Analisa Transfusi pada Perokok Berat
Analisa Transfusi pada Perokok Berat
PROPOSAL SKRIPSI
Oleh
EMARISA BR TARIGAN
2081015
Puji dan syukur peneliti ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
karunia-Nya peneliti dapat menyelesaikan Proposal yang berjudul “Analisa
Transfusi Rutin pada Pasien Perokok Berat di Rumah Sakit Sembiring
Tahun 2024”.
Dalam penyusunan Proposal ini peneliti menyadari masih banyak
kekurangan baik isi maupun bahasanya. Untuk itu peneliti mengharapkan saran
dan kritik yang bersifat membangun. Maka pada kesempatan ini dengan
kesungguhan hati dan rasa tulus dan ikhlas peneliti ingin menyampaikan ucapan
terima kasih yang sebesar besarnya kepada :
1. Drs. Johannes Sembiring, [Link].,[Link]., selaku Ketua Yayasan Institut
Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.
2. Ns. Rahmad Gurusinga, [Link]., [Link]., selaku Rektor Institut Kesehatan
Medistra Lubuk Pakam.
3. Dr. Dr. Dedi Ardinata,[Link],AIFM.,selaku Dekan Fakultas Kedokteran Institut
Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.
4. Sa’adah Siregar, [Link].,[Link]., selaku Ketua Program Studi Teknologi
Laboratorium Medik Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.
5. [Link] Sitepu,[Link],[Link].,selaku Dosen Pembimbing yang telah
banyak meluangkan waktu untuk membimbing dan memberi arahan kepada
peneliti.
6. Seluruh Dosen dan Staf pegawai Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
yang telah banyak memberikan pengetahuan, bimbingan, dan arahan selama
mengikuti pendidikan.
7. Seluruh teman-teman seperjuangan saya mahasiswa jurusan Teknologi
Laboratorium Medik yang dari awal kita bersama hingga saat ini yang tidak
dapat saya sebutkan satu persatu.
Peneliti juga menyadari sepenuhnya bahwa proposal ini masih jauh dari kata
sempurna.
Lubuk Pakam, Februari 2024
Peneliti
i
EMARISA BR TARIGAN
2081015
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................1
1.1 Latar Belakang....................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................4
1.3 Tujuan Penelitian................................................................................4
1.3.1 Tujuan Umum.............................................................................4
1.3.2 Tujuan Khusus............................................................................4
1.4 Manfaat Penelitian..............................................................................4
ii
2.5.3 Metabolisme LDL......................................................................19
2.5.4 Faktor Penyebab Tinggi dan Rendahnya LDL...........................19
2.5.5 Tinjauan Umum Pemeriksaan LDL...........................................19
2.6 Hubungan Perokok dengan HDL dan LDL.........................................20
2.7 Kerangka Konsep.................................................................................21
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus cerutu atau bentuk lainnya
yang dihasilkan oleh tanaman Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica dan spesies
lainnya atau sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa
terbagi menjadi asap rokok utama (mainstream smoke) dan asap rokok samping
(sidestream smoke). Asap rokok yang dihasilkan dari hisapan perokok aktif yang
mengandung 25% kadar bahan berbahaya, sedangkan asap rokok dari pembakaran
rokok yang terhirup oleh perokok pasif yang mengandung 75% kadar bahan
Rokok yang digunakan pada masyarakat umumnya terbagi atas rokok putih
(filter) dan rokok kretek (non filter). Pada pangkala rokok filter terdapat gabus
mengurangi kadar nikotin pada setiap hisapan. Pengguna rokok kretek lebih
banyak dibandingkan dari rokok filter. Hal ini dikarenakan harga rokok kretek
relatif murah dan mudah didapat. Di indonesia, rokok kretek lebih populer. Dari
menjadi tiga kelompok berdasarkan jumlah rokok yang di hisap perhari, yaitu
1
2
seseorang yang mengkonsumsi rokok satu sampai sepuluh batang perhari disebut
perokok ringan, 11-20 batang perhari disebut perokok sedang, dan lebih dari 20
faktor sosial, faktor farmakologis, dan faktor psikologis. Faktor sosial merupakan
faktor sosial ini berasal dari lingkungan sekitar, seperti orang tua dan teman
sebaya. Dari tinjauan dalam rokok menimbulkan efek adiktif atau ketergantungan,
untuk merokok. Adanya krisis psikososial berupa simbolisasi diri bahwa merokok
merupakan symbol kematangan, kekuatan, dan daya tarik terhadap lawan jenis
melatar belakangi seseorang untuk merokok dikutip dari (Yuli Astuti et al., 2022).
Asap rokok mengandung sekitar 4000 senyawa kimia yang secara farmakologi
(carcinogenic). Tiga racun utama dalam rokok yaitu nikotin, tar dan karbon
yang besar terhadap hemoglobin sekitar 210-300 kali lebih besar dibandingkan
oksigen dengan cara meningkatkan kadar hemoglobin (Nuradi & Jangga, 2020).
dan tubuh mengkompensasi hal ini juga dengan memproduksi lebih banyak
dimana terjadi peningkatan jumlah sel darah merah akibat pembentukan sel darah
merah yang berlebihan oleh sumsum tulang. (Yuli Astuti et al., 2022)
Kandung nikotin dalam rokok yang dapat merusak dinding pembuluh darah,
penumpakan dan membentuk plak pada dinding pembuluh darah. Tumpukan LDL
rongga pembuluh darah menyempit dan terjadi pengerasan pada pembuluh darah
ateri. Proses ini disebut dengan ateroksklerosis, singga kadar LDL kolesterol di
181,48 mg/dl. Namun pada uji statistik, menunjukan tidak terdapat hubungan
bermakna antara kebiasaan merokok terhadap kadar LDL serum (p= 0.076).
merokok (p=0.037)), jumlah rokok yang dihisap setiap hari (p= 0.003), dan jenis
analisa transfusi rutin pada perokok berat di Rumah Sakit Sembiring Tahun 2024?
adalah Analisa kadar hemoglobin saat transfusi darah pada pasien perokok berat?
perokok berat?
Hasil penelitian ini bisa menambah wawasan dan pengalaman bagi peneliti
perokok aktif dengan kadar ataupun gejala yang di timbulkan akibat dari
merokok.
terkait menganalisis efek dari merokok dari pasien peokok berat berdasarkan
transfusi rutin.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
laki,wanita, anak kecil, tua renta, kaya miskin, tidak ada terkecuali. Merokok
rokok akan menyebabkan 10 juta kematian per tahun, dengan 70% persentasinya
dengan jumlah perokok paling tinggi. Prevalensinya mencapai 33,8 persen atau
sekitar 65,7 juta penduduk Indonesia adalah perokok (Kemenkes RI, 2020).
lainnya. Diketahui terdapat lebih dari 3000 zat berbahaya serta bahan karsinogen
terkandung didalam rokok. Zat kimia yang paling besar dan berbahaya yang
terkandung di dalam rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida. Nikotin
dalam rokok dapat menekan selera makan sehingga memicu perubahan perilaku
yang mendorong perokok untuk mengurangi porsi makan dan membuat seseorang
tembakau dan daun tar, kemudian menghisap asap yang dihasilkannya. Tar dan
6
7
radikal bebas dalam asap rokok dapat menyebabkan kerusakan sumsum tulang
yang dikonsumsi tiap harinya, yaitu ringan (1-10 batang ), sedang (11-19 batang )
dan berat (lebih dari sama dengan 20 batang). Perokok Aktif sendiri adalah
mereka yang merokok minimal 2 tahun tanpa henti selama hidupnya. Perokok
orang yang dengan sengaja membakar tembakau yang telah diolah menjadi
rokok dengan atau tanpa bahan tambahan serta menghirup asap yang
2. Perokok Pasif
Perokok pasif adalah orang yang bukan perokok namun terpaksa menghisap
atau menghirup asap rokok yang dikeluarkan oleh perokok aktif (Depkes,
2010).
2.1.2 Rokok
tembakau yang telah di cacah. Untuk menikmatinya salah satu ujung rokok
dibakar dan di biarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada
Seperti yang telah banyak diketahui bahwa di dalam rokok sangat banyak
sangat berbahaya bagi kesehatan atau bersifat toksik, bahkan ada beberapa di
antaranya yang bersifat karsinogenik. Bahan kimia yang ada di dalam rokok
antara lain adalah Ammoniak (pembersih lantai), Arsenik (racun tikus), Aceton
(peluntur cat kuku), Asam sulfurik (bahan pupuk atau peledak), Butana (bahan
bakar korek api), Metanol (bahan bakar roket), Naptalen (kapur barus), Polonium
(unsur radioaktif), Toluna (pelarut industri), Vinil klorida (bahan plastik pvc),
DDT (insektisida terlarang) dan shellac pelitur kayu (Triyono et al., 2019).
Di antara sekian banyak bahan kimia yang menyusun rokok, ada beberapa
bahan kimia pokok yang menjadi penyusun dalam rokok tersebut, di antaranya
adalah :
1. Nikotin
muntah, dan diare. Sedangkan penggunaan nikotin dalam dosis yang tinggi
Karbon monoksida (CO) merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berasa,
tidak mengiritasi dan tidak berbau yang dihasilkan melalui pembakaran gas,
minyak, petrol, bahan bakar padat atau kayu (Badan POM, 2005).
3. Tar
Tar adalah sejenis cairan berwarna coklat tua atau hitam yang merupakan
Kadar tar dalam tembakau antara 0.5-35 mg/batang. Tar merupakan suatu
zat karsinogen yang dapat menyebabkan kanker pada jalan napas dan paru-
paru. Tar merupakan bahan kimia yang menjadi penyebab noda kuning
kecoklatan pada kuku dan gigi perokok. Selain itu tar dapat membuat flek
adalah salah satu zat karsinogenik yang ada dalam tar (Yolanda, 2022).
Di dalam rokok tidak hanya tersusun atas bahan kimia, rokok juga tersusun
atas bahan baku atau bahan pokok. Bahan baku dalam rokok adalah :
1. Tembakau
Tembakau adalah tanaman herba sebagai bahan utama dari rokok yang
2. Cengkeh
mengandung bahan kimia, yang akan keluar dan ikut bersama asap yang
asap rokok, secara tidak langsung orang tersebut telah memasukkan banyak bahan
kimia ke dalam tubuhnya melalui asap rokok yang mereka hisap. Beberapa
dampak yang disebabkan oleh rokok terhadap kesehatan adalah Mengalami Acute
memerah dan bengkak. Beresiko terkena angina 20 kali lebih besar. Angina adalah
rasa sakit di dada pada saat melakukan latihan olahraga atau saat sedang makan.
ikatan sendi. Beresiko 2 kali lebih besar mengalami kemerosotan mascular yang
terjadi pada mata. Mengalami Nystagmus, yaitu gerakan mata tidak normal.
pertengahan atau orang tua yang dicirikan dengan persendian yang meradang
sehingga terasa sakit dan kaku. Mengalami pheriperal vascular disease, yaitu
radang paru-paru dimana alveoli kecil pada paru-paru dipenuhi cairan. Beresiko 2
kali lebih besar mengalami Psoriasis, yaitu peradangan kulit dimana noda merah
ditutupi oleh noda putih. Mengalami Rheumatoid Arthritis, yaitu rasa sakit
otak blyopia, yaitu gangguan penglihatan yang menjadi kurang jelas (Pratiwi &
Hustinawati, 2020).
Merokok adalah seseorang yang dengan sadar memasukkan bahan racun yang
tembakau yang dimaksudkan untuk dihisap atau dihirup termasuk rokok kretek,
rokok putih, cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman nicotina
mengandung nikotin dan tar, dengan atau tanpa bahan tambahan (Kemenkes RI,
2020).
Perokok berdasarkan jumlah rokok yang dikonsumsi per harinya ada tiga
yaitu, perokok ringan mengkonsumsi rokok sekitar 1-10 batang perhari, perokok
mengkonsumsi rokok >20 batang perhari (Amelia, R., Nasrul, E., & Basyar,
2016).
Darah adalah organ khusus yang berbeda dengan organ lain, karena organ
ini berbentuk cairan, darah merupakan medium transport di dalam tubuh. Volume
darah manusia sekitar 7%-10% berat badan normal dan berjumlah sekitar 5 liter di
sama, bergantung pada, usia, pekerjaan, serta keadaan jantung atau pembuluh
Tubuh manusia mengandung antara 5-6 liter (1,3 dan 1,5 galon) darah, yang
mewakili antara 7%-8% rata-rata berat tubuh. Setengah dari darah terdiri dari
cairan atau bagian cair yang disebut dengan plasma. Sedangkan, setengahnya lagi
terdiri dari sel-sel dan molekul-molekul dengan berbagai fungsi. Setetes darah
yang keluar dari luka kecil mengandung 5 juta sel darah merah, 10 ribu sel darah
putih dan 250 ribu trombosit (Ariyanto, 2019). Menurut (Friska & Junita,
2015)darah beredar dalam sistem pembuluh darah yang tertutup dan menyusun
sekitar 6%-8% berat badan. Secara keseluruhan, darah memiliki berat jenis 1,060,
1. Substansi pada yang volumenya sekitar 45% yang terdiri atas sel-sel
darah merah (eritrosit), sel dalah putih (leukosit) dan sel-sel pembeku
(trombosit).
2. Substansi cair yang volumenya sekitar 55% dan dikenal sebagai plasma
darah. Plasma darah 90%-92% tersusun atas air dan didalamnya terlarut
dengan sel darah lainnya dengan jumlah eritrosit lebih kurang 5 juta/mm2. Salah
satu fungsinya adalah mengangkut gas oksigen (O2) kedalam semua sel dan
normal terbentuk bionkaf atau seperti cakram dengan diameter sekitar 8 mikron.
Sel darah merah tidak memiliki inti sel namun memiliki central pallor (Yolanda,
2022).
2. Bahan pembentuk eritrosit : besi, vitamin B12, asam folat, protein, dan
lain-lain.
7 mikron. Eritrosit merupakan sel dengan struktur yang tidak lengkap. Sel ini
hanya
1. Membran eritrosit
15
phosphate dehydrogenase) .
atas:
b. Globin: bagian protein yang terdiri atas 2 rantai alfa dan 2 rantai beta
Indeks eritrosi adalah Batasan untuk ukuran dan isi hemoglobin eritrosit.
Istilah lain untuk indeks eritrosit adalah indeks kospouskuler. Indeks eritrosit
terdiri atas : isi/volume atau ukuran eritrosit (mean corpuscular volume (MCV)
atau volume eritrosit rata - rata), berat (mean corpuscular hemoglobin (MCH) atau
diperkenalkan oleh Wintrobe pada tahun 1929 untuk menentukan ukuran (MCV)
dan kadar hemoglobin (MCH, MCHC) sel darah merah. Nilai-nilai ini berguna
dalam menjelaskan etiologi anemia. Indeks eritrosit dapat ditetapkan dengan dua
analyzer. Untuk dapat menghitung indeks eritrosit secara manual di perlukan nilai
hemoglobin, hematokrit, dan jumlah sel darah merah (Nuradi & Jangga, 2020).
2.3 Lipid
Lipid tidak larut dalam cairan darah. Bila harus larut agar dapat dikirim ke
seluruh tubuh, lemak dan kolesterol perlu “dikemas” bersama protein menjadi
“pembawa” (carrier) lemak dan kolesterol dalam darah. Profil lemak terdiri dari
Trigliserida adalah salah satu bentuk lemak yang diserap oleh usus setelah
menjadi LDL, yang kemudian ditangkap oleh suatu reseptor khusus di jaringan
perifer itu. Kelebihan kolesterol dalam jaringan perifer akan diangkut oleh HDL
2.4 HDL
jawab dalam metabolisme VLDL, kilomikron, dan kolesterol. HDL pada dasarnya
adalah kebalikan dari LDL. Bukannya memiliki banyak lemak, HDL justru
memiliki banyak protein .Nilai normal HDL untuk pria adalah > 55 mg/dl,dan
kolesterol berlebih yang bisa diisapnya. HDL memungut kolesterol ekstra dari sel-
17
kolesterol dari partikel HDL dan menggunakannya untuk membuat cairan empedu
(Nuradi & Jangga, 2020). HDL sering disebut sebagai kolesterol baik, karena
ke hati untuk diproses kembali atau dibuang di mana kolesterol akan dikeluarkan
dari tubuh yang keluar melalui kotoran (Nuradi & Jangga, 2020).
1. Kegemukkan
2. Merokok
1. Secara Kolorimetri
- Metode Lieberman-Buchard
Dasarnya adalah kolesterol dengan asam asetat anhidrat dan asam sulfat
2. Secara Enzimatik
Aminoantipyrin
al., 2017).
3. Secara Kromatografi
2.5 LDL
LDL terbanyak tersusun atas kolesterol. Nilai normal LDL adalah : 75 – 125
bagian tubuh yang membutuhkannya kapan saja. Jika terlalu banyak LDL dalam
aliran darah, LDL akan menimbun kolesterol di dalam arteri yang bisa
Jangga, 2020).
2. Merokok
3. Kegemukan
1. Metode Direct
2. Metode Friedewald
trigliserida
LDL Kolesterol = Kolesterol total - - HDL Kolesterol
5
zat berbahaya tersebut, maka dapat menurunkan kadar kolesterol baik (HDL) dan
akan meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Kadar LDL yang
pembuluh darah. Hal ini dapat memblokir aliran darah. Jika darah tidak mengalir
21
sama sekali maka jantung tidak bisa memompa darah ke seluruh tubuh akibat
tersumbatnya arteri koroner dan akhirnya akan terjadi PJK (Alhogbi et al., 2018).
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah deskriptif dan desain analitik yang bertujuan
Untuk menganalisisa kadar HDL dan LDL transfuse rutin pasien perokok berat di
3.2.1 Lokasi
3.2.2 Waktu
Populasi penelitian adalah pria dan wanita yang perokok aktif yang
dimana jumlah Sampel sama dengan Populasi (Sugiyono, 2011). Alasan mengapa
jumlah populasi yang kurang dari 100 seluruh populasi dijadikan sampel
penelitian semuanya.
22
23
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang
Pakam
3.4.1 Alat
Alat yang digunakan terdiri dari : spuit 3 ml, touriquet/tali pengebat, tabung
3.4.2 Reagensia
- HDL
Reagen 1 (buffer) :
Buffer fosfat : 100mmol/L
Kloro-4 – fenol : 5mmol/L
Sodium kotat : 2.3mmol/L
Triton X 100 : 1.5mmol/L
Reagen 2 (Enzim) :
Kolesterol oksidase : >100U/L
- LDL
Reagen 1
Buffer MES (ph6,3)
Detergen 1 <1.0%
Kolestrol esterase <1.500U/L
Kolesterol oksidase <1.500U/L
Peroksidase <1.300 ppg U/L
4-aminoantipirina <0.01%
24
a. Pengambilan Sampel
pengambilan sampel :
mengepalkan tangannya.
kepalan tangannya.
6. Isap darah dengan menarik plunger, dan ketika darah telah mengalir ke
kepalan tangan.
7. Setelah volume darah dianggap cukup, tutup situs dengan kasa kering,
tarik jarum keluar dan tekan atau minta pasien untuk menekan.
25
jarum ke dalam kontainer benda tajam dan beri indentitas pada tabung
mengandung fraksi HDL, yang diasumsikan untuk HDL Kolesterol dengan kit tes
Kolesterol. Nilai normal HDL untuk pria adalah > 55 mg/dl,dan untuk wanita
Prosedur Kerja:
Semi Mikro
Sampel 200 µl
Reagen 500 µl
26
oleh kolesterol esterase dan kolesterol oksidase dalam reaksi tanpa pembentukan
warna. Detergen kedua, R2, melarutkan partikel-partikel LDL yang tersisa dan
memungkinkan untuk pembentukan warna. Reaksi enzim LDL pada coupler akan
menghasilakn warna proporsional degan jumlah kolesterol LDL yang ada pada
sampel. Nilai normal LDL adalah : 75 – 125 mg/dl (Alhogbi et al., 2018).
Prosedur Kerja:
reagensia blanko.
trigliserida
LDL Kolesterol = Kolesterol total - - HDL Kolesterol
5
(Ariyanto, 2019).
Sesuai dengan jenis penelitian, maka analisa terdapat data yang terkumpul
akan dilakukan secara deskriptif yang disertai dengan tabel dan pembahasan serta
diambil kesimpulan mengenai tinggi rendahnya kadar HDL dan LDL pada
memeriksa data dan jawaban. Jika terdapat jawaban tidak terisi secara
Alhogbi, B. G., Arbogast, M., Labrecque, M. F., Pulcini, E., Santos, M., Gurgel,
H., Laques, A., Silveira, B. D., De Siqueira, R. V., Simenel, R.,
Michon, G., Auclair, L., Thomas, Y. Y., Romagny, B., Guyon, M.,
Sante, E. T., Merle, I., Duault-Atlani, L., Anthropologie, U. N. E., …
Du, Q. (2018). ANALISA KADAR HDL DAN LDL PADA
PEROKOK AKTIF DI WARUNG KOPI JL BAHAGIA PADANG
BULAN MEDAN TAHUN 2018. Gender and Development, 120(1), 0–
22. [Link]
affective_economies_0.pdf%0A[Link]
[Link]%0A[Link]
[Link]/[Link]?ID_ARTICLE=CEA_202_0563%5Cnhttp://
[Link].
Amelia, R., Nasrul, E., & Basyar, M. (2016). Hubungan Derajat Merokok
Berdasarkan Indeks Brinkman dengan Kadar Hemoglobin. Jurnal
Kesehatan Andalas, 5(3), 622–623.
Civilization, I., TEMA 19, & Domenico, E. (2021a). GAMBARAN KADAR LDL
(Low Density Lipoprotein) PADA PEROKOK AKTIF SYSTEMATIC
REVIEW. 6.
Civilization, I., TEMA 19, & Domenico, E. (2021b). HUBUNGAN LAMA DAN
FREKUENSI MEROKOK TERHADAP JUMLAH TROMBOSIT
PEROKOK AKTIF DI DESA KARANG ANYAR, PANGKALAN BUN,
KALIMANTAN TENGAH. 6.
Depkes. (2010). awasan Tanpa Rokok, Pusat Promosi Kesehatan DEPKES RI.
28
29
icha maharani putri. (2021). Gambaran Kadar Hemoglobin Perokok Dan Bukan
Perokok Pada Pria Kelompok Petani Karya Tulis Ilmiah. 1–55.
Novi Yuliani. (2019). Gambaran Nilai Indeks Eritrosit Pada Mahasiswa Perokok
di Kota Palembang tahun 2019.
Nuradi, N., & Jangga, J. (2020). Hubungan Kadar Hemoglobin Dan Nilai
Hematokrit Pada Perokok Aktif. Jurnal Media Analis Kesehatan, 11(2),
150. [Link]
Pegawai, P., & Sipil, N. (1967). Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003
tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian
PNS. 1(69), 5–24.
Pratiwi, L., & Hustinawati, T. (2020). Analisis Pengaruh Umur, Paritas, dan
Motivasi Suami terhadap Nyeri Persalinan di Cirebon Tahun 2019.
Jurnal Delima Harapan, 7(2), 134–143.
[Link]
Rayani Bangun, S., Saferia Yawok, S., Napitupulu, D. S., Tinggi, S., Kesehatan,
I., & Medan, S. E. (2023). Analisis Kadar Hemoglobin Dan Laju
Endap Darah Pada Pasien Tuberkulosis Paru Di Rumah Sakit Santa
Elisabeth Medan Tahun 2023. Jurnal Kesehatan Tambusai, 4(3), 2278–
2284.
[Link]
30
16854
Safitri, R. N., & Syahrul, F. (2015). The Risk of Exposure to Cigarette Smoke in
Anemia During Pregnancy. Jurnal Berkala Epidemiologi, 3(3), 327.
[Link]
Sulistini, R., Yetti, K., & Hariyati, R. T. S. (2012). Faktor Faktor yang
Mempengaruhi Fatigue Pada Pasien yang Menjalani Hemodialisis.
Jurnal Keperawatan Indonesia, 15(2), 75–82.
[Link]
Triyono, S., Trisnawati, E., & Hernawan, A. D. (2019). Hubungan Antara Paparan
Asap Rokok dengan Kadar Hemoglobin pada Perokok Pasif di Desa
Keraban Kecamatan Subah Kabupaten Sambas. Jumantik, 6(1), 27–34.
[Link]
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2a
hUKEwi-xpjfnKj7AhXByzgGHUc3CEAQFnoECA0QAQ&url=http
%3A%2F%[Link]%[Link]%2FJJUM
%2Farticle%2Fview%2F1999&usg=AOvVaw06XZxYIhfZ_2dNxB-
Mi5RX
Yuli Astuti, A. K., Subekti, S., & Wijaya, G. H. (2022). Perbandingan Nilai
Hemoglobin Pada Donor Perokok Aktif Dan Bukan Perokok Di Udd
Pmi Kota Semarang. Jurnal Pranata Biomedika, 1(2), 86–94.
[Link]