BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Konsep Lansia dengan Hipertensi
a. Konsep Lansia
1) Definisi Lansia
Menua atau menjadi tua adalah suatu kondisi yang terjadi di
dalam siklus kehidupan manusia. Menjadi tua merupakan
proses alamiah, yang memiliki arti bahwa manusia telah
melewati tiga tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua
(lanjut usia). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis
maupun psikologis. Sesuai Peraturan Presiden Nomor 88
Tahun 2021 tentang Strategi Nasional Kelanjutusiaan, yang
dimaksud dengan Lanjut Usia (lansia) adalah seseorang yang
telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Memasuki usia tua berarti
manusia mengalami kemunduran, seperti kemunduran fisik
yang ditandai dengan rambut memutih, kulit menggendur, gigi
mulai ompong, gerakan menjadi lambat, penglihatan dan
pendengaran kurang jelas serta posisi tubuh yang tidak
proporsional.
11
2) Klasifikasi Lansia
Menurut World Health Organization (WHO) klasifikasi lanjut
usia sesuai tingkatan umur:
a) Usia pertengahan (middle age) : 45-59 tahun
b) Usia lanjut (elderly) : 60-70 tahun
c) Usia lanjut tua (old) : 75-90 tahun
d) Usia sangat tua (very old) : ≥ 90 tahun
3) Perubahan-perubahan pada Lansia
Perubahan pada lansia dalam penelitian Puspita & Budiman
(2021) sebagai berikut:
a) Perubahan Fisik
Biasanya terjadi pada sistem indra, sistem integumen,
sistem muskuloskeletal, sistem kardiovaskuler, sistem
respirasi, pencernaan dan metabolisme, sistem perkemihan,
sistem saraf serta sistem reproduksi.
b) Perubahan Kognitif
Perubahan kognitif pada lansia meliputi daya ingat
(memory), IQ (intellegent quotient), kemampuan belajar
(learning), kemampuan pemahaman (comprehension),
pemecahan masalah (problem solving), pengambilan
keputusan (decision making), kebijaksanaan (wisdom),
kinerja (performance), dan motivasi (motivation).
12
c) Perubahan Mental
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental antara
lain perubahan fisik, khususnya organ perasa, kesehatan
umum, tingkat pendidikan, keturunan (hereditas),
lingkungan, gangguan syaraf panca indera, timbul kebutaan
dan ketulian, gangguan konsep diri akibat kehilangan
kehilangan jabatan, rangkaian dari kehilangan yaitu
kehilangan hubungan dengan teman dan keluarga,
hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan
terhadap gambaran diri, perubahan konsep diri serta
perubahan spiritual agama (kepercayaan makin terintegrasi
dalam kehidupannya).
d) Perubahan Psikososial
(1) Kesepian kerap kali dirasakan oleh lansia terutama
ketika pasangan atau kerabat terdekat meninggal.
(2) Duka cita (Bereavement) kepergian pasangan, kerabat
terdekat atau bahkan hewan peliharaan dapat
mengganggu kondisi jiwa lansia yang telah rapuh
(3) Depresi, kesedihan yang berkelanjutan serta perasaan
kesepian yang diikuti dengan kondisi dimana lansia
ingin menangis terus menerus dapat menjadi tanda
terjadinya episode depresi.
13
(4) Gangguan cemas dapat dibagi kedalam beberapa bagian
antara lain fobia, gangguan cemas umum, panik,
gangguan stres pasca trauma dan gangguan obsesif
kompulsif.
(5) Parafrenia, adanya waham (curiga) menjadi tanda utama
skizofrenia pada lansia. Hal ini dapat berupa perasaan
curiga bahwa orang terdekatnya akan melakukan
tindakan jahat kepadanya.
(6) Sindroma diogenes merupakan suatu kondisi kelainan
dimana terjadi penampilan atau perilaku pada lansia
yang sangat mengganggu.
b. Konsep Hipertensi
1) Definisi Hipertensi
Pada saat melakukan pemeriksaan tekanan darah, maka akan
didapatkan dua angka. Angka yang di atas didapatkan saat
jantung berkontraksi (sistolik) dan angka yang di bawah
didapatkan saat jantung berelaksasi (diastolik). Hipertensi atau
penyakit darah tinggi adalah suatu kondisi dimana seseorang
mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang
ditunjukkan oleh angka sistolik dan diastolik pada pemeriksaan
tensi darah menggunakan alat ukur tekanan darah. Dikatakan
hipertensi apabila tekanan sistoliknya ≥ 140 mmHg dan
tekanan diastoliknya ≥ 90 mmHg (Kemenkes, 2021).
14
Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi merupakan suatu
gangguan pada dinding pembuluh darah yang mengalami
peningkatan tekanan darah sehingga mengakibatkan suplai
oksigen dan nutrisi tidak bisa sampai ke jaringan yang
membutuhkannya. Hal tersebut mengakibatkan jantung harus
bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan oksigen.
Apabila kondisi tersebut berlangsung dalam waktu yang lama
dan menetap akan menimbulkan penyakit hipertensi (Hastuti,
2022).
2) Tanda dan Gejala Hipertensi
Menurut Hastuti (2022), tanda dan gejala hipertensi antara lain
sebagai berikut:
a) Sakit kepala
b) Jantung berdebar-debar
c) Sesak nafas setelah aktivitas berat
d) Mudah lelah
e) Penglihatan kabur
f) Wajah memerah
g) Hidung berdarah
h) Sering buang air kecil, terutama malam hari
i) Telinga berdenging (tinnitus)
j) Dunia terasa berputar (vertigo)
k) Tengkuk terasa berat
15
l) Sulit tidur
m) Cepat marah
n) Mata berkunang-kunang dan pusing
3) Klasifikasi Hipertensi
Menurut JNT (Joint National Committee) dalam [Link]
tahun 2023, bahwa klasifikasi hipertensi adalah sebagai
berikut:
Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi menurut JNT (Joint National
Committee)
Kriteria Sistolik Diastolik
Normal < 120 mmHg < 80 mmHg
Pra-Hipertensi 120 – 139 mmHg 80 – 89 mmHg
Hipertensi Tingkat 1 140 – 159 mmHg 90 – 99 mmHg
Hipertensi Tingkat 2 > 160 mmHg > 100 mmHg
4) Etiologi Hipertensi
Menurut Halodoc tahun 2022, penyebab hipertensi terbagi
menjadi 2, yaitu:
a) Hipertensi Primer
Hipertensi yang tidak dapat diidentifikasikan. Hipertensi
primer cenderung berkembang secara bertahap selama
bertahun-tahun yang akhirnya semakin menjadi parah jika
tidak ditangani.
b) Hipertensi Sekunder
Hipertensi yang disebabkan karena kondisi kesehatan
tertentu. Hipertensi ini cenderung terjadi secara tiba-tiba
16
dan biasanya lebih tinggi daripada hipertensi primer.
Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan hipertensi
sekunder seperti Obstructif sleep apnea (OSA), masalah
ginjal, tumor kelenjar adrenal, masalah tiroid, cacat bawaan
di pembuluh darah, obat-obatan, seperti pil KB, obat flu,
dekongestan, obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas,
obat-obatan terlarang dan lain-lain.
5) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hipertensi
Menurut Kemenkes tahun 2020 terdapat 2 faktor yang
mempengaruhi hipertensi, yaitu:
a) Faktor yang tidak dapat dikontrol
Merupakan faktor risiko yang melekat pada penderita
hipertensi dan tidak dapat diubah.
(1) Umur
Hipertensi meningkat sejalan dengan bertambahnya
usia. Sekitar 50-60% dari individu yang berusia di atas
60 tahun memiliki tekanan darah yang lebih besar atau
sama dengan 140/90 mmHg. Pengaruh degenerasi ini
muncul saat seseorang semakin menua (Nurrahmani,
2021).
(2) Jenis kelamin
Laki-laki memiliki risiko yang lebih tinggi untuk
mengalami hipertensi pada usia yang lebih dini. Laki-
17
laki juga memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap
penyakit kardiovaskular yang menimbulkan gejala sakit
dan risiko kematian. Namun, setelah mencapai usia 50
tahun, hipertensi lebih sering terjadi pada perempuan
(Nurrahmani, 2021).
(3) Genetik
Terdapat faktor genetik di dalam keluarga-keluarga
tertentu yang menyebabkan meningkatnya risiko
hipertensi bagi keluarga tersebut. Risiko menderita
hipertensi dua kali lipat lebih besar terjadi pada individu
yang memiliki orang tua dengan hipertensi
dibandingkan dengan individu yang tidak memiliki
riwayat keluarga terhadap kondisi tersebut. Di samping
itu, individu yang memiliki tekanan darah normal
namun memiliki orang tua dengan respons vaskuler
yang lebih tinggi terhadap stres mental dan fisik
memiliki kecenderungan yang berbeda daripada
individu dan orang tua mereka yang juga tekanan
darahnya normal. Ini berhubungan dengan munculnya
hipertensi di masa mendatang (Nurrahmani, 2021).
b) Faktor yang dapat dikontrol
Merupakan faktor risiko yang diakibatkan dari perilaku
penderita hipertensi yang tidak sehat.
18
(1) Merokok
Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon
monoksida yang dihisap melalui rokok yang masuk ke
dalam aliran darah dapat merusak jaringan endotel
pembuluh darah arteri yang mengakibatkan proses
artero sclerosis dan peningkatan tekanan darah (Buku
Saku Hipertensi, 2021).
(2) Konsumsi garam berlebih
Di dalam populasi yang luas didapatkan kecenderungan
prevalensi hipertensi meningkat dengan bertambahnya
asupan garam. Jika asupan garam kurang dari 3 gram
per hari, prevalensi hipertensi hanya beberapa persen.
Namun, jika asupan garam antara 5-15 gram per hari,
prevalensi hipertensi akan meningkat menjadi 5-15%.
Pengaruh asupan garam terhadap timbulnya hipertensi
terjadi melalui peningkatan volume plasma, curah
jantung dan tekanan darah tanpa diikuti peningkatan
ekskresi garam, disamping pengaruh faktor-faktor yang
lain (Nurrahmani, 2021).
(3) Kurang aktivitas fisik
Pada intinya, saat detak jantung dan pernapasan
meningkat karena melakukan aktivitas apa pun, tubuh
akan mengeluarkan senyawa yang disebut
19
betaendorphin. Senyawa ini tergolong dalam satu
kelompok dengan morfin dan memberikan rasa tenang
yang berlangsung sepanjang hari. Banyak psikolog
yang setuju bahwa beraktivitas fisik merupakan salah
satu cara terbaik untuk mengurangi stres. Dalam hal ini,
control tekanan darah akan tercapai (Nurrahmani,
2021).
(4) Stres
Penyebab stres bisa datang dari berbagai faktor seperti
peningkatan tekanan darah akibat pekerjaan yang tinggi,
kurangnya kebebasan, perasaan tidak aman tentang
masa depan, peningkatan tugas yang berlebihan, adanya
konflik-konflik dan tuntutan psikologis yang diberikan
oleh pekerjaan. Kombinasi tekanan yang diberikan ini
sangat efektif dalam meningkatkan tekanan darah. Ada
banyak cara yang jelas di mana stres dan emosi negatif
dapat mempengaruhi tubuh. Tekanan mental
meningkatkan kebutuhan akan oksigen karena tekanan
darah dan kecepatan detak jantung meningkat
(Nurrahmani, 2021)
(5) Obesitas
Prevalensi hipertensi pada obesitas jauh lebih besar.
Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang-
20
orang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan
sesorang yang badannya normal (Kemenkes RI dalam
Buku Saku Hipertensi, 2021)
(6) Konsumsi Alkohol
Ketika mengonsumsi alkohol secara berlebihan akan
menyebabkan peningkatan tekanan darah yang
tergolong parah karena dapat menyebabkan darah di
otak tersumbat dan menyebabkan stroke (Adisty, 2023)
6) Komplikasi Hipertensi
Komplikasi yang dapat muncul pada penderita hipertensi, jika
tidak ditangani yaitu penyakit jantung, stroke, penyakit ginjal,
retinopati (kerusakan telinga), penyakit pembuluh darah tepi
dan penyakit saraf (Kemenkes, 2019).
7) Penatalaksanaan Hipertensi
Penatalaksanaan hipertensi terbagi menjadi dua yaitu secara
farmakologis dan nonfarmakologis (Putri et al, 2022).
a) Penatalaksanaan farmakologis
Penatalaksanaan secara farmakologis bertujuan untuk
mencegah kematian dan komplikasi dengan mencapai dan
mempertahankan tekanan darah arteri pada atau kurang dari
140/90 mmHg. Terapi farmakologi yaitu yang
menggunakan senyawa obat obatan yang dalam kerjanya
dapat mempengaruhi tekanan darah pada pasien hipertensi
21
seperti: angiotensin receptor blocker (ARBs), beta blocker,
calcium chanel dan lainnya.
b) Penatalaksanaan non farmakologis
Terapi non farmakologis adalah bentuk terapi yang tidak
melibatkan penggunaan obat-obatan. Pendekatan
nonfarmakologis mencakup penurunan berat badan,
pembatasan alkohol dan natrium, olahraga teratur serta
relaksasi. Pengelolaan non farmakologis melibatkan
penciptaan suasana yang rileks, pengurangan tingkat stres,
dan penurunan kecemasan. Teknik non farmakologis yang
meringankan atau mengurangi nyeri seperti dengan
menggunakan sentuhan afektif, sentuhan terapeutik,
akupresur, relaksasi dan teknik imajinasi, distraksi,
hipnosis, kompres dingin, kompres hangat,
stimulasi/message kutaneus (Rasubala dalam Lestari,
2022).
2. Konsep Terapi Pijat Refleksi Kaki
a. Definisi Pijat Refleksi Kaki
Refleksiologi adalah pengobatan holistik berdasarkan
prinsip bahwa terdapat titik pada kaki, tangan, dan telinga yang
terhubung ke bagian tubuh atau organ lain melalui sistem saraf.
Tekanan di titik tersebut akan merangsang pergerakkan energi di
sepanjang saluran saraf yang akan membantu mengembalikan
22
homeostasis (keseimbangan) energi tubuh. Pijat refleksi juga
mengurangi rasa sakit, meningkatkan daya tahan tubuh, membuat
badan lebih rileks dan bisa mengurangi ketergantungan terhadap
obat-obatan. Terapi pijat refleksi menggunakan teknik kompresi
pada otot yang dapat merangsang aliran darah vena dalam jaringan
subkutan dan mengakibatkan retensi darah menurun dalam
pembuluh perifer. Tekanan ini juga menyebabkan pelebaran arteri
sehingga suplai darah ke daerah yang dipijat meningkat, terjadi
efektifitas kontraksi otot dan membuang sisa metabolisme
sehinggga membantu mengurangi ketegangan otot, merangsang
relaksasi dan kenyamanan. Pengaruh langsung pijat refleksi
terhadap elastisitas dinding pembuluh darah adalah dengan
memberikan teknik manipulasi dari struktur jaringan lunak dapat
menenangkan serta mengurangi stres psikologis sehingga hormon
morpin endogen seperti endorphin, enkefalin dan dinorfin
meningkat dan kadar hormon stres seperti cortisol, norepinephrine
dan dopamin di dalam tubuh menurun. Hal ini yang menyebabkan
terjadinya pelebaran pembuluh darah sehingga berdampak pada
penurunan tekanan darah (Sulaiman & Margiyati, 2019).
Pijat refleksi memiliki titik-titik khusus pada tubuh yang
berbeda dengan jenis pijat lainnya. Sebelum melakukan pijatan,
penting untuk mengetahui titik yang tepat agar hasilnya maksimal
dalam merangsang organ tertentu di tubuh. Pengaruh pijat refleksi
23
dapat dirasakan oleh organ atau bagian tubuh melalui stimulasi
sistem saraf. Lalu, stimulus ini akan dikirim ke sistem saraf pusat.
Hasilnya, tubuh akan menjadi lebih rileks. Pijat refleksi bisa
dilakukan di berbagai bagian tubuh, namun salah satu yang
terkenal khasiatnya adalah pijat refleksi kaki. Meski pijatan
dilakukan di bagian kaki, tapi khasiatnya bisa dirasakan di berbagai
bagian dan juga organ tubuh lainnya (Hadiyanti & Marbun, 2023).
b. Tujuan dan Manfaat Pijat Refleksi Kaki
Pijat refleksi kaki dipercaya dapat mengatasi rasa cemas,
nyeri umum dan nyeri punggung. Selain itu, secara luas, pijat
refleksi juga dikenal memiliki banyak manfaat lainnya. Beberapa
potensi manfaatnya adalah (Hadiyanti & Marbun, 2023):
1) Menurunkan stres dan keresahan
2) Mengurangi nyeri atau rasa sakit
3) Meningkatkan mood
4) Meningkatkan kondisi badan secara keseluruhan
Sebuah penelitian yang dilakukan di East California
University, Amerika Serikat menemukan bahwa terdapat manfaat
pijat refleksi kaki bagi pasien yang menderita kanker payudara dan
paru-paru. Salah satu manfaat yang dapat diperoleh dari melakukan
refleksi telapak kaki adalah berkurangnya rasa resah yang
dirasakan oleh partisipan setelah melakukan sesi pijat refleksi
selama 30 menit (Hadiyanti & Marbun, 2023).
24
c. Standar Operasional Prosedur Pijat Refleksi Kaki
Adapun teknik dalam melakukan pijat refleksi kaki sebagai berikut
(Puthusseril dalam Ainun et al, 2021):
1) Tempatkan handuk di bawah paha dan tumit.
2) Melumuri kedua telapak tangan dengan lotion atau minyak
baby oil.
3) Lakukan pemijitan kaki dimulai dari telapak kaki sampai
dengan bagian jari-jari kaki selama 15 detik di setiap bagian
kaki.
4) Observasi tingkat kenyamanan pasien pada saat dilakukan
massage.
Gambar 2.1 Langkah-langkah Pijat Refleksi Kaki
25
Sumber: [Link]
26
3. Konsep Asuhan Keperawatan Lansia Hipertensi
a. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian adalah langkah pertama dalam proses keperawatan.
Pada pengkajian ini, penting untuk melakukan evaluasi yang
menyeluruh terhadap aspek-aspek biologis, psikologis, sosial, dan
spiritual. Tujuan pengkajian adalah untuk mengumpulkan
informasi dan membuat data dasar pasien. Terdapat beberapa
metode yang dapat digunakan dalam pengumpulan data, yaitu
wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik serta diagnostik.
Proses pengkajian melibatkan tindakan sistematis dalam
mengumpulkan, memverifikasi, dan mengkomunikasikan data-data
yang berkaitan dengan klien (Padila, 2019).
1) Identitas klien meliputi nama, tempat tanggal lahir, jenis
kelamin, status perkawinan, agama, dan suku.
2) Riwayat pekerjaan dan status ekonomi meliputi pekerjaan saat
ini, perkerjaan sebelumnya, sumber pendapatan, dan kecukupan
pendapatan.
3) Lingkungan tempat tinggal meliputi kebersihan dan kerapihan
lingkungan, penerangan, sirkulasi udara, keadaan kamar mandi
dan WC, pembuangan air kotor, sumber air minum,
pembuangan sampah, sumber pencemaran, privasi, dan risiko
injury.
27
4) Riwayat Kesehatan
a) Status kesehatan saat ini
Menurut Cahyani & Nindya (2020), keluhan utama sering
menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan
adalah sakit kepala disertai rasa berat di tengkuk dan sakit
kepala berdenyut. Pada sebagian besar penderita, hipertensi
tidak menimbulkan gejala. Gejala yang di maksud adalah
sakit di kepala, pendarahan di hidung, pusing, wajah
kemerahan, dan kelelahan yang bisa saja terjadi pada
penderita hipertensi. Jika hipertensinya berat atau menahun
dan tidak di obati, bisa timbul gejala sakit kepala, kelelahan
muntah, sesak nafas, pandangan menjadi kabur, yang
terjadi karena kerusakan pada otak, mata, jantung dan
ginjal. Kadang penderita hipertensi berat mengalami
penurunan kesadaran dan bahkan koma.
b) Riwayat kesehatan masa lalu
Menurut Cahyani & Nindya (2020), riwayat kesehatan
masa lalu yang perlu dikaji antara lain: apakah ada riwayat
hipertensi sebelumnya, diabetes melitus, penyakit ginjal,
obesitas, hiperkolestrol, adanya riwayat merokok,
penggunaan alcohol, dan penggunaan obat kontrasepsi oral
dan lain-lain.
28
5) Pola Fungsional
a) Persepsi kesehatan dan pola manajemen kesehatan
b) Nutrisi metabolik
Menilai apakah ada perubahan nutrisi dalam makan dan
minum, pola konsumsi makanan dan riwayat peningkatan
berat badan. Biasanya penderita hipertensi perlu memenuhi
kandungan nutrisi seperti karbohidrat, protein, mineral, air,
lemak, dan serat.
c) Eliminasi
d) Aktivitas pola dan latihan
e) Pola istirahat tidur
f) Pola kognitif persepsi
g) Persepsi diri pola konsep diri
h) Pola peran-hubungan
i) Seksualitas
j) Koping-pola toleransi stres
k) Nilai-pola keyakinan
6) Pemeriksaan fisik meliputi keadaan umum, tanda-tanda vital,
berat badan, tinggi badan, pemeriksaan kepala, rambut, mata,
telinga, mulut, gigi, bibir, dada, abdomen, kulit, ekstremitas
atas, dan ekstremitas bawah.
29
7) Pengkajian khusus
a) Indeks katz
Indeks katz adalah suatu instrumen pengkajian dengan
sistem penilaian yang didasarkan pada kemampuan
seseorang untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
secara mandiri. Penentuan kemandirian fungsional dapat
mengidentifikasikan kemampuan dan keterbatasan klien
sehingga memudahkan pemilihan intervensi yang tepat
(Purba el al, 2022). Adapun aktivitas yang dinilai dalam
indeks katz adalah bathing, dressing, toileting, transferring,
continence dan feeding.
b) APGAR keluarga lansia
APGAR keluarga lansia dilakukan untuk menilai fungsi
keluarga dengan lansia. APGAR terdiri dari: Adaptation,
Partnership, Growth, Afek, dan Resolve (Purba el al, 2022).
c) SPMSQ (Short Portable Mental Status Questionaire)
SPMSQ (Short Portable Mental Status Questionaire)
adalah penilaian fungsi intelektual lansia. Untuk
mendeteksi adanya tingkat kerusakan intelektual. Terdiri
dari 10 pertanyaan tentang: orientasi, riwayat pribadi,
memori dalam hubungannya dengan kemampuan perawatan
diri, memori jauh dan kemampuan matematis (Purba el al,
2022).
30
d) Inventaris depresi
Back Depresi back merupakan alat pengukur status efektif
digunakan untuk membedakan jenis depresi yang
mempengaruhi suasana hati. Berisikan 21 karakteristik
yaitu alam perasaan, pesimisme, rasa kegagalan, kepuasan,
rasa bersalah, rasa terhukum, kekecewaan terhadap
seseorang, kekerasan terhadap diri sendiri, keinginan untuk
menghukum diri sendiri, keinginan untuk menangis, mudah
tersinggung, menarik diri, ketidakmampuan membuat
keputusan, gambaran tubuh, gangguan tidur, kelelahan,
gangguan selera makan, kehilangan berat badan. Berisikan
13 hal tentang gejala dan sikap yang berhubungan dengan
depresi (Purba el al, 2022).
e) Resiko jatuh (Morse Fall Scale)
Morse Fall Scale (MFS) adalah strategi pencegahan jatuh
dengan menciptakan lingkungan yang bebas dari faktor
pencetus, yaitu dengan mengorientasikan responden
terhadap lingkungan dan pemberian informasi yang jelas
tentang bagaimana menggunakan alat bantu jalan. MFS
metode cepat dan sederhana yang dapat digunakan untuk
menilai kemungkinan jatuh pada lansia dan digunakan
secara luas dalam melakukan perawatan akut maupun
dalam pelayanan jangka panjang. Instrumen ini memiliki 6
31
variabel yaitu: riwayat jatuh, diagnosa sekunder,
penggunaan alat bantu, terpasang infus, gaya berjalan dan
status mental (Sarah & Sembiring, 2021).
f) Status nutrisi: MNA (Mini Nutritional Assessment)
MNA (Mini Nutritional Assessment) adalah alat untuk
mengukur atau menskrining nutrisi pada lansia. Mini
Nutritional Assessment (MNA) mengandung pertanyaan-
pertanyaan yang berhubungan dengan nutrisi dan kondisi
kesehatan, kebebasan, kualitas hidup, pengetahuan,
mobilitas, dan kesehatan yang subjektif. Tujuan dari MNA
ini untuk mendeteksi status gizi lansia, sehingga akan
mendapatkan rekomendasi lebih lanjut (Mujiastuti, 2021).
b. Diagnosa Keperawatan
Menurut SDKI (2017) diagnosa keperawatan yang mungkin
ditemukan pada klien dengan hipertensi adalah:
1) Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala penyakit:
Hipertensi
2) Nyeri akut berhubungan dengan agen pencidera fisiologis:
peningkatan tekanan vaskuler serebral
3) Gangguan pola tidur berhubungan dengan kurangnya kontrol
tidur
4) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan oksigen
32
5) Manajemen kesehatan tidak efektif berhubungan dengan
kurang terpapar informasi
6) Risiko perfusi serebral tidak efektif dibuktikan dengan
hipertensi
7) Risiko perfusi perifer tidak efektif dibuktikan dengan hipertensi
8) Risiko penurunan curah jantung dibuktikan dengan perubahan
afterload
9) Ketidakpatuhan minum obat berhubungan dengan
ketidakadekuatan pemahaman: kurang motivasi
c. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan adalah segala treatment yang dikerjakan
oleh perawat didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis
untuk mencapai luaran (outcome) yang diharapkan. Sedangkan
tindakan keperawatan adalah perilaku atau aktivitas spesifik yang
dikerjakan oleh perawat untuk mengimplementasikan intervensi
keperawatan. Tindakan pada intervensi keperawatan terdiri atas
observasi, terapeutik, edukasi dan kolaborasi (Tim pokja SIKI
PPNI, 2018).
Tabel 2.2 Intervensi Keperawatan
Diagnosa Tujuan &
Intervensi Keperawatan
Keperawatan Kriteria Hasil
Gangguan rasa Setelah dilakukan Intervensi Utama:
nyaman intervensi
berhubungan keperawatan 1. Manajemen Nyeri
dengan gejala selama 3 x 24 jam, (SIKI, I.08238 Hal. 201)
penyakit: maka status
33
Diagnosa Tujuan &
Intervensi Keperawatan
Keperawatan Kriteria Hasil
Hipertensi kenyamanan Observasi:
(SDKI, D.0074 meningkat, dengan - Identifikasi lokasi, karakteristik,
Hal. 166) kriteria hasil: durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
1. Keluhan tidak nyeri
nyaman - Identifikasi skala nyeri
menurun - Idenfitikasi respon nyeri non verbal
2. Gelisah - Identifikasi faktor yang
menurun memperberat dan memperingan
(SKLI, L.08064 nyeri
Hal.110) - Identifikasi pengetahuan dan
- keyakinan tentang nyeri
- Identifikasi pengaruh budaya
terhadap respon nyeri
- Identifikasi pengaruh nyeri pada
kualitas hidup
- Monitor keberhasilan terapi
komplementer yang sudah diberikan
- Monitor efek samping penggunaan
analgetik
Terapeutik:
- Berikan Teknik nonfarmakologis
untuk mengurangi nyeri (mis:
TENS, hypnosis, akupresur, terapi
music, biofeedback, terapi pijat,
aromaterapi, Teknik imajinasi
terbimbing, kompres hangat/dingin,
terapi bermain)
- Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis: suhu
ruangan, pencahayaan, kebisingan)
- Fasilitasi istirahat dan tidur
- Pertimbangkan jenis dan sumber
nyeri dalam pemilihan strategi
meredakan nyeri
Edukasi:
- Jelaskan penyebab, periode, dan
pemicu nyeri
- Jelaskan strategi meredakan nyeri
- Anjurkan memonitor nyeri secara
mandiri
- Anjurkan menggunakan analgesik
34
Diagnosa Tujuan &
Intervensi Keperawatan
Keperawatan Kriteria Hasil
secara tepat
- Ajarkan Teknik farmakologis untuk
mengurangi nyeri
Kolaborasi:
- Kolaborasi pemberian analgetik, jika
perlu
2. Pengaturan Posisi
(SIKI, I.01019 Hal. 293)
Observasi:
- Monitor status oksigenasi sebelum
dan sesudah mengubah posisi
- Monitor alat traksi agar selalu tepat
Terapeutik:
- Tempatkan pada matras/tempat tidur
terapeutik yang tepat
- Tempatkan pada posisi terapeutik
- Tempatkan objek yang sering
digunakan dalam jangkauan
- Tempatkan bel atau lampu panggilan
dalam jangkauan
- Sediakan matras yang kokoh/padat
- Atur posisi tidur yang disukai, jika
tidak kontraindikasi
- Atur posisi untuk mengurangi sesak
(mis: semi-fowler)
- Atur posisi yang meningkatkan
drainage
- Posisikan pada kesejajaran tubuh
yang tepat
- Imobilisasi dan topang bagian tubuh
yang cidera dengan tepat
- Tinggikan bagian tubuh yang sakit
dengan tepat
- Tinggikan anggota gerak 20° atau
lebih diatas level jantung
- Tinggikan tempat tidur bagian
kepala
- Berikan bantal yang tepat pada leher
- Berikan topangan pada area edema
(mis: bantal dibawah lengan atau
35
Diagnosa Tujuan &
Intervensi Keperawatan
Keperawatan Kriteria Hasil
skrotum)
- Posisikan untuk mempermudah
ventilasi/perfusi (mis:
tengkurap/good lung down)
- Motivasi melakukan ROM aktif atau
ROM pasif
- Motivasi terlibat dalam perubahan
posisi, sesuai kebutuhan
- Hindari menempatkan pada posisi
yang dapat meningkatkan nyeri
- Hindari menempatkan stump
amputasi pada posisi fleksi
- Hindari posisi yang menimbulkan
ketegangan pada luka
- Minimalkan gesekan dan tarikan
saat mengubah posisi
- Ubah posisi setiap 2 jam
- Ubah posisi dengan Teknik log roll
- Pertahankan posisi dan integritas
traksi
Edukasi:
- Informasikan saat akan dilakukan
perubahan posisi
- Ajarkan cara menggunakan postur
yang baik dan mekanika tubuh yang
baik selama melakukan perubahan
posisi
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian premedikasi
sebelum mengubah posisi, jika perlu
3. Terapi Relaksasi
(SIKI, I.09326 Hal. 436)
Observasi:
- Identifikasi penurunan tingkat
energi, ketidakmampuan
berkonsentrasi, atau gejala lain yang
mengganggu kemampuan kognitif
- Identifikasi Teknik relaksasi yang
pernah efektif digunakan
- Identifikasi kesediaan, kemampuan,
36
Diagnosa Tujuan &
Intervensi Keperawatan
Keperawatan Kriteria Hasil
dan penggunaan Teknik sebelumnya
- Periksa ketegangan otot, frekuensi
nadi, tekanan darah, dan suhu
sebelum dan sesudah Latihan
- Monitor respons terhadap terapi
relaksasi
Terapeutik:
- Ciptakan lingkungan tenang dan
tanpa gangguan dengan pencahayaan
dan suhu ruang nyaman, jika
memungkinkan
- Berikan informasi tertulis tentang
persiapan dan prosedur teknik
relaksasi
- Gunakan pakaian longgar
- Gunakan nada suara lembut dengan
irama lambat dan berirama
- Gunakan relaksasi sebagai strategi
penunjang dengan analgetik atau
Tindakan medis lain, jika sesuai
Edukasi:
- Jelaskan tujuan, manfaat, Batasan,
dan jenis relaksasi yang tersedia
(mis: musik, meditasi, napas dalam,
relaksasi otot progresif)
- Jelaskan secara rinci intervensi
relaksasi yang dipilih
- Anjurkan mengambil posisi nyaman
- Anjurkan rileks dan merasakan
sensasi relaksasi
- Anjurkan sering mengulangi atau
melatih Teknik yang dipilih
- Demonstrasikan dan latih Teknik
relaksasi (mis: napas dalam,
peregangan, atau imajinasi
terbimbing)
37
d. Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah pelaksanaan dari rencana keperawatan untuk
mencapai tujuan yang spesifik. Tahap implementasi dimulai
setelah rencana keperawatan disusun dan ditujukan untuk
membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan dari
implementasi adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang
telah ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan,
pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi
koping. Perencanaan keperawatan dapat dilaksanakan dengan baik
jika klien mempunyai keinginan untuk berpartisipasi dalam
implementasi keperawatan. Implementasi dalam mengurangi
masalah keperawatan nyeri akut lebih ditekankan pada
(Andarmoyo, 2013):
1) Upaya keperawatan dalam meningkatkan kenyamanan
2) Upaya pemberian informasi yang akurat
3) Upaya mempertahankan kesejahteraan
4) Upaya tindakan meredakan nyeri dengan teknik non
farmakologis
5) Pemberian terapi nyeri farmakologis
e. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah hasil dari perkembangan kesehatan pasien, dengan
bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tujuan perawat dapat
dicapai dan memberikan umpan balik terhadap asuhan keperawatan
38
yang diberikan. Evaluasi keperawatan terhadap pasien dengan
masalah nyeri akut dilakukan dengan menilai kemampuan pasien
dalam merespon rangsangan nyeri diantaranya (Andarmoyo, 2013):
1) Pasien melaporkan adanya penurunan rasa nyeri
2) Pasien mendapatkan pemahaman yang akurat mengenai nyeri
3) Mampu mempertahankan kesejahteraan dan meningkatkan
kemampuan fungsi fisik dan psikologis yang dimiliki pasien
4) Mampu melakukan tindakan-tindakan non farmakologis
5) Mampu menggunakan terapi yang diberikan untuk mengurangi
nyeri.
39
B. Kerangka Teori
Gambar 2.2 Kerangka Teori
Faktor Resiko
Umur, jenis kelamin, genetik
Vasokontriksi pembuluh darah pada lansia
Peningkatan tekanan darah pada lansia Hipertensi
Penatalaksanaan
Farmakologi Nonfarmakologi
Obat anti hipertensi Lestari, 2022:
Sentuhan afektif, sentuhan terapeutik.
Akupresur, relaksasi, teknik imajinasi,
Angiotensin receptor blocker distraksi, hipnosis, kompres dingin,
(arbs), beta blocker, calcium kompres hangat, stimulasi/message
chanel dan lainnya
Terapi relaksasi
Terapi Pijat Refleksi Kaki
Mengembalikan homeostasis
(keseimbangan) energi tubuh Pelebaran pembuluh darah
Retensi darah menurun dalam
pembuluh perifer Tekanan Darah Menurun Nyaman