BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan proses mengubah tingkah laku anak didik agar
menjadi manusia dewasa yang mampu hidup mandiri dan sebagai anggota
masyarakat dalam lingkungan alam sekitar dimana individu itu berada.
Pendidikan tidak hanya mencakup pengembangan intelektualitas saja, akan
tetapi lebih ditekankan pada proses pembinaan kepribadian anak didik secara
menyeluruh sehingga anak menjadi lebih dewasa. Sagala (2011:3). Pendidikan
dasar merupakan jenjang pendidikan yang harus terlebih dahulu diselesaikan
oleh siswa atau pelajar sebelum mencapai pendidikan yang lebih tinggi lagi
yaitu sekolah lanjutan hingga perguruan tinggi itu semua dilaksanakan oleh
generasi muda sebagai suatu kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai warga
[Link] juga dapat berfungsi sebagai filter adanya pengaruh dari
adanya era globalisasi yang sekarang sedang terjadi di seluruh dunia.
Sering kali pelajaran Bahasa Indonesia dianggap sebagai salah satu mata
pelajaran yang disepelekan dianggap kurang penting dan tidak begitu diminati
oleh para pelajar atau siswa. Hal ini juga dikarenakan proses pembelajaran
disekolah-sekolah pada palajaran Bahasa Indonesia juga masih sangat
konfensional yaitu guru masih merupakan pusat pembelajaran guru masih
menggunakan metode ceramah saat pembelajaran, hal itu menjadikan siswa
juga seringkali merasa bosan dan jenuh pada saat pelajaran berlangsung,
akibatnya materi yang diajarkan oleh guru tidak maksimal diserap oleh siswa
dan materi kurang dipahami oleh siswa.
Pembelajaran yang efektif dan efisien adalah harapan setiap guru.
Semakin ke depan materi pembelajaran semakin banyak dengan waktu yang
tidak bertambah. Seorang guru hendaklah menerapkan model pembelajaran
yang baik untuk proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu,
bila model pembelajaran atau metode yang dipakai tidak cocok akan
menimbulkan masalah dalam pembelajaran. Bila masalah ini dibiarkan berlarut
larut maka akan menimbulkan penurunan kualitas pembelajaran. Oleh sebab
1
2
itu, peneliti mencoba mengidentifikasi masalah yang terjadi dalam
pembelajaran yang dilakukan.
Berhasil tidaknya pendidik dalam suatu kegiatan belajar mengajar dapat
dilihat dari motivasi belajar seorang peserta didik. motivasi belajar merupakan
salah satu perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi
kemanusiaan saja pada peserta didik melainkan mencakup seluruh aspek.
(Daryono, dkk. 2008:1) Aktivitas merupakan akibat dari interaksi seseorang
dengan situasi tertentu yang dihadapinya. Karena itulah terdapat perbedaan
dalam kekuatan aktivitas yang ditunjukan oleh seseorang dalam menghadapi
situasi tertentu dibandingkan dengan orang-orang menghadapi situasi yang
sama. Bahkan seseorang akan menunjukan dorongan tertentu dalam
menghadapi situasi yang berbeda dan dalam waktu yang berlainan pula, berarti
apabila berbicara mengenai aktivitas salah satu 3 hal yang amat penting untuk
diperhatikan ialah bahwa tingkat aktivitas berbeda antara seorang dengan orang
lain dan dalam diri seseorang pada waktu yang berlainan. Meningkatkan
aktivitas belajar siswa dapat dilakukan dengan menerapkan proses belajar
mengajar yang benar, sebab proses belajar mengajar merupakan upaya
pendidikan paling penting dalam proses pembelajaran. Sehingga dapat
diketahui bahwa proses belajar mengajar adalah inti kegiatan yang menjadi
tolak ukur peningkatan mutu pendidikan, untuk mencapai hasil belajar.
Mencapai hasil belajar yang maksimal untuk menciptakan pendidikan yang
bermutu tentunya dibutuhkan komponen pendidikan yang berkualitas dan
memadai. Salah satunya adalah pendidik yang profesional. Saat ini banyak
guru yang kurang profesional dalam melakukan tugasnya.
Mereka menganggap (siswa) sebagai gelas kosong yang dapat diisi
dengan air sampai penuh, sehingga di dalam kelas yang dilakukannya hanyalah
‘berteriak’ (baca: berceramah). Untuk itu dibutuhkan suatu kegiatan yang
dilakukan oleh guru dengan upaya membangkitkan motivasi belajar siswa,
misalnya dengan membimbing siswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan
yang melibatkan siswa serta guru yang berperan sebagai pembimbing untuk
menemukan konsep pembelajaran. Motivasi tidak hanya menjadikan siswa
3
terlibat dalam kegiatan akademik, motivasi juga penting dalam menentukan
seberapa jauh siswa akan belajar dari suatu kegiatan pembelajaran atau
seberapa jauh menyerap informasi yang disajikan kepada mereka. Siswa yang
termotivasi untuk belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih
tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan
mengendapkan materi itu dengan lebih baik. Tugas penting guru adalah
merencanakan bagaimana guru mendukung motivasi siswa. Gaya belajar
monoton seperti ini membuat siswa bosan belajar dan mengantuk, tentunya ini
bukanlah harapan pendidikan kita.
Hasil penelitian awal yang telah peneliti lakukan masih terdapat
perbedaan antara harapan dengan kenyataan yang terjadi dalam pembelajaran
Ilmu Pengetahuan Sosial materi Pengertian pemerintah dan komponen
pemerintahan di Indonesia. Harapan yang demikian itu nyata belum bisa
dipenuhi oleh seluruh siswa kelas VII SMP...................
Hal ini dibuktikan dengan pencapaian nilai standar KKM (76) ke atas
hanya 13 siswa atau 36,11%%, dengan aktivitas belajar siswa yang hanya
mencapai angka 50% atau 18 siswa dari 36 siswa serta perolehan nilai rata-rata
hasil belajar secara klasikal sebesar 65,83. Rendahnya hasil belajar dan
aktivitas belajar Bahasa Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor
yang mendukung pelaksanaan pembelajaran pada dasarnya sangat kompleks
dan bisa ditinjau dari berbagai aspek. Adapun hal yang paling mendasar dan
menentukan terhadap keberhasilan pembelajaran diantaranya sarana dan
prasarana yang memadai, situasi dan kondisi yang kondusif, faktor guru,
faktor siswa, termasuk pemilihan dan penggunaan model pembelajaran.
Diantara berbagai model pembelajaran, satu diantaranya adalah
model cooperative learning tipe STAD, yaitu pembelajaran berkelompok
dimana siswa dapat saling membantu dalam proses pembelajaran sehingga
siswa yang kurang dapat dibantu oleh teman kelompoknya selain oleh guru
sebagai pembimbing. Model ini memberikan kesempatan kepada siswa
untuk belajar secara bersama-sama atau gotong royong sehingga makna
kebersamaan sangat dominan. Selain itu, model ini dapat mengaktifkan
4
siswa dalam belajar karena siswa didorong untuk mengemukakan pendapat
atau menyanggah berbagai masalah yang diajukan oleh rekan sekelompoknya.
Dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif metode STAD ini,
Menurut Slavin (2005;25) bahwa ada lima komponen utama yang perlu
diperhatikan, yaitu : tahap penyajian kelas (class presentation), belajar dalam
kelompok (teams), tes/kuis (quis tes), skor kemajuan individu (individual
invromenti scores), penghargaan kelompok (teams recognition) (dalam Pujani,
2003:17) berdasarkan apa yang diungkapkan Slavin, maka model pembelajaran
kooperatif metode STAD memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Siswa belajar
dalam kelompok kelompok kecil Siswa ditempatkan dalam kelompok-
kelompok belajar beranggotakan 5-6 orang yang merupakan campuran menurut
tingkat kemampuan, jenis kelamin, dengan adanya heteroginitas anggota dalam
satu kelompok, diharapkan dapat memotivasi siswa untuk saling membantu
antara siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan
kurang dalam penguasaan materi, sehingga tumbuh kesadaran dalam diri siswa
bahwa belajar dengan model kooperatif cukup menyenangkan.
B. Identifikasi Masalah
Upaya untuk mengatasi hal sebagaimana uraian di atas, peneliti
mencoba berkolaborasi dengan kepala sekolah, rekan sejawat. Dari hasil
diskusi dapat teridentifikasi beberapa masalah sebagai berikut :
a. Pengelolaan pembelajaran yang dilakukan guru tidak kondusif, dalam arti
tidak memberikan kesan menyenangkan siswa saat dibelajari materi
pembelajaran.
b. Pemilihan metode pembelajaran yang kurang tepat adalah yang menjadi
pemicu perilaku guru saat mempelajari siswa hingga tidak banyak berbuat
sesuatu demi keberhasilannya.
c. Kreativitas siswa untuk menanyakan sesuatu kepada guru sama sekali
tidak muncul.
d. Sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam menyerap materi ajar,
dan ini telah menyebabkan mereka tidak tuntas belajar karena kekurang
tepatan pemilihan metode pembelajaran
5
C. Rumusan Masalah
Dari penjelasan pada latar belakang dan identifikasi masalah di atas,
maka dapat disusun rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini,
yaitu :
1. Bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan
strategi Cooperative Learning tipe STAD siswa kelas VII SMP..................
mata pelajaran Bahasa Indonesia materi teks deskripsi ?
2. Bagaimana peningkatan aktivitas siswa kelas XII-A3 SMAN 2
Siborongborong pada pembelajaran Bahasa Indonesia materi teks
deskripsi dengan menggunakan strategi Cooperative Learning tipe
STAD?
3. Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa kelas XII-A3 SMAN 2
Siborongborong pada pembelajaran Bahasa Indonesia materi teks
deskripsi dengan menggunakan strategi Cooperative Learning tipe
STAD?
D. Tujuan Penelitian
Upaya melakukan penelitian perbaikan pembelajaran ini tidak lepas
dari tujuan yang diharapkan, yaitu sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui pelaksanaan proses pembelajaran dengan
menggunakan strategi Cooperative Learning tipe STAD siswa kelas VII
SMP.................. mata pelajaran Bahasa Indonesia materi teks deskripsi ?
2. Untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar siswa mata kelas VII
SMP.................. mata pelajaran Bahasa Indonesia materi teks deskripsi
setelah menggunakan strategi Cooperative Learning tipe STAD
3. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas VII
SMP.................. mata pelajaran Bahasa Indonesia materi teks deskripsi
setelah menggunakan strategi Cooperative Learning tipe STAD.
E. Manfaat Penelitian
Diharapkan dengan pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dapat
memberikan manfaat secara teoritis dan praktis :
1. Manfaat Teoritis
6
Melalui kegiatan penelitian ini diperoleh alat dan teknik
penunjang yang lebih realistis dan aplikatif untuk keperluan optimalisasi
penggunaan model Cooperative Learning tipe STAD pada kelas dan mata
pelajaran yang berbeda.
2. Manfaat Praktis
a. Siswa dapat meningkatkan aktivitas, kreativitas, dan hasil belajar
menjadi lebih baik daripada sebelumnya, serta menumbuhkembangkan
sikap kritisnya terhadap aktivitas, kreativitas, dan hasil belajar yang
telah diperolehnya.
b. Guru dapat memperbaiki kinerjanya secara profesional, karena itu rasa
percaya dirinya akan meningkat dan ikut serta berperan aktif dalam
rangka mengembangkan inovasi pembelajaran khususnya untuk bidang
studi Bahasa Indonesia.
c. Membantu sekolah untuk terus berkembang karena adanya
peningkatan kemampuan pada diri guru dan siswa yang menunjukkan
lebih unggul baik dari segi kuantitas maupun kualitas dari sekolah lain.