DEFINISI
1. Marton & Säljö (1976): Deep learning adalah pendekatan
belajar di mana siswa berusaha memahami makna materi
pelajaran secara mendalam, mengaitkannya dengan
pengetahuan sebelumnya, dan menggunakannya untuk
menjawab pertanyaan atau menyelesaikan masalah di dunia
nyata.
2. Entwistle & Ramsden (1983): Deep learning melibatkan
usaha sadar untuk mengintegrasikan informasi baru dengan
struktur kognitif yang sudah ada, sehingga terjadi
pemahaman yang bermakna dan berkelanjutan.
3. Biggs & Tang (2011): Deep learning terjadi ketika siswa
secara aktif mengonstruksi makna, menghubungkan ide-ide,
memecahkan masalah nyata, dan merefleksikan proses
belajar mereka sendiri (metakognisi).
4. Paul Ramsden (1992): Deep learning memungkinkan siswa
untuk tidak hanya mengingat informasi, tetapi juga
memahami dan mengaplikasikannya dalam berbagai
konteks. Pembelajaran ini menuntut keterlibatan aktif siswa,
di mana mereka belajar berpikir kritis, memecahkan masalah,
dan membangun keterkaitan antara teori dan praktik.
5. Michael Fullan dkk. (2018): Deep learning adalah kemitraan
global yang bertujuan untuk membangun kompetensi global
melalui pembelajaran mendalam yang menekankan pada
kreativitas, kolaborasi, komunikasi, berpikir kritis, karakter, dan
kewarganegaraan.
DEFINISI
6. Abdul Mu’ti (2024): Deep learning adalah strategi
pembelajaran yang memberikan pengalaman lebih bermakna
dan menyenangkan bagi siswa, dengan menekankan pada tiga
elemen utama: Mindful Learning, Meaningful Learning, dan
Joyful Learning.
7. Wawan Kurniawan (2024): Deep learning bukanlah
kurikulum baru, melainkan pendekatan pembelajaran yang
berfokus pada tiga elemen utama: mindful (kesadaran),
meaningful (bermakna), dan durable (berkelanjutan).
8. Rometdo Muzawi (2024): Deep learning adalah program
pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan
pemahaman siswa dengan berpikir kritis, eksplorasi, dan
partisipasi aktif.
9. Houghton (2004): Deep learning adalah proses aktif dan
reflektif di mana siswa menyelidiki ide-ide, mengajukan
pertanyaan kritis, dan menghubungkan informasi baru dengan
pengalaman mereka sendiri untuk menciptakan pemahaman
yang mendalam.
10. Piramida Akademi (2025): Deep learning dalam dunia
pendidikan adalah pendekatan belajar yang mendorong siswa
untuk memahami materi secara mendalam dengan melibatkan
pemikiran kritis dan reflektif, serta mengaitkan pengetahuan
dengan konteks nyata.
PRINSIP
1. Konstruktivisme
Deep learning berakar pada teori konstruktivis, yaitu siswa
membangun pengetahuan melalui pengalaman dan refleksi pribadi,
bukan sekadar menerima informasi pasif.
2. Keterkaitan Konseptual
Pembelajaran harus memungkinkan siswa menghubungkan informasi
baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki agar lebih bermakna
dan mudah diingat.
3. Refleksi dan Metakognisi
Siswa diajak untuk berpikir tentang proses berpikir mereka sendiri
(metakognisi), merefleksikan cara belajar, dan mengevaluasi
kemajuan mereka.
4. Keterlibatan Aktif
Siswa terlibat secara aktif melalui diskusi, pemecahan masalah,
eksplorasi mandiri, dan kolaborasi, bukan sekadar mendengar dan
mencatat.
5. Relevansi Kontekstual
Materi pembelajaran dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata agar
siswa merasa pembelajaran tersebut relevan dan aplikatif.
6. Motivasi Intrinsik
Deep learning mendorong rasa ingin tahu dan kepuasan pribadi
dalam memahami materi, bukan hanya belajar demi nilai atau ujian.
KARAKTERISTIK
1. Bermakna (Meaningful)
Materi dipahami, bukan hanya dihafal, dan dikaitkan dengan
pengalaman siswa
2. Berorientasi Konsep
Fokus pada pemahaman konsep, bukan hanya fakta terpisah
3. Berpikir Kritis
Mendorong analisis, evaluasi, dan sintesis informasi
4. Reflektif
Siswa merefleksikan proses belajarnya dan mengevaluasi
pemahamannya
5. Berbasis Masalah
Menggunakan problem solving sebagai strategi pembelajaran
6. Fleksibel
Pengetahuan bisa diterapkan dalam berbagai konteks
7. Kolaboratif
Melibatkan interaksi sosial dalam pembelajaran, seperti diskusi dan
kerja kelompok
8. Berbasis Proses
Menekankan proses belajar, bukan hanya hasil akhir
LANGKAH PENERAPAN
Mindful Learning:
1. Aktivasi Pengetahuan Awal (Activating Prior Knowledge)
Peserta didik dihubungkan dengan pengalaman atau Pembelajaran yang sadar, memperhatikan kebutuhan dan latar
pengetahuan sebelumnya agar siap menerima informasi baru. belakang siswa, serta mendorong mereka untuk menyadari
Contoh: tanya jawab, diskusi awal, brainstorming. bagaimana mereka belajar.
2. Eksplorasi Konsep (Exploring Concepts)
Meaningful Learning:
Peserta didik diajak untuk mengeksplorasi dan menemukan
Pembelajaran yang bermakna, di mana siswa mampu
konsep melalui kegiatan investigasi atau eksperimen.
Contoh: studi kasus, pengamatan, kerja kelompok. mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman
3. Pembentukan Makna (Meaning Making) sebelumnya dan melihat relevansinya dengan kehidupan nyata.
Siswa menganalisis, mengevaluasi, dan membuat kesimpulan Joyful Learning:
terhadap informasi yang ditemukan. Proses ini melibatkan
Pembelajaran yang menyenangkan, menciptakan suasana
berpikir kritis dan reflektif.
belajar yang positif dan mendorong siswa untuk terlibat aktif.
Contoh: membuat peta konsep, menjawab pertanyaan analitis.
4. Aplikasi Konsep (Applying the Concepts)
Siswa menerapkan pengetahuan atau konsep yang telah
dipahami dalam konteks nyata atau masalah baru.
Contoh: proyek, simulasi, pemecahan masalah kontekstual.
5. Refleksi dan Evaluasi (Reflection and Evaluation)
Peserta didik merefleksikan proses belajar, menilai hasil, dan
merencanakan perbaikan.
KELEBIHAN &
KEKURANGAN
Kelebihan:
Mendorong pemahaman konsep yang mendalam
Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif
Meningkatkan daya ingat jangka panjang
Memfasilitasi transfer pengetahuan ke dunia nyata
Menumbuhkan motivasi belajar intrinsik
Membangun kemandirian dan kesadaran belajar
Kekurangan:
Memerlukan waktu belajar yang lebih lama
Tuntutan kognitif yang tinggi bagi siswa
Tidak selalu cocok untuk semua materi pelajaran
Memerlukan guru yang kompeten dan terlatih
Evaluasi pembelajaran sulit dilakukan secara objektif
Tidak semua siswa siap dengan pendekatan ini