0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan30 halaman

Asuhan Keperawatan Henti Jantung

Makalah ini membahas asuhan keperawatan untuk pasien dengan cardiac arrest, yang merupakan kondisi darurat medis akibat gangguan sistem kelistrikan jantung. Penyakit kardiovaskular menjadi penyebab utama kematian global, dengan pentingnya penanganan cepat melalui resusitasi jantung paru dan penggunaan defibrilator untuk meningkatkan peluang bertahan hidup. Tujuan makalah ini adalah untuk meningkatkan pemahaman tentang penyebab, tanda, gejala, dan prosedur perawatan darurat terkait henti jantung.

Diunggah oleh

RIYAD RAHMATILLAH
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan30 halaman

Asuhan Keperawatan Henti Jantung

Makalah ini membahas asuhan keperawatan untuk pasien dengan cardiac arrest, yang merupakan kondisi darurat medis akibat gangguan sistem kelistrikan jantung. Penyakit kardiovaskular menjadi penyebab utama kematian global, dengan pentingnya penanganan cepat melalui resusitasi jantung paru dan penggunaan defibrilator untuk meningkatkan peluang bertahan hidup. Tujuan makalah ini adalah untuk meningkatkan pemahaman tentang penyebab, tanda, gejala, dan prosedur perawatan darurat terkait henti jantung.

Diunggah oleh

RIYAD RAHMATILLAH
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN CARDIAC ARREST

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat

MAKALAH

Ayu Prameswari Astuti, [Link].


Imam Tri Sutrisno, [Link]., Ners., [Link].

Disusun Oleh:
Kelompok 4 – Kelas 6C

Aulia Rizky Ramadhani 2201361 Nadia Fadila Surya 2200034


Azwaj Naila Hasna 2201191 Nur Aisah 2200063
Hanisyah Dian Farhah 2200056 Risma Hidayah 2208994
Ila Asyifa Purnama 2206165 Riyad Rahmatillah 2209134
Intan Lisnawati 2205922 Trias Syafira 2201712

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KAMPUS DAERAH SUMEDANG
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2024
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa dan atas rahmat serta Hidayah-Nya, penulis
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN CARDIAC
ARREST” dengan tepat waktu. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata
Kuliah Keperawatan Gawat Darurat.
Kami sampaikan terima kasih kepada Ibu Ayu Prameswari Astuti, [Link]. dan Bapak
Imam Tri Sutrisno, [Link]., Ners., [Link]. Selaku Dosen Pengampu yang telah membimbing
dan mengarahkan kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Terima kasih kami
sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian makalah ini
baik dalam pencarian dan pengumpulan data, serta saran dan dukungan.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan banyak
kekurangan dikarenakan keterbatasan pengetahuan serta pengalaman kami. Oleh karena itu,
saran dan kritik yang membangun diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Sumedang, Februari 2025

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.....................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................................1
1.3 Tujuan...................................................................................................................................1
1.4 Manfaat.................................................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................................3
2.1 Persoalan Pencetus Project...................................................................................................3
2.2 Solusi Permasalahan.............................................................................................................4
2.3 Sasaran dan Target...............................................................................................................5
BAB III PROTOTYPE..............................................................................................................6
3.1 Definisi Website...................................................................................................................6
3.2 Tampilan Website Perawat...................................................................................................6
BAB IV RANCANGAN ANGGARAN BIAYA....................................................................20
BAB V PENUTUP...................................................................................................................21
5.1 Kesimpulan.........................................................................................................................21
5.2 Rekomendasi......................................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................22

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyebab utama kematian di dunia adalah penyakit kardiovaskular, WHO pada ta


hun 2019 melaporkan bahwa sekitar 17,9 juta penduduk mengalami kasus kematian per t
ahunnya dan mencakup 32% dari seluruh kematian global di dunia yang diakibatkan oleh
penyakit kardiovaskular (Organisasi Kesehatan Dunia, 2021; Purwadi, & Fatriadi, 2023).
Heart disease atau sering juga dikenal dengan penyakit jantung merupakan salah satu ko
ndisi kesehatan yang memiliki potensi besar yang memicu terjadinya henti jantung. Keja
dian henti jantung ini terjadi baik di dalam lingkungan rumah sakit yang dikenal sebagai
(in-hospital cardiac arrest/IHCA) maupun di luar rumah sakit (out-of-hospital cardiac a
rrest/OHCA) (Tsao et al., 2023).

Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018, prevale
nsi penyakit jantung di Indonesia mencapai 1,5% dari total 371,0 ribu penduduk di berba
gai kelompok usia. Angka kejadian tertinggi tercatat di Provinsi Kalimantan Utara, deng
an prevalensi sebesar 2,2%. Penyakit jantung cenderung lebih sering terjadi pada peremp
uan dibandingkan laki-laki, dengan prevalensi sebesar 1,6% pada perempuan dan 1,3% p
ada laki-laki. Selain itu, risiko penyakit jantung meningkat seiring bertambahnya usia, de
ngan kelompok usia di atas 75 tahun memiliki angka kejadian tertinggi, yakni mencapai
4,7% (Suratinah, 2022).

Cardiac arrest atau biasa dikenal dengan henti jantung merupakan kondisi medis
darurat di mana sistem kelistrikan jantung mengalami gangguan serius, sehingga mengak
ibatkan irama jantung yang tidak normal atau bahkan terhenti sepenuhnya. Akibatnya, ali
ran darah ke seluruh tubuh, termasuk organ vital seperti otak dan jantung itu sendiri terhe
nti secara mendadak. Keadaan ini dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa tanda dan gejala ya
ng jelas, sehingga sulit diprediksi kapan seseorang akan mengalaminya. Karena sifatnya
yang mendadak dan mengancam nyawa, penanganan segera melalui tindakan resusitasi j
antung paru (RJP) dan penggunaan defibrilator sangat penting untuk meningkatkan pelua
ng bertahan hidup (Suratinah, 2022).

Keterlambatan pemberian resusitasi yang dilakukan lebih dari 10 menit pada Car
diac arrest memiliki resiko tingkat kematian yang tinggi. Menurut survei dari World He
alth Organization (WHO) (2011) penyakit kardiovaskuler menjadi pembunuh manusia p
ertama di negara maju dan berkembang dengan menyumbang 60% dari seluruh kematian.
Amerika Serikat memiliki angka kejadian Cardiac arrest mencapai 250.000 jiwa per tah
unnya dan 95% diperkirakan meninggal sebelum sampai di rumah sakit. Kejadian terseb
ut diperkuat oleh data dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia bahwa penyakit k
ardiovaskuler adalah penyebab 39% dari seluruh kematian dunia (Astutik, 2017).

Henti jantung yang tidak segera ditangani dengan cepat dan tepat dapat menyeba
bkan keadaan darurat medis yang berisiko fatal. Namun, jika diberikan pertolongan deng
an cepat, peluang untuk bertahan hidup dapat meningkat secara signifikan. Kondisi ini m
enjadi salah satu permasalahan kesehatan yang serius di masyarakat dan merupakan sala
h satu penyebab utama kematian di dunia. Sebagian besar kasus henti jantung terjadi pad
a orang dewasa, sehingga kesadaran akan pentingnya pencegahan dan penanganan darur
at menjadi hal yang sangat krusial (Suratinah, 2022).

1
Kejadian ini menunjukkan bahwa penyakit jantung masih menjadi ancaman serius bag
i kesehatan global. Bahkan, diperkirakan hingga tahun 2030, angka kematian akibat penyakit
ini akan terus mengalami peningkatan sehingga upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengelol
aan faktor risiko menjadi semakin penting untuk menekan dampak negatifnya terhadap masy
arakat (Suratinah, 2022).

1.2 Rumusan Masalah


“Bagaimana proses asuhan keperawatan dalam menangani pasien dengan cardiac
arrest?”

1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum
Membantu meningkatkan kesadaran dan kemampuan untuk menangani kondisi
cardiac arrest dan untuk memahami kedalaman henti jantung, termasuk penyebab,
tanda dan gejala, perawatan darurat, dan strategi pencegahannya.

2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan pemahaman dan konsep dasar henti jantung.
b. Menganalisis penyebab dan risiko yang dapat menyebabkan henti jantung.
c. Mengidentifikasi tanda dan gejala henti jantung sehingga dapat mengambil langkah
secara langsung.
d. Periksa prosedur perawatan darurat seperti CPR (Resusitasi Jantung Paru) dan
penggunaan AED (Automated External Defibrilator).
e. Mengevaluasi metode manajemen pencegahan dan henti jantung untuk
meningkatkan prognosis pasien.

1.4 Manfaat
1. Menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dasar henti jantung.
2. Memahami penyebab dan risiko yang dapat menyebabkan henti jantung.
3. Memahami tanda dan gejala henti jantung untuk mengambil langkah secara langsung.
4. Memahami prosedur CPR (Resusitasi Jantung Paru) dan penggunaan AED
(Automated External Defibrilator).
5. Memahami penggunaan metode manajemen pencegahan dan henti jantung untuk
meningkatkan prognosis pasien.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
Cardiac arrest adalah suatu kondisi ketidaksanggupan curah jantung untuk
memenuhi kebutuhan oksigen ke otak dan organ vital lainnya secara mendadak dan
dapat kembali normal jika dilakukan tindakan yang tepat atau akan mengakibatkan
kematian dan kerusakan yang menetap jika tindakan tidak adekuat (Ismiroja et al.,
2018).
Henti jantung (cardiac arrest) adalah keadaan di mana sirkulasi darah berhenti
akibat kegagalan jantung untuk berkontraksi secara efektif. Keadaan henti jantung
ditandai dengan tidak adanya nadi dan tanda-tanda sirkulasi lainnya (American Heart
Association, 2015). Kejadian cardiac arrest yang menyebabkan kematian mendadak
terjadi ketika sistem kelistrikan jantung menjadi tidak berfungsi dengan baik dan
menghasilkan irama jantung yang tidak normal yaitu hantaran listrik jantung menjadi
cepat (ventricular tachycardia) atau tidak beraturan (ventricular fibrillation).

2.2 Etiologi
1. Henti jantung (cardiac arrest) disebabkan oleh kurangnya suplai O2 ke otak
sehingga sel – sel otak mengalami kematian dan hilang kesadaran (Budi et al.,
2022). Sedangkan kausa dari henti jantung yang disebabkan oleh
gangguan kardiovaskular yaitu: iskemia, PJK, aritmia, kardiomiopati, dan obstruksi
akut.

2. Cardiac arrest terjadi karena gangguan aktivitas kelistrikan jantung yang


berakibat kada kejadian henti jantung secara mendadak disebabkan sistem
kerja jantung yang tidak dapat memompa darah keseluruh tubuh. Sedangkan
penyebab dari gangguan sirkulasi seperti: tension pneumothorax, hypovolemia,
emboli pulmonum, dan reflex vagal (Pande & Subagiartha, 2018).

2.3 Manifestasi Klinis


Cardiac arrest adalah kondisi henti jantung mendadak yang menyebabkan
hilangnya fungsi jantung secara tiba-tiba, sehingga darah tidak dapat dipompa ke seluruh
tubuh, termasuk otak dan organ vital lainnya. Kondisi ini merupakan keadaan darurat
medis yang memerlukan penanganan segera untuk mencegah kematian. Menurut
Neumar, R. W., et al. (2015) dan Perkins, G. D., et al. (2018), manifestasi klinis cardiac
arrest berkembang dengan cepat dan terdiri dari beberapa tanda utama yang dapat
dikenali, sebagai berikut:

1. Kehilangan Kesadaran Mendadak


Salah satu tanda utama cardiac arrest adalah pasien tiba-tiba kehilangan kesad
aran. Hal ini terjadi akibat penghentian aliran darah ke otak, sehingga tidak mendapat
kan suplai oksigen yang cukup. Dalam beberapa detik setelah henti jantung, pasien ak
an menjadi tidak responsif terhadap rangsangan eksternal, seperti suara atau sentuhan.
Jika tidak segera ditangani, kerusakan otak yang irreversibel dapat terjadi dalam wakt
u 4–6 menit akibat hipoksia serebral.
sakit.
2. Henti Napas atau Napas Agonal

3
Pasien yang mengalami cardiac arrest umumnya tidak bernapas atau mengala
mi pernapasan agonal. Napas agonal adalah upaya napas yang tidak teratur, lemah, da
n tidak efektif untuk memberikan oksigen yang cukup ke tubuh. Napas ini sering terli
hat sebagai gerakan napas gasping, yang menyerupai tarikan napas dalam yang lambat
dan tidak teratur. Meskipun napas agonal mungkin terlihat seperti pasien masih berna
pas, ini bukan pernapasan yang efektif dan memerlukan intervensi segera, seperti bant
uan napas atau ventilasi mekanik.
3. Tidak Ada Denyut Nadi
Pada cardiac arrest, jantung berhenti memompa darah, sehingga denyut nadi t
idak dapat dirasakan. Pemeriksaan denyut nadi pada arteri besar, seperti arteri karotis
(di leher) atau femoralis (di paha), akan menunjukkan ketiadaan pulsasi. Ini merupaka
n tanda utama bahwa jantung telah berhenti bekerja, dan tindakan resusitasi jantung p
aru (RJP) harus segera dilakukan untuk memulihkan aliran darah.
4. Kulit Pucat atau Sianosis
Kurangnya suplai darah dan oksigen ke jaringan tubuh menyebabkan perubaha
n warna kulit. Pasien yang mengalami cardiac arrest sering kali tampak pucat, dan dal
am beberapa kasus, mengalami sianosis, yaitu perubahan warna kulit menjadi kebirua
n, terutama di sekitar bibir, jari tangan, dan jari kaki. Sianosis terjadi karena akumulas
i darah deoksigenasi di kapiler, menandakan bahwa tubuh tidak menerima oksigen ya
ng cukup.
5. Pupil Dilatasi dan Tidak Responsif terhadap Cahaya
Akibat gangguan aliran darah ke otak, refleks pupil terhadap cahaya akan men
urun atau hilang sepenuhnya. Pupil menjadi melebar (dilatasi) dan tidak berkontraksi
saat terkena cahaya. Ini merupakan indikasi bahwa otak tidak lagi menerima suplai da
rah yang cukup untuk mempertahankan fungsi neurologisnya.
6. Kejang atau Aktivitas Motorik Tidak Terkontrol
Dalam beberapa kasus, pasien yang mengalami cardiac arrest dapat menunjuk
kan kejang atau gerakan tidak terkendali. Kejang terjadi sebagai akibat dari hipoksia s
erebral, yaitu kurangnya oksigen di otak. Kejang yang terjadi pada cardiac arrest seri
ng kali berlangsung singkat dan tidak memiliki pola yang khas seperti kejang pada epi
lepsi.
7. Penurunan Tekanan darah secara Dinamis
Tekanan darah turun drastis hingga tidak terdeteksi karena jantung tidak lagi
memompa darah ke pembuluh darah. Ini menyebabkan kondisi tubuh menjadi
hipotensi berat, yang dapat menyebabkan kerusakan organ lebih lanjut jika tidak
segera ditangani

2.4 Patofisiologi
Menurut (American Heart Assosiation 2020; Sukamto et all. 2023). Cardiac
arrest dikategorikan berdasarkan jenis irama jantung yang menyebabkannya. Kondisi ini
dapat dipicu oleh empat jenis irama yaitu ventrikel fibrilasi (VF), ventrikel takikardi
(VT), pulseless electrical activity (PEA), dan asystole.
Ventrikel fibrilasi (VF) dan ventrikel takikardi (VT) diklasifikasikan menjadi
dua jenis berdasarkan kondisi klinisnya, yaitu VF primer dan sekunder. VF primer terjadi
tanpa adanya disfungsi ventrikel kiri akut atau syok kardiogenik, dan umumnya
ditemukan pada pasien sekitar 5% yang mengalami infark miokard akut (IMA).
Sementara itu, VF sekunder muncul karena komplikasi akibat gagal jantung akut, syok
kardiogenik atau kombinasi keduanya.
1. Ventrikel Fibrilasi

4
Ventrikel fibrilasi merupakan jenis aritmia yang paling berbahaya, di mana jan
tung tidak lagi berdetak secara normal, melainkan hanya bergetar tanpa mampu memo
mpa darah dengan efektif. Kondisi ini dapat memicu henti jantung atau cardiac arrest.
Jika impuls listrik jantung menjadi terlalu cepat dan tidak teratur, fungsi kontraktil jan
tung akan terganggu, menyebabkan ventrikel bergetar tanpa kendali. Akibatnya, ritme
detak jantung berubah secara drastis dan jumlah darah yang disuplai ke seluruh tubuh
berkurang secara signifikan.
2. Ventrikel Takikardi
Ventrikel takikardi terjadi ketika ventrikel mengalami ekstrasistol yang timbul
sebanyak empat kali atau lebih secara berturut-turut. Aritmia ini tergolong berbahaya
(lethal) karena dapat dengan mudah berkembang menjadi ventrikel fibrilasi, yang beri
siko menyebabkan henti jantung atau cardiac arrest. Kondisi ini disebabkan oleh gan
gguan pada sistem konduksi jantung, yang dapat dipicu oleh kurangnya pasokan oksig
en akibat masalah pada pembuluh darah koroner, kardiomiopati, sarkoidosis, gagal ja
ntung, serta keracunan digitalis.
3. PEA (Pulseless Electrical Activity)
Aktivitas listrik jantung gagal menghasilkan kontraksi yang cukup, sehingga
menyebabkan tekanan darah menjadi tidak stabil dan denyut nadi tidak dapat dirasaka
n. Beberapa faktor yang dapat memicu pulseless electrical activity (PEA) meliputi hip
oksia, asidosis, hipovolemia berat, serta infark miokard.
4. Asystole
Patofisiologi Asistol: Pasien dengan asistol biasanya mengalami serangan
jantung berkepanjangan yang awalnya ditandai dengan salah satu jenis aritmia seperti
ventrikel fibrilasi (VF), ventrikel takikardi (VT), pulseless electrical activity (PEA)
dan pada akhirnya memburuk menjadi penghentian.

2.5 Pathway

2.6 Pemeriksaan Penunjang

5
Menurut Sukamto (2023), pemeriksaan penunjang atau diagnostik yang dapat
dilakukan pada pasien cardiac arrest, antara lain sebagai berikut:
1. Elektrokardiogram (EKG)
Tes elektrokardiogram (EKG) meliputi pengukuran waktu dan durasi dari
setiap fase listrik jantung dan dapat menggambarkan gangguan pada irama jantung.
Karena cidera otot jantung tidak melakukan impuls listrik normal, EKG bisa
menunjukkan bahwa serangan jantung telah terjadi. ECG dapat mendeteksi pola
listrik abnormal, seperti interval QT berkepanjangan, yang meningkatkan resiko
kematian mendadak.
2. Tes Darah
a. Pemeriksaan Enzim Jantung
Enzim-enzim jantung tertentu akan masuk ke dalam darah jika jantung terkena
serangan jantung. Karena serangan jantung dapat memicu sudden cardiac arrest.
Penguji sampel darah untuk mengetahui enzim- enzim ini sangat penting apakah
benar-benar terjadi serangan jantung atau tidak.
b. Elektrolit Jantung
Melalui sampel darah, kita juga dapat mengetahui elektrolit-elektrolit yang ada
pada jantung, di antaranya kalium, kalsium, magnesium. Elektrolit adalah mineral
dalam darah kita dan cairan tubuh yang membantu menghasilkan impuls listrik.
Ketidak seimbangan pada elektrolit dapat memicu terjadinya aritmia dan suddiac
arrest.
c. Tes Obat
Pemeriksaan darah untuk bukti obat yang memiliki potensi untuk menginduksi
aritmia, termasuk resep tertentu dan obat-obat tersebut obat-obat terlarang.
d. Tes Hormon
Pengujian untuk hipertiroidisme dapat menunjukan kondisi ini sebagai pemicu
cardiac arrest.
3. Imaging Test
a. Pemeriksaan Foto Thorax
Foto thorax menggambarkan bentuk dan ukuran dada serta pembuluh darah.
Hal ini juga dapat menunjukkan apakah seseorang terkena gagal jantung.
b. Pemeriksaan Nuklir
Dilakukan bersamaan dengan tes stres, membantu mengidentifikasi masalah
aliran darah ke jantung. Radioaktif dalam jumlah yang kecil, seperti thallium
disuntikkan dalam aliran darah. Dengan kamera khusus dapat mendekati bahan
radioaktif mengalir melalui jantung dan paru- paru.
c. Ekokardiogram
Tes ini menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambaran
jantung. Echocardiogram dapat membantu mengidentifikasi apakah daerah
jantung telah rusak oleh cardiac arrest dan tidak memompa secara normal atau
pada kapasitas puncak (fraksi ejeksi), atau apakah ada kelainan katup
4. Electrical System (Electrophysiological)
Tes ini biasanya dilakukan setelah seseorang sudah sembuh dan jika
penjelasan yang mendasari serangan jantung belum ditemukan. Tes ini dapat
membantu menemukan tempat aritmia dimulai. Selama tes, kemudian kateter
dihubungkan dengan elektroda yang menjulur melalui pembuluh darah ke berbagai
tempat di area jantung. Setelah di tempat, alih jantung dapat menggunakan elektroda
untuk merangsang jantung pasien untuk mengalahkan penyebab yang mungkin
memicu atau menghentikan aritmia. Hal ini memungkinkan untuk mengamati lokasi
aritmia.

6
5. Ejection Fraction Testing
Salah satu prediksi yang paling penting dari risiko sudden cardiac arrest
adalah seberapa baik jantung mampu memompa darah. Ini dapat menentukan
kapasitas pompa jantung dengan mengukur apa yang dinamakan fraksi ejeksi. Hal ini
pada persentase darah yang dipompakan keluar dari ventrikel setiap detak jantung.
Sebuah fraksi ejeksi normal adalah 55 sampai 70%. Fraksi ejeksi kurang dari 40%
meningkatkan resiko sudden cardiac arrest. Ini dapat mengukur fraksi dalam beberapa
cara, seperti dengan ekokardiogram, Magnetic Resonance Imaging (MRI) dari
jantung. Pengobatan nuklir scan dari jantung atau computerized tomography (CT)
scan jantung.
6. Coronary Catheterization (Angiogram)
Pengujian ini dilakukan untuk menunjukkan jika arteri koroner terjadi
penyempitan atau penyumbatan. Seiring dengan fraksi ejeksi, jumlah pembuluh darah
yang tersumbat merupakan prediktor penting sudden cardiac arrest. Selama prosedur,
pewarna cairan disuntikkan ke dalam arteri hati, melalui tabung panjang dan tipis
(kateter) yang melalui arteri, biasanya melalui kaki, untuk arteri di dalam jantung.
Sebagai pewarna mengisi arteri, arteri menjadi terlihat pada x-ray dan rekam video,
menunjukkan darah penyumbatan. Selain itu, sementara kateter diposisikan.
Pengobatan penyumbatan dengan melakukan angioplasti dan memasukkan stent untuk
menahan arteri terbuka.

2.7 Penatalaksanaan
Menurut Astuti (2017), penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada pasien
cardiac arrest, antara lain sebagai berikut:
1. Cardiopulmonary Resuscitation
Pasien yang memiliki kriteria henti nafas, tidak teraba nadi dan gangguan
irama jantung seperti asystole dan pulseless electric activity yaitu dilakukan tindakan
cardiopulmonary resuscitation. Tanda dan gejala tersebut merupakan tanda
kegawatdaruratan dimana pasien cardiac arrest membutuhkan pertolongan segera
untuk dapat menggantikan fungsi jantung sementara dalam memompa dan mensuplai
untuk memenuhi kebutuhan oksigen.
2. Pemberian Defibrilasi
Defibrilasi dilakukan untuk memicu kontraktilitas jantung dan menghentikan
irama jantung yang abnormal. Pemberian defibrilasi memiliki karakteristik tertentu
yaitu pada irama jantung ventrikel fibrilasi dan ventrikel takikardi. Defibrilasi tidak
diberikan pada irama PEA karena pada kondisi tersebut irama jantung harus dipicu
terlebih dahulu dengan memberikan tindakan CPR. Setelah kontraktilitas jantung
muncul dan irama berkembang menjadi VT/VF maka defibrilasi harus segera
diberikan untuk memicu kontraktilitas jantung. Tindakan defibrilasi merupakan
tindakan yang penting untuk menunjang kelangsungan hidup cardiac arrest, sehingga
pemberian defibrilasi harus lebih dipertimbangkan.
3. Advanced Cardiovascular Life Support
Advanced Cardiovascular Life Support terdiri dari manajemen airway dengan
penggunaan alat penunjang jalan nafas, pemberian terapi farmakologis dan
pemeriksaan diagnostik. Indikasi penggunaan alat penunjang jalan nafas ini yaitu
pada pasien yang mengalami penurunan kesadaran dan dengan reflex gag negatif.
Manfaat penggunaan alat penunjang jalan nafas tersebut adalah membuka jalan nafas
dan mempertahankan jalan nafas paten sehingga perfusi jaringan dapat berjalan
dengan baik.
4. Pemberian Terapi Farmakologis

7
Terapi farmakologis yang dapat digunakan meliputi epinephrine, atropine,
amiodarone, bicarbonate, lidocaine, dan dextrose. Terapi farmakologis merupakan
salah satu cara dari serangkaian tindakan yang dapat meningkatkan tercapainya
keberhasilan resusitasi pada cardiac arrest atau yang biasa disebut return of
spontaneous circulation. Keberhasilan return of spontaneous circulation
membutuhkan serangkaian tindakan manajemen airway, breathing dan circulation
yang didukung oleh pemberian cardiopulmonary resuscitation, defibrillation,
pemberian penanganan lanjut jalan nafas serta pemberian terapi farmakologis
(obat-obatan).
2.8 Komplikasi
1. Kerusakan Neurologis
Salah satu dampak utama dari cardiac arrest adalah gangguan pada sistem saraf
akibat hipoksia serebral. Ketika suplai darah ke otak terhenti, terjadi penurunan
oksigenasi yang dapat menyebabkan cedera otak anoksik. Pasien yang mengalami
keterlambatan resusitasi memiliki risiko tinggi untuk mengalami defisit neurologis,
mulai dari gangguan kognitif ringan hingga koma yang berkepanjangan (persistent
vegetative state). Penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan pemulihan
neurologis sangat bergantung pada kecepatan dan efektivitas resusitasi jantung paru
(RJP) yang diberikan segera setelah henti jantung terjadi (Safira et al., 2024).
Selain itu, pada beberapa kasus, pasien yang selamat dari cardiac arrest dapat
mengalami sindrom pasca henti jantung (post-cardiac arrest syndrome) yang
mencakup ensefalopati iskemik, edema otak, dan bahkan kejang berulang. Kondisi ini
dapat mempengaruhi fungsi motorik, sensorik, serta kemampuan berbicara dan
berpikir secara logis. Oleh karena itu, strategi pemulihan seperti terapi hipotermia
atau manajemen oksigenasi yang optimal sangat diperlukan untuk mencegah
kerusakan lebih lanjut pada sistem saraf pusat.
2. Gangguan Kardiovaskular
Setelah mengalami cardiac arrest, pasien berisiko tinggi mengalami berbagai
komplikasi kardiovaskular, terutama yang berkaitan dengan disritmia dan disfungsi
miokard. Salah satu komplikasi yang paling umum adalah fibrilasi ventrikel, yang
merupakan aritmia fatal akibat kontraksi jantung yang tidak terkoordinasi. Selain itu,
disfungsi ventrikel kiri juga sering terjadi akibat hipoperfusi miokard selama periode
henti jantung, yang dapat berujung pada gagal jantung akut.
Sindrom koroner akut merupakan salah satu penyebab utama cardiac arrest dan
dapat memicu komplikasi seperti syok kardiogenik, yang menyebabkan penurunan
drastis perfusi organ vital (Elfi, 2015). Pasien yang mengalami cardiac arrest akibat
penyakit jantung iskemik sering kali membutuhkan intervensi reperfusi seperti
angioplasti atau pemasangan stent koroner untuk mencegah risiko henti jantung
berulang (Toha et al. 2021).
Selain itu, perikarditis dan miokarditis iskemik juga dapat terjadi akibat inflamasi
yang dipicu oleh cidera iskemik selama periode cardiac arrest. Kondisi ini dapat
memperburuk fungsi jantung dan meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang.
Oleh karena itu, evaluasi kardiovaskular yang ketat dan pengelolaan dini
menggunakan obat-obatan inotropik atau prosedur invasif sangat penting dalam
rehabilitasi pasien pasca henti jantung.
3. Gangguan Respirasi

4. Rabdomiolis dan Disfungsi Ginjal


5. Gangguan Metabolik dan Asidosis Laktat
6. Disfungsi Gastrointestinal dan Iskemia Usus

8
2.9 Penatalaksanaan Keperawatan

9
BAB III
PROTOTYPE

3.1 Definisi Website


MedQue adalah suatu website yang memanfaatkan perkembangan teknologi
dengan menggabungkan alat wireless calling system dalam proses pengelolaan
kebutuhan pasien rawat inap. Website ini hanya dapat diakses dan dikelola oleh
perawat dan bagian farmasi saja, sedangkan pasien atau keluarga hanya mendapatkan
konfirmasi terkait pemesanan kebutuhan dari perawat dan informasi pengambilan dari
alat tersebut (RingQue).

3.2 Tampilan Website Perawat


1. Tampilan Utama
Tampilan utama merupakan halaman paling awal yang akan terlihat oleh
pengguna pada saat membuka laman website.

2. Tampilan About Section


Halaman selanjutnya, terdapat tampilan about section yang akan membantu
pengguna untuk mengetahui tentang website yang akan digunakan.

3. Tampilan Features
Halaman selanjutnya, terdapat tampilan features yang akan membantu
pengguna dalam memahami fitur-fitur pada website ini.

10
4. Tampilan Manfaat Aplikasi
Halaman selanjutnya, terdapat tampilan benefits yang akan membantu
pengguna dalam memahami keberadaan manfaat website ini.

5. Tampilan Our Team


Halaman selanjutnya, terdapat tampilan our team yang menampilkan anggota
kelompok dalam perancangan website ini.

11
6. Tampilan Sign In dan Login
Pada halaman selanjutnya, terdapat tampilan yang akan membantu pengguna
untuk dapat masuk ke dalam aplikasi dengan memasukkan identitas berupa e-mail
dan password.

7. Tampilan Setelah Sign In dan Login ke Akun Perawat


1) Tampilan Utama Akun Perawat
Setelah perawat berhasil login, akan ditampilkan halaman beranda atau
menu utama yang berisi:
1) Riwayat Obat Sebelumnya: Informasi mengenai daftar obat yang pernah
diberikan kepada pasien.
2) Tracking Obat Pasien: Fitur untuk melacak status dan penggunaan obat
pasien secara real-time.
Halaman ini dirancang untuk memudahkan perawat dalam mengelola data obat
dan memantau kebutuhan pasien.

2) Tampilan Fitur “Data Pasien”


Ketika perawat mengeklik fitur “Data Pasien”, website akan
menampilkan informasi berupa:
1) Jumlah pasien yang sedang menjalani rawat inap.
2) Riwayat pasien yang telah pulang.
3) Rekam medis pasien yang sedang menjalani perawatan di ruang rawat inap.

12
Dengan fitur ini, perawat dapat mengakses data pasien secara lengkap dan

terstruktur.

3) Tampilan Fitur “Resep Obat”


Ketika perawat mengeklik fitur ini, mereka dapat:
1) Mengunggah Resep Obat: Memasukkan resep obat yang dibutuhkan oleh
pasien;
2) Melacak Status Obat Pasien: Memantau status ketersediaan dan pengiriman
obat secara real-time. Fitur ini dirancang untuk memastikan pengelolaan
obat pasien berjalan efisien dan tepat waktu.

4) Tampilan Fitur “Kategori”


Pada saat perawat mengklik fitur ini, maka perawat dapat mengetahui
obat apa
saja yang

13
tersedia di apotek.

5) Tampilan Fitur “Medicines”


Ketika perawat mengeklik fitur ini, mereka dapat:
1) Daftar Obat yang Tersedia: Perawat dapat melihat informasi lengkap
mengenai obat-obatan yang tersedia di apotek.
2) Memastikan Ketersediaan Obat: Membantu perawat memilih obat sesuai
kebutuhan pasien berdasarkan stok yang ada. Fitur ini memudahkan
perawat dalam mengakses informasi ketersediaan obat secara cepat dan
akurat.

6)

Tampilan Fitur “Data Ruangan”


Ketika perawat mengeklik fitur ini, mereka dapat:
1) Menambahkan Pasien Baru: Memasukkan (input) data pasien yang akan
menjalani perawatan.
2) Melihat Stok Ruangan: Mengakses informasi mengenai ruangan yang
tersedia dan ruangan yang telah digunakan. Fitur ini membantu perawat
dalam mengelola data pasien serta memastikan penggunaan

ruangan secara optimal.

14
7) Tampilan Utama Akun Farmasi
Setelah farmasi berhasil login, akan ditampilkan halaman beranda atau
menu utama yang berisi:
1) Riwayat Obat Sebelumnya: Informasi mengenai daftar obat yang pernah
diberikan kepada pasien
2) Tracking Obat Pasien: Fitur untuk melacak status dan penggunaan obat
pasien secara real-time.
Halaman ini dirancang untuk memudahkan perawat dalam mengelola data obat
dan memantau kebutuhan pasien.

8) Tampilan Fitur “Data Pasien”


Ketika farmasi mengeklik fitur “Data Pasien”, website akan
menampilkan informasi berupa:
1) Jumlah pasien yang sedang menjalani perawatan inap.
2) Riwayat pasien yang telah pulang; 3)Rekam medis pasien yang sedang
menjalani perawatan inap.
Dengan fitur ini, farmasi dapat mengakses data pasien secara lengkap dan
terstruktur.

15
9) Tampilan Fitur “Resep Obat”
Pada fitur ini memungkinkan pihak farmasi untuk memantau kebutuhan
obat pasien rawat inap yang telah ditambahkan (input) oleh perawat. Selain itu,
farmasi juga dapat mengubah status obat secara real-time sehingga dapat
berkoordinasi dengan perawat.

10) Tampilan Fitur “Kategori Obat”


Ketika farmasi mengakses fitur ini, farmasi dapat mengetahui kategori
obat yang masih tersedia. Selain itu, jika persediaan obat tertentu telah habis,
farmasi dapat menambahkan kategori obat baru untuk memastikan kebutuhan
pasien tetap terpenuhi.

11) Tampilan Fitur “Medicine”


Pada fitur medicine ini memungkinkan farmasi untuk memantau secara
real-time jumlah stok obat yang tersedia, habis, atau menipis. Selain itu,

16
farmasi juga dapat menambahkan stok obat yang telah habis/menipis untuk
memastikan ketersediaan tetap terjaga.

12) Tampilan Utama di Akun Admin


Pada tampilan utama di akun admin terdapat tulisan “Dashboard”
sebagai penanda bahwa halaman ini merupakan tampilan utama untuk
monitoring dan aktivitas administrasi secara terpusat. Untuk tampilannya sama
halnya seperti ketika login sebagai perawat ataupun farmasi, akan ada tampilan
menu riwayat serta tracking obat. Pada saat menggunakan akun admin, akses
dan kendali akan terpusat penuh dalam pemantauan kinerja dari pihak perawat
dan pihak farmasi.

13) Tampilan Fitur “Roles”


Tampilan "Roles" pada akun admin memuat 3 roles yang diberi
kewenangan dapat mengubah dan menghapus peran yang ada.

17
14) Tampilan Fitur “Roles di Super Admin”
Tampilan fitur pada “Roles Perawat”, ketika menjadi super admin, kita d
apat memperbarui serta mengaktifkan/menonaktifkan semua Izin untuk peran y
ang dipilih (perawat dan farmasi) baik dalam kategori, medicine, pasien, resep,
ruangan role dan user yang dapat disesuaikan.

18
15) Tampilan Fitur “Roles di Perawat”
Pada tampilan fitur “Roles” di perawat super admin dapat mengaktifkan
/menonaktifkan izin untuk bagian yang hanya perawat saja bisa akses nanti keti
ka login.

19
16) Tampilan Fitur “Roles di Farmasi”
Sama halnya dengan fitur "Roles Farmasi" ketika menjadi super admin
dapat mengaktifkan/menonaktifkan izin untuk bagian yang hanya farmasi saja
yang bisa akses nanti ketika login.

20
17) Tampilan Fitur “Data User”
Pada halaman ini terdapat tiga pilihan roles yang dapat dikelola oleh
admin dalam memberikan berbagai akses oleh setiap roles.

18) Tampilan Fitur “Data Ruangan”


Tampilan Fitur “Data Ruangan”, pada halaman ini ketika perawat
mengklik fitur, mereka dapat:
1. Melihat total ruangan dan nama ruangan yang ada pada Rumah Sakit;
2. Melihat ketersediaan ruangan berdasarkan nama ruangan, nomer kasur, dan
status ketersediaannya di Rumah Sakit; dan
3. Melihat ketersediaan ruangan yang digunakan berdasarkan nama ruangan,
nomer kasur, dan status ketersediaanya di Rumah Sakit
Pada halaman ini perawat dapat merubah status ketersediaan ruangan
yang ada berdasarkan nama ruangan dan nomer kasur

21
19) Tampilan Fitur “Data Pasien”
Ketika perawat mengklik fitur ini, mereka dapat melihat:
1) Melihat status total pasien rawat inap berdasarkan setiap ruanggan yang ada
di rumah sakit.
2) Melihat status data pasien yang di rawat inap berdasarkan jenis kelamin
yaitu: laki-laki dan perempuan.
3) Melihat status total data pasien rawat inap yang lengkap yaitu berdasarkan:
nomer rekam media pasien, nama pasien, usia pasien, jenis kelamin pasien,
nomer kasur pasien, dan status rawat inap pasien apakah telah selesai.

20) Tampilan Fitur “Resep Obat”


Halaman ini berfungsi membantu perawat dalam menyiapkan resep
obat pasien rawat inap. Ketika perawat mengklik fitur ini, mereka dapat
melihat:
1) Melihat berapa jumlah antrian obat yang ada di farmasi apakah dalam
status prioritas, menunggu, diproses, siap, dan selesai.
2) Membuat order resep obat pasien rawat inap dengan informasi nama
pasien, status pasien, dan tanggal dibuat.
3) Melihat satus antri resep obat yang ada di farmasi yaitu berdasarkan nomer
antrian, nama pasien, status obat, jenis layanan, dan tanggal dibuat untuk
menghindari kekeliruan dalam pemberian resep obat.

22
21) Tampilan Fitur “Kategori”
Ketika perawat mengklik fitur ini, mereka dapat melihat:
1) Melihat kategori obat yang diorder dan gambarnya.
2) Dapat mengganti list kategori obat yang akan dipesan.

22) Tampilan Fitur “Medicine”


Pada halaman ini memudahkan perawat dan farmasi dalam list
ketersediaan barang/obat yang ada. Ketika perawat mengklik fitur ini, mereka
dapat:
1) Melihat total barang/obat yang tersedia di farmasi.
2) Melihat barang/obat apa yang tidak tersedia di farmasi.
3) Melihat jumlah stok yang tersedia pada setiap barangnya.
4) Melihat jumlah stok apa yang tidak tersedia.

23
BAB IV
RANCANGAN ANGGARAN BIAYA

4.1 Anggaran Biaya


No. Jenis Anggaran Biaya
1. Bahan habis pakai Rp440.000
2. Publikasi Rp600.000
3. Konsultasi Aplikasi Rp1.500.000
4. Lain-lain Rp2.200.000
Jumlah Rp4.740.000

24
4.2 Justifikasi Anggaran Biaya
No. Jenis Material Unit Harga Jumlah Subtotal
Anggaran Satuan
1. Bahan HVS 1 rim Rp40.000 Rp40.000 Rp440.000
habis pakai Tinta Printer 1 pcs Rp100.000 Rp100.000
Kuota 3 bln Rp100.000 Rp300.000
2. Publikasi Hosting 2 kali Rp300.000 Rp600.000 Rp600.000
3. Konsultasi Programmer 3 kali Rp500.000 Rp1.500.000 Rp1.500.000
Aplikasi
4. Lain-lain Sosialisasi 3 kali Rp500.000 Rp1.500.000 Rp2.200.000
website
Uji coba 3 kali Rp100.000 Rp300.000
website
Hak cipta 1 kali Rp400.000 Rp400.000
Jumlah Rp4.740.000

BAB V
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Penerapan teknologi dalam bentuk website MedQue untuk manajemen antrean ob
at memiliki potensi besar dalam meningkatkan efisiensi layanan kesehatan, khususnya di
rumah sakit. Sistem ini dirancang untuk memudahkan koordinasi antara perawat dan far
masi, meminimalkan waktu tunggu pasien, serta meningkatkan akurasi dan kecepatan dis
tribusi obat. Keunggulan utama meliputi kemudahan penggunaan, fitur notifikasi real-ti
me, dan pengelolaan data berbasis digital yang mendukung efisiensi operasional serta pe
ningkatan kepuasan pasien,

25
Namun, terdapat beberapa tantangan, seperti kebutuhan pelatihan pengguna, keter
batasan akses teknologi di daerah tertentu, dan perlunya pengamanan data pasien yang k
etat. Penyelesaian kendala ini memerlukan pendekatan strategis, termasuk perencanaan t
eknis dan pelatihan staf yang komprehensif.

4.2 Rekomendasi
Dengan adanya website MedQue ini diharapkan dapat memudahkan perawat dan
pihak farmasi di rumah sakit meliputi:
1. Pelatihan dan sosialisasi intensif bagi tenaga kesehatan terutama perawat dan farmasi
untuk memastikan pemahaman dan penggunaan yang optimal;
2. Peningkatan keamanan data dalam memastikan sistem memiliki fitur enkripsi dan
autentikasi ganda untuk melindungi data pasien sesuai dengan regulasi perlindungan
data yang berlaku;
3. Perluasan aksesibilitas dalam mengembangkan website yang user-friendly untuk
tenaga kesehatan yang kurang familiar dengan teknologi;
4. Melakukan pengujian dan evaluasi sistem secara rutin untuk menjaga performa
optimal serta menangani potensi masalah teknis lebih awal; dan
5. Melibatkan konsultan teknologi dan regulator kesehatan untuk memastikan sistem
sesuai dengan standar terbaik di bidang kesehatan khusunya dalam pelayanan di rumah
sakit.

DAFTAR PUSTAKA

Gaol, C. N. L., Gultom, P., Nababan, E. S. M., & Syahputra, M. R. (2023). Penerapan Simula
si Dalam Menganalisis Sistem Antrean pada Pelayanan Kefarmasian Rawat Jalan
Rumah Sakit Advent Medan. Lentera: Multidisciplinary Studies, 2(1), 20-31.
Hakim, C. B., Arifiya, P. T. N., Nugroho, N. M., & Iman, N. (2024). Usulan Model Sistem
Antrian pada Instalasi Farmasi BPJS Rumah Sakit ABC di Kudus. Jurnal
Teknologi dan Manajemen Industri, 5(1), 1-9.
Khanifudin, A. K. A., Setiawan, R. A., & Zuhrufillah, I. (2023, June). AVIBOT: Asisten Virt
ual Pengelolaan Persediaan Obat pada Apotek Mitra Sehat Purwokerto. In Prosidi
ng Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (Vol. 1, No.
1, pp. 163-167).

26
Malahayati, M., & Syamsuar, D. (2022). Investigasi Hambatan dan Tantangan Penerapan Sist
em Informasi Manajemen di Rumah Sakit. Jurnal Teknologi Informasi Dan Ilmu
Komputer, 9(5), 901-910.
Putra, J. A., Hermawan, N. A., Salsabilla, H., Wolio, N. A., Ramadhan, S. H., Erlangga, E.,
& Kusnendar, J. (2024). Rancang Bangun Aplikasi Berbasis Mobile Untuk Pendaf
taran Pasien Klinik dan Penjualan Obat Dengan Model Waterfall. Jurnal Sistem In
formasi dan Sistem Komputer, 9(2), 152-163.
Suyanto, S., Taufiq, H., & Indiati, I. (2015). Faktor penghambat implementasi sistem informa
si manajemen rumah sakit di RSUD blambangan banyuwangi. Jurnal Kedokteran
Brawijaya, 28(2), 141-147.

27

Anda mungkin juga menyukai