0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan11 halaman

Uji Ketahanan Antraknosa Cabai Aceh M3

Penelitian ini mengevaluasi ketahanan genotipe mutan cabai lokal Aceh terhadap penyakit antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum gloeosporioides. Hasil menunjukkan bahwa genotipe D1-10-5 memiliki karakter kuantitatif terbaik, sementara genotipe D2-7-39 menunjukkan aktivitas enzim peroksidase yang optimal. Penelitian ini memberikan wawasan tentang potensi mutasi dalam meningkatkan ketahanan tanaman cabai terhadap penyakit.

Diunggah oleh

alwinurdin2005
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan11 halaman

Uji Ketahanan Antraknosa Cabai Aceh M3

Penelitian ini mengevaluasi ketahanan genotipe mutan cabai lokal Aceh terhadap penyakit antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum gloeosporioides. Hasil menunjukkan bahwa genotipe D1-10-5 memiliki karakter kuantitatif terbaik, sementara genotipe D2-7-39 menunjukkan aktivitas enzim peroksidase yang optimal. Penelitian ini memberikan wawasan tentang potensi mutasi dalam meningkatkan ketahanan tanaman cabai terhadap penyakit.

Diunggah oleh

alwinurdin2005
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Agrotek Lestari Vol. 8 No.

2, Oktober 2022 P-ISSN: 2477-4790


PP: 194 - 204 E-ISSN: 2721-8945

Uji Ketahanan Penyakit Antraknosa Yang Disebabkan Oleh


Colletotrichum gloesporioides Pada Populasi (M3) Cabai Lokal Aceh

Siti Hafsah1, Putri Amelia1, Nura1, Firdaus2


1
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Indonesia
2
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh , Indonesia
Email korespondensi: sitihafsah@[Link]

ABSTRACT

This research aimed to determine the level of resistance of the mutant genotype against
anthracnose caused by Colletotrichum gloeosporioides in the M 3 population of local Aceh
chilies as a result of gamma irradiation. The experimental design used in this study was a
non-factorial randomized block design (RAK) with three replications and 17 observation
parameters. The factors studied included one local Aceh variety (Odeng) as the parent, four
mutant genotypes (M3) with various levels of gamma ray irradiation doses and two national
varieties (Kastilo and Laris) as comparisons. The results showed that the quantitative
character of the D1-10-5 mutant genotype was the best on the parameters of fruit length,
number of fruits per plant, fruit weight per plant and plant productivity. The best D2-7-39
genotype on dichotomous height parameters, peroxidase enzyme activity in healthy leaves
and peroxidase enzyme activity in sick leaves. The best D3-9-9 genotype on parameters of
plant height, fruit diameter, weight per fruit, incidence of green fruit disease, intensity of
green fruit disease and disease leaf peroxidase enzyme activity. The best genotype D3-9-34
on parameters of thickness of fruit flesh, incidence of red fruit disease, intensity of red fruit
attack. The qualitative character of the young fruit color in the mutant genotypes D2-7-39,
D3-9-34 and D3-9-9 gave rise to different characters from the elder varieties (odeng) and
the comparison varieties of Castile and Laris, namely Dark Yellowish Green (3707). ). The
color character of the intermediate fruit genotypes D1-10-5 and D3-9-34 produced a
different color from the parent, namely Dark Redd Purple (9210).
Keywords: mutant, Odeng, incidence, intensity, disease

PENDAHULUAN

Tanaman cabai adalah salah satu panen (Harpenas dan Dermawan, 2009).
komoditas sayuran yang penting dan Produksi cabai merah pada tahun 2017
bernilai ekonomis tinggi (Syukur et al, sebesar 1.206,2 ton, data ini meningkat
2016). Permintaan akan cabai yang sebesar 15,45% dari tahun sebelumnya
semakin tinggi menuntut para petani untuk yang mencapai 1.045,6 ton dan terus
bisa meningkatkan produktivitas dan meningkat hingga tahun 2018 menjadi
kualitasnya. Hal ini memiliki makna yaitu 1.206,7 ton. Tahun 2019 produksi cabai
tanaman cabai yang dihasilkan harus meningkat menjadi 1.214,4 ton dan terus
memiliki keunggulan seperti produksi meningkat hingga tahun 2020 sebesar
tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit, 4,09% yaitu 1.264,1 ton (BPS, 2020).
umur genjah dan tahan lama setelah di
Organisme Penganggu Tanaman mengakibatkan hasil kualitas cabai
(OPT) seperti hama ataupun penyakit mengalami penurunan (Arsi et al, 2020).
merupakan salah satu faktor yang dapat Salah satu penyakit yang

194
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204

menyerang tanaman cabai adalah sangat dominan dibudidayakan oleh


antraknosa (Rostini, 2012). Penyebab petani Bener Meuriah. Cabai ini dapat
penyakit antraknosa adalah cendawan tumbuh di dataran rendah, sedang dan
Colletotrichum sp, salah satu jenis tinggi hingga 1200 meter diatas
cendawan collecthroticum sp adalah permukaan laut (Riza, 2020). Mutasi
Colletotrichum gloesporioides (Ratulangi, merupakan cara untuk mendapatkan
2012). Penyakit antraknosa ini tergolong tanaman yang tahan terhadap penyakit
berbahaya karena menyebabkan tertentu (Sutapa, 2016). Berdasarkan
kehilangan hasil sebesar 10-80% pada penelitian Nura (2015) didapatkan hasil
musim hujan dan 2-35% pada musim bahwa tanaman mutan IPBC10 dosis 100
kemarau (Widodo, 2017). Jenis penyakit Gy dan IPBC10 dosis 300 Gy cenderung
lain yang menyerang tanaman, yaitu mengarah pada sangat tahan, IPBC10 dosis
begomovirus. Gejala penyakit ini pada 200 Gy tahan, dan IPBC10 dosis 400 Gy
cabai adalah terdapat bercak kuning pada cenderung mengarah pada moderat.
sekitar tulang daun, kemudian tampak Tanaman mutan IPBC15 dosis 100 Gy,
tulang-tulang daun menjadi lebih pucat IPBC15 dosis 200 Gy, IPBC15 dosis 300
yang berkembang menjadi warna kuning Gy, dan IPBC15 dosis 400 Gy juga
sangat jelas, menebal dan helai daun memiliki kriteria ketahanan yang sama
menggulung ke atas. Gejala lanjut dengan tetuanya. IPBC15 dosis 200 Gy
penyakit ini menunjukan daun-daun muda tahan, IPBC15 dosis 300 Gy dan IPBC15
menjadi kecil-kecil, bagian helai daun dosis 400 Gy cenderung mengarah pada
berwarna kuning cerah atau hijau muda moderat. Berdasarkan penjelasan diatas,
yang berseling dengan warna kuning maka penelitian ini bertujuan untuk
cerah. Proses selanjutnya yaitu tanaman mengetahui tingkat ketahanan genotipe
menjadi kerdil (Sulandari et al., 2001). mutan terhadap penyakit begomovirus dan
Odeng merupakan salah satu antraknosa pada populasi M3 cabai lokal
varietas cabai merah lokal unggulan dan Aceh.

METODE

Penelitian ini dilaksanakan di berbagai dosis irradiasi dan dua varietas


Kebun Percobaan Dua Sektor Timur, pembanding, yaitu varietas Kastilo dan
Fakultas Pertanian, Universitas Syiah varietas Laris sehingga terdapat 21 satuan
Kuala. Penelitian ini dilaksanakan pada percobaan. Masing-masing satuan
Oktober 2021 hingga Mei 2022. Penelitian percobaan terdiri dari 20 tanaman yang
dilaksanakan menggunakan rancangan terdiri dari 10 tanaman sampel dengan
acak kelompok (RAK) non-faktorial, total keseluruhan adalah 420 tanaman.
dengan tiga blok, masing-masing blok
terdiri atas satu varietas Odeng sebagai
tetua, empat genotipe mutan M3 dengan
Pengamatan Parameter Penyakit menggunakan metode (Yoon, 2003)
Antraknosa dengan rumus sebagai berikut:.
Kejadian Penyakit n
KP = x 100%
N
Parameter kejadian penyakit
Keterangan:
diamati pada hari ke-7 setelah diinokulasi.
KP = Kejadian penyakit (%)
Pengamatan dilakukan dengan

195
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204

n= Jumlah buah inokulasi yang Hasil dari perhitungan KP akan


terserang, yaitu jika diameter serangan > ditentukan berdasarkan kelas kejadian
4 mm penyakit sebagai berikut:
N = Jumlah buah inokulasi total
Tabel 2. Kelas kejadian penyakit
Persentase Skor Kriteria Ketahanan
0 ≤ KP ≤ 10 1 Sangat tahan
10 ≤ KP ≤ 20 2 Tahan
20 ≤ KP ≤ 40 3 Moderat
40 ≤ KP ≤ 70 4 Rentan
KP ≥ 70 5 Sangat rentan

Intensitas Serangan Penyakit Antraknosa


Intensitas serangan penyakit dengan rumus metode Zeck (Supratoyo,
adalah presentase keparahan peyakit 1997) sebagai berikut:
berdasarkan luas gejala yang tampak pada ∑(n × V)
buah. Buah yang dibungkus dengan IS = x 100%
N×Z
plastik wrap lalu gejala yang tampak
Keterangan:
digambar menggunakan spidol diatas
IS = Intensitas serangan
plastic wrap tersebut. Kemudian luas
n = Jumlah buah dari tiap kategori
gejala (cm) pada plastic wrap yang sudah
serangan yang sama
tergambar tadi dihitung dengan
V = Nilai skala atau skor tiap kategori
menggunakan kertas millimeter blok dan
serangan
ditentukan berdasarkan kategori serangan
N = Jumlah buah yang diamati
(Tabel 3.). Terakhir, nilai persentase
Z = Skor serangan tertinggi
intensitas serangan jamur Colletothricum
gloeosporioides pada cabai dihitung

Tabel 3. Kategori serangan


Skor Persentase
0 0 – 10%
1 10% - 20%
2 20% - 30%
3 30% - 40%
4 40% - 50%
5 >50%

Aktifitas Enzim Peroksidase


Berdasarkan metode Zen et al. mengambil daun cabai termuda (pucuk).
(2002) pengujian aktivitas enzim Daun cabai terlebih dahulu disimpan
peroksidase dilakukan dengan cara dalam freezer, setelah itu dihancurkan

196
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204

dalam keadaan dingin. Daun cabai yang bahan diatas kedalam kuvet tanpa sediaan
telah dihaluskan disaring dengan enzim. Campuran tersebut dihomogenkan
menggunakan kain kasa dan larutan hasil selama 5-10 detik dan diamati dengan
saringan dimasukkan ke dalam tabung sprektrofotometer pada panjang
reaksi. Larutan saringan akan gelombang 420 nm. Nilai absorban
disentrifugasi selama 30 menit, kemudian diamati selama 30 detik sebanyak tiga
hasil disentrifugasi digunakan sebagai kali, lalu dihitung dengan rumus:
sediaan enzim dan diencerkan dengan 𝐸𝑃
perbandingan 3:1 (3 ml buffer fosfat 0.01
M pH 6 + 1 ml sediaan enzim). Sediaan = 𝐴 (𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
enzim yang telah diencerkan akan − 𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 )𝑥 8,5 𝑚𝑙 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛
dihomogenkan dengan vortex selama 5-10
detik. Larutan pyrogallol dibuat terlebih Keterangan :
dahulu menjelang pengukuran aktivias EP = Aktivitas enzim peroksidase
enzim peroksidase dengan cara (Unit/ml)
mencampurkan 10 ml pyrogallol 0,5 M A = Hasil absorbansi 𝜆 420 nm
dengan 12,5 ml buffer fosfat 0,066 M pH
6 dan selanjutnya diencerkan dengan Parameter Kuantitatif
aquades sampai volumenya menjadi 100 Parameter kuantitatif yang diamati
ml. Pada pengukuran aktivitas enzim pada penelitian ini adalah tinggi tanaman,
peroksidase diambil sebanyak 0,2 ml tinggi dikotomus, diameter batang, lebar
sediaan enzim yang telah diencerkan tajuk, umur berbunga, umur panen, jumlah
ditambahkan pada pereaksi yang terdiri buah per tanaman, bobot buah per
dari 5 ml larutan pyrogallol 0,5 M dan 0,5 tanaman, produktivitas, panjang buah,
ml H2O 1% didalam kuvet. Blanko diameter buah, tebal kulit buah, dan bobot
disiapkan dengan memasukkan bahan- per buah.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tinggi Tanaman dan Tinggi Dikotomus
Tabel 4. Rataan tinggi tanaman dan tinggi dikotomus genotipe uji, varietas tetua cabai
lokal Aceh dan dua varietas pembanding Nasional
Varietas / Genotipe Parameter Pengamatan
Tinggi Tanaman (cm) Tinggi Dikotomus (cm)
Odeng 60,30 26,40 abcd
D1-10-5 49,41 21,55 ab
D2-7-39 53,26 27,69 cd
D3-9-34 47,42 21,24 a
D3-9-9 62,35 26,32 abcd
Kastilo 53,76 22,88 abc
Laris 56,44 29,65 d
BNJ 5,18
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata
berdasarkan uji BNJ pada taraf α = 0,05.

Pengukuran tinggi tanaman dan dikotomus berkisar antara 21,24-27,69


tinggi dikotomus dilakukan pada saat cm. Berdasarkan tabel 5 menunjukkan
panen kedua. Varietas pembanding dan bahwa parameter tinggi tanaman
genotipe mutan yang diuji mempunyai cenderung lebih tinggi terdapat pada
rata-rata tinggi tanaman yang berkisar genotipe mutan D3-9-9 yaitu sebesar
antara 47,42 - 62,35 cm. Rata-rata tinggi 62,35 cm, meskipun secara statistik tidak

197
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204

menunjukkan perbedaan yang nyata tanah saat hujan dan penyiraman terkena
dengan varietas pembanding dan genotipe langsung ke buah cabai (Kirana dan
uji lainnya. Genotipe mutan D2-7-39 Sofiari, 2007). Sujiprihati et al. (2008),
memiliki nilai rata-rata tinggi dikotomus menyatakan bahwa tinggi dikotomus
terbaik secara statistik yaitu sebesar 26,32 tanaman yang dikehendaki yakni dengan
cm, meskipun tidak berbeda nyata dengan ukuran ± 20 cm. Tanaman dengan tinggi
varietas odeng (tetua) dan varietas dikotomus yang terlalu pendek, buahnya
pembanding Kastilo dan Laris. memiliki potensi lebih mudah terserang
Tinggi tanaman suatu cabai penyakit karena percikan air hujan yang
berkaitan erat dengan penyakit meningkatkan kelembaban. Selain itu,
antraknosa. Semakin tinggi suatu tanaman buah akan rusak atau terbakar karena
cabai, maka buah cabai semakin sulit bersentuhan langsung dengan mulsa
untuk menyentuh permukaan tanah. Hal plastik yang memantulkan panas sinar
ini dapat menghindari percikan air dari matahari.

Tabel 5. Rataan panjang buah, diameter buah, tebal daging buah dan bobot per buah
genotipe uji, varietas tetua cabai lokal Aceh dan dua varietas pembanding
Nasional
Varietas / Parameter Pengamatan
Genotipe Panjang Buah Diameter Buah Tebal Daging Bobot Per Buah
(cm) (mm) Buah (mm) (gr)
Odeng 8,55 cdef 7,36 de 0,96 2,79 ef
D1-10-5 7,41 abcde 6,31 ab 0,89 1,45 abc
D2-7-39 5,97 a 6,00 a 0,89 1,18 a
D3-9-34 6,18 ab 6,53 abc 1,01 1,29 ab
D3-9-9 7,17 abcd 6,59 abcd 0,99 1,61 abcd
Kastilo 9,52 f 7,15 cde 0,94 3,33 g
Laris 6,75 abc 7,14 cde 0,92 2,46 e
BNJ 1,97 0,78 0,89
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata
berdasarkan uji BNJ pada taraf α = 0,05.

Pengukuran panjang buah, panjang buah tanaman mutan D1-10-5


diameter buah, tebal daging buah dan memiliki nilai terbaik secara statistik yaitu
bobot per buah dilakukan setelah panen sebesar yaitu sebesar 7,41 cm, dimana
kedua dengan mengambi rata-rata dari 10 nilai ini berbeda nyata dengan varietas
buah cabai setiap tanaman. Varietas tetua dan varietas pembanding.
pembanding dan genotipe mutan yang Parameter diameter buah tanaman mutan
diuji mempunyai rata-rata nilai panjang D3-9-9 memiliki nilai rata-rata terbaik
buah berkisar antara 5,97 cm – 9,52 cm, secara statistik yaitu sebesar 6,59 mm,
rata-rata nilai diameter buah berkisar yang berbeda nyata dengan varietas tetua
antara 6 mm – 7,36 mm dan rata-rata nilai dan varietas pembanding. Parameter tebal
tebal daging buah berkisar antara 0,89 mm daging buah tanaman mutan D3-9-34
– 1,01 mm serta rata-rata nilai bobot per memiliki nilai terbaik secara statistik,
buah berkisar antara tinggi tanaman yang yaitu sebesar 1,01 mm, meskipun tidak
berkisar antara 1,18 gr -3,33 gr. Tabel berbeda nyata dengan varietas tetua dan
menunjukkan bahwa pada parameter varietas pembanding. Parameter bobot per

198
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204

buah tanaman mutan D3-9-9 memiliki cm. Astutik et al. (2017) mengemukakan
nilai terbaik secara statistik yaitu sebesar bahwa pada cabai keriting diameter buah
1,61 mm, dan hasil ini memiliki perbedaan digolongkan sebagai mutu I jika
yang nyata dengan varietas tetua (odeng) diameternya >13-15 mm, mutu II jika
dan varietas pembanding (Kastilo dan diameternya 10 < 13 mm dan mutu III jika
Laris). diameter nya < 1,0 mm. Karakter bobot
Menurut Sayaka et al. (2008), buah merupakan salah satu faktor penting
salah satu industri di Indonesia yang dalam produksi cabai. Hal ini bertujuan
menggunakan cabai sebagai bahan untuk mendapatkan genotipe hibrida
bakunya memberikan kriteria cabai yang dengan potensi hasil yang tinggi. Semakin
digunakan dengan ukuran panjang 9,5- besar bobot per buah maka bobot buah per
14,5 cm. Syukur et al. (2012) menyatakan tanaman tersebut semakin besar (Haydar
bahwa pada konsumen industri saus et al., 2007).
tertentu, spesifikasi tebal daging buah
cabai merah berkisar antara 1,00 cm-1,70

Tabel 6. Rataan jumlah buah per tanaman, bobot buah per tanaman dan produktivitas
genotipe uji, varietas tetua cabai lokal Aceh dan dua varietas pembanding
Nasional
Parameter Pengamatan
Varietas / Genotipe Jumlah Buah Per Bobot Buah Per Produktivitas
Tanaman Tanaman (gr) (ton/ha)
Odeng 38,40 b 75,05 c 2,74 c
D1-10-5 34,43 b 55,71 abc 2,03 abc
D2-7-39 5,79 ab 6,38 a 0,23 a
D3-9-34 12,91 ab 17,35 ab 0,63 ab
D3-9-9 25,18 ab 45,94 abc 1,67 abc
Kastilo 35,95 b 91,50 c 3,34 c
Laris 29,85 ab 45,12 abc 1,64 abc
BNJ 26,62 57,54 -
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata berdasarkan uji
BNJ pada taraf α = 0,05.

Pengukuran jumlah buah per 2,03 ton /ha. Nilai-nilai yang dihasilkan
tanaman, bobot buah per tanaman dan dari parameter ini berpengaruh nyata
produktivitas dilakukan selama delapan secara statistik terhadap varietas tetua
kali panen. Berdasarkan tabel dapat (odeng) dan varietas pembanding kastilo,
dilihat bahwa varietas pembanding dan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap
genotipe mutan yang diuji mempunyai varietas pembanding Laris.
rata-rata nilai jumlah buah pertanaman Berdasarkan tabel 6 dapat ditarik
berkisar antara 5,79-38,4, rata-rata nilai kesimpulan bahwa dosis iradiasi 300 Gy
bobot buah per tanaman berkisar antara secara statistik tidak lebih baik
6,38 gr – 91,5 gr dan rata-rata nilai dibandingkan dosis 100 Gy untuk
produktivitas berkisar antara 0,23-3,34 memberikan hasil yang maksimal
ton/ha. Parameter jumlah buah per terhadap parameter jumlah buah per
tanaman, bobot buah per tanaman dan tanaman, bobot buah dan produktivitas.
produktivitas memiliki nilai rata-rata Hal ini berbanding terbalik dengan
terbaik secara statistik pada tanaman penelitian yang dilakukan Sari (2020)
mutan D1-10-5 dengan nilai secara yang mengemukakan bahwa dari hasil
berturut-turut yaitu 34,43, 55,71 gr dan analisis ragam menunjukkan bahwa

199
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204

terdapat pengaruh signifikan pada benih produktivitas cabai dapat menyentuh


cabai yang diiradiasi sinar gamma angka 12 ton ha-1. Menurut Sayaka et al.
terhadap jumlah buah yang dihasilkan dan (2008), PT Heinz ABC Indonesia
bobot buah per tanamannya. Permadi dan memberikan kriteria varietas cabai yang
Kusandriani (2006) mengemukakan digunakan untuk pengolahan produknya
bahwa apabila petani menggunakan benih harus menghasilkan bobot buah sebesar
unggul dan sistem budidaya intensif maka 700 – 900 g per tanamannya.

Tabel 7. Rataan kejadian penyakit pada buah hijau dan merah genotipe uji, varietas tetua
cabai lokal Aceh dan dua varietas pembanding Nasional
Varietas / Kejadian Kriteria Kejadian Kriteria
Genotipe Penyakit Buah Penyakit Buah
Hijau (%) Merah (%)
Odeng 92,22 Sangat Rentan 94,44 Sangat Rentan
D1-10-5 92,22 Sangat Rentan 97,78 Sangat Rentan
D2-7-39 88,89 Sangat Rentan 90,00 Sangat Rentan
D3-9-34 88,89 Sangat Rentan 85,56 Sangat Rentan
D3-9-9 81,11 Sangat Rentan 92,22 Sangat Rentan
Kastilo 88,89 Sangat Rentan 90,00 Sangat Rentan
Laris 90,00 Sangat Rentan 84,45 Sangat Rentan
BNJ - -

Kejadian (insidensi) penyakit Hal ini selaras dengan yang dikemukakan


diamati pada saat hari ke-7 setelah Madden et al. (2007) yaitu jika suatu
inokulasi. Berdasarkan tabel 7 hasil yang tanaman ditanam di daerah tertentu
diperoleh menunjukkan bahwa rata-rata beberapa kali dalam setiap tahun dapat
presentase kejadian penyakit untuk cabai mengakibatkan pengumpulan galur patogen
hijau berkisar antara 81,11- 92,22 %, dan pembentukan inokulum untuk penyakit
sedangkan rata-rata presentase kejadian tertentu. Wiratama et al. (2013) semakin
penyakit untuk cabai merah berkisar antara tinggi nilai kejadian penyakit suatu galur
84,45-97,7% sehingga dikategorikan sangat maka akan semakin rentan galur tersebut.
rentan. Presentase rata-rata kejadian Muamaroh et al. (2018) menyatakan cabai
penyakit terendah pada buah hijau yang terserang patogen dari penyakit
diperoleh dari tanaman mutan D3-9-9 yaitu antraknosa tergolong sangat rentan jika
sebesar 81,11 %, meskipun nilai ini tidak kejadian penyakit termasuk kedalam skor
berbeda nyata dengan varietas tetua (odeng) 5 dengan persentase serangan ≥70.
dan varietas pembanding Kastilo dan Laris.
Presentase rata-rata kejadian penyakit Berdasarkan tabel 8 hasil yang
terendah pada buah merah diperoleh dari diperoleh menunjukkan bahwa intensitas
tanaman mutan D3-9-34 yaitu sebesar 85,56 serangan pada tanaman mutan dalam
%, meskipun nilai ini juga tidak berbeda kondisi buah hijau lebih rendah
nyata dengan varietas tetua (odeng) dan dibandingkan buah merah. Hal ini
varietas pembanding Kastilo dan Laris. selaras dengan yang dikemukakan oleh
Hasil yang menunjukkan kategori Ratulangi et al., (2012) dimana buah
sangat rentan ini dapat disebabkan karena cabai hijau lebih tahan terhadap serangan
penggunaan lahan yang ditanam cabai antraknosa karena mempunyai lapisan
secara terus menerus sehingga pada mutan lilin dan lapisan epidermis yang keras
generasi ke 3 belum dapat mencegah dan tebal sebagai ketahanan
penurunan kejadian penyakit antraknosa ini. strukturalnya sehingga sulit untuk

200
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204

diinfeksi oleh patogen. Cabai hijau juga mempunyai ketahanan yang lebih
mengandung fenol dan enzim aktif yang dibandingkan dengan cabai merah.
tinggi sehingga membuatnya

Intensitas Serangan Penyakit Buah Hijau Dan Merah


Tabel 8 . Rataan intensitas serangan penyakit pada buah hijau dan merah genotipe uji,
varietas tetua cabai lokal Aceh dan dua varietas pembanding Nasional
Varietas / Intensitas Serangan Penyakit Intensitas Serangan Penyakit
Genotipe Buah Hijau (%) Buah Merah (%)
Odeng 87,22 70,13
D1-10-5 75,59 80,19
D2-7-39 83,52 78,15
D3-9-34 79,63 72,36
D3-9-9 70,23 80,80
Kastilo 74,78 77,50
Laris 70,75 69,42
BNJ - -

Parameter intensitas serangan (odeng) dan varietas pembanding


penyakit diamati pada hari ke 7 setelah Kastilo dan Laris. Intensitas serangan
inokulasi. Berdasarkan tabel 9 adalah pembagian total luas permukaan
presentase rata-rata intensitas serangan inang yang terinfeksi terhadap total luas
penyakit terendah pada cabai hijau permukaan inang yang diteliti
berkisar antara 70,23-87,22 %, (Wiratama et al., 2013). Setiap varietas
sedangkan pada cabai merah berkisar memiliki tingkat ketahanan yang
antara 69,42-80,80%. Presentase rata- berbeda dalam merespon serangan
rata intensitas serangan penyakit penyakit antraknosa. Perbedaan tingkat
terendah pada cabai hijau ditunjukkan ketahanan tersebut disebabkan masing-
oleh tanaman mutan D3-9-9, yaitu masing tanaman memiliki daya tahan
sebesar 70,23 %, meskipun nilainya yang berbeda dari serangan penyakit
tidak berbeda nyata dengan varietas tetua tertentu (Hamnah, 2021).
Aktivitas Enzim Peroksidase
Tabel 9. Rataan aktivitas enzim peroksidase
Varietas / Genotipe Aktivitas Enzim Peroksidase (Unit ml-1)
Odeng (0,13)
0,86 a
D1-10-5 (0,11)
0,83 a
D2-7-39 (0,14)
0,87 a
D3-9-34 (0,12)
0,84 a
D3-9-9 (0,08)
0,78 a
Kastilo (0,11)
0,83 a
Laris (0,08)
0,78 a
BNJ 0,10

201
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204

Parameter aktifitas enzim dengan varietas tetua (odeng) dan varietas


peroksidase diamati dari sampel daun pembanding Kastilo dan Laris.
yang diambil pada saat buah cabai dalam Berdasarkan tabel 9, jika
kondisi hijau. Tabel 9 menjelaskan dikorelasikan dengan tabel 7 terkait
aktifitas enzim peroksidase pada sampel kejadian penyakit dapat ditarik
daun sehat setelah ditransformasi berkisar kesimpulan bahwa nilai aktifitas enzim
antara 0,78-0,87 Unit ml-1 , sedangkan peroksidase yang tinggi belum selaras
pada daun sakit setelah ditransformasi dengan rendahnya kejadian penyakit
berkisar antara 0,78-0,86 Unit ml-1 . antraknosa. Hal tersebut diduga karena
Aktifitas enzim peroksidase tertinggi pada tanaman dalam menghadapi cekaman atau
daun sehat didapatkan dari tanaman mutan pelukaan karena serangan patogen tidak
D2-7-39 dengan nilai 0,87 Unit ml-1, hanya disebabkan oleh aktivitas enzim
meskipun tidak berbeda nyata pada peroksidase, tetapi juga oleh aktivitas
varietas tetua (odeng) dan varietas senyawa lainnya. Asam salsilat juga
pembanding Kastilo dan Laris. Aktifitas merupakan salah satu enzim untuk
enzim peroksidase tertinggi pada daun mekanisme pertahanan tanaman.
sakit diperoleh dari tanaman tiga mutan, Peningkatan akumulasi asam salisilat
yaitu D2-7-39, D3-9-34 dan D3-9-9 merupakan bentuk respon yang cepat dari
dengan nilai sebesar 0,86 Unit ml-1, tanaman untuk melawan infeksi terhadap
meskipun nilainya tidak berbeda nyata patogen tertentu (Faizah, 2012).

KESIMPULAN

Karakter kuantitatif genotipe mutan D1- terbaik pada parameter tebal daging buah,
10-5 terbaik pada parameter panjang buah, kejadian penyakit buah merah, intensitas
jumlah buah per tanaman, bobot buah per serangan buah merah. Pada karakter
tanaman dan produktivitas tanaman. kualitatif karakter warna buah muda pada
Genotipe D2-7-39 terbaik pada parameter genotipe mutan D2-7-39, D3-9-34 dan
tinggi dikotomus, aktifitas enzim D3-9-9 memunculkan karakter yang
peroksidase daun sehat dan aktifitas enzim berbeda dari varietas tetua (odeng) dan
peroksidase daun sakit. Genotipe D3-9-9 varietas pembanding Kastilo dan Laris,
terbaik pada parameter tinggi tanaman, yaitu Dark Yellowish Green (3707).
diameter buah, bobot per buah, kejadian Karakter warna buah intermediet genotipe
penyakit buah hijau, intensitas serangan D1-10-5 dan D3-9-34 menghasilkan
penyakit buah hijau dan aktifitas enzim warna yang berbeda dari tetuanya, yaitu
peroksidase daun sakit. Genotipe D3-9-34 Dark Redd Purple (9210).

DAFTAR PUSTAKA

Arsi, A., Wagiyanti, W., SHK, S., Merah di Kecamatan Air Salek
Pujiastuti, Y., Herlinda, S., Kabupaten Banyuasin. Prosiding
Hamidson, H., Gunawan, B., Seminar Nasional Lahan
Irsan, C., Suwandi, S., Efendi, R, Suboptimal ke-8 Tahun 2020.
A., Nughraha, S, I., Palembang, Indonesia :
Lailaturrahmi. and L, Munandar, Universitas Sriwijaya. pp. 138-
R, P. 2020. Inventarisasi 147.
Serangga pada Pertanaman Cabai

202
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204

Astutik , W., Dwi, R., dan Nurul, S., 2017. Ketahanan Beberapa Varietas
Uji Daya Hasil Galur MG1012 Cabai Merah (Capsicum annuum
Dengan Tiga Varietas L.) Hibrida Pada Kemasan Buah
Pembanding Tanaman Cabai terhadap Penyakit Antraknosa
Keriting (Capsicum annum L.). Colletrichum acutatum, Jurnal
Journal of Applied Agricultural Produksi Tanaman, 6(4), pp.
Science, 1(2), pp. 163-173. 619–628.
Badan Pusat Statistik. 2020. . Luas Panen Nura,. Muhammad, S,. Nurul, K. and
Tanaman Sayuran Menurut Widodo., 2015. Radiosensitivitas
Provinsi dan Jenis Tanaman. dan Heritabilitas Ketahanan
Jakarta Pusat: Badan Pusat terhadap Penyakit Antraknosa
Statistik. pada Tiga Populasi Cabai yang
Diinduksi Iradiasi Sinar Gamma,
Faizah, R., Sriani, S., Muhammad, S. and Jurnal Agronomi Indonesia, 43
Sri, H, H. 2012. Ketahanan (3), pp. 201-206.
Biokimia Tanaman Cabai
terhadap Begomovirus Penyebab Permadi, A.H. and Y. Kusandriani., 2006.
Penyakit Daun Keriting Kuning. Pemuliaan tanaman cabai.
Jurnal Fitopalogi Indonesia, 8 Jakarta: Penebar Swadaya.
(5), pp. 138-144.
Ratulangi, M.M., D.T. Sembel., C.S.
Hamnah., N, Aidawati. and D, Fitriyani. Rante., M.F. Dien., E.R.M.
2021. Uji Ketahanan Beberapa Meray., M. Hammig., M.
Varietas Tanaman Cabai Rawit Shepard., G. Carner. and E.
Terhadap Penyakit Antraknosa, Benson., 2012. Diagnosis dan
Jurnal Proteksi Tanaman Insidensi Penyakit Antraknosa
Tropika. 4(1), pp. 252-258. pada Beberapa Varietas Tanaman
Cabe Di Kota Bitung dan
Haydar, A. Mandal, M.A and Ahmed, Kabupaten Minahasa, Eugenia,
M.B. 2007. Studies on Genetic pp. 18 (2).
Variability and Interrelationship
among the Different Traits in Riza, S., Erita, H. and Ainun, M., 2020.
Tomato (Lycopersicon Pengaruh Pupuk Organik dan
Varietas Terhadap Pertumbuhan
esculentum Mill.). Journal of
dan Hasil Tanaman Cabai Merah,
Scientifict Research. 2 (3-4),
Jurnal Ilmiah Mahasiswa
pp.139-142. et al., 2007) Pertanian. 5(2), pp. 327-336.
Kirana, R. and Sofiari, E. 2007. Heterosis
Rostini, N., 2012. 9 Strategi Bertanam
dan Heterobeltiosis pada
Cabai Bebas Hama dan
Persilangan Lima Genotipe
Penyakit. Jakarta: Agromedia
Cabai dengan Metode Dialel,
Pustaka.
Jurnal Hortikultura. 17 (2), pp.
111-117. Sari, N, M, P., Gusti, N, S. and A.A.
Ngurah G. 2020. Pemanfaatan
Madden, L., Gareth H. and Frank VDB.
Radiasi Gamma Co-60 untuk
2007. Study of Plant Disease
Pemuliaan Tanaman Cabai
Epidemics. USA: American
(Capsicum annum L.) dengan
Phytopathological Society.
Metode Mutagen Fisik. Buletin
Muamaroh, S., Wahyono, A. and Fisika. 21 (2), pp. 47-52.
Respatijarti, 2018. Tingkat

203
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204

Sayaka, B., I.W. Yusastra., R. Sajuti., Syukur, M, Yunianti, R. and Rahmansyah,


Supriyati, W.K,. Sejati, A., D. 2016. Sukses Panen Cabai
Agustian, Y. Supriyatna, I.S. Tiap Hari. Jakarta: Penebar
Anugrah, R. Elizabeth, Ashari Swadaya.
dan J. Situmorang. 2008.
Pengembangan kelembagaan Widodo, 2007. Status of Chili
partnership dalam pemasaran Anthracnose in Indonesia. In:
komoditas pertanian. Ringkasan First Internastional Symposium
Eksekutif Laporan Akhir and Chili Antracnose. Seoul
Penelitian. Pusat Analisis Sosial National University, Korea. pp.
Ekonomi dan Kebijakan 27.
Pertanian, Departemen Wiratama, I, D, M, P., I, P, S., I, M, S,
Pertanian. Ketut, S. and Made, S, U. 2013.
Kajian Ketahanan Beberapa
Sudiono dan Purnomo, 2009., Hubungan Galur dan Varietas Cabai
antara Populasi Kutu Kebul dan terhadap Serangan Antraknosa di
Penyakit Kuning pada Cabai di Desa Abang Songan Kecamatan
Lampung Barat. [Link] Tropika, Kintamani Kabupaten Bangli,
9(2), 115-120.
Jurnal Agroekoteknologi
Tropika. 2(2), pp. 71-81.
Sutapa, G, N. and I, G, A, K. 2016. Efek
Induksi Mutasi Radiasi Gamma Yoon, J. V., 2003. Identification of genetic
60 Co Pada Pertumbuhan resources, interspecific
Fisiologis Tanaman Tomat hybridization, and inheritance
(Lycopersicon esculentum L.), analysis for breeding pepper
Jurnal Keselamatan Radiasi dan (Capsicum annuum) resistant to
Lingkungan. 1(2), pp. 5-11. anthracnose. Seoul National
University, South Korea.
Supratoyo., 1997. Macam-macam Spesies
dan Peranan Nematoda Puru Zen, K., Setiamiharja, R., Murdaningsih.
Akar (Meloidogyne spp.) pada and T, S., 2002. Aktivitas Enzim
pertanaman Tomat di DIY. Peroksidase pada Lima genotipe
Yogyakarta: Lembaga Penelitian Cabai yang Mempunyai
UGM. Ketahanan Terhadap Penyakit
Antraknosa. Zuriat, 12(2), pp.
Syukur, M., Sujiprihati, S. and Yunianti,
97–105.
R., 2012. Teknik Pemuliaan
Tanaman. Jakarta: Penebar
Swadaya Grup.

204

Anda mungkin juga menyukai