0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan24 halaman

Peningkatan Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan STAD

Dokumen ini membahas hasil tindakan perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia menggunakan metode cooperative learning tipe STAD. Sebelum tindakan, hasil observasi menunjukkan rendahnya ketuntasan belajar siswa, namun setelah siklus pertama, terdapat peningkatan dengan 58,33% siswa tuntas. Peneliti merencanakan siklus kedua untuk lebih meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan24 halaman

Peningkatan Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan STAD

Dokumen ini membahas hasil tindakan perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia menggunakan metode cooperative learning tipe STAD. Sebelum tindakan, hasil observasi menunjukkan rendahnya ketuntasan belajar siswa, namun setelah siklus pertama, terdapat peningkatan dengan 58,33% siswa tuntas. Peneliti merencanakan siklus kedua untuk lebih meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB IV

HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN


A. Deskripsi Data
1. Deskripsi Kondisi Awal
Sebelum dilaksanakan tindakan, peneliti melaksanakan studi
penjajakan yang pertama yaitu dengan melakukan kegiatan belajar
mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia terhadap siswa yang menjadi
objek penelitian dengan cara belajar di kelas seperti biasa. Dari hasil
observasi pada pra penelitian ini menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
Hasil observasi pembelajaran Bahasa Indonesia sebelum menggunakan
metode STAD menunjukkan kurangnya melaksanakan skenario
pembelajaran seperti menumbuhkan keingintahuan siswa terhadap
materi, memberikan pengalaman-pengalaman belajar kepada siswa,
menyampaikan konsep-konsep Bahasa Indonesia yang cenderung
menggurui dengan ceramah, kurang memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mendemonstrasikan hasil belajarnya, dan melakukan
pengulangan-pengulangan bermakna dalam belajar masih jarang
dilakukan. Begitu juga dalam pemeliharaan aktivitas dan hasil belajar
siswa masih “kurang”. Bertolak dari pengamatan kondisi awal kelas
dan temuan data tentang kendala-kendala yang dapat menghambat
pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia, maka peneliti berupaya
untuk mengatasi kendala-kendala tersebut terutama yang berkenaan
dengan peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa
Indonesia.
Pembelajaran dengan pendekatan cooperative learning tipe STAD
merupakan model pembelajaran kooperatif untuk pengelompokan
campur yang melibatkan pengakuan tim dan tanggung jawab
kelompok untuk pembelajaran individu anggota. Pada pendekatan
cooperative learning tipe STAD dibuat kelompok-kelompok. Siswa
diberikan kebebasan untuk mengemukakan pendapat, berdiskusi,
bertanya kepada teman satu timnya, untuk menyelesaikan suatu masalah

35
36

yang kemudian hasilnya dipresentasikan di depan kelas oleh


perwakilan tim.
Perbaikan pengajaran ini dilakukan dalam 2 siklus sampai
tercapainya tujuan pengajaran yang diharapkan. Penjelasan mengenai
kondisi awal pembelajaran sebagaiman tabel di bawah ini :

Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Kondisi Awal

Kondisi Awal
No Ketuntasan Ket
Jumlah %
1 Tuntas 13 36,11
2 Belum Tuntas 23 63,89
Jumlah 36 100,00
Nilai terendah 40,00
Nilai tertinggi 80,00
Rata – rata 63,06
Ketuntasan 13
% Ketuntasan 36,11

Dari tabel di atas menunjukan bahwa dari 36 siswa yang dikenai


tindakan 13 orang siswa (36,11%) dinyatakan tuntas, sedangkan 23 orang
siswa (63,89%) dinyatakan belum tuntas. Nilai rata-rata kelas sebesar
63,06. Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa proses
pembelajaran memerlukan tindakan perbaikan yang akan dilaksanakan
dengan pelaksanaan penelitian tindakan kelas.
Adapun penjelasan mengenai hasil observasi terhadap aktivitas siswa
selama mengikuti kegiatan pembelajaran sebagaimana dijelaskan pada
tabel di bawah ini.
Tabel 4.2 Rekapitulasi Hasil Observasi Peningkatan Aktivitas Siswa
dalam Kegiatan Pembelajaran pada Kondisi Awal

No Kriteria Aspek Jumlah Siswa Persentase


1 Sangat Baik 0 0,00
2 Baik 18 50,00
3 Cukup 11 30,56
4 Kurang 7 19,44
37

Berdasarkan tabel di atas, dari 10 aspek yang diamati menunjukkan


bahwa siswa yang berada pada kriteria baik dan dinyatakan tuntas
sebanyak 18 siswa atau 50% dan sisanya sebanyak 17 siswa dinyatakan
belum tuntas karena berada dalam rentang kriteria nilai cukup sebanyak 11
siswa atau 30,56% dan kurang sebanyak 7 siswa atau 9,14%.
Berdasarkan hasil pengamatan kondisi awal siswa terhadap
pembelajaran Bahasa Indonesia serta berbagai hambatan-hambatan yang
muncul, maka peneliti bersama guru kelas yang diteliti, melakukan
kolaborasi untuk mengatasi hambatan dan kesulitan yang ditemukan,
peneliti bersama guru kelas yang bertindak sebagai obsever, menyusun
dan melaksanakan serangkaian perencanaan tindakan guna mengatasi
hambatan-hambatan tersebut, yang diakhiri pada sebuah kegiatan analisis
atau refleksi. Pelaksanaan tindakan kelas disesuaikan dengan rencana
pembelajaran yang telah dirumuskan sebelumnya. Pelaksanaan
tindakan penelitian kelas ini menekankan pada penerapan model
cooperative learning tipe STAD untuk meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa yang diupayakan dan dikondisikan berdasarkan tahapan-
tahapan yang telah dipersiapkan sebelumnya dalam tahap perencanaan
dengan mengimplementasikan rencana tersebut yang telah dirumuskan
oleh peneliti.

2. Deskripsi Siklus I
a. Perencanaan
Perencanaan perbaikan pembelajaran siklus pertama disusun peneliti
dengan cara berkolaborasi bersama teman sejawat. Di samping itu peneliti
merencanakan pula skenario tindakan dan menyusun instrument penelitian,
antara lain lembar observasi, kembar kerja siswa, dan lembar tes formatif.
Setelah hal itu dilengkapi langkah berikutnya yaitu melakukan simulasi
terhadap penggunaan RPP dan alat peraga yang akan digunakan pada
pelaksanaan proses perbaikan pembelajaran pada siklus pertama untuk
menghindari adanya kegagalan pada pelaksanaan kegiatan.
38

b. Pelaksanaan
Sebelum pelajaran dimulai, anak-anak sudah kumpul di depan kelas,
pada hari ini mereka akan mengawali mengikuti kegiatan pembelajaran.
Bel yang dinantikanpun berbunyi. Sebelum memasuki kelas, seluruh siswa
berbaris yang dipimpin oleh ketua kelasnya. Untuk kemudian mereka
masuk kelas satu per satu dan disusul oleh peneliti beserta observer.
Setelah seluruh siswa tampak duduk dengan rapih, kemudian ketua kelas
memimpin berdo`a. tanpa ragu lagi peneliti mulai absen siswa. Tidak
seorangpun yang tak hadir, kegiatan dilanjutkan dengan kegiatan
apersepsi. Tujuannya untuk menyemangati siswa agar timbul kemauan
untuk belajar secara sungguh-sungguh. Kegiatan awal pembelajaran
dilaksanakan dengan melakukan kegiatan apersepsi. Peneliti mengajukan
pertanyaan pada siswa terkait dengan materi yang akan dipelajari, dan
siswa menjawab Kegiatan selanjutnya peneliti memberikan motivasi
siswa agar memiliki semangat untuk mengikuti pembelajaran. Barulah
setelah itu peneliti menjelaskan materi ajaran secara singkat, dengan tujuan
untuk membekali siswa pada saat proses belajar menggunakan model
metode Cooperative Learning tipe STAD. Setelah dirasa cukup
memberikan penjelasan materi, guru membagi siswa dalam beberapa
kelompok belajar dan pada setiap kelompok memberikan bahan untuk
didiskusikan terkait dengan materi ajaran. Jumlah kelompok yang dibentuk
ada 6 kelompok. Setiap kelompok ada yang terdiri atas 6 orang siswa
karena jumlah siswa sebanyak 36, seperti kelompok I, kelompok II,
kelompok III, kelompok IV, kelompok V dan kelompok VI. Pada setiap
kelompok diberi lembar kerja siswa yang memuat pertanyaan-pertanyaan
yang harus didiskusikan agar diperoleh jawaban yang benar. Kelima
pertanyaan tersebut sebagaimana tertuang pada lembar kerja. Sekaligus
untuk mengakhiri pelaksanaan pertemuan pertama pada pelaksanaan
perbaikan pembelajaran siklus pertama.
Pada pelaksanaan pertemuan kedua, peneliti melanjutkan kegiatan
pada pertemuan pertama, yaitu melaksanakan kegiatan diskusi. Sebelum
39

melaksanakan kegiatan diskusi, peneliti kembali mengulas tentang materi


pembelajaran secara singkat. Setelah penjelasan materi dirasa cukup,
peneliti kemudian mempersiapkan siswa untuk melaksanakan kegiatan
diskusi. Pada saat proses diskusi sedang berlangsung mereka dibimbing
dan diarahkan oleh peneliti agar semua siswa dapat berpikir dan saling
bertukar pikiran. Yang terjadi tidak demikian. Proses diskusi didominasi
oleh siswa yang berkemampuan dan sudah biasa. Sementara sebagian
besar siswa lainnya hanya mengikuti apa kata mereka. Hal ini terjadi
hingga akhir kegiatan inti. Mengisi kegiatan akhir, peneliti dan siswa
menempuh dua langkah kegiatan, yaitu : menyimpulkan hasil diskusi dan
melaksanakan tes formatif. Untuk lebih memahamkan siswa terhadap
materi yang baru dipelajari, peneliti memberikan bahan penugasan secara
individu untuk diselesaikan di rumah.
Pada siklus pertama ini dalam tahap pelaksanaan sudah
menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Hal tersebut dapat
dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.3 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif Pembelajaran Bahasa
Indonesia pada Siklus I

Siklus Pertama
No Ketuntasan Ket
Jumlah %
1 Tuntas 21 58,33
2 Belum Tuntas 15 41,67
Jumlah 36 100
Nilai terendah 50,00
Nilai tertinggi 90,00
Rata – rata 74,17
Ketuntasan 21
% Ketuntasan 58,33

Dari tabel di atas dapat diterangkan bahwa nilai rata-rata hasil


belajar pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus pertama sebesar
74,17, jumlah siswa yang tuntas belajarnya sebanyak 21 siswa atau sebesar
58,33%, dan jumlah siswa yang belum tuntas belajarnya sebanyak 15
siswa atau sebesar 41,67%. Dari penjelasan di atas maka dapat
40

disimpulkan bahwa proses pembelajaran memerlukan tindakan perbaikan


yang akan dilaksanakan dengan pelaksanaan penelitian tindakan kelas
karena ketuntasan belajar baru mencapai angka 58,33% atau 21 orang
siswa dari batasan minimal 85% dari jumlah siswa dinyatakan tuntas
belajarnya dan nilai hasil belajar secara klasikal hanya mencapai angka
74,14 batasan minimal 76,00.
Penjelasan mengenai aspek aktivitas belajar siswa yang dinilai
berdasarkan 10 indikator. Kegiatan pengamatan ini dilakukan oleh
observer selama kegiatan perbaikan pembelajaran berlangsung dengan
menggunakan format observasi yang teklah dipersiapkan. Hasil observasi
pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus I sebagaimana tabel
di bawah ini :
Tabel 4.4 Rekapitulasi Hasil Observasi Peningkatan Aktivitas
Siswa dalam Kegiatan Pembelajaran pada Siklus I

No Kriteria Aspek Jumlah Siswa Persentase


1 Sangat Baik 7 19,44
2 Baik 22 61,11
3 Cukup 7 19,44
4 Kurang 0 0,00

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa dari 36 siswa terdapat 29


orang yang tuntas belajarnya (85,06%) dilihat dari aktivitas belajarnya,
sedangkan 7siswa (19,44%) belum tuntas dilihat dari aktivitas belajarnya.
Melihat hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan observer sepakat
untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus II dengan
harapan pada siklus II aktivitas belajar siswa dapat mencapai perolehan di
atas 85% sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan.
c. Observasi
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh observer ketika
pembelajaran siklus I tindakan kedua, maka dapat dideskripsikan
bahwa proses pembelajaran berlangsung dengan lancar, pada tindakan
41

kedua interaksi antara siswa dengan guru lebih terjalin. Berdasarkan


hasil observasi juga didapatkan beberapa temuan, yaitu:
1) Siswa merasa senang dalam kegiatan belajar mengajar apabila
pembelajarannya menggunakan benda konkrit atau benda
manipulatif, hal ini dikarenakan perkembangan kognitif siswa
kelas VII berada pada operasional konkrit
2) Proses pembelajaran secara berkelompok akan lebih kondusif
apabila jumlah anggota kelompok tidak terlalu banyak, hal ini
dikarenakan ketika berkelompok jika semakin banyak jumlah
anggota kelompok maka semakin banyak pendapat dari anggota
kelompok.
3) Siswa merasa senang apabila dalam soal pada lembar kerja siswa
(LKS) menggunakan nama siswa, hal ini dikarenakan siswa
merasa menjadi dilibatkan secara langsung (berperan) dalam soal
yang dikerjakannya di LKS.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dua kali pertemuan pada siklus pertama
oleh observer dan penilaian hasil tes formatif siklus pertama, menunjukkan
bahwa proses perbaikan pembelajaran belum memenuhi kriteria
ketuntasan belajar yang diinginkan. Berdasarkan hasil diskusi dengan
teman sejawat, maka kelemahan pada siklus pertama akan diatasi dengan
melaksanakan kegiatan :
1) Mengefektifkan fungsi kerja kelompok secara lebih optimal dengan
menerapkan rolling anggota kelompok, dimana siswa tuntas akan
digabung dengan siswa belum tuntas dengan persentase yang
berimbang, dengan harapan siswa tuntas dapat membimbing siswa
yang belum tuntas belajarnya.
2) Lebih mengoptimalkan penggunaan lembar kerja siswa dan kegiatan
tanya jawab serta diskusi antar dan sesama anggota kelompok dengan
menambah variasi soal pada lembar kerja siswa.
42

3) Mengefektifikan kegiatan tanya jawab pada akhir kegiatan


pembelajaran
4) Bekerja sama dengan observer untuk melakukan pencatatan skor baik
individu maupun kelompok untuk memberikan penghargaan kepada
siswa atau kelompok yang meraih prestasi tertinggi pada akhir
kegiatan pembelajaran.
Diharapkan penerapan perbaikan pembelajaran dengan strategi
sebagaimana tersebut di atas dapat meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa secara maksimal.
3. Siklus kedua
a. Perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi dan pengamatan observer pada
siklus kedua, peneliti melakukan revisi terhadap Rencana Perbaikan
Pembelajaran Skenario dan langkah-langkah yang akan ditempuh oleh
guru dan siswa pada saat melaksanakan kegiatan perbaikan
pembelajaran, seperti pada siklus kedua, hanya saja dalam kegiatan inti
lebih mengupayakan siswa yang belum tuntas belajar pada siklus
kedua agar menempuh proses belajar lebih baik dan berhasil mencapai
batas tuntas belajar yang diharapkan. Setelah hal itu dilengkapi
langkah berikutnya yaitu melakukan simulasi perbaikan pembelajaran
siklus pertama untuk menghindari adanya kegagalan pada pelaksanaan
kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam dua kali pertemuan
b. Pelaksanaan
Sambil menanti bel tanda masuk sekolah berbunyi, siswa Kelas
VII SMP.................., tampak berkumpul di depan kelas. Tidak lama
kemudian bel yang dinantipun berbunyi. Seluruh siswa memasuki
kelas dengan tertib. Peneliti memasuki ruang kelas dan
menyampaikan salam sejahtera kepada seluruh siswa. Barulah setelah
itu duduk dan menginstruksikan kepada ketua kelas agar memimpin
do`a sebelum belajar. Selesai kegiatan ini peneliti mengecek
kehadiran siswa dengan cara bertanya kepada ketua kelas, siapa
43

yang tidak hadir hari ini. Jawab ketua kelas, “tidak seorangpun yang
tidak hadir”. Kemudian peneliti dan siswa mengadakan apersepsi
melalui tanya jawab sehubungan dengan materi yang akan dipelajari.
Setelah mengadakan apersepsi, peneliti menjelaskan langkah-
langkah belajar yang harus ditempuh oleh siswa agar berhasil
mencapai tujuan yang diharapkan dalam perbaikan pembelajaran
siklus kedua dengan memberikan penjelasan materi pembelajaran
secara ringkas. Siswa agar memiliki semangat untuk mengikuti
pembelajaran. Barulah setelah itu peneliti menjelaskan materi ajaran
secara singkat, dengan tujuan untuk membekali siswa pada saat proses
belajar secara kelompok sesuai dengan penerapan model Cooperative
Learning Tipe STAD. Peneliti kemudian memberikan penjelasan
seputar materi pembelajaran.
Pada saat proses diskusi sedang berlangsung mereka dibimbing
dan diarahkan oleh peneliti agar semua siswa dapat berpikir dan saling
bertukar pikiran. Harapan ini terjadi pula. Hal ini terjadi hingga akhir
kegiatan inti. Mengakhiri kegiatan inti, peneliti menampilkan salah
seorang siswa di depan kelas untuk membahas hasil temuannya dan
menginstruksikan kepada siswa yang lain agar menanggapi secara
positif pembahasan yang dilakukan oleh siswa tersebut. Selesai
kegiatan ini, peneliti bersama siswa mengambil kesimpulan hasil
pembahasan dan menutup kegiatan pada pertemuan pertama.
Pada pertemuan kedua, setelah mengadakan apersepsi,
peneliti menjelaskan langkah-langkah belajar yang harus ditempuh
oleh siswa agar berhasil mencapai tujuan yang diharapkan dalam
perbaikan pembelajaran siklus ketiga. Agar siswa memiliki semangat
untuk mengikuti pembelajaran. Barulah setelah itu peneliti
menjelaskan materi ajaran secara singkat, dengan tujuan untuk
membekali siswa pada saat proses belajar sesuai dengan model
Cooperative Learning Tipe STAD.
44

Sebagai pembekalan awal kegiatan diskusi, peneliti


menjelaskan kembali hal-hal yang berkaitan dengan materi
pembelajaran dan sekaligus sebagai bekal awal pelaksanaan diskusi.
Setelah dirasa cukup, peneliti melanjutkan kegiatan pembelajaran
dengan melaksanakan kegiatan diskusi.
Pada saat proses diskusi sedang berlangsung mereka dibimbing
dan diarahkan oleh peneliti agar semua siswa dapat berpikir dan saling
bertukar pikiran. Harapan ini terjadi pula. Hal ini terjadi hingga akhir
kegiatan inti. Mengakhiri kegiatan inti, peneliti menampilkan salah
seorang siswa di depan kelas untuk membahas hasil temuannya dan
menginstruksikan kepada siswa yang lain agar menanggapi secara
positif pembahasan yang dilakukan oleh siswa tersebut. Selesai
kegiatan ini, peneliti bersama siswa mengambil kesimpulan hasil
pembahasan dan menutup kegiatan pada pertemuan kedua.
Mengisi kegiatan akhir, peneliti dan siswa menempuh dua
langkah kegiatan, yaitu : menyimpulkan hasil diskusi dan
melaksanakan tes formatif. Pada siklus kedua ini dalam tahap
pelaksanaan sudah menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar
siswa. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.5 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif Pembelajaran
Bahasa Indonesia Siklus II

Siklus Kedua
No Ketuntasan Ket
Jumlah %
1 Tuntas 32 88,89
2 Belum Tuntas 4 11,11
Jumlah 36 100
Nilai terendah 60,00
Nilai tertinggi 100,00
Rata – rata 87,50
Ketuntasan 32
% Ketuntasan 88,89

Dari tabel di atas tentang Rekapitulasi Nilai Tes Formatif pada


Siklus II dapat diterangkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar pada
45

pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus kedua sebesar 87,50,


jumlah siswa yang tuntas belajarnya sebanyak 32 siswa atau sebesar
88,89%, dan jumlah siswa yang belum tuntas belajarnya sebanyak 4
siswa atau 11,11%. Dari penjelasan sebagaimana tersebut dapat
disimpulkan bahwa semua kriteria keberhasilan telah tercapai pada
siklus kedua, dimana ketuntasan belajar mencapai angka 87,50%
sehingga telah melebihi ketuntasan minimal sebanyal 85%. Rata-rata
hasil belajar juga sudah memenuhi KKM sebesar 76,00 karena pada
siklus kedua nilai rata-rata mencapai angka 87,50.
Penjelasan mengenai aspek aktivitas belajar diamati
menggunakan 10 indikator. Kegiatan pengamatan ini dilakukan oleh
observer selama kegiatan perbaikan pembelajaran berlangsung dengan
menggunakan format observasi yang telah dipersiapkan. Hasil
observasi pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus I
sebagaimana tabel di bawah ini :
Tabel 4.6 Rekapitulasi Hasil Observasi Peningkatan Aktivitas
Siswa dalam Kegiatan Pembelajaran Pada Siklus II

Kemunculan
No Kriteria Aspek Persentase
Aspek
1 Sangat Baik 21 58,33
2 Baik 13 36,11
3 Cukup 2 5,56
4 Kurang 0 0,00

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa dari 36 siswa terdapat


34 orang yang tuntas belajarnya (94,44%) dilihat dari aktivitas
belajarnya dan masih terdapat 2 siswa atau 5,56% yang dinyatakan
belum tuntas. Melihat hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan
observer menyimpulkan bahwa hasil pengamatan terhadap
peningkatan aktivitas belajar sudah mencapai angka di atas 85%,
sehingga proses perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil dan tuntas
pada siklus II.
46

c. Observasi
Saat proses perbaikan pembelajaran siklus ketiga sedang
berlangsung, observer melakukan observasi terhadap aktivitas peneliti
pada saat membelajarkan siswa dan aktivitas siswa pada saat
mengikuti langkah-langkah belajar mempelajari materi berdasarkan
cara belajar melalui model Cooperative Learning Tipe STAD.
Observasi dilaksanakan oleh peneliti dan observer (teman
sejawat) pada saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan
menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Hasil observasi
menunjukkan bahwa : (1) Aktivitas siswa meningkat cukup baik
dalam mengikuti pembelajaran dibandingkan dengan siklus I, (2)
Siswa terbiasa berkelompok, sehingga aktivitas siswa di luar
kegiatan pembelajaran hampir tidak ada, (3) Tumbuhnya sikap kritis
siswa yang semakin baik dikarenakan pemahaman terhadap materi
yang meningkat, (4) Sebagian besar siswa berani bertanya dan
mengemukakan pendapatnya, (5) Sebagiaan besar siswa mau
menjawab pertanyaan guru dengan jawaban yang sesuai dengan
pertanyaan, (6) Siswa beraktivitas secara berkelompok dengan baik,
dengan kerja sama yang baik, dan(7) Siswa sudah dapat menemukan
dan menyimpulkan hal penting dari materi pelajarannya dengan baik
d. Refleksi
Berdasarkan deskripsi pelaksanaan tindakan pembelajaran
siklus II, peneliti bersama observer mengidentifikasi masalah-
masalah yang terjadi selama proses pembelajaran pada siklus II
dan membandingkan dengan dua pembelajaran pada siklus-siklus
sebelumnya. Refleksi tetap didasarkan pada lembar observasi dan nilai
tes evaluasi. Pada umumnya jika dibandingkan dengan hasil
refleksi pada siklus-siklus sebelumnya, refleksi tindakan
pembelajaran siklus II sudah banyak mengalami peningkatan baik
dari segi kemauan siswa untuk berperan aktif dalam proses
47

pembelajaran, antusias siswa dalam mengikuti kegiatan


pembelajaran, maupun hasil belajar siswa.
Berdasarkan hasil pengamatan selama pembelajaran dan
hasil akhievaluasi siswa dalam proses pembelajaran pada siklus II
ternyata memperlihatkan hasil yang sangat menggembirakan. Hal ini
menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia dengan
penerapaan metode STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa
kelas VII SMP................... Setelah pelaksanaan perbaikan
pembelajaran pertemuan pertama dan kedua siklus kedua, dapat
dinyatakan bahwa proses pembelajaran dinyatakan berhasil karena dari
hasil yang dicapai pada proses perbaikan pembelajaran siklus kedua
ini, semuanya telah memenuhi kriteria ketuntasan sehingga proses
pelaksanaan perbaikan pembelajaran dinyatakan tuntas pada siklus
kedua dan kepada siswa yang belum tuntas akan diberikan program
perbaikan dengan melaksanakan kegiatan remidial.
B. Hasil Penelitian
Analisis data hasil penelitian yang telah dilaksanakan dalam 2 siklus
dengan 2 pertemuan pada masing-masing siklusnya secara jelas dapat
dijelaskan pada penjelasan di bawah ini.
1. Siklus Pertama
Pada siklus pertama, setidaknya upaya perbaikan yang dilakukan
melalui kegiatan ceramah dan penerapan model pembelajaran STAD
dengan membagi siswa menjadi beberapa kelompok dengan anggota yang
heterogen yang terdiri dari 6 orang, sehingga terbentuk 6 kelompok dan
dilanjutkan dengan kegiatan tanya jawab dan diskusi dapat membuktikan
hipotesis peneliti.
a. Aktivitas Belajar
Peningkatan aktivitas belajar cukup signifikan pada setiap
siklusnya, dimana pada studi awal hanya 50% atau 18 siswa,
meningkat menjadi 80,56% atau 29 siswa pada siklus pertama. Dalam
bentuk grafik sebagaimana gambar di bawah ini :
48

Gambar 4.1 Diagram Batang Peningkatan Aktivitas dan


Ketuntasan Belajar Siswa pada Studi Awal dan
Siklus I
Melihat hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan
observer sepakat untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran pada
siklus II dengan harapan pada siklus II aktivitas belajar siswa dapat
mencapai perolehan di atas 85% sesuai dengan kriteria keberhasilan
yang telah ditetapkan.
b. Hasil Belajar
Sepertinya halnya peningkatan aktivitas belajar, hasil
belajarpun meningkat cukup baik, yaitu dari nilai rata-rata hasil belajar
sebesar 63,06 meningkat menjadi 74,17 pada siklus I, sedangkan tingkat
ketuntasan belajar mencapai angka 21 siswa atau 58,33% dari kondisi
awal sebanyak 13 siswa atau 36,11%. Untuk memperjelas
peningkatan hasil belajar siswa, dapat dilihat pada grafik di bawah ini :

Gambar 4.2 Diagram Batang Peningkatan Hasil dan


Ketuntasan Belajar Siswa pada Studi Awal dan
Siklus I
49

Melihat hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan


observer sepakat untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran pada
siklus II, karena nilai rata-rata hasil belajar baru mencapai angka 74,17
yang berarti masih berada di bawah KKM sebesar 76 sesuai dengan
kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan dan tingkat ketuntasan
belajar baru 58,33%. Hal ini menunjukkan ketuntasan belajar belum
mencapai 85% dari jumlah seluruh siswa sesuai dengan kriteria
keberhasilan yang telah ditentukan
Setelah menganalisis hasil belajar dan hasil observasi siswa,
peneliti melakukan refleksi yang hasilnya sebagai berikut:
a. Perlunya peningkatan hasil belajar yang lebih baik.
b. Pembelajaran dilakukan secara logis.
c. Mengatur waktu yang efektif dan efisien
d. Semangat siswa yang baik dalam pembelajaran sebelumnya, harus
dijaga dan dipupuk terus menerus.
e. Hasil refleksi ini akan akan dijadikan bahan perbaikan untuk
pertemuan selanjutnya
f. Hal ini dapat dibuktikan dengan masih rendahnya tingkat kreatifitas
siswa dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan sekitar materi
pembelajaran
g. Harus menunjukan kegairahan dalam pembelajaran, guru menyadari
masih kurang bergairah dalam pembelajaran sehingga belajar
menjadi lebih bersemangat kepada siswa
Setelah peneliti dan observer mendiskusikan tentang hasil
observasi yang dikaitkan dengan hasil tes formatif maka, kelemahan pada
siklus pertama akan ditanggulangi pada siklus kedua dengan :
a. Mengefektifkan fungsi kerja kelompok secara lebih optimal dengan
menerapkan rolling anggota kelompok, dimana siswa tuntas akan
digabung dengan siswa belum tuntas dengan persentase yang
berimbang, dengan harapan siswa tuntas dapat membimbing siswa
yang belum tuntas belajarnya.
50

b. Lebih mengoptimalkan penggunaan lembar kerja siswa dan kegiatan


tanya jawab serta diskusi antar dan sesama anggota kelompok dengan
menambah variasi soal pada lembar kerja siswa.
c. Mengefektifkan kegiatan tanya jawab pada akhir kegiatan
pembelajaran
d. Bekerja sama dengan observer untuk melakukan pencatatan skor baik
individu maupun kelompok untuk memberikan penghargaan kepada
siswa atau kelompok yang meraih prestasi tertinggi pada akhir
kegiatan pembelajaran
2. Siklus Kedua
Selanjutnya dengan melakukan diskusi kelas dengan fokus
perhatian pada siswa belum tuntas, kepadanya diberikan kesempatan untuk
mengemukakan masalah yang dihadapi dan ditemukan untuk dibahas
dalam pelaksanaan diskusi kelas.
a. Aktivitas Belajar
Peningkatan aktivitas belajar cukup signifikan pada setiap
siklusnya, dimana pada siklus pertama hanya 80,56% atau 29 siswa,
meningkat menjadi 94,44% atau 34 siswa pada siklus kedua yang
terlibat aktif dalam pelaksanaan pembelajaran. Dalam bentuk grafik
sebagaimana gambar di bawah ini :

Gambar 4.3 Diagram Batang Peningkatan Aktivitas dan


Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II
51

Melihat hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan


observer menyimpulkan bahwa aktivitas belajar mencapai angka
94,44%. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas belajar telah mencapai
kriteria keberhasilan sebesar 85% dari jumlah seluruh siswa, sehingga
proses perbaikan dinyatakan berhasil dan tuntas pada siklus kedua.
b. Hasil Belajar
Sepertinya halnya peningkatan aktivitas belajar, hasil
belajarpun meningkat cukup baik, yaitu dari nilai rata-rata hasil belajar
sebesar 74,14 pada siklus pertama, menjadi 87,50 pada siklus kedua,
sedangkan tingkat ketuntasan belajar mencapai angka 32 siswa atau
88,89%. Untuk memperjelas peningkatan hasil belajar siswa, dapat
dilihat pada grafik di bawah ini :

Gambar 4.4 Diagram Garis Peningkatan Hasil dan Ketuntasan


Belajar Siswa pada Siklus I dan Siklus II

Melihat hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan


observer menyimpulkan bahwa hasil tes hasil belajar menunjukkan
hasil 87,50, yang berarti sudah melebihi KKM minimal 76,00 dengan
jumlah siswa yang telah tuntas belajarnya sebanyak 34 siswa atau
88,89%. Hal ini menunjukkan bahwa ketuntasan belajar juga telah
mencapai kriteria keberhasilan sebesar 85% sehingga proses perbaikan
pembelajaran dinyatakan berhasil dan tuntas pada pelaksanaan siklus II
Pembelajaran Bahasa Indonesia pada siklus kedua ini sudah
berhasil, karena sudah memenuhi kriteria keberhasilan yang ditentukan.
Pada siklus II ini kegiatan pembelajaran sudah cukup lancar. Siswa sudah
52

menunjukan keantusiasan tinggi untuk belajar Bahasa Indonesia dan


lembar kerja siswa dikerjakan dengan baik dan hasilnya pun baik juga.
Walaupun demikian masih ada saja gangguan, tetapi sedikit dan tidak
berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Hampir semua siswa sudah
berkonsentrasi untuk memecahkan soal penalaran Bahasa Indonesia
dalam lembar kerja siswa. Selanjutnya peneiti dengan supervisor dan
observer mendiskusikan tentang hasil observasi dan wawancara yang
dikaitkan dengan hasil tes formatif, maka pembelajaran Bahasa Indonesia
dianggap sudah tuntas karena hanya dua orang yang belum tuntas
belajarnya sehingga pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dilanjutkan
pada materi berikutnya karena sudah mencapai kriteria keberhasilan proses
perbaikan pembelajara seduai dengan yang telah ditetapkan.
3. Antar Siklus
Penggunaan model cooperative learning tipe STAD akan sangat
membantu dalam membangkitkan aktivitas belajar siswa, ini terbukti
dari hasil belajar yang diberikan pada setiap siklusnya mengalami
peningkatan di mana pada studi awal sebesar 63,06, pada siklus I nilai
rata-rata yang diperoleh siswa adalah 74,17 dan pada siklus II rata-rata
nilai yang diperoleh siswa adalah 87,50. Rekapitulasi nilai hasil tes
formatif siswa dari kondisi awal, siklus I sampai dengan siklus II dapat
dilihat dari tabel di bawah ini.
Tabel 4.7 Rekapitulasi Nilai Hasil Tes Formatif Temuan Awal,
Siklus I dan Siklus II
Ketuntasan
No Siklus Nilai Belum Ket
Tuntas % %
Tuntas
1 Awal 63,06 13 36,11 23 63,89
2 Siklus I 74,17 21 58,33 15 41,67
3 Siklus II 87,50 32 88,89 4 11,11

Dari tabel di atas dapat dijelaskan peningkatan nilai hasil dan ketuntasan
belajar siswa pada siklus I dan II secara terperinci sebagai berikut :
53

1. Siswa Tuntas Belajar


a. Pada temuan awal siswa yang tuntas sebanyak 13 siswa atau 36,11%
dari 36 siswa.
b. Pada siklus I siswa yang tuntas sebanyak 21 siswa atau 58,33% dari
36 siswa
c. Pada siklus II siswa yang tuntas sebanyak 32 siswa atau 88,89% dari
36 siswa
2. Siswa Belum Tuntas Belajar
a. Pada temuan awal siswa yang belum tuntas sebanyak 23 siswa atau
63,89% dari 36 siswa.
b. Pada siklus I siswa yang belum tuntas sebanyak15 siswa atau 41,67%
dari 36 siswa
c. Pada siklus II tidak ada siswa yang belum tuntas sebanyak 4 siswa
atau 11,11% dari 36 siswa
tuntas belajarnya.
Untuk memperjelas kenaikan ketuntasan belajar siswa dan penurunan
ketuntasan belajar siswa dapat dilihat pada diagram batang di bawah ini :

Gambar 4.5 Grafik Peningkatan dan Penurunan Ketuntasan Belajar


Siswa Siklus I dan II

Penjelasan mengenai peningkatan nilai rata-rata hasil belajar pada


pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan penerapan model
54

cooperative learning tipe STAD menunjukkan peningkatan yang cukup


signifikan di mana pada kondisi awal sebesar 63,06 meningkat menjadi 74,17
pada siklus I dan pada akhir siklus II meningkat menjadi 87,50. Peningkatan
nilai rata-rata hasil belajar siswa dalam bentuk grafik sebagaimana gambar di
bawah ini :

Gambar 4.6 Grafik Peningkatan Nilai Rata-rata Belajar Siswa Pada


Siklus I dan II

Keberhasilan proses perbaikan pembelajaran tidak hanya dilihat dari


peningkatan hasil belajar atau nilai tes formatif saja. Aktivitas belajar siswa
selama proses pembelajaran juga merupakan indikator keberhasilan dalam
proses pembelajaran. Hasil observasi pada pelaksanaan kegiatan perbaikan
pembelajaran menunjukkan hasil yang positifi, dan dibuktikan dengan adanya
peningkatan aktivitas siswa pada setiap siklusnya. Secara rinci penjelasan
mengenai peningkatan aktivitas siswa dalam proses perbaikan pembelajaran
sebagaimana tabel di bawah ini :
Tabel 4.8 Rekapitulasi Peningkatan Aktivitas Siswa pada Siklus I dan
Siklus II

Tuntas Belum Tuntas


No Siklus Ket
Jumlah % Jumlah %
1 Awal 18 50,00 18 50,00
2 Siklus I 29 80,56 7 19,44
3 Siklus II 34 94,44 2 5,56

Dari tabel di atas dapat dijelaskan tentang siswa yang tuntas dan belum
tuntas dilihat dari aktivitas belajarnya, yaitu :
55

a. Siswa tuntas dilihat dari aktivitas belajar


1. Pada temuan awal, siswa tuntas dilihat dari aktivitas belajar sebanyak
18 siswa atau 50% dari 36 siswa.
2. Pada siklus I, siswa tuntas dilihat dari aktivitas belajar sebanyak 29
siswa atau 80,56% dari 36 siswa.
3. Pada siklus II, siswa tuntas dilihat dari aktivitas belajar sebanyak 34
siswa atau 94,44% dari 36 siswa.
b. Siswa yang belum tuntas dilihat dari aktivitas belajar
1. Pada temuan awal, siswa belum tuntas dilihat dari aktivitas belajar
sebanyak 18 siswa atau 50% dari 36 siswa.
2. Pada siklus I, siswa belum tuntas dilihat dari aktivitas belajar sebanyak
7 siswa atau 19,44% dari 36 siswa.
3. Pada siklus II, siswa belum tuntas dilihat dari aktivitas belajar
sebanyak 2 siswa atau 5,56% dari 36 siswa.
Secara jelas peningkatan aktivitas siswa selama proses perbaikan
pembelajaran sebagaimana dijelaskan pada gambar di bawah ini :

Gambar 4.7 Grafik Ketuntasan Siswa Berdasarkan Tingkat Aktivitas


Siswa Pada Siklus I dan II

Dari hasil observasi mengenai aktivitas siswa tersebut berdasarkan


kriteria keberhasilan perbaikan pembelajaran dapat disimpulkan bahwa proses
perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil karena peningkatan aktivitas
siswa mencapai angka 94,44% dari 85% batasan minimal yang telah
ditentukan pada kriteria keberhasilan proses perbaikan pembelajaran. Atas
56

dasar pertimbangan sebagaimana diurakan di atas, maka peneliti dan observer


sepakat memutuskan bahwa kegiatan perbaikan pembelajaran diakhiri pada
siklus II.
C. Pembahasan
Melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD ini terlihat hubungan siswa
dengan guru sangat signifikan, karena guru dianggap sosok yang menakutkan
tetapi sebagai fasilitator dan mitra untuk berbagi pengalaman sesuai dengan
konsep creative learning yaitu melalui discovery dan invention serta
creativing and diversity sangat menonjol dalam pembelajaran ini. Dengan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD guru hanya mengarahkan strategi
yang efektif dan efisien yaitu belajar bagaimana cara belajar (learning now to
learn). Dalam hal ini guru memberi arah/petunjuk untuk membantu siswa jika
menemukan kesulitan dalam mempelajari dan menyelesaikan masalah.
Dalam model pembelajaran kooperatif tipe STAD, melalui diskusi
kelompok guru dapat mengamati karakteristik atau gaya belajar masing-
masing siswa. Ada kelompok siswa yang suka membaca daripada dibacakan
kasusnya oleh orang lain. Siswa yang lebih suka membaca kasus dalam hal ini
tergolong kepada siswa yang memiliki potensi atau modalitas visual.
Sedangkan siswa yang lebih suka berdialog, saling mengajukan argumentasi
dengan cara mendengarkan siswa yang lain sewaktu menyampaikan
pendapatnya tergolong kepada siswa yang memiliki potensi atau modalitas
auditorial. Dan siswa yang dengan lugas, lincah dan fleksibel, selain melihat,
mendengar uraian dari siswa yang lain, dia juga mengakomodir semua
permasalahan, maupun membuktikan teori ke dalam praktik, maupun
memecahkan masalah secara rasional, tergolong kepada kelompok belajar
yang memiliki potensi atau modalitas kinestik.
Dalam proses belajar mengajar dengan model pembelajaran kooperatif
tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD), guru lebih berperan
sebagai fasilitator dan pengarah dan pemberi materi kepada siswa. Siswa
diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan menyelesaikan soal praktek
dengan teman satu timnya, guru hanya bertugas sebagai pengarah. Dengan
57

melalui model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement


Divisions (STAD), dimaksudkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Hal ini dapat dilihat dari data hasil penelitian yang dilaksanakan pada
siklus I, siswa yang memperoleh nilai minimal 76 atau tuntas adalah adalah 21
orang siswa (58,33%) dan nilai rata-rata hasil belajar siswa mencapai angka
74,17. Di samping itu hasil pengamatan aktivitas belajar siswa pada siklus I
dari proses pembelajaran menunjukkan 29 siswa atau 80,56% dinyatakan.
Dari data yang diperoleh tersebut dapat digambarkan bahwa masih perlu
adanya perbaikan terutama pada hasil belajar baik secara individual maupun
secara klasikal. Kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus I adalah (1)
Guru belum mampu menciptakan interaksi yang aktif anatara siswa dengan
siswa, siswa dengan guru (2) penguasaan alat bantu media yang belum cerar
optimal di kuasai (3) peranan guru dalam menyelesaikan masalah belum
maksimal (4) buku penunjang yang digunakan yang masih kurang (5) hasil
belajar siswa belum mencapai target yang diharapkan. Berdasarkan
kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus I, maka guru melakukan
perbaikan strategi pembelajaran pad siklus II. Adapun perubahan yang terjadi
pada siklus II antara lain: (1) Pendekatan guru seperti apersepsi, motivasi dan
menciptakan interkasi yang aktif dengan siswa sudah sangat baik, pengelolaan
kelas yang sudah sesuai, sehingga siswa begitu semangat untuk belajar aktif
dalam mengikuti pelajaran, siswa menjadi tidak malu bertanya dan siswa tidak
merasakan bosan atau jenuh dalam menerima materi (2) partisipasi dan respon
siswa menerima penjelasan guru, mengajukan pertanyaan sesuai dengan
materi yang dibahas sangat memenuhi harapan yang di harapkan (3) Daya
serap siswa dalam penguasaan konsep atau materi sudah memenuhi kriteria
belajar dan ketuntasan penelitian dan hasil belajar siswa sudah mencapai
target yang diharapkan.
Dari hasil perbaikan strategi pembelajaran tersebut, maka pada siklus II
telah terjadi perubahan, baik dari segi hasil belajar maupun proses
pembelajaran. Perubahan-perubahan tersebut antara lain jumlah siswa yang
tuntas belajar atau memperoleh nilai minimal 76 pada siklus I adalah 21 orang
58

siswa (58,33%), pada siklus II meningkat menjadi 32 orang siswa (88,89%)


dengan perolehan nilai rata-rata pada siklus I sebesar 74,17 meningkat
menjadi 87,50 pada siklus II. Aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar
80,56% atau 29 siswa dinyatakan tuntas dan pada siklus II meningkat menjadi
34 siswa atau 94,44% siswa dinyatakan tuntas dinilai dari peningkatan
aktivitas belajarnya menggunakan 10 indikator.
Berdasarkan deskripsi data tersebut di atas, jelas bahwa aktivitas dan
hasil belajar siswa mengalami peningkatan baik pada siklus I. Pada siklus II
inilah peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa telah mencapi ukuran
tingkat keberhasilan penelitian atau indikator kinerja yang telah ditentukan.
Berdasarkan data-data hasil pelaksanaan perbaikan pembelajaran sebagaimana
diuraikan di atas berupa data hasil tes formatif siklus I, tes formatif siklus II
dan data hasil observasi siklus I dan II maka dapat disimpulkan bahwa
penerapan model cooperative learning tipe STAD dapat meningkatkan hasil
belajar dan aktivitas siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VII
SMP.................. Semester 2 Tahun Pelajaran 2018/2019.

Anda mungkin juga menyukai