0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan30 halaman

Lansia dan Hipertensi: Definisi & Perubahan

Dokumen ini membahas konsep lansia dan hipertensi, termasuk definisi, klasifikasi, perubahan fisik dan mental pada lansia, serta penyebab dan gejala hipertensi. Selain itu, dijelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi hipertensi dan penatalaksanaannya baik secara farmakologis maupun nonfarmakologis. Terakhir, terdapat penjelasan mengenai terapi pijat refleksi kaki sebagai metode pengobatan holistik untuk meningkatkan kesehatan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan30 halaman

Lansia dan Hipertensi: Definisi & Perubahan

Dokumen ini membahas konsep lansia dan hipertensi, termasuk definisi, klasifikasi, perubahan fisik dan mental pada lansia, serta penyebab dan gejala hipertensi. Selain itu, dijelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi hipertensi dan penatalaksanaannya baik secara farmakologis maupun nonfarmakologis. Terakhir, terdapat penjelasan mengenai terapi pijat refleksi kaki sebagai metode pengobatan holistik untuk meningkatkan kesehatan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka

1. Konsep Lansia dengan Hipertensi

a. Konsep Lansia

1) Definisi Lansia

Menua atau menjadi tua adalah suatu kondisi yang terjadi di

dalam siklus kehidupan manusia. Menjadi tua merupakan

proses alamiah, yang memiliki arti bahwa manusia telah

melewati tiga tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua

(lanjut usia). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis

maupun psikologis. Sesuai Peraturan Presiden Nomor 88

Tahun 2021 tentang Strategi Nasional Kelanjutusiaan, yang

dimaksud dengan Lanjut Usia (lansia) adalah seseorang yang

telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Memasuki usia tua berarti

manusia mengalami kemunduran, seperti kemunduran fisik

yang ditandai dengan rambut memutih, kulit menggendur, gigi

mulai ompong, gerakan menjadi lambat, penglihatan dan

pendengaran kurang jelas serta posisi tubuh yang tidak

proporsional.
11

2) Klasifikasi Lansia

Menurut World Health Organization (WHO) klasifikasi lanjut

usia sesuai tingkatan umur:

a) Usia pertengahan (middle age) : 45-59 tahun

b) Usia lanjut (elderly) : 60-70 tahun

c) Usia lanjut tua (old) : 75-90 tahun

d) Usia sangat tua (very old) : ≥ 90 tahun

3) Perubahan-perubahan pada Lansia

Perubahan pada lansia dalam penelitian Puspita & Budiman

(2021) sebagai berikut:

a) Perubahan Fisik

Biasanya terjadi pada sistem indra, sistem integumen,

sistem muskuloskeletal, sistem kardiovaskuler, sistem

respirasi, pencernaan dan metabolisme, sistem perkemihan,

sistem saraf serta sistem reproduksi.

b) Perubahan Kognitif

Perubahan kognitif pada lansia meliputi daya ingat

(memory), IQ (intellegent quotient), kemampuan belajar

(learning), kemampuan pemahaman (comprehension),

pemecahan masalah (problem solving), pengambilan

keputusan (decision making), kebijaksanaan (wisdom),

kinerja (performance), dan motivasi (motivation).


12

c) Perubahan Mental

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental antara

lain perubahan fisik, khususnya organ perasa, kesehatan

umum, tingkat pendidikan, keturunan (hereditas),

lingkungan, gangguan syaraf panca indera, timbul kebutaan

dan ketulian, gangguan konsep diri akibat kehilangan

kehilangan jabatan, rangkaian dari kehilangan yaitu

kehilangan hubungan dengan teman dan keluarga,

hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan

terhadap gambaran diri, perubahan konsep diri serta

perubahan spiritual agama (kepercayaan makin terintegrasi

dalam kehidupannya).

d) Perubahan Psikososial

(1) Kesepian kerap kali dirasakan oleh lansia terutama

ketika pasangan atau kerabat terdekat meninggal.

(2) Duka cita (Bereavement) kepergian pasangan, kerabat

terdekat atau bahkan hewan peliharaan dapat

mengganggu kondisi jiwa lansia yang telah rapuh

(3) Depresi, kesedihan yang berkelanjutan serta perasaan

kesepian yang diikuti dengan kondisi dimana lansia

ingin menangis terus menerus dapat menjadi tanda

terjadinya episode depresi.


13

(4) Gangguan cemas dapat dibagi kedalam beberapa bagian

antara lain fobia, gangguan cemas umum, panik,

gangguan stres pasca trauma dan gangguan obsesif

kompulsif.

(5) Parafrenia, adanya waham (curiga) menjadi tanda utama

skizofrenia pada lansia. Hal ini dapat berupa perasaan

curiga bahwa orang terdekatnya akan melakukan

tindakan jahat kepadanya.

(6) Sindroma diogenes merupakan suatu kondisi kelainan

dimana terjadi penampilan atau perilaku pada lansia

yang sangat mengganggu.

b. Konsep Hipertensi

1) Definisi Hipertensi

Pada saat melakukan pemeriksaan tekanan darah, maka akan

didapatkan dua angka. Angka yang di atas didapatkan saat

jantung berkontraksi (sistolik) dan angka yang di bawah

didapatkan saat jantung berelaksasi (diastolik). Hipertensi atau

penyakit darah tinggi adalah suatu kondisi dimana seseorang

mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang

ditunjukkan oleh angka sistolik dan diastolik pada pemeriksaan

tensi darah menggunakan alat ukur tekanan darah. Dikatakan

hipertensi apabila tekanan sistoliknya ≥ 140 mmHg dan

tekanan diastoliknya ≥ 90 mmHg (Kemenkes, 2021).


14

Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi merupakan suatu

gangguan pada dinding pembuluh darah yang mengalami

peningkatan tekanan darah sehingga mengakibatkan suplai

oksigen dan nutrisi tidak bisa sampai ke jaringan yang

membutuhkannya. Hal tersebut mengakibatkan jantung harus

bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan oksigen.

Apabila kondisi tersebut berlangsung dalam waktu yang lama

dan menetap akan menimbulkan penyakit hipertensi (Hastuti,

2022).

2) Tanda dan Gejala Hipertensi

Menurut Hastuti (2022), tanda dan gejala hipertensi antara lain

sebagai berikut:

a) Sakit kepala

b) Jantung berdebar-debar

c) Sesak nafas setelah aktivitas berat

d) Mudah lelah

e) Penglihatan kabur

f) Wajah memerah

g) Hidung berdarah

h) Sering buang air kecil, terutama malam hari

i) Telinga berdenging (tinnitus)

j) Dunia terasa berputar (vertigo)

k) Tengkuk terasa berat


15

l) Sulit tidur

m) Cepat marah

n) Mata berkunang-kunang dan pusing

3) Klasifikasi Hipertensi

Menurut JNT (Joint National Committee) dalam [Link]

tahun 2023, bahwa klasifikasi hipertensi adalah sebagai

berikut:

Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi menurut JNT (Joint National

Committee)

Kriteria Sistolik Diastolik


Normal < 120 mmHg < 80 mmHg
Pra-Hipertensi 120 – 139 mmHg 80 – 89 mmHg
Hipertensi Tingkat 1 140 – 159 mmHg 90 – 99 mmHg
Hipertensi Tingkat 2 > 160 mmHg > 100 mmHg

4) Etiologi Hipertensi

Menurut Halodoc tahun 2022, penyebab hipertensi terbagi

menjadi 2, yaitu:

a) Hipertensi Primer

Hipertensi yang tidak dapat diidentifikasikan. Hipertensi

primer cenderung berkembang secara bertahap selama

bertahun-tahun yang akhirnya semakin menjadi parah jika

tidak ditangani.

b) Hipertensi Sekunder

Hipertensi yang disebabkan karena kondisi kesehatan

tertentu. Hipertensi ini cenderung terjadi secara tiba-tiba


16

dan biasanya lebih tinggi daripada hipertensi primer.

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan hipertensi

sekunder seperti Obstructif sleep apnea (OSA), masalah

ginjal, tumor kelenjar adrenal, masalah tiroid, cacat bawaan

di pembuluh darah, obat-obatan, seperti pil KB, obat flu,

dekongestan, obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas,

obat-obatan terlarang dan lain-lain.

5) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hipertensi

Menurut Kemenkes tahun 2020 terdapat 2 faktor yang

mempengaruhi hipertensi, yaitu:

a) Faktor yang tidak dapat dikontrol

Merupakan faktor risiko yang melekat pada penderita

hipertensi dan tidak dapat diubah.

(1) Umur

Hipertensi meningkat sejalan dengan bertambahnya

usia. Sekitar 50-60% dari individu yang berusia di atas

60 tahun memiliki tekanan darah yang lebih besar atau

sama dengan 140/90 mmHg. Pengaruh degenerasi ini

muncul saat seseorang semakin menua (Nurrahmani,

2021).

(2) Jenis kelamin

Laki-laki memiliki risiko yang lebih tinggi untuk

mengalami hipertensi pada usia yang lebih dini. Laki-


17

laki juga memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap

penyakit kardiovaskular yang menimbulkan gejala sakit

dan risiko kematian. Namun, setelah mencapai usia 50

tahun, hipertensi lebih sering terjadi pada perempuan

(Nurrahmani, 2021).

(3) Genetik

Terdapat faktor genetik di dalam keluarga-keluarga

tertentu yang menyebabkan meningkatnya risiko

hipertensi bagi keluarga tersebut. Risiko menderita

hipertensi dua kali lipat lebih besar terjadi pada individu

yang memiliki orang tua dengan hipertensi

dibandingkan dengan individu yang tidak memiliki

riwayat keluarga terhadap kondisi tersebut. Di samping

itu, individu yang memiliki tekanan darah normal

namun memiliki orang tua dengan respons vaskuler

yang lebih tinggi terhadap stres mental dan fisik

memiliki kecenderungan yang berbeda daripada

individu dan orang tua mereka yang juga tekanan

darahnya normal. Ini berhubungan dengan munculnya

hipertensi di masa mendatang (Nurrahmani, 2021).

b) Faktor yang dapat dikontrol

Merupakan faktor risiko yang diakibatkan dari perilaku

penderita hipertensi yang tidak sehat.


18

(1) Merokok

Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon

monoksida yang dihisap melalui rokok yang masuk ke

dalam aliran darah dapat merusak jaringan endotel

pembuluh darah arteri yang mengakibatkan proses

artero sclerosis dan peningkatan tekanan darah (Buku

Saku Hipertensi, 2021).

(2) Konsumsi garam berlebih

Di dalam populasi yang luas didapatkan kecenderungan

prevalensi hipertensi meningkat dengan bertambahnya

asupan garam. Jika asupan garam kurang dari 3 gram

per hari, prevalensi hipertensi hanya beberapa persen.

Namun, jika asupan garam antara 5-15 gram per hari,

prevalensi hipertensi akan meningkat menjadi 5-15%.

Pengaruh asupan garam terhadap timbulnya hipertensi

terjadi melalui peningkatan volume plasma, curah

jantung dan tekanan darah tanpa diikuti peningkatan

ekskresi garam, disamping pengaruh faktor-faktor yang

lain (Nurrahmani, 2021).

(3) Kurang aktivitas fisik

Pada intinya, saat detak jantung dan pernapasan

meningkat karena melakukan aktivitas apa pun, tubuh

akan mengeluarkan senyawa yang disebut


19

betaendorphin. Senyawa ini tergolong dalam satu

kelompok dengan morfin dan memberikan rasa tenang

yang berlangsung sepanjang hari. Banyak psikolog

yang setuju bahwa beraktivitas fisik merupakan salah

satu cara terbaik untuk mengurangi stres. Dalam hal ini,

control tekanan darah akan tercapai (Nurrahmani,

2021).

(4) Stres

Penyebab stres bisa datang dari berbagai faktor seperti

peningkatan tekanan darah akibat pekerjaan yang tinggi,

kurangnya kebebasan, perasaan tidak aman tentang

masa depan, peningkatan tugas yang berlebihan, adanya

konflik-konflik dan tuntutan psikologis yang diberikan

oleh pekerjaan. Kombinasi tekanan yang diberikan ini

sangat efektif dalam meningkatkan tekanan darah. Ada

banyak cara yang jelas di mana stres dan emosi negatif

dapat mempengaruhi tubuh. Tekanan mental

meningkatkan kebutuhan akan oksigen karena tekanan

darah dan kecepatan detak jantung meningkat

(Nurrahmani, 2021)

(5) Obesitas

Prevalensi hipertensi pada obesitas jauh lebih besar.

Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang-


20

orang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan

sesorang yang badannya normal (Kemenkes RI dalam

Buku Saku Hipertensi, 2021)

(6) Konsumsi Alkohol

Ketika mengonsumsi alkohol secara berlebihan akan

menyebabkan peningkatan tekanan darah yang

tergolong parah karena dapat menyebabkan darah di

otak tersumbat dan menyebabkan stroke (Adisty, 2023)

6) Komplikasi Hipertensi

Komplikasi yang dapat muncul pada penderita hipertensi, jika

tidak ditangani yaitu penyakit jantung, stroke, penyakit ginjal,

retinopati (kerusakan telinga), penyakit pembuluh darah tepi

dan penyakit saraf (Kemenkes, 2019).

7) Penatalaksanaan Hipertensi

Penatalaksanaan hipertensi terbagi menjadi dua yaitu secara

farmakologis dan nonfarmakologis (Putri et al, 2022).

a) Penatalaksanaan farmakologis

Penatalaksanaan secara farmakologis bertujuan untuk

mencegah kematian dan komplikasi dengan mencapai dan

mempertahankan tekanan darah arteri pada atau kurang dari

140/90 mmHg. Terapi farmakologi yaitu yang

menggunakan senyawa obat obatan yang dalam kerjanya

dapat mempengaruhi tekanan darah pada pasien hipertensi


21

seperti: angiotensin receptor blocker (ARBs), beta blocker,

calcium chanel dan lainnya.

b) Penatalaksanaan non farmakologis

Terapi non farmakologis adalah bentuk terapi yang tidak

melibatkan penggunaan obat-obatan. Pendekatan

nonfarmakologis mencakup penurunan berat badan,

pembatasan alkohol dan natrium, olahraga teratur serta

relaksasi. Pengelolaan non farmakologis melibatkan

penciptaan suasana yang rileks, pengurangan tingkat stres,

dan penurunan kecemasan. Teknik non farmakologis yang

meringankan atau mengurangi nyeri seperti dengan

menggunakan sentuhan afektif, sentuhan terapeutik,

akupresur, relaksasi dan teknik imajinasi, distraksi,

hipnosis, kompres dingin, kompres hangat,

stimulasi/message kutaneus (Rasubala dalam Lestari,

2022).

2. Konsep Terapi Pijat Refleksi Kaki

a. Definisi Pijat Refleksi Kaki

Refleksiologi adalah pengobatan holistik berdasarkan

prinsip bahwa terdapat titik pada kaki, tangan, dan telinga yang

terhubung ke bagian tubuh atau organ lain melalui sistem saraf.

Tekanan di titik tersebut akan merangsang pergerakkan energi di

sepanjang saluran saraf yang akan membantu mengembalikan


22

homeostasis (keseimbangan) energi tubuh. Pijat refleksi juga

mengurangi rasa sakit, meningkatkan daya tahan tubuh, membuat

badan lebih rileks dan bisa mengurangi ketergantungan terhadap

obat-obatan. Terapi pijat refleksi menggunakan teknik kompresi

pada otot yang dapat merangsang aliran darah vena dalam jaringan

subkutan dan mengakibatkan retensi darah menurun dalam

pembuluh perifer. Tekanan ini juga menyebabkan pelebaran arteri

sehingga suplai darah ke daerah yang dipijat meningkat, terjadi

efektifitas kontraksi otot dan membuang sisa metabolisme

sehinggga membantu mengurangi ketegangan otot, merangsang

relaksasi dan kenyamanan. Pengaruh langsung pijat refleksi

terhadap elastisitas dinding pembuluh darah adalah dengan

memberikan teknik manipulasi dari struktur jaringan lunak dapat

menenangkan serta mengurangi stres psikologis sehingga hormon

morpin endogen seperti endorphin, enkefalin dan dinorfin

meningkat dan kadar hormon stres seperti cortisol, norepinephrine

dan dopamin di dalam tubuh menurun. Hal ini yang menyebabkan

terjadinya pelebaran pembuluh darah sehingga berdampak pada

penurunan tekanan darah (Sulaiman & Margiyati, 2019).

Pijat refleksi memiliki titik-titik khusus pada tubuh yang

berbeda dengan jenis pijat lainnya. Sebelum melakukan pijatan,

penting untuk mengetahui titik yang tepat agar hasilnya maksimal

dalam merangsang organ tertentu di tubuh. Pengaruh pijat refleksi


23

dapat dirasakan oleh organ atau bagian tubuh melalui stimulasi

sistem saraf. Lalu, stimulus ini akan dikirim ke sistem saraf pusat.

Hasilnya, tubuh akan menjadi lebih rileks. Pijat refleksi bisa

dilakukan di berbagai bagian tubuh, namun salah satu yang

terkenal khasiatnya adalah pijat refleksi kaki. Meski pijatan

dilakukan di bagian kaki, tapi khasiatnya bisa dirasakan di berbagai

bagian dan juga organ tubuh lainnya (Hadiyanti & Marbun, 2023).

b. Tujuan dan Manfaat Pijat Refleksi Kaki

Pijat refleksi kaki dipercaya dapat mengatasi rasa cemas,

nyeri umum dan nyeri punggung. Selain itu, secara luas, pijat

refleksi juga dikenal memiliki banyak manfaat lainnya. Beberapa

potensi manfaatnya adalah (Hadiyanti & Marbun, 2023):

1) Menurunkan stres dan keresahan

2) Mengurangi nyeri atau rasa sakit

3) Meningkatkan mood

4) Meningkatkan kondisi badan secara keseluruhan

Sebuah penelitian yang dilakukan di East California

University, Amerika Serikat menemukan bahwa terdapat manfaat

pijat refleksi kaki bagi pasien yang menderita kanker payudara dan

paru-paru. Salah satu manfaat yang dapat diperoleh dari melakukan

refleksi telapak kaki adalah berkurangnya rasa resah yang

dirasakan oleh partisipan setelah melakukan sesi pijat refleksi

selama 30 menit (Hadiyanti & Marbun, 2023).


24

c. Standar Operasional Prosedur Pijat Refleksi Kaki

Adapun teknik dalam melakukan pijat refleksi kaki sebagai berikut

(Puthusseril dalam Ainun et al, 2021):

1) Tempatkan handuk di bawah paha dan tumit.

2) Melumuri kedua telapak tangan dengan lotion atau minyak

baby oil.

3) Lakukan pemijitan kaki dimulai dari telapak kaki sampai

dengan bagian jari-jari kaki selama 15 detik di setiap bagian

kaki.

4) Observasi tingkat kenyamanan pasien pada saat dilakukan

massage.

Gambar 2.1 Langkah-langkah Pijat Refleksi Kaki


25

Sumber: [Link]
26

3. Konsep Asuhan Keperawatan Lansia Hipertensi

a. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian adalah langkah pertama dalam proses keperawatan.

Pada pengkajian ini, penting untuk melakukan evaluasi yang

menyeluruh terhadap aspek-aspek biologis, psikologis, sosial, dan

spiritual. Tujuan pengkajian adalah untuk mengumpulkan

informasi dan membuat data dasar pasien. Terdapat beberapa

metode yang dapat digunakan dalam pengumpulan data, yaitu

wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik serta diagnostik.

Proses pengkajian melibatkan tindakan sistematis dalam

mengumpulkan, memverifikasi, dan mengkomunikasikan data-data

yang berkaitan dengan klien (Padila, 2019).

1) Identitas klien meliputi nama, tempat tanggal lahir, jenis

kelamin, status perkawinan, agama, dan suku.

2) Riwayat pekerjaan dan status ekonomi meliputi pekerjaan saat

ini, perkerjaan sebelumnya, sumber pendapatan, dan kecukupan

pendapatan.

3) Lingkungan tempat tinggal meliputi kebersihan dan kerapihan

lingkungan, penerangan, sirkulasi udara, keadaan kamar mandi

dan WC, pembuangan air kotor, sumber air minum,

pembuangan sampah, sumber pencemaran, privasi, dan risiko

injury.
27

4) Riwayat Kesehatan

a) Status kesehatan saat ini

Menurut Cahyani & Nindya (2020), keluhan utama sering

menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan

adalah sakit kepala disertai rasa berat di tengkuk dan sakit

kepala berdenyut. Pada sebagian besar penderita, hipertensi

tidak menimbulkan gejala. Gejala yang di maksud adalah

sakit di kepala, pendarahan di hidung, pusing, wajah

kemerahan, dan kelelahan yang bisa saja terjadi pada

penderita hipertensi. Jika hipertensinya berat atau menahun

dan tidak di obati, bisa timbul gejala sakit kepala, kelelahan

muntah, sesak nafas, pandangan menjadi kabur, yang

terjadi karena kerusakan pada otak, mata, jantung dan

ginjal. Kadang penderita hipertensi berat mengalami

penurunan kesadaran dan bahkan koma.

b) Riwayat kesehatan masa lalu

Menurut Cahyani & Nindya (2020), riwayat kesehatan

masa lalu yang perlu dikaji antara lain: apakah ada riwayat

hipertensi sebelumnya, diabetes melitus, penyakit ginjal,

obesitas, hiperkolestrol, adanya riwayat merokok,

penggunaan alcohol, dan penggunaan obat kontrasepsi oral

dan lain-lain.
28

5) Pola Fungsional

a) Persepsi kesehatan dan pola manajemen kesehatan

b) Nutrisi metabolik

Menilai apakah ada perubahan nutrisi dalam makan dan

minum, pola konsumsi makanan dan riwayat peningkatan

berat badan. Biasanya penderita hipertensi perlu memenuhi

kandungan nutrisi seperti karbohidrat, protein, mineral, air,

lemak, dan serat.

c) Eliminasi

d) Aktivitas pola dan latihan

e) Pola istirahat tidur

f) Pola kognitif persepsi

g) Persepsi diri pola konsep diri

h) Pola peran-hubungan

i) Seksualitas

j) Koping-pola toleransi stres

k) Nilai-pola keyakinan

6) Pemeriksaan fisik meliputi keadaan umum, tanda-tanda vital,

berat badan, tinggi badan, pemeriksaan kepala, rambut, mata,

telinga, mulut, gigi, bibir, dada, abdomen, kulit, ekstremitas

atas, dan ekstremitas bawah.


29

7) Pengkajian khusus

a) Indeks katz

Indeks katz adalah suatu instrumen pengkajian dengan

sistem penilaian yang didasarkan pada kemampuan

seseorang untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari

secara mandiri. Penentuan kemandirian fungsional dapat

mengidentifikasikan kemampuan dan keterbatasan klien

sehingga memudahkan pemilihan intervensi yang tepat

(Purba el al, 2022). Adapun aktivitas yang dinilai dalam

indeks katz adalah bathing, dressing, toileting, transferring,

continence dan feeding.

b) APGAR keluarga lansia

APGAR keluarga lansia dilakukan untuk menilai fungsi

keluarga dengan lansia. APGAR terdiri dari: Adaptation,

Partnership, Growth, Afek, dan Resolve (Purba el al, 2022).

c) SPMSQ (Short Portable Mental Status Questionaire)

SPMSQ (Short Portable Mental Status Questionaire)

adalah penilaian fungsi intelektual lansia. Untuk

mendeteksi adanya tingkat kerusakan intelektual. Terdiri

dari 10 pertanyaan tentang: orientasi, riwayat pribadi,

memori dalam hubungannya dengan kemampuan perawatan

diri, memori jauh dan kemampuan matematis (Purba el al,

2022).
30

d) Inventaris depresi

Back Depresi back merupakan alat pengukur status efektif

digunakan untuk membedakan jenis depresi yang

mempengaruhi suasana hati. Berisikan 21 karakteristik

yaitu alam perasaan, pesimisme, rasa kegagalan, kepuasan,

rasa bersalah, rasa terhukum, kekecewaan terhadap

seseorang, kekerasan terhadap diri sendiri, keinginan untuk

menghukum diri sendiri, keinginan untuk menangis, mudah

tersinggung, menarik diri, ketidakmampuan membuat

keputusan, gambaran tubuh, gangguan tidur, kelelahan,

gangguan selera makan, kehilangan berat badan. Berisikan

13 hal tentang gejala dan sikap yang berhubungan dengan

depresi (Purba el al, 2022).

e) Resiko jatuh (Morse Fall Scale)

Morse Fall Scale (MFS) adalah strategi pencegahan jatuh

dengan menciptakan lingkungan yang bebas dari faktor

pencetus, yaitu dengan mengorientasikan responden

terhadap lingkungan dan pemberian informasi yang jelas

tentang bagaimana menggunakan alat bantu jalan. MFS

metode cepat dan sederhana yang dapat digunakan untuk

menilai kemungkinan jatuh pada lansia dan digunakan

secara luas dalam melakukan perawatan akut maupun

dalam pelayanan jangka panjang. Instrumen ini memiliki 6


31

variabel yaitu: riwayat jatuh, diagnosa sekunder,

penggunaan alat bantu, terpasang infus, gaya berjalan dan

status mental (Sarah & Sembiring, 2021).

f) Status nutrisi: MNA (Mini Nutritional Assessment)

MNA (Mini Nutritional Assessment) adalah alat untuk

mengukur atau menskrining nutrisi pada lansia. Mini

Nutritional Assessment (MNA) mengandung pertanyaan-

pertanyaan yang berhubungan dengan nutrisi dan kondisi

kesehatan, kebebasan, kualitas hidup, pengetahuan,

mobilitas, dan kesehatan yang subjektif. Tujuan dari MNA

ini untuk mendeteksi status gizi lansia, sehingga akan

mendapatkan rekomendasi lebih lanjut (Mujiastuti, 2021).

b. Diagnosa Keperawatan

Menurut SDKI (2017) diagnosa keperawatan yang mungkin

ditemukan pada klien dengan hipertensi adalah:

1) Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala penyakit:

Hipertensi

2) Nyeri akut berhubungan dengan agen pencidera fisiologis:

peningkatan tekanan vaskuler serebral

3) Gangguan pola tidur berhubungan dengan kurangnya kontrol

tidur

4) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan

antara suplai dan kebutuhan oksigen


32

5) Manajemen kesehatan tidak efektif berhubungan dengan

kurang terpapar informasi

6) Risiko perfusi serebral tidak efektif dibuktikan dengan

hipertensi

7) Risiko perfusi perifer tidak efektif dibuktikan dengan hipertensi

8) Risiko penurunan curah jantung dibuktikan dengan perubahan

afterload

9) Ketidakpatuhan minum obat berhubungan dengan

ketidakadekuatan pemahaman: kurang motivasi

c. Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan adalah segala treatment yang dikerjakan

oleh perawat didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis

untuk mencapai luaran (outcome) yang diharapkan. Sedangkan

tindakan keperawatan adalah perilaku atau aktivitas spesifik yang

dikerjakan oleh perawat untuk mengimplementasikan intervensi

keperawatan. Tindakan pada intervensi keperawatan terdiri atas

observasi, terapeutik, edukasi dan kolaborasi (Tim pokja SIKI

PPNI, 2018).

Tabel 2.2 Intervensi Keperawatan


Diagnosa Tujuan &
Intervensi Keperawatan
Keperawatan Kriteria Hasil
Gangguan rasa Setelah dilakukan Intervensi Utama:
nyaman intervensi
berhubungan keperawatan 1. Manajemen Nyeri
dengan gejala selama 3 x 24 jam, (SIKI, I.08238 Hal. 201)
penyakit: maka status
33

Diagnosa Tujuan &


Intervensi Keperawatan
Keperawatan Kriteria Hasil
Hipertensi kenyamanan Observasi:
(SDKI, D.0074 meningkat, dengan - Identifikasi lokasi, karakteristik,
Hal. 166) kriteria hasil: durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
1. Keluhan tidak nyeri
nyaman - Identifikasi skala nyeri
menurun - Idenfitikasi respon nyeri non verbal
2. Gelisah - Identifikasi faktor yang
menurun memperberat dan memperingan
(SKLI, L.08064 nyeri
Hal.110) - Identifikasi pengetahuan dan
- keyakinan tentang nyeri
- Identifikasi pengaruh budaya
terhadap respon nyeri
- Identifikasi pengaruh nyeri pada
kualitas hidup
- Monitor keberhasilan terapi
komplementer yang sudah diberikan
- Monitor efek samping penggunaan
analgetik

Terapeutik:
- Berikan Teknik nonfarmakologis
untuk mengurangi nyeri (mis:
TENS, hypnosis, akupresur, terapi
music, biofeedback, terapi pijat,
aromaterapi, Teknik imajinasi
terbimbing, kompres hangat/dingin,
terapi bermain)
- Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis: suhu
ruangan, pencahayaan, kebisingan)
- Fasilitasi istirahat dan tidur
- Pertimbangkan jenis dan sumber
nyeri dalam pemilihan strategi
meredakan nyeri

Edukasi:
- Jelaskan penyebab, periode, dan
pemicu nyeri
- Jelaskan strategi meredakan nyeri
- Anjurkan memonitor nyeri secara
mandiri
- Anjurkan menggunakan analgesik
34

Diagnosa Tujuan &


Intervensi Keperawatan
Keperawatan Kriteria Hasil
secara tepat
- Ajarkan Teknik farmakologis untuk
mengurangi nyeri

Kolaborasi:
- Kolaborasi pemberian analgetik, jika
perlu

2. Pengaturan Posisi
(SIKI, I.01019 Hal. 293)

Observasi:
- Monitor status oksigenasi sebelum
dan sesudah mengubah posisi
- Monitor alat traksi agar selalu tepat

Terapeutik:
- Tempatkan pada matras/tempat tidur
terapeutik yang tepat
- Tempatkan pada posisi terapeutik
- Tempatkan objek yang sering
digunakan dalam jangkauan
- Tempatkan bel atau lampu panggilan
dalam jangkauan
- Sediakan matras yang kokoh/padat
- Atur posisi tidur yang disukai, jika
tidak kontraindikasi
- Atur posisi untuk mengurangi sesak
(mis: semi-fowler)
- Atur posisi yang meningkatkan
drainage
- Posisikan pada kesejajaran tubuh
yang tepat
- Imobilisasi dan topang bagian tubuh
yang cidera dengan tepat
- Tinggikan bagian tubuh yang sakit
dengan tepat
- Tinggikan anggota gerak 20° atau
lebih diatas level jantung
- Tinggikan tempat tidur bagian
kepala
- Berikan bantal yang tepat pada leher
- Berikan topangan pada area edema
(mis: bantal dibawah lengan atau
35

Diagnosa Tujuan &


Intervensi Keperawatan
Keperawatan Kriteria Hasil
skrotum)
- Posisikan untuk mempermudah
ventilasi/perfusi (mis:
tengkurap/good lung down)
- Motivasi melakukan ROM aktif atau
ROM pasif
- Motivasi terlibat dalam perubahan
posisi, sesuai kebutuhan
- Hindari menempatkan pada posisi
yang dapat meningkatkan nyeri
- Hindari menempatkan stump
amputasi pada posisi fleksi
- Hindari posisi yang menimbulkan
ketegangan pada luka
- Minimalkan gesekan dan tarikan
saat mengubah posisi
- Ubah posisi setiap 2 jam
- Ubah posisi dengan Teknik log roll
- Pertahankan posisi dan integritas
traksi

Edukasi:
- Informasikan saat akan dilakukan
perubahan posisi
- Ajarkan cara menggunakan postur
yang baik dan mekanika tubuh yang
baik selama melakukan perubahan
posisi
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian premedikasi
sebelum mengubah posisi, jika perlu

3. Terapi Relaksasi
(SIKI, I.09326 Hal. 436)

Observasi:
- Identifikasi penurunan tingkat
energi, ketidakmampuan
berkonsentrasi, atau gejala lain yang
mengganggu kemampuan kognitif
- Identifikasi Teknik relaksasi yang
pernah efektif digunakan
- Identifikasi kesediaan, kemampuan,
36

Diagnosa Tujuan &


Intervensi Keperawatan
Keperawatan Kriteria Hasil
dan penggunaan Teknik sebelumnya
- Periksa ketegangan otot, frekuensi
nadi, tekanan darah, dan suhu
sebelum dan sesudah Latihan
- Monitor respons terhadap terapi
relaksasi

Terapeutik:
- Ciptakan lingkungan tenang dan
tanpa gangguan dengan pencahayaan
dan suhu ruang nyaman, jika
memungkinkan
- Berikan informasi tertulis tentang
persiapan dan prosedur teknik
relaksasi
- Gunakan pakaian longgar
- Gunakan nada suara lembut dengan
irama lambat dan berirama
- Gunakan relaksasi sebagai strategi
penunjang dengan analgetik atau
Tindakan medis lain, jika sesuai

Edukasi:
- Jelaskan tujuan, manfaat, Batasan,
dan jenis relaksasi yang tersedia
(mis: musik, meditasi, napas dalam,
relaksasi otot progresif)
- Jelaskan secara rinci intervensi
relaksasi yang dipilih
- Anjurkan mengambil posisi nyaman
- Anjurkan rileks dan merasakan
sensasi relaksasi
- Anjurkan sering mengulangi atau
melatih Teknik yang dipilih
- Demonstrasikan dan latih Teknik
relaksasi (mis: napas dalam,
peregangan, atau imajinasi
terbimbing)
37

d. Implementasi Keperawatan

Implementasi adalah pelaksanaan dari rencana keperawatan untuk

mencapai tujuan yang spesifik. Tahap implementasi dimulai

setelah rencana keperawatan disusun dan ditujukan untuk

membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan dari

implementasi adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang

telah ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan,

pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi

koping. Perencanaan keperawatan dapat dilaksanakan dengan baik

jika klien mempunyai keinginan untuk berpartisipasi dalam

implementasi keperawatan. Implementasi dalam mengurangi

masalah keperawatan nyeri akut lebih ditekankan pada

(Andarmoyo, 2013):

1) Upaya keperawatan dalam meningkatkan kenyamanan

2) Upaya pemberian informasi yang akurat

3) Upaya mempertahankan kesejahteraan

4) Upaya tindakan meredakan nyeri dengan teknik non

farmakologis

5) Pemberian terapi nyeri farmakologis

e. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah hasil dari perkembangan kesehatan pasien, dengan

bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tujuan perawat dapat

dicapai dan memberikan umpan balik terhadap asuhan keperawatan


38

yang diberikan. Evaluasi keperawatan terhadap pasien dengan

masalah nyeri akut dilakukan dengan menilai kemampuan pasien

dalam merespon rangsangan nyeri diantaranya (Andarmoyo, 2013):

1) Pasien melaporkan adanya penurunan rasa nyeri

2) Pasien mendapatkan pemahaman yang akurat mengenai nyeri

3) Mampu mempertahankan kesejahteraan dan meningkatkan

kemampuan fungsi fisik dan psikologis yang dimiliki pasien

4) Mampu melakukan tindakan-tindakan non farmakologis

5) Mampu menggunakan terapi yang diberikan untuk mengurangi

nyeri.
39

B. Kerangka Teori

Gambar 2.2 Kerangka Teori

Faktor Resiko

Umur, jenis kelamin, genetik

Vasokontriksi pembuluh darah pada lansia

Peningkatan tekanan darah pada lansia Hipertensi

Penatalaksanaan

Farmakologi Nonfarmakologi

Obat anti hipertensi Lestari, 2022:


Sentuhan afektif, sentuhan terapeutik.
Akupresur, relaksasi, teknik imajinasi,
Angiotensin receptor blocker distraksi, hipnosis, kompres dingin,
(arbs), beta blocker, calcium kompres hangat, stimulasi/message
chanel dan lainnya

Terapi relaksasi

Terapi Pijat Refleksi Kaki

Mengembalikan homeostasis
(keseimbangan) energi tubuh Pelebaran pembuluh darah

Retensi darah menurun dalam


pembuluh perifer Tekanan Darah Menurun Nyaman

Anda mungkin juga menyukai