0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan14 halaman

Tradisi Karapan Sapi di Madura

Sapi Madura adalah sapi asli Indonesia yang terkenal karena kemampuannya beradaptasi dengan iklim panas dan kualitas pakan rendah, serta memiliki nilai budaya yang tinggi di Pulau Madura. Tradisi 'Karapan Sapi' merupakan perlombaan pacuan sapi yang telah ada sejak abad ke-14 dan menjadi bagian penting dari interaksi sosial masyarakat Madura. Pemeliharaan sapi Karapan melibatkan teknik khusus dan pakan tambahan untuk meningkatkan performa, menjadikannya sebagai simbol prestise dan budaya lokal.

Diunggah oleh

jesicalavinaa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan14 halaman

Tradisi Karapan Sapi di Madura

Sapi Madura adalah sapi asli Indonesia yang terkenal karena kemampuannya beradaptasi dengan iklim panas dan kualitas pakan rendah, serta memiliki nilai budaya yang tinggi di Pulau Madura. Tradisi 'Karapan Sapi' merupakan perlombaan pacuan sapi yang telah ada sejak abad ke-14 dan menjadi bagian penting dari interaksi sosial masyarakat Madura. Pemeliharaan sapi Karapan melibatkan teknik khusus dan pakan tambahan untuk meningkatkan performa, menjadikannya sebagai simbol prestise dan budaya lokal.

Diunggah oleh

jesicalavinaa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sapi Madura


Sapi Madura merupakan salah satu bangsa sapi asli
Indonesia yang banyak dikembangbiakkan di Jawa Timur,
khususnya di Pulau Madura. Keunggulan sapi Madura yang
merupakan potensi besar untuk pengembangan adalah secara
genetik memiliki sifat toleran terhadap iklim panas dan
lingkungan marginal serta tahan terhadap serangan caplak,
kemampuan adaptasi tinggi terhadap kualitas pakan yang
rendah, kebutuhan pakan lebih sedikit dibandingkan dengan
sapi impor, dan mempunyai kinerja reproduksi lebih baik
dibandingkan dengan sapi persilangan serta dagingnya banyak
yang disukai oleh konsumen (Suryana, 2009; Nurgiartiningsih,
2010; Nurgiartiningsih, 2011).
Pulau Madura merupakan salah satu wilayah yang
potensial dalam pengembangan ternak sapi potong, memiliki
kondisi lahan yang sesuai serta sumber daya yang mendukung,
budidaya sapi potong di pulau Madura lebih berpola
pengembangan ternak sapi potong secara pembibitan
ketimbang pola penggemukan (Hartono, 2012). Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Timur menyebutkan bahwa pada
tahun 2016 terdapat sapi Madura sebanyak 961.112 ekor atau
sekitar 21,8% dari total populasi sapi potong di Jawa Timur.
Jumlah sapi Madura tersebut tersebar di Sumenep sebanyak
357.422 ekor, disusul Sampang sebanyak 212.776 ekor,
Bangkalan sebanyak 200.279 ekor serta Pamekasan sebanyak
190.635 ekor.
Wisono, Nuryadi dan Suyadi (2015) menjelaskan
bahwa salah satu bangsa sapi lokal yang diternakkan oleh

9
peternakan rakyat di Indonesia khususnya di wilayah Jawa
Timur adalah sapi Madura. Keputusan Menteri Pertanian
menyatakan bahwa karakteristik sapi Madura yaitu: tubuh
pada sapi betina berwarna kuning kecokelatan dan sapi jantan
berwarna merah bata atau merah cokelat bercampur putih
dengan batas yang tidak jelas pada pantat. Sekitar mata
berwarna hitam, pinggir telinga berwarna hitam, bagian bawah
kaki (tarsal/metatarsal) berwarna putih dan ekor berwarna
hitam. Bentuk badan kecil-sedang, kaki relatif pendek dan
pada sapi jantan berpunuk dan bergelambir. Pada sapi jantan
terdapat garis “belut” berwarna hitam. Bentuk tanduk pendek
kecil, pendek dan mengarah ke luar (Anonim, 2010). Garis
punggung hanya terlihat pada sapi Madura sedangkan pada
sapi silangan Limura tidak terdapat garis punggung sama
sekali. Garis punggung pada sapi Madura berwarna hitam dan
memanjang dari pundak sampai ujung ekor (Hartatik,
Mahardika, Widi dan Baliarti, 2009).
Sapi Madura merupakan suatu rumpun ternak lokal
Indonesia yang disebut rumpun sapi Madura. Keberadaan sapi
Madura di pulau asalnya tidak hanya digunakan sebagai ternak
potong saja. Adat istiadat, budaya dan kesenian yang sangat
dilestarikan di Pulau ini menjadikan sapi Madura sebagai icon
masyarakat Madura terutama dalam kebudayaan serta
kesenian (Wulandari, Maylinda dan Nasich, 2015).
Suin (2001) menjelaskan bahwa sapi Madura
merupakan salah satu bangsa sapi yang paling banyak
berintegrasi dengan kehidupan sosial budaya maupun sosial
ekonomi masyarakat petani, yaitu sebagai tenaga kerja
penggarap lahan atau tenaga tarik, tabungan, sumber hiburan
yakni peranannya sebagai ternak pacu dalam “Karapan Sapi”
untuk sapi jantan dan “Sapi Sonok” untuk sapi betina yang

10
merupakan sapi pajangan dalam pesta rakyat yang menjadi
tradisi tahunan. Sapi-sapi Karapan dipelihara secara teliti,
dijaga kebersihannya, dipijat secara teratur, diberi berbagai
pakan tambahan berupa jamu, terutama campuran telur ayam
kampung dan madu, serta berbagai ramuan Madura seperti
jahe, kunir, laos, kunyit, ketumbar, lada dan kopi.
Pemberiannya ditingkatkan terutama mendekati pelaksanaan
Karapan.
Sapi Karapan sangat disenangi oleh hampir semua
penduduk pedesaan di Pulau Madura, karena di samping
merupakan bagian integral dari nilai-nilai sosial budaya
masyarakat Madura, juga membawa prestise bagi pemiliknya.
Mahalnya harga sapi dan biaya perawatan, menyebabkan tidak
semua orang Madura mampu memelihara sapi Karapan ini
(Aryogi dan Romjali, 2006).

2.2 Sapi Madura Karapan


Diantara tradisi masyarakat Madura salah satunya
yang unik tersebut adalah „Karapan Sapi‟. Kuntowidjoyo
menggambarkan tradisi khas Madura ini sebagai suatu
kombinasi dari perayaan rakyat, hiburan, pertunjukan
kesehatan ternak dan pacuan sapi. Tradisi yang telah
berlangsung turun temurun ini selalu menarik perhatian
masyarakat luas (Kosim, 2007). Karapan sapi merupakan
budaya asli dari tanah Madura yang sudah dikenal sejak abad
ke-14 M, Karapan sapi ini merupakan salah satu contoh
budaya dan hiburan bagi masyarakat Madura yang telah turun
temurun dilaksanakan, Karapan sapi dibuat untuk membantu
masyarakat Madura dalam melakukan interaksi dan
komunikasi dengan orang lain, interaksi dan komunikasi yang

11
terjadi melalui Budaya Karapan Sapi mengakibatkan
terbentuknya kelompok sosial (Astutik, 2014).
Pratiwi dan Sudaryanti (2016) menyatakan bahwa
Karapan Sapi merupakan sebuah istilah untuk menyebut
perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura, Jawa
Timur. Asal-usul kata dari Karapan sapi ada dua versi. Versi
yang pertama berasal dari kata kerap atau kirap yang berarti
memulai dan dilepas bersama-sama, sedangkan versi yang
kedua berasal dari bahasa Arab yaitu kirabah yang berarti
persahabatan (Sodik, 2012).
Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik
semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan
mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba
adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan
tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat
berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu menit (Pratiwi
dan Sudaryanti, 2016).
Pemeliharaan sapi Madura umumnya dipelihara secara
tradisional, namun untuk sapi Karapan diperlukan
pemeliharaan yang lebih spesifik dan bibit jantan yang unggul
untuk menunjang performannya (Rowe, 2001).
Aryogi dan Romjali (2006) menjelaskan bahwa sapi
Karapan dibentuk menjadi sapi adu lari melalui tiga perlakuan
pemeliharaan, yaitu:
1. Pembentukan tubuh.
Sapi Karapan harus mempunyai bentuk tubuh
yang tegap dan perototan yang berkembang sangat
bagus. Perlakuannya adalah setiap hari dari pagi
sampai sore, kedua tali di kanan kiri kepala sapi
diikatkan ke arah atas pada tiang (sehingga kepala sapi
selalu menengadah ke atas) serta kedua kaki depan

12
menginjak sebuah kayu/batu setinggi sekitar 10 – 20
cm dari permukaan tanah. Seluruh badan sapi di
urut/dipijat untuk merangsang pembentukan otot
ditambah penggunaan ramuan khusus yaitu campuran
air hangat dan langir untuk menghilangkan rasa gatal,
menghaluskan dan mengkilapkan bulu serta
melemaskan kulit sapi.
2. Pemberian ransum dan jamu-jamuan khusus.
Pakan sapi Karapan umumnya sama dengan
pakan sapi yang bukan Karapan yaitu diberi pakan
hijauan. Hal yang membedakan yaitu pada sapi
Karapan diberi pakan tambahan berupa jamu-jamuan
khusus yang diberikan secara berkala seperti
campuran telur ayam kampung, madu dan minuman
bersoda seperti fanta, sprite dan hemaviton sebagai
sumber tenaga untuk kecepatan lari dan membantu
pembentukan perototan tubuhnya.
3. Latihan lari.
Secara berkala sapi dilatih untuk membentuk
perilaku agresif dan peka terhadap rangsangan sakit
karena dilukai, sehingga mampu berlari lebih cepat.
Rowe (2001) menyatakan bahwa ada dua macam
pacuan sapi di Madura. Yang paling terkenal adalah pacuan
tahunan besar yang diorganisasikan oleh pemerintah Madura.
Pacuan ini terbuka untuk semua pemilik sapi yang ingin
mengikuti. Pertandingan mulai pada bulan Juli, dan setiap
minggu pada suatu tempat, bisa menonton Karapan sapi.
Pertandingan tersebut memuncak dengan pertandingan
terakhir, yaitu Piala Presiden, pada bulan Oktober.

13
Sodik (2012) menjelaskan bahwa Karapan sapi yang
menjadi ciri khas orang Madura ini sebenarnya terdiri dari
beberapa macam, yaitu:
1. Kerap Keni’ (Karapan Kecil)
Karapan sapi jenis ini hanya diikuti oleh
peserta yang berasal dari satu kecamatan saja. Dalam
kategori ini jarak yang harus ditempuh oleh peserta
lomba sekitar 110 meter, yang juga diikuti oleh sapi-
sapi yang belum terlatih. Penentuan pemenangnya
tidak dinilai dari segi kecepatan laju sapi tetapi juga
lurus atau tidaknya saat sapi berlari di arena pacu.
Bagi para sapi yang dapat memenangkan lomba di
sini, selanjutnya dapat mengikuti perlombaan yang
lebih besar lagi yaitu dapat mengikuti kerap Rajeh.
2. Kerap Rajeh (Karapan Besar)
Kerap Rajeh di sini biasanya dilaksanakan di
ibukota kabupaten pada hari minggu. Panjang lintasan
arena pacu sekitar 120 meter dan pesertanya adalah
pemenang lomba dari sapi Kerap Keni‟.
3. Kerap Onjengan (Karapan Undangan)
Kerap Onjengan adalah suatu lomba pacuan
khusus yang pesertanya berasal dari undangan di salah
satu kabupaten yang menyelenggarakan lomba
pacuan. Karapan jenis ini biasanya hanya diadakan
pada saat-saat tertentu, seperti memperingati hari-hari
besar dan lain-lain.
4. Kerap Karesidenen (Karapan Tingkat Keresidenan)
Karapan jenis ini adalah satu-satunya lomba
Karapan sapi yang terbesar di pulau Madura yang
pesertanya diikuti oleh juara lomba Karapan dari ke
empat kabupaten di Madura. Lomba Karapan sapi ini

14
di adakan di kota Pamekasan, yang merupakan acara
puncak dari semua lomba Karapan sapi di Madura
sekaligus juga akhir dari semua musim Karapan di
Madura.
5. Kerap Jar-jaran (Karapan Latihan)
Karapan ini dilakukan hanya untuk melatih
sapi-sapi pacuan sebelum diterjunkan langsung pada
lomba Karapan yang sesungguhnya.

2.3 Umur Sapi Mulai Dilatih Menjadi Sapi Karapan


Manajemen pemeliharaan sapi Karapan setiap hari
dimandikan, dijemur dibawah terik matahari, dipijat setiap 3-4
hari dan mulai dilatih kecepatan larinya pada umur delapan
bulan (Nugraha, Maylinda dan Nasich, 2015).
Rumawhy (2014) menyatakan bahwa pemilihan sapi
karap yang cocok untuk Karapan biasanya dibedakan sejak
sapi berumur 3-4 bulan. Setelah itu sejak umur 10 bulan sapi
mulai dilatih tiap satu minggu sekali.
Sejak kecil sapi-sapi calon juara itu dilatih. Mereka
dimandikan di pagi hari dan dikeringkan dengan posisi kaki
depan berdiri diatas pohon tumbang. Latihan ini menghasilkan
sapi yang tegap yang selalu memandang ke depan (Yunedi,
2013).

2.4 Pakan Sapi Karapan


Hasil wawancara yang dilakukan oleh Nugraha, dkk.
(2015) menyebutkan bahwa pemberian pakan dan manajemen
pemeliharaan pada umumnya seragam, sebagian besar pakan
yang diberikan berupa rumput yang tersedia di daerah tersebut,
daun jagung, jerami padi dan ditambah dengan jamu-jamuan.
Hartono (2012) menjelaskan bahwa pakan sapi Madura pada

15
musim penghujan biasanya rumput gajah, rumput lapang,
daun-daunan, dan sebagainya. Pada musim kemarau pakan
yang diberikan adalah seadanya meliputi limbah pertanian
kering, daun kering, dan sebagainya. Rowe (2001)
menambahkan bahwa pakan yang terdiri dari rumput dan air
saja tidak begitu berbeda dari pakan sapi biasa yang kerjakan
tanah. Jadi pakan untuk sapi karap ditambahkan jamu dua kali
sehari. Campuran cair ini terdiri dari macam-macam bahan.
Masing-masing pemilik sapi mempunyai resep jamunya
sendiri yang rahasia, tetapi ada beberapa bahan yang biasanya
dipakai. Bahan-bahan ini termasuk telur ayam kampung, kopi
pahit, madu, sprite, minuman tenaga misalnya hemaviton,
minuman keras misalnya malaga, bir dan arak, beras kencur
(yaitu, campuran beras dan bumbu), dan campuran lain yang
terbuat dari bumbu dan akar-akar. Setiap hari pada pagi dan
malam, pemilik sapi atau perawat sapinya mencampurkan
jamu dan memberikan pada sapi dengan pipa pendek yang
dibuat dari plastik atau bambu.
Hasan (2012) menyatakan bahwa biaya yang paling
banyak dikeluarkan dalam pemeliharaan adalah untuk
membeli telur (54,83%) yang seakan-akan menjadi pakan
utama. Telur yang diberikan adalah telur ayam kampung yang
kadang-kadang juga dicampur dengan telur bebek. Pemberian
pakan telur ini bertujuan untuk menambah stamina sapi dan
membuat larinya semakin kencang. Jumlah telur yang
diberikan oleh pemilik sapi kerap berbeda-beda, paling sedikit
10 butir/hari untuk sepasang sapi dan paling banyak 200
butir/hari. Besarnya jumlah telur akan sangat berpengaruh
dengan prestasi sapi. Sapi yang mengkonsumsi 200 butir/hari
adalah sapi yang sudah masuk final piala presiden tingkat
karesidenan.

16
2.5 Kecepatan Lari Sapi Karapan
Pratiwi dan Sudaryanti (2016) menyatakan bahwa
Karapan Sapi menurut masyarakat Madura sebuah istilah
untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari
Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang
sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki
berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu
dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain.
Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba
pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu
menit.
Karapan sapi Madura tidak seperti pacuan kuda, tidak
ada pagar untuk melepaskan pasangan sapi. Tugasnya tim sapi
adalah memastikan posisi sapi tepat, kakinya disiapkan untuk
start yang baik, dan memegang sapi dalam posisi itu sampai
lawannya sudah siap dan pertandingan dimulai. Tugasnya
sering sulit supaya sapi cukup terangsang untuk berlari dengan
cepat, sapi-sapi dipecut dan disodok dengan paku sebelum tiap
pertandingan mulai. Balsam dan cabai dimasukkan pada mata
dan lukanya, yang merasa pedas dan lebih merangsangnya
lagi. Dalam keadaan terangsang ini, sapi tidak sabar dan
pacuan kadang-kadang terlambat 30 menit karena sapi
bergerak, ke pinggir atau balik (Rowe, 2001).

2.6 Karakteristik Sapi Madura

2.6.1 Sifat Kuantitatif


Soenarjo dalam Saputra, Sudewo dan Utami
(2013) menyatakan bahwa lingkar dada adalah bagian
belakang siku tulang rusuk paling depan, diukur dari
pundak ke pundak dengan menggunakan pita ukur (cm).

17
Panjang badan adalah jarak lurus dari bagian depan (sendi
bahu) sampai benjolan tulang tapis (tulang belakang),
diukur dengan menggunakan pita ukur (cm). Tinggi
badan adalah ukuran tegak lurus dari titik tertinggi
pundak sampai ke tanah (cm).
Ni‟am, Purnomoadi dan Dartosukarno (2012)
menyatakan bahwa pengukuran ukuran tubuh dilakukan
dengan cara :
1. Lingkar dada diukur dengan menggunakan pita
ukur, melingkar tepat dibelakang scapula.
2. Tinggi pundak diukur dengan menggunakan
tongkat ukur, dari bagian tertinggi pundak
melewati bagian belakang scapula, tegak lurus
degan tanah.
3. Panjang badan diukur dengan tongkat ukur dari
tuber ischii sampai dengan tuberositas humeri.
4. Indeks kepala diperoleh dari hasil bagi lebar
kepala dengan panjang kepala (Sitanggang, Murti
dan Hartatik, 2009)
5. Pengukuran panjang kaki depan atas dimulai dari
articulatio cubiti sampai dengan daerah tajuk
tegak (processus spinosus os vertebra thoracalis
IV), pengukuran panjang kaki depan tengah
dimulai dari carpal (articulatio carpo
metacarpae) sampai dengan archealatio cubiti,
pengukuran panjang kaki depan bawah dimulai
dari ujung distal phalanx tertium sampai carpal
(articulatio carpo metacarpal). Pengukuran
panjang kaki belakang atas dimulai dari
articulatio genu (sendi bakul) sampai procesus
spinosus I dari sacrum, pengukuran panjang kaki

18
belakang tengah dimulai dari articulatio genu
(sendi bakul) sampai sendi tarsal (articulatio
tarso-metatarsal), pengukuran panjang kaki
bawah dimulai dari phalax tertium sampai
articulatio tarsometatarsal (Sampurna, Saka, Oka
and Putra, 2014). Cara pengukuran panjang kaki
sapi Karapan dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Pengukuran statistik vital ternak

Awaluddin dan Panjaitan (2010) menyatakan


bahwa lingkar dada (LD) merupakan salah satu dimensi
tubuh yang dapat digunakan sebagai indikator mengukur
pertumbuhan dan perkembangan ternak. Pengukuran
lingkar dada diukur pada tulang rusuk paling depan persis
pada belakang kaki depan, pengukuran lingkar dada
dilakukan dengan melingkarkan pita ukur pada badan.
Wulandari, dkk. (2015) menyatakan bahwa
adanya perbedaan umur menyebabkan perbedaan ukuran
panjang badan sapi Madura Karapan. Pengukuran
panjang badan pada sapi Madura Karapan dilakukan
dengan mengukur panjang sapi dari tubersitas humerus
hingga tubersitas ichii dengan menggunakan pita ukur.
Hapulu, Laya dan Ilham (2014) menjelaskan
bahwa tinggi pundak diukur dengan menggunakan
tongkat ukur, dari bagian tertinggi pundak ke tanah

19
mengikuti garis tegak lurus. Gumelar dan Aryanto (2011)
menyatakan bahwa nilai tinggi pundak dapat dipengaruhi
faktor tetuanya, dengan tetua yang memiliki pundak yang
tinggi akan menurunkan nilai tersebut pada keturunannya.

Tabel 1. Karakteristik sapi Madura jantan


Umur Kelas
Parameter
(bulan) 1 2 3
12<18 Lingkar Dada 144 138 126
bulan (min)
Panjang Badan 120 114 102
(min)
Tinggi Pundak 122 117 107
(min)
18-24 Lingkar Dada 169 161 145
bulan (min)
Panjang Badan 141 134 120
(min)
Tinggi Pundak 131 126 116
(min)
24-36 Lingkar Dada 191 184 170
bulan (min)
Panjang Badan 147 142 132
(min)
Tinggi Pundak 136 132 124
(min)
Sumber: Standar Nasional Indonesia (2013)

2.6.2 Sifat Kualitatif


Sapi Madura berukuran tubuh sedang, bertulang
bagus tetapi berotot terutama sapi jantan pacuan yang

20
terlatih. Tanduknya kecil, tidak bengkok ke belakang
seperti sapi Bali, tetapi ke samping dan ke atas. Kaki dan
teracak cukup kuat untuk bertahan terhadap kerja tarik
yang berat dan di jalan raya, pundak berkembang baik
pada jantan tetapi lebih lebar pada pangkalnya. Terdapat
lingkaran putih pada moncong. Pundak, leher dan paha
pada sapi jantan berwarna lebih gelap. Sapi betina
mempunyai punuk yang kecil dan agak datar. Prosessus
spinosus pada tulang vertebra thorax tidak memanjang
seperti pada banteng piaraan, gelambirnya kecil dan
warna yang menonjol cokelat muda, lipatan pusar yang
kecil dan pendek hanya terdapat pada sapi jantan. Garis
yang hitam mulai agak ke depan sampai pertengahan
punggung pada sapi Bali betina juga dapat terlihat pada
sapi Madura betina (Huitema dalam Suin, 2001).
Kutsiyah (2012) menjelaskan bahwa berdasarkan
hasil pengamatan di lapang menggunakan satu sampel
sapi Karapan dengan metode purposive sampling
memiliki ciri-ciri berupa warna tubuh merah gelap,
memiliki punuk, kaki bagian bawah berwarna putih
dengan batas yang tidak jelas, ujung ekor berwarna hitam.
Warna pantat putih dengan batas yang tidak jelas. Daerah
sekitar mata berwarna hitam dan tanduk kecil pendek dan
mengarah ke luar. Garis belut berwarna hitam tampak
jelas pada punggung sapi. Aisiyah (2000) menyatakan
bahwa warna yang menonjol pada sapi Madura adalah
cokelat muda, namun beberapa sapi Madura juga
berwarna kuning atau kehitaman. Pundak, leher dan paha
pada jenis sapi ini sering berwarna lebih gelap, pada kaki
sering terlihat kaus kaki yang berwarna lebih muda, tetapi
tidak mulus seperti sapi Bali.

21
Hasil pengamatan Setiadi dan Diwyanto (1997)
menunjukkan bahwa warna tubuh dominan sapi Madura
adalah cokelat medium dan cokelat merah. Warna cokelat
ini merupakan ciri khas sapi Madura. Sesuai dengan pola
warna tubuh dominan sapi Madura, ekor sapi Madura
pada umumnya berwarna cokelat medium semua warna
moncong dan warna kuku populasi sapi Madura yang
diamati adalah hitam. Seperti halnya pada warna
moncong dan warna kuku, tanduk sapi Madura pada
umumnya berwarna hitam dan sebagian kecil berwarna
cokelat sampai abu-abu. Warna selain hitam sering
dijumpai pada sapi yang masih muda. Semakin
meningkat umur sapi, warna tanduk beralih menjadi
hitam. Warna tanduk sapi jantan terlihat lebih pekat.
Hampir seluruh populasi sapi Madura yang diamati
mempunyai garis muka yang lurus. Namun demikian ada
sebagian mempunyai garis muka yang cekung. Garis
punggung menunjukkan bentuk ideal suatu ternak.
Berdasarkan kriteria bentuk garis punggung (cekung,
lurus dan cembung), pada umumnya sapi Madura
mempunyai garis punggung yang lurus, sebagian
mempunyai garis punggung cekung dan sebagian kecil
mempunyai garis punggung cembung. Bentuk umum sapi
Madura adalah berpunuk kecil. Sapi Madura mempunyai
gelambir yang relatif kecil dibandingkan dengan sapi
Peranakan Ongole. Besar gelambir pada umumnya
berhubungan dengan jenis kelamin. Sapi jantan
cenderung bergelambir lebih besar dibandingkan dengan
sapi betina.

22

Anda mungkin juga menyukai