PENGENALAN ANAK
BERKEBUTUHAN KHUSUS
(ABK)
PCP Diksar Stunting – Dit. GTK PAUD, Kemendikbud, 2021
KERTERKAITAN DENGAN MODUL LAIN
TUJUAN MODUL INI
1. Mengenali kebutuhan khusus anak sedini mungkin
2. Menghrgai potensi anak, baik ABK atau tidak
3. Menyesuaikan lingkungan belajar dan program kegiatan
dengan keadaan anak, agar dapat memfasilitasi
keterlibatan ABK dengan anak lain
4. Membantu anak, orang tua dan lingkungan sosial untuk
memahami sisi positif dari penggabungan ABK dengan anak
lain di lembaga PAUD
5. Memahami sistem rujukan dan kontak profesional lain yang
terkait dengan penanganan ABK
KICIR-KICIR : [Link]
Setiap orang punya karakteristik, setiap individu adalah unik, setiap manusia
punya kelebihan-kekurangan, tetapi setiap orang pasti punya kemampuan
Siapakah Anak Berkebutuhan
Khusus (ABK)?
REFLEKSI
• Semua anak punya hak yang sama, tetapi masing-masing individu
memiliki cara belajar dan tahap pencapaian perkembangan yang
tidak sama.
Bahwa masing-masing anak sebetulnya memiliki kebutuhan
khusus, yang mau tidak mau mengharuskan pendidik memberikan
layanan program & mengembangkan perencanaan kegiatan
pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan masing-masing
anak.
Anak dengan kebutuhan khusus memiliki hambatan dalam
perkembangan, pembelajaran dan berpartipasi, sehingga memerlukan
dukungan secara khusus dari berbagai pihak di luar diri anak untuk
mengurangi hambatan-hambatan yang ada, agar anak-anak dapat
berpartisipasi dan beradaptasi dalam pembelajaran bersama teman
sebayanya
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
A. UU sisdiknas No.20 tahun 2003, pasal 5
1. Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental,
intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.
2. Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat
adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus.
3. Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa
berhak memperoleh pendidikan khusus
a. Tunanetra
b. Tunarungu
c. Tunawicara
PENGELOMPOKKAN
d. Tunagrahita
ABK
B E R DA S A R K A N e. Tunadaksa
PERMENDIKNAS RI f. Berkesulitan belajar
N O M O R 7 0 TA H U N g. Lamban belajar
2 0 0 9 T E N TA N G h. Autis
PENDIDIKAN
i. Gangguan motorik
INKLUSIF
j. Tunaganda
k. Cerdas Istimewa dan Bakat
Istimewa
. Pengelompokan ABK Berdasarkan
Hambatan
Tuna Ganda- 08 01 – Daya Pikir
kombinasi tuna grahita/Down
01 Syndrome
Kelebihan Potensi - 07 08 02
02 – Pendengaran dan Bicara
kecerdasan, bakat,
dan intuisi tunarungu/ tunawicara
07 ABK 03
Kelebihan Potensi - 06 03 – Fisik/motorik
Disleksia, Diskalkulia, Cerebral Palsy, Polio, Tuna
06 04 Daksa, Kidal
Disgrapia,ADD/ADHD
05
Spectrum Autism, 04 - Perilaku
tunalaras, HIV AIDS & Narkoba
Sindroma Asperger - 05
FAKTOR HAMBATAN DALAM BELAJAR
Faktor Faktor Anak yang memiliki
Anak Lingkungan
hambatan dalam
perkembangan,
pembelajaran dan
Faktor partisipasi
Kombinasi Anak
- Lingkungan
Faktor Penyebab ABK
Saat Setelah
Sebelum Kelahiran
Kelahiran
Kelahiran
• Gangguan
Genetika: Kelainan • Proses kelahiran • Penyakit infeksi
Kromosom, lama (Anoxia), bakteri (TBC),
Transformasi prematur, virus
• Infeksi Kehamilan kekurangan • Kekurangan zat
• Usia Ibu Hamil oksigen makanan (gizi,
(high risk group) • Kelahiran dengan nutrisi)
• Keracunan Saat alat bantu: Vacum • Kecelakaan
Hamil • Kehamilan terlalu • Keracunan
• Pengguguran lama: > 40 minggu
• Lahir Prematur
IDENTIFIKASI ABK
• Proses identifikasi untuk menemukan ABK
• Upaya seseorang untuk melakukan proses identifikasi terhadap anak
yang mengalami kelainan/penyimpangan secara :
fisik, intelektual, sosial, emosional, tingkah laku) dalam rangka pemberian
layanan pendidikan yang sesuai.
TUJUAN UMUM IDENTIFIKASI ABK
• Untuk menghimpun informasi apakah seorang anak mengalami
kelainan/penyimpangan (fisik, intelektual, sosial, emosional dan/atau
sensoris neurologis) atau tidak.
• Hasil dari identifikasi akan dilanjutkan dengan asesmen, yang hasilnya
akan dijadikan dasar untuk penyusunan program pembelajaran sesuai
dengan kemampuan dan ketidakmampuannya
05-MAR-21 14
TUJUAN KHUSUS IDENTIFIKASI ABK
1. Idntifiksi
• menggunakan alat identifikasi (termasuk hasil pengamatan dan wawancara)
• Berfungsi untuk menandai anak-anak mana yang menunjukkan gejala-gejala
[Link] sebagai informasi untuk penanganan lebih lanjut. Jika tidak perlu
dirujuk ke ahli maka guru dapat langsung menangani anak dengan memberikan layanan
pembelajaran yang sesuai
2. Rujukan (referal)
• Hasil dari identifikasi menunjukkan bahwa anak memerlukan bantuan (dirujuk) psikolog,
dokter, psikiater, orthopedagog (ahli PLB), dan/atau terapis, ataupun rehab medis, baru
kemudian dilanjutkan oleh guru
• Tugas guru adalah mengidentifikasi namun tidak mendiagnosis
3. Klasifikasi
• Dengan mengacu pada hasil pemeriksaan profesional, guru memilah anak
mana yang memerlukan penanganan lebih lanjut dan oleh siapa (misalnya
pengobatan, terapi, latihan-latihan khusus, dan sebagainya) dan mana yang
langsung dapat mengikuti pelayanan pendidikan khusus di kelas reguler
4. Perencanaan pembelajaran
• Tujuan klasifiksi penyusunan program pembelajaran yang diindividualisasikan
(PPI) berdasarkan hasil dari klasifikasi kebutuhan khusus anak
5. Pemantauan kemajuan belajar
• Jika tidak mengalami kemajuan yang berarti maka perlu dilakukan peninjauan
ulang (hasil diagnosis/PPI/metode)
• Jika anak mengalami kemajuan yang cukup berarti, maka program tersebut
perlu diteruskan sambil terus disempurnakan
Mengapa perlu dikenali?
Mengapa perlu di-Inklusikan?
2. Sekolah Di
Lingkungan
Terdekat
1. Belajar 3.
Bersama Berpartisipasi
HAK
ANAK
Mengapa perlu PAUD inklusif?
PAUD INKLUSIF
adalah suatu lembaga penyelenggara layanan yang
ramah dan terbuka untuk memberi kesempatan bagi
semua anak-anak usia dini tanpa terkecuali termasuk
anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk belajar bersama-
sama di tempat yang terdekat dengan anak.
MENGAPA PAUD
INKLUSIF?
1. Anak-anak memiliki hak yang sama
untuk belajar bersama sehingga
masing-masing akan mendapatkan
keuntungan dari kebersamaan itu.
2. Anak-anak dapat melakukan hal-hal
yang lebih baik secara akademik dan
non akademik (keterampilan sosial
dan emosional jika berada dalam
setting kelas atau sekolah yang
terintegrasi / inkusif).
TUJUAN PAUD INKLUSIF
• Menumbuhkan rasa percaya diri dan membangun otonomi
atau kemandirian anak.
• Mengembangkan keterampilan sosial, Emosional dan
menyiapkan anak untuk hidup dalam kehidupan yang lebih luas
dan kompleks secara heterogen.
• Mengurangi rasa takut, dan mampu membangun
persahabatan, rasa saling menghargai dan memahami.
• Membantu anak mampu beradaptasi, mampu memahami
berbagai hal, termasuk memahami orang lain, dan menjadikan
dirinya berguna bagi masyarakat di sekitarnya
MANFAAT PAUD INKLUSIF
1. BAGI ANAK
Pemahaman dan penerimaan sejak dini dapat meningkatkan rasa percaya
diri anak-anak yang mempunyai kebutuhan khusus.
2. BAGI GURU
Menumbuhkan komitmen terhadap etika dan tanggung jawab pengajaran.
3. BAGI ORANGTUA
Meningkatkan rasa percaya diri mereka karena ternyata anaknya bukanlah
“penyakit” yang perlu disingkirkan tapi bisa bergabung dengan bukan ABK.
Pengembangan sikap empati, penghargaan dan penerimaan pada ABK
beserta keluarganya.
4. BAGI MASYARAKAT
Membuka pemahaman bahwa ABK bukanlah anak yang harus dikucilkan
dan disingkirkan, ABK bisa bergabung dengan anak pada umumnya.
A. Anak dengan Hambatan Perkembangan Fisik
Hambatan Kemampuan Pendengaran
• Tidak kaget saat mendengar suara nyaring.
• Untuk bayi di bawah 4 bulan, tidak menoleh ke
arah sumber suara.
• Tidak bisa menyebutkan satu kata pun saat
berusia satu tahun.
• Menyadari kehadiran seseorang ketika ia
melihatnya, namun acuh saat ia dipanggil
namanya.
• Lambat saat belajar bicara atau tidak jelas ketika
berbicara.
• Menjawab tidak sesuai dengan pertanyaannya.
• Sering berbicara dengan lantang atau menyetel
volume TV keras-keras.
• Memerhatikan orang lain untuk meniru sesuatu
yang diperintahkan, karena ia tidak mendengar
sesuatu yang diinstruksikan.
Bahasa Reseptif
Bahasa Ekspresif
B. Anak dengan Hambatan Perkembangan Intelektual/Kognitif
1 Down Syndrom MASALAH EMOSIONAL
Terdapat kesulitan pada kemampuan
KARAKTERISTIK berpikir, pemahaman dan bersosialisasi.
Efek bisa ringan atau sedang.
• Berat dan panjang saat lahir di bawah rata-rata. Membutuhkan waktu panjang untuk bisa
• Berkurangnya tegangan otot seperti hipotonia. berjalan, bicara, memakai pakai baju atau ke
• Mata miring ke atas dan ke luar. toilet sendiri.
• Telapak tangan hanya memiliki satu lipatan. Ketika sekolah, membutuhkan bantuan
• Hidung kecil dan tulang hidung rata. ekstra untuk menulis dan membaca.
• Antara jari kaki pertama dan kedua terdapat jarak Kadang terdapat masalah perilaku, kurang
yang luas. perhatian atau obsesif pada sesuatu
• Mulut kecil. karena kesulitan dalam mengontrol reaksi
• Tangan lebar dengan jari-jari pendek. tubuh, relasi dengan orang lain, dan
• Bertubuh pendek. mengatur perasaan saat frustasi.
• Leher pendek. Setelah memasuki usia dewasa, perlu belajar
• Kepala kecil dan datar di bagian belakang. untuk memutuskan terkait pada diri sendiri
• Lidah menonjol keluar. atau orang lain. Perlu bantuan dalam
• Bentuk telinga tidak normal atau kecil. menyelesaikan persoalan atau mengelola
• Kelenturan otot berlebih. uang. Beberapa orang dapat memasuki
• Bintik putih pada selaput mata. pendidikan tinggi.
Kakak dengan adik Down Syndrome
[Link]
C. LEARNING DISABILITY (kesulitan belajar)
(1) gangguan di satu atau lebih proses dasar psikologi termasuk,
memahami dan menggunakan bahasa (verbal dan tulisan).
(2) kesulitan dalam menyimak, berfikir, berbicara, membaca,
menulis, mengeja dan kalkulasi matematika
(3) gangguan persepsi, disleksia (gangguan dalam identifikasi huruf),
dan aphasia.
Tipe-Tipe Kesulitan
Belajar
Dyslexia- kesulitan dalam belajar
membaca.
Dysgraphia- kesulitan dalam
belajar menulis.
Dyscalculia- kesulitan dalam
belajar menerapkan/ memahami
konsep matematika dan komputer.
VIDEO REAKSI ORANGTUA DENGAN ANAK DISLEKSIA
HTTPS://[Link]/WATCH?V=KZVPOPHDC_G
D. Gangguan Pemusatan Perhatian (GPPH/ADD)
1. Menghindari, enggan dan mengalami hambatan dalam melaksanakan tugas-
tugas yang membutuhkan ketekunan yang berkesinambungan
2. Sering menghilangkan benda-benda yang diperlukan untuk menyelesaikan
tugas atau kegiatan lain
3. Sering mengalami hambatan mempertahankan dan memusatkan perhatian saat
melaksanakan tugas atau kegiatan bermain (perhatian mudah teralih).
4. Seperti tidak mendengarkan ketika diajak berbicara secara langsung.
5. Mengalami hambatan berkonsentrasi di dalam kelas
6. Sering kesulitan mengatur tugas dan kegiatan
7. Pelupa dengan kegiatan sehari-hari
8. Pada waktu melaksanakan tugas, tampak sering melamun atau ‘bengong’
9. Tidak mampu mengikuti perintah atau gagal menyelesaikan tugas sekolah
(bukan disebabkan tingkah laku/sikap menentang atau kegagalan untuk
memahami petunjuk)
[Link] mencari alasan untuk berhenti sejenak pada waktu melaksanakan tugas
[Link] tugas-tugas secara sembarangan sesuai kemauannya
E. Anak dengan Hambatan Perkembangan Emosional
• Secara tingkah laku biasanya mereka tidak berbeda dengan
anak kebanyakan.
• Secara emosional, biasanya mereka memiliki pengalaman
kecemasan yang bersumber dari perasaan tidak aman dan tidak
nyaman dalam dirinya terhadap lingkungan (rasa ketakutan
yang berlebihan)
• Secara sosial, ada hambatan dalam menjalin hubungan dengan
orang lain, sehingga menimbulkan perasaan takut, tertekan
bahkan depresi.
• Secara kognitif, anak memiliki rentang kemampuan dari rendah
hingga tinggi
[Link] DENGAN PERILAKU HIPERAKTIF (ADHD)
Selalu dalam keadaan ‘siap gerak’ atau aktivitas seperti digerakkan oleh mesin
yang tak pernah berhenti dan tidak terlihat kelelahan
Tidak bisa duduk diam
Mudah terpengaruh
Sulit dikendalikan
Sering berbicara berlebihan
Sering menimbulkan kegaduhan pada waktu melakukan sesuatu atau bermain
Mudah mengalami kecelakaan
Barang-barang dan alat bermain yang dipakai sering rusak
Sering melontarkan jawaban sebelum selesai ditanyakan
Meninggalkan tempat duduk di kelas atau situasi lain dimana anak sebenarnya
diharapkan untuk dapat duduk tenang
Sulit menunggu giliran
Sering memaksakan diri terhadap orang lain
Perilaku agresif, mudah terganggu.
G. ANAK DENGAN SPEKTRUM AUTISMA
• Hambatan dalam komunikasi verbal / Bicara sulit dipahami
• Hambatan dalam interaksi sosial
• Tidak menunjukkan rasa senang ketika diangkat atau dipeluk, merasa
takut, menangis atau marah.
• Tidak menunjukkan perbedaan respon ketika berhadapan dengan
orangtua, saudara kandung atau pendidik dengan orang asing.
• Enggan berinteraksi secara aktif dengan orang lain, tidak berminat
pada orang, melainkan senang menyendiri dengan benda-benda yang
menjadi kesukaanya
• Tidak tersenyum pada situasi sosial, tetapi tersenyum atau tertawa
tanpa kita tahu sebabnya
• Sering tidak memahami ucapan yang ditujukan kepada mereka
Sering tidak memahami ucapan yang ditujukan kepada mereka
Perilaku repetitif (pengulangan), misalnya: tingkah laku motorik ritual
seperti berputar-putar dengan cepat (twirling), memutar-mutar objek,
mengepak-ngepakan tangan (flapping), bergerak maju mundur atau kiri
kanan (rocking).
Asyik sendiri atau preokupasi dengan objek dan memiliki rentang minat
yang terbatas
Sering memaksa orang tua untuk mengulang suatu kata atau potongan
kata.
Mungkin sulit dipisahkan dari suatu benda yang tidak lazim dan menolak
meninggalkan rumah tanpa benda tersebut
Tidak suka dengan perubahan yang ada di lingkungan atau perubahan
rutinitas.
Tidak menunjuk atau memakai gerakan tubuh untuk menyampaikan
keinginannya, melainkan mengambil tangan orang lain untuk mengambil
objek yang dimaksud.
H. Anak
dengan
Kecerdasan
dan
Berbakat
Istimewa
PERATURAN MENTERI KESEHATAN RI NO. 66 TAHUN 2014
PEMANTAUAN PERTUMBUHAN, PERKEMBANGAN, DAN
GANGGUAN TUMBUH KEMBANG ANAK
• Stimulasi, deteksi dini, dan intervensi dini gangguan tumbuh
kembang anak harus diselenggarakan secara komprehensif,
berkualitas, dan berkelanjutan oleh tenaga kesehatan dan
petugas lintas sektor (pasal 6:2)
• tenaga kesehatan harus melakukan rujukan yang sesuai
standar agar Anak Balita dapat hidup optimal sesuai dengan
potensi yang dimilikinya. (Pasal 7: 1&2)
DETEKSI DINI & RUJUKAN DINI
P E N Y I M PA N G A N T U M B U H K E M B A N G A N A K
1. Deteksi Dini
2. Intervensi Dini 3. Rujukan Dini
• Deteksi atau • Intervensi • Tingkat keluarga dan
idntifikasi
penyimpangan/ham Perkembangan masyarakat
batan
• Evaluasi Intervensi • Tingkat Puskesmas &
• Pengelompokan
terhadappenyimpan Perkembangan Jaringannya
gan /hambatan
• Tingkat Rumah Sakit rujukan
Mendiagnosis bukan tugas guru
BAGAIMANA GURU DAN LEMBAGA
BERADAPTASI DENGAN ABK
Yang harus dilakukan oleh pendidik dan lembaga adalah
“BERADAPTASI” dengan anak-anak berkebutuhan
khusus, dengan cara menyesuaikan model
pembelajaran, penataan lingkungan, perencanaan dan
evaluasi yang sesuai untuk mengakoodasi kebutuhan
semua anak, baik anak dengan kebutuhan khusus
maupun anak tanpa kebutuhan khusus
Deteksi dini gangguan pertumbuhan di
semua tingkat pelayanan
Peran guru yang mengajar ABK
• Mengakomodasi kebutuhan anak
• Mengevaluasi Kekuatan dan kelemahan anak
• Memberikan rujukan untuk pemeriksaan lanjutan
• Berpartisipasi dalam menulis PPI
• Berperan aktif dalam forum diskusi atau pertemuan ilmiah tentang ABK
• Berkomunikasi dengan orangtua atau wali
• Berpartisipasi dalam pertemuan orangtua
• Berkolaborasi dengan profesional lain dalam mengidentifikasi dan mengoptimalkan
kemampuan anak
• Guru BK/K, psikolog atau lembaga Identifikasi Potensi AUD psikologis yang ditunjuk
oleh PAUD melaksanakan Identifikasi Potensi AUD tentang aspek psikologis seperti
kecerdasan, bakat, minat, dan aspek psikologis lainnya (autisme, dll.).
• Jika
data yang dibutuhkan menyangkut aspek psikologis dan kesehatan, yang membutuhkan
kompetensi dan kewenangan khusus, maka guru PAUD dapat berkoordinasi dan bekerja
sama dengan guru BK/K, psikolog, orthopedagog, dokter atau lembaga Identifikasi Potensi
AUD psikologis atau medis terkait.
• Jika
terkait dengan kesehatan dan permasalahan fisik-psikomotorik, maka Identifikasi
Potensi AUD dilaksanakan oleh dokter atau lembaga medis terdekat (Puskesmas, Rumah
Sakit, dll).
• Guru BK/K, psikolog, orthopedagog, dokter, lembaga Identifikasi Potensi AUD psikologis
atau medis yang ditunjuk oleh PAUD, mengumpulkan data, mengolah, menganalisis,
menginterpretasikan dan, merekomendasikan dan melaporkan hasil Identi ikasi Potensi
AUD kepada lembaga PAUD
• Guru PAUD menindaklanjuti laporan hasil Identifikasi Potensi AUD yang telah dilakukan
oleh ahli yang digunakan sebagai dasar untuk pengembangan potensi dan mengatasi
permasalahan AUD serta pengembangan program PAUD
10 Tips Memfasilitasi ABK di PAUD
[Link]
GURU PENDAMPING KHUSUS (GPK)
GPK bukan merupakan guru pembantu bagi guru utama dalam kelas tetapi dia
bersinergi dan berjalan berdampingan demi terbentuknya kualitas inklusi. Ada 3
pekerjaan penting yang harus dinaungi GPK yaitu:
1. Bimbingan langsung/ tidak langsung kepada ABK
2. Perumusan PPI dan RPP yang mencakup kebutuhan semua siswa yang
mencakup kepada fleksibilitas kurikulum (adisi, omisi dan subtitusi sesuai
kebutuhan ABK) memberikan masukan dalam hal settingan kelas,
pengembalian fokus siswa, melibatkan siswa disabilitas dalam proses
pembelajaran, penilaian terhadap disabilitas kepada guru utama.
3. Sosialisasi kepada masyarakat sekolah bagaimana sekolah inklusi tersebut
untuk meminimilisir bullying, dan diskriminasi.
Mengenal Profesi Terapis
[Link]
PENGEMBANGAN PROGRAM
PEMBELAJARAN INDIVIDUAL (PPI)
Pengembangan PPI dilakukan oleh tim yang terdiri dari :
• guru
• Keluarga
• kepala sekolah,
• Guru Pendidikan Khusus (GPK) dan atau guru pembimbing
ABK serta guru Bimbingan Konseling/ Konselor (BK/K)
JIKA ADA
TUJUAN PPI
1. Menselaraskan antara kebutuhan peserta didik, tugas dan
perkembangan belajar dalam upaya mengembangkan potensi
peserta didik secara optimal.
2. Mengetahui kekuatan, kelemahan dan minat peserta didik,
sehingga program akan terarah pada kebutuhan dan sesuai dengan
tahap kemampuannya.
3. Meningkatkan efektivitas komunikasi baik dengan tim maupun
dengan orang tua.
PRINSIP
jenis ABK
tema atau materi pertumbuhan &
pembelajaran perkembangan ABK
kebutuhan belajar ABK
01. Pembentukan tim PPI
01
05 02
[Link] 02. Menilai Kebutuhan
Evaluasi Kemajuan
04 03
03. Mengembangkan
04. Merancang Metode & Tujuan Pembelajaran
Prosedur Pembelajaran
KOMPONEN
PEMBELAJARAN INDIVIDUAL (PPI)
1. KEMAMPUAN ABK
2. TUJUAN UMUM YANG AKAN DICAPAI
3. RANCANGAN PEMBELAJARAN
Contoh 1. FORMAT
PEMBELAJARAN INDIVIDUAL (PPI)
1. Komponen Profil Peserta Didik:
a. Biodata peserta didik, mencakup:
Nama :
Tempat/tanggal lahir :
Nama orangtua :
Alamat :
Telepon :
Wali yang bisa dihubungi dalam keadaan darurat:
Contoh 2 Format PPI
Nama : Hambatan anak :
Usia : Pertemuan ke- :
Stimulasi :
Muatan Kegiatan Tempat Alat & Indikator Evaluasi Ket
Pembelajaran Pembelajaran Bahan
BSH BB MB
Rencana Tindak Lanjut
R U J U K A N L AYA N A N P S I K O L O G I S ( F R E E )
juga merujuk kepada hotline
unit pengaduan Kemen PPPA
yaitu:
•0821-2575-1234/ 0811-1922-
911 atau melalui web browser
[Link]
dan surat elektronik (email)
pengaduan@[Link]
Bantuan Psikologi dari HIMPSI untuk Indonesia:
[Link]
TERIMA KASIH