BAB II
KAJIAN TEORI
A. Strategi Place Branding
1. Pengertian Place Branding
Strategi adalah segala sesuatu yang menyangkut strategi bisnis dan tujuan
dari strategi adalah memungkinkan sebuah perusahaan untuk mendapatkan
posisi yang lebih dari para [Link] demikian strategi
perusahaan/instansi menyatakan sebuah upaya untuk secara efisien
meningkatkan kekuatan sebuah perusahaan lebih tinggi dari kekuatan
pesaing.
Menurut David (2011: 18) strategi adalah sarana bersama dengan tujuan
jangka panjang yang hendak di capai. Strategi adalah aksi potensial yang
membutuhkan keputusan manajemen puncak dan sumber daya perusahaan
dalam jumlah [Link] strategi adalah sebuah tindakan aksi atau kegiatan
yang di lakukan oleh seseorang atau perusahaan untuk mencapai sasaran atau
tujuan yang telah di tetapkan.
Quinn (2002 : 31) mengartikan strategi adalah suatu bentuk atau rencana
yang mengintegrasikan tujuan-tujuan utama, kebijakan-kebijakan dan
rangkaian tindakan dalam suatu organisasi menjadi suatu kesatuan yang utuh.
Marrus (2002:31) mendefinisikan bahwa strategi sebagai suatu proses
penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka
panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana
agar tujuan tersebut dapat dicapai. Lalu Tjiptono (2006:3) menyatakan bahwa
strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu strategi yang artinya seni atau ilmu
untuk menjadi seorang jendral.
Strategi juga bisa di artikan suatu rencana untuk pembagian dan
penggunaan kekuatan militer pada daerah-daerah tertentu. Adapun langkah-
langkah dalam penerapan strategi dapat dilakukan dengan sebagai berikut:
a. Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar merupakan tindakan membagi pasar menjadi
kelompok sasaran berdasarkan perbedaan, seperti kebutuhan, karakteristik
atau perilaku yang berbeda.
b. Penetapan Target
Pasar Merupakan proses evaluasi daya tarik dari masingmasing
segmen pasar. Menetapkan target sasaran yang dilakukan dengan
merancang strategi untuk membangun hubungan yang baik kepada para
sasaran.
c. Diferensiasi dan Posisi
Pasar Perusahaan atau instansi harus memutuskan bagaimana
mendiferensiasikan penawaran pasarnya untuk setiap segmen sasaran
yang dituju.
Mengembangkan sebuah keunikan yang dimiliki agar terlihat berbeda
sehingga sasaran tertarik. Bagi Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak, dengan
adanya Manfaat dari strategi yang diterapkandapat menghasilkan sebuah
keputusan yang baik untuk meluncurkan brand baru supaya tujuan yang di
inginkan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak dapat tercapai dan
programnya lebih terstruktur, aktivitas dari strategi bisa mempertinggi
kemampuan Dinas Pariwisata Lebak dalam menghadapi berbagai macam
masalah yang dihadapi terkait dengan adanya brand baru tersebut.
Dengan adanya strategi bisa mencegah timbulnya bermacam-macam
masalah yang berasal dari pihak internal maupun eksternal dan juga bisa
meningkatkan kemampuan dalam menghadapi gangguan yang ada.
Didalam strategi ada namanya SWOT yaitu untuk metode perencanaan
sebuah strategis. SWOT merupakan singkatan dari strengths (kekuatan),
weakness (kelemahan), oppurtunities (peluang), dan threats (ancaman).
Analisa SWOT adalah alat yang peneliti gunakan untuk mengidentifikasi
brand Lebak untuk memperkuat potensi wisata melalui brand “Lebak
Unique.”.
a. Stenghts (kekuatan)
Situasi maupun kondisi yang merupakan gambaran kekuatan dari brand
Lebak untuk memperkuat potensi wisata yang ada di daerah Kabupaten
Lebak. Mengetahui kekuatan yang dimiliki merupakan sebuah langkah untuk
mengidentifikasi brand tersebut agar dapat menjadi sebuah daerah yang kuat
setelah dilihati dari beberapa faktor.
b. Weakness (kelemahan)
Selain memiliki berbagai kelebihan sebagai sisi kekuatan, sudah pasti
bahwa Kabupaten Lebak memiliki kelemahan berupa keterbatasan maupun
kekurangan sehingga dapat menghambat kinerja dari brand Lebak itu
sehingga. Adapun dilakukannya analisis dari segi kelemahan agar dapat
menjadi tolak ukur sehingga lebih mudah mengetahui apa saja yang harus
diperbaiki dari Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak selaku yang bertanggung
jawab terhadap brand Lebak.
c. Oppurtunities (peluang)
Peluang merupakan sebuah keuntungan yang dimiliki oleh Kabupaten
Lebak terkait potensi wisata untuk menguatkan brand Lebak, sehingga brand
Lebak dapat menjadi lebih baik lagi setelah diketahui apa saja peluang yang
dapat di maksimalkan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak
d. Threats (ancaman)
Ancaman merupakan situasi yang sangat penting untuk diperhatikan oleh
Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak dalam melakukan sebuah brand terkait
potensi wisata karena ancaman adalah keadaan yang tidak menguntungkan
dan bisa menjadi pengganggu utama.
Place Branding Teori yang dipergunakan dalam penelitian ini bersumber
dari Blain [Link], seperti dikutip Robert Govers dan Frank Go (2009:13) yang
menyatakan bahwa place branding sebagai kegiatan pemasaran:
a. yang mendukung penciptaan nama, simbol, logo, word mark atau grafis
lainnya, baik untuk mengidentifikasi dan membedakan tujuan,
b. yang menyampaikan janji dari pengalaman perjalanan yang unik
mengesankan terkait dengan destinasi, dan
c. yang berfungsi untuk mengkonsolidasikan serta memperkuat ingatan
kenangan menyenangkan dari pengalaman destinasi, semuanya dengan
tujuan untuk menciptakan citra yang mempengaruhi keputusan konsumen
untuk mengunjungi destinasi tersebut.
Mengingat penelitian ini bertujuan untuk meninjau kegiatan pemasaran
tempat yang diimplementasikan oleh Pemerintah Kabupaten Lebak dilihat
dari persepsi wisnus, sehingga mampu meningkatkan citra sebagai destinasi
pariwisata dan implikasinya terhadap keputusan orang mengunjungi destinasi
tersebut.
Anholt (Kavaratzis, 2010:44) memberikan kerangka untuk mengevaluasi
efektivitas place brand yang disebut dengan City Brand Hexagon, sekaligus
sebagai perangkat yang terutama membantu upaya penetapan merek.
Komponen-komponen evaluasi tersebut adalah sebagai berikut:
a. The Presence: Komponen ini menunjuk pada status internasional suatu
kota dan seberapa besar orang mengenal kota tersebut.
b. The Place: Komponen ini menunjuk pada aspek fisik, misalnya seberapa
cantik dan menyenangkan kota tersebut.
c. The Potential: Komponen ini menunjuk pada peluang kota tersebut untuk
menawarkan berbagai aktivitas, misalnya aktivitas ekonomi atau
pendidikan.
d. The Pulse: Komponen ini menunjuk pada seberapa besar ketertarikan
orang terhadap kota tersebut.
e. The People: Komponen ini menguji populasi lokal dalam hal keterbukaan,
keramahan, juga masalah keamanan di dalam kota. 6. The Prerequisites:
Komponen ini berkaitan dengan kualitas dasar dari kota, standar dan
biaya akomodasi, serta kenyamanan publik.
2. Komunikasi AIDDA
Menurut Cangara, AIDDA hasil dari akronim kata Attention
(perhatian), Interest (minat), Desire (hasrat), Decision (keputusan), Action
(tindakan/kegiatan). Model komunikasi AIDDA adalah model komunikasi
linear. Komunikasi linear adalah salah satu cara melihat komunikasi yang
mengasumsikan pesan yang dikirim oleh sumber ke komunikan melalui
suatu saluran. Model komunikasi AIDDA banyak di gunakan dalam
kegiatan penyuluhan dan pemasaran komersial (Cangara, 2017:78).
Adapun keterangan elemen dari AIDDA seperti berikut :
a. Attention: keinginan seseorang untuk mencari dan melihat sesuatu.
Inimerupakan langkah awal yang harus di lakukan oleh pemasar
kepada khalayak yang menjadi target sasaran.
b. Interest: perasaan ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang sesuatu
hal yang menimbulkan daya tarik bagi konsumen sehingga timbul
minat target untuk memiliki suatu yang ditawarkan.
c. Desire: kemauan yang timbul dari hati target sasaran tentang sesuatu
yang menarik perhatian.
d. Decision: kepercayaan untuk melakukan suatu hal. Target akan
memutuskan setelah menimbang manfaat dan kegunaan.
e. Action: merealisasikan keyakinan dan ketertarikan terhadap sesuatu.
Pada teori AIDDA ini jika di hubungkan dengan bagaimana upaya
pemerintah untuk memperkuat potensi wisata yang ada di Lebak, maka
langkah pertama yang harus di lakukan adalah para khalayak harus di
bangkitkan perhatian (Attention) tentang adanya City branding di
Kabupaten Lebak, jika upaya dari perhatian tersebut telah bangkit maka
hal selanjutnya yang harus Dinas Pariwisata lakukan adalah
menumbuhkan minat (interest) khalayak yang menjadi target sasaran,
setelah minat tersebut timbul maka langkah yang harus di buat adalah
menimbulkan hasrat (Desire) dari target sasaran keputusan (Decision)
merupakan langkah yang harus diambil oleh target setelah mengetahui
manfaat dan kegunaan dari apa yang di tawarkan oleh Dinas Pariwisata
Kabupaten Lebak, lalu adanya tindakan (Action) yang dilakukan oleh
target setelah semua komponen diatas terpenuhi maka akan kelihatan
upaya dari pemerintah berbuah manis atau sebaliknya
3. Brand dan Branding
Kotler mendefinisikan brand adalah nama, sebuah tanda, simbol atau
desain, atau kombinasi yang bertujuan untuk mengidentifikasikan barang
atau jasa yang dihasilkan oleh produsen dan berfungsi sebagai pembeda
(Sadat, 2009 : 19). Brand atau dalam bahasa Indonesia merupakan merek,
yang ditujukan untuk menamakan barang atau layanan suatu penjual dari
penjual lain (Yananda & Salamah, 2014 : 52). Bukan hanya perusahaan
dan jasa saja yang dapat diberi merek, tetapi orang, gagasan, bahkan
Negara maupun kota sekalipun dapat di beri merek.
Pemberian brand untuk suatu identitas dapat menawarkan keuntungan
yang memungkinkan produk untuk lebih menonjol dari yang lainnya.
Suatu Brand harus dapat menyampaikan sebuah manfaat yang diperoleh
dengan menggunakan produk bersangkutan dan pada saat yang sama juga
menciptakan image pada produk itu (Morrisan:2010).
Apa yang dikatakan oleh Morrisan jika dikaitkan dengan brand Lebak
yang diluncurkan maka adanya brand Lebak tersebut memiliki manfaat di
bidang pariwisatanya karena tujuan awal di luncurkan adalah untuk
memberi image atau memberikan sebuah merek kepada masyarakat dan
pengunjung bahwa Lebak memiliki potensi wisata yang beragam dan
Sawarna yang terdapat di Lebak Selatan, serta Baduy adalah sebuah
masyarakat adat yang memegang teguh adat istiadatnya bisa menjadi
wisata unggulannya, gambar kedua wisata unggulan itu dapat dilihat di
logo brand baru Lebak.
Dikatakan oleh Jacky Thai dalam bukunya yang berjudul Brand
management, disebutkan bahwa Brand tidak hanya mengenai desain logo,
tetapi melainkan bagaimana Anda menggunakan logo tersebut. Secara
garis besar dan sederhananya dapat diartikan bahwa ketika seseorang
membentuk sebuah nama baru, logo, atau simbol untuk sebuah produk
baru yang akan disebar luaskan maka ia telah membuat sebuah Brand .
(Keller,2013:30).
Menurut istilah menyebutkan bahwa branding merupakan sebuah
proses dalam mendesain, merencanakan dan mengkomunikasikan sebuah
nama beserta identitas dalam rangka membangun atau mengatur reputasi
baik kepada orang lain (Anholt, 2007 : 4).
Pada dasarnya, branding berlaku untuk segala jenis produk bukan
hanya barang dan jasa tapi sebuah kota pun dapat di lakukan branding
dengan cara memberikan sebuah merek dan menyertakan makna atau arti
khusus yang ditawarkan dan apa saja pembedanya dibanding merek yang
lain (Keller, 2013). Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak membuat sebuah
brand, sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Anholt dan Keller.
Membuat suatu merek atau yang sering disebut branding adalah
langkah yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak agar
reputasi Kabupaten Lebak makin baik lagi untuk ke depannya serta
menjadi kan Lebak pembeda dari Kabupaten lainnya agar mudah di ingat
dan tertanam di benak masyarakat maupun pengunjung bahwa Kabupaten
Lebak adalah Kabupaten yang memiliki ciri khas salah satunya di bidang
Pariwisatanya.
Kata Branding mengacu pada proses penciptaan suatu
brandditerjemahkan menjadi proses penciptaan merek menurut Dewi
(2009:28). Lalu Ike Junita Dewi mengatakan bahwaBranding adalah
proses dalam menciptakan sebuah nilai bagi perusahaan untuk dapat
dikenal dengan baik oleh masyarakat.
Adanya branding bagi Kabupaten Lebak bertujuan untukmenciptakan
sebuah nilai yang positif agar Lebak mampu bersaing dengan Kabupaten
lainnya yang ada di Indonesia maupun mancanegara. Pada dasarnya
Branding merupakan penciptaan nilai tambah atas suatu produk, nilai
tambah yang baik berupa keunggulan fungsional maupun citra dan makna
simbolis pada prinsipnya diciptakan dengan menciptakan suatu produk
dengan hal-hal yang dianggap paling menarik dan relevan bagi para
konsumen.
Lalu di dalam buku yang berjudul Strategic brand management milik
Keller, terdapat tujuh elemen dalam membangun sebuah brand (branding),
yaitu berupa Nama Brand, Urls (Internet), Logo dan Simbol, Karakter,
Slogan, Jingle, dan Kemasan yang harus diperhatikan dalam menciptakan
sebuah brandagar dapat berjalan dengan baik dan semestinya sehingga
brandyang terbentuk pun dapat diterima oleh para stakeholder. Kotler
mengatakan bahwa branding dalam industri pariwisata sebagai cara mudah
bagi konsumen dalam melakukan identifikasi, membangun persepsi dan
values, menetapkan kualitas dan standar yang mudah dikelola,
meningkatkan permintaan terhadap produk lokal yang secara tidak
langsung akan berdampak terhadap ekonomi masyarakat sekitar dan
meningkatkan skala ekonomi. Branding asal mulanya merupakan ilmu
pemasaran atau marketingyang ditetapkan Kepada produk berupa barang
atau jasa yang kemudian mulai mengalami perkembangan dan
diaplikasikan ke berbagai objek lainnya, seperti individu, perusahaan,
event, dan tempat(Yananda : 2014).
4. City branding
City branding adalah identitas, simbol, logo atau merek yang melekat
pada suatu daerah tersebut. Dapat dikatakan bahwa City branding
merupakan strategi dari suatu Negara atau daerah untuk membuat
positioning yang kuat di dalam benak target pasar mereka seperti layaknya
positioning sebuah produk atau jasa, sehingga Negara dan daerah tersebut
dapat dikenal secara luas di seluruh dunia (Gustiawan:2011). Melalui
Branding, sebuah kota mampu membangun keadaan kota yang dapat
ditunjukkan dengan keunikan itu sendiri sehingga mampu menarik
wisatawan. Roll (2006:85) menyatakan bahwa sebuah kota perlu
membentuk identitas yang berbeda di benak para calon pebisnis, turis,
pedagang, konsumen. Keuntungan suatu kota yang didapat ketika
melakukan sebuah City branding yaitu kota tersebut bisa dikenal lebih luas
lagi, mampu mendatangkan sebuah investasi bagi kota itu sendiri serta
menguatkan wisata setempat, dan tak lupa mendapatkan persepsi yang
positif dari para khalayak yang turut merasakan keberadaan City branding
itu sendiri.
Kavaratzis (2004:66) menjelaskan bahwa City branding dapat
dipahami sebagai sarana untuk mencapai keunggulan kompetitif dalam
rangka untuk meningkatkan investasi dari pariwisata, dan juga sebagai
pencapaian pembangunan masyarakat agar memperkuat identitas lokal dan
kota mereka. Lalu Murfianti (2012:77) menambahkan bahwa City
branding banyak digunakan oleh kota-kota dunia dalam upaya
meningkatkan atau mengubah citra suatu tempat atau wilayah kota dengan
menonjolkan kelebihan dan keunikan daerah tersebut.
Menurut Insch (2013) terdapat empat langkah proses strategi City
branding yaitu:
a. Identity merupakan proses mengidentifikasi assets, atribut kota
b. Objective penentuan tujuan branding dilakukan, merupakan
mengidentifikasi secara jelas tujuan dilakukannya city branding
c. Communication proses komunikasi dengan pihak yang berkepentingan
dengan sebuah kota. Komunikasi yang dilakukan bukan hanya one way
communication tetapi bisa online maupun offline communication.
d. Coherence proses implementasi memastikan bentuk program
terintegrasi, konsisten, dan menyampaikan pesan yang sama.
Sejalan dengan pemikiran Insch, Moilanen mengemukakan tiga
konsep utama dalam menciptakan City branding yakni ada Identitas,
Komunikasi, dan Citra. Apa yang dikemukakan oleh Moilanen dapat
dijadikan sebagai penguat dari apa yang di kemukakan oleh Insch tentang
menciptakan suatu merek kota. Jadi, dalam melakukan City branding
terdapat beberapa hal dan faktor yang harus diperhatikan, awalnya harus
mengetahui dan mengidentifikasi apa saja keunikan dan ciri khas yang
dapat menjadi pembeda untuk Kabupaten Lebak, lalu tujuan dari
dilakukannya Branding tersebut dari Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak
untuk apa dan bagaimana cara mengimplantasikannya melalui proses dan
program apa saja yang diterapkan oleh Dinas Pariwisata selaku yang
bertanggung jawab diluncurkannya brand Lebak tersebut sehingga dengan
adanya Branding tersebut potensi wisata di Kabupaten Lebak dapat
semakin kuat dan bisa terkenal lebih luas lagi dimata dunia.
Alasan peneliti menggunakan teori diatas untuk dijadikan landasan
teori pada penelitian yang sedang penulis teliti karena menurut penulis
teori tersebut cocok dan bisa menjadi acuan penulis untuk menjawab
fenomena yang sedang penulis teliti saat ini dengan teori tersebut.
5. Potensi Wisata
Potensi adalah sebuah kemampuan, kesanggupan, kekuatan ataupun
daya yang mempunyai sebuah kemungkinan untuk bisa di kembangkan
lagi menjadi bentuk yang lebih besar (Majdi:2007). Potensi wisata
merupakan salah satu faktor yang dimiliki oleh daerah yang dapat menjadi
daya tarik. Sujali (dalam Amdani,2008:2) menyatakan bahwa potensi
wisata sebagai kemampuan dalam suatu wilayah yang mungkin dapat
dimanfaatkan untuk pembangunan, mencakup alam dan manusia beserta
hasil karya manusia itu sendiri. Potensi wisata digunakan sebagai daya
tarik bagi wisatawan untuk mengembangkan aspek di bidang industri
wisata.
Segala macam bentuk sumber daya wisata yang terdapat di daerah
tertentu bisa dikembangkan menjadi suatu aneka atraksi wisata (pendit :
1999). Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh para ahli seperti diatas,
dari Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak mengembangkan potensi wisata
yang ada di Lebak dimanfaatkan untuk membangun Lebak agar lebih
terkenal lagi di bidang pariwisatanya, adanya brand yang diluncurkan
untuk Kabupaten Lebak berfungsi untuk memperkuat potensi wisata yang
ada di Lebak.
Potensi wisata internal yang dimiliki oleh sebuah daerah dibidang
wisata dapat berupa kondisi objek wisata, kualitas objek. Selain itu ada
pula potensi wisata eksternal yang dimiliki berupa aksesibilitas, fasilitas
penunjang, dan fasilitas pelengkap.
Potensi wisata dapat dibagi menjadi tiga (3) macam yaitu;
a. Potensi berupa wisata alam merupakan sebuah potensi apa saja yang
ada di bentang alam daerah tersebut seperti gunung, pantai, hutan, jenis
flora dan fauna.
b. Potensi wisata berupa kebudayaan, yang dimaksudkan potensi wisata
berupa kebudayaan adalah hasil dari peninggalan nenek moyang
berupa adat istiadat, kerajinan tangan, maupun peninggalan sejarah
berupa situs dan bangunan peradaban kuno seperti candi, monumen,
dan lain sebagainya.
c. Potensi wisata hasil buatan wisata, contoh dari potensi wisata hasil
buatan manusia adalah menyelenggarakan sebuah event bertema
wisata, pementasan seni tarian dan music, dan acara pertunjukan seni
budaya suatu daerah dengan tujuan untuk memperkenalkan dan
menarik minat masyarakat setempat maupun wisatawan.
Tempat wisata yang memiliki potensi adalah yang mampu mempunyai
daya tarik sehingga dapat menarik hati para wisatawan untuk berkunjung.
Daya tariknya dapat berupa keadaan alam di sekitar tempat wisata tersebut
maupun sarana dan prasarana penunjang sehingga wisatawan yang datang
dapat merasa betah untuk mengunjungi tempat wisata tersebut.