Sesi 1: Pengenalan dan Identifikasi Masalah
- Membangun Aliansi Terapeutik
Konselor membuka sesi dengan teknik ice breaking sederhana:
"Selamat pagi, bagaimana perasaanmu hari ini? Mari kita mulai dengan membicarakan
aktivitas belajarmu minggu lalu. Apa tantangan terbesar yang kamu hadapi?"
Klien mungkin merespons :
“saya selalu merasa tidak mampu mengerjakan tugas matematika. Setiap kali melihat soal,
pikiran saya langsung blank.”
Konselor menggunakan lembar kerja "Apa yang saya pikirkan saat belajar?" untuk
memetakan respons kognitif-emosional:
1. Situasi: Mengerjakan soal matematika
2. Pikiran: "Saya pasti gagal"
3. Perasaan: Cemas, minder
4. Perilaku: Menunda mengerjakan
Konsep hubungan pikiran-perasaan-perilaku diperkenalkan melalui analogi:
"Pikiran negatif seperti alarm palsu yang memicu reaksi emosional berlebihan. Ketika kita
percaya alarm ini, perilaku kita ikut terpengaruh—misalnya menghindari belajar."
Sesi 2: Mengenali Pola Pikiran Otomatis
- Analisis ABC (Activating Event-Belief-Consequence)
A (Peristiwa) B (Keyakinan) C (Konsekuensi)
Ujian fisika besok "Saya pasti dapat nilai D" Gelisah, tidak belajar
Konselor mengeksplorasi distosi kognitif yang muncul :
"Apa bukti konkret bahwa kamu selalu gagal? Mari kita lihat nilai ujian sebelumnya—di sini
ada tiga kali kamu mendapat B."
Contoh dialog :
Klien : “tapi itu hanya keberuntungan!”
Konselor : “apa yang membuatmi berpikir itu keberuntungan, bukan usahamu?”
Sesi 3: Teknik Pertanyaan Sokratik
- Menantang keyakinan maladatif
Konselor menggunakan serangkaian pertanyaan terstruktur untuk menguji validitas pikiran
negatif :
1. Bukti empiris: "Apa data nyata yang mendukung keyakinan ini?"
2. Perspektif alternatif: "Bagaimana temanmu yang punya nilai sama akan menilai
situasi ini?"
3. Konsekuensi fungsional: "Apa dampak dari terus mempercayai pikiran ini terhadap
motivasi belajarmu?"
Alat kartu "Pikiran vs Fakta" digunakan untuk melatih klien membedakan antara persepsi
subjektif dan realitas objektif:
Pikiran Otomatis Fakta Pendukung
"Saya bodoh" Lulus 8 mata pelajaran
Sesi 4: Restrukturisasi Kognitif
- Membangun Afirmasi Rasional
klien diajak membuat pernyataan alternatif yang seimbang:
Pikiran negatif: "Saya tidak akan pernah paham kimia"
Restrukturisasi: "Kimia memang sulit, tapi saya bisa belajar bertahap dengan bertanya ke
guru dan latihan soal."
Teknik behavioral rehearsal diterapkan melalui role-play:
Konselor berperan sebagai "pikiran negatif" sementara klien berlatih merespons dengan
afirmasi rasional.
Sesi 5: Intervensi Perilaku
- Penyusunan Rencana Aksi
Klien membuat jadwal belajar modular dengan prinsip SMART:
Specific: Belajar stoikiometri 30 menit/hari
Measurable: Selesaikan 5 soal latihan per sesi
Achievable: Mulai dengan materi kelas X sebelum naik ke kelas XI
Relevant: Tujuan terkait nilai rapor kimia
Time-bound: Evaluasi mingguan setiap Jumat
System reward dirancang untuk menggunakan preferensi klien :
“Setiap kali berhasil menyelesaikan 5 soal, kamu boleh menonton episode pendek serial
favoritmu."
Sesi 6: Konsolidasi dan Pencegahan Relaps
Simulasi Situasi Berisiko
Konselor menyajikan skenario tantangan untuk menguji ketahanan pola pikir baru:
"Bayangkan kamu mendapat nilai buruk pada kuis mendadak. Apa yang akan kamu pikirkan
dan lakukan sekarang?"
Klien mempraktikkan respons menggunakan lembar kerja relapse prevention:
1. Identifikasi pemicu: Ujian dadakan
2. Pikiran adaptif: "Ini kesempatan belajar, bukan ukuran kecerdasan"
3. Strategi koping: Tarik napas 4-7-8, kerjakan soal termudah dulu
Evaluasi Komprehensif
- Analisis Pre-Post Treatment
Parameter Pra-Treatment (1-5) Pasca-Treatment (1-5)
Keyakinan kemampuan 2.1 3.8
Frekuensi prokrastinasi 4.3 2.4
Konselor menutup proses dengan metafora pertumbuhan:
"Pola pikir seperti tanaman—perlu disirami dengan bukti positif dan dipangkas dari distorsi.
Sekarang kamu memiliki alat untuk menjadi tukang kebun pikiranmu sendiri."