0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan45 halaman

Perawatan Kaki pada Pasien DM Tipe 2

Proposal penelitian ini membahas prevalensi diabetes mellitus tipe 2 dan komplikasi yang diakibatkannya, khususnya ulkus kaki diabetik, yang dapat menyebabkan amputasi dan menurunkan kualitas hidup. Penelitian bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara pengetahuan pasien tentang ulkus kaki diabetik dan perilaku perawatan kaki mereka, dengan harapan dapat meningkatkan edukasi dan pencegahan komplikasi. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi institusi kesehatan dan penelitian selanjutnya.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan45 halaman

Perawatan Kaki pada Pasien DM Tipe 2

Proposal penelitian ini membahas prevalensi diabetes mellitus tipe 2 dan komplikasi yang diakibatkannya, khususnya ulkus kaki diabetik, yang dapat menyebabkan amputasi dan menurunkan kualitas hidup. Penelitian bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara pengetahuan pasien tentang ulkus kaki diabetik dan perilaku perawatan kaki mereka, dengan harapan dapat meningkatkan edukasi dan pencegahan komplikasi. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi institusi kesehatan dan penelitian selanjutnya.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

GAMBARAN PERAWATAN KAKI PADA PASIEN DM TIPE II

PROPOSAL PENELITIAN

OLEH:

MOHAMMAD RIZKI FERDIANSYAH


NIM: [Link]

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS HANG TUAH PEKANBARU
2024
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Dalam 3 dekade terakhir prevalensi diabetes tipe 2 telah meningkat secara dramatis di
negara-negara dari semua tingkat [Link] penderita diabetes meningkat dari
108 juta pada tahun 1980 menjadi 422 juta pada tahun 2014. Prevalensi meningkat lebih
cepat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah dibandingkan di negara-
negara berpenghasilan tinggi. Pada tahun 2019, diabetes merupakan penyebab langsung
dari 1,5 juta kematian dan 48% dari semua kematian akibat diabetes terjadi sebelum
usia 70 tahun. Sebanyak 460.000 kematian akibat penyakit ginjal lainnya disebabkan
oleh diabetes, dan peningkatan glukosa darah menyebabkan sekitar 20% kematian
akibat [Link] paling umum adalah diabetes tipe 2, biasanya pada orang
dewasa, yang terjadi ketika tubuh menjadi resistan terhadap insulin atau tidak
menghasilkan cukup insulin(WHO, 2023).

International Diabetes Federation (IDF) tahun 2019, mencatat 463 juta orang pada usia
20-79 tahun di dunia menderita DM di tahun 2019 atau setara dengan angka prevalensi
9,3% dari total penduduk pada usia yang sama. Sementara lebih dari 6,7 juta orang
diperkirakan meninggal akibat penyakit tersebut. Prevalensi DM diperkirakan
meningkat seiring bertambahnya usia penduduk menjadi 19,9% atau 111,2 juta pada
usia 65-79 tahun (IDF, 2019). Studi lain menyoroti bahwa Indonesia termasuk di antara
sepuluh negara teratas dengan prevalensi diabetes yang tinggi, memperkirakan sekitar
10,7 juta kasus pada tahun 2019, diproyeksikan meningkat menjadi 13,7 juta pada tahun
2030 dan 16,6 juta pada tahun 2045 (Soelistijo et al., 2022).

Menurut IDF, Indonesia menduduki peringkat kelima negara dengan jumlah diabetes
terbanyak dengan 19,5 juta penderita di tahun 2021 dan diprediksi akan menjadi 28,6
juta pada 2045(IDF, 2021).Menurut Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
(Litbangkes) Kementerian Kesehatan RI (2019), hampir semua provinsi di Indonesia
mengalami peningkatan prevalensi diabetes mellitus pada periode 2013-2018. Data dari
Kementerian Kesehatan (2007) menunjukkan bahwa prevalensi diabetes mellitus tipe 2
secara nasional mencapai 5,7%, dan pada tahun 2013 meningkat menjadi 6,9%.
Prevalensi diabetes mellitus tipe 2 mengalami kenaikan dari 1,1% pada tahun 2007
menjadi 2,1% pada tahun 2013. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (2007),
prevalensi diabetes mellitus tipe 2 di Provinsi Riau menempati peringkat ketiga tertinggi
di Indonesia. Prevalensi tertinggi terdapat di Kalimantan Barat dan Maluku Utara,
masing-masing sebesar 11,1%, diikuti oleh Riau dengan prevalensi sekitar 10,4%
(Verawati, 2018) dalam (Zakaria et al., 2021).Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota
Pekanbaru Tahun 2022 diperoleh bahwa diabetes melitus di provisi Riau pada tahun
2022 mencapai 11.241 jiwa. Kota Pekanbaru di provinsi Riau menempati posisi pertama
dengan penderita diabetes melitus tertinggi dengan jumlah kasus 4.678 jiwa
penderita(Esat & Kusumawati, 2024).

Penatalaksanaan DM yang tidak tepat terutama dalam perawatan diri akan


menyebabkan berbagai macam komplikasi, salah satunya adalah luka kaki atau disebut
ulkus diabetik (Yusnayanti, Nofitasari, & Noviati, 2022) dalam (Putu et al., 2024).
Setiap tahun, lebih dari satu juta orang kehilangan salah satu kakinya akibat dari
komplikasi Diabetes Mellitus(Oktorina et al., 2019). Ulkus kaki diabetik merupakan
komplikasi dari DM, dapat menyebabkan amputasi pada ekstremitas bawah, sehingga
dapat memperburuk kualitas hidup dan menyebabkan kematian (Xiang et al., 2019;
Everett, Mathioudakis, & Hopkins, 2019; Macioch dkkal., 2017) dalam (Rosyid et al.,
2020).Beberapa cara mencegah terjadinya ulkus diabetikum, beberapa hal yang dapat
dilakukan keluarga dan pasien secara mandiri, pemeriksaan kondisi kaki setiap hari
pada penderita Diabetes Melitus perlu dilakukan sehari sekali berfungsi untuk melihat
adanya kelainan seperti kemerahan, lecet, kulit pecah-pecah, bengkak dan nyeri
(Trisnawati et al., 2023). Perawatan kaki diabetik diperlukan bagi penderita. DM untuk
mencegah adanya luka ulkus(Nusdin, 2022). Pencegahan komplikasi diabetes melitus
dan penatalaksanaan ini merupakan salah satu perilaku kesehatan(Yuly Abdi Zainuridha
& Abdul Aziz Azhari, 2020).

Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku adalah pengetahuan (Yuly Abdi
Zainuridha & Abdul Aziz Azhari, 2020), bila ditinjau dari segi perilaku kesehatan,
maka pengetahuan merupakan faktor penguat untuk terbentuknya perilaku seseorang,
karena perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu faktor penguat, pemungkin dan faktor
pendukung (Notoatmodjo, 2012) dalam (Oktorina et al., 2019), sehingga untuk
membentuk perilaku yang baik dalam pencegahan ulkus diabetikum maka orang dengan
diabetes mellitus harus memiliki pengetahuan yang baik tentang diabetes mellitus dan
ulkus diabetikum.

Berdasarkan penelitian yang telah diteliti oleh (Virgiani et al., 2024) dengan judulnya
Knowledge Relating To The Diabetic Ulcer Prevenvention Efforts In Diabetes Mellitus
di dapatkan gambaran rata-rata pengetahuan responden tentang ulkus kaki diabetik
adalah [Link] responden dalam kategori baik bisa disebabkan karena rata-
rata usia responden adalah lansia [Link] seseorang sangat erat kaitannya
dengan perilaku yang akan diambilnya, karena dengan pengetahuan tersebut klien
memiliki alasan dan landasan untuk menentukan suatu pilihan khususnya pada klien
kaki diabetik (Shearman, 2015) dalam (Widagdo & Susmadi, 2022). Berdasarkan
penelitian yang telah diteliti oleh (Dharmawati, 2019) dengan judulnya Gambaran
Perilaku Perawatan Kaki Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di RS Tingkat III
Baladhika Husada Jember didapatkan gambaran perilaku perawatan kaki kurang baik
pada responden diabetes tipe 2,hal ini dikarenakan rata-rata responden belum pernah
mendapatkan edukasi\penyuluhan terkait perawatan kaki.

Dari penelitian yang telah diteliti oleh (Fetia, 2024) yang berjudul Gambaran
Pengetahuan dan Perilaku Perawatan Kaki Pada Pasien DM Tipe 2 di RSUD Cut
Meutia Kabupaten Aceh Utara didapatkan Sebagian besar responden berpengetahuan
cukup baik(46,2%) sedangkan pada perilaku perawatan kaki mayoritas responden
memiliki perilaku yang kurang baik (75,95%).Banyak responden yang belum rutin
memeriksa kondisi kaki mereka dan tidak melakukan penanganan cedera dengan benar.
Memeriksa kondisi kaki secara berkala sangat penting karena dapat membantu
mengidentifikasi tanda-tanda awal seperti luka, lecet, atau masalah kulit lainnya.
Dengan mendeteksi masalah kaki lebih awal, penderita diabetes melitus dapat
mengambil langkah-langkah untuk mencegah infeksi dan komplikasi yang lebih serius

Berdasarkan data diatas peneliti tertarik untuk mengangkat judul”Hubungan


Pengetahuan Ulkus Kaki Diabetik Terhadap Perilaku Perawatan Kaki Diabetik”.
I.2 Rumusan Masalah
Ulkus kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi kronis yang sering terjadi pada
pasien diabetes mellitus, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan
amputasi. Meskipun pengetahuan yang memadai tentang pencegahan dan perawatan
ulkus kaki dianggap penting dalam mengurangi risiko komplikasi tersebut, masih
banyak pasien yang memiliki perilaku perawatan kaki yang kurang [Link]
menimbulkan pertanyaan apakah terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan
pasien mengenai ulkus kaki diabetik dan perilaku mereka dalam merawat kaki.

I.3 Tujuan Penelitian


I.3.1 Tujuan Umum
Diketahuinya apakah ada hubungan antara pengetahuan ulkus kaki diabetik terhadap
perilaku perawatan kaki diabetik.

I.3.2 Tujuan Khusus


1. Mengetahui karakteristik responden(usia,jenis kelamin,Pendidikan terakhir,
lama bekerja)
2. Mengetahui gambaran perilaku perawatan kaki pada pasien diabetes mellitus di
RSUD Arifin Achmad.
3. Mengetahui gambaran pengetahuan tentang ulkus kaki diabetik.
4. Mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan ulkus kaki diabetik

I.4 Manfaat Penelitian


1. Bagi Tempat Penelitian
Peneliti berharap dengan adanya penelitian ini RSUD dapat meningkatkan
edukasi tentang ulkus kaki
2. Bagi Ilmu Keperawatan dan bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan sumber dan referensi
3. Bagi Peniliti Selanjutnya
Diharapkan hasil penelitian ini, dapat dijadikan referensi bagi peneliti
selanjutnya dan diharapkan peneliti selanjutnya terbantu dalam referensi.
BAB II
II.1 Telaah Pustaka
II.1.1 Konsep Diabetes Melitus
II.1.1.1 Definisi Diabetes Melitus
Diabetes merupakan penyakit kronis yang terjadi Ketika insulin yang dihasilkan oleh
pankreas tidak mencukupi atau Ketika insulin yang dihasilkan oleh pankreas tidak
digunakan secara baik oleh tubuh(Tiara, 2019). Diabetes melitus (DM) merupakan suatu
kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena
kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya(Perkeni, 2021)

Diabetes melitus, yang lebih sederhana disebut diabetes, adalah suatu kondisi serius
jangka panjang (atau 'kronis') yang terjadi ketika ada peningkatan kadar glukosa dalam
darah seseorang karena tubuh mereka tidak dapat memproduksi hormon insulin dalam
jumlah yang cukup, atau menggunakan insulin yang dihasilkannya secara efektif(IDF,
2019)

II.1.1.2 Tipe Diabetes Melitus


Gula dalam darah bisa naik dengan berbagai cara , seseorang sering berpikir bahwa
semua penyakit diabetes sama saja dan hanya menggunakan satu jenis obat saja untuk
semua penyakit [Link] hal ini kita perlu mengetahu tipe dan jenis penyakit
[Link] (IDF, 2017) dalam(Silviani & Sibarani, 2023) terdapat 3 jenis
diabetes yaitu:

1. Diabetes Melitus (DM) Tipe 1:


Diabetes tipe 1 ini disebabkan karena sel beta yang dihasilkan di pakreas
diserang oleh system kekebalan tubuh karena reaksi auto imun, yaitu penyakit
yang disebabkan oleh gangguan system imun(Tandra, 2017).Saat pankreas tidak
bisa menhgasilkan insulin yang membuat insulin di tubuh berkurang, gula akan
menumpuk di peredaran darah karena tidak dapat dibawa kedalam [Link]
ini disebut juga dengan diabetes tipe 1(Tandra, 2020)
2. Diabetes Melitus (DM) Tipe 2:
Diabetes yang paling sering terjadi adalah diabetes tipe 2, 90% kasus diabetes
adlah diabetes tipe [Link] merupakan keadaan saat DM pada tubuh
tidak tekendali, saat terjadi hiperglikemia kadar gula darah sangat tinggi
mencapai lebih dari 300 mg/dl(Kemenkes RI, 2022).Pada DM Tipe 2
hiperglikemia disebabkan oleh produksi insulin yang tidak adekuat dan tubuh
tidak mampu untuk merespon insulin secara keseluruhan, hal ini disebut sebagai
resistensi [Link] keadaan resistensi insulin, insulin tidak berfungsi secara
normal akibatnya tubuh meningkatkan produksi insulin untuk mengurangi kadar
gula darah yang terus meningkat, suatu keadaan produksi insulin yang relative
tidak memadai dapat berkembang.
3. Diabetes Melitus (DM) Gestasional:
Diabetes Melitus Gestasional adalah jenis diabetes yang terdapat pada ibu yang
sedang mengalami kehamilan, biasanya pada trimester kedua dan ketiga namun
bisa terjadi kapan saja pada saat [Link] gestasional muncul karena
insulin yang berkurang karena pengaruh hormone yang dihasilkan plasenta.

Dan ada 1 tambahan tipe DM dari (Anugerah, 2020) yaitu drug induced
diabetes mellitus, banyak obat dapat mempengaruhi cara tubuh mengeluarkan
insulin. Meskipun obat-obat ini tidak secara langsung menyebabkan diabetes,
mereka dapat membuat kondisi tersebut lebih buruk bagi orang yang sudah
memiliki resistensi insulin. Dalam situasi seperti ini, klasifikasi menjadi rumit
karena belum jelas mana yang lebih berpengaruh antara disfungsi sel β dan
resistensi insulin. Beberapa racun, seperti Vacor (racun tikus) dan pentamidin
intravena, dapat secara permanen merusak sel β pankreas, meskipun reaksi
semacam ini jarang terjadi. Selain itu, terdapat berbagai obat dan hormon yang
dapat memengaruhi fungsi insulin, termasuk asam nikotinat dan glukokortikoid.
Pasien yang menerima a-interferon juga dilaporkan mengalami diabetes yang
terkait dengan antibodi sel islet dan dalam beberapa kasus, kekurangan insulin
yang signifikan.

II.1.1.3 Patofisiologi Diabetes Melitus


Ada dua patofisiologi yang sering menyebabkan kasus DM menurut(Dilassamola, 2024)
yaitu:

1. Resistensi Insulin
Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap
sinyal insulin, yang berperan penting dalam mengatur kadar gula darah. Kondisi
ini umumnya dialami oleh orang yang mengalami obesitas atau kelebihan berat
badan. Ketika sel-sel tubuh, terutama pada otot, lemak, dan hati, tidak
merespons insulin dengan baik, pankreas akan memproduksi lebih banyak
insulin sebagai bentuk kompensasi. Namun, jika sel beta di pankreas tidak
mampu menghasilkan cukup insulin untuk mengatasi resistensi ini, kadar gula
darah akan meningkat, yang akhirnya menyebabkan hiperglikemia kronis.
Situasi ini tidak hanya memperburuk resistensi insulin tetapi juga merusak sel
beta lebih lanjut, sehingga memperparah perkembangan diabetes tipe 2.

Pada tingkat klinis, resistensi insulin berarti tubuh membutuhkan lebih banyak
insulin daripada normal untuk menjaga kadar gula darah yang stabil. Secara
molekuler, resistensi ini melibatkan gangguan pada beberapa jalur pensinyalan
insulin, termasuk perubahan pada protein kinase B, mutasi pada Insulin Receptor
Substrate (IRS), serta peningkatan fosforilasi serin. Faktor-faktor ini dapat
mengganggu fungsi insulin di tingkat sel, termasuk di prareseptor, reseptor, dan
pascareseptor. Diabetes tipe 2, yang lebih umum dibandingkan dengan tipe 1,
disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan. Ciri utamanya adalah resistensi
insulin dan gangguan fungsi sel beta, tanpa adanya bukti autoimun seperti pada
diabetes tipe 1. Meskipun resistensi insulin terjadi pada sebagian besar orang
yang obesitas, diabetes hanya berkembang jika tubuh tidak mampu
memproduksi cukup insulin untuk mengatasi resistensi tersebut.

Pada individu dengan resistensi insulin, terdapat peningkatan kadar metabolit


lemak dan asam lemak di dalam sel serta disfungsi mitokondria di otot rangka.
Gangguan pada jalur pensinyalan insulin, termasuk penurunan kadar IRS-1, juga
menyebabkan penurunan transportasi glukosa dan gangguan fungsi endotel.
ementara itu, pada diabetes tipe 1, sel beta pankreas dihancurkan oleh sistem
autoimun, sehingga tubuh tidak lagi bisa memproduksi insulin. Akibatnya,
terjadi hiperglikemia puasa karena hati memproduksi glukosa tanpa kontrol. Jika
kadar gula darah sangat tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua
glukosa yang disaring, yang akhirnya menyebabkan ekskresi glukosa dalam
urine, yang dikenal sebagai diuresis osmotik. Hal ini dapat menyebabkan gejala
seperti sering buang air kecil (poliuria) dan rasa haus yang berlebihan
(polidipsia)(Dilassamola, 2024).
2. Kerusakan Sel Beta Pulau Langerhans Pankreas
Kerusakan sel beta di pulau Langerhans pankreas pada diabetes tipe 1
disebabkan oleh pembentukan autoantibodi yang menyerang sel-sel ini.
Mekanisme pasti dari reaksi autoimun ini belum sepenuhnya dipahami, tetapi
faktor genetik dan lingkungan diduga berperan. Autoantibodi ini
menghancurkan sel beta secara perlahan selama bertahun-tahun, dan gejala
klinis diabetes baru muncul setelah sekitar 80% sel beta telah rusak. Normalnya,
insulin yang diproduksi pankreas berfungsi untuk membantu glukosa masuk ke
dalam sel dan digunakan sebagai energi. Namun, pada penderita diabetes,
terutama ketika insulin tidak tersedia, glukosa menumpuk dalam darah karena
tidak bisa diolah menjadi energi.

Disfungsi sel beta pada diabetes tipe 2 ditandai dengan penurunan kemampuan
sel ini untuk menghasilkan insulin yang cukup, baik secara kualitatif (perubahan
pola sekresi insulin) maupun kuantitatif (penurunan jumlah sel beta). Kondisi ini
dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti peradangan, obesitas, resistensi
insulin, serta asupan lemak berlebih. Seiring waktu, sel beta semakin rusak dan
fungsinya menurun, yang menyebabkan kematian sel dan berkurangnya
produksi insulin, yang pada akhirnya memperparah kondisi diabetes. Pada awal
diabetes tipe 2, sel beta masih mampu menghasilkan insulin dalam jumlah yang
cukup untuk mengimbangi resistensi insulin. Namun, seiring waktu, kemampuan
ini menurun hingga hanya sekitar 50%, dan pada tahap lanjut, jaringan sel beta
digantikan oleh amiloid, yang menyebabkan produksi insulin menurun drastis
hingga menyerupai kondisi diabetes tipe 1, di mana tubuh mengalami
kekurangan insulin secara signifikan(Dilassamola, 2024).
Menurut (Ozougwu et al dalam Lestari et al., 2021) Terdapat 2 jenis diabetes melitus
yaitu . Diabetes tipe 1 disebabkan oleh reaksi autoimun terhadap protein pulau pankreas.
Diabetes tipe 2 disebabkan oleh resistensi insulin, gangguan sekresi insulin, dan faktor
lingkungan seperti obesitas, makan berlebihan, kurang makan, olahraga, stres, dan
penuaan.

II.1.1.4 Faktor Risiko Diabetes Melitus


Hal-hal inilah yang biasanya membuat terjadinya DM tipe 2, namun tanda-tanda inu
belum tentu jadi penyakit tetapi jika dibiarkan dan semakin banyak ditemukan tanda ini
pada tubuh anda, maka akan semakin tinggi peluang terkena DM tipe [Link] dua jenis
faktor risiko untuk penyakit DM tipe 2 yaitu yang tidak dapat diubah dan yang bisa
[Link] (Kemenkes RI, 2019) terdapat dua jenis faktor risiko diabetes yaitu
faktor yang bisa diubah dan yang tidak bisa [Link] yang tidak bisa dirubah
yaitu usia lebih dari 40 tahun,memiliki riwayat DM dalam keluarganya, hamil yang
memiliki gula darah tinggi, Ibu yang sebelumnya melahirkan bayi dengan berat badan
lebih dari 4 kilogram, bayi dengan berat badan lahir (BBL) di bawah 2,5 kilogram dan
faktor risiko yang bisa di ubah yaitu kegemukan berat badan lebih dari 23 kg/m2 (IMT)
dan lingkar perut yang lebih besar (pria lebih dari 90 cm dan wanita lebih dari 80 cm) ,
tidak terlalu banyak berolahraga, Hipertensi/darah tinggi (lebih dari 140/90 mmHg),
Dislipidemia (kolesterol HDL laki-laki tidak lebih dari 35 mg/dL dan kolesterol HDL
perempuan tidak lebih dari 45 mg/dL, dan trigliserida tidak lebih dari 250 mg/dL),
sebelumnya memiliki penyakit jantung, diet yang tidak seimbang mengandung banyak
gula, garam, lemak, dan serat, perokok aktif dan pasif.

Menurut (Marasabessy et al., 2020) juga terdapat 2 faktor risiko yang tidak dapat diubah
dan yang dapat diubah yaitu :

1. Faktor yang tidak dapat diubah


a) Umur:45 tahun lebih atau lebih atau orang yang berusia tidak lebih dari
45 tahun disertai engan kegemukkan dan perilaku [Link]
yang dialkukan (Gunawan & Rahmawati, 2021) menemukan adanya
hubungan antara usia dan kejadian diabetes melitus tipe 2, individu yang
berusia >45 tahun memiliki risiko 18,143 kali lebih tinggi mengalami
diabetes melitus dibandingkan dengan individu yang berumur <45 tahun.
b) Keluarga:Orang tua, saudara perempuan atau saudara laki-laki dengan
diabetes. Faktor genetik dalam riwayat keluarga dapat meningkatkan
kemungkinan terjadinya diabetes mellitus. Dalam kasus di mana ada
anggota keluarga yang telah didiagnosis dengan kondisi ini, individu
tersebut lebih beresiko mengalami kondisi ini, seperti yang ditunjukkan
oleh penentu genetik yang dikaitkan dengan tipe histokompatibilitas
HLA tertentu(Utomo et al., 2020)
c) Etnisitas: grup ras atau etnis [Link]:Afrika-Amerika, Alaska
asli, Amerika asli, Asia-Amerika, Hispanik atau Latino dan Kepulauan-
Amerika Pasifik.
2. Faktor yang bisa diubah
a) Prediabetes (jumlah gula darah yang tinggi tapi belum dikatergorikan
diabetes)
b) Penyakit jantung dan pembuluh darah
c) Tekanan darah tinggi kurang lebih 140/90 mmhg bahkan jika sudah
diberi perawatan dan pengobatan
d) Kolestrol HDL yaitu kolestrol baik yang rendah kurang dari 35 mg/Dl
e) Trigliserida darah yang tinggi lebih dari 250 mg/DL
f) Orang yang memiliki berat badan yang berlebihan atau orang yang
menderita obesitas
g) Mempunyai bayi yang berat badannya lebih dari 4 Kg
h) Pernah memiliki riwayat diabetes sewaktu hamil
i) Memiliki sindrom ovarium polikistik
j) Memiliki acanthosis nigricans yaitu keadaan kuli yang ruam gelap di
leher atau ketiak
k) Orang yang sedang depresi
II.1.1.5 Etiologi Diabetes Melitus
Diabetes melitus tipe 1 merupakan penyakit autoimun dimana sistem kekebalan tubuh
menghancurkan sel beta pankreas sehingga menyebabkan defisiensi insulin absolut.
Kelainan ini diakibatkan oleh kecenderungan genetik yang disertai penyebab atau
kejadian yang saling berkaitan. Angka kejadian diabetes tipe 1 pada kembar identik
adalah 30% hingga 70%, sedangkan risiko pada saudara kembar nonidentik atau bukan
kembar dari orang yang terkena diabetes adalah 6% hingga 7%, dan risiko pada anak
dari orang tua yang menderita diabetes adalah 1%. menjadi 9%. Sekitar 50% dari
heritabilitas dapat dikaitkan dengan haplotipe antigen leukosit manusia (HLA) spesifik
(DR3 dan DR4-DQ8), namun lebih dari 60 gen non-HLA (kebanyakan gen sistem
imun) juga dikaitkan dengan risiko terjadinya dibetes tipe 1. Peristiwa-peristiwa
pencetus yang memicu perkembangan diabetes pada individu yang mempunyai
kecenderungan genetik sebagian besar tidak diketahui; teori terkemuka termasuk pola
makan pada masa bayi, infeksi virus (terutama enterovirus), dan perubahan mikrobioma
usus.

Diabetes melitus tipe 2 memiliki kecenderungan genetik yang lebih kuat (~90% tingkat
kesesuaian untuk kembar identik) namun jelas bersifat poligenik, dan gen dengan risiko
tertinggi masih belum terdefinisi dengan baik. Berdasarkan latar belakang genetik ini,
faktor-faktor yang didapat seperti obesitas, stres, kehamilan, dan penggunaan
glukokortikoid dapat memicu perkembangan diabetes tipe 2. Patogenesis diabetes tipe 2
bersifat multifaktorial dan kompleks. Trias klasiknya meliputi resistensi insulin di hati
(kelebihan produksi glukosa di hati), resistensi insulin di otot (gangguan pengambilan
glukosa), dan kegagalan sel beta progresif (defisiensi insulin relatif). “Oktet yang tidak
menyenangkan,” dijelaskan oleh Dr. Ralph DeFronzo dalam Banting Lecture tahun
2009, menambahkan lima kelainan tambahan: sel lemak (peningkatan lipolisis), saluran
pencernaan (defisiensi hormon incretin), sel alfa pankreas (hiperglukagonemia), ginjal
(peningkatan reabsorpsi glukosa), dan otak (resistensi insulin). Banyak dari cacat ini
terjadi, pada tingkat yang lebih besar atau lebih kecil, pada orang dengan pradiabetes
dan pada orang nondiabetes dengan riwayat keluarga diabetes tipe 2 yang
kuat(Mcdermott & Trujillo, 2020).
II.1.1.6 Manifestasi Klinis Diabetes Melitus
Bermacam-macam manifestasi klinis dapat diderita oleh penderita [Link]-tanda jika
seseorang memiliki penyakit DM apabila terdapat keluhan seperti polyuria, polydipsia,
polifagia, dan penurunan berat badan yang tiba- tiba, sering lelah dan lemas, kesemutan,
gatal, mata kabur, dan dsifungsi ereksi pada pria, jika pada Wanita pruritus
vulvae(Alfaqih et al., 2022).

Manifestasi klinis DM dikaitkan dengan konsekuensi metabolik defisiensi insulin


menurut (Linawati et al., 2021) yaitu:

1. Kondisi glukosa yang tidak normal


2. Diuresis osmotik, yang meningkatkan pengeluaran urin (poliuria) dan rasa haus
(polidipsi), terjadi karena hiperglikemia berat, yang menyebabkan glukosuria.
3. Polifagia meningkatkan rasa lapar, BB menurun
4. Mengantuk dan lelah
5. Kesemutan, gatal, mata kabur, impotensi, dan peruritas vulva adalah gejala lain
yang dikeluhkan.

II.1.1.7 Komplikasi Diabetes Melitus


Pada diabetes, komplikasi dikelompokkan dalam "penyakit mikrovaskular" (karena
kerusakan pembuluh darah kecil) dan "penyakit makrovaskular" (karena kerusakan
arteri).Penyakit kardiovaskular yang menyebabkan infark miokard dan penyakit
serebrovaskular yang menyebabkan stroke adalah salah satu komplikasi makrovaskular
utama. Penyakit mata yang disebut "retinopati", penyakit ginjal yang disebut
"nefropati", dan kerusakan saraf yang disebut "neuropati" adalah contoh komplikasi
mikrovaskular. Salah satu penyebab utama amputasi ekstremitas bawah adalah sindrom
kaki diabetik, yang didefinisikan sebagai komplikasi mikrovaskular karena adanya
ulkus di kaki yang berhubungan dengan neuropati, penyakit arteri perifer (PAP), dan
infeksi. Terakhir, ada komplikasi lain dari diabetes yang tidak dapat dimasukkan dalam
dua kategori di atas seperti penyakit gigi, penurunan resistensi terhadap infeksi, dan
komplikasi kelahiran pada wanita dengan diabetes gestasional(Mugiyanto E, Fajriyah
NN, 2022).
Komplikasi diabetes mellitus secara umum menurut (Simatupang, 2020) adalah
komplikasi akut dan komplikasi [Link] akut terjadi akibat komplikasi pada
waktu yang sebentar karena kadar glukosa dalam darah tidak [Link] akut
berupa hipoglikemi,hiperglikemi,koma diabetic,diabetes ketoasidosis dan hyperosmolar
non [Link] kronis merupakan penyebab kematian dan kecacatan pada
penyakit DM yang memengaruhi pada system seluruh tubuh,fisik,mental social dan
ekonomi penderita [Link] kronis berupa angiopati, retinopati, nefropati,
neuropati, komplikasi pada kaki dan kulit, stroke, gagal ginjal kronis dan penyakit
vascular perifer.

II.1.1.8 Penatalaksanaan Diabetes Melitus


Menurut (Simatupang, 2020) didalam buku yang berjudul pedoman diet penderita
diabetes,penatalaksanaan DM dibagi menjadi 4 pilar yaitu:

1. edukasi kesehatan yang komprehensif, yang bertujuan memberikan dukungan


penuh kepada penderita diabetes
2. Pilar kedua mencakup pengaturan pola makan dengan menjaga keseimbangan
asupan kalori dan nutrisi sesuai kebutuhan individu, serta mengatur jumlah,
jenis, dan jadwal makanan dengan ketat.
3. aktivitas fisik yang teratur, disarankan dilakukan 3 hingga 4 kali seminggu.
4. pilar keempat adalah penggunaan terapi farmakologi yang diberikan sesuai
kebutuhan medis penderita

selain itu,Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni, 2021) membagi


penatalaksanaan DM menjadi dua kategori: penatalaksanaan umum dan khusus. Pada
penatalaksanaan umum, evaluasi kondisi fisik dan komplikasi dilakukan di fasilitas
kesehatan primer. Jika fasilitas tersebut tidak memadai, pasien dapat dirujuk ke layanan
kesehatan sekunder atau tersier. Sedangkan penatalaksanaan khusus mencakup
beberapa aspek penting:

1. Edukasi kesehatan bertujuan mempromosikan hidup sehat dan merupakan


bagian penting dalam pengelolaan diabetes secara menyeluruh. Edukasi ini
terdiri dari tingkat awal dan lanjutan, sesuai dengan kebutuhan pasien.
2. Terapi Nutrisi Medis (TNM): Nutrisi yang tepat menjadi bagian krusial dalam
pengelolaan diabetes. Terapi ini melibatkan kerja sama antara dokter, ahli gizi,
tenaga kesehatan lain, pasien, serta keluarga untuk memastikan pasien menerima
nutrisi yang sesuai guna mencapai target pengelolaan diabetes.
3. Latihan Fisik: Latihan fisik teratur 3 hingga 5 kali seminggu, selama 30-45
menit per sesi, dianjurkan untuk meningkatkan kebugaran, mengontrol berat
badan, dan memperbaiki sensitivitas insulin. Latihan aerobik intensitas sedang
seperti berjalan cepat, bersepeda santai, jogging, atau berenang sangat
dianjurkan. Latihan ini diatur sesuai kondisi pasien, dengan pengecekan glukosa
darah sebelum berolahraga.
4. Terapi Farmakologis: Penggunaan obat-obatan juga merupakan bagian dari
penatalaksanaan DM, diberikan bersamaan dengan pengaturan pola makan dan
latihan fisik. Obat-obatan ini dapat berupa oral maupun injeksi, disesuaikan
dengan kondisi pasien.

Tujuan pengelolaan secara keseluruhan adalah untuk meningkatkan kualitas hidup


penyandang DM. Tujuan ini mencakup:
1. Tujuan jangka pendek adalah untuk mengurangi keluhan DM, meningkatkan
kualitas hidup, dan mengurangi risiko komplikasi lanjutan.
2. Tujuan jangka panjang adalah untuk mencegah dan menghentikan penyulit
mikroangiopati dan makroangiopati berkembang.
3. Untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas DM.H., pengelolaan memiliki
tujuan akhir(Fakhriatul, 2023).
II.1.2 Konsep Ulkus Kaki Diabetik
II.1.2.1 Definisi Ulkus Kaki Diabetik
Ukus Kaki Diabetik Merupakan lesi kulit yang tebal,nekrotik, atau gangren yang
terdapat di telapak kaki yang disebabkan oleh neuropati perifer bisa juga dikarenakan
penyakit arteri perifer pada pasien DM(Hamka et al., 2024).Ulkus diabetic adalah luka
pada pasien DM yang sebabkan komplikasi mikroangiopati dan
makroangiopati(Budiman et al., 2024).

II.1.2.2 Etiologi Ulkus Kaki Diabetik


Didalam artikel jurnal yang berjudul “Pathogenesis, evaluation, and recent management
of diabetic foot ulcer” yang dibuat oleh (Wijaya et al., 2019) ada beberapa etiologi
untuk ulkus kaki diabetic yaitu:
1. Neuropati Perifer
Kerusakan saraf yang akan mengurangi sensasi di kaki, hal ini akan membuat
pasien tidak akan menyadari jika terdapat luka atau trauma kecil yang dapat
berkembang menjadi ulkus.
2. Deformitas Kaki
Ketidaknormamalan bentuk kaki yang dapat mengakibatkan tekanan berlebih di
area tertentu, ini dapat meningkatkan risiko ulkus.
3. Trauma Minor
Luka kecil yang sering kita dapatkan sehari-hari seperti lecet dapat berkembang
menjadi ulkus kaki diabetic.
4. Penyakit Arteri Perifer
Aliran darah yang buruk ke kaki dapat menyebabkan proses penyembuhan luka
terhambat dan meningkatkan resiko infeksi(Wijaya et al., 2019).

II.1.2.3 Patofisiologi Ulkus Kaki Diabetik


Pada penderita DM, resistensi insulin merupakan penyebab terjadinya komplikasi
makrovaskular, pada hiperglikemia menjadi penyebab komplikasi mikrovaskular. UKD
adalah kondisi kaki diabetik yang ditandai dengan neuropati sensorik, motorik, dan
otonom, serta kelainan vaskular ekstremitas bawah. Kegagalan endotel terjadi sebagai
akibat dari glikosilasi dan stres oksidatif pada sel endotel, yang mengakibatkan
kerusakan pembuluh darah. Disfungsi endotel sangat penting untuk mempertahankan
homeostasis vaskular. Endotelium menyekresi berbagai mediator kimia yang
mengontrol agregasi trombosit, koagulasi,fibrinolisis, dan tonus vaskular untuk
membantu mempertahankan penghalang fisik antara dinding pembuluh darah dan
lumen. Disfungsi endotel adalah gangguan di mana endotel kehilangan fungsi
fisiologisnya, yang meliputi kemampuan untuk menginduksi vasodilatasi, fibrinolisis,
dan anti-agregasi. Sel endotel menghasilkan berbagai mediator yang dapat memicu
vasokonstriksi atau vasodilatasi, termasuk endotelin-a dan tromboksan A2, serta oksida
nitrat (NO), prostasiklin, dan faktor hiperpolarisasi yang diturunkan dari endotel.
Disfungsi endotel hampir selalu diamati pada pasien diabetes, dan ini disebabkan oleh
hiperglikemia persisten, yang menyebabkan kelainan pada pembentukan dan aktivitas
NO, meskipun keterbatasan inheren endotel untuk perbaikan sendiri. Sel endotel yang
terpapar keadaan hiperglikemia mengalami apoptosis, yang menyebabkan kerusakan
pada tunika intima.

Proses apoptosis ini dipicu oleh aktivasi jalur pensinyalan integrin- 1, yang merupakan
proses yang rumit. Setelah aktivasi integrin, peningkatan p38 mitogen-activated protein
kinase (MAPK) dan c-Jun N- terminal (JNK) diinduksi, yang mengakibatkan kematian
sel. Apoptosis sel endotel menyebabkan aktivasi cadherin endotel vaskular, yang
menyebabkan apoptosis sel di sekitarnya di lokasi yang rawan aterosklerosis(Mugiyanto
E, Fajriyah NN, 2022)

II.1.2.4 Manifestasi Ulkus Kaki Diabetik


II.1.2.5 Klasifikasi Ulkus Kaki Diabetik
Ada beberapa klasifikasi dari ulkus kaki diabetic menurut (Wagner, 1983) dalam
(Muhammad Hafizh Izuddin Alzamani et al., 2022)

1. Derajat 0: Tidak ada luka terbuka, kulit sehat, tetapi ada kelainan bentuk tulang
kaki.
2. Derajat 1 : Luka superfisial, lapisan kulit hilang hingga bagian dermis.
3. Derajat 2: Luka terbuka sampai ke lapisan subkutan bagian dalam atau tendon
tetapi tidak sampai ke tulang.
4. Derajat 3: Ulkus yang dalam dengan selulitis dan infeksi yang mencapai tendon
5. Derajat 4: Gangren sebagian menyebar ke jari atau bagian depan kaki.
6. Derajat 5: Gangren mencakup area yang lebih besar, mencakup lengkung kaki
dan belakang kaki.
II.1.2.6 Pencegahan
II.1.2.7 Faktor Risiko Ulkus Kaki Diabetik
Untuk mencegah ulkus kaki diabetik perlu untuk mengetahui apa saja factor yang bisa
mnejadi [Link] (Rahmawati, 2022) ada 10 faktor yang mempengaruhi
kejadian ulkus kaki diabetic yaitu:
1. Usia
Usia adalah salah satu faktor internal penting yang berkontribusi pada terjadinya
ulkus kaki diabetik. Pada usia lanjut, terjadi penurunan produksi insulin atau
resistensi insulin, yang memengaruhi aliran darah, terutama di area tungkai,
sehingga meningkatkan risiko ulkus kaki diabetik. Selain itu, seiring
bertambahnya usia, fungsi organ tubuh, termasuk pankreas yang memproduksi
insulin, juga menurun.
2. Durasi Menderita DM
Penderita diabetes melitus (DM) yang telah mengidap penyakit ini selama lebih
dari 15 tahun memiliki risiko 6,5 kali lipat lebih tinggi untuk mengalami ulkus
kaki diabetik. Hal ini disebabkan oleh peningkatan kadar glukosa darah yang
berlangsung terus-menerus, menyebabkan kerusakan pembuluh darah besar
(makroangiopati), yang akhirnya memengaruhi aliran darah dan menyebabkan
hilangnya sensasi nyeri pada luka.
3. Jenis Kelamin
Jenis kelamin juga berperan, di mana pria memiliki risiko lebih tinggi
mengalami ulkus kaki dibandingkan wanita. Meskipun baik pria maupun wanita
memiliki risiko, pria cenderung kurang memperhatikan kesehatannya. Mereka
sering kali tidak kritis dalam mengevaluasi kesehatan dan jarang melakukan
pemeriksaan rutin ke layanan kesehatan.
4. Riwayat Ulkus Kaki Diabetik
Riwayat ulkus kaki sebelumnya juga merupakan faktor risiko yang signifikan.
Jika seseorang pernah mengalami ulkus, risiko terulangnya ulkus kaki diabetik
meningkat. Hal ini disebabkan oleh cedera yang terjadi saat kadar gula darah
tidak terkontrol, sehingga mikroorganisme mudah menginfeksi akibat tingginya
kadar glukosa dan melemahnya sistem imun tubuh.
5. Neuropati Perifer
Neuropati perifer sering kali terkait dengan ulkus kaki diabetik. Neuropati ini
terjadi karena peningkatan stres oksidatif pada sel saraf serta vasokonstriksi,
yang menyebabkan iskemia saraf. Akibatnya, sensitivitas terhadap rangsangan
seperti nyeri, suhu, dan sentuhan menurun, sehingga meningkatkan risiko ulkus
kaki diabetik. Kehilangan sensasi di kaki membuat penderita tidak sadar jika
terjadi luka.
6. Obesitas
Obesitas pada penderita DM juga meningkatkan risiko ulkus kaki diabetik.
Kelebihan berat badan sering kali menyebabkan resistensi insulin, yang memicu
aterosklerosis dan gangguan sirkulasi darah ke kaki, sehingga meningkatkan
risiko ulkus diabetik.
7. Kontrol Glikemik Yang Buruk
Kontrol glikemik yang buruk adalah salah satu faktor utama terjadinya ulkus
kaki diabetik. Kadar gula darah yang tidak stabil dan tinggi menyebabkan
kerusakan pembuluh darah, yang berujung pada disfungsi organ dan kurangnya
suplai darah ke jaringan, menyebabkan neuropati perifer dan risiko ulkus kaki
diabetik meningkat. Sering kali, penderita DM kurang memperhatikan pola
makan mereka.
8. Daerah Tempat Tinggal
Pasien DM yang tinggal di pedesaan lebih rentan mengalami ulkus kaki diabetik
karena keterbatasan akses terhadap perawatan kesehatan, kurangnya
pengetahuan, serta kesadaran yang rendah mengenai perawatan kaki dan
penggunaan alas kaki yang tepat.
9. Perawatan Kaki Mandiri
Selain itu, penderita DM yang tidak melakukan perawatan kaki secara mandiri
juga berisiko tinggi mengalami ulkus kaki diabetik. Hal ini sering kali
disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang perawatan kaki, yang bisa
disebabkan oleh rendahnya pendidikan, kurangnya informasi, serta faktor sosial
ekonomi yang rendah. Padahal, perawatan kaki secara mandiri merupakan
langkah penting dalam mencegah ulkus diabetik.
10. Status Ekonomi
Faktor sosial ekonomi yang rendah juga berpengaruh terhadap risiko ulkus kaki
diabetik. Perawatan ulkus kaki membutuhkan biaya yang cukup besar.
Keterbatasan biaya sering kali menghambat penderita untuk melakukan
perawatan atau pemeriksaan rutin, sehingga banyak yang hanya memanfaatkan
layanan kesehatan ketika sudah muncul keluhan atau komplikasi, yang
meningkatkan risiko ulkus kaki diabetik.
II.1.2.8 Penatalaksanaan Ulkus Kaki Diabetik
Penatalaksanaan yang bisa dilakukan pada ulkus kaki diabetik (Yulyastuti et al., 2021)

1. Anamnesa dan Pemeriksaan Fisik Pasien


Jika pasien memiliki luka di kaki akibat diabetes, mereka harus ditanyai berapa
lama lukanya telah terjadi dan apakah ada perawatan apa pun yang telah
dicobakan. Sampai jaringan pencegahan dan perawatan ulkus diabetikum
menjadi nekrotik dan berbau busuk atau drainase terjadi, banyak pasien
neuropatik tidak menyadari bahwa ada luka. Pasien DM memiliki sistem
kekebalan yang lemah, dan mereka seringkali tidak mengalami demam atau
peningkatan jumlah sel darah putih dalam menghadapi infeksi yang signifikan.
Pada setiap kunjungan, kaki pasien harus diperiksa. Jaringan interdigital harus
diperiksa untuk retakan, celah, atau gejala infeksi jamur, dan jari-jari kaki harus
dipisah secara manual.
2. Pembedahan
Tujuan pembedahan adalah untuk membuang pus, mengurangi nekrosis jaringan
dengan mengurangi tekanan kompartemen di kaki, dan mengangkat jaringan
yang terinfeksi.
3. Pemberian Antibiotik
Antibiotik yang aktif melawan Stafilokokus dan Streptokokus harus termasuk
dalam regimen antibiotik untuk pengobatan empirik. Jika ada sensitivitas dan
hasil kultur, pertimbangkan regimen yang spesifik terhadap patogen target.
Untuk mencegah resistensi, regimen spektrum sempit disarankan.
4. Pengelolaan Infeksi
Infeksi pada ulkus diabetikum merupakan faktor pemberat yang turut
menentukan derajat agresifitas tindakan yang diperlukan dalam pengelolaan
ulkus diabetikum. Dilain pihak infeksi pada ulkus diabetikum mempunyai
permasalahan sendiri dengan adanya berbagai risiko seperti status lokalis
maupun sistemik yang imunocompromised pada pasien DM, resistensi mikroba
terhadap antibiotik, dan jenis mikroba yang adakalanya memerlukan antibiotic
spesifik yang mahal [Link], pemeriksaan hitung darah lengkap
dilakukan untuk mengetahui apakah ada peningkatan leukosit dan neutrofil
segmen untuk mengidentifikasi infeksi. Hasil kultur positif pada swab ulkus
merupakan standar emas untuk adanya infeksi pada ulkus diabetikum.
5. Mengurangi Beban
Berjalan menempatkan beban yang besar pada [Link] yang disebabkan oleh
beban dan gesekan pada kaki sangat mungkin terjadi pada penderita diabetes
mellitus, yang membuat penyembuhan luka sulit. Menghilangkan beban pada
kaki, juga dikenal sebagai offloading, adalah bagian penting dari perawatan kaki
diabetik.
6. Perawatan Luka
Pengawasan perbaikan luka dengan infeksi dapat dilakukan dengan penilaian
karakteristik ulkus yaitu ukuran, kedalaman, penampakan, dan lokasi. Pemilihan
balutan untuk ulkus diabetes disesuaikan dengan keadaan luka. Secara umum,
infeksi kaki diabetik dengan eksudat ekstensif membutuhkan balutan luka yang
mampu menyerap kelembapan, sedangkan luka kering membutuhkan terapi
topikal untuk meningkatkan kelembapan luka. Balutan luka yang ideal harus
diganti setidaknya sekali setiap hari untuk membersihkan luka dan mengevaluasi
tingkat infeksi yang ada di dalamnya.
7. Debridemen
Tindakan untuk membuang jaringan nekrosis, kalus, dan fibrotik dikenal sebagai
debridement. Jaringan mati dikeluarkan dari jaringan sehat sekitar 2-3 mm dari
tepi luka. Debridement membuat faktor pertumbuhan keluar lebih banyak, yang
membantu proses penyembuhan luka menjadi lebih cepat. Amputasi diperlukan
untuk mengontrol infeksi dan menutup luka jika infeksi merusak fungsi kaki
atau membahayakan jiwa pasien.
8. Amputasi
Jika berbagai metode telah gagal dan tidak menghasilkan hasil yang baik,
amputasi adalah opsi terakhir. Antara 40 dan 60 persen pasien DM dengan ulkus
kaki mengalami amputasi ekstremitas bawah.
II.1.3 Konsep Pengetahuan
II.1.3.1 Definisi Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari pemahaman seseorang tentang sesuatu melalui indranya,
seperti mata, hidung, dan [Link] perhatian dan persepsi terhadap objek sangat
dipengaruhi oleh sendirinya dari waktu penginderaan sampai menghasilkan
[Link] besar pengetahuan yang diperoleh seseorang didapat dari indera
pendengaran (telinga) dan penglihatan (mata). (Aisyah, 2019) dalam (Sari & Nurbaya,
2023)
II.1.3.2 Tingkat Pengetahuan
Menurut Bloom tingkat pengetahuan mempunyai 6 tingkatan yaitu (Swarjana, 2022)

1. Tahu(Know)
Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah, dan mencakup
mengingat apa yang telah dipelajari sebelumnya. Mengingat kembali suatu
aspek tertentu dari materi yang dipelajari termasuk dalam tingkat pengetahuan
ini. untuk mengetahui apakah individu memahami apa yang dipelajari dengan
menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan cara lain.
2. Memahami(comprehension)
Kemampuan untuk menjelaskan secara akurat dan menginterpretasikan topik
yang diketahui dikenal sebagai pemahaman. Orang yang telah memahami topik
atau materi 34 harus dapat menjelaskan, menggunakan contoh, menyimpulkan,
dan sebagainya tentang topik yang telah mereka pelajari.
3. Aplikasi(application)
Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari dalam situasi atau
kondisi nyata disebut aplikasi. Aplikasi juga dapat berarti penggunaan metode,
prinsip situasi, atau konteks lainnya.
4. Analisis(analysis)
Kemampuan untuk membagi sesuatu ke dalam bagian-bagian yang saling terkait
adalah apa yang dikenal sebagai analisis. Penggunaan kata menunjukkan
kemampuan analisis; mereka memiliki kemampuan untuk menggambarkan,
membedakan, mengelompokkan, dan melakukan hal-hal lain yang berkaitan
dengan objek yang sudah dikenal.
5. Sintesis(synthesis)
Kemampuan untuk menghimpun agara memungkinkan untuk menyatukan
bagian-bagian menjadi bentuk yang baru atau menggabungkan beberapa bagian
penting sehingga secara keseluruhan menjadi bentuk yang baru.
6. Evaluasi(evaluation)
Kemampuan untuk menilai atau membenarkan sesuatu didasarkan pada kriteria
yang telah ditentukan sendiri atau pada kriteria yang telah ada sebelumnya
dikenal sebagai evaluasi.

II.1.3.3 Faktor-faktor yang Memepengaruhi Pengetahuan


Pengatahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi Ketika seseorang melakukan
pengindraan terhadap suatu objek [Link]-faktor yang mempengaruhi
pengetahuan menurut (Kaily, 2019) yaitu:

1. Faktor Internal
Faktor yang berasal dari dalam diri sendiri, contohnya intelegensia, minat, dan
kondisi fisik.
2. Faktor Eksternal
Faktor yang berasal dari luar diri sendiri, contohnya keluarga, masyarakat dan
sarana.
3. Faktor Pendekatan Belajar.
Faktor upaya belajar, misalnya strategi dan metode dalam pembelajaran.

II.1.4 Konsep Perilaku Perawatan Kaki Diabetik


II.1.4.1 Definisi Perilaku Perawatan Kaki
Perawatan kaki adalah salah satu upaya untuk mencegah terjadinya ulkus kaki
[Link] kaki merupakan tindakan yang harus dilakukan individu dalam
keadaan apapun dalam keadaan gula darah yang tinggi maupun rendah yang dilakukan
secara teratur buat menjaga kebersihan diri,terutama pada bagian kaki(Ferawati et al.,
2020).

II.1.4.2 Tujuan Perilaku Perawatan Kaki


Tindakan perawatan kaki samgat penting dialakukan pada saat kadar gula darah normal
maupun sedang naik yang bertujuan untuk menjaga kebersihan diri, terutama di bagian
[Link] tujuan melakukan perawatan kaki menurut (Ferawati et al., 2020) yaitu:

1. Sebagai tindakan pencegahan awal jika terdapat kelainan pada kaki.


2. Agar tidak terjadi komplikasi yang lebih parah seperti luka kencing manis
bahkan amputasi.
3. Mengurangi resiko infeksi pada kaki.
4. Menjaga kebersihan dan Kesehatan kaki.
5. Mencegah agar luka tidak semakin parah.

II.1.4.3 Cara Melakukan Perawatan Kaki


Program perawatan kaki yang harus dilakukan oleh pasien yang menderita diabetes
mellitus adalah sebagai berikut (Yulyastuti et al., 2021)
1. Pemeriksaan dan Perawatan Kaki Diabetes secara Mandiri
Pemeriksaan dan perawatan kaki diabetes adalah semua tindakan khusus yang
dilakukan oleh orang yang menderita diabetes atau orang yang berpotensi
menderita diabetes untuk mencegah timbulnya ulkus diabetikum. Ini termasuk
senaman kaki, pemeriksaan dan perawatan kaki. Kegiatan ini harus dilakukan
secara teratur dan minimal sekali setiap hari.
2. Cara Melakukan Pemeriksaan Kaki Diabetes (Inspeksi)
a) Dengan menggunakan cermin, lihat seluruh kaki yang sulit dijangkau,
terutama telapak kaki karena luka atau kelainan lainnya.
b) Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, gunakan kaca pembesar (lop)
c) Klien dapat meminta bantuan anggota keluarga atau orang lain untuk
memeriksanya jika penglihatannya berkurang.
3. Area Pemeriksaan Kaki
a) Untuk kuku jari, perhatikan apakah ada retakan, robekan, atau kuku yang
tumbuh di bawah kulit.
b) Periksa kulit di sela-sela jari dari ujung hingga pangkal untuk
mengetahui apakah ada retakan, melepuh, luka, atau perdarahan.
c) Telapak kaki: Perhatikan apakah ada kalus (kapalan), palantar warts, atau
kulit yang retak (fisura).
d) Kelainan bentuk tulang pada kaki: periksa adanya kelainan pada kaki
seperti kaki bunion, atropathy charchot, hammer toe, atau clawed toe.
e) Kelembaban kulit: Periksa kelembaban kulit Anda dan lihat apakah ada
kekeringan dan berkerak akibat luka.
f) Bau: Cari tahu apakah ada bau yang berasal dari berbagai sumber pada
kaki Anda.
4. Perawatan (Mencuci dan Membersihkan) Kaki
a) Menyediakan air hangat (37 derajat Celcius): coba air hangat dengan
siku untuk menghindari cedera.
b) Keringkan kaki dengan handuk yang telah dibersihkan. Keringkan sela-
sela jari Anda, terutama sela jari ketiga, keempat, dan kelima.
c) Untuk mencegah kulit kering dan pecah, oleskan lotion pada kulit kaki.
d) Lotion tidak boleh dioleskan di sela-sela jari kaki. Karena akan
meningkatkan kelembapan dan menjadi media yang baik untuk
pertumbuhan mikroorganisme.
5. Perawatan Kuku Kaki
a) Potong dan rawat kuku Anda secara teratur. Gunakan krim pelembab
untuk kuku dan bersihkan kuku Anda setiap hari saat mandi.
b) Agar kuku tidak tajam, gunting kuku kaki Anda dengan cara yang sesuai
dengan bentuk normal jari, tidak terlalu pendek atau terlalu dekat dengan
kulit. Anda dapat meminta bantuan keluarga atau dokter untuk
memotong kuku Anda jika Anda ragu.
c) Mencegah luka pada jaringan sekitar kuku. Rendam kaki dengan air
hangat (37 °) selama ± 5 menit jika kukunya keras atau sulit dipotong.
6. Hal-hal yang Harus Dihindari dalam Perawatan Kaki Diabetes
a) Jangan berjalan tanpa alas kaki.
b) Hindari plester pada kulit.
c) Jaga agar kaki tidak kontak dengan air panas (jangan gunakan botol
panas atau peralatan listrik untuk memanaskan kaki ketika mengalami
nyeri)
d) Jangan gunakan batu atau silet untuk mengurangi kapalan.
e) Jangan potong kuku kaki dengan pisau atau silet
f) Jangan biarkan luka kecil di kaki Anda.
7. Pemilihan Alas Kaki yang Baik Sepatu
Sepatu sangat penting bagi kehidupan kita karena kaki kita menahan banyak
berat setiap hari. Kaki lebih sering terluka dibandingkan bagian tubuh lainnya,
jadi penting untuk menjaga mereka dan memakai sepatu yang tepat. Cara
memilih sepatu adalah sebagai berikut:
a) Untuk melindungi kaki Anda dari luka, pakai alas kaki yang lembut pada
sepatu atau sandal Anda.
b) Jangan ragu untuk membeli sepatu saat sore hari karena saat itu kaki
Anda paling lebar karena aktivitas.
c) Pastikan sepatu Anda tidak memiliki jahitan yang lepas atau rusak, dan
jangan memakainya lebih dari dua jam.
d) Pilih sepatu yang sesuai dengan ukuran dan lebar kaki Anda. Pastikan
bahwa kaki terlebar Anda berada di sepatu yang aman dan nyaman (agak
lebar), jangan lancip, dan jangan gunakan sepatu hak tinggi (khususnya
untuk wanita). Sepatu harus 0,5 inchi lebih panjang dari jari terpanjang
Anda (jempol kaki) untuk menghindari cedera.
e) Sebelum menggunakan sepatu, perhatikan bagian dalamnya: tumit
sepatu, telapak kaki, bagian atas, bagian dalam dasar (alas), dan tepi.
f) Periksa sepatu dan kaos kaki Anda dari benda asing atau tajam sebelum
memakainya.
g) Gunakan kaos kaki berwarna terang (putih), kapas, wol, atau campuran
kapas dan wol; jangan gunakan yang terlalu ketat atau elastis. Tidak
disarankan untuk memakai stocking, terutama untuk wanita.
h) Untuk meningkatkan sirkulasi darah, lepaskan sepatu setiap empat
hingga enam jam dan gerakkan jari-jari kaki dan pergelangan kaki.
i) Obati dan tutup dengan kassa kering jika ada luka kecil. Lihat tanda-
tanda radang.
j) Segera ke dokter bila kaki mengalami luka.
k) Periksakan kaki ke dokter secara rutin.

II.1.4.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi perawatan kaki


Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Woo & Cui, 2023) didapatkan beberapa faktor-
faktor yang memengaruhi pasien untuk melakukan perawatan kaki yaitu:

1. mengungkapkan pentingnya karakteristik demografi pasien sebagai prediktor


DFCB. Salah satunya adalah jenis kelamin, yang temuannya beragam dalam
tinjauan ini: beberapa studi mengungkapkan bahwa perempuan menunjukkan
DFCB yang lebih baik daripada laki- laki, sementara yang lain melaporkan
sebaliknya. DFCB yang lebih baik yang diamati di antara perempuan mungkin
dikaitkan dengan kecenderungan mereka untuk terlibat dalam kebiasaan yang
lebih sehat dan perhatian mereka yang lebih besar terhadap gejala kesehatan,
yang keduanya mendasari prioritas mereka terhadap perawatan diri.
Prediktor signifikan lainnya adalah status sosial ekonomi pasien, di mana
pencapaian pendidikan yang lebih tinggi, tingkat literasi dan pendapatan
ditemukan dapat meningkatkan DFCB. Pasien dengan status sosial ekonomi
yang lebih tinggi akan lebih memahami informasi kesehatan dan menikmati
akses yang lebih besar ke layanan perawatan Kesehatan, oleh karena itu mereka
akan lebih menghargai perlunya praktik perawatan kaki dan lebih bersedia untuk
mengadopsinya
2. tinjauan ini mengungkapkan konsensus di seluruh studi yang disertakan bahwa
edukasi perawatan kaki (FCE) akan memengaruhi DFCB pasien secara positif.
Temuan ini menguatkan literatur, di mana pasien dengan literasi kesehatan
rendah dilaporkan menunjukkan DFCB yang buruk karena defisit pengetahuan.
Selain itu, nilai FCE ditunjukkan dalam studi lain di mana pasien yang hanya
menerima instruksi perawatan kaki kasual alih-alih FCE formal tidak belajar
secara memadai tentang perawatan kaki, sehingga menghadapi tantangan dalam
menerjemahkan pengetahuan mereka ke dalam DFCB yang sebenarnya. Dengan
demikian, temuan dari tinjauan ini dan literatur tersebut menunjukkan bahwa
kurangnya FCE akan menyebabkan hilangnya kesempatan untuk perawatan
pencegahan, terutama mengingat bahwa FCE berfungsi sebagai strategi yang
efektif dalam membentuk DFCB
3. Ketiga, tinjauan ini menemukan bahwa pengetahuan pasien tentang perawatan
kaki merupakan prediktor signifikan DFCB mereka. Model pengetahuan, sikap,
dan praktik (KAP) mendalilkan bahwa pengetahuan membentuk sikap individu
untuk menghasilkan perubahan perilaku, sedangkan kekurangan pengetahuan
menghambat kepatuhan mereka terhadap perilaku [Link] konteks DFCB,
model ini mengingatkan perawat bahwa pengetahuan memungkinkan pasien
untuk lebih menghargai alasan praktik perawatan kaki dan bahwa pengetahuan
memungkinkan pasien untuk lebih menghargai alasan praktik perawatan kaki
dan bahwa menanamkan keyakinan dan sikap yang benar adalah kunci untuk
mendorong modifikasi perilaku, seperti yang telah diparalelkan dalam literatur.
4. Tinjauan ini juga menyoroti bagaimana DFCB pasien diatur oleh keyakinan dan
persepsi mereka (termasuk kerentanan, tingkat keparahan, manfaat, hambatan,
isyarat tindakan, dan efikasi diri yang dirasakan). Konstruksi ini mewakili
beberapa segi keyakinan individu terhadap penyakit mereka, yang terdiri dari
blok kolektif dalam model keyakinan Kesehatan. telah mendalilkan bahwa
pasien dengan keyakinan kesehatan positif yang lebih kuat dan efikasi diri dalam
praktik perawatan kaki akan menunjukkan DFCB yang lebih baik. Mengingat
sifat kronis diabetes, kepatuhan terhadap DFCB seumur hidup menjamin
komitmen, kompetensi, dan kepercayaan diri pasien. Bukti menunjukkan bahwa
tindakan apa pun, bahkan intervensi singkat untuk mengatasi dan mengubah
keyakinan kesehatan pasien, dapat secara efektif meningkatkan kepatuhan
mereka terhadap praktik perawatan diri.
5. Tinjauan kami selanjutnya menunjukkan bagaimana keyakinan dan persepsi
tersebut sebagian besar merupakan prediktor kuat DFCB, kecuali untuk tingkat
keparahan yang dirasakan (yang menghasilkan temuan beragam). Selain itu,
mendorong pasien untuk fokus pada konsekuensi penyakit mereka dapat
menghasilkan efek sebaliknya, yaitu memperburuk stres mereka dan dengan
demikian mengikis motivasi mereka dalam DFCB.
6. Terakhir, tinjauan ini mengamati bagaimana keyakinan agama dan pandangan
budaya bertindak sebagai prediktor untuk DFCB beberapa pasien, sebagaimana
dicontohkan oleh komitmen mereka terhadap praktik perawatan kaki seperti
mencuci dan mengeringkan kaki

II.2 Penelitian Terkait/Keaslian Penelitian


Tabel 2.1 Penelitian Terkait
Keterangan Penelitian Nurmalisa(2024 Aryani Melinda Gunardi
sekarang ) dkk(2022) Saiful(2024)
Topik Hubungan Hubungan Hubungan The Effect of
Penelitian Pengetahuan Pengetahuan Tingkat Supportive
Ulkus Kaki dengan Pengetahuan Education on
Diabetik dan Sikap Foot Care
Perawatan Kaki
Terhadap terhadap Knowledge in
Perilaku Pada Pasien Pencegahan Type 2 Diabetes
Perawatan Kaki Diabetes Ulkus Kaki Mellitus
Mellitus Diabetik Pada
Pasien DM Tipe
2 di Puskesmas
Desain Cross-Sectional Cross-Sectional Cross-Sectional Case Control
Variable Independent: Independent: Independent: Independent:
Pengetahuan Pengetahuan Tingkat Supportive
Ulkus Kaki Dependent: Pengetahuan. Education
Diabetik Perawatan Kaki Sikap. Dependent:
Dependent: Dependent: Knowledge of
Perilaku Pencegahan Foot Care in
Perawatan Kaki Ulkus Kaki Type 2 Diabetes
Diabetik Mellitus
Patients

Subjek Pasien DM Tipe Penderita Pasien DM Tipe Pasien DM Tipe


2 dengan Diabetik 2 2
komplikasi ulkus
Tempat Di RSUD Arifin Desa Palasa Puskesmas RW 05 Depok
Achmad Provinsi Kecamatan Jaya
Riau Pasar Minggu
Analisis Bivariat Bivariat Bivariat Bivariat

II.3 Kerangka Teori


Komplikasi akut: Diabetes Komplikasi kronis :
Melitus
• Hiperglikemia • Penyakit jantung
• Ketoasidosis diabetik koroner
• Hipoglikemia • Stroke
• Hipertensi
• Retinopati diabetik
• Kerusakan ginjal
• Ulkus kaki diabetik

Faktor yang mempengaruhi ulkus Pencegahan ukus kaki diabetik


kaki diabetik
• Edukasi
• Jenis kelamin • Pemeriksaan kaki rutin
• Neuropati • Menjaga kebersihan kaki
• Lama menderita diabetes • Mengendalikan kadar gula
melitus • Menggunakan alas kaki
• Peripheral artery disease

• Perilaku perawatan kaki
• Merokok Faktor yang mempengaruhi
pengetahuan:
Faktor internal
Faktor yang mempengaruhi • Umur
perilaku perawatan kaki • Pendidikan
• Pengalaman

• Pengetahuan
Pengetahuan • Pekerjaan
• Pendidikan
• Jenis kelamin Faktor eksternal
• Komplikasi diabetes melitus • Sosial budaya
• Ekonomi
KOMPLIKASI AKUT DIABETES MELITUS KOMPLIKASI KRONIS

FAKTOR-FAKTOR
FAKTOR-FAKTOR YANG
YANG MEMPENGARUHI
MEMPENGARUHI ULKUS KAKI
PERAWATAN KAKI

FAKTOR-FAKTOR
YANG
MEMPENGARUHI
PENGETAHUAN
II.4 Kerangka Konsep
Kerangka konseptual adalah struktur yang menjelaskan konsep-konsep dalam asumsi
teoretis, untuk menggambarkan unsur-unsur yang ada dalam objek penelitian dan
menguraikan hubungan antara konsep-konsep tersebut (Ibrahim, 2023).
Skema 2.2

Kerangka konsep

Independent Dependen

Pengetahuan Ulkus Perilaku Perawatan Kaki

II.5 Hipotesis
Hipotesis adalah alternatif dugaan jawaban yang dibuat oleh peneliti untuk masalah
yang diteliti. Dugaan jawaban ini adalah kebenaran sementara yang akan diuji dengan
data penelitian.(Setyawan, 2021).
Ho:Tidak ada hubungan antara pengetahuan ulkus kaki diabetic terhadap perilaku
perawatan kaki diabetic

Ha:Ada hubungan antara pengetahuan ulkus kaki diabetic terhadap perilaku perawatan
kaki diabetik
BAB III
III.1 Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Kuantitatif, Penelitian kuantitatif adalah
jenis penelitian yang mengumpulkan data numerik, menguji hipotesis, dan
menghasilkan temuan yang dapat diterapkan pada populasi yang lebih besar (Anjarwati
et al., 2024).Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah cross sectional. Studi
crosssectional mempelajari bagaimana faktor risiko berkorelasi dengan efek (sebab
dengan akibat) dan menggunakan pendekatan, observasi, atau teknik pengumpulan data
pada waktu tertentu atau "approach point-time” (Budiman & Wahyuningsih, 2023).

III.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


III.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di RSUD Arifin Achmad dengan alas an RSUD Arifin
Achmad.

III.2.2 Waktu Penelitian


Pengambilan data dan penelitian ini akan dilakukan pada bulan November sampai bulan
Desember 2024.

III.3 Populasi dan Sampel Penelitian


III.3.1 Populasi Penelitian
Menurut Fraenkel Jr. dan Wallen, N. E. (2006) dalam (Rashid, 2022), Sampel dipilih
dari kelompok individu atau orang yang lebih besar, disebut populasi, atau sekelompok
subyek yang dari merekalah data [Link] adalah keseluruhan komponen
penelitian, termasuk objek dan subjek yang memiliki karakteristik khusus. Populasi
dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori: populasi terbatas dan tak terbatas, populasi
homogen dan heterogen, dan populasi target dan survey(Adnyana, 2021).Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh pasien ulkus kaki diabetic yang berada di RSUD
Arifin Achmad.
III.3.2 Sampel Penelitian
Sampel adalah bagian dari populasi penelitian, atau contoh dari populasi penelitian
secara keseluruhan. Untuk menggeneralisasi temuan penelitian, penelitian sampel
dilakukan. Misalnya, jika peneliti mengambil sebagian atau lima puluh siswa SD dari
100 siswa, lima puluh siswa tersebut disebut sebagai sampel (H. Rifa’i, 2021). sampel
adalah kelompok elemen yang peneliti selidiki secara langsung. Sampling berkaitan
dengan pemilihan subset individu dari dalam suatu populasi untuk memperkirakan
karakteristik seluruh populasi (Singh & Masuku, 2014) dalam (Firmansyah & Dede,
2022).Karakteristik responden pada penelitian ini yaitu:
1. Kriteria inklusi
a. Terdiagnosis diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi ulkus kaki
diabetik.

b. Pasien yang bisa membaca dan menulis.

c. Pasien yang bersedia ikut dalam penelitian.

2. Kriteria eksklusi

a. Pasien yang tidak setuju ikut dalam penelitian.

b. Terdapat komplikasi serius yang mengganggu penelitian (gagal jantung,

gagal ginjal kronik dan gangguan penglihatan).

c. Pasien dengan gangguan kognitif.

III.3.3 Besar Sampel


Untuk menentukan ukuran sampel,digunakan rumus T sampling. Total sampling adalah
metode pengambilan sampel di mana seluruh populasi diambil sebagai sampel atau
responden. jumlah populasi yang kurang dari 100. seluruh populasi dapat dijadikan
sampel penelitian (Yunitasari et al., 2020).Besar sampel pada penelitian ini adalah
seluruh pasien yang mnederita ulkus kaki diabetic yang sesuai dengan kriteria inklusi
yang telah ditetapkan [Link] dari itu jumlah sampel yang diambil adal 32 orang.
III.3.4 Teknik Sampel
Teknik sampling merupakan suatu cara pengambilan contoh atau sampel untuk diteliti.
Sampel yang terpilih merupakan sumber data yang akan diolah secara statistik dan harus
mampu memberikan gambaran untuk sebuah populasi. Jadi sampel merupakan
cerminan tingkahlaku populasi. Apabila pengambilan sampelnya tidak benar, maka
sampel tersebut tidak akan mampu memberikan atau mewakili populasi(Gani,
2015).Menurut (Sahir, 2022)Teknik sampling dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu
probability sampling dan non probability. Probability Sampling meliputi: simple
random, proportionate stratified random, disproportionate stratifed random, dan area
random. Non probability sampling meliputi: sampling sistematis, sampling kuota,
sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling.
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan menggunakan purposive
sampling.

III.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional


III.4.1 Variabel Penelitian
Variabel Penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal
tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007) dalam (Setyawan, 2021).
Variabel independen dari penelitian ini adalah pengetahuan tentang ulkus kaki diabetik,
sedangkan variabel dependen pada penelitian ini adalah perilaku perawatan kaki.
III.4.2 Definisi Operasional
Menggambarkan atau mendeskripsikan variable penelitian sedemikian rupa sehingga
variable tersebut bersifat Spesifik (tidak dapat diinterpretasikan lagi) dan Terukur (dapat
diamati atau diukur)(Setyawan, 2021)

No Variable Defenisi Alat Ukur Cara Skala Hasil


Operasional Ukur Ukur Ukur
1 Variable Kemampuan Kuesioner dari Mengisi ordinal 15-20 =
independen: untuk Sucitawati(2021) kuesioner Baik
Pengetahuan mengetahui sebanyak 8-14 =
tentang ulkus sejauh mana Kuesioner dari Cukup
kaki diabetik pemahaman Sucitawati 0-7 =
seseorang (2021) sebanyak Buruk
tentang 20 pertanyaan
ulkus kaki
diabetik Pertanyaan
positif
Benar=1
Salah=0
Pertanyaan
negatif
Benar=0
Salah=1

2 Variable Komplikasi Kuesioner dari Mengisi Ordinal 31-44 =


Dependen: kronik dari Safitri (2021) kuesioner Baik
Perilaku diabetes sebanyak 11 16-30 =
perawatan kaki melitus yang pertanyaan Cukup
ditandai 1-15 =
dengan Selalu = 4 Buruk
adanya luka Sering = 3
terbuka di Kadang-kadang=2
permukaan Tidak pernah=1
kulit yang
disertai
dengan
kematian
jaringan

III.5 Jenis dan Cara Pengumpulan Data


III.5.1 Jenis Data
1. Data Primer
Data yang diperoleh langsung dari objek data disebut data primer. Ini biasanya
digunakan dalam penelitian. Contohnya adalah kepuasan masyarakat terhadap
harga pangan, berat badan, dan tinggi badan bayi (Hidayati, 2019) dalam (Ph.D.
Ummul Aiman et al., 2022).Data primer dalam penelitian ini berupa kuesioner
responden.
2. Data Sekunder
Data yang diperoleh dari sumber lain, seperti organisasi, lembaga, badan, dan
institusi, disebut data sekunder dan dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan
data. Sebagai contoh, survei kehidupan keluarga Indonesia (IFLS), survei
penggunaan tembakau remaja (GYTS), dewasa (GATS), survei mahasiswa
kesehatan (GHPSS), survei tentang penggunaan tembakau pada remaja (GYTS),
dan survei demografi dan kesehatan (DHS)(Ph.D. Ummul Aiman et al.,
2022).Data sekunder dalam penelitian ini berupa rekam medis pasien.

III.5.2 Cara Pengumpulan Data


III.5.2.1 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan peneliti agar kegiatan,
pengumpulan data lebih mudah dan hasilnya lebih baik.(H. Rifa’i, 2021).Instrumen
yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.

III.5.2.2 Uji Validitas dan Reliabilitas


a) Uji Validitas
Nilai uji validitas yang didapatkan pada instrumen penelitian ini pada variabel
pengetahuan dinyatakan valid karena r hitung setiap item pertanyaan lebih besar
dari r tabel = 0,444 (Sucitawati, 2021). Pada variebel perilaku perawatan kaki
dinyatakan valid karena r hitung setiap item pertanyaan lebih besar dari r tabel =
0,301 (Safitri, 2021).
b) Reliabilitas
Reliabilitas adalah alat pengumpul data yang cukup dapat dipercaya karena
kualitasnya. Instrumen yang baik tidak memiliki sifat tendensius yang
mendorong responden untuk memilih jawaban tertentu.(H. Rifa’i, 2021). Untuk
mengetahui reliabilitas kuesioner dapat dilihat nilai alpha cronbach >0,60. Nilai
uji reliabilitas yang didapatkan pada instrumen penelitian ini pada variabel
pengetahuan sebesar 0,949 (Sucitawati, 2021), dan pada variebel perilaku
perawatan kaki sebesar 0,786 (Safitri, 2021).

III.5.2.3 Prosedur Pengumpulan Data


III.6 Tahapan Pengolahan Data
Pengolahan data adalah suatu proses untuk memperoleh data ringkasan atau angka
ringkasan atau angka ringkasan dengan menggunakan cara-cara atau rumus-rumus
tertentu.(Lastari et al., 2023)

1. Editing
Editing adalah pengecekan atau pengoreksian data yang telah terkumpul yang
bertujuan untuk mengganti jika terdapat kesalahan yang ada di pencatatan
dilapangan dan bersifat [Link] semua data sudah dikumpulkan, peneliti
akan memeriksa ulang datanya apakah sudah terkumpul dengan baik dan siap
untuk dianalisis [Link] yang baik bisa meningkatkan kualitas data
yang akan diolah dan dianalisis.
2. Coding
Coding adalah pemberian kode-kode pada setiap data yang kategorinya
[Link] adalah isyarat yang berbentuk angka atau huruf yang berguna untuk
memberikan petunjuk atau identitas pada suatu informasi atau data yang akan
[Link] perbedaan dalam pembuatan kode pada pertanyaan tertutup dan
terbuka.
3. Data entry
Merupakan tindakan memproses data dengan cara memasukkan data yang ada di
kuesioner ke paket program computer,pada penelitian ini entri data
menggunakan SPSS.
4. Tabulasi
Tabulasi adalah pembuatan table-tabel yang telah diberi data yang telah diberi
kode sesuai dengan analisis yang dibutuhkan .Dalam melakukan tabulasi
diperlukan ketelitian agar tidak terjadi [Link] instrument diberi kode,
hasilnya ditransfer dalam bentuk yang lebih ringkas dan mudah [Link]
kode secara sistematis agar memudahkan pengamatan dan memperoleh gambar
analisisnya.
5. Cleaning
Cleaning atau pembersihan merupakan kegiatan pemeriksaan Kembali data yang
telah dimasukkan ke dalam computer untuk mengetahui adanya kesalahan kode
dan melakukan koreksi(Lastari et al., 2023).

III.7 Analisis Data


III.7.1 Analisis Univariat
Analisis univariat adalah analisis data yang menganalisis satu variabel secara mandiri,
artinya tiap variabel dianalisis sendiri tanpa mempertimbangkan variable lain. Analisis
univariat biasa juga dikenal sebagai analisis deskriptif atau statistik deskriptif. Tujuan
analisis ini adalah untuk menjelaskan kondisi fenomena yang dikaji. Analisis data
univariat adalah yang paling dasar. Hampir selalu dapat ditampilkan dalam bentuk
angka atau telah diproses menjadi prosentase, persentase, atau prevalensi. Perhitungan
untuk mean, median, kuartil, desil persentil, dan modus adalah bagian dari pengukuran
tendensi sentral. Hitungan rentang, deviasi rata-rata, variansi, standar deviasi, dan
koefisien variansi adalah semua ukuran dispersi. Data dapat disajikan dalam bentuk
cerita, tabel, grafik, diagram, atau gambar. Model kurva yang membentuk data sangat
terkait dengan kemiringan data (Akbar et al., 2024). Pada penelitian ini analisis
univariat digunakan untuk menggambarkan varibel independen yaitu pengetahuan dan
variable dependen yaitu perilaku perawatan kaki dan variabel dependen yaitu kejadian
ulkus kaki diabetik

III.7.2 Analisi Bivariat


Analisis bivariat dalam penelitian melibatkan lebih dari dua variabel untuk memahami
hubungan antara mereka (Jaya, 2020).

III.8 Etika Penelitian


Peneliti harus memahami hak dasar manusia, dikarenakan yang menjadi subjek pelitian
adalah [Link] memiliki kebiasaan dalam menentukan dirinya, sehingga
penelitian yang akan dilaksanakan benar-benar menjunjung tinggi kebebasan
[Link] terdapat 4 prinsip utama dalam etik penelitian keperawatan:

1. Menghormati harkat dan martabat manusia


Penelitian harus dilaksanakan dengan menjunjung tinggi harkat dan martabat
[Link] memiliki hak asasi dan kebebasan untuk menentukan pilihan
ikut atau menolak penelitian.
2. Menghormati privasi dan kerahasiaan subjek
Manusia subjek penelitian memiliki privasi dan hak asasi untuk mendapatkan
kerahasiaan [Link] tidak dapat dipungkiri bahwa penelitian
menyebabkan terbukanya informasi tentang [Link] peneliti perlu
merahasiakan berbagai informasi yang menyangkut privasi subjek yang tidak
ingin identitas dan segala informasi tentang dirinya diketahui oleh orang lain.
3. Menghormati keadilan dan inklusivitas
Prinsip keterbukaan dalam penelitian mengandung makna bahwa penelitian
dilakukan secara jujur, tepat, cermat, hati-hati- dan

III.9 Jadwal Penelitian


?
Adnyana, I. M. D. M. (2021). Populasi dan Sampel. Metode Penelitian Pendekatan Kuantitatif,
14(1), 103–116.
Alfaqih, M. R., Anugerah, A., & Bayu, akbar K. (2022). Manajemen Penatalaksanaan Diabetes
Melitus. Guepedia.
[Link]
ut1YEAAAQBAJ?hl=id
Anjarwati, S., Risdwiyanto, A., Deni, A., Hendrawan, L., Melati, Lusono, K. A., Flora, H. S.,
Christian, F., Lubis, D. S. W., & Iryanto, M. (2024). Metodologi Penelitian Kuantitatif. CV
Rey Media Grafika.
Anugerah, A. (2020). Buku Ajar: Diabetes dan Komplikasinya. Guepedia.
[Link]
id=2dZMEAAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=Etiologi+diabetes+mellitus&hl=id&newbks
=1&newbks_redir=0&source=gb_mobile_search&sa=X&redir_esc=y#v=onepage&q=Etiol
ogi diabetes mellitus&f=false
Budiman, R. A., Nasir, P., Putra, F. M., & Rajab, R. (2024). Faktor Risiko Terjadinya Ulkus
Diabetik di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Makassar Tahun 2020-2022. Jurnal
Pendidikan Tambusai, 8(1), 10970–10975.
[Link]
Dharmawati, A. P. (2019). Gambaran Perilaku Perawatan Kaki Pada Pasien Diabetes Melitus
Tipe 2 Di RS Tingkat III Baladhika Husada Jember. Digital Repository Universitas Jember.
Dilassamola, D. (2024). Buku Ajar Patofisologi edisi 2 (N. Duniawati (ed.)). Penerbit Adab.
[Link]
guQKEQAAQBAJ?hl=id
Esat, L. P., & Kusumawati, N. (2024). Sehat : Jurnal Kesehatan Terpadu Asuhan Keperawatan
Keluarga Ny. E Dengan Diabetes Melitus Tipe 2 Di Wilayah Kerja Puskesmas Umban Sari
Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru. Jurnal Kesehatan Terpadu, 3(1), 2774–5848.
Fakhriatul, F. (2023). Buku SAK DM. December, 1–86.
Ferawati, Rahayu, Y. I., & Ika, R. S. (2020). Hidup Sehat dan Bahagia Dengan DIABETES (Kenali,
Cegah dan Obati). GUEPEDIA.
[Link]
/kshLEAAAQBAJ?hl=id&gl=ID
Fetia, M. (2024). PERAWATAN KAKI PADA PASIEN DM TIPE 2 DI RSUD PERAWATAN KAKI PADA
PASIEN DM TIPE 2 DI RSUD.
Firmansyah, D., & Dede. (2022). Teknik Pengambilan Sampel Umum dalam Metodologi
Penelitian: Literature Review. Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH), 1(2), 85–114.
[Link]
Gani, A. (2015). Metodologi Penelitian: Metodologi penelitian Skripsi. In Rake Sarasin (Issue
September).
Gunawan, S., & Rahmawati, R. (2021). Hubungan Usia, Jenis Kelamin dan Hipertensi dengan
Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 di Puskesmas Tugu Kecamatan Cimanggis Kota Depok
Tahun 2019. ARKESMAS (Arsip Kesehatan Masyarakat), 6(1), 15–22.
[Link]
H. Rifa’i, A. (2021). Pengantar Metodologi Penelitian. In Antasari Press.
Hamka, Indrayana, T., Hapisah, Jon, W. T., Iyam, M., Dwi, Y. R., Ni, K. C., Mailisna, Ida, O. S.,
Yan, D., Ahyana, Suratno, K., Novi, A., Ida, D., Sumbara, Ni, L. J. D., & Fitriani, A. (2024).
Bunga Rampai Keperawatan Medikal Bedah 3 (Rahmawati (ed.)). PT MEDIA PUSTAKA
INDO. [Link]
id=CegTEQAAQBAJ&pg=PA182&dq=perawatan+kaki+ulkus+diabetik&hl=id&newbks=1&n
ewbks_redir=0&source=gb_mobile_search&sa=X&ved=2ahUKEwiCxbGopeCIAxVs8zgGHZ
q9AIc4HhDrAXoECAgQBQ#v=onepage&q=perawatan kaki ulkus diabetik&f=false
Ibrahim, A. (2023). Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis Islam (Q. Aini (ed.); Cetakan Pe).
IDF. (2019). IDF DIABETES ATLAS Ninth edition (Ninth). [Link]
6736(55)92135-8
IDF. (2021). IDF Diabetes Atlas 10TH edition (10TH ed.).
[Link]
Jaya, I. M. L. M. J. (2020). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Teori, Penerapan, dan
Riset Nyata. Anak Hebat Indonesia.
Kaily, A. (2019). Seni Membaca Isi Hati, Pikiran, dan Perasaan Orang Lain Lewat Ekspresi
Wajah, Nada Bicara, Tatapan Mata dan Tingkah Laku. Araska Publisher.
[Link]
UA26EAAAQBAJ?hl=id
Kemenkes RI. (2019). Buku Pintar Kader Posbindu. Buku Pintar Kader Posbindu, 1–65.
[Link]
Buku_Pintar_Kader_POSBINDU.pdf
Kemenkes RI. (2022). Mengeanl Penyakit Hiperglikemia.
[Link]
Lastari, R. F., Sari, S. M., & Lita. (2023). MODUL AJAR MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN
(R. F. Lastari (ed.)). Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Kesehatan Universitas
Hang Tuah Pekanbaru.
Lestari, Zulkarnain, Sijid, & Aisyah, S. (2021). Diabetes Melitus: Review Etiologi, Patofisiologi,
Gejala, Penyebab, Cara Pemeriksaan, Cara Pengobatan dan Cara Pencegahan. UIN
Alauddin Makassar, 1(2), 237–241. [Link]
Linawati, N. N., Hadisaputro, S., & Mardiyono. (2021). Alternatif Layanan Komplementer
Pemberian Saponin Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Puasa dan 2 Jam
Postprandial Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II.
Marasabessy, N. B., Nasela, S. J., & La, S. A. (2020). Pencegahan Penyakit Diabetes Melitus
(DM) tipe 2. Penerbit NEM.
[Link]
DM/z3cREAAAQBAJ?hl=id
Mcdermott, M. T., & Trujillo, J. M. (2020). DIABETES MELLITUS : CLASSIFICATION , ETIOLOGY ,
AND PATHOGENESIS. In Diabetes Secrets (Vol. 2). INC. [Link]
323-79262-2.00001-9
Mugiyanto E, Fajriyah NN, I. L. (2022). Manajemen ulkus diabetikum sebuah kajian.
Muhammad Hafizh Izuddin Alzamani, L., Rianta Yolanda Marbun, M., Eka Purwanti, M.,
Salsabilla, R., & Rahmah, S. (2022). Ulkus Kronis: Mengenali Ulkus Dekubitus dan Ulkus
Diabetikum. Jurnal Syntax Fusion, 2(02), 272–286.
[Link]
Nusdin. (2022). KENALI ULKUS DIABETIK, PENYEBAB DAN MANAJEMEN PENATALAKSANAANYA.
RIZMEDIA PUSTAKA INDONESIA.
[Link]
NAJ/zLCqEAAAQBAJ?hl=id
Oktorina, R., Wahyuni, A., & Harahap, E. Y. (2019). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan
Perilaku Pencegahan Ulkus Diabetikum Pada Penderita Diabetes Mellitus. REAL in
Nursing Journal, 2(3), 108. [Link]
Perkeni. (2021). Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia
2021. PB. PERKENI.
Ph.D. Ummul Aiman, S. P. D. K. A. S. H. M. A. Ciq. M. J. M. P., Suryadin Hasda, M. P. Z. F., [Link].
Masita, M. P. I. N. T. S. K., & [Link]. Meilida Eka Sari, M. P. M. K. N. A. (2022). Metodologi
Penelitian Kuantitatif. In Yayasan Penerbit Muhammad Zaini.
Putu, N., Dharmayanti, D., Darmini, A. A. A. Y., Wayan, N., Dharmapatni, K., Studi, P.,
Keperawatan, S., Kesehatan, F., Teknologi, I., & Bali, K. (2024). JAI: Jurnal Abdimas ITEKES
Bali Institut Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali TINGKAT PENGETAHUAN PENDERITA
DIABETES MELITUS TENTANG PENCEGAHAN ULKUS DIABETIK MELALUI PENYULUHAN
(Level Of Knowledge Of Diabetes Mellitus Patients About The Prevention Of Di. 3(2), 70–
74. [Link]
Rahmawati, I. (2022). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Ulkus Kaki Diabetik Pada
Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2. Jurnal Keperawatan Dan Kesehatan Masyarakat
Cendekia Utama, 11(2), 117. [Link]
Rashid, F. (2022). Buku Metode penelitian Fathor Rasyid.
Rosyid, F. N., Supratman, S., Kristinawati, B., & Kurnia, D. A. (2020). Kadar Glukosa Darah Puasa
dan Dihubungkan dengan Kualitas Hidup pada Pasien Ulkus Kaki Diabetik. Jurnal
Keperawatan Silampari, 3(2), 500–509. [Link]
Sahir, S. H. (2022). METODOLOGI PENELITIAN.
Sari, D. P., & Nurbaya, F. (2023). FAKTOR PENYEBAB PERNIKAHAN DINI PADA REMAJA PUTRI
DAN UPAYA PENCEGAHANNYA. PT Arr Rad Pratama.
Setyawan, D. A. (2021). Hipotesis Dan Variabel Penelitian. In Tahta Media Group.
Silviani, I., & Sibarani, J. P. (2023). KOMUNIKASI KESEHATAN PADA PASIEN DIANETES MELITUS
TIPE 2. SCOPINDO MEDIA PUSTAKA. [Link]
id=AvLMEAAAQBAJ&pg=PA30&dq=tipe+diabetes&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&so
urce=gb_mobile_search&ovdme=1&sa=X&ved=2ahUKEwio1Kj3vqeIAxWUyTgGHQ6vJnQ4
ChDoAXoECAUQAw#v=onepage&q=tipe diabetes&f=false
Simatupang, R. (2020). Pedoman DIet Penderita Diabetes Melitus (A. Rahman (ed.)). Yayasan
Pendidikan dan Sosial Indonesia Maju.
[Link]
[Link]?
id=HAf1DwAAQBAJ&printsec=frontcover&source=gb_mobile_entity&hl=id&newbks=1&n
ewbks_redir=0&gboemv=1&gl=ID&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false
Soelistijo, S. A., Adiwinoto, R. D., Pranoto, A., & Ardiany, D. (2022). The performance of lipid
profiles and ratios as a predictor of arterial stiffness measured by brachial-ankle pulse
wave velocity in type 2 diabetic patients. F1000Research, 11, 1–15.
[Link]
Swarjana, I. K. (2022). Konsep pengetahuan, sikap, perilaku, persepsi, stres, kecemasan, nyeri,
dukungan sosial, kepatuhan, motivasi, kepuasan, pandemi covid 19, akses layanan
kesehatan lengkap dengan konsep teori, cara mengukur variabel, dan contoh kuesioner.
Penerbit Andi.
[Link]
SEP/aPFeEAAAQBAJ?hl=id&gl=ID
Tandra, H. (2017). Segala Sesatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang Diabetes. Gramedia
Pustaka Utama. [Link]
Tandra, H. (2020). Dari Diabetes Menuju Kaki. Gramedia Pustaka Utama.
[Link]
hl=id
Tiara, P. (2019). Tangkis Diabetes dan Racun dalam Tubuh dengan MENTIMUN (S. Diana (ed.)).
Laksana. [Link]
id=1OA6EAAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=diabetes+adalah&hl=id&newbks=1&newbk
s_redir=0&source=gb_mobile_search&ovdme=1&sa=X&ved=2ahUKEwixsfTt5IWIAxVX7Tg
GHfdyBj0Q6AF6BAgJEAM#v=onepage&q=diabetes adalah&f=false
Trisnawati, Anggraini, R. B., & Nurvinanda, R. (2023). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan
Terjadinya Ulkus Diabetikum Pada Penderita Diabetes Melitus. Indonesian Journal of
Nursing and Health Sciences, 4(2), 85–94.
Utomo, A. A., R, A. A., Sayyidah, R., & Rizki, A. (2020). Faktor Risiko Diabetes Mellitus Tipe 2: A
Systematic Review. Jurnal Kajian Dan Pengembangan Kesehatan Masyarakat, 01, 44–52.
[Link]
Virgiani, B. N., Windiramadhan, A. P., & Bela, N. (2024). Knowledge Relating to The Diabetic
Ulcer Prevention Efforts in Diabetes Mellitus. HealthCare Nursing Journal, 6(1), 162–167.
[Link]
WHO. (2023). Diabetes. WHO. [Link]
Widagdo, W., & Susmadi. (2022). Efektivitas Edukasi Faktor Risiko Kaki Diabetik Terhadap
Praktik Pencegahan Luka Kaki Diabetik Pada Klien DM Tipe 2. Journal of Health and
Cardiovascular Nursing, 2(2), 81–91. [Link]
Wijaya, L., Budiyanto, A., Astuti, I., & Mustofa, . (2019). Pathogenesis, evaluation, and recent
management of diabetic foot ulcer. Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu
Kedokteran), 51(1), 82–97. [Link]
Woo, M. W. J., & Cui, J. (2023). Factors influencing foot care behaviour among patients with
diabetes: An integrative literature review. Nursing Open, 10(7), 4216–4243.
[Link]
Yuly Abdi Zainuridha, & Abdul Aziz Azhari. (2020). Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku
Pencegahan Gastritis. Medical Jurnal of Al Qodiri, 5(2), 17–24.
Yulyastuti, D. A., Maretnawati, E., & Amiruddin, F. (2021). Pencegahan dan Perawatan Ulkus
Diabetikum. In Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952.
Zakaria, R., Ikhtiyaruddin, I., & Priwahyuni, Y. (2021). Determinan Kejadian Diabetes Militus
Tipe 2 Pada Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Tiga Kota Pekanbaru. Media
Kesmas (Public Health Media), 1(3), 920–934.
[Link]

Anda mungkin juga menyukai