0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan23 halaman

Keanekaragaman Belalang di Taman Cadika

Dokumen ini membahas tentang keanekaragaman spesies belalang dari famili Acrididae di Taman Cadika, Medan, yang merupakan lokasi perkemahan dan wisata pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies belalang yang ada dan mengembangkan bahan ajar berupa buku monograf. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan faktor-faktor ekologis yang mempengaruhi keberadaan belalang di taman tersebut.

Diunggah oleh

jm4qh6krc9
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan23 halaman

Keanekaragaman Belalang di Taman Cadika

Dokumen ini membahas tentang keanekaragaman spesies belalang dari famili Acrididae di Taman Cadika, Medan, yang merupakan lokasi perkemahan dan wisata pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies belalang yang ada dan mengembangkan bahan ajar berupa buku monograf. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan faktor-faktor ekologis yang mempengaruhi keberadaan belalang di taman tersebut.

Diunggah oleh

jm4qh6krc9
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Taman Cadika atau Cabang Pendidikan Karakter Pramuka merupakan bumi

perkemahan untuk pramuka cabang kota medan. Selain itu, taman ini merupakan

salah satu taman yang menjadi lokasi rekreasi dan wisata pendidikan di kota

medan. Taman yang dibangun pada tahun 2012 dan dengan luas 5.000 m2 ini

berlokasi dibagian selatan Kota Medan, tepatnya di jalan Karya Jaya, Kecamatan

Medan Johor. Di taman ini banyak ditumbuhi berbagai macam pepohonan dan

rerumputan. Rerumputan secara umum merupakan sumber makanan dan tempat

hidup bagi belalang. Keberadaan nya di padang rumput memainkan peranan

penting dalam laju aliran energi atau rantai makanan.

Belalang merupakan serangga herbivor yang termasuk kedalam ordo

Orthoptera dengan jumlah spesiesnya sekitar 20.000 (Borror, 2005). Serangga ini

hidup melimpah pada padang rumput. Sebesar 41% belalang merupkan hewan

pemakan rumput (Resh et al., 2003:481). Jenis jenis belalang yang dikenal di

indonesia adalah belalang kayu (Valanga nigricornis), belalang ranting (

Phobaeticus chani), belalang daun (Phyllium fulchrifolium), dan belalang sembah

(Hierodula vitrea). Belalang dan kerabatnya hidup diberbagai tipe lingkungan

atau ekosistem antara lain hutan, semak/ belukar, lingkungan perumahan, lahan

pertanian, dan sebagainya (Khalsoven, 1981).

1
2

Belalang (Acrididae) merupakan salah satu serangga yang dapat mengalami

polimorfisme. Polimorfisme merupakan kemunculan lebih dari satu bentuk pada

spesies sejenis. Variasi pada makhluk hidup yang sejenis merupakan suatu bentuk

keanekaragaman tingkat gen. Polimorfisme pada belalang dapat diamati secara

langsung. Variasi antar spesies belalang juga mudah diamati. Spesies belalang

dapat dibedakan dengan spesies belalang lain dengan melihat morfologi kepala

belalang, dada (thorax), sayap belalang, kaki belalang dan genitalia. Variasi antar

spesies merupakan suatu bentuk keanekaragaman jenis.

Menurut Pielou (1975) “keanekaragaman adalah suatu jumlah spesies yang

sudah ada pada suatu waktu dalam komunitas tertentu “. Menurut (Suheriyanto

2008) “ keanekaragaman spesies dikatakan tinggi apabila suatu komunitas

memiliki kompleksitas tinggi, hal ini dikarenakan adanya interaksi spesies yang

terjadi didalam komunitas itu sangat tinggi dan disusun oleh banyaknya spesies”.

Sebaliknya, komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman spesies rendah

pada suatu komunitas terjadi jika komunitas tersebut disusun oleh spesies dalam

jumlah sedikit dan jika hanya ada sedikit spesies yang dominan (Indriyanto,

2006).

Menurut Bhargava (1996), keragaman belalang dipengaruhi oleh faktor

faktor ekologis diantaranya adalah pola curah hujan, suhu atmosfer, kelembapan

relatif, jenis tanah, perlindungan dari musuh-musuh eksternal dan struktur

vegetasi. Fielding dan Bruseven (1995) menyatakan bahwa vegetasi sangat

mempengaruhi komposisi dan keberadaan spesies belalang dalam suatu

ekosistem. Semakin tinggi keanekaragaman vegetasi pada suatu habitat maka


3

semakin tinggi pula sumber pakan bagi belalang dalam suatu habitat, sehingga

keberadaan akan melimpah.

Anwar (2013), menyatakan bahwa habitat belalang adalah di daerah yang

banyak terdapat rumput dan merupakan habitat utama untuk belalang. Kawasan

wisata Taman Cadika memiliki tipe vegetasi yang beranekaragam. Tingginya

keragaman vegetasi yang terdapat di kawasan Taman Cadika tersebut akan sangat

mendukung terhadap kelangsungan hidup belalang, sejalan dengan pendapat dari

Van dan Con (2011) bahwa habitat hutan dengan lapisan kanopi hutan yang

banyak dan mempunyai keanekaragaman vegetasi yang tinggi akan lebih

mendukung terhadap kehidupan spesies serangga daripada hutan dengan lapisan

kanopi dan keanekaragaman vegetasi yang sedikit. Oleh karena itu untuk

mengetahui keanekaragaman belalang famili Acrididae di kawasan Taman

Cadika, peneliti berencana melakukan penelitian tentang “keanekaragaman famili

Acrididae di Taman Cadika untuk pengembangan bahar ajar berupa buku

Monograf”.

Hasil penelitian selanjutnya dikemas dalam bentuk bahan ajar berupa buku

monograf. Dimana hasil penelitian digunakan untuk menyusun bahan ajar berupa

monograf berbasis saintifik biologi. Penggunaan sumber belajar biologi yang

sudah dikemas sebagai bentuk bahan ajar yang diwujudkan dalam kemasan media

belajar dalam proses pembelajaran biologi memiliki kemampuan yang potensial

untuk : membangkitkan produktivitas pembelajaran, memberi dasar yang lebih

ilmiah terhadap pengajaran dan lebih memantapkan pengajaran (Suhardi, 2012).

Pengembangan bahan ajar berupa buku monograf mengenai

keanekaragaman famili Acrididae di Taman Cadika diharapkan dapat menjadi


4

sumber referensi pendukung dalam mempelajari materi keanekaragaman hayati

dan materi biologi lain yang sesuai.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dideksripsikan, maka dapat

diidentifikasi masalah sebagai berikut : Apakah spesies famili Acrididae banyak

ditemukan di Taman Cadika? Spesies famili Acrididae apa saja yang ada Di

Taman Cadika? Apakah spesies famili Acrididae cukup representatif untuk

menjadi bahan ajar buku monograf?

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas agar permasalahan tidak terlalu

luas maka permasalahan dibatasi pada :

1. Lokasi penelitian di Taman Cadika, Jalan Karya Jaya, Kecamatan Medan

Johor. Sumatera Utara.

2. Serangga yang diteliti hanya dari spesies famili Acrididae.

3. Pengambilan sampel hewan mengunakan Insect net dan Hand sorting .

4. Faktor lingkungan abiotik yang diukur meliputi suhu udara, kelembapan, dan

intensitas cahaya

5. Hasil akhir dari penelitian akan dikembangkan menjadi bahan ajar berupa

buku Monograf.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas maka yang menjadi rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah :


5

1. Bagaimanakah keanekaragaman belalang spesies Acrididae di Taman

Cadika?

2. Apakah faktor lingkungan di Taman Cadika cukup optimum untuk

perkembangan spesies famili Acrididae

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah disusun maka tujuan penelitian ini

adalah :

1. Untuk mengetahui keanekaragaman belalang spesies Acrididae di Taman

Cadika

2. Untuk mengetahui dan mengidentifikasi spesies famili Acrididae apa saja

yang ada di Taman Cadika

3. Untuk mengembangkan bahan ajar berupa buku monograf keanekaragaman

spesies famili Acridide di Taman Cadika

F. Mamfaat Penelitian

Melalui penelitian ini dapat diperoleh beberapa informasi yang berguna bagi

peneliti. Mamfaat yang di berikan bagi penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagi peneliti

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber referensi dan bahan kajian

untuk penelitian selanjutnya

2. Bagi masyarakat

Sebagai informasi atau pengetahuan mengenai spesies famili Acrididae dan

keanekaragaman belalang yang terdapat di Taman Cadika


6

3. Bagi bidang pendidikan

Bahan pengayaan pada mata pelajaran Biologi di Sekolah Menengah Atas

sesuai dengan mata pelajaran Biologi yang terkait.


BAB II

KAJIAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL

A. Kajian Teoritis

1. Keanekaragaman

Keanekaragaman adalah jumlah jenis spesies yang terdapat dalam suatu area

(Michael, 1994). Keanekaragaman jenis memiliki dua komponen utama yaitu

kekayaan dan kelimpahan (Campbell et al., 2010). Keanekaragaman ditandai oleh

jumlah jenis yang membentuk suatu komunitas, semakin banyak jumlah jenis

maka semakin tinggi keanekaragamannya. Keanekaragaman jenis dinyatakan

dalam indeks keanekaragaman. Indeks keanekaragaman menunjukkan hubungan

antara jumlah jenis dengan jumlah individu yang menyusun suatu komunitas, nilai

keanekaragaman yang tinggi menunjukkan ekosistem yang stabil sedangkan nilai

keanekaragaman yang rendah menunjukkan ekosistem yang berubah-ubah (Heddy

& Kurniati, 1996).

Keanekaragaman yang berarti mempunyai perbedaan baik dalam bentuk

atau sifat. Keanekaragaman spesies didasarkan populasi dari spesies-spesies yang

secara bersama-sama terbentuk, berinteraksi satu dengan lainnya dan dengan

lingkungan dalam berbagai cara menunjukan jumlah spesies yang ada serta

kelimpahan relatifnya. Keanekaragaman spesies menandai jumlah spesies dalam

suatu daerah tertentu atau sebagai jumlah spesies diantara jumlah total individu

dari seluruh spesies yang ada. Jumlah spesies dalam suatu komunitas adalah

penting dalam segi ekologi karena keanekaragaman spesies tampaknya bertambah

bila komunitas menjadi semakin stabil. (Ewusie (1990); Wolf dan Mcnauhton,

1992; Michael (1994).

7
8

Setiap spesies hewan bergantung pada sekelompok spesies tertentu untuk

makanan dan kebutuhan lainnya. Komunitas yang mengalami situasi lingkungan

yang keras dan tidak menyenangkan dimana kondisi fisik terus menerus menderita

kadang kala atau secara berkala terdiri atas jumlah spesies yang sedikit tetapi

berlimpah. Dalam lingkungan yang lunak atau menyenangkan, jumlah spesies

besar namun tidak ada satu pun yang berlimpah (Ewuise, 1990);( Michael, 1994).

Keanekaragaman serangga berperan penting bagi ekosistem, dan

berpengaruh pada alam dan perkembangan ilmu yang lain, serangga juga

merupakan sebuah tanda akan keberadaan sang pencipta bagi orang yang berfikir.

Allah SWT berfirman dalam surat (QS Al A'raf: 133).

ٍ ‫ص ََل‬
‫ت‬ َّ َ‫ت ُمف‬ َّ ‫الطوفَانَ َو ْال َج َرا َد َو ْالقُ َّم َل َوال‬
ٍ ‫ضفَا ِدعَ َوالد ََّم آيَا‬ ُّ ‫س ْلنَا َعلَ ْي ِه ُم‬
َ ‫فَأ َ ْر‬
‫فَا ْستَ ْكبَ ُروا َو َكانُوا قَ ْو ًما ُم ْج ِر ِمين‬
Artinya: "Maka kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak

dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas,

tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa."

(QS Al A'raf: 133).


9

2. Ordo Orthoptera (Belalang)

Ordo Orthoptera merupakan serangga yang memiliki ciri sayap depan yang

berbentuk lancip, lurus agak tebal dan tak dapat dilipat. Sedangkan sayap

belakangnya tipis seperti selaput berukuran lebar dan dapat dilipat pada waktu

serangga tersebut beristirahat. Posisi kepala hypognatus, yaitu menghadap

kebawah, mata majemuk terlihat jelas, ocellus terdapat 2 atau 3 buah, tipe mulut

menggigit mengunyah dan antenanya bersegmen banyak yang kadang-kadang

bentuknya memanjang. Ciri yang nampak secara luar demikian merupakan ciri

morfologi (Natawigena, 1990). Orthoptera merupakan serangga yang sangat

beragam, mudah ditemukan dan sering terlibat dalam bidang pertanian. Jika

ditinjau dari segi morfologinya, ordo orthoptera nampak memiliki perbedaan dan

persamaan fenotipnya.

Adapun famili serangga Orthoptera yang telah teridentifikasi berdasarkan

kunci determinasi diantaranya adalah sebagai berikut: Gryllotalpidae,

Tridactylidae, Tetrigidae, Eumastacidae, Acrididae, Tanaocerridae, Gryllidae,

Grillacrididae, Tettigoniidae (Boror, 1992).

Berikut adalah belalang yang termasuk didalam famili Acrididade :

1. Belalang Daun (Phylium fulchrufolium)

Klasifikasi dari belalang daun menurut Syahmudi (2007)

Kingdom : Animalia

Filum : Arthropoda

Class : Insecta

Ordo : Orthoptera

Family : Acrididae
10

Genus : Phylium

Spesies : Phylium fulchrufolium

Belalang daun memiliki ciri-ciri diantaranya sayap depan agak keras dan

lurus yang disebut tegmen ; sayap belakang berbentuk seperti selaput (membran )

alat mulut menggigit mengunyah dengan posisi hypognatus. Tipe metamorfosis

paurometabola (telur nimfa Imago). Fitofag (pemakan tumbuhan) : belalang,

jangkrik, orong-orong. Belalang ini mampu berkamuflase menyerupai daun.

Kamuflase adalah penyesuaian tubuh sesuai kondisi lingkungan di sekitamya.

Kemampuan merubah diri menyerupai daun ini disebabkan oleh pembuluh darah

yang mirip dengan serat daun. Panjang belalang daun betina berkisar 4- 7 cm dan

yang jantan bisa mencapai 9 cm. Belalang daun termasuk hewan herbivora.

Musuh utamanya yaitu burung , amphibi dan reptile. Hidupnya didaerah tropis

seperti di Jawa, Malaysia dan Singapura. Sang betina akan bertelur selama 5-7

bulan dengan suhu 25 derajat celcius, Ukuran telur nya berkisar 6-7 mm dengan

warna kecoklatan. (Syahmudi, 2007 ).

2. Belalang kayu (Valanga nigricornis)

Klasifikasi dari belalang kayu menurut Syamsudi (2015)

Kingdom : Animalia

Filum : Arthropoda

Class : Insecta

Ordo : Orthroptera

Family : Acrididae

Genus : Valanga

Spesies : Valanga nigricornis


11

Belalang kayu (Valanga nigricornis) mempakan salah satu dari berbagai

jenis serangga. Spesies ini termasuk dalam herbivora berwarna coklat yang

termasuk ordo Orthoptera . Belalang ini berukuran saat dewasa mencapai 85 mm

dengan warna coklat tua. Saat muda (Nimfa ) berwarna hijau dan terkadang

terdapat pola coklat dan oranye, kemudian berubah menjadi coklat sebelum

kulitnya terkelupas (moulting). Selama musim dingin, belalang ini berhibernasi.

Habitat belalang kayu di daun pada semak-semak dan di pohon dan memakan

daun-daunan. Masuk dalam klasifikasi famili Acrididae karena ciri khas belalang

kayu yaitu antena pendek, dan terdapat tympana (alat pendengaran pada serangga)

pada segmen pertama abdomen . (Syahmudi, 2015 ).

Belalang (Valanga nigricornis) yang tergolong dari ordo orthoptera biasa

disebut dengan belalang kayu. Belalang kayu memiliki ciri-ciri antara lain

memiliki antena pendek, organ pendengaran terletak pada ruas abdomen serta alat

petelur yang pendek. Kebanyakan warnanya kelabu atau kecoklatan dan beberapa

mempunyai warna cemerlang pada sayap belakang. Serangga ini termasuk

pemakan tumbuhan dan sering kali merusak tanaman. Adapun alat mulutnya

bertipe penggigit pengunyah (Sudarmono, 2002). Tipe ordo ini memiliki 2 pasang

sayap. Sayap depan lebih kecil dari pada sayap belakang dan memiliki vena-vena

yang menebal yang di sebut dengan tegmina. Dua pasang sayap serta tiga pasang

kaki melekat pada bagian thorakal . Pada segmen/ruas pertama abdomen terdapat

suatu membran alat pendengar yang disebut tympanium. Spirakulum yang

meruapkan alat pemafasan luar terdapat pada tiap-tiap tipe metamorfosis dari ordo

ini adalah paurometabola (metamorfosis sederhana), Perkembangan tubuh terjadi

dengan melewati masa telur, nimfa, dan imago. Bentuk nimfa dan dewasa hampir
12

sama, hanya pada bagian sayap, ukuran tubuh, dan kematangan alat kelamin saja

yang membedakan. Pada masa nimfa, sayap masih berupa selaput tipis, sedangkan

pada serangga dewasa sudah memiliki tegmina. Ukuran tubuh antara nimfa dan

dewasa juga berbeda, nimfa lebih kecil sedangkan belalang dewasa jauh lebih

besar. Belalang adalah tipe serangga pemakan daun. Alat mulut dari belakang

bertipe penggigit-pengunyah dengan bagian-bagian seperti labrum, mandibel,

labium, dan maxilla.

a. Morfologi Belalang

Belalang adalah salah satu jenis hewan herbivora yang termasuk dalam ordo

orthoptera dengan famili Acrididae. Hewan ini memiliki dua antena bagian kepala

yang jauh lebih pendek dari bentuk tubuh. Belalang ini juga memiliki femur

belakang yang panjang dan kuat sehingga dapat melompat dengan baik, dan

bahkan juga memiliki kebiasaan-kebiasaan mengeluarkan suara pada malam hari.

Tubuh belalang terdiri dari 3 bagian utama, yaitu kepala, dada (thorax) dan perut

(abdomen). Belalang juga memiliki enam 6 kaki bersendi, 2 padang sayap, dan 2

antena. Kaki belakang yang panjang digunakan untuk melompat sedangkan kaki

depan yang pendek digunakan untuk berjalan. Meskipun tidak memiliki telinga,

belalang dapat mendengar. Alat pendengaran pada belalang disebut tympanum

dan terletak pada abdomen dekat sayap. Tympanum berbentuk menyerupai disk

bulat yang terdiri dari beberapa prosesor dan saraf yang digunakan untuk

memantau geteran diudara, secara fungsional mirip dengan gendang telinga

manusia. Belalang bernafas dengan trakea (Borroret al., 1992).

Famili Acricidae memiliki ciri-ciri: antena pendek, tarsus tiga ruas, femur

kaki belakang membesar, ovipositor pendek. Tubuh berwarna abu-abu atau


13

kecoklatan dan beberapa berwarna cerah pada sayap bagian belakang. Ukuran

tubuh betina adalah lebih besar daripada jantan. Belalang anggota famili ini

contohnya adalah belalang-belalang yang berantena pendek (Borror [Link]., 1992).

a. Kepala (caput)

Kepala Belalang terdiri dari 3 sampai 7 ruas, yang memiliki fungsi sebagai

alat pengumpul makanan, penerima rangsang dan pemroses informasi diotak

(Suheriyanto, 2008). Tipe kepala adalah hypognatus yaitu posisi kepala dengan

mulut mengarah kebawah. Kepala terdiri dari beberapa bagian antara lain

sepasang antena, sepasang mata majemuk, tiga buah mata tunggal (ocelli) dan

mulut. Tipe mulut pada belalang yaitu tipe menggigit dan mengunyah, yang

ditandai dengan adanya mandibula yang berfungsi untuk menggigit dan

memotong makanan (Purnomo & Haryadi, 2007).

b. Alat Mulut.

Bagian mulut serangga tersusun atas labrum, sepasang mandibula, sepasang

maksila, labium dan hypofaring. Pada dasarnya bentuk mulut pada serangga dapat

digolongkan menjadi menggigit mengunyah (Seperti pada: Ordo Orthoptera,

Coleoptera, Isoptera, dan pada larva serangga), menusuk- menghisap (seperti pada

Ordo Homoptera dan Hemiptera), menghisap (seperti pada Ordo Lepidoptera),

menjilat-menghisap (seperti pada Ordo Diptera). (Borroret al, 1992);(Jumar

(2000)).

c. Antena.

Serangga mempunyai sepasang antena pada kepala berbentuk tampak

seperti benang yang memanjang. Antena pada serangga bervariasi bentuknya

dengan fungsi sebagai alat sensor. Fungsi antena pada serangga merupakan alat
14

perasa dan bertindak sebagai organ-organ pengecap, organ pembau, serta organ

untuk mendengar. (Jumar, 2000); (Borror et al (1992))

d. Mata Majemuk dan mata Tunggal (Ocelli)

Menurut serangga dewasa memiliki 2 tipe mata, yaitu mata tunggal dan

smata majemuk. Menurut Jumar (2000), mata tunggal dinamakan ocellus (jamak:

ocelli). Mata tunggal dapat dijumpai pada larva, nimfa, maupun pada serangga

dewasa. Mata majemuk sepasang dijumpai pada serangga dewasa dengan letak

masing-masing pada sisi kepala dan posisinya sedikit menonjol ke luar, sehingga

mata majemuk ini mampu menampung semua pandangan dari berbagai arah.

Mata majemuk (mata faset), terdiri atas ribuan ommatidia.

e. Thorax (dada)

Torak terdiri dari tiga segmen yaitu segmen torak depan (protoraks),

segmen torak tengah (mesotoraks) dan segmen torak belakang (metatoraks) (Hadi

[Link]., 2009). Torak belalang berfungsi untuk pergerakan karena pada torak

terdapat tiga pasang kaki yang muncul pada setiap segmen torak dan sayap (pada

Belalang bersayap).

Tungkai atau kaki pada belalang terdiri atas koksa (ruas pertama) yang

menempel pada toraks, trokhanter (ruas kedua), femur (ruas ketiga) yang

berukuran besar dan panjang, tibia (ruas keempat), tarsus (ruas terakhir) yang

terdiri dari 1-5 ruas dan pretarsus yang terletak pada ujung yang terdiri dari

sepasang kuku (Purnomo & Haryadi, 2007).

Sayap depan belalang berbentuk panjang dan terdiri dari rangka-rangka

sayap, terdapat bagian yang menebal yang disebut dengan tegmina. Sayap bagian

belakang berselaput tipis, lebar dan terdiri dari rangka-rangka sayap. Sayap
15

belalang muncul pada bagian torak yaitu satu pasang pada mesotoraks dan satu

pasang pada metatoraks. Sayap berfungsi untuk terbang dan pelindung tubuh serta

penghasil suara dibeberapa jenis serangga (Borror [Link]., 1992).

f. Sayap

Sayap-sayap serangga adalah pertumbuhan-pertumbuhan yang keluar dari

dinding tubuh yang terletak pada dorso-lateral antara notum dan pleura . Mereka

timbul sebagai pertumbuhan keluar seperti kantung, tetapi bila berkembang

dengan sempurna, maka akan berbentuk gepeng dan seperti sayap dan diperkuat

oleh suatu deretan rangka-rangka sayap. Pada serangga, sayap berkembang

sempurna dan berfungsi dengan baik hanya ada dalam stadium dewasa, kecuali

pada Ordo Ephemeroptera, sayap berfungsi pada instar [Link] semua

serangga memiliki sayap. Serangga tidak bersayap digolongkan ke dalam sub

kelas Apterygota, sedangkan serangga yang memiliki sayap dimasukkan ke dalam

golongan sub kelas Pterygota. Sayap serangga juga mengalami modifikasi. Borror

et al, 1992). Modifikasi sayap menurut Jumar (2000), adalah sebagai berikut:

a. Pada Ordo Tysanoptera, sayap depan berupa rumbai.

b. Pada Ordo Coleoptera, sayap depan mengeras dan dinamakan elitra .

c. Pada Ordo Diptera, sayap depan berkembang sempurna, sedangkan sayap

belakang mengalami modifikasi menjadi struktur seperti gada yang disebut

halter. Halter berfungsi sebagai penyeimbang tubuh pada saat terbang.

d. Pada Ordo Hemiptera, sayap depan sebagian mengeras dan sebagianlagi tetap

berupa membran.
16

e. Pada Ordo Orthoptera, sayap depan berupa perkamen, diduga sebagai

pelindung dan disebut sebagai tegmina (tunggal: tegmen).

g. Kaki

Tungkai thoraks serangga bersklerotisasi (mengeras) dan selanjutnya

dibagi menjadi sejumlah ruas. Secara khas, terdapat 6 ruas pada kaki serangga.

Ruas yang pertama yaitu koksa yang merupakan merupakan ruas dasar;

trokhanter, satu ruas kecil (biasanya dua ruas) sesudah koksa; femur, biasanya

ruas pertama yang panjang pada tungkai; tibia, ruas kedua yang panjang;

tarsus,biasanya beberapa ruas kecil di belakang tibia; pretarsus, terdiri dari kuku-

kuku dan berbagai struktur serupa bantalan atau serupa seta pada ujung tarsus.

Sebuah bantalan atau gelambir antara kuku-kuku biasanya disebut arolium dan

bantalan yang terletak di dasar kuku disebut pulvili. Menurut Jumar (2000),

tungkai-tungkai serangga mengalami modifikasi. Sejumlah modifikasi tersebut

adalah :

a. Tipe cursorial, adalah tungkai yang digunakan untuk berjalan dan berlari.

b. Tipe fussorial, tungkai yang digunakan untuk menggali, ditandai dengan

adanya kuku depan yang keras.

c. Tipe saltatorial, tungkai yang berfungsi untuk meloncat, ditandai dengan

pembesaran femur pada tungkai belakang.

d. Tipe raptorial, tungkai yang berfungsi untuk menangkap dan mencengkeram

mangsa, ditandai dengan pembesaran femur tungkai depan.

e. Tipe natatorial, tungkai yang berfungsi untuk berenang, ditandai dengan bentuk

yang pipih serta adanya sekelompok “rambut-rambut renang” yang panjang.


17

g. Tipe ambolatorial, tungkai yang berfungsi untuk berjalan ditandai dengan

femur dan tibia yang lebih panjang dari bagian tungkai lainnya. Bentuk ini

merupakan bentuk umum tungkai serangga

h. Abdomen (perut)

Abdomen belalang umumnya terdiri dari 11 ruas yang meliputi sternum,

tergum dan membran pleuron. Ruas abdomen tersusun dari tiga kelompok yaitu

ruas pregenital, ruas genital dan ruas post genital. Ordo Orthoptera khususnya

belalang pada ruas ke-11 mengalami modifikasi berbentuk segitiga yang disebut

epiprok (Purnomo & Haryadi, 2007). Alat kelamin belalang terletak pada segmen

abdomen ke-8 dan 9. Segmen-segmen tersebut memiliki kekhususan yaitu sebagai

alat untuk kopulasi dan peletakkan telur (Hadi [Link]., 2009).

Gambar 2.1 Morfologi belalang secara umum


Sumber : [Link]
18

b. Siklus Hidup Belalang

Siklus hidup adalah suatu rangkaian berbagai stadia yang terjadi pada

serangga selama pertumbuhannya sejak telur sampai imago (Jumar, 2000).

Belalang merupakan kelompok serangga hemimetabola yaitu serangga yang

mengalami metamorfosis tidak sempurna. Tahapan perkembangannya adalah

telur, kemudian menjadi nimfa yaitu belalang muda yang memiliki bentuk tubuh

yang sama dengan fase dewasa dan belalang akan mengalami pergantian kulit

pada fase ini. Selanjutnya nimfa tersebut akan berubah menjadi imago (dewasa)

yang merupakan fase yang ditandai dengan berkembangnya semua organ tubuh

dengan baik, termasuk alat perkembangbiakan dan sayap (Willemse, 2001).

c. Habitat Belalang

Menurut Resh et al. (2003), belalang termasuk serangga teresterial dan

dapat hidup dimana saja diseluruh dunia kecuali di ekosistem tundra dan kutub.

Belalang yang hidup di semak belukar biasanya hidup dibagian bawah kanopi

tumbuhan (semak) untuk menghindari adanya serangan predator. Belalang yang

hidup di rerumputan, perkebunan dan lahan petanian biasanya mencari makan dan

melakukan aktivitas pada bagian daun tumbuhan.

Serangga ini melimpah di habitat alami dan habitat yang dibuat manusia

seperti padang rumput, lahan basah, bidang pertanian, halaman rumput, dan lain-

lain. Belalang merangsang pertumbuhan tanaman, berpartisipasi dalam siklus

nutrisi, dan memainkan peran penting dalam rantai makanan. Beberapa belalang

diusulkan sebagai indikator ekologi terhadap kualitas ekosistem terkait jaringan

ekologi. Belalang didalam jaring makanan dikonsumsi oleh beberapa predator

seperti burung, laba-laba dan reptil. Belalang juga merupakan sumber makanan
19

yang melimpah untuk kelompok lain seperti kadal dan burung raptor (Nikam et

al.,2016).

Habitat yang cocok sangat mempengaruhi perkembangbiakan belalang,

seperti ketersediaan makanan dan tempat perlindungan dari serangan predator.

Belalang akan mudah untuk menghindar dari ancaman predator dengan

menjatuhkan tubuhnya ke bawah sehingga akan tertutup oleh rerumputan yang

ada disekitarnya (Erawati et al., 2010).

3. Buku Monograf

1. Pengertian Buku Monograf

Buku monograf merupakan hasil karya tulis yang ditulis oleh seorang ahli

atau spesialisasi dibidangnya. Buku monograf merupakan tulisan ilmiah dalam

bentuk buku yang substansi pembahasannya hanya pada satu topik dalam satu

bidang ilmu kompetensi penulis. Adanya rumusan masalah yang mengandung

nilai kebaharuan, metodologi pemecahan masalah, dukungan data atau teori

mutakhir yang lengkap, jelas, serta simpulan dan daftar pustaka.

Jumlah halaman minimal monograf adalah 40 halaman ukuran folio (15×23

cm), dengan spasi 1.15. Buku Monograf bisa dibilang nama lain dari buku untuk

membedakan antara terbitan berseri atau tidak berseri. Buku monograf merupakan

bentuk buku yang terbitannya tunggal dan tidak ada seri selanjutnya. Berbeda

halnya dengan buku referensi, buku referensi adalah buku yang di tulis secara

ilmiah atau mengikuti kaidah-kaidah penulisan ilmiah yang membahas hanya satu

bidang ilmu yang berisi topik atau tema yang lebih luas.

Pembuatan monograf ini juga ada tujuannya. Berdasarkan penggunaan

monograf dipergunakan untuk pegangan materi pembelajaran. Jadi, buku jenis


20

monograf juga dapat digunakan sebagai buku pegangan mahasiswa. Selanjutnya

dengan pengkayaan dari hasil-hasil penelitian buku monograf juga dapat

dinaikkan statusnya menjadi buku referensi. Buku tersebut akan menjadi sumber

literatur bagi penelitian lainnya, dan bahan atau materi ajar bagi dosen dan

mahasiswa. ([Link]

Ringkas-Buku- [Link]).

2. Monograf Yang Ideal

Berikut ini adalah karakteristik dari buku monograf

1. Sumber bahan tulisan: Monograf berasal dari hasil penelitian atau riset dan

hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

2. Target pengguna: Monograf dapat digunakan oleh dosen untuk memperkaya

bahan ajar, dan dapat pula digunakan oleh mahasiswa yang tertarik

mempelajari materi monograf atau untuk memperkaya materi Tugas Akhir.

3. Monograf wajib memiliki ISBN, diterbitkan oleh penerbit profesional.

4. Subtansi: Monograf berfokus pada sub cabang ilmu saja atau satu topik saja.

5. Ruang lingkup penggunaan: monograf dapat digunakan untuk penelitian dan

pengajaran.

6. Citation atau sitasi monograf: isinya dapat rujuk dan digunakan serta dapat

diletakkan dalam daftar pustaka.

3. Materi Monograf

Materi Monograf dapat berasal dari tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi, hasil

penelitian lainnya.
21

a. Jika sumber tulisan merupakan hasil penelitian bersama dan akan dituliskan

menjadi monograf maka harus mendapat persetujuan (tertulis di atas materai) dari

tim peneliti lainnya.

b. Jika sumber tulisan merupakan bagian dari penelitian dosen yang melibatkan

mahasiswa, maka dosen bisa memanfaatkan hasil penelitian sebagai bahan

Monograf. Jika penelitian mahasiswa dalam bentuk Tugas Akhir, Skripsi, Thesis,

atau Disertasi tersebut bukan merupakan bagian dari penelitian dosen atau tidak

didanai oleh dosen maka hasil penelitian mahasiswa tersebut perlu dituliskan

sesuai dengan kaidah dan etika penulisan rujukan yang benar.

4. Format Penulisan Monograf

Panduan umum penyusunan monograf sebagai berikut :

1. Ukuran kertas B5 (15 x 23 cm).

2. Jumlah halaman minimal 40 halaman, tidak termasuk Daftar Isi, Daftar Tabel,

Daftar Gambar, Daftar Lampiran, Prakata, Kata Pengantar, Daftar Istilah,

Daftar Pustaka dan Lampiran.

3. Buku ditulis dalam 1 kolom.

4. Margin kiri, kanan, atas, dan bawah masing-masing 3 cm.

5. Jenis huruf Times New Roman.

6. Ukuran huruf pada teks utama 12 points, judul bab 14 points (menyesuaikan).

7. Jarak spasi antar baris 1,15.

8. Memiliki ISBN (International Standar Book Number).

9. Mencantumkan Daftar Pustaka, Indeks Subyek serta Daftar Istilah (bila perlu).
22

10. Diterbitkan oleh penerbit profesional anggota IKAPI.

11. Substansi sesuai dengan kompetensi dan Road Map Penelitian ketua penulis

dan tidak menyimpang dari falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar

1945.

Pada dasarnya tidak ada ketentuan berapa jumlah bab dalam suatu

monograf. Namun setidaknya setidaknya harus memenuhi unsur-unsur sebagai

berikut:

1. Pendahuluan, yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan

2. Hasil-hasil penelitian yang ditunjang oleh sumber pustaka mutakhir

3. Ringkasan

4. Daftar pustaka.

([Link]

[Link]).

B. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual merupakan rangkaian pengertian yang digunakan

dalam mengarah jalan pemikiran agar diperoleh letak masalah yang tepat. Untuk

menghindari adanya perbedaan persepsi terhadap istilah yang di gunakan dalam

penelitian ini, dengan berpedoman pada kerangka teoritis yang telah dikemukakan

maka penulis membuat batasan istilahnya sebagai berikut :

1. Keanekaragaman adalah jumlah jenis spesies yang terdapat dalam suatu area

2. Belalang (Acrididae) merupakan salah satu serangga yang dapat mengalami

polimorfisme. Polimorfisme merupakan kemunculan lebih dari satu bentuk

pada spesies yang sama.


23

3. Taman Cadika merupakan salah satu ekosistem daratan yang terdiri atas

komponen abiotik dan biotik. Komponen abiotik pada wilayah ini

mencakup faktor lingkungan diantaranya suhu udara, kelembaban udara,

dan intensitas cahaya. Komponen biotik yang paling dominan di Taman

Cadika hewan Insecta salah satunya ordo Orthoptera.

4. Buku monograf merupakan hasil karya tulis yang ditulis oleh seorang ahli

atau spesialisasi dibidangnya. Buku monograf merupakan tulisan ilmiah

dalam bentuk buku yang substansi pembahasannya hanya pada satu topik

dalam satu bidang ilmu kompetensi penulis

Anda mungkin juga menyukai