0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan34 halaman

Analisa Transfusi pada Perokok Berat

Proposal ini membahas analisa transfusi rutin pada pasien perokok berat di Rumah Sakit Sembiring tahun 2024. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan efek merokok terhadap kadar hemoglobin serta LDL serum. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat dan peneliti selanjutnya.

Diunggah oleh

ChuYeanZhu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan34 halaman

Analisa Transfusi pada Perokok Berat

Proposal ini membahas analisa transfusi rutin pada pasien perokok berat di Rumah Sakit Sembiring tahun 2024. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan efek merokok terhadap kadar hemoglobin serta LDL serum. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat dan peneliti selanjutnya.

Diunggah oleh

ChuYeanZhu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISA TRANSFUSI RUTIN PADA PEROKOK BERAT

DIRUMAH SAKIT SEMBIRING


DELI TUA

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh

EMARISA BR TARIGAN
2081015

PROGRAM STUDI DIPLOMA- IV TEKNOLOGI LABORATORIUM


MEDIS FAKULTAS KEDOKTERAN INSTITUT KESEHATAN
MEDISTRA LUBUK PAKAM
2024
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
karunia-Nya peneliti dapat menyelesaikan Proposal yang berjudul “Analisa
Transfusi Rutin pada Pasien Perokok Berat di Rumah Sakit Sembiring
Tahun 2024”.
Dalam penyusunan Proposal ini peneliti menyadari masih banyak
kekurangan baik isi maupun bahasanya. Untuk itu peneliti mengharapkan saran
dan kritik yang bersifat membangun. Maka pada kesempatan ini dengan
kesungguhan hati dan rasa tulus dan ikhlas peneliti ingin menyampaikan ucapan
terima kasih yang sebesar besarnya kepada :
1. Drs. Johannes Sembiring, [Link].,[Link]., selaku Ketua Yayasan Institut
Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.
2. Ns. Rahmad Gurusinga, [Link]., [Link]., selaku Rektor Institut Kesehatan
Medistra Lubuk Pakam.
3. Dr. Dr. Dedi Ardinata,[Link],AIFM.,selaku Dekan Fakultas Kedokteran Institut
Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.
4. Sa’adah Siregar, [Link].,[Link]., selaku Ketua Program Studi Teknologi
Laboratorium Medik Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.
5. [Link] Sitepu,[Link],[Link].,selaku Dosen Pembimbing yang telah
banyak meluangkan waktu untuk membimbing dan memberi arahan kepada
peneliti.
6. Seluruh Dosen dan Staf pegawai Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
yang telah banyak memberikan pengetahuan, bimbingan, dan arahan selama
mengikuti pendidikan.
7. Seluruh teman-teman seperjuangan saya mahasiswa jurusan Teknologi
Laboratorium Medik yang dari awal kita bersama hingga saat ini yang tidak
dapat saya sebutkan satu persatu.
Peneliti juga menyadari sepenuhnya bahwa proposal ini masih jauh dari kata
sempurna.
Lubuk Pakam, Februari 2024
Peneliti

i
EMARISA BR TARIGAN
2081015
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................1
1.1 Latar Belakang....................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................4
1.3 Tujuan Penelitian................................................................................4
1.3.1 Tujuan Umum.............................................................................4
1.3.2 Tujuan Khusus............................................................................4
1.4 Manfaat Penelitian..............................................................................4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...............................................................6


2.1 Meroko dan Perokok.............................................................................6
2.1.1 Defenisi Perokok.........................................................................6
2.1.2 Rokok..........................................................................................7
2.1.3 Rokok Konvensional..................................................................11
2.1.4 Klasifikasi Perokok ...................................................................12
2.2 Darah....................................................................................................12
2.2.1 Defenisi Darah...........................................................................12
2.2.2 Sel Darah Merah (Eritrosit).......................................................13
2.2.3 Indek Eritrosit............................................................................15
2.3 Lipid.....................................................................................................16
2.4 HDL.....................................................................................................16
2.4.1 Pengertian HDL.........................................................................16
2.4.2 Fungsi HDL...............................................................................16
2.4.3 Metabolisme HDL.....................................................................17
2.4.4 Faktor Penyebab Tingginya dan Rendahnya HDL....................17
2.4.5 Tinjauan Umum Pemeriksaan HDL...........................................17
2.5 LDL.....................................................................................................19
2.5.1 Pengertian LDL..........................................................................19
2.5.2 Fungsi LDL................................................................................19

ii
2.5.3 Metabolisme LDL......................................................................19
2.5.4 Faktor Penyebab Tinggi dan Rendahnya LDL...........................19
2.5.5 Tinjauan Umum Pemeriksaan LDL...........................................19
2.6 Hubungan Perokok dengan HDL dan LDL.........................................20
2.7 Kerangka Konsep.................................................................................21

BAB III METODE PENELITIAN.........................................................22


3.1 Jenis dan Desain Penelitian..................................................................22
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian................................................................22
3.2.1 Lokasi.........................................................................................22
3.2.2 Waktu.........................................................................................22
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian...........................................................22
3.3.1 Populasi Penelitian.....................................................................22
3.3.2 Sampel Penelitian.......................................................................22
3.4 Jenis dan Pengumpulan Data...............................................................23
3.4.1 Alat.............................................................................................23
3.4.2 Reagensia...................................................................................23
3.4.3 Sampel Uji.................................................................................24
. 3.4.4 Prinsip dan Prosedur Kerja HDL...............................................25
3.5 Pengolahan dan Analisa Data...............................................................27
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................28

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus cerutu atau bentuk lainnya

yang dihasilkan oleh tanaman Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica dan spesies

lainnya atau sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa

bahan tambahan (Pegawai & Sipil, 1967)

Merokok Merupakan kebiasaan pada masyarakat yang sulit dihilangkan dan

berbahaya bagi kesehatan. Pembakaran rokok menghasilkan asap rokok yang

terbagi menjadi asap rokok utama (mainstream smoke) dan asap rokok samping

(sidestream smoke). Asap rokok yang dihasilkan dari hisapan perokok aktif yang

mengandung 25% kadar bahan berbahaya, sedangkan asap rokok dari pembakaran

rokok yang terhirup oleh perokok pasif yang mengandung 75% kadar bahan

berbahaya (Nuradi & Jangga, 2020).

Rokok yang digunakan pada masyarakat umumnya terbagi atas rokok putih

(filter) dan rokok kretek (non filter). Pada pangkala rokok filter terdapat gabus

sedangkan rokok kretek tidak menggunakan gabus. Gabus berguna untuk

mengurangi kadar nikotin pada setiap hisapan. Pengguna rokok kretek lebih

banyak dibandingkan dari rokok filter. Hal ini dikarenakan harga rokok kretek

relatif murah dan mudah didapat. Di indonesia, rokok kretek lebih populer. Dari

kelas sosialnya, perokok kretek umumnya kelas menengah kebawah sedangkan

rokok putih (filter) dikonsumsi oleh kalangan masyarakat ekonomi menegah ke

atas (Nuradi & Jangga, 2020).

Perokok Menurut Wold Health Organization (WHO) di klarifikasikan

menjadi tiga kelompok berdasarkan jumlah rokok yang di hisap perhari, yaitu

1
2

seseorang yang mengkonsumsi rokok satu sampai sepuluh batang perhari disebut

perokok ringan, 11-20 batang perhari disebut perokok sedang, dan lebih dari 20

batang perhari disebut perokok berat dikutip dari (Yolanda, 2022).

Beberapa hal yang melatar belakangi seseorang untuk merokok, seperti

faktor sosial, faktor farmakologis, dan faktor psikologis. Faktor sosial merupakan

faktor eksternal yang mempengaruhi sikap seseorang untuk merokok. Umumnya

faktor sosial ini berasal dari lingkungan sekitar, seperti orang tua dan teman

sebaya. Dari tinjauan dalam rokok menimbulkan efek adiktif atau ketergantungan,

sehingga seseorang cenderung atau ketagihan untuk terus menerus merokok.

Faktor psikologis merupkan faktor Internal yang mempengaruhi seseorang

untuk merokok. Adanya krisis psikososial berupa simbolisasi diri bahwa merokok

merupakan symbol kematangan, kekuatan, dan daya tarik terhadap lawan jenis

melatar belakangi seseorang untuk merokok dikutip dari (Yuli Astuti et al., 2022).

Asap rokok mengandung sekitar 4000 senyawa kimia yang secara farmakologi

terbukti aktif, beracun, dapat menyebabkan mutasi (mutagenic), dan kanker

(carcinogenic). Tiga racun utama dalam rokok yaitu nikotin, tar dan karbon

monoksida (Pegawai & Sipil, 1967).

Hemoglobin adalah suatu protein tetrametik dalam eritrosit yang berikatan

dengan oksigen serta bertugas dalam melepaskan oksigen tersebut kedalam

jaringan. Selain itu, hemoglobin juga nantinya akan berkaitan dengan

karbondioksida untuk mengembalikannya ke paru (Rayani Bangun et al., 2023).

Karbon monoksida (CO) yang terkadung dalam rokok memiliki afinitas

yang besar terhadap hemoglobin sekitar 210-300 kali lebih besar dibandingkan

dengan afinitas terhadap oksigen, sehingga memudahkan keduanya untuk saling


3

berikatan membentuk karboksihemoglobin, suatu bentuk inaktif dari hemoglobin.

Hal ini mengakibatkan hemoglobin tidak dapat mengikat oksigen untuk

dilepaskan ke berbagai jaringan sehingga menimbulkan terjadinya hipoksia

jaringan. Tubuh manusia akan berusahan mengkompensasi penurunan kadar

oksigen dengan cara meningkatkan kadar hemoglobin (Nuradi & Jangga, 2020).

Fakta mengatakan bahwa perokok bernafas pada 250 ml CO dari setiap

bungkus rokok. CO mengurangi kemampuan eritrosit untuk membawa oksigen

dan tubuh mengkompensasi hal ini juga dengan memproduksi lebih banyak

eritrosit yang dapat menyebabkan polisitemia. Polistemia adalah suatu keadaan

dimana terjadi peningkatan jumlah sel darah merah akibat pembentukan sel darah

merah yang berlebihan oleh sumsum tulang. (Yuli Astuti et al., 2022)

Kandung nikotin dalam rokok yang dapat merusak dinding pembuluh darah,

sangat memudahkan LDL untuk melekat, sehingga perlahan-lahan terjadi

penumpakan dan membentuk plak pada dinding pembuluh darah. Tumpukan LDL

yang mengendap pada dinging-dinding pembuluh darah dapat meyebabkan

rongga pembuluh darah menyempit dan terjadi pengerasan pada pembuluh darah

ateri. Proses ini disebut dengan ateroksklerosis, singga kadar LDL kolesterol di

dalam darah akan mengingkat (Pratiwi & Hustinawati, 2020).

Hasil penelitian pada pasien di rumah sakit sembiring berdasarkan rutinitas

transfusi darah sebanyak 31 orang dengan presentase kadar LDL responden

181,48 mg/dl. Namun pada uji statistik, menunjukan tidak terdapat hubungan

bermakna antara kebiasaan merokok terhadap kadar LDL serum (p= 0.076).

Terdapat perbedanan bermakna antar kelompok pada varibeal lama kebiasaan


4

merokok (p=0.037)), jumlah rokok yang dihisap setiap hari (p= 0.003), dan jenis

rokok yang digunakan (p=0.044) dari penelitian (Wibowo et al., 2017).

Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik melakukan penelitian

analisa transfusi rutin pada perokok berat di Rumah Sakit Sembiring Tahun 2024?

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas makan yang menjadi rumusan masalah

adalah Analisa kadar hemoglobin saat transfusi darah pada pasien perokok berat?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk Menganalisis dan Mendeskripsikan berdasarkan transfusi runtin

perokok berat?

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mendeskripsikan karakteristik responden yang melakukan

transfusi runtin di Rumah Sakit Sembiring Tahun 2024

2. Untuk Mendeskripsikan efek dari pasien perokok ringan terhadap

perokok sedang di Rumah Sakit Sembiring Tahun 2024

3. Untuk mendeskripsikan efek dari pasien perokok sedang terhadap

perokok berat di Rumah Sakit Sembiring Tahun 2024

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini bisa menambah wawasan dan pengalaman bagi peneliti

selanjutnya dalam menerapkan ilmu yang diperoleh dalam perkuliahan.


5

1.4.2 Bagi Masyarakat

Dapat memberikan informasi dan pengetahuan kepada masyarakat tentang

perokok aktif dengan kadar ataupun gejala yang di timbulkan akibat dari

merokok.

1.4.3 Bagi Penulis

Menambah wawasan baru bagi mahasiswa untuk memberikan informasi

terkait menganalisis efek dari merokok dari pasien peokok berat berdasarkan

transfusi rutin.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Merokok dan Perokok

2.1.1 Defenisi Perokok

Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang lazim di temui dalam

kehidupan sehari – hari. Di mana mudah menemui orang merokok, laki –

laki,wanita, anak kecil, tua renta, kaya miskin, tidak ada terkecuali. Merokok

merupakan bagian hidup masyarakat. Berdasarkan data World Health

Organization (WHO) memperkirakan bahwa pada periode dekade 2020-2030

rokok akan menyebabkan 10 juta kematian per tahun, dengan 70% persentasinya

terjadi pada negara-negara berkembang (WHO., 2018). Negara Indonesia

termasuk negara berkembang. Indonesia berada di peringkat ketiga sebagai negara

dengan jumlah perokok paling tinggi. Prevalensinya mencapai 33,8 persen atau

sekitar 65,7 juta penduduk Indonesia adalah perokok (Kemenkes RI, 2020).

Memberikan dampak buruk terhadap kesehatan karena dapat meningkatkan

risiko penyakit kardiovaskular, penyakit respirasi, kanker, dan masalah kesehatan

lainnya. Diketahui terdapat lebih dari 3000 zat berbahaya serta bahan karsinogen

terkandung didalam rokok. Zat kimia yang paling besar dan berbahaya yang

terkandung di dalam rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida. Nikotin

dalam rokok dapat menekan selera makan sehingga memicu perubahan perilaku

yang mendorong perokok untuk mengurangi porsi makan dan membuat seseorang

menjadi ketagihan untuk bisa selalu merokok. Merokok berarti membakar

tembakau dan daun tar, kemudian menghisap asap yang dihasilkannya. Tar dan

6
7

radikal bebas dalam asap rokok dapat menyebabkan kerusakan sumsum tulang

sehingga memicu beberapa penyakit (Alhogbi et al., 2018).

WHO menglasifikasikan perokok atas tiga kategori menurut jumlah rokok

yang dikonsumsi tiap harinya, yaitu ringan (1-10 batang ), sedang (11-19 batang )

dan berat (lebih dari sama dengan 20 batang). Perokok Aktif sendiri adalah

mereka yang merokok minimal 2 tahun tanpa henti selama hidupnya. Perokok

dibedakan menjadi dua golongan yaitu :

1. Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang 70 hingga 20 mm

(bervariasi) dengan diameter sekitar 10 Perokok Aktif Perokok aktif adalah

orang yang dengan sengaja membakar tembakau yang telah diolah menjadi

rokok dengan atau tanpa bahan tambahan serta menghirup asap yang

ditimbulkan dari pembakaran rokok tersebut.

2. Perokok Pasif

Perokok pasif adalah orang yang bukan perokok namun terpaksa menghisap

atau menghirup asap rokok yang dikeluarkan oleh perokok aktif (Depkes,

2010).

2.1.2 Rokok

Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang 70 hingga 20 mm

(bervariasi) dengan diameter sekitar 10 mm. Di dalamnya berisi daun – daun

tembakau yang telah di cacah. Untuk menikmatinya salah satu ujung rokok

dibakar dan di biarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada

ujung lainnya (Yolanda, 2022).


8

A. Kandungan Dalam Rokok

Seperti yang telah banyak diketahui bahwa di dalam rokok sangat banyak

memiliki kandungan bahan kimia. Bahan-bahan kimia penyusun rokok tersebut

sangat berbahaya bagi kesehatan atau bersifat toksik, bahkan ada beberapa di

antaranya yang bersifat karsinogenik. Bahan kimia yang ada di dalam rokok

antara lain adalah Ammoniak (pembersih lantai), Arsenik (racun tikus), Aceton

(peluntur cat kuku), Asam sulfurik (bahan pupuk atau peledak), Butana (bahan

bakar korek api), Metanol (bahan bakar roket), Naptalen (kapur barus), Polonium

(unsur radioaktif), Toluna (pelarut industri), Vinil klorida (bahan plastik pvc),

DDT (insektisida terlarang) dan shellac pelitur kayu (Triyono et al., 2019).

Di antara sekian banyak bahan kimia yang menyusun rokok, ada beberapa

bahan kimia pokok yang menjadi penyusun dalam rokok tersebut, di antaranya

adalah :

1. Nikotin

Nikotin merupakan zat insektisida yang berbahaya. di dalam sebatang rokok

terdapat kurang lebih 8-12 mg nikotin. Penggunaan nikotin pada dosis

rendah dapat menyebabkan tekanan darah naik, sakit kepala, meningkatkan

sekresi getah lambung yang dapat menyebabkan penyakit mag, muntah-

muntah, dan diare. Sedangkan penggunaan nikotin dalam dosis yang tinggi

dapat menyebabkan keracunan, kejangkejang, kesulitan bernapas, dan

berhentinya kerja jantung. Nikotin merupakan zat kimia perangsang yang

dapat merusak kerja jantung, nikotin juga dapat menyebabkan efek

ketergantungan terhadap pemakainya (Nuradi & Jangga, 2020).


9

2. Karbon Monoksida (CO)

Karbon monoksida (CO) merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berasa,

tidak mengiritasi dan tidak berbau yang dihasilkan melalui pembakaran gas,

minyak, petrol, bahan bakar padat atau kayu (Badan POM, 2005).

3. Tar

Tar adalah sejenis cairan berwarna coklat tua atau hitam yang merupakan

substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru.

Kadar tar dalam tembakau antara 0.5-35 mg/batang. Tar merupakan suatu

zat karsinogen yang dapat menyebabkan kanker pada jalan napas dan paru-

paru. Tar merupakan bahan kimia yang menjadi penyebab noda kuning

kecoklatan pada kuku dan gigi perokok. Selain itu tar dapat membuat flek

pada paru-paru. Benzopyrene (senyawa polycyclic aromatic hydrocarbon)

adalah salah satu zat karsinogenik yang ada dalam tar (Yolanda, 2022).

Di dalam rokok tidak hanya tersusun atas bahan kimia, rokok juga tersusun

atas bahan baku atau bahan pokok. Bahan baku dalam rokok adalah :

1. Tembakau

Tembakau adalah tanaman herba sebagai bahan utama dari rokok yang

tumbuh melalui budidaya. Hampir setiap bagian dari tembakau

kecuali bijinya,mengandung nikotin. Konsentrasi nikotin meningkat

seiring bertambahnya usia tembakau. Tembakau memiliki manfaat

antara lain, yaitu : dijadikan bahan obat, mempercepat produksi

vaksin, bahan bakar ramah lingkungan.(Damayanti, 2018).


10

2. Cengkeh

Cengkeh merupakan bahan baku dari pembuatan rokok selain

[Link] memiliki nama ilmiah yaitu Syzygium

aromaticum yang dalam Bahasa Inggris dikenal dengan nama Cloves,

yang berarti bahwa tangkai bunga kering beraroma dari keluarga

pohon Mytaceae. Cengkeh adalah tanaman asli Indonesia yang banyak

digunakan sebagai bumbu masakan-masakan pedas dinegara

Eropa,dan sebagai bahan utama rokok kretek khas Indonesia (Safitri

& Syahrul, 2015).

Gambar 1. Rokok dan Komponen Penyusunnya(Novi Yuliani., 2019)

B. Dampak dari Merokok

Rokok berbahaya bagi kesehatan karena di dalam rokok banyak sekali

mengandung bahan kimia, yang akan keluar dan ikut bersama asap yang

dikeluarkan ketika proses pembakaran rokok. Jadi, ketika seseorang menghisap

asap rokok, secara tidak langsung orang tersebut telah memasukkan banyak bahan

kimia ke dalam tubuhnya melalui asap rokok yang mereka hisap. Beberapa

dampak yang disebabkan oleh rokok terhadap kesehatan adalah Mengalami Acute

Necrositing Ulcerative Gingitivis, yaitu penyakit yang menyebabkan gusi tampak


11

memerah dan bengkak. Beresiko terkena angina 20 kali lebih besar. Angina adalah

rasa sakit di dada pada saat melakukan latihan olahraga atau saat sedang makan.

Mengalami sakit punggung, Mengalami Buerger’s Disease (penyakit

peredaran darah) atau juga dikenal dengan Thromboangitis Obliterans. Beresiko 2

kali lebih besar menderita impotensi. Beresiko 16 kali mengalami Optic

Neurophaty, yaitu penurunan kemampuan penglihatan. Mengalami luka pada

ikatan sendi. Beresiko 2 kali lebih besar mengalami kemerosotan mascular yang

terjadi pada mata. Mengalami Nystagmus, yaitu gerakan mata tidak normal.

Beresiko 2 kali lebih besar terkena katarak. Terkena Ostheoporosis, yaitu

pengeroposan tulang, dimana tulang mengecil dan rapuh akibat kekurangan

kalsium. Mengalami Osthearthritis, yaitu penyakit tulang pada orang usia

pertengahan atau orang tua yang dicirikan dengan persendian yang meradang

sehingga terasa sakit dan kaku. Mengalami pheriperal vascular disease, yaitu

radang paru-paru dimana alveoli kecil pada paru-paru dipenuhi cairan. Beresiko 2

kali lebih besar mengalami Psoriasis, yaitu peradangan kulit dimana noda merah

ditutupi oleh noda putih. Mengalami Rheumatoid Arthritis, yaitu rasa sakit

menyeluruh pada bagian tangan, kaki, dan pinggul. Mengalami Tobacco

Mengalami pengeroposan tulang gigi. Mengalami stroke atau pendarahan pada

otak blyopia, yaitu gangguan penglihatan yang menjadi kurang jelas (Pratiwi &

Hustinawati, 2020).

2.1.3 Rokok Konvensional

Rokok adalah kertas silinder yang mempunyai ukuran panjang sekitar 70

hingga 120 mm (bervariasi setiap negara) berdiameter sekitar 10 mm yang berisi

daun-daun yang telah dipotong-potong dan bahan-bahan tambahan lainnya.


12

Merokok adalah seseorang yang dengan sadar memasukkan bahan racun yang

terkandung didalam rokok kedalam tubuhnya sendiri (Damayanti, 2018).

Perilaku merokok merupakan perilaku membakar salah satu produk

tembakau yang dimaksudkan untuk dihisap atau dihirup termasuk rokok kretek,

rokok putih, cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman nicotina

tabacum, nicotinarustica dan spesies lainnya atau sintetisnya yang asapnya

mengandung nikotin dan tar, dengan atau tanpa bahan tambahan (Kemenkes RI,

2020).

Perokok berdasarkan jumlah rokok yang dikonsumsi per harinya ada tiga

yaitu, perokok ringan mengkonsumsi rokok sekitar 1-10 batang perhari, perokok

sedang mengkonsumsi rokok sekitar 11-19 batang perhari, perokok berat

mengkonsumsi rokok >20 batang perhari (Amelia, R., Nasrul, E., & Basyar,

2016).

2.1.4 Klasifikasi Perokok

Rokok berdasarkan bahan baku atau isi (Plutzer, 2021):

1. Berdasarkan jenis perokok : Perokok aktif dan perokok


pasif
2. Berdasarkan jumlah rokok yang dihisap : dalam satuan batang, bungkus
Atau pak perhari
3. Berdasarkan jenis rokok yang diisap putih: kretek, cerutu, atau rokok
Pakai filter atau tidak
4. Berdasarkan cara mengisap rokok saja : menghisap dangkal, dimulut
atau isap dalam
2.2 Darah

2.2.1 Defenisi Darah


13

Darah adalah organ khusus yang berbeda dengan organ lain, karena organ

ini berbentuk cairan, darah merupakan medium transport di dalam tubuh. Volume

darah manusia sekitar 7%-10% berat badan normal dan berjumlah sekitar 5 liter di

dalam tubuh. Keadaan darah di dalam tubuh masing-masing individu tidaklah

sama, bergantung pada, usia, pekerjaan, serta keadaan jantung atau pembuluh

darah (Civilization et al., 2021b).

Tubuh manusia mengandung antara 5-6 liter (1,3 dan 1,5 galon) darah, yang

mewakili antara 7%-8% rata-rata berat tubuh. Setengah dari darah terdiri dari

cairan atau bagian cair yang disebut dengan plasma. Sedangkan, setengahnya lagi

terdiri dari sel-sel dan molekul-molekul dengan berbagai fungsi. Setetes darah

yang keluar dari luka kecil mengandung 5 juta sel darah merah, 10 ribu sel darah

putih dan 250 ribu trombosit (Ariyanto, 2019). Menurut (Friska & Junita,

2015)darah beredar dalam sistem pembuluh darah yang tertutup dan menyusun

sekitar 6%-8% berat badan. Secara keseluruhan, darah memiliki berat jenis 1,060,

viskositas 3,6-5,3, titik beku sekitar 0,55°C, dan pH sekitar 7,4.

Darah tersusun atas dua komponen yaitu:

1. Substansi pada yang volumenya sekitar 45% yang terdiri atas sel-sel

darah merah (eritrosit), sel dalah putih (leukosit) dan sel-sel pembeku

(trombosit).

2. Substansi cair yang volumenya sekitar 55% dan dikenal sebagai plasma

darah. Plasma darah 90%-92% tersusun atas air dan didalamnya terlarut

banyak senyawa-senyawa kimia.

2.2.2 Sel Darah Merah (Eritrosit)


14

Sel darah merah (eritrosit) merupakan sel yang banyak dibandingkan

dengan sel darah lainnya dengan jumlah eritrosit lebih kurang 5 juta/mm2. Salah

satu fungsinya adalah mengangkut gas oksigen (O2) kedalam semua sel dan

jaringan tubuh untuk memampukan aktvitas metabolisme di dalamnya. Eritrosit

normal terbentuk bionkaf atau seperti cakram dengan diameter sekitar 8 mikron.

Sel darah merah tidak memiliki inti sel namun memiliki central pallor (Yolanda,

2022).

Gambar 2. Sel Darah Merah (Eritrosit)

Proses pembentukan eritrosit memerlukan:

1. Sel induk : CFU-E, BFU-E, normoblast (eritroblast)

2. Bahan pembentuk eritrosit : besi, vitamin B12, asam folat, protein, dan

lain-lain.

3. Mekanisme regulasi : factor pertumbuhan hemopoetik dan horman

eritroprotein. (icha maharani putri, 2021).

Eritrosit matang merupakan suatu cakram bikonkaf dengan diameter sekitar

7 mikron. Eritrosit merupakan sel dengan struktur yang tidak lengkap. Sel ini

hanya

terdiri atas membran sitoplasma tanpa inti [Link] pembentukan eritrosit :

1. Membran eritrosit
15

2. Sistem enzim: yang terpenting dalam Embden Meyerhoff pathway,

pyruvate kinase, dalam pentose pathway, enzim G6PD (glucose 6-

phosphate dehydrogenase) .

3. Hemoglobin: berfungsi sebagai alat angkut oksigen. Komponennya terdiri

atas:

a. Heme, yang merupakan gabung protoporfin dengan besi

b. Globin: bagian protein yang terdiri atas 2 rantai alfa dan 2 rantai beta

Perubahan struktur eritrosit akan menimbulkan kelainan. Kelainan

yang timbul karena kelainan membrane disebut sebagai membranopati,

sedangkan kelainan akibat ganggu struktur hemoglobin disebut sebagai

hemoglobinopati (Ariyanto, 2019).

2.2.3 Indeks Eritrosit

Indeks eritrosi adalah Batasan untuk ukuran dan isi hemoglobin eritrosit.

Istilah lain untuk indeks eritrosit adalah indeks kospouskuler. Indeks eritrosit

terdiri atas : isi/volume atau ukuran eritrosit (mean corpuscular volume (MCV)

atau volume eritrosit rata - rata), berat (mean corpuscular hemoglobin (MCH) atau

hemoglobin eritrosit rata-rata), konsentrasi (mean corpuscular hemoglobin

concentration (MCHC) atau kadar hemoglobin eritrosit rata-rata) (Yolanda, 2022).

Mean corpuscular volume (MCV), mean corpuscular hemoglobin (MCH),

dan mean corpuscular hemoglobin concentration (MCHC) pertama kali

diperkenalkan oleh Wintrobe pada tahun 1929 untuk menentukan ukuran (MCV)

dan kadar hemoglobin (MCH, MCHC) sel darah merah. Nilai-nilai ini berguna

dalam menjelaskan etiologi anemia. Indeks eritrosit dapat ditetapkan dengan dua

metode, yaitu manual dan elektronik (automatik) menggunakan hematology


16

analyzer. Untuk dapat menghitung indeks eritrosit secara manual di perlukan nilai

hemoglobin, hematokrit, dan jumlah sel darah merah (Nuradi & Jangga, 2020).

2.3 Lipid

Lipid tidak larut dalam cairan darah. Bila harus larut agar dapat dikirim ke

seluruh tubuh, lemak dan kolesterol perlu “dikemas” bersama protein menjadi

partikel yang disebut lipoprotein. Jadi, lipoprotein dapat dimisalkan seperti

“pembawa” (carrier) lemak dan kolesterol dalam darah. Profil lemak terdiri dari

total kolesterol, LDL, HDL dan Trigliserida (Civilization et al., 2021a).

Trigliserida adalah salah satu bentuk lemak yang diserap oleh usus setelah

mengalami hidrolisis. Sisa hidrolisis kemudian dimetabolismekan oleh hepar

menjadi LDL, yang kemudian ditangkap oleh suatu reseptor khusus di jaringan

perifer itu. Kelebihan kolesterol dalam jaringan perifer akan diangkut oleh HDL

ke hepar untuk kemudian dikeluarkan melalui saluran empedu sebagai lemak

empedu (Alhogbi et al., 2018).

2.4 HDL

2.4.1 Pengertian HDL

HDL (High Density Lipoprotein) merupakan lipoprotein yang bertanggung

jawab dalam metabolisme VLDL, kilomikron, dan kolesterol. HDL pada dasarnya

adalah kebalikan dari LDL. Bukannya memiliki banyak lemak, HDL justru

memiliki banyak protein .Nilai normal HDL untuk pria adalah > 55 mg/dl,dan

untuk wanita adalah > 65 mg/dl (Alhogbi et al., 2018).

2.4.2 Fungsi HDL

HDL bertindak sebagai vacuum cleaner yang mengisap sebanyak mungkin

kolesterol berlebih yang bisa diisapnya. HDL memungut kolesterol ekstra dari sel-
17

sel dan jaringan-jaringan lalu membawanya kembali ke hati, yang mengambil

kolesterol dari partikel HDL dan menggunakannya untuk membuat cairan empedu

(Nuradi & Jangga, 2020). HDL sering disebut sebagai kolesterol baik, karena

HDL membersihkan tubuh dari kelebihan kolesterol dan dengan demikian

memperlambat proses aterosklerosis, melindungi dari penyakt jantung dan

penyakit vaskular lainnya (Alhogbi et al., 2018).

2.4.3 Metabolism HDL

Kolesterol HDL membawa kelebihan kolesterol dari dinding arteri Kembali

ke hati untuk diproses kembali atau dibuang di mana kolesterol akan dikeluarkan

dari tubuh yang keluar melalui kotoran (Nuradi & Jangga, 2020).

2.4.4 Faktor Penyebab Tingginya dan Rendahnya HDL

a. Penyebab tingginya HDL:

1. Olahraga yang teratur

2. Makanan tinggi lemak

b. Penyebab rendahnya HDL:

1. Kegemukkan

2. Merokok

3. Diet rendah lemak(Kemkes., 2020)

2.4.5 Tinjauan Umum Pemeriksaan HDL

1. Secara Kolorimetri

- Metode Lieberman-Buchard

Dasarnya adalah kolesterol dengan asam asetat anhidrat dan asam sulfat

pekat membentuk warna hijau [Link] diukur pada

spektrofotometer dengan panjang gelombang 546 [Link] dari


18

metode ini adalah perbedaan penimbunan warna antara reaksi ikatan

dari steroid selain kolesterol, interprestasi, hemoglobin, bilirubin,

iodide,salisilat, vitamin dan Vitamin D

2. Secara Enzimatik

- Metode CHOD-PAP Cholesterol Oxidase Diaminase Peroksidase

Aminoantipyrin

Dasarnya adalah kolesterol ditentukan setelah hidrolisa dan oksidase

H2O2 bereaksi dengan 4-aminoantipyrin dan phenol dengan katalisator

peroksida membentuk quinoneimine yang [Link] warna

ini sebanding dengan kolesterol dalam sampel. Kelebihannya yaitu

terjadi reaksi dengan sterol tubuh yang bukan kolesterol. Metode

pemeriksaan pada penelitian ini menggunakan CHOD-PAP dengan

prinsip kolesterol ditentukan setelah hidrolisa enzimatik dan

[Link] quinoneimine terbentuk dari hydrogen peroksida dan

4-aminotiphyrine dengan adanya phenol dan peroksidase (Wibowo et

al., 2017).

3. Secara Kromatografi

- Metode CHOD-IOD ( Cholesterol Oxidase Diaminase Iodium )

Dasarnya adalah penyabunan kolesterol teresterifikasi dengan hidrolisa

alkali,kemudian kolesterol yang tidak teresterifikasi diekstraksi dalam

media organik dan dilihat dengan standart internal. Kelebihan metode

ini cukup sensitif dan spesifik,serta sejumlah sampel yang dibutuhkan

adalah hasil yang diperoleh 3% lebih rendah disbanding dengan kadar

kolorimetri (Wibowo et al., 2017).


19

2.5 LDL

2.5.1 Pengertian LDL

LDL (Low Density Lipoprotein) merupakan katabolisme akhir dari VLDL.

LDL terbanyak tersusun atas kolesterol. Nilai normal LDL adalah : 75 – 125

mg/dl (Alhogbi et al., 2018).

2.5.2 Fungsi LDL

Kolesterol LDL mengangkut kolesterol dari hati, tempatnya diproduksi, ke

jaringan tubuh yang memerlukan. LDL merupakan transporter terbanyak di dalam

darah (Triyono et al., 2019).

2.5.3 Metabolisme LDL

Partikel LDL bertindak sebagai kapal feri, membawa kolesterol ke berbagai

bagian tubuh yang membutuhkannya kapan saja. Jika terlalu banyak LDL dalam

aliran darah, LDL akan menimbun kolesterol di dalam arteri yang bisa

menyebabkan penyumbatan dan menyebabkan serangan jantung (Nuradi &

Jangga, 2020).

2.5.4 Faktor Penyebab Tinggi dan Rendahnya LDL

a. Faktor Penyebab Tingg dan Rendahnya LDL.

1. Makan tinggi lemak

2. Merokok

3. Kegemukan

b. Penyebab rendahnya LDL

1. Diet rendah lemak (Civilization et al., 2021a).

2.5.5 Tinjauan Umum Pemeriksaan LDL


20

1. Metode Direct

Saat ini pemeriksaan LDL- Kolesterol dengan menggunakan reagen

LDL langsung merupakan metode terbaik bagi klinisi untuk

mengevaluasi pasien-pasien hiperkolesterolemia. Metode baru ini

memberikan nilai LDL-Kolesterol yang akurat secara konsisten dan

akurasinya mencapai 95%, variabilitasnya 68%, memungkinkan dokter

untuk mendiagnosis secara pasti, mengklasifikasi dan mengelola

pasien sesuai pedoman(Yolanda, 2022)

2. Metode Friedewald

Perhitungan kadar LDL-Kolesterol memakai rumus Friedewald paling

banyak digunakan dalam laboratorium klinik. Rumus ini dikemukakan

oleh Friedewald dkk pada tahun 1972 berdasarkan pada hasil

ultrasentrifugasi. LDL Kolesterol dapat dihitung dengan Formula

Friedwaid, dengan syarat bahwa kadar trigliserida serum tidak lebih

dari 400 mg/dl (Yolanda, 2022).

trigliserida
LDL Kolesterol = Kolesterol total - - HDL Kolesterol
5

2.6 Hubungan Perokok dengan HDL dan LDL

Nikotin maupun karbonmonoksida pada rokok dapat mempercepat proses

penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah. Karena adanya dipengaruhi oleh

zat berbahaya tersebut, maka dapat menurunkan kadar kolesterol baik (HDL) dan

akan meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Kadar LDL yang

tinggi berhubungan dengan peningkatan pembentukan plak pada bagian dalam

pembuluh darah. Hal ini dapat memblokir aliran darah. Jika darah tidak mengalir
21

sama sekali maka jantung tidak bisa memompa darah ke seluruh tubuh akibat

tersumbatnya arteri koroner dan akhirnya akan terjadi PJK (Alhogbi et al., 2018).

2.7 Kerangka Konsep

Variable Independent Variabel Dependent

Perokok Ringan dan


Kadar HDL dan LDL dalam
Perokok Berat
dalam darah

Gambar 3 Kerangka Konsep Sumber (Nuradi & Jangga, 2020)


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Desain Penelisian

Jenis penelitian ini adalah deskriptif dan desain analitik yang bertujuan

Untuk menganalisisa kadar HDL dan LDL transfuse rutin pasien perokok berat di

Rumah Sakit Sembiring Tahun 2024.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi

Lokasi pengambilan sampel darah diambil dari pasien yang melakukan

transfusi rutin perokok berat dirumah sakit sembiring tahun 2024.

3.2.2 Waktu

Penelitian dilaksanakan sejak bulan Maret – Agustus 2024 dimulai dari

penelusuran pustaka, pengajuan judul, penulisan proposal,

penelitian,pengumpulan data hasil laboratorium.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1 Populasi Penelitian

Populasi penelitian adalah pria dan wanita yang perokok aktif yang

melakukan transfusi rutin di rumah sakit sembiring sebanyak 24 orang.

3.3.2 Sempel Penelitian

Adapun Sampel Pada penelitian ini menggunakan Teknik Total Sampling

dimana jumlah Sampel sama dengan Populasi (Sugiyono, 2011). Alasan mengapa

menggunakan teknik total sampling adalah karena menurut Sugiyono (2011)

jumlah populasi yang kurang dari 100 seluruh populasi dijadikan sampel

penelitian semuanya.

22
23

3.4 Jenis dan Pengumpulan Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang

diperoleh dari pemeriksaan sampel di Laboratorium Institut Medistra Lubuk

Pakam

3.4.1 Alat

Alat yang digunakan terdiri dari : spuit 3 ml, touriquet/tali pengebat, tabung

vakum, cuvet, centrifuge, alkohol swab, plesterin, kasa kering dan

spektrofotometer (Pratiwi & Hustinawati, 2020).

3.4.2 Reagensia

- HDL
Reagen 1 (buffer) :
Buffer fosfat : 100mmol/L
Kloro-4 – fenol : 5mmol/L
Sodium kotat : 2.3mmol/L
Triton X 100 : 1.5mmol/L
Reagen 2 (Enzim) :
Kolesterol oksidase : >100U/L

Kolesterol esterase :>170 U/L

Peroksidase :>1200 U/L

4- Amino antipirin : 0.25 mmol/L

- LDL
Reagen 1
Buffer MES (ph6,3)
Detergen 1 <1.0%
Kolestrol esterase <1.500U/L
Kolesterol oksidase <1.500U/L
Peroksidase <1.300 ppg U/L
4-aminoantipirina <0.01%
24

Asam askorbat oksidase <3.000 U/L


Pengawet
Reagen 2
Bufer MES (ph 6,3)
Detergen 2 <1.0%
N,N-bis (4-sulfobutil)-m-toluidina, dinatrium <1.0 mmol/L
(DSBmT)
Pengawet
3.4.3 Sampel Uji

a. Pengambilan Sampel

Sampel yang digunakan adalah serum darah puasa. Sebelum pengambilan

darah, pasien harus puasa terlebih dahulu selama 10 jam. Teknik

pengambilan sampel :

1. Atur posisi pasien, pasang tourniquet dan minta pasien untuk

mengepalkan tangannya.

2. Pilih vena, buka tahanan tourniquet, minta pasien untuk membuka

kepalan tangannya.

3. Lepaskan tourniquet. Desinfektan daerah situs.

4. Ulangi pemasangan tourniquet, siapkan spuit.

5. Tusuk daerah yang ditentukan dengan jarum menghadap ke atas dan

dengan sudut 15o-30o.

6. Isap darah dengan menarik plunger, dan ketika darah telah mengalir ke

dalam spuit, lepaskan tourniquet, dan minta pasien untuk membuka

kepalan tangan.

7. Setelah volume darah dianggap cukup, tutup situs dengan kasa kering,

tarik jarum keluar dan tekan atau minta pasien untuk menekan.
25

8. Lepaskan kasa tersebut lalu terapkan plester di bekas tusukan.

Masukkan darah di dalam spuit tersebut ke dalam tabung Lalu buang

jarum ke dalam kontainer benda tajam dan beri indentitas pada tabung

yang telah berisi darah (Sulistini et al., 2012)

b. Cara Memperoleh Serum

Cara memperoleh serum adalah sebagai berikut:

1. Masukkan darah ke dalam tabung melalui dinding tabung.


2. Biarkan darah hingga beku.
3. Pisahkan serum dari bekuan darah
4. Serum siap digunakan (Sulistini et al., 2012).

3.4.4 Prinsip dan Prosedur Kerja

a. Prinsip dan Prosedur Kerja HDL

Kilomikron, VLDL dan LDL diendapkan oleh penambahan asam

fosfotungstic dan magnesium klorida. Setelah sentrifugasi cairan supernatant

mengandung fraksi HDL, yang diasumsikan untuk HDL Kolesterol dengan kit tes

Kolesterol. Nilai normal HDL untuk pria adalah > 55 mg/dl,dan untuk wanita

adalah > 65 mg/dl (Ariyanto, 2019).

Prosedur Kerja:

1. Siapkan 1 tabung untuk presipitasi sampel dan presipitas reagen

2. Pipet dalam tabung seperti berikut:

Tabel 1 Prosedur Kerja Presipitat HDL

Semi Mikro
Sampel 200 µl
Reagen 500 µl
26

3. Homogenkan, biarkan 10 menit pada suhu kamar, lalu sentrifuge pada

kecepatn 4000 rpm selama 5 menit

4. Setelah itu pisahkan supernatant dari presipitat dalam waktu 1 jam

5. Siapkan 3 tabung, lalu lakukan penentuan HDL menggunakan reagen

kolesterol, sebagai berikut :

Tabel 2 Tabel Prosedur Kerja HDL

Blanko Standar Sampel


Reagen 1000 µl 1000 µl 1000 µl
Standart - 100 µl -
Sampel - - 100 µl

6. Homogenkan,inkubasi pada suhu kamar selama 10 menit

7. Baca hasil pada fotometer dengan Panjang gelombang 560nm. Warna

stabil pada 1 jam (Alhogbi et al., 2018)

b. Prinsip dan Prosedur Kerja LDL

LDL diperiksa dengan Metode Direct. Metode ini menggunakan dua-reagen

dan bergantung pada sifat-sifat spesifik detergen. Detergen ini, R1 hanya

melarutkan partikel-partikel non-LDL. Kolesterol dilepaskan kemudian diuraikan

oleh kolesterol esterase dan kolesterol oksidase dalam reaksi tanpa pembentukan

warna. Detergen kedua, R2, melarutkan partikel-partikel LDL yang tersisa dan

memungkinkan untuk pembentukan warna. Reaksi enzim LDL pada coupler akan

menghasilakn warna proporsional degan jumlah kolesterol LDL yang ada pada

sampel. Nilai normal LDL adalah : 75 – 125 mg/dl (Alhogbi et al., 2018).

Prosedur Kerja:

1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam melakukan pemeriksaan.


27

2. Homogenkan dan inkubasi selama 10 menit pada suhu kamar atau 5

menit pada suhu 37oC.

3. Baca absorbansi pada sampel dan standar pada 500 nm terhadap

reagensia blanko.

4. Lakukan perhitungan dengan rumus Friedwaid berikut:\

trigliserida
LDL Kolesterol = Kolesterol total - - HDL Kolesterol
5

(Ariyanto, 2019).

3.5 Pengolahan dan Analisa Data

Sesuai dengan jenis penelitian, maka analisa terdapat data yang terkumpul

akan dilakukan secara deskriptif yang disertai dengan tabel dan pembahasan serta

diambil kesimpulan mengenai tinggi rendahnya kadar HDL dan LDL pada

perokok aktif dengan cara :

1. Editing data adalah memeriksa kelengkapan jawaban responden dengan

memeriksa data dan jawaban. Jika terdapat jawaban tidak terisi secara

penuh maka peneliti tidak akan memasukkan dalam penelitian.

2. Tabulasi data adalah peneliti mengolah data yang telah diberi

skor,kemudian dijumlahkan, disusun, dan dimasukkan kedalam bentuk

tabel,selanjutnya data tersebut dianalisis.

3. Dibahas dengan membandingkan dengan buku dan hasil jurnal penelitian

yang sesuai (Wibowo et al., 2017).


DAFTAR PUSTAKA

Alhogbi, B. G., Arbogast, M., Labrecque, M. F., Pulcini, E., Santos, M., Gurgel,
H., Laques, A., Silveira, B. D., De Siqueira, R. V., Simenel, R.,
Michon, G., Auclair, L., Thomas, Y. Y., Romagny, B., Guyon, M.,
Sante, E. T., Merle, I., Duault-Atlani, L., Anthropologie, U. N. E., …
Du, Q. (2018). ANALISA KADAR HDL DAN LDL PADA
PEROKOK AKTIF DI WARUNG KOPI JL BAHAGIA PADANG
BULAN MEDAN TAHUN 2018. Gender and Development, 120(1), 0–
22. [Link]
affective_economies_0.pdf%0A[Link]
[Link]%0A[Link]
[Link]/[Link]?ID_ARTICLE=CEA_202_0563%5Cnhttp://
[Link].

Amelia, R., Nasrul, E., & Basyar, M. (2016). Hubungan Derajat Merokok
Berdasarkan Indeks Brinkman dengan Kadar Hemoglobin. Jurnal
Kesehatan Andalas, 5(3), 622–623.

Ariyanto, A. (2019). Analisis Kapasitas Vital Paru, Kadar Hemoglobin, dan


Saturasi Oksigen Perkokok Konvensional dan Perokok Elektrik pada
Warga Desa Srobyong Kecamatan Mlongo Kabupaten Jepara.
Universitas Negeri Semarang, 1–146.
[Link] TESIS [Link]

Badan POM. (2005). Keracunan Yang Disebabkan Gas Karbon Monoksida.

Civilization, I., TEMA 19, & Domenico, E. (2021a). GAMBARAN KADAR LDL
(Low Density Lipoprotein) PADA PEROKOK AKTIF SYSTEMATIC
REVIEW. 6.

Civilization, I., TEMA 19, & Domenico, E. (2021b). HUBUNGAN LAMA DAN
FREKUENSI MEROKOK TERHADAP JUMLAH TROMBOSIT
PEROKOK AKTIF DI DESA KARANG ANYAR, PANGKALAN BUN,
KALIMANTAN TENGAH. 6.

Damayanti, A. (2018). Penggunaan Rokok Elektrik Di Komunitas Personal


Vaporizer Surabaya. Jurnal Berkala Epidemiologi:, 4(2), 254.

Depkes. (2010). awasan Tanpa Rokok, Pusat Promosi Kesehatan DEPKES RI.

Friska, & Junita. (2015). Faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya

28
29

anemia pad kehamilan remaja di indonesia ( Analisis dats riskesdas


2013) Tesis.

icha maharani putri. (2021). Gambaran Kadar Hemoglobin Perokok Dan Bukan
Perokok Pada Pria Kelompok Petani Karya Tulis Ilmiah. 1–55.

Kemenkes RI. (2020). Permenkes RI Nomor 21 Tahun 2020 tentang Rencana


Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020-2024. Kementerian
Kesehatan RI, 9(May), 6. [Link]
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&ved=2ahUKEwj45qTkuvi
CAxX2RmcHHSh-ASA4ChAWegQIBRAB&url=https%3A%2F
%[Link]%2FHome%2FDownload
%2F144824%2FPermenkes%2520Nomor%252021%2520Tahun
%[Link]&usg=AOvVaw34le1WsxW7_ISmL

Novi Yuliani. (2019). Gambaran Nilai Indeks Eritrosit Pada Mahasiswa Perokok
di Kota Palembang tahun 2019.

Nuradi, N., & Jangga, J. (2020). Hubungan Kadar Hemoglobin Dan Nilai
Hematokrit Pada Perokok Aktif. Jurnal Media Analis Kesehatan, 11(2),
150. [Link]

Pegawai, P., & Sipil, N. (1967). Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003
tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian
PNS. 1(69), 5–24.

Plutzer, M. B. B. and E. (2021). HUBUNGAN LAMA DAN FREKUENSI


MEROKOK TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN DI KELURAHAN
MENDAWAI KECAMATAN ARUT SELATAN KABUPATEN
KOTAWARINGIN BARAT. 6.

Pratiwi, L., & Hustinawati, T. (2020). Analisis Pengaruh Umur, Paritas, dan
Motivasi Suami terhadap Nyeri Persalinan di Cirebon Tahun 2019.
Jurnal Delima Harapan, 7(2), 134–143.
[Link]

Rayani Bangun, S., Saferia Yawok, S., Napitupulu, D. S., Tinggi, S., Kesehatan,
I., & Medan, S. E. (2023). Analisis Kadar Hemoglobin Dan Laju
Endap Darah Pada Pasien Tuberkulosis Paru Di Rumah Sakit Santa
Elisabeth Medan Tahun 2023. Jurnal Kesehatan Tambusai, 4(3), 2278–
2284.
[Link]
30

16854
Safitri, R. N., & Syahrul, F. (2015). The Risk of Exposure to Cigarette Smoke in
Anemia During Pregnancy. Jurnal Berkala Epidemiologi, 3(3), 327.
[Link]

Sulistini, R., Yetti, K., & Hariyati, R. T. S. (2012). Faktor Faktor yang
Mempengaruhi Fatigue Pada Pasien yang Menjalani Hemodialisis.
Jurnal Keperawatan Indonesia, 15(2), 75–82.
[Link]

Triyono, S., Trisnawati, E., & Hernawan, A. D. (2019). Hubungan Antara Paparan
Asap Rokok dengan Kadar Hemoglobin pada Perokok Pasif di Desa
Keraban Kecamatan Subah Kabupaten Sambas. Jumantik, 6(1), 27–34.
[Link]
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2a
hUKEwi-xpjfnKj7AhXByzgGHUc3CEAQFnoECA0QAQ&url=http
%3A%2F%[Link]%[Link]%2FJJUM
%2Farticle%2Fview%2F1999&usg=AOvVaw06XZxYIhfZ_2dNxB-
Mi5RX

WHO. (2018). obacco. [Link]


Di Akses Pada Tanggal 30 Desember 2021.

Wibowo, D. V., Pangemanan, D. H. C., & Polii, H. (2017). Hubungan Merokok


dengan Kadar Hemoglobin dan Trombosit pada Perokok Dewasa.
Jurnal E-Biomedik, 5(2). [Link]

[Link]. (2020). GAMBARAN KARAKTERISTIK PEROKOK


AKTIF DENGAN KADAR KOLESTEROL TOTAL. Satukan Tekad
Menuju Indonesia Sehat.

Yolanda, B. (2022). Gambaran Nilai Indeks Eritrosit Pada Perokok Aktif


Systemic Review Berliana. 7–8.
[Link]

Yuli Astuti, A. K., Subekti, S., & Wijaya, G. H. (2022). Perbandingan Nilai
Hemoglobin Pada Donor Perokok Aktif Dan Bukan Perokok Di Udd
Pmi Kota Semarang. Jurnal Pranata Biomedika, 1(2), 86–94.
[Link]

Anda mungkin juga menyukai