesia


(Persero) Tbk
42 UNTR United Tractors Tbk

43 UNVR Unilever IndonesiaTbk

44 WIKA Wijaya Karya (Persero) Tbk

45 WSKT Waskita Karya (Persero) Tbk

Sumber: Data diolah, 2018

21
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Jenis data yang digunakan dalam


penelitian ini adalah data kuantitatif dan sumber
datanya adalah sumber data sekunder. Data
kuantitatif yang digunakan adalah data berupa
harga saham harian saat penutupan (closing
price), dan voluma perdagangan saham. Terkait
dengan sumber data, data didapatkan dari Galeri
Investasi Universitas Ma Chung (GI-UMC) yang
merupakan suatu unit penyedia data pasar modal
di Universitas Ma Chung yang berdiri atas kerja
sama dengan Bursa Efek Indonesia dan anggota
bursa yaitu Danareksa Sekuritas.
Metoda pengumpulan data yang dilakukan
dalam penelitian ini adalah metoda dokumentasi
yaitu mengutip atau mengambil secara langsung
dari sumber data yang tersedia. Market adjusted
model adalah model perhitungan expected return
yang dipilih untuk digunakan dalam penelitian ini.
Berdasarkan market adjusted model, perioda
yang digunakan dalam penelitian ini adalah
perioda jendela saja (windows period) dan tanpa
menggunakan perioda estimasi (estimation
period). Model ini memiliki ciri yaitu return
sekuritas yang diestimasi adalah sama dengan
return indeks pasar atau dalam hal ini IHSG.

22
Reaksi Pasar Modal Indonesia

Perioda jendela yang digunakan adalah


sebelas hari bursa, yaitu lima hari sebelum (t-5)
dan lima hari setelah (t+5), dan event date (t0)
yang jatuh pada tanggal 29 Agustus 2017.
Adapun penggunaan perioda jendela 11 hari yaitu
untuk memperkecil terjadinya confounding effect
atau terjadinya perubahan harga saham karena
faktor lain di luar perisiwa yang diamati.

Metoda pengumpulan data dalam


penelitian ini yaitu menggunakan
metoda dokumentasi atau kutipan
langsung terhadap data sekunder.

Untuk melihat ada tidaknya reaksi pasar


modal, maka indikator yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Abnormal Return (AR) dan
Trading Volume Activity (TVA). Abnormal Return
merupakan kelebihan dari return yang
sesungguhnya terjadi terhadap return normal.
Trading Volume Activity (TVA) merupakan rasio
antara jumlah lembar saham yang
diperdagangkan pada waktu tertentu terhadap
jumlah saham yang beredar pada waktu tertentu
(Tandelilin, 2010). Oleh sebab itu, terdapat 2

23
Reaksi Pasar Modal Indonesia

hipotesis yang diajukan untuk menguji reaksi


pasar modal Indonesia yaitu:
H1: Terdapat reaksi pasar yang negatif atas
peristiwa peluncuran rudal Korea Utara yang
tercermin dari abnormal return yang
signifikan di sekitar perioda peristiwa.
H2: Terdapat reaksi pasar yang negatif atas
peristiwa peluncuran rudal Korea Utara yang
tercermin dari perbedaan yang signifikan
antara Average Trading Volume Activity
(ATVA) sebelum dan sesudah peristiwa.

Langkah-langkah pengujian hipotesis 1


adalah, sebagai berikut.

1. Menentukan actual return pada perioda


estimasi dengan rumus sebagai berikut.
Ri,t = (Pt - Pt-1 + D) / Pt-1
2. Menentukan expected return dengan
menggunakan market adjusted model dengan
rumus sebagai berikut.
3. Ri = (IHSGt - IHSGt-1) / IHSGt-1
4. Menghitung abnormal return dengan rumus
sebagai berikut.
5. ARi,t = Ri,t – Ri

24
Other documents randomly have
different content
Vierter Akt.
Wie im zweiten Akt: der Gutshof. Zeit: eine Viertelstunde nach Helenens
Liebeserklärung.
M a r i e und G o l i s c h, der Kuhjunge, schleppen sich mit einer hölzernen Lade
die Bodentreppe herunter. Loth kommt reisefertig aus dem Hause und geht
langsam und nachdenklich quer über den Hof. Bevor er in den Wirthshaussteg
einbiegt, stößt er auf H o f f m a n n, der mit ziemlicher Eile durch den Hofeingang
ihm entgegenkommt.
Hoffmann, Cylinder, Glacéhandschuhe. Sei mir nicht böse. Er verstellt
Loth den Weg und faßt seine beiden Hände. Ich nehme hiermit alles zurück!
... Nenne mir eine Genugthuung! ... Ich bin zu jeder Genugthuung
bereit! .... Ich bereue, bereue alles aufrichtig.
Loth. Das hilft Dir und mir wenig.
Hoffmann. Ach! — wenn Du doch ... sieh mal ....! Mehr kann
man doch eigentlich nicht thun. Ich sage Dir: mein Gewissen hat mir
keine Ruhe gelassen! Dicht vor Jauer bin ich umgekehrt, .... daran
solltest Du doch schon erkennen, daß es mir Ernst ist. — Wo wolltest
Du hin ....?
Loth. In’s Wirthshaus — einstweilen.
Hoffmann. Ach, das darfst Du mir nicht anthun ...! Das thu mir
nur nicht an! Ich glaube ja, daß es Dich tief kränken mußte. ’S ist ja
auch vielleicht nicht so — mit ein paar Worten wieder gut zu
machen. Nur nimm mir nicht jede Gelegenheit .... jede Möglichkeit,
Dir zu beweisen .... hörst Du? Kehr um! .... Bleib wenigstens bis ...
bis morgen. Oder bis ... bis ich zurückkomme. Ich muß mich noch
einmal in Muße mit Dir aussprechen darüber; — das kannst Du mir
nicht abschlagen.
Loth. Wenn Dir daran besonders viel gelegen ist ....
Hoffmann. Alles! ... auf Ehre! — ist mir daran gelegen, alles! ....
Also komm! ... komm!! Kneif ja nicht aus! — komm! Er führt Loth, der
sich nun nicht mehr sträubt, in das Haus zurück. Beide ab.
Die entlassene Magd und der Kuhjunge haben inzwischen die Lade auf den
Schubkarren gesetzt, Golisch hat die Traggurte umgenommen.
Marie, während sie Golisch etwas in die Hand drückt. Doo! Gooschla!
hust a woas!
Der Junge weist es ab. Behaal’ Den’n Biema!
Marie. Ae! tumme Dare!
Der Junge. Na, wegen menner. Er nimmt das Geld und thut es in seinen
ledernen Geldbeutel.
Frau Spiller von einem der Wohnhausfenster aus, ruft: Marie!
Marie. Woas wullt Er noo?
Frau Spiller nach einer Minute aus der Hausthür tretend. Die gnädige
Frau will Dich behalten, wenn Du versprichst ....
Marie. Dreck! war ich er versprecha! — Foahr zu, Goosch!
Frau Spiller näher tretend. Die gnädige Frau will Dir auch etwas am
Lohn zulegen, wenn Du ..... Plötzlich flüsternd. Mach Der nischt draus,
Moad! se werd ok manchmal so’n bisken kullerig.
Marie wüthend. Se maag siich ihre poar Greschla fer sich behahl’n!
— Weinerlich. Ehnder derhingern! Sie folgt Gosch, der mit dem Schubkarren
vorangefahren ist. Nee, a su woas oaber oo! — Do sool eens do glei’ ...
Ab. Frau Spiller ihr nach. Ab.
Durch den Haupteingang kommt B a e r, genannt Hopslabaer. Ein langer Mensch
mit einem Geierhalse und Kropfe dran. Er geht barfuß und ohne Kopfbedeckung;
die Beinkleider reichen, unten stark ausgefranst, bis wenig unter die Knie herab. Er
hat eine Glatze; das vorhandene braune, verstaubte und verklebte Haar reicht ihm
bis über die Schulter. Sein Gang ist straußenartig. An einer Schnur führt er ein
Kinderwägelchen voll Sand mit sich. Sein Gesicht ist bartlos, die ganze
Erscheinung deutet auf einen einige Zwanzig alten verwahrlosten Bauernburschen.
Baer mit merkwürdig blökender Stimme. Saaa—a—and! Saa—and!
Er geht durch den Hof und verschwindet zwischen Wohnhaus und Stallgebäude.
H o f f m a n n und H e l e n e aus dem Wohnhaus. Helene sieht bleich aus und trägt
ein leeres Wasserglas in der Hand.
Hoffmann zu Helene. Unterhalt ihn bissel! verstehst Du? — Laß ihn
nicht fort — es liegt mir sehr viel daran. — So’n beleidigter Ehrgeiz
.... Adieu! — Ach! Soll ich am Ende nicht fahren? — Wie geht’s mit
Martha? — Ich hab so’n eigenthümliches Gefühl, als ob’s bald .....
Unsinn! — Adieu! ... höchste Eile! Ruft. Franz! Was die Pferde laufen
können! Schnell ab durch den Haupteingang.
H e l e n e geht zur Pumpe, pumpt das leere Glas voll und leert es auf einen Zug.
Ein zweites Glas Wasser leert sie zur Hälfte. Das Glas setzt sie dann auf das
Pumpenrohr und schlendert langsam, von Zeit zu Zeit rückwärts schauend, durch
den Thorweg hinaus. B a e r kommt zwischen Wohnhaus und Stallung hervor und
hält mit seinem Wagen vor der Wohnhausthür still, wo Miele ihm Sand abnimmt.
Indeß ist K a h l von rechts innerhalb des Grenzzaunes sichtbar geworden, im
Gespräch mit F r a u S p i l l e r, die außerhalb des Zaunes, also auf dem Terrain
des Hofeingangs, sich befindet. Beide bewegen sich im Gespräch langsam längs
des Zaunes hin.
Frau Spiller leidend. Ach ja — m — gnädiger Herr Kahl! Ich hab —
m — manchmal so an Sie — m — gedacht — m — wenn ... wenn
das gnädige Freilein ... Sie ist doch nun mal — m — so zu sagen —
m — mit Sie verlobt, und da .... ach! — m — zu meiner Zeit ...!
Kahl steigt auf die Bank unter der Eiche und befestigt einen Meisekasten auf
dem untersten Ast. W — wenn werd denn d.. dd.. doas D... d... d...
dukterluder amol sssenner W... wwwege gihn? hä?
Frau Spiller. Ach, Herr Kahl! ich glaube — m — nicht so bald. —
A.. ach, Herr — m — Kahl, ich bin zwar so zu sagen — m — etwas —
m — herabjekommen, aber ich weiß so zu sagen — m —, was
Bildung ist. In dieser Hinsicht, Herr Kahl ...., das Freilein — m — das
gnädige Freilein ...., das handeln nicht gut gegen Ihnen — nein! —
m — darin, so zu sagen — m — habe ich mir nie etwas zu Schulden
kommen lassen — m — mein Gewissen — m — gnädiger Herr Kahl,
ist darin so rein ... so zu sagen, wie reiner Schnee.
Baer hat sein Sandgeschäft abgewickelt und verläßt in diesem Augenblick, an
Kahl vorübergehend, den Hof.
Kahl entdeckt Baer und ruft. Hopslabaer, hops amool!
Baer macht einen riesigen Luftsprung.
Kahl vor Lachen wiehernd, ruft ein zweites Mal. Hopslabaer, hops amool!
Frau Spiller. Nun da — m — ja, Herr Kahl! ...... ich meine es nur
gut mit Sie. Sie müssen Obacht geben — m — gnädiger Herr! Es —
m — es ist was im Gange mit dem gnädigen Fräulein und — m — m

Kahl. D.. doas Dukterluder ... ok bbbblußig emool vor a Hunden
— blußig e.. e.. e.. emool!
Frau Spiller geheimnißvoll. Und was das nun noch — m — für ein
Indifidium ist. Ach — m — das gnädige Freilein thut mir auch s o o
leid. Die Frau — m — vom Polizeidiener, die hat’s vom Amte, glaub
ich. Es soll ein ganz — m — gefährlicher Mensch sein. Ihr Mann — m
— soll ihn so zu sagen — m — denken Sie nur, soll ihn — m —
geradezu im Auge behalten.
L o t h aus dem Hause. Sieht sich um.
Frau Spiller. Seh’n Sie, nun jeht er dem gnädigen Freilein nach
— m —. Aa... ach, z u u leid thut es einem.
Kahl. Na wart’! Ab.
F r a u S p i l l e r geht nach der Hausthüre. Als sie an Loth vorbeikommt, macht
sie eine tiefe Verbeugung. Ab in das Haus.
L o t h langsam durch den Thorweg ab. Die K u t s c h e n f r a u, eine magere,
abgehärmte und ausgehungerte Frauensperson, kommt zwischen Stallgebäude
und Wohnhaus hervor. Sie trägt einen großen Topf unter ihrer Schürze versteckt
und schleicht damit, sich überall ängstlich umblickend, nach dem Kuhstall. Ab in
die Kuhstallthür. Die beiden M ä g d e, jede eine Schubkarre, hoch mit Klee
beladen, vor sich herstoßend, kommen durch den Thorweg herein. B e i b s t, die
Sense über der Schulter, die kurze Pfeife im Munde, folgt ihnen nach. Liese hat
ihre Schubkarre vor die linke, Auguste vor die rechte Stallthür gefahren, und beide
Mädchen beginnen große Arme voll Klee in den Stall hinein zu schaffen.
Liese leer aus dem Stalle herauskommend. Du, Guste! de Marie iis furt.
Auguste. Joa wull doch?!
Liese. Gih nei! freu’ die Kutscha-Franzen, se milkt er an Truppen
Milch ei.
Beibst hängt seine Sense an der Wand auf. Na! doa lußt ok de Spillern
nee ernt derzune kumma.
Auguste. Oh jechtich! nee ok nee! bei Leibe nich!
Liese. A su a oarm Weib miit achta.
Auguste. Acht kleene Bälge! — die wull’n laba.
Liese. Ne amool an Truppen Milch thun s’ er ginn’n ... meschant
iis doas.
Auguste. Wu milkt sie denn?
Liese. Ganz derhinga, de neumalke Fenus!
Beibst stopft seine Pfeife; den Tabaksbeutel mit den Zähnen festhaltend,
nuschelt er. De Marie wär’ weg?
Liese. Ju, ju, ’s iis fer gewiß! — der Pfaarknecht hot gle bein er
geschloofa.
Beibst den Tabaksbeutel in die Tasche steckend. Amool wiil jedes! — au’
de Frau. Er zündet sich die Pfeife an, darauf durch den Haupteingang ab. Im
Abgehen. Ich gih a wing frihsticka!
Die Kutschenfrau den Topf voll Milch vorsichtig unter der Schürze, guckt
aus der Stallthür heraus. Sitt ma Jemanda?
Liese. Koanst kumma, Kutschen, ma sitt ken’n. Kumm! kumm
schnell!
Kutschenfrau im Vorübergehen zu den Mägden. Ok fersch
Pappekindla!
Liese ihr nachrufend. Schnell! S’ kimmt Jemand. K u t s c h e n f r a u
zwischen Wohnhaus und Stallung ab.
Auguste. Blußig ok inse Frele.
Die Mägde räumen nun weiter die Schubkarren ab und schieben sie, wenn sie
leer sind, unter den Thorweg, hierauf beide ab in den Kuhstall.
Loth und Helene kommen zum Thorweg herein.
Loth. Widerlicher Mensch! dieser Kahl, — frecher Spion!
Helene. In der Laube vorn, glaub ich ... Sie gehen durch das Pförtchen
in das Gartenstückchen links vorn und in die Laube daselbst. Es ist mein
Lieblingsplatz. — Hier bin ich noch am ungestörtesten, wenn ich mal
was lesen will.
Loth. Ein hübscher Platz hier. — Wirklich! Beide setzen sich, ein wenig
von einander getrennt, in der Laube nieder. Schweigen. Darauf Loth. Sie haben
so sehr schönes und reiches Haar, Fräulein!
Helene. Ach ja, mein Schwager sagt das auch. Er meinte, er
hätte es kaum so gesehen — auch in der Stadt nicht ... Der Zopf ist
oben so dick wie mein Handgelenk ... Wenn ich es losmache, dann
reicht es mir bis zu den Knien. Fühlen Sie mal —! Es fühlt sich wie
Seide an, gelt?
Loth. Ganz wie Seide. Ein Zittern durchläuft ihn, er beugt sich und küßt
das Haar.
Helene erschreckt. Ach nicht doch! Wenn ...
Loth. Helene —! War das vorhin nicht Dein Ernst?
Helene. Ach! — ich schäme mich so schrecklich. Was habe ich
nur gemacht? — Dir ... Ihnen an den Hals geworfen habe ich mich.
— Für was müssen Sie mich halten ...!
Loth rückt ihr näher, nimmt ihre Hand in die seine. Wenn Sie sich doch
d arüber beruhigen wollten!
Helene seufzend. Ach, das müßte Schwester Schmittgen wissen ....
ich sehe gar nicht hin!
Loth. Wer ist Schwester Schmittgen?
Helene. Eine Lehrerin aus der Pension.
Loth. Wie können Sie sich nur über Schwester Schmittgen
Gedanken machen!
Helene. Sie war sehr gut ....! Sie lacht plötzlich heftig in sich hinein.
Loth. Warum lachst Du denn so auf einmal?
Helene zwischen Pietät und Laune. Ach! .. Wenn sie auf dem Chor
stand und sang ... Sie hatte nur noch einen einzigen, langen Zahn
.... da sollte es immer heißen: Tröste, tröste mein Volk! und es kam
immer heraus: ’Röste, ’röste mein Volk! Das war zu drollig .... da
mußten wir immer so lachen .... wenn sie so durch den Saal ....
’röste! ’röste! Sie kann sich vor Lachen nicht lassen, Loth ist von ihrer Heiterkeit
angesteckt. Sie kommt ihm dabei so lieblich vor, daß er den Augenblick benutzen
will, den Arm um sie zu legen. Helene wehrt es ab. Ach nein doch ....! Ich
habe mich Dir .... Ihnen an den Hals geworfen.
Loth. Ach! sagen Sie doch nicht so etwas.
Helene. Aber ich bin nicht schuld, Sie haben sich’s selbst
zuzuschreiben. Warum verlangen Sie .....
Loth legt nochmals seinen Arm um sie, zieht sie fester an sich. Anfangs sträubt
sie sich ein wenig, dann giebt sie sich drein und blickt nun mit freier Glückseligkeit
in Loth’s glücktrunkenes Gesicht, das sich über das ihre beugt. Unversehens, aus
einer gewissen Schüchternheit heraus küßt sie ihn zuerst auf den Mund. Beide
werden roth, dann giebt Loth ihr den Kuß zurück; lang, innig, fest drückt sich sein
Mund auf den ihren. Ein Geben und Nehmen von Küssen ist eine Zeit hindurch die
einzige Unterhaltung — stumm und beredt zugleich — der beiden. Loth spricht
dann zuerst.
Loth. Lene, nicht? Lene heißt Du hier so?
Helene küßt ihn ... Nenne mich anders ... Nenne mich, wie Du
gern möcht’st.
Loth. Liebste! ............
Das Spiel mit dem Küssetauschen und sich gegenseitig Betrachten wiederholt
sich.
Helene von Loth’s Armen fest umschlungen, ihren Kopf an seiner Brust mit
verschleierten, glückseligen Augen, flüstert im Ueberschwang. Ach! — wie
schön! Wie schön —!
Loth. So mit Dir sterben!
Helene mit Inbrunst. Leben! ... Sie löst sich aus seinen Armen. Warum
denn jetzt sterben? .... jetzt ...
Loth. Das mußt Du nicht falsch auffassen. Von jeher berausche
ich mich ... besonders in glücklichen Momenten berausche ich mich
in dem Bewußtsein, es in der Hand zu haben, weißt Du!
Helene. Den Tod in der Hand zu haben?
Loth ohne jede Sentimentalität. Ja! und so hat er gar nichts
Grausiges, im Gegentheil, so etwas Freundschaftliches hat er für
mich. Man ruft und weiß bestimmt, daß er kommt. Man kann sich
dadurch über alles Mögliche hinwegheben, Vergangenes — und
Zukünftiges .... Helenen’s Hand betrachtend. Du hast eine so
wunderhübsche Hand. Er streichelt sie.
Helene. Ach ja! — so ..... Sie drückt sich auf’s Neue in seine Arme.
Loth. Nein, weißt Du! ich hab’ nicht gelebt! ... bisher nicht!
Helene. Denkst Du ich? ... Mir ist fast taumelig ..... taumelig bin
ich vor Glück. Gott! wie ist das — nur so auf einmal .....
Loth. Ja, so auf e i n — m a l ...
Helene. Hör’ mal! so ist mir: die ganze Zeit meines Lebens — ein
Tag! — gestern und heut — ein Jahr! gelt?
Loth. Erst gestern bin ich gekommen?
Helene. Ganz gewiß! — eben! — natürlich! .... Ach, ach! Du weißt
es nicht mal!
Loth. Es kommt mir wahrhaftig auch vor .......
Helene. Nicht —? Wie ’n ganzes, geschlagnes Jahr! — Nicht —?
Halb aufspringend. Wart’ ....! — Kommt — da nicht .... Sie rücken aus
einander. .... Ach! es ist mir auch — egal. Ich bin jetzt — so muthig.
Sie bleibt sitzen und muntert Loth mit einem Blick auf näher zu rücken, was dieser
sogleich thut.
Helene in Loth’s Armen. ... Du! — Was thun wir denn nu zuerst?
Loth. Deine Stiefmutter würde mich wohl — abweisen.
Helene. Ach, meine Stiefmutter .... das wird wohl gar nicht ....
gar nichts geht’s die an! Ich mache, was ich will ..... Ich hab mein
mütterliches Erbtheil, mußt Du wissen.
Loth. Deshalb meinst Du .....
Helene. Ich bin majorenn. Vater muß mir’s auszahlen.
Loth. Du stehst wohl nicht gut — mit allen hier? — Wohin ist
denn Dein Vater verreist?
Helene. Verr... Du hast ...? Ach, Du hast Vater noch nicht
gesehen?
Loth. Nein! Hoffmann sagte mir ....
Helene. Doch! ... hast Du ihn schon einmal gesehen.
Loth. Ich wüßte nicht! ... Wo denn, Liebste?
Helene. Ich ... Sie bricht in Thränen aus. Nein, ich kann — kann Dir’s
noch nicht sagen .... zu furchtbar schrecklich ist das.
Loth. Furchtbar schrecklich? Aber Helene! ist denn Deinem Vater
etwas ...
Helene. Ach! — frag’ mich nicht! Jetzt nicht! Später!
Loth. Was Du mir nicht freiwillig sagen willst, danach werde ich
Dich auch gewiß nicht mehr fragen ... Sieh mal, was das Geld
anlangt ... im schlimmsten Falle .... ich verdiene ja mit dem
Artikelschreiben nicht gerade überflüssig viel, aber ich denke, es
müßte am Ende für uns beide ganz leidlich hinreichen.
Helene. Und ich würde doch auch nicht müßig sein. Aber besser
ist besser. Das Erbtheil ist vollauf genug — Und Du sollst Deine
Aufgabe .... nein, die sollst Du unter keiner Bedingung aufgeben,
jetzt erst recht ....! jetzt sollst Du erst recht die Hände frei
bekommen.
Loth sie innig küssend. Liebes, edles Geschöpf! ......
Helene. Hast Du mich wirklich lieb ...? ... Wirklich? ... wirklich?
Loth. Wirklich.
Helene. Sag hundert Mal wirklich?
Loth. Wirklich, wirklich und wahrhaftig.
Helene. Ach, weißt Du! Du schummelst!
Loth. Das wahrhaftig gilt hundert wirklich.
Helene. So!? wohl in Berlin?
Loth. Nein, eben in Witzdorf.
Helene. Ach, Du! ... Sieh meinen kleinen Finger und lache nicht.
Loth. Gern.
Helene. Hast Du au—ßer Dei—ner er—sten Braut noch andere
ge....? Du! Du lachst.
Loth. Ich will Dir was im Ernst sagen, Liebste, ich halte es für
meine Pflicht .... Ich habe mit einer großen Anzahl Frauen ...
Helene schnell und heftig auffahrend, drückt ihm den Mund zu. Um Gott
...! sag’ mir das einmal — später — wenn wir alt sind .... nach
Jahren — wenn ich Dir sagen werde: jetzt — hörst Du! nicht eher.
Loth. Gut! wie Du willst.
Helene. Lieber was Schönes jetzt! ... Paß auf: sprich mir mal das
nach:
Loth. Was?
Helene. „Ich hab’ Dich —
Loth. „Ich hab’ Dich —
Helene. „und nur immer Dich —
Loth. „und nur immer Dich —
Helene. „geliebt — geliebt Zeit meines Lebens —
Loth. „geliebt — geliebt Zeit meines Lebens —
Helene. „und werde nur Dich allein Zeit meines Lebens lieben.“
Loth. „und werde nur Dich allein Zeit meines Lebens lieben,“ und
das ist wahr, so wahr ich ein ehrlicher Mann bin.
Helene freudig. Das hab ich nicht gesagt.
Loth. Aber ich. Küsse. ...
Helene summt ganz leise. Du, Du liegst mir im Her—zen ....
Loth. Jetzt sollst Du auch beichten.
Helene. Alles, was Du willst.
Loth. Beichte! Bin ich der erste?
Helene. Nein.
Loth. Wer?
Helene übermüthig herauslachend. Koahl-Willem.
Loth lachend. Wer noch?
Helene. Ach nein! weiter ist es wirklich Keiner. Du mußt mir
glauben ... Wirklich nicht. Warum sollte ich denn lügen ...?
Loth. Also doch noch Jemand?
Helene heftig. Bitte, bitte, bitte, bitte, frag’ mich jetzt nicht darum.
Versteckt das Gesicht in den Händen, weint scheinbar ganz unvermittelt.
Loth. Aber ..... aber Lenchen! ich dringe ja durchaus nicht in Dich.
Helene. Später! alles, alles später.
Loth. Wie gesagt, Liebste ....
Helene. S’ war Jemand — mußt Du wissen — den ich, ... weil ...
weil er unter schlechten mir weniger schlecht vorkam. Jetzt ist das
ganz anders. Weinend an Loth’s Halse, stürmisch. Ach, wenn ich doch gar
nicht mehr von Dir fort müßte! Am liebsten ginge ich gleich auf der
Stelle mit Dir.
Loth. Du hast es wohl sehr schlimm hier im Hause?
Helene. Ach, Du! — Es ist ganz entsetzlich, wie es hier zugeht;
ein Leben wie — das ..... wie das liebe Vieh, — ich wäre darin
umgekommen ohne Dich — mich schaudert’s!
Loth. Ich glaube, es würde dich beruhigen, wenn Du mir alles
offen sagtest, Liebste!
Helene. Ja freilich! aber — ich bring’s nicht über mich. Jetzt nicht
..... jetzt noch nicht! — Ich fürcht’ mich förmlich.
Loth. Du warst in der Pension?
Helene. Die Mutter hat es bestimmt — auf dem Sterbebett noch.
Loth. Auch Deine Schwester war ....?
Helene. Nein! — die war immer zu Hause ... Und als ich dann nun
vor vier Jahren wiederkam, da fand ich — einen Vater — der .... eine
Stiefmutter — die .... eine Schwester ... rath mal, was ich meine!
Loth. Deine Stiefmutter ist zänkisch. — Nicht? — Vielleicht
eifersüchtig? — lieblos?
Helene. Der Vater ....?
Loth. Nun! — der wird aller Wahrscheinlichkeit nach in ihr Horn
blasen. — Tyrannisirt sie ihn vielleicht?
Helene. Wenn’s w e i t e r nichts wär ... Nein! ... es ist zu
entsetzlich! — Du kannst nicht darauf kommen — daß .... daß d e r
— mein Vater .... daß es mein Vater war — den — Du ....
Loth. Weine nur nicht, Lenchen! .... siehst Du — nun möcht ich
beinah ernstlich darauf dringen, daß Du mir ...
Helene. Nein! es geht nicht! Ich habe noch nicht die Kraft — es
— Dir ....
Loth. Du reibst Dich auf, so.
Helene. Ich schäme mich zu bodenlos! — Du ... Du wirst mich
fortstoßen, fortjagen ....! Es ist über alle Begriffe .... Ekelhaft ist es!
Loth. Lenchen, Du kennst mich nicht — sonst würd’st Du mir so
etwas nicht zutrauen. — Fortstoßen! fortjagen! Komme ich Dir denn
wirklich so brutal vor?
Helene. Schwager Hoffmann sagte: Du würdest — kaltblütig ....
Ach nein! nein! nein! das thust Du doch nicht! gelt? — Du schreitest
nicht über mich weg? thu es nicht!! — Ich weiß nicht — was — dann
noch aus — mir werden sollte.
Loth. Ja, aber das ist ja Unsinn! Ich hätte ja gar keinen Grund
dazu.
Helene. Also Du hältst es doch für möglich?!
Loth. Nein! — eben n i c h t.
Helene. Aber wenn Du Dir einen Grund ausdenken kannst.
Loth. Es gäbe allerdings Gründe, aber — die stehen nicht in
Frage.
Helene. Und solche Gründe?
Loth. Nur, wer mich zum Verräther meiner selbst machen wollte,
über den müßte ich hinweggehen.
Helene. Das will ich gewiß nicht — aber ich werde halt das Gefühl
nicht los.
Loth. Was für ein Gefühl, Liebste?
Helene. Es kommt vielleicht daher: ich bin so dumm! — Ich hab’
gar nichts in mir. Ich weiß nicht mal, was das ist, Grundsätze. —
Gelt? das ist doch schrecklich. Ich lieb’ Dich nur so einfach! — aber
Du bist so gut, so groß — und hast so viel in Dir. Ich habe solche
Angst, Du könntest doch noch mal merken — wenn ich was Dummes
sage — oder mache — daß es doch nicht geht, .... daß ich doch viel
zu einfältig für Dich bin .... Ich bin wirklich schlecht und dumm wie
Bohnenstroh.
Loth. Was soll ich dazu sagen?! Du bist mir alles in allem! Alles in
allem bist Du mir! Mehr weiß ich nicht.
Helene. Und gesund bin ich ja auch .....
Loth. Sag’ mal! sind Deine Eltern gesund?
Helene. Ja, das wohl! das heißt: die Mutter ist am Kindbettfieber
gestorben. Vater ist noch gesund; er muß sogar eine sehr starke
Natur haben. Aber ....
Loth. Na! — siehst Du; also ...
Helene. Und wenn die Eltern nun nicht gesund wären —?
Loth küßt Helene. Sie sind’s ja doch, Lenchen.
Helene. Aber wenn sie es nicht wären —?
F r a u K r a u s e stößt ein Wohnhausfenster auf und ruft in den Hof.
Frau Krause. Ihr Madel! Ihr Maa..del!!
Liese aus dem Kuhstall. Frau Krausen!?
Frau Krause. Renn’ zur Müllern! S’ giht luus!
Liese. Wa—a, zur Hebomme Millern, meen’ Se?
Frau Krause. Na? lei’st uff a Uhr’n? Sie schlägt das Fenster zu.
Liese rennt in den Stall und dann mit einem Tüchelchen um den Kopf zum Hofe
hinaus. Frau Spiller erscheint in der Hausthür.
Frau Spiller ruft. Fräulein Helene! ... Gnädiges Fräulein Helene!
Helene. Was nur da los sein mag?
Frau Spiller sich der Laube nähernd. Fräulein Helene.
Helene. Ach! das wird’s sein! — die Schwester. Geh fort! da
herum. Loth schnell links vorn ab. Helene tritt aus der Laube.
Frau Spiller. Fräulein .....! Ach da sind Sie endlich.
Helene. Was is denn?
Frau Spiller. Aach — m — bei Frau Schwester flüstert ihr etwas in’s
Ohr — m — m —
Helene. Mein Schwager hat anbefohlen, für den Fall sofort nach
dem Arzt zu schicken.
Frau Spiller. Gnädiges Fräulein — m — sie will doch aber — m —
will doch aber keinen Arzt — m — Die Aerzte, aach die — m —
Aerzte! — m — mit Gottes Beistand ...
Miele kommt aus dem Hause.
Helene. Miele! gehen Sie augenblicklich zum Dr.
Schimmelpfennig.
Frau Spiller. Aber Fräulein ...
Frau Krause aus dem Fenster, gebieterisch. Miele! Du kimmst ruff!
Helene ebenso. Sie gehen zum Arzt, Miele. Miele zieht sich in’s Haus
zurück. Nun, dann will ich selbst .... Sie geht in’s Haus und kommt, den
Strohhut am Arm, sogleich zurück.
Frau Spiller. Dann — m — wird es schlimm. Wenn Sie den Arzt
holen — m — gnädiges Fräulein, dann — m — wird es gewiß
schlimm.
Helene geht an ihr vorüber. F r a u S p i l l e r zieht sich kopfschüttelnd ins Haus
zurück. Als Helene in die Hofeinfahrt biegt steht Kahl am Grenzzaun.
Kahl ruft Helenen zu. Woas iis denn bei Eich luus?
Helene hält im Lauf nicht inne, noch würdigt sie Kahl eines Blickes oder einer
Antwort.
Kahl lachend. Ihr ha’t wull Schweinschlachta?
Fünfter Akt.
Das Zimmer wie im ersten Akt. Zeit: gegen 2 Uhr Nachts. Im Zimmer herrscht
Dunkelheit. Durch die offene Mittelthür dringt Licht aus dem erleuchteten Hausflur.
Deutlich beleuchtet ist auch noch die Holztreppe in dem ersten Stock. Alles in
diesem Akt — bis auf wenige Ausnahmen — wird in einem gedämpften Tone
gesprochen.
Eduard mit Licht tritt durch die Mittelthür ein. Er entzündet die Hängelampe
über dem Ecktisch (Gasbeleuchtung). Als er damit beschäftigt ist, kommt Loth
ebenfalls durch die Mittelthür.
Eduard. Ja ja! — bei d i e Zucht ... ’t muß reen unmenschen
meglich sint, een Oge zuzuthun.
Loth. Ich wollte nicht mal schlafen. Ich habe geschrieben.
Eduard. Ach wat! Er steckt an. So! — na jewiß! — et mag ja woll
schwer jenug sin .... Wünschen der Herr Doktor vielleicht Dinte und
Feder?
Loth. Am Ende ... wenn Sie so freundlich sein wollen, Herr
Eduard.
Eduard, indem er Dinte und Feder auf den Tisch setzt. Ick menn all
immer, was ’n ehrlicher Mann is, der muß Haut und Knochen
dransetzen um jeden lumpichten Jroschen. Nich mal det bisken
Nachtruhe hat man. — Immer vertraulicher. Aber d i e Nation hier, die
duht reen jar nischt; so’n faules, nichtsnutziges Pack, so’n ... Der
Herr Doktor mussen jewiß ooch all dichtig in’t Zeuch jehn, um det
bisken Lebensu n t e r h a l t wie alle ehrlichen Leute.
Loth. Wünschte, ich brauchte es nicht!
Eduard. Na, wat meen’ Se woll! ick ooch!
Loth. Fräulein Helene ist wohl bei ihrer Schwester?
Eduard. Allet wat wahr is: d’ is ’n jutes Mä’chen! jeht ihr nich von
der Seite.
Loth sieht auf die Uhr. Um 11 Uhr früh begannen die Wehen. Sie
dauern also ... fünfzehn Stunden dauern sie jetzt bereits. —
Fünfzehn lange Stunden —!
Eduard. Weeß Jott! — und det benimen se nu ’t schwache
Jeschlecht — sie jappt aber ooch man nur noch so.
Loth. Herr Hoffmann ist auch oben!?
Eduard. Und ick sag Ihnen, ’t reene Weib.
Loth. Das mit anzusehen ist wohl auch keine Kleinigkeit.
Eduard. I! nu! det will ick meenen! Na! eben is Doktor
Schimmelpfennig zujekommen. Det is ’n Mann, sag ick Ihnen: jrob
wie ’ne Sackstrippe, aber — Zucker is ’n dummer Junge dajejen.
Sagen Sie man bloß, wat it aus det olle Berlin .... Er unterbricht sich mit
einem Jott Strambach! da Hoffmann und der Doktor die Treppe herunter
kommen.
H o f f m a n n und D o k t o r S c h i m m e l p f e n n i g treten ein.
Hoffmann. Jetzt — bleiben Sie doch wohl bei uns.
Dr. Schimmelpfennig. Ja! jetzt werde ich hier bleiben.
Hoffmann. Das ist mir eine große, große Beruhigung. — Ein Glas
Wein ...? Sie trinken doch ein Glas Wein, Herr Doktor!?
Dr. Schimmelpfennig. Wenn Sie etwas thun wollen, dann lassen
Sie mir schon lieber eine Tasse Kaffee brauen.
Hoffmann. Mit Vergnügen. — Eduard! Kaffee für Herrn Doktor!
Eduard ab. Sie sind .....? Sind Sie zufrieden mit dem Verlauf?
Dr. Schimmelpfennig. So lange Ihre Frau Kraft behält, ist
jedenfalls directe Gefahr nicht vorhanden. Warum haben Sie
übrigens die junge Hebamme nicht zugezogen? Ich hatte Ihnen doch
eine empfohlen, so viel ich weiß.
Hoffmann. Meine Schwiegermama ... was soll man machen?
Wenn ich ehrlich sein soll: auch meine Frau hatte kein Vertrauen zu
der jungen Person.
Dr. Schimmelpfennig. Und zu diesem fossilen Gespenst haben
Ihre Damen Vertrauen?! Wohl bekomms! — Sie möchten gern
wieder hinauf?
Hoffmann. Ehrlich gesagt: ich habe nicht viel Ruhe hier unten.
Dr. Schimmelpfennig. Besser wär’s freilich, Sie gingen irgend
wohin, aus dem Hause.
Hoffmann. Beim besten Willen das .... ach, Loth! da bist Du ja
auch noch. Loth erhebt sich von dem Sopha im dunklen Vordergrunde und geht
auf die beiden zu.
Dr. Schimmelpfennig aufs Aeußerste überrascht. Donnerwetter!
Loth. Ich hörte schon, daß Du hier seist. Morgen hätte ich Dich
unbedingt aufgesucht.
Beide schütteln sich tüchtig die Hände. Hoffmann benutzt den Augenblick, am
Buffet schnell ein Glas Cognac hinunterzuspülen, darauf dann sich auf den Zehen
hinaus und die Holztreppe hinauf zu schleichen.
Das Gespräch der beiden Freunde steht am Anfang unverkennbar unter dem
Einfluß einer gewissen leisen Zurückhaltung.
Dr. Schimmelpfennig. Du hast also wohl ... hahaha die alte,
dumme Geschichte vergessen? Er legt Hut und Stock bei Seite.
Loth. Längst vergessen, Schimmel!
Dr. Schimmelpfennig. Na, ich auch! das kannst Du Dir denken.
— Sie schütteln sich nochmals die Hände. Ich habe in dem Nest hier so
wenig freudige Ueberraschungen gehabt, daß mir die Sache ganz
curios vorkommt. Merkwürdig! Gerade hier treffen wir uns. —
Merkwürdig!
Loth. Rein verschollen bist Du ja, Schimmel! Hätte Dich sonst
längst mal umgestoßen.
Dr. Schimmelpfennig. Unter Wasser gegangen wie ein
Seehund. Tiefseeforschungen gemacht. In anderthalb Jahren etwa
hoffe ich wieder aufzutauchen. Man muß materiell unabhängig sein,
wissen Sie ... weißt Du! wenn man etwas Brauchbares leisten will.
Loth. Also Du machst a u c h Geld hier?
Dr. Schimmelpfennig. Natürlicherweise und zwar so viel als
möglich. Was sollte man hier auch anderes thun?
Loth. Du hätt’st doch mal was von Dir hören lassen sollen.
Dr. Schimmelpfennig. Erlauben Sie ... erlaube, hätte ich von
mir was hören lassen, dann hätte ich von Euch was wieder gehört,
und ich wollte durchaus nichts hören. Nichts, — gar nichts, das hätte
mich höchstens von meiner Goldwäscherei abhalten können.
Beide gehen langsamen Schritts auf und ab im Zimmer.
Loth. Na ja — Du kannst Dich dann aber auch nicht wundern, daß
sie ... nämlich ich muß Dir sagen, sie haben Dich eigentlich alle,
durch die Bank, aufgegeben.
Dr. Schimmelpfennig. Sieht ihnen ähnlich. — Bande! — sollen
schon was merken.
Loth. Schimmel, genannt: das Rauhbein!
Dr. Schimmelpfennig. Du solltest nur sechs Jahre unter diesen
Bauern gelebt haben. Himmelhunde alle miteinander.
Loth. Das kann ich mir denken. — Wie bist Du denn gerade nach
Witzdorf gekommen?
Dr. Schimmelpfennig. Wie’s so geht. Damals mußte ich doch
auskneifen, von Jena weg.
Loth. War das vor meinem Reinfall?
Dr. Schimmelpfennig. Ja wohl. Kurze Zeit nachdem wir unser
Zusammenleben aufgesteckt hatten. In Zürich legte ich mich dann
auf die Medicinerei, zunächst um etwas für den Nothfall zu haben;
dann fing aber die Sache an mich zu interessiren, und jetzt bin ich
mit Leib und Seele Medicus.
Loth. Und hierher ...? Wie kamst Du hier her?
Dr. Schimmelpfennig. Ach so! — einfach! Als ich fertig war, da
sagte ich mir: nun vor allen Dingen einen hinreichenden Haufen
Kies. Ich dachte an Amerika, Süd- und Nord-Amerika, an Afrika,
Australien, die Sundainseln .... am Ende fiel mir ein, daß mein
Knabenstreich ja mittlerweile verjährt war; da habe ich mich denn
entschlossen in die Mausefalle zurückzukriechen.
Loth. Und Dein Schweizer-Examen?
Dr. Schimmelpfennig. Ich mußte eben die Geschichte hier noch
mal über mich ergehen lassen.
Loth. Du hast also das Staatsexamen zwei Mal gemacht, Kerl!?
Dr. Schimmelpfennig. Ja! — Schließlich habe ich dann
glücklicherweise diese fette Weide hier ausfindig gemacht.
Loth. Du bist zähe, zum Beneiden.
Dr. Schimmelpfennig. Wenn man nur nicht plötzlich mal
zusammenklappt. — Na! schließlich ist’s auch kein Unglück.
Loth. Hast Du denn ’ne große Praxis?
Dr. Schimmelpfennig. Ja! Mitunter komme ich erst um fünf Uhr
früh zu Bett. Um sieben Uhr fängt dann bereits wieder meine
Sprechstunde an.
Eduard kommt und bringt Kaffee.
Dr. Schimmelpfennig, indem er sich am Tisch niederläßt, zu Eduard.
Danke Eduard! — Zu Loth. Kaffee saufe ich ... unheimlich.
Loth. Du solltest das lieber lassen mit dem Kaffee.
Dr. Schimmelpfennig. Was soll man machen?! Er nimmt kleine
Schlucke. Wie gesagt — ein Jahr noch, dann — hört’s auf ...
hoffentlich wenigstens.
Loth. Willst Du dann gar nicht mehr practiciren?
Dr. Schimmelpfennig. Glaube nicht. Nein ... nicht mehr. Er
schiebt das Tablette mit dem Kaffeegeschirr zurück, wischt sich den Mund.
Uebrigens — zeig’ mal Deine Hand. Loth hält ihm beide Hände hin. Nein?
— keine Dalekarlierin heimgeführt? — Keine gefunden, wie? ....
Wolltest doch immer so ’n Ur- und Kernweib von wegen des
gesunden Blutes. Hast übrigens recht: wenn schon, denn schon ...
oder nimmst Du’s in dieser Beziehung etwa nicht mehr so genau?
Loth. Na ob ...! und wie!
Dr. Schimmelpfennig. Ach, wenn die Bauern hier doch auch
solche Ideen hätten. Damit sieht’s aber jämmerlich aus, sage ich Dir,
Degeneration auf der ganzen ... Er hat seine Cigarrentasche halb aus der
Brusttasche gezogen, läßt sie aber wieder zurückgleiten und steht auf, als irgend
ein Laut durch die nur angelehnte Hausflurthür hereindringt. Wart’ mal! Er geht
auf den Zehen bis zur Hausflurthür und horcht. Eine Thür geht draußen, man hört
einige Augenblicke deutlich das Wimmern der Wöchnerin. Der Doktor sagt, zu Loth
gewandt, leise: Entschuldige! und geht hinaus.
Einige Augenblicke durchmißt Loth, während draußen Thüren schlagen,
Menschen die Treppe auf- und ablaufen, das Zimmer; dann setzt er sich in den
Lehnsessel rechts vorn. Helene huscht herein und umschlingt Loth, der ihr
Kommen nicht bemerkt hat, von rückwärts.
Loth sich umblickend, sie ebenfalls umfassend. Lenchen!! Er zieht sie zu
sich herunter und trotz gelinden Sträubens auf sein Knie. Helene weint unter den
Küssen, die er ihr giebt. Ach, weine doch nicht, Lenchen! Warum weinst
Du denn so sehr?
Helene. Warum? weiß ich’s?! .... Ich denk immer, ich treff’ Dich
nicht mehr. Vorhin habe ich mich so erschrocken ....
Loth. Weshalb denn?
Helene. Weil ich Dich aus Deinem Zimmer treten hörte — Ach! ...
und die Schwester — wir armen, armen Weiber! — die muß zu sehr
ausstehen.
Loth. Der Schmerz vergißt sich schnell und auf den Tod geht’s ja
nicht.
Helene. Ach, Du! sie wünscht sich ihn ja ... sie jammert nur
immer so: laß mich doch sterben ... Der Doktor! Sie springt auf und
huscht in den Wintergarten.
Dr. Schimmelpfennig im Hereintreten. Nun wünschte ich wirklich,
daß sich das Frauchen da oben ’n bissel beeilte! Er läßt sich am Tisch
nieder, zieht neuerdings die Cigarrentasche, entnimmt ihr eine Cigarre und legt
diese neben sich. Du kommst mit zu mir dann, wie? — hab’ draußen so
’n nothwendiges Uebel mit zwei Gäulen davor, da können wir drin zu
mir fahren. Seine Cigarre an der Tischkante klopfend. Der süße Ehestand!
ja, ja! Ein Zündholz anstreichend. Also noch frisch, frei, fromm, froh?
Loth. Hättest noch gut ein Paar Tage warten können mit Deiner
Frage.
Dr. Schimmelpfennig bereits mit brennender Cigarre. Wie? ... ach ...
ach so! — lachend — also endlich doch auf meine Sprünge
gekommen.
Loth. Bist Du wirklich noch so entsetzlich pessimistisch in Bezug
auf Weiber?
Dr. Schimmelpfennig. Ent—setzlich!! Dem Rauch seiner Cigarre
nachblickend. Früher war ich Pessimist — so zu sagen ahnungsweise
...
Loth. Hast Du denn inzwischen so besondere Erfahrungen
gemacht?
Dr. Schimmelpfennig. Ja, allerdings! — Auf meinem Schilde
steht nämlich: Specialist für Frauenkrankheiten. — Die medicinische
Praxis macht nämlich furchtbar klug ... furchtbar — gesund, ... ist
Specificum gegen ... allerlei Staupen!
Loth lacht. Na, da könnten wir ja gleich wieder in der alten Tonart
anfangen. Ich hab’ nämlich ... ich bin nämlich keineswegs auf Deine
Sprünge gekommen. Jetzt weniger als je! ... Auf diese Weise hast Du
wohl auch Dein Steckenpferd vertauscht?
Dr. Schimmelpfennig. Steckenpferd?
Loth. Die Frauenfrage war doch zu damaliger Zeit gewissermaßen
Dein Steckenpferd!
Dr. Schimmelpfennig. Ach so! — Warum sollte ich es vertauscht
haben?
Loth. Wenn Du über die Weiber noch schlechter denkst, als ...
Dr. Schimmelpfennig ein wenig in Harnisch, erhebt sich und geht hin
und her, dabei spricht er. Ich — denke nicht schlecht von den Weibern.
— Kein Bein! — Nur über das Heirathen denke ich schlecht ... über
die Ehe ... über die Ehe, und dann höchstens noch über die Männer
denke ich schlecht ... Die Frauenfrage soll mich nicht mehr
interessiren? Ja, weshalb hätte ich denn sonst sechs lange Jahre hier
wie ’n Lastpferd gearbeitet? Doch nur um alle meine verfügbaren
Kräfte endlich mal ganz der Lösung dieser Frage zu widmen.
Wußtest Du denn das nicht von Anfang an?
Loth. Wo hätte ich’s denn h e r wissen sollen?
Dr. Schimmelpfennig. Na, wie gesagt ... ich hab auch schon ein
ziemlich ausgiebiges Material gesammelt, das mir gute Dienste
leisten ... bsst! ich hab’ mir das Schreien so angewöhnt. Er schweigt,
horcht, geht zur Thür und kommt zurück. Was hat D i c h denn eigentlich
unter die Goldbauern geführt?
Loth. Ich möchte die hiesigen Verhältnisse studiren.
Dr. Schimmelpfennig mit gedämpfter Stimme. Idee! Noch leiser. Da
kannst Du bei mir auch Material bekommen.
Loth. Freilich, Du mußt ja sehr unterrichtet sein über die
Zustände hier. Wie sieht es denn so in den Familien aus?
Dr. Schimmelpfennig. E—lend! ..... durchgängig ... Suff!
Völlerei, Inzucht und in Folge davon — Degenerationen auf der
ganzen Linie.
Loth. Mit Ausnahmen doch!?
Dr. Schimmelpfennig. Kaum!
Loth unruhig. Bist Du denn nicht zuweilen in ... in Versuchung
gerathen eine ... eine Witzdorfer Goldtochter zu heirathen?
Dr. Schimmelpfennig. Pfui Teufel! Kerl, für was hältst Du mich?
— Ebenso könntest Du mich fragen, ob ich ...
Loth sehr bleich. Wie... wieso?
Dr. Schimmelpfennig. Weil ... Ist Dir was? Er fixirt ihn einige
Augenblicke.
Loth. Gar nichts! Was soll mir denn sein?
Dr. Schimmelpfennig ist plötzlich sehr nachdenklich, geht und steht jäh
und mit einem leisen Pfiff still, blickt Loth abermals flüchtig an und sagt dann
halblaut zu sich selbst. Schlimm!
Loth. Du bist ja so sonderbar plötzlich.
Dr. Schimmelpfennig. Still! Er horcht auf und verläßt dann schnell das
Zimmer durch die Mittelthür.
Helene nach einigen Augenblicken durch die Mittelthür; sie ruft. Alfred! —
Alfred! ... Ach da bist Du — Gott sei Dank!
Loth. Nun, ich sollte wohl am Ende gar fortgelaufen sein?
Umarmung.
Helene biegt sich zurück. Mit unverkennbarem Schrecken im Ausdruck.
Alfred!
Loth. Was denn, Liebste?
Helene. Nichts, nichts!
Loth. Aber Du mußt doch was haben?
Helene. Du kamst mir so ... so kalt ... Ach, ich hab’ solche
schrecklich dumme Einbildungen.
Loth. Wie stehts’s denn oben?
Helene. Der Doktor zankt mit der Hebamme.
Loth. Wird’s nicht bald zu Ende gehen?
Helene. Weiß ich’s? — Aber wenn’s ... wenn’s zu Ende ist, meine
ich, dann ...
Loth. Was dann? .... Sag’ doch, bitte! was wolltest Du sagen?
Helene. Dann sollten wir bald von hier fortgehen. Gleich! Auf der
Stelle!
Loth. Wenn Du das wirklich für das Beste hältst, Lenchen —
Helene. Ja, ja! wir dürfen nicht warten! Es ist das Beste — für
Dich und mich. Wenn Du mich nicht jetzt bald nimmst, dann läßt Du
mich heilig noch sitzen, und dann ... dann ... muß ich doch noch zu
Grunde gehen.
Loth. Wie Du doch mißtrauisch bist, Lenchen!
Helene. Sag’ das nicht, Liebster! Dir traut man, Dir muß man
trauen! .... Wenn ich erst Dein bin, dann ... Du verläßt mich dann
ganz gewiß nicht mehr. Wie außer sich. Ich beschwöre Dich! geh nicht
fort! Verlaß mich doch nur nicht. Geh — nicht fort, Alfred! Alles ist
aus, alles, wenn Du einmal ohne mich von hier fortgehst.
Loth. Merkwürdig bist Du doch! .... Und da willst Du nicht
mißtrauisch sein? ... Oder sie plagen Dich, martern Dich hier ganz
entsetzlich, mehr als ich mir je .... Jedenfalls gehen wir aber noch
diese Nacht. Ich bin bereit. Sobald Du willst, gehen wir also.
Helene gleichsam mit aufjauchzendem Dank ihm um den Hals fallend.
Geliebter! Sie küßt ihn wie rasend und eilt schnell davon.
Dr. Schimmelpfennig tritt durch die Mitte ein, er bemerkt noch, wie Helene in
der Wintergartenthür verschwindet.
Dr. Schimmelpfennig. Wer war das? — Ach so! In sich hinein.
Armes Ding! Er läßt sich mit einem Seufzer am Tisch nieder, findet die alte
Cigarre, wirft sie bei Seite, entnimmt dem Etui eine frische Cigarre und fängt an,
sie an der Tischkante zu klopfen, wobei er nachdenklich darüber hinausstarrt.
Loth, der ihm zuschaut. Genau so pflegtest Du vor acht Jahren jede
Cigarre abzuklopfen, eh’ Du zu rauchen anfingst.
Dr. Schimmelpfennig. Möglich —! Als er mit Anrauchen fertig ist.
Hör’ mal, Du!
Loth. Ja, was denn?
Dr. Schimmelpfennig. Du wirst doch — so bald die Geschichte
oben vorüber ist, mit zu mir kommen?
Loth. Das geht wirklich nicht! Leider.
Dr. Schimmelpfennig. Man hat so das Bedürfniß, sich mal
wieder gründlich von der Leber weg zu äußern.
Loth. Das hab ich so genau wie Du. Aber gerade daraus kannst
Du sehen, daß es heut absolut nicht in meiner Macht steht, mit Dir
....
Dr. Schimmelpfennig. Wenn ich Dir nun aber ausdrücklich und
— gewissermaßen feierlich erkläre: es ist eine bestimmte, äußerst
wichtige Angelegenheit, die ich mit Dir noch diese Nacht besprechen
möchte .... besprechen muß sogar, Loth!
Loth. Curios! Für blutigen Ernst soll ich doch das nicht etwa
hinnehmen?! Doch wohl nicht? — So viel Jahre hätt’st Du damit
gewartet und nun hätte es nicht einen Tag mehr Zeit damit? — Du
kannst Dir doch wohl denken, daß ich Dir keine Flausen vormache.
Dr. Schimmelpfennig. Also hat’s doch seine Richtigkeit! Er steht
auf und geht umher.
Loth. Was hat seine Richtigkeit?
Dr. Schimmelpfennig, vor Loth still stehend, mit einem geraden Blick in
seine Augen. Es ist also wirklich etwas im Gange zwischen Dir und
Helene Krause?
Loth. Ich? — Wer hat Dir denn ...?
Dr. Schimmelpfennig. Wie bist Du nur in diese Familie ....?
Loth. Woher — weißt Du denn das, Mensch?
Dr. Schimmelpfennig. Das war ja doch nicht schwer zu
errathen.
Loth. Na, dann halt um Gottes Willen den Mund, daß nicht ....
Dr. Schimmelpfennig. Ihr seid also richtig verlobt?!
Loth. Wie man’s nimmt. Jedenfalls sind wir beide einig.
Dr. Schimmelpfennig. Hm —! wie bist Du denn hier herein
gerathen, gerade in d i e s e Familie?
Loth. Hoffmann ist ja doch mein Schulfreund. Er war auch
Mitglied — auswärtiges allerdings — Mitglied meines Colonial-
Vereins.
Dr. Schimmelpfennig. Von der Sache hörte ich in Zürich. — Also
mit Dir ist er umgegangen! Auf diese Weise wird mir der traurige
Zwitter erklärlich.
Loth. Ein Zwitter ist er allerdings.
Dr. Schimmelpfennig. Eigentlich nicht mal d a s. — Ehrlich, Du!
— Ist das wirklich Dein Ernst? — die Geschichte mit der Krause?
Loth. Na, selbstverständlich! — Zweifelst Du daran? Du wirst mich
doch nicht etwa für einen Schuft ...
Dr. Schimmelpfennig. Schon gut! Ereifere Dich nur nicht. Hättst
Dich ja verändert haben können während der langen Zeit. Warum
nicht? Wär auch gar kein Nachtheil! N’ bissel Humor könnte Dir gar
nicht schaden! Ich seh’ nicht ein, warum man alles so verflucht
ernsthaft nehmen sollte.
Loth. Ernst ist es mir mehr als je. Er erhebt sich und geht, immer ein
wenig zurück, neben Schimmelpfennig her. Du kannst es ja nicht wissen,
auch sagen kann ich Dir’s nicht mal, was dieses Verhältniß für mich
bedeutet.
Dr. Schimmelpfennig. Hm!
Loth. Kerl, Du hast keine Idee, was das für ein Zustand ist. Man
kennt ihn nicht, wenn man sich danach sehnt. Kennte man ihn,
dann, dann müßte man geradezu unsinnig werden vor Sehnsucht.
Dr. Schimmelpfennig. Das begreife der Teufel, wie Ihr zu dieser
unsinnigen Sehnsucht kommt.
Loth. Du bist auch noch nicht sicher davor.
Dr. Schimmelpfennig. Das möcht ich mal sehen.
Loth. Du redst wie der Blinde von der Farbe.
Dr. Schimmelpfennig. Was ich mir für das bischen Rausch
koofe! Lächerlich. Daraus eine lebenslängliche Ehe zu bauen .... da
baut man noch nicht mal so sicher als auf’n Sandhaufen.
Loth. Rausch — Rausch — wer von einem Rausch redet, — na!
der kennt die Sache eben nicht. ’N Rausch ist flüchtig. Solche
Räusche hab ich schon gehabt, ich geb’s zu. Aber d a s ist was ganz
Anderes.
Dr. Schimmelpfennig. Hm!
Loth. Ich bin dabei vollständig nüchtern. Denkst Du, daß ich
meine Liebste so — na, wie soll ich sagen?! — so mit ’ner — na, wie
soll ich sagen?! mit ner großen Glorie sehe? Gar nicht! — Sie hat
Fehler, ist auch nicht besonders schön, wenigstens — na, häßlich ist
sie auch gerade nicht. Ganz objectiv geurtheilt, ich — das ist ja
schließlich Geschmackssache — ich hab’ so’n hübsches Mädel noch
nicht gesehen. Also, Rausch — Unsinn! Ich bin ja so nüchtern wie
nur möglich. Aber, siehst Du! d a s ist eben das Merkwürdige: ich
kann mich gar nicht mehr ohne sie denken — das kommt mir so vor
wie ’ne Legirung, weißt Du, wie wenn zwei Metalle so recht innig
legirt sind, daß man gar nicht mehr sagen kann, das ist d a s, das ist
d a s. Und alles so furchtbar selbstverständlich — kurzum, ich
quatsche vielleicht Unsinn — oder was ich sage, ist vielleicht in
Deinen Augen Unsinn, aber so viel steht fest: wer das nicht kennt,
ist ’n erbärmlicher Frosch. Und so’n Frosch war ich bisher — und so’n
Jammerfrosch bist Du noch.
Dr. Schimmelpfennig. Das ist ja richtig der ganze Symptomen-
Complex. — Daß Ihr Kerls doch immer bis über die Ohren in Dinge
hineingerathet, die Ihr theoretisch längst verworfen habt, wie zum
Beispiel Du die Ehe. So lange ich Dich kenne, laborirst Du an dieser
unglückseligen Ehemanie.
Loth. Es ist Trieb bei mir, geradezu Trieb. Weiß Gott! mag ich mich
wenden, wie ich will.
Dr. Schimmelpfennig. Man kann schließlich auch einen Trieb
niederkämpfen.
Loth. Ja, wenn’s ’n Zweck hat, warum nicht?
Dr. Schimmelpfennig. Hat’s Heirathen etwa Zweck?
Loth. Das will ich meinen. Das hat Zweck! Bei mir hat es Zweck.
Du weißt nicht, wie ich mich durchgefressen hab’ bis hierher. Ich
mag nicht sentimental werden. Ich hab’s auch vielleicht nicht so
gefühlt, es ist mir vielleicht nicht ganz so klar bewußt geworden wie
jetzt, daß ich in meinem Streben etwas entsetzlich Ödes, gleichsam
Maschinenmäßiges angenommen hatte. Kein Geist, kein
Temperament, kein Leben, ja wer weiß, war noch Glauben in mir?
Das alles kommt seit ... seit heut wieder in mich gezogen. So
merkwürdig voll, so ursprünglich, so fröhlich ... Unsinn, Du capirst’s
ja doch nicht.
Dr. Schimmelpfennig. Was Ihr da alles nöthig habt, um flott zu
bleiben, Glaube, Liebe, Hoffnung. Für mich ist das Kram. Es ist eine
ganz simple Sache: die Menschheit liegt in der Agonie, und unser
einer macht ihr mit Narkoticis die Sache so erträglich als möglich.
Loth. Dein neuester Standpunkt?
Dr. Schimmelpfennig. Schon fünf bis sechs Jahre alt und immer
derselbe.
Loth. Gratulire!
Dr. Schimmelpfennig. Danke!
Eine lange Pause.
Dr. Schimmelpfennig nach einigen unruhigen Anläufen. Die
Geschichte ist leider die: ich halte mich für verpflichtet ... ich schulde
Dir unbedingt eine Aufklärung. Du wirst Helene Krause, glaub ich,
nicht heirathen können.
Loth kalt. So, glaubst Du?
Dr. Schimmelpfennig. Ja, ich bin der Meinung. Es sind da
Hindernisse vorhanden, die gerade Dir ...
Loth. Hör’ mal Du: mach’ Dir darüber um Gottes Willen keine
Scrupel. Die Verhältnisse liegen auch gar nicht mal so complicirt,
sind im Grunde sogar furchtbar einfach.
Dr. Schimmelpfennig. Einfach f u r c h t b a r solltest Du eher
sagen.
Loth. Ich meine, was die Hindernisse anbetrifft.
Dr. Schimmelpfennig. Ich auch zum Theil. Aber auch
überhaupt: ich kann mir nicht denken, daß Du diese Verhältnisse
hier kennen solltest.
Loth. Ich kenne sie aber doch ziemlich genau.
Dr. Schimmelpfennig. Dann mußt Du nothwendigerweise Deine
Grundsätze geändert haben.
Loth. Bitte, Schimmel, drück’ Dich etwas deutlicher aus.
Dr. Schimmelpfennig. Du mußt unbedingt Deine
Hauptforderung in Bezug auf die Ehe fallen gelassen haben, obgleich
Du vorhin durchblicken ließt, es käme Dir nach wie vor darauf an,
ein an Leib und Seele gesundes Geschlecht in die Welt zu setzen.
Loth. Fallen gelassen? ... fallen gelassen? Wie soll ich denn das ...
Dr. Schimmelpfennig. Dann bleibt nichts übrig ... dann kennst
Du eben doch die Verhältnisse nicht. Dann weißt Du zum Beispiel
nicht, daß Hoffmann einen Sohn hatte, der mit drei Jahren bereits
am Alkoholismus zu Grunde ging.
Loth. Wa... was — sagst Du?
Dr. Schimmelpfennig. S’ thut mir leid, Loth, aber sagen muß ich
Dir’s doch. Du kannst ja dann noch machen, was Du willst. Die
Sache war kein Spaß. Sie waren gerade wie jetzt zum Besuch hier.
Sie ließen mich holen, eine halbe Stunde zu spät. Der kleine Kerl
hatte längst verblutet.
Loth mit den Zeichen tiefer, furchtbarer Erschütterung an des Doktors Munde
hängend.
Dr. Schimmelpfennig. Nach der Essigflasche hatte das dumme
Kerlchen gelangt in der Meinung, sein geliebter Fusel sei darin. Die
Flasche war herunter- und das Kind in die Scherben gefallen. Hier
unten, siehst Du, die vena saphena, die hatte es sich vollständig
durchschnitten.
Loth. W... w...essen Kind sagst Du ...?
Dr. Schimmelpfennig. Hoffmann’s und eben derselben Frau
Kind, die da oben wieder ... Und auch die trinkt, trinkt bis zur
Besinnungslosigkeit, trinkt, soviel sie bekommen kann.
Loth. Also von Hoffmann ... Hoffmann geht es nicht aus?!
Dr. Schimmelpfennig. Bewahre! Das ist tragisch an dem
Menschen; er leidet darunter, so viel er überhaupt leiden kann. Im
Übrigen hat er’s gewußt, daß er in eine Potatorenfamilie hinein kam.
Der Bauer nämlich kommt überhaupt gar nicht mehr aus dem
Wirthshaus.
Loth. Dann freilich — begreife ich manches — nein! Alles begreife
ich — alles. Nach einem dumpfen Schweigen. Dann ist ihr Leben hier ...
Helenens Leben — ein ... ein — wie soll ich sagen?! mir fehlt der
Ausdruck dafür — ... nicht?
Dr. Schimmelpfennig. Horrend geradezu! Das kann ich
beurtheilen. Daß Du bei ihr hängen bliebst, war mir auch von Anfang
an sehr begreiflich. Aber wie ges...
Loth. Schon gut! — verstehe ... Thut denn ...? Könnte man nicht
vielleicht ... vielleicht könnte man Hoffmann bewegen etwas ...
etwas zu thun? Könntest Du nicht vielleicht — ihn zu etwas
bewegen? Man müßte sie fortbringen aus dieser Sumpfluft.
Dr. Schimmelpfennig. Hoffmann?
Loth. Ja, Hoffmann.
Dr. Schimmelpfennig. Du kennst ihn schlecht ... Ich glaube
zwar nicht, daß er sie schon verdorben hat. Aber ihren Ruf hat er
sicherlich j e t z t schon verdorben.
Loth aufbrausend. Wenn das ist: ich schlag ihn ... Glaubst Du
wirklich ...? hältst Du Hoffmann wirklich für fähig ...?
Dr. Schimmelpfennig. Zu allem, zu allem halte ich ihn fähig,
wenn für ihn ein Vergnügen dabei heraus springt.
Loth. Dann ist sie — das keuscheste Geschöpf, was es giebt ...
Loth nimmt langsam Hut und Stock und hängt sich ein Täschchen um.
Dr. Schimmelpfennig. Was gedenkst Du zu thun, Loth?
Loth. ... Nicht begegnen ...!
Dr. Schimmelpfennig. Du bist also entschlossen?
Loth. Wozu entschlossen?
Dr. Schimmelpfennig. Euer Verhältniß aufzulösen.
Loth. Wie sollt ich wohl dazu nicht entschlossen sein?
Dr. Schimmelpfennig. Ich kann Dir als Arzt noch sagen, daß
Fälle bekannt sind, wo solche vererbte Uebel unterdrückt worden
sind, und Du würdest ja gewiß Deinen Kindern eine rationelle
Erziehung geben.
Loth. Es mögen solche Fälle vorkommen.
Dr. Schimmelpfennig. Und die Wahrscheinlichkeit ist vielleicht
nicht so gering, daß ...
Loth. Das kann uns nichts helfen, Schimmel. So steht es: es giebt
drei Möglichkeiten! Entweder ich heirathe sie, und dann ... nein,
dieser Ausweg existirt überhaupt nicht. Oder — die bewußte Kugel.
Na ja, dann hätte man wenigstens Ruhe. Aber nein! So weit sind wir
noch nicht, so was kann man sich einstweilen noch nicht leisten —
also: leben! kämpfen! — Weiter, immer weiter. Sein Blick fällt auf den
Tisch, er bemerkt das von Eduard zurecht gestellte Schreibzeug, setzt sich, ergreift
die Feder, zaudert, und sagt: Oder am Ende ...?
Dr. Schimmelpfennig. Ich verspreche Dir, ihr die Lage so
deutlich als möglich vorzustellen.
Loth. Ja, ja! — nur eben ... ich kann nicht anders. Er schreibt,
adressirt und couvertirt. Er steht auf und reicht Schimmelpfennig die Hand. Im
Übrigen verlasse ich mich — auf Dich.
Dr. Schimmelpfennig. Du gehst zu mir, wie? Mein Kutscher soll
Dich zu mir fahren.
Loth. Sag’ mal, sollte man denn nicht wenigstens versuchen — sie
aus den Händen dieses ... dieses Menschen zu ziehen? ... Auf diese
Weise wird sie doch unfehlbar noch seine Beute.
Dr. Schimmelpfennig. Guter, bedauernswürdiger Kerl! Soll ich
Dir was rathen? Nimm ihr nicht das ... Wenige, was Du ihr noch
übrig läßt.
Loth tiefer Seufzer. Qual über ... hast vielleicht — recht — ja wohl,
unbedingt sogar.
Man hört Jemand hastig die Treppe herunter kommen. Im nächsten Augenblick
stürzt Hoffmann herein.
Hoffmann. Herr Doktor, ich bitte Sie um Gottes Willen ... sie ist
ohnmächtig ... die Wehen setzen aus ... wollen Sie nicht endlich ...
Dr. Schimmelpfennig. Ich komme hinauf. Zu Loth bedeutungsvoll.
Auf Wiedersehen! Zu Hoffmann, der ihm nachfolgen will. Herr Hoffmann,
ich muß Sie bitten ... eine Ablenkung oder Störung könnte
verhängnißvoll ... am liebsten wäre es mir, Sie blieben hier unten.
Hoffmann. Sie verlangen sehr viel, aber ... na!
Dr. Schimmelpfennig. Nicht mehr als billig. Ab.
Hoffmann bleibt zurück.
Hoffmann bemerkt Loth. Ich zittere, die Aufregung steckt mir in
allen Gliedern. Sag’ mal, Du willst fort?
Loth. Ja.
Hoffmann. Jetzt mitten in der Nacht?
Loth. Nur bis zu Schimmelpfennig.
Hoffmann. Ach so! Nun ... wie die Verhältnisse sich gestaltet
haben, ist es am Ende kein Vergnügen mehr bei uns ... Also leb’
recht ...
Loth. Ich danke für die Gastfreundschaft.
Hoffmann. Und mit Deinem Plan, wie steht es da?
Loth. Plan?
Hoffmann. Deine Arbeit, Deine volkswirthschaftliche Arbeit über
unseren District, meine ich. Ich muß Dir sagen ... ich möchte Dich
sogar als Freund inständig und herzlich bitten ...
Loth. Beunruhige Dich weiter nicht. Morgen schon bin ich über
alle Berge.
Hoffmann. Das ist wirklich — unterbricht sich. —
Loth. Schön von Dir, wollt’st Du wohl sagen?

Anda mungkin juga menyukai