Reaksi Pasar Modal Indonesia
Reaksi Pasar Modal Indonesia
[Link]
reaksi-pasar-modal-indonesia-t-renald-suganda/
[Link]
ela-elliyana-s-e-m-m/
[Link]
modal-secara-rasional-andhika-diskartes/
[Link]
dan-praktek-dengan-quantum-gis-sulistiyanto-s-t-m-t/
Pokok Pokok Pengaturan Penanaman Modal di Indonesia
Suparji
[Link]
modal-di-indonesia-suparji/
[Link]
listrik-buku-ajar-dr-ir-ija-darmana-m-t-erliwati-s-t-m-t/
[Link]
tunggal-dan-basis-produksi-asean-sektor-jasa-logistik-zamroni-
salim-editor/
[Link]
mujibur-rohman/
[Link]
kebijakan-dan-kajian-empiris-di-indonesia-lestari-agusalim/
Event Study
Teori dan Pembahasan Reaksi
Pasar Modal Indonesia
T. Renald Suganda
Event Study
Teori dan Pembahasan Reaksi
Pasar Modal Indonesia
Penerbit
CV. Seribu Bintang
Malang – Jawa Timur - Indonesia
website: [Link]
email : info@[Link]
FB : [Link]/[Link]
ISBN : 978-602-52194-3-6
Kontributor :
Albert Christian
Audito Aji Anugrah
Christina Natalia Setiawan
Feni Sufuiana Thewelis
Gladys Miko Lukito
Miranti Verdiana Salim
Rendika Surya Herijanto
Sentoso Gosal
Wisda Milastri Sukrah HK Soba
i
Reaksi Pasar Modal Indonesia
ii
Reaksi Pasar Modal Indonesia
Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat
Tuhan YME karena atas berkat rahmat dan
kuasaNya, buku Event Study: Teori dan
Pembahasan Reaksi Pasar Modal Indonesia ini
dapat terselesaikan.
Buku ini disusun sedemikian rupa
berdasarkan latar belakang studi dan
pengalaman penulis yang pernah mengenyam
pendidikan pasca sarjana pada Program Studi
Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, di
Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, dengan
berfokus pada bidang capital market based
accounting research (riset akuntansi berbasis
pasar modal). Saat ini, penulis aktif mengajar
sebagai dosen pada Program Studi Akuntansi,
Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Ma
Chung, Malang. Salah satu bidang kekhususan
penulis baik dalam pengajaran, penelitian,
maupun pengabdian pada masyarakat, adalah
bidang investasi khususnya pasar modal.
iii
Reaksi Pasar Modal Indonesia
iv
Reaksi Pasar Modal Indonesia
v
Reaksi Pasar Modal Indonesia
Penulis
Tarsisius Renald Suganda, S.E., [Link]
vi
Reaksi Pasar Modal Indonesia
Daftar Isi
Kontributor : ................................................i
Kata Pengantar ...........................................ii
Daftar Isi................................................... vii
Pendahuluan 1
Reaksi Pasar ...............................................
Modal Indonesia terhadap
Peristiwa Peluncuran Rudal Korea Utara .....7
Sekilas Peristiwa ......................................... 8
TinjauanPenelitian
Metoda Pustaka ....................................... 13
...................................... 19
Hasil dan Pembahasan ............................... 26
Daftar Pustaka .......................................... 33
Dampak Reaksi Pengumuman Perang
Dagang Amerika Serikat dan Republik
Rakyat China terhadap Pasar Modal
Indonesia..................................................35
Sekilas Peristiwa ....................................... 36
Metoda Penelitian ...................................... 46
Simpulan.................................................. 54
Daftar Pustaka .......................................... 56
Abnormal Return dan Trading Volume
Activity sebagai Bentuk Reaksi Pasar Modal
terhadap Peristiwa Bom Sarinah ...............59
Sekilas Peristiwa ....................................... 60
Tinjauan Pustaka....................................... 65
Metoda Penelitian ...................................... 72
Hasil dan Pembahasan ............................... 82
vii
Reaksi Pasar Modal Indonesia
Daftar Pustaka
Simpulan .................................................. 90
.......................................... 92
..................................................................94
Dampak Perubahan Harga Batu Bara
Domestic Market Obligation terhadap
Kinerja Saham Perusahaan Batu Bara .......95
Sekilas Peristiwa ....................................... 96
Tinjauan Pustaka..................................... 101
Metoda Penelitian .................................... 108
Hasil dan Pembahasan ............................. 117
Simpulan................................................ 127
Daftar Pustaka ........................................ 129
Reaksi Pasar Saham Indonesia terhadap
Pengumuman Kenaikan Suku Bunga The
Federal....................................................131
Reserve Bank ..........................................131
Sekilas Peristiwa ..................................... 132
Tinjauan
Metoda
Hasil dan
Penelitian
Pustaka
Pembahasan
..................................... 136
.................................... 147
............................. 152
Index
Glosarium
Simpulan................................................ 160
................................................ 163
...................................................... 167
viii
Reaksi Pasar Modal Indonesia
Pendahuluan
1
Reaksi Pasar Modal Indonesia
2
Reaksi Pasar Modal Indonesia
3
Reaksi Pasar Modal Indonesia
4
Reaksi Pasar Modal Indonesia
5
Reaksi Pasar Modal Indonesia
6
Reaksi Pasar Modal Indonesia
7
Reaksi Pasar Modal Indonesia
Sekilas Peristiwa
Pada tanggal 29 Agustus 2017, Korea
Utara menembakkan sebuah rudal dari dekat ibu
kota Pyongyang yang melintasi wilayah udara
Jepang dan jatuh di Samudra Pasifik di lepas
pantai Pulau Hokaido. Rudal yang meluncur 2.700
km dan pada ketinggian maksimum 550 km
tersebut merupakan serangkaian uji coba
peluncuran rudal kedua yang dilakukan oleh pihak
Korea Utara. Peristiwa tersebut merupakan
tindakan ancaman balik yang dilontarkan oleh
Korea Utara terhadap Amerika Serikat (AS).
Setelah peristiwa peluncuran rudal
pertama, Korea Utara kembali mengancam akan
meluncurkan rudal kedua di Guam, yang
merupakan salah satu dari wilayah Amerika
Serikat dan menjadi lokasi kedua pangkalan
militer AS. Terdapat setidaknya 163.000 warga
sipil di Guam dan sekitar 6 ribu personil militer AS
yang ditugaskan di pulau ini ([Link],
2018). Dengan kondisi tersebut, ketegangan
geopolitik antara Korea Utara dan Amerika Serikat
akan semakin memuncak. Selain itu, ketegangan
yang terjadi dapat berimbas pada melemahnya
8
Reaksi Pasar Modal Indonesia
9
Reaksi Pasar Modal Indonesia
10
Reaksi Pasar Modal Indonesia
11
Reaksi Pasar Modal Indonesia
12
Reaksi Pasar Modal Indonesia
Tinjauan Pustaka
13
Reaksi Pasar Modal Indonesia
14
Reaksi Pasar Modal Indonesia
Signaling Theory
Menurut Brigham & Houston (2011),
signaling theory adalah tindakan yang diambil dari
manajemen perusahaan untuk memberikan
petunjuk bagi investor mengenai prospek
perusahaan. Sedangkan menurut Scott (2012),
sinyal adalah sebuah tindakan yang diambil oleh
high type manager yang mana tidak akan rasional
jika dilakukan oleh low type manager.
Berdasarkan pengertian tersebut, teori
penyinyalan (signaling theory) merupakan teori
yang digunakan untuk memahami suatu tindakan
oleh pihak manajemen dalam menyampaikan
informasi kepada investor yang pada akhirnya
dapat mengubah keputusan investor dalam
melihat kondisi perusahaan. Informasi yang
simetris adalah kondisi ideal yang diharapkan
15
Reaksi Pasar Modal Indonesia
16
Reaksi Pasar Modal Indonesia
Abnormal Return
Abnormal Return merupakan kelebihan
dari return yang sesungguhnya terjadi (realisasi)
terhadap return normal (Hartono, 2017). Return
normal merupakan return ekspektasian atau
return yang diharapkan oleh investor. Dengan
demikian return tidak normal adalah selisih antara
return sesungguhnya yang terjadi dengan return
ekspektasian. Return realisasi (actual return)
dapat dikatakan juga sebagai return yang telah
terjadi dan dihitung berdasarkan data historis.
Return ekspektasian (expected return) merupakan
return yang diharapkan akan diperoleh oleh
investor di masa mendatang. Berbeda dengan
return realisasi, return ekspektasi merupakan
return yang belum terjadi.
17
Reaksi Pasar Modal Indonesia
18
Reaksi Pasar Modal Indonesia
Metoda Penelitian
Sampel yang digunakan dalam penelitian
ini adalah seluruh perusahaan yang termasuk ke
dalam indeks LQ 45. Indeks LQ 45 dipilih karena
indeks ini terdiri atas 45 perusahaan yang
memiliki tingkat likuiditas, kapitalisasi pasar yang
tinggi di BEI, serta merupakan indeks yang terdiri
atas perusahaan yang paling aktif
diperdagangkan. Sampel yang digunakan dalam
penelitian ini harus memenuhi beberapa kriteria
sebagai berikut.
19
Reaksi Pasar Modal Indonesia
20
Reaksi Pasar Modal Indonesia
21
Reaksi Pasar Modal Indonesia
22
Reaksi Pasar Modal Indonesia
23
Reaksi Pasar Modal Indonesia
24
Other documents randomly have
different content
Vierter Akt.
Wie im zweiten Akt: der Gutshof. Zeit: eine Viertelstunde nach Helenens
Liebeserklärung.
M a r i e und G o l i s c h, der Kuhjunge, schleppen sich mit einer hölzernen Lade
die Bodentreppe herunter. Loth kommt reisefertig aus dem Hause und geht
langsam und nachdenklich quer über den Hof. Bevor er in den Wirthshaussteg
einbiegt, stößt er auf H o f f m a n n, der mit ziemlicher Eile durch den Hofeingang
ihm entgegenkommt.
Hoffmann, Cylinder, Glacéhandschuhe. Sei mir nicht böse. Er verstellt
Loth den Weg und faßt seine beiden Hände. Ich nehme hiermit alles zurück!
... Nenne mir eine Genugthuung! ... Ich bin zu jeder Genugthuung
bereit! .... Ich bereue, bereue alles aufrichtig.
Loth. Das hilft Dir und mir wenig.
Hoffmann. Ach! — wenn Du doch ... sieh mal ....! Mehr kann
man doch eigentlich nicht thun. Ich sage Dir: mein Gewissen hat mir
keine Ruhe gelassen! Dicht vor Jauer bin ich umgekehrt, .... daran
solltest Du doch schon erkennen, daß es mir Ernst ist. — Wo wolltest
Du hin ....?
Loth. In’s Wirthshaus — einstweilen.
Hoffmann. Ach, das darfst Du mir nicht anthun ...! Das thu mir
nur nicht an! Ich glaube ja, daß es Dich tief kränken mußte. ’S ist ja
auch vielleicht nicht so — mit ein paar Worten wieder gut zu
machen. Nur nimm mir nicht jede Gelegenheit .... jede Möglichkeit,
Dir zu beweisen .... hörst Du? Kehr um! .... Bleib wenigstens bis ...
bis morgen. Oder bis ... bis ich zurückkomme. Ich muß mich noch
einmal in Muße mit Dir aussprechen darüber; — das kannst Du mir
nicht abschlagen.
Loth. Wenn Dir daran besonders viel gelegen ist ....
Hoffmann. Alles! ... auf Ehre! — ist mir daran gelegen, alles! ....
Also komm! ... komm!! Kneif ja nicht aus! — komm! Er führt Loth, der
sich nun nicht mehr sträubt, in das Haus zurück. Beide ab.
Die entlassene Magd und der Kuhjunge haben inzwischen die Lade auf den
Schubkarren gesetzt, Golisch hat die Traggurte umgenommen.
Marie, während sie Golisch etwas in die Hand drückt. Doo! Gooschla!
hust a woas!
Der Junge weist es ab. Behaal’ Den’n Biema!
Marie. Ae! tumme Dare!
Der Junge. Na, wegen menner. Er nimmt das Geld und thut es in seinen
ledernen Geldbeutel.
Frau Spiller von einem der Wohnhausfenster aus, ruft: Marie!
Marie. Woas wullt Er noo?
Frau Spiller nach einer Minute aus der Hausthür tretend. Die gnädige
Frau will Dich behalten, wenn Du versprichst ....
Marie. Dreck! war ich er versprecha! — Foahr zu, Goosch!
Frau Spiller näher tretend. Die gnädige Frau will Dir auch etwas am
Lohn zulegen, wenn Du ..... Plötzlich flüsternd. Mach Der nischt draus,
Moad! se werd ok manchmal so’n bisken kullerig.
Marie wüthend. Se maag siich ihre poar Greschla fer sich behahl’n!
— Weinerlich. Ehnder derhingern! Sie folgt Gosch, der mit dem Schubkarren
vorangefahren ist. Nee, a su woas oaber oo! — Do sool eens do glei’ ...
Ab. Frau Spiller ihr nach. Ab.
Durch den Haupteingang kommt B a e r, genannt Hopslabaer. Ein langer Mensch
mit einem Geierhalse und Kropfe dran. Er geht barfuß und ohne Kopfbedeckung;
die Beinkleider reichen, unten stark ausgefranst, bis wenig unter die Knie herab. Er
hat eine Glatze; das vorhandene braune, verstaubte und verklebte Haar reicht ihm
bis über die Schulter. Sein Gang ist straußenartig. An einer Schnur führt er ein
Kinderwägelchen voll Sand mit sich. Sein Gesicht ist bartlos, die ganze
Erscheinung deutet auf einen einige Zwanzig alten verwahrlosten Bauernburschen.
Baer mit merkwürdig blökender Stimme. Saaa—a—and! Saa—and!
Er geht durch den Hof und verschwindet zwischen Wohnhaus und Stallgebäude.
H o f f m a n n und H e l e n e aus dem Wohnhaus. Helene sieht bleich aus und trägt
ein leeres Wasserglas in der Hand.
Hoffmann zu Helene. Unterhalt ihn bissel! verstehst Du? — Laß ihn
nicht fort — es liegt mir sehr viel daran. — So’n beleidigter Ehrgeiz
.... Adieu! — Ach! Soll ich am Ende nicht fahren? — Wie geht’s mit
Martha? — Ich hab so’n eigenthümliches Gefühl, als ob’s bald .....
Unsinn! — Adieu! ... höchste Eile! Ruft. Franz! Was die Pferde laufen
können! Schnell ab durch den Haupteingang.
H e l e n e geht zur Pumpe, pumpt das leere Glas voll und leert es auf einen Zug.
Ein zweites Glas Wasser leert sie zur Hälfte. Das Glas setzt sie dann auf das
Pumpenrohr und schlendert langsam, von Zeit zu Zeit rückwärts schauend, durch
den Thorweg hinaus. B a e r kommt zwischen Wohnhaus und Stallung hervor und
hält mit seinem Wagen vor der Wohnhausthür still, wo Miele ihm Sand abnimmt.
Indeß ist K a h l von rechts innerhalb des Grenzzaunes sichtbar geworden, im
Gespräch mit F r a u S p i l l e r, die außerhalb des Zaunes, also auf dem Terrain
des Hofeingangs, sich befindet. Beide bewegen sich im Gespräch langsam längs
des Zaunes hin.
Frau Spiller leidend. Ach ja — m — gnädiger Herr Kahl! Ich hab —
m — manchmal so an Sie — m — gedacht — m — wenn ... wenn
das gnädige Freilein ... Sie ist doch nun mal — m — so zu sagen —
m — mit Sie verlobt, und da .... ach! — m — zu meiner Zeit ...!
Kahl steigt auf die Bank unter der Eiche und befestigt einen Meisekasten auf
dem untersten Ast. W — wenn werd denn d.. dd.. doas D... d... d...
dukterluder amol sssenner W... wwwege gihn? hä?
Frau Spiller. Ach, Herr Kahl! ich glaube — m — nicht so bald. —
A.. ach, Herr — m — Kahl, ich bin zwar so zu sagen — m — etwas —
m — herabjekommen, aber ich weiß so zu sagen — m —, was
Bildung ist. In dieser Hinsicht, Herr Kahl ...., das Freilein — m — das
gnädige Freilein ...., das handeln nicht gut gegen Ihnen — nein! —
m — darin, so zu sagen — m — habe ich mir nie etwas zu Schulden
kommen lassen — m — mein Gewissen — m — gnädiger Herr Kahl,
ist darin so rein ... so zu sagen, wie reiner Schnee.
Baer hat sein Sandgeschäft abgewickelt und verläßt in diesem Augenblick, an
Kahl vorübergehend, den Hof.
Kahl entdeckt Baer und ruft. Hopslabaer, hops amool!
Baer macht einen riesigen Luftsprung.
Kahl vor Lachen wiehernd, ruft ein zweites Mal. Hopslabaer, hops amool!
Frau Spiller. Nun da — m — ja, Herr Kahl! ...... ich meine es nur
gut mit Sie. Sie müssen Obacht geben — m — gnädiger Herr! Es —
m — es ist was im Gange mit dem gnädigen Fräulein und — m — m
—
Kahl. D.. doas Dukterluder ... ok bbbblußig emool vor a Hunden
— blußig e.. e.. e.. emool!
Frau Spiller geheimnißvoll. Und was das nun noch — m — für ein
Indifidium ist. Ach — m — das gnädige Freilein thut mir auch s o o
leid. Die Frau — m — vom Polizeidiener, die hat’s vom Amte, glaub
ich. Es soll ein ganz — m — gefährlicher Mensch sein. Ihr Mann — m
— soll ihn so zu sagen — m — denken Sie nur, soll ihn — m —
geradezu im Auge behalten.
L o t h aus dem Hause. Sieht sich um.
Frau Spiller. Seh’n Sie, nun jeht er dem gnädigen Freilein nach
— m —. Aa... ach, z u u leid thut es einem.
Kahl. Na wart’! Ab.
F r a u S p i l l e r geht nach der Hausthüre. Als sie an Loth vorbeikommt, macht
sie eine tiefe Verbeugung. Ab in das Haus.
L o t h langsam durch den Thorweg ab. Die K u t s c h e n f r a u, eine magere,
abgehärmte und ausgehungerte Frauensperson, kommt zwischen Stallgebäude
und Wohnhaus hervor. Sie trägt einen großen Topf unter ihrer Schürze versteckt
und schleicht damit, sich überall ängstlich umblickend, nach dem Kuhstall. Ab in
die Kuhstallthür. Die beiden M ä g d e, jede eine Schubkarre, hoch mit Klee
beladen, vor sich herstoßend, kommen durch den Thorweg herein. B e i b s t, die
Sense über der Schulter, die kurze Pfeife im Munde, folgt ihnen nach. Liese hat
ihre Schubkarre vor die linke, Auguste vor die rechte Stallthür gefahren, und beide
Mädchen beginnen große Arme voll Klee in den Stall hinein zu schaffen.
Liese leer aus dem Stalle herauskommend. Du, Guste! de Marie iis furt.
Auguste. Joa wull doch?!
Liese. Gih nei! freu’ die Kutscha-Franzen, se milkt er an Truppen
Milch ei.
Beibst hängt seine Sense an der Wand auf. Na! doa lußt ok de Spillern
nee ernt derzune kumma.
Auguste. Oh jechtich! nee ok nee! bei Leibe nich!
Liese. A su a oarm Weib miit achta.
Auguste. Acht kleene Bälge! — die wull’n laba.
Liese. Ne amool an Truppen Milch thun s’ er ginn’n ... meschant
iis doas.
Auguste. Wu milkt sie denn?
Liese. Ganz derhinga, de neumalke Fenus!
Beibst stopft seine Pfeife; den Tabaksbeutel mit den Zähnen festhaltend,
nuschelt er. De Marie wär’ weg?
Liese. Ju, ju, ’s iis fer gewiß! — der Pfaarknecht hot gle bein er
geschloofa.
Beibst den Tabaksbeutel in die Tasche steckend. Amool wiil jedes! — au’
de Frau. Er zündet sich die Pfeife an, darauf durch den Haupteingang ab. Im
Abgehen. Ich gih a wing frihsticka!
Die Kutschenfrau den Topf voll Milch vorsichtig unter der Schürze, guckt
aus der Stallthür heraus. Sitt ma Jemanda?
Liese. Koanst kumma, Kutschen, ma sitt ken’n. Kumm! kumm
schnell!
Kutschenfrau im Vorübergehen zu den Mägden. Ok fersch
Pappekindla!
Liese ihr nachrufend. Schnell! S’ kimmt Jemand. K u t s c h e n f r a u
zwischen Wohnhaus und Stallung ab.
Auguste. Blußig ok inse Frele.
Die Mägde räumen nun weiter die Schubkarren ab und schieben sie, wenn sie
leer sind, unter den Thorweg, hierauf beide ab in den Kuhstall.
Loth und Helene kommen zum Thorweg herein.
Loth. Widerlicher Mensch! dieser Kahl, — frecher Spion!
Helene. In der Laube vorn, glaub ich ... Sie gehen durch das Pförtchen
in das Gartenstückchen links vorn und in die Laube daselbst. Es ist mein
Lieblingsplatz. — Hier bin ich noch am ungestörtesten, wenn ich mal
was lesen will.
Loth. Ein hübscher Platz hier. — Wirklich! Beide setzen sich, ein wenig
von einander getrennt, in der Laube nieder. Schweigen. Darauf Loth. Sie haben
so sehr schönes und reiches Haar, Fräulein!
Helene. Ach ja, mein Schwager sagt das auch. Er meinte, er
hätte es kaum so gesehen — auch in der Stadt nicht ... Der Zopf ist
oben so dick wie mein Handgelenk ... Wenn ich es losmache, dann
reicht es mir bis zu den Knien. Fühlen Sie mal —! Es fühlt sich wie
Seide an, gelt?
Loth. Ganz wie Seide. Ein Zittern durchläuft ihn, er beugt sich und küßt
das Haar.
Helene erschreckt. Ach nicht doch! Wenn ...
Loth. Helene —! War das vorhin nicht Dein Ernst?
Helene. Ach! — ich schäme mich so schrecklich. Was habe ich
nur gemacht? — Dir ... Ihnen an den Hals geworfen habe ich mich.
— Für was müssen Sie mich halten ...!
Loth rückt ihr näher, nimmt ihre Hand in die seine. Wenn Sie sich doch
d arüber beruhigen wollten!
Helene seufzend. Ach, das müßte Schwester Schmittgen wissen ....
ich sehe gar nicht hin!
Loth. Wer ist Schwester Schmittgen?
Helene. Eine Lehrerin aus der Pension.
Loth. Wie können Sie sich nur über Schwester Schmittgen
Gedanken machen!
Helene. Sie war sehr gut ....! Sie lacht plötzlich heftig in sich hinein.
Loth. Warum lachst Du denn so auf einmal?
Helene zwischen Pietät und Laune. Ach! .. Wenn sie auf dem Chor
stand und sang ... Sie hatte nur noch einen einzigen, langen Zahn
.... da sollte es immer heißen: Tröste, tröste mein Volk! und es kam
immer heraus: ’Röste, ’röste mein Volk! Das war zu drollig .... da
mußten wir immer so lachen .... wenn sie so durch den Saal ....
’röste! ’röste! Sie kann sich vor Lachen nicht lassen, Loth ist von ihrer Heiterkeit
angesteckt. Sie kommt ihm dabei so lieblich vor, daß er den Augenblick benutzen
will, den Arm um sie zu legen. Helene wehrt es ab. Ach nein doch ....! Ich
habe mich Dir .... Ihnen an den Hals geworfen.
Loth. Ach! sagen Sie doch nicht so etwas.
Helene. Aber ich bin nicht schuld, Sie haben sich’s selbst
zuzuschreiben. Warum verlangen Sie .....
Loth legt nochmals seinen Arm um sie, zieht sie fester an sich. Anfangs sträubt
sie sich ein wenig, dann giebt sie sich drein und blickt nun mit freier Glückseligkeit
in Loth’s glücktrunkenes Gesicht, das sich über das ihre beugt. Unversehens, aus
einer gewissen Schüchternheit heraus küßt sie ihn zuerst auf den Mund. Beide
werden roth, dann giebt Loth ihr den Kuß zurück; lang, innig, fest drückt sich sein
Mund auf den ihren. Ein Geben und Nehmen von Küssen ist eine Zeit hindurch die
einzige Unterhaltung — stumm und beredt zugleich — der beiden. Loth spricht
dann zuerst.
Loth. Lene, nicht? Lene heißt Du hier so?
Helene küßt ihn ... Nenne mich anders ... Nenne mich, wie Du
gern möcht’st.
Loth. Liebste! ............
Das Spiel mit dem Küssetauschen und sich gegenseitig Betrachten wiederholt
sich.
Helene von Loth’s Armen fest umschlungen, ihren Kopf an seiner Brust mit
verschleierten, glückseligen Augen, flüstert im Ueberschwang. Ach! — wie
schön! Wie schön —!
Loth. So mit Dir sterben!
Helene mit Inbrunst. Leben! ... Sie löst sich aus seinen Armen. Warum
denn jetzt sterben? .... jetzt ...
Loth. Das mußt Du nicht falsch auffassen. Von jeher berausche
ich mich ... besonders in glücklichen Momenten berausche ich mich
in dem Bewußtsein, es in der Hand zu haben, weißt Du!
Helene. Den Tod in der Hand zu haben?
Loth ohne jede Sentimentalität. Ja! und so hat er gar nichts
Grausiges, im Gegentheil, so etwas Freundschaftliches hat er für
mich. Man ruft und weiß bestimmt, daß er kommt. Man kann sich
dadurch über alles Mögliche hinwegheben, Vergangenes — und
Zukünftiges .... Helenen’s Hand betrachtend. Du hast eine so
wunderhübsche Hand. Er streichelt sie.
Helene. Ach ja! — so ..... Sie drückt sich auf’s Neue in seine Arme.
Loth. Nein, weißt Du! ich hab’ nicht gelebt! ... bisher nicht!
Helene. Denkst Du ich? ... Mir ist fast taumelig ..... taumelig bin
ich vor Glück. Gott! wie ist das — nur so auf einmal .....
Loth. Ja, so auf e i n — m a l ...
Helene. Hör’ mal! so ist mir: die ganze Zeit meines Lebens — ein
Tag! — gestern und heut — ein Jahr! gelt?
Loth. Erst gestern bin ich gekommen?
Helene. Ganz gewiß! — eben! — natürlich! .... Ach, ach! Du weißt
es nicht mal!
Loth. Es kommt mir wahrhaftig auch vor .......
Helene. Nicht —? Wie ’n ganzes, geschlagnes Jahr! — Nicht —?
Halb aufspringend. Wart’ ....! — Kommt — da nicht .... Sie rücken aus
einander. .... Ach! es ist mir auch — egal. Ich bin jetzt — so muthig.
Sie bleibt sitzen und muntert Loth mit einem Blick auf näher zu rücken, was dieser
sogleich thut.
Helene in Loth’s Armen. ... Du! — Was thun wir denn nu zuerst?
Loth. Deine Stiefmutter würde mich wohl — abweisen.
Helene. Ach, meine Stiefmutter .... das wird wohl gar nicht ....
gar nichts geht’s die an! Ich mache, was ich will ..... Ich hab mein
mütterliches Erbtheil, mußt Du wissen.
Loth. Deshalb meinst Du .....
Helene. Ich bin majorenn. Vater muß mir’s auszahlen.
Loth. Du stehst wohl nicht gut — mit allen hier? — Wohin ist
denn Dein Vater verreist?
Helene. Verr... Du hast ...? Ach, Du hast Vater noch nicht
gesehen?
Loth. Nein! Hoffmann sagte mir ....
Helene. Doch! ... hast Du ihn schon einmal gesehen.
Loth. Ich wüßte nicht! ... Wo denn, Liebste?
Helene. Ich ... Sie bricht in Thränen aus. Nein, ich kann — kann Dir’s
noch nicht sagen .... zu furchtbar schrecklich ist das.
Loth. Furchtbar schrecklich? Aber Helene! ist denn Deinem Vater
etwas ...
Helene. Ach! — frag’ mich nicht! Jetzt nicht! Später!
Loth. Was Du mir nicht freiwillig sagen willst, danach werde ich
Dich auch gewiß nicht mehr fragen ... Sieh mal, was das Geld
anlangt ... im schlimmsten Falle .... ich verdiene ja mit dem
Artikelschreiben nicht gerade überflüssig viel, aber ich denke, es
müßte am Ende für uns beide ganz leidlich hinreichen.
Helene. Und ich würde doch auch nicht müßig sein. Aber besser
ist besser. Das Erbtheil ist vollauf genug — Und Du sollst Deine
Aufgabe .... nein, die sollst Du unter keiner Bedingung aufgeben,
jetzt erst recht ....! jetzt sollst Du erst recht die Hände frei
bekommen.
Loth sie innig küssend. Liebes, edles Geschöpf! ......
Helene. Hast Du mich wirklich lieb ...? ... Wirklich? ... wirklich?
Loth. Wirklich.
Helene. Sag hundert Mal wirklich?
Loth. Wirklich, wirklich und wahrhaftig.
Helene. Ach, weißt Du! Du schummelst!
Loth. Das wahrhaftig gilt hundert wirklich.
Helene. So!? wohl in Berlin?
Loth. Nein, eben in Witzdorf.
Helene. Ach, Du! ... Sieh meinen kleinen Finger und lache nicht.
Loth. Gern.
Helene. Hast Du au—ßer Dei—ner er—sten Braut noch andere
ge....? Du! Du lachst.
Loth. Ich will Dir was im Ernst sagen, Liebste, ich halte es für
meine Pflicht .... Ich habe mit einer großen Anzahl Frauen ...
Helene schnell und heftig auffahrend, drückt ihm den Mund zu. Um Gott
...! sag’ mir das einmal — später — wenn wir alt sind .... nach
Jahren — wenn ich Dir sagen werde: jetzt — hörst Du! nicht eher.
Loth. Gut! wie Du willst.
Helene. Lieber was Schönes jetzt! ... Paß auf: sprich mir mal das
nach:
Loth. Was?
Helene. „Ich hab’ Dich —
Loth. „Ich hab’ Dich —
Helene. „und nur immer Dich —
Loth. „und nur immer Dich —
Helene. „geliebt — geliebt Zeit meines Lebens —
Loth. „geliebt — geliebt Zeit meines Lebens —
Helene. „und werde nur Dich allein Zeit meines Lebens lieben.“
Loth. „und werde nur Dich allein Zeit meines Lebens lieben,“ und
das ist wahr, so wahr ich ein ehrlicher Mann bin.
Helene freudig. Das hab ich nicht gesagt.
Loth. Aber ich. Küsse. ...
Helene summt ganz leise. Du, Du liegst mir im Her—zen ....
Loth. Jetzt sollst Du auch beichten.
Helene. Alles, was Du willst.
Loth. Beichte! Bin ich der erste?
Helene. Nein.
Loth. Wer?
Helene übermüthig herauslachend. Koahl-Willem.
Loth lachend. Wer noch?
Helene. Ach nein! weiter ist es wirklich Keiner. Du mußt mir
glauben ... Wirklich nicht. Warum sollte ich denn lügen ...?
Loth. Also doch noch Jemand?
Helene heftig. Bitte, bitte, bitte, bitte, frag’ mich jetzt nicht darum.
Versteckt das Gesicht in den Händen, weint scheinbar ganz unvermittelt.
Loth. Aber ..... aber Lenchen! ich dringe ja durchaus nicht in Dich.
Helene. Später! alles, alles später.
Loth. Wie gesagt, Liebste ....
Helene. S’ war Jemand — mußt Du wissen — den ich, ... weil ...
weil er unter schlechten mir weniger schlecht vorkam. Jetzt ist das
ganz anders. Weinend an Loth’s Halse, stürmisch. Ach, wenn ich doch gar
nicht mehr von Dir fort müßte! Am liebsten ginge ich gleich auf der
Stelle mit Dir.
Loth. Du hast es wohl sehr schlimm hier im Hause?
Helene. Ach, Du! — Es ist ganz entsetzlich, wie es hier zugeht;
ein Leben wie — das ..... wie das liebe Vieh, — ich wäre darin
umgekommen ohne Dich — mich schaudert’s!
Loth. Ich glaube, es würde dich beruhigen, wenn Du mir alles
offen sagtest, Liebste!
Helene. Ja freilich! aber — ich bring’s nicht über mich. Jetzt nicht
..... jetzt noch nicht! — Ich fürcht’ mich förmlich.
Loth. Du warst in der Pension?
Helene. Die Mutter hat es bestimmt — auf dem Sterbebett noch.
Loth. Auch Deine Schwester war ....?
Helene. Nein! — die war immer zu Hause ... Und als ich dann nun
vor vier Jahren wiederkam, da fand ich — einen Vater — der .... eine
Stiefmutter — die .... eine Schwester ... rath mal, was ich meine!
Loth. Deine Stiefmutter ist zänkisch. — Nicht? — Vielleicht
eifersüchtig? — lieblos?
Helene. Der Vater ....?
Loth. Nun! — der wird aller Wahrscheinlichkeit nach in ihr Horn
blasen. — Tyrannisirt sie ihn vielleicht?
Helene. Wenn’s w e i t e r nichts wär ... Nein! ... es ist zu
entsetzlich! — Du kannst nicht darauf kommen — daß .... daß d e r
— mein Vater .... daß es mein Vater war — den — Du ....
Loth. Weine nur nicht, Lenchen! .... siehst Du — nun möcht ich
beinah ernstlich darauf dringen, daß Du mir ...
Helene. Nein! es geht nicht! Ich habe noch nicht die Kraft — es
— Dir ....
Loth. Du reibst Dich auf, so.
Helene. Ich schäme mich zu bodenlos! — Du ... Du wirst mich
fortstoßen, fortjagen ....! Es ist über alle Begriffe .... Ekelhaft ist es!
Loth. Lenchen, Du kennst mich nicht — sonst würd’st Du mir so
etwas nicht zutrauen. — Fortstoßen! fortjagen! Komme ich Dir denn
wirklich so brutal vor?
Helene. Schwager Hoffmann sagte: Du würdest — kaltblütig ....
Ach nein! nein! nein! das thust Du doch nicht! gelt? — Du schreitest
nicht über mich weg? thu es nicht!! — Ich weiß nicht — was — dann
noch aus — mir werden sollte.
Loth. Ja, aber das ist ja Unsinn! Ich hätte ja gar keinen Grund
dazu.
Helene. Also Du hältst es doch für möglich?!
Loth. Nein! — eben n i c h t.
Helene. Aber wenn Du Dir einen Grund ausdenken kannst.
Loth. Es gäbe allerdings Gründe, aber — die stehen nicht in
Frage.
Helene. Und solche Gründe?
Loth. Nur, wer mich zum Verräther meiner selbst machen wollte,
über den müßte ich hinweggehen.
Helene. Das will ich gewiß nicht — aber ich werde halt das Gefühl
nicht los.
Loth. Was für ein Gefühl, Liebste?
Helene. Es kommt vielleicht daher: ich bin so dumm! — Ich hab’
gar nichts in mir. Ich weiß nicht mal, was das ist, Grundsätze. —
Gelt? das ist doch schrecklich. Ich lieb’ Dich nur so einfach! — aber
Du bist so gut, so groß — und hast so viel in Dir. Ich habe solche
Angst, Du könntest doch noch mal merken — wenn ich was Dummes
sage — oder mache — daß es doch nicht geht, .... daß ich doch viel
zu einfältig für Dich bin .... Ich bin wirklich schlecht und dumm wie
Bohnenstroh.
Loth. Was soll ich dazu sagen?! Du bist mir alles in allem! Alles in
allem bist Du mir! Mehr weiß ich nicht.
Helene. Und gesund bin ich ja auch .....
Loth. Sag’ mal! sind Deine Eltern gesund?
Helene. Ja, das wohl! das heißt: die Mutter ist am Kindbettfieber
gestorben. Vater ist noch gesund; er muß sogar eine sehr starke
Natur haben. Aber ....
Loth. Na! — siehst Du; also ...
Helene. Und wenn die Eltern nun nicht gesund wären —?
Loth küßt Helene. Sie sind’s ja doch, Lenchen.
Helene. Aber wenn sie es nicht wären —?
F r a u K r a u s e stößt ein Wohnhausfenster auf und ruft in den Hof.
Frau Krause. Ihr Madel! Ihr Maa..del!!
Liese aus dem Kuhstall. Frau Krausen!?
Frau Krause. Renn’ zur Müllern! S’ giht luus!
Liese. Wa—a, zur Hebomme Millern, meen’ Se?
Frau Krause. Na? lei’st uff a Uhr’n? Sie schlägt das Fenster zu.
Liese rennt in den Stall und dann mit einem Tüchelchen um den Kopf zum Hofe
hinaus. Frau Spiller erscheint in der Hausthür.
Frau Spiller ruft. Fräulein Helene! ... Gnädiges Fräulein Helene!
Helene. Was nur da los sein mag?
Frau Spiller sich der Laube nähernd. Fräulein Helene.
Helene. Ach! das wird’s sein! — die Schwester. Geh fort! da
herum. Loth schnell links vorn ab. Helene tritt aus der Laube.
Frau Spiller. Fräulein .....! Ach da sind Sie endlich.
Helene. Was is denn?
Frau Spiller. Aach — m — bei Frau Schwester flüstert ihr etwas in’s
Ohr — m — m —
Helene. Mein Schwager hat anbefohlen, für den Fall sofort nach
dem Arzt zu schicken.
Frau Spiller. Gnädiges Fräulein — m — sie will doch aber — m —
will doch aber keinen Arzt — m — Die Aerzte, aach die — m —
Aerzte! — m — mit Gottes Beistand ...
Miele kommt aus dem Hause.
Helene. Miele! gehen Sie augenblicklich zum Dr.
Schimmelpfennig.
Frau Spiller. Aber Fräulein ...
Frau Krause aus dem Fenster, gebieterisch. Miele! Du kimmst ruff!
Helene ebenso. Sie gehen zum Arzt, Miele. Miele zieht sich in’s Haus
zurück. Nun, dann will ich selbst .... Sie geht in’s Haus und kommt, den
Strohhut am Arm, sogleich zurück.
Frau Spiller. Dann — m — wird es schlimm. Wenn Sie den Arzt
holen — m — gnädiges Fräulein, dann — m — wird es gewiß
schlimm.
Helene geht an ihr vorüber. F r a u S p i l l e r zieht sich kopfschüttelnd ins Haus
zurück. Als Helene in die Hofeinfahrt biegt steht Kahl am Grenzzaun.
Kahl ruft Helenen zu. Woas iis denn bei Eich luus?
Helene hält im Lauf nicht inne, noch würdigt sie Kahl eines Blickes oder einer
Antwort.
Kahl lachend. Ihr ha’t wull Schweinschlachta?
Fünfter Akt.
Das Zimmer wie im ersten Akt. Zeit: gegen 2 Uhr Nachts. Im Zimmer herrscht
Dunkelheit. Durch die offene Mittelthür dringt Licht aus dem erleuchteten Hausflur.
Deutlich beleuchtet ist auch noch die Holztreppe in dem ersten Stock. Alles in
diesem Akt — bis auf wenige Ausnahmen — wird in einem gedämpften Tone
gesprochen.
Eduard mit Licht tritt durch die Mittelthür ein. Er entzündet die Hängelampe
über dem Ecktisch (Gasbeleuchtung). Als er damit beschäftigt ist, kommt Loth
ebenfalls durch die Mittelthür.
Eduard. Ja ja! — bei d i e Zucht ... ’t muß reen unmenschen
meglich sint, een Oge zuzuthun.
Loth. Ich wollte nicht mal schlafen. Ich habe geschrieben.
Eduard. Ach wat! Er steckt an. So! — na jewiß! — et mag ja woll
schwer jenug sin .... Wünschen der Herr Doktor vielleicht Dinte und
Feder?
Loth. Am Ende ... wenn Sie so freundlich sein wollen, Herr
Eduard.
Eduard, indem er Dinte und Feder auf den Tisch setzt. Ick menn all
immer, was ’n ehrlicher Mann is, der muß Haut und Knochen
dransetzen um jeden lumpichten Jroschen. Nich mal det bisken
Nachtruhe hat man. — Immer vertraulicher. Aber d i e Nation hier, die
duht reen jar nischt; so’n faules, nichtsnutziges Pack, so’n ... Der
Herr Doktor mussen jewiß ooch all dichtig in’t Zeuch jehn, um det
bisken Lebensu n t e r h a l t wie alle ehrlichen Leute.
Loth. Wünschte, ich brauchte es nicht!
Eduard. Na, wat meen’ Se woll! ick ooch!
Loth. Fräulein Helene ist wohl bei ihrer Schwester?
Eduard. Allet wat wahr is: d’ is ’n jutes Mä’chen! jeht ihr nich von
der Seite.
Loth sieht auf die Uhr. Um 11 Uhr früh begannen die Wehen. Sie
dauern also ... fünfzehn Stunden dauern sie jetzt bereits. —
Fünfzehn lange Stunden —!
Eduard. Weeß Jott! — und det benimen se nu ’t schwache
Jeschlecht — sie jappt aber ooch man nur noch so.
Loth. Herr Hoffmann ist auch oben!?
Eduard. Und ick sag Ihnen, ’t reene Weib.
Loth. Das mit anzusehen ist wohl auch keine Kleinigkeit.
Eduard. I! nu! det will ick meenen! Na! eben is Doktor
Schimmelpfennig zujekommen. Det is ’n Mann, sag ick Ihnen: jrob
wie ’ne Sackstrippe, aber — Zucker is ’n dummer Junge dajejen.
Sagen Sie man bloß, wat it aus det olle Berlin .... Er unterbricht sich mit
einem Jott Strambach! da Hoffmann und der Doktor die Treppe herunter
kommen.
H o f f m a n n und D o k t o r S c h i m m e l p f e n n i g treten ein.
Hoffmann. Jetzt — bleiben Sie doch wohl bei uns.
Dr. Schimmelpfennig. Ja! jetzt werde ich hier bleiben.
Hoffmann. Das ist mir eine große, große Beruhigung. — Ein Glas
Wein ...? Sie trinken doch ein Glas Wein, Herr Doktor!?
Dr. Schimmelpfennig. Wenn Sie etwas thun wollen, dann lassen
Sie mir schon lieber eine Tasse Kaffee brauen.
Hoffmann. Mit Vergnügen. — Eduard! Kaffee für Herrn Doktor!
Eduard ab. Sie sind .....? Sind Sie zufrieden mit dem Verlauf?
Dr. Schimmelpfennig. So lange Ihre Frau Kraft behält, ist
jedenfalls directe Gefahr nicht vorhanden. Warum haben Sie
übrigens die junge Hebamme nicht zugezogen? Ich hatte Ihnen doch
eine empfohlen, so viel ich weiß.
Hoffmann. Meine Schwiegermama ... was soll man machen?
Wenn ich ehrlich sein soll: auch meine Frau hatte kein Vertrauen zu
der jungen Person.
Dr. Schimmelpfennig. Und zu diesem fossilen Gespenst haben
Ihre Damen Vertrauen?! Wohl bekomms! — Sie möchten gern
wieder hinauf?
Hoffmann. Ehrlich gesagt: ich habe nicht viel Ruhe hier unten.
Dr. Schimmelpfennig. Besser wär’s freilich, Sie gingen irgend
wohin, aus dem Hause.
Hoffmann. Beim besten Willen das .... ach, Loth! da bist Du ja
auch noch. Loth erhebt sich von dem Sopha im dunklen Vordergrunde und geht
auf die beiden zu.
Dr. Schimmelpfennig aufs Aeußerste überrascht. Donnerwetter!
Loth. Ich hörte schon, daß Du hier seist. Morgen hätte ich Dich
unbedingt aufgesucht.
Beide schütteln sich tüchtig die Hände. Hoffmann benutzt den Augenblick, am
Buffet schnell ein Glas Cognac hinunterzuspülen, darauf dann sich auf den Zehen
hinaus und die Holztreppe hinauf zu schleichen.
Das Gespräch der beiden Freunde steht am Anfang unverkennbar unter dem
Einfluß einer gewissen leisen Zurückhaltung.
Dr. Schimmelpfennig. Du hast also wohl ... hahaha die alte,
dumme Geschichte vergessen? Er legt Hut und Stock bei Seite.
Loth. Längst vergessen, Schimmel!
Dr. Schimmelpfennig. Na, ich auch! das kannst Du Dir denken.
— Sie schütteln sich nochmals die Hände. Ich habe in dem Nest hier so
wenig freudige Ueberraschungen gehabt, daß mir die Sache ganz
curios vorkommt. Merkwürdig! Gerade hier treffen wir uns. —
Merkwürdig!
Loth. Rein verschollen bist Du ja, Schimmel! Hätte Dich sonst
längst mal umgestoßen.
Dr. Schimmelpfennig. Unter Wasser gegangen wie ein
Seehund. Tiefseeforschungen gemacht. In anderthalb Jahren etwa
hoffe ich wieder aufzutauchen. Man muß materiell unabhängig sein,
wissen Sie ... weißt Du! wenn man etwas Brauchbares leisten will.
Loth. Also Du machst a u c h Geld hier?
Dr. Schimmelpfennig. Natürlicherweise und zwar so viel als
möglich. Was sollte man hier auch anderes thun?
Loth. Du hätt’st doch mal was von Dir hören lassen sollen.
Dr. Schimmelpfennig. Erlauben Sie ... erlaube, hätte ich von
mir was hören lassen, dann hätte ich von Euch was wieder gehört,
und ich wollte durchaus nichts hören. Nichts, — gar nichts, das hätte
mich höchstens von meiner Goldwäscherei abhalten können.
Beide gehen langsamen Schritts auf und ab im Zimmer.
Loth. Na ja — Du kannst Dich dann aber auch nicht wundern, daß
sie ... nämlich ich muß Dir sagen, sie haben Dich eigentlich alle,
durch die Bank, aufgegeben.
Dr. Schimmelpfennig. Sieht ihnen ähnlich. — Bande! — sollen
schon was merken.
Loth. Schimmel, genannt: das Rauhbein!
Dr. Schimmelpfennig. Du solltest nur sechs Jahre unter diesen
Bauern gelebt haben. Himmelhunde alle miteinander.
Loth. Das kann ich mir denken. — Wie bist Du denn gerade nach
Witzdorf gekommen?
Dr. Schimmelpfennig. Wie’s so geht. Damals mußte ich doch
auskneifen, von Jena weg.
Loth. War das vor meinem Reinfall?
Dr. Schimmelpfennig. Ja wohl. Kurze Zeit nachdem wir unser
Zusammenleben aufgesteckt hatten. In Zürich legte ich mich dann
auf die Medicinerei, zunächst um etwas für den Nothfall zu haben;
dann fing aber die Sache an mich zu interessiren, und jetzt bin ich
mit Leib und Seele Medicus.
Loth. Und hierher ...? Wie kamst Du hier her?
Dr. Schimmelpfennig. Ach so! — einfach! Als ich fertig war, da
sagte ich mir: nun vor allen Dingen einen hinreichenden Haufen
Kies. Ich dachte an Amerika, Süd- und Nord-Amerika, an Afrika,
Australien, die Sundainseln .... am Ende fiel mir ein, daß mein
Knabenstreich ja mittlerweile verjährt war; da habe ich mich denn
entschlossen in die Mausefalle zurückzukriechen.
Loth. Und Dein Schweizer-Examen?
Dr. Schimmelpfennig. Ich mußte eben die Geschichte hier noch
mal über mich ergehen lassen.
Loth. Du hast also das Staatsexamen zwei Mal gemacht, Kerl!?
Dr. Schimmelpfennig. Ja! — Schließlich habe ich dann
glücklicherweise diese fette Weide hier ausfindig gemacht.
Loth. Du bist zähe, zum Beneiden.
Dr. Schimmelpfennig. Wenn man nur nicht plötzlich mal
zusammenklappt. — Na! schließlich ist’s auch kein Unglück.
Loth. Hast Du denn ’ne große Praxis?
Dr. Schimmelpfennig. Ja! Mitunter komme ich erst um fünf Uhr
früh zu Bett. Um sieben Uhr fängt dann bereits wieder meine
Sprechstunde an.
Eduard kommt und bringt Kaffee.
Dr. Schimmelpfennig, indem er sich am Tisch niederläßt, zu Eduard.
Danke Eduard! — Zu Loth. Kaffee saufe ich ... unheimlich.
Loth. Du solltest das lieber lassen mit dem Kaffee.
Dr. Schimmelpfennig. Was soll man machen?! Er nimmt kleine
Schlucke. Wie gesagt — ein Jahr noch, dann — hört’s auf ...
hoffentlich wenigstens.
Loth. Willst Du dann gar nicht mehr practiciren?
Dr. Schimmelpfennig. Glaube nicht. Nein ... nicht mehr. Er
schiebt das Tablette mit dem Kaffeegeschirr zurück, wischt sich den Mund.
Uebrigens — zeig’ mal Deine Hand. Loth hält ihm beide Hände hin. Nein?
— keine Dalekarlierin heimgeführt? — Keine gefunden, wie? ....
Wolltest doch immer so ’n Ur- und Kernweib von wegen des
gesunden Blutes. Hast übrigens recht: wenn schon, denn schon ...
oder nimmst Du’s in dieser Beziehung etwa nicht mehr so genau?
Loth. Na ob ...! und wie!
Dr. Schimmelpfennig. Ach, wenn die Bauern hier doch auch
solche Ideen hätten. Damit sieht’s aber jämmerlich aus, sage ich Dir,
Degeneration auf der ganzen ... Er hat seine Cigarrentasche halb aus der
Brusttasche gezogen, läßt sie aber wieder zurückgleiten und steht auf, als irgend
ein Laut durch die nur angelehnte Hausflurthür hereindringt. Wart’ mal! Er geht
auf den Zehen bis zur Hausflurthür und horcht. Eine Thür geht draußen, man hört
einige Augenblicke deutlich das Wimmern der Wöchnerin. Der Doktor sagt, zu Loth
gewandt, leise: Entschuldige! und geht hinaus.
Einige Augenblicke durchmißt Loth, während draußen Thüren schlagen,
Menschen die Treppe auf- und ablaufen, das Zimmer; dann setzt er sich in den
Lehnsessel rechts vorn. Helene huscht herein und umschlingt Loth, der ihr
Kommen nicht bemerkt hat, von rückwärts.
Loth sich umblickend, sie ebenfalls umfassend. Lenchen!! Er zieht sie zu
sich herunter und trotz gelinden Sträubens auf sein Knie. Helene weint unter den
Küssen, die er ihr giebt. Ach, weine doch nicht, Lenchen! Warum weinst
Du denn so sehr?
Helene. Warum? weiß ich’s?! .... Ich denk immer, ich treff’ Dich
nicht mehr. Vorhin habe ich mich so erschrocken ....
Loth. Weshalb denn?
Helene. Weil ich Dich aus Deinem Zimmer treten hörte — Ach! ...
und die Schwester — wir armen, armen Weiber! — die muß zu sehr
ausstehen.
Loth. Der Schmerz vergißt sich schnell und auf den Tod geht’s ja
nicht.
Helene. Ach, Du! sie wünscht sich ihn ja ... sie jammert nur
immer so: laß mich doch sterben ... Der Doktor! Sie springt auf und
huscht in den Wintergarten.
Dr. Schimmelpfennig im Hereintreten. Nun wünschte ich wirklich,
daß sich das Frauchen da oben ’n bissel beeilte! Er läßt sich am Tisch
nieder, zieht neuerdings die Cigarrentasche, entnimmt ihr eine Cigarre und legt
diese neben sich. Du kommst mit zu mir dann, wie? — hab’ draußen so
’n nothwendiges Uebel mit zwei Gäulen davor, da können wir drin zu
mir fahren. Seine Cigarre an der Tischkante klopfend. Der süße Ehestand!
ja, ja! Ein Zündholz anstreichend. Also noch frisch, frei, fromm, froh?
Loth. Hättest noch gut ein Paar Tage warten können mit Deiner
Frage.
Dr. Schimmelpfennig bereits mit brennender Cigarre. Wie? ... ach ...
ach so! — lachend — also endlich doch auf meine Sprünge
gekommen.
Loth. Bist Du wirklich noch so entsetzlich pessimistisch in Bezug
auf Weiber?
Dr. Schimmelpfennig. Ent—setzlich!! Dem Rauch seiner Cigarre
nachblickend. Früher war ich Pessimist — so zu sagen ahnungsweise
...
Loth. Hast Du denn inzwischen so besondere Erfahrungen
gemacht?
Dr. Schimmelpfennig. Ja, allerdings! — Auf meinem Schilde
steht nämlich: Specialist für Frauenkrankheiten. — Die medicinische
Praxis macht nämlich furchtbar klug ... furchtbar — gesund, ... ist
Specificum gegen ... allerlei Staupen!
Loth lacht. Na, da könnten wir ja gleich wieder in der alten Tonart
anfangen. Ich hab’ nämlich ... ich bin nämlich keineswegs auf Deine
Sprünge gekommen. Jetzt weniger als je! ... Auf diese Weise hast Du
wohl auch Dein Steckenpferd vertauscht?
Dr. Schimmelpfennig. Steckenpferd?
Loth. Die Frauenfrage war doch zu damaliger Zeit gewissermaßen
Dein Steckenpferd!
Dr. Schimmelpfennig. Ach so! — Warum sollte ich es vertauscht
haben?
Loth. Wenn Du über die Weiber noch schlechter denkst, als ...
Dr. Schimmelpfennig ein wenig in Harnisch, erhebt sich und geht hin
und her, dabei spricht er. Ich — denke nicht schlecht von den Weibern.
— Kein Bein! — Nur über das Heirathen denke ich schlecht ... über
die Ehe ... über die Ehe, und dann höchstens noch über die Männer
denke ich schlecht ... Die Frauenfrage soll mich nicht mehr
interessiren? Ja, weshalb hätte ich denn sonst sechs lange Jahre hier
wie ’n Lastpferd gearbeitet? Doch nur um alle meine verfügbaren
Kräfte endlich mal ganz der Lösung dieser Frage zu widmen.
Wußtest Du denn das nicht von Anfang an?
Loth. Wo hätte ich’s denn h e r wissen sollen?
Dr. Schimmelpfennig. Na, wie gesagt ... ich hab auch schon ein
ziemlich ausgiebiges Material gesammelt, das mir gute Dienste
leisten ... bsst! ich hab’ mir das Schreien so angewöhnt. Er schweigt,
horcht, geht zur Thür und kommt zurück. Was hat D i c h denn eigentlich
unter die Goldbauern geführt?
Loth. Ich möchte die hiesigen Verhältnisse studiren.
Dr. Schimmelpfennig mit gedämpfter Stimme. Idee! Noch leiser. Da
kannst Du bei mir auch Material bekommen.
Loth. Freilich, Du mußt ja sehr unterrichtet sein über die
Zustände hier. Wie sieht es denn so in den Familien aus?
Dr. Schimmelpfennig. E—lend! ..... durchgängig ... Suff!
Völlerei, Inzucht und in Folge davon — Degenerationen auf der
ganzen Linie.
Loth. Mit Ausnahmen doch!?
Dr. Schimmelpfennig. Kaum!
Loth unruhig. Bist Du denn nicht zuweilen in ... in Versuchung
gerathen eine ... eine Witzdorfer Goldtochter zu heirathen?
Dr. Schimmelpfennig. Pfui Teufel! Kerl, für was hältst Du mich?
— Ebenso könntest Du mich fragen, ob ich ...
Loth sehr bleich. Wie... wieso?
Dr. Schimmelpfennig. Weil ... Ist Dir was? Er fixirt ihn einige
Augenblicke.
Loth. Gar nichts! Was soll mir denn sein?
Dr. Schimmelpfennig ist plötzlich sehr nachdenklich, geht und steht jäh
und mit einem leisen Pfiff still, blickt Loth abermals flüchtig an und sagt dann
halblaut zu sich selbst. Schlimm!
Loth. Du bist ja so sonderbar plötzlich.
Dr. Schimmelpfennig. Still! Er horcht auf und verläßt dann schnell das
Zimmer durch die Mittelthür.
Helene nach einigen Augenblicken durch die Mittelthür; sie ruft. Alfred! —
Alfred! ... Ach da bist Du — Gott sei Dank!
Loth. Nun, ich sollte wohl am Ende gar fortgelaufen sein?
Umarmung.
Helene biegt sich zurück. Mit unverkennbarem Schrecken im Ausdruck.
Alfred!
Loth. Was denn, Liebste?
Helene. Nichts, nichts!
Loth. Aber Du mußt doch was haben?
Helene. Du kamst mir so ... so kalt ... Ach, ich hab’ solche
schrecklich dumme Einbildungen.
Loth. Wie stehts’s denn oben?
Helene. Der Doktor zankt mit der Hebamme.
Loth. Wird’s nicht bald zu Ende gehen?
Helene. Weiß ich’s? — Aber wenn’s ... wenn’s zu Ende ist, meine
ich, dann ...
Loth. Was dann? .... Sag’ doch, bitte! was wolltest Du sagen?
Helene. Dann sollten wir bald von hier fortgehen. Gleich! Auf der
Stelle!
Loth. Wenn Du das wirklich für das Beste hältst, Lenchen —
Helene. Ja, ja! wir dürfen nicht warten! Es ist das Beste — für
Dich und mich. Wenn Du mich nicht jetzt bald nimmst, dann läßt Du
mich heilig noch sitzen, und dann ... dann ... muß ich doch noch zu
Grunde gehen.
Loth. Wie Du doch mißtrauisch bist, Lenchen!
Helene. Sag’ das nicht, Liebster! Dir traut man, Dir muß man
trauen! .... Wenn ich erst Dein bin, dann ... Du verläßt mich dann
ganz gewiß nicht mehr. Wie außer sich. Ich beschwöre Dich! geh nicht
fort! Verlaß mich doch nur nicht. Geh — nicht fort, Alfred! Alles ist
aus, alles, wenn Du einmal ohne mich von hier fortgehst.
Loth. Merkwürdig bist Du doch! .... Und da willst Du nicht
mißtrauisch sein? ... Oder sie plagen Dich, martern Dich hier ganz
entsetzlich, mehr als ich mir je .... Jedenfalls gehen wir aber noch
diese Nacht. Ich bin bereit. Sobald Du willst, gehen wir also.
Helene gleichsam mit aufjauchzendem Dank ihm um den Hals fallend.
Geliebter! Sie küßt ihn wie rasend und eilt schnell davon.
Dr. Schimmelpfennig tritt durch die Mitte ein, er bemerkt noch, wie Helene in
der Wintergartenthür verschwindet.
Dr. Schimmelpfennig. Wer war das? — Ach so! In sich hinein.
Armes Ding! Er läßt sich mit einem Seufzer am Tisch nieder, findet die alte
Cigarre, wirft sie bei Seite, entnimmt dem Etui eine frische Cigarre und fängt an,
sie an der Tischkante zu klopfen, wobei er nachdenklich darüber hinausstarrt.
Loth, der ihm zuschaut. Genau so pflegtest Du vor acht Jahren jede
Cigarre abzuklopfen, eh’ Du zu rauchen anfingst.
Dr. Schimmelpfennig. Möglich —! Als er mit Anrauchen fertig ist.
Hör’ mal, Du!
Loth. Ja, was denn?
Dr. Schimmelpfennig. Du wirst doch — so bald die Geschichte
oben vorüber ist, mit zu mir kommen?
Loth. Das geht wirklich nicht! Leider.
Dr. Schimmelpfennig. Man hat so das Bedürfniß, sich mal
wieder gründlich von der Leber weg zu äußern.
Loth. Das hab ich so genau wie Du. Aber gerade daraus kannst
Du sehen, daß es heut absolut nicht in meiner Macht steht, mit Dir
....
Dr. Schimmelpfennig. Wenn ich Dir nun aber ausdrücklich und
— gewissermaßen feierlich erkläre: es ist eine bestimmte, äußerst
wichtige Angelegenheit, die ich mit Dir noch diese Nacht besprechen
möchte .... besprechen muß sogar, Loth!
Loth. Curios! Für blutigen Ernst soll ich doch das nicht etwa
hinnehmen?! Doch wohl nicht? — So viel Jahre hätt’st Du damit
gewartet und nun hätte es nicht einen Tag mehr Zeit damit? — Du
kannst Dir doch wohl denken, daß ich Dir keine Flausen vormache.
Dr. Schimmelpfennig. Also hat’s doch seine Richtigkeit! Er steht
auf und geht umher.
Loth. Was hat seine Richtigkeit?
Dr. Schimmelpfennig, vor Loth still stehend, mit einem geraden Blick in
seine Augen. Es ist also wirklich etwas im Gange zwischen Dir und
Helene Krause?
Loth. Ich? — Wer hat Dir denn ...?
Dr. Schimmelpfennig. Wie bist Du nur in diese Familie ....?
Loth. Woher — weißt Du denn das, Mensch?
Dr. Schimmelpfennig. Das war ja doch nicht schwer zu
errathen.
Loth. Na, dann halt um Gottes Willen den Mund, daß nicht ....
Dr. Schimmelpfennig. Ihr seid also richtig verlobt?!
Loth. Wie man’s nimmt. Jedenfalls sind wir beide einig.
Dr. Schimmelpfennig. Hm —! wie bist Du denn hier herein
gerathen, gerade in d i e s e Familie?
Loth. Hoffmann ist ja doch mein Schulfreund. Er war auch
Mitglied — auswärtiges allerdings — Mitglied meines Colonial-
Vereins.
Dr. Schimmelpfennig. Von der Sache hörte ich in Zürich. — Also
mit Dir ist er umgegangen! Auf diese Weise wird mir der traurige
Zwitter erklärlich.
Loth. Ein Zwitter ist er allerdings.
Dr. Schimmelpfennig. Eigentlich nicht mal d a s. — Ehrlich, Du!
— Ist das wirklich Dein Ernst? — die Geschichte mit der Krause?
Loth. Na, selbstverständlich! — Zweifelst Du daran? Du wirst mich
doch nicht etwa für einen Schuft ...
Dr. Schimmelpfennig. Schon gut! Ereifere Dich nur nicht. Hättst
Dich ja verändert haben können während der langen Zeit. Warum
nicht? Wär auch gar kein Nachtheil! N’ bissel Humor könnte Dir gar
nicht schaden! Ich seh’ nicht ein, warum man alles so verflucht
ernsthaft nehmen sollte.
Loth. Ernst ist es mir mehr als je. Er erhebt sich und geht, immer ein
wenig zurück, neben Schimmelpfennig her. Du kannst es ja nicht wissen,
auch sagen kann ich Dir’s nicht mal, was dieses Verhältniß für mich
bedeutet.
Dr. Schimmelpfennig. Hm!
Loth. Kerl, Du hast keine Idee, was das für ein Zustand ist. Man
kennt ihn nicht, wenn man sich danach sehnt. Kennte man ihn,
dann, dann müßte man geradezu unsinnig werden vor Sehnsucht.
Dr. Schimmelpfennig. Das begreife der Teufel, wie Ihr zu dieser
unsinnigen Sehnsucht kommt.
Loth. Du bist auch noch nicht sicher davor.
Dr. Schimmelpfennig. Das möcht ich mal sehen.
Loth. Du redst wie der Blinde von der Farbe.
Dr. Schimmelpfennig. Was ich mir für das bischen Rausch
koofe! Lächerlich. Daraus eine lebenslängliche Ehe zu bauen .... da
baut man noch nicht mal so sicher als auf’n Sandhaufen.
Loth. Rausch — Rausch — wer von einem Rausch redet, — na!
der kennt die Sache eben nicht. ’N Rausch ist flüchtig. Solche
Räusche hab ich schon gehabt, ich geb’s zu. Aber d a s ist was ganz
Anderes.
Dr. Schimmelpfennig. Hm!
Loth. Ich bin dabei vollständig nüchtern. Denkst Du, daß ich
meine Liebste so — na, wie soll ich sagen?! — so mit ’ner — na, wie
soll ich sagen?! mit ner großen Glorie sehe? Gar nicht! — Sie hat
Fehler, ist auch nicht besonders schön, wenigstens — na, häßlich ist
sie auch gerade nicht. Ganz objectiv geurtheilt, ich — das ist ja
schließlich Geschmackssache — ich hab’ so’n hübsches Mädel noch
nicht gesehen. Also, Rausch — Unsinn! Ich bin ja so nüchtern wie
nur möglich. Aber, siehst Du! d a s ist eben das Merkwürdige: ich
kann mich gar nicht mehr ohne sie denken — das kommt mir so vor
wie ’ne Legirung, weißt Du, wie wenn zwei Metalle so recht innig
legirt sind, daß man gar nicht mehr sagen kann, das ist d a s, das ist
d a s. Und alles so furchtbar selbstverständlich — kurzum, ich
quatsche vielleicht Unsinn — oder was ich sage, ist vielleicht in
Deinen Augen Unsinn, aber so viel steht fest: wer das nicht kennt,
ist ’n erbärmlicher Frosch. Und so’n Frosch war ich bisher — und so’n
Jammerfrosch bist Du noch.
Dr. Schimmelpfennig. Das ist ja richtig der ganze Symptomen-
Complex. — Daß Ihr Kerls doch immer bis über die Ohren in Dinge
hineingerathet, die Ihr theoretisch längst verworfen habt, wie zum
Beispiel Du die Ehe. So lange ich Dich kenne, laborirst Du an dieser
unglückseligen Ehemanie.
Loth. Es ist Trieb bei mir, geradezu Trieb. Weiß Gott! mag ich mich
wenden, wie ich will.
Dr. Schimmelpfennig. Man kann schließlich auch einen Trieb
niederkämpfen.
Loth. Ja, wenn’s ’n Zweck hat, warum nicht?
Dr. Schimmelpfennig. Hat’s Heirathen etwa Zweck?
Loth. Das will ich meinen. Das hat Zweck! Bei mir hat es Zweck.
Du weißt nicht, wie ich mich durchgefressen hab’ bis hierher. Ich
mag nicht sentimental werden. Ich hab’s auch vielleicht nicht so
gefühlt, es ist mir vielleicht nicht ganz so klar bewußt geworden wie
jetzt, daß ich in meinem Streben etwas entsetzlich Ödes, gleichsam
Maschinenmäßiges angenommen hatte. Kein Geist, kein
Temperament, kein Leben, ja wer weiß, war noch Glauben in mir?
Das alles kommt seit ... seit heut wieder in mich gezogen. So
merkwürdig voll, so ursprünglich, so fröhlich ... Unsinn, Du capirst’s
ja doch nicht.
Dr. Schimmelpfennig. Was Ihr da alles nöthig habt, um flott zu
bleiben, Glaube, Liebe, Hoffnung. Für mich ist das Kram. Es ist eine
ganz simple Sache: die Menschheit liegt in der Agonie, und unser
einer macht ihr mit Narkoticis die Sache so erträglich als möglich.
Loth. Dein neuester Standpunkt?
Dr. Schimmelpfennig. Schon fünf bis sechs Jahre alt und immer
derselbe.
Loth. Gratulire!
Dr. Schimmelpfennig. Danke!
Eine lange Pause.
Dr. Schimmelpfennig nach einigen unruhigen Anläufen. Die
Geschichte ist leider die: ich halte mich für verpflichtet ... ich schulde
Dir unbedingt eine Aufklärung. Du wirst Helene Krause, glaub ich,
nicht heirathen können.
Loth kalt. So, glaubst Du?
Dr. Schimmelpfennig. Ja, ich bin der Meinung. Es sind da
Hindernisse vorhanden, die gerade Dir ...
Loth. Hör’ mal Du: mach’ Dir darüber um Gottes Willen keine
Scrupel. Die Verhältnisse liegen auch gar nicht mal so complicirt,
sind im Grunde sogar furchtbar einfach.
Dr. Schimmelpfennig. Einfach f u r c h t b a r solltest Du eher
sagen.
Loth. Ich meine, was die Hindernisse anbetrifft.
Dr. Schimmelpfennig. Ich auch zum Theil. Aber auch
überhaupt: ich kann mir nicht denken, daß Du diese Verhältnisse
hier kennen solltest.
Loth. Ich kenne sie aber doch ziemlich genau.
Dr. Schimmelpfennig. Dann mußt Du nothwendigerweise Deine
Grundsätze geändert haben.
Loth. Bitte, Schimmel, drück’ Dich etwas deutlicher aus.
Dr. Schimmelpfennig. Du mußt unbedingt Deine
Hauptforderung in Bezug auf die Ehe fallen gelassen haben, obgleich
Du vorhin durchblicken ließt, es käme Dir nach wie vor darauf an,
ein an Leib und Seele gesundes Geschlecht in die Welt zu setzen.
Loth. Fallen gelassen? ... fallen gelassen? Wie soll ich denn das ...
Dr. Schimmelpfennig. Dann bleibt nichts übrig ... dann kennst
Du eben doch die Verhältnisse nicht. Dann weißt Du zum Beispiel
nicht, daß Hoffmann einen Sohn hatte, der mit drei Jahren bereits
am Alkoholismus zu Grunde ging.
Loth. Wa... was — sagst Du?
Dr. Schimmelpfennig. S’ thut mir leid, Loth, aber sagen muß ich
Dir’s doch. Du kannst ja dann noch machen, was Du willst. Die
Sache war kein Spaß. Sie waren gerade wie jetzt zum Besuch hier.
Sie ließen mich holen, eine halbe Stunde zu spät. Der kleine Kerl
hatte längst verblutet.
Loth mit den Zeichen tiefer, furchtbarer Erschütterung an des Doktors Munde
hängend.
Dr. Schimmelpfennig. Nach der Essigflasche hatte das dumme
Kerlchen gelangt in der Meinung, sein geliebter Fusel sei darin. Die
Flasche war herunter- und das Kind in die Scherben gefallen. Hier
unten, siehst Du, die vena saphena, die hatte es sich vollständig
durchschnitten.
Loth. W... w...essen Kind sagst Du ...?
Dr. Schimmelpfennig. Hoffmann’s und eben derselben Frau
Kind, die da oben wieder ... Und auch die trinkt, trinkt bis zur
Besinnungslosigkeit, trinkt, soviel sie bekommen kann.
Loth. Also von Hoffmann ... Hoffmann geht es nicht aus?!
Dr. Schimmelpfennig. Bewahre! Das ist tragisch an dem
Menschen; er leidet darunter, so viel er überhaupt leiden kann. Im
Übrigen hat er’s gewußt, daß er in eine Potatorenfamilie hinein kam.
Der Bauer nämlich kommt überhaupt gar nicht mehr aus dem
Wirthshaus.
Loth. Dann freilich — begreife ich manches — nein! Alles begreife
ich — alles. Nach einem dumpfen Schweigen. Dann ist ihr Leben hier ...
Helenens Leben — ein ... ein — wie soll ich sagen?! mir fehlt der
Ausdruck dafür — ... nicht?
Dr. Schimmelpfennig. Horrend geradezu! Das kann ich
beurtheilen. Daß Du bei ihr hängen bliebst, war mir auch von Anfang
an sehr begreiflich. Aber wie ges...
Loth. Schon gut! — verstehe ... Thut denn ...? Könnte man nicht
vielleicht ... vielleicht könnte man Hoffmann bewegen etwas ...
etwas zu thun? Könntest Du nicht vielleicht — ihn zu etwas
bewegen? Man müßte sie fortbringen aus dieser Sumpfluft.
Dr. Schimmelpfennig. Hoffmann?
Loth. Ja, Hoffmann.
Dr. Schimmelpfennig. Du kennst ihn schlecht ... Ich glaube
zwar nicht, daß er sie schon verdorben hat. Aber ihren Ruf hat er
sicherlich j e t z t schon verdorben.
Loth aufbrausend. Wenn das ist: ich schlag ihn ... Glaubst Du
wirklich ...? hältst Du Hoffmann wirklich für fähig ...?
Dr. Schimmelpfennig. Zu allem, zu allem halte ich ihn fähig,
wenn für ihn ein Vergnügen dabei heraus springt.
Loth. Dann ist sie — das keuscheste Geschöpf, was es giebt ...
Loth nimmt langsam Hut und Stock und hängt sich ein Täschchen um.
Dr. Schimmelpfennig. Was gedenkst Du zu thun, Loth?
Loth. ... Nicht begegnen ...!
Dr. Schimmelpfennig. Du bist also entschlossen?
Loth. Wozu entschlossen?
Dr. Schimmelpfennig. Euer Verhältniß aufzulösen.
Loth. Wie sollt ich wohl dazu nicht entschlossen sein?
Dr. Schimmelpfennig. Ich kann Dir als Arzt noch sagen, daß
Fälle bekannt sind, wo solche vererbte Uebel unterdrückt worden
sind, und Du würdest ja gewiß Deinen Kindern eine rationelle
Erziehung geben.
Loth. Es mögen solche Fälle vorkommen.
Dr. Schimmelpfennig. Und die Wahrscheinlichkeit ist vielleicht
nicht so gering, daß ...
Loth. Das kann uns nichts helfen, Schimmel. So steht es: es giebt
drei Möglichkeiten! Entweder ich heirathe sie, und dann ... nein,
dieser Ausweg existirt überhaupt nicht. Oder — die bewußte Kugel.
Na ja, dann hätte man wenigstens Ruhe. Aber nein! So weit sind wir
noch nicht, so was kann man sich einstweilen noch nicht leisten —
also: leben! kämpfen! — Weiter, immer weiter. Sein Blick fällt auf den
Tisch, er bemerkt das von Eduard zurecht gestellte Schreibzeug, setzt sich, ergreift
die Feder, zaudert, und sagt: Oder am Ende ...?
Dr. Schimmelpfennig. Ich verspreche Dir, ihr die Lage so
deutlich als möglich vorzustellen.
Loth. Ja, ja! — nur eben ... ich kann nicht anders. Er schreibt,
adressirt und couvertirt. Er steht auf und reicht Schimmelpfennig die Hand. Im
Übrigen verlasse ich mich — auf Dich.
Dr. Schimmelpfennig. Du gehst zu mir, wie? Mein Kutscher soll
Dich zu mir fahren.
Loth. Sag’ mal, sollte man denn nicht wenigstens versuchen — sie
aus den Händen dieses ... dieses Menschen zu ziehen? ... Auf diese
Weise wird sie doch unfehlbar noch seine Beute.
Dr. Schimmelpfennig. Guter, bedauernswürdiger Kerl! Soll ich
Dir was rathen? Nimm ihr nicht das ... Wenige, was Du ihr noch
übrig läßt.
Loth tiefer Seufzer. Qual über ... hast vielleicht — recht — ja wohl,
unbedingt sogar.
Man hört Jemand hastig die Treppe herunter kommen. Im nächsten Augenblick
stürzt Hoffmann herein.
Hoffmann. Herr Doktor, ich bitte Sie um Gottes Willen ... sie ist
ohnmächtig ... die Wehen setzen aus ... wollen Sie nicht endlich ...
Dr. Schimmelpfennig. Ich komme hinauf. Zu Loth bedeutungsvoll.
Auf Wiedersehen! Zu Hoffmann, der ihm nachfolgen will. Herr Hoffmann,
ich muß Sie bitten ... eine Ablenkung oder Störung könnte
verhängnißvoll ... am liebsten wäre es mir, Sie blieben hier unten.
Hoffmann. Sie verlangen sehr viel, aber ... na!
Dr. Schimmelpfennig. Nicht mehr als billig. Ab.
Hoffmann bleibt zurück.
Hoffmann bemerkt Loth. Ich zittere, die Aufregung steckt mir in
allen Gliedern. Sag’ mal, Du willst fort?
Loth. Ja.
Hoffmann. Jetzt mitten in der Nacht?
Loth. Nur bis zu Schimmelpfennig.
Hoffmann. Ach so! Nun ... wie die Verhältnisse sich gestaltet
haben, ist es am Ende kein Vergnügen mehr bei uns ... Also leb’
recht ...
Loth. Ich danke für die Gastfreundschaft.
Hoffmann. Und mit Deinem Plan, wie steht es da?
Loth. Plan?
Hoffmann. Deine Arbeit, Deine volkswirthschaftliche Arbeit über
unseren District, meine ich. Ich muß Dir sagen ... ich möchte Dich
sogar als Freund inständig und herzlich bitten ...
Loth. Beunruhige Dich weiter nicht. Morgen schon bin ich über
alle Berge.
Hoffmann. Das ist wirklich — unterbricht sich. —
Loth. Schön von Dir, wollt’st Du wohl sagen?