0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan13 halaman

Tipologi Arsitektur Kawasan Ijen Malang

Artikel ini membahas karakteristik arsitektur dan struktur visual Kawasan Ijen di Malang, dengan fokus pada pendekatan tipologi yang digunakan oleh arsitek Karstens. Metode yang diterapkan adalah deskriptif-kualitatif, menganalisis tampilan visual dalam konteks ruang kota. Hasil kajian diharapkan dapat memberikan acuan dalam penelitian lebih lanjut mengenai perubahan fisik kawasan akibat pertumbuhan kota.

Diunggah oleh

Paldi nugroho
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan13 halaman

Tipologi Arsitektur Kawasan Ijen Malang

Artikel ini membahas karakteristik arsitektur dan struktur visual Kawasan Ijen di Malang, dengan fokus pada pendekatan tipologi yang digunakan oleh arsitek Karstens. Metode yang diterapkan adalah deskriptif-kualitatif, menganalisis tampilan visual dalam konteks ruang kota. Hasil kajian diharapkan dapat memberikan acuan dalam penelitian lebih lanjut mengenai perubahan fisik kawasan akibat pertumbuhan kota.

Diunggah oleh

Paldi nugroho
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

View metadata, citation and similar papers at [Link].

uk brought to you by CORE


provided by SMARTek

ek
SIPIL’ MESIN ’ARSITEKTUR ’ELEKTRO

KAJIAN TIPOLOGI DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER VISUAL DAN STRUKTUR


KAWASAN
(Studi kasus: Kawasan Ijen, Malang)

Asyra Ramadanta *

Abstract
The aim of this article is to identify characteristic of architectural period based on physical form
and visual appearance in mezzo scale (urban space) on Ijen Boulevard. The study area represent
a part of Malang City which highly related to Karstens as an architect and urban planner who
develops the concept of “Planned Development City” at many Indonesian cities, that have role
and function in governance structure of Dutch Colonial. The Methods which used in this study are
descriptive and qualitative with component of visual appearance as analysis unit.
Visual appearance on this study area analyzed on regional scale (urban space) using Karstens’s
typology approach to the buildings and urban space at “Kawasan Ijen”. Building facade as one
component on visual performance, discussed as one unit mass, and building form and massing
performed urban corridor wall on “Kawasan Ijen”.
Key words : typologic, visual appearance, urban space

Abstrak
Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikas karakteristik dari periodisasi arsitektur berdasarkan
wujud fisik dan tampilan visual dalam skala mezo (ruang kota) di Kawasan Ijen. Kawasan ini
merupakan bagian dari Kota Malang yang tidak terlepas dari sosok Karstens sebagai seorang
arsitek dan perencana kota yang mengembangkan konsep Planned Development City pada
beberapa kota di Indonesia yang memiliki fungsi dan peranan dalam struktur pemerintahan
Kolonial Belanda. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah deskriptif-kualitatif, dengan
komponen pembentuk tampilan visual kawasan sebagai unit analisis. Tampilan visual kawasan
dianalisis dalam lingkup kawasan (urban space) dengan pendekatan tipologi terhadap
bangunan dan ruang kota yang dirancang oleh Karstens pada Kawasan Ijen. Fasad bangunan
sebagai salah satu komponen pembentuk tampilan visual dibahas sebagai suatu kesatuan
massa dan bentuk bangunan yang membentuk urban corridor wall pada kawasan ijen.
Kata Kunci : tipologi, tampilan visual, ruang kota

1. Pendahuluan dengan Landasan berpikir yang


Pembahasan tentang Kota mempertimbangkan terjadinya banyak
Malang, tidak terlepas dari sosok kasus spekulasi tanah perkotaan oleh
Karstens sebagai seorang arsitek oknum tertentu yang hanya
sekaligus perencana kota. Melalui memenangkan kelompok masyarakat
konsep berpikir yang didasari prinsip- Eropa pada tahun 1920an. Untuk itu
prinsip dari undang-undang pemerintahan kolonial di Malang
perencanaan kota pada masa kolonial, memberikan kemudahan bagi
Karstens merencanakan Kota Malang masyarakat setempat untuk menata

* Staf Pengajar Jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tadulako, Palu
Kajian Tipologi dalam Pembentukan Karakter Visual dan Struktur Kawasan
(Studi kasus: Kawasan Ijen, Malang)
(Asyra Ramadanta)

kehidupan kampung menjadi kompleks melalui komposisi bentuk dan massa


permukiman baru yang lebih nyaman bangunan sebagai pembentuk wujud
serta sistem pengaturannya lebih fisik ruang kota. Hasil identifikasi
mendetail. Pada tahun 1933. terhadap tipologi kawasan diharapkan
Dalam perkembangannya, kota dapat menjadi salah satu acuan
Malang kemudian tumbuh dan pembanding atau tolok ukur dalam
berkembang dengan cepat. Pada proses penelitian yang lebih rinci
awalnya kota Malang didesain sebagai terhadap besarnya perubahan fisik
kota perdagangan. Karena prediksi kawasan akibat pertumbuhan Kota
peningkatan jumlah penduduk yang Malang dalam skala yang lebih makro.
sangat pesat maka perencanaan
kotanya mencakup perkembangan
kota sampai ke daerah sub urban. Kota 2. Kajian Pustaka
Malang direncanakan secara kombinasi 2.1 Kajian Tipologi dalam Perspektif Imu
yaitu perencanan baru dan perbaikan Arsitektur
yang sudah ada seperti : merancang Tipologi dapat didefinisikan
jalan baru juga memperlebar dan sebagai sebuah konsep yang memilah
memperbaiki jalan lama . sebuah kelompok objek berdasarkan
Kawasan Ijen merupakan kesamaan sifat-sifat dasar, atau dapat
bagian Kota Malang dalam lingkup diartikan pula bahwa tipologi adalah
urban space direncanakan untuk tindakan berfikir dalam rangka
memenuhi tuntutan dan kebutuhan pengelompokkan (Moneo dalam
akan daerah hunian sebagai akibat dari Sulistijowati 1991:11). Tipologi arsitektur
peningkatan jumlah penduduk Kota dibangun dalam bentuk arsip dari
Malang yang berkembang seiring ”given types”, yaitu bentuk arsitektural
dengan dibangunnya infra struktur yang disederhanakan menjadi bentuk
perkotaan seperti jalan dan rel kereta geometrik. “Given types” dapat berasal
api. Secara Umum oleh Pemerintah dari sejarah, tetapi dapat juga bersal
Hindia Belanda, Malang diarahkan dari hasil penemuan yang baru
selain sebagai salah satu pusat (Palasello dalam Sulistijowati 1991:13).
pemerintahan, juga sebagai daerah Menurut Sulistijowati (1991:12),
peristirahatan untuk para petinggi dan pengenalan tipologi akan mengarah
pejabat pemerintahan Belanda. pada upaya untuk mengkelaskan,
mengelompokkan atau
Tampilan visual Kawasan Ijen mengklasifikasikan berdasar aspek atau
yang merupakan salah satu komponen kaidah tertentu. Aspek tersebut antara
pembentuk wujud fisik kawasan sampai lain:
saat ini masih dapat diamati sebagai
salah satu elemen citra kota, dalam 1). Fungsi (meliputi penggunaan ruang,
konteks kawasan dengan homegenitas struktural, simbolis, dan lain-lain);
fungsi dan tipologi arsitektur. 2). Geometrik (meliputi bentuk, prinsip
Perkembangan Kota Malang cukup tatanan, dan lain-lain); dan
mempengaruhi struktur kota termasuk 3). Langgam (meliputi periode, lokasi
mengaburkan citra kawasan sebagai atau geografi, politik atau
urban artefact yang menggambarkan kekuasaan, etnik dan budaya, dan
sejarah dan proses perkembangan lain-lain).
suatu kota.
Kajian ini dimaksudkan untuk
mengidentifikasi tipologi kawasan

131
Jurnal SMARTek, Vol. 8, No. 2, Mei 2010: 130 - 142

2.2 Tipologi Berdasarkan Gaya masih banyak sekali elemen dari


Bangunan. bangunan-bangunan era sebelumnya,
Gaya bangunan kolonial, dapat yang digunakan sebagai elemen wajah
mewakili bangunan untuk bangunan dari era ini, seperti
menyampaikan kebudayaan dan juga penggunaan gable/gevel, jenis, bahan,
suatu jaman, pada saat bangunan maupun ornamen dari era sebelumnya.
tersebut dibangun. Gaya bangunan ini, Kemudian yang menonjol pada era ini
ternyata merupakan sesuatu yang adalah bentukan atap tradisional, yang
bersifat ‘historical layer’. menunjukkan adanya akulturasi
kebudayaan kolonial dengan budaya
lokal.
Gaya bangunan rumah tinggal kolonial
era 1851-1880.
Era 1851-1880 merupakan era 2.3 Tinjauan façade bangunan
bangunan kolonial Gaya Indisch Empire Bagian bangunan dan arsitektur
dan juga Gaya Voor 1900. Gaya-gaya yang paling mudah untuk dilihat adalah
ini memiliki ciri-ciri antara lain, bangunan bagian wajah bangunan atau yang
memiliki halaman yang luas, atap lebih dikenal dengan sebutan façade
bentuk perisai, terkesan monumental, bangunan. Bagian façade bangunan ini
cat dinding dari kapur putih, dan terus juga sering disebut tampak, kulit luar
berkembang manjadi bangunan yang ataupun tampang bangunan, karena
lebih tanggap terhadap iklim tropis façade bangunan paling sering diberi
dengan kehadiran luifel (teritisan) dari penilaian oleh para pengamat tanpa
bahan seng bergelombang dan juga memeriksa terlebih dahulu keseluruhan
pemakaian bahan baru, yaitu besi. bangunan baik keseluruhan sisi luar
bangunan, maupun pada bagian
Gaya bangunan rumah tinggal kolonial dalam bangunan. Penilaian tersebut
era 1881-1910. tidak hanya dilakukan oleh para arsitek
Era 1881-1910 merupakan era tetapi juga masyarakat awam
yang sangat dipengaruhi Aliran (Prijotomo 1987:3). Komposisi suatu
Romantisme Eropa dan bangunan façade, dengan mempertimbangkan
dengan Gaya Romantiek yang kaya semua persyaratan fungsionalnya
dengan penggunaan ornamen, baik (jendela, pintu, sun shading, bidang
pada ruangan, maupun pada wajah atap) pada prinsipnya dilakukan
dengan menciptakan kesatuan yang
bangunan.
harmonis dengan menggunakan
Bangunan rumah tinggal komposisi yang proporsional, unsur
kolonial era 1881-1910 secara dominan vertikal dan horisontal yang terstruktur,
dipengaruhi beberapa gaya, material, warna dan elemen-elemen
diantaranya adalah Gaya Voor 1900, dekoratif. Hal lain yang tidak kalah
yang kaya dengan elemen dekoratif penting untuk mendapatkan perhatian
pada bagian wajah bangunannya. yang lebih adalah proporsi bukaan-
bukaan, tinggi bangunan, prinsip
Gaya bangunan rumah tinggal kolonial perulangan, keseimbangan komposisi
era 1911-1942. yang baik, serta tema yang tercakup ke
dalam variasi (Krier1988:72).
Perkembangan gaya bangunan
yang pada era ini, mencapai Menurut Krier (1988:78) elemen-
puncaknya pada 1915-an, akan tetapi elemen arsitektur pendukung façade.

132
Kajian Tipologi dalam Pembentukan Karakter Visual dan Struktur Kawasan
(Studi kasus: Kawasan Ijen, Malang)
(Asyra Ramadanta)

Façade beradaptasi dengan tersebut menuju ke arah Buitenzoorg


cuaca karena adanya ornamen di atas dan Bandung dengan pertimbangan
tembok (teritisan atap dan sun shading), iklim dan panorama alamnya,
yaitu teritisan atau biasa disebut sun sementara untuk Jawa Timur hal
shading. Menurut Lippsmeier (1980:74- tersebut dapat diamati pada
90) elemen façade dari sebuah “pergerakan urban” dari Surabaya ke
bangunan yang sekaligus merupakan Pasuruan kemudian ke Malang dengan
komponen-komponen yang melihat faktor iklim dan panorama
mempengaruhi façade bangunan alamnya. Sementara itu perkembangan
adalah: kota Semarang cenderung stagnan
1). Atap; karena di sekitarnya tidak terdapat
kawasan yang dianggap sesuai untuk
2). Dinding; dan
dijadikan sebagai kota peristirahatan,
3). Lantai. misalnya daerah perbukitan dengan
suasana iklim yang sejuk.
Membahas tentang ijen tidak
3. Pembahasan terlepas dari sosok karstenz
3.1 Review Karya Karstens di Indonesia Perkembangan tipologi bangunan dan
Ir. Herman Thomas Karsten yang kota di Indonesia tidak dapat
sangat berpengaruh dalam arsitektur dipisahkan dengan beberapa peristiwa
dan tata kota Malang di zaman kolonial penting yang terjadi di Eropa, hal
menghadirkan sisi romantis kota dalam tersebut terkait dengan kondisi pada
setiap rancangannya. Perencanaan masa itu, dimana Indonesia (Hindia
kawasan ijen didasari oleh tuntutan dan Belanda) merupakan daerah kolonisasi
kebutuhan akan daerah hunian sebagai yang baik secara langsung ataupun
akibat dari peningkatan jumlah tidak langsung mendapat pengaruh
penduduk Kota Malang yang kuat dari kekuasaan Belanda. Beberapa
berkembang seiring dengan peristiwa penting yang dapat
dibangunnya infra struktur perkotaan dianggap sebagai tonggak
seperti jalan dan rel kereta api. Secara perkembangan perencanaan kota
Umum oleh Pemerintah Hindia Belanda, modern dan kelanjutan perkembangan
Malang diarahkan selain sebagai salah arsitektur adalah :
satu pusat pemerintahan, juga sebagai a. Revolusi Industri di Eropa, hal ini
daerah peristirahatan untuk para secara tidak langsung memberikan
petinggi dan pejabat pemerintahan dua pengaruh penting. Pertama,
yang fungsinya hampir sama dengan peningkatan kebutuhan bahan
Buitenzoorg (Bogor) dan Bandung. mentah, menyebabkan timbulnya
Berdasarkan periodisasi kota-kota adininistratur di Indonesia.
arsitektur, Kota Malang dibangun Kedua, berkembangnya konsep-
sesudah era pengembangan kota-kota konsep perencanaan kota modern
lama Hindia Belanda seperti Batavia, yang tercetus sebagai tanggapan
Meester Cornelis, Semarang dan atas revolusi industri misalnya konsep
Surabaya hal ini merupakan konsekuensi "Garden City" oleh Ebeneser Howard,
dari letak geografis kota-kota tersebut bahkan Karstenpun dalam kiprahnya
yang terletak pada kawasan pesisir di Indonesia juga terpengaruh oleh
yang juga berfungsi sebagai daerah konsep tersebut.
pelabuhan. Kelanjutan perkembangan b. Politik kulturstelsel, politik ini
Batavia dari segi “pergerakan urban” menyebabkan berkembangnya
dapat diamati bahwa pergerakan

133
Jurnal SMARTek, Vol. 8, No. 2, Mei 2010: 130 - 142

perkebunan tanaman keras, dan perkembangan kota yang berikutnya


dapat pula dianggap sebagal awal mengikuti masterplan yang telah
berkembangnya wilayah pertanian digariskan.
dan kota-kota administratur Sejak perpindahan pusat kota
perkebunan dari afdeling -kabupaten- di Pasuruan
c. Politik Etis (Etische Politiek), politik ke Malang dan menjadi karesidenan,
mempunyai dampak bagi Malang menjadi pusat pemerintahan
perkembangan perencanaan kota kolonial. Untuk mendukung
di Indonesia, dengan perkembangan kota Malang sebagai
dikembangkannya perbaikan kota administratif banyak fasilitas-fasilitas
kampung kota (1934) yang ikut memeriahkan perencanaan
d. Pengembangan Pranata dan kota seperti :
Konstitusi Baru. Terbitnya UU ƒ Alun-alun kota Malang yang didirikan
Desentralisasi "Decentralisatie Besluit sejak tahun 1882 didirikan sebagai
Indisehe Staatblad" tahun 1905/137, pusat produksi, karena fungsinya
yang mendasari terbentuknya sistem sebagai pusat pertokoan, hiburan,
kotapraja (Staadgemeente) yang administratif sampai menjadi sentral
bersifat otonom. Hal ini memacu religius.
perkembangan konsepsi ƒ Masjid Agung yang didirikan sejak
perencanaan kota kolonial modern, tahun 1875 berdiri di sebelah barat
khususnya "Garden City" atau alun-alun menjadi bukti tipologi kota
"Tuinstad" tradisional disamping pusat
pemerintahan, pasar dan hotel.
Tipologi bangunan Masjid Agung
3.2 Gambaran Umum Perencanaan
mengandung nilai historis
Kota dan Arsitektur Kolonial di
perkembangan Islam di Malang,
Malang
meskipun sekarang berubah dan di
Perencanaan Kota Malang renovasi menjadi bentuk konstelasi
yang merupakan kombinasi antara kekinian. Namun bagian belakang
perencanan baru dan perbaikan yang dan dalamnya tidak ikut dipugar.
sudah ada, serta antisipasi
ƒ Ijen Boulevard yang bergaya Indische
perkembangan kota sampai ke daerah
dan merupakan wujud pencarian jati
sub urban memberi peluang
diri arsitektur lokal yang sekarang
penataaan yang lebih leluasa dalam
menjadi lokasi perumahan elite
pemanfaatan ruang terbuka yang
merupakan sentuhan romantisKarsten
terintegrasi dengan kawasan
di Malang. Di sepanjang jalan ini juga
permukiman. Dalam proses
kita masih bisa menyaksikan rumah-
perencanaan Kota Malang Karsten
rumah bergaya kolonial yang telah
sangat peduli dengan ruang terbuka
dipoles sedikit modern. Misalnya,
kota yang selalu difungsikan sebagai
gereja Theresiakerk (Gereja Santa
paru-paru kota dan tempat kegiatan
Theresia)yang dibangun oleh biro
sosial bagi penduduk. Pembagian
arsitek Rijksen en Estourgle tahun 1936.
zoning pemukiman sangat jelas yaitu
daerah villa di bagian Barat kota, ƒ Gedung Bank Indonesia Malang
sedang di daerah kampung berada di adalah menjadi saksi bisu betapa
bagian Utara dan Selatan. Dalam bangunan kuno peninggalan Belanda
daerah perkampungan disediakan masih tersisa di sudut-sudut kota
lahan yang luas sebab fasilitas sosial malang yang padat.
sangat diperlukan. Sementara

134
Kajian Tipologi dalam Pembentukan Karakter Visual dan Struktur Kawasan
(Studi kasus: Kawasan Ijen, Malang)
(Asyra Ramadanta)

ƒ Gaya arsitektur eropa tampak arsitektur bangunan kolonial yang


muncul pada bangunan gereja unik tahun 1900-an.
katolik Hati Kudus Yesus yang berada Salah satu bangunan
di jalan Kayutangan-sekarang jalan kebanggaan kota Malang yang
Basuki Rahmat-yang didirikan sejak bernuansa eropa tropikal adalah balai
tahun 1905. Seorang arsitek Eropa kota Malang. Bangunan tersebut
Marius J. Hulswitt telah berjasa didirikan tahun 1927-1929 oleh seorang
terhadap pendirian gereja ini arsitek dari Semarang H.F Horn. Dia
meskipun belum rampung berhasil memenangkan tender
keseluruhan bangunan dan baru di pendirian bangunan dari sayembara
restorasi tahun 1930 dan tetap seperti pihak gemeente Malang. Aura kharisma
itu sampai sekarang. Tipologi kolonial seakan muncul dari
bangunan yang condong ke bentuk pemandangan fisik bangunan ini, selain
bangunan Eropa banyak menghiasi memiliki nilai sejarah juga aset cagar
kota Malang seperti gereja Protestan budaya kota yang menjadi bukti zaman
yang terdapat di Jalan Ijen yang kekuasaan pemerintah kolonial.
didirikan tahun 1912.
Sejak status kota ditetapkan
sebagai gemeente –kotamadya-tahun 3.3 Tinjauan Tipologi Bangunan pada
1914 banyak fasilitas umum yang Kawasan Ijen
didirikan, seperti: Ir. Herman Thomas Karsten yang
ƒ Pasar Petjinan tahun 1910 yang sangat berpengaruh dalam arsitektur
menjadi pusat perbelanjaan dan tata kota Malang di zaman kolonial
masyarakat kota dan sekarang menghadirkan sisi romantis kota dalam
menjadi Pasar Besar. Banyak setiap rancangannya. Perencanaan
bangunan-bangunan tua bergaya kawasan ijen didasari oleh tuntutan dan
Cina Eropa atau pencampuran Cina kebutuhan akan daerah hunian sebagai
dan Eropa, hal tersebut dapat dilihat akibat dari peningkatan jumlah
dari bentuk bangunan dan atap penduduk Kota Malang yang
yang mana bagian bangunan berkembang seiring dengan
menggunakan pilar-pilar dan model dibangunnya infra struktur perkotaan
jendela khas Eropa namun atapnya seperti jalan dan rel kereta api. Secara
melengkung ke bawah yang dicirikan Umum oleh Pemerintah Hindia Belanda,
sebagai atap rumah khas bangsa Malang diarahkan selain sebagai salah
Cina. Sejak pasar Petjinan diambil alih satu pusat pemerintahan, juga sebagai
oleh Pemda tahun 1911 pemugaran daerah peristirahatan untuk para
bangunan-bangunan tersebut terus petinggi dan pejabat pemerintahan
terjadi sampai sekarang dan tiada yang fungsinya hampir sama dengan
berbekas. Buitenzoorg (Bogor) dan Bandung.
ƒ Hotel Pelangi yang dulunya adalah Berdasarkan periodisasi
Palace Hotel -kumpulan hotel- arsitektur, Kota Malang dibangun
Jansen dan Jensen yang telah sesudah era pengembangan kota-kota
mengalami banyak pemugaran lama Hindia Belanda seperti Batavia,
meskipun sisa-sisa etnisitasnya masih Meester Cornelis, Semarang dan
tampak. Sejak hotel tersebut didirikan Surabaya hal ini merupakan konsekuensi
tahun 1916 merupakan hotel dari letak geografis kota-kota tersebut
termewah di Malang karena dengan yang terletak pada kawasan pesisir
kapasitas 125 kamar mempunyai yang juga berfungsi sebagai daerah
pelabuhan. Kelanjutan perkembangan

135
Jurnal SMARTek, Vol. 8, No. 2, Mei 2010: 130 - 142

Batavia dari segi “pergerakan urban” Stijl yang dipengaruhi langgam seni
dapat diamati bahwa pergerakan dekoratif Frank Lloyd Wright dengan ciri
tersebut menuju ke arah Buitenzoorg khas pengolahan bidang-bidang
dan Bandung dengan pertimbangan geometris, sementara itu secara umum
iklim dan panorama alamnya, di Eropa juga berkembang teori lainnya
sementara untuk Jawa Timur hal misalnya Le Corbusier dan Walter
tersebut dapat diamati pada Grophius dengan Bauhaus nya,
“pergerakan urban” dari Surabaya ke kemudian di Belgia muncul Art
Pasuruan kemudian ke Malang dengan Nouveau. Kelompok arsitek muda dari
melihat faktor iklim dan panorama Belanda yang didasari oleh kedua
alamnya. Sementara itu perkembangan faham ini mengkritik gaya bangunan
kota Semarang cenderung stagnan Empire Style ( yang diadopsi dari bentuk
karena di sekitarnya tidak terdapat arsitektur yang berkembang di Perancis
kawasan yang dianggap sesuai untuk ) tidak mencerminkan kondisi setempat
dijadikan sebagai kota peristirahatan, dan berkesan sebagai arsitektur dengan
misalnya daerah perbukitan dengan gaya ekletik yang berkesan tempelan.
suasana iklim yang sejuk. Perlu diketahui bahwa pada
Karena pengembangan kota mulanya arsitektur Empire Style masuk ke
Malang itu sendiri berlangsung setelah Indonesia sebagai wujud untuk
Surabaya, maka terdapat perbedaan menampilkan hegemony penguasa
tipologi arsitektur, dimana pada waktu terhadap daerah koloninya, dan salah
yang bersamaan (akhir tahun 1870an - satu tokoh yang berpengaruh pada
awal 1900an) banyak arsitek muda dari saat itu adalah dari kalangan militer
Belanda dengan pemahaman dan yaitu Daendels yang pernah berdinas di
konsep arsitektur yang berbeda dengan ketentaraan Perancis, yang mana pada
pendahulunya. Sebagaimana kita periode yang lebih awal di Perancis
ketahui pada waktu yang bersamaan sendiri Napoleon Bonaparte sedang
berkembang dua kelompok besar mengembangkan kekuasaannya
faham arsitektur di Belanda yaitu dengan politik ekspansinya.
Amsterdam School yang menampilkan
wujud yang ekspresionis, kemudian de

Tabel 1. Perbandingan Luasan Lahan dan Bangunan Pada Jalan Ijen


Malang

*) tidak termasuk luasan lantai 2


Sumber : hasil analisis

136
Kajian Tipologi dalam Pembentukan Karakter Visual dan Struktur Kawasan
(Studi kasus: Kawasan Ijen, Malang)
(Asyra Ramadanta)

Gambar 1. Peta Pembagian Persil dan Luasan Bangunan pada Jalan Ijen

Gambar 2. Salah satu berukuran kecil dengan bentuk atap


limasan dan bagian gevel menggunakan bilah
papan.

137
Jurnal SMARTek, Vol. 8, No. 2, Mei 2010: 130 - 142

Gambar 3. Hunian type sedang, adaptasi terhadap iklim


tropis nampak pada lubang-lubang ventilasi
dan adanya level horisontal mempertegas
simbolisasi kepala pada bangunan

Gambar 4. Hunian Type Villa/Besar pada bagian Selatan Ijen


Boulevard, bentuk atapnya merupakan
penyerapan dari bentuk yang ada pada atap
bangunan tradisional

Tipologi bangunan hunian pada nusantara, walaupun didasari oleh


kawasan ijen menunjukkan simbolisasi filosofi yang berbeda. Pada atap teras
unsur kepala (atap), badan (dinding) terlihat adanya pengaruh bentuk
dan kaki (plint/base) yang juga arsitektur lokal, dimana tidak lagi terlihat
terdapat pada tipologi arsitektur adanya Gevel pada pengakhiran

138
Kajian Tipologi dalam Pembentukan Karakter Visual dan Struktur Kawasan
(Studi kasus: Kawasan Ijen, Malang)
(Asyra Ramadanta)

canopy entrance seperti pada karsten membeli biro tersebut, karena


bangunan-bangunan kolonial di pemiliknya harus kembali ke Belanda
Surabaya tetapi menggunakan bilah dalam rangka kesehatannya. Dari sinilah
papan sebagai penutup dan terdapat tonggak kiprah Herman Thomas Karsten
bidang yang menerus ( over stek ). dimulai. Sebelumnya Mac Laine Pont
Karya Karsten banyak banyak menggali bentuk-bentuk
mendapat pengaruh dari rekannya arsitektur lokal tidak hanya yang di Jawa
Mac Laine Pont dalam mencari tipologi seperti Joglo tetapi juga ke bentuk-
arsitektur Indische, dimana Karsten bentuk arsitektur nusantara lainnya
datang ke Indonesia pada tahun 1914 seperti rumah Gadang di Minangkabau
atas undangan rekannya Henri dan bangunan rumah atau lumbung
Maclaine Pont, pemilik sebuah biro. dari suku Batak Mandailing.
Setahun kemudian, Herman Thomas

Gambar 5. Hunian yang telah mengalami alih fungsi tetapi masih


mempertahankan bentuk aslinya, nampak dormer
pada bangunan atap sebagai salah satu ciri
bangunan kolonial

Karya Karsten banyak dalam rangka kesehatannya. Dari sinilah


mendapat pengaruh dari rekannya tonggak kiprah Herman Thomas Karsten
Mac Laine Pont dalam mencari tipologi dimulai. Sebelumnya Mac Laine Pont
arsitektur Indische, dimana Karsten banyak menggali bentuk-bentuk
datang ke Indonesia pada tahun 1914 arsitektur lokal tidak hanya yang di Jawa
atas undangan rekannya Henri seperti Joglo tetapi juga ke bentuk-
Maclaine Pont, pemilik sebuah biro. bentuk arsitektur nusantara lainnya
Setahun kemudian, Herman Thomas seperti rumah Gadang di Minangkabau
karsten membeli biro tersebut, karena dan bangunan rumah atau lumbung
pemiliknya harus kembali ke Belanda dari suku Batak Mandailing.

139
Jurnal SMARTek, Vol. 8, No. 2, Mei 2010: 130 - 142

kawasan Ijen ini dapat dipertahankan,


baik unit per unit maupun dalam
tatanan sebuah kawasan.

Gambar 6. Hunian pada persil yang


terletak di sudut jalan
dengan perpaduan atap
perisai dan pelana
Gambar 7. Gereja St. Theresia yang
dengan over stek
merupakan salah satu
merupakan salah satu
bangunan kunci pada
upaya adaptasi terhadap
Jalan Ijen dengan
iklim tropis
langgam arsitektur
NeoGotik yang nampak
Kelanjutan Perkembangan yang pada okulus, deretan rch
menunjukkan perubahan dan asimilasi di atas entrance dan
bentuk dari tipologi bangunan pada ornamen berupa molding
kawasan Ijen nampak pada dua yang tidak terlalu ramai
kutubnya pada bagian Utara dan
Selatan yang dipengaruhi
perkembangan aktifitas dan
pertumbuhan Kota Malang secara
keseluruhan. Walaupun terdapat
beberapa unit bangunan dengan
tipologi dan fungsi yang baru tetapi
secara signifikan tidak merubah tipologi
kawasan ijen secara dominan. Fungsi
dominan pada kawasan ini tetap
sebagai kawasan hunian, adapun
perubahan yang banyak terjadi adalah
pada beberapa unsur dan material
bangunan yang sifatnya sebagai upaya Gambar 8. Salah satu bagunan pada
pemeliharaan bagian yang rusak. bagian Utara yang
Perubahan yang dilakukan dapat dilihat mengalami tekanan
misalnya pada penggantian material perubahan tetapi berusaha
atap dan beberapa bagian kusen dan untuk tetap menyatu
pintu tanpa merubah shape dan form dengan lingkungannya
atau siluet bangunan secara melalui bentuk dan
keseluruhan sehingga secara visual kesederhanaan canopy
bentuk dan tipologi bangunan pada entrance.

140
Kajian Tipologi dalam Pembentukan Karakter Visual dan Struktur Kawasan
(Studi kasus: Kawasan Ijen, Malang)
(Asyra Ramadanta)

4. Kesimpulan
Tipologi bangunan pada
kawasan ijen yang banyak didominasi
karya Ir Herman Thomas Karsten
memperlihatkan adanya pencarian
wujud arsitektur lokal baik dari segi
bentuk maupun material, yang lebih
sesuai untuk bangunan di daerah tropis
dan secara dimensional mampu
mewadahi fungsi dan aktifitas
penghuninya yang tentu saja berbeda
dari fungsi asli dari arsitektur lokal itu
Gambar 9. Salah satu bagunan type sendiri. Pada tipologi bangunan rumah
villa (berlantai 2) dengan tinggal yang dominan pada kawasan
pengolahan bagian yang ijen terlihat mulai meninggalkan ciri
terletak pada sudut jalan, Empire Style.
menghindari kesan Sebagaimana perencanaan
monoton dari bentuk yang pada kawasan pemukiman lainnya di
memanjang Malang atau pada daerah lainnya
seperti Semarang, Karsten menerapkan
pembagian-pembagian berdasarkan
strata sosial dan kelas ekonomi, yaitu
tinggi, menengah dan rendah, selain itu
Karsten juga menerapkan prinsip
perencanaan kota, penzoningan,
tingkatan/hirarki jalan-jalan seperti di
Eropa. Selain itu pertimbangan
berdasarkan topografi juga
menentukan pembagian persil. Pada
kawasan Ijen hal tersebut dapat dilihat
pada perbedaan ukuran persil, luas
bangunan dan type dari rumah atau
villa yang pada mulanya memang
diperuntukkan sebagai daerah
peristirahatan bagi para pejabat Hindia
Gambar 10. Hunian yang telah Belanda .
mengalami perubahan Berdasarkan pengamatan
,walaupun bentuk atap terhadap time series, sequence visual
diupayakan menyatu kawasan, dan penelusuran urban
dengan lingkungannya artefact dengan pendekatan tipologi
tetapi lisplank beton terhadap kota dan bangunan di Hindia
berdimensi besar Belanda, kita dapat mengamati
membuat bangunan ini dominasi karya Karsten sebagai peletak
terlihat kontras dengan dasar konsep pengembangan kota
bentu bangunan pada modern di Indonesia seperti Semarang,
kawasan Ijen Bandung, Batavia (Jakarta), Magelang,
Malang, Buitenzorg (Bogor), Madiun

141
Jurnal SMARTek, Vol. 8, No. 2, Mei 2010: 130 - 142

Cirebon, Meester Cornelis (Jatinegara), Institut Teknologi Sepuluh


Yogya, Surakarta, dan Purwokerto. November.
Dasar pemikiran Karsten dalam Rachmawati, M. (1990). Studi Olah
proses perancangan ruang kota juga Tampang Bangunan Kolonial
mengacu pada perencanaan (Rumah Tinggal di Malang).
(pemerintah kota) sebelumnya, Tidak dipublikasikan. Surabaya:
misalnya terhadap pengaruh dominan Pusat Penelitian Institut Teknologi
konsep "garden city". Hal ini terlihat Sepuluh November.
dengan adanya taman umum dan
halaman pada setiap rumah. Untuk Sulistijowati, M. (1991). Tipologi Arsitektur
perletakan rumah, taman umum dan Pada Rumah Kolonial Surabaya
ruang terbuka, Karsten sejauh mungkin (Dengan Kasus Perumahan
mengikuti keadaan topografi, Plampitan dan Sekitarnya). Tidak
kemiringan-kemiringan dan belokan- dipublikasikan. Surabaya: Pusat
belokan yang ada. Pembagian tanah Penelitian Institut Teknologi
dan arah jalan yang hanya terdiri dan Sepuluh November.
dua kategori (utama dan sekunder), Sumalyo, Y. (1993). Arsitektur Kolonial
selain mengikuti keadaan tanah juga Belanda Di Indonesia.
dibuat sedemikian rupa sehingga Yogyakarta: Gadjah Mada
rumah-rumah dan taman-taman umum University Press.
dapat memiliki kualitas visual yang baik.

5. Daftar Pustaka
Handinoto & Soehargo, P.H. (1996).
Perkembangan Kota dan
Arsitektur Kolonial Belanda di
Malang. Surabaya: Lembaga
Penelitian dan Pengabdian
kepada Masyarakat, Universitas
Kristen PETRA.
Karizstia, A. D. (2008). Tipologi Wajah
Rumah Tinggal Kolonial Belanda
di Kayu Tangan, Malang. Skripsi.
Tidak diterbitkan. Malang:
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik
Universitas Brawijaya.
Krier, R. (1988). Architectural
Composition. London: Academy
Edition
Lippsmeier, G. (1980). Bangunan Tropis
(Edisi ke-2). Jakarta: Erlangga
Prijotomo, J. (1987). Komposisi Olah
Tampang Arsitektur Kampung
(Telaah Kasus Kampung di
Surabaya). Tidak dipublikasikan.
Surabaya: Pusat Penelitian

142

Anda mungkin juga menyukai