BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Aktivitas Belajar Siswa
Sriyono (Dalam Rahman 2011 : 9) aktivitas adalah segala kegiatan
yang di laksanakan baik secara jasmani atau rohani. Aktifitas siswa selama
proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan
siswa untuk belajar. Sedangkan, Mulyono (Dalam Rahman 2011: 9)
aktivitas artinya “kegiatan atau keaktifan”. Jadi segala sesuatu yang
dilakukan atau kegiatan-kegiatan terjadi baik fisik maupun non-fisik,
merupakan suatu aktivitas. Aktivitas adalah daya dalarn diri seseorang
yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang
atau organisme yang menyebabkan kesiapan-kesiapannya untuk memulai
serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Manusia dalam kehidupannya
dewasa ini tidak dapat memenuhi kebutuhannya tanpa bantuan orang lain,
baik kebutuhan biologis, kebutuhan ekonomis, maupun kebutuhan penting
lainnya. Manusia di dalam memenuhi kebutuhannya, sering mengadakan
hubungan atau memerlukan bantuan orang lain. Tanpa bantuan, orang
yang bersangkutan tidak berarti sama sekali. Oleh karena itu, manusia
cenderung untuk hidup berkelompok atau berorganisasi, sebagai upaya
untuk memenuhi kebutuhannya. Kecenderungan manusia untuk saling
membantu untuk pemenuhan kebutuhan serta kecenderungan untuk
berkelompok ini merupakan pertanda bahwa manusia memiliki
keterbatasan dan bahkan sangat terbatas. (Hasibuan 2010:92)
Aktivitas belajar ini di desain agar memungkinkan siswa
memperoleh muatan yang ditentukan sehingga berbagai tujuan yang di
tetapkan terutama maksud dan tujuan kurikulum dapat di capai. (Hamalik
2007:7) Berkenaan dengan Aktivitas, aktivitas siswa selama proses belajar
mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi
siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila
ditemukan ciri-ciri perilaku seperti : sering bertanya kepada guru atau
7
8
siswa lain mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, mampu menjawab
pertanyaan, senang diberikan tugas belajar, dan lain sebagainya. Oleh
karena itu aktivitas juga sangat berhungan dengan motivasi, para ahli
banyak mengemukakan teori-teorinya, mengemukakan (motivation is an
essential condition of learning) Hasil belajar akan menjadi optimal, kalau
ada motivasi. (Sardiman 2011:84)
Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula
pelajaran itu. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha
belajar bagi para siswa. Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang
saling mempengaruhi. Belajar adalah perubahan tingkah laku secara reatif
permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasi dari praktik atau
penguatan yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi
belajar dapat timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan
berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita.
Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adaya penghargaan, lingkungan
belajar yang kondusuf, dan kegiatan. Motivasi adalah suatu pendorong
yang rnengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktivitas
nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar, motivasi
sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam
belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. menurut Mc.
Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang
ditandai dengan munculnya ”feeling” dan didahului dengan tanggapan
terhadap adanya tujuan. (Sardiman 2011:73) Motivasi dibedakan menjadi
dua macam, yaitu motivasi Instrinsik dan motivasi Ekstrinsik. Motivasi
Instrinsik, timbulnya tidak memerlukan rangsangan dari luar karena
memang telah ada dalam diri indiividu sendiri, yaitu sesuai atau sejalan
dengan kebutuhannnya. Sedangkan motivasi ekstrinsik timbul karena
adanya rangsangan dari luar individu, misalnya dalam bidang pendidikan
terutama minat yang positif terhadap kegiatan pendidikan timbul karena
melihat manfaatnya. (Uzer 2009:29) Motivasi ekstrinsik adalah motif-
9
motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar, tidak
secara langsung bergayut dengan esensi apa yang dilakukannya itu.
Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai
bentuk motivasi yang didalamnya aktifitas belajar dimulai dan diteruskan
berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan
aktifitas belajar. French Reven seseorang akan dapat mempengaruhi
motivasi orang lain bila ia memiliki suatu bentuk kekuasaan sosial.
(Slameto, 2010: 179) Motivasi ekstrinsik ini tidak penting, tetapi dalam
kegiatan belajar mengajar tetap penting. Sebab kemungkinan besar
keadaan siswa itu dinamis, berubah-ubah, dan juga mungkin kimponen-
komponen lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang menarik
bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik.
Berdasarkan teori-teori aktivitas yang telah dikemukakan diatas,
disimpulkan aktifitas merupakan suatu kegiatan yang timbul oleh adanya
rangsangan baik dari dalam diri maupun dari luar sehingga seseorang
berkeinginan untuk mengadakan perubahan tingkah laku/aktifitas tertentu
lebih baik dari keadaan sebelumnya. Menurut analisis peneliti berdasarkan
teori-teori di atas dapat di simpulkan bahwa aktivitas adalah segala suatu
kegiatan seseorang yang mana kegiatan itu memerlukan keaktifan.
Keaktifan itu beranekaragam bentuknya yaitu aktif secara jasmani dan
rohani meliputi keaktifan indera, keaktifan akal, keaktifan ingatan dan
keaktifan emosi
Aktivitas belajar merupakan semua kegiatan yang dilkukan oleh
seseorang siswa dalam konteks belajar untuk mencapai tujuan. Tanpa ada
aktivitas maka proses belajar tidak akan berlangsung dengan baik.
Aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar tidak hanya mendengarkan
dan mencatat saja. Semakin banyak aktivitas yang di lakukan siswa dalam
belajar, maka proses pembelajaran yang terjadi akan semakin baik.
Sardiman (dalam Rahman, 2011 : 14) aktivitas belajar merupakan prinsip
atau azas yang sangat penting didalam interaksi belajar mengajar.
Aktivitas yang dimaksudkan disini bukan hanya aktivitas fisik tetapi
10
mencakup aktivitas mental. pada kegiatan belajar, kedua aktivitas ini
saling terkait. Aktivitas fisik ialah peserta didik giat aktif dengan anggota
badan, membuat sesuatu, bermain maupun bekerja, ia tidak hanya duduk
dan mendengarkan, melihat atau hanya pasif. Peserta didik yang
mempunyai aktifitas psikis (kejiwaan) adalah jika daya jiwanya bekerja
sebanyak-banyaknya dalam rangka pengajaran. Seluruh peranan dan
kemauan dikerahkan dan diarahkan supaya daya itu tetap aktif untuk
mendapatkan hasil pengajaran yang optimal. Berdasarkan pendapat
tersebut, aktivitas belajar dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan fisik
maupun mental yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan
mengakibatkan adanya perubahan pada dirinya baik yang tampak maupun
yang tidak tampak.
2. Hasil Belajar
Belajar dan mengajar merupakan konsep yang tidak bisa
dipisahkan. Belajar merujuk pada apa yang harus dilakukan seseorang
sebagai subjek dalam belajar, sedangkan mengajar marujuk pada apa yang
seharusnya dilakukan seorang guru sebagai pengajar. Dua konsep
belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru terpadu dalam
satu kegiatan. Diantara keduannya itu terjadi interaksi dengan guru.
Kemampuan yang dimiliki siswa dari proses belajar mengajar saja
harus bisa mendapatkan hasil bisa juga melalui kreatifitas seseorang
itu tanpa adanya intervensi orang lain sebagai pengajar.
Oleh karena itu hasil belajar yang dimaksud disini adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki seorang siswa setelah ia menerima
perlakukan dari pengajar (guru), seperti yang dikemukakan oleh Sudjana.
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa
setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004:22).
Sedangkan menurut Horwart Kingsley dalam bukunya Sudjana membagi
tiga macam hasil belajar mengajar : (1). Keterampilan dan kebiasaan, (2).
Pengetahuan dan pengarahan, (3). Sikap dan cita-cita (Sudjana, 2004 :22).
11
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah
kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh
siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru
sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan
sehari-hari.
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor yakni
faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa (Sudjana, 1989 :
39). Dari pendapat ini faktor yang dimaksud adalah faktor dalam diri siswa
perubahan kemampuan yang dimilikinya seperti yang dikemukakan
oleh Clark (1981:21) menyatakan bahwa hasil belajar siswa disekolah
70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh
lingkungan. Demikian juga faktor dari luar diri siswa yakni
lingkungan yang paling dominan berupa kualitas pembelajaran
(Sudjana, 2002 : 39).
"Belajar adalah suatu perubahan perilaku, akibat interaksi
dengan lingkungannya" (Ali Muhammad, 2004 : 14). Perubahan
perilaku dalam proses belajar terjadi akibat dari interaksi dengan
lingkungan. Interaksi biasanya berlangsung secara sengaja. Dengan
demikian belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan dalam diri
individu. Sebaliknya apabila terjadi perubahan dalam diri individu
maka belajar tidak dikatakan berhasil.
Abin Syamsudin M (dalam Hefi Tusilawati, 2009 :23)
mengemukakan bahwa ‘Hasil belajar merupakan perubahan-perubahan
yang diharapkan terjadi pada perilaku dan pribadi siswa setelah
mengalami dan melalui proses belajar’. Ada juga yang mengemukakan
bahwa ‘Hasil belajar merupakan kemampuan melakukan sesuatu secara
permanent, dapat diulang-ulang dengan hasil yang sama’. Hasil belajar
merupakan perilaku yang dimiliki peserta didik sebagai akibat dari proses
belajar yang ditempuhnya dan berupa suatu konsep yang bersifat
umum didalamnya tercakup prestasi. Hasil belajar adalah kemampuan
yang dimiliki oleh siswa setelah belajar, yang wujudnya berupa
12
kemampuan kognitif, afektif dan pisikomotor. Derajat kemampuan
yang diperoleh siswa diwujudkan dalam bentuk nilai hasil belajar. Dalam
pembelajaran Bahasa Indonesia, hasil proses pembelajaran yang
penting yakni sesuai dengan tujuan/sasaran hasil pembelajaran atau
standar kompetensi dan kompetensi dasar tertuang dalam silabus
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang terjabarkan
pada silabus tersebut dan guru pun menyusun beberapa indikator yang
dapat menjelaskan dan menunjukan jenis-jenis tingkah laku yang perlu
dimiliki oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran, dan
tercapai tidaknya indikator tersebut baru dapat diketahui setelah dilakukan
serangkaian tes.
Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kamampuan siswa dan
kualitas pengajaran. Kualitas pengajaran yang dimaksud adalah
profesional yang dimiliki oleh guru. Artinya kemampuan dasar guru
baik di bidang kognitif (intelektual), bidang sikap (afektif) dan bidang
perilaku (psikomotorik).
Dari beberapa pendapat di atas, maka hasil belajar siswa
dipengaruhi oleh dua faktor dari dalam individu siswa berupa kemampuan
personal (internal) dan faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan.
Dengan demikian hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh
siswa berkat adanya usaha atau fikiran yang mana hal tersebut dinyatakan
dalam bentuk penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat
dalam berbagai aspek kehidupa sehingga nampak pada diri indivdu
penggunaan penilaian terhadap sikap, pengetahuan dan kecakapan
dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak
pada diri individu perubahan tingkah laku secara kuantitatif.
3. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama
a. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP
1) Pengertian Pembelajaran Bahasa Indonesia
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual,
sosial dan Emosional peserta didik, serta merupakan penunjang
13
keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran
Bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya,
budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan
perasaan, partisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa
tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analisis
dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Pembelajaran Bahasa
Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik
untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan
benar, baik secara lisan maupun secara tulis, serta menumbuhkan
apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia indonesia
(Depdiknas , 2006 : 124)
2) Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP
Mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik
memiliki kemampuan sebagai berikut :
a) Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang
berlaku, baik secara lisan maupun tulis
b) Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai
bahasa persatuan dan bahasa negara
c) Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat
dan kreatif untuk berbagai tujuan
d) Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan
intelektual serta kematangan emosional dan sosial
e) Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas
wawasan, memperhalus budi pekerti serta meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
f) Menghargai dan membanggakan sastra indonesia sebagai
khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia (Depdiknas,
2006 : 125)
3) Aspek-aspek Pembelajaran Bahasa Indonesia
Aspek aspek pembelajaran bahasa Indonesia di SMP terdiri dari
empat aspek sebagai berikut :
14
a) Mendengarkan, seperti mendengarkan berita, petunjuk,
pengumuman, perintah, dan bunyi atau suara, bunyi bahasa lagu,
kaset, pesan, penjelasan, laporan, ceramah, khotbah, pidato,
pembicaraan nara sumber, dialog atau percakapan, pengumuman
serta perintah yang didengar dengan memberikan respon secara
tepat serta mengapresiasi sastra berupa dongeng, cerita anak-anak,
cerita rakyat, cerita binatang, puisi anak, syair lagu, pantun dan
menonton drama anak.
b) Berbicara, seperti mengungkapkan gagasan dan perasaan ,
menyampaikan sambutan , dialog, pesan, pengalaman, suatu
proses, menceritakan diri sendiri, teman, keluarga, masyarakat,
benda, tanaman, binatang, gambar tunggal, gambar seri, kegiatan
sehari-hari, peristiwa, tokoh, kesukaan/ketidaksukaan,
kegemaran, peraturan, tata petunjuk, dan laporan, serta
mengapresiasi dan berekspresi sastra melalui kegiatan menuliskan
hasil sastra berupa dongeng cerita anak-anak, cerita rakyat, cerita
binatang, puisi anak, syair lagu, pantun, dan drama anak.
c) Membaca, seperti membaca huruf, suku kata, kata, kalimat,
paragraf, berbagai teks bacaan, denah, petunjuk, tata tertib,
pengumuman, kemus, ensiklopedi, serta mengapresiasi dan
berekspresi, sastra melalui kegiatan membaca hasil sastra berupa
dongeng, cerita anak-anak, cerita rakyat, cerita binatang, puisi
anak, syair lagu, pantun, dan drama anak.
d) Menulis, seperti menulis karangan naratif dan normatif dengan
tulisan rapi dan jelas dengan memerhatikan tujuan dan ragam
pembaca, pemakaian ejaan dan tanda baca , dan kosa kata yang
tepat dengan menggunakan kalimat tunggal dan kalimat
majemuk, serta mengapresiasi dan berekspresi sastra melalui
kegiatan menulis hasil sastra berupa cerita dan puisi (Tw Soclhan,
2008: 4.19)
15
4) Ruang Lingkup
Ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakup
komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang
meliputi aspek-aspek sebagai berikut: (1) mendengarkan, (2)
berbicara, (3) membaca, (4) menulis. Pada akhir pendidikan di
SMP, peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya sembilan
buku sastra dan non sastra ( Depdiknas, 2006 : 125)
4. Model Cooperative Learning
a. Pengertian Coopertive Learning
Model Coopertive Learning atau model pembelajaran gotong
royong ini didasari oleh falsafah homo homoni socius, yang
menekankan manusia adalah makhluk sosial. Ini mengandung arti,
kerja sama merupakan kebutuhan sangat penting bagi kelangsungan
hidup manusia. Model Coopertive Learning menekankan pada
pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan suasana yang
kondusif kepada siswa untuk memperoleh dan mengembangkan
pengetahuan, sikap, nilai serta keterampilan-keterampilan sosial yang
bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat.
Coopertive Learning ini dianggap perlu dalam pendidikan,
karena tidak setiap orang bisa dan mampu bekerja sama. Tidak
ada seorang pun yang sejak lahir mempunyai kemampuan untuk
bekerja sama dengan baik. Kemampuan itu harus dipelajari. Ini
termasuk yang disebut dengan social-skill atau kecakapan hidup
bermasyarakat. Melalui belajar bekerja sama akan muncul
berbagai sikap sosial yang positif, di antaranya saling menghargai
dan menghormati, toleransi, tenggang rasa, kemampuan
mengendalikan emosi, kesediaan untuk saling berbagi (take and give).
Terdapat beberapa definisi pembelajaran kooperatif atau
Cooperative Learning yang dikemukakan oleh beberapa ahli
pendidikan sebagai berikut :
16
1) Davidson dan Korl (Sutardi dkk, 2007: 57), mendefinisikan bahwa
“Pembelajaran kooperatif (Coopertive Learning) ialah kegiatan
yang berlangsung di lingkungan belajar siswa dalam kelompok
kecil yang saling berbagi ide-ide dan bekerja secara kolaboratif
untuk memecahkan masalah- masalah yang ada dalam tugas
mereka ”.
2) Karli dan Margaretha (2004: 47) menjelaskan bahwa “Model belajar
kooperatif adalah suatu strategi belajar mengajar yang
menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau
membantu diantara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur
dalam kelompok yang terdiri atas dua orang atau lebih untuk
memecahkan masalah ”.
3) Sedangkan menurut Sanjaya (2006: 240) “Pembelajaran kooperatif
(Coopertive Learning) merupakan model pembelajaran dengan
menggunakan sistem pengelompokan tim kecil, yaitu antara
empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang
akademis, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda”. Melalui
beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa yang
dimaksud dengan model Coopertive Learning adalah cara belajar
bersama sama dalam sebuah kelompok heterogen yang terdiri
atas dua orang atau lebih yang saling membantu antar satu
dengan yang lainnya untuk membahas dan menyelesaikan tugas
atau memecahkan masalah.
b. Prinsip Cooperative Learning
Pembelajaran kooperatif atau Cooperative Learning setidaknya
memiliki lima prinsip yaitu:
1) Belajar siswa aktif ( student active learning )
Proses pembelajaran berpusat pada siswa, aktivitas belajar
lebih dominan oleh siswa, pengetahuan yang dibangun dan
ditemukan adalah belajar bersama-sama dengan anggota
kelompok sampai masing-masing siswa memahami materi
17
pembelajaran dan diakhiri dengan membuat laporan kelompok dan
individual.
2) Belajar bekerjasama (Cooperative Learning)
Proses pembelajaran dilalui dengan bekerjasama dalam
kelompok untuk membangun pengetahuan yang tengah
dipelajari. Prinsip pembelajaran inilah yang melandasi
keberhasilan penerapan model Coopertive Learning. Seluruh
siswa terlibat secara aktif dalam kelompok untuk melakukan
diskusi, memecahkan masalah dan mengujinya secara bersama.
Pengetahuan yang diperoleh hasil kerjasama diyakini lebih bernilai
permanen.
3) Pembelajaran Parsipatorik (Participatoric learning)
Melaui model pembelajaran ini, siswa belajar dengan
melakukan sesuatu atau learning by doing secara bersama-sama
untuk menemukan dan membangun pengetahuan yang menjadi
tujuan pembelajaran.
4) Mengajar Reaktif (Reactive teaching)
Motivasi siswa dapat dibangkitkan jika guru mampu
menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menarik
serta dapat meyakinkan siswanya akan manfaat pelajaran untuk
masa depan mereka.
5) Pembelajaran yang menyenangkan ( Joyfull leraning)
Pembelajaran yang menyenangkan harus dimulai dari sikap
dan perilaku guru di luar mapun di dalam kelas.
c. Tujuan Cooperative Learning
Model Cooperative Learning berbeda dengan pengajaran
langsung atau direct learning. Model ini disamping dikembangkan
untuk mencapai hasil belajar akademik juga efektif untuk
mengembangkan keterampilan sosial siswa serta mengajarkan kepada
siswa keterampilan bekerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini
sangat penting untuk membekali siswa kelak untuk hidup di
18
masyarakat yang banyak berhubungan dengan orang dewasa dan
dalam kegiatan berorganisasi yang penuh saling ketergantungan satu
sama lain, apalagi mengingat keragaman budaya yang semakin cepat
berkembang.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk
mencapai setidak – tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting,
yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan
pengembangan keterampilan sosial. Efek penting yang pertama
pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja
siswa dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat
bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami
konsep-konsep yang sulit.
Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil
belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan
baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang
bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. Siswa
kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah,
jadi memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya, yang
memiliki orientasi dan bahasa yang sama.
d. Unsur-unsur dan Karakteristik Cooperative Learning
Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif adalah sebagai
berikut :
1) Siswa dalam kelompoknya harus merasakan bahwa mereka sama.
2) Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam
kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
3) Siswa harus melihat bahwa semua anggota di dalam
kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
4) Siswa harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama
diantara anggota kelompoknya.
5) Siswa akan dievaluasi atau diberikan penghargaan yang juga
akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
19
6) Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan
keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
7) Siswa akan diminta mempertangung jawabkan secara individu
materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Beberapa karakteristik model pembelajaran kooperatif, antara
lain :
1) Individual Acountability atau tanggung jawab individu yaitu :
bahwa setiap individu dan dalam kelompok mempunyai
tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan yang
dihadapi kelompok secara tuntas, sehingga keberhasilan
kelompok sangat ditentukan oleh tanggung jawab setiap
anggota.
2) Social Skills, meliputi seluruh hidup sosial, kepekaan sosial dan
mendidik siswa untuk menumbuhkan pengekangan diri demi
kepentingan kelompok.
3) Positve Interdependence yaitu sifat yang menunjukan saling
ketergantungan satu terhadap yang lainnya didalam kelompok
secara positif.
4) Group Processing, proses perolehan jawaban permasalahan
dikerjakan oleh kelompok secara bersama-sama. (Karli dan
Margaretha, 2004: 49).
5. Cooperative Learning Teknik STAD
Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model Student
Team Achievement Divisions (STAD). STAD adalah salah satu tipe
pembelajaran kooperatif yang sederhana. Model pembelajaran
Coopertive Learning Tipe STAD adalah model pembelajaran dengan
strategi kelompok belajar yang terdiri dari 4 sampai 5 siswa yang
heterogen dari kemampuan belajarnya, ada siswa yang kemampuan
belajarnya tinggi, sedang maupun rendah.
Dalam kelompok tersebut ada tanggung jawab bersama, jadi
setiap anggota aling membantu untuk menutupi kekurangan temannya.
20
Ada proses diskusi, saling bertukar pendapat, menghargai
pendapat,pembelajaran teman sebaya. kepemimpinan dalam mengatur
pembelajaran di kelompoknya sehingga yang terjalin adalah hubungan
positif. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim
untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran
tersebut. Akhirnya seluruh siswa diberi kuis tentang materi itu
dengan catatan saat kuis mereka tidak boleh saling membantu. Tipe
pembelajaran inilah yang akan diterapkan dalam pembelajaran Bahasa
Indonesia.
Keunggulan dari metode pembelajaran kooperatif teknik STAD
adalah adanya kerja sama dalam kelompok dan dalam menentukan
keberhasilan kelompok tergantung keberhasilan individu, sehingga
setiap anggota kelompok tidak bisa menggantungkan pada anggota
yang lain. Pembelajaran kooperatif teknik STAD menekankan pada
aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi saling
membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi
yang maksimal.
Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
1) Guru memberikan penjelasan
Jelasnya guru menerangkan (ekspositori) materi baru, memberi
contoh cara mengerjakan soal baru, meragakan keterampilan baru dsb.
2) Murid belajar dalam tim atau kelompok
Dalam tim atau kelompok itu murid-murid secara bersama
memperdalam atau memperluas materi pelajaran, atau “menderes”
(mengulang menghapalkan) materi pelajaran), atau berlatih
bersama-sama (bekerja sama) mengerjakan soal-soal (“quiz latihan,”
LKS, dsb.). Jadi, untuk tahap kedua STAD itu (kerja tim) guru harus
menyediakan tugas yang harus dikerjakan oleh semua kelompok.
Misalnya murid bersama-sama berlatih menghitung luas segi tiga
dengan ukuran yang berbeda-beda yang sudah disediakan guru.
3) Tes akhir sesi
21
Pada akhir “sesi,” bisa akhir satu pertemuan, dua pertemuan,
atau tiga pertemuan, tergantung pada isi pokok bahasan atau
materi pelajaran, dan perkiraan siswa dapat menangkap atau
menguasai pelajaran, diadakanlah tes individual, dengan “quiz tes,”
misalnya. Dalam tes ini tentu tidak ada lagi kerja sama.
4) Penilaian dan pemberian penghargaan.
Tes akhir sesi dikoreksi (dinilai) guru untuk nantinya
diberitahukan kepada seluruh siswa. Ada pemberian bonus atau
penghargaan (tidak harus selalu berupa materi) kepada tim terbaik.
Model Coopertive Learning teknik STAD menitikberatkan pada
kerjasama dalam satu kelompok untuk memecahkan masalah secara
bersama-sama.
B. Kerangka Berpikir
Model pembelajaran merupakan suatu setrategi pembelajaran dimana
dalam pembelajaran itu akan mengajak peserta didik untuk belajar lebih aktif.
Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi
aktivitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak,
baik untuk menemukan ide peokok dari materi pelajaran, memecahkan
persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari dalam
kehidupan [Link] pembelajaran aktif ini, pesrta didik diajak untuk turut
serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental tetapi juga
melibatkan fisik.
Rendahnya hasil belajar dan minat belajar Bahasa Indonesia materi
teks deskripsi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor yang mendukung
pelaksanaan pembelajaran pada dasarnya sangat kompleks dan bisa ditinjau
dari berbagai aspek. Adapun hal yang paling mendasar dan menentukan
terhadap keberhasilan pembelajaran diantaranya sarana dan prasarana yang
memadai, situasi dan kondisi yang kondusif, faktor guru, faktor siswa,
termasuk pemilihan dan penggunaan model pembelajaran. Sebagai upaya
perbaikan maka perlu pemilihan dan penggunaan model pembelajaran yang
tepat agar pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Di antara
22
berbagai model pembelajaran, satu diantaranya adalah model cooperative
learning tipe STAD, yaitu pembelajaran berkelompok dimana siswa dapat
saling membantu dalam proses pembelajaran sehingga siswa yang kurang
dapat dibantu oleh teman kelompoknya selain oleh guru sebagai
pembimbing.
Model Pembelajaran STAD yaitu, guru menjelaskan materi sebagai
pengantar, kemudian guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok
untuk mendiskusikan materi yang diberikan. Kemudian setiap kelompok
diminta untuk melakukan presentasi secara suka rela. Dan kelompok
mengirimkan anggota mereka untuk membagikan hasil diskusi kelompok
mereka. Kemudian kembali pada keadaan semula dan materi diakhiri dengan
membuat kesimpulan yang dipandu oleh guru. Pada dasarnya model
pembelajaran apapun lebih mudah diterapkan pada siswa yang memiliki
tingkat aktivitas, intelegensi dan motivasi yang tinggi. Pada Model
Pembelajaran STAD dimana peserta didik diberikan kebebasan untuk
mengutarakan pendapat, maka yang terjadi ialah siswa yang memiliki
aktivitas lebihlah yang akan mendominasi kelas itu.
Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penelitian Tindakan Kelas
23
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir diatas, dapat diajukan suatu hipotesis
sebagai berikut : “Dengan penerapan model Cooperative Learning Tipe
STAD maka aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran Bahasa
Indonesia materi teks deskripsi siswa siswa kelas VII SMP..................
Semester 2 Tahun Pelajaran 2018/2019 dapat meningkat”.