Uji Ketahanan Antraknosa Cabai Aceh M3
Uji Ketahanan Antraknosa Cabai Aceh M3
ABSTRACT
This research aimed to determine the level of resistance of the mutant genotype against
anthracnose caused by Colletotrichum gloeosporioides in the M 3 population of local Aceh
chilies as a result of gamma irradiation. The experimental design used in this study was a
non-factorial randomized block design (RAK) with three replications and 17 observation
parameters. The factors studied included one local Aceh variety (Odeng) as the parent, four
mutant genotypes (M3) with various levels of gamma ray irradiation doses and two national
varieties (Kastilo and Laris) as comparisons. The results showed that the quantitative
character of the D1-10-5 mutant genotype was the best on the parameters of fruit length,
number of fruits per plant, fruit weight per plant and plant productivity. The best D2-7-39
genotype on dichotomous height parameters, peroxidase enzyme activity in healthy leaves
and peroxidase enzyme activity in sick leaves. The best D3-9-9 genotype on parameters of
plant height, fruit diameter, weight per fruit, incidence of green fruit disease, intensity of
green fruit disease and disease leaf peroxidase enzyme activity. The best genotype D3-9-34
on parameters of thickness of fruit flesh, incidence of red fruit disease, intensity of red fruit
attack. The qualitative character of the young fruit color in the mutant genotypes D2-7-39,
D3-9-34 and D3-9-9 gave rise to different characters from the elder varieties (odeng) and
the comparison varieties of Castile and Laris, namely Dark Yellowish Green (3707). ). The
color character of the intermediate fruit genotypes D1-10-5 and D3-9-34 produced a
different color from the parent, namely Dark Redd Purple (9210).
Keywords: mutant, Odeng, incidence, intensity, disease
PENDAHULUAN
Tanaman cabai adalah salah satu panen (Harpenas dan Dermawan, 2009).
komoditas sayuran yang penting dan Produksi cabai merah pada tahun 2017
bernilai ekonomis tinggi (Syukur et al, sebesar 1.206,2 ton, data ini meningkat
2016). Permintaan akan cabai yang sebesar 15,45% dari tahun sebelumnya
semakin tinggi menuntut para petani untuk yang mencapai 1.045,6 ton dan terus
bisa meningkatkan produktivitas dan meningkat hingga tahun 2018 menjadi
kualitasnya. Hal ini memiliki makna yaitu 1.206,7 ton. Tahun 2019 produksi cabai
tanaman cabai yang dihasilkan harus meningkat menjadi 1.214,4 ton dan terus
memiliki keunggulan seperti produksi meningkat hingga tahun 2020 sebesar
tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit, 4,09% yaitu 1.264,1 ton (BPS, 2020).
umur genjah dan tahan lama setelah di
Organisme Penganggu Tanaman mengakibatkan hasil kualitas cabai
(OPT) seperti hama ataupun penyakit mengalami penurunan (Arsi et al, 2020).
merupakan salah satu faktor yang dapat Salah satu penyakit yang
194
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204
METODE
195
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204
196
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204
dalam keadaan dingin. Daun cabai yang bahan diatas kedalam kuvet tanpa sediaan
telah dihaluskan disaring dengan enzim. Campuran tersebut dihomogenkan
menggunakan kain kasa dan larutan hasil selama 5-10 detik dan diamati dengan
saringan dimasukkan ke dalam tabung sprektrofotometer pada panjang
reaksi. Larutan saringan akan gelombang 420 nm. Nilai absorban
disentrifugasi selama 30 menit, kemudian diamati selama 30 detik sebanyak tiga
hasil disentrifugasi digunakan sebagai kali, lalu dihitung dengan rumus:
sediaan enzim dan diencerkan dengan 𝐸𝑃
perbandingan 3:1 (3 ml buffer fosfat 0.01
M pH 6 + 1 ml sediaan enzim). Sediaan = 𝐴 (𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
enzim yang telah diencerkan akan − 𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 )𝑥 8,5 𝑚𝑙 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛
dihomogenkan dengan vortex selama 5-10
detik. Larutan pyrogallol dibuat terlebih Keterangan :
dahulu menjelang pengukuran aktivias EP = Aktivitas enzim peroksidase
enzim peroksidase dengan cara (Unit/ml)
mencampurkan 10 ml pyrogallol 0,5 M A = Hasil absorbansi 𝜆 420 nm
dengan 12,5 ml buffer fosfat 0,066 M pH
6 dan selanjutnya diencerkan dengan Parameter Kuantitatif
aquades sampai volumenya menjadi 100 Parameter kuantitatif yang diamati
ml. Pada pengukuran aktivitas enzim pada penelitian ini adalah tinggi tanaman,
peroksidase diambil sebanyak 0,2 ml tinggi dikotomus, diameter batang, lebar
sediaan enzim yang telah diencerkan tajuk, umur berbunga, umur panen, jumlah
ditambahkan pada pereaksi yang terdiri buah per tanaman, bobot buah per
dari 5 ml larutan pyrogallol 0,5 M dan 0,5 tanaman, produktivitas, panjang buah,
ml H2O 1% didalam kuvet. Blanko diameter buah, tebal kulit buah, dan bobot
disiapkan dengan memasukkan bahan- per buah.
197
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204
menunjukkan perbedaan yang nyata tanah saat hujan dan penyiraman terkena
dengan varietas pembanding dan genotipe langsung ke buah cabai (Kirana dan
uji lainnya. Genotipe mutan D2-7-39 Sofiari, 2007). Sujiprihati et al. (2008),
memiliki nilai rata-rata tinggi dikotomus menyatakan bahwa tinggi dikotomus
terbaik secara statistik yaitu sebesar 26,32 tanaman yang dikehendaki yakni dengan
cm, meskipun tidak berbeda nyata dengan ukuran ± 20 cm. Tanaman dengan tinggi
varietas odeng (tetua) dan varietas dikotomus yang terlalu pendek, buahnya
pembanding Kastilo dan Laris. memiliki potensi lebih mudah terserang
Tinggi tanaman suatu cabai penyakit karena percikan air hujan yang
berkaitan erat dengan penyakit meningkatkan kelembaban. Selain itu,
antraknosa. Semakin tinggi suatu tanaman buah akan rusak atau terbakar karena
cabai, maka buah cabai semakin sulit bersentuhan langsung dengan mulsa
untuk menyentuh permukaan tanah. Hal plastik yang memantulkan panas sinar
ini dapat menghindari percikan air dari matahari.
Tabel 5. Rataan panjang buah, diameter buah, tebal daging buah dan bobot per buah
genotipe uji, varietas tetua cabai lokal Aceh dan dua varietas pembanding
Nasional
Varietas / Parameter Pengamatan
Genotipe Panjang Buah Diameter Buah Tebal Daging Bobot Per Buah
(cm) (mm) Buah (mm) (gr)
Odeng 8,55 cdef 7,36 de 0,96 2,79 ef
D1-10-5 7,41 abcde 6,31 ab 0,89 1,45 abc
D2-7-39 5,97 a 6,00 a 0,89 1,18 a
D3-9-34 6,18 ab 6,53 abc 1,01 1,29 ab
D3-9-9 7,17 abcd 6,59 abcd 0,99 1,61 abcd
Kastilo 9,52 f 7,15 cde 0,94 3,33 g
Laris 6,75 abc 7,14 cde 0,92 2,46 e
BNJ 1,97 0,78 0,89
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata
berdasarkan uji BNJ pada taraf α = 0,05.
198
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204
buah tanaman mutan D3-9-9 memiliki cm. Astutik et al. (2017) mengemukakan
nilai terbaik secara statistik yaitu sebesar bahwa pada cabai keriting diameter buah
1,61 mm, dan hasil ini memiliki perbedaan digolongkan sebagai mutu I jika
yang nyata dengan varietas tetua (odeng) diameternya >13-15 mm, mutu II jika
dan varietas pembanding (Kastilo dan diameternya 10 < 13 mm dan mutu III jika
Laris). diameter nya < 1,0 mm. Karakter bobot
Menurut Sayaka et al. (2008), buah merupakan salah satu faktor penting
salah satu industri di Indonesia yang dalam produksi cabai. Hal ini bertujuan
menggunakan cabai sebagai bahan untuk mendapatkan genotipe hibrida
bakunya memberikan kriteria cabai yang dengan potensi hasil yang tinggi. Semakin
digunakan dengan ukuran panjang 9,5- besar bobot per buah maka bobot buah per
14,5 cm. Syukur et al. (2012) menyatakan tanaman tersebut semakin besar (Haydar
bahwa pada konsumen industri saus et al., 2007).
tertentu, spesifikasi tebal daging buah
cabai merah berkisar antara 1,00 cm-1,70
Tabel 6. Rataan jumlah buah per tanaman, bobot buah per tanaman dan produktivitas
genotipe uji, varietas tetua cabai lokal Aceh dan dua varietas pembanding
Nasional
Parameter Pengamatan
Varietas / Genotipe Jumlah Buah Per Bobot Buah Per Produktivitas
Tanaman Tanaman (gr) (ton/ha)
Odeng 38,40 b 75,05 c 2,74 c
D1-10-5 34,43 b 55,71 abc 2,03 abc
D2-7-39 5,79 ab 6,38 a 0,23 a
D3-9-34 12,91 ab 17,35 ab 0,63 ab
D3-9-9 25,18 ab 45,94 abc 1,67 abc
Kastilo 35,95 b 91,50 c 3,34 c
Laris 29,85 ab 45,12 abc 1,64 abc
BNJ 26,62 57,54 -
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata berdasarkan uji
BNJ pada taraf α = 0,05.
Pengukuran jumlah buah per 2,03 ton /ha. Nilai-nilai yang dihasilkan
tanaman, bobot buah per tanaman dan dari parameter ini berpengaruh nyata
produktivitas dilakukan selama delapan secara statistik terhadap varietas tetua
kali panen. Berdasarkan tabel dapat (odeng) dan varietas pembanding kastilo,
dilihat bahwa varietas pembanding dan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap
genotipe mutan yang diuji mempunyai varietas pembanding Laris.
rata-rata nilai jumlah buah pertanaman Berdasarkan tabel 6 dapat ditarik
berkisar antara 5,79-38,4, rata-rata nilai kesimpulan bahwa dosis iradiasi 300 Gy
bobot buah per tanaman berkisar antara secara statistik tidak lebih baik
6,38 gr – 91,5 gr dan rata-rata nilai dibandingkan dosis 100 Gy untuk
produktivitas berkisar antara 0,23-3,34 memberikan hasil yang maksimal
ton/ha. Parameter jumlah buah per terhadap parameter jumlah buah per
tanaman, bobot buah per tanaman dan tanaman, bobot buah dan produktivitas.
produktivitas memiliki nilai rata-rata Hal ini berbanding terbalik dengan
terbaik secara statistik pada tanaman penelitian yang dilakukan Sari (2020)
mutan D1-10-5 dengan nilai secara yang mengemukakan bahwa dari hasil
berturut-turut yaitu 34,43, 55,71 gr dan analisis ragam menunjukkan bahwa
199
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204
Tabel 7. Rataan kejadian penyakit pada buah hijau dan merah genotipe uji, varietas tetua
cabai lokal Aceh dan dua varietas pembanding Nasional
Varietas / Kejadian Kriteria Kejadian Kriteria
Genotipe Penyakit Buah Penyakit Buah
Hijau (%) Merah (%)
Odeng 92,22 Sangat Rentan 94,44 Sangat Rentan
D1-10-5 92,22 Sangat Rentan 97,78 Sangat Rentan
D2-7-39 88,89 Sangat Rentan 90,00 Sangat Rentan
D3-9-34 88,89 Sangat Rentan 85,56 Sangat Rentan
D3-9-9 81,11 Sangat Rentan 92,22 Sangat Rentan
Kastilo 88,89 Sangat Rentan 90,00 Sangat Rentan
Laris 90,00 Sangat Rentan 84,45 Sangat Rentan
BNJ - -
200
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204
diinfeksi oleh patogen. Cabai hijau juga mempunyai ketahanan yang lebih
mengandung fenol dan enzim aktif yang dibandingkan dengan cabai merah.
tinggi sehingga membuatnya
201
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204
KESIMPULAN
Karakter kuantitatif genotipe mutan D1- terbaik pada parameter tebal daging buah,
10-5 terbaik pada parameter panjang buah, kejadian penyakit buah merah, intensitas
jumlah buah per tanaman, bobot buah per serangan buah merah. Pada karakter
tanaman dan produktivitas tanaman. kualitatif karakter warna buah muda pada
Genotipe D2-7-39 terbaik pada parameter genotipe mutan D2-7-39, D3-9-34 dan
tinggi dikotomus, aktifitas enzim D3-9-9 memunculkan karakter yang
peroksidase daun sehat dan aktifitas enzim berbeda dari varietas tetua (odeng) dan
peroksidase daun sakit. Genotipe D3-9-9 varietas pembanding Kastilo dan Laris,
terbaik pada parameter tinggi tanaman, yaitu Dark Yellowish Green (3707).
diameter buah, bobot per buah, kejadian Karakter warna buah intermediet genotipe
penyakit buah hijau, intensitas serangan D1-10-5 dan D3-9-34 menghasilkan
penyakit buah hijau dan aktifitas enzim warna yang berbeda dari tetuanya, yaitu
peroksidase daun sakit. Genotipe D3-9-34 Dark Redd Purple (9210).
DAFTAR PUSTAKA
Arsi, A., Wagiyanti, W., SHK, S., Merah di Kecamatan Air Salek
Pujiastuti, Y., Herlinda, S., Kabupaten Banyuasin. Prosiding
Hamidson, H., Gunawan, B., Seminar Nasional Lahan
Irsan, C., Suwandi, S., Efendi, R, Suboptimal ke-8 Tahun 2020.
A., Nughraha, S, I., Palembang, Indonesia :
Lailaturrahmi. and L, Munandar, Universitas Sriwijaya. pp. 138-
R, P. 2020. Inventarisasi 147.
Serangga pada Pertanaman Cabai
202
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204
Astutik , W., Dwi, R., dan Nurul, S., 2017. Ketahanan Beberapa Varietas
Uji Daya Hasil Galur MG1012 Cabai Merah (Capsicum annuum
Dengan Tiga Varietas L.) Hibrida Pada Kemasan Buah
Pembanding Tanaman Cabai terhadap Penyakit Antraknosa
Keriting (Capsicum annum L.). Colletrichum acutatum, Jurnal
Journal of Applied Agricultural Produksi Tanaman, 6(4), pp.
Science, 1(2), pp. 163-173. 619–628.
Badan Pusat Statistik. 2020. . Luas Panen Nura,. Muhammad, S,. Nurul, K. and
Tanaman Sayuran Menurut Widodo., 2015. Radiosensitivitas
Provinsi dan Jenis Tanaman. dan Heritabilitas Ketahanan
Jakarta Pusat: Badan Pusat terhadap Penyakit Antraknosa
Statistik. pada Tiga Populasi Cabai yang
Diinduksi Iradiasi Sinar Gamma,
Faizah, R., Sriani, S., Muhammad, S. and Jurnal Agronomi Indonesia, 43
Sri, H, H. 2012. Ketahanan (3), pp. 201-206.
Biokimia Tanaman Cabai
terhadap Begomovirus Penyebab Permadi, A.H. and Y. Kusandriani., 2006.
Penyakit Daun Keriting Kuning. Pemuliaan tanaman cabai.
Jurnal Fitopalogi Indonesia, 8 Jakarta: Penebar Swadaya.
(5), pp. 138-144.
Ratulangi, M.M., D.T. Sembel., C.S.
Hamnah., N, Aidawati. and D, Fitriyani. Rante., M.F. Dien., E.R.M.
2021. Uji Ketahanan Beberapa Meray., M. Hammig., M.
Varietas Tanaman Cabai Rawit Shepard., G. Carner. and E.
Terhadap Penyakit Antraknosa, Benson., 2012. Diagnosis dan
Jurnal Proteksi Tanaman Insidensi Penyakit Antraknosa
Tropika. 4(1), pp. 252-258. pada Beberapa Varietas Tanaman
Cabe Di Kota Bitung dan
Haydar, A. Mandal, M.A and Ahmed, Kabupaten Minahasa, Eugenia,
M.B. 2007. Studies on Genetic pp. 18 (2).
Variability and Interrelationship
among the Different Traits in Riza, S., Erita, H. and Ainun, M., 2020.
Tomato (Lycopersicon Pengaruh Pupuk Organik dan
Varietas Terhadap Pertumbuhan
esculentum Mill.). Journal of
dan Hasil Tanaman Cabai Merah,
Scientifict Research. 2 (3-4),
Jurnal Ilmiah Mahasiswa
pp.139-142. et al., 2007) Pertanian. 5(2), pp. 327-336.
Kirana, R. and Sofiari, E. 2007. Heterosis
Rostini, N., 2012. 9 Strategi Bertanam
dan Heterobeltiosis pada
Cabai Bebas Hama dan
Persilangan Lima Genotipe
Penyakit. Jakarta: Agromedia
Cabai dengan Metode Dialel,
Pustaka.
Jurnal Hortikultura. 17 (2), pp.
111-117. Sari, N, M, P., Gusti, N, S. and A.A.
Ngurah G. 2020. Pemanfaatan
Madden, L., Gareth H. and Frank VDB.
Radiasi Gamma Co-60 untuk
2007. Study of Plant Disease
Pemuliaan Tanaman Cabai
Epidemics. USA: American
(Capsicum annum L.) dengan
Phytopathological Society.
Metode Mutagen Fisik. Buletin
Muamaroh, S., Wahyono, A. and Fisika. 21 (2), pp. 47-52.
Respatijarti, 2018. Tingkat
203
Hafsah et al. / J. Agari 8 (2): 194 - 204
204